Sexy, Naughty, Dirty cover

 

Rauf mengancingi lagi jinsnya yang lembab lalu mulai menggali-gali di dalam lemarinya, berusaha menemukan pakaian untuk Arya. Setelah mandi mungkin anak itu akan langsung tidur, pikir Rauf. Ditariknya secarik boxer dari dalam lemari dan diletakkannya di atas ranjang. Arya juga pasti butuh celana dalam. Rauf tidak tahu apakah Arya bisa pas dengan ukurannya, tapi tetap saja diletakkannya satu boks celana dalam baru berdampingan dengan boxer yang sudah lebih dulu ditaruhnya di atas ranjang.

Setelah semua itu, Rauf berdiri bersidekap lengan di dada di tengah-tengah kamar, tidak bisa mencegah dirinya untuk merasa senang dan lega. Arya sudah aman di tempatnya. Rasa bersalahnya pada anak itu sudah hampir tertebus semuanya.

Ini aneh dan tidak masuk logika… tapi Rauf benar-benar tidak ingin Arya meninggalkannya lagi.

***

Dewa terbangun di kamar Audrey, kepala Audrey di atas dadanya dan sebelah kaki Audrey membelit di perutnya. Dewa tidur hanya mengenakan celana dalam. Linu samar-sama masih terasa membekas di sekitar pangkal penisnya. Audrey terlalu bersemangat ketika memberikan Dewa blow job kedua sebelum mereka tidur. Dewa mengangkat lengan kirinya yang bebas, jam di tangannya menunjukkan pukul tiga dini hari.

Pukul tiga dini hari, ketika semesta sedang berada pada fase paling sunyi dalam satu harian. Dewa terjaga dari tidurnya tepat di sana, di tengah-tengah sunyi semesta. Entah dari mana perasaan itu datang, tiba-tiba Dewa merasa sedang berada di tempat yang tidak seharusnya. Berada di ranjang Audrey, nyaris telanjang, mendadak terasa salah. Bukan hanya perihal tempat, perasaan itu meluas lebih kompleks lagi. Dewa merasa apa yang dilakukannya bersama Audrey selama ini adalah hal yang tidak seharusnya dia lakukan.

Lalu Dewa serta-merta teringat Ren. Apa yang diperbuatnya pada Ren, melampiaskan hasrat sampai bosan lalu mendepak Ren keluar dari hidupnya, juga adalah hal yang seharusnya tidak dia lakukan.

Apa yang sudah diperbuatnya selama ini? Berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia karena dia menurutkan nafsunya? Sampai kapan hal ini akan terus berlangsung sebelum dia berhenti, katakanlah karena menemukan sesuatu yang lebih pantas untuk mendapatkan seluruh waktunya, sesuatu seperti perasaannya pada Arya, Sesuatu seperti… cinta, kapan?

SEKARANG.

Dewa mungkin bukan orang baik, dia bahkan sadar kalau dirinya adalah bajingan. Tapi kita tidak tahu kapan nurani mendobrak keluar, kan? Ketika nurani mendobrak keluar, bajingan pun bisa berubah jadi orang suci. Dewa mustahil berubah jadi orang suci, tapi setidaknya saat ini dia sedang mendapatkan sedikit pencerahan dalam hidupnya yang selama ini selalu tentang memuaskan egonya sebagai lelaki, memuaskan hasrat biologisnya yang paling purba.

Perlahan Dewa mendorong paha Audrey untuk turun dari perutnya dan kemudian masih sama perlahannya dia memindahkan kepala gadis itu dari atas dadanya. Audrey menggumam samar, bergerak-gerak gelisah sebelum tenang kembali. Dewa beringsut pelan-pelan sampai ke tepi ranjang. Dengan sama pelannya, dia mengangkat badannya untuk bangkit dan lalu turun dari ranjang.

Dewa meraih celana jinsnya dari lantai dan mengenakannya tanpa suara. Setelah itu dia memungut kausnya pula dari lantai. Ponselnya menggeletak di nakas di dekat weker Audrey. Ketika meraihnya, tangannya malah menyeggol weker itu hingga jatuh ke lantai.

Dewa mengumpat.

“Kak Dewa mau pergi?” Audrey sudah terduduk di atas ranjang, menatap Dewa dengan raut bingung.

Dewa memungut weker dan meletakkannya kembali di tempatnya semula, lalu dipandangnya Audrey dengan menyesal.

“Sakit Oma kambuh lagi?”

Dewa tidak lagi punya satu oma pun. Semua kakek dan neneknya sudah lama memulai trip panjang menuju akhirat, satu orang dengan tiket batu empedu, dua orang dengan batu ginjal, dan satu yang terakhir dengan tiket serangan jantung saat di toko batu nisan. Kakeknya sebelah ibu terkena serangan jantung ketika hendak memesan batu nisan untuk dirinya sendiri. Dewa bingung harus merasa sedih atau merasa lucu karenanya. Kakeknya meninggal justru ketika sedang membeli batu nisan untuk makamnya sendiri. Terdengar lucu, tapi juga menyedihkan di balik kelucuannya.

“Kak Dewa gak punya oma lagi, Drey…”

Audrey membelalak. “Oma meninggal? Ya ampun…” Audrey menutup mulutnya dengan kedua tangan sejenak. “Kak Dewa harus segera pulang kalau gitu…”

Sepertinya ada yang salah menyimpulkan di sini.

Dewa ingin meluruskan, dia ingin memberi Audrey kejujuran, tapi lalu dia berpikir, bagaimana kalau Audrey ngamuk-ngamuk saat dia berkata kalau simbiosis mutualisme mereka tak bisa lagi diteruskan? Bagaimana kalau Audrey kalap dan menyerangnya? Sumpah, ini jam tiga dini hari dan membuat keributan di jam ini sama sekali tidak keren. Bagaimana kalau mereka terlibat perkelahian dan berujung pada bunuh-bunuhan? Sudah banyak kasus seperti itu. Jadi, Dewa memutuskan untuk membiarkan saja Audrey berpikir terserah dirinya.

Dewa mengangguk lemah, berusaha memperlihatkan mimik sedih pada Audrey. Ini akan jadi kebohongan terakhirnya buat cewek itu.

“Aku turut berbelasungkawa, Kak.”

“Ya…”

“Apa perlu kutemani?”

“Sebaiknya gak usah.”

“Baiklah. Tapi Kak Dewa nggak apa-apa, kan?”

“Kak Dewa baik-baik saja, Drey.”

Audrey mengangguk.

“Jadi, goodbye…”

Goodbye,” balas Audrey.

Yang tidak diketahui Audrey adalah, itu bukan goodbye sampai jumpa, itu goodbye selamat tinggal. Goodbye yang benar-benar selamat tinggal bagi hubungan seksualnya dengan Dewa. Oh, biar lebih jelas dan nyata dan tepat sasaran, ehem… dengan penis Dewa.

***

Rauf selama ini selalu membuat sarapannya sendiri di apartemen, tapi hari ini ada Arya bersamanya. Mereka sarapan di coffee shop, di lantai dasar gedung apartemen, sama-sama sudah mandi, sama-sama masih menebarkan bau sampo di kepala masing-masing, dan beraroma parfum yang sama. Pakaian Arya adalah kaos hitam polos pas badan dan kargo navy sedengkul yang pinggangnya agak-agak turun dari posisi seharusnya, milik Rauf tentu saja. Rauf juga berpenampilan serupa, bedanya, kaosnya warna putih dan lebih terlihat pas badan dari Arya, juga kargo sedengkulnya tidak kedodoran di pinggang.

“Gue harus balik ke rumah…”

Rauf tersedak pancake-nya. Kalimat Arya terdengar terlalu tiba-tiba setelah mereka hanya saling bisu sudah sejak terbangun di tempat tidur masing-masing──Rauf di ranjangnya dan Arya di sofa ruang tamu──tadi pagi. Setelah meneguk espresso-nya, Rauf memandang cowok di depannya. “Pulang?”

“Gue mau ambil beberapa pakaian.” Arya menggeser piring pancake yang telah kosong dan menarik piring omelet ke dekatnya.

Ini aneh. Mendengar Arya mengatakan itu, mengambil beberapa pakaiannya, Rauf merasa lega sendiri. Tadinya dia mengira kalau Arya benar-benar akan pulang, berhenti kabur dari rumah, meninggalkan apartemennya. “Kenapa, baju gue gak nyaman di badan loe?” tanya Rauf sambil mengunyah gigitan pancake-nya.

Arya menunduk ke badannya, memandangi kaos Rauf yang sedang dipakainya. Bohong jika dia mengatakan baju Rauf tidak nyaman, semua item dalam lemari pria itu adalah barang branded asli. Tapi, tidak selamanya dia akan memakai baju Rauf terus-terusan, kan? Sudah numpang tinggal, masa ngejajah isi lemarinya juga. Arya memang badung, tapi dia masih tahu malu.

“Gue malu make barang-barang loe terus.”

“Loe baru make sehari, belum pun sehari secara teknis.”

“Kalau gue gak ngambil baju-baju gue, dengan terus tinggal di tempat loe, pasti bakal begitu kejadiannya, kan?”

Tinggal terus. Dua kata itu terdengar paling jelas di kuping Rauf. “Loe bisa beli baju-baju loe sendiri.”

Arya memandangi Rauf dengan ekspresi aneh. Pria di depannya ini sepertinya sedang teler. “Halo, Sir, loe bodoh atau apa? Menurut loe, apa gue tampak punya banyak uang saat ini?”

Rauf balas menatap arya. “Kalau saat ini loe punya banyak uang, loe pasti gak lagi make baju gue.”

“Nah, kan?” Arya lanjut menghabiskan sarapannya.

Rauf berdeham satu kali. “Kalau loe mau ke rumah buat ngambil baju-baju loe silakan saja. Loe masih megang kunci pintu depan gue, kan? Jadi loe bebas pulang ke apartemen kapan yang loe mau, gak usah nunggu gue. Seharian ini gue bakal sibuk di gym terus sampai sore.”

Arya sempat mengira kalau Rauf tidak ingat perihal kunci itu, tapi nyatanya pria itu masih ingat. “Kuncinya masih di saku jins gue.”

Rauf mendongak dari piringnya. “Jins yang mana?”

“Yang semalam.”

Rauf membelalak. “Yang kotor dan robek-robek itu?”

“Iya, gue numpukin di sudut kamar mandi.”

Damn it.” Rauf tergesa-gesa bangun dari kursi.

“Hei, loe mau ke mana?” seru Arya saat Rauf sudah berjalan cepat menuju pintu keluar coffee shop. Buru-buru dia bergerak menyusul pria itu.

“Jins dan kaos loe udah gue buang ke tong sampah.”

“What? Kapan? Itu baju gue, Men! Arya serta-merta teringat Kemal dan pasar loak tempat Kemal membayar bajunya itu dengan model transaksi yang aneh.

“Gue kira udah gak bakal loe pake lagi,” jawab Rauf kalem. “Shit, semoga sampahnya belum dipindahkan.”

“Loe gak sepatutnya ngebuang barang-barang gue!” desis Arya saat mereka hampir sampai ke pintu keluar. “Itu baju gue, gak peduli sejelek apapun, itu milik gue. Harusnya loe gak asal buang barang-barang milik orang lain.”

“Jujur saja, saat ini gue lebih khawatir kunci gue ketimbang baju loe.

Arya geram sendiri. Dia siap hendak mendebat sikap Rauf yang sangat jelas tidak peduli pada baju dan jins jeleknya, ketika tiba-tiba seseorang menginterupsi langkah dan percakapan mereka.

“Mas, Mas…!”

“APA!” bentak Arya sambil berhenti jalan sementara Rauf sama sekali tidak merespon.

“KOPINYA BELUM DIBAYAR…!!!” balas membentak si wanita di balik meja kasir.

Arya ingin mati saja saking malunya. “Sebentar.”

Arya berlari diikuti seruan panik si mbak kasir yang mengira pelanggannya mau kabur itu. Saat sudah berhasil menyusul Rauf, dibetotnya lengan pria itu sampai sosoknya tersentak berbalik.

Rauf melirik sekilas pada tangan Arya yang sedang mencengkeram lengan atasnya, lalu ditatapnya cowok itu. “Apa?”

“Gue gak punya uang buat bayar sarapan loe.”

“Memangnya sekarang loe punya uang buat bayar sarapan loe sendiri?”

Arya menahan hasrat untuk menonjok pria di depannya sampai berkaparan. Rauf benar-benar punya mulut yang tajam. Selama mengenalnya, belum sekalipun Arya melihat pria itu bersikap ramah atau tersenyum, oh, ada, Rauf sempat tersenyum semalam saat dia dicegat di tengah perjalanannya yang entah ke mana, dan Arya ingat betul bagaimana persisnya senyum itu.

Rauf menyentakkan lengannya dari dipegang arya. Si mbak kasir sudah menghampiri mereka, bersama salah seorang pelayan pria. Rauf merogoh dompetnya. “Sorry, gue kira anak ini yang akan membayar. Gue lupa kalau baru semalam masa magangnya sebagai gelandangan berakhir.”

Muka Arya memerah, karena marah pada Rauf, dan karena malu dengan si mbak kasir dan pelayan yang lumayan cakep di sebelah si mbak, yang terus saja memperhatikannya.

Si mbak kasir memberi Rauf senyum manis sambil menerima uang seratusan yang disodorkan pria itu.

“Simpan saja kembaliannya.”

Si mbak tersenyum miris kali ini. “Ini kurang, Mas…,” kata si mbak lembut. Mungkin kalau pelanggannya bukan Rauf tapi pria kebanyakan yang lebih jelek, ucapan itu pasti akan keluar dengan sengit dari bibirnya.

“Apa?!?” Arya jengkel sendiri melihat si mbak yang tampak sekali berusaha berlembut-lembut dengan Rauf. “Kopi sialan macam apa yang harganya lebih dari lima puluh ribu rupiah secangkir?”

Pancake dan omelet-nya tidak gratis, Kak.” Si pelayan cakep di sebelah si mbak menyela. “Seratus lima puluh empat ribu rupiah untuk dua mug besar kopi espresso, dua special pancake dan satu porsi jumbo omelet.”

Arya seperti sedang menelan garpu. Dia lupa kalau tadinya dia dan Rauf tidak hanya ngopi saja di dalam sana. Tunggu sebentar, dia dipanggil kak oleh cowok pelayan itu? Sok muda banget dia. Tapi kalau dilihat-lihat, cowok itu memang tampak lebih muda darinya.

Rauf melirik Arya, merasa geli dengan ekspresi malu setengah mati di wajah anak itu. “Ini, simpan saja kembaliannya, dan maaf untuk ketidaknyamannya,” kata Rauf sambil menyerahkan selembar lagi uang seratus ribuan dari dompetnya ke tangan si mbak.

“Kami juga minta maaf, Mas. Tapi, kami punya diskon khusus di pagi Minggu…”

Arya melengos pergi. Suara lembut si mbak kasir benar-benar sudah sampai pada taraf membuat kupingnya gatal-gatal. Tapi… tumben sekali Rauf tidak mengambil peluang? Bukannya sudah jelas-jelas si mbak memberi perhatian lebih padanya? Setahu Arya, Rauf itu pasti akan merespon sinyal-sinyal semacam itu. Setidaknya hari itu di mall, di depan bilik ATM, Rauf begitu.

***

Dewa belum pernah mendengar Ren siaran. Bukan karena dia tidak suka, bukan juga karena tak punya waktu. Hanya saja Dewa tidak tahu di radio apa dan di frekwensi berapa Ren siaran. Lebih tepatnya, Dewa tidak pernah cukup peduli pada pekerjaan Ren sebelum ini. Namun hari ini Dewa berkesempatan mendengarnya untuk pertama kalinya, bukan secara sengaja. Salah seorang montirnya mengatur TV pada mode radio hari ini. Dewa memang tidak mencintai Ren untuk benar-benar kenal atau benar-benar tahu apapun tentangnya, tapi Dewa ingat seperti apa suara Ren. Kebanyakan penyiar radio memang memiliki suara khas, Ren salah satunya.

“… Cinta memang nyebelin, Guys. Kalau loe belum pernah ngerasain apa yang disebut orang-orang sebagai jatuh cinta, gue pikir sepatutnya loe bisa sujud syukur. Gue serius, bukan maksud ngejek loe yang masih jomblo. Tapi cinta itu benar-benar menyebalkan…”

Dewa berhenti mengutak-atik. Di bawah mobil yang sedang diservisnya, dia menajamkan kuping untuk mendengarkan opini Ren di radio.

“Buat Loan yang udah ngirim e-mail ke kita, gue sebenarnya kasihan dengan loe, Bro. Tapi seperti yang udah gue bilang, cinta itu memang nyebelin. Saran gue, kalau cinta loe belum sampai ke tahap dimana loe ngerasa bisa mati kalau gak ngedapetin tuh cewek, baiknya loe banting setir, Bro, banting setir ke sahabatnya atau ke adek kelas loe atau siapapun deh. Yah, kecuali kalau loe gak apa-apa walau sudah ditolak berkali-kali, silakan aja usaha terus, atau kalau loe orangnya benar-benar pantang nyerah, coba deh datangi dukun, minta jimat pemikat…”

Tawa Ren memenuhi kuping Dewa, tanpa sadar di bawah gencetan mobil dia sudah tersenyum sendiri.

“… Itu saran ngawur dari Daren, tapi kalau loe mau dengar saran yang enggak ngawur, gue bisa nyuruh loe buat terus berusaha…”

Di radio, suara Ren mulai terdengar serius. Dewa sampai ikut memasang mimik serius.

“Beberapa cinta memang kadang sulit didapatkan, Loan. Cinta cewek yang udah dua kali nolak loe itu salah satunya. Tapi kalau loe cukup yakin dengan diri loe, gak ada salahnya loe terus berusaha, sampai pada titik di mana loe ngerasa kalau loe gak bisa memaksa buat ngedorong diri loe lebih jauh lagi. Intinya, loe harus tahu kapan waktunya loe mesti menyerah dan menyadari kekuatan loe. Banyak orang yang mengira dirinya sanggup, mendobrak batas kemampuan itu sah-sah saja, asal tidak konyol sendiri. Gue harap suatu hari nanti cewek itu sadar kalau ada seseorang yang selama ini memperjuangkan cinta untuknya sampai jungkir-balik. Gue harap entah besok atau lusa cinta loe berbalas, Bro. Itu saja dari Daren, dan sekarang ada Charlie featuring Selena, We Don’t Talk Anymore buat kalian yang masih setia bareng Daren di sini…”

Dewa masih termenung lama sementara lagu yang diputar Ren menggema ke seluruh bengkel. Kalau begitu ceritanya, lantas mengapa Ren tidak berusaha mendapatkan cintanya lebih keras lagi? Atau… seperti kata Ren, dia tahu kalau sudah waktunya untuk menyerah? Ya, mungkin memang itu jawabannya. Ren sadar kalau cintanya tak mungkin berbalas dan lalu menyerah untuk mendorong dirinya lebih jauh lagi.

Lantas… bagaimana kalau Arya tidak mau membalas cintanya? Apa dia juga harus menyerah seperti Ren untuk mendorong dirinya lebih jauh lagi ke dalam hidup Arya? Jika Arya menolak cintanya, sepertinya Dewa tak akan pernah berhenti mendorong dirinya lebih jauh lagi dan lebih jauh lagi untuk mendapatkan cinta Arya. Dewa tidak seperti Ren, terhadap Arya, Dewa akan pantang menyerah. Ini bukan cita-cita muluk yang datang begitu saja di bawah gencetan mobil, ini adalah tekad kuat yang muncul dari pemikiran yang matang. Demi cinta, demi mendapatkan Arya, Dewa akan menghapus kata menyerah dari dalam kamus hidupnya.

Dan omong-omong tentang cintanya terhadap Arya, bukankah seharusnya saat ini Dewa sedang berusaha untuk menemukan anak itu lebih dulu? Tentu saja iya. Jadi, apa yang dilakukannya di bawah mobil sialan ini dengan pakaian belepotan oli bekas? Tentu saja dia sedang buang-buang waktu. Ini adalah pengalih perhatiannya dari cinta Arya.

Sialan.

Dewa buru-buru keluar dari bawah mobil. “Bang, ambil alih. Gue ada urusan yang lebih penting,” serunya pada Bambang yang sedang sibuk di depan kap salah satu mobil.

“Sip, Bos.”

‘Arya, tunggu gue. Awas aja kalau loe berani-beraninya terpikat sama kontol selain kontol gue!’

***

Rauf sepertinya masih Kesal. Padahal sudah dua hari berlalu sejak insiden kunci hilang. Meski demikian, dia masih berpikiran untuk membuat kunci duplikat dan menyerahkannya buat Arya. Sebenarnya tidak masalah bagi Rauf kalau Arya selalu ikut ke mana saja dia pergi seperti yang sudah terjadi dua hari kemarin, tidak masalah juga bila Arya memilih tetap di rumah dan stand by untuk membuka pintu ketika Rauf pulang, tapi Rauf mengira itu terkesan mengikat anak itu padanya. Dengan memiliki kunci sendiri, Arya bebas keluyuran ke manapun dan melakukan apapun sesukanya di luar apartemen.

Yang tidak diketahui Rauf, Arya juga sama kesal dengannya. Dia kesal karena Rauf membuang pakaiannya, kaos dan jinsnya, padahal dua item itu adalah sejarah perjuangannya bersama Kemal, sebagai tanda dan pengingat buatnya. Namun Rauf malah memusnahkannya. Saat mengejar ke bak sampah pagi itu, sama seperti Rauf yang berharap kuncinya masih ada, Arya juga berharap bisa menemukan pakaian jeleknya itu di tong sampah. Nyatanya mereka berdua sama-sama kecewa.

“Loe gak ke gym hari ini?” tanya Arya sementara Rauf memanggang roti di dapur. Tampaknya pria itu kapok membawa Arya sarapan ke lantai dasar. Sudah dua hari dengan hari ini Rauf kembali membuat sarapan sendiri.

“Kenapa? Loe mulai demen sama fasilitas free di sana?”

Bukan tanpa alasan Rauf berkata demikian. Dua hari kemarin Arya ikut Rauf ke Gym X. Karena dikenalkan sebagai adik sepupu oleh Rauf kepada manajer gym, Arya bebas memakai alat apa saja semaunya, all item, free. Sangat terlihat sekali kalau Arya menikmati hal itu. Namun sayang sekali bagi Arya, hari ini Rabu dan Rauf libur nge-gym.

“Kenapa? Loe keberatan gue ikut? Apa keberadaan gue sepanjang hari bareng loe menghambat aktivitas sampingan loe selain jadi instruktur gym?”

Rauf melirik Arya dari sudut matanya, anak itu sedang menggali-gali ke dalam kulkas dan sejenak kemudian mengeluarkan botol susu dari sana. “Aktivitas sampingan seperti apa?” tanya Rauf.

Arya mengangkat bahu. Susu di tangannya ditenggak langsung dari botol.

“Ada yang pengen loe tahu tentang gue? Gue bisa bantu biar loe gak membuat kesimpulan yang salah.”

“Apa loe juga kerja jadi gigolo?”

Rauf kaget setengah mampus sampai rambut tebal di atas kepalanya dan jembut tipis di selangkangannya──karena baru dicukur tiga hari lalu──terasa mencuat kaku untuk sedetik bagai habis disengat listrik. Meski sudah memperkirakan kalau Arya bisa jadi pernah menganggapnya sebagai ‘kucing’, tapi mendengar cowok itu menyerang langsung dengan pertanyaan frontal semacam itu sama sekali tidak diperkirakannya. Rauf berdeham sambil menyisihkan rotinya ke piring. “Pertimbangannya?” tanya Rauf datar berusaha menutupi kagetnya.

“Kejadian di depan ATM mall hari itu, dan…”

“Dan apa?” Rauf berbalik, menatap cowok di depannya dengan tatapan tajam.

“Dan loe punya modal fisik yang cocok sekali dengan pekerjaan itu.”

Rauf ingin tertawa saja mendengar kata-kata Arya. Sejenak dia ingin membantah dan membenarkan anggapan Arya yang salah, tapi kemudian pikiran untuk membiarkan saja mengusiknya. “Loe keberatan gue jadi gigolo?” Rauf bisa melihat kalau ada sedikit keterkejutan di dalam mata Arya. Kena loe!

Arya mengangkat bahu mengisyaratkan tak peduli atau bukan urusannya sama sekali Rauf mau jadi apa, meski dia agak sedikit terkejut juga sih. “Emm… bagaimana penghasilannya?”

Rauf meletakkan piring berisi roti di meja, di antara dirinya dan Arya. “Tergantung. Kalau pelanggan suka cara loe ML, loe bisa dapat banyak dalam satu kali naik ranjang. Tapi kalau cara bercinta loe jelek, resikonya bukan hanya tip yang sedikit, tapi kehilangan pekerjaan loe juga.”

“Seperti apa standar bagus dan jelek dalam pekerjaan itu?”

Rauf butuh beberapa detik untuk memikirkan jawabannya. “Kalau pelanggan loe ngasih banyak tip, bisa dipastikan kalau cara loe bercinta itu bagus. Sebaliknya kalau pelanggan ngasih tip yang sedikit, artinya aksi ranjang loe jelek. Sesederhana itu.”

“Bagaimana dengan pelanggan yang pelit? Mau ngesek loe bagus atau enggak, tetap aja ngasihnya dikit,” tukas Arya. “Banyak atau sedikitnya tip sepertinya gak ada hubungannya sama standar bagus dan jelek…”

Rauf merasa dijebak dengan kebohongannya sendiri. Cowok di depannya ternyata tidak mudah diyakinkan. “Pengalaman gue, loe bakal langsung tahu kalau kemampuan bercinta loe bagus atau enggak saat sudah di ranjang bareng pelanggan loe.”

“Apa itu artinya fisik dan ukuran penis sangat menentukan?”

Rauf lagi-lagi terkaget-kaget sendiri. Anak ini terlalu blak-blakan. “Dalam hal berhubungan intim, tidak juga, tapi dalam dunia pekerjaan gigolo menurut gue dua hal itu bisa sangat mempengaruhi.”

Arya menelan ludah. Dia tak bisa membayangkan dirinya jadi gigolo dan ngesek sama tante-tante. Saat dia memaksakan diri memikirkan hal itu, yang terlintas di kepalanya justru sosok Rauf yang sedang menggagahi si mbak kasir di coffee shop lantai dasar kemaren. Lebih dipaksa lagi, dia malah melihat dirinya sedang dalam posisi enam dan sembilan dengan Rauf.

Damn it!

“Kenapa, loe mau ngambil kerjaan itu?” Rauf merasa sudah berhasil mengibuli Arya saat cowok itu mendiamkan diri cukup lama.

“He?” Arya melongo. Dipandangnya Rauf yang sedang menggigiti roti panggangnya. Di dalam penglihatannya, pria itu terlihat senang sekarang. Apa dia sedang membanggakan profesi sampingannya? Bangga jadi gigolo? Serius? Ya ampun… Tapi tetap saja pertanyaan Arya meluncur begitu saja. “Apa loe ngelayani semua jenis pelanggan, bagaimana dengan pelanggan om-om?”

Rauf tersedak hebat. Kunyahan roti di dalam mulutnya sampai tersembur ke depan Arya. Dia batuk-batuk sambil memukul-mukul dadanya selama nyaris satu menit. Ketika Arya menyodorkan botol susu yang masih dipegangnya, Rauf langsung menerima dan meminumnya. Setelah sembuh dari batuk-batuknya. Rauf kembali memandang Arya. “Gue hanya punya pelanggan perempuan.”

“Oh.”

“Tapi gue denger ada juga gigolo yang khusus melayani laki-laki…”

Arya berpandangan dengan Rauf. Dadanya berdebar menunggu Rauf melanjutkan ucapannya. Dia bersiap-siap untuk tembakan pertanyaan Rauf selanjutnya, tembakan pertanyaan seperti: Apa loe mau melayani om-om saja kalau nanti jadi gigolo?

“Kalau boleh gue nyaranin, jangan jadi gigolo. Seharusnya dunia tidak mengenal profesi itu sama sekali…”

Arya merasa lega sendiri karena Rauf tidak bertanya. “Tapi loe melakukannya, kan?”

Rauf tersadar betapa konyol kalimatnya terdengar. Dia lupa kalau sedang berbohong pada Arya. “Emm… iya…” Rauf menarik-narik anting metal di salah satu cuping telinganya dengan kikuk.

“Jadi, bukankah seharusnya loe gak bilang begitu tentang jadi gigolo?”

Rauf hampir kehabisan akal untuk menjawab. “Menurut gue, gak ada yang dengan senang hati melakukan pekerjaan yang sudah dicap miring di masyarakat itu. Anggap aja kalau nurani gue juga tidak suka. Jadi, yang tadi itu nurani gue yang ngomong.” Rauf sadar kalau ucapannya terdengar ngawur sekali, tapi saat anak di depannya mengangguk setuju, dia merasa lega juga.

“Kalau gitu, menurut loe, gue jangan jadi gigolo?”

“Jangan.”

“Meskipun gue sangat butuh pekerjaan saat ini?”

“Meskipun loe nyaris mati kelaparan dan dunia mungkin bisa kiamat kalau loe gak jadi gigolo.”

Sama sekali tak terbayangkan bagi Rauf kalau Arya sampai jadi gigolo. Bukan berarti dirinya sok bersih atau bagaimana, Rauf sadar kalau apa yang diperbuatnya selama ini, one night stand dengan banyak wanita, juga sama buruknya dengan jadi gigolo meski tak ada uang yang terlibat, tapi Arya itu masih anak-anak, kan? masa depannya masih terbentang luas di depan kakinya, dia bisa jadi apa saja selain memilih jadi gigolo. Oh, hell… seharusnya tak boleh ada siapapun yang memilih jadi gigolo atau melakukan hal yang setara untuk disebut gigolo, tidak Arya, tidak dirinya, tidak juga pria manapun di seluruh semesta. Itu bukan pekerjaan yang baik.

Arya meraih roti di dalam piring, menggigitnya sambil masih memandang Rauf. “Menurut loe, apa pekerjaan yang cocok buat gue?”

“Apapun yang tidak melibatkan selangkangan loe, Lilbro.”

***

Dewa masih belum menemukan Arya meski sudah lintang-pukang mencari ke sana-sini bagai orang kesurupan. Mencari Arya semingguan ini sudah bagai pekerjaan penuh waktu buatnya, seharian, dari jam seharusnya orang-orang masuk kantor sampai waktu lembur habis. Bayangkan, mencari seharian, dari pagi terang hingga malam gelap, dan tidak ketemu-ketemu, bayangkan! Bayangkan! Sudah? Bagaimana rasanya? Menyenangkan? Gila aja! Menyedihkan? Emm… bisa jadi. Menjengkelkan? Nah, tepat sekali. Begitulah pikiran Dewa sekarang: JENGKEL. Kapital loh itu.

Sama sekali tidak terpikirkan oleh Dewa kalau Rauf ada di stage malam ini ketika memutuskan membawa pikiran jengkelnya itu ke ABClub. Menemukan Rauf di sana membuat Dewa sadar kalau sekarang malam Sabtu. Dewa ingat Rauf pernah memberitahu kalau setiap malam Sabtu dia nge-DJ di ABClub. Sejak Rauf mengabaikan kehadirannya di apartemen yang pasti disebabkan insiden ciuman mereka waktu itu, Dewa bisa dikatakan sama sekali tidak teringat pada Rauf. Namun malam ini begitu menemukan Rauf di stage bersama perangkat DJ-nya, pikiran Dewa mau tidak mau kembali terpusat pada hubungannya dengan pria itu. Mereka sudah pernah dekat, nyaris bisa dikatakan sahabat malah, dan semingguan ini mereka kembali seperti jadi ‘bukan siapa-siapa’. Dewa memutuskan akan menyapa Rauf setelah pria itu selesai di stage, mungkin juga akan menanyakan perkembangan usaha Rauf untuk menemukan Arya.

Dewa merapat ke meja bar, meminta bartender membuatkan minum untuknya lalu duduk menunggu di sana sambil memerhatikan Rauf di atas stage. Sementara duduk menunggu sambil sesekali menyesap isi gelasnya, Dewa bertanya-tanya apakah Rauf masih marah dengan insiden ciuman mereka? Apa Rauf masih mencari Arya seperti dirinya atau sudah menyerah dan menganggap Arya bukan lagi urusannya? Dan… yang paling tidak seharusnya dipertanyakan: Apakah Rauf masih terkenang-kenang manisnya ciuman mereka waktu itu?

Ada desir yang terjadi di area pangkal paha Dewa karena memikirkan ciuman itu. Tidak bisa dipungkiri memang, Dewa menikmati ciumannya dengan Rauf. Yang membuat Dewa penasaran terkait kejadian itu adalah, apakah Rauf walau sedikit saja juga menikmati ciuman mereka? Jujur saja, lebih semingguan ini sebenarnya Dewa bisa dikatakan sudah melupakan kalau dia dan Rauf pernah berciuman, tapi saat kembali menemukan Rauf dengan segala pesona dan keseksiannya di sana, kenangan ciuman itu dengan serta-merta menerobos labirin-labirin memorinya dan memunculkan diri ke permukaan. Efek dari hal itu sudah kita ketahui bersama: desir di selangkangan Dewa.

Dewa sudah menghabiskan sedikitnya lima gelas minuman ketika sudut matanya melihat Rauf mengundurkan diri dari stage. Dewa buru-buru membayar minumannya dan melewatkan uang kembalian lalu dengan celana dalam sedikit sesak──yang menimbulkan bulge samar di depan jins-nya──bergegas mengejar Rauf ke belakang panggung.

“Raf…!” Dewa berteriak memanggil, tapi yang dipanggil seperti berlagak pekak. Rauf terus saja melangkah tegap. “Sialan, Raf. Kita perlu bicara…”

“Pembicaraan kita sudah lama kelar, Wa!” balas berseru Rauf tanpa repot-repot menoleh apalagi berhenti jalan.

Tuh, kan, benar. Rauf memang pura-pura tuli. Dewa sedikit yakin kalau Rauf bahkan sudah tahu keberadaannya di depan meja bar ABClub sejak dia nge-DJ. Dewa sedikit berlari mengejar sebelum Rauf hilang ke belokan yang remang-remang.

“Jangan abaikan gue, Bangsat!” Dibetotnya lengan Rauf sampai pria itu harus setengah berbalik menghadapnya.

Rauf melirik tajam bisepnya yang sedang dicengkeram tangan Dewa. Arya juga pernah mencengkeramkan tangan di tempat yang sama dengan Dewa. Bagaimana dua orang itu bisa begitu mirip dalam hal menghentikan langkahnya?

Mendapat lirikan tajam dari Rauf, Dewa segera menjauhkan tangannya. Untuk semenit lamanya, mereka saling berdiri dalam diam. Berdiri sedekat itu, Dewa bisa membaui aroma cologne bercampur keringat dari sosok Rauf dan itu menambah rangsangan yang terjadi pada pangkal pahanya. Dewa merutuk diri. Akhir-akhir ini dia sangat mudah terangsang. Wajar sih, mengingat sudah semingguan ini hasrat biologisnya tidak tersalurkan. Tak ada Ren, tidak pula Audrey. Penisnya benar-benar jomblo.

Di lain pihak, berdiri sedekat itu dengan Dewa juga membuat Rauf bisa membaui aroma alkohol dalam napas Dewa. Aroma alkohol itu, mau tidak mau membuat Rauf mensiagakan diri terhadap apapun pergerakan Dewa. Jika dalam keadaan tanpa pengaruh alkohol saja Dewa bisa melumat mulutnya, apalagi sekarang di bawah pengaruh alkohol. Dewa bisa saja bertindak lebih berani dari sekedar mencium, misalnya, memeloroti jins lalu mengisap penisnya. Memikirkan kemungkinan horror itu, bulu di kuduk Rauf mencuat semua. Dia sudah bertekad, kalau Dewa sampai berani mengeksploitasinya lagi secara seksual, dia akan menghajarnya sampai lupa ingatan. Dua kepalan Rauf kiri kanan sudah siap sedia dari tadi.

Sorry,” gumam Dewa lalu sedikit memundurkan diri dari depan Rauf. “harusnya gue gak narik tangan loe…”

“Harusnya loe juga gak nyebut gue bangsat.”

Yeah, sorry juga untuk udah manggil loe begitu.”

Jeda.

Sejenak dua pria itu tampak saling memperhatikan. Dewa terlihat benar-benar kacau di mata Rauf, sedang Rauf terlihat bagai fasilitas seks terdekat bagi Dewa. Sementara Rauf memerhatikan wajah Dewa yang tampak lelah, Dewa malah sibuk memandang kaus Rauf yang basah keringat dan menampilkan samar-samar keadaan perutnya.

“Kalau gak ada lagi yang mau loe katakan, gue mau balik ke apartemen.” Rauf bersiap-siap pergi.

Dewa tersadar akan tujuan utamanya mencegat Rauf. “Apa loe masih marah gara-gara kejadian hari itu?”

“Jangan pernah pancing ingatan gue ke sana!” Rauf terdengar serius dengan kalimat bernada mengancamnya.

“Yah, sekarang gue tahu kalau loe memang masih marah,” Dewa memamerkan cengirannya. Tapi melihat ekspresi Rauf yang masih dingin, cengiran itu hilang secepat kemunculannya.

Rauf mendengus lalu beranjak pergi. Namun baru selangkah berjalan, suara Dewa kembali menginterupsinya.

“Apa loe masih nyari Arya? Bagaimana perkembangannya? Loe udah ketemu sama dia?”

Rauf urung pergi, kembali dibalikkan badannya menghadap Dewa. Pria itu pasti kurang tidur akhir-akhir ini, ada kantung mata di wajahnya yang biasa selalu segar. Dewa mungkin lupa bercukur juga, bulu-bulu di rahangnya membuatnya seperti lebih tua satu dua tahun dari usia sebenarnya. Penampilannya benar-benar berantakan.

Apa kemeja itu sudah dipakainya sejak malam kemarin?’

Melihat betapa mengenaskannya penampilan Dewa saat ini, Rauf tergoda untuk mengatakan kalau Arya sekarang mungkin sedang tidur nyenyak di apartemennya, di ranjangnya. Mulutnya sudah nyaris membeberkan itu ketika ingatannya kembali ke minggu-minggu sebelum minggu ini. Dewa itu tipe gay peselingkuh. Dirinya saja pernah dicium Dewa, padahal saat itu jelas-jelas Dewa sedang bilang kalau dirinya mencintai Arya. Apa jaminannya kalau Dewa tidak akan menyelingkuhi Arya? Tidak ada jaminan sama sekali. Kenapa? Tentu saja, karena Dewa itu, kan, penjahat kelamin.

Okey, terdengar tidak pantas memang. Karena Rauf sendiri sebenarnya juga penjahat kelamin. Sesama penjahat kelamin tidak boleh saling menjatuhkan. Tapi tetap saja, Arya tidak pantas dapat kekasih tukang selingkuh, kan? Arya pantas mendapatkan pria gay yang lebih baik dari Dewa, lebih baik dari segi kesetiaan maksudnya, kalau dari segi tampang, sepertinya akan sulit mengingat Dewa itu sudah ganteng mampus.

“Gak, gue udah gak nyariin. Anak itu susah ditemukan. Gue nyerah.” Tetap saja, ada tikaman rasa bersalah ketika Rauf membohongi Dewa. Tapi demi kebaikan Arya, Rauf harus melakukannya. Tunggu, kenapa pula dia bisa sepeduli ini pada Arya? Nanti saja dipikir, yang penting sekarang jauhkan dulu tukang selingkuh ini dari menjebak Arya yang katanya atas nama cinta itu. “Barangkali dia sudah pulang ke rumahnya, kan? Loe udah ngecek ke rumahnya lagi?”

Dewa menggeleng lesu. “Belum. Hemm…” Dia meremas rambut di kepala, “Gue kira loe masih nyariin.”

Rauf menggeleng samar.

Okey,” gumam Dewa datar seperti orang bingung.

Rauf tadinya ingin segera pergi saja. “Loe benar-benar berantakan, Men.”

“Iya, gue tahu. Tapi gue perlu menemukan Arya.”

Sorry…”

“Bukan salah loe.”

Rauf minta maaf karena sudah bohong, Dewa hanya tidak tahu dan mengira maaf itu karena Rauf berhenti membantunya mencari Arya.

“Sebaiknya loe pulang, Wa. Loe butuh tidur dan memperhatikan diri loe sendiri.”

“Selama ini gue sudah cukup memperhatikan diri sendiri sampai membuat orang-orang tersakiti lantas membenci gue, dan gue menyesal karenanya.”

Apa Dewa sedang bersandiwara? Tapi saat ini dia terdengar sangat meyakinkan. Rauf ragu-ragu telah salah bertindak dengan membohongi Dewa tentang Arya. Mungkin saja Dewa sudah benar-benar insaf semingguan ini, kan? Sebentar, seminggu? Insaf? Kok kayaknya terlalu cepat, ya, buat bajingan semacam Dewa? Tidak, tidak, tidak… kalau pun Dewa benar-benar sudah insaf, menderita selama seminggu masih terlalu singkat buatnya. Biar saja dia menderita dua atau tiga bulan lagi gara-gara gak menemukan Arya, hitung-hitung karma buatnya.

“Baiklah, sebaiknya gue pulang,” ucap Rauf.

“Ya, trims sudah mau meladeni gue.”

Anytime, Bro…,” balas Rauf sambil menepuk bahu Dewa.

“Apa anytime ini berarti loe sudah gak marah lagi ke gue?”

Anytime untuk kapanpun loe butuh diladeni,” jawab Rauf. Kilatan jahil di mata Dewa menyadarkan Rauf kalau mungkin dia sudah salah berkata-kata, atau… kata-katanya sudah benar tapi pria di depannya ini mengartikannya secara berbeda. “Emm… maksud gue, diladeni bicara.”

“Oh…”

Rauf mundur selangkah. “See you…”

“Ya… see you.”

Sepeninggal Rauf, Dewa termangu sendiri bersama hasrat biologisnya yang masih butuh dipuaskan. Pikirannya sekonyong-konyong tertuju lagi pada Arya. Jika saat ini dirinya benar-benar butuh melampiaskan hasrat biologisnya yang sudah tertahan lumayan lama dan mengental jadi sperma di dalam testisnya, satu-satunya orang yang berhak atas pelampiasan itu adalah Arya. Tapi tak ada Arya saat ini. Artinya dia tidak bisa melampiaskannya. Dewa sudah membuat sumpah, kalau tidak keluar karena disebabkan wildest dream-nya sendiri, maka spermanya hanya akan dikeluarkan oleh Arya saja. Wildest dream atau Arya. Bukan oleh selain itu.

***

Dini hari, Arya terbangun sedang memeluk Rauf, dari belakang. Punggung telanjang Rauf bertabrakan dengan dada polosnya. Bagian bawah pusarnya menempeli bokong Rauf. Sebelah lengannya melingkari pinggang Rauf.

Sadar kalau Rauf tidak suka dipeluk laki-laki, sadar kalau Rauf membiarkan dirinya ikut memakai ranjang karena pria itu yakin dirinya tidak seperti Dewa yang suka memanfaatkan kesempatan, sadar kalau saat ini Rauf-lah satu-satunya tempat berlindung paling aman buatnya, sadar kalau tidak mau didepak dari apartemen Rauf maka dia tidak boleh mengeksploitasi Rauf sementara pria itu tidak sadarkan diri, maka begitu sadar kalau dirinya tidur sambil memeluk punggung pria itu, Arya cepat-cepat berbalik dan menjauhkan diri hingga nyaris jatuh di tepi ranjang.

Diperhatikannya sosok Rauf yang masih bergeming pada posisi semula, tidur membelakanginya. Dada Arya berdebar. Bagaimana kalau Rauf terjaga dan sadar kalau dirinya dipeluk? Bisa saja pria itu marah-marah lalu memintanya keluar dari kamar, atau yang lebih buruk lagi: mengusirnya pergi dari apartemen. Arya sebenarnya tidak takut diminta pergi dari apartemen dan hidup menggelandang lagi karena dia sudah mantap tak akan pulang ke rumah sampai kapanpun──kecuali bokap atau nyokapnya mengemis-ngemis memintanya pulang atau dia bisa mati kalau tidak pulang, hanya saja saat ini dia masih sangat butuh tempat tinggal, setidaknya sampai dia punya pekerjaan.

Yang membuat arya tidak habis pikir, bagaimana dia bisa berguling hingga sampai ke sisi ranjang tempat Rauf berbaring? Arya sangat ingat sebelum tidur semalam, sebelum Rauf pulang dan ikut tidur di ranjang yang sama dengannya, dia sudah menempatkan guling di tengah-tengah ranjang untuk mencegah hal-hal seperti barusan terjadi. Guling itu sudah berhasil selama tiga malam yang lalu. Ke mana perginya guling itu malam ini? Arya mencari-cari dengan matanya di dalam temaram cahaya lampu tidur dan segera menemukan guling itu sedang terjepit di antara betis Rauf sendiri.

‘Bukan salahku. Dia sendiri yang mindahin gulingnya. Kalau sampai dia sadar dan marah-marah, bakalan kuperkosa nih abang-abang nanti!’

Arya menunggu sampai dadanya berhenti berdebar. Rauf masih bergeming dan dengkur halusnya sesekali terdengar. Merasa lega, Arya kembali meluruskan posisi. Ketika dia bersiap untuk memejamkan matanya kembali untuk meneruskan tidur, Ranjang berdecit pelan dan sebelah paha Rauf naik ke perutnya diikuti lengan Rauf yang tiba-tiba saja ikut melintang di atas dadanya yang telanjang. Rauf berhasil mengubah posisi tidurnya sekaligus menyeberang ke sisi ranjang yang ditempati Arya dalam sekali geliat. Luar biasa.

Dada Arya kembali berdebar kencang, padahal baru beberapa saat lalu sembuh dari debar yang juga sama kencangnya. Ekor matanya menangkap keberadaan guling yang tadi terjepit di antara kaki Rauf sekarang sudah berguling jauh ke kaki ranjang, nyaris jatuh ke lantai.

‘Apa yang mesti kulakukan? Membangunkannya atau… pura-pura tidur dan menikmati saja momen jarang-jarang ini atau… memanfaatkannya?’

Pikiran Arya berkejaran. Bagaimanapun tadinya dia khawatir akan membuat Rauf marah bila mendapati dirinya dipeluk, berada dalam keadaan yang nyaris sama tapi dengan sebab dari pihak berbeda sekarang tetap saja menggoda pikirannya. Jangan lupa, dirinya masih suka segala maskulinitas pada diri seorang pria (baca: maho). Rauf itu seorang pria, sudah pasti maskulin, bonus fisik dan tampang yang bisa menggoyahkan iman gay alim sekalipun, konon lagi Arya yang bukan gay alim sama sekali.

Arya menolehkan wajah perlahan. Dapat dirasakannya napas Rauf yang menghembus pipinya perlahan dengan jeda teratur. Memandang wajah Rauf dalam jarak sedekat itu, Arya mendapati dirinya iri pada perempuan-perempuan yang sudah pernah mencumbui wajah Rauf. Pandangan Arya bergerak turun begitu saja ke dada Rauf. Dia bertanya-tanya sudah berapa banyak wanita yang menggunakan dada itu sebagai tempat menyandarkan kepala, atau melabuhkan ciuman atau… ah… Arya bisa gila kalau meneruskan. Yang pasti, tentu sudah banyak wanita yang jatuh ke pelukan Rauf, yang tidur dengan Rauf. Rauf, kan, gigolo.

Pandangan Arya lalu turun lagi ke pinggang Rauf. Dadanya berdesir mengamati bulu halus yang berbaris rapi dari pusar Rauf dan hilang di bawah pinggang celana pendeknya. Arya ingin menyentuhkan jemarinya ke perut Rauf yang bersekat-sekat, tapi dia khawatir akan membangunkan pria itu, jadi yang bisa dilakukannya hanya terus saja menatap sambil kesusahan menelan ludah sendiri.

Rauf menggeliat lagi, gumam samar entah apa yang keluar dari bibirnya terdengar nikmat ketika masuk langsung ke kuping Arya. Namun geliat Rauf kali ini tidak hanya memberi efek nikmat di kupingnya, tapi juga memberi efek lain yang lebih dahsyat. Jika tadi saat pertama kali bergerak mengubah posisi tidur membuat dirinya memeluk Arya sedemikian rupa, maka sekarang saat kembali bergerak menggeliat, Rauf malah membuat tonjolan di depan tubuhnya mepet ketat ke paha Arya.

Arya merasakan dadanya nyaris meledak. Bukannya dia tidak pernah membuat kontak dengan penis orang lain sebelumnya, dulu dia sering membuat kontak dengan penis Ibra saat masih jadi top bagi temannya itu, tapi merasakan kontur kejantanan Rauf di pahanya saat ini sensasinya sungguh berbeda. Kabarnya, pria mengalami ereksi alamiah pada jam-jam dini hari. Sepertinya itulah yang terjadi pada penis Rauf. Ereksi keras. Arya bahkan bisa merasakan lekukan kepala penis Rauf, juga denyutnya, dan tentu saja suhunya. Celana pendek yang dikenakan Rauf ternyata terlalu tipis dan ketat untuk menyamarkan penis besarnya yang sedang berekstensi secara alami.

Sialan, penis Arya sendiri sekarang sudah tegang sempurna di bawah intimidasi paha Rauf.

Hasrat itu terasa mendorong-dorong di dalam diri Arya, bersinergi dengan entakan-entakan kontraksi yang terjadi pada penisnya di bawah tindihan paha Rauf.

Ini perlu dituntaskan.

Dengan cara apa? Yang pasti bukan dengan menurunkan celana Rauf lalu mengadu organ vitalnya ke milik pria itu. Kalau sampai Rauf terbangun, Arya bisa disepak keluar.

Lalu dengan apa?

Coli.

Sudah diputuskan.

Pelan-pelan Arya beringsut makin ke pinggir ranjang, keluar perlahan-lahan dari kungkungan lengan dan kaki Rauf, keluar dari dalam ceruk tubuh pria itu. Hingga Arya berhasil turun dari tempat tidur, Rauf masih bernapas teratur dan masih tidur dengan posisi yang sama, hanya saja tidak ada Arya yang melengkapi.

Arya bergerak ke kamar mandi, membuka pintu, meyalakan lampu, menutup pintu lagi sekaligus menguncinya. Banyak produk mandi yang berjejer rapi di sana, tapi Arya lebih tertarik pada sabun mandi cair beraroma jantan milik Rauf. Celana pendek sekaligus kolornya dipelorotkan hingga ke lutut. Penisnya yang sudah tegang dari tadi mengacung pongah, menunggu untuk dilumuri dan disentuh lalu dibuat muncrat, seperti biasa.

Saat sudah memulai, alih-alih membayangkan Rauf seperti yang sudah diperkirakan, sosok Dewa yang sedang coli di ruang kerjanya sendiri malah tergambar jelas di dalam kepala Arya. Dewa, dengan penis bagusnya yang sudah pernah dilihatnya, tampil jelas dan membuat Arya seperti kesetanan saat menggerakkan tangannya naik dan turun di depan perutnya sendiri.

***

Tadi pagi Rauf menemukan Arya tidur di sofa ruang tamu, tanpa bantal dan tanpa selimut. Saat mereka berada di meja makan untuk sama-sama menyantap sarapan yang dibuatkannya, Rauf ingin menanyakan kenapa semalam Arya pindah tidur ke sofa, tapi ekspresi anak itu terlihat berbeda pagi ini.

Rauf berdeham, “Kenapa? Roti panggangnya terlalu angus atau kopi loe kurang gula?”

Arya menyobek rotinya dan memasukkan sobekan itu ke mulutnya. “Terus terang saja, gue mulai bosan sarapan roti melulu tiap hari.”

“Loe punya ide lebih bagus?”

Arya ingin menjawab coffee shop di lantai dasar adalah ide bagusnya, tapi saat teringat bagaimana si mbak kasir berusaha bermanis-manis dengan Rauf waktu itu mengurungkan jawabannya. “Apapun selain roti bakar monoton ini pasti ide bagus.”

Well, kenapa loe gak beli sarapan lain aja buat loe sendiri kalau memang gak suka sarapan bikinan gue?” Rauf menyeringai sekilas, lalu sekilas kemudian seringai itu lenyap berganti tatap meremehkan. “Oh, sorry, gue lupa kalau loe gak punya duit dan masih numpang hidup di apartemen orang lain, gratis.”

Arya sangat sadar kalau Rauf sedang berusaha menunjukkan siapa yang lebih berkuasa di apartemen itu. Kalimat Rauf barusan bisa diterjemahkan dengan bahasa lain buatnya. Ini tempat gue, loe cuma numpang, terserah gue mau bikin sarapan apa, kalau loe suka silakan makan kalau gak suka persetan. Kira-kira begitu. Arya kehabisan suara untuk mendebat.

Rauf berdeham lagi, dia sudah tidak tahan untuk bertanya. “Jadi, semalam kapan loe pindah tidur ke sofa?”

Arya diam, hanya terus mengunyah rotinya.

“Kenapa? Apa ranjangnya kurang lebar?”

“Iya, kurang lebar buat nyegah loe meluk gue.”

Rauf sontak saja tersedak. Dia batuk-batuk lagi hari ini. Sarapan bersama Arya sepertinya memang rawan membuatnya tersedak. Ini kali kedua ucapan Arya membuat mogok kinerja kerongkongannya, kali ketiga jika tersedak di coffee shop ikut dihitung.

Benarkah dia meluk Arya?

Meluk?

Arya?

Meluk laki-laki?

Sambil tidur?

Sempurna. Yang dilakukannya persis seperti pasangan gay yang sedang dimabuk asmara: tidur berpelukan.

‘Shit. Ada yang salah dalam diri gue!’

Tapi… selalu ada kemungkinan kalau Arya setan itu hanya mengada-ada, kan?

 

= TO BE CONTINUED =

 

Note :

Maaf lama update, tapi gue punya kerjaan lain yang lebih penting dari sekedar duduk mengkhayal di depan laptop agar bisa membahagiakan kalian dengan post baru di blog ini. Bagi yang bilang kangen update blog di email dan sosmed, thank you sudah kangen, tapi sebenarnya, gue kesel loh tiap ditanyain update baru. Gue gak suka ditagih-tagih, gak suka diatur-atur, wong baca geratis aja kok berani nagih-nagih dan ngatur-ngatur segala :p, bagi yang merasa gue senggol, EGP :p :p :p :p :p :p :p

Bretrewre, sepertinya gue kehilangan sisi lembut gue saat bikin note, harap maklum, ya. Multi tasking kayaknya memang sudah menggerus sisi menyenangkan gue. Percaya atau enggak, akhir-akhir ini di kerjaan banyak yang bilang kalau aura gue serem, mereka jadi enggan deket-deket. Bisa jadi saat gue gak ngerjain dan mikirin lebih dari satu hal lagi di saat bersamaan, sisi menyenangkan gue balik lagi dan yang nagih-nagih postingan baru bakal gue perkosa satu-satu saking senangnya gue.

Udah, gitu aja.

Iklan