fix

Brian dan Key

By : Levi

Lembar Tujuh

Dan pagi ini ternyata sama saja dengan kemarin, aku susah banget buat dibangunin. Bahkan Ibu mesti teriak-teriak di kuping aku gara-gara aku gak bangun-bangun juga, dan akhirnya aku disiram sama air dingin dari kulkas. Ibu bener-bener jahat deh sama aku.

Terus Ibu ngoceh-ngoceh selama aku mandi, dan baru selesai lalu keluar kamar saat aku bilang aku mau pakai baju. Honestly, aku masih ngantuk. Semua ini gara-gara aku estafet nonton Paper Towns, The Fault in Our Stars, Begin Again, dan ditutup sama The Perks of Being a Wallflower. Sumpah deh, semua film itu bikin aku haru biru hari ini. Apa lagi film yang terakhir, aku tonton dari jam dua sampai jam empatan itu ngebuat aku jadi inget sama Brian, soalnya dia itu kayak Patrick sedangkan aku kayak Sam yang diperanin oleh Emma Watson di film The Perks of Being a Wallflower. Tapi aku gak selabil Sam, ya! Dan Brian—mungkin—gak semenyedihkan Patrick yang gak diakui hubungannya dengan Brad si bajingan.

Terkutuklah Juju yang udah ngebuat aku begadang dan mengantuk kayak begini. Belum lagi, hampir semua cerita itu sad ending, bikin aku mewek berkali-kali sampai tisu di kamar habis. Sekarang aja rasanya aku masih pengen nangis pas inget betapa kuatnya Gretta pas dihianati Dave yang juga si bajingan.

Eh, tapi kapan-kapan aku mau deh potong rambut kayak Emma Watson pas meranin Sam. Mungkin aku bakalan keliatan lebih anggun dan fresh, ya sekali-sekali ganti gaya rambut kan boleh. Lagian aku juga rada ribet kalau rambut aku panjang kayak gini.

Hm, actually, aku gak terlalu suka nonton sih. Brian dan Ibu yang suka nonton. Kalau aku sih samaan kayak Dad, kami jarang banget nonton, karena kami lebih suka adventure, udah aku certain, kan? Tapi nanti aku mau say thanks ah ke Juju karena udah recommended-in film-film kayak gitu. Jadi ngebuat aku tambah kuat dalam menghadapi hidup yang keras ini, soalnya cantik dan jago bela diri aja gak cukup buat jadi cewek yang tangguh luar dalem—itu aku kutip dari kata-kata Grandmoom dulu sebelum dia meninggal pas umur aku delapan tahun.

“Key…! Kapan kamu mau turun, ha?!” teriakan Ibu ngebuat aku lebih cepet masang seragam. Setelah berdandan dan berisisir alakadarnya, aku segera turun dan sedikit terkejut ketika melihat Brian masih duduk di meja makan dengan roti di atas piringnya yang bersisa setengah. Dia pasti nggak ngehabisin lagi makanannya, as usual.

Aku menarik kursi dan duduk di sebelah Brian, meminum susu coklatku sambil menunggu Ibu selesai mengolesi rotiku dengan selai strawberry kesukaanku. “Hoaaahmmm…” aku menguap sekali dan menjatuhkan kepalaku ke atas meja.

“Kamu begadang, ya?” tanya Ibu, dan aku hanya mengagguk. “Sudah tau besoknya sekolah, masih aja begadang. Kamu begadang ngapain? Latihan silat di kamar?” Ibu melanjutkan ocehannya sambil menarik piring di dekatku dan meletakkan roti di sana, kemudian menyodorkannya lagi ke arahku.

Aku mengangkat kepalaku dengan malas. “Aku itu atlet taekwondo Bu, bukan silat. Ada perbedaan maha besar antara dua hal itu!” aku mulai memakan sarapanku.

“Ya, yang penting kan sama-sama pukul-pukulan. Ibu gak peduli apa namanya.”

Aku putar bola mata aja ke Ibu sambil terus ngunyah. “Lo kok belum berangkat, sih? Tumben,” aku menghadap ke Brian di sebelahku sebentar lalu kembali fokus pada rotiku.

“Gue cuma pengen barengan aja. Udah lama juga kita gak berangkat bareng, secara kan lo telat mulu bangunnya.”

“Gue gak mau ya ngehabisin lima belas menit gue di jalan dengan dengerin cerita lo yang gak penting buat gue sama sekali,” aku menyeruput lagi susu coklatku.

“Tenang gue gak bakalan ngoceh-ngoceh gak jelas kok,” jawab Brian.

“Bagus.”

“Palingan gue cuma mau curhat tentang semalem.”

“Itu sama aja bego—uhuk, uhuk!” aku langsung minum susu aku lagi sampai habis gara-gara keselek roti. Duh, ini gara-gara Brian ngajakin ngobrol deh, makanya jadi keselek gini.

Brian ketawa bahagia di samping aku, sedangkan Ibu menyodorkan gelas lain berisi air putih ke aku. “Itu makanya, kalau makan, makan aja. Jangan sibuk ngobrol aja dari tadi.”

“Gara-gara Brian nih Bu, ngajakin orang ngobrol aja.”

“Loh, kok gue sih—”

“Sudah-sudah, nicht am Tisch straiten,” Dad menutup korannya dan mulai menyeruput kopinya setelah memandang kami beruda bergantian.

Aku dan Brian gak berani ngomong lagi. Soalnya kalau sudah Dad yang nyuruh, kami jadi ciut. Jadi, aku melanjutkan makanku, sedangkan Brian entah sedang apa. Oh iya, excuse my Dad’s accent and languange ya, soalnya dia belum juga bisa pakai bahasa Indonesia dengan baik, benar dan lancar, masih suka dicampur-campur dengan bahasa Jerman, padahal sudah sepuluh tahun lebih kami tinggal di sini. Soalnya, di kantor Dad itu kebanyakan orang Deutsch, makanya dia jarang pakai bahasa Indonesia. Tapi kalau Ibu sih tetap pakai bahasa Indonesia, sekalian ngebiasain Dad dan semua keluarga kami katanya.

Ibu itu juga blasteran, soalnya Kakek aslinya orang Australia, tapi Ibu tetep lahir di Indo kok. Itu makanya dia cinta banget sama Indonesia. Tapi kalau aku dengan Brian sih tetap pakai kewarganegaraan Jerman, soalnya kami brojol di situ sih.

“Brian, Key, nanti sore Ibu sama Dad mau terbang ke Jerman.”

“Hah?!” ucapku dan Brian bersamaan. Ternyata dia sama terkejutnya dengan aku.

“Iya, Tante Adrianne-mu udah lahiran anak ketiga semalam,” lanjut Ibu.

Eh? Emang Tante Adrianne hamil, ya? Aku kirain emang badan dia yang segede itu, ternyata dia lagi hamil ya waktu itu. Aduh, aku gak tau dan gak merhatiin sih. “Cewek apa cowok?” tanya aku.

“Cowok. Namanya Mickey, dan jangan tanya kenapa.”

Aku dan Brian saling pandang dan mulai tertawa. Jadi Tante Adrianne itu suka banget sama film kartun Mickey Mouse, anak pertamanya aja di kasih nama Donald, terus anak yang cewek namanya Minnie, sekarang anak bungsunya di kasih nama Mickey. “Jangan bilang kalau nama belakangnya Mouse, Bu.”

“Ya enggaklah, dia pakai nama keluarganya lah. Wolfsjäger,” kata ibu, dan hanya kutanggapi dengan membulatkan mulutku.

Dan aku melanjutkan makanku. “Eh, tapi kan, beberapa hari lagi kami berdua ulang tahun, masa gak ada Ibu sama Dad di sini, ngerayain bareng kami. Tahun ini kan sweet seventeen kami, Bu!”

“Eh? Iya ya, Ibu kok bisa sampai lupa sih sama ulang tahun kalian? Maafin Ibu ya Nak, tiketnya udah dipesan. Tapi nanti kami usahain secepetnya langsung pulang, ya kan, Dad?”

“Iya.”

“Tapi kan tetap aja, Bu.”

“Nanti, pulang Ibu bawain Cuckoo Uhr deh,” tawar Ibu.

“Udah punya dulu. Malah udah aku buang gara-gara hiasannya udah patah-patah abis aku tendang dulu.”

“Hm, kalo gitu Ibu belikan würst aja gimana?”

“Gak enak, udah bosen juga.”

Ibu mulai berpikir keras. “Nanti Ibu mampir ke Aachen deh, buat beliin cokelat lindt. Gimana?”

Coklat lindt, ya? Hm. Lumayan juga sih buat cemilan aku. Soalnya kripik pisang aku udah habis gara-gara aku jadiin temen nonton estafet semalam. “Iya udah deh. Tapi beneran, ya! Awas lupa.”

“Iya iya Sayang. Ibu gak bakalan lupa kok,” kata Ibu, dan aku melanjutkan sarapanku.

Roti aku udah habis, susu juga. Dan jam masih menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Itu artinya aku gak bakalan telat, lagian kalau telat kan ada Brian juga.

Finish!” aku berdiri dan merapikan sergamku. Bersamalam dan mencium pipi Ibu dan Dad sebelum pergi dengan Brian dan motor matik kesayangannya.

Uh. Aku masih ngantuk nih.

“Jangan coba-coba tidur di belakang gue!” ancam Brian saat kami sudah melaju keluar rumah.

“Iya, iya, bawel!” dan selanjutnya aku ketiduran di punggung Brian dan mengabaikan celotehannya tentang kejadian semalam.

-*-

Aku menyedot lagi es tehku yang tinggal setengah, kemudian lanjut membaca novel yang belum kutamatkan sejak tiga bulan yang lalu. Aku tidak tahu judul novel ini, bahkan siapa pengarangnya, soalnya novel ini sampul depan dan belakangnya sudah tidak ada. Halaman pertama langsung menampilkan awal mula cerita, dan di akhir halaman 312 tertulis kata TAMAT yang dicetak tebal dan miring. Jadi jangan tanyakan aku apa judul dan siapa pengarang buku ini.

Ceritanya aku dapat buku unik dari rak buku Febri—sepupuku dari Ibu—pas aku main ke rumah dia dulu. Waktu itu aku sedang memindai rak bukunya dan tertarik dengan buku tak bersampul ini, jadi kuputuskan untuk meminjamnya barang satu atau dua minggu. Tapi ini sudah tiga bulan, kuharap Febri lupa memintanya kembali, karena aku akan menjadikan buku ini salah satu koleksi novel aku.

Ceritanya sih lumayan klise, tentang anak majikan yang jatuh cinta dengan anak pembantu rumah tangganya, dengan beberapa bumbu-bumbu drama biasa dan tokoh antagonis yang meramaikan ceritanya. Tapi yang membuatku suka dengan buku ini adalah, cara penulisnya menyampaikan ceritanya cukup menarik dan tidak membosankan, juga diksi yang dia gunakan sangat beragam. Itu makanya aku suka dengan buku ini.

“Kamu baca komik apaan, sih?” Braga yang duduk disebelahku mengacaukan fokusku dengan buku ini.

“Ha?” aku menoleh padanya, kemudian tersenyum sekilas. “Ini novel, Braga, bukan komik.”

“Oh, novel.”

“Iya. Novelnya bagus banget loh, aku aja nyelesainnya dalam dua hari cuma. Dan sekarang aku baca lagi untuk yang kelima kalinya.”

“Setebal ini dua hari? Dan diulang-ulang pula?” Braga tak percaya, lalu geleng-geleng kepala. “Ada gambarnya gak?”

“Setau aku sih novel itu gak ada gambarnya,” aku memindai dengan cepat perhalamannya untuk mengetahui apa di dalamnya terdapat gambar-gambar. Dan ternyata tidak. “Kamu mau bacanya? Sangat menyenangkan loh, Ga.”

“Oh, nggak, bukan kesukaan gue,” Braga memakan lagi baksonya.

“Kamu selalu gitu. Novel ini beneran bagus loh. Pemeran utamanya cewek cantik dari anak pembantu, dia ditaksir sama anak majikannya yang super tajir. Eh, tapi ternyata si anak majikan udah dijodohin sama orang lain, dan dia itu yang berusaha ngerusak hubungan si anak pembantu dengan anak majikan. Awalnya aku kira mereka gak bakalan bisa bersatu, tapi akhirnya si anak majikan nyatain cintanya di bawah menara Eiffel saat musim gugur. Oooh… itu sangat romantis. Kapan ya aku bisa kayak gitu? Ditembak di bawah menara Eiffel saat musim gugur, itu pasti sangat menyenangkan. Ya, kan?”

Braga menaikkan bahunya sekali. “Mungkin. Aku gak tau,” jawab Braga dengan santai sambil terus mengunyah baksonya di dalam mulut.

“Ah, Braga, kamu bener-bener gak romantis.” Aku menghembuskan napas dan membuangnya ke samping.

“Tapi, mereka dijodohin?”

“Iya,” jawabku antusias. Ternyata Braga memerhatikan dan peduli juga dengan ceritaku tadi.

“Ah, aku pengen banget punya pacar kayak di dalam novel ini.” Kode pertama. Semoga dia peka dengan yang aku maksud. Tapi sepertinya tidak, sekarang saja dia masih fokus dengan bakso dan es tehnya. Dia benar-benar tak peduli. Huh. Apa jangan-jangan aku sudah salah memilih orang yang tepat untuk kujadikan pacar, ya?

Tapi tiba-tiba Braga meletakkan telapak tangan kirinya di atas punggung tangan kananku, sambil terus melahap baksonya dengan sendok di tangan kanan. Aku tersenyum di tempatku, mengabaikan kantin yang sudah mulai sesak dipenuhi siswa-siswa yang kelaparan.

-*-

“KEEEEEYYYYY….!!!”

PLETAKK

“Ouch! Sakit!” aku terbangun dari tidur cantik aku dan mengusap kepala aku yang rasanya tadi kayak habis dipukul pakai sesuatu. Aku melihat tajam ke arah Juju yang sedang berdiri di sebelah aku sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Pasti dia yang mukul kepala aku barusan. “Lo yang mukul gue, ya?”

“Nggak ah, mungkin aja hantunya Siti yang ngelakuin,” jawab Juju dengan santai dan kembali duduk di sebelahku.

Aku menegakkan dudukku, merenggangkan tulang-tulangnya kemudian mengucek mata aku yang masih terasa berat karena ngantuk. Untung aja hari ini aku gak pakai maskara, jadi aku bisa tenang ngucek mata indah aku. Aku melamun sebentar untuk mengembalikan seluruh nyawa aku yang masih berterbangan di sekitarku. “Siti itu siapa, ya?” tanyaku saat sudah sadar sepenuhnya.

“Tukang pembersih toilet sekolah kita dulu, yang mati gara-gara kepeleset kain pelnya sendiri. Terus jatuh dan kepalanya masuk kloset sampai nyangkut dan nggak bisa keluar, akhirnya dia mati kehabisan napas. Masa lo gak pernah denger cerita itu, sih?”

Aku menggeleng beberapa kali, lalu menguap. Dan aku baru sadar kalau kelas sudah sangat sepi, hanya tinggal aku dan Juju di sini.

“Udah jam istirahat, ya?” tanyaku dengan tampang bego aku yang cantik.

“Ini udah jam pulang bego.”

“Ha! seriusan? Kok cepet banget? Perasaan aku cuma tidur lima menit deh.” Aku benar-benar gak tau kalau jam Pak Frits udah habis dari dua jam-an yang lalu. Ternyata aku tidurnya kelamaan ya. Untung aku tidur di jam Pak Frits yang gak peduli sama siswanya, tapi lebih peduli dengan ceritanya waktu muda dulu. Jadi aku aman hari ini.

“Terserah lo deh, awas, gue mau pulang,” Juju menggeserku supaya dia bisa lewat. Tapi aku menahan tangan kanannya, kemudian memutarnya buat bisa ngeliat jam tangan coklatnya yang udah nunjukin jam tujuh belas lewat lima menit..

“Udah jam lima! Sore banget sih. Duh, Aldo sayangnya aku pasti udah pulang dari tadi. Lo kenapa gak bangunin gue sih?!”

Juju mendorong kening aku dengan jari telunjuknya. “Gue udah teriak-teriak di kuping lo dari tadi. Tapi lo aja yang tidurnya kayak kebo. Susah banget banguninya.”

“Duh, berarti beneran dong Aldo sayangnya aku udah pulang? Yaaah… gue gak bisa ngaterin dia pulang dong. Gimana kalau di jalan dia diapa-apain sama orang? Atau diculik, secara kan dia itu cute banget. Oh, atau dia di pukulin orang-orangnya Mike lagi. Shit! Ini bahaya dan gak bisa dibiarin!”

“Lo ngmong apaan, sih?” Juju menyentak tangannya dari peganganku, lalu memperbaiki letak kacamatanya yang agak turun.

“Ju, lo harus ikut gue mastiin kalau Aldo udah pulang ke rumahnya dengan selamat,” aku berdiri, membereskan buku-buku aku yang bertebaran di meja dan menarik tangan Juju buat pergi dari sini setelahnya.

“Lo apa-apaan sih!” Juju berusaha melepas tangannya, tapi tentunya tangan aku yang lebih kuat daripada tangan dia yang lembek dan gemulai ini.

“Diem deh! Mobil lo di mana?”

“Parkiran belakang.”

“Oke!” aku berjalan makin cepat supaya bisa langsung sampai ke rumah Aldo.

Dan Juju pun berhenti meronta di belakangku. Good. Aku terus berjalan melewati belakang sekolah supaya cepet sampai ke parkiran di belakang. Tapi jalan aku terhenti saat Juju mendadak berhenti di belakangku.

“Apaan sih lo. Nanti kita telat lagi nyelametin Aldo sayangnya aku dari mara bahaya yang bisa mengancam dari mana saja.”

“Tunggu. Lo liat deh,” Juju menunjuk lurus ke samping kiri kami. Aku memicingkan mata supaya bisa liat lebih jelas apa yang lagi dia tunjuk. Dan aku terkejut setengah hidup saat liat apa yang ada di depan aku. “Gila. Makin lama mereka makin sadis aja, ya?” Aku melepaskan pegangan tangan aku pada Juju, lalu berlari menuju gudang yang ditunjuk Juju tadi.  “Eh? Key, tungguin gue!” Juju ikut berlari di belakangku.

“Woy, bitches! Lepasin, ato gue buat tangan kalian gak bisa megang apa-apa selama sebulan!” ancam aku sambil menunjuk mereka.

Princess melepas pegangannya pada rambut dua cewek culun yang lagi bersimpuh di hadapan dia. Sedangkan dua temennya saling berbisik dan tersenyum licik. Eh, aku kayak kenal deh sama dua cewek culun itu. Mereka berdua pakai kacamata, yang satunya lagi rambutnya dikuncit, sedangkan yang satunya rambutnya acak-acakan.

Oh! Itu dua cewek culun di kelas sepuluh IPA kemaren, yang aku temui pas aku mau ke toilet di lantai dua. Yang aku kirain mereka mau minta tanda tangan dan foto bareng aku, tapi rupanya mereka malah ngefans sama Brian. Ew! Kok si Looser beraninya cuma sama orang yang kayak gitu sih? Kampungan banget.

Well, girls. Kayaknya kita kedatangan tamu,” Looser menendang cewek yang berkuncit rambut lalu maju mendekati aku. Dua orang cewek temennya Looser ketawa nyaring sambil menutup mulut. “Apa kabar, Kerdil?”

Apa? Kerdil? Wah, dia gak bisa dibaikin dikit ya emang. Liat aja, selain tangannya yang gak bisa dia gunain sebulan, aku bakalan buat mulut dia monyong selamanya. Dasar licik. Di depan Aldo sayangnya aku kemaren aja sok baik banget. Sekarang? Dia menjijikan.

Aku mengalihkan pandangan aku ke belakang. Juju berdiri di samping aku, tapi agak ke belakang. Dia malah lagi asik manin iPod-nya. Gak tau sikon banget sih nih orang. Hadeh. Terus aku melihat dua cewek culun yang habis dibully si Looser sedang saling berpelukan dan terduduk di lantai dengan badan bergetar. Mereka pasti ketakutan banget sekarang. Dasar Crazy Evil Bitch nggak punya hati!

“Lo apain mereka?” tanya aku dengan sinis dan dingin.

“Hanya bermain-main sedikit dengan dua kelinci peliharaan gue. Kenapa?”

“Lo gak punya otak ya emang!”

Kemudian mereka bertiga tertawa nyaring lagi sambil menutup mulut. Aku mendongak saat mereka bertiga berjalan mendekat. Duh, mereka kenapa tinggi-tinggi banget sih, aku kan jadi minder. Tapi mereka emang atlet renang kok, dan aku atlet taekwondo. I don’t scare at all.

“Terus lo mau ngapain kita? Ngadu ke Aldo kalo gue sebenernya nggak sebaik yang dia kira? Atau lo mau ngadu ke guru BK kalo gue habis ngebully anak kelas satu? Oh, gue tau, lo mau mukulin kita-kita ya?” Looser menatap kedua temannya yang berada di sebelah kiri dan kanannya. “Uuuu… aku takut,” kemudian tertawa lagi.

Aku sudah geram di tempatku. Sudah tidak tahan lagi untuk matahin leher mereka satu persatu sekarang juga.

“Felly, hape gue dong,” tangan Looser terulur ke cewek yang pakai bando di sebelah kanannya. Terus cewek yang pasti namanya Felly itu merogoh tas jinjing warna hitamnya sebelum mengeluarkan hape dan memberikannya ke si Looser.

Looser menyentuh beberapa kali hapenya sebelum meletakannya di telinga dia yang ada anting emasnya yang bagi aku norak banget. “Halo Mike, lo di mana? Inceran lo lagi di depan gue nih. Oke, gue tunggu di gudang belakang sekolah sekarang,” Looser memberikan lagi hapenya ke si Felly, kemudian melipat tangan di depan dada dengan angkuhnya. “Sampai di mana kita tadi?”

“Dia mau ngaduin kita,” bisik cewek berambut pendek di sebelah kiri Looser.

“Oh iya. Hm, gue mau cerita dulu nih tapi. Lo mesti dengerin ini dengan seksama,” Looser berdehem sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya. “Jadi, gue, Princess, cewek paling cantik di sekolah ini punya seorang saingan untuk ngerebut hati orang yang gue suka Aldo.” Aku mati-matian menahan kesabaranku, dan tiba-tiba Juju memegangi tanganku supaya aku lebih sabar. Tapi dia tetap aja asik sama hapenya. “Saingan gue itu sebenrnya cuma kutu kecil, pendek, dan kerdil yang bisa dengan mudah gue singkirin dengan hanya sekali tiup. Namanya Key-norak.”

Aku mengepalkan tanganku, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Untung aja aku ingat apa kata Sabeum Nim dulu, aku harus bisa sabar dan gak meledak-ledak. Apalagi kalau lawan kita itu gak bisa bertarung dan hanya bisa mancing emosi aja kayak si Looser bego ini.

“Gue lanjutin ya, jadi, Key-norak hari ini mau sok-sok jadi pahlawan buat dua cewek nerd di belakang sana.”

Enough!” teriak aku. Dan tanpa sadar aku sudah melayangkan tendangan ke sisi kiri wajah Looser, tapi dengan mudah dia tahan dengan  tangan kanannya. Kalau kalian terkejut dengan adegan barusan, sama aku juga. Sejak kapan Looser punya refleks sebagus itu, dia udah kayak petarung aja deh. Gak mungkin dia bisa bela diri, kan yang dia tau cuma mengepak-ngepakkan kakinya di air kayak bebek dan berbuat jahat sama orang. Jadi nggak mungkin banget kalau dia bisa gerak refleks kayak barusan.

Well, lo belum pantas buat lawan gue. Lawan lo itu mereka,” dia melepaskan pegangannya di kakiku, lalu berbalik dan berjalan pergi bersama dua dayang-dayangnya. “Oh, satu lagi,” Looser berhenti dan berbalik. “Jangan lo pikir hanya lo cewek paling kuat dan bisa bela diri di sini. Oke? Selanjutnya gue serahin ke lo my stepbrother!” kemudian mereka bertiga kembali berjalan, menendang dan meludah sekali pada dua cewek culun korban bully mereka.

Aku berbalik dan menemukan Mike sudah berdiri dan tersenyum jahat di belakangku, dengan kayu besar di tangannya. Kali ini dia gak sama orang-orang cupu kemaren, dia bawa sekitar sepuluh orang di belakangnya. Fiuh. Ini pasti bakal jadi hari yang panjang.

Damn.”

“Tenang gue ada di sini kok bareng lo, dan ini,” Juju menaik-naikkan alisnya sambil menggoyangkan iPod di tangannya. “Gue bakal tungguin lo, sekalian nenangin dua cewek itu. Nanti gue rekam setiap adegan di sini. Terus gue kasih liat ke pihak sekolah. Gimana?”

“Kalo gitu sama aja gue yang ngeladenin mereka sendirian dong.”

“Ya iyalah, kan cuma elo yang bisa nonjokin orang. Ya udah, selamat bersenang-senang ya…”

Aku memutar bola mataku sementara Juju berjalan ke belakang, ke tempat dua cewek itu.

“Lo gak ada kapoknya, ya?” ucap aku ke Mike yang hanya ditanggapinya dengan tawa. “Padahal masalah kita sepele banget.”

“Lo tau, masalah kita gak hanya pas di lapangan kemaren. Tapi masalah lo adalah dengan Princess, adek gue. Itu artinya lo juga ada masalah sama gue.”

You just the same.”

“Gak usah bacot lo!” Mike berlari dan semua orang dibelakangnya juga berlari. Mereka udah kayak pasukan Sparta deh, lebay banget.

Aku pasang kuda-kuda. Jumlah mereka ada sepuluh, empat orang paling depan sudah semakin dekat, sedangkan enam lainnya masih dibelakang. Kalau aku bisa menghentikan keempat orang bodoh ini selama beberapa detik, aku punya waktu untuk memukul K.O enam lainnya.

Mereka semakin dekat, dan aku tersenyum miring.

Pukulan ke atas, tepat dibawah hidung Mike.

Tendangan ke tengah untuk cowok di sebelah kanan, tepat di ulu hati.

Tendangan ke atas untuk selangkangan cowok berjaket hitam.

Tendangan ke belakang untuk mengenai bagian belakang kepala cowok yang ada di paling belakang.

Lima detik.

Aku meninggalkan empat orang itu di belakang, kemudian berlari sekencang mungkin. Mengambil momentum lompatan dari meja yang ada di dekat cowok yang lagi megang pemukul bisbol dan mendaratkan lututku tepat di pangkal hidungnya sampai terdengar bunyi retakan dari sana. Saat sudah mendarat sempurna di tanah, aku langsung menendang ke kanan dan mengenai dada salah seorang lainnya.

Enam orang.

Satu orang cowok paling tinggi berani mengambil langkah buat ngedekat. Aku melakukan putaran tornado kick dan menendang leher bagian kanannya sampai dia terpental jauh ke samping.

Tujuh orang.

Tinggal tiga orang yang masih sehat bugar. Aku memperkuat kuda-kudaku, soalnya mereka keliatan bisa bertarung.

“Lo lumayan juga,” kata salah satu cowok yang giginya keliatan gak beraturan saat dia bicara.

Dan mereka bertiga maju untuk menyerangku. Aku bersiap menendang lurus ke depan cowok yang ada di tengah, tapi aku bisa baca gerakannya yang siap menangkis tendanganku. Jadi, aku membatalkan tendanganku ke perutnya, tapi berbelok ke kiri dan naik ke atas sampai mengenai pipi kanannya. Ternyata tendangan Brazil aku gak jelek-jelek banget, soalnya aku jarang pakai tendangan ini.

Dengan cepat aku langsung menendang lagi ke kanan, ke arah cowok bergigi jelek yang ngomong tadi. Tapi dia bisa mengelak, jadi aku tahan tendangan aku dan mengalihkannya ke atas telak mengenai bawah dagunya.

Tanpa menunggu satu orang lagi menyerang, aku langsung berbalik dan memukul perut cowok terakhir dengan sangat kuat, lalu memukulnya lagi berkali-kali sampai rasanya ada darah yang keluar dari mulutnya dan memercik ke wajah aku sedikit. Ew! Ini jorok banget! Jadi langsung aja aku tendang dia supaya menjauh dari aku.

Aku menghapus beberapa tetes darah dan ludah dari wajah cantik aku. “Euh… kalian menjijikan.” Kemudian aku berbalik untuk melihat orang-orang di belakang aku yang lagi tersungkur kesakitan di lantai. Sedangkan Juju masih asik ngerekam aku dengan iPodnya, dan dua cewek culun itu masih bergetar di tempat sambil melotot melihatku ketakutan.

Aku dadah-dadah ke kamera, terus ngasih kiss dengan tangan kananku, lalu dadah-dadah lagi. Semoga aja aku masih keliatan cantik dan anggun di sana. Soalnya nanti mau aku masukin ke instagram aku ah, terus aku tag ke akun grup taekwondo sekolah. Supaya junior-junior aku bisa ngeliat dan mempelajari serangan-serangan aku barusan.

Duh, semoga aja di video itu gak keliatan celana dalem aku yang warna pink dan ada gambar Winnie the Poo-nya ini.

“Udah selesai?” tanya Juju ke aku. Dan aku kembali memerhatikan sepuluh cowok yang aku bikin K.O dalam dua menit barusan. Mereka gak ada yang berdaya. Huh. Tampangnya aja yang sangar-sangar, disentil dikit langsung gak bisa bangun. Mike di ujung sana masih shock ngeliat darah yang mengalir deras dari hidungnya yang keliatan patah. Mampus! Rasain!

Aku ketawa cantik dan anggun. Kalau Aldo sayangnya aku liat ketawa aku sekarang, pasti dia langsung jatuh cinta sama aku. “Udah kok, yuk pulang,” aku berjalan mendekati Juju sambil loncat-loncat dan sengaja menginjak kaki-kaki anak buahnya Mike yang bodohnya gak ketolongan itu.

Saat sudah sampai, aku membantu dua cewek culun ini berdiri. Dan kau tau apa? Mereka ngompol! Shit! Rok dan sepatunya sampai basah, dan ini bau banget.

Mereka masih bergetar dan ketakutan, jadi aku kasih senyum aja. Lalu dengan dibantu Juju, mereka kami bawa pergi menjauh dari sini.

Tschüss, stupid Mike! Kapan-kapan kita bersenang-senang lagi, ya?“ kata aku dan pergi dari sini.

Kami membawa dua cewek ini ke taman yang ada di belakang sekolah. Soalnya di sini sepi, dan karena udah jam pulang makanya lebih sepi lagi. Aku mendudukkan mereka di bangku panjang dari keramik yang ada tepat di bawah pohon mahoni.

Kedua tangan mereka diletakkan di atas lutut mereka yang bergetar, dan tatapan mereka masih keliatan takut dan kosong .

“Gue pergi cari minum aja dulu kalo gitu, ya?“ kata Juju dan berdiri, aku memberinya anggukan satu kali dan dia pergi dari sini.

“Tenang, gak bakal ada yang nyakitin kalian kok di sini, ada gue,“ aku mengusap-usap punggung cewek berkuncit yang duduk di sebelah aku. Eh, kacamatanya pecah ternyata. Duh, kasian banget sih mereka.

Dasar si Looser gak punya otak. Kok tega banget sih ngejahatin cewek lemah dan gak bersalah kayak gini. Aku sih baru sekali ini bener-bener liat kelakuan si Looser, biasanya cuma aku denger dari cerita Juju aja. Dan ternyata juga dua cewek ini yang jadi korbannya, tapi kok kemarin aku liat mereka santai dan happy-happy aja sih? Mereka pasti diancem sama si Looser buat tutup mulut. Dasar iblis.

Juju kembali gak lama kemudian, dia ngebawa dua botol air minum dan langsung dikasih ke dua cewek ini. Kemudian mereka minum dan keliatan sedikit lega, tapi tiba-tiba mereka nangis bersamaan. It’s so weird. Eh, malah sekarang cewek di sebelah aku meluk aku dan nangis di pundak aku, cewek satunya yang rambutnya acak-acakan kayak abis kena tornado itu juga nangis di bahu Juju.

Aku menoleh ke Juju, tapi Juju hanya menggeleng sekali tanda dia juga gak tau apa-apa.

“Udah, udah, gak usah nangis lagi,“ aku terus menenangkan cewek ini supaya dia nggak nangis dan ngebasahin seragam aku lagi.

Dia mengangkat kepalanya, kemudian mengangkat kacamatanya supaya bisa menghapus air mata dari matanya. “Hiksss… maafin kita ya Kak Key.“

“Iya, iya, udah dong nangisnya,“ kataku, lalu cewek ini menarik panjang ingusnya. Aku memandang dia dengna jijik, lalu merogoh saku rok abu-abu aku untuk nyari sapu tangan warna ungu aku. Tapi aku baru ingat kalau sapu tangan itu udah aku kasih ke Kristina kemarin pas di toilet.

Aku menengok lagi ke arah Juju, dan cewek yang rambutnya acak-acakan itu masih asik aja nangis di bahu Juju. Huh. Dia kayaknya nyari kesempatan dalam kesempitan deh.

“Nama aku Looni, dan ini Laras, Kak,“ kata cewek berkacamata di sebelah aku yang rupanya punya nama ini, dia masih sesenggukan dan menunjuk cewek yang satunya. “Sekali lagi makasih banyak ya Kak Key, kami gak tau kalau nggak ada Kakak tadi, mungkin mereka bakalan terus-terusan ngebully kami. Dan aku gak kuat dengan itu.“ Dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangisnya supaya gak keluar lagi.

“Tenang aja, lain kali kalo mereka macem-macem lagi sama kalian, langsung kasih tau gue aja. Biar aku pecahin payudara implan iblis-iblis betina itu.“

“Iya, makasih banyak banget Kak. Kami hutang budi sama Kakak.“

“Udah, udah, gak masalah kok,“ kata aku sambil mengibas tangan ke udara sekali.

Lupakan kalau kemarin aku bilang aku mau nendang patah leher dua cewek ini, atau melempar mereka dari gedung kelas di lantai dua. Lupakan itu, aku hanya bercanda kok waktu itu. Lagian aku juga gak suka kalau liat ada orang yang lagi dijahatin, apalagi manusia-manusia lemah dan gak berdaya kayak dua mahkluk ini.

iPhone aku berbunyi, tanda ada pesan baru aja masuk. Aku men-swipe hape aku dan nama Brian terpampang jelas di layarnya.

Brian bini Braga.

‘Lo mau ikut nganterin Ibu sama Dad ke bandara gak? Pesawatnya delay sampe jam lima.‘ 04.12 PM.

Hah! Bentar lagi berarti. Aduh, aku harus ikut anterin Ibu dan Dad ke bandara, siapa tau aku dapet duit jajan tambahan. Hihihi.

Dan sebuah pesan masuk lagi ke hape aku. Duh, gak sabaran banget sih Brian. Aku mengeceknya dan lumayan terkejut ketika membaca pesannya ternyata bukan dari Brian, kemudian tersenyum miring karena tau kemenangan udah di depan mata aku yang cantik dan indah ini. Huahaha. Itu ketawa cantik loh bukan ketawa setan.

Looser Babik.

‘Gue tunggu lo besok di tempat tadi sepulang sekolah, kita bakalan duel satu lawan satu. Tanpa senajata, tanpa bantuan, hanya kita. Yang kalah harus mundur dari hadapan Aldo.

Have a nice day, whore.

Semoga lo nggak babak belur oleh saudara tiri gue. Soalnya dia agak, ya, psycho mungkin.‘ 04.13 PM.

Sekali lagi aku tersenyum atas kesombongan Looser yang bakalan jatuh dan hancur besok.

Bersambung—

Iklan