Sexy, Naughty, Dirty cover

“Kenapa? Apa ranjangnya kurang lebar?”
“Iya, kurang lebar buat nyegah loe meluk gue.”

Rauf sontak saja tersedak. Dia batuk-batuk lagi hari ini. Sarapan bersama Arya sepertinya memang rawan membuatnya tersedak. Ini kali kedua ucapan Arya membuat mogok kinerja kerongkongannya, kali ketiga jika tersedak di coffee shop ikut dihitung.

Benarkah dia meluk Arya?

Meluk?

Arya?

Meluk laki-laki?

Sambil tidur?

Sempurna. Yang dilakukannya persis seperti pasangan gay yang sedang dimabuk asmara: tidur berpelukan.

‘Shit. Ada yang salah dalam diri gue!’

Tapi… selalu ada kemungkinan kalau Arya setan itu hanya mengada-ada, kan?

“Gue gak mengada-ada. Itu kenyataan…”

“Loe ngebaca pikiran gue?”

“Gue ngebaca ekspresi loe.”

Rauf mendiamkan diri. Sepertinya Arya memang serius, dan apa yang dikatakannya tentang dirinya yang telah memeluk Arya sepertinya memang betulan kejadian. “Mulai nanti malam biar gue yang tidur di sofa.”

Arya tercengang sejenak. “Wow…”

Rauf menyudahi sarapannya lalu bangun membawa piring dan gelas miliknya ke sinky.

“Kenapa loe bisa sebaik itu ke gue?”

Pertanyaan Arya menikam punggung Rauf, terasa seperti tikaman belati yang terbuat dari inti es di Kutub Selatan. Kenapa dia sebaik itu pada Arya? Sepertinya pertanyaan Arya itu adalah juga pertanyaan dirinya sendiri. “Gak tahu,” jawab Rauf singkat sambil membilas piringnya di bawah keran.

“Padahal kita enggak temenan. Bukan sodara. Gak saling kenal juga sebelumnya, dan gak pacaran juga…”

Rauf mengeringkan tangan ke kain lap. Kata pacaran yang diucapkan Arya menggema jauh ke dalam dirinya. “Gue mau ke gym, sebaiknya loe bergegas kalau mau ikut.”

“Apa gak bakal gangguin agenda loe sebagai gigolo setelahnya?”

Rauf ingin menjawab kalau dia bukan gigolo, tapi menurutnya itu tak penting lagi kini. “Sepanjang minggu ini gue libur jadi pelacur.”

“Wow again…,” sahut Arya sedatar cermin.

Arya bangun dari kursi, meninggalkan gelas dan piring bekas sarapannya terbengkalai begitu saja di meja. Dibuntuti tatapan Rauf di punggungnya, Arya berjalan menuju kamar untuk kemudian sekali lagi mengubek-ubek isi lemari Rauf, lalu mengurangi gel rambutnya, deodorant-nya, cologne-nya yang beraroma jantan, dan parfumnya yang tak kalah jantan tentu saja.

***

“Mas Dewa ini temennya Mas Arya, ya?”

“Bukan, Mas Dewa pacarnya Mas Arya.”

Bocah di depan Dewa membundarkan matanya, sepertinya dia belum begitu mengerti kata ‘pacar’ yang diucapkan lawan bicaranya.

Dewa tertawa. “Ya bukanlah, masa laki-laki pacarnya laki-laki juga. Mas Dewa ini temennya Mas Arya, iya.”

“Ooohhh…” Bocah di depan Dewa tersenyum lebar menampilkan gigi susunya yang belum tanggal satu pun.

Dewa mendapati dirinya terpesona. Bocah ini benar-benar mirip Arya, bahkan caranya tersenyum. “Jadi, Mas Arya belum pernah pulang sama sekali ke rumah?”

Bocah itu menggeleng kuat-kuat. “Tapi bisa jadi Mas Arya pernah pulang pas Ayas di sekolah. Sebentar, Ayas tanya Bik Is dulu.” Ayas sudah bersiap meloncat turun dari sofa ruang tamu ketika suara pembantu rumahnya membatalkan usahanya.

Ndak ada, Den. Mas Arya belum pernah pulang.”

“Ah, padahal gak perlu repot-repot segala, Bik. Saya cuma mampir sebentar,” cetus Dewa ketika pembantu rumah Arya meletakkan satu gelas berembun berisi sirup dingin di depannya dan lalu satu lagi di depan Ayas.

“Mas Dewa, kan, tamu. Jadi harus dibuatin minum. Iya, kan, Bik Is.”

Wanita yang dipanggil Bik Is oleh Ayas tersenyum ramah. “Iya.”

“Jadi, sejak meninggalkan rumah, Arya memang belum pernah pulang sama sekali, ya, Bik?”

Pembantu rumah Arya menggeleng.

“Dan selama ini papa mamanya gak melakukan usaha apapun buat menemukan Arya?” Kening Dewa berkerut menatap pembantu rumah Arya yang lagi-lagi menggelengkan kepala.

“Papa bilang, biar Mas Arya tahu gimana susahnya nyari duit di luar sana. Biar bisa hormat sama orang tua, gitu.”

Dewa beralih memandang Ayas yang duduk di sofa berseberangan. “Di mana papanya Ayas sekarang?”

“Ya di kantor-lah, Mas Dewa. Gimana sih, itu pun gak tau!” jawab Ayas sengit.

“Hush, Den Ayas gak boleh gitu sama yang lebih tua,” tegur si pembantu.

Dewa tersenyum lebar. Makin banyak dia menemukan kemiripan Ayas dengan kakaknya. Diraihnya gelas lalu dikosongkannya. Ekor matanya menemukan Ayas melakukan hal yang sama. Ketika Dewa menyapu mulutnya dengan punggung tangan setelah menaruh gelas kembali, bocah itu juga mengikuti melakukan hal yang sama dengannya. Dasar beo.

“Mas Dewa betulan temennya Mas Arya?”

Dewa yang sedang merogoh dompetnya memandang Ayas. “Iya. Ayas gak percaya?”

“Jarang ada temen Mas Arya yang datang ke rumah.”

“Oh ya?”

“Iya.”

“Kalau temen Mas Arya yang namanya Mas Ibra juga jarang ke rumah?”

“Ayas gak suka Mas Ibra!”

“Kenapa?” tanya Dewa sambil mencari-cari ke dalam dompetnya.

“Kalo Mas Ibra udah ke rumah, pasti deh pintu kamarnya Mas Arya dikunci. Ayas gedor-gedor pun gak mau dibuka.”

Dewa batuk-batuk sebentar lalu menyengir pada Ayas. “Iyakah?”

Ayas mengangguk mantap. “Pokoknya, Ayas gak suka kalau Mas Ibra itu datang ke rumah.”

“Oke,” sahut Dewa. “Nanti kalau Mas Dewa ketemu Mas Arya, Mas Dewa bilangin kalau Ayas gak suka Mas Ibra diajak ke rumah, ya…”

“Bilangin langsung aja ke Mas Ibra!” cetus Ayas ngotot. Pembantunya kembali ber-hush padanya.

“Whoa…” Dewa tertawa merespon kengototan Ayas. “Oke, oke, oke!” lanjutnya sambil mengangkat kedua tangan di depan dada.

“Itu apa?” Ayas menunjuk kertas kecil segi empat yang terselip di jari Dewa.

“Oh, ini buat Bik Is…”

“Namanya bukan Bik Is!” seru Ayas kencang.

“Den Ayas gak boleh gitu ah.”

“Lho, tapi Ayas manggilnya Bik Is, kan?” Dewa masih ingin meladeni bocah itu.

“Itu karena Ayas enggak bisa manggil Bik Iiiisss…!”

“Nah, itu bisa,” kata Dewa.

Ayas berdecak kesal. “Mas Dewa ini ganteng-ganteng tapi bodoh, sama kayak Mas Arya!”

“Den Ayas, nanti Bibik bilangin Mama lho, ya!” ancam si pembantu.

“Abisnya, Mas Dewa ini manggil Bik Is aja gak bener, bodoh banget!”

“Bik Is, kan?” ulang Dewa mulai bingung.

“Bik Iiiisss…!”

Si pembantu tersenyum lumrah pada Dewa. “Maksudnya Den Ayas, Bik Euis lho, Mas,” terangnya pada Dewa.

Dewa tertawa bekakakan. “Ish, Ayas sendiri yang gak bener manggil malah nyalahin kita.” Dijangkaunya kepala Ayas dan di acak-acaknya rambut bocah itu.

Ayas tersipu-sipu sendiri.

Dewa lalu menyodorkan kertas di tangannya ke Bik Euis. “Saya minta tolong ya, Bik. Kalau Arya entah kapan nanti ada pulang, tolong hubungi saya di nomor telepon ini.”

“Itu apaan sih?” Ayas turun dari sofa dan menjengukkan kepala ke tangan Bik Euis.

“Ini namanya kartu nama, Den.”

“Oohh,” respon Ayas singkat seakan sangat paham jawaban yang diberikan pembantunya itu, dia mundur kembali dan naik ke sofa semula. “Kartu nama itu apa?” Oh, ternyata dia tidak sepaham itu.

“Kartu yang ada namanya,” jawab Dewa singkat padat tapi tidak jelas sama sekali.

“Apa namanya?”

“Kartu ini namanya Dewa.”

“Kok sama kayak nama Mas Dewa?”

“Kami kembar.”

Sejenak Ayas terpegun dengan mata membelalak, sedetik kemudian bocah itu tertawa tepingkal-pingkal sambil menyundul-nyundul bantalan sofa dengan kepalanya. Dewa dibuat ikut terpingkal-pingkal juga, bahkan Bik Euis juga. “Mas Dewa ini selain bodoh ternyata lucu juga…”

“Den Ayas, ini beneran Bibik bilangin Mama lho, ya!”

Ayas berlagak kalem dan melipat kaki di sofa.

“Kalau gitu saya pamit dulu, Bik Euis,” Pamit Dewa setelah tawanya mereda. Dia sengaja memberi tekanan ketika memanggil nama Bik Euis sambil mengerling pada Ayas. Yang dikerling kembali tersipu-sipu. “Gimana, apa sekarang udah bener?”

“He he he…”

Bahkan cengirannya pun mirip Arya. Sepertinya Dewa juga menyukai adiknya Arya. Gimana ya rasanya kalau penisnya yang besar dipegang tangan Ayas yang kecil mungil? Mungkin Ayas perlu pake kedua tangannya sekaligus biar bisa melingkarinya. Pikiran Dewa benar-benar sudah terkontaminasi. Sepertinya dia harus merendam kepalanya dengan cairan antiseptik habis ini.

“Sampai jumpa, Ayas.”

“Bai bai,” balas bocah itu sambil dadah-dadah ke Dewa. “Kalau ketemu Mas Arya, suruh dia pulang, ya! Ayas kangen.”

Dewa mengangguk.

“Jangan lupa pesen Ayas buat Mas Ibra.”

“Jangan datang-datang lagi ke rumah, kan?”

Ayas mengangguk mantap.

“Gak mau nambah? Jewer kuping misalnya?”

“Mas Dewa berani?”

“Berani dong.”

“Oke.”

“Oke.”

***

Arya sudah mematung di dekat pintu masuk coffee shop itu sejak hampir seperempat jam yang lalu. Orang-orang yang keluar masuk di dekatnya sama sekali tidak menggubris keberadaannya yang bagaikan manekin itu, mungkin mereka mengira kalau dia adalah penjaga pintu, atau paling keren dikira sebagai penyambut tamu. Pandangannya meliar antara meja bar di satu sisi dan meja kasir tak jauh dari tempatnya berdiri dan mondar-mandir dua pramusaji cowok yang salah satunya pernah melakukan one way communication padanya saat insiden ‘lupa bayar’ sepuluh hari yang lalu.

Arya ingin masuk, tapi tidak tahu harus menemui siapa bila sudah di dalam sana. Apakah salah satu dari dua barista di balik meja bar, salah satu dari dua cowok pramusaji, cowok berpenampilan kayak chef yang wara-wiri di dekat barista, atau si mbak kasir? Katakan saja dia memilih acak, lalu apa yang akan dikatakannya saat sudah berhadapan? Arya yakin dirinya akan gagap mendadak saat sudah berhadapan dengan salah satu dari orang-orang itu.

Sialan, padahal dia sudah berlatih sepanjang malam tadi.

Keringat sudah memercik di dahi Arya ketika cowok pramusaji yang diingat sempat memanggilnya ‘Kak’ itu tiba-tiba mengarahkan pandangan ke pintu masuk, tepat ke sosoknya yang berdiri agak ke samping pintu kaca bertanda ‘PUSH’. Mereka sempat berpandangan beberapa detik sebelum kening si cowok pramusaji berlipat heran.

Shit, keringat Arya muncul makin banyak. Sekarang kepalanya mulai terasa gatal. Dia menahan mati-matian keinginan untuk menggaruk kepalanya kayak gorilla. Si cowok pramusaji masih mengernyit menatapnya, dia sedang berdiri bersandar ke meja si barista, menunggu nampannya diisi kembali. Sialannya nampan itu tak kunjung diisi si barista, tidak juga oleh cowok chef. Arya merutuk dalam hati karena pandangan si cowok pramusaji yang lagi nganggur nganterin nampan itu makin leluasa memindainya.

Arya sudah akan berbalik pergi meninggalkan pintu masuk coffee shop itu, lantas naik lift kembali ke apartemen Rauf, ketika si cowok pramusaji berjalan pantas ke arahnya setelah bicara sesuatu pada salah satu barista.

‘Gawat, itu anak jalan ke sini. Ngapain sih dia ke mari, bukannya nganterin nampan aja sana!’

‘Sial, gue harus apa ini… lari nanti diteriaki maling, berdiri aja? itu anak sedang ke sini…’

Selagi Arya sibuk bicara sendiri, sekonyong-konyong si cowok pramusaji sudah tegak di depan hidungnya.

‘F*ck, kok dia udah nongol di sini aja!’

“Ehhem… ada yang bisa dibantu, Kak?”

“Gue mau kerja di sini!”

What the ffff… Arya sontak membekap mulutnya dengan satu tangan. Kalimatnya melesat begitu saja, dengan nada membentak pula. Sayap malaikat pasti sedang rontok saat ini.

Cowok di depan Arya menatap makin bingung. “Maaf?”

“Emm… engg… maksud gue, emm… maksud gue…”

“Kakak mau lamar kerja di sini?”

“Nah, itu maksud gue!”

What the fff again… Dia terlalu bersemangat dari yang seharusnya. Bisa dikatakan kalau dia sedang membentak-bentak cowok di depannya.

“Kakak gak perlu teriak-teriak gitu kok, aku bisa dengar.”

Arya merasakan tenggorokannya terganjal es batu. Seumur-umur, dia belum pernah melamar pekerjaan. Dia sama sekali tidak tahu seperti apa mekanismenya. Kebegoan Arya itu sebenarnya wajar saja, mengingat sebelum berstatus ‘meninggalkan rumah’ dia selalu kelebihan uang.

Si cowok pramusaji kembali memindai Arya dari atas sampai bawah, dari sepatu lepes bergaya kasual di kaki Arya sampai kaos gelap berlogo elang garis-garis di dada sebelah kiri yang dikenakan Arya. “Emm… aku gak tahu kalau CS Coffee Shop sedang nyari karyawan atau enggak saat ini, tapi kalau Kakak serius mau kerja di sini, biar kuantar ke manejernya langsung.”

Tuh, kan, Arya memang dungu betulan, tadinya dia mengira salah satu dari pramusaji atau salah satu dari barista atau cowok chef atau si mbak kasirnya sendiri bisa langsung memutuskan apakah dia diizinkan bekerja atau tidak. Sama sekali tidak terpikirkan olehnya kalau dunia kerja mengenal kata ‘manejer’.

“Loe bukan manejernya?” Arya berhasil bicara rendah kali ini.

Si cowok pramusaji terlihat sangat ingin tertawa, tapi entah bagaimana dia berhasil menahannya. “Kalau aku manejernya, aku gak akan megang-megang nampan.”

Arya melirik melewati bahu si cowok pramusaji, memerhatikan orang-orang di dalam coffee shop sambil menerka-nerka siapa di antara tiga orang di balik meja bar dan si mbak kasir yang dimaksud cowok di depannya sebagai manejer. Dia mengesampingkan satu orang pramusaji lainnya berdasarkan kesimpulan yang dibuatnya dari ucapan cowok di depannya: manejer tidak megang nampan.

Mampus, manejernya pasti si mbak kasir itu.’

“Kakak bawa surat lamaran kerjanya?”

Arya kembali lagi ke depan pintu masuk coffee shop. “Eh?”

“Surat lamaran kerja. Kakak mau lamar kerja di sini, kan?”

“Iya.” Arya menelan ludah. “tapi gue gak tahu kalau gue harus bawa, surat apa tadi? Oh, iya, surat lamar kerja.”

Cowok di depan Arya melongo dengan ekspresi datar.

“Apa loe punya suratnya? Bisa gue pinjam sebentar?”

Saat itulah pertahanan si cowok runtuh. Dia menarik lengan Arya hingga mereka berdua keluar menjauhi pintu masuk coffee shop lalu tertawa kencang. Arya menunggu cowok itu selesai menertawakannya sambil garuk-garuk kepala.

Okey…” Si cowok berdeham satu kali lalu kembali serius. “Mari kita luruskan, Kakak mau melamar pekerjaan tapi gak bawa surat lamaran kerja atau CV. Benar?”

Arya ingin bertanya apa itu CV, tapi dia sudah cukup terlihat bodoh. Hal terakhir yang ingin dilakukannya sekarang adalah membuat dirinya makin tampak bodoh. Jadi, dia mengangguk mengiyakan ucapan cowok itu.

“Hemm… ini gak biasa sih, lamar kerja tapi gak bawa kelengkapan administrasi apapun.” Si cowok pramusaji kembali memindai Arya. “tapi… ya sudahlah, ayo kita coba saja.” Si cowok mengisyaratkan agar Arya mengikutinya.

Ternyata manejernya bukan si mbak kasir, bukan pula salah satu dari tiga orang di belakang meja bar. Setelah melintasi lantai coffee shop diikuti tatap ingin tahu rekan-rekan kerja si cowok pramusaji yang sampai sekarang belum diketahui siapa namanya itu, Arya sampai di ruang lain yang lebih kecil, terletak di belakang area kerja para barista, tidak kelihatan dari depan.

“Permisi, Pak Theo, ada yang mau ketemu,” kata si cowok pramusaji saat mendorong pintu kaca. Sampai saat itu, Arya masih berdiri di balik punggung si cowok.

“Ya, siapa?”

Si cowok pramusaji menyisi untuk memperlihatkan Arya pada bosnya. “Ini, Pak, teman saya…”

Sejak kapan mereka berteman? Arya membatin sendiri.

Orang yang dipanggil Pak Theo itu memandang Arya. “Ya, ada apa?”

Arya masih berdiri diam sampai si cowok pramusaji menyikut perutnya. “Saya ingin kerja di sini.”

Hening.

Pria bernama Theo itu memandang bergantian dua remaja di depannya. Saat pandangannya berhenti pada sosok Arya, dia membawa kedua lengannya bersidekap di dada. “Jadi, kamu ingin kerja di sini?”

“Iya,” jawab Arya singkat sambil balas menatap pandangan orang.

“Mana surat lamaran kerjanya?”

“Emm… suratnya ketinggalan di taksi, Pak. Tapi kalau memang itu diperlukan sekarang, teman saya akan segera membuat yang lain nanti. Bisakah saat ini dia diwawancara saja dulu?”

Arya melirik cowok di sampingnya. Ketika lirikan mereka beradu, sadarlah dia kalau si cowok berniat membantunya. Kalau nanti dia betulan diterima kerja, mungkin sebaiknya dia mengizinkan cowok ini mengoral penisnya sebagai tanda balas budi.

Calon bos Arya itu terdiam sebentar. “Siapa namamu?”

“Arya, Pak.”

“Jadi, Arya, kenapa aku mau memperkerjakanmu?”

Arya ingin menjawab karena dia pintar, baik hati dan rajin menabung, tapi setelah dipertimbangkan kembali jawaban itu adalah sebuah kebohongan besar. Dia tidak pintar, saking tidak pintarnya, dia hampir tidak lulus seleksi masuk Kampus Y Aksen kalau papanya tidak campur tangan. Apakah dia baik hati? Juga tidak. Papanya sendiri saja pernah ditonjoknya sampai berkaparan. Terus, benarkah dia rajin menabung? Oh, hell… kita semua tahu bagaimana keadaan keuangan Arya saat ini.

“Karena saya sangat membutuhkan pekerjaan ini…” Ini adalah jawaban paling jujur dari lubuk hatinya.

Theo tertawa pendek. Diliriknya pegawainya yang masih berdiri di sebelah Arya. “Nolan, bukankah seharusnya kamu kembali ke posisimu?”

‘Jadi namanya Nolan?’

“Eh, iya, Pak.” Nolan balik badan dan bergerak keluar.

Mendadak Arya merasa ciut ditinggalkan dewa penolongnya, ditambah lagi kini ekspresi Theo kembali serius setelah tadi sempat memamerkan tawanya yang terdengar cukup ramah.

“Semua orang yang pergi melamar kerja memang sedang sangat membutuhkan pekerjaan, Anak Muda. Jawabanmu adalah jawaban semua pelamar di tempat kerja manapun. Kenapa aku harus menganggapmu spesial kalau nyatanya kamu sama sekali tidak spesial?”

Arya berusaha menelan ludah, tapi mendadak ludahnya pun berubah bagai karet. Dia kesulitan melakukannya. “Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini…,” Akibatnya, dia hanya mampu mengulang kalimat yang sudah diucapkannya. “Saya sungguh-sungguh butuh pekerjaan ini, tolong…”

Theo mendiamkan diri sambil kembali meneliti remaja di depannya. Sejenak kemudian dia mendesah kalah. “Sebenarnya, CS Coffee Shop sedang tidak butuh pegawai baru…”

Arya sudah siap-siap kecewa.

“Biar kulihat dulu…” Theo merunduk untuk membuka salah satu laci meja kerjanya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. “Well, sepertinya ini hari keberuntunganmu, Arya…,” lanjut Theo sambil menyodorkan dua seragam kerja yang masih terlipat rapi di dalam plastiknya. “Celanamu harus selalu hitam…”

Arya sesaat menatap tak percaya pada pria di depannya, lalu dialihkannya pandangan ke seragam yang disodorkan orang di atas meja. Dia ingat kalau Nolan juga memakai seragam berupa kaos putih berkerah itu. Senyum menyeruak begitu saja di bibirnya. Ternyata mendapatkan pekerjaan tidak sesulit yang pernah dikatakan Dewa waktu itu, atau… ini karena dia mencari di tempat yang tepat? Atau bisa jadi seperti yang dikatakan bosnya, ini hari keberuntungannya.

“Kapan saya bisa mulai?”

“Besok,” jawab Theo. “Dan jangan telat. Kamu bisa tanya temanmu bagaimana sistem kerja di sini…”

“Teman?” Arya mengernyit.

“Nolan. Kalian teman, kan?” balas bertanya Theo sambil memicingkan mata pada sosok di depannya.

“Oh, iya… saya pasti akan bertanya pada Nolan. Dia teman baik saya, Pak…” Fiuhh… hampir saja.

“Oke. Selamat bergabung di CS Coffee Shop.”

“Terima kasih, Pak.” Merasa percakapan mereka sudah selesai, Arya mengambil seragam kerjanya di atas meja lalu balik badan dan bergerak ke pintu.

“Kamu melupakan sesuatu?”

Arya berhenti bergerak dan balik badan. Ditatapnya Theo dengan raut bingung. Ketika pria itu mengulurkan tangannya, tahulah Arya kalau dia lupa berjabat tangan. “Oh, maaf… saya lupa saking senangnya.” Dia kembali mendekat ke meja Theo dan menjabat tangan pria itu. “Terima kasih lagi, Pak.”

Theo mengangguk.

Begitu keluar dari ruangan Theo dan muncul di lantai coffee shop, Arya sudah disambut pandangan Nolan yang terlihat khawatir. Sebentar, kenapa anak itu perlu mengkhawatirkannya?

“Bagaimana?” tanya Nolan sambil mendekat ke Arya.

Arya tersenyum, diangkatnya seragamnya ke udara, senyumnya jadi tawa. “Gue partner kerja loe yang baru, Bro!” serunya. Tangannya yang bebas terulur begitu saja ke arah Nolan. Tahu-tahu mereka sudah berpelukan.

Congratulation, Kak…” Nolan menepuk bahu Arya satu kali lalu menarik diri. Pandangan rekan kerjanya dan beberapa pengunjung coffee shop sepertinya membuat Nolan risih dipeluk Arya.

“Emm… thanks sudah bantuin gue di dalam sana.”

“Pak Theo itu baik, tanpa bantuanku pun, Kak Arya kemungkinan besar memang akan diterima kerja di sini.”

“Tetap saja gue ngerasa hutang budi sama loe. Apa yang bisa gue lakuin buat ngebalasnya?”

Nolan tersenyum simpul dan menggeleng. “Kak Arya gak perlu ngelakuin apa-apa, karena aku gak ngerasa nanam budi.”

Yah, sepertinya Arya harus mengubur keinginan penisnya bisa dioral Nolan. Cowok itu sudah bilang gak nanam budi. “Oke,” kata Arya. “Gue mulai kerja besok. Pak Theo nyuruh gue nanya sistem kerja di sini sama loe.”

Nolan manggut-manggut. “Kalau masuk jam tujuh pagi kelar jam tiga siang, kalau masuk jam tiga siang kelarnya jam sepuluh malam tapi kebagian tugas bersih-bersih dan rapiin sebelum cabut.”

“Dua jam kerja?”

Nolan mengangguk lagi. “Pak Theo ada bilang besok Kak Arya masuk jam yang mana?”

Arya berusaha mengingat-ingat percakapannya dengan Theo lalu menggeleng.

“Masuk jam pagi kalau gitu.”

“Oke. Emm… bagaimana gajinya?”

Nolan tidak bisa menyembunyikan ekspresi gelinya. “Harian dan bulanan. Sejauh ini gaji hariannya belum berubah, kalau bulanan itu sebenarnya bukan gaji, Pak Theo nyebutnya bonus, jumlahnya tergantung keuntungan selama satu bulan itu, setahuku.”

“Bonus ini, ada tiap bulan, kan?”

Sekarang Nolan tertawa. “Aku belum pernah gak dapat bonus selama hampir setahun di sini.”

Arya merasa lega. “Apa jam kerja gue bakal selalu pagi?”

“Kenapa?”

“Gue cuma kenal loe, mungkin sedikit melegakan kalau gue bisa selalu satu jam kerja sama loe.” Apa kalimatnya terlalu mencolok? Terserah, tapi Arya memang mulai merasa nyaman berada di dekat Nolan.

Nolan tersenyum ramah. “Kalau gitu, ayo aku kenalkan ke teman-teman, karena jam kerja kita gak bakal selalu sama setiap hari.”

Sesaat kemudian, Arya sudah mengekor di belakang Nolan.

***

Dewa mengingat-ingat di mana dia pernah melihat wanita itu. Namun hingga si wanita lenyap masuk ke dalam salah satu butik di dalam Mall M tempatnya baru saja makan siang itu, ingatannya tak kunjung muncul ke permukaan. Dewa batal menuruni tangga listrik, sepertinya dia butuh melihat wanita itu lagi agar bisa memanggil ingatannya. Karena sangat yakin pernah melihat si wanita sebelumnya, dia bergerak menuju pintu kaca bertuliskan B-Boutique yang baru saja dimasuki si wanita.

Dewa baru tahu kalau di butik juga menjual bra. Itu jujur saja sedikit membuatnya kaget karena selama ini dipikirnya butik cuma menjual kain renda. Pemandangan bra yang melekat begitu saja di beberapa manekin di dalam butik membuat Dewa teringat Audrey. Sudah lebih seminggu ini dia mengamankan semua kontak miliknya dari Audrey. Dibayangkannya selama beberapa hari ini Audrey mengumpat-umpat sendiri gara-gara tidak bisa mengontaknya. Mengingat sekarang ini juga adalah awal bulan dimana kontrakan Audrey seharusnya sudah dibayar, saat nanti menyadari kalau Dewa tidak lagi membayar kontrakannya, Audrey pasti bakal lebih senewen lagi. Tapi, manekin yang mengenakan bra di sana itu mau tidak mau malah membuat Dewa sedikit kangen untuk membenamkan wajahnya di dada Audrey lagi.

Shit!

“Ada yang bisa dibantu, Mas?”

Tahu-tahu saja wanita yang tadi dilihat Dewa masuk ke B-Boutique sudah mengacung di depannya. Untuk sejenak, Dewa lupa bagaimana caranya berkedip dan hanya bengong menatap wanita di depannya.

“Mas mau beli gaun buat pacar, adik, mama atau… istri?”

“He?”

“Kami punya koleksi gaun baru. Kalau Mas pengen, ayo saya tunjukkan…”

“Tidak, tunggu… gue gak mau beli gaun…”

Si wanita urung beranjak, mata bagusnya memandang Dewa lekat-lekat.

“Emm… apa di sini juga menyediakan celana dalam?”

Si wanita tersenyum, manis sekali. “Di sana.” Tunjuk si wanita ke arah manekin-manekin yang memakai bra. “Ada bahan renda kualitas bagus…”

“Maksud gue, celana dalam pria.”

Entah Dewa yang berhalusinasi atau si wanita memang refleks menunduk sekilas ke selangkangannya saat dia bilang ‘celana dalam pria’.

“Maaf?” Wanita di depan Dewa mengerutkan alis.

Dewa baru sadar telah mempermalukan dirinya sendiri ketika wajah jelita di depannya──yang sampai saat ini belum juga mampu diingatnya──itu mengernyit cantik padanya.Dewa merasa mukanya memerah. Apa yang sedang dipikirkannya? Beli kolor pria di butik wanita? Yang benar saja.

“Eng… sorry… maksud gue…” Dewa terbata-bata, matanya melirik liar ke seluruh penjuru butik. “Itu,” tunjuknya ke salah satu manekin. “Gue mau beli gaun yang itu saja.”

Tujuh menit kemudian, Dewa keluar melewati pintu B-Boutique bersama jinjingan kantong di tangan kiri berisi kebaya berbahan brokat warna ijo lumut yang entah akan diberikannya buat siapa──karena sudah berhenti menunjang hidup Audrey dan karena tidak mungkin akan dikenakannya sendiri. Sambil melangkah menuju tangga berjalan, sebuah pertanyaan besar meraung-raung bagai sirine ambulance di dalam kepalanya: sejak kapan dia bisa gugup ketika berhadapan dengan wanita?

Tadi itu benar-benar sejarah baru buat Dewa. Seharusnya di dalam tadi dia bisa menghabiskan dua puluh menit atau bahkan setengah jam bersama wanita itu──sambil tebar pesona tentu saja. Dia bisa saja meminta tolong si wanita agar mengepaskan kebaya itu ke badannya sambil berbohong dengan alasan kalau adiknya juga punya postur serupa, atau bila perlu meminta wanita itu menunjukkan gaun-gaun lain dan lalu mengepaskan gaun-gaun itu lagi sebelum jadi membeli. Namun yang terjadi justru transaksi jual-beli ‘terpaksa’ itu selesai dalam waktu tak lebih dari tujuh menit. Jadi sekali lagi, ada apa dengannya?

Dewa langsung meletakkan kakinya di anak tangga yang pertama kali menyambutnya. Sambil anak tangga itu membawanya turun ke lantai di bawahnya, pikirannya terus saja berputar-putar.

Mungkin, kesalahan tidak terletak pada dirinya, tapi pada diri si wanita. Tak ada apa-apa dengannya, tapi ada apa-apa pada si wanita. Kejelitaan dan keanggunan si wanita saat bicara padanya pastilah yang membuatnya gugup seperti tadi. Sah, pasti karena pesona si pramuniaga butik itu hingga dia jadi tidak fokus. Jujur saja, sepertinya wanita tadi memang wanita paling cantik yang pernah dijumpai Dewa, Audrey bahkan tak ada apa-apanya bila dibandingkan wanita tadi.

Audrey tidak ada apa-apanya…

Audrey tidak ada apa-apanya…

Dewa mengernyit. Agaknya dia sudah berhasil me-recall ingatannya. Ditolehkannya kepala ke belakang, ke arah lantai yang baru saja ditinggalkannya di atas sana. Kini dia ingat kalau wanita di butik itu adalah wanita yang sama yang ada di dalam foto Rauf, yang memeluk Rauf di pantai dengan pose ala poster film drama romantis Hollywood.

Sial. Bagaimana Dewa bisa lupa?

Dewa menapakkan kaki ke lantai, menyisi dari area tangga listrik lalu merogoh dompetnya. Keratan foto Rauf yang masih ada di selipan dompetnya sekarang dikeluarkan dan dipandangnya. Ada sisa bagian tubuh si wanita pramuniaga butik itu di keratan foto, hanya segaris warna kulitnya saja. Dewa menduga itu adalah pipi si wanita, menempel di dekat telinga Rauf yang bertindik.

Apa Rauf tahu kalau mantannya kerja di butik itu? Dewa membatin sendiri. Diselipkannya kembali keratan foto Rauf ke dalam dompetnya. Mungkin kapan ada kesempatan bertemu dia akan memberitahu Rauf kalau mantannya sekarang sudah makin cantik. Ah, mungkin dia akan mengirim SMS saja. Dirogohnya hape dari saku celana.

[Gak sengaja ketemu mantan loe. Loe bakal nyesel gak perjuangin dia dulu, Dude. Dia makin cantik sekarang, sumpah!]

Hape kembali dimasukkan ke saku. Dewa mencari eskalator berikutnya untuk membawanya ke lantai dasar, kini sambil berusaha mengingat nama si wanita yang kalau tidak salah pernah disebut Rauf itu.

***

Rauf menatap lama pesan singkat dari Dewa. Pesan itu langsung muncul begitu dia menyalakan hapenya setelah jam kerjanya di Gym X selesai. Gara-gara pesan itu, dia harus mengurungkan niatnya untuk segera mandi lalu pulang ke apartemen, dan malah mengunci diri di toilet pria bersama hapenya.

Loe bakal nyesel gak perjuangin dia dulu, Dude.

Rauf ingin meninju Dewa, karena kalimat itu. Tahu apa Dewa tentang cinta yang pernah dimilikinya pada Katia? Tahu apa Dewa tentang sakit yang diberikan Katia terhadapnya? Dewa keparat itu tidak tahu apa-apa. Dia tidak di sana pada zaman cintanya pada Katia bersemi dan berakar, tidak juga ketika cintanya tercerabut kejam dan menyakitkan, Dewa tidak di sana ketika dia terpuruk dan hilang minat pada hidupnya sendiri. Jadi, Dewa keparat itu tidak punya hak mengajukan kalimat demikian padanya. Sama sekali tidak punya hak.

Yang lebih kurang ajar lagi, Dewa bilang dirinya tidak memperjuangkan Katia. Bagaimana Dewa bisa mengalamatkan tuduhan menyakitkan itu buatnya? Dari mana dia menyimpulkan? Gigi Rauf bergemeratak. Dewa perlu dihajar biar tidak seenak udelnya berkata-kata. Manusia sok tahu itu tidak tahu apapun tentang hubungannya dan Katia. Dewa sama sekali tidak tahu bagaimana dirinya sudah berusaha untuk mempertahankan Katia, menyelamatkan cintanya dan dirinya sendiri dari kehancuran. Katia yang menolak diperjuangkan, bukan dirinya yang tidak berusaha memperjuangkan. Dewa benar-benar keparat telah berkata-kata sekotor itu buatnya. Ucapan Dewa itu sudah setara dengan memfitnah.

Dia makin cantik sekarang

Rauf menghela napas sekuat tenaga hingga sesak di dadanya hilang.

Katia memang sudah cantik sejak dulu. Kecantikan itu sudah memesona Rauf hingga dia tak punya definisi lain untuk kata cantik selain hanya Katia. Kecantikan itu telah memerangkap Rauf beserta semua cintanya hingga dia yakin tak punya cinta lagi yang tersisa buat gadis lain, bahkan mungkin untuk mencintai dirinya sendiri. Cinta itu, yang pada akhirnya menghadiahkan luka kronis buatnya, karena pesan Dewa, sekarang malah kembali menyayat-nyayat Rauf. Pedih seperti membungkusnya dari kaki hingga kepala.

Rauf meremas hapenya hingga buku-buku jarinya memucat. Saat keluar dari toilet, dia tanpa sadar membanting pintu hingga benda itu membal membuka kembali.

Niat untuk segera pulang lenyap seketika. Sekali lagi, malam ini Rauf perlu mengurai rasa sakitnya…

***

Dewa berbaring gelisah di ranjangnya yang kusut. Sebenarnya dia tidak ingin memikirkan, tapi keberadaan kantong belanjaan berlogo butik yang tadi siang dikunjunginya di mall membuatnya terus saja kepikiran. Kantong belanjaan itu kini teronggok begitu saja di lantai kamar, dalam temaram lampu tidur terlihat seperti sedang mengawasinya.

‘Mas mau beli gaun buat pacar, adik, mama atau… istri?’

Bahkan Dewa yang baru satu kali mendengar bisa mengingat jelas seperti apa suaranya, apalagi Rauf yang pernah punya cerita dengannya. Kini Dewa bertanya-tanya, apa penyebab persisnya Rauf sampai putus dengan wanita itu? Apakah Rauf tidak sadar kalau wanita itu bisa jadi tipe wanita ideal untuk dijadikan istri? Dewa yakin, kelak kalau dipaksa menikah, dia akan mencari calon istri yang persis seperti si wanita di butik itu. Wanita yang menurut Dewa punya kecantikan sekuat mantra tukang sihir.

‘Kami punya koleksi gaun baru. Kalau Mas pengen, ayo saya tunjukkan…’

Apa Rauf sudah pernah tidur dengan wanita itu? Dewa tidak bisa mencegah dirinya membayangkan Rauf bercinta dengan mantan pacarnya itu. Walau bagaimanapun, Dewa harus mengakui kalau Rauf dan si wanita adalah pasangan yang serasi. Begitu serasinya hingga pada taraf bisa membuat iri. Sangat disayangkan kalau hubungan mereka tidak sampai ke pernikahan.

Dewa melirik kantong belanjaan di lantai. Kantong itu benar-benar terasa seperti sedang mengawasinya. Mungkin kantong itu harus disingkirkannya dari sana.

Dewa bergerak bangun lalu turun dari ranjang, dipungutnya kantong itu dari lantai lalu mendekat ke lemari. Setelah menyembunyikan kantong berisi kebaya itu ke dalam lemari pakaiannya, dalam keadaan nyaris telanjang, Dewa kembali naik ke ranjang dan tidur menelungkup. Sebaiknya dia berhenti memikirkan mantannya Rauf. Besar kemungkinan sekarang si mantan itu sudah punya pacar lain, atau bahkan mungkin sudah menikah. Wanita secantik itu pasti banyak yang ingin meminang. Sebaiknya dia memikirkan Arya saja, yang sudah pasti belum dipinang siapapun.

Dewa menggapai guling dan diselipkan ke bawah dirinya. Dipejamkannya mata sambil berharap khayalan dirinya yang sedang menindih tubuh telanjang Arya kali ini bisa meninabobokannya.

***

Arya terbangun di sofa karena mendengar suara ketukan perlahan yang timbul tenggelam di pintu. Meski Rauf pernah bilang akan tidur di sofa sementara dirinya diizinkan memakai kamar utama, tetap saja Arya memakai sofa. Rasanya sungguh tidak tahu malu jika dia menyetujui usul Rauf itu. Rauf sendiri tidak mengatakan apapun ketika menemukan Arya kembali mengenakan sofa sejak beberapa malam lalu. Pria itu hanya mengeluarkan bantal dan selimut dari kamar untuk dipakai Arya lalu melupakan masalah itu dan sejauh ini tidak membicarakannya lagi.

Ketukan itu kembali terdengar.

Arya mendudukkan diri di atas sofa dan berusaha mendengarkan lebih teliti. Suara ketukan perlahan yang terdengar seperti seseorang sedang menampar-namparkan telapak tangannya ke dinding itu memang berasal dari pintu apartemen Rauf.

Arya berusaha melihat jam bandul Rauf yang berdiri di salah satu sudut ruang tamu. Pukul dua lebih lima puluh menit. Siapa yang datang ke apartemen Rauf dini hari begini? Arya berasumsi kalau di luar sana pastilah bukan Rauf. Dia memang tidak yakin kalau Rauf sudah pulang. Asumsi Arya, Rauf pulang saat dia sudah tidur. Lagipula, kalau pun Rauf belum pulang, dia tidak akan mengetuk-ngetuk pintu seperti itu, pria itu punya kuncinya, langsung buka saja.

Arya menunggu. Ketukan itu belum berhenti, sekarang malah disertai racauan samar yang entah apa. Sebaiknya dia membangunkan Rauf.

Arya turun dari sofa dan berjalan menuju kamar. Kamar Rauf gelap-gulita, sepertinya dia lupa menyalakan lampu tidur. Arya meraba-raba saklar lampu utama di dinding kamar. Saat kamar sudah terang benderang, Arya melongo sendiri. Tak ada sosok Rauf di atas ranjang, kamarnya kosong. Artinya Rauf belum pulang.

Arya kembali ke ruang tamu. Dia bimbang antara mencari tahu siapa orang di luar apartemen Rauf atau meneruskan tidur saja. Bimbang itu ternyata hanya berlangsung sebentar, karena sesaat kemudian Arya sudah mendekat ke pintu dan menempelkan kuping di sana.

Orang di depan pintu terbatuk-batuk. Suaranya terdengar parau dan serak. “Buka pintunya… halo… loe denger tidak!” batuk-batuk lagi. “Buka, Bangsat!” pintu dipukul cukup keras kali ini.

Meski parau dan tidak jelas, Arya masih bisa mengenali kalau itu suara Rauf. Apa yang terjadi pada pria itu? Kenapa dia tidak buka pintu sendiri? Dimana kunci miliknya sendiri?

Arya bisa bertanya nanti. Rauf terdengar marah di luar sana. Arya bergerak mengambil kunci duplikat yang diberikan Rauf beberapa hari lalu buatnya. Ketika pintu terbuka, sosok tinggi Rauf langsung menabraknya. Kalau tidak berpegangan pada handle pintu, mereka berdua pasti sudah terjengkang di lantai. Dari kondisinya, Arya langsung tahu kalau Rauf sedang mabuk, aroma alkohol menguar jelas dari mulutnya. Arya berasumsi kalau Rauf sepertinya terlalu mabuk untuk mengingat kalau dia punya kunci sendiri untuk membuka pintu apartemen.

“Loe kenapa?”

Arya berusaha mendorong dada Rauf, tapi pria itu seperti kehilangan daya tunjang tubuhnya sendiri. Alih-alih bisa membuat Rauf berdiri tegak, pria itu malah makin menyandar padanya, kedua lengannya kini malah mulai membelit pinggang Arya. “Katia ninggalin gue…,” guman Rauf masih serak. Sepertinya dia kehabisan suaranya. “Katia ninggalin gue…”

Arya mengernyit bingung. Dia sama sekali buntu tentang siapa itu Katia. “Siapa Katia? Nenek loe?” tanyanya asal.

Rauf menggumam entah apa. Giginya terdengar bergemelutuk. Sampai saat itu, dia masih menumpukan badannya pada Arya.

“Minggir dulu, gue mau ngunci pintu lagi!”

Kali ini berhasil. Rauf bersandar ke dinding sambil mulai melepaskan kaos dari badannya. Sambil melakukan itu, dia masih saja menggumamkan nama Katia.

Arya selesai mengunci pintu. Diperhatikannya sosok Rauf yang berantakan. Arya bisa membaui keringat Rauf, bercampur dengan aroma alkohol dan parfumnya. Dia bisa memastikan kalau Rauf cuma mandi satu kali hari ini. Seharusnya campuran aroma itu membuatnya pusing, tapi anehnya Arya malah menyukainya. “Lo butuh tidur, Bro,” katanya pada Rauf.

Rauf mencampakkan bajunya ke lantai lalu bergerak sempoyongan menuju arah yang dikiranya sebagai arah menuju kamar. “Dia ninggalin gue… dia ninggalin gue…”

Arya menghela napas dan menghembuskannya. Rauf pasti sedang punya masalah berat hingga bisa mabuk seperti itu. Apa dia menyetir dalam keadaan begitu rupa? Mukjizat sekali dia bisa sampai ke apartemen dengan selamat.

BRAAAKKK

“FUCK…!!!”

Arya sebenarnya ingin tertawa. Rauf menabrak bagian belakang sofa tempat tidur Arya dan langsung terjungkal jatuh kepala lebih dulu ke sofa, seperti bersalto. Sepatunya menghantam pinggiran meja rendah yang berdampingan dengan sofa, untung saja meja kaca itu tidak pecah.

Arya mendekat. “Ayo, gue bantu loe ke kamar!”

Rauf sejenak menatap Arya dengan matanya yang memerah. Dia menggumam lagi sebelum membiarkan Arya memapahnya berdiri. “Dia ninggalin gue, Bro…,” racau Rauf lagi sambil dipapah Arya,

“Iya. Loe udah bilang tadi.”

“Rasanya sakit sekali…”

“Habis ini gue periksa kotak obat loe, barangkali ada obat pereda nyeri di sana.”

“Dia ninggalin luka buat gue… luka yang besar sekali… besaaaar… sekali…” lanjut Rauf sambil merentangkan tangannya yang bebas, seolah tak mendengar kalau Arya baru saja mengolok-oloknya.

“Loe butuh banyak plester luka kalau gitu,” sahut Arya sambil mendorong pintu kamar Rauf. Ditekannya saklar, kamar jadi terang benderang.

Mereka tiba di tepi ranjang.

“Loe mau bantu nempelin plesternya di luka gue?” tanya Rauf bego.

“Mungkin.”

Rauf tiba-tiba tertawa sebelum terdiam dan memandang Arya serius. “Loe baik banget. Harusnya Katia sebaik loe… tapi dia malah jahat ke gue… bikin gue terluka… gue benci dia…” Rauf berdecak, “tapi gue cinta sama dia…”

Sepertinya Katia itu mantan pacar Rauf. Arya menduga-duga alasan cewek bernama Katia itu meninggalkan Rauf karena pria itu ketahuan jadi gigolo. Cewek gila mana sih yang mau punya pacar gigolo? Meski si pacar ganteng mampus kayaknya gak ada deh cewek normal dan waras yang rela berpacarkan gigolo.

“Loe harus tidur, Raf.” Arya memotong racauan Rauf.

“Ya ya ya.”

Arya mendorong badan Rauf ke arah ranjang, tapi pria itu malah membelitkan salah satu lengan ke pinggangnya. Akibatnya, dia jatuh di atas sosok Rauf, bertindihan di atas ranjang. Arya sebenarnya ingin langsung menyingkir, tapi wajah Rauf yang tepat berada di depan wajahnya menghipnotisnya untuk tetap berada di tempatnya kini berada: di atas Rauf. Mata Rauf balas menatap ke matanya. Arya diterpa gejolak yang sudah lama tidak terlampiaskan secara timbal balik. Berada di atas Rauf yang sudah bertelanjang dada, di mana dirinya sendiri juga hanya mengenakan celana pendek sepaha, sekuat apapun dia menolak, pesona Rauf ternyata menekannya lebih kuat lagi. Ditambah lagi, mereka sedang bersentuhan di banyak area, sebagian besar malah terjadi langsung antara kulit dengan kulit.

Tahu-tahu saja bibir Arya sudah menempel di bibir Rauf. Arya memberanikan dirinya membuat lumatan, dia kaget ketika Rauf balas melumat. Arya terbakar sudah. Dia merenggangkan pahanya hingga dari telungkup lurus di atas Rauf, kini posisinya jadi mengangkangi pinggang pria itu, membuat posisi mereka kian berpagutan bagai dua keping pazel yang sedang melekat. Arya mendesah di sela ciuman mereka ketika dua telapak tangan Rauf bergerak di sepanjang punggungnya lalu turun dan berhenti di bokongnya.

Arya mengangkat wajah, melerai ciuman mereka. Didapatinya Rauf sedang terpejam, napasnya sedikit memburu. Arya yakin kalau pria itu masih terjaga, dan bisa jadi juga sedang terangsang. Arya memang mengenal Rauf sebagai seorang straight, tapi faktanya kini, di bawah tindihannya, di pangkal pahanya sendiri, kejantanan Rauf sedang merenggang. Arya bisa merasakan itu.

Sejenak Arya dilanda bimbang. Haruskah dia berguling turun dari atas Rauf, atau…

Tapi, mengapa Rauf sendiri terlihat seperti tidak mempermasalahkannya? Karena dia berada di bawah pengaruh alkohol-kah? Bisa jadi.

Arya merasakan remasan samar di bokongnya. Dipandangnya wajah Rauf. Pria itu masih memejamkan matanya. Arya kalah. Ditundukkannya wajah ke dada Rauf dan mulai menciumi permukan badan pria itu. Ketika sosok Arya bergerak turun perlahan, lengan Rauf menyingkir dan ditekuknya satu ke bawah kepala sementara yang lain melintang di atas bantal.

Arya berhenti mencium saat bibirnya tiba di batas antara perut Rauf dengan pinggang celana jinsnya. Kembali dipandang wajah Rauf. Pria itu masih saja memejamkan matanya. Arya membuka kancing paling atas celana Rauf sambil masih memerhatikan wajah pria itu, lalu diikuti beberapa kancing lagi setelahnya.

Napas Rauf terdengar berat ketika Arya menyibak pinggang celana jinsnya lalu menurunkan pinggang celana dalamnya, membebaskan kejantanan pria itu dari kungkungan celananya. Saat napas Rauf terdengar normal kembali, dengan dada bergemuruh, Arya memberanikan diri untuk menggenggam bagian paling pribadi pria itu yang sudah mengeras dan seakan punya nyawa sendiri itu.

Gerakan pertama tangan Arya membuat Rauf mengerang samar. Ketika Arya meneruskan menggerakkan tangannya dengan ritme pelan hingga beberapa detik kemudian, mendadak saja Rauf bergerak bangkit ke posisi setengah duduk, sebelah lengannya kemudian menjangkau kepala Arya untuk merunduk ke tengah-tengah tubuhnya lalu kembali merebahkan diri ke ranjang.

Untuk beberapa menit kemudian, suara yang terdengar di dalam kamar itu bukan hanya detak weker di atas nakas, ada suara-suara lain yang lamat-lamat menciptakan melodi tak beraturan di dalamnya.

Arya yakin pernah terpesona begitu telaknya dengan sosok Dewa sebelum ini, tapi berada sedekat sekarang dengan Rauf, Arya mulai mempertanyakan lagi keyakinannya. Benarkah hanya Dewa satu-satunya pria yang membuatnya rela jadi bottom? Karena jika saat ini Rauf memintanya untuk menelungkup, sepertinya dia juga akan rela mengangsurkan bokongnya untuk dimasuki celahnya oleh kejantanan pria itu.

Sementara Rauf, untuk pertama kalinya sejak menempati apartemen dan menggunakan kamar utama yang pernah dipakai kakaknya itu, berhasil mengabaikan perasaan tak patut yang selama ini mempertahankan prinsipnya agar tidak melakukan kegiatan apapun yang melibatkan seks di sana. Atau… dia hanya sedang lupa?

Bisa jadi.

Apapun itu, yang pasti kejadian malam ini──secara teknis bisa disebut dini hari ini──tidak akan pernah dilupakan Arya, entah dengan Rauf, kita akan cari tahu nanti. Dan mengingat kalau Rauf sedang mabuk, hemm… sebaiknya jangan berharap terlalu banyak kalau pria itu akan ingat semua detil. Kalau boleh kuperingatkan, jangan berharap sama sekali.

***

Mimpi macam apa itu?!?

Ingin rasanya Dewa membelah kepalanya sendiri dan mengeluarkan memori mimpi itu dari dalam otaknya, tapi hal-hal tak aneh seperti itu hanya bisa terjadi di film-film fiksi ilmiah atau film-film bertema fantasi. Dewa tidak hidup di dalam film itu. Jadi sepertinya ingatan akan mimpi jahanam itu akan terus berada di dalam kepalanya, membayang-bayanginya seperti hantu sepanjang hari ini.

Dewa melihat Arya dan Rauf bercinta di dalam tidurnya. Itu benar-benar membuat hatinya panas. Di awal-awal, mimpi itu memang berlangsung indah, itu sebelum sosoknya sendiri mendadak saja berganti jadi sosok Rauf. Sampai mimpinya selesai, sosok Rauf tidak kunjung berubah lagi jadi dirinya, hal itulah yang membuat Dewa serasa ingin membelah batok kepala sendiri dan mencungkil keluar ingatan akan mimpi itu dari otaknya. Menyadari bahwa hal itu mustahil untuk dilakukan malah membuatnya makin marah. Seharusnya Arya mendapatkan orgasme darinya, bukan dari Rauf.

Ya, Dewa memang bisa terobsesi sedemikian rupa hingga mimpi yang berlangsung tidak sesuai keinginannya pun bisa membuatnya tidak senang. Padahal kalau dipikir-pikir lagi itu, kan, cuma terjadi dalam mimpi.

Dewa bergerak bangun. Masih terlalu pagi untuk meninggalkan ranjang memang, tapi dia takut mimpi seram itu terulang lagi kalau misalnya dia meneruskan tidur. Setelah menggosok gigi dan mencuci mukanya, dia ke lemari, mengenakan celana pendek dan jaket bertudung, mengantongi hape dan melesakkan earphone nirkabel ke lubang telinganya lalu keluar kamar diiringi Closer dari The Chainsmokers dan Halsey.

Dingin udara jam lima pagi menyambutnya ketika keluar ke terasnya yang terang benderang. Dia jarang jogging, tapi Ren lumayan rajin. Ketika masih tinggal bersama, Ren kerap membangunkan Dewa untuk jogging bersama, tapi Dewa sering kali lebih memilih untuk menenggelamkan dirinya lebih dalam lagi ke bawah selimut. Hari ini saking takut mimpinya akan terulang, Dewa bela-belain meninggalkan ranjangnya yang hangat dan melawan udara dingin dengan jogging, sendirian. Saat dia sudah mendapatkan Arya nanti dan sudah serumah kayak pasangan yang telah menikah, mungkin sesekali mereka akan jogging berdua, sambil berpegangan tangan dan berciuman di sepanjang jalan. Ah, enaknya…

Dewa berlari memutari area hunian di mana rumahnya berada, berusaha terlihat ramah dengan membalas senyum beberapa orang yang dipapasinya saat masuk dan keluar dari satu lorong ke lorong lain. Sepertinya sudah hampir satu jam ketika Dewa merasa keringat mulai membersit di kulitnya. Dewa kelelahan. Di perjalanan pulang, dia takjub dan merasa bahagia sendiri saat memperhatikan matahari pagi yang kemerahan di arah timur. Ternyata mereka benar tentang bahagia yang bisa datang dari hal-hal sederhana semacam itu. Jika hal sederhana saja bisa membuat bahagia, bagaimana lagi dengan hal luar biasa ya? Hal luar biasa seperti, memiliki Arya di rumah misalnya.

Dewa tersenyum-senyum sendiri membayangkan bila Arya tinggal bersamanya, tidur dengannya setiap malam, saling mencium kening untuk ucapan selamat malam lalu tidur berpelukan karena kelelahan setelah bercinta, berbagi sarapan saat pagi dan berendam dalam satu bak mandi setiap kali mandi… Mengkhayalkannya saja sudah membuat Dewa girang luar biasa, apalagi saat sudah kejadian.

Dewa masuk ke teras. Saat hendak memasukkan kunci ke lubang di pintu, ekor matanya menangkap keberadaan amplop di meja teras. Dewa memang tidak memperhatikan keadaan terasnya tadi saat keluar, tapi dia yakin kalau tadinya amplop itu tidak ada di meja terasnya yang biasa hanya ditempati satu vas bunga plastik. Bagaimana Dewa bisa yakin? Tentu saja karena keadaan terasnya selalu sama setiap hari, meja dan kursinya tidak pernah diubah letak, vas bunga di atas meja pun sudah berabu karena jarang dipindahkan. Segala sesuatu di terasnya selama ini selalu statis. Jadi, jika ada satu saja benda asing di sana, Dewa pasti akan segera tahu. Dia tidak mendapati kejanggalan di terasnya tadi saat keluar, maka kesimpulannya, amplop itu pasti diletakkan setelah dia pergi.

Dewa urung memutar kunci. Diraihnya amplop coklat itu dan dijenguknya isi di dalamnya. Darah Dewa langsung tersirap detik itu juga saat tahu apa isi amplop yang kemunculannya misterius itu…

 

= TO BE CONTINUED =

 

Note :

Gue mau ngewarning kalian, meski sepertinya sudah terlambat untuk itu, seharusnya warningnya sejak post pertama cerita ini muncul di sini. Meski begitu, biar gue bisa cuci tangan dan tenang pikiran, gue tetap mau ngewarning sekarang. Dari awal, cerita ini memang gue cita-citakan bakalan banyak mengandung lemonnya, makanya judulnya saja begonoh. Warningnya, bagi siapa saja yang alergi lemon, sudah boleh setop membaca sampai di chapter ini saja. Gue gak mau lho, ya, disalah-salihin kalau ke depannya kalian menderita iritasi di organ vital gara-gara ngilu setelah baca post cerita ini. Gak mau dikambinghitamkan juga kalau misalnya kalian kehabisan stok celana dalam kering di lemari.

Udah, segitu aja warningnya.