8959503_f520

Gemini Tales

Act 3 – Head Over Boots

Oleh : Pandu Wiratama

Angin malam menyapu rambutku. Aku dan Kak Baran duduk berhadapan di atas dua ruas batang pohon tumbang yang posisinya kami atur demikian rupa menghadap ke arah tebing di tepi danau Telaga Dalom. Tebing ini berupa hamparan luas tanah kosong yang terletak antara dua buah kebun teh di luar kota. Lokasinya tinggi di atas permukaan danau dan agak terpencil. Kulirik jurang menganga pada bibir tebing dan batu-batu tajam di bawah sana yang cukup menciutkan nyali. Aku mendesah. Tebing ini begitu indah, sekaligus berkesan mengancam.

Jazz Kak Baran diparkir tidak jauh dari tempat kami duduk. Sorot lampu mobil merupakan satu-satunya cahaya yang menyinari kami, selain bintang-bintang dan bulan setengah penuh di atas sana. Jantungku berdetak cepat. Bukankah suasana ini terlalu romantis? Hanya ada aku, Kak Baran, dan langit malam. Kuharap ini bukan mimpi!

“Pan.” Kak Baran memanggilku.

Suaranya berat dan memabukkan. Sosok Kak Baran terpantul di bola mataku. Jangkung dan tampan. Sangat, sangat gagah dengan jaket kulit dan rambut cepaknya.

“Iya kak?” Aku nyaris berbisik.

Bisa kurasakan pipiku terasa panas. Aku terlalu malu untuk membalas tatapan matanya. Tentu saja aku malu. Aku kan baru saja menembaknya. Dan Kak Baran belum memberiku jawaban. Alih-alih memberiku kepastian, cowok keren ini malah menyeretku kemari, ke sebuah tebing terpencil di luar kota. Entah dia mahluk paling tega, dan mempermainkan bocah SMA sepertiku terasa lucu baginya, atau Kak Baran cowok paling romantis di dunia.

Kuharap jawabannya adalah opsi kedua.

Kak Baran mengamatiku lekat-lekat. “Lakukan satu hal untuk kakak,” pintanya lirih. Kak Baran mengulurkan gitar akustik di tangannya padaku.

Alisku terangkat penuh tanya saat kusambut leher gitar darinya.

“Kak Baran pengen denger kamu nyanyiin lagu yang kamu rekam buat kakak, langsung dari mulutmu,” jelasnya.

Telingaku memerah saat mengingat rekaman lagu yang kubuat untuk Kak Baran. Rasanya konyol dan memalukan. Kok bisa sih aku kepikiran ide naif begitu buat nembak cowok pujaan hatiku ini? Cowok keren yang usianya nyaris empat tahun di atasku.

Lebih dari apapun, aku masih tak habis pikir gimana bocah setengah matang sepertiku punya keberanian buat nembak cowok sedewasa Kak Baran. Aku kan masih kelas sepuluh. Sementara Kak Baran sudah kuliah tahun kedua. Mungkin semua ini tidak nyata dan halusinasiku sudah mencapai stadium akhir. Mungkin aku sudah kehilangan warasku!

Tapi nyatanya, di sini lah kami sekarang, aku dan Kak Baran. Dan cowok itu memberi gitarnya padaku, memintaku menyanyikan lagu bodoh yang kurekam untuknya. Kami belum resmi jadian dan Kak Baran sudah menuntutku bersikap romantis.

Bukan berarti aku protes. Malah ini membuat perutku seperti terbang kemasukan kupu-kupu dan jantungku menggila seperti genderang perang. Mungkin kakiku tak lagi menyentuh tanah. Entah lah. Rasanya aku tidak ingin semua ini berakhir. Selama-lamanya! Bisakah waktu berhenti untukku? Mungkin tidak. Oke, cukup sudah aku mengkhayal.

Aku tak mungkin membuat Kak Baran menunggu lebih lama lagi.

Kak Baran memberiku tatapan sayu, seolah memohon supaya aku cepat bernyanyi untuknya. Seolah dia tidak sabar mendengar suaraku. Ya, Tuhan, kenapa dia begitu mempesona? Apakah dia emang tercipta untukku? Seekor Banteng Jantan untuk bocah Gemini? Bolehkah aku menunggangi punggungnya yang kokoh di sepanjang sisa perjalananku?

Kumohon, katakan saja kalau itu benar.

“Pan?” pintanya lagi.

Aku berdehem seperti orang bego. Mengabaikan rasa panas di pipi, jariku menyentuh senar gitar. Lalu kulantunkan lagu itu untuknya. Lagu cinta-cintaan yang buatku liriknya sangat romantis. Lagu country kesukaan Kak Baran.

I wanna sweep you off your feet tonight, I wanna love you and hold you tight,” aku memulai. “Spin me around on some old dance floor, act like we never met before for fun, ‘cause…”

Napasku terhenti sejenak saat Kak Baran tersenyum membesarkan hati.

Kuambil napas dalam, mengumpulkan momentum, lalu suaraku meledak menyanyikan bait-bait chorus,

“You’re the one I want, you’re the one I need…

Baby, if I was a prince, oh, you would be my king…

You’re the rock in my roll, you’re good for my soul, it’s true…

I’m head over boots for you…”

Kunyanyikan lirik lagunya sepenuh hati seolah itu luapan emosiku yang paling dalam. Karena jujur saja, itu lah yang sebenarnya kurasakan. Sejak Kak Baran menabrakku satu tahun lalu, dia telah berhasil menyihirku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku tahu ini konyol. Namun aku sungguh menyukainya, tergila-gila padanya.

Dan ya, jika aku seorang pangeran, maka Kak Baran adalah rajaku.

Baran Noval Alberdo, kumohon jadilah cowok yang bisa mewarnai hidupku. Jadilah raja bagi duniaku. Jadilah penyejuk bagi jiwaku. Tidak ada yang lain, cukup kamu seorang, harapku di bawah bintang-bintang.

***

Ini tidak masuk akal!

Bocah unyu sebelah rumah menembakku. Apa kiamat sudah dekat? Duniaku seperti jungkir balik setelah aku melihat rekaman video yang dia buat. Jika aku pangeran, kamu lah rajaku. Pandu bahkan mengganti lirik lagu seenak udel, membuatku tidak tahu harus menangis atau ngakak guling-guling. Aku tak mengira anak cowok tetanggaku bisa seromantis ini.

Tapi semua ini salah, iya kan? Aku kan laki-laki. Dan terakhir kali aku melihatnya, Pandu juga masih seorang cowok. Setidaknya bocah itu tampan, bukan cantik. Kenapa dia bisa hilang akal dan menembakku?

Ya, selama ini aku merasakan ada yang berbeda dari cara Pandu menatapku. Kadang aku merasa bocah itu sedikit memujaku. Aku cukup yakin. Sorot matanya berkata begitu. Dulu kupikir itu karena Pandu tidak punya abang cowok, dan dia menghormatiku sebagai abangnya. Tapi sekarang? Mungkin tebakanku salah.

Aku mendesah, tidak tahu harus berbuat apa. Kepalaku terasa berat. Bukankah ini topik yang tabu dibicarakan? Aku selalu menyangkalnya, iya kan? Maksudku, emang gampang menerima fakta kalau diri kita berbeda? Selama ini aku selalu menguburnya dalam-dalam di sudut kepala. Dan kini Pandu hendak membongkar zona nyamanku. Only love can hurt like this! Nyatanya cintaku bertepuk sebelah tangan, aku sudah bisa terima.

Tapi kenapa Pandu kini malah mengguncang duniaku? Luka lamaku masih belum menutup, dan Pandu malah melumurinya dengan garam.

Aku tidak yakin apa aku harus mencium atau menjitak kepalanya.

Oke, kekacauan ini bermula empat puluh delapan jam lalu, ketika Lana memilih pergi ke bioskop bersama sahabatnya, dibanding menemani bocah unyu pujaan hatinya ke toko bunga. Lana emang idiot. Dia kan tergila-gila sama Pandu, tapi kenapa dia malah pergi bersama Lastri? Itu jelas keputusan terbodoh dalam hidupnya.

Jadi aku berbaik hati mengantar Pandu sore itu. Kami kembali ke rumah sekitar jam delapan malam. Karena aku sengaja membawa bocah SMA itu muter-muter. Entah kenapa, aku sendiri tidak yakin, namun sejak Pandu menabrakku tahun lalu, aku tidak bisa berhenti mengulang kejadian itu di kepala. Konyol emang, aku tahu.

Apa boleh buat, sosok Pandu begitu lekat dalam ingatanku sejak enam tahun silam, saat aku membungkam tangisnya dengan permen. Kejadian kami bertabrakan cuma memperkuat sosoknya di benakku. Aneh, aku mungkin suka sama cowok, tapi aku menolak dituduh suka anak kecil. Maksudku, waktu kami pertama bertemu dulu, aku kan masih empat belas, dan Pandu sepuluh. Ketika itu, aku bahkan tidak paham yang namanya cinta-cintaan.

Lihat kan, pikiranku sedang ngawur. Perasaanku pada Pandu bukan lah cinta, iya kan? Masa cowok kuliahan sepertiku suka sama bocah ingusan yang masih duduk di kelas sepuluh? Ini sangat mustahil terjadi. Stop, Baran, kamu mulai gila! Cukup adikku saja yang tidak waras. Kasihan kedua orang tuaku kalau kedua anaknya sama-sama gila! Benar juga. Lagipula Lana suka sama Pandu. Masa sebagai abangnya aku tega mencuri cinta adikku?

Aku menghela napas dan merunut semuanya kembali dari awal. Ketika aku mengantar Aldo ke halaman depan setelah sahabatku itu curhat panjang lebar kalau dia baru saja putus sama cewek kelima yang jadi pacarnya bulan ini.

Ya, ampun. Sahabatku itu emang keterlaluan! Tapi Aldo adalah Aldo. Bukan Aldo namanya kalau tidak membuatku pusing dengan semua kisah cintanya yang memalukan. Kenapa Aldo selalu seenak jidat gonta-ganti cewek, sementara aku, satu-satunya orang yang cukup sial jadi sahabatnya, dikutuk menjomblo seumur hidup!

Langit sungguh tidak adil, padahal aku kan lebih tampan.

Yah, intinya semua bermula dari situ. Ketika aku dengan tidak sabar hendak mendepak Aldo keluar dari rumahku.

***

“Elo tadi sore nganterin bocah unyu di sebelah ke toko bunga?”

Aku tertawa mendengar pertanyaan Aldo. Kami sudah bersahabat sejak SMA dan Aldo tahu semua hal tentang aku. Begitupula sebaliknya, aku hapal isi kepala Aldo luar dalam, termasuk semua cewek yang pernah jadi korban pesonanya. Apa boleh buat, karena Aldo emang cakep. Setiap cewek yang diliriknya di kampus pasti langsung meleleh, tidak peduli reputasi buruk Aldo sebagai playboy. Kurasa cinta telah membutakan mereka. Atau itu cuma karena wajah beraksen Jawa yang terpahat bagus dengan kulit cokelat cerah dan rambut jabrik Aldo. Entah lah. Apapun alasannya aku sih tetap kasihan sama cewek-cewek dungu itu.

Meski Aldo sahabatku, dan aku tidak akan membeberkan semua boroknya pada orang lain, sifat playboy Aldo bukan main-main. Mungkin selangkangan Aldo bakal terasa gatal kalau dia tidak mencampakkan cewek baru setiap minggu.

God, dia separah itu! Sumpah!

“Ya, ini aja gua baru pulang, Do,” jawabku nyengir.

“Dari jam lima sore sampe delapan malem, elo apain aja tuh bocah?” Aldo terbahak. “Sampe gua harus bengong sejam di kamar, nungguin elo balik.”

“Salah lu sendiri bro. Dateng gak pake ngomong, emang jelangkung!”

“Terus gimana sama adek elo yang lagi patah hati? Lana itu kan super unyu-unyu, kalo dia mau, gua bersedia kencan sama dia,” kata Aldo lagi.

Aku langsung memberinya tatapan membunuh. “Jangan berani-berani!”

Aldo mengangkat kedua tangan seolah menyerah. “Elo selalu over protektif sama adek elo,” gerutunya. “Siscom elo gak ilang-ilang, Bar! Elo tuh inget umur, Lana itu udah gede. Kalo gua gak tau gimana elo, pasti gua udah nuduh elo tuh suka incest!”

“Anjir! Siscom, incest, omongan lu ngaco semua, Do!” bantahku. “Wajar lah gua protes kalo serigala macam lu mau coba-coba deketin Lana.”

Ucapanku membuat Aldo tergelak. Sementara aku jadi tercenung oleh tuduhannya. Ya, aku emang sedikit terlalu protektif sama Lana. Tentu saja, dia kan adikku. Tapi rasanya gak sampe tahap siscom, apalagi incest, iya kan? Aldo emang sarap!

Lagipula, berani amat dia mau mendekati Lana setelah curhat padaku soal cewek kelimanya bulan ini yang berakhir ditinggal pergi sama Aldo di salah satu kafe di Bandar Lampung cuma karena menurut Aldo cara makannya terlalu berisik dan tidak elegan, sama sekali tidak cocok pacaran sama cowok keren seperti dirinya. Aldo bahkan tak ambil pusing gimana cara cewek itu pulang ke kota ini. Lihat kan, Aldo emang bajingan dan pantas dimutilasi!

Kadang aku sangat ingin meninjunya, tapi sayang Aldo tetap sahabatku. Kurasa tidak etis jika itu kulakukan. Meninju hidungnya, maksudku. Dan lagi, sepertinya ada yang bakal menghajar Aldo untukku. Cowok itu membeku mengintip pesan di layar hape.

“Bang Imron.” Dahinya berkerut.

“Abangnya Rani? Setahu gua, Bang Imron tuh sabuk item taekwondo. Mampus lu, Do! Kalo gua jadi Bang Imron, emang lu tuh bakal gua hajar, berani amat lu ninggalin anak gadis orang di kota sebelah! Dari dulu sarap lu tuh gak ilang-ilang!” omelku sambil cengar-cengir.

Rani mantan cewek Aldo yang baru dia putusin beberapa jam lalu. Ya, cewek malang yang ditinggal Aldo di Bandar Lampung. Sebagai seorang abang, aku bisa mengerti perasaan Bang Imron yang adiknya disia-siakan Aldo.

Melihatku tertawa di atas masalahnya, Aldo mencubit kedua pipiku sampai melar. “Kampret elo, Bar! Temen lagi susah, elo nya malah asik ketawa, nih elo ketawa aja terus sampe pipi elo doer!” Aldo menggerutu, makin jadi menarik pipiku.

Kutepis tangannya. Lalu kugeplak kepala Aldo pake modul Kriminologi Terapan yang setebal batu bata sampai dia mengaduh.

“Udah, lu cepetan cabut dari rumah gua!” Aku memberi saran.

Aldo cemberut sambil mengusap-usap kepala. “Gila, pala gua lagi pening gini, malah elo usir! Kagak setia kawan amat sih elo, Bar. Nyesel gua jadi temen elo!” sungutnya, yang sama sekali tidak kupedulikan. Kami sudah lama berteman. Jadi kami sudah tidak lagi merasa sungkan satu sama lain, apalagi sampe tersinggung. Rugi amat tersinggung gara-gara ocehan Aldo! Mending aku gunakan isi kepalaku untuk hal lain.

“Bukan gitu, Do. Gua tahu banget sifat Bang Imron. Dia gak bakal diem aja ngeliat lu nyakitin Rani,” kilahku. “Dia pasti langsung ngelabrak kosan lu, dan kalo dia liat lu kagak ada di sana, dia pasti langsung nyari lu ke sini.”

“Terus?” tanya Aldo bego.

Aku memijat pelipisku, sedikit frustasi. Emang susah punya temen muka ganteng, tapi otak udang macam Aldo. “Lu mau dilabrak Bang Imron di sini? Kalo nyokap gua liat, lu bisa kena banned, kagak boleh lagi maen ke rumah gua. Sekarang aja nyokap udah kurang seneng ngeliat gaya lu yang urakan, apalagi kalo lu sampe dihajar orang gara-gara cewek!”

Aldo manggut-manggut. “Gitu ya, Bar?” katanya merenung.

“Makanya lu cabut dulu sekarang. Sembunyi dimana kek. Jangan sampe muka lu dilihat Bang Imron, bisa bonyok tuh muka cakep.”

Aldo mondar-mandir gelisah. “Bar, elo temenin gua yuk. Kabur kemana gitu,” pintanya. “Gua tahu, kita cabut ke Bandar Lampung aja! Ke rumah nyokap. Kayaknya gak mungkin Bang Imron mau repot-repot nyariin gua sampe luar kota, iya kan?”

Aku tertawa melihat reaksi sahabatku seperti kambing yang akan disembelih. Seharusnya ini bisa membuat Aldo kapok dan berpikir dulu sebelum bertindak. “Males amat gua nemenin lu sampe ke luar kota segala,” aku menolak.

“Yaelah, Bar. Elo tega bener!”

Tanganku menepuk kedua bahunya. “Bukan masalah tega atau gak tega, Do. Gua kan masih harus kuliah. Emangnya lu! Masuk gak masuk seenak jidat. Lu apa kagak takut dihajar bokap lu, kalo sampe DO?”

“Ish, DO ato enggak, itu urusan nanti, yang penting elo temenin gua dulu sekarang. Ayolah, Bar! Elo kayak bukan temen gua aja sih.”

Aku mendengus jengkel mendengar rengekan sahabatku. Kenapa sih Aldo gak pernah bisa dewasa sedikit aja? Emangnya dia pikir dia bakal terus jadi anak kecil? Bukankah suatu saat dia pun harus bisa berdiri di atas kaki sendiri?

Kuhela napasku. “Sori, Do.” Aku memberi jawaban final.

Aldo meringis lalu mendekatiku hingga kepala kami nyaris bersentuhan. Kurasakan napasnya berhembus di pipi. Aldo berbisik tepat di telingaku.

“Kalo elo nemenin gua kali ini, elo boleh nyium gua di bibir,” gumamnya.

Aku memutar mata sambil cemberut. “Cukup, Do! Lu bikin gua jengkel!”

Dia tertawa melihat reaksiku. “Elo kan suka sama cowok, masa sih elo gak ada rasa sama gua. Emang bibir gua kurang buat nyogok elo?”

Kudorong tubuhnya menjauh. “Omongan lu tuh gak enak didenger, tahu gak!” kataku pelan. “Kadang becanda lu tuh kelewatan! Cuma karena gua inget kita tuh udah sahabatan dari dulu, gua anggep lu gak ngomong apa-apa.”

Aldo tersentak. Dia terdiam dan menundukkan kepala. “Sori bro, gua emang kelewatan tadi. Anggep aja itu gak pernah terjadi.”

Aku mendesah. Kenapa sih aku gak pernah bisa marah sama Aldo? Emang gak cukup nasib sialku terlahir sebagai homo? Masih perlu juga punya sahabat otak udang yang suka nyusahin? Aku kembali memijat pelipisku.

“Ya, udah. Lu cabut aja ke luar kota. Mendep dulu di rumah nyokap lu sehari dua hari. Nanti biar gua yang ngomong sama Bang Imron.”

Sialan! Mulutku berjanji tanpa bisa kucegah.

Aldo menatapku sambil cengengesan. “Elo tuh temen paling bisa diandelin. Kagak sia-sia gua jadi sahabat elo,” dia memuji setinggi langit.

Aku cuma geleng-geleng kepala mendengar semua gombalnya. Aldo pikir aku bakal kemakan omongannya? “Udah sana buruan lu pergi!” kataku setengah menyeretnya keluar. Kali ini Aldo tidak membantah dan mengikutiku.

“Bar, kalo enggak, gua sembunyi di rumah elo aja. Entar kalo Bang Imron dateng, elo tinggal bilang gua enggak ada,” usulnya setelah kami sampai di pintu depan.

“Terus mobil lu mau diapain? Tenggelemin ke danau?” tanyaku sinis.

Aldo berpikir sejenak. “Leh uga,” gumamnya alay.

Kuhela napasku dalam-dalam. Aldo dan otaknya yang seperti otak sapi, kurasa aku bisa gila kalau harus lebih lama lagi mengurusi percintaannya yang konyol. Padahal aku sendiri masih jomblo. Bisa-bisanya Aldo membuatku pusing dengan drama hidupnya!

Jadi saat Fortuner Aldo menghilang dari pagar rumahku, rasanya aku pengen sukuran.

***

Aku menemukan Pandu berdiri mematung menghadap sebuah pohon besar yang menjulang angkuh di antara kedua rumah kami. Saat itu kurasa jam sembilan lewat. Tidak ada orang di rumah. Lana masih belum pulang dari bioskop, sementara ayahku ada meeting sampai malam dengan pihak resort. Dan ibuku? Ini malam Rabu, jadi dia asik menikmati langit malam melalui teropong bintang di observatorium universitas. Kalau Pandu tahu soal ini, dia pasti bakal iri setengah mati. Bocah itu kan pengen jadi astronom amatir.

Setelah mobil Aldo menghilang di kejauhan, tadinya aku mau langsung masuk lagi ke dalam rumah. Tapi sesuatu menghentikan langkahku. Tanpa bisa kucegah, aku kembali terpikir sama Pandu. Apa yang sedang dilakukan bocah itu sekarang? Pasti dia juga sedang sendirian di rumah. Om Indra kan ikut rapat bersama ayahku. Ya, kedua ayah kami sama-sama konsultan arsitektur untuk resort. Artinya Pandu bakal kesepian malam ini. Di rumahnya kan cuma ada dia dan ayahnya.

Lalu aku teringat hal lain.

Saat aku mengantarnya pulang tadi, paket tanaman yang dia beli sudah tergeletak di teras. Sepertinya bocah itu meminta cici Rosalie untuk menaruh paketnya begitu saja di depan pintu. Apa Pandu sudah memindahkannya ke atas gazebo? Membayangkan cowok itu naik tangga ke atas atap gazebo malam-malam begini, membuatku sedikit banyak merasa khawatir. Kenapa sih tadi aku lupa melarang Pandu untuk tidak melakukannya malam ini juga? Itu kan sedikit berbahaya. Gimana kalau tangganya tertiup angin dan Pandu jatuh menghantam beton? Harusnya aku menawarkan diri untuk membantunya besok!

Jadi langkah kaki membawaku berbelok dan mengintip halaman samping rumahnya. Tembok bata setinggi dada memisahkan kedua rumah kami. Di luar dugaan, ternyata Pandu sedang bengong sendirian di depan pohon.

“Pan!” seruku memanggil namanya.

Tidak ada jawaban. Aku mengerutkan kening.

Ini aneh. Pandu tak pernah mengabaikanku. Malah, sepanjang yang bisa kuingat, dia selalu penuh semangat jika sedang bersamaku.

Kupanggil sekali lagi, tapi Pandu masih tetap tidak merespon. Punggungnya lurus nyaris kaku. Kedua tangan terkepal di kedua sisi tubuh. Adakah yang salah dengannya? Dadaku sedikit berdebar karena cemas.

Tanpa membuang-buang lebih banyak suara, kusangga tubuhku dengan siku, lalu kulompati tembok pagar dengan satu gerakan berayun. Kakiku mendarat di halaman rumah Pandu. Kudatangi bocah itu dengan langkah-langkah lebar.

***

“Pan?” Sebuah suara memanggilku.

Suaranya berat dan menenangkan hati, membuat rongga dadaku yang bertalu-talu menjadi terasa hangat. Karena ini suara Kak Baran. Bahkan telingaku pun ikut mempermainkan aku. Ini pasti cuma halusinasi yang lain, iya kan?

Kenapa sih dengan isi kepalaku?

Apa tidak cukup suara bisik-bisik yang dari tadi kudengar ini? Apa sosok cewek yang terjerat tali tambang di atas dahan pohon besar di hadapanku masih kurang? Kenapa aku masih harus juga mengkhayalkan suara Kak Baran?

Rasanya aku ingin menangis. Dadaku terasa sesak. Kepalaku pusing kekurangan oksigen. Ya, Tuhan, apa aku akan mati? Kenapa sih asmaku harus kumat karena penampakan bodoh ini? Kenapa aku tidak bisa menggerakan satu pun jariku?

“Pan!” Suara itu lagi. Kurasakan sebuah tangan menepuk pundakku. Bagus! Halusinasi yang lain lagi. Apa kali ini ada zombie yang akan memakanku hidup-hidup? Kurasakan hentakan kuat saat seseorang memutar tubuhku.

Wajah Kak Baran memenuhi pandanganku. Cakep dan gagah. Aku menelan ludah. Dia terlalu tampan untuk sekedar ilusi, iya kan? Kulihat kerutan di keningnya. Alisnya yang tebal dan terangkat sebelah. Ini beneran Kak Baran! Sosoknya nyata di depanku.

Tanpa daya aku menatapnya.

“Asma lu kambuh ya?” Nadanya terdengar agak panik. Tangan Kak Baran menyentuh dahiku yang dingin, basah oleh keringat, dan memucat.

Aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi bibirku tidak bisa kugerakkan. Tubuhku masih sekaku papan. Seolah tatapan cewek mati di atas pohon telah membekukan aku, membuatku menjadi batu. Mungkin kah dia keturunan Medusa? Cewek mati itu? Atau aku saja yang terlalu banyak membaca cerita bodoh tentang dewa dewi Yunani, dan itu mengaburkan pikiranku.

Apa aku kembali gila?

Pemikiran ini membuatku panik. Dan itu membuatku semakin sulit bernapas. Tenggorokanku mulai mengeluarkan suara-suara tercekik, seperti sapi yang hendak dipotong saat hari raya kurban. Lalu kurasakan tangan kokoh Kak Baran mengusap rambutku. Dan tangan satunya merogoh kantung celanaku. “Tenang Pan! Tarik napas dalem-dalem, oke,” gumam Kak Baran lembut. Cowok itu berdiri cukup dekat untuk memberiku rasa aman, tapi cukup jauh sehingga aku tidak perlu berebut oksigen dengannya. Dia mampu membuatku rileks. Sikapnya seperti seorang profesional. Seolah Kak Baran sudah ratusan kali menangani kasus serangan asma.

“Kakak gak bakal biarin lu kenapa-napa. Jadi lu harus tenang.”

Tangan Kak Baran menarik sesuatu yang keras, dingin dan berbentuk seperti tabung dari dalam kantung celana. Inhaler-ku! Dengan sigap Kak Baran menyumpal benda itu ke mulutku. Rasa lega menjalar ke rongga dada. Mataku setengah terpejam. Tubuhku masih terasa lemas, rasanya ingin pingsan, tapi aku tahu aku bisa melewati ini.

“Lu gak apa-apa Pan?” tanya Kak Baran beberapa saat kemudian. “Apa perlu kakak anter ke rumah sakit?”

Aku menggeleng.

Kak Baran menepuk-nepuk bahuku. “Lu bikin Kak Baran khawatir aja sih!” dia mengomeliku. “Untung tadi kakak lihat!”

“Maap,” kataku lemah.

“Emang lu ngapain sih bengong di luar? Ini kan udah malem. Dingin banget! Lihat tuh, sampe asma lu kumat kayak tadi!” Sambil menggerutu Kak Baran setengah menyeretku masuk ke dalam rumah. Wajahnya terus menampakkan raut cemas hingga dia mendudukkan aku di sofa ruang tamu dan mengambilkan aku minum.

Aku meminum airnya dengan rakus. Tapi tidak menjawab semua pertanyaannya. Karena tak mungkin kan aku mengaku sama Kak Baran kalau aku tadi mendengar suara ratapan dari tiap sudut rumahku dan menemukan sesosok cewek bego yang gantung diri di pohon? Mungkin aku sudah gila, tapi aku tidak segila itu untuk mengaku padanya! Mengaku soal kegilaanku, maksudnya, bukan yang lain. Karena jelas aku tidak mungkin ngaku aku suka padanya.

Bisa-bisa Kak Baran menjauhiku seperti sumber penyakit, iya kan?

“Lu sendirian ya Pan?” Kak Baran kembali bertanya. “Kayaknya Om Indra bakal pulang malem deh, sama tuh kayak bokap gua.”

“Rapatnya kan bareng-bareng kak,” sahutku.

Cowok itu tampak berpikir sejenak. “Kak Baran di sini aja deh, nungguin lu,” ujarnya. “Nanti kalo asma lu kambuh, sapa yang liatin?” Boleh juga tuh alasannya. Aku sih jelas tidak menolak kalau Kak Baran mau jadi babysitter dadakan.

“Emang Kak Baran gak sibuk?” tanyaku pura-pura.

“Kakak niatnya mau ngerjain tugas sih, pas kita pulang tadi, eh gak taunya ada si Aldo yang bikin repot!” Cowok itu bersungut-sungut.

“Loh, Kak Aldo ditinggal di rumah kakak gara-gara aku dong?” Aku jadi tidak enak. “Aku gak apa kok kak. Lagian aku kan selalu bawa inhaler.”

“Tenang aja Pan. Si otak sapi udah ngacir dari rumah kakak. Dia kan lagi jadi buronan!” Kak Baran nyengir lebar.

“Hah?”

Kak Baran angkat bahu. “Gak perlu dibahas, bikin pala sakit aja entar!”

“Terus?”

Cowok itu kembali cengar-cengir. “Ya gak pake terus-terus.” Dia terkekeh. “Kak Baran ambil laptop sama modul dulu ya, sekalian ngerjain tugas di sini. Lagian internet rumah kakak lagi diputus gara-gara Ayah lupa bayar. Jadi kan bisa sekalian make wifi rumah lu.”

“Ish, niatnya jagain aku apa numpang wifi gratis?” Aku terbahak menggodanya.

“Ah, lu sama calon kakak ipar perhitungan amat!” protes Kak Baran. Tangannya mengacak-acak rambutku.

Aku melirik ke atas, pada tangannya yang kokoh, yang kini lagi bersarang di pucuk kepalaku, tapi tidak berkomentar. Aku jadi teringat kucingnya Lana. Minho kadang mendengkur dan berguling-guling manja jika aku menyentuh belakang telinganya. Dan ini lah yang kini kurasakan. Konyol, aku tahu. Masa aku pengen guling-guling di depan Kak Baran, cuma karena dia mengacak-acak rambutku. Pikiran ini membuatku malu.

“Lana belum pulang ya kak?” tanyaku mengusir jauh-jauh pikiran tadi.

“Belum. Dia pasti keluyuran dulu sama Lastri, mentang-mentang bokap gak ada. Mungkin dia besok gak sekolah. Kalian cuma class meeting kan?”

“Iya kak, Jumat udah bagi rapor.”

Kak Baran mengangguk. “Ya udah, tunggu bentar ya, dari tadi lupa terus mau ambil laptop. Kapan selesenya tugas kakak!”

Aku tertawa sambil mengawasi punggung Kak Baran menghilang di balik pintu.

***

Bahkan setelah Aldo menghilang ke luar kota, masalahnya tetap saja membuatku terseret-seret. Bang Imron datang ke rumahku malam itu. Setengah jam setelah kepergian Aldo. Dua puluh menit setelah aku memindahkan laptop dan buku-buku kuliahku ke rumah Pandu.

Bar, gua di depan rumah loe, keluar sekarang!

Begitulah isi pesan singkat Bang Imron di hapeku. Aku mengernyit. Pesannya bernada kasar. Sepertinya cowok itu benar-benar naik pitam. Kuharap dia tidak lepas kendali. Bukannya aku takut sama Bang Imron. Aku cuma tidak mau Pandu panik melihatku baku hantam. Lagian kena tendang juara taekwondo bukan perkara sepele.

“Eh, gua keluar bentar ya, temen gua dateng, ada perlu sedikit,” kataku.

Pandu yang duduk manis di sebelah sambil baca-baca buku kuliahku mengangguk. “Santai aja kak, gak usah buru-buru. Aku kan bukan anak kecil. Gak perlu dipelototin terus setiap menit!” Bocah itu tertawa renyah.

Setelahnya aku menemui Bang Imron. Untung lah, meskipun sikapnya dingin dan agak kasar, Bang Imron tidak melewati batas dan cari gara-gara denganku. Aku berusaha mewakili Aldo untuk minta maaf dan membujuk Bang Imron biar emosinya reda. Kurasa itu gak terlalu berhasil, jadi aku bakal nelepon sahabatku, si otak sapi, dan nyaranin dia buat ngilang dulu sementara waktu. Gimana pun aku gak tega ngeliat muka cakep Aldo jadi bonyok. Dia kan tetap sahabatku, iya kan? Meskipun dia egois dan suka bikin kesal. Kadang aku sendiri heran kenapa aku bisa sabar sama Aldo. Padahal sodara bukan, gebetan bukan, entah lah.

Aku kembali ke rumah Pandu setelah urusanku dengan Bang Imron selesai dan seniorku itu pergi. Saat tiba di ruang tengah, kudapati Pandu sedang mengubek-ubek laptopku. Darahku seperti membeku. Aku berusaha mengingat apakah aku menyimpan hal yang tidak seharusnya kusimpan di sana. Bokep gay, misalnya. Atau gambar cowok pamer perut six-pack, tahu kan, hal-hal semacam itu. Seingatku sih laptopku aman. Tapi tetap saja Pandu sudah melanggar privasiku! Itu membuat tulang punggungku terasa dingin. Gimana kalo dia sampe tahu?

“Lagi ngapain?” tanyaku kaku.

Pandu terlonjak. Dia terlihat gugup. Kurasa Pandu melihat kesal tercetak di wajahku. “Maap kak, aku baca paper Kak Baran gak pake ijin dulu.”

“Masa?” Aku buru-buru mengecek laptop. Layarnya masih sama seperti saat aku tinggalkan tadi. File word tugas kuliahku, halaman facebook di browser, dan itunes yang berisi playlist lagu-lagu country. Saat ini lantunan suara berat Jon Pardi menyanyikan lagu Head Over Boots terdengar dari speaker laptop.

“Lagunya bagus, liriknya romantis ya kak,” Pandu berkomentar.

Aku mengangguk sambil menyebut judul lagu serta nama penyanyinya. Bocah itu manggut-manggut. Tanpa suara aku kembali meliriknya. Pandu terlihat seperti tidak enak padaku.

Sejenak kami terdiam dalam hening.

“Kak Baran marah ya?” tanya Pandu takut-takut.

“Kakak gak suka barang kakak diobrak-abrik orang,” jawabku singkat.

“Maap kak.” Bocah itu menundukkan kepala. “Aku tadi penasaran waktu baca judul paper kakak.” Dia berusaha menjelaskan. “Emang dulu di kota ini pernah ada pembunuhan berantai anak kembar ya?”

Aku menatap Pandu sangsi. Apa bocah ini sedang mengalihkan isu, pura-pura baca paperku, padahal kepo ngubek-ngubek isi laptop?

“Kok tiba-tiba lu jadi tertarik?” tuduhku.

Wajah Pandu mengernyit. Dia seperti ragu menimbang-nimbang sesuatu. Akhirnya dia buka suara juga. “Karena aku pun kembar,” jawabnya.

Aku terperanjat. “Kok gua gak pernah tahu?”

“Ceritanya panjang.” Pandu menggeleng, terlihat enggan bicara.

Alisku terangkat, mendesaknya tanpa kata.

“Bunda membawa kembaranku waktu dia pergi.” Pandu akhirnya mengalah. “Aku gak mau cerita, soalnya takut Kak Baran bakal nuduh aku cengeng.” Matanya menerawang. “Aku gak pengen terlihat buruk di depan kakak,” tambahnya lirih.

Aku mengerutkan kening. “Lu beneran kembar?” tanyaku seperti orang bego. Ya ya ya, jelas ini bukan pertanyaan paling berbobot di dunia. Tapi aku tidak berani menanyakan hal yang ingin aku tanyakan padanya.

Mungkin cuma pikiranku saja. Tidak semua hal bisa kita tanyakan semudah itu.

“Masa aku bohong?” Pandu tertawa.

“Terus gimana kalo lu malem-malem diculik, terus dipotong-potong?” aku bertanya dengan mimik serius.

“Ish, Kak Baran kumat isengnya!” protes Pandu. Gelak tawanya terdengar manis di telingaku. “Nanti kalo kejadian beneran Kak Baran nyesel!”

“Tenang aja, kalo ada pembunuh berantai yang berani ngincer lu, bakal gua mutilasi duluan sebelum dia sempet motong-motong badan ceking lu,” aku berseloroh.

“Aku enggak ceking!”

“Iya, cuma agak kurus, sampe tulangnya nonjol semua.”

Pandu terbelalak. “Kata Lana, bodiku atletis!”

“Itu karena dia suka sama lu, wajar lah kalo dia muji-muji lu setinggi langit,” godaku. “Lagian omongan Lana lu dengerin, sama aja percaya demit!”

Pandu menggertakkan gigi. Di luar dugaan, bocah itu melepas sweaternya sambil mendelik tidak mau kalah. “Coba Kak Baran cek nih, tulangku gak ada yang nonjol satu pun!” Pandu menunjuk dadanya yang telanjang. Aku menelan ludah. Tentu saja Pandu tidak ceking. Aku cuma suka melihat reaksinya setiap kali aku mengejeknya begitu.

Terus terang setahun ini tubuh Pandu makin jadi. Dia bahkan hampir setinggi aku sekarang. Meski dari luar terlihat kurus, bocah ini punya bentuk tubuh yang bagus. Dadanya memang tidak membusung dan perutnya tidak kotak-kotak, tapi lekukannya bagus dan terlihat samar-samar. Ini sedikit bikin jengkel. Karena Pandu sama sekali tidak sering olahraga. Satu-satunya aktivitas yang dia lakukan cuma lari pagi dan naik sepeda. Itu pun selalu bersama Lana. Kurasa dia cukup beruntung mewarisi gen atletis dari ayahnya.

“Pake lagi tuh baju! Entar Om Indra pulang, dikira gua mau perkosa lu!” kataku asal.

Pandu tergelak. “Abis Kak Baran nyebelin. Sembarang nuduh aku ceking!”

“Iya, iya gua percaya, bodi lu keker kayak Ade Rai! Pantes Lana klepek-klepek kalo liat lu, di rumah aja dia sering ngences kalo ngomongin bodi keker lu!”

“Gak segitunya juga kali!” Pandu mengomel sambil mengenakan kembali sweaternya. “Sakit emang, dengerin ejekan Kak Baran!”

“Aish, ngambek.”

“Bodo!” Pandu manyun.

Aku terbahak-bahak. Tidak biasanya Pandu bersikap begini. Selama ini dia selalu kalem dan, apa ya kalimat yang tepat, sedikit menahan diri di depanku. Ya, dia emang selalu bersemangat saat bicara padaku. Tapi rasanya jauh dari kesan akrab.

Sikapnya selalu formal. Terlalu sopan. Seolah dia mengekang dirinya dan tidak ingin terlalu dekat. Seolah ada tembok tak terlihat yang membatasi hubungan kami.

Baru kali ini Pandu menunjukkan sikap bermanja-manja. Dan sedikit tidak masuk akal juga. Pandu yang selama ini kukenal tak mungkin melepas bajunya cuma gara-gara aku ejek ceking. Paling dia hanya akan menyuarakan protes dan tersenyum sabar.

Tingkahnya malam ini membuatku bingung. Dari terbengong-bengong di depan pohon, lalu bersikap lepas, tanpa beban padaku. Bukan berarti aku tidak suka. Justru sisi lain Pandu yang manja begini membuatku senang. Rasanya seperti punya adik cowok.

Meskipun kasar, Lana kan suka manja padaku. Aku tak akan mau mengaku, tapi aku senang memanjakan adikku. Dan menggodanya juga sih. Aku terbiasa punya adek cewek. Tambahan seorang Pandu pasti bakal menambah warna dalam hidupku. Maksudku, ada hal-hal tertentu yang tidak bisa kamu lakukan bareng adek cewekmu, ngerti kan?

Dari dulu aku kepengen punya adik cowok. Sayang, Ayah dan Ibu tak pernah merealisasikan janji manis mereka.

Melihat bocah itu bersungut-sungut membuat kesalku padanya menguap. Pandu melihatku nyengir. Dia akhirnya berhenti merengut dan ikut tersenyum. “Aku senang Kak Baran udah gak marah lagi,” katanya.

“Gua emang gak marah kok,” aku mengelak.

“Ah, masa,” gumamnya tak percaya.

“Cuma kezeel aja.”

“Alay!” Pandu mengerang. “Kak Baran tuh gak cocok ngomong alay, entar kerennya luntur. Wibawanya ilang.”

Aku angkat bahu cuek sambil kembali ngerjain tugas. Pandu duduk di sebelah sambil ngintip paperku. Tidak lama kemudian hapenya berdering.

“Kok dimatiin?” Aku mengerutkan kening saat Pandu melirik layar hapenya, lalu tanpa ragu menekan tombol reject.

“Arkan,” jawabnya enteng, seolah satu kata itu berjuta makna.

“Arkan yang itu? Sohib lu di Bandar Lampung?”

Pandu mengangguk.

“Kalian lagi marahan?” tanyaku.

Pandu menggeleng.

“Tapi lu nge-reject teleponnya?”

“Ish, Kak Baran kepo,” gumam bocah itu. Hapenya kembali berdering. Lagi-lagi Pandu tanpa basa-basi mematikan sambungan.

Aku menaikkan sebelah alisku ke arahnya. “Jadi?” cecarku.

Kali ini Pandu tertawa. “Kami janjian mau Skypean jam sepuluh, dan ini masih jam sembilan lewat empat puluh lima.”

“Harusnya diangkat aja. Sapa tau penting.”

“Aku tahu gak ada yang penting, makanya gak aku angkat. Arkan selalu begitu, dia suka ganti jadwal seenak jidat. Aku cuma mau mendisiplinkan dia aja.”

“Lu kata anjing, pake didisiplinin segala.” Aku tertawa geli.

“Dia lebih bandel dari dogi.”

“Bandel-bandel tapi lu nya sayang kan,” godaku. “Buktinya waktu lu pertama pindah ke sini, yang lu telepon itu dia. Sumpah, Kak Baran gak nyangka, kirain waktu itu lu nelpon cewek. Eh, kagak tahunya dia malah nelpon cowok!”

“Arkan kan sahabatku!” protes Pandu sengit. “Lagian aku gak punya cewek.”

“Gak punya cewek, pastinya bukan karena gak laku kan,” aku kembali menggodanya. Pandu merona merah. Isengku makin jadi melihatnya. “Kalo cewek seunyu Lana aja lu tolak, gimana cewek lain berani deketin lu.”

Pandu membuang muka. “Lana cerita ya kak?”

“Lana itu, meski dia galak-galak begitu sama gua, selalu curhat sama abangnya ini,” jawabku. “Yah, gua sebetulnya kecewa sama lu Pan. Padahal gua ngarep banget lu jadi adek ipar gua. Si Lana kan nurut sama lu, nah kalo kalian jadian, lu bisa jadi pawangnya, biar Lana gak beringas amat sama gua. Eh, tapi malah lu tolak. Tega bener lu ini.”

“Kak Baran ngaco!”

Aku tersenyum jahil. “Lu sama Arkan, deketan mana sama lu ke Lana?”

“Maksud kakak?” Dahi Pandu berkerut.

“Ya, mereka berdua kan sama-sama sohib lu, mana yang lebih deket?”

“Aku sama Arkan udah sahabatan dari kelas tujuh. Aku baru kenal Lana kelas sembilan, jadi menurut Kak Baran gimana?” dia balik bertanya.

“Lu sama Arkan deket banget deh kayaknya,” gumamku.

“Emang Kak Baran sama Kak Aldo gak deket? Perasaan tuh Kak Aldo lebih sering ngapel ke rumah kakak, dibanding ke rumah pacar!”

Aku terbahak. “Pacarnya yang mana yang lu maksud?”

“Iya juga, Kak Aldo kan playboy.” Pandu garuk-garuk kepala sambil nyengir.

“Tau dah, pusing gua sama Aldo. Otak sapi, playboy cap badak pula, bikin orang susah!” aku menggerutu.

“Tapi Kak Baran tetep sayang kan,” Pandu membalasku. “Buktinya kakak tahan ngadepin dia, selalu turun tangan kalo Kak Aldo dilabrak mantan.”

“Ah, lu, kagak mau kalah amat. Sekali-sekali ngalah sama yang tua.”

“Terbalik dong, yang ada Kak Baran tuh yang harusnya ngalah sama aku. Masa anak kuliah lebih ngotot dari anak SMA!” Pandu memutar mata.

Aku tertawa dan mengacak rambut di dahinya. Pandu melirik tanganku tapi tidak komentar. “Coba gua punya adek cowok kayak lu,” gumamku.

Pandu terdiam menatapku. Aku kembali angkat bahu cuek dan meneruskan tugasku. Bocah itu lalu bertanya. “Kak Baran sama Kak Aldo pernah berantem gak?”

“Sering,” jawabku sambil mengetik sebuah kutipan teori dari buku modul.

“Berantem yang beneran berantem?”

Tanganku berhenti menekan keyboard. “Emang ada berantem yang gak beneran? Aneh deh pertanyaan lu.”

“Maksudnya, yang bener-bener serius, sampe gak setegoran gitu.”

Dahiku berkerut. Aku melamun sejenak, memikirkan suatu insiden tak mengenakkan di masa lalu. “Pernah sekali,” kataku gusar. “Aldo gak sengaja melanggar privasi, terus dia gua hajar sampe idungnya berdarah! Itu masuk itungan gak?”

“Wew, Kak Baran galak juga ternyata.” Pandu menelan ludah. “Untung aku tadi gak ditonjok sampe berdarah-darah!”

“Ngapain juga nonjok lu?” Aku kebingungan.

“Yaa, tadi kan aku gak sengaja baca paper kakak, gak bilang-bilang dulu.”

“Itu sih beda,” bantahku. “Lagian semarah-marah gua sama lu, mana mungkin lu gua tonjok sampe berdarah. Gua ngeri ah sama Om Indra, entar dia pencak silat, bonyok lagi muka tampan gua ini. Rugi amat!”

Pandu terkekeh. “Kak Baran bisa aja.” Dia lalu cerita. “Aku juga pernah marahan sama Arkan. Kami gak setegoran setengah tahun.”

“Wew, lama amat marahnya, dia nelikung gebetan lu?” tebakku asal.

Pandu kembali terbahak. “Cuma karena salah paham,” dia mengenang. “Tapi sudahnya, kami malah jadi tambah dekat.”

Aku mengangguk. “Emang begitu Pan. Yang namanya hidup itu harus ada cobaan, kalo bisa kita lewati bareng-bareng sama temen, nah kita jadi tahu mereka itu seperti apa. Nanti keliatan tuh mana temen mana bukan.”

Pandu menghela napas. Tatapannya menerawang. Dia terlihat sedih. “Arkan udah lulus test, dan dia sahabat terbaikku.”

“Lu dapet soulmate, tapi malah manyun?”

Pandu tersenyum tipis. “Aku dan Arkan, hubungan kami sedikit rumit,” akunya lirih.

Aku kembali ingin menanyakan sesuatu pada Pandu. Namun lagi-lagi kutelan tanda tanya itu. Kurasa ada hal-hal yang selamanya lebih baik tidak dibahas.

***

“Elu tuh harusnya cerita soal itu ke Om Indra!” Arkan mengomeliku, yang sama sekali tidak biasa terjadi. Biasanya kan aku yang mengomel padanya. Karena dia kan sudah seperti adikku yang super bandel dan tidak bisa diatur. Sekarang cowok tengil ini bersikap seolah sedang bicara sama kakaknya yang usil dan pantas dimarahi.

“Lo bener-bener menikmati ini, iya kan?” tuduhku.

“Apaan?” tanyanya pura-pura bego.

“Udah berapa lama lo pengen bales marahin gua?”

Arkan langsung cengengesan. “Ternyata begini rasanya jadi abang yang ngomelin adeknya!” Cowok itu terkekeh. “Puas banget! Pantesan elu seneng bener nasehatin gua, ngomel-ngomel sama gua!” Dia berdecak. Tampangnya menuduh.

Aku ikut tertawa. “Tapi kalo keseringan ngomel, pusing juga kali, Kan. Yang ada entar darah tinggi. Kayak gua ngadepin tingkah lo!”

“Ah, gua kan selalu nurut ama elu, bro!” protes sahabatku.

“Nurut dari Hongkong!” Aku mendengus.

Sejurus kemudian wajah Arkan kembali serius. “Tapi kali ini gua marah beneran bro. Elu kan ngedenger bisik-bisik, sampe ngeliat kuntilanak gantung diri di pohon, ini kan gak maen-maen bro! Gimana kalo schizophrenia elu kambuh? Gua pernah baca di internet, itu kan kadang bisa balik lagi. Elu tuh harusnya langsung ngecek sama psikiater elu itu, lupa gua namanya. Minimal elu ngomong sama bokap elu!”

“Dokter Bambang?” kataku. Dia psikiater yang sudah menangani kasusku sejak aku sembilan tahun. Orangnya sudah berumur. Baik dan pengertian. Ya, kurasa semua psikiater pasti begitu, kan mereka menjual rasa aman.

“Iya, dokter itu. Entar kalo elu ke Bandar Lampung buat konsul sama dia, gua pasti nemenin elu. Tinggal bilang aja. Gua kan udah bisa bawa motor,” Arkan menawarkan.

Aku memutar mata. “Inti ucapan lo barusan tuh, lo cuma mau sombong ke gua kalo lo udah bisa bawa motor, iya kan?”

Arkan kembali cengengesan. “Itu juga sih,” akunya. “Tapi serius ini, Pan. Gua beneran cemas sama elu. Gua gak pengen elu tuh kenapa-kenapa. Kalo elu ada di posisi gua, gua tahu elu juga pasti ngelakuin hal yang sama.”

“Gua gak gila bro,” ucapku pelan. “Kan elu sendiri yang dulu pernah bilang ke gua, kalo gua tuh lebih waras dari kebanyakan orang.”

Arkan mendesah. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri, setengah frustasi. “Bukan gitu Pan. Elu tuh emang waras. Banget malah! Gua kan gak bilang kalo elu gila atau apa. Cuma, kadang orang paling waras pun bisa kena masalah, iya kan? Halusinasi elu tuh termasuk masalah. Apa salahnya sih mencari solusi buat masalah elu?”

Aku terdiam menatap layar komputer desktopku, pada wajah Arkan yang terlihat khawatir. Bahkan meskipun kami cuma video call lewat Skype, aku bisa melihat ketulusan di wajahnya. Tidak diragukan lagi, Arkan benar-benar peduli padaku. Sama seperti aku selalu peduli padanya. Bukankah Aristoteles pernah bilang, sahabat itu satu jiwa dalam dua tubuh. Aku dan Arkan bisa dibilang begitu. Sahabat sejati. Kami sudah berteman sejak kelas tujuh. Sudah pernah berkelahi dan saling menyakiti. Bahkan meskipun aku kini pindah ke kota lain, kami masih terus berhubungan. Dan Arkan masih jadi sahabat terbaikku.

“Tumben omongan lo bijak,” gumamku.

Arkan tersenyum lemah. “Ini soal elu, Pan. Jelas gua harus serius. Gua minta sangat bro, elu cerita sama bokap.” Tampaknya dia masih belum mau menyerah.

Aku mengangguk. “Kalo asma gua kambuh lagi waktu ngeliat kuntilanak sialan itu, gua bakal cerita ke bokap,” kataku mencari jalan tengah.

“Ah, elu bro! Giliran gua yang nasehatin, elunya malah ngelak!”

Aku cuma bisa cengengesan saat ditatap seperti itu oleh Arkan.

Jujur aku masih enggan cerita ke Ayah soal ini. Aku takut membayangkan responnya seperti apa. Aku masih ingin mempertahankan status quo hubungan kami, aku dan ayahku. Karena kondisi saat ini cukup ideal. Ayah menyayangiku. Kami banyak mengobrol. Dia lebih jarang lembur dan lebih sering memperhatikan aku, tapi di sisi lain, tidak khawatir berlebihan seperti yang dia tunjukkan di bulan-bulan awal setelah insiden percobaan bunuh diriku yang gagal.

Aku cuma tidak ingin membuat Ayah cemas. Tapi akibatnya, aku malah membuat sahabatku khawatir. Ini kah yang namanya bagai makan buah simalakama?

Arkan terlihat masih belum puas, tapi berhenti memaksaku.

Jadi aku mencoba mengalihkan isu. “Kan, percaya gak, gua bakal nembak Kak Baran besok?” gumamku setengah melamun.

Tampaknya itu berhasil. Arkan terbelalak.

“Elu mau nembak si Banteng? Elu jangan gila, Pan!” serunya. “Maksud gua, jangan kemakan emosi bro. Ini topik kan sensitif banget. Cowok nembak cowok loh! Salah-salah malah jadi disaster buat elu. Gua gak pengen masalah elu nambah lagi.”

Aku meringis mendengar reaksi Arkan. Ucapannya tidak membuatku tersinggung. Aku tahu apa yang dia maksud. Karena aku pun tidak gila dan sembarang nembak cowok begitu saja, secinta mati apapun aku sama cowok itu. Aku tidak berniat cari masalah. Salah-salah aku bisa kena buli dan jika rahasiaku tersebar, mungkin kali ini aku bakal mengiris tangan kananku. Biar lengkap kanan kiri ada bekas sayatan.

“Gua yakin sembilan puluh lima persen Kak Baran juga suka sama cowok,” gumamku. “Atau setidaknya dia biseksual.”

Kedua mata Arkan memicing. “Elu tahu darimana?” tuntutnya.

“Tadi Kak Baran nemenin gua karena bokap lembur.”

So sweet amat,” komentar Arkan sinis. “Terus elu pikir si Banteng suka cowok cuma gegara itu doang? Pandu yang gua kenal gak selugu ini bro! Otak elu tuh konslet, mata elu dibutakan sama cinta! Kemana perginya sohib gua yang licik kayak uler?”

“Anjir lu, pake acara ngatain gua segala!”

“Itu benar, jadi gak perlu dibahas!” tudingnya. “Intinya elu harus bangun dari mimpi elu bro! Banteng nemenin elu karena dia takut asma elu kambuh lagi, sesimpel itu, bukan karena gegara dia suka cowok! Apalagi suka sama elu, ups!” Kedua tangan Arkan membekap mulutnya sendiri secara berlebihan. Hadeh, kebanyakan nonton sinetron nih bocah!

“Belum juga ceritanya beres, mulut lo maen nyangap aja,” aku bersungut-sungut.

Arkan cemberut. “Gua gak suka elu ngedeketin si Banteng! Dia terlalu tua buat elu. Mending elu cari yang seumuran.”

“Empat tahun itu cuma selisih dikit kali.”

“Gua tetep gak setuju!”

Aku angkat bahu pasrah. “Lu mau denger cerita gua apa enggak?” aku mengalihkan isu. Aku tahu Arkan selalu protes soal perbedaan usia antara aku dan Kak Baran. Padahal cowok itu masih sekedar gebetan. Hadeh. Kalau aku nembak Kak Baran dan dia menerimaku, aku tidak yakin seperti apa reaksi Arkan nanti.

Tentu ini cuma asumsi dengan kata ‘jika’ besar-besar. Aku bahkan tidak seratus persen yakin Kak Baran suka sama cowok, apalagi sama aku.

“Iya, gua dengerin,” jawab Arkan jutek.

“Jadi gini bro…”

“Dia nyipok elu?” tebaknya asal.

“Kok tahu? Sejak kapan lo jadi cenayang?” aku membalas.

“Anjir! Elu beneran dicipok sama dia?” Mata Arkan membelalak. “Kampret! Gua aja belum pernah kesampean nyium elu!” tambah Arkan sedikit ngaco.

Aku mendelik padanya. “Jangan ngayal aneh-aneh!”

“Terus?”

“Terus apanya?”

“Kejadiannya gimana?” Arkan terlihat tidak sabar. “Di pipi apa di bibir?”

Aku terbahak-bahak. “Ngaco lo Kan, gak tahu apa gua cuma becanda? Gua curiga sama Kak Baran, soalnya dia nyimpen bookmark blognya NampanBoy. Lo inget kan, blog cerita gay yang dulu pernah gua tunjukin ke lo itu. Gua gak sengaja lihat di browser laptopnya waktu Kak Baran pergi ke luar sebentar.”

“Hah, blog cerita gay?”

Aku mengangguk. “Coba lo pikir, Kan. Emang ada cowok normal yang nyimpen alamat blog yang isinya begitu?” kataku penuh semangat. Ya, ampun, aku tahu ini salah. Jahat banget kan, aku begitu senang membayangkan Kak Baran mungkin suka juga sama cowok. Seperti aku. Bukankah ini sama saja aku senang melihat dia sakit gigi atau terkena malaria, iya kan? Cinta terkadang membuat kita jadi egois. Aku mendoakan hal yang buruk untuknya.

Arkan menggigit bibir. Dia terlihat seperti tidak senang. “Elu bener, itu gak wajar! Mungkin persentasenya lebih dari sembilan puluh lima persen, si Banteng juga maho. Dan artinya gua harus ngucapin selamet buat elu Pan. Soalnya gua gak yakin ada cowok yang bisa tahan sama pesona elu. Elu tuh cowok pelangi paling unyu-unyu.”

Aku tersedak medengar komen Arkan. Cowok pelangi? Unyu-unyu? Whaaat? “Gua gak suka dibilang unyu!” protesku. “Rasanya kurang jantan.”

Arkan tertawa. “Tenang aja bro, elu emang unyu, tapi masih tetep ‘cowok’ kok.”

“Sialan lo!” aku bersungut-sungut.

Arkan berhenti tertawa. Wajahnya terlihat muram. “Kalo elu nanti pacaran, apa elu masih bakal nanggepin telpon dari gua? Apa elu masih ada waktu buat ngobrol sama gua?” ucapnya pelan. “Tadi aja pas gua nelpon, elu matiin gara-gara lagi sama Banteng.”

“Yaelah bro, nembak aja belum, lo udah ngomongin pacaran. Kejauhan kali!”

Arkan tak menanggapi, cuma tersenyum tipis dan angkat bahu dengan sikap kalah. Aku jadi serba salah melihatnya begitu.

“Potongan rambut lo baru ya, Kan?” Aku kembali mengalihkan isu. Dulu rambut Arkan cukup panjang dan bergaya, sekarang potongannya jadi lebih simpel, Caesar haircut dan di-spike. Dia jadi terlihat lebih gagah. Terutama setelah tubuhnya bertambah tinggi dan bobotnya sedikit naik. Arkan cukup kekar untuk ukuran cowok ramping. “Lo kelihatan lebih cakep,” aku memuji.

“Masa sih?” Dia menyentuh rambutnya sekilas.

“Yap.” Aku mengangguk. “Terus jerawat di pipi lo pada kemana, Kan? Lo abis perawatan ya? Ganjen amat!”

“Njir! Tuduhan elu bro!” Arkan meringis. “Masa-masa gua mendem rasa suka gua diem-diem buat seseorang udah lewat. Jadi jerawat-jerawat ini udah gak gua butuhin lagi. Mereka pergi sendiri bro. Prosesnya alami!”

Aku terbahak mendengar ucapannya yang menyentil. Dulu Orion Arkan Al-Jauza pernah suka padaku. Bahkan mungkin masih sampai sekarang, entah lah.

“Lagian elu baru komentar, orang tuh dari tadi kalo mau muji!” gerutunya.

“Yaaa, tadi kan jatah gua cerita, ini baru giliran lo,” aku membela diri.

“Gua gak ada cerita apa-apa bro. Hidup gua adem ayem aja di sini. Gak kayak hidup lo yang penuh drama di sana!”

Sebelah alisku terangkat. Kuberi dia tatapan tajam dengan kening berlipat tiga. Arkan terlihat kurang nyaman kuperhatikan begitu. “Elo sama Nadia lagi ada masalah ya bro?” Cewek itu pacarnya Arkan yang dulu sempat suka juga padaku. Lucu emang, Arkan dan Nadia pernah suka padaku, dan kini mereka malah pacaran.

“Stop baca pikiran orang!” erangnya.

Aku menghela napas. “Jadi bener,” desahku. “Coba lo cerita sama abang lo ini, sapa tau gua bisa kasih masukan?”

“Gua kadang ngeri sama firasat elu Pan. Tebakan elu tuh OP banget. Mungkin gua bisa minta elu nebak nomor togel online biar gua kaya mendadak.” Arkan tertawa dipaksakan.

Aku mengabaikannya. “Jadi?”

“Jadi apa?”

“Gua pikir kita gak saling nyimpen rahasia?” tanyaku perlahan.

Arkan terdiam. “Gua berantem sama Nadia,” akhirnya dia mengaku. “Tepatnya sih gua yang bersikap brengsek dan menjauh. Kadang gua ngerasa gak layak dapet cewek kayak Nadia. Harusnya dia bisa dapet cowok yang lebih baik dari gua.”

Aku memijat pelipisku. Sebetulnya aku sudah bisa nebak ke arah mana pembicaraan ini akan bermuara. “Ini gara-gara gua, iya kan?”

Arkan tersenyum lemah. “Gua udah berusaha Pan. Segala cara udah gua coba, biar gua bisa ngelupain elu. Tapi rasanya mustahil. Gua selalu merasa bersalah sama Nadia.”

“Tapi lo masih suka sama dia. Gua inget kok gimana lo pontang panting gombalin Nadia buat jadi pacar lo,” kataku lembut.

“Manusia itu mahluk yang serakah ya, Pan. Gua uda punya Nadia, dan gua gak pernah ragu, kami saling menyayangi, itu benar. Tapi kenapa sih gua selalu mikirin elu juga? Gua begitu egois, ini cuma sebatas di pikiran, tapi gua tetep udah menduakan cinta Nadia buat gua, iya kan bro?” Arkan kelihatan seperti tertekan. Lalu dia kembali membuat pengakuan. “Gua mimpiin elu Pan, dan itu gak cuma sekali dua kali,” desahnya merana, tidak berani menatapku.

Aku ternganga. Ya, ampun, kurasa masalahnya lebih pelik dari yang kukira. “Di mimpi lo itu, gua apa lo yang di bawah?” tanyaku geram. Dasar bocah laknat!

Arkan cengar-cengir gelisah. “Elu kagak marah bro?”

“Tergantung jawaban lo, dan gua ingetin, lo gak bisa bohong!” ancamku.

“Susah emang, punya temen bisa baca pikiran,” keluhnya sambil menyeka keringat di kening. Arkan menyeringai gugup. “Gua di atas dan elu mengerang-erang waktu…”

“Stop, stop, stop!” Aku menutup telinga sambil mendelik galak. “Asal lo tahu, gua bukan bot!” semburku murka. “Dan gua gak bakal ngerang-ngerang! Gak bakalan pernah!”

Arkan mengangkat bahu, seolah tidak berdosa. “Namanya mimpi bro, emang bisa gua atur seenak jidat? Kalo bisa mah, gua pengen durasinya lima season, gua jabanin asal sama elu.” Arkan tertawa mesum. Kami kembali bertatapan. “Lo gak boleh marah sama gua,” ucapnya penuh harap. Oh, God, rasanya aku pengen nyongkel mata sahabatku ini!

“Kata siapa? Kalo ketemu, lo bisa gua potong-potong jadi sarden!”

***

Keesokan harinya aku bolos sekolah. Begitu pula dengan Lana. Jam sembilan pagi dan cewek itu sudah mengetuk pintu kamarku.

“Siapa yang bukain pintu depan?” tanyaku heran waktu Lana menyapaku dan dengan cuek masuk ke dalam kamar.

“Om Indra lah.”

“Loh, emang Ayah belum pergi kerja?” Aku mengerutkan kening.

“Libur kali? Kemaren kan mereka lembur sampe malam,” tebak Lana.

“Leh uga,” gumamku.

“Alay!” Lana memencet hidungku. Dia duduk di ranjang sambil menyapu isi kamar. “Tumben agak rapih, biasanya kamar kamu sebelas dua belas sama kamarku, sama-sama kayak kapal pecah!” Lana tertawa memamerkan sebaris gigi.

“Udah tobat aku, Lan.”

“Bagus lah. Oppa gak bakal sakit pala kalo dia maen ke kamar kamu. Dia kan suka senewen kalo lihat kamar berantakan.”

“Kak Baran terlalu rapi, efeknya kebalikan sama aku. Soalnya aku pusing kalo ngeliat semua serba diatur-atur,” kataku bercanda.

“Sama, makanya kubilang juga apa, kita tuh jodoh!”

Aku diam menatapnya, merasa bersalah.

Lana nyengir. “Tenang aja Pan. Aku udah bisa terima kok kamu nolak aku. Santai aja. Jangan kaku begitu. Kita kan tetap berteman.”

“Maap.”

“Stop! Aku gak suka liat kamu muram gitu,” protes Lana. “Mau ke taman gak? Nyari permen Magikarp. Punya kamu kan belum berubah jadi Gyarados?”

“Emang kamu udah?” tudingku.

“Belum juga sih.” Dia tergelak. “Makanya ini aku ngajak kamu.”

“Alesan aja, kamu tuh selalu ngebantalin aku!” aku pura-pura protes. “Seolah aku yang mau, padahal kamu yang pengen.”

Lana mendelik dan mencubit lenganku. “Jangan banyak ngeluh, kamu kan cowok! Ayo pergi! Kamu gitu aja. Gak usah ganti baju juga udah cakep.”

Aku meringis sambil mengusap bekas cubitan Lana. “Sori, Lan. Hari ini aku lagi gak kepengen jalan kemana-mana.”

“Loh kenapa?” Lana tidak mau menyerah.

“Aku lagi ngerjain proyek.”

“Nerjemahin novel China?” tebak Lana.

“Itu juga, kan itu sumber dana buat kebunku, makanya aku masih bisa beli bibit dan segala macem tanpa harus jadi cowok paling melarat di sekolah.”

“Emang kamu gak pusing liat tulisan China terus?” gerutu Lana.

Aku angkat bahu. “Mana ngerti aku tulisan China. Kan aku tinggal nerjemahin pake machine translator, cuma sedikit kurapikan biar enak bacanya. Lumayan loh Lan, minggu ini aku dapet enam puluhan Dollar, karena ceritanya lagi seru dan banyak yang donasi.”

Lana manggut-manggut. “Kamu emang keren Pan. Udah cakep, pinter bahasa Inggris, bisa nyari uang sendiri, pantes aku suka sama kamu,” dia menggodaku.

“Kalo kamu ngomong lebih dari itu, aku bisa ngilang ditelan bintang-bintang.”

“Gak bakalan. Karena aku bakal nangkep kakimu, sebelum kamu terbang dan kabur dariku.” Lana memeletkan lidah.

Aku terbahak kencang. “Sejak kapan kamu jadi suka gombal?”

“Sejak kamu nolak aku,” jawab Lana kalem. “Kan udah kubilang, kalo pun butuh upaya ekstra untuk berubah jadi Gyarados, pasti bakal kulakukan untuk kamu. I’ll carry the weight, I’ll do anything for you… my bones may break, but I’ll never be untrue… oh, what I wouldn’t do…

“Kok kamu malah nyanyi?” Aku menggosok ujung hidung. Pipiku terasa panas. Ternyata Lana beneran belum mau nyerah soal aku. Ini membuat kepalaku pusing.

“Suaraku gak kalah bagus dari Oppa.”

“Gak nyambung.”

Lana tertawa. “Tadi di luar aku dengar kamu lagi nyanyi. Lagu country kan? Tumben, itu kan bukan lagu kamu banget!”

“Lagu country bagus juga kok kalo didengar-dengar,” aku membantah.

I’m head over heels for you,” Lana menyanyikan lagu yang tadi mau kurekam. “Literally, aku tergila-gila sama kamu.”

“Ish, ganti lirik seenak udel! Harusnya kan over boots!”

“Enggak kok, emang istilah yang benar tuh over heels, tapi penyanyinya aja sok koboi, maen ganti jadi over boots,” cewek itu menggerutu.

Aku ternganga. “Tahu darimana? Bukannya kamu gak suka country?”

Ekspresi Lana berubah-ubah antara geram dan pasrah, seolah lelah dibuli. “Itu lagu kesukaan Oppa. Aku dengernya lebih dari seratus kali sehari, pagi siang malam, coba kamu bayangin, rasanya sampe mau muntah!”

Informasi itu membuatku tersenyum. Kurasa aku tidak salah pilih lagu.

***

Pandu menjatuhkan bom itu di hari Kamis, dua hari setelah malam ketika aku jadi babysitter dadakan. Pagi itu rutinitasku sama seperti biasa. Tidak ada yang spesial. Matahari masih terbit dari timur. Langit pagi masih sama birunya. Intinya aku sama sekali tidak ada firasat apapun.

Aku sedang menerima telepon dari Aldo ketika emailnya masuk. Hah, Pandu membuat video untukku? Dalam rangka apa? Perasaan ulang tahunku masih bulan April nanti. Begitulah pikirku saat membaca isi emailnya.

Omong-omong soal ulang tahun, bukankah hari ini hari lahir Pandu? Aku menelan ludah. Kok aku bisa lupa nyiapin kado! Kakak ipar macam apa aku ini!

“Udah dulu ya, Do. Intinya Bang Imron masih ngamuk sama lu. Jadi lu jangan balik-balik. Bila perlu sampe tahun depan!”

“Ah, elo Bar, PHP doang sama gua! Kemaren elo bilang yakin bisa selesain masalah gua sama Bang Imron!”

“Gua gak janji begitu deh,” sangkalku.

Aldo terus melancarkan sejuta protes. Rasa kecewanya tumpah ruah. Ibarat air, Aldo sudah membuat kamarku terendam banjir. Kupijat urat-urat yang tegang di pelipisku. “Ya ya ya, terserah lu aja, Do!” semburku. Kumatikan telepon darinya.

Sambil kuhela napas, aku mengunduh video kiriman dari Pandu, lalu memutarnya. Kuharap isinya bisa membuatku sejenak melupakan Aldo dan sikapnya yang tak tahu terima kasih. Nyatanya aku salah. Pandu berdehem di layar komputer. Telinganya memerah. Bocah itu lalu bernyanyi diiringi petikan gitar. Kudengarkan dengan seksama. Ini kan lagu country kesukaanku!

Baby, if I was a prince, oh, you would be my king.

Aku terhenyak mendengar liriknya. Apa aku tidak salah dengar?

Entah berapa kali aku memutar ulang rekaman di hadapanku. Aku terdiam dan termenung. Suara Lana tiba-tiba menggema di kepalaku. Meskipun itu Oppa, aku gak bakal kalah dari siapa pun! Meskipun itu Oppa… apakah ini maksud ucapan Lana kemarin?

Pandu suka padaku?

Dan… Lana tahu soal ini? Firasatnya emang selalu tajam. Lalu, apa adikku itu juga tahu kalau abangnya ini…

Kelopak mataku menutup berat. Kurasakan pelipisku berdenyut-denyut semakin parah. Aku merasa mual. Kubanting tubuhku ke atas ranjang. Mataku terpekur memandangi langit-langit kamar tidurku. Suara tenor Pandu tidak bisa hilang dari otakku. Tangannya yang memeluk gitar. Wajahnya yang tampan dan malu-malu. Binar matanya yang penuh harap. Semua itu membuat rongga dadaku bergetar seperti dihantam batang pohon.

Lalu aku kembali teringat percakapanku dengan Lana hari Minggu lalu, saat dia curhat padaku setelah Pandu menolaknya. Meskipun itu Oppa, aku gak bakal kalah dari siapa pun!

Aku meringis. Dentuman di dadaku perlahan menghilang. Tapi gantinya, aku merasakan efek kupu-kupu di perutku. Apa yang harus kulakukan? Sebuah wajah unyu yang membuatku patah hati terbayang di kepala. Aku selalu bertepuk sebelah tangan, iya kan? Aku sudah terima dan sudah bisa move on, iya kan? Lalu kenapa dadaku masih terasa sesak jika aku mengingatnya? Kami tidak pernah ditakdirkan untuk bersama. Seharusnya begitu! Ya, Tuhan, kenapa sih aku suka sama cowok? Kenapa sih aku selalu harus mengekang perasaanku? Kadang, rasanya aku ingin berteriak kuat-kuat. Rasanya aku ingin nangis meraung-raung dan menumpahkan semua emosi di hatiku.

Tentu saja itu tidak kulakukan. Aku kan anak cowok. Dan aku juga anak sulung. Aku tak boleh menunjukkan kelemahanku, iya kan?

Setelah lama mematung, kuambil hapeku. Kutekan nomor Pandu.

“Kak Baran?” Suara tenor Pandu mengalun merdu.

“Kakak udah liat video kamu,” kataku datar.

Napas Pandu terkesiap. “T-terus?” bisiknya gemetar.

“Malam ini kamu bilang ke Om Indra, kalo kamu mau ikut Kak Baran camping di perkemahan pramuka deket danau.”

“Hah? T-tapi… ”

“Gak pake tapi-tapian, entar jam tujuh malem kakak jemput, oke!” Kuputuskan sambungan tanpa memberi Pandu kesempatan untuk protes.

***

Hari itu berlalu begitu saja. Jam demi jam, seolah tidak ada yang berarti bagiku. Selain keluar sebentar untuk membeli sejumlah barang-barang keperluan kemah, dan tidak lupa juga kado buat Pandu, aku lebih banyak menghabiskan waktu melamun di dalam kamar.

Aldo menelepon beberapa kali. Tidak kuangkat. Aku masih kesal padanya. Bang Imron emang masih marah, tapi bukan berarti aku tidak berusaha. Dia saja yang kurang menghargai jerih payahku. Akhirnya Aldo SMS meminta maaf, yang masih tidak kubalas. Sekali ini aku mau ngambek sama dia. Supaya Aldo tahu, aku juga punya batas kesabaran. Sesayang apapun aku sama dia.

Selain Aldo, ada satu orang lagi yang mengganggu pertapaanku. Lana. Sore itu dia mengetuk pintu kamarku.

“Oppa?” Lana menghambur ke dalam kamar.

Aku masih terbaring seperti zombie di atas ranjang. Penampilanku pasti sangat berantakan. Jantungku berdetak lebih cepat saat melihat wajah Lana. Aku tersenyum lemah padanya, tapi tidak mengatakan apa-apa. Gimana kalo Lana benar-benar tahu? Apa adikku masih akan menganggap aku sebagai abangnya? Apa aku masih punya wibawa di matanya? Apa dia akan merasa sedih? Atau dia malah merasa malu punya abang sepertiku?

“Oppa mau ngajak Pandu camping?” Lana bertanya tanpa basa-basi.

“Pandu yang kasih tahu?” aku balas bertanya.

Lana mengangguk. “Dia kelihatan seneng banget,” adikku berkata lirih. Sejurus kemudian dia melotot padaku. “Kenapa Oppa tiba-tiba pengen kemah sama Pandu? Emang Kak Aldo kemana sih? Biasa juga kan sama dia!”

“Aldo lagi jadi buronan di luar negeri,” jawabku ngaco. “Lagian, emang gak boleh sekali-kali gua bawa Pandu camping?”

“Gimana kalo nanti malam hujan, terus asmanya kumat gara-gara kedinginan?”

Aku mengernyit menatap Lana. “Seinget gua, bukannya kemaren lu yang bikin Pandu basah kehujanan? Tapi untungnya, dia gak kenapa-napa.”

“I-itu kan beda… “ protesnya lemah. Lana terlihat sedikit malu.

“Ah, bilang aja lu cemburu,” aku kumat menggodanya. Meskipun setelah berkata begitu, aku langsung menyesal. Jantungku bertalu-talu. Rasanya aku ingin memaki diri sendiri. Gimana kalo Lana terpancing, dan kami jadi membahas hal-hal yang tidak perlu dibahas. Gimana kalo dia menanyakan kebenaran soal aku?

Lana memindai wajahku dengan sorot mata seperti elang. Akhirnya adikku menghela napas. “Ngapain juga cemburu sama Oppa. Kalian kan sama-sama cowok!” tukasnya ketus. Lalu wajah Lana melunak. “Pokoknya, Oppa gak boleh ngapa-ngapain Pandu!”

“Emang lu kira Pandu tuh cewek, mau gua apa-apain!” protesku tanpa dosa.

Lana menggigit bibir. “Pandu itu… “ Lana mendesah dan angkat bahu, tidak jadi mengatakan apa yang ingin dia katakan. “Hari ini Pandu kan ulang tahun. Harusnya aku ditraktir candle light dinner romantis di resort, tapi harus pindah jadi makan siang gara-gara Oppa!” Lana mengeluh padaku. Aku tahu dia cuma mengalihkan isu.

Jadi kuikuti permainannya. “Ah, lu sih matre, minta traktir kok gak kira-kira! Pantes ditolak!” ejekku geli. Jujur aku sedikit lega karena dari caranya bicara, sepertinya Lana masih tidak tahu soal aku. “Makanya kalo suka tuh, sikapnya dimanisin dikit. Jangan dikit-dikit maksa, terus nyubit-nyubit, kasihan anak orang!”

“Terserah Oppa aja!” Lana manyun.

“Ish, adek gua satu ini, kalo ngambek mukanya makin unyu deh.” Aku terbahak-bahak sambil menoel dagunya.

Lana semakin mendelik. “Kalo Oppa masih terus ngeselin, nanti aku aduin ke Ayah kalo Oppa bolos kuliah hari ini!”

Aku melongo. “Bukannya lu juga bolos sekolah dari kemaren?”

Lana terdiam. Wajahnya tampak geram. “Awas, kalo sampe Pandu kenapa-napa, Oppa bakal kuhajar pake tendangan berputarku!” ancamnya. Aku garuk-garuk kepala ketika Lana menghentak lantai dan membanting pintu.

Hatiku mencelos. Belum apa-apa Lana sudah cemburu buta padaku.

***

Aku kembali meneruskan semediku sampai sebelum makan malam. Perlengkapan berkemah sudah kujejalkan ke dalam bagasi mobil. Setelah menghabiskan isi piringku dengan cepat dan pamit pada kedua orang tuaku, aku buru-buru menjemput Pandu ke rumah sebelah. Ternyata bocah SMA itu sudah menungguku di halaman depan.

Aku turun dari mobil dan membantunya menjejalkan kantung tidur ke kursi belakang. Pandu sangat pendiam. Dia bahkan tidak berani menatapku. Aku nyengir mengagumi sosoknya. Meskipun terkubur jaket anti hujan dan celana berkantung banyak, Pandu tetap terlihat cakep.

“Jangan gugup gitu, kamu belum pernah camping ya?” tanyaku menggodanya. “Tenang aja, entar Kak Baran jagain.”

“Dulu aku ikut pramuka kok,” tukasnya. “Sering kemah juga.”

“Masa sih? Kapan?”

“Waktu jaman SD dulu.” Telinga Pandu memerah.

Aku mengacak rambutnya. “Ah, udah karatan kalo selama itu,” gumamku. “Om Indra mana? Gak perlu pamit nih?”

Pandu menggeleng. “Ayah pergi sama Om Nino, kayaknya bakal gak pulang sampe pagi deh. Aku tadi udah pamitan, dan Ayah langsung setuju begitu aku bilang perginya sama Kak Baran.” Dia mengunci pintu depan dan mengantunginya.

“Ya, udah, ayo kita berangkat,” ajakku riang.

Pandu tersenyum malu-malu dan mengikutiku ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan cowok itu terus membisu. Aku pun sengaja tidak mengajaknya bicara. Sampai kami tiba di sebuah simpang empat, dan aku memutar setir ke kanan.

“Ini kan bukan arah ke perkemahan pramuka?” tanya Pandu bingung.

“Emang bukan,” sahutku tak acuh.

Pandu melirikku heran, tapi tidak berkomentar. Setelah beberapa saat, aku masuk ke jalan mungil yang membelah kebun teh. Langit malam tampak cerah di bawah siraman kerlip bintang dan cahaya bulan. Tidak jauh di depan, tebing yang bakal jadi tujuan kami terlihat samar-samar. Pandu terkesiap. Dia menatapku putus asa.

“Kak Baran membawaku ke tebing patah hati?” bisiknya lirih.

“Loh kok tahu? Kamu pernah kemah juga di sini?”

Pandu menggeleng. Dia memperlihatkan layar hapenya. “Aku pernah ke sini berdua Lana. Ini kan pokestop. Namanya ‘tebing patah hati’. Enak buat mancing Snorlax.”

“Lagi-lagi Pokemon Go!” aku mengerang.

Bocah itu nyengir di sebelahku. “Kan lagi happening kak.”

Aku mendengus.

“Kok kita kemah di sini sih kak? Bukannya Kak Baran bilang di perkemahan pramuka?” tanya Pandu gugup. Tubuhnya bergerak-gerak gelisah di kursinya.

“Emang kenapa? Di sini keren loh. Jauh dari polusi cahaya. Jadi kamu bisa mengagumi langit malam dan bintang-bintang yang kamu suka.”

Pandu mengintip ke luar jendela. Wajahnya mendongak ke langit. “Kak Baran bener, Orion kelihatan cerah banget dari sini.”

Alisku terangkat. “Kamu lagi sama kakak, tapi malah ngebahas Arkan teman kamu itu?” Aku pura-pura manyun.

Gurat-gurat halus pembuluh darah di pipi Pandu memerah seperti cabe. “Aldebaran terlihat jauh lebih berkilau,” katanya serak.

“Ah, kamu bisa aja, gombalin kakak.” Aku tergelak. Tanganku menyentuh hidungnya sekilas. “Masih bocah udah pinter ngerayu.”

Tubuh Pandu semakin dalam tenggelam dalam jok mobil.

“Nanti tunjukin sama kakak, letak Aldebaran tuh dimana, oke?” pintaku. “Kak Baran juga jadi penasaran deh, Orion itu yang mana sih?” Aku melirik langit malam dengan ekor mata. “Kamu kan sering banget ngomongin soal Orion, maksud kakak Orion rasi bintang, bukan Orion temen kamu itu, si Arkan, mentang-mentang namanya sama!”

“Kak Baran cemburu nih ceritanya?” Pandu melirikku.

“Maybe yes, maybe no,” aku cengengesan.

“Pengennya sih Kak Baran beneran cemburu,” kata bocah itu pelan.

***

Ada yang berubah dari cara Kak Baran bicara padaku. Sejak aku menembaknya lewat video buatanku. Dia tidak lagi membahasakan dirinya ‘gua-lu’ di depanku, tapi ‘kakak-kamu’. Kuanggap itu pertanda baik. Kudengar banyak pasangan yang sebelum jadian ber-gua-elu, tapi berubah jadi ber-aku-kamu setelah resmi pacaran. Tidak apa-apa kalau aku sedikit berharap, iya kan?

Lagipula Kak Baran tampak senang saat aku menyanyikan ulang lagu country itu untuknya. Dan dia mengajakku camping ke tempat terpencil begini. Aku nyaris membayangkan hal yang tidak-tidak. Meskipun dia masih belum memberiku jawaban pasti.

Satu-satunya yang membuatku gelisah adalah alasan kenapa Kak Baran membawaku ke sini, ke tebing patah hati! Kalau cuma mau camping, kenapa tidak di perkemahan pramuka saja? Kenapa harus di tempat yang namanya membuatku depresi? Rasanya aku ingin protes soal itu, tapi ternyata dia yang lebih dulu mengajukan protes padaku.

“Kenapa kakak harus inget sama Orion supaya bisa nentuin letak Aldebaran?”

Aku tertawa. Kak Baran tadi menagih janjiku untuk mengajarinya mencari bintang yang jadi asal mula namanya, Aldebaran, kilau tercerah di rasi Banteng Jantan.

“Untuk banyak orang, Orion rasi bintang yang paling gampang ditemukan,” jelasku. “Kakak tinggal mencari tiga bintang yang berderet membentuk sabuk Orion, yang dikelilingi empat bintang cerah di tiap sudutnya, itulah Sang Pemburu.”

“Dan Aldebaran berada di perpanjangan garis sabuk Orion, di sebelah atas?” Dia mengulang instruksiku tadi.

Aku mengangguk. “Ya, berlawanan dengan Sirius, bintang tercerah di langit malam, yang jadi perpanjangan sabuk Orion sebelah bawah.”

“Kok kamu jadi banding-bandingin sama Sirius?”

“Ish, Kak Baran nyolot amat, mentang-mentang kalah bersinar,” godaku.

“Jadi menurut kamu kakak kurang cerah gitu?” protesnya. Kak Baran pindah ke sisiku, ikutan menempati batang pohon yang kududuki. Tangannya mengacak rambutku, lalu menarik kepala dan mengecup keningku. Ringan dan cepat. Aku menahan napas. Tubuhku sedikit gemetar karena berada begitu dekat dengan tubuhnya.

“Kak…” Aku menelan ludah.

Dia mengernyit menatapku lekat, terdiam seolah merenungkan sesuatu. Akhirnya Kak Baran tersenyum. “Kenapa? Gak boleh cium dahi? Kan kita lagi kencan?”

Kurasakan pipiku terasa panas. Kuharap Kak Baran tidak melihatku merona karena ini sangat memalukan. Untung lah penerangan kami remang-remang. Kak Baran menolak membuat api unggun karena takut memicu asmaku. Jadi dia menyalakan lentera LED yang tidak terlalu terang nyalanya sebagai pengganti api unggun.

“Cium yang laen juga boleh kok.” Aku menelan rasa malu dan balas menggodanya.

Kak Baran terbahak sambil mengusap kepalaku. “Ah, ganjen! Baru kencan sekali udah minta dicium macem-macem.”

“Biarin aja ganjen, yang penting dicium sama kakak,” jawabku dengan telinga memerah.

Kak Baran tidak menanggapi ucapanku. Dia cuma tersenyum simpul dan melingkarkan satu tangan di bahuku, menarikku mendekat, dan kembali mengecup keningku, kali ini sedikit lama. Aku serasa terbang ke surga.

“Apa kakak sungguh menganggap ini sebuah kencan?” tanyaku lirih.

Kening Kak Baran berkerut. Dia kembali tampak berpikir. Lalu kepalanya mengangguk. “Kak Baran anggap ini kencan, dan kakak pengen kamu tahu, apapun yang terjadi, ini kencan yang sangat berkesan buat kakak. Karena ini kencan pertama Kak Baran.”

“Yang sama cowok?” Aku bergumam.

“Maksud kamu?”

“Kalo sama cewek udah berapa kali?”

“Ish, kok malah bahas itu?” Dia menyentuh pipiku.

“Jadi?”

“Kamu beneran mau tahu?” erangnya.

“Tentu.” Aku mengangguk.

“Kak Baran belum pernah pacaran tuh, baik sama cewek, apalagi sama cowok.” Dia cengar-cengir sembari menggelitik belakang telingaku. “Kalo kamu dek? Sama Arkan udah berapa kali pergi kencan? Kalian pernah ciuman?”

Mulutku ternganga. “Aku sama Arkan gak pernah ada apa-apa. Kak Baran jangan bayangin yang enggak-enggak!” protesku sengit.

“Ditanya gitu aja marah.” Dia menoel hidungku.

“Abisnya geh…” Aku cemberut. Keluar deh logat Lampungku.

Kak Baran kembali terbahak. “Masa anak cowok manyun begitu,” godanya. “Daripada kamu merengut, mending kita lanjutin les privat kita soal bintang-bintang.” Tangannya menunjuk ke atas. “Jadi gak sia-sia kita ke sini.”

***

“Lagian Kak Baran kok milih tebing ini buat kencan kita?” Pandu protes.

“Emang kenapa?”

“Ini kan tebing patah hati,” kata Pandu pelan. “Namanya aja udah begitu, rasanya jadi kayak omen, pertanda buruk!”

“Ah, kamu, apa lah arti sebuah nama,” bantahku. “Tahu gak, waktu pertama pelaut Portugis sampai di ujung selatan benua Afrika, mereka terjebak badai selama tiga minggu, dan si pelaut mau menamakan daerah itu Tanjung Badai, tapi akhirnya tempat itu dinamakan Tanjung Harapan karena jika dilihat dari perspektif yang lain, tempat itu lah titik balik ditemukannya rute dagang ke Asia oleh para pelaut Eropa.”

“Maksud, Kak Baran, Cape of Good Hope?”

“Nah, itu tahu!”

“Apa hubungannya sama tebing ini?”

“Gak ada sih,” kataku nyengir. “Cuma kakak pengen kamu tuh punya perspektif yang luas. Jangan cuma terpaku pada dogma yang udah ada.”

Tangan Pandu melingkari pinggangku, memelukku erat. “Kalo aku berpikiran sempit, aku gak bakal berani nembak Kak Baran.”

“Hmm, senengnya ditembak cowok brondong yang cakep, open minded dan suaranya bagus pun,” godaku, menoel-noel hidungnya.

Pandu kembali duduk tegak. “Suaraku tenor, gak cocok nyanyi lagu country. Beda sama Kak Baran. Suaranya berat-berat seksi gimana gitu.”

“Aish, dia malah bales ngegoda.”

“Terus?”

“Terus apa?” tanyaku bingung.

“Kak Baran belum ngasih aku jawaban,” Pandu berkata perlahan. “Padahal udah dua kali aku nyanyiin, yang terakhir malah live.”

Aku cengengesan. Kumajukan kepalaku, dan aku kembali menciumnya. Kali ini di pipi. Basah dan lama. “Apa ini masih kurang?” gumamku di telinganya. Pandu kembali gemetar. Dia terdiam dan menggosok-gosok pipinya yang baru kucium.

“Kurang.” Setelah beberapa saat Pandu menjawab. Suaranya serak.

“Hadeh, susah emang kencan sama brondong, napsuan!” keluhku dibuat-buat.

Pandu senyam-senyum.

“Lu udah ngantuk belum Pan?” tanyaku.

“Belum. Aku pengennya nyender terus semaleman di sini,” katanya manja, menepuk-nepuk bahuku. “Entar juga aku ketiduran. Abisnya di sini…” Pandu kembali menyentuh bagian atas dadaku. “…rasanya kokoh, nyaman, bikin aku merasa aman. Enak deh dijadiin bantal.”

“Yaelah ni bocah, makin malem, gombalnya makin maut.” Kuputar-putar mataku, meskipun Pandu tidak bisa melihatnya.

“Aku gak gombal,” bantah Pandu. “Ini murni dari hati terdalam.”

“Pret!” seruku nyaris tersedak menahan tawa. Berani amat bocah satu ini gombalin aku! Jadi kubalas permainannya. “Padahal kalo kamu ngantuk, di tenda kamu boleh tidur di dada atau lengan kakak, terserah kamu, mana yang lebih empuk.”

“Eh?” Pandu mengangkat kepalanya. Kedua alisnya bertaut. “Kok tiba-tiba aku jadi ngantuk ya?” gumamnya sambil menguap.

“Abis minum air mineral separo penuh yang tadi kakak kasih?”

Pandu mengangguk.

“Hmm, kamu inget gak Pan, paper Kak Baran soal pembunuhan anak kembar?”

“Inget lah, serem gitu!”

Aku manggut-manggut. “Tahu gak, semua korbannya kan mati dibuang ke dalam danau. Dan mereka dibunuh dengan cara ditenggelamkan. Kalo dari hasil analisa kakak sih, ini sejenis okultisme oleh sekte yang mengkeramatkan danau Telaga Dalom.”

“Terus?”

“Sejujurnya Kak Baran anggota dari sekte itu.”

“Hah?”

Aku meringis. “Maap ya dek, Kak Baran gak tahu kalo kamu tuh kembar. Jadi kakak terpaksa ngelakuin ini ke kamu. Minuman yang tadi kamu minum udah kakak kasih obat tidur. Kamu bakalan kakak perkosa bolak balik, terus kakak buang ke danau!”

Pandu terbahak-bahak. “Apa semua mahasiswa kriminologi punya fetish seperti Kak Baran? Sumpah bikin sakit perut!”

“Aish, emang gak takut kakak perkosa?”

“Takut sih enggak, mungkin malah kepengen.” Pandu cengengesan.

“Ah, kamu ngaco, kakak gak suka kamu ngomong gitu. Ganjen!” omelku. Kuusap rambutnya. “Oiya, Pan, ada yang pengen Kak Baran tanya sama kamu, kok kamu berani nembak kakak? Emang kamu tahu kakak suka cowok?”

Pandu mengangguk. “Tahu pasti sih enggak juga, tapi cukup yakin lah. Seenggaknya aku kira Kak Baran tuh biseksual.”

Dahiku berkerut. “Kok kamu bisa cukup yakin? Apa Kak Baran kurang macho?” tanyaku ragu, sedikit gugup. Jujur, aku selalu rendah diri dengan oritentasi seksualku. Jadi aku paling benci cowok kemayu, karena mereka mengingatkanku akan sisi buruk dalam hidupku. Ya, aku tahu banyak gay di luar sana yang menganggap suka sama cowok itu hal yang tidak memalukan. Tapi bagiku, tetap saja ini sangat menjijikan. Aku tahu aku suka cowok. Tapi aku juga tak bisa membohongi diri sendiri, aku benci terlahir seperti ini. Dan aku bersumpah aku harus terlihat senormal mungkin.

Mungkin aku cuma terlalu hipokrit, entah lah.

“Kak Baran itu kelihatan straight banget kok,” Pandu menenangkan. “Kalo gak begitu, mana mungkin aku jatuh cinta sama kakak.”

“Jadi kamu sukanya cowok straight?”

“Bukan. Cowok straight mana mau sama aku,” bantah Pandu. “Jadi aku gak muluk-muluk, aku sukanya sama cowok homo yang sikapnya straight.”

“Ish, banyak kemauan!”

Pandu tergelak. Sejurus kemudian dia terdiam, terlihat merasa bersalah. “Kak Baran janji gak marah sama aku ya,” pintanya. “Apalagi sampe nonjok-nonjok!”

“Emang kenapa?”

“Janji dulu!”

Aku menggaruk-garuk ujung hidungku. “Oke, kakak janji.”

“Malem itu aku gak cuma baca paper kakak. Aku juga ngubek-ngubek isi laptop kakak, terus aku nemu bookmark website NampanBoy di browser.”

Aku terdiam. “Ternyata kamu emang ngelanggar privasi orang!” kataku lirih.

“Maap.” Pandu menunduk.

“Terus apalagi yang udah kamu lakuin buat ngepoin Kak Baran?”

“Maap kak, jangan marah sama Pandu,” bocah itu memohon.

Aku membisu menatap langit. Harusnya kini giliranku untuk ngamuk-ngamuk, mungkin aku harus meninju bocah SMA di pelukanku ini, seperti yang pernah kulakukan pada Aldo ketika dia tahu rahasiaku karena iseng membongkar isi komputer.

Tapi kenapa aku sama sekali tidak merasa marah padanya? Malah, melihat Pandu menekuk wajah dengan tatapan penuh sesal, aku jadi pengen menghiburnya, meyakinkan Pandu bahwa itu tak masalah. Bahwa aku tidak marah padanya. Dan jelas aku tidak akan pernah meninjunya. Ya, Tuhan, apakah aku benar-benar jatuh cinta pada bocah di hadapanku ini?

Ini tidak benar kan?

“Kakak gak marah kok.” Aku meremas bahunya.

“Maap, aku tahu tindakanku brengsek,” gumam Pandu. “Tapi aku gak menyesal, kalopun aku terlempar kembali ke masa lalu, aku pasti juga akan melakukan hal yang sama, lagi dan lagi.” Pandu nyengir ke arahku.

Aku mendengus. “Dasar ganjen, kepo! Untung mukanya unyu, kalo enggak udah kakak tonjok sampe babak belur!”

“Ganteng gini, dibilang unyu!” protes Pandu sengit.

“Pantesan sikap kamu berubah sama kakak,” gumamku.

“Hah?”

“Malam itu, sejak kamu tahu Kak Baran suka cowok, kamu jadi lebih terbuka sama kakak, sok unyu-unyu, pake acara ngambek, terus buka-buka baju. Sengaja kan, mau lihat gimana reaksi kakak? Dikira Kak Baran napsu? Dasar centil!”

“Aku enggak centil! Aku kan cowok!” kata Pandu sewot.

“Ganjen?”

“Biarin ganjen, yang penting bisa kencan sama Kak Baran.”

“Anjir!”

Pandu kembali terbahak.

***

I’m so alone, nothing feels like home…

Mataku terasa panas. Tapi tidak ada air mata yang menetes keluar. Kurasa aku terlalu putus asa, hatiku terlalu hancur untuk menyisakan tangis. Aku menatap kosong pada air mancur di tengah lapangan. Pada sosok lalu lalang yang tidak henti-hentinya datang dan pergi, memenuhi tempat ini layaknya persinggahan sesaat. Tempat transit sementara. Suatu hal yang semu. Seperti yang sudah Kak Baran lakukan padaku.

I’m so alone, trying to find my way back home to you…

Aku terperangkap dalam kesedihanku, mengabaikan keramaian di sekelilingku, suara bising yang ditimbulkan oleh obrolan ratusan orang di alun-alun kota. Tempat ini begitu ramai, tapi aku tak pernah merasa lebih kesepian lagi dari yang kini kurasakan.

Aku berharap langit malam dapat menyembunyikan sosokku. Rasanya aku ingin menghilang di antara bintang-bintang di atas sana, agar Zeus turun ke bumi dan menempatkanku di salah satu konstelasi bintang, seperti yang dia lakukan untuk kedua putranya, bocah-bocah gemini, Castor dan Pollux. Bukankah aku juga bocah Gemini yang sedang patah hati? Lucu. Bocah Gemini yang lahir di bulan Desember.

Cowok bego yang dihempaskan pada realita kehidupan di hari ulang tahunnya keenam belas. Aku sangat naif, iya kan?

I’m so alone…

Dentuman irama musik DJ Marshmello sukses mengunci telinga, membuatku makin hanyut dalam kesendirian. Bukankah ini sejenis lagu dugem? Lagu untuk hura-hura? Tapi kenapa dentuman musiknya selalu membuatku sedih?

Kuputar-putar hape di tanganku. Lalu kubaca ulang SMS dari Arkan semalam. Hold on, just once more day. Hold on, you know you’ll found a way.

Aku tersenyum sedikit. Semalam, setelah apa yang dilakukan Kak Baran padaku, aku sempat mengirim SMS untuk sahabatku itu. Semua kacau balau, rasanya gua pengen mati aja bro. SMS yang bodoh, aku tahu. Aku membuat Arkan khawatir. Cowok itu menelepon berulang-ulang, tapi sengaja tidak kuangkat. Aku malah mematikan hapeku setelah menerima SMS balasan darinya. Kurasa aku belum siap bicara sama dia.

Hold on, just once more day!

Entah apa aku bisa melakukan itu atau tidak. Aku mendesah. Kepalaku mendongak mencari sabuk Orion di langit. Saat kutemukan, otakku otomatis membuat garis khayal yang menghubungkan titik-titik cahaya di langit menjadi sebentuk pemuda Yunani dengan pedang teracung dan perisai di tangan. Sosok di kepalaku perlahan berubah jadi sosok cowok gagah bernama Orion Arkan Al-Jauza, sahabatku yang narsis dan suka menjuluki dirinya sendiri pemburu tampan.

Aku terlalu terpaku pada langit malam hingga tidak sadar bahwa seseorang telah duduk di sebelahku. Cowok itu menarik salah satu earphone yang menyumpal telingaku, lalu mengaitkan pada daun telinganya sendiri.

“You’re so alone, eh?” tanya sebuah suara.

Aku menoleh dan mendapati Arkan sedang nyengir padaku. “Bagus! Kapan pun elu ngerasa sendiri, elu tinggal menatap langit malam dan mikirin gua aja. Pasti elu gak bakal ngerasa sepi lagi.” Arkan menunjuk sang pemburu di antara lautan bintang.

Mendengar suara bariton Arkan langsung bisa mengusir separuh rasa sedih di hatiku. Dadaku terasa hangat oleh perhatiannya. “Kapan lo sampe bro? Naik apa? Kok dateng gak bilang-bilang?” aku memberondong dengan pertanyaan.

Arkan mengerutkan kening. “Tadi sore. Om Indra bilang elu pergi keluyuran abis bagi rapor. Gua tungguin di rumah elu sampe Magrib, tapi elu nya tetep gak nongol-nongol juga, jadi gua pergi keliling nyariin elu! Kayak nyari anak ilang aja, tahu gak! Lagian kan gua uda janji semalem, gua bakal dateng hari ini. Emang elu lupa ya bro?”

“Hah?” Aku menatapnya bingung.

Arkan menggaruk pelipisnya dan balas menatapku seolah aku cowok idiot. “Oh, hold on, just once more day… hold on, you know you’ll found a way… hold on, you’ve got stars in your eyes, so lets paint the sky…”

Dia bernyanyi pelan. Matanya terus terpaku tanpa berkedip ke arahku. Lalu dia melanjutkan nyanyiannya. “Oh, hold on, just once more time… hold on, I’ll be your reason why… hold on, you’ve got stars in your eyes, so lets paint the sky…”

Arkan tersenyum hangat. “Gua minta elu sabar nunggu gua semalem, karena gua bakal jadi orang yang bikin elu ngelupain semua itu, semua hal jelek dalam hidup elu. Gua janji, Pan. Gua bakal ngelakuin apa aja biar elu bahagia.”

Aku melongo. “Lo nyanyi?” tanyaku bego.

“Aargh!” Arkan menjenggut rambutnya sendiri frustasi. “Emang susah ngomong sama orang lagi patah hati, gak nyambung!”

“Abis suara nyanyian lo jelek bener, gua jadi bingung,” protesku polos.

“Ah, sialan elu, Pan!”

Arkan menggertakkan gigi. Dengan kesal tubuhnya bergeser mendekat ke arahku. Tangannya melingkari bahuku, menarikku hingga sisi tubuh kami saling menempel. “Elu sadar gak sih, kalo tadi itu gua nembak elu!” bisiknya lirih di telingaku. Lalu Arkan mencium pipiku sekilas. Napasnya yang berbau mint tercium olehku.

“Kan, lo gila apa!” desisku buru-buru menarik kepala. “Ini kan tempat umum!”

Arkan terkekeh. “Gak bakal ada yang liat juga kali, bro. Tuh mereka pada sibuk sama dunia masing-masing. Lagian udah malam pun.”

Dengan sikap tenang dipaksakan aku memperhatikan area sekitar kami. Benar kata Arkan. Seputaran air mancur penuh dengan bangku-bangku couple dari kayu seperti yang kami duduki. Dan semua orang asik mengobrol bersama pasangan masing-masing. Bahkan orang yang jalan lalu lalang pun asik terpaku pada teman di sebelahnya.

Aku cemberut. “Lo apaan juga sih, maen nyosor aja tuh bibir!” protesku pelan. “Entar lo gua tuntut perbuatan tidak menyenangkan, baru tahu rasa!”

“Aish, emang elu gak seneng dicium? Padahal gua cuma pengen ngibur elu bro.”

Aku mengernyit. “Lo nyium gua, yang terhibur itu lo, bukan gua!” bantahku sengit.

Arkan terbahak-bahak. “Akhirnya mimpi gua kesampean juga,” katanya mesum sambil noel-noel pipiku.

Aku mendesah sabar. “Lo ke sini sama bokap?” tanyaku.

“Gua tadi dianter. Abis bagi rapor gua langsung merengek-rengek sama bokap biar dibolehin nginep ke sini. Tadi bokap ngobrol sama Om Indra sebentar, terus langsung balik. Gua bakal nginep gak pulang-pulang, sampe elu mau jadi yayang gua.”

Aku memutar mata. “Yayang? Pala lo pitak!” Kujitak kepala Arkan kuat-kuat.

Cowok itu meringis. “Sakit bro!” protesnya. “Lagian rambut keren gini, mana ada pitak!”

“Jadi lo ranking berapa?” tanyaku.

“Sembilan bro!” pamernya bangga. “Akhirnya gua tembus sepuluh besar.”

“Ranking satunya Nadia ya?”

Arkan mengangguk. “Gak ada elu, Nadia mana ada lawan.” Cowok itu tampak sedikit enggan membahas soal ceweknya.

“Lo sama Nadia masih marahan?”

Arkan mendesah. “Pan, elu pernah gak mikir begini, mungkin semua bakal jadi lebih mudah kalo kita pacaran,” gumamnya. “Elu gak mau tah jadi pacar gua? Gua kan tadi udah janji bro, gua rela jungkir balik asal elu nya seneng. Bahkan gua rela jadi bot, kalo elu pengennya maen di atas.” Tangan Arkan yang merangkulku mengusap bahuku dengan sayang.

“Lo ngaco deh.” Aku menyentuh rambutnya.

“Gua serius Pan. Gua udah putus dari Nadia,” Arkan mengaku.

Wajahku mengeras. “Lo dari dulu selalu begitu, Kan. Egois lo tuh gak ilang-ilang. Lo tahu kan Nadia itu sayang bener sama lo! Tapi kenapa lo harus bersikap brengsek dan ninggalin dia buat gua. Padahal lo tahu, lo tuh gak pernah bener-bener berani nyeburin diri ke dunia gua! Apa lo bisa yakin, suatu saat lo gak bakal ngerengek-rengek minta putus ke gua, kayak yang lo lakuin ke Nadia?” aku memarahinya. Dasar bocah labil! gerutuku dalam hati.

Arkan menatapku serius. “Sekali ini gua gak maen-maen bro,” tukasnya. “Kalo elu mau sama gua, gua janji gak bakal suka lagi sama cewek manapun. Dan kalo pun nanti elu ngaku ke Om Indra soal kondisi elu, gua bakal minta restu dari beliau supaya gua bisa jagain elu. Gua bakal sekolah yang rajin, nyari kerja yang bener, terus gua bakal nikahin elu di Belanda.”

Aku ternganga melihat keseriusan di mata Arkan. “Nikah di Belanda?” gumamku lirih. Entah aku harus menangis atau tertawa mendengarnya. Kami kan masih kelas sepuluh, dan Arkan berani menggombal akan menikahiku di Belanda! Kurasa otaknya sedang konslet.

“Elu boleh ngetawain gua, Pan. Tapi gua serius sama omongan gua. Gua bakal buktiin ke elu nanti,” kata Arkan tegas.

Sesaat aku terdiam menatapnya. Arkan terlihat sungguh-sungguh. Namun ada sesuatu pada binar matanya yang mengkhianati kesungguhan sikapnya. Aku tersenyum.

“Makasih ya bro, lo udah segitunya ngehibur gua,” kataku lirih. “Maap, Kan, gua harusnya gak SMS lo kayak semalem, sampe bawa-bawa pengen mati segala.”

“Gua cemas banget bacanya, tahu gak!” Arkan menyela.

Aku melirik sekitar, lalu memberinya ciuman singkat di pipi. Arkan menelan ludah. Tangannya menyentuh pipi yang barusan kucium. “Omongan lo yang tadi tuh manis banget,” kataku. “Kayaknya skill gombal lo ada kemajuan. Tapi lo gak usah cemas, Kan. Gua gak bakal ngelakuin apa yang dulu pernah gua lakuin. Gua janji!”

“Emang harusnya begitu! Gua bakal nyusul elu, kalo elu berani-berani ngebeset tangan elu lagi!” Arkan mengancamku.

Aku tertawa. “Kan, lo gak usah pura-pura lagi sama gua. Mungkin ada masa-masa gua gagal ngebaca niat lo itu gimana, tapi delapan puluh persen gua bisa paham isi kepala lo. Lo tuh masih gak yakin dengan ketertarikan lo sama cowok, sama gua, iya kan? Karena jauh di lubuk hati, lo tuh masih selalu kepikiran soal Nadia.”

Arkan tidak membantah.

“Kan, lo tuh udah kayak adek gua aja. Mana mungkin gua kepengen lo jatoh ke lobang yang sama kayak gua. Gua pengen lo balik sama Nadia. Lo harus bisa ngelupain gua! Lo gak usah khawatir karena gua bakal baek-baek aja.”

Rahang cowok itu mengeras. “Emang apa sih yang udah dilakuin Banteng ke elu? Sampe elu seputus asa kemaren!” serunya tertahan.

Aku membisu menatap air mancur. Rasanya terlalu sakit untuk dibahas.

“Jawab gua bro!” Arkan memohon, sedikit panik. “Elu kan, sama si Banteng…” Arkan terlihat ragu-ragu. “Gak mungkin dia merkosa elu atau apa kan?”

Aku menatapnya muram. “Kalo sama-sama mau, apa bisa disebut diperkosa?” desahku lirih. Mataku terpejam.

“Beneran bro?” Arkan terdengar murka. Kurasakan tubuhnya sedikit gemetar karena emosi. “Anjing, bakal gua bunuh tuh orang!”

Arkan mendadak berdiri dari kursi. Aku kaget melihat marah yang tercetak di wajahnya. “Kan, lo gak bisa bedain becanda sama bukan?” Aku buru-buru menariknya kembali duduk. “Lo masih aja suka ngamuk, gak pake mikir dulu! Kebanyakan berantem sih.”

“Hah?” Arkan terlihat bingung. “Yang tadi tuh cuma becanda? Elu gak diapa-apain sama si Banteng?” Arkan melotot seolah ingin mencekikku.

Aku terkekeh. “Abis otak lo ngayal kemana-mana bro, dicuci dulu coba pake tanah, jadinya gak ngelantur gak tentu arah!”

“Anjir!” Arkan marah-marah. Dia memiting leherku dengan satu tangan. Sementara tangan yang lain ditempelkan ke pelipisku dan diputar-putar. “Elu tuh bikin gua jantungan aja! Nyaris aja si Banteng gua mutilasi!”

“Ampun bro!” seruku memelas.

“Terus, apa yang terjadi semalem?” Arkan mendesak. “Kalian kan tidur bareng di tenda yang sama, gak mungkin gak terjadi sesuatu kan? Apalagi elu sampe SMS gua begitu!” desisnya. “Elu gak bohong kan, si Banteng beneran gak ngapa-ngapain elu?”

Aku membuang muka, kembali diam menatap air mancur, dan menolak buka mulut.

Arkan mendesah di sebelahku.

“Elu kenapa sih bro? Gua gak tahan ngeliat elu begini. Kalo gua punya kekuatan super, pasti udah gua ambil rasa sakit elu, biar gua aja yang menderita, daripada elu manyun terus kayak begini. Tapi gua kan bukan super hero bro, makanya elu cerita!”

Aku tahu Arkan tidak bercanda. Tapi sayang, bibirku tetap terkunci rapat.

-TBC-