fix

Brian dan Key

By : Levi

Lembar Enam

Aku mengalihkan pandanganku ke jendela kamar Key. Bingung apa yang harus aku lakukan sekarang. Dan tanpa sadar, Key daritadi ternyata sudah menjengukkan kepalanya untuk membaca pesan Braga di layar ponselku.

“Ya elah, keluar aja lagi Bri,” katanya tiba-tiba saat aku masih melamun menatap jendela.

“Ha? apanya? Shit! Lo baca pesan di hape gue ya?!”

Calm, calm, calm. Gue gak liat, layarnya aja yang manggil-manggil dari tadi.”

Fuck!

“Udah deh, mending lo liat dulu Bri. Kasian loh, dia udah dateng jauh-jauh ke sini. Urusannya gak bakal selesai kalo kalian nggak saling ketemu.”

Key benar. Mungkin sebaiknya aku lihat dulu dari sini, memastikan apa yang sebenarnya dia mau. “Oke, oke,” jawabku sambil turun dari kasur.

Aku berjalan gontai menuju pintu kaca berkusen kayu di sana, lalu menyingkap tirainya sebelum membuka lebar-lebar pintu kecil yang menghubungkan kamar Key dengan balkon sederhana di depan pintu ini. Kamar aku juga ada balkonnya kok, kalau kamar Dad dan Ibu sih di lantai bawah jadi tak ada balkon di sana.

Aku sedikit terkejut ketika mendapati Braga sudah berdiri di bawah sana dari tadi. Maksudku bukan terkejut karena dia bisa sampai masuk ke perkarangan rumahku yang padahal jam segini sudah dikunci Dad—itu karena aku sudah mengajarinya untuk lewat pagar semak yang membatasi antara rumahku dengan rumah Bang Nandra di  sebelah. Aku juga tidaklah terkejut karena dia sudah berdiri di sana dengan gaya klasik remaja-remaja yang ingin meminta maaf, maksudku, ayolah, siapa yang masih mau minta maaf dengan cara bernyanyi di halaman rumah orang, dan orang yang sedang ingin dimintai maaf berdiri menunggu di balkon kamarnya seperti saat ini. Aku tau itu akan terjadi karena itu sudah pernah terjadi beberapa kali, dan aku hapal itu. Lagipula, lihat saja gitar yang tegantung di depan Braga. That’s so cliché.

Tapi aku terkejut karena—

“Bri. Gue tau gue salah, dan gue minta maaf untuk itu,” Braga berusaha menjaga volume suaranya agar tak terdengar oleh Dad. “Gue bukannya bermaksud salah ngasih cincin yang lo pengen, tapi gue bener-bener lupa.” Dan sudah kuduga. “Seperti saat ini, kamu berdiri di atas sana, mencengkram erat besi itu, dan aku di bawah sini berusaha mengatakan bahwa ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain akan terbuka. Tetapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan.”

Aku semakin kuat mencengkram besi pagar balkon. Rasa kesal, sedih, marah, dan bahagia karena Braga mau mengakui kesalahannya bercampur menjadi satu. Aku tahu dia anak Bahasa, tapi kenapa kata-katanya kali ini membuat  aku merasa aneh. Kau tahu, seperti orang paling bodoh di sini.

“Kamu ngapain di sini?” tanyaku dingin.

“Aku mau minta maaf, Bri.”

“Bukan. Maksud aku, ngapain kamu stay di sini? Ini kan kamar Key, dan kamar aku ada di sana,” aku menunjuk ke kiri, menunjuk kamarku yang memang dari luar terlihat sama dengan kamar Key.

“Eh?” Braga menggaruk-garuk tengguknya yang aku yakin pasti tidak gatal sama sekali. “Gue punya insting kalo lo lagi di kamar Key.”

“Alasan.”

“Apa?  Kayak ada yang nyebut nama gue,” Key muncul dari belakangku tiba-tiba sambil mengunyah dan memeluk setoples kripik pisang, serta mengabaikan remah-remahnya yang mengotori lantai dan mulutnya. Dia jorok sekali.

“Gak ada yang nyebut nama lo. Sana, sana, sana,” aku mendorongnya kembali masuk ke kamar, kemudian dengan cepat menutup pintu dan menguncinya dari luar.

“Lo menyalahgunakan kamar gue Bri! Dan gue juga pengen tau apa yang terjadi di sekitar kamar gue,” Key menggedor-gedor kaca di pintu sebelum menempelkan telinganya di kaca sambil terus mengunyah kripik pisangnya. “I’d eavesdrop. And, hm, kripik ini enak banget ternyata.”

Aku mengabaikannya dan kembali fokus pada Braga. “Jadi, ini permohonan maaf gue. Gue bakal nyanyiin sebuah lagu yang pasti kamu suka.” Braga mulai menyetel gitarnya.

“Sok tau,” aku masih bersikap dingin dan sinis. “Emang kamu gak takut kedengeran Dad?”

“Nggak, karena gue akan terus nyanyi walau nanti diusir ayah kamu,” jawabnya dengan masih fokus pada gitar.

“Kamu gak malu didenger tetangga?”

Braga mengangkat kepalanya kemudian tersenyum. “Nggak, karena dunia gue sekarang berpusat di kamu.”

Dan aku sukses dibuat merona serta tersenyum-senyum geli sambil mencakari besi pagar yang dari tadi kupegang erat.

Braga mulai memetik gitarnya, dan lagu Sorry Seems To Be The Hardest Word milik Elton Jhon mulai mengalun dari mulut Braga.

What I got to do to make you love me?
What I got to do to make you care?
what do I do when lightning strikes me?
and I wake to find what you’re not there?

Di detik berikutnya aku sukses menahan napas. Braga menyanyikannya dengan penuh penghayatan. Lihat saja wajah seriusnya itu, terlihat jauh lebih tampan dari biasanya. Belum lagi alis tebalnya yang menyatu karena keningnya yang berkerut saat bernyanyi.

It’s sad, so sad
It’s a sad, sad situation
And it’s getting more and more absurd
It’s sad so sad
Why can’t we talk it over?
Always seems to me
Sorry seems to be the hardest word

Selanjutnya aku tak fokus dengan lagu Braga. Aku sibuk tenggelam dalam duniaku sendiri. Memikirkan banyak sekali hal yang terlintas diotakku. Seperti, kenapa aku bisa-bisanya membuat Braga kecewa karena egoku tadi pagi, atau kenapa aku harus berkata kasar dengan Top—ya, meski aku tahu dia tak marah sama sekali denganku, tapi tetap saja. Aku juga mulai berpikir, betapa buruknya hariku sepanjang hari ini saat memikirkan kejadian-kejadian yang tak pernah kuduga akan terjadi. Bertemu dengan mahkluk paling menyebalkan sejenis Dimas contohnya. Oh, berbicara tentang dia, aku jadi berpikir apa dia hanya menggodaku saja saat dia berkata ingin menjadikanku pacarnya. Well, dia memang sudah gila kurasa, jadi mungkin saja dia tak serius melakukannya. Tapi dia menciumku juga. Oh, benar, dia sudah gila.

Dan saat ini, Braga menutup hari ini dengan lagu dan permintaan maafnya. Cukup untuk membayar rasa sedih, kesal dan marahku di hari ini. Dia memang pacar yang baik. Ya, meski kurang romantis dan sejenisnya sudah menjadi ciri khas Braga sih.

What I got to do to make you love me?
What I got to do to make you heard?
what do I do when lightning strikes me?
What have I got to do?
What have I got to do?
When sorry seems to be the hardest word

Braga menutup lagunya dengan tiga petikan halus, dan itu membuatku sukses tersentuh.

You are my everything, Bri. Apa gue benar ngucapinnya?” katanya sambil terus menatapku. Rasanya aku ingin loncat dari sini, memeluknya dan mungkin sedikit memakinya karena hal-hal yang dia buat hari ini. Mengabaikan sejak kapan dia mulai tertarik menyanyikan lagu-lagu berbahasa Inggris, dan lihat saja, dia tadi berani ngomong pakai bahasa inggris. Dan aku salut.

Tapi tentu tak aku lakukan—maksudku yang meloncat dari kamar Key. Yang aku lakukan adalah berbalik, membuka kunci pintu balkon, lalu membuka pintunya, mengabaikan Key yang terjatuh dan membuat toples berisi kripiknya berjatuhan karena dia tidak siap saat kubuka pintu dan sisi wajahnya masih menempel di kaca tadi.

Shit! What are you fucking doing with me? Aw.” Aku mengabaikan umpatan dan ringisan Key, kemudian langsung saja keluar dari kamarnya.

Aku menuruni satu per satu anak tangga tanpa membuat sebarang suara, lalu berjinjit pelan-pelan saat melewati belakang sofa tempat Dad dan Ibu lagi non—aw! Jari kelingking aku kebentur kaki meja kecil untuk telepon rumah yang ada di bawah lukisan keluarga, and that’s so hurt. Liat aja nanti, aku bakal pindahin tuh meja sialan dari sana. Untung Dad dan Ibu tak mendengar suaraku. Jadi, aku kembali berjalan menuju pintu, memutar kuncinya dan membuka pintu sepelan mungkin.

Setelah berhasil keluar rumah dengan aksiku tadi, aku memasukkan telapak tanganku ke saku celana pendek yang kugunakan. Damn, di luar dingin banget ternyata. Aku menuruni undakan teras dan memakai sandalku, kemudian berjalan pelan ke halaman samping rumah.

Aku berdiri, memerhatikannya yang sedang menunduk sambil melepas gitarnya dan meletakannya di tanah. Aku tersenyum. Sebagian karena tersanjung dengan aksinya, dan sebagian lagi bingung harus berbuat apa.

Jadi yang aku lakukan hanyalah berdiri menunggunya melihatku. Kupikir ini akan berjalan lama—ya, bisa jadi dia tak menoleh ke arahku selama satu jam atau lebih—ternyata seperti punya intuisi, dia langsung melihat ke arahku.

Dia tersenyum bingung sambil menunduk lagi. Kemudian senyumnya benar-benar mengembang. Aku berjalan pelan menujunya. Angin malam semakin berhembus kencang, memaksaku untuk memeluk diri sendiri saat sampai di depannya.

“Hai,” sapanya. Mungkin dia sama bingungnya denganku sekarang.

“Hai,” jawabku saat sudah berada di depannya. Braga membaringkan gitarnya di tanah, kemudian berjalan lebih dekat ke arahku sambil memasukkan kedua tangannya ke jaket.

Saat jarak kami sudah dekat, Braga sedikit menunduk untuk melihatku. “Jadi, yang gue inginkan sekarang cuma berjalan-jalan sebentar dengan kamu di atas trotoar. Gak perlu makan, gak ada minum, gak ada apa-apa. Gue tau kamu mesti belajar dan tidur, dan gue janji akan mengantarmu kembali pulang ke rumah sebelum tengah malam, mengucapkan selamat malam dan pergi. Setelah itu kamu bisa memikirkan segala hal tentang kita. Karena jika tidak, ini terlalu butuh perjuangan,” dia berbicara sambil terus menatapku. Aku tahu maksudnya.

Aku menatapnya balik, melihat hidung tingginya yang menawan. Juga bibirnya yang berkedut karena sedang tersenyum canggung.

“Udah, pergi aja Bri! Ntar gerbang gak bakal gue kunci kok. Tenang aja.” Aku mendongak ke atas dan menemukan Key yang sedang menopang kepalanya dengan tangan kiri di atas pagar balkon, sedang tangan kanannya terus mengambil kripik pisang di toples untuk dimakan. Braga memberi acungan jempol kepada Key, dan dibalas sama olehnya. “Jangan lupa besok makaronsnya, awas kalo sampe lupa! Gue jadiin bini lo umpan pancing ikan buat gue sama Dad minggu depan.”

Aku memberi tatapan horror pada Key. “Go away for million meters!” usirku.

“Oke. Bye!” dan Key pun mengambil toplesnya sebelum berbalik sambil memamerkan rambut hitamnya yang lebat.

Setelah Key pergi, suasana kembali canggung. “Jadi gimana?” tanya Braga.

“Gitar kamu gimana?” kataku sambil menengok ke belakang Braga. Kemudian terdengar bunyi grasak-grusuk di pagar tanaman Bang Nandra.

“Tenang aja, gak bakalan ilang kok.” Aku menatap semak pagar itu karena sekarang bunyi grasak-grusuknya berubah menjadi suara orang berbisik-bisik dan sedikit tertawa. Hm. Pasti ada konspirasi di sini. “Mau, kan?” tanya Braga lagi untuk mengalihkan perhatianku dari pagar semak itu.

Aku tersenyum kecil, lalu menunduk dan berjalan mendahuluinya menuju gerbang rumah yang belum dikunci Dad jam segini.

Aku keluar dari gerbang duluan, sedangkan Braga masih sibuk menutup pelan-pelan pagar rumah agar suara karat di engselnya tidak terdengar sampai dalam rumah. Saat sudah selesai, Braga mengimbangiku dan berjalan di sampingku.

Kami berjalan pelan beriringan dalam diam. Dan aku terus menunduk untuk menyembunyikan senyumku yang mengembang.

Kalian boleh menyebutku labil, dan semcamanya. Tapi jujur saja, aku suka cara Braga kali ini. Entah, mungkin memang karena hatiku yang sudah melunak karenanya, atau dia sudah belajar menjadi dewasa kali ini.

Kami sudah berjalan lumayan jauh dari rumah. Dan tiba-tiba aku berhenti di bawah lampu jalan berpenjar jingga di dekat taman kompleks karena Braga mendadak mendahuluiku kemudian berhenti tepat di depanku sambil menghadapku. Jarak  ujung sepatu Braga dengan ujung sendalku hanya terpaut enam inci, dan wajahku yang hanya berjarak beberapa centi meter dari lehernya yang berbau kayu. Aku suka bau Braga.

Aku sedikit mendongakkan kepalaku, bersamaan dengannya yang mulai menunduk. “Kamu mungkin gak tau kalo wajah kamu malam ini jauh lebih indah dari bulan di atas sana,” gombalan pertama, dan aku mulai merona oleh gombalan recehnya barusan. “Bri, kamu merona?” dia menjengukkan wajahnya, lalu kudorong sisi wajahnya untuk menjauh. Braga tertawa kencang.

Aku memukul perutnya sampai dia tersedak tawanya sendiri. “Berhenti menggodaku dan bilang aja apa mau kamu.”

Braga berusaha mengatur kembali napasnya sebelum mulai berbicara. “Bri, denger,” dia memegang tanganku dengan lembut. “Gue bukannya bermaksud ngelupain apa yang kamu pengen, atau mengabaikan kemauan kamu, tapi waktu itu—”

Aku menutup mulut Braga dengan telapak tangan kananku. “Bisa kita gak usah bahas itu lagi? Aku sudah tak peduli dengan cincin itu,” aku menurunkan tangan kananku, kemudian menggenggam pergelangan tangan kirinya dengan tangan kananku. “Kayaknya kita jalan aja lagi deh,” sekarang aku berjalan sambil memegangi tangan kirinya.

Kemudian dia melepasnya sebentar untuk mengubah peganganku menjadi saling menggenggam. Dan ya, kami berjalan lagi sambil bergandengan. Kau tahu rasanya? Seperti saat kau berada di tengah lapangan berumput di pagi hari, dan kau bisa melakukan apa saja di sana.

Sialnya ini bukan di lapangan berumput, ini di pinggir jalan, dan di sini sangat dingin. Shit! Aku baru sadar kalau dari tadi aku hanya bercelana pendek saja. Pantas udaranya terasa sangat menusuk di kakiku. Bahkan aku juga tak memakai jaket. Bodohnya.

Aku melepas pegangan kami untuk mengusap kedua telapak tanganku. Berharap Braga mau memakaikan jaket bisbolnya padaku, karena ini benar-benar dingin. Tapi percuma saja pasti, dia kan orang yang nggak peka dengan sekitar sama sekali. Jadi aku mendekap kedua tanganku di bawah ketiak dan bersiap untuk menahan dinginnya—tiba-tiba Braga meletakkan jaketnya di atas bahuku, tersenyum lembut sebelum memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

Aku hanya bisa menatapnya bingung. Entah apa yang sudah dia alami hari ini sampai bisa membuatnya jadi seperti ini. Kau tahu? Malam ini sangat manis bagiku. Mulai dari dia menyanyikan Sorry Seems To Be The Hardest Word di bawah kamar Key beberapa menit yang lalu, caranya minta maaf di taman tadi, dan sikap gentlenya saat ini, bahkan dia mengabaikan udara malam hanya untukku. Aku kembali tersenyum pada Braga yang sekarang hanya mengenakan kaos V-neck polos berwarna hitam dengan tangan di kantong celana.

“Jadi, kamu ngapain di toilet rusak tadi siang?” pertanyaan Braga barusan sukses menghancurkan pemikiranku tentang betapa manisnya sikap dia hari ini. Aku terbahak-bahak sampai berair mata karena ingat apa yang aku lakukan tadi siang itu sangat konyol. I’m so nerd, really really fucking nerd. Braga ikut tertawa kecil bersamaku.

“Oh Braga, lupakan itu juga.”

“Oke kalo itu yang kamu mau,” jawab Braga. Aku kembali tersenyum ketika mendapati kalimatnya barusan juga cukup manis. Sepertinya hari ini Braga sudah belajar banyak hal. Dan aku suka itu. kemudian kami hanya kembali berjalan dalam diam. “Bri, gue mau tanya sesuatu, dan lo bakal bilang ‘oh no, itu terlalu cepat. Aku belum siap atau semacamnya’. Dan, yah, itu hanya sesuatu yang biasa orang lakukan, itu karena aku sudah melakukannya duluan dan sekarang—”

“Tolong langsung tanyakan saja, kamu mulai membuatku takut, Braga.”

“Oke. Gimana kalau kapan-kapan kamu datang berkunjung ke rumah? Maksudku, kamu emang udah sering ke sana, tapi gak dengan makan malam khusus yang bakal gue siapin. Kamu akan ketemu dengan semua anggota keluarga gue, ya, sekalian merayakan kepulangan Arga dari Riyadh. Kamu akan senang berkenalan dengannya.”

Aku menarik napas dan membuangnya pelan-pelan. “Itu aja?”

Braga tampak bingung, dia mengangguk pelan dan membuat wajahnya makin lucu.

“Baiklah, dengan senang hati,” aku mengulas senyum tipis, dan Braga tersenyum lebar di sampingku.

“Kamu suka makanan Arab?”

“Entahlah, aku hanya pernah mencoba kebab dan falafel.”

“Itu salah satu yang terenak. Dan masih banyak yang lain.”

“Kalo gitu kenapa aku harus gak suka?” tanyaku.

Braga kembali melebarkan senyumnya. Membuat barisan gigi putih rapinya terlihat sempurna. “Kamu lagi dalam kondisi hati yang baik, ha?”

Yes, why?

“Hanya saja… gue senang caramu. Entahlah, gue tak tau apa menyebutnya. Semacam…” Braga berpikir keras sambil menunduk, mengerutkan keningnya dan menyatukan alis tebalnya yang memang sudah menyatu.

“Mudah setuju?”

“Ya. Mudah setuju,” Braga kembali menoleh ke arahku. Kami berjalan sudah sangat jauh dari taman kompleks, juga rumahku. “Jadi, berhubung kamu lagi mudah setuju, mau gak setelah pulang makan malam kita pergi nonton?”

Aku berpikir sejenak. Mempertimbangkan berbagai hal sebelum menjawab ajakan Braga. “Oke. Aku yang beli popcorn.”

Yes!” Braga meloncat sambil meninju udara ke atas dengan kepalannya. “Woohoo…!” dia memelukku, mengangkatku sedikit sebelum memutarku satu kali. Aku hanya tertawa bahagia. Karena malam ini aku benar-benar bahagia.

Braga berlari dan melompat di atas bangku yang ada di pinggir jalan, bergantung pada lampu jalan dan mulai menyanyikan potongan lagu—entahlah, mungkin itu lagu berbahasa Arab atau sejenisnya. Yang jelas aku tertawa sepanjang jalan.

“Dan kamu harus ingat membawaku pulang sekarang,” kataku, dan menghentikan aksi Braga yang sedang berdiri di tengah jalan yang sepi sambil melebarkan tangannya. Untungnya malam ini terlalu sepi untuk dilalui pejalan kaki ataupun kendaraan. Karena jika tidak, aku pasti akan terlihat seperti pengurus anggota keluargaku yang gila.

“Oh iya, ayo pulang!” Braga menarik tanganku dan berbalik melewati jalan yang sudah kami lewati tadi. Di belakangnya, aku tersenyum lagi.

-*-

“Terus nanti kita bakal tinggal di Amsterdam, punya dua anak. Anak pertama kita mesti cowok, namanya Zerri aja gimana? Kan samaan sama kamu, Zetta. Anak kedua kita cewek, namanya—”

“Eh, eh, ada notif dari Braga!” kalimat Sisy barusan ngebuat Kristina berhenti berceloteh tentang bahagianya dia hari ini karena tadi siang Zetta udah minta maaf sama dia di toilet dan menghancurkan hayalannya tentang menikah dengan Zetta di Belanda, dan liat deh, sekarang dia lagi meluk-meluk Zetta sambil manyun-manyun kesal ke Sisy. Dan Zetta berusaha sekuat tenaga melepaskan pegangan Kristina di lengannya dengan jijik. Duh, yang sabar ya, Nak. “Dia lagi jalan ke sini.”

Yah, padahal baru aja sebentar mereka semua di sini masa udah mau pulang. “Gak seru ah, cepet banget pulangnya.”

Don’t worry honey, kapan-kapan kita ke sini lagi kok. Sekarang misi menyelamatkan dunia kita udah mau selesai,” kata Kristina sambil berdiri dengan dibantu oleh Zetta.

“Iya Key, besok-besok kita main ke sini lagi kok,” Sisy merapikan kemejanya saat sudah berdiri.

“Makaronsnya udah gue letak di atas meja makan tadi,” kata Top, sekarang dia lagi ngambil gitar Braga yang tadi diletaknya di samping meja rias aku.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku baru ingat dengan makaronsku. Duh, duh, I can’t wait, nanti malam aku mau pesta makarons ah sambil nonton film Paper Towns yang baru dikirim Juju kemarin. Itu film udah lama sih, tapi aku baru direkomendasiin sama Juju seminggu yang lalu, aku jadi penasaran sama itu film. Moga aja Brian gak nganggu aku nonton dengan cerita-ceritanya hari ini. That’s so boring and annoying.

“Ya udah, ayo gengs,” Sisy jalan duluan keluar dari kamar. Turun ke lantai bawah dan mengendap-endap supaya gak ketahuan. Aku jalan duluan aja lewat dapur, terus bukain pintu belakang dan mereka pun keluar dari rumah tanpa ketahuan sama Dad dan Ibu.

Aku ngelambain tangan aku dengan cantik ke mereka sampai mereka pergi. Terus balik lagi ke kamar, eh hampir aja kelupaan makarons aku di atas meja makan. Saat sampai di kamar, aku langsung kunci pintu supaya Brian gak bisa masuk, terus hidupin laptop dan pesta makarons sambil nonton pun dimulai. Hihihi.

Mumpun laptop aku lagi booting, aku mau cerita aja dulu. Jadi gini, pas Braga pergi sama Brian tadi, sekelompotan orang yang terdiri dari Sisy, Top, Kristina plus Zetta langsung aku ajak masuk ke kamar aku lewat dari pintu belakang, jadi gak ketahuan sama Ibu dan Dad. Mereka sih sebenarnya datang ke sini bareng Braga, tapi mereka ngumpet aja di balik pagar semaknya Bang Nandra. Terus pas Braga dan Brian pergi baru mereka ke kamar aku.

Ini sih semua idenya Sisy, tadi sore pas dia nelpon kami semua dan nyeritain apa yang terjadi sama Braga dan Brian, kami langsung ngumpul dan ngadain rapat dadakan dengan Braga plus Zetta di stand es krimnya Aldo. Dan ya, hasilnya begini. Huh. Padahal aku juga mau ngajakin Aldo, tapi dia gak bisa soalnya mau ngambil cucian kotor punya langganan bukdenya.

Gara-gara ngomongin Aldo aku jadi ingat dia kan. Huh.

Let me tell you, Aldo itu anak tunggal loh. Mamanya udah meninggal pas ngelahirin Aldo, sedangkan papanya masuk penjara gara-gara kasus korupsi pas umur Aldo sepuluh tahun. Sejak saat itu sampai sekarang dia tinggal sama Bukde Nani, temen dekatnya mama Aldo dari dulu. Soalnya keluarganya yang lain pada gak mau ngerawat dan ngurusin Aldo. Jahat banget kan?

Bukde Nani juga bukan orang kaya. Dia janda, dan dua anaknya sudah menikah dan pergi ke luar kota. Jadilah sekarang mereka tinggal di rumah kecil milik sendiri yang ada di perumahan kumuh dekat sungai. Itu makanya Aldo harus kerja keras buat bantuin Bukde Naninya.

Aldo itu anak yang pinter kok, tapi bukan itu aja alasan aku suka sama dia. Kan udah aku bilang kalau aku itu udah jatuh cinta sama dia sejak pertama kali MOS sekolah setahun yang lalu. Waktu itu dia kepilih jadi kandidat King sekolah—oh, bahkan cuma dia siswa baru yang lolos sampai final, bahkan lawannya aja anak kelas sebelas semua. Eh, tapi dia kalah sama Kak Dimas yang sekarang udah kelas tiga.

Aldo itu mukanya pribumi banget. Dan aku suka itu. Aku gak mau nanti nikah sama bule, maunya sama Aldo aja.

Eh, filmnya udah mulai.

 

Bersambung—