SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter XII]

33 Komentar

Rauf mengangguk untuk menjawab pertanyaan pria di depannya. “Sebenarnya, itu apartemen kakak perempuan gue.”

“Kalau dia tinggal di gedung yang sama, seharusnya hari itu dia tidak terlambat…”

Pria di depan Rauf seperti sedang bicara pada diri sendiri. Rauf memilih untuk tidak menanggapi. Kemudian Rauf mendapati pria itu kembali fokus menatapnya, seakan sedang meneliti.

“Dia ada di dalam, kamu mau masuk atau kupanggilkan dia ke sini?”

‘Pria ini agaknya orang baik.’

“Sebaiknya gue nunggu di sini.”

“Oke.”

Si pria menghilang ke dalam, membiarkan pintu terbuka. Rauf mendadak merasa kepercayaan dirinya menguap. Sebentar lagi Arya akan menemuinya, lantas apa yang akan dikatakannya? Interaksi terakhir mereka tidak berlangsung bagus. Bisa dibilang, Arya meninggalkan apartemennya dengan kesal, atau bahkan marah.

Jadi, apa yang akan dikatakannya kalau Arya muncul sebentar lagi? Karena sepertinya mengajak Arya pulang bersamanya sangat tidak mungkin terjadi. Bagaimana Arya mau ikut dia kalau di sini ada pria tampan lain yang kalau dinilai dari segala sisi lebih dewasa dan lebih mapan darinya?

Oh, hell… sepertinya ada yang cemburu di sini.

Rauf bergerak menuruni undakan beranda rumah Theo dan lalu mendudukkan dirinya di dasar undakan, membelakangi arah pintu. Tadinya dia ingin duduk di kursi yang ada di beranda, tapi pikiran kalau jarak kursi itu ke pintu terlalu dekat yang mana bisa membuat siapapun yang berada di baliknya akan mendengar percakapannya dengan Arya nanti, maka Rauf memilih menjauh, walau itu tak cukup jauh untuk menutup kemungkinan percakapan mereka nanti akan didengar, setidaknya dia sudah meminimalisirnya. Tapi kalau dipikir-pikir, mengapa pikirannya bisa sampai ke sana? Apa dia khawatir Theo akan mencuri dengar percakapannya dengan Arya? Atas dasar apa dia perlu khawatir? Memangnya apa yang akan dikatakannya pada Arya nanti? Rauf bahkan tidak yakin mengapa dia datang mencari Arya hingga ke sini.

“Dari mana loe tahu gue ada di sini?”

Rauf menoleh melewati bahunya, Arya sedang berdiri di undakan beranda yang paling atas, sendirian, tak ada siapa-siapa bersamanya, lebih tepatnya, tak ada pria berpenampilan elegan bernama Theo di dekat Arya. Rauf memanjangkan leher agar posisi matanya bisa mengalahkan tinggi undakan beranda, lalu mencoba melihat lebih ke belakang, ke pintu yang terbuka sedikit. Theo juga tak ada di sana. Tapi selalu ada kemungkinan kalau pria itu bersembunyi di balik pintu, kan? Selalu ada kemungkinan kalau pria itu mengawasinya dan Arya dari suatu tempat yang tidak terlihat.

“Buat apa loe nyari gue?”

Rauf sadar kalau dia belum menjawab satu pun pertanyaan cowok itu. Pertanyaan pertama jawabannya mudah sekali, Rauf hanya perlu jujur mengatakan kalau dia menemukan alamat Theo di saku jins yang pernah dipakai Arya. Yang sulit adalah pertanyaan kedua. Buat apa dia mencari Arya? Damn it, sebenarnya itu juga pertanyaan Rauf buat dirinya sendiri. Buat apa dia nyari Arya? Diajak pulang untuk kemudian disodomi? Apa dia harus menjawab begitu? Yang benar saja.

Lagi

SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter XI]

72 Komentar

sexy-naughty-dirty-cover

 

Arya tercenung di gerbang. Dia tidak yakin sudah datang ke alamat yang benar. tapi taksi itu sudah pergi dan gelap sudah mulai turun. Tak ada yang berjaga di pos satpam, mungkin satpamnya sudah pulang atau rumah ini memang tidak dijaga satpam dari awal.

Ransel di punggung, gitar di tangan kiri, Arya melangkah ragu-ragu melintasi pekarangan luas rumah itu. Kata Theo──jika benar ini rumah pria itu, Arya diminta mengenalkan diri sebagai teman jika yang menyambutnya adalah orang tua Theo. Pertanyaannya, apa benar ini rumah Theo? Arya tidak lagi membekali kertas notes Theo, kemungkinan besar kertas itu berada di saku celana Rauf yang sempat dipakainya, mungkin pun sudah lumat.

Di beranda, sekali lagi Arya tercenung. Keraguan menguasainya. Seharusnya dia memikirkan masak-masak sebelum membuat keputusan. Apakah tidak memalukan, memanfaatkan kebaikan orang yang baru dikenal hitungan hari? Sebentar. Memalukan? Mengapa baru sekarang dia teringat malu? Lucu sekali, padahal akhir-akhir ini dia sangat sering memanfaatkan kebaikan orang-orang yang ditemui dalam perjalanannya kabur dari rumah. Pertama Dewa, lalu Rauf, lalu Kemal, lalu Rauf lagi, lalu sekarang Theo──sekali lagi! Jika betulan ini rumah Theo.

Tahu-tahu saja telunjuk Arya sudah menekan bel. Cowok itu sampai kaget sendiri dan nyaris menjatuhkan gitarnya.

Tak sampai semenit, pintu membuka. Seraut wajah teduh wanita paruh baya muncul di ambang pintu. Entah Arya yang salah melihat atau wanita paruh baya itu memang betulan kaget. Saat Arya menemukan raut wajah wanita paruh baya itu sedikit pias, Arya yakin kalau sosok di depannya memang betulan kaget.

“Ganes…,” desis wanita di depan Arya.

Arya mengernyit, “Emm… maaf, Tante… apa betul ini tempat tinggalnya Pak Theo?”

“Ganes…” Kini wanita itu berusaha menyentuhkan jemarinya ke wajah Arya.

“Ibu, itu bukan Den Ganes…” Seorang wanita yang sepertinya adalah pembantu di rumah itu tergopoh-gopoh menghampiri.

Jemari itu urung menyentuh wajah Arya. Dia bisa melihat kalau mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. “Maaf,” katanya.” Sepertinya saya salah rumah.”

Arya hendak berbalik ketika ibu-ibu yang dikiranya sebagai pembantu itu berujar sambil menatapnya lekat-lekat dengan kening berkerut. “Den Theo biasanya pulang ke rumah agak larut kalau sedang tidak libur. Kenapa Den Bagus tidak masuk saja dulu?”

Ternyata Arya datang ke rumah yang benar. Dia menatap bergantian dua wanita yang terlihat seusia di depannya, yang satu dengan raut wajah sendu di balik riasan tipis, dan satunya lagi wajah sederhana yang terlihat begitu baik hati──tipe yang tidak akan pernah memarahimu meski kau memecahkan selusin koleksi piring antiknya dengan sengaja. Arya masih bimbang antara masuk atau pergi saja.

Seperti tahu kalau tamunya sedang bimbang, wanita yang menawarkan Arya untuk masuk kembali berujar. “Kalau Pak Theo yang Den Bagus maksud adalah Den Theo kami yang punya kedai kopi, ini memang beneran rumahnya.” Si wanita tersenyum. “Ini Ibu Selian, mamanya Den Theo…”

Arya kembali memfokuskan pandangannya ke wanita dengan wajah sendu yang masih menatapnya tanpa berkedip itu. Arya mengira-ngira kalau si wanita sesaat lagi masih akan memanggilnya dengan nama Ganes. Setelah merasa cukup memandang wajah orang, Arya menyimpulkan kalau dia sama sekali tidak menemukan secuil pun kemiripan wajah antara Theo dan Ibu Selian ini.

Lagi

Brian dan Key (10)

7 Komentar

fix

Brian dan Key

By : Levi

Lembar Sepuluh

I started a joke
Which started the whole world crying
But I didn’t see
That the joke was on me, oh no.

Ada tiga jenis orang di dunia ini ketika dihadapkan dengan masalah, 1) Mereka yang selalu happy di segala situasi; 2) mereka yang selalu worry di segala situasi; 3)Mereka yang menjalaninya dengan biasa saja.

Sedangkan Brian dan Key saat ini sedang berusaha untuk menjadi ketiganya.

-*-

Aku berusaha mengabaikan cewek berjilbab yang duduk di sebelah Braga. “Ini kamu yang buat?” tanyaku pada Braga sambil menunjuk kue dengan cream putih yang membalut seluruh bagiannya.

Braga mengangguk antusias. “Dengan dibantu Azkia sedikit sih.” Dan benar dugaanku. Tenang, mereka hanya membuat kue dengan bersama, pasti tak ada colet-coletan tepung waktu pembuatannya, juga pasti nggak ada ketawa-ketawa akrab antara mereka, dan pastinya tak akan pernah ada rasa suka antara keduanya. I wish that’s just my prejudice.

Sekarang kembali pada kue ini. Well, semoga rasanya tidak seburuk penampilannya. Yang benar saja, aku tadi bingung yang diletakkan Braga di depanku ini adalah kue atau batu karang putih dari samudera Hindia. Dengan bolong-bolong tak jelas, dan dengan lilin yang sudah dihidupkan dari tadi sampai-sampai mencair dan mengenai hampir setengah bagian atas kue.

“Kamu nggak suka?” tanya Braga yang duduk disebelahku.

“Ha?” aku menengok sebentar pada Braga, lalu kembali menatap kue itu. “Suka kok, keliatannya aja bagus gitu. Makasih ya, udah mau repot-repot gini.” Lagi

SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter X]

66 Komentar

sexy-naughty-dirty-cover

 

“DAMN IT, DAMN IT, DAMN IT…!!!” Dewa mengumpat kencang. “Loe cari gara-gara dengan orang yang salah, Bangsat!” maki Dewa sendirian, wajahnya mengelam. Diremasnya sesuatu yang dikeluarkannya dari dalam dompet sesaat tadi lalu dibanting ke atas meja. Selanjutnya, Dewa menyambar kunci mobilnya dari atas meja lalu beranjak keluar ruangan dengan langkah-langkah lebar.

Fix, Dewa sudah menemukan seseorang kepada siapa dirinya akan melampiaskan akumulasi semua ketidaksenangannya sepanjang hari ini. Dan mengingat betapa tidak senangnya dia hari ini, sepertinya pelampiasan itu akan berlangsung dramatis.

Di atas meja, sesuatu yang baru saja dibanting Dewa teronggok sendirian. Itu adalah keratan kertas foto, sudah penyok-penyok tak keruan rupa akibat diremas tangan Dewa. Meski demikian, ada satu bagiannya yang masih dalam kondisi rapi dan jelas. Di sana, wajah Rauf jelas terlihat sedang bahagia, tindik di telinganya juga tampak sama jelas dengan bahagia yang terpancar dari senyumnya.

***

Saat gelap mulai turun di apartemen, Arya tiba-tiba saja menjadi gelisah. Ditambah dengan Rauf yang sedang bertelanjang dada di balkon, merokok sambil mengopi, gelisah itu malah membuat Arya tidak bisa duduk diam di satu tempat. Dia menyalakan tivi, tapi pintu kamar utama yang terbuka memperlihatkan pemandangan balkon yang lumayan jelas, membuat perhatian Arya terpecah antara layar tivi dan balkon dimana Rauf sedang shirtless. Setelah mengganti-ganti saluran selama tujuh menit tanpa hasrat untuk benar-benar memperhatikan tayangan, Arya menutup tivi dan mulai bergerak mondar-mandir dari ruang depan ke dapur yang kosong, lalu kembali ke ruang depan lagi dan lalu ke dapur lagi. Begitu seterusnya untuk beberapa saat lamanya.

Gelisah ini, muncul karena ingatan akan kejadian semalam, karena Rauf sedang di apartemen bersama badannya yang tak berbaju, karena mereka hanya berdua saja di TKP. Padahal kalau dipikir-pikir, sepanjang siang dan sore tadi, sudah tak ada lagi kecanggungan apapun yang mengganggu Arya terkait kejadian tadi malam. Interaksinya dengan Rauf sudah mencair dan hangat sejak mereka sama-sama kembali dari pekerjaan masing-masing, makin hangat saat perjalanan pulang pergi ke rumahnya. Tapi kini, Arya malah didera gelisah yang lagi-lagi membuatnya tidak nyaman. Setelah dipikir-pikir dalam mondar-mandirnya, Arya memutuskan kalau gelisahnya juga dipicu oleh waktu : malam. Bukankah kejadian dimana Rauf dioral olehnya juga terjadi saat malam? Yeah, secara teknis memang dini hari, tapi tetap saja dihitung malam, kan? Mengingat kalau beberapa jam lagi dia dan Rauf akan berangkat tidur, gelisah Arya tiba-tiba saja naik level sampai keringat dingin mulai muncul di keningnya.

‘Apa sekarang dia sedang memikirkan hal yang sama?’

Mereka hampir saja bertabrakan. Arya yang tidak fokus berjalan nyaris menubruk Rauf yang hendak ke dapur untuk mengembalikan cangkir kopinya yang kosong. Saat Rauf menyisi dan melewatinya untuk ke dapur, Arya bisa membaui aroma parfum pria itu yang tertinggal di belakang. Parfum bercampur keringat. Rasanya Arya mulai akrab dengan bau Rauf hingga yakin kalau dirinya pasti akan langsung tahu kalau pria itu ada di sekitarnya hanya dengan mencium aromanya, meski sosoknya belum terlihat. Arya merasa, kalau aroma Rauf dan indera penciumannya sudah terikat sedemikian rupa. Kalau hubungannya dengan pria itu sudah sampai pada tahap mampu mengenal aroma tubuh, bukankah itu sangat berarti sesuatu?

Lagi

Brian dan Key (9)

2 Komentar

fix

Brian dan Key

By : Levi

Lembar Sembilan

Cahaya yang masuk dari tiap sela yang ada di jendela kamar mulai mengganggu tidurku. Aku membuka mata kemudian memicing karena cahaya yang masuk benar-benar membuat silau.

Aku melirik jam di atas nakas, sudah jam enam lewat lima belas. Aku harus bergegas supaya tidak datang terlambat ke sekolah. Aku bangkit dari tidurku, duduk di tepi ranjang, mengucek kedua mata, lalu menguap sekali.

Warna biru pada salah satu tanggal di kalender membuat mataku melebar. Delapan Februari jelas yang berada di dalam lingkaran dari spidol biru itu. sedangkan tanggal di sebelahnya diberi lingkaran merah. Aku yang membuatnya, jadi tak mungkin lupa dengan dua tanggal itu. hari ini pra-ulang-tahunku!

Dan Ibu serta Dad tak ada. Great.

Rasanya aku jadi malas melakukan apa pun hari ini. Eh, tapi hari ini aku bisa menyiapkan segala sesuatu untuk ulang tahunku. Seperti menghias ruang tamu, memberi balon-balon di kamarku, atau apa saja yang mungkin bisa aku lakukan di hari yang indah ini. Jadi, aku segera beranjak untuk ke kamar mandi dan memikirkan hal apa saja yang harus aku lakukan hari ini. Lagi

Older Entries

ceritasolitude

kumpulan cerita sederhana dari seseorang yang berhati rumit.