KOMA,

47 Komentar

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Tidak ingin banyak berkata-kata, hanya, terima kasih kepada kamu yang mengunjungi dan membaca kolom postingan ini secara sengaja, juga terima kasih kepada siapa saja yang mengunjunginya karena tersesat. Dan, terima kasih yang sangat besar dariku buat Dayudhistira Akhtar yang telah mengalirkan imajinasi di dalam kepalaku begitu derasnya sampai tulisan ini jadi dan publish.

Tidak ingin berkomentar panjang tentang ceritaku kali ini, toh covernya sudah mendeskripsikan isinya dengan begitu gamblang. Hanya, semoga kalian──yang mampir karena sengaja ataupun yang tersesat──dapat menikmati membaca KOMA, seperti aku menikmati ketika menulisnya.

 

Wassalam.

n.a.g

##################################################

 

Aku tak habis pikir dengan cinta. Cinta benar-benar aneh. Oh, baiklah… cinta adalah keanehan mahabesar yang pernah tercipta di muka bumi. Tak ada kompromi. Mungkin kalian akan terheran-heran ketika melihat anak sapi berkaki enam, atau pisang berbuah daun, atau telur bertangkai, atau orang makan beling, atau kuda beranak kambing──sebut lainnya, tapi menurutku, cinta ternyata lebih mengherankan lagi. Tidak percaya? Tidak mengapa, tapi mungkin kalian ingin duduk sejenak, mengopi sambil merokok, atau sambil melakukan apa saja, sementara mendengar temanku, Nayaka Al Gibran, bercerita buat kalian. Setelah itu, terserah kalian mau setuju denganku atau tidak. Namun tolong jangan kesal dengan Gibran seandainya kalian tak menyukai ceritanya, dia tidak salah apa-apa, dia hanya menulis apa yang kuinginkan untuk ditulisnya. Jika ingin protes, protes saja padaku, hanya padaku. Seharusnya kalian bisa protes juga pada Fikar──yang telah lancang jatuh cinta padaku tanpa ijin dulu, tapi sayangnya, kalian tidak bisa protes pada Fikar lagi…

***

Dayu yakin sudah melakukan hal yang benar, bahkan sangat yakin. Seharusnya, jika sudah seyakin itu, pikirannya tidak perlu lagi tertuju ke sana, ke tempat yang baru saja ditinggalkannya beberapa menit lalu itu, di mana di sana dia juga turut meninggalkan seorang bocah sok tua. Seharusnya, jika sudah seyakin itu, hatinya sudah boleh merasa ringan, tapi sialnya, perasaan bahwa dia telah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukannya malah merongrong hatinya. Kalau demikian, bukankah seharusnya dia tidak yakin? Konon lagi ‘sangat yakin’, kan?

Dayu memukul setir. Tidak jelas apakah dia kesal atau marah, bukan pada setir, tapi pada dirinya sendiri. Diliriknya arloji di pergelangan tangan kirinya sekilas. Padahal tanpa melihat penunjuk waktu pun, dia bisa mengira-ngira dengan tepat sudah berapa lama waktu berlalu sejak dia masuk ke mobilnya dan mengemudi pergi──yang menurutnya pasti diikuti pandangan sayu si bocah sok tua yang ditinggalkannya itu.

Apa sebenarnya Dayu telah salah berpikir? Dia mengira kalau langkah yang diambilnya sudah benar, bagaimana kalau ternyata dia salah? Dayu mendadak digempur kebimbangan mahabimbang.

Oh, for God’s sake, Dayu… Dia cuma kenal loe sebagai satu-satunya orang yang sudah seperti kerabat buatnya di sini, dan loe begitu saja menjauhkannya? Apa loe sudah kehilangan kewarasan loe? Bagaimana kalau dia sakit lagi seperti waktu itu, atau sedang ditimpa kesulitan semisal ATMnya kosong lagi? Setiap anggota keluarga yang bisa membantunya di dua masa sulit itu berada bermil-mil jauhnya dari sini. Loe memang bukan anggota keluarganya langsung, tapi di sini cuma ada loe. Cuma loe! Bagaimana loe bisa mengasingkan diri darinya begitu saja?

Sial!” Sekali lagi setir itu kena pukul. “Anjar berengsek!” Jika makhluk hidup, setir itu bisa jadi sudah menangis tersedu-sedu karena dipukul Dayu bertubi-tubi. “Sialan loe, Fik!”

Dayu membanting setir ke kanan begitu saja, tanpa lebih dulu memeriksa posisi kendaraannya di jalanan. Dan detik itu juga klakson menjerit mengerikan dari depan dan dari belakang mobilnya. Decit ban menggesek aspal dari kendaraan-kedaraan di belakangnya mengikuti kemudian. Bunyi decit ban ini terdengar lebih mengerikan lagi dari jerit panjang klakson-klakson itu.

Lalu…

BRAAKKK

Lagi

Iklan

1001 Samsara: Immortal Ascencion

10 Komentar

Act 2/2 : We can hurt together, Cori!

Oleh : Pandu Wiratama

=================================================================

“Cori, ini Siv, pacar gue… Siv, ini Cori…eh?” Aku terdiam kebingungan. “Ummm?”

Aku memperkenalkan Cori pada pacarku. Sebetulnya aku masih tidak yakin ini pilihan bijak, mempertemukan cewekku yang tukang gelisah dan sedikit penakut dengan bocah gila yang suka bicara seenaknya. Maksudku, Cori mungkin saja homo dan suka padaku. Gimana kalau bocah itu tiba-tiba mengamuk dan menyerang Siv, lalu mereka cakar-cakaran? Oke, mungkin tidak. Cori terlalu gagah buat cakar-cakaran sama cewek. Dia sinting. Bukan kemayu.

Masalahnya aku terlalu terpaku pada kecemasanku hingga melupakan satu poin penting. Cori harus kuperkenalkan sebagai siapa? Sialnya, aku baru sadar itu sekarang.

Siv menatapku kebingungan.

“Cori itu…” Dahiku mulai bercucuran keringat. Cori itu siapa? Ayolah Agra, putar otak loe! Buat loe, Cori itu emang siapa?

Temanku? Itu sedikit maksa. Cori empat tahun lebih muda dan aku tak merasa kami berteman. Dia cuma bocah kesepian yang suka mengikutiku seperti anak bebek. Haruskah kuperkenalkan dia sebagai adikku? Well, itu tidak benar dan aku tak mau membuat Siv salah paham. Nanti bisa runyam urusannya. Dan tidak, dia bukan abangku! Terima kasih.

Yang paling masuk akal adalah memperkenalkan Cori sebagai bocah gila yang suka padaku. Itu separuh fakta! Tapi… tidak, tidak! Nanti kesannya aku kegeeran. Lagian apa benar Cori suka padaku, ehm, maksudku apa benar dia itu homo?

Sial! Belum apa-apa bocah sinting ini kembali membuatku sakit kepala.

“Gue Cori… Corilus Deva Sanjaya, abangnya Scipio.” Cori memutuskan untuk memperkenalkan dirinya sendiri.

Aku menatapnya horor. Habis sudah! Apa yang bakal dipikirkan Siv kalau tahu ada bocah sarap yang mengaku-ngaku sebagai abangku dan suka mengikutiku kemana-mana seperti benalu? Apa Siv akan minta putus denganku?

Kulirik Cori dengan tatapan bengis. Bocah satu ini minta kumutilasi! Jangan salahkan aku, Bun! Pulang dari sini, anak jadi-jadian kesayangan Bunda ini bakal kugorok dan kubuang ke sungai! Aku menolak tinggal di langit yang sama dengannya!

Siv menutup mulut dengan sikap berlebihan. Matanya terbelalak. “Agra, dia kembaran kamu?” pekiknya tertahan.

Kuputar-putar mataku. “Siv, sweetheart, coba liat yang bener! Kamu gak liat seragamnya? Dia gak mungkin kembaranku, kecuali dia sebego itu dan empat tahun gak naek kelas!” Lagi

SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter XIV]

35 Komentar

“Gue paling ingat kata-kata Dewa yang ini, mungkin sekilas terdengar lucu dan konyol, tapi maksudnya serius sekali, bahkan menyedihkan…”

“Apa katanya?” tanya Arya penasaran.

“Katanya, kalau cintanya ke loe gak akan kesampaian, dia akan merasa bagai dikebiri. Dan dia sama sekali gak terlihat bercanda saat mengatakannya, Bro…”

Arya tercengang di kursinya. Setelah mendengar penuturan Ibra, dia merasa dirinya bagaikan sedang berdiri di tengah-tengah labirin, dan di depannya menunggu lorong-lorong untuk dimasuki, salah satu dari lorong itu akan membawanya ke jalan keluar yang terang benderang, sedang sisanya adalah lorong-lorong yang akan membuatnya tersesat semakin jauh ke dalam labirin yang gelap pekat. Sekali dirinya salah memilih lorong untuk dimasuki, maka dia akan menyesali pilihannya itu selamanya. Arya tidak tahu, apakah Rauf, apakah Theo, atau malah Dewa, lorong labirin yang benar-benar akan menyelamatkannya dari tersesat selamanya. Karena, hingga detik ini, Arya masih suka membayangkan dirinya sedang mengoral Rauf, masih sering mengingat apa yang terjadi antara dirinya dan Theo di dalam mobil pria itu, dan kini… dia tahu kalau cinta Dewa buatnya ternyata sungguhan.

“Menurut loe, apa maho bisa mendapatkan petunjuk tentang siapa pria maho yang harus dipilihnya untuk jadi pasangan dengan melakukan shalat istikharah?”

Ibra terpegun sejenak. “Fix, loe bakal jadi puntung neraka kelak, Bro.”

“Gue juga sudah dipastikan bakal jadi puntung neraka kalau beneran jadi botnya Dewa. Loe kira, loe bisa masuk surga dan bercinta sama bidara-bidara cakep di sana kalau selama di muka bumi loe sibuk ngangkangin kontol aja? Maaf sekali harus ngerusak khayalan loe, Bra, karena kita, loe dan gue, bakal dibakar sampai gosong di neraka.”

“Seenggaknya gue udah ngerasain nikmatnya dulu,” ujar Ibra santai. “Apa gue udah pernah ngasih tahu gimana rasanya saat silit gue ditusuk-tusuk sama kontol loe?”

Arya melengos.

“Oke, kalau loe gak mau tahu gimana efek yang terjadi sama gue saat ditusuk loe, loe bisa nyari tahu efek loe sendiri dari Dewa. Tuh laki pasti punya kontol gede.” Ibra berdeham. “Sorry, perkiraan gue punya dia bisa jadi lebih gede dari punya loe.”

“Sialan loe!” rutuk Arya.

Ibra tertawa. “Lagian, loe sendiri udah pernah ngeliat isi celana dalam Dewa, kan?”

Arya serta merta terbayangkan saat dia memergoki Dewa sedang coli di ruang kerjanya yang transparan itu. Ibra benar, Dewa punya penis yang bagus, tapi Ibra juga keliru dengan mengatakan penis Arya lebih kecil, karena Arya sangat bangga dengan ukurannya sendiri. Toh Ibra juga selalu bilang penisnya gede saat dia masih aktif jadi top maho fleksible itu.

“Kira-kira, kalau suatu saat nanti loe dan Dewa betulan punya hubungan khusus, menurut loe, dia keberatan gak threesome sama gue? Loe berdua bisa ngefuck gue, double.” Lagi

1001 Samsara: Immortal Ascencion

6 Komentar

Act 1/2 : Come hurt with me, Scipio!

Oleh : Pandu Wiratama

===========================================================================

 

Author’s Note:

Gue udah lama banget pengen bikin cerita soal cowok sekarat. Iya, gue tau tema itu udah basi dan berseliweran di luar sana. Jadi gue pikir harus nambahin sesuatu biar sedikit orisinil, iya dong? Tapi nyatanya ide gue mentok, dan akhirnya gue mutusin buat ngeduetin antara cowok sekarat dan si bocah sinting, dan jadilah cerita ngaco ini, buhahaha…

Cerita ini bakal ada dua part, karena kalo digabung kayaknya terlalu panjang, entar pusing bacanya. Idenya udah ada dari gue nulis Good Side of Bad Karma. Jujur gue suka banget karakter Cori. Kalo penulis jatuh cinta sama karakter yang dia tulis, itu termasuk narsis gak ya? Oiya, jangan punya ekspektasi lebih, oke? Maksud gue, ini kan cerita tentang cowok sekarat ama si bocah sinting, mau dipikir gimana juga, akhirnya udah jelas, iya kan? Oke, semoga ada yang bisa menikmati cerita ini.

Jangan lupa follow wattpad gue di @panduwiratama6, oke, oke!

===========================================================================

 

Aku ingin mati, tapi orang tuaku tidak mengijinkan.

I’m broken and I’m barely breathing…

Agra Scipio Guntara. Lumayan tinggi. Lumayan ganteng. Kulit warna gading. Rambut hitam yang terlihat gaya dengan poni ke atas. Aku bukan keturunan Indo. Bukan pula outsider. Tidak, aku asli pribumi, inlander sejati. Kata Ayah, nenek moyang kami berasal dari bagian selatan pulau Andalas, sebuah tempat yang tak lagi bisa kamu temukan di peta dunia.

Tapi itulah namaku. Sedikit berbau Indo, seolah aku bagian dari kelompok berjubah emas dan berkulit pucat, kasta tertinggi populasi Oosthaven. Karena Ayah menaruh semua harapannya padaku, mimpi kosongnya bahwa suatu saat nanti, di bawah kepemimpinanku, keluarga Guntara bisa naik kasta dari sekedar pedagang kaya raya menjadi ningrat. Harapan palsu. Karena sebentar lagi aku akan mati. Sementara Ayah terbelenggu Undang-Undang Populasi untuk sekedar memberiku adik, atau baginya, ahli waris sejati. Seorang yang bisa berumur panjang. Seorang yang bisa diandalkan. Bukan mahluk pemurung yang separuh kakinya terperosok ke liang kubur seperti aku. Baiklah. Apa aku terdengar seperti sedang mengasihani diri sendiri? Well, memang begitu lah faktanya.

I’m falling cuz my heart stopped beating…

Usiaku dua puluh satu, mahasiswa tahun terakhir. Dan kurasa, ini juga bakal jadi tahun terakhir hidupku. Sebetulnya aku sudah lama ingin mengakhiri ini, hidupku yang tidak berarti. Tentu saja Ayah tidak mengijinkan. Bunda tidak memberiku restu. Mereka terus berharap keajaiban turun dari langit. Tapi apakah kamu tahu esensi dari keajaiban?

Hal yang mustahil terjadi. Karena kalau itu terjadi, orang-orang tidak akan menyebutnya keajaiban. Aneh kan? Kupikir ini sejenis paradoks atau apa. Sama seperti pertanyaan klasik, kalau alam semesta tidak terbatas, kenapa langit malam tidak dipenuhi bintang? Tapi kalau semesta berbatas, apa yang ada di luarnya? Lagi

Gemini Tales

8 Komentar

Gemini Tales

Act 6 – I Shall Seal Your Heart

Oleh : Pandu Wiratama

 

Entah berapa lama aku melumat bibir Arkan. Semula cuma berupa kecupan lembut di bibir, lalu meningkat jadi pagutan, hingga akhirnya lidah kami saling bertaut. Melihat reaksi Arkan yang gelagapan, cowok itu sama sekali tidak menyangka aku berani mengecup bibirnya. Jangankan Arkan, aku saja terkaget-kaget oleh tindakanku sendiri! Ini kedua kalinya aku bersikap liar dan membiarkan napsu menguasai aksiku. Mengingat hasil akhir antara aku dan Kak Baran, jelas sudah ini bukan tindakan pintar.

Dengan panik Arkan mendorong tubuhnya ke belakang dan lidah kami akhirnya terpisah. Napas kami memburu seperti lokomotif uap. Dada Arkan yang telajang naik turun dengan cepat.

“Gua… baru kali ini… ciuman begitu,” katanya tersengal dengan muka merah, entah karena malu setelah secara prematur mengakhiri paksa ciuman kami karena kehabisan napas, atau karena sebab lain yang juga alasan sesuatu mengacung seperti tongkat di balik handuk yang melilit pinggangnya.

Aku memutar mata. “Kalo lo yang udah lama pacaran aja baru pertama kali, apalagi gua yang selama ini ngejomblo!”

Pipi Arkan kembali merona, kurasa kali ini seratus persen karena malu. “Gua sama Nadia gak pernah ciuman. Kami kan pacaran model syar’i!” dia berusaha membela diri.

“Pacaran mana ada yang syar’i! Lo pikir gua bego!” sangkalku sambil tertawa.

Aku merasa geli karena sikap angkuh yang tadi Arkan perlihatkan saat menantangku kini sepenuhnya lenyap, digantikan ekspresi meragu, dan sampai batas tertentu, insekuritas? Ini sisi rapuh Arkan yang jarang kulihat. Biasanya dia selalu tampil percaya diri, betapapun sulitnya keadaan. Bahkan kadang terlalu pede hingga orang-orang mulai menjulukinya si muka badak. Misalnya saat Arkan tetap ngotot menembak Nadia bahkan setelah ditolak entah kesekian kalinya. Oke, cukup soal Nadia. Kenapa aku malah ingat sama mantan ceweknya Arkan ketika kami berciuman?

Aku kembali menarik tengkuk Arkan mendekat. Bibirku kembali melumatnya, sementara lidahku memaksa masuk, mengobok-obok rongga mulutnya hingga dia tersedak. “Pan!” serunya terengah di sela sesi ciuman kami. Tidak kuindahkan protesnya itu. Maksudku, aku bahkan tidak yakin Arkan beneran protes. Bukankah tadi itu lebih terdengar seperti erangan? Mungkin Arkan cuma keenakan aku cium? Lagi

Older Entries

ceritasolitude

kumpulan cerita sederhana dari seorang yang berhati rumit.