download

Brian dan Key

By : Levi

Lembar Lima

Motor Brian berhenti tepat di samping aku yang lagi berdiri sambil bersandar di dinding dekat gerbang depan sekolah, dengan telapak sepatu sebelah kiri yang aku tempelkan langsung ke dinding dan asik dengan ikat rambut yang aku mainkan sejak berdiri di sini sekitar setengah jam yang lalu.

Oh, aku bukannya lagi nungguin Brian buat pulang bareng, tapi aku lagi nungguin Aldo sayangnya aku yang belum datang-datang juga dari tadi. Jadi gini, aku kan udah bilang sama Aldo sayangnya aku buat bantuin dia jualan ice cream hari ini kayak biasanya. Terus tadi dia bilang mau nyimpen gitarnya dulu di ruang musik sekalian jemput Looser di kelasnya, liat manja banget kan cewek biadab itu?

Sebenernya aku mau ikut Aldo aja, biar mastiin kalau dia nggak diapa-apain sama orang jahat waktu jalan ke ruang musik, juga mastiin Aldo sayangnya aku nggak di grepe-grepe si biadab Looser. Tapi sayangnya dia bilang kalau aku nunggu aja di gerbang, dan aku nurut. Itu makanya sekarang aku lagi di sini, melipat tangan sambil menghadap Brian yang sedang ngebuka helmnya.

“Tumben lo mau pulang bareng, ada hidayah apa? Atau Aldo barusan ngusir lo supaya nggak nganggu hidupnya lagi? Oh, sekarang kita punya gadis yang sedang bersedih di rumah,” ucap Brian sambil memangku helm di pahanya.

“Gue nggak semenyedihkan itu.”

“Terus, ngapain lo di sini? Gak mungkin kan lo jadi satpam baru di sekolah?”

Shut up your silly mouth, Brian. Gue juga nggak seputus asa itu ya, meski gue habis dijahatin Aldo sayangnya aku berkali-kali sampai Kristina tobat ke jalan yang benar dengan cara pakai hijab.”

Brian memutar bola matanya. “Jadi lo abis dijahatin Aldo?” tanyanya dengan nada suara malas.

“Bukan bego. Gue di sini lagi nungguin my prince gue, nanti gue mau nganterin dia pulang sekalian bantu dia jualan lagi,” kataku.

Brian mengerutkan dahinya, dan aku nggak tau apa artinya. “Gue gak habis pikir deh sama lo. Tapi, terserah deh, yang penting gue nggak mau bohong lagi sama Ibu dengan bilang kalau lo lagi ada tugas kelompok or semacamnya.”

“Ya kali tugas kelompok hampir lima kali seminggu. Lo kan bisa cari alasan lain Bri, semisal… hm… ah! Bilang gue ada pr yang susah banget dan harus ngerjainnya di rumah temen gue,” aku menyimpan ikat rambut bulu-bulu warna pink-ku ke saku baju.

“Kan gue udah bilang kalau gue nggak mau bohong lagi.”

“Brian sayang, my gorgeous stupid twin. Lo nggak harus bohong sama Ibu, lo cuma harus bilang apa yang tadi gue bilang. And the problem’s clear,” aku mengibaskan tanganku ke udara sekali sebelum tersenyum miring ke Brian.

“Itu sama aja. Pokoknya gue gak mau bohong lagi sama Ibu hanya karena masalah percintaan lo. Dosa tau. Nanti gue harus minta pengampunan lagi di gereja, lo kan tau gue paling males ke gereja dan ketemu sama keluarga Posen yang nyinyir banget itu.”

“Lo ribet ah. Terserah deh lo mau bilang apa ke Ibu, lo kan orangnya gitu nggak suka banget liat gue seneng,” aku mengalihkan pandanganku ke samping. “Padahal gue sering bantuin lo nyelundupin Braga ke kamar, ato dengerin curhat lo pas lo lagi drama mode on, ato jadi perantara pesan pas lo sama Braga lagi marahan. Ya, gue sih, nggak minta balas budi ya, tapi cuma ngingetin aja sih.”

Brian menghembuskan napas dengan kasar, “oke, nanti gue kasih tau Ibu kalo lo ngerjain tugas di rumah temen lo. Clear, kan?”

Aku menatap Brian lagi, lalu tersenyum sumringah dan memeluk kembaranku itu. “Aaaaa… makasih Bri…”

“Iya, iya, iya. Ya udah lepas deh,” aku melepas pelukanku pada Brian, kemudian dia memasang kembali helmnya dan menghidupkan mesin motor. “Gue pulang ya,” katanya sambil menurunkan kaca helm dan melesat pergi dari sini.

Aku tersenyum karena senang bisa pulang telat dan berada lebih lama lagi dengan Aldo sayangku. Ngomong-ngomong kok Aldo sayangnya aku lama banget sih di dalem? Ini udah setengah jam lebih loh. Jangan-jangan dia lagi digebukin orang lagi, atau dia emang lagi di grepe-grepe si Looser? Shit! Firasat aku bilang kayaknya emang bener deh si Looser lagi nyari-nyari kesempatan dengan sayangnya aku. Ini nggak bisa dibiarin, aku harus jemput Aldo sayangnya aku sekarang juga.

“Key?” seseorang menepuk bahuku saat aku hendak berbalik, karena refleks aku langsung memegang tangannya yang masih berada di bahu kanan aku, lalu berputar ke kiri dan membuat tangan orang tersebut terpelintir. “Aw!” dia meringis kesakitan, dan saat aku melihat ternyata itu Aldo sayangnya aku, aku langsung melepaskan peganganku.

“Eh, sorry sayang. Aku kirain kamu orang lain. Sorry, sorry.”

Aldo mengibas-ngibas tangan kanannya ke udara, “Iya, iya. Aw,” dia masih meringis. Aduh, itu tadi pasti sedikit sakit, aku kan nggak sengaja banget. Soalnya badan aku ini suka refleks-refleks gitu kalo otak aku ngerasa ada ancaman, jadi bukan salah aku sepenuhnya kan?

“Kamu nggak apa kan, Do?” itu suara Looser. Ternyata dia sudah di sini dari tadi, aku nggak sadar sih. Looser mendekati Aldo dan mengelus-ngelus pergelangan tangan sayangnya aku. Ew! apa-apaan sih dia itu, bikin perut aku mules aja gara-gara ngeliat muka sok baiknya.

“Iya, nggak sakit banget kok.”

“Maafin aku ya Do, itu refleks,” kata aku dengan suara menyesal.

“Iya Key, aku paham kok refleks kamu. Ya udah, ayo kita pergi,” ajak Aldo dan dia berjalan mendahului kami. Aku menjelit pada Looser dengan galak sebelum mengacungkan tinjuku ke depan wajahnya, dan dia hanya tersenyum miring sambil berjalan meninggalkan aku.

Aku berjalan cepat untuk menyusul Aldo sayangnya aku, terus merangkul tangan kanannya sebelum menoleh ke belakang sebentar untuk menjulurkan lidah aku ke Looser supaya dia iri. Kepala aku juga aku sandarin ke pundaknya Aldo biar lebih romantis kayak di film-film drama yang sering ditonton Ibu sama Brian. Ya, meski kami bukan lagi di bawah pohon sakura yang lagi berguguran sih, atau lagi berjalan di pinggir pantai, setidaknya hal kecil seperti ini sudah membuat hati aku bahagia banget meskipun lagi nyebrang jalan yang rame banget kayak sekarang. Tadi aja ada bapak-bapak supir angkot mengkalson kami, tapi aku nggak peduli sih selama aku bisa kayak gini sama Aldo. Hihihi…

Setelah kami berhasil nyebrang—yang aku harap si Looser ketabrak dan mati di jalan—jalanan yang rame banget itu, akhirnya kami lewat gang kecil yang biasa aku dan Aldo lalui kalau pulang bareng. Gang ini ada karena berada di antara dua gedung gede yang aku nggak tau gedung apaan itu, dan jalan gang ini nggak terlalu sempit sih, jadi si Looser bisa maju dan berjalan di sebelah aku.

“Aldo sayangku, nanti malem aku akan masakin kamu sup ayam kayak kemaren, ya?” tanya aku dengan nada suara yang aku buat agak manja supaya Looser tambah ngiri.

“Gak usah Key, aku bisa beli makanan sendiri untuk nanti malam. Kamu nanti pulang aja langsung, istirahat.”

“Aaaa… kamu perhatian banget sih sama aku sayaaaanggg…” aku mengeratkan pelukanku di lengan Aldo, sambil terus menatap wajahnya dari sini. Aduh, rahangnya maksa aku buat menciumnya, tapi aku harus tahan nafsu aku. Looser pasti sekarang lagi mati-matian nahan kesabarannya.

“Bukan gitu maksud aku—”

Guys, I think we have some problems,” Looser jelek memotong ucapan Aldo dan membuat kami berhenti. Aku mengalihkan perhatian aku dari wajah manis Aldo ke depan. Dan nggak terlalu terkejut ketika melihat apa yang ada di depan kami. Huh. Kutu-kutu itu rupanya masih mau nyari masalah lagi sama aku.

Well, well,well, liat siapa yang datang,” kata si bajingan itu sambil tersenyum jahat ke kami.

Itu Mike dan rombongannya. Rombongan itu maksudnya bukan dia sama dua temennya yang tadi itu, tapi mereka bertiga juga bawa-bawa anak dari sekolah lain kayaknya. Soalnya aku nggak pernah liat muka-muka sok sengak lima orang di belakang Mike, dari seragam mereka juga beda dengan seragam kami. Jadi bisa disimpulkan kalau mereka itu anak sekolah lain.

Mereka ada sekitar delapan orang termasuk Mike dan kedua tikusnya. Ih. Sebenernya kan aku males banget ngeladeni mereka sekarang, dasar nggak punya otak udah jelas aku peringati tadi, masih aja ngeyel. Padahal aku mau jadi anggun lagi. Tapi kalau mereka nyari masalah betulan, aku nggak bakalan diam aja pasti. Aku kan harus ngelindungi Aldo sayangnya aku, kalau Looser digebukin juga gak apa kok, aku rela lahir batin.

Liat deh, Mike berdiri dengan sok sambil ngeliatin kami dengan songongnya. Sedangkan dua temennya ada di sebelah kiri dan kanannya sambil megang kayu pemukul baseball, gak jantan banget sih lawan cewek pake senjata. Sedangkan lima orang lainnya yang di belakang, ada yang lagi ngerokok, ada yang lagi nyandar di tembok, ada yang muter-muterin ikat pinggang, dan sisanya cuma masang-masang tampang sok dan ngerendahin. Duh, duh, duh, mereka kirain aku bakalan takut gitu dengan gaya norak mereka? Nehi.

“Mereka pasti sengaja nungguin kita di sini,” kata Looser sedikit panik.

“Key, kayaknya kita mending muter balik aja deh,” Aldo berbicara sambil terus menatap ke depan.

“Terserah kamu sayang, aku ikut-ikut aja…” kataku. Aku sih terserah, kalau Aldo mau puter balik dan nyari jalan lain, aku ikut. Kalau dia tetep mau lewat jalan ini supaya nggak telat dateng ke tempat Ko Aseng, aku juga ikut, tapi aku harus bersihin dulu jalan ini dari tikus-tikus itu. Eh, ngomong-ngomong soal Ko Aseng, kalau kami telat dateng ke stand ice cream-nya, pasti Aldo bakalan kena marah dan bisa-bisa gajinya dipotong. Nggak boleh, itu nggak boleh dibiarin. Kami harus lewat sini aja, palingan ngebersihin jalan ini hanya butuh waktu lima menit. “Eh Do, kita lewat sini aja deh, soalnya kalau kita mau muter lewat jalan besar, kamu pasti bakalan telat.”

“Nggak apa deh Key, yang penting kita semua selamat.”

“Iya Key,” sahut Looser. Ya udah deh, nanti aku aja yang kasih tau Ko Aseng alasan kami dateng telat. Mungkin aku juga bakal kasih kompensasi dikit ke Ko Aseng.

“Woy! Bisik-bisik apa kalian, ha?! Mau kabur?” teriak Mike. Aku putar bola mata aja.

“Mike, mana orang yang lo certain tadi? Jangan bilang mereka bertiga yang lo maksud,” kata cowok yang lagi bersandar di tembok gang dengan tangan terlipat di depan dada.

“Ya mereka, tepatnya cewek bangsat yang di tengah,” jawab Mike sambil menunjukku dengan dagunya.

“Seriusan? Lo ngajak kita-kita ke sini cuma buat ngasih dua cewek dan satu banci itu pelajaran? Lo gila Mike,” apa-apaan tuh maksudnya bilangin Aldonya aku banci. Dia minta di hajar banget emang.

“Diam Gus, lo gak liat apa yang udah dia buat sama muka gue?”

Aku nggak peduli lagi dengan apa yang mereka bicarain, dan fokus pada perkataan Looser. “Jadi gimana nih?” Looser keliatan makin panik. Ih, masa kayak gini aja udah panik, dasar manja.

“Kalo gitu kayak ini aja, kalian mundur pelan-pelan terus kabur. Biar aku yang tahan mereka gimana?” usulku.

“Nggak. Aku gak bakalan ninggalin kamu Key, kita pergi sama-sama atau hadapi sama-sama,” ucap Aldo. Aaaaa… denger deh ucapannya tadi, bikin melted banget kan? Dia bener-bener gentle deh.

“Aldo sayangku, kamu memang suami yang bertanggung jawab.”

“Sudah, kita harus cepat, kalau gitu kita pergi sekarang,” kata Looser, aku dan Aldo menanggapinya dengan anggukan. “Satu. Dua. Now!” aku melepas peganganku pada Aldo sebelum berbalik dan hendak berlari dari sini.

Tapi Mike dengan cepat mengejar kami, lalu menjadikan dinding di sebelah kananku sebagai lompatan untuk sampai tepat di depan kami yang sudah berhenti. Wow, dia kayak anak parkour deh. Keren. Tapi kalau dia yang lakuin jadi gak keren at all. “Mau lari kemana, ha? Sekarang kalian udah terkebung,” katanya sambil menaikkan dagunya dengan sombong lagi. Aduh, dia lupa mungkin ya darimana bekas lebam di pipinya itu, atau darah kering di sudut bibirnya.

“Hey bodoh, seharusnya lo seneng gue udah berniat nggak ngeladenin lo. Tapi karena otak bodoh lo nggak bisa mencerna apa yang terjadi di kantin tadi, jadi kayaknya gue harus ngasih sedikit memar lagi di wajah bodoh lo itu,” aku berkacak pinggang. Suara langkah kaki dari dayang-dayangnya Mike terdengar mendekat, Aldo dan Looser berbalik untuk mengawasi tujuh orang lainnya.

“Lo jangan banyak omong deh, bitch!

Well, yang penting sudah gue peringatkan,” kataku kemudian berlari dengan cepat dan langsung melompat untuk menendang lurus ke perut Mike tepat di ulu hatinya dengan kaki kiriku, setelah itu dia menunduk dan aku gunakan kesempatan itu buat menendang mukanya dengan telapak kaki kananku sampai dia terhuyung dan jatuh ke belakang. Aku tau kok dia tadi nggak siap dan nggak memprediksikan bodyguard combo aku barusan, lagian ini kan bukan di arena, jadi nggak ada peraturan yang berlaku di sini, lagian jumlah mereka juga terlalu banyak dibandingkan kami.

Setelah Mike terlempar beberapa meter ke belakang dan tersungkur di tanah sambil memegangi perutnya, aku langsung berbalik dan berlari untuk menghajar yang lain. Looser dan Aldo lagi berdiri mematung, tapi kuda-kuda mereka lumayan kuat, itu karena refleks dari rasa takut mereka.

Dengan kecepatan yang konstan, aku menjadikan bahu kanan Aldo dan bahu kiri Looser sebagai bantuanku meloncat menggunakan tangan aku sebelum menendang cowok kurus cecunguknya Mike tepat di dadanya. Ia terpental ke belakang dan mengenai tiga orang paling belakang.

Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan putaran sembilan puluh derajat ke kiri untuk menendang wajah si keriting temannya Mike sampai dia menghantam tembok. Dua orang lainnya masih sehat, tapi mereka nampak panik dan bingung dengan yang terjadi barusan. Yang satu dengan tangan kosong dan satu lagi memegang ikat pinggang. Keliatannya mereka berdua gak bisa bertarung deh, liat aja lututnya yang gemeteran. Hadeh.

Pertahanan mereka semua lagi melemah, dan ini waktu yang tepat buat kabur dari sini. Eh, tapi bukan berarti aku nggak berani ngelawan mereka semua ya. Aku bisa aja ngehajar mereka semua dalam sekejap kok. Tapi, sekarang aku kan harus nyelamatin Aldonya aku. Lagian, planning kami tadi kan harus pergi dari sini supaya kami semua aman.

Jadi, aku berbalik dan menarik tangan Aldo dan Looser buat pergi dari sini. Kami kembali melewati jalan masuk tadi, dan saat melewati Mike yang masih meringkuk kesakitan di tanah, aku melompatinya. Terus aku ketawa besar-besar sambil terus berlari dari sini.

“Sampai jumpa bajingan…” seruku kepada orang-orang di belakangku sebelum kami keluar dari gang ini.

Huh. Liat aja kalo kita ketemu lagi di saat yang tepat, aku nggak bakalan ngebiarin mereka kabur dari aku. Ya, meski di kasus seperti ini akulah yang kabur dari mereka. Pokoknya bakal aku hajar lagi mereka di lain waktu. Huh.

-*-

Sudah masuk jam tidur memang saat aku membuka pintu kamar Key dan mendapatinya belum tidur dan masih asik memotong kuku kakinya di atas kasur dengan wajah yang tertutup sempurna oleh masker berwarna hijau yang aku tak tahu sama sekali itu masker apa. Mungkin green tea. Atau timun. Oh, pare pasti, soalnya baunya kurang sedap. Tunggu, memangnya ada manfaat apa di masker pare?

Aku masuk, menutup kembali pintu kamarnya dan berjalan mendekati kasur.

Key menoleh sebentar padaku, lalu memutar bola matanya. “Key, lo tau tata karma nggak sih? Lo kan bisa ngetok pintu dulu sebelum masuk ke kamar orang. Lo udah ngelewati privacy gue… and yada yada yada,” Key mengikuti caraku berbicara dengan wajah mengejek dan terus memotong kukunya tanpa melihat ke arahku lagi.

Aku duduk di tepi ranjang, tertawa kecil sebelum mengacak rambutnya. Dia hanya bersungut-sungut, dan itu malah membuat wajahnya semakin imut. Tunggu, kami kan kembar, berarti kalau aku membuat ekspresi seperti itu juga apa aku akan terlihat seimut dia ya? Kurasa tidak. Terakhir kali aku bersikap sok imut, aku malah ditampar Top karena disangka epilepsi. Well, semua orang bilang aku terlihat manis saat serius. Kadang juga saat marah. Tapi aku tak peduli sama sekali.

“Lo lagi apa?” tanyaku basa-basi pada Key.

“Lagi nyari horcrux kedelapan buat bantuin Harry Potter ngelawan Voldemort, supaya Hogwarts selamat dari Death Eaters.” Itu hiperbola sekali. Aku hanya menanggapi dengan memutar bola mata warna violetku. “Grandmoom yang udah di surga aja tau kalo gue lagi motong kuku. Lo kok bego banget sih, Bri. Gue curiga ini pasti gara-gara lo kebanyakan main masak-masakan sama Kristina deh.”

“Gila lo! Sejak kapan gue maen masak-masakan sama dia.”

Key menatapku seolah tak bersalah, kemudian menaikkan bahunya sekali dan kembali fokus dengan kukunya. “Mungkin sejak negara api menyerang.” Dan yang terjadi selanjutnya adalah aku menendangnya sampai kami sama-sama terjatuh dari atas kasur. Dammit! Padahal aku yang nendang, tapi aku juga ikut-ikutan jatuh gara-gara refleks kaki besar punya Key itu cepet banget bales tendangan aku.

BUUKK!

“Key… ada apa itu, Nak?” suara Ibu terdengar dari lantai bawah saat mendengar bunyi benda jatuh dari kamar Key, Ibu pasti sekarang sedang menonton sinetron kesayangannya dengan Dad—yang dipaksa untuk menonton acara itu juga, padahal aku tahu sebenarnya Dad tak mengerti sama sekali dengan acara yang ditonton Ibu.

“Brian nendang aku Bu sampai jatuh dari kasur. Dan ini sakit… sekali,”  nada suaranya dibuat sesedih mungkin. Huh. Dasar licik.

“Heh Big Foot! Lo juga nendang gue sampe jatuh,” kataku tak mau kalah. “She was lied, Bu!”

Nope! Lo yang mulai duluan Njing!”

“Sudah-sudah, Ibu lagi mau fokus nonton nih. Waduh, Dad, itu kok si Icha digituin sih? Dasar ya jahat banget itu nenek lampir!” dan suara Ibu mulai mengecil karena mulai kembali fokus dengan tv.

Aku berdiri dari lantai sambil memegangi bokongku yang masih terasa nyeri. Sialan Key, dia kuat banget nendangnya. Key juga berdiri sambil memegangi pinggangnya, meringis sedikit saat duduk kembali di tepi ranjangnya. Dia berlebihan. Dia pasti pernah dipukuli lebih sakit daripada tadi.

“Aduuuhh… ini sakit beneran Bri. Lo gak tau apa gue habis mengalami hari yang melelahkan? Sekarang kau membawakan kami kutu, masalah, kesakitan, gatal, dan kehebohan. Dan kesakitan, dan kutu, dan gatal, dan kesakitan. Sakit sekali. Sakit sekali!!!”

“Key, kayaknya lo butuh ke psikiater sekarang juga.”

Dan dia tertawa keras sambil berbaring di kasur, dengan kedua kaki yang terjuntai ke lantai. Aku ikut duduk di sampingya, memerhatikan senyumnya yang mengembang dari tadi. Dia pasti sedang bahagia hari ini, dan itu pasti tak jauh dari Aldo. Ah, aku jadi ikutan senang saat melihat Key bahagia seperti itu. Ya, meski hatiku masih bersedih.

Kami diam. Key menegakkan kepalanya untuk melihatku sebelum bergerak cepat untuk duduk bersila di atas kasur sambil menghadapku. “Jadi, kenapa dengan Braga?”

Dia menebak dengan tepat. Aku membaringkan tubuhku sama seperti Key tadi dengan kaki yang terjuntai ke lantai. Aku menarik napas panjang lalu membuangnya lewat mulut. “Kami lagi marahan.”

“Sudah kuduga.” Key meletakkan gunting kuku di atas nakas dekat dengan lampu tidur, kemudian memunguti serpihan-serpihan kuku kaki yang baru dipotongnya dari atas kasur.

“Dia tadi pagi mau kasih aku hadiah—”

“Hadiah ulang tahun, ya?! Oh iya, hari ini lo ulang tahun. Astaga sorry Bri gue lupa tanggal ulang tahun lo! Gue ke alpamart bentar ya, nyari kado.” Key hendak turun dari kasur, tapi segera kutahan.

Aku ikut duduk menghadapnya sambil bersila. “You’re fucking idiot, Key. We’re twin bego! Tanggal lahir kita sama, dan hari ini bukan tanggal lahir kita.”

“Oh iya ya?” Key memberiku cengiran bodohnya. “Jadi hadiah apaan? Hadiah pernikahan? Tapi kan lo belom nikah sama dia. Ato kalian nikah siri?” Key kembali berdiri untuk membuang potongan kukunya ke tempat sampah yang ada di bawah meja belajar.

“Gila!”

Key tertawa kemudian kembali ke atas kasur bersamaku. “Serius, jadi kalian kenapa marahan, hm?”

“Dia ngasih gue cincin bukan yang gue pengen. Bahkan dia lupa cincin yang mana yang gue pengen.”

“Jadi, ini semua hanya karena cincin? Kenapa lo nggak minta cincin Sauron aja, ha? biar lo bisa ngilang kayak Bilbo Baggins.”

“Gue serius Key.”

“Dan gue lebih serius. Lagian, kenapa sih masalah cincin aja lo besar-besarin sih? Aldo sayangnya aku aja nggak pernah tuh ngasih aku cincin. Harusnya lo bersyukur ada cowok yang mau ngasih lo cincin.”

“Kenapa semua orang berpikir kalau ini cuma masalah kecil?”

“Ya emang masalah kecil Bri. Dan lo terlalu berlebihan menanggapinya. Lo nggak mikir mungkin perasaan Braga pas ngeliat apa yang lo lakuin ke dia. Dia juga mungkin jauh lebih sakit daripada lo.”

“Lo mungkin lupa kalo dia itu orang paling nggak peka dan nggak romantis yang pernah ada,” kataku sambil mengalihkan perhatianku dari wajah Key ke meja rias warna merah muda dan putih miliknya.

“Dan lo nggak liat kesungguhan dia pas ngasih lo cincin. Open your eyes Bro!” Key menjentikkan jarinya tepat di depan wajahku.

So, what should I do?” aku kembali melihat Key dengan wajah bingungku. Jujur saja, aku terlalu gengsi untuk meminta maaf duluan.

Apologize mungkin,” Key mengedikkan bahunya sambil menekan remot AC untuk menaikkan volume dinginnya. “Gue tebak, lo pasti terlalu gengsi untuk minta maaf duluan.”

“Lo belajar buat bisa baca pikiran di mana sih?”

We’re twin. Kita punya keterikatan batin, lo lupa mungkin,” Key memeriksa ponselnya, kemudian tertawa-tawa sendiri.

“Ya, ya, ya,” jawabku dengan malas, karena aku sudah bosan mendengar kalimat itu dari Key. Kami memang kembar sih, tapi aku tidak terlalu ahli dalam membaca pikiran dan perasaan Key. Tapi dia malah sebaliknya. Dia sangat mudah menebak apa yang aku pikirkan. “Key?” aku memanggilnya karena dia terus saja asik dengan ponselnya.

“Eh sorry, apa tadi?”

“Gue nggak ngomong apa-apa.”

“Oh. Ya,” dan dia kembali asik dengan dunianya.

“Key, lo kok tumben pulang cepet? Biasanya juga sinetron Ibu udah abis baru lo pulang.”

“Ya, nggak apa sih. Tadi Aldo agak cepet aja nutup jualanannya.”

“Oh…” jawabku. “Eh, gue denger dari Sisy, lo tadi berantem, ya? Sama siapa? Kan udah gue bilang jangan cari masalah di sekolah, lo nggak denger ya?”

Key berhenti menatap layar ponselnya, kemudian memerhatikanku dengan kening berkerut. “Bukan gue kok yang mulai.”

“Jadi? Nggak mungkin deh, terus tuh cewek ada luka nggak? Awas aja kalo sampe iya, gue bilangin Ibu!”

“Lo kok tukang ngadu banget sih Bri? Nggak. Lagian dia cowok kok, dan bukan gue yang mulai. Dia yang narik rambut gue duluan.”

“Eh?” aku menaikkan satu alisku karena bingung. Bagaimana bisa ada cowok yang berani macam-macam sama Key? Apa dia tak tahu kalau Key ini atlet taekwondo?

“Iya. Lo liat gak cowok yang baris di sebelah gue tadi pagi? Yang sama-sama datang telat?”

Aku berpikir sebentar. “Oh, cowok tinggi yang badannya lo jadiin tiang buat sandaran sebelum akting pingsan lo yang drama banget itu?”

“Iya. Dan dia gak terima gue gituin.”

“Terus, terus?”

“Ya, dia nemui gue di kantin terus cari-cari masalh sama gue, dan gue hajar aja. Lagian kami nggak ketauan guru BK kok. Tenang aja. Eh, tapi tadi pas pulang, kami pake acara dicegat lagi sama dia. Mana dia bawa temen-temennya dari sekolah lain buat ngehajar kami. Ya, untung aja kami selamat.”

“Dan mereka nggak kenapa-kenapa, kan? Terakhir kali lo ngehajar preman, dia jadi tobat dan ngegembel di jembatan penyebrangan gara-gara kakinya lo patahin,” kataku dengan panik.

Key mengibaskan tangannya sekali. “Mereka itu kayak debu, ditiup aja tinggal.”

“Eh? Jadi mereka mati ya?! Astaga Key! Lo nggak sadar apa lo udah ngebunuh orang, gue harus telepon 911.”

“Bri! Gue nggak ngebunuh siapa pun, gue cuma kabur aja dari situ. Soalnya Aldo sayangnya aku pengennya kami kabur dari sana. Dan lo udah gila ya?! Ini di Endonesyah!”

Aku tertawa. Juga sedikit tenang karena mereka nggak diapa-apain. Dan lebih tenang karena tak ada yang cidera parah atau patah tulang karena Key. Ya, aku cuma takut aja anak-anak nakal itu mau balas dendam lagi ke Key, mungkin lain waktu mereka bakalan bawa orang yang lebih banyak lagi. Dan itu bahaya. Tapi aku yakin kok Key bisa mengatasinya. Tapi tetap saja itu berbahaya.

Kami kembali diam. Karena Key kembali asik dengan ponselnya, sepertinya mengetik pesan balasan yang baru saja masuk. Aku juga memeriksa ponselku, dan terkejut ketika menemui sebuah pesan yang baru masuk sepuluh menit yang lalu.

Prince Braga

‘Kamu boleh marah sama gue. Tapi tolong liat ke luar kamar kamu sekarang.’ 20.44 PM.

Bersambung—