8959503_f520

Oleh : Pandu Wiratama

“Aku benci padamu, kuharap kamu gak pernah ada! Kamu selalu cari perhatian, dan aku tahu kamu sengaja supaya semua orang lupa padaku!” Arjuna menuding dengan telunjuknya, lalu keluar membanting pintu kamarku.

Sepanjang yang bisa kuingat, aku dan Juna, adik kembarku, tidak pernah bertengkar karena alasan apapun. Oke, kami terkadang emang rebutan mobil-mobilan Hot Wheels yang baru dibelikan Bunda, atau berdebat soal siapa yang lebih hebat antara Naruto si rubah ekor sembilan atau Luffy si topi jerami, yang tentu saja hebatan Luffy karena dia kan terbuat dari karet dan jelas tidak ada ninja bodoh manapun yang bisa mengalahkannya! Dan ya, cuma bocah idiot macam Juna yang bisa tidak setuju denganku.

Lihat kan, ini lah sulitnya punya kembaran idiot! Apakah salahku jika aku terserang asma saat Ayah dan Bunda hendak membawa kami ke Pizza Hut di Lotus untuk merayakan kemenangan Juna di kumite perorangan pada kejuaraan karate yang diadakan di sekolah tadi pagi?

Emang dia pikir siapa yang bersorak paling kencang menyemangatinya? Tidak sadarkah dia napasku tadi habis untuknya? Juna pikir aku senang megap-megap kehabisan oksigen sampai harus diasapi di UGD Rumah Sakit?

Lagipula seharusnya aku yang benci padanya. Aku lah yang harusnya mengeluh kalau selama ini dia selalu mencuri semua perhatian Ayah dan Bunda dengan tingkahnya yang sulit diatur! Dan ya, meskipun aku tidak pernah menyuarakan isi hatiku, terkadang aku pikir aku benar-benar benci sama kembaranku. Kenapa sih Bunda selalu datang ke sekolah karena Juna berkelahi dengan anak kelas empat yang badannya dua kali lebih besar, atau karena dia mengatai guru bahasa Inggris kelas tiga kami Gorila Gila setelah Bu Asna menghukumnya karena Juna tidak membuat PR, dan kebetulan ibu guruku itu emang sedikit jumbo!

Padahal Bunda tidak pernah hadir ketika aku memenangkan lomba berhitung pake sempoa atau ketika aku menerima Bintang Tahunan Pramuka Siaga-ku. Selama ini aku tidak pernah protes, bahkan tidak ketika Ayah tumben-tumbennya mengambil cuti sehari cuma untuk mendukung Juna di kejuaraan karate bodoh tadi pagi, sementara Ayah menolak mengantarku ke perkemahan pramuka minggu lalu.

Kurasakan dadaku bergejolak dan mataku terasa pedih. Aku benci sama Juna! Kuharap aku tidak pernah punya kembaran seperti dia! Ayah dan Bunda selalu bersikap tidak adil padaku. Dan itu semua salahnya. Kuharap dia pergi saja dari hidupku!

***

“Aku gak mungkin ninggalin kamu, lebih baik dia mengambilku daripada aku membiarkannya menyentuh adikku seujung rambut pun!” jawab Pandu saat membantuku berdiri, nyaris menyeretku keluar dari area kuburan.

Selama ini aku tidak pernah benar-benar akrab sama Pandu, kakak kembarku. Semua orang mengira kami dua mahluk unyu yang bisa telepati karena kami terlalu mengenal satu sama lain dan bisa saling mengerti hanya dengan bertatapan.

Itu benar, tentu saja. Aku dan Pandu kadang mengakhiri kalimat satu sama lain ketika kami berbicara. Misalnya waktu aku mengatai guru bahasa Inggrisku Gorila Gila. Bukan salahku! Bu Asna bertanya dengan nada menuduh apakah Bunda tidak pernah mengecek PR kami. Tentu aku langsung naik pitam. Dia pikir Bunda tuh ibu gak bertanggung jawab?

“Bunda selalu membantu kami ngerjain PR,” Pandu membantah untukku. Dia melirik penuh arti, seolah ingin aku menutup mulut, yang jelas tidak kupatuhi. Pandu emang abangku, tapi dia kan cuma lebih tua enam menit. Dan Pandu bukan ayahku. Kenapa sih Pandu selalu bersikap seolah dia sepuluh tahun lebih tua?

“Kemarin Bunda pulang telat karena lembur, waktu dia mengecek PR-ku…”

“… aku meminjamkan PR-ku untuk Juna, jadi Bunda gak tau Juna belum ngerjain PR,” Pandu mengakhiri ucapanku. Bunda emang gak adil. Dia gak pernah mengecek PR Pandu. Selalu aku yang ditanya ini itu!

“Aku gak butuh kamu untuk selalu membelaku!” seruku jengkel.

“Aku gak melakukannya untukmu,” tukas Pandu. “Aku cuma gak pengen Bunda darah tinggi karena ulahmu. Dia kan capek pulang malam! Dan kamu semalam janji padaku, kamu bakal ngerjain PR-mu waktu kamu meminjam PR-ku!”

Kami saling mendelik geram di balik meja. Dan ya, aku dan Pandu selalu duduk semeja sejak kelas satu.

“Sudah, sudah, kok kalian malah jadi bertengkar!” bentak Bu Asna. “Kamu Arjuna, karena gak ngerjain PR, kamu Ibu hukum berdiri depan tiang bendera selama pelajaran Ibu!” Bu Asna melotot padaku, lalu kepalanya menoleh Pandu. “Ibu kecewa sama kamu,” omelnya. “Kamu kan ketua kelas, murid teladan, kenapa kamu membantu kembaranmu yang bandel ini gak buat PR? Kamu juga Ibu hukum berdiri di lapangan sama Arjuna!”

Mendengar vonis Bu Asna untukku, aku cuma mengangkat bahu cuek. Namun saat kudengar abangku juga ikut dihukum, padahal kan menurutku dia tidak salah apa-apa, aku tidak bisa menahan emosiku dan mendamprat guru bahasa Inggris bertubuh montok ini. “Dasar Gorila Gila, kenapa Pandu juga harus berdiri di lapangan?” umpatku.

Orang bilang mulutmu harimaumu. Aku jadi teringat ucapan Pandu. “Don’t speak before you say too much!

Lihat kan, kakak kembarku ini selalu sok tua. Sejak kami les bahasa Inggris di kelas satu, dia selalu mengajakku ngobrol pake bahasa Inggris setiap dua hari, yang selalu kuabaikan. Tidak seperti dirinya, aku gak bakat di bahasa.

Tentu saja insiden Gorila Gila ini tidak cuma berakhir dengan hukuman berdiri di lapangan upacara. Bu Asna memanggil orang tuaku. Yah, hal-hal rumit macam itu. Aku sih tidak peduli. Karena ini sudah sering terjadi. Kurasa aku sudah kebal.

Intinya adalah, aku dan Pandu, kami memang terlihat akrab dari luar. Dan ya, taruhan Pandu bisa baca pikiranku atau semacamnya. Kurasa dia punya bakat jadi paranormal, entah lah. Tapi yang tidak diketahui semua orang adalah, kami tidak benar-benar saling menyayangi, kurasa. Pandu benci padaku, aku tahu. Kurasa semua orang yang punya adik sebrengsek aku bakal benci pada adiknya, iya kan? Aku yakin begitu!

Bukannya aku tidak mau jadi anak baik-baik. Kurasa aku punya masalah dalam pengendalian emosi. Masalah besar! Aku tidak tahu waktu itu, tentu saja karena saat itu kan aku masih anak-anak! Aku baru sadar sekarang, ketika aku tidak lagi bersamanya. Aku pernah bilang aku berharap Pandu tidak pernah ada! Dan aku selalu menyesalinya.

Tentu saja yang namanya penyesalan selalu datang terlambat. Bunda pernah bilang kadang kita tidak menghargai sesuatu sampai sesuatu itu hilang. Dan ya, aku tidak pernah berpikir kalau aku adik paling beruntung di alam semesta karena memiliki abang seperti Pandu. Maksudku, aku sudah terbiasa melihat Pandu berkeliaran di sampingku sejak kami terlontar ke dunia. Apa boleh buat, aku mengenalnya seumur hidupku.

Bukankah dia akan selalu ada di sisiku dengan sikapnya yang sok dewasa? Aku malah berpikir dia sangat menyebalkan. Aku cuma punya seorang saudara, dan meskipun kami sangat dekat, Pandu tidak pernah bisa jadi partner in crime untukku. Dia sama sekali tidak tertarik membuat kekacauan, padahal kami kan masih anak-anak.

Abangku sama sekali gak asik! Aku benci padanya. Kupikir begitu. Sampai Bunda menyeretku pergi dari hidupnya, dari belahan jiwaku.

Kulirik punggung Bunda yang berdiri memakai celemek di depan kompor, mengaduk sepanci sup asparagus untuk makan malam kami. Itu menu kesukaanku. Bunda masak itu karena ini adalah hari ulang tahunku.

Hari lahir kami! Ini ulang tahun ketigaku yang tidak kurayakan bersamanya. Bersama Pandu. Aku kangen sama abangku. Lebih dari hari biasanya. Apakah dia juga memikirkanku saat dia meniup lilin angka tiga belas bersama Ayah? Malah aku ragu. Apa Ayah ingat ulang tahun kami? Ayah selalu lupa! Setidaknya aku punya Bunda yang selalu ingat padaku meskipun bahunya pegal-pegal setelah pulang dari klinik.

Ya, aku kesal pada Bunda karena dia membawaku pergi. Tapi dia tetap ibuku. Entah apa pun alasan kepergian kami, aku tahu Bunda tak bermaksud buruk. Aku harus belajar memaafkan, kurasa. Dan belajar menahan rasa kangenku pada Pandu, dan pada Ayah juga, meski aku tidak sekangen itu padanya. Maksudku, Ayah kan menyebalkan!

Lalu kuingat kembali proyek kelas bahasaku semester ini. Bu Euis, guru bahasa kelas tujuh, meminta kami membuat cerpen dengan tema bebas, yang harus sudah selesai setelah tiga minggu, dan nilainya akan masuk sebagai bagian dari ulangan harian. Salah satu hal positif dari kepindahanku adalah aku mulai mengerjakan semua PR-ku. Mungkin pikiran bawah sadarku gelisah karena tak ada lagi yang akan membelaku di kelas.

Sorot mataku mengeras menatap laptop di meja makan. Sudah kuputuskan untuk menulis tentangnya, meski aku tahu ini bukan hal yang bijak. Sepanjang ingatanku, kami tidak pernah benar-benar jadi sahabat. Tapi semuanya berubah sejak cewek itu datang ke dalam hidupku, menandaiku seolah aku miliknya. Dari situ lah semua kekacauan ini bermula.

***

“Elu mau buat blog? Apa gua gak salah denger? Emang sejak kapan elu bisa nulis?”

Suara Arkan panjang lebar. Tentu saja itu suara sahabatku. Cuma dia mahluk cerewet yang suka melontarkan kalimat pesimis di kamar ini. Maksudku, aku kan anaknya cukup optimis. Dan cuma Arkan yang kubolehkan masuk melihat kamarku yang berantakan.

“Gua bisa nulis apa kagak, suka-suka gua dong, lah blognya juga blog gua,” bantahku ketus. “Lagian ngapain lo ngintip-ngintip tulisan orang!”

“Yaaa, sapa tau hal pertama yang elu tulis tuh soal gua,” katanya kegeeran, membuatku jadi pengen muntah.

“Ke laut aja sana!” tudingku.

Arkan cengengesan. Matanya sibuk membaca halaman yang tadi selesai kuketik.

“Juna gak mungkin serius ngomong begitu ke elu,” dia menunjuk blogku. “Gua gak tahu kalo kembaran elu itu nyebelin banget, bisa-bisanya dia ngarepin elu gak pernah ada! Awas aja, ketemu gua, bonyok tuh bocah!”

Aku memutar mata. “Ngomong sama cermin, bro! Lo pikir, kelakuan lo gak lebih nyebelin?” gumamku jutek. “Bukan cuma sekali rasanya gua pengen jenturin pala lo yang sarap itu ke tembok. Padahal gua orang paling sabar di dunia!”

“Masa sih, bro?” Arkan terbelalak. Wajahnya mengernyit seolah aku membulinya. “Perasaan, gua tuh sahabat terbaik sepanjang masa!”

“Terserah lo deh,” balasku angkat bahu.

Arkan kembali cengar-cengir. “Elu tuh kualat bro,” katanya geli. “Elu sih pake bilang pengen Juna enyah dari hidup elu, nah sekarang elu yang tiap hari galau kangen sama dia. Makanya bro, gak baek ngomong jelek-jelek, kan elu sendiri yang bilang, don’t speak…“

“…before you say too much!” aku menyelesaikan. “Gua tau Kan, makanya ini gua nyesel. Gua nulis di blog juga buat numpahin semua sesal gua. Lagian, kok lo berani ngaku sahabat terbaik, tapi malah ngetawain pas gua sedih!”

“Bro, hidup tuh udah susah, jangan dibawa sedih mulu, entar elu bunuh diri lagi! Ini kan hari ulang tahun elu, mending kita ketawa-ketiwi aja,” sahutnya santai. Tangannya merogoh saku celana. Sebuah bungkusan terlempar ke arahku.

Kutatap benda di tanganku penuh tanya.

“Kado elu, met ultah bro, sori gua lagi cekak, jadi gak bisa beli cake.”

Kubuka kadonya dan kurogoh keluar lolipop aneka warna. “Rainbow Milk?” Sebelah alisku terangkat. “Tiga belas biji? Lo pikir lilin?”

“Itu kan permen kesukaan elu, gila gua nyarinya muter-muter bro, ongkos naek angkotnya lebih mahal dari harga permennya!” Arkan terbahak.

Aku ikutan nyengir. “Sukurin, lo sih ngakunya bokek terus!”

***

Panji Sanjaya. Dia musuh abadiku di komplek. Di kelas. Dan juga di dojo! Kenapa sih hidupku harus bersimpangan dengannya di berbagai tempat? Maksudku, emang gak cukup Panji jadi mahluk paling menyebalkan di sekolah? Kenapa aku masih harus ketemu dia setiap hari Senin dan Rabu di dojo KKI Saburai? Yang lebih parah, kenapa sih Panji selalu berkeliaran di lapangan basket komplek perumahan kami setiap hari? Dia jauh lebih menyebalkan dibanding abangku. Dan itu bukan pujian! Sulit bagiku menahan hasrat untuk menonjok mukanya setiap kali kami bertemu.

Setengah kepala lebih tinggi dan berbadan bongsor, Panji seorang tukang buli alami. Cowok ini mimpi buruk semua anak komplek. Dia tukang palak dan suka menggencet anak yang lebih lemah. Suatu waktu, dia pernah berani-berani memalak abangku, hal yang tidak bisa kumaafkan! Ya, Pandu emang lemah dan tidak bisa berkelahi. Tapi kenapa Panji menolak memberiku muka? Dia pikir bisa seenaknya membuli abangku tanpa konsekuensi?

Hari itu aku membuat satu gigi depannya tanggal. Dia tidak pernah lupa soal itu. Kurasa kami sampai di titik dimana kami tidak bisa lagi saling memaafkan. Jadi ketika tadi sore dia memprovokasi, aku langsung terpancing.

Kami adu pelotot di dekat tiang basket seperti dua ekor singa.

“Lupakan saja,” gumam Pandu memegangi bahuku. “Ini konyol, kita sudah kelas tiga, bukan anak TK lagi.”

“Tapi dia mengataiku pengecut!” Aku menggertakkan gigi.

Panji terbahak bersama Fahmi, kacungnya. Dia kembali meledekku.

“Lepasin, Pan!” bentakku emosi. “Biar aku patahin lagi giginya kayak waktu itu!” Tapi Pandu menolak melepasku. Dia selalu begitu. Meski tidak jago berantem, cengkeraman Pandu cukup kuat. Dan dia keras kepala.

“Kamu lupa, waktu itu Panji juga nyaris matahin hidungmu!” Pandu mendesis. “Aku gak mau orang-orang jadi bisa membedakan kita karena hidung kamu patah dan aku tidak. Ayolah Ju, ini gak sebanding. Ngapain sih harus berantem segala?”

“Dia bilang aku pengecut!” aku berteriak. Kenapa sih dengan abangku ini? Emang dia tidak panas kalo dikatai begitu? Ya, mungkin Pandu emang pengecut, tapi aku kan tidak! Aku tidak lembek seperti dia. Pandu benar-benar membuatku malu!

Kudorong tubuhnya hingga dia terpelanting. Pandu berdiri sambil mengusap lengannya yang lecet. Dia menatapku, tapi tidak berkomentar apa-apa. Kuabaikan kembaranku dan kudatangi Panji dengan langkah kaku.

“Kamu mau berantem?” seruku mengepalkan bogem.

“Kalo cuma adu jotos, kita bisa sparring di dojo kapan aja.” Panji tersenyum licik. “Kudengar kamu takut sama hantu, aku penasaran apa itu benar?”

Tubuhku menegang. “Apa maksudmu?” Aku mengangkat sebelah alis ke arahnya, pura-pura cool, padahal jantungku mulai berdegup kencang. Siapa sih orang bego yang nyebarin gosip murahan begitu? Aku jadi ingin menghajarnya.

“Aku cuma pengen nantang kamu masuk kuburan malam-malam, untuk buktiin apa gosip itu benar atau tidak,” sahutnya enteng.

“Itu namanya kurang kerjaan!” balasku tertawa. “Ngapain aku repot-repot pergi ke kuburan malam-malam, kenapa kita gak selesain aja di sini sekarang? Atau kamu takut aku matahin gigimu lagi? Lihat kan, yang pengecut tuh kamu!”

Panji merengut dan hendak maju mendorongku. Tapi Fahmi menghentikannya. Tidak seperti bosnya, kepala anak ini tidak terbuat seratus persen dari otot. Kurasa dia lah otak dibalik tantangan konyol ini.

“Lucu, aku gak sangka kamu beneran takut hantu,” kata Fahmi padaku. “Oh, aku lupa, kamu kan belum disunat!”

“Anak kecil ya begitu!” Panji ikut memanas-manasi.

Amarahku naik ke ubun-ubun. Aku paling benci jika ada yang mengejekku belum sunat. Aku kan baru sembilan tahun! Dan ya, aku tidak bakal mau mengaku, tapi jujur aku agak takut disunat. Maksudku, kenapa aku harus disunat tapi Pandu tidak? Kenapa sih aku muslim dan abangku bukan? Aku tidak mau punyaku saja yang dipotong!

Kami kan kembar. Harusnya susah senang ditanggung bersama!

Tapi tak ada gunanya mengeluhkan ini sekarang. Karena kedua musuhku kembali mengejek, membuat telinga sakit. “Pengecut!” Tawa mereka menggema di lapangan basket. Kulihat anak-anak komplek tersenyum mendengar ejekan itu. Aku tahu kalau aku menolak tantangan ini, aku pasti jadi bahan olok-olok! Mau ditaruh dimana mukaku!

“Aku enggak takut sama hantu!” aku membantah keras-keras.

Begitulah aku masuk dalam jebakan mereka. Menurut kesepakatan kami, sore ini Panji akan menyembunyikan kaset PS bajakan di suatu tempat di kuburan, dan kedua tukang gencet itu akan menungguku jam delapan malam di sana untuk mencarinya. Sementara besok giliranku menaruh dan gantian Panji yang mencari.

Pandu menggeleng melihatku. Aku tahu arti sorot matanya. Kalau pandangan bisa ngomong, matanya pasti berkata, kenapa sih kamu gak pernah denger omonganku, kenapa kamu gak bisa tutup mulut dan menghindar dari masalah!

Kubalas tatapannya. Ekspresi wajahku berkata kaku, karena aku bukan robot serba sempurna seperti kamu!

***

“Arjuna Pradana Atmaja”, aku mengeja lirih papan nama kayu di depan kamar kembaranku. Kurasa sekarang kami benar-benar sedang bertengkar. Sudah dua hari Juna mendiamkanku, sejak dia marah-marah dan membanting pintu.

Jadi dia mau perang dingin denganku? Tidak masalah. Karena marahku padanya pun masih belum hilang. Kita lihat saja gimana Juna tanpa aku! Paling dia bakal merengek-rengek waktu Ayah menghukumnya karena bertingkah konyol. Saat itu terjadi, aku tidak akan berdiri di depan menjadi perisai untuknya. Dia pikir dia benci padaku? Nah, aku lebih benci padanya!

“Kenapa dengan tanganmu?” Ayah memberi tatapan bertanya di meja makan. Kedua alisnya bertaut melihat Juna.

Kembaranku terlihat kaget dan reflek menarik tangan kirinya, seolah ingin menyembunyikan sesuatu. Kuhentikan makanku dan ikut menatapnya. Kursi Juna tepat di depan kursiku, jadi aku bisa melihat jelas memar kebiruan di pergelangan tangannya. Lucu. Aku berani taruhan bentuknya seperti cengkeraman tangan, seolah ada yang meremas tangan Juna kuat-kuat dan meninggalkan bekas di sana. Dahiku berkerut.

Bunda menarik tangan Juna dan mengamati memarnya, membuat adikku itu meringis. “Kamu habis berantem lagi?” selidik Bunda membelai rambut pendek Juna yang diponi ke atas. Dia menepis tangan Bunda. Aku tahu adikku tidak senang jika rambutnya yang keren itu dipegang-pegang karena takut berantakan.

“Aku gak berantem dengan siapa pun!” bantah Juna.

“Dengan siapa dia berkelahi?” Kali ini suara Ayah. Alih-alih bertanya pada Juna, Ayah malah menatapku. Jelas Ayah tidak percaya sama Juna. Karena itu aku yang selalu jadi sasaran pertanyaan. Itu membuatku terjebak dalam posisi dilematis.

Juna melotot padaku, lalu membanting sendoknya ke piring. Aku terbelalak. Apa dia sedang mengancamku? Dikiranya aku takut!

Mendengar keributan yang dibuat Juna, Ayah mengangkat sebelah alis ke arah adikku. Ayah tidak berkata apa-apa, tapi tatapannya membuat Juna menundukkan kepala. Aku paham gelagat ini. Semakin diam ayahku, artinya dia semakin jengkel.

Kurasa Juna dalam masalah besar!

Dalam kondisi normal, aku pasti sudah membelanya. Tapi aku tidak berencana melakukan itu sekarang. Kami kan lagi marahan!

“Aku gak tahu, Yah,” jawabku singkat, tanpa menambahkan kalimat berbelit-belit yang bisa membuat Ayah lupa memberi hukuman.

Ayah kembali melirik adikku. “Kamu inget kan, apa kata Ayah terakhir kali kamu berkelahi dan matahin gigi temanmu?”

Juna terdiam. Kepalanya sedikit terangguk.

“Yah,” potong Bunda lembut. “Soal…” dia mendadak terdiam.

Aku melihat Ayah menggeleng pada Bunda. Sejenak Bunda terlihat ragu, namun akhirnya dia mendesah dan menutup mulut.

“Setelah makan, kamu pergi ke ruang kerja Ayah!” kata ayahku tegas.

Juna tidak menjawab, hanya mengangguk pasrah. Tanpa kata, dia kembali melirikku dengan tatapan menyalahkan.

Kulanjutkan makanku, tapi soto daging buatan Bunda mendadak terasa hambar di lidah. Aku menghabiskan isi piringku dengan cepat. Meskipun aku terlihat cuek, perutku terasa mulas. Kutatap Bunda penuh arti, tapi dia pura-pura tidak melihatku.

Tidak lama kemudian Juna menghilang mengikuti Ayah ke ruang kerjanya. Bunda merapikan meja makan dan aku membantunya mencuci piring. Setelah beberapa saat, kudengar suara lecutan diiringi tangisan adikku. Kupejamkan mata tiap kali jeritnya terdengar. Piring yang kupegang saling beradu karena jari-jariku bergetar hebat.

“Juna harus belajar menerima konsekuensi dari tindakannya,” kata Bunda lembut. “Dia tiga kali melanggar janji untuk tidak berkelahi. Bunda sudah gak bisa lagi ngebela adikmu di depan Ayah.” Tangan Bunda menyentuh pundakku.

Ayah jarang memakai kekerasan dalam mendidik kami. Biasanya dia hanya akan memotong uang saku, atau tidak membolehkan kami menonton TV atau bermain PS. Tapi setelah melihat Juna berkelahi sampai babak belur dengan Panji, Ayah memaksanya berjanji untuk tidak lagi beradu jotos dengan siapapun. Sejauh ini Juna sudah dua kali melanggar, namun Ayah menutup mata dan hanya memotong uang sakunya. Ini pelanggaran ketiga. Ayah terpaksa bersikap tegas memenuhi janjinya, menyabet kaki Juna sepuluh kali dengan tali pinggang.

Ya, Juna emang pantas mendapat hukuman! Dia selalu jadi anak bengal dan tak bisa diatur! Tapi kenapa aku ikut merasa sakit karena ulahnya? Ini aneh. Kakiku terasa kesemutan. Dan dadaku sesak. Apa kami benar-benar bisa telepati?

Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya aku ingin menangis.

***

Aku menaikkan risleting jaketku hingga ke leher. Ini bulan Desember dan hampir setiap hari kota ini diguyur hujan. Kulirik jam tanganku. Jam setengah delapan. Aku harus bergegas jika tak mau terlambat. Bukan berarti aku tidak ingin Panji dan Fahmi masuk angin karena menungguku – justru aku malah senang jika mereka terkena flu dan masuk rumah sakit satu minggu, yang tidak mungkin terjadi, kurasa – aku cuma tidak ingin mereka mengira aku tidak jadi datang karena takut. Aku tahu benar sifat mereka. Panji tak akan menungguku meski aku cuma telat satu menit. Dan konsekuensi jika terlambat, aku bakal jadi bahan olok-olok anak satu komplek!

Tidak ada yang lebih kubenci dibanding kehilangan muka.

Malam ini kedua orang tuaku akan pulang terlambat. Tadi sore Bunda menelepon, dia tidak bisa pulang karena ada jadwal operasi mendadak. Seekor Golden Retriever didiagnosa terkena batu ginjal dan harus segera dioperasi. Ya, Bunda emang begitu. Baginya keselamatan pasien lebih penting dari anak. Tidak peduli pasiennya seekor anjing!

Sialnya, tidak lama kemudian giliran telepon dari ayahku. Ternyata dia ada meeting dengan klien di Bukit Randu. Tentu saja abangku tidak berkata apa-apa soal Bunda yang harus mengoperasi seekor anjing pada Ayah. Pandu tidak ingin Ayah cemas karena kami sendirian di rumah. Menurutku itu sangat bodoh. Maksudku, emangnya Ayah peduli?

Kedua orang tuaku selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku sudah biasa soal itu. Lagipula ini menguntungkanku. Setidaknya malam ini aku bisa keluar rumah tanpa harus berdebat. Aku turun dari kamarku di lantai dua dan melintasi ruang makan. Kulirik sekilas papan pemberitahuan di pintu kulkas. Ada sebuah kertas pesan tertempel di sana.

Aku dan Juna kerja kelompok di rumah Denis. Jam sembilan kami pulang. Jangan khawatir, aku tadi sudah memesan Pizza! ttd. Pandu.

Kubaca tulisan rapi abangku. Keningku berkerut. Apa-apaan!

“Kamu sudah siap?” tanya sebuah suara dari balik punggungku. Aku nyaris terlonjak kaget. Kuputar leherku.

Aku menemukan Pandu berkacak pinggang sambil mengecek tudung jaketnya. Celana jins, sepatu bot, dan jaket hitam. Kami mengenakan pakaian yang persis sama. Jika aku mengacak poniku yang naik ke atas, dan membuatnya turun secara natural, maka tidak ada di dunia ini yang sanggup membedakan kami, kecuali Bunda. Bahkan tidak ayahku!

“Apa yang kamu lakukan?” Aku terbelalak.

Alis Pandu terangkat. Aku benci melihatnya begitu. Karena cara Pandu menaikkan alis jelas meniru ayahku, seolah dia ingin memberi kesan dia sudah dewasa, jadi dia bisa mengaturku seperti Ayah! Silakan bermimpi, kakak kembar!

“Apaan?” tanyaku lagi, tidak sabar.

Pandu mendesah. “Kamu gak berpikir kalo aku bakal ngebiarin kamu pergi sendirian kan?” dia balik bertanya.

“Ini gak ada hubungannya denganmu!” aku menukas.

“Tentu saja ada,” bantah Pandu memutar mata seolah aku mahluk paling idiot di rumah ini. “Ayah bakal membunuhku kalo aku gak mencoba melarangmu, dan aku tahu kamu gak mungkin bisa dilarang. Karena kamu keras kepala! Nah, karena itu gak mungkin, satu-satunya yang bisa kulakukan adalah ikut denganmu.”

“Kita bisa berpura-pura kalo aku menyelinap pergi, dan kamu tidak melihat apa-apa,” kataku. “Aku bukan pengadu seperti kamu!”

Pandu menggertakkan gigi seolah ingin mendebatku. Pada akhirnya dia cuma mendesah dan menarik tanganku. “Kalo kita terus berdebat, kamu bakal telat dan Panji jadi punya alasan menuduh kamu pengecut dan gak berani nerima tantangan.”

Mendengar kata-katanya aku jadi urung berdebat. Pandu benar. Aku tidak boleh terlambat! Jadi aku diam saja ketika dia menyeretku keluar dan mengunci pintu depan. Kami berjalan dengan langkah terburu-buru, melintasi separuh komplek hingga tiba di gerbang depan. Kuburan yang akan kudatangi terletak tidak jauh dari pintu masuk komplek rumahku.

Saat aku tiba, Panji dan Fahmi sedang duduk-duduk di depan kuburan. Tak seperti dugaanku, mereka terlihat sedikit gelisah. Lucu. Mereka menantangku ke kuburan padahal mereka sendiri juga ketakutan. Bukankah ini namanya hipokrit?

“Kok kamu bawa kembaranmu?” Fahmi mencecarku.

“Kamu dan Panji datang berdua, kenapa aku gak boleh nemenin Juna?” debat Pandu.

Kedua bocah itu terdiam dan saling berpandangan. Kurasa mereka tidak yakin gimana harus membalas. Nah, rasakan! Emang dikira gampang berdebat sama abangku? Bahkan ayahku saja kalah kalau disuruh adu debat sama Pandu.

“Terus gimana tantangannya?” Panji menggaruk telinga.

“Itu sih gampang,” kata Pandu angkat bahu. “Aku dan Juna bakal nyari kaset PS di kuburan malem ini. Kalo kalian malas nunggu, kalian pulang aja. Besok pagi di sekolah kasetnya pasti dibawa. Nanti pas giliran Panji, kamu boleh ditemenin sama Fahmi.”

Panji dengan cepat menyetujui usulan Pandu. Sepertinya dia juga takut kalau harus datang sendirian ke kuburan tanpa Fahmi.

Begitulah setelah kami mencapai kesepakatan, aku dan Pandu melangkah melewati gerbang kuburan, sementara Panji dan Fahmi dengan langkah lebar menghilang kembali ke komplek. Entah mereka tidak tahan digigit nyamuk atau tidak nyaman lama-lama nongkrong di depan kuburan. Aku tidak peduli.

“Jangan cepat-cepat, nanti tersandung nisan!” Pandu mendesis cerewet sambil menyinari sekeliling dengan senter.

“Aku gak mau lama-lama di tempat begini,” aku membalas.

Pandu menyentuh lenganku. “Aku tahu,” bisiknya. Aku tidak menepis tangannya. Jujur saja, aku merasa lebih tenang saat tangan kami bersentuhan. Itu memberiku rasa aman. Lagipula tak ada siapa-siapa di sini, jadi aku tidak harus malu!

“Jangan lihat ke kanan!” Tiba-tiba Pandu bergumam. Tentu saja efek peringatannya malah berkebalikan. Maksudku, itu sama saja dia menyuruhku reflek menoleh ke kanan! Aku mengeluarkan suara tercekik ketika cahaya senter jatuh menyinari sosok kabur yang duduk di atas sebuah nisan. Sosok itu menyerupai kakek-kakek.

Tubuhku gemetar hebat. Aku benci melihat hal-hal seperti ini. Sejauh yang bisa kuingat, aku sudah sering melihat sosok-sosok begini seumur hidupku. Dan aku tetap tidak terbiasa. Kenapa sih dengan mataku ini!

Pandu memutar bahuku, lalu sebelah tangannya menarik kepalaku mendekat. Wajahku kini tersembunyi di bahunya, dekat pangkal leher. “Jangan takut, aku ada di sini nemenin kamu,” ujarnya kalem. “Kamu bakal baik-baik aja, aku janji, oke?”

“Aku benci mereka!” responku, mencengkeram tubuhnya kuat-kuat.

“Karena itu aku bilang kamu idiot!” omel Pandu dengan suara rendah. “Kamu kan takut sama hantu, kenapa kamu malah nerima tantangan konyol ini? Lagian kamu pikir tempat ini kecil? Emang gampang nyari kaset PS di tengah kuburan?”

Kudorong tubuhku dari dekapannya. “Aku kan gak maksa kamu buat nemenin aku!” tukasku keras kepala. Tubuhku kaku, seolah tak peduli Pandu ada atau tidak. Padahal jantungku melompat-lompat, berdoa agar Pandu tidak setega itu meninggalkanku sendiri.

“Kamu emang gak perlu maksa.” Dia balas menatapku. “Kamu tahu aku gak bakal ninggalin kamu.” Aku membuang muka menghindari matanya. Pandu benar. Aku tahu dia tak mungkin pulang tanpaku. Dia kan abangku yang penuh tanggung jawab, kebanggaan Ayah dan Bunda! Egonya tidak mengijinkan Pandu menelantarkan aku!

Kami kembali menyisir kuburan, mencari-cari kaset PS terkutuk itu. Beberapa kali mataku sial menatap sesuatu yang harusnya tidak kutatap. Kurasa aku ingin kencing di celana. Kalau tidak ada Pandu, pasti sudah dari tadi aku lari terbirit-birit meninggalkan tempat ini.

“Mereka cuma memori, ingat?” Pandu mencoba menenangkan.

Aku menatap abangku seolah dia sudah gila. Apa dia tidak bosan berusaha mencuci otakku kalau apa yang kulihat cuma sekedar memori dari apa yang pernah ada? Bukankah jelas mereka ini hantu? Persetan dengan teori omong kosong Pandu!

“Mereka tak akan bergerak dari tempatnya, selama kita tidak dekat-dekat, semua akan baik-baik saja,” gumam Pandu lagi. “Karena itu lah aku bilang mereka cuma memori, aku pernah baca di internet. Mereka tidak bisa menyakiti kita.”

Kutarik napas dalam-dalam. Sekali ini omongan Pandu ada benarnya. Sosok-sosok itu emang tidak pernah bergerak. Mereka bersikap seolah kami tidak ada. Aku emang takut, namun setidaknya mereka tidak pernah menyakitiku.

Setelah setengah jam mencari, akhirnya kami menemukan kaset itu. Crash Bandicoot untuk PS1. Fahmi menaruhnya di balik sebuah makam di sudut terpencil. Kami cukup beruntung karena aku tidak sengaja terselandung akar pohon, dan kaset itu tergeletak tepat di depan hidungku ketika aku terjerembap. Aku menatap tikus berkantung yang lebih mirip rubah berwarna oranye di sampulnya dengan tatapan lega. Akhirnya kami bisa pulang!

Namun rasa legaku tidak bertahan lama. Karena setelah aku menepuk-nepuk pipa celanaku yang kotor, sepasang mata menatapku. Aku tergagap. Sosok itu kira-kira seumuran denganku, tinggi kami hampir sama, dan matanya lebih gelap dibanding malam. Rambutnya panjang. Itu membuatku mengambil kesimpulan kalau dia cewek. Tentu dengan asumsi hantu juga punya jenis kelamin! Tidak diragukan lagi, cewek itu emang hantu!

Tapi aku tahu ada yang berbeda darinya. Sudah lama dia mengikutiku. Aku bisa merasakan sosoknya mengintip dari kejauhan. Baik di rumah, di sekolah, di dojo, bahkan ketika aku nonton ke bioskop atau main di mall. Aku nyaris menebak kalau cewek hantu ini suka padaku. Benarkah? Aku menggigil. Karena aku sama sekali tidak tertarik punya pacar hantu!

“Pan,” bisikku.

Kulihat Pandu menoleh si cewek hantu. “Apa-apaan!” serunya gemetar. Aku tahu ini buruk. Berbeda dariku, selama ini aku tidak pernah melihat Pandu ketakutan melihat hantu macam apapun. Tidak sekali pun!

“Dia bergerak ke arah kita,” gumam Pandu lirih. “Ini mustahil, memori kan gak bisa bergerak! Apa dia sejenis setan?” Ucapan Pandu semakin membuatku ketakutan. Dasar abang tidak berguna! Kenapa dia malah tambah menakut-nakuti aku?

Kedua kakiku terasa lemas. Aku tahu cewek hantu ini sering mengikutiku, tapi kami tidak pernah sedekat ini! Sosoknya terus menatap. Semakin mendekat seperti terbang. Aku bahkan lupa mengecek apakah kakinya menyentuh tanah atau tidak.

“Lari!” gumamku. Aku langsung berbalik dan berlari tanpa menoleh ke belakang. Aku terlalu ketakutan hingga tidak peduli apakah Pandu mengikutiku atau tidak. Aku emang sebrengsek itu. Aku lupa Pandu tidak secepat lariku. Dan abangku punya asma. Gimana kalau dia tertinggal dan asmanya kumat, lalu tidak ada yang menolongnya?

Tidak satu pun pertanyaan itu terlintas di kepala. Rasa takut sudah menguasaiku. Aku cuma tahu aku harus cepat-cepat pergi dari kuburan ini. Dan aku meninggalkan Pandu. Padahal dia kemari untuk menemaniku. Kalau posisi kami dibalik, aku tahu dia tak akan meninggalkanku seperti yang aku lakukan padanya.

Kurasa aku adik paling egois di dunia.

***

“Apa itu bekas tali pinggang Ayah?” tanyaku menunjuk lebam baru di pergelangan kaki Juna. Seingatku meski Juna sedikit pincang saat naik ke kamarnya kemarin, tidak ada bekas memar apapun setelah Ayah menyabetnya.

Aku tahu ayahku. Dia nyaris tidak pernah memukul kami. Meski Ayah menghukum sepuluh kali sabetan, dia tidak akan dengan sengaja melukai adikku. Gimana pun Juna kan tetap anak Ayah! Kurasa dia cuma menggertak agar Juna kapok berkelahi.

“Bukan urusanmu!” Juna menukas jutek.

Responnya emang menyebalkan, namun kurasa ini sebuah kemajuan. Setidaknya kami sudah tidak saling mendiamkan. Bahkan Juna sudah mau menelan egonya dan memintaku membantunya membuat PR. Kami duduk bersila di kamarku, saling berhadapan di depan sebuah meja pendek yang biasa kami gunakan untuk belajar.

Kuperhatikan kembali lebamnya. Aneh. Lebam kebiruan itu mirip seperti memar yang ada di pergelangan tangannya kemarin. Bentuknya seperti cap tangan, seolah ada yang mencengkeramnya kuat-kuat. Aku cukup yakin Juna tidak berkelahi dengan siapa pun. Sejak Ayah murka kemarin, aku sengaja mengawasi Juna agar dia tidak kembali berulah. Meskipun kami sedang marahan, tapi Juna tetap adikku. Sekeras apapun usahaku mengabaikannya, jauh di lubuk hati, ternyata aku tak mampu melakukan itu. Kurasa aku terlalu lembek padanya.

“Kamu gak berantem lagi kan?”

Juna mendengus. “Kamu tuh bukan Ayah. Kamu gak perlu nanya ini itu sama aku!”

Aku mengangkat bahu putus asa. “Aku emang bukan Ayah, tapi bukan berarti aku gak boleh cemas soal adikku.”

Juna memutar mata dan cemberut. “Kita lahir barengan. Aku bukan adikmu! Kamu tahu kan, makanya kita disebut kembar.”

Aku tertawa.

“Kamu marah padaku,” aku berkata. “Bukan karena lomba karate itu! Tapi jauh sebelumnya. Kamu berubah sejak kejadian di kuburan bulan lalu.”

Juna membuang muka, tidak berani membalas tatapanku.

“Benar kan?” Aku mendesah. “Jangan berbohong, karena itu gak berlaku untukku. Terkadang aku berani sumpah aku bisa membaca pikiranmu. Menurutmu, itu karena kita kembar identik? Karena kita harusnya satu, tapi terbelah jadi dua?”

“Kamu terlalu banyak denger bualan Bunda!” Juna membalas.

Aku kembali tertawa.

“Apa ini berarti kita sudah baikan?” tanyaku. “Kamu sudah mau ngomong sama aku.”

“Tidak,” sahutnya ketus. “Aku masih benci padamu. Dan aku menanggapimu cuma karena aku butuh kamu ngerjain PR-ku!”

***

You hate me now, and I feel the same way.

Aku tertegun melihat coret-coretan di meja belajar Pandu. Sekarang sudah jam sembilan. Aku mengintip kamarnya dan menemukan Pandu sudah tertidur, tubuhnya meringkuk di atas meja dan wajahnya terlihat lelah.

Tulisan Pandu bagus. Dia kadang suka iseng membuat arsiran seperti yang kulihat ini. Kata-kata di atas kertas coretan itu membuatku tambah yakin, Pandu emang membenciku. Kugigit bibirku dan, setelah ragu-ragu beberapa saat, kugoyangkan bahunya.

“Pan, ngapain tidur di sini, ntar kamu pegel-pegel salah tidur,” ucapku.

Dia setengah terbangun dan aku membantunya menaiki ranjang. Kutarik selimutnya hingga ke dagu. Aku memperhatikan wajahnya. Kulihat poninya yang terjuntai secara natural. Sebenarnya potongan rambut kami pun sama. Bedanya punyaku kubentuk lebih keren, dengan poni ke atas. Aku lebih bergaya. Sementara Pandu lebih suka hal yang simpel.

Kurasa kami emang satu, tapi terbelah dua, seperti dongeng yang sering diceritakan Bunda. Jika kami mengenakan pakaian yang sama dan menutup mulut, bahkan Ayah tidak bisa membedakan kami. Tentu saja lain halnya jika aku buka suara. Maksudku, aku kan sedikit kasar. Dan Pandu selalu lemah lembut. Dia terlalu gentle.

Saat aku membalik badan hendak keluar dari kamarnya, tidak kusangka Pandu menangkap tanganku. Aku menatapnya dan dia ganti menatapku dengan mata setengah mengantuk. Dia menarik tubuhku mendekat.

“Kamu pura-pura tidur?” tuduhku.

“Tidak,” sahutnya. “Kamu bikin aku terbangun.”

“Terus?”

“Tidur lah di sini, kita sudah lama gak tidur bareng,” pintanya. “Tapi sikat gigi dulu karena aku gak tahan bau mulutmu.”

Aku mengangkat sebelah alisku, menirunya. “Aku gak mau tidur sama kamu!” kataku ketus, menampilkan wajah galak.

“Aku minta maaf, karena asmaku kita gak jadi merayakan kemenanganmu.”

Aku tersenyum tipis. “Karena kamu emang selalu memonopoli perhatian Ayah dan Bunda!” tuduhku. “Aku sudah terbiasa jadi kambing hitam di rumah ini. Kamu gak perlu minta maaf. Sudah tugasku menjadi anak bandel yang gak bisa membuat mereka bangga. Gak ada gunanya merayakan apapun tentangku!”

Pandu masih belum mau melepasku. Dan aku tidak menepisnya. Dia menarikku hingga aku duduk di ranjang. Aku kaget merasakan sentakan tenaganya. Pandu ternyata tak lebih lemah dariku. Aku heran kenapa dia tidak melawan jika digencet.

“Kamu tahu itu gak benar,” katanya lembut. “Aku selalu bangga melihatmu jadi juara kumite perorangan. Menurutku, adikku sangat keren. Asal kamu tahu, aku iri padamu. Dan aku juga tahu, Ayah sama Bunda selalu bangga saat memamerkan medalimu ke semua teman mereka. Kamu suka bikin masalah, itu benar, tapi semua orang punya lebih dan kurang masing-masing. Kamu kan gak berpikir mereka cuma melihat kurangmu aja?”

Ucapannya membuatku terdiam. Aku selalu kalah jika berdebat dengannya. Aku benci sama abangku ini! Dia terlalu sempurna di mataku, membuatku merasa tidak berarti dan tidak diinginkan. Tentu saja aku akan selalu lebih buruk jika dibandingkan dengannya.

“Kamu selalu marah-marah, tapi kamu gak pernah benar-benar membenciku.”

Aku tersentak mendengarnya.

“Maap sudah membuatmu cemas karena aku masuk UGD,” katanya lagi.

Pikiranku kembali berputar ke empat hari lalu, ketika aku menyabet juara pertama kejuaraan karate di sekolah. Kupikir kami akan bersenang-senang hari itu. Ayah sedang cuti dan Bunda berjanji pulang cepat untuk merayakan kemenanganku. Lihat kan, ini suatu hal yang langka. Kami akan jalan-jalan bersama seperti keluarga beneran. Berita hebat!

Yang tidak kuduga, siangnya Pandu malah masuk UGD. Ketika itu aku sedang nonton TV di ruang tengah. Mereka memutar ulang Naruto dan aku tidak bisa tidak menontonnya. Kurasa aku tak akan pernah bosan melihat Naruto melawan Akatsuki. Ya, dia kan sekeren itu! Cuma anak gak asik seperti abangku yang berpikir Luffy lebih keren dari Naruto. Maksudku, Luffy kan dari karet, Naruto tinggal melemparnya dengan kunai, dan si topi jerami bakal terbelah empat.

Habis perkara! Tidak perlu berdebat lebih lanjut. Itu fakta.

Ketika aku sedang terpaku pada pertempuran antara Gaara melawan Deidara, tiba-tiba aku merasa sulit bernapas. Tanganku keringatan dan jantungku berdebar. Aku sedikit panik. Pandu! Aku tak tahu kenapa, tapi aku langsung terpikir abangku.

Setengah berlari aku menaiki anak tangga dua-dua sekaligus. Hampir kudobrak pintu kamar abangku. Aku begitu terburu-buru membuka pintu hingga engselnya berteriak. Kulihat Pandu duduk di atas ranjang. Wajahnya pucat. Dia berusaha menggapai sesuatu di meja sebelah ranjangnya. Aku berlari mendekat dan menarik laci meja, mengeluarkan spacer dan inhaler asma, lalu menyodorkan benda itu ke bibir Pandu.

“Yah!” jeritku panik. “Asma Pandu kumat. Dia gak bisa napas!”

Bunda pernah mengajariku pertolongan pertama ketika Pandu terkena serangan asma. Aku tahu ada dua jenis inhaler di laci, pereda dan pencegah. Yang tadi kuberikan adalah inhaler pereda. Pandu menghisap obatnya dua kali, lalu berusaha duduk tenang. Lucu. Dia begitu kalem, sementara aku nyaris terkena serangan panik. Padahal kan dia yang tidak bisa napas!

Melihat bibir Pandu membiru dan keningnya berkeringat, aku kembali berteriak memanggil ayahku. Kemana sih dia? Bukannya Ayah cuti dan tidak pergi kemana-mana?

“Kamu duduk aja di sini, aku akan nelepon ambulan,” kataku pada Pandu. “Kamu akan baik-baik aja,” janjiku.

Aku sendiri tidak yakin dengan ucapanku. Pandu beberapa kali terkena serangan asma dan harus masuk UGD. Aku tahu jenis serangan ini sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan cepat. Jadi aku turun ke ruang tengah dan menelepon rumah sakit. Pandu sudah sering dirawat di sana jadi kurasa mereka punya catatan medisnya atau apa. Yang pasti mereka tidak menganggap teleponku cuma iseng dan menanggapi serius, meskipun aku anak-anak.

Begitulah aku naik ambulans menemani Pandu yang masih megap-megap kehabisan napas. Dan ayahku? Pria tak berguna itu ternyata menghilang dari rumah. Entah kemana dia pergi, aku tidak tahu dan tidak peduli. Kuberikan nomor hape kedua orang tuaku pada seorang perawat. Mungkin mereka akan menelepon Ayah atau Bunda. Atau keduanya. Terserah saja! Aku terlalu panik untuk memikirkan hal lain selain abangku yang sedang diasapi.

Tidak lama kemudian Bunda datang, disusul ayahku. Bunda tampak sedikit murka padanya. Tapi melihat ekspresi ayahku, kurasa dia lebih marah lagi pada dirinya sendiri. Ayah selalu gagal ada di tempat, ketika semua orang membutuhkan kehadirannya.

***

Juna terus menerus marah padaku. Tanpa alasan jelas! Sikapnya satu bulan ini emang terasa aneh. Dan puncaknya ketika aku terkena serangan asma dan kami tidak jadi bersenang-senang. Juna menudingku dan berkata dia benci padaku.

Sekarang aku yakin dia berbohong. Juna selalu begitu. Dia tidak bisa mengungkapkan emosi dan perasaannya dengan baik. Aku tahu dia tidak benci padaku. Dia benci pada dirinya sendiri. Juna malu karena berlari meninggalkanku di kuburan.

Ya, aku masih ingat sosok anak cewek berambut panjang terbang mendekati kami. Aku gak bohong. Cewek itu beneran terbang! Kupikir aku sudah gila. Aku sudah puas melihat hantu. Tapi baru kali ini aku melihat setan.

Juna kabur secepat kilat, itu sudah bisa kutebak. Maksudku, adikku ini kan takut banget sama hantu, apalagi setan! Aku tidak marah padanya soal itu. Mungkin sedikit kecewa, namun tidak lebih. Gimana pun, aku selalu sayang padanya.

Marah karena dia kabur melihat setan? Itu gak worth it.

Meski setan itu membuatku takut. Aku masih bisa mempertahankan akal sehatku. Tentu saja aku ikut kabur mengikuti Juna. Siapa sih orang bego yang berani mengajak setan terbang macam ini mengobrol? Kurasa tidak ada. Jadi lari adalah pilihan terbaik. Itu membuktikan aku tidak gila, kurasa begitu. Setidaknya kali ini aku ikut mayoritas.

Takdir emang sulit ditebak. Meskipun Juna kabur terlebih dahulu. Sikap cerobohnya tak bisa hilang. Dia jatuh terselandung batu nisan. Ini kedua kalinya dia terjatuh sejak kami tiba di sini. Aku tidak tahu harus menangis atau tertawa.

Aku tidak benar-benar berniat meninggalkan Juna dalam keadaan merangkak panik dan kaki tersangkut tanaman merambat. Aku cuma ingin sedikit membalasnya karena dia tega meninggalkan aku tadi. Jadi ketika berlari melewati tubuhnya yang masih terjerembap di tanah, aku bahkan tidak berhenti untuk menoleh.

Bisa kurasakan Juna menatap putus asa, berusaha memanggilku.

Tapi itu tidak dia lakukan. Kurasa dia baru sadar dia telah meninggalkanku. Dia tidak berhak memintaku berhenti berlari untuknya. Juna dan egonya yang selangit, dia terlalu malu untuk minta tolong padaku. Padahal kami selalu bersama sejak lahir.

Untung baginya, aku tetap seorang abang bertanggung jawab. Setelah sepuluh langkah, aku kembali ke tempatnya jatuh. Kulirik si cewek terbang yang semakin mendekat. Aku mengerang dan menarik tanaman rambat yang membelit kaki adikku. Lalu aku setengah menyeretnya berdiri. Ketika itu Juna menatapku.

Kenapa kamu kembali? Itu arti ekspresi wajahnya.

“Aku gak mungkin ninggalin kamu, lebih baik dia mengambilku daripada aku membiarkannya menyentuh adikku seujung rambut pun!” aku menjawab pertanyaan yang tidak dia ucapkan dengan kata-kata.

Kulihat rahang Juna mengeras. Sudut matanya berair.

Aku mendesah. Juna selalu sok berani dan berpura-pura ketus, tapi otaknya tetap lah bocah sembilan tahun. Bagiku, dia sosok yang selalu harus kulindungi. Aku takut sama banyak hal. Mungkin Juna tidak sadar itu. Ya, aku juga takut melihat hantu, apalagi setan. Siapa sih yang tidak takut? Tapi aku harus berani untuknya. Karena aku kan abangnya.

***

Dering weker berbentuk Naruto membangunkanku. Aku dan Pandu punya weker yang sama, namun punya abangku berbentuk seperti Luffy. Itu membuatku memandang rendah seleranya. Dia terlalu kekanakan.

Kulirik jarum jam menunjuk pukul setengah lima. Sebentar lagi Adzan Subuh berkumandang, aku harus buru-buru mengambil wudhu. Setelah memakai peci menutupi rambutku yang basah, aku tidak langsung turun ke bawah. Aku menatap pintu kamar abangku. Papan kayu bertuliskan namanya, Pandu Wiratama Atmaja, menggantung tinggi di sana.

Sesaat aku meragu, namun akhirnya kubuka pintu kamarnya perlahan tanpa suara. Semalam Pandu memintaku untuk tidur bersamanya, yang langsung kutolak mentah-mentah. Kami kan masih bertengkar! Aku tak akan terjebak oleh sikap baiknya.

Kudapati Pandu masih meringkuk di atas ranjang. Aku cuma ingin melihatnya sekilas sebelum pergi ke masjid, tapi aku tertegun mendapati wajah Pandu mengernyit dalam tidurnya. Keringatnya membasahi kening. Dia menendang selimut hingga tubuhnya bagian atas terpapar suhu dingin dari pendingin ruangan. Kedua tangannya terkepal seolah ketakutan.

Abangku bermimpi buruk. Aku yakin ini bukan serangan asma karena napasnya terdengar baik-baik saja. Iya kan? pikirku ragu. Aku duduk di sisinya, terdiam tanpa tahu harus berbuat apa. Haruskah aku membangunkannya?

Kening Pandu kembali berkerut. Seluruh tubuhnya menegang. Kuraih lengannya, setengah berharap itu bisa membuatnya tenang. Aneh, harapanku ternyata terkabul. Wajah Pandu berangsur-angsur terlihat lebih rileks. Aku tidak bisa menahan untuk tidak mencium pipinya, seperti yang dulu sering kulakukan.

Kurasakan tubuh Pandu bergerak dan aku cepat-cepat menarik kepalaku. Jantungku berdetak lebih kencang. Apa aku membuatnya terjaga?

“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya setengah mengantuk.

“Bukan apa-apa!” Aku buru-buru beranjak dari ranjang.

Tangan Pandu lagi-lagi menahanku. Aku menatapnya. Sebelah alis terangkat. Lepaskan, aku mau salat, aku berkata tanpa suara.

Dia balas menatapku. Tidak. Kita harus bicara dulu!

Kuhela napasku sebelum berdiri diam di hadapannya. Mata kami saling bertemu. Oke, kamu mau ngomong, akan kudengarkan, aku mengalah.

Pandu tersenyum lemah. “You love me now, and I feel the same way.”

“Tidak, aku masih membencimu,” tukasku galak.

Aku meninggalkan kamarnya tanpa berkata lebih lanjut. Langkah kaki membawaku menuruni tangga. Kudapati Bunda sedang menyiapkan piring di meja makan. Kepala Bunda menengadah dan menyapaku. “Mau ke masjid ya, Ju?” Bunda tersenyum, lalu menoleh ke balik pundakku. “Dan kamu nemenin adikmu lagi?”

Aku tersentak kaget dan menengok belakang. Pandu berjalan turun dari tangga dengan jaket menutupi kemeja piama. Kuberi dia tatapan marah, tapi aku tidak berkomentar apa-apa. Aku tidak mau Bunda melihat kami bertengkar.

***

Seseorang mendorongku ke bak mandi, lalu mencelupkan kepalaku ke dalamnya. Tanganku menggapai tepian bak, berusaha sekuat tenaga mendorong tubuhku ke atas. Namun tanpa hasil. Aku kehabisan napas. Bisa kurasakan otakku menumpul dan tenagaku hilang karena kekurangan oksigen. Ini sangat konyol. Karena aku tahu ini cuma mimpi. Maksudku, kamar mandi kami kan tidak ada bak mandinya, yang ada cuma bathub, dan itu tidak sama! Kok bisa-bisanya aku mimpi ditenggelamkan dalam bak yang tidak ada?

Tentu apa pun bisa terjadi di dunia mimpi, iya kan? Apa saja! Termasuk mati tenggelam. Itu bukan mimpi yang menyenangkan. Rasanya begitu nyata dan menakutkan. Ketika napasmu terhenti karena paru-parumu diisi air, dan otakmu berhenti bekerja karena tidak ada oksigen. Rasanya tidak berdaya, seperti yang kualami tiap kali serangan asmaku kambuh dan harus diasapi di UGD rumah sakit. Seakan sebelah kakiku terperosok ke liang kubur.

Lalu kurasakan sebuah tangan mencengkeramku, menarikku lepas dari dekapan bak mandi. Kepalaku terbebas dan hidungku menghirup udara dengan rakus. Mimpi burukku berakhir dan Juna mencium pipiku, seperti yang dia lakukan ketika kami tidak sedang saling membenci. Tentu saja dia tidak akan mau mengakui itu.

Sudah lama aku tidak menemani Juna salat ke masjid komplek. Seperti halnya aku, Ayah juga bukan seorang muslim. Dan Bunda selalu salat di rumah. Juna selalu enggan pergi sendiri ke masjid untuk salat Subuh. Dia tidak pernah bilang alasannya, tapi aku tahu itu karena dia takut berpapasan dengan hantu. Mungkin bagi orang lain, itu alasan konyol, tapi bagi kami tidak, mereka kan tidak bisa melihat apa yang kami lihat.

Beberapa tetangga yang mengenalku tersenyum ketika melihatku menunggu di teras masjid. Mereka tahu aku di sini cuma mengantar adikku. Sambil bengong menatap malam, aku memainkan bandul salib dari rantai perak berbentuk gelang yang melingkari tanganku.

“Mau lari maraton gak?” aku mengajak setelah Juna selesai salat.

“Oke, tapi kita ganti training dulu,” usulnya. Melihat cengiranku Juna buru-buru berkata, “Ini bukan berarti kita sudah baikan!”

Aku mengangkat bahu tidak peduli.

Sesampai di rumah kami dengan cepat berganti pakaian. Aku mengenakan training abu-abu selutut dengan setelan jaket tanpa lengan. Bunda membelikan kami tiga set training, dan aku sama sekali tidak kaget melihat Juna memilih set yang sama denganku. Hanya saja punya adikku berwarna merah. Lihat kan, kurasa kami emang bisa saling membaca pikiran.

Saat kami kembali turun ke ruang makan, Ayah sudah duduk di kursi kebangsaannya sambil minum café latte buatan Bunda, single shot espresso ditambah susu segar. Juna tidak pernah suka minum kopi. Dia pecinta makanan manis. Untuk hal ini, kami sangat bertolak belakang. Karena aku suka kopi dan tidak suka gula. Terkadang Bunda juga membuatkan café latte untukku, meski tidak sering karena Ayah tidak suka melihatku keseringan minum kopi. Menurutnya terlalu banyak kafein tidak baik untuk anak seusiaku. Ayahku kadang suka lucu. Padahal dulu dia yang sering menyuruhku mencicipi sedikit kopinya. Aku masih ingat ekspresi Ayah yang kecewa karena adikku tidak suka kopi. Mungkin menurutnya minum susu kalah jantan dengan minum kopi, entah lah. Menurutku, itu sama saja. Juna bahkan lebih beringas dariku.

Ayah melirik kami, lalu menoleh Bunda. “Kenapa sih kamu suka banget makein baju kembar buat mereka? Pandu sama Juna kan sudah besar!”

Bunda tertawa. “Biarin sih, Yah. Kan lucu ngeliatnya. Lagian juga mereka baru kelas tiga SD, masih anak-anak.”

Aku dan Juna cuma bisa saling melirik pasrah. Bunda emang selalu begitu. Dia suka sengaja membelikan kami set pakaian untuk anak kembar. Dulu sih emang lucu, tapi setelah tambah besar, kadang aku malu jika Bunda memaksa kami mengenakan kaus dan sweater yang sepola ketika kami pergi jalan-jalan. Itu membuat kami jadi pusat perhatian.

Seperti sekarang ini. Komplek perumahan kami sangat besar. Jadi cukup banyak orang yang lari pagi mengitari jalan-jalan komplek. Sebagian membawa anjing jalan-jalan, sementara yang lain menemani kakek atau nenek mereka jalan sehat. Saat berpapasan, delapan dari sepuluh orang pasti melirik kami dan berkomentar.

“Lucu banget, anak kembar, bajunya sama,” kata rombongan ibu-ibu arisan.

Juna memutar matanya setiap kali mendengar komentar senada. Terkadang dia mengerang jengkel padaku, atau telinganya akan memerah jika yang komentar itu cewek, entah anak SMA atau anak kuliah. Apapun, selain ibu-ibu dan nenek-nenek.

Aku cuma bisa tertawa di sebelahnya.

Setelah memutari komplek, kami berhenti sejenak di lapangan basket. Jam lima lewat dua puluh dan lapangan masih sesepi kuburan. Jarang ada yang lari sampai sini karena letaknya jauh di sudut. Biasanya cuma anak-anak seperti kami yang memadati lapangan basket, dan sebagian besar masih pada tidur.

“Aku mau kencing, tunggu di sini,” kataku pada Juna.

Dia tertawa sambil berlari di tempat, melakukan beberapa gerakan senam.

Aku mencari sudut sepi tidak jauh dari lapangan basket, di depan sebuah pohon palem yang tumbuh di jalur pembatas antara dua badan jalan. Kuperhatikan jalanan, memastikan tidak ada yang melihat aksiku, lalu mataku tidak sengaja melihat ke arah Juna.

Dahiku berkerut. Kulihat seorang cewek berdiri di samping adikku. Sepertinya mereka sudah saling kenal dan sedang mengobrol. Perhatianku cuma teralih sebentar, karena ada hal lain yang kini meminta fokusku. Setelah urusanku selesai aku menaikkan risleting dan menoleh kembali pada Juna. Cewek tadi sudah tidak terlihat.

Anehnya, saat aku kembali, Juna jadi sangat diam. Wajahnya pun lebih pucat.

“Siapa cewek tadi?” tanyaku. Aku cukup yakin Juna belum punya pacar. Kurasa kami belum tertarik sama hal-hal begitu.

Juna terlihat kaget. “Kamu melihatnya?” Kedua alisnya bertaut, lalu Juna buru-buru berkata, “Bukan siapa-siapa, gak perlu dipikirin.”

“Kamu terlihat pucat,” komentarku menepuk bahunya.

Di luar dugaan, Juna mengernyit dan menepis tanganku. Dia seperti kesakitan. “Kita pulang sekarang,” ucapnya sambil menggertakkan gigi.

Tidak perlu orang paling pintar di dunia untuk mengambil kesimpulan ada yang tidak beres dengan adikku. Bahkan tanpa kemampuan aneh kami untuk saling mengerti satu sama lain, aku tahu bahunya terasa sakit. Jadi kuturunkan risleting jaketnya sampai ke perut dan kusingkap hingga bahu Juna terpampang di depanku.

“Apa-apaan!” serunya protes, yang tidak kuindahkan.

Kulihat memar baru di bahu Juna. Warnanya kebiruan. Ketika aku menyentuh perlahan, dia langsung meringis.

“Cewek tadi yang melakukan ini?” tanyaku marah.

Tubuh Juna kaku di depanku. Matanya membesar karena panik. Aku kembali teringat bekas lebam di pergelangan kaki dan tangannya kemarin. “Dia cewek yang dulu mengejar kita di kuburan, benar kan?” bisikku.

***

Pandu terlihat murka. Sejak kami lahir bareng-bareng sampai sekarang, baru kali ini abangku semarah yang kini dia tunjukkan.

“Dari kapan dia membuatmu memar-memar begini?” cecar Pandu.

Aku tidak menjawab. Apalah dayaku. Aku bahkan tidak tahu harus memulai darimana untuk menjelaskan semua ini.

Pandu berjalan mondar-mandir. Dia menghela napas sambil memejamkan mata. Saat kami kembali saling menatap, dia terlihat jauh lebih tenang. Kuharap aku bisa seperti itu, mengendalikan emosiku yang suka meledak-ledak.

“Kenapa kamu gak pernah bilang?” Pandu bertanya dengan suara halus yang biasa dia pakai ketika lagi sangat kesal.

Ketika sedang marah, Pandu sangat mirip Ayah. Mereka tidak mendelik sambil berteriak atau berkata kasar, hanya menggunakan intonasi pelan dan sorot mata dingin.

“Apa ini penting?” aku balik bertanya. “Kamu tahu atau enggak, itu tetap gak menyelesaikan masalah. Jadi berhentilah bersikap seolah kamu peduli!”

“Tapi aku emang peduli!” sergah Pandu. Wajahnya merengut.

Aku mendorongnya dengan sebelah lenganku yang tidak sakit. Alis Pandu terangkat melihat reaksiku. Apa kamu sudah gila? ekspresinya mengatakan.

“Aku tahu kamu benci padaku!” kataku akhirnya.

Pandu terdiam kaget. Wajahnya terlihat komplek, seolah ingin membantahku, tapi akhirnya dia menelan kembali suaranya.

“Kamu gak perlu berpura-pura lagi, kamu emang membenciku, karena aku selalu membuat masalah, dan perhatian Ayah dan Bunda untukmu jadi berkurang! Benar kan? Karena mereka sibuk merapikan semua kekacauan yang kubuat!”

Suaraku bergetar. “Sudah cukup, oke! Aku lelah melihat kamu memaksakan diri untuk peduli padaku,” aku bergumam. “Emangnya kamu gak capek?”

Sesaat kami terdiam dalam hening.

Pandu mendekatiku hingga kening kami nyaris beradu. Dia lalu mendekapku dengan pelukan beruang. “Kamu benar, aku benci padamu. Tapi ada satu hal yang kamu lupakan, emosi manusia itu bukan cuma benci, ada juga yang namanya sayang. Jujur saja, aku sering kesal melihat ulahmu, tapi rasa sayangku jauh, jauh lebih besar dari benciku.”

Pandu mempererat pelukannya di bahuku. “Bukankah selama ini kamu yang memaksakan diri untuk membenciku?” tanyanya lembut. “Karena menurutmu, semua jadi lebih mudah jika kita saling membenci? Kamu selalu jadi adikku yang paling idiot.”

Berada dalam dekapnya, tubuhku yang semula kaku berangsur-angsur terasa rileks. Apa dia tidak bohong saat berkata rasa sayangnya padaku lebih dari bencinya? Tapi Pandu selalu benar, itu fakta kan? Dia selalu bisa membacaku semudah buku pelajaran yang disukainya itu. Kurasa aku tahu sekarang. Sama seperti Pandu, aku pun sering merasa iri dan benci padanya. Tapi rasa sayangku jauh, jauh lebih besar.

Dia cuma ingin membawaku,” kataku lirih. “Aku gak mau kamu ikut terbawa-bawa. Untuk sekali aja, aku gak mau mengacaukan semuanya.”

***

Ucapan Juna terus terngiang di otakku. Aku tidak tahu kapan akhirnya aku tertidur malam itu. Bahkan dalam mimpiku, kejadian hari ini kembali kurekam ulang. Aku menemani Juna salat Subuh, lalu kami lari pagi dan bertemu cewek setan itu. Kami pergi sekolah, pulang sekolah, mengerjakan PR bareng-bareng. Tingkah Juna jadi lebih pendiam setelah pembicaraan kami di lapangan basket. Dia jadi lebih penurut, tidak berbuat ulah di kelas. Bahkan sebelum tidur tadi, dia sempat mencium pipi Bunda, yang sudah lama tidak dia lakukan. Juna juga meminta Ayah mendongeng ulang cerita-cerita seram dari kampungnya. Dulu ayahku senang bercerita soal legenda seperti asal mula Danau Telaga Dalom, atau tujuh keanehan rumah kolonial di sana. Sebetulnya Bunda tidak senang soal itu, namun kali ini dia tidak protes saat Juna merangkak ke pelukan Ayah dan duduk manis mendengarkan. Itu saja sudah aneh, Juna kan penakut kalo soal hantu-hantuan.

Lalu mimpi-mimpi itu kembali datang, hal yang terus menghantuiku entah sejak kapan. Aku kembali ke kamar mandi, dan seseorang menenggelamkan kepalaku ke dalam bak. Mimpi konyol ini lagi, keluhku. Siapa sih orang kurang kerjaan yang setiap hari pengen bikin aku mati tenggelam? Ini sama sekali tidak lucu.

Aku terbangun sambil megap-megap kehabisan napas. Sesaat aku mengira asmaku kambuh. Ternyata bukan karena bisa kurasakan hidungku tidak ada masalah menghirup udara bebas. Kusapu keringat di dahiku. Kalau kuingat-ingat, bukankah mimpi ini bermula sejak kami pulang dari kuburan sebulan lalu? Tiba-tiba aku merasakan firasat tidak enak.

Juna! Jantungku berdegup kencang. Aku turun dari ranjang dan pergi ke kamar adikku untuk mengeceknya. Saat kubuka pintu kamarnya, aku tidak menemukan sosoknya di atas ranjang. Dadaku kembali berdebar. Langkah kakiku otomatis membawaku menuju satu-satunya kamar mandi di lantai dua, yang terletak antara kedua kamar kami.

Kudengar suara berkecipak saat aku mengintip ke dalamnya. Ruangan itu gelap. Kunyalakan lampu kamar mandi dan aku terkesiap melihat sepasang tangan mencengkeram kedua sisi bathub yang penuh terisi air.

Kulawan godaan untuk menjerit dan berlari kabur dari tempat ini. Karena saat itu aku melihat rantai perak pada pergelangan tangan yang basah memegangi sisi bathub. Tiga buah rantai menyatu membentuk gelang tangan dengan bandul dalam tulisan Arab. Sangat identik dengan gelang yang selalu kupakai. Itu gelang adikku!

“Ju!” panggilku panik. Cepat-cepat aku berlari ke bathub. Di sana kutemukan Juna meronta kehabisan napas. Seluruh tubuhnya terendam air, kecuali kedua tangan yang berkecipak. Leherku bergidik. Ada sepasang tangan lain yang kini menahan tubuh adikku agar tenggelam. Menelan semua rasa takutku, kutarik kepala Juna agar dia bisa bernapas.

***

Aku memotong seiris daging tenderloin dari piring, menusuknya dengan garpu, lalu kucelup ke dalam saus jamur sebelum menelan dengan lahap. Kudecapkan lidahku secara berlebihan sambil memuji sensasinya di mulut. Bunda tertawa melihat tingkahku.

Hari ini Bunda pulang cepat dari klinik. Dia tadi menjemputku di sekolah. Setelahnya Bunda langsung membawaku ke steak house favoritku. Sikapnya membuatku bingung, tapi aku tidak akan pernah menolak jika Bunda menawarkanku makan steak wagyu. Aku bahkan rela jadi budaknya dan pergi menemani Bunda shopping, menjadi kuli angkut dadakan.

Apapun akan kulakukan untuk seiris tenderloin. Aku ingat Pandu juga senang makan steak. Tapi abangku lebih suka sirloin karena ada lapisan lemaknya. Kurasa seleraku emang lebih tinggi, dan lebih mahal juga. Dalam hal ini, ayahku beruntung mendapatkan Pandu, sementara Bunda lebih sial karena harus mengurusku.

“Apa urusan dengan sapi-sapi itu sukses?” tanyaku pada Bunda.

Belakangan ini Bunda mendapat proyek besar dari sebuah peternakan. Sudah beberapa hari ini dia pulang malam karena harus mengunjungi lokasi di luar kota. Kemarin Bunda mengumumkan tugasnya sudah rampung dan dia muak terus menerus lembur. Jadi Bunda memutuskan untuk kerja setengah hari dan pulang cepat.

Tidak ada yang protes, tentu saja. Bunda kan punya klinik dokter hewan sendiri. Dia adalah bos untuk dirinya sendiri.

Mendengar pertanyaanku, Bunda tersenyum lebar. “Tentu saja, Bunda kamu ini kan spesialis mengurus sapi,” katanya bercanda.

“Apa maksud Bunda aku ini sapi?” protesku.

“Tentu saja bukan, masa anak Bunda seganteng ini disamakan kayak sapi?”

Aku nyengir kuda.

Bunda meminum jus sayuran di gelasnya lalu melirikku. “Tadi Bunda sempet ngobrol sama gurumu, sebelum jam pulang.”

Aku balas menatapnya. Seiris daging kembali masuk ke mulut dan sausnya meleleh ke dagu. “Bu Euis?” tebakku sambil mengelap bibir dengan tisu.

“Ibu gurumu sangat ramah,” komentar Bunda.

Aku mengangguk setuju. Guru bahasa Indonesiaku itu sangat baik. Caranya mengajar juga enak, tidak monoton.

“Apa ini soal cerpenku?” aku bertanya perlahan.

Bunda memaksakan senyum. “Apa ada yang ingin kamu ceritakan sama Bunda?” selidiknya. Bunda menyentuh rambutku sekilas.

“Aku kangen sama Pandu,” sahutku angkat bahu.

Hening. Tidak ada jawaban. Aku menoleh dan mendapati ekspresi Bunda seperti terluka. Dia menggigit bibir. Cuma sebentar. Karena detik berikutnya Bunda kembali tampak kalem. “Bunda juga kangen mereka,” dia mengaku. “Tapi bukan itu yang Bunda maksud.”

Tanganku berhenti memotong. Alisku terangkat. “Ternyata ini emang soal cerpenku, apa Bu Euis yang menelepon Bunda?”

“Dia khawatir sama kamu,” jawab Bunda hati-hati.

“Khawatir? Jadi dia khawatir aku kembali melihat yang aneh-aneh? Bunda juga kan?” tanyaku dengan nada tinggi.

“Ju!” Bunda memberiku tatapan mengingatkan.

Aku menghela napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan emosi yang meluap. “Aku sudah meminum obatku,” kataku lirih.

“Bunda tahu, kamu sekarang sangat penurut,” Bunda memuji.

“Aku harus bertemu Dokter Ridwan lagi?” tanyaku pasrah.

Bunda memperhatikan wajahku lekat-lekat. Senyumnya kembali dipaksakan. “Tidak masalah jika kamu merasa perlu,” katanya.

“Bukankah jadwalku masih dua minggu lagi?”

Bunda angkat bahu. “Kita bisa atur itu,” ucapnya meyakinkan.

Piringku sudah licin. Meski percakapan ini membuat selera makanku hilang, aku tetap tidak rela jika tidak menghabiskan steakku. Bunda mengetuk-ngetuk jarinya ke meja. Dia cuma memakan separuh saladnya.

“Apa kamu melihatnya lagi?” Suara Bunda sedikit bergetar. “Cewek yang dulu kalian lihat?” Bunda meringis menahan apa pun emosi yang kini dia rasakan.

“Tidak,” jawabku singkat.

“Dan yang lain-lain?” Bunda kembali mencecarku, meskipun nada suaranya lembut, seolah aku gelas yang mudah pecah.

Kepalaku kembali menggeleng. Kami berdua terdiam. Aku bengong melihat piringku seraya menghisap habis es teh di gelas. Sementara Bunda melihat kejauhan melalui jendela.

“Bun,” panggilku ragu.

“Hmm?”

“Apa Bunda akan membolehkanku bertemu Pandu, kalo… “ aku berjuang memilih kata yang tepat, “…kalo aku berhenti melihat mereka?”

“Tentu,” jawab Bunda, menyemangatiku dengan senyumnya. Kulihat matanya berkaca-kaca. Tangannya kembali membelai poniku yang keren.

“Aku mau ketemu Dokter Ridwan, dan aku janji akan selalu meminum obatku.”

***

“Elu sama Juna beneran bisa telepati?”

Saat itu sore pulang sekolah. Arkan sedang main ke rumah. Sahabatku itu mengutak-atik isi komputer, membaca habis seluruh konten blogku yang cuma sedikit. Aku tiduran di ranjang dengan sikap malas.

“Emang lo percaya sama hal begitu?” aku balas bertanya. Mataku memicing seolah berkata, lo uda gila! “Buat gua, telepati itu cuma ada di dalem dongeng. Itu hal yang konyol,” bantahku geli, tersenyum melihat ekspresinya.

Arkan terlihat tidak tahu harus berkata apa, campuran antara jengkel dan penasaran. “Jadi yang elu tulis di blog tuh apa?” tukasnya.

“Maksud lo, gua sama Juna?” Alisku terangkat menggoda. “Kalo kami sih emang bisa bicara pake bahasa tubuh, tahu kan, itu cara komunikasi paling primitif, sudah ada jauh sebelum manusia mengenal bahasa lisan.”

“Jadi elu berdua bisa ngomong bahasa isyarat ala monyet purbakala? Pantesan aja!” Arkan membalasku. Cengirannya terlihat puas.

“Bodo amat deh, Kan!” gerutuku merasa kalah.

Arkan cengengesan. Sejurus kemudian wajahnya menjadi serius. “Bro, obat yang dulu sering elu makan, itu bukan obat asma kan?”

Tubuhku berguling ke arahnya. Bola mata Arkan yang jernih kecokelatan terpaku melihatku. “Bukan, itu obat schizophrenia, antipsikotik, efeknya sejenis anti halusinogen, mengurangi halusinasi dan semacamnya,” sahutku enteng.

Penjelasanku membuatnya terdiam menahan napas. “Maksudnya, elu tuh…” Arkan tak bisa melanjutkan ucapannya.

“Dokter memvonis gua terkena schizophrenia ringan,” aku mengaku. “Terutama halusinasi, yang gak cuma terbatas pada suara, tapi juga penglihatan. Intinya sih gua divonis gila.” Aku tertawa hambar. Tanganku memeluk guling dan jariku menyusuri pola topi jerami Luffy di sarungnya. Sudut mataku mengawasi reaksi sahabatku.

Arkan kembali bernapas. “Tapi elu gak terlihat seperti orang gila!” bantahnya. “Elu tuh lebih waras dibanding orang kebanyakan,” tambahnya nyengir.

Aku tertawa mendengar komentar sahabatku. Diam-diam aku merasa lega. Aku sudah bosan dianggap gila oleh semua orang, baik ayahku, Dokter Bambang, atau guru wali kelasku. Aku cukup yakin aku masih waras!

“Gua udah berenti minum obat,” aku mengaku.

Arkan mengangguk. “Itu hal yang bagus, iya kan?” Wajahnya terlihat cemas. Jari telunjuknya memainkan ujung hidung.

Kubalas anggukannya. “Gua rasa begitu,” jawabku.

“Jadi, elu udah gak pernah ngeliat hantu lagi?” Arkan meneliti wajahku.

Aku mengangkat bahu. “Itu tergantung, kalo Dokter Bambang atau Ayah yang bertanya, gua akan menjawab tidak.”

“Maksud elu?” Mata Arkan melebar.

“Gua masih sering lihat, memori itu ada dimana-mana, gua gak bakal bohong sama lo karena kita enggak saling menyimpan rahasia.”

Arkan meluruskan punggungnya di kursi. “Apa gak masalah elu gak cerita ini ke om Indra?” tanyanya khawatir.

Aku menaikkan alis dengan wajah dibuat pura-pura kaget. “Sejak kapan lo jadi anak penurut? Bukannya buat lo, aturan tuh ada buat dilanggar? Kenapa kita harus patuh sama aturan konyol yang enggak kita percayai?”

Arkan terdiam. “Menurut elu, apa yang elu lihat itu bukan halusinasi?”

“Siapa yang tahu,” sahutku tersenyum samar. Aku termenung menatap sahabatku. “Kan, lo kenal gak sama cowok ceking, rambutnya poni panjang alay, punya tahi lalat gede di bawah mata, terus hidungnya ditindik?”

Pertanyaanku membuat kening Arkan berkerut. “Elu juga kenal sama Bang Ian?” dia bertanya balik, terlihat sangsi. “Kenal darimana?”

Aku diam menatap langit-langit. “Bang Ian ini, kapan meninggalnya?”

Napas Arkan terkesiap. Kerutan di dahinya semakin dalam. “Bulan lalu. Elu baca beritanya di koran? Dia gantung diri karena mabok lem.”

“Di pohon depan rumah kosong deket rumah lo itu?” cecarku.

Arkan mengangguk. “Gua sama anak-anak sering maen bola di sana.”

“Lo pernah kencing di pohon itu ya? Sekitar tiga empat hari lalu?” aku kembali bertanya.

Arkan terlihat gelisah. “Emang kenapa elu nanya-nanya begitu bro?” Arkan melirik meminta jawaban. “Elu bikin gua waswas aja!”

“Jadi bener lo kencing di situ, kan udah gua bilang kalo kencing jangan sembarangan!” kataku mengomelinya. “Minimal tuh baca doa dulu, emang anjing maen kencing aja di pohon?”

“Ah, sialan elu Pan! Omongan lo ngaco, enak aja nyamain gua ama dogi!”

Aku tertawa. “Lo minta maaf tuh sama Bang Ian, lo udah ngencingin rumahnya. Dari tiga hari lalu gua ngeliat dia suka ngikutin lo. Gua mana kenal sama dia, cuma gua tahu gimana tampangnya karena sekarang Bang Ian lagi berdiri tepat di belakang lo. Dan mukanya kelihatan jengkel banget!” Jariku menunjuk ke balik bahunya.

Wajah Arkan memutih seperti kapas. Dia sontak melompat dari kursi dan kabur ke ranjang, bersembunyi di belakangku. “Elu serius Pan?” Suaranya bergetar ketakutan.

Aku tidak bisa menahan tawaku melihat Arkan ngacir seperti melihat setan. Tubuhku guling-guling di kasur sambil terbahak-bahak. Arkan terlihat syok saat mendapatiku nyaris kehabisan napas karena terlalu banyak tertawa.

“Sialan! Elu berani bener ngerjain gua!” serunya kesal sambil menindih tubuhku. Tangannya memiting leherku tanpa belas kasihan.

“Ampun, gua nyesel!” jeritku memelas.

Kami bergulat dan guling-guling di kasur sambil tertawa seperti orang gila.

***

Sosok figurin Luffy si topi jerami menghiasi meja di sebelah ranjangku. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku melamun menatapnya. Ini hadiah ulang tahunku yang kesepuluh dari Pandu. Dia sengaja ingin membuatku jengkel dengan kadonya, karena Pandu tahu sosok mungil ini akan selalu membuatku teringat pertengkaran konyol kami tentang siapa yang lebih hebat antara Naruto atau Luffy. Lucu. Pandu percaya kami tidak pernah bertengkar, sementara aku percaya kami tidak pernah bersahabat. Tidak ada yang benar, tentu saja. Karena seperti yang dulu dia bilang di lapangan basket, kami saling membenci, tapi juga saling menyayangi.

Nyatanya kami bertengkar, lalu berbaikan. Pandu lebih dari sekedar abangku, karena tanpa kusadari ternyata dia juga sahabatku, sahabat terbaik! Maksudku, kami bisa saling mengerti hanya dengan bertatapan. Bukankah ini sangat keren?

Aku berguling turun dari ranjangku. Tanpa bisa kutahan, kakiku melangkah membawaku ke depan kamarnya. Saat tanganku hampir menyentuh kenop, daun pintu membuka dan Pandu berdiri di hadapanku.

Dia tersenyum. Aku menatapnya. Bahkan sampai sekarang aku tidak pernah lupa bagaimana cara dia tersenyum melihatku. Dia terlihat gembira, tapi juga sedih secara bersamaan. Itu tak masuk akal kan? Kurasa duniaku emang di luar logika.

“Ingin tidur bersamaku?”

Kepalaku terangguk. Pandu membalas anggukanku dan berbalik. Aku mengikutinya sampai tepi ranjang, melirik figurin Naruto di mejanya dan tersenyum simpul. Lihat kan, kurasa bukan cuma Pandu yang bisa membaca pikiran. Mungkin tanpa kusadari, aku juga bisa menebak apa yang ada di kepalanya.

Tanpa kata kami naik ke ranjang dan duduk bersila, saling berhadapan.

“Aku akan pergi sama Bunda. Dia memintaku gak cerita sama kamu atau Ayah, tapi aku gak mungkin pergi tanpa pamit sama kamu,” kataku kalem, langsung ke inti masalah.

Mata Pandu terpejam. “Aku tahu,” jawabnya tenang. Keningku mengernyit. Kupikir dia akan marah atau berteriak atau apa pun. Jadi sikap kalemnya sama sekali di luar dugaan. Saat matanya kembali membuka, setetes air mata jatuh di kedua pipi.

“Apa Bunda memberitahumu?”

Kepala Pandu menggeleng. “Tidak.” Suaranya masih terdengar kalem.

Tangannya bergerak menyentuh dada, tepat di atas jantungnya berdetak. “Sesuatu di dalam sini yang memberitahuku,” gumamnya. “Kuharap aku salah, tapi ternyata firasatku selalu benar.” Pandu menghela napas.

“Maap.” Aku menundukkan kepala.

“Bukan salahmu.”

“Ini salahku!” aku menukas. “Mereka bilang aku membawa pengaruh buruk untukmu. Karena khayalan di otakku akan menular padamu. Aku gak mau kamu ikut gila karena punya kembaran gak waras. Aku gak pengen jadi hal yang buruk untukmu.”

“Jangan dengarkan mereka!” Suara Pandu meninggi.

“Tapi itu benar!” seruku tertahan.

Pandu membisu.

“Aku selalu meminum obatku, selalu dengerin apa kata dokter Bambang, tapi aku masih saja melihat apa yang harusnya gak aku lihat!” kataku frustasi.

Pandu menyentuh kedua bahuku. “Kita akan baik-baik saja, it’s a promise, aku gak pernah melanggar janjiku padamu, ingat?”

Jari kelingkingnya teracung di depanku.

Aku menatapnya penuh keraguan. “Apa menurutmu kita akan bertemu lagi?” tanyaku sambil menautkan kelingkingku padanya.

“Tentu, kenapa enggak? Kamu kan tetep adikku.”

“Kamu jadi gila karena aku, mereka benar, aku tuh pengaruh buruk!”

Pandu angkat bahu. “You are the best kind of bad something! Itu dengan asumsi kamu emang seburuk apa kata mereka, yang aku enggak setuju.”

Lucu. Dia terlihat sangat kalem waktu berkata begitu. Ucapannya membuatku merasa lebih berarti. Bahwa aku diinginkan. Mungkin suatu saat nanti aku akan kehilangan semua ingatanku dan menjadi gila, entah lah. Kalau saat itu tiba, kuharap Pandu tidak hilang dari ingatanku.

Ada satu hal yang selalu ingin kukatakan padanya sejak kami dipisahkan. Sesuatu yang mati-matian selalu kuingat, agar ketika kami bertemu kembali nanti bisa kusampaikan padanya. “Terlahir seperti ini mungkin karma buruk untukku. Tapi selalu ada sisi baik dari segala sesuatu, bagiku kamu lah sisi baik itu, kamu menjadi abangku adalah sisi baik dari karma burukku.”

TAMAT