SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter XVI]

28 Komentar

Mulanya Rauf tidak memedulikan mobil sport merah yang melaju pelan menyejajari ayunan kakinya yang setengah berlari, tapi ketika mobil itu mendahului lalu berhenti beberapa meter di depannya, Rauf tidak bisa lagi untuk tidak memedulikan keberadaan mobil itu, apalagi begitu si pengendara mobil sport merah jelek itu menampakkan wujud. Oh, sebenarnya mobil sport itu luar biasa bagus, tidak jelek sama sekali, tapi begitu tahu manusia macam apa yang mengendarainya, dalam pandangan Rauf mobil sport itu jadi jelek semata-mata, sama jeleknya dengan si empunya mobil.

“Kebetulan sekali gue ketemu loe di sini, Bro.”

Raut wajah Rauf berubah kaku. Tanpa sadar tangkai aster di tangan kirinya sudah dipegangnya terlalu kencang hingga nyaris remuk. Di antara orang-orang yang paling tidak diinginkan untuk dijumpai lagi dalam sisa hidupnya, bajingan di depannya ini berada di posisi pertama. Mantan rekan-rekan bandnya saja kalah bajingan dibandingkan bajingan yang ini.

Bajingan itu, Barep, baru saja menyapanya bro. Apa dia kira Rauf sudi ber-brother dengan keparat itu? Cuih, Rauf tidak akan pernah sudi.

“Sudah berhari-hari ini gue kepikiran loe,” sambung Barep santai sambil melepas kacamata hitamnya.

Sorry, gue sibuk.” Rauf menyisi dan mengambil langkah pertama untuk melintasi bajingan itu.

“Oh, loe sibuk? Sebentar, biar gue tebak…”

Rauf berhenti bergerak lebih jauh.

“Emm… loe sibuk berusaha ngerebut hati istri gue, rite?”

Darah Rauf mendidih.

Barep melirik genggaman Rauf dengan lirikan meremehkan. “Dia sudah lama berhenti suka aster, Raf. Sejujurnya, dia sudah lama berhenti suka semua hal-hal remeh begitu, bunga, puisi, lagu cinta, petik gitar, dan blah blah blah stupid thing lain semacamnya. Sejak dia udah gak sama loe, dia lebih suka penis gue.”

Tawa singkat bajingan itu bukan hanya makin membuat darah Rauf mendidih, tapi juga melumatkan aster di tangannya. Jadi dia membanting aster itu ke trotoar dan menghambur ke arah Barep dengan tinju terkepal.

“Oh, great, ayo hajar gue. Dengan begitu makin memperjelas perbedaan level loe sama gue…”

Sejujurnya, saat ini Rauf sangat ingin membuat satu atau dua gigi bajingan itu bertebaran di aspal, tapi dia hanya berdiri selangkah di depan bajingan itu, dengan kepalan bergetar dan gigi bergemelutuk.

Lagi

Iklan

SAFEHOUSE

45 Komentar

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Cerita ini sudah terpendam sekian lama di harddisk Toshi-kun yang sesak. Kutulis karena diminta salah seorang teman untuk meramaikan isi buku yang hendak diterbitkannya secara self publishing. Sepertinya aku menulisnya pada tahun 2016, lupa kapan tepatnya saking sudah lamanya.

Sekarang aku mempostingnya di sini, khusus untuk pembaca blogku yang setia dan sabar menunggui blog ini update, dari bulan ke bulan. Kalian, pembaca blogku yang sabar dan setia bisa membacanya free, tidak perlu beli bukunya dulu, entah bukunya sudah ada atau belum. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku karena kalian masih sudi mampir mengecek blog, bahkan di saat sudah jelas-jelas tak ada entri baru di blog.

Selamat menikmati membaca Safehouse, sukur-sukur bisa semenikmati aku ketika menulisnya.

Wassalam.

n.a.g

##################################################

Kita hidup dengan aturan. Aturan tertulis dan tidak tertulis, yang dibuat penguasa zaman ini dan yang disepakati secara absolut hanya karena diturunkan dari nenek moyang sejak dari zaman entah. Khusus aturan terakhir, kita diharuskan mengikutinya secara membabi buta tanpa perlu bertanya ‘mengapa’, pokoknya ikuti saja karena sudah begitu sejak dahulu kala.

Mengapa untuk menjalani hidup, manusia memerlukan segala macam aturan itu? Tidak bisakah ia hanya hidup saja?

Saat kecil dulu, Bapak akan menjawabku dengan jawaban paling sederhana untuk dipahami anak kecil: aturan membuatmu jadi anak baik dan melanggarnya membuatmu jadi anak bandel. Sesederhana itu, dan sudah cukup membuatku dan anak-anak Bapak selain aku untuk selalu jadi anak yang patuh dan penurut.

Ketika aku bukan lagi anak-anak dan terjadi transformasi besar-besaran pada pola pikirku, sejalan waktu menuju dewasa, pandanganku tentang aturan meluas bukan hanya sekedar ‘membuatmu jadi anak baik’. Aku tahu kalau aturan itu seharusnya memudahkan hidup, menata semua hal tetap pada tempatnya, mencegah hal-hal buruk terjadi, menjauhkanmu dari masalah atau masalah darimu, menjadikan hidupmu terarah, dan seperti yang selalu dikatakan para sesepuh: membuatmu hidup bahagia. Kata mereka, jika kau hidup mengikut aturan, hidupmu seharusnya bahagia. Kedengarannya mudah dan sederhana.

Sayangnya, ketika aku berkenalan dengan masa pubertas, mendadak aku jadi kebal aturan. Semakin jauh meninggalkan masa pubertasku di belakang, semakin aku merasa kalau sepertinya hukum ‘aturan membuat hidup bahagia’ tidak berlaku padaku. Aku justru mendapatkan kebahagiaanku dengan melanggar banyak aturan. Di antara sekian banyak aturan itu, ada satu aturan luar biasa penting yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh semua pria di muka bumi ini, tapi malah kulanggar. Itu adalah aturan yang kata mereka nomor wahid harus diikuti tanpa kompromi.

Kuberitahu aturan apa itu. Itu adalah aturan yang mengharuskan seorang lelaki untuk berpasangan dengan seorang perempuan. Bukan dalam hal pasangan tugas kelompok di bangku kuliah atau semacamnya, tapi dalam konteks melestarikan keturunan. Lihat, betapa membangkangnya diriku. Aku melanggar aturan paling tua yang selevel dengan hukum Tuhan itu. Aturan yang sudah ada sejak nabi pertama dilemparkan dari elysium yang terang-benderang untuk hidup sebagai manusia pertama di kerak bumi tanpa lampu―karena saat itu Edison belum lahir.

Dengan melanggar aturan mahapurba itulah aku menjemput bahagiaku. Tidak perlu dikatakan, aku sudah lama tahu diri dan sudah lama sadar betapa kurang ajarnya diriku. Jika mau menghujat, kupikir aku memang pantas menerimanya, jadi silakan menghujat.

Namun sebelum melakukannya, Kawan, izinkan aku mengenalkan perasaanku kepadamu. Beri aku kesempatan, bukan untuk membela diri. Aku tahu bahwa tak ada pembelaan yang cukup pantas untuk pembangkang aturan Tuhan. Apa yang akan kututurkan ini bukan untuk menggodamu mengikuti jejakku sebagai pelanggar aturan. Bukan pula untuk membenarkan pilihan yang kuambil, apalagi mengiba empatimu.

Cerita ini kututurkan untuk mengajakmu melongok sebentar ke duniaku yang katanya seindah pelangi. Bagian ini sungguh omong kosong. Percayalah, Kawan, bahkan dunia tokoh dongeng saja tak ada yang seindah pelangi, selalu ada petaka sebelum happily ever after yang iconic itu. Cerita ini kututurkan untuk mencegahku jadi pikun tentang siapa diriku sebenarnya―karena mencari jati diri buatku tidak melewati jalan lurus mulus penuh petunjuk, dan menerimanya bukanlah perkara yang mudah. Cerita ini tentangku, dan tentang satu insan yang padanya sempat kutemukan rumah untuk pulang paling aman bagiku di seluruh jagat semesta.

Setidaknya pernah begitu…

Lagi

SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter XV]

45 Komentar

Theo langsung mengenali bocah itu pada saat pertama. Tampaknya, segala apapun yang berhubungan dengan Arya akan selalu dikenalnya dengan mudah. Arya dan segala sesuatu yang ada kaitan dengannya bukanlah cerita yang mudah dilupakan dan diabaikan begitu saja oleh Theo. Faktanya, cowok itu telah meninggalkan jejak yang terlalu jelas dalam dirinya, jejak jelas yang tidak bisa dihilangkan apalagi dibuangnya tanpa melewati perdebatan yang sengit dengan dirinya sendiri. Salah satu jejak itu adalah si bocah di depan sana. Apalagi saat ini si bocah tidak sendirian, dia membawa serta identitas Arya yang lain bersamanya. Theo kenal betul mereka berdua, si bocah dan gitar itu.

Bocah itu sedang bernyanyi untuk pengemudi yang berjarak empat mobil di depan mobil Theo, ketika traffic light menyala merah di Perempatan P──yang ngetop karena durasi lampu merahnya yang super lama. Theo menurunkan kaca mobil dan melongokkan kepalanya. “Hei, Kid…!” serunya. Di depan sana, bocah itu berhenti bermain gitar dan menoleh ke arahnya. Theo melambaikan tangan menyuruh si anak agar menemuinya. Di depan sana, Theo melihat si anak buru-buru menadahkan tangan di mana kemudian si pengemudi menaruh selembar recehan di dalamnya. Kemudian, sambil tersenyum cerah, anak itu berjalan setengah berlari menghampiri mobil Theo.

“Selamat sore, Om. Ada rekues?” sapa si bocah yang agaknya mengira dia dipanggil untuk mengamen buat si empunya mobil.

Theo tersenyum. “Kamu tidak ingat?” tanyanya pada si anak.

Anak itu mengernyit menatapnya lebih tajam. “Lha… Om, kan, temennya Kak Ari, ya? Yang ngasih Kemal uang waktu itu, kan?”

Theo tersenyum lebar. Sekarang dia tahu kalau nama si anak adalah Kemal. “Ayo masuk,” ajaknya. “Kita akan makan siang.” Theo memerhatikan kalau Kemal ragu-ragu, atau mungkin takut? “Hei, aku tidak akan menculikmu atau apa.” Theo tersenyum lebar pada anak itu, berharap dengan itu dapat melenyapkan perasaan apapun pada diri si anak yang mencegahnya masuk mobil. “Oke, lampunya akan hijau, Mal. Kalau kamu mau ikut, sebaiknya kamu masuk ke mobil sekarang.”

“Aku gak boleh pergi terlalu jauh, Om. Nanti pulangnya kejauhan.”

Ternyata Kemal bukan takut untuk ikut dengannya, tapi dia mencemaskan jarak antara rumahnya dengan tempat Theo hendak membawanya. Theo sekali lagi tersenyum. “Kamu lihat bangunan di ujung jalan sana?” Kemal mengikuti arah telunjuknya. “Kita makan di sana. Tidak jauh, kan?”

Kemal mengangguk. “Aku belum pernah naik mobil. Apa nanti gak akan bikin kotor kursi Om?”

Theo tertawa besar. “Lampunya hijau, Mal.”

Kemal buru-buru mengitari mobil Theo. Sejenak kemudian dia sudah meringkuk di jok. Sangat terlihat berusaha agar fisiknya tidak membuat banyak kontak dengan bagian-bagian dalam mobil Theo.

Lagi

POLAROID

42 Komentar

Padang Sidempuan, tanggal hari ini tahun ini

 

Dear Gie…

Jika kau sedang membaca surat ini, itu artinya kau berhasil membaca peta yang kutinggalkan untukmu, dan berarti aku berhasil membuatmu merindu lewat semua ‘AKU’ yang kutinggalkan untukmu sebelum hari mendung itu. Tebakanku, kalau tidak di balkon kamarku, mestinya saat ini kau sedang berada di ayunan halaman belakang, dan tolong hati-hati dengan baut ayunannya, sering copot sendiri.

Bagaimana kabar rumahku? Kuharap kau disambut baik di sini, jika pun tidak dari semua orang, pasti kau sudah disambut baik oleh Taja. Sudahkah kau mengagumi senyumnya seperti kau pernah mengagumi hal yang sama dariku dulu? Jika belum, tinggallah lebih lama. Aku sudah berpesan agar dia ramah padamu khusus hari ini. Apakah dia ramah? Jika ternyata tidak, mungkin dia lupa, tapi setidaknya dia menepati janji memberimu suratku dan tidak menendang bokongmu pergi. Kau ingat, kan? Aku pernah bercerita tentang adikku itu padamu suatu hari dulu, tepat sehari setelah aku mengecewakan semua orang di rumah. Aku bercerita padamu betapa marahnya dia ketika aku memilih jatuh cinta padamu dan melawan seisi rumah, bahkan seisi dunia. Tapi ketika aku pulang membawa hati patah sebagai cinderamata, dia jadi orang pertama dan satu-satunya di rumah yang berniat menghajarmu. Kuharap, dia tidak melakukannya tadi.

Dear Gie…

Aku penasaran bagaimana perjalananmu ke mari. Apakah menyenangkan? Apakah menjengkelkan? Ataukah di antara keduanya, tidak menyenangkan dan tidak pula menjengkelkan? Bagiku dulu, perjalanan pulang ke sini ketika cuti selalu terasa menjengkelkan. Meninggalkanmu, tak peduli untuk ke manapun, pulang atau pergi, memang selalu akan membuatku jengkel. Tapi tetap saja, diharuskan pergi meninggalkanmu hari itu adalah perjalanan pulangku yang paling menjengkelkan. Lagi

THE LAST 7 HOURS OF DECEMBER

54 Komentar

an Al Gibran Nayaka story

###############################################

CUAP2 NAYAKA

Maaf karena terlalu lama vakum. Ini bukan cerita baru, sudah pernah muncul di Facebook, sekarang muncul lagi di blog. Semoga kalian menikmati membaca the Last 7 Hours of December seperti aku menikmati ketika menulisnya.

###############################################

 

Desember tidak akan pernah jadi begitu berarti buatku, jika bukan karena tujuh jam yang kuhabiskan dengannya Desember itu, berbagi secangkir kopi pekat dan berbagi rintik hujan…

– Dawai

*

Satu-satunya hal yang ingin kulakukan jika aku bisa menjelajah waktu, adalah mengunjungi kembali tujuh jam yang pernah terjadi pada hujung Desember itu, hanya agar aku bisa menenggelamkan diriku dalam suaranya, lagi dan lagi…

– Rakai

.

Ini adalah alur, tentang bagaimana semesta mempertemukan dua anak manusia pada satu ruang dan waktu. Ini adalah jalan cerita, bagaimana alam menempatkan segala sesuatu pada tempatnya secara akurat, tanpa keliru sedikit pun dan tidak mungkin salah.

Ketika hujan yang satu disusul hujan-hujan yang lain di hari selanjutnya di bulan Desember, ketika parit-parit tidak lagi kelihatan dan sungai-sungai meluap, ketika langit siang selalu gelap dan bulan enggan muncul di langit malam─konon lagi gemintang, ketika alam berkonspirasi dengan Desember bahkan hingga ke milidetik terakhirnya, tangan tak terlihat semesta mengatur pertemuan itu, tepat tujuh jam sebelum Desember dilengserkan Januari.

*

Hadirmu mengubah susunan udara

Merampas semua fokus dan konsentrasi

Dan semua yang kulakukan hanyalah…

terpesona pada boot karetmu yang berair

December 31st, 05.59 p.m.

Hari yang sudah gelap sejak pagi kini makin kelam saja di posko medis itu. Angin dingin yang tidak henti berembus masih meriap-riapkan terpal usang yang jadi dinding posko, membuat sosok-sosok di dalamnya menggigil berkali-kali. Suara bersin terdengar hampir setiap menit sekali. Udara seakan basah, dan hujan kembali menimbulkan gelembung di beberapa bagian atap tenda.

Menyadari adanya gelembung yang siap merobek atap tenda posko beberapa menit lagi itu, Rakai meninggalkan kotak P3K yang sedang diisinya dan meraih tiang besi yang salah satu ujungnya berbentuk T, lalu mulai menyodok gelembung air di atap tenda. Setelah ditinggal pulang dengan terpaksa oleh dua rekan tugasnya sekitar lima menit yang lalu, kini Rakai baru tahu ternyata menyodok gelembung air di atap tenda juga butuh teknik khusus, dan juga tenaga. Seharian tadi, dia hanya berkutat dengan peralatan medis dan obat-obatan, dua perawat laki-laki rekan kerjanyalah yang bergantian menyodok atap. Lagi

Tetanggaku

12 Komentar

Nayaka says

Ini cerita baru dari sahabatku, Suchi. Layak baca, sungguh, layak baca. Jujur, menurutku malah tulisannya lebih bagus dari tulisanku, lebih rapi juga. Tidak heran sih, beliau ini jam terbangnya sudah lumayan, punya akun Wattpad juga yang keren abis (meskipun belum pernah liat :D). Kalau kalian tertarik ingin tahu lebih banyak tulisan temenku ini, silakan saja cari d’Rythem24 di Wattpad. Menurut pengakuannya, di sana juga ada Aidil dkk.

Selamat membaca, dan… selamat tegang!

 

See you guys

Nayaka

____________________________________

TETANGGAKU

.

.

.

Ditulis oleh d’Rythem24.

.

.

.

Sinopsis:

 

Satu-satunya hal yang kutahu tentangnya, adalah bahwa ia sering dipanggil Zack. Dia tetanggaku. Memiliki paras yang tampan; mata biru terang, rahang tegas berhiaskan brewok tipis, alis lebat dengan hidung mancung yang pas. Tubuhnya tinggi. Setidaknya lebih tinggi dariku. Badannya berisi. Tidak kurus sepertiku. Setiap Minggu, akan ada satu atau dua wanita yang bolak-balik masuk ke dalam ruang apartemennya yang berada di sebelah kamarku. Membuatku bertanya-tanya, apa hal yang mereka lakukan di dalam? Memunculkan berbagai macam pemikiran yang justru merusak isi kepalaku sendiri.
Sejak saat itu, aku jadi terlalu sering memikirkan dan membayangkan Zack. Suaranya, paras tampannya, hingga memfantasikan tubuh telanjangnya. Tanpa sadar, aku sudah jatuh suka pada Zack. Pada tetanggaku. Padahal aku dan dia berjenis kelamin sama, laki-laki.

Adakah kegilaan yang lebih dari ini?

Jawabannya, bahwa aku sangat ingin Zack menindih dan menggagahiku sepanjang malam. Aku harap, Tuhan tidak mengutukku atas rasa yang salah ini. Lagi

KOMA,

50 Komentar

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Tidak ingin banyak berkata-kata, hanya, terima kasih kepada kamu yang mengunjungi dan membaca kolom postingan ini secara sengaja, juga terima kasih kepada siapa saja yang mengunjunginya karena tersesat. Dan, terima kasih yang sangat besar dariku buat Dayudhistira Akhtar yang telah mengalirkan imajinasi di dalam kepalaku begitu derasnya sampai tulisan ini jadi dan publish.

Tidak ingin berkomentar panjang tentang ceritaku kali ini, toh covernya sudah mendeskripsikan isinya dengan begitu gamblang. Hanya, semoga kalian──yang mampir karena sengaja ataupun yang tersesat──dapat menikmati membaca KOMA, seperti aku menikmati ketika menulisnya.

 

Wassalam.

n.a.g

##################################################

 

Aku tak habis pikir dengan cinta. Cinta benar-benar aneh. Oh, baiklah… cinta adalah keanehan mahabesar yang pernah tercipta di muka bumi. Tak ada kompromi. Mungkin kalian akan terheran-heran ketika melihat anak sapi berkaki enam, atau pisang berbuah daun, atau telur bertangkai, atau orang makan beling, atau kuda beranak kambing──sebut lainnya, tapi menurutku, cinta ternyata lebih mengherankan lagi. Tidak percaya? Tidak mengapa, tapi mungkin kalian ingin duduk sejenak, mengopi sambil merokok, atau sambil melakukan apa saja, sementara mendengar temanku, Nayaka Al Gibran, bercerita buat kalian. Setelah itu, terserah kalian mau setuju denganku atau tidak. Namun tolong jangan kesal dengan Gibran seandainya kalian tak menyukai ceritanya, dia tidak salah apa-apa, dia hanya menulis apa yang kuinginkan untuk ditulisnya. Jika ingin protes, protes saja padaku, hanya padaku. Seharusnya kalian bisa protes juga pada Fikar──yang telah lancang jatuh cinta padaku tanpa ijin dulu, tapi sayangnya, kalian tidak bisa protes pada Fikar lagi…

***

Dayu yakin sudah melakukan hal yang benar, bahkan sangat yakin. Seharusnya, jika sudah seyakin itu, pikirannya tidak perlu lagi tertuju ke sana, ke tempat yang baru saja ditinggalkannya beberapa menit lalu itu, di mana di sana dia juga turut meninggalkan seorang bocah sok tua. Seharusnya, jika sudah seyakin itu, hatinya sudah boleh merasa ringan, tapi sialnya, perasaan bahwa dia telah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukannya malah merongrong hatinya. Kalau demikian, bukankah seharusnya dia tidak yakin? Konon lagi ‘sangat yakin’, kan?

Dayu memukul setir. Tidak jelas apakah dia kesal atau marah, bukan pada setir, tapi pada dirinya sendiri. Diliriknya arloji di pergelangan tangan kirinya sekilas. Padahal tanpa melihat penunjuk waktu pun, dia bisa mengira-ngira dengan tepat sudah berapa lama waktu berlalu sejak dia masuk ke mobilnya dan mengemudi pergi──yang menurutnya pasti diikuti pandangan sayu si bocah sok tua yang ditinggalkannya itu.

Apa sebenarnya Dayu telah salah berpikir? Dia mengira kalau langkah yang diambilnya sudah benar, bagaimana kalau ternyata dia salah? Dayu mendadak digempur kebimbangan mahabimbang.

Oh, for God’s sake, Dayu… Dia cuma kenal loe sebagai satu-satunya orang yang sudah seperti kerabat buatnya di sini, dan loe begitu saja menjauhkannya? Apa loe sudah kehilangan kewarasan loe? Bagaimana kalau dia sakit lagi seperti waktu itu, atau sedang ditimpa kesulitan semisal ATMnya kosong lagi? Setiap anggota keluarga yang bisa membantunya di dua masa sulit itu berada bermil-mil jauhnya dari sini. Loe memang bukan anggota keluarganya langsung, tapi di sini cuma ada loe. Cuma loe! Bagaimana loe bisa mengasingkan diri darinya begitu saja?

Sial!” Sekali lagi setir itu kena pukul. “Anjar berengsek!” Jika makhluk hidup, setir itu bisa jadi sudah menangis tersedu-sedu karena dipukul Dayu bertubi-tubi. “Sialan loe, Fik!”

Dayu membanting setir ke kanan begitu saja, tanpa lebih dulu memeriksa posisi kendaraannya di jalanan. Dan detik itu juga klakson menjerit mengerikan dari depan dan dari belakang mobilnya. Decit ban menggesek aspal dari kendaraan-kedaraan di belakangnya mengikuti kemudian. Bunyi decit ban ini terdengar lebih mengerikan lagi dari jerit panjang klakson-klakson itu.

Lalu…

BRAAKKK

Lagi

Older Entries

ceritasolitude

kumpulan cerita sederhana dari seorang yang berhati rumit.