SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter VI]

41 Komentar

Sexy, Naughty, Dirty cover

Angin beraroma garam masih berhembus dingin dari arah laut. Gemintang berangsur-angsur melenyapkan diri seiring langit yang perlahan-lahan berubah terang. Lengan Dewa masih merangkul bahu Rauf, tangan Rauf masih menggenggam tangan Dewa. Tak ada yang menduga hal itu akan terjadi. Ketika Rauf menolehkan kepala ke arah Dewa, saat itu wajah Dewa justru sedang berada sangat dekat dengan sisi kepala Rauf, itu karena kepala mereka juga sedang bersisian. Bibir mereka saling menyentuh begitu saja. Ciuman itu terjadi dengan sendirinya dan bertahan selama beberapa detik, durasi yang lebih dari cukup bagi Dewa untuk membuat satu lumatan penuh di atas bibir Rauf.

Mungkin esok mereka akan saling menyalahkan, mungkin esok mereka akan saling membela diri, mungkin esok mereka akan sama-sama mengaku salah sebelum mengambinghitamkan suasana. Tapi sebelum semua itu terjadi, yang pasti saat ini, mereka sedang berciuman…

***

Kenyataannya, sempak baru super murah yang dibelinya bersama Kemal kemarin sore tidak seburuk yang disangkakan Arya. Bahkan, rasanya nyaman sekali. Kalau mau lebih jujur dan gila lagi, Arya malah merasa begitu nyamannya hingga sepertinya tidak keberatan keluar dari MCK dengan hanya berkolor doang.

Perasaan itu, euphoria kenyamanan luar biasa yang sedang membungkusnya itu, sedikit banyak dipengaruhi oleh tembakan air maninya ke dinding MCK kira-kira sepuluh menit lalu, tiga menit setelah Arya berkhayal sedang menggantikan tangan Dewa saat pria itu coli di ruang kerjanya sendiri. Yeah, Arya memang sedang benci dengan pria itu, atau setidaknya dia mengira kalau dirinya benci Dewa, tapi sebenci apapun perasaannya pada Dewa saat ini tak akan merubah fakta bahwa Dewa itu punya semua yang diperlukan Arya untuk berfantasi: wajah tampan, badan atletis, plus organ reproduksi yang sudah pernah dilihat ukuran dan warnanya. Lengkap. Jadi, benci itu dikesampingkan Arya untuk sementara, tiga menit saja.

Sebentar… Tiga menit?

Iya. Kenapa? Cepat? Kalian mau bilang cowok itu menderita ejakulasi dini? Oh, hellAre you f*ckin’ kidding me?

Itu MCK, Bro, bahkan sudah ada yang menggedor pintu tiga menit setelah kalian berada di dalam. Tiga menit sebelum ledakan Arya itu sama sekali tidak dihitung ejakulasi dini kalau terjadi di MCK yang super sibuk itu. Lagipula, Arya sudah lama tidak coli dimana itu berarti kalau kantung spermanya sudah seperti balon hijau yang terus menerus diisi udara hingga nyaris meletus.

Lagi

Gemini Tales

3 Komentar

8959503_f520

Gemini Tales

Act 3 – Head Over Boots

Oleh : Pandu Wiratama

Angin malam menyapu rambutku. Aku dan Kak Baran duduk berhadapan di atas dua ruas batang pohon tumbang yang posisinya kami atur demikian rupa menghadap ke arah tebing di tepi danau Telaga Dalom. Tebing ini berupa hamparan luas tanah kosong yang terletak antara dua buah kebun teh di luar kota. Lokasinya tinggi di atas permukaan danau dan agak terpencil. Kulirik jurang menganga pada bibir tebing dan batu-batu tajam di bawah sana yang cukup menciutkan nyali. Aku mendesah. Tebing ini begitu indah, sekaligus berkesan mengancam.

Jazz Kak Baran diparkir tidak jauh dari tempat kami duduk. Sorot lampu mobil merupakan satu-satunya cahaya yang menyinari kami, selain bintang-bintang dan bulan setengah penuh di atas sana. Jantungku berdetak cepat. Bukankah suasana ini terlalu romantis? Hanya ada aku, Kak Baran, dan langit malam. Kuharap ini bukan mimpi!

“Pan.” Kak Baran memanggilku.

Suaranya berat dan memabukkan. Sosok Kak Baran terpantul di bola mataku. Jangkung dan tampan. Sangat, sangat gagah dengan jaket kulit dan rambut cepaknya.

“Iya kak?” Aku nyaris berbisik.

Bisa kurasakan pipiku terasa panas. Aku terlalu malu untuk membalas tatapan matanya. Tentu saja aku malu. Aku kan baru saja menembaknya. Dan Kak Baran belum memberiku jawaban. Alih-alih memberiku kepastian, cowok keren ini malah menyeretku kemari, ke sebuah tebing terpencil di luar kota. Entah dia mahluk paling tega, dan mempermainkan bocah SMA sepertiku terasa lucu baginya, atau Kak Baran cowok paling romantis di dunia. Lagi

Brian dan Key (5)

3 Komentar

download

Brian dan Key

By : Levi

Lembar Lima

Motor Brian berhenti tepat di samping aku yang lagi berdiri sambil bersandar di dinding dekat gerbang depan sekolah, dengan telapak sepatu sebelah kiri yang aku tempelkan langsung ke dinding dan asik dengan ikat rambut yang aku mainkan sejak berdiri di sini sekitar setengah jam yang lalu.

Oh, aku bukannya lagi nungguin Brian buat pulang bareng, tapi aku lagi nungguin Aldo sayangnya aku yang belum datang-datang juga dari tadi. Jadi gini, aku kan udah bilang sama Aldo sayangnya aku buat bantuin dia jualan ice cream hari ini kayak biasanya. Terus tadi dia bilang mau nyimpen gitarnya dulu di ruang musik sekalian jemput Looser di kelasnya, liat manja banget kan cewek biadab itu?

Sebenernya aku mau ikut Aldo aja, biar mastiin kalau dia nggak diapa-apain sama orang jahat waktu jalan ke ruang musik, juga mastiin Aldo sayangnya aku nggak di grepe-grepe si biadab Looser. Tapi sayangnya dia bilang kalau aku nunggu aja di gerbang, dan aku nurut. Itu makanya sekarang aku lagi di sini, melipat tangan sambil menghadap Brian yang sedang ngebuka helmnya.

“Tumben lo mau pulang bareng, ada hidayah apa? Atau Aldo barusan ngusir lo supaya nggak nganggu hidupnya lagi? Oh, sekarang kita punya gadis yang sedang bersedih di rumah,” ucap Brian sambil memangku helm di pahanya. Lagi

SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter V]

37 Komentar

Sexy, Naughty, Dirty cover

 

Arya merogoh dompet. Menghitung sisa uang di dalam dompet itu malah membuatnya meringis. Dia ingin berhemat, setidaknya sampai besok ketika dia berhasil mencegat Ibra di gerbang Kampus Ye Aksen, tapi rasa laparnya tidak mudah diabaikan begitu saja. Arya memasukkan dompet ke saku jins lalu bergerak untuk menghampiri salah satu gerobak.

Satu bungkus lontong sate seharga lima belas ribu, air mineral tiga ribu. Arya mengulurkan lembaran dua puluh ribuan dan mengantongi kembalian dua ribu. Setelahnya, dia melangkah kembali ke kursi beton berlapis ubin yang sama yang hanya ditinggalkan lima menit saja, untuk mendapati, bahwa ranselnya telah raib…

***

Mereka sudah mencari dua hari tanpa hasil, ini adalah hari ketiga. Rauf bersikeras mengatakan pada Dewa kalau Arya kemungkinan sudah pulang ke rumahnya. Bagi Rauf, berpikiran kalau Arya sudah pulang dan baik-baik saja di rumah lebih membuat senang ketimbang berpikir kalau Arya mungkin sedang meringkuk di satu sudut jalan, kedinginan dan kelaparan. Namun, Dewa selalu memberitahu kalau tak ada tanda-tanda kehadiran Arya di rumahnya. Rauf tak punya alasan untuk tidak meyakini kalau apa yang diberitahukan Dewa adalah benar. Dewa selalu melewati dan menyempatkan diri memerhatikan rumah Arya setiap harinya dalam tiga hari terakhir, pagi dan sore, begitu pengakuannya.

“Kemungkinan paling baik adalah, dia berhasil ketemu Ibra.”

Mata Rauf masih nyalang memerhatikan setiap jengkal tempat yang dilalui mobil Dewa. “Masih kemungkinan saja, kan? Bagaimana kalau bukan itu yang terjadi?” balik bertanya Rauf tanpa mengalihkan perhatiannya ke pria yang sedang menyetir di sampingnya. “Bagaimana kalau dia masih di luar sana, terlunta-lunta, sendirian dan kelaparan?” Rauf sangat sadar kalau ucapan itu lebih ditujukan buat dirinya sendiri ketimbang buat Dewa. Setelah Katia dan keluarganya, Arya sepertinya sudah jadi orang berikutnya yang menyita kepedulian Rauf.

Lagi

Gemini Tales

8 Komentar

8959503_f520

Gemini Tales

Act 2 – Rainbow Milk Lollipop

Oleh : Pandu Wiratama

Aku melirik jam dinding di sudut kamar, mematikan layar komputer, lalu mendesah. Dengan malas-malasan aku mengangkat bokongku yang sudah pewe dan berganti pakaian. Pulang sekolah tadi, masih mengenakan seragam, aku langsung duduk di depan komputer dan membuka blognya si NampanBoy, salah satu blogger favoritku.

Menurutku sih, isi blognya lucu dan cukup menghibur. Sama sepertiku, si empunya blog yang menyebut dirinya sendiri NampanBoy, mengaku masih SMA, sekarang duduk di kelas sebelas, satu tahun di atasku. Isi blognya tidak jauh-jauh dari kejadian sehari-hari yang dia alami, dengan sedikit hiperbola dan komentar humoris. Kurasa di dunia nyata, NampanBoy tipe cowok supel dan gampang dijadikan teman.

Selain caranya bertutur yang membuatku hanyut dalam tulisannya, aku juga bisa berempati pada ceritanya, karena kami sama-sama cowok yang menyukai cowok lain. Aku tertawa ketika dia membagi pengalaman lucunya, dan ikut bersedih ketika dia meluapkan emosi dan menuangkannya dalam kata-kata di blog.

Seperti tulisannya beberapa minggu terakhir, NampanBoy mengaku sedang jatuh cinta pada seorang adik kelas. Dan jelas adik kelasnya itu cowok, dan kemungkinan sudah punya cewek. Setiap hari NampanBoy menulis quote tentang orang patah hati. Tadi pagi misalnya, dia mengutip lirik lagu Imagination yang dinyanyikan Shawn Mendes.

I keep craving, craving, you don’t know it but it’s true, can’t get my mouth to say the words they wanna say to you, tulisnya di blog.

Ini salah satu lagu kesukaanku, dan liriknya selalu membuatku sedih. Jadi aku memberinya semangat berupa ikon jempol ke atas dengan identitas anonim. Lagi

Older Entries

ceritasolitude

kumpulan cerita sederhana dari seseorang yang berhati rumit.