Sexy, Naughty, Dirty cover

 

Arya merogoh dompet. Menghitung sisa uang di dalam dompet itu malah membuatnya meringis. Dia ingin berhemat, setidaknya sampai besok ketika dia berhasil mencegat Ibra di gerbang Kampus Ye Aksen, tapi rasa laparnya tidak mudah diabaikan begitu saja. Arya memasukkan dompet ke saku jins lalu bergerak untuk menghampiri salah satu gerobak.

Satu bungkus lontong sate seharga lima belas ribu, air mineral tiga ribu. Arya mengulurkan lembaran dua puluh ribuan dan mengantongi kembalian dua ribu. Setelahnya, dia melangkah kembali ke kursi beton berlapis ubin yang sama yang hanya ditinggalkan lima menit saja, untuk mendapati, bahwa ranselnya telah raib…

***

Mereka sudah mencari dua hari tanpa hasil, ini adalah hari ketiga. Rauf bersikeras mengatakan pada Dewa kalau Arya kemungkinan sudah pulang ke rumahnya. Bagi Rauf, berpikiran kalau Arya sudah pulang dan baik-baik saja di rumah lebih membuat senang ketimbang berpikir kalau Arya mungkin sedang meringkuk di satu sudut jalan, kedinginan dan kelaparan. Namun, Dewa selalu memberitahu kalau tak ada tanda-tanda kehadiran Arya di rumahnya. Rauf tak punya alasan untuk tidak meyakini kalau apa yang diberitahukan Dewa adalah benar. Dewa selalu melewati dan menyempatkan diri memerhatikan rumah Arya setiap harinya dalam tiga hari terakhir, pagi dan sore, begitu pengakuannya.

“Kemungkinan paling baik adalah, dia berhasil ketemu Ibra.”

Mata Rauf masih nyalang memerhatikan setiap jengkal tempat yang dilalui mobil Dewa. “Masih kemungkinan saja, kan? Bagaimana kalau bukan itu yang terjadi?” balik bertanya Rauf tanpa mengalihkan perhatiannya ke pria yang sedang menyetir di sampingnya. “Bagaimana kalau dia masih di luar sana, terlunta-lunta, sendirian dan kelaparan?” Rauf sangat sadar kalau ucapan itu lebih ditujukan buat dirinya sendiri ketimbang buat Dewa. Setelah Katia dan keluarganya, Arya sepertinya sudah jadi orang berikutnya yang menyita kepedulian Rauf.

Dewa mendiamkan diri beberapa saat, membiarkan ucapan Rauf melebur bersama suhu dingin mobilnya, membuatnya tak bisa untuk tidak ikut merasa bersalah. Seperti suhu dingin yang terasa di seluruh permukaan kulitnya, begitu pula rasa bersalah itu terasa ke setiap millimeter dirinya. “Kalau dia masih di luar sana, kita pasti akan menemukannya.” Dewa terdengar seperti sedang menghibur diri sendiri. Pria itu membelokkan mobilnya, menyusuri kembali jalan yang sudah dilewatinya berkali-kali sejak pencariannya. Pikiran Dewa tiba-tiba terusik sesuatu. “Hei, bagaimana kalau kita buat laporan orang hilang?”

Rauf kini menoleh Dewa. Pesona pria itu masih sama dengan yang pertama kali dikesan Rauf, bedanya hanya kini ekspresi di wajah Dewa terlihat lebih serius. Ekspresinya sudah begitu saat Rauf membukakan pintu apartemennya pagi tadi. Loe free, kan? Ayo kita cari dia sama-sama, begitu Dewa berkata. Rauf langsung menyetujui usul itu. “Kalau bonyoknya saja gak bikin laporan kayak gitu, kita yang cuma baru kenal satu hari bisa apa? Lagipula, kita gak cukup tahu tentang Arya untuk membuat laporan orang hilang. Bahkan sebenarnya, kalau loe setuju, kita berdua masihlah orang asing bagi anak itu. Jadi menurut gue, yang bisa kita lakukan hanya sebatas berusaha menemukannya sendiri.”

Dewa merasa otaknya tumpul seketika. Ya, yang bisa mereka lakukan hanya terus mencari. Rauf benar. Tidak, tunggu, Rauf tidak sepenuhnya benar. Dewa tidak setuju dengan istilah orang asing yang dikatakan Rauf. Dia yakin kalau Arya tak akan menganggapnya begitu. “Gue laper.”

Rauf melirik jam tangannya, sudah jauh melewati jam makan siang normal. Sama sekali tidak terasa kalau mereka sudah mutar-mutar hingga hari hampir sore.

“Ada saran kita makan di mana enaknya?”

“Di mana aja,” jawab Rauf ogah-ogahan.

Beberapa menit kemudian, Dewa membelokkan mobil memasuki parkiran sebuah warung makan tradisional. Diikuti Rauf, kedua pria itu lalu keluar dari mobil dan beriringan masuk ke dalam warung makan.

Saat mereka sudah duduk berhadap-hadapan, lesehan di atas saung beratap daun lontar, dan makanan sudah disajikan di atas meja rendah siap untuk disantap, pertanyaan itu terlontar begitu saja. “Kalau dia masih di luar sana, kira-kira apakah hari ini dia sudah makan?”

Pertanyaan Rauf membuat Dewa mendadak kehilangan nafsu makannya. Bahkan, dia merasa tidak lapar lagi sama sekali.

Makanan di atas meja masih tetap utuh sampai mereka meninggalkan saung itu lima menit kemudian. Yang punya warung menolak menerima uang dari Dewa meski sudah dipaksa-paksa. Menunya masih utuh, kami tidak bisa terima bayaran. Si pemilik warung ──entah manajer── bersikeras menolak. Akhirnya, Rauf meminta pelayan warung untuk membungkuskan pesanan mereka agar Dewa bisa membayar.

“Loe tahu, yang paling bikin gue ngerasa buruk adalah, gue nyuruh dia balikin uang gue yang dia pakai… dan jumlahnya begitu sedikit…”

Dewa memasukkan persneling dan menekan gas. “Masih belum seburuk yang gue lakukan…”

*

Rauf mengizinkan Dewa menginap. Pertimbangannya, karena sudah terlalu larut untuk pulang. Mereka berkeliling hingga larut malam, hanya berhenti untuk makan satu kali ketika rasa lapar sudah tak tertahankan lagi hingga membuat perut keduanya melilit, berbagi sebatang rokok setelahnya, dan lalu lanjut berkendara lagi sampai jalanan berubah sepi.

Berada di apartemen Rauf kini, Dewa baru sadar kalau apartemen itu benar-benar sesepi perkuburan. Pada kunjungan-kunjungannya terdahulu, Dewa sama sekali tidak menyadari itu, mungkin karena beberapa hari lalu jiwanya masih mengentakkan ritme bahagia, seperti musik reggae. Setelah Arya hilang, ritme itu sedikit terganggu, tidak… bukan sedikit, tapi nyaris tak ada irama di dalam diri Dewa.

Rauf masih di kamar mandi, pria itu sepertinya punya kebiasaan berlama-lama di sana. Pagi setelah mereka mabuk-mabukan waktu itupun, Rauf juga berlama-lama di kamar mandi. Apa itu karena Rauf selalu menyempatkan coli di setiap waktu mandi? Pikiran Dewa mulai jorok. Dewa menghitung, sudah lebih dua puluh menit sejak Rauf masuk ke kamar mandi bersama handuknya.

Dewa bosan sendiri menunggu gilirannya menggunakan kamar mandi. Jadi, dia mulai berwisata di kamar tidur Rauf. Buffet cantik di samping ranjang menarik perhatiannya. Lacinya berderet tiga-tiga ke bawah. Dewa memilih acak. Di laci paling bawah di bagian kanannya dia menemukan kertas-kertas, dokumen asli dan fotocopy-an milik Rauf, beberapa map berisi entah apa, beberapa sertifikat dari cabang olahraga, dan beberapa medali. Dewa memutuskan kalau Rauf dulunya mungkin seorang atlet, semasa dia sekolah atau semasa kuliah.

Dewa mendorong laci pertama dan beranjak ke laci berikutnya, kali ini laci paling bawah di sebelah kirinya. Ada beberapa benda di sana, tapi yang paling menarik perhatian Dewa adalah sebuah bingkai lima inchi yang dijejalkan tertelungkup di dalamnya, bagian depan bingkainya tidak terlihat. Dewa mengeluarkan bingkai itu, membaliknya dan langsung menemukan sosok tampan Rauf di dalamnya. Dewa sudah mulai terbiasa dengan keadaan setengah telanjang Rauf, pria itu sepertinya memang hobi pamer badan. Namun tetap saja foto itu menimbulkan gelanyar aneh di kulit Dewa.

Di dalam foto itu, Rauf hanya bercelana pendek selutut warna putih, sejenis celana pantai dengan print gambar pohon kelapa warna hitam di salah satu ujungnya. Kulitnya berkilat disimbah sinar matahari, lebih berkilat di bagian perutnya yang punya enam kotak. Latar belakangnya adalah langit biru dan buih ombak. Dewa yakin dirinya bisa melihat samar pasir pantai yang menempel di badan Rauf. Seorang gadis luar biasa cantik──bahkan Audrey akan terlihat tak ada apa-apanya──juga seksi dengan kain pantai yang sedikit tersibak berdiri agak ke belakang Rauf, bergelayut manja dengan mengalungkan kedua lengan ke leher Rauf. Sekilas, Rauf terlihat bagai sedang menggendong gadis cantik itu di belakangnya. Sebelah tungkai si gadis menjulur dan tertumpu sepenuhnya di paha kanan Rauf. Wajah keduanya begitu dekat, saling pandang seperti siap berciuman.

Foto itu adalah perpaduan antara aura maskulin dan feminim yang sempurna dan pas takaran. Bagi Dewa, foto itu juga menunjukkan secara absolut kalau Rauf pure straight. Dan bagi siapapun yang melihat, mereka pasti setuju kalau foto itu juga tampak bagai poster film drama romantis Hollywood. Itulah mengapa Dewa merasa bulu-bulunya berdiri. Romantis, seakan ada cinta luar biasa besar yang meletup-letup di antara keduanya, cinta yang tidak kasat mata, tapi tetap saja dapat dilihat.

Cinta?

Dewa terpaku. Merasa bagai orang dungu ketika kata itu tiba-tiba saja menyeruak entah dari bagian mana dirinya.

Sebenarnya, seperti apa rasanya jatuh cinta itu?

“Apa loe selalu suka melanggar batas privasi orang lain?”

Dewa tersentak dari pikirannya sendiri. Rauf sedang berdiri beberapa langkah dari tempatnya berjongkok, hanya berlilitkan handuk pucat. Ekspresinya jauh dari kesan tidak suka. “Dia cantik,” respon Dewa tulus.

Rauf mengabaikan Dewa dengan pergi ke depan lemarinya.

“Pacar loe?”

“Loe bodoh atau bagaimana?”

Dewa paham apa yang dimaksud Rauf. Bingkai itu tertimbun di laci paling bawah buffet Rauf, bahkan ditaruh menelungkup. Pertanyaannya memang benar-benar terdengar tolol. “Seengaknya, pernah jadi pacar loe, kan?”

“Loe mau tidur di sini atau di sofa?” tanya Rauf berusaha mengabaikan topik yang sepertinya masih membuat Dewa penasaran itu.

“Dia cantik banget, dan seksi. Bagaimana bisa loe lepasin cewek seseksi itu?”

“Gue kira loe maho.”

“Gue masih maho…,” tukas Dewa. Kalimatnya terdengar menggantung

Rauf selesai mengenakan celana pendeknya, dilemparnya handuk ke atas ranjang lalu mendekat pada Dewa. Berusaha tak memerhatikan ke dalam bingkai, dia mengambil alih benda itu dari tangan Dewa, mempretelinya dalam hitungan milidetik, meremas kertas foto di dalamnya dalam waktu lebih milidetik lagi, kemudian dicampakkannya remasan itu ke sudut kamar.

“Hei…!” Dewa terdengar kaget.

Rauf menjatuhkan bingkai kosong ke dalam lacinya semula dan memungut kembali handuknya dari atas ranjang. Sebenarnya, sesekali ketika dia benar-benar ‘sakau’ Katia, Rauf sering membuka laci paling bawah itu, mengenang bahagianya dahulu, hanya mengenang. Rauf mengira dengan begitu dia akan tenang. Padahal kalau dia mau berpikir dengan jernih sebentar saja, dia akan tahu kalau ‘mengenang’ yang sesekali dilakukannya itu pada akhirnya hanya akan membuat lukanya semakin berdimensi. Dengan membuang foto itu, Rauf mengira kegiatan mengenangnya sudah akan berakhir hari ini. Dia hanya harus memantapkan hati setelah ini. Atau… jika dia tidak bisa memantapkan hati, setelah Dewa meninggalkan apartemen, dia akan merapikan kembali foto itu dan membingkainya lagi.

“Kenapa diremas sih?”

Rauf batal menyindai handuknya di besi stainless, dia menoleh ke sudut kamar. Dewa sedang membuka remasan foto itu. “Loe mau ngapain?”

“Nyelamatin aset coli gue,” jawab Dewa santai.

Rauf Mengernyit.

“Gambar loe di sini sempurna banget,” Dewa merobek secuil bagian foto, menghilangkan hampir tujuh puluh lima persen sosok gadis dalam gambar, yang tersisa cuma kaki dan lengannya saja. “Sayang kalau dibuang.”

“Gila.”

Dewa memandang Rauf. “Atau loe mau gue foto telanjang bulat? Gue bakal dengan senang hati ngeremas balik foto ini.” Dewa berlagak mengeluarkan hapenya.

“Kenapa loe gak browsing model celana dalam pria saja?”

“Gue gak kenal mereka, tapi gue kenal loe. Dan omong-omong browsing, kalau mau gue bisa dapetin gambar telanjang sekalian, lengkap sampai ke kontolnya.”

Rauf membuang napas lelah. “Jangan tersinggung, tapi gue penasaran, gaya loe laki banget, bukankah seharusnya loe terobsesi sama pria yang… yah…” Rauf kesulitan meneruskan, dia berharap Dewa bisa membaca bahasa tubuhnya.

“Bencong?” tanya Dewa frontal.

“Gak total banci sih. Yah loe tahulah, cowok-cowok yang sedikit lebih lembut, yang jelas bukan kayak gue…” Tapi lalu Rauf teringat Arya. Anak itu juga sama jantannya dengan Dewa, dan Dewa sudah dipastikan juga menyukai Arya, dan baru saja fotonya ingin dijadikan bahan coli-an oleh pria itu. Dia dan Arya, Dewa menyukai pria-pria yang sama jantan dengannya. Semakin Rauf berusaha memahami korelasinya, semakin dirinya tak paham. Sebenarnya, model hubungan biologis maho bagaimana sih? “Gue gak ngerti sama loe, Men…”

Dewa menyeringai, paham apa yang dimaksudkan Rauf. “Kapan-kapan nanti gue kasih loe nonton bokep gay deh. Loe bakal paham sendiri.”

Rauf memasang tampang muak.

“Gue tidur di kamar. Sebaiknya loe milih sofa, karena kalau loe milih kamar dan udah tewas saat gue selesai mandi, dengan sudah ngeliat foto ini,” Dewa mengangkat keratan foto di tangannya, “gue gak bisa jamin gak bakal ngoral punya loe. Loe gak mau kalau gue sampai khilaf kayak waktu itu, kan?”

“Oh, hell… kita berdua sama-sama tahu kalau loe gak pernah benar-benar khilaf,” pungkas Rauf lalu meraih satu bantal dari atas ranjang dan keluar kamar.

***

“Hari ini kita beli nasi bungkus lagi, ya, Kak Ari. Kayaknya bisa dapat lauk ayam deh. Gak apa-apa sekali-kali lauknya enak.”

Arya mengangguk saja sambil mengikuti langkah gesit Kemal menyusuri gang yang akan membawa mereka ke nasi bungkus dimaksud. Gitar dua pertiga rusak dan satu pertiga bagus milik Kemal dijaganya dengan hati-hati di tangan kanan, begitu hati-hati sampai nyaris dipeluk. Arya sangat sadar kalau benda di tangannya saat ini──yang menurut cerita Kemal dikorek dari bak sampah lebih kurang setahun yang lalu──adalah satu-satunya jaminannya untuk bertahan hidup di jalanan, yeah, selain bocah dua belas tahun bernama Kemal itu tentunya.

“Kak Ari pengen lauk ayam gak?” Tak mendengar respon apapun, Kemal bertanya lagi, “Mau gak? Uangnya cukup nih kayaknya.” Tangan Kemal yang kotor sedang memilah-milah uang berdasarkan nilainya. Uang kertas yang didominasi lembar dua ribuan lecek sudah selesai dihitung, sekarang denting beradunya recehan mulai terdengar.

Arya berpikir sejenak. “Tempe aja lagi deh, Mal, biar ada sisa buat disimpan. Katamu kemaren pengen beli senar baru juga, kan?”

Kemal tertawa pendek. “Senar gak gitu penting selama Kak Ari mau nyanyi terus. Lihat, kan, hari ini kita dapat lumayan karena Kak Ari yang nyanyi. Kok gak dari kemaren-kemaren aja Kak Ari nyanyinya.”

Arya sangat sadar kalau Kemal hanya mengada-ngada. Dia memang bisa bermain gitar meski belum bisa dibilang mahir, di rumahnya dia punya benda itu, tapi menyanyi bukanlah bakatnya. Arya susah menghapal lirik. Tadi pun dia menyanyi dengan lirik yang keliru.

“Jadi, ayam, ya?” tanya Kemal memastikan.

“Tempe aja.”

Kemal menengadah sejenak untuk melirik pemuda di sebelahnya. “Aku masih gak percaya ada orang kayak Kak Ari yang hidupnya sudah enak malah pengen kabur dari rumah dan milih lauk tempe. Berani bertaruh, di rumah, Kak Ari pasti belum pernah makan pakai lauk tempe doang.”

Arya tidak menjawab. Matanya terus memerhatikan gang yang mulai gelap. Hari akan segera malam. Dia teringat cerita Kemal saat mereka melewati gang yang sama kemarin sore. Kata Kemal, kalau malam sering ada preman yang ngumpul-ngumpul sambil mabok di gang itu. Bagaimana kalau ada preman yang mendadak muncul menjarah uang Kemal?

“Aku pernah makan lauk tempe sebelumnya. Gak usah dipikirkan kenapa aku mau kabur dari rumah, masalahnya terlalu rumit untuk dipikirkan seorang bocah kayak kamu,” kata Arya. “Bisa jalan lebih cepat?”

“Ini belum cukup malam…” Seperti bisa membaca kekhawatiran Arya, Kemal menjawab santai. “Kita gak bakal dihadang.”

“Kalau gitu, bisa masukkan saja duitnya kembali ke sakumu?”

“Aku lagi ngitung, Kak.”

“Nanti saja sampai di rumah.”

“Kak Arya parnoan banget sih. Kalau aku ngitungnya di rumah, bisa diambil Ibuk semua nanti.”

“Mending mana, diambil ibukmu apa dijarah preman?”

Kemal mendumel sendiri, dimasukkannya kantong uangnya kembali ke saku celana. “Aku kepikiran sama baju Kak Ari, sudah empat hari ini itu-itu terus,” ucap Kemal setelah mereka berjalan beberapa langkah lagi.

“Kan aku udah bilang ranselku diambil orang saat di alun-alun.”

“Maksudku, mungkin besok kita bisa pulang lebih cepat biar sempat ke loakan, di sana banyak baju bekas dijual murah.”

Arya meringis. Dipandangnya kaos biru garis-garis yang sudah melekat di badannya sejak dia meninggalkan apartemen Rauf, sudah kucel dan bau. Jinsnya juga pasti sama lusuh dan baunya dengan kaos itu. Dan, ya ampun… dia bahkan belum ganti celana dalam yang terasa sudah dikenakannya sejak berabad-abad yang lalu.

Tadi kemal bilang apa? Baju bekas? Arya tidak ingin memikirkannya.

“Sebenarnya gak ada masalah apa-apa kalau badan Kak Ari kecil, bajuku mungkin muat. Tapi badan Kak Ari kan gak kecil.”

“Tunggu aja beberapa hari lagi, aku pasti menyusut. Nanti kamu bisa minjemin bajumu saat itu. Sebelum hari itu tiba, gak usah mikirin pasar loak deh…”

Kemal yang selalu terlihat dekil dan kumal dalam pandangan Arya itu terbahak. “Baju-bajuku dibeli di sana loh.”

“Kalau gitu, gak perlu mikirin buat minjemin bajumu ketika aku udah kurus nanti.”

Tawa Kemal makin kencang. “Seperti apa baju-baju bagus di lemari Kak Ari di rumah?”

Arya kembali dipaksa memerhatikan pakaiannya. Dia menelan ludah. “Kebanyakan seperti yang sekarang aku pakai, tapi lebih bersih dan lebih wangi berkali-kali lipat dari ini.”

Kemal tertawa lagi, Arya ikut tertawa bersama anak itu.

Mereka sampai di gerobak nasi yang sudah mulai familiar bagi Arya. Sudah empat sore Kemal membeli nasi bungkus di sana, hari pertama dia membawa pulang Arya ke gubuknya, dua hari berturut-turut setelahnya, dan yang keempat adalah hari ini. Sementara Kemal memesan dan menunggu giliran nasi mereka dibungkus, Arya memperhatikan anak itu sambil mengingat kembali bagaimana pertemuan mereka terjadi.

Bagi Arya, Kemal tampak seperti takdir selanjutnya. Setelah kabur dari rumah, setelah Dewa, setelah Rauf, setelah kehilangan semua yang dimilkinya di alun-alun, setelah dirinya resmi menggelandang, kehidupan jalanan bersama Kemal sebagai pengamen adalah babak berikutnya yang sedang dijalani Arya dalam masa pelariannya.

Arya menemukan Kemal──atau mungkin Kemal yang menemukannya──di satu siang empat hari lalu, sedang mengamen di sekitar kampus Ye Aksen. Hari itu, setelah mengisi perut di warung tenda pinggir jalan dengan sisa uangnya, Arya kembali menunggu kemunculan Ibra di lingkungan Kampus Ye Aksen. Kaki yang pegal berjalan membuat bangku kayu yang tersebar di taman kampus tampak begitu menggiurkan untuk diduduki. Saat sedang duduk itulah Arya menemukan Kemal, tengah mengamen pada sekelompok mahasiswa tak jauh dari tempatnya duduk. Arya memerhatikan pengamen itu selama belasan menit, berpindah-pindah dari satu kelompok mahasiswa ke kelompok lainnya. Setiap kali kelompok mahasiswa memberi pengamen itu recehan setelah mengakhiri lagunya, Arya ikut merasa senang. Tapi ketika si pengamen berjalan ke arahnya, suasana hatinya berubah gelisah. Dia harus berhemat dengan uang yang hanya bersisa kurang dari sepuluh ribu di dompetnya.

“Aku gak punya uang,” kata Arya begitu si pengamen berhenti di depan bangkunya. Merasa terlalu kasar menggunakan bahasa sehari-harinya dengan anak kecil, dia meng-aku-kan diri.

Sejenak pengamen itu memperhatikannya dengan lekat, seakan menilai. Pandangannya bertahan lama pada sepatu sport Arya yang sangat jelas tampak mahal.

“Aku habis kabur dari rumah, dan habis dirampok juga… eh, habis kemalingan tepatnya. Uangku cuma sisa delapan ribu.” Arya tak punya alasan untuk berbohong pada anak-anak, jadi dia memilih jujur.

Seperti tak mendengar perkataan Arya, pengamen itu tetap saja menggenjreng gitar jelek di tangannya dan menyanyikan salah satu lagu lama milik Peterpan, Arya tak ingat judulnya. Dia ingin meminta pengamen itu berhenti, tapi tidak tega. Dalam pikiran Arya, anak itu tak percaya pada apa yang dikatakannya, bisa jadi itu karena sepatu yang dikenakannya.

Setelah menyelesaikan lagunya, pengamen itu berdiri tegak sambil memandang Arya, menunggu uangnya. Hal itu membuat Arya lebih tidak tega lagi. Akhirnya dia merogoh dompet.

“Siapa namamu?”

“Kemal.”

Arya mengeluarkan semua uangnya dari dompet. “Baiklah, Kemal, ini semua uangku, mungkin lebih bermanfaat bila dipake kamu,” katanya sambil menjejalkan uang itu ke telapak tangan Kemal.

Kemal terpegun sesaat, lalu memandang bergantian antara lembaran uang di tangannya dengan wajah Arya. “Terima kasih, Kak,” katanya lalu balik badan.

Arya sedang memandang langkah Kemal menjauh ketika ide itu tiba-tiba muncul di kepalanya. Dia melupakan pegal di tungkainya dan bangun mengejar Kemal. “Hei, bagaimana kalau aku ikut ngamen denganmu? Aku mainin gitarnya dan kamu yang nyanyi… please… aku gak tahu harus berbuat apa…”

Begitulah awalnya. Hari itu mereka berjalan membawa-bawa gitar rusak itu kemana-mana hingga hari sore. Ketika Arya mengatakan akan kembali ke alun-alun untuk tidur di sana saat ditanya Kemal, bocah itu menawarkan gubuknya sebagai tempat bermalam bagi Arya, setidaknya untuk malam itu saja. Ibuk agak cerewet, tapi dia gak akan sampai menyuruh pergi kok. Nanti abaikan saja bapakku, atau malah dia sendiri yang akan bersikap gitu lebih dulu. Jangan pedulikan adik-adikku juga, mereka selalu ingin tahu. Itu yang dikatakan Kemal saat mereka berjalan pulang setelah membeli nasi bungkus sore itu.

Gubuk itu ternyata benar-benar sebuah gubuk. Arya langsung tahu kalau si empunya gubuk yang dibangun dari papan dan triplek rongsokan──di beberapa bagian malah ditambal dari kardus──di kawasan pinggiran nan kumuh itu adalah seorang pemulung. Terbukti dari banyaknya benda-benda bahan potensial untuk didaur ulang yang menumpuk di dekat gubuk. Kemal memberitahu kalau bapak dan ibuknya yang mengumpulkan semua benda-benda itu.

Permulaan takdir Arya dan Kemal si pengamen sudah sah di mulai sejak hari itu. Saat berbaring berhimpitan dengan Kemal dan dua adiknya di atas kardus yang ditindih dengan kasur kapuk super tipis di atasnya di salah satu ruang bersekat triplek di gubuk itu, karena ditanya, Arya menuturkan ceritanya kabur dari rumah hingga ranselnya hilang dengan sedikit improvisasi dari kejadian sebenarnya, minus Dewa dan Rauf tentu saja. Oh, well, anak-anak seusia Kemal tak perlu mendengar tentang homo dan gigolo, kan?

Dari hanya ‘setidaknya untuk malam itu saja’, ternyata agenda bermalam itu berterusan hingga kini. Seakan ada kesepakatan tak terucapkan. Pagi pertama di gubuk Kemal, bocah itu mengenalkan Arya pada MCK terdekat di lingkungan pinggiran tempat gubuknya berada. Lalu, tanpa sarapan, mereka berjalan meninggalkan gubuk bersama gitar di tangan Arya.

“Kak Ari, hei…!”

Arya tersentak dari lamunan panjangnya. Dia tidak ingat berdiri menunggu sambil memasukkan satu tangan yang bebas ke dalam saku jins bagian depan, tapi kini di situlah satu tangannya berada.

Pertama kali Arya menyadari kalau benda itu terbawa olehnya adalah saat dia mondar-mandir di sekitar alun-alun pada malam kehilangan ranselnya. Saat itu dia sama sekali tidak tahu dari mana benda itu berasal dan bagaimana caranya bisa ada di ceruk saku jinsnya. Wajar saja, ketika itu pikirannya sedang kalut karena baru kehilangan semua miliknya yang ada di dalam ransel. Setelah duduk dan menggerak-gerakkan benda itu di antara jari-jari tangannya sambil fokus mengingat-ingat apa yang sudah dilaluinya, barulah Arya sadar kalau benda yang terbawa itu adalah kunci apartemen Rauf yang diberikan padanya saat dia diminta pulang sendiri dari mall hari itu. Arya ingin melempar kunci itu jauh-jauh malam itu, tapi nurani melarangnya melakukan itu. Jadi, dia memasukkan kembali kunci itu ke saku jinsnya, dan tetap di sana hingga sekarang.

Di dalam saku jins, kini tangan Arya kembali menggenggam kunci itu dan serta-merta membuatnya terpikirkan Rauf. Dia punya hutang pada pria itu yang harus dikembalikan.

“Kak Ari kenapa sih?” Kemal bersuara lagi saat dilihatnya Arya masih mematung. “Ayo pulang!”

Arya melepaskan kunci dan mengeluarkan tangannya dari dalam saku jins. “Ayo!” katanya pada Kemal lalu berjalan mendahului.

Malam ini, setelah berbagi tiga nasi bungkus berempat dengan Kemal dan dua adiknya, Arya berbaring sambil terfikirkan Rauf. Apa yang dilakukan pria itu sekarang? Adakah dia bertanya-tanya kapan Arya akan melunasi hutangnya? Adakah dia menunggu-nunggu Arya datang ke apartemen membawa sejumlah uang yang pernah dipinjaminya? Adakah dia sadar kalau kunci apartemennya hilang satu? Adakah dia ingat memberikan kunci itu pada Arya? Dan pertanyaan paling besar Arya adalah : apakah Rauf benar-benar seorang gigolo?

***

Ibra mendadak muncul di Bengkel Z pagi menjelang siang hari ini. Ketika anak itu datang, Dewa sedang berada di bawah sebuah mobil sedan tua yang sedang diperbaikinya, belepotan dengan oli bekas di lengan dan pakaiannya.

“Arya ada sama Kak Dewa, ya? Kata pembantunya, dia meninggalkan rumah seminggu yang lalu dan belum pulang. Hapenya gak bisa dihubungi.” Ibra langsung ke maksud dan tujuannya datang ke Bengkel Z tanpa basa-basi.

Meski sudah mengira kalau Arya kemungkinan tidak bersama Ibra, tapi mendapati kepastian itu tetap saja mengejutkan buat Dewa, menambah besar kekhawatiran di dalam dirinya, juga membuat rasa bersalahnya makin menggunung. “Gue kira dia ada di tempat loe.”

“Jadi, Kak Dewa sudah lebih dulu tahu kalau dia kabur dari rumah?” Ibra tampak kaget. “Kenapa gue ngerasa kayak hidup di zaman batu, ya? Gue temannya, dan sama sekali gak tahu apa-apa. Shit!” Tapi lalu Ibra teringat puluhan missed call dari Arya seminggu lalu, ketika dia tak sengaja meninggalkan hapenya di kamar untuk pergi ke kosan botnya dan bercinta seharian, melepas kangen setelah tiga hari botnya balik kampung. Jadi, bukan salah Arya kalau sekarang dia ngerasa kayak hidup di jaman batu.

Dewa mengambil kain lap dan membersihkan tangannya. “Arya sempat datang ke sini…” Dewa tidak merasa perlu untuk menceritakan keseluruhan cerita kepada anak di depannya.

“Terus?”

Dewa menerawang, mengingat bagaimana marahnya──atau sebenarnya kecewa──Arya hari itu ketika meninggalkan rumahnya. “Terus, dia pergi setelah sempat bilang mau ketemu loe.”

“Tapi dia gak ketemu gue, Kak.” Ibra terdengar panik. “

“Iya, gue tahu. Kalau dia ketemu loe, pasti loe gak datang ke sini hari ini.”

“Ya Tuhan, kalau dia gak sama Kak Dewa, di mana dia sekarang?”

“Di luar sana,” jawab Dewa lirih.

Ibra jelas tampak khawatir. “Gak ada yang nyariin dia. Kata pembantunya, papa dan mamanya tenang-tenang saja semingguan ini. Bonyoknya Arya benar-benar keterlaluan…”

“Gue udah berhari-hari nyari, tapi gak ketemu.”

“Apa sebaiknya kita lapor polisi?”

“Bonyoknya yang lebih tepat untuk melakukan hal itu,” jawab Dewa, persis seperti yang Rauf katakan.

“Arya punya ortu yang berengsek. Gue curiga, bukannya cemas, mereka malah senang Arya kabur.”

Dewa menggidikkan bahu. “Loe yang temannya Arya, pasti lebih tahu ketimbang gue. Loe udah nyoba ke teman-temannya yang lain?”

“Gue udah nyoba nanya ke beberapa orang dua hari ini, Kak, tapi Arya bukan tipikal yang banyak membuat teman. Sebenarnya gue malah baru ngerasa curiga tiga hari lalu, saat dia gak kunjung nongol di kampus dan hapenya gak bisa dihubungi.”

“Kalau dia masih di luaran, kemungkinan besar hapenya sudah dijual.”

“Kayaknya emang gitu.”

Dewa membuang napas. “Hari ini gue gak bisa libur lagi, seperti yang loe liat, bengkel sesak dengan kerjaan. Mungkin nanti malam gue mau nyoba nyari lagi.”

“Oke. Bisa minta tolong kabari gue kalau ada kabar, Kak?”

“Tinggalin aja nomor hape loe di meja,” jawab Dewa acuh tak acuh sebelum kembali masuk ke bawah mobil sedan yang sedang dipretelinya.

Ibra agaknya sedikit kecewa. Tadinya dia mengira mereka akan bertukar nomor hape, bahkan mungkin pin aplikasi instant message. Ternyata enggak.

***

Arya mengalah. Setelah dua hari terus-terusan Kemal mengatakannya bau, sore ini dia menyerah dan mengikuti bocah itu ke loakan. Arya sangat sadar kalau dirinya berbau bukan karena dia tidak mandi. Setidaknya sejak bersama Kemal dia sudah mandi sehari satu kali, setiap pagi sebelum mengamen. Kalau dia juga mengganti pakaiannya sehari sekali, pasti Kemal akan diam. Tapi Arya tidak bisa melakukan itu karena dia tak punya pakaian ganti. Bahkan, jangankan baju dan jins, celana dalam ganti pun Arya tak punya. Sudah lebih seminggu dia mengenakan pakaian yang itu-itu saja. Bisa bayangkan bagaimana wujudnya? Yeah, biar lebih mudah, bayangkan saja gelandangan, karena memang begitulah adanya Arya kini. Kemal kerap mengolok-olok kalau Arya terselamatkan oleh wajahnya yang ganteng, makanya orang-orang bertahan untuk gak lari ketika mereka menyanyi.

“Pilih mana yang Kak Ari pengen, tenang aja, uang semingguan kita lebih dari cukup kok. Jangan lupa, itu uang Kak Ari juga.” Kemal meyakinkan.

Arya menggali di tumpukan pakaian yang dijaga seorang ibu-ibu gemuk yang sepertinya sangat mengenal Kemal. Sementara Arya berusaha mendapatkan apa yang sesuai dengannya, Kemal terlibat obrolan seru dengan si ibu gemuk itu.

Arya menemukan kaos hitam berleher V yang terpilin dengan kaus lain dalam tumpukan. Ketika berhasil ditarik, kondisi kaos itu ternyata sudah begitu longgarnya sehingga bisa memuat dua orang sekaligus ke dalamnya. Arya menjatuhkan kembali kaos itu ke tumpukan. Mata dan tangannya lalu berusaha menemukan kaos hitam lain. Mengingat kondisinya sekarang, sepertinya dia memang harus memilih warna hitam, dengan asumsi, warna gelap tidak cepat terlihat kotor. Kaos hitam kedua yang berhasil ditarik Arya ternyata robek di ketiak. Yang ketiga, selain dirasa terlalu ngepas untuk badannya, ada noda karat tepat di dada. Arya mulai putus asa pada warna hitam, sampai kemudian dia menemukan kaos hitam lainnya.

“Yang ini!” seru Arya lega sambil memperlihatkan oblong hitam lengan panjang yang juga berleher V pada Kemal. “Ada jahitan yang terlepas dikit di sini,” katanya sambil menunjukkan bagian ujung lengan kaus pada Kemal dan ibu-ibu yang punya dagangan, “tapi tak akan terlihat kalau lengannya digulung.”

“Oke. Pilih satu baju lagi dan satu celana,” jawab Kemal sebelum kembali meladeni omongan kenalannya.

Arya menurut saja, lagipula rasanya ternyata benar-benar menyenangkan dan puas sekali ketika dia berhasil menemukan ‘sesuatu’ dari dalam tumpukan ‘kain lap’ itu. Sore ini, Arya mengesampingkan pemikiran kalau keluarga Kemal lebih membutuhkan uang hasil mengamen Kemal untuk membeli makan ketimbang dihabiskan buat membelikannya pakaian bekas.

Baju kedua yang dipilih Arya adalah kaos merah hati berlogo CK di dada kiri. Arya sangat sadar kalau kaos itu adalah produk KW ke sekian. Tapi setidaknya kaos itu belum cukup melar hingga berubah dari size awal saat diproduksi. Beralih ke tumpukan jins yang terlihat lusuh dan pasti sudah luntur dari warna aslinya, Arya tidak lagi mementingkan tampilan, karena semua jins itu tampak serupa; robek, kusam, dan pudar. Dia hanya berusaha mendapatkan nomor pinggangnya.

“Ini,” kata Arya setelah selesai.

Kemal menatap jins yang dipegang Arya. Ada robekan horizontal di salah satu lutut, entah memang sudah robek sejak dibuat atau belakangan saat dipakai pemilik sebelumnya. Apapun, robekan itu terlihat bagus menurut Kemal. Tidak berkata apapun, kemal merogoh uangnya dan dimasukkan ke tangan si ibu sambil mengucapkan terima kasih.

Arya terbengong-bengong sendiri karenanya. Ketika Kemal bergerak lebih dulu meninggalkan lapak jualan si ibu, Arya tak punya pilihan lain selain mengikuti anak itu dengan kaos dan jins tersampir di satu bahu.

“Kamu gak nanya harganya berapa?” tanya Arya setelah sudah berjalan beberapa langkah.

“Harganya udah pas segitu, Kak Ari tenang aja.”

Arya bingung sendiri. “Bisa pas bagaimana? Kamu ngasih berapa? Bagaimana kalau kurang? Atau lebih?”

“Pokoknya udah pas. Kalau kurang atau lebih, kita pasti dipanggil.”

Arya melongo. “Gitu doang?”

“Iya, gitu doang.”

“Semua penjual gitu?”

“Enggak. Cuma Bu Welas aja, dan cuma sama aku aja sistemnya kayak gitu.” Kemal cengengesan sendiri. “Bu Welas itu karibnya Ibuk.”

Mengertilah Arya.

Puluhan meter meninggalkan lapak Bu Welas, Kemal menghentikan langkah di satu lapak yang dijaga seorang bapak-bapak. Sepertinya mereka akan beli sempak Arya. Bukan sempak bekas──karena ada bungkus kotak palstiknya, tapi yang harganya tak pernah dibayangkan Arya. Dia sampai melongo saat tahu harganya. Sama sekali tidak terpikirkan oleh Arya kalau ada celana dalam yang harganya semurah itu. Begitu murahnya hingga Arya ingin tertawa bekakakan sampai perutnyamelilit. Namun, begitu menyentuh bahannya, sekali lagi setelah sistem jual beli antara Bu Welas dan Kemal, Arya mengerti mengapa celana dalam dengan warna mencolok itu berharga murah. Tapi dia bisa apa? Celana dalam bermereknya semua tertinggal di dalam lemari rumahnya, bahkan saat masih punya ranselnya dia juga tak punya sempak di dalam sana.

Berkilo-kilo meter dari tempat Arya dibuat terperangah dengan harga celana dalam, di jok belakang mobil Dewa, kotak-kotak berisi kolor bagus yang pernah dipilih Arya dari etalase mall untuk dibayar Rauf kemudian, sedang teronggok sepi dalam kantong belanjaan. Ini aneh. Tapi… Arya kangen celana dalamnya di rumah, dan menyesali diri karena terlupa mengambil kantong belanjaannya dari dalam mobil Dewa.

Dari lapak kolor si bapak, Arya mendapatkan satu box celana dalam isi tiga. Mereknya bahkan tak pernah didengar Arya sebelumnya. Perfect sekali. Arya berdoa semoga kontolnya tidak gatal-gatal.

*

“Apa Kak Ari punya pacar?”

Kemal sepertinya terlalu banyak makan tempe. Asupan protein berlebih ternyata punya efek samping aneh buat anak itu, efek samping aneh seperti tiba-tiba bicara melantur karena sulit tidur. Sebelumnya topik mereka tidak aneh, tentang adik masing-masing.

“Enggak.”

“Enggak punya?” tanya Kemal memastikan sambil menarik sarungnya lebih ke atas.

“Enggak. Kalau kamu?”

“Ingat cewek yang ketemu kita tadi pagi di belokan gang saat mau ke MCK?”

Arya berusaha mengingat kejadian yang dimaksud Kemal. Tadi pagi mereka memang berpapasan dengan ramai orang, tapi hanya satu kali dengan anak perempuan yang sebaya Kemal. “Yang pulang nyuci sama emaknya itu?”

“Iya, yang cantik itu.”

“Itu pacarmu?” tebak Arya. Dia merasa geli sendiri karena Kemal menggunakan intonasi yang begitu tegas saat mengucapkan kata ‘cantik’, seperti hendak memprotes Arya yang tidak terpikirkan kata itu, namun malah terpikir kalau cewek yang dimaksud kemal adalah ‘yang pulang nyuci sama emaknya’ bukannya ‘yang cantik itu’.

“Itu si Eneng. Aku naksir dia…”

Arya batuk-batuk.

“Gak cuma naksir sih, kayaknya aku jatuh cinta sama dia.”

Arya batuk-batuk makin keras, meningkahi dengkur halus adik-adik Kemal di dekatnya. Sepertinya Kemal tak peduli kalau respon Arya tidak menyenangkan, atau bisa jadi ingatan tentang anak bernama Eneng sedang menumpulkan sesitivitasnya. “Katanya, jatuh cinta itu enak ya, Kak?”

Arya ingin mengoreksi kalau yang enak sebenarnya bukan jatuh cinta, tapi bercinta, namun dia keburu sadar kalau Kemal masih anak-anak. “Perjalananmu masih panjang untuk sampai ke sana, Dik. Aku aja yang sudah berjalan lebih jauh darimu masih belum bertemu cinta. Jadi, aku sama sekali gak tahu gimana rasanya jatuh cinta itu. Tapi… aku tahu kalau untuk memahami cinta, kita perlu dewasa lebih dulu.”

“Kak Ari memangnya belum dewasa?”

“Sudah, tapi aku belum pernah jatuh cinta.” Arya teringat pada Dewa, pada Ren yang katanya begitu mencintai Dewa. Arya berdeham, “Tapi aku bisa memberitahumu kalau cinta butuh dua orang yang memiliki perasaan yang sama untuk membuatnya berhasil. Jadi, kalau kamu beneran cinta sama si Eneng yang cantik itu, kamu harus pastiin kalau si Eneng yang cantik itu juga jatuh cinta sama kamu. Kalau ternyata si Eneng yang cantik itu enggak cinta, atau malahan enggak suka sama sekali, sebaiknya kamu jangan memaksakan dirimu.”

“Tapi kayaknya si Eneng juga suka aku kok.”

“Baru kayaknya, kan?”

“Apa aku harus bilang ke dia?”

Arya membuang napas di dalam sarungnya yang bau apek. “Kenapa kamu gak kerja dulu yang bener, dewasa seiring waktu, setelah itu baru mikirin si Eneng?”

“Kak Ari gak ngerti sih gimana rasanya. Kan Kak Ari gak pernah jatuh cinta…”

Sepertinya Kemal ngambek gara-gara disuruh mikirin si Eneng belakangan hari saja. Tapi mau bagaimana lagi, masa Arya harus menyarankan Kemal buat nembak si Eneng terus pacaran. Bagaimana kalau gara-gara saran Arya itu terus terjadi hal-hal yang hanya diinginkan oleh Kemal dan Si Eneng berdua tapi tidak diinginkan oleh keluarga dan orang sekitar mereka?

Namun, kata-kata Kemal tetap saja menohok ulu hati Arya.

Kak Ari gak ngerti sih gimana rasanya. Kan Kak Ari gak pernah jatuh cinta…’

Arya mungkin pernah akan jatuh cinta. Dewa pernah membuatnya hampir jatuh cinta, atau mungkin sudah. Tapi ketika tahu ada orang lain yang lebih dulu jatuh cinta pada Dewa namun Dewa mementahkannya, cinta Arya yang sudah meluncur jatuh malah berubah naik mengambang kembali melawan gravitasi, melesat ke atas bagai roket untuk kemudian terbakar hangus di lapisan ozon.

Sialannya, meski Arya benci Dewa, dia tak bisa mengingat pria itu tanpa merasa kangen. Terlepas saat ini Arya benci atau tidak, yang pasti Dewa pernah memesonanya pada tingkat yang mampu membuatnya sampai rela jadi bot jika mereka berjodoh. Itu bukan hal yang sepele mengingat selama ini Arya selalu jadi yang superior.

Saat Arya memejamkan mata karena sepertinya percakapan absurdnya dengan Kemal sudah diputus oleh anak itu sendiri, gambaran penis Dewa──yang mencuat di antara sibakan pinggang celananya ketika pria itu sedang coli di ruang kerjanya──berseliweran di pelupuk mata Arya. Di MCK besok, sepertinya Arya butuh merangsang keluar air maninya sendiri. Rasanya bagai sudah berkurun sejak kali terakhir Arya melakukan itu.

***

“Cinta tak bisa dipaksakan, Ren. Mungkin seharusnya gue ngasih loe kesempatan dan berusaha buat jatuh cinta sama loe, tapi gue gak bisa, Ren… gue gak bisa.” Dewa memandang Ren dengan lekat, berharap laki-laki itu mengerti keadaannya, memahami setiap kata yang melewati bibirnya dan tidak mengamuk seperti yang sudah-sudah. “Gue tahu kalau gue memang berengsek. Dan loe pantas mencintai orang lain yang lebih baik. Terima kasih karena sudah mencintai gue, dan maaf karena gue gak bisa balas cinta loe dengan cara yang sama. Dan gue benar-benar menyesal untuk itu, sungguh…”

Ren terdiam. Tadinya di telepon, Ren mengira Dewa mengajaknya dinner malam ini sebagai langkah awal untuk memperbaiki hubungan mereka yang membara terus akhir-akhir ini, sangkaan yang membuat langkah Ren terasa mantap ketika meninggalkan ruang on air. Ternyata Ren salah mengira. Dewa tidak mengajaknya dinner romantis untuk memperbaiki hubungan mereka, melainkan untuk membuat hubungan itu benar-benar berakhir.

“Apakah karena loe jatuh cinta pada orang lain, pada Arya?”

“Gue gak yakin, Ren…”

“Mungkin bakal lebih mudah bagi gue kalau loe langsung jawab iya…” Ren benar-benar terlihat cengeng saat ini. “Apakah dulu, di awal kita ketemu, loe juga ngerasain hal yang sama ke gue seperti yang loe rasain ke Arya saat ini?” Ren mengangkat jarinya ketika Dewa tampak hendak menjawab. “Pikirkan dulu, jangan langsung dijawab…”

Dewa menggeleng.

“Bohong!” Ren agaknya mulai naik darah lagi.

“Yang gue rasa ke Arya saat ini rumit, Ren. Loe bilang bakal lebih mudah kalau gue bilang iya. Sepertinya gue memang jatuh cinta pada Arya…”

“Loe bilang gitu buat nyakitin gue doang.”

“Maka berhentilah membiarkan gue nyakitin loe. Pasti ada seseorang di luar sana yang sedang nungguin loe, Ren… nungguin loe buat ngeraih bahagia loe sendiri, bahagia milik loe berdua, yang gak bisa loe dapetin di gue. Bisakah loe paham? Please…” Dewa memaksakan diri meremas tangan Ren di atas meja. “Buatlah ini mudah buat kita berdua… Gue capek jadi bajingan dengan bikin loe sakit kayak gini terus.”

“Kalau gitu jangan…” Ren mulai menangis lagi.

“Gue minta maaf… benar-benar minta maaf.”

“Gue benci loe!”

“Loe pantas benci gue. Bahkan, gue juga benci diri gue sendiri…”

*

Debur ombak yang memecah di batu-batu bendungan jadi satu-satunya sountrack dominan bagi dialog mereka, ditambah sesekali suara mendesau ketika angin berhembus cukup kencang dari laut. Asap rokok yang keluar dari mulut masing-masing tidak pernah bertahan lama di sekitar keduanya, langsung buyar dan lenyap seketika begitu angin berhembus. Saat ini pastilah sudah hampir pagi, tapi langit masih menyisakan bintang-bintang.

“Gue gak tahu lagi harus nyari ke mana…”

Rauf menoleh Dewa yang baru saja membanting puntung rokoknya ke tanah berpasir di bawah mereka. Pria itu tampak kacau saat di club. Sambil mengutak-atik peralatan DJ-nya di stage, Rauf bisa melihat kalau Dewa memang sedang kacau. Ketika mereka berkendara tanpa tujuan dengan mobil Dewa lagi setelah Rauf selesai nge-DJ, saking kacaunya Dewa, dia meminta Rauf yang menyetir karena takut menabrak sesuatu.

Dewa menegakkan tubuh, menginjak puntung rokok yang baru saja dibuangnya itu dengan sepatunya hingga padam lalu kembali menyandarkan bokongnya ke kap mobil. Rauf menyodorkan bungkus rokoknya lagi, Dewa mengambil sebatang dan menyulutnya langsung ke rokok yang sudah pendek di bibir Rauf.

“Sudah tiga kali Sabtu, Raf… Sabtu pertama saat dia ngilang, Sabtu pekan lalu, dan Sabtu besok…” Dewa menghembuskan asap rokok dari dalam mulutnya.

“Ini sudah dihitung Sabtu, Goblok. Sabtu saat dia ninggalin apartemen gue, Sabtu pekan lalu, dan Sabtu hari ini,” ucap Rauf mengoreksi. Diliriknya jam tangannya, “Pukul empat seperempat, sebentar lagi terang.”

Dewa menghisap rokoknya kuat-kuat sampai pipinya jadi cekung dan api di ujung rokok menyala terang. Rauf memerhatikan hal itu, memerhatikan sosok Dewa yang sepertinya sedang tidak berada dalam keadaan sempurna, lantas dia merasa kasihan. Sepertinya Arya memang begitu berarti bagi Dewa. Rauf ragu telah salah menafsirkan perasaan Dewa selama ini. Awalnya dia mengira Dewa hanya menganggap Arya sebagai sasaran pelampiasan seks berikutnya, lalu setelah Arya hilang, Rauf mengira mengapa Dewa begitu gigih berusaha menemukan Arya adalah karena dipicu rasa bersalah yang besar. Namun, melihat perubahan berangsur-angsur yang terjadi pada Dewa hingga hari ini karena ketiadaan Arya, Rauf harus menduga bahwa Dewa bisa jadi benar-benar punya perasaan yang kuat terhadap Arya.

“Hei, loe baik-baik saja, kan?” Rauf menepuk pelan pundak Dewa.

“Entahlah, Men…”

“Loe sadar gak kalau loe tampak kacau akhir-akhir ini?”

Dewa menoleh pada Rauf, menatap pria itu sesaat lalu menyeringai. “Loe sadar gak kalau loe sedang ngasih perhatian ke gue?”

Rauf bengong.

“Hati-hati, Bro… Homo memang bukan influenza yang mudah menular, tapi trust me, banyak pria yang awalnya hidup lurus sebagai straight perlahan-lahan menikung hingga ketemu belokan patah sembilan puluh derajat, lantas ketika sadar, tahu-tahu mereka sudah terlalu jauh untuk kembali ke jalan sebelumnya yang lurus.”

“Gue masih lebih suka penis gue dioral cewek, maaf ngecewain loe.”

Dewa tertawa pendek sebelum tatapannya kembali menerawang. “Tadi sebelum ke club, gue baru mutusin Ren…”

“Dan siapa Ren ini? pacar atau selingkuhan loe?”

“Partner seks gue.”

“Renata? Cewek? Loe biseks?”

“Daren, laki-laki.” Dewa sejenak tergoda untuk menceritakan tentang Audrey pada Rauf, sekaligus menjawab pertanyaan Rauf tentang biseks. Tapi lalu Dewa memutuskan untuk tidak menceritakannya, biarlah Rauf tetap mengenalnya sebagai Dewa yang homo. “Katanya, dia sungguhan cinta sama gue, entah pengakuannya benar atau tidak, gue gak punya alat buat mastiin…”

“Alat yang loe maksud adalah hati loe, Bung…”

“Hati gue bilang, kemungkinan itu bukan cinta. Tapi hanya perasaan tak ingin ditinggalkan…”

“Ditinggalkan oleh orang yang kita cintai itu rasanya tidak enak dan menyedihkan sekali, Wa. Gak ada siapapun yang senang dan bahagia jika ditinggalkan oleh orang yang dicintai. Apa loe terlalu dungu buat memahami hal itu?” Rauf sangat paham akan hal itu, dia adalah bukti nyata dari kalimat yang baru saja diutarakannya itu.

“Kalau gitu, kemungkinan besar memang dia benar-benar cinta. Tapi gue gak punya perasaan apapun padanya, Raf… apa salah kalau gue membebaskan diri gue darinya?”

Apa Katia salah membebaskan diri darinya? Rauf tidak bisa memberikan jawaban, tidak untuk Dewa dan tidak juga untuknya sendiri.

“Menurut gue, kami sama-sama saling membebaskan satu sama lain. Gue ngebebasin dia dari rasa sakit karena perasaannya pada gue yang gak bisa gue balas, sedang dia ngebebasin gue dari rasa bersalah karena gak bisa ngebalas perasaannya dengan cara yang sama seandainya kami tetap bertahan bersama. Loe setuju, kan?”

Rauf masih tidak menjawab. Api rokoknya sudah sampai ke filternya. Dijatuhkannya beda itu ke tanah dan dibiarkan tetap menyala.

“Gue yakin apa yang gue lakuin sudah benar. Gue yakin sudah ngambil keputusan yang tepat.”

“Loe mutusin partner seks loe karena Arya?”

Dewa menatap langit sebentar lalu kembali tertawa pendek. “Loe gak bakal percaya ini, Bro… Gue udah ngerasa ada sesuatu yang beda dalam diri gue sejak pertama kali jumpa dengan anak itu. Gue gak pernah jatuh cinta sebelumnya dengan siapapun. Bahkan, sebelumnya gue gak punya ide apapun tentang apa itu cinta, tapi setelah bertemu dengannya… gila, Men… rasanya gue punya ide satu samudera. Dan, ya… rasanya gue memang sudah jatuh cinta dengan Arya, bahkan mungkin sejak pertama kali melihatnya, hanya saja waktu itu gue belum sadar…”

Penuturan panjang Dewa yang terdengar begitu benar membuat Rauf kehilangan kata-kata. Rasanya sudut pandang Rauf terhadap Dewa sudah bergeser jauh dari titik awal. Dewa tidak sebajingan yang diperlihatkan dirinya sendiri.

“Dan sekarang gue gak tahu dia ada di mana…” Rokok Dewa habis terbakar sendiri di sela jari. Hembus angin ikut membantunya menghabiskan lintingan tembakau itu. “Loe sendiri, berapa kali pernah jatuh cinta seperti itu?”

Rauf tidak pernah ingin membuka topik Katia sebelumnya. Selama ini dia belum pernah membicarakan Katia dengan siapapun, rasanya terlalu sakit untuk dikisahkan. Setelah gadis itu meninggalkannya, Rauf benar-benar tidak membiarkan cerita tentang Katia keluar dari dalam dirinya. Namun, bersama Dewa sekarang, Rauf merasakan hal yang sebaliknya. Sikap Dewa ketika bertanya, tatapannya yang tidak menuntut, seakan berbicara langsung padanya, seolah berkata bahwa dia bisa berbagi cerita apapun, Dewa akan menampung semuanya tanpa menghakimi. Seolah… Dewa adalah pastur yang duduk mendengarkan di bilik sebelah, siap mendengar pengakuan Rauf dengan hati putih.

“Satu kali…,” ucap Rauf. “Dan rasanya luar biasa…”

“Wow.” Dewa merubah posisi bersandarnya lebih menghadap Rauf. “Berarti hanya cewek yang di foto itu?”

“Namanya Katia. Dan gue benar-benar mencintainya sampai pada tingkat seakan rasa cinta itu dapat gue rasakan mengalir dalam aliran darah gue, seperti efek suntikan narkotika yang dirasakan pecandu di dalam aliran darah mereka. Bahkan, gue seakan bisa merasakannya mengisi rongga-rongga di tulang-tulang gue, bercampur dengan sumsum di dalamnya.”

Dewa takjub di tempatnya.

“Orang-orang sering bilang cinta setengah mati, tapi gue lebih dari itu. Mungkin dua pertiga mati.” Rauf menghela napas untuk memberi jeda pada kalimatnya. “Gue ngerasa seperti keladi. Tak peduli walau disimbah air sebanyak apapun, keladi tetap bergeming kering. Untuk Katia, gue pernah punya cinta kayak gitu, begitu yakin dan setia. Gue sama sekali gak punya niat mendua, gak ada sedetik pun gue mikirin untuk tergoda pada gadis lain, atau untuk menanggapi perhatian gadis lain. Gak ada…” Rauf tercekat tiba-tiba. Tenggorokannya seperti terbakar.

Dewa menangkap perubahan pada riak wajah Rauf.

“Tapi tetap saja dia memilih membebaskan dirinya dari gue… membebaskan dirinya dari cinta gue… Rasanya seperti…” Rauf tercekat lagi. “Oh, God!” giginya bergemelutukan. “God…!” Rauf meninju kap mobil Dewa. “Damn it!

“Luluh-lantak…,” lirih Dewa ketika sadar kalau Rauf tak akan bisa meneruskannya. Pria itu tampak begitu rapuh saat ini. Dewa belum pernah melihat Rauf yang seperti itu. “Rasanya luluh-lantak…”

Rauf meringkuk, memelukkan kedua lengannya ke dada bagai orang kesakitan, napasnya terdengar berat. Sesaat kemudian, dia mulai membekapkan kepalan tangan kanan ke mulutnya sementara lengan kiri tetap memeluk tubuh. badannya berayun-ayun pelan, bahunya sedikit bergetar dan rahangnya mengeras.

Dewa seperti dipaksa untuk ikut terseret ke dalam pusaran luka Rauf. Disentuhnya pundak pria itu, berharap bisa sedikit menguatkan atau apa. “Hei…” Dewa beringsut lebih dekat.

Rauf kembali mengadu geraham-gerahamnya satu sama lain. “Selama ini gue hidup dengan sepertiga hati gue, Wa…” Suara Rauf terdengar sengau dan bergetar. “Dia telah menghancurkan dua pertiganya… dia telah menghancurkan dua pertiganya…” Rauf terus saja mengulang-ulang kalimat itu.

Dewa merangkulkan sebelah lengan ke bahu Rauf, sebelah lagi tangannya sedang digenggam Rauf begitu erat. Dewa khawatir Rauf akan mematahkan jari-jarinya saking kuatnya digenggam, tapi Dewa sadar kalau Rauf membutuhkan itu. Jadi dia menahan sakit dan membiarkan Rauf meremas kuat jari-jarinya selama yang diperlukan.

Angin beraroma garam masih berhembus dingin dari arah laut. Gemintang berangsur-angsur melenyapkan diri seiring langit yang perlahan-lahan berubah terang. Lengan Dewa masih merangkul bahu Rauf, tangan Rauf masih menggenggam tangan Dewa. Tak ada yang menduga hal itu akan terjadi. Ketika Rauf menolehkan kepala ke arah Dewa, saat itu wajah Dewa justru sedang berada sangat dekat dengan sisi kepala Rauf, itu karena kepala mereka juga sedang bersisian. Bibir mereka saling menyentuh begitu saja. Ciuman itu terjadi dengan sendirinya dan bertahan selama beberapa detik, durasi yang lebih dari cukup bagi Dewa untuk membuat satu lumatan penuh di atas bibir Rauf.

Mungkin esok mereka akan saling menyalahkan, mungkin esok mereka akan saling membela diri, mungkin esok mereka akan sama-sama mengaku salah sebelum mengambinghitamkan suasana. Tapi sebelum semua itu terjadi, yang pasti saat ini, mereka sedang berciuman…

***

= TO BE CONTINUED =

 

Note :

Sori telat lagi… Gue sibuk sakit semingguan lalu, dan gak seorang pun yang datang jenguk. Loyalitas kalian yang ngakunya pembaca blog gue benar-benar payah!

Warning !!!

Chapter VI bakal lebih telat dari ini, gue janji!

 

 

Early November 2016

Dariku yang sederhana

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com