8959503_f520

Gemini Tales

Act 2 – Rainbow Milk Lollipop

Oleh : Pandu Wiratama

Aku melirik jam dinding di sudut kamar, mematikan layar komputer, lalu mendesah. Dengan malas-malasan aku mengangkat bokongku yang sudah pewe dan berganti pakaian. Pulang sekolah tadi, masih mengenakan seragam, aku langsung duduk di depan komputer dan membuka blognya si NampanBoy, salah satu blogger favoritku.

Menurutku sih, isi blognya lucu dan cukup menghibur. Sama sepertiku, si empunya blog yang menyebut dirinya sendiri NampanBoy, mengaku masih SMA, sekarang duduk di kelas sebelas, satu tahun di atasku. Isi blognya tidak jauh-jauh dari kejadian sehari-hari yang dia alami, dengan sedikit hiperbola dan komentar humoris. Kurasa di dunia nyata, NampanBoy tipe cowok supel dan gampang dijadikan teman.

Selain caranya bertutur yang membuatku hanyut dalam tulisannya, aku juga bisa berempati pada ceritanya, karena kami sama-sama cowok yang menyukai cowok lain. Aku tertawa ketika dia membagi pengalaman lucunya, dan ikut bersedih ketika dia meluapkan emosi dan menuangkannya dalam kata-kata di blog.

Seperti tulisannya beberapa minggu terakhir, NampanBoy mengaku sedang jatuh cinta pada seorang adik kelas. Dan jelas adik kelasnya itu cowok, dan kemungkinan sudah punya cewek. Setiap hari NampanBoy menulis quote tentang orang patah hati. Tadi pagi misalnya, dia mengutip lirik lagu Imagination yang dinyanyikan Shawn Mendes.

I keep craving, craving, you don’t know it but it’s true, can’t get my mouth to say the words they wanna say to you, tulisnya di blog.

Ini salah satu lagu kesukaanku, dan liriknya selalu membuatku sedih. Jadi aku memberinya semangat berupa ikon jempol ke atas dengan identitas anonim.

Di hari lain dia pernah menulis,

“Gua paling benci kalo jatuh cinta, karena untuk cowok kayak gua, yang rasa sukanya nggak sejalan dengan Langit dan Bumi, jatuh cinta itu seperti cobaan paling berat di dunia. Gua bingung dengan orang yang mengira kalo gua begini karena gua kepengen begini. Mana ada sih orang waras yang secara sadar rela memilih menjadi pribadi yang dicap sebagian besar orang di dunia sebagai mahluk nggak normal. Bukan berarti ada yang tahu kalo gua begini, mending gua mati aja daripada ketahuan orang lain. Seperti lirik yang ditulis Macklemore, a world so hateful some would rather die than be who they are!

Aku tidak bisa lebih setuju lagi membaca semua unek-unek yang dia tulis. Adilkah jika kita dinilai berdasar apa adanya diri kita – gender, suku, agama, warna kulit, bahkan orientasi seksual – dan bukan dari apa yang kita perbuat?

Dan ya, seperti halnya NampanBoy, aku juga sedang merana karena jatuh cinta. Kalau aku mengenalnya di dunia nyata, kurasa kami bisa saling curhat dan langsung jadi sodara angkat. Tentu saja itu cuma pemikiran konyol. Ini bukan rahasia yang dengan mudahnya bisa dibagi ke orang lain, bahkan tidak kepada ayahmu sendiri.

Bagiku, baru Arkan seorang yang kuberi tahu. Aku percaya dia tak akan membuatku kecewa dengan membagi rahasiaku pada orang lain. Cukup sekali aja dia menjadi sahabat paling brengsek di dunia. Kurasa dia sudah tobat.

Dan sedang kangen sama aku.

Hapeku bergetar. Aku tersenyum melihat foto Arkan dengan jari tengah mengacung kurang ajar di layar. “Napa bro, tumben nelpon, biasanya pelit pulsa?” aku menjawab panggilannya.

“Gila, adeknya si Banteng nembak elu, bro?” teriak Arkan dari ujung telepon.

“Wew, suara lo makin gede aja, mau bikin telinga gua budek?”

“No, no, no…“ balasnya berirama. “Elu jangan ngeles, gua baru liat watsap elu barusan, kok gak langsung nelpon gua sih, itu kan kejadian dua hari lalu, gosipnya udah setengah basi dong! Apa elu udah gak nganggep gua lagi? Mentang-mentang sekarang elu maennya sama gadis perawan?” omel Arkan, membuatku terbahak.

“Lo bisa dikulitin Lana idup-idup kalo berani manggil dia gadis perawan.”

“Alah, mana takut gua, bro,” tukas Arkan pede. “Elu lupa gua karate sabuk cokelat? Kalo dia bukan cewek, gua tendang juga mental tuh si cewek Virgo.”

“Ah, lo baru sabuk cokelat aja belagu,” balasku. “Lo nggak tahu aja, si Lana udah sabuk item. Kalo kalian ketemu nanti, siapa nendang siapa, itu masih harus diperdebatkan,” aku menggodanya. Kulihat pantulan wajahku yang tersenyum di depan cermin. Seragam sekolahku kini sudah berganti kemeja putih bermotif naga hitam dan celana jins.

“Masa sih?” tanya Arkan sangsi, “Dia kan cuma lebih tua lima bulan dari gua?”

“Iya, baru bulan kemaren Lana ikut tes kenaikan sabuk di Jakarta, dan dia LULUS!” tukasku memberi penekanan. “Mending lo jangan cari gara-gara deh.”

Arkan terdiam sejenak. “Kalo pun emang dia lebih jago, yang masih gua sangsikan, gua kan tinggal sembunyi di belakang elu aja, emangnya gadis perawan berani pencak silat, pamer otot di depan gebetan? Emang gak takut dikira cowok? Lagian gua kan punya hak veto buat nolak dia jadi kakak ipar!” Arkan tertawa keras-keras.

“Anjir, kakak ipar!” sungutku pasrah.

“Cie yang baru ditembak,” Arkan ganti menggodaku. “Gua heran, apa sih yang diliat semua orang dari muka elu, sampe ditembak tiga kali, gua yang lebih ganteng aja belom pernah ada yang nembak, kan kampret!” tambahnya minta digampar.

“Lebih ganteng? Iya kali, kalo diliat dari bulan!” seruku. “Lagian gua ditembak baru dua kali, sekali sama cewek lo, si Nadia, terus sekali sama Lana. Hadeh, udah kelas sepuluh kok otak lo makin ngaco, satu tambah satu jadi tiga!”

Arkan kembali membisu. “Gua gak masuk itungan?” akhirnya dia berkata.

“Sarap, kapan lo nembak, yang ada lo nolak gua gara-gara Nadia!”

Arkan mendesah. “Emang susah punya sahabat tapi nggak peka, kalo diitung-itung gua udah nembak elu delapan puluh tiga kali secara implisit, delapan puluh empat kali kalo sekarang ini juga diitung, cuma elu nya aja gak pernah nyadar.”

“Bukan nggak sadar, bro,” jawabku. “Cuma gua udah nolak lo delapan puluh tiga kali secara implisit, delapan puluh empat kali kalo sekarang ikut diitung,” aku membalas kata-katanya. “Cuma sahabat gua aja kurang nyambung, susah emang.”

“Anjir, elu bales dendam nih ceritanya? Mentang-mentang dulu gua nolak elu karena Nadia, sekarang elu nolak gua buat si gadis perawan?”

Arkan jelas cuma bercanda. Itu emang pernah terjadi, namun kejadiannya tidak seperti yang dia gambarkan. Separuh omongannya tadi cuma fitnah, terlalu dilebihkan.

Dan kami sudah biasa saling ejek soal itu.

Aku tertawa sambil melirik arlojiku. Sudah jam empat, sudah waktunya aku pergi kalau tidak mau kemalaman.

“Udah dulu, Kan,” kataku, “Capek gua becanda sama lo, bikin pipi sakit aja. Ini juga gua mau pergi. Entar malem aja kita Skypean.”

“Wew, kencan ama si gadis perawan? Elu gampang amat selingkuh, bukannya yang elu suka tuh abangnya, si Banteng?”

“Apanya yang kencan,” gerutuku. “Gua kan masih suka cowok, mana mungkin lah gua jadian sama Lana.”

“Jadi elu nolak dia?”

“Menurut lo, mau gimana lagi?” aku mengeluh.

“Emang elu sama sekali gak punya rasa buat cewek, bro?”

“Selama ini lo kenal gua, masih perlu nanya?” tukasku jengkel.

“Maksud gua, gua kan juga pernah suka sama elu, tapi gua tetep bisa on tuh kalo bayangin yang mesum-mesum sama Nadia,” Arkan menjelaskan.

“Otak lo tuh, vulgar!” aku mengomelinya.

“Yaaa, gua kan cuma pengen menegaskan.”

Kutarik sejumput rambutku yang mencuat di dahi. Arkan bisa sangat tidak sensitif dan bikin jengkel kalo sifat keponya lagi kumat.

“Nih, kalo lo pengen penegasan, ibarat kawat, semua cowok normal di luar sana tuh lurus, punya lo melengkung, punya gua bengkok, sederhana kan?” omelku jutek. “Gua suka cowok nggak pake plin-plan kayak lo!”

Arkan terkesiap di ujung telepon.

“Pan,” panggilnya dengan nada serius. “Punya elu beneran bengkok? Udah dibawa ke dokter belum? Bahaya tuh!”

Kutarik napas dalam-dalam, dan kumatikan telepon darinya.

***

Masih setengah jengkel pada Arkan, aku menenteng sepedaku menuju rumah bercat oranye di sebelah. Tidak seperti Bandar Lampung, dan juga kota-kota lain kurasa, di Bumi Telaga Dalom ada larangan menggunakan sepeda motor, jadi nyaris semua orang bepergian menggunakan bus trans atau sepeda. Menurutku sih lebih sehat karena mengurangi polusi dan kemacetan. Lagipula banyak jalur khusus sepeda yang menjangkau seluruh bagian kota. Kata Ayah, di sini fasilitas buat pesepeda tidak kalah dari Belanda, entah lah. Aku kan belum pernah ke sana untuk membandingkan.

Sampai di halaman rumah Lana, kulihat seorang cowok sedang mencuci sebuah Jazz merah. Cowok itu cuma mengenakan celana jins kumal di atas lutut. Meskipun tidak kekar seperti binaraga namun tubuhnya padat berisi, terlihat sangat gagah dibalut campuran air sabun dan keringat. Saat melihatku dia langsung menyapa.

“Eh, lu Pan, pasti nyariin Lana ya?”

“Iya, kak,” jawabku sedikit tergagap. Maksudku, sewaktu berpakaian lengkap saja Kak Baran sudah terlihat super keren di mataku, melihatnya nyaris telanjang begini, jelas membuat jantungku melompat-lompat tidak karuan. Oke, menyebut Kak Baran nyaris telanjang mungkin sedikit terlalu berlebihan. Dan sedikit vulgar. Tapi dia kan pujaan hatiku. Tentu saja apapun tentangnya membuat aku gila. Apa ini yang dirasakan Lana tiap kali melihatku? Kurasa aku kualat padanya.

Kak Baran memberiku cengiran penuh arti, yang membuatku sedikit waswas. Cowok satu ini sebenarnya ramah, tapi jahilnya suka kelewatan. Dia suka sekali mengerjai adiknya. Sialnya aku jadi sering kebawa-bawa.

“Naaaaa, cowok lu dateng nih, mau pergi kencan ya?” teriak Kak Baran.

Nah kan, aku kena lagi ikutan dikerjai sama dia.

Daun telingaku memerah. Oke, mungkin bukan cuma telinga, tapi pipiku juga terasa panas. Suara Kak Baran gede banget! Sepasang anak kuliahan yang sedang maraton melirik ke arahku dari luar gerbang yang terbuka lebar sambil senyum-senyum, begitupula serombongan ibu-ibu yang lagi asik rebutan beli sayur, semua menoleh padaku sambil tertawa, termasuk abang tukang sayurnya di balik gerobak.

Rasanya aku ingin menggali lubang untuk bersembunyi. Maksudku, kenapa tukang sayur ini malah mangkal di depan rumah Kak Baran sore-sore begini! Apa dia sengaja konspirasi sama ibu-ibu komplek buat bikin aku malu?

Tentu saja semua ini bukan salah Kak Baran. Mana mungkin aku bisa menyalahkannya untuk apapun. Yah, kurasa aku terlalu memuja si cowok Taurus.

“Buruan Naaaaa!” Kak Baran kembali jerit-jerit dengan muka sengak. “Si Pandu udah kayak kepiting rebus tuh, malu kali diliat orang ngapel depan rumah cewek!”

Kembali kudengar gelak tawa ibu-ibu komplek. Kali ini, bahkan pesona Kak Baran tidak bisa menyelamatkannya dari umpatanku, meski cuma dalam hati.

Ah, sialan Kak Baran! Malah tambah jadi ngerjain aku, keluhku getir.

“Pan, lu kok malah diem aja sih, kalo lu yang panggil, si Lana pasti udah dateng kebirit-birit,” tambah Kak Baran sambil pasang tampang serius.

Serius minta digeplak!

Aku cuma bisa mengangkat bahu dengan pasrah. Emang tingkah Kak Baran kadang nyebelin. Tapi aku tidak pernah bisa benar-benar marah sama dia. Mukanya itu loh. Tengil, cakep, bikin aku gemes. Dia kan cinta pertamaku.

Dan disini lah aku sekarang, berdiri di depannya, ngences melihat bodinya yang nggak pake baju, sementara dia malah ngejodoh-jodohin aku sama adiknya. Rasanya aku pengen nangis guling-guling. Emang nasibku jadi homo ya begini.

Di saat aku meratapi nasib, dua sosok berpakaian rapi keluar dari pintu depan.

“Oppa bakal sakit gigi ya, kalo sehari aja gak ngeledekin aku?” keluh salah seorang dari dua sosok tadi.

Aku dan Kak Baran menoleh pada cewek yang barusan bicara. Lalu kepala Kak Baran kembali berputar padaku. “Nah, itu cewek lu akhirnya keluar juga, Pan.” Kak Baran menyeringai. Satu mata berkedip jahil.

Lana memberiku tatapan meminta maaf, lalu mendekat ke arah kami sambil melotot pada abangnya. Langkah kakinya panjang-panjang dan dalam sekejap Lana sudah berdiri di hadapan Kak Baran, yang dengan sigap melompat bersembunyi di belakang punggungku saat tangan Lana hendak menggapai perutnya.

“Liat tuh, Pan, kelakuan calon istri lu, begini nih kalo sama abangnya, beringas!” Kak Baran mengadu.

Aku terbahak mendengarnya.

Lana memutar bola mata dengan jengkel. “Udah, Pan, jangan diladenin Oppaku ini, nanti kita ikut ketularan gila.”

“Sama abang sendiri jangan ketus gitu, entar kualat,” aku menasehati Lana.

“Ish, kok kamu malah belain Oppa!” protes Lana mencubit lenganku.

Wajahku meringis. Aku paham kira-kira gimana perasaan Kak Baran, karena aku juga sering menjadi korban cubitan Lana ketika cewek itu merasa jengkel. Meskipun bertampang boneka, Lana emang seperti kata abangnya, beringas!

“Jadi kalian mau kencan bertiga?” tanya Kak Baran mengalihkan isu.

Aku menatap sosok satu lagi yang mengekor di belakang Lana. Dahiku berlipat tiga. Kenapa Lastri ada di sini? protesku dalam hati. Aku tahu Lastri sahabatnya Lana, tapi cewek itu jarang main kemari karena rumahnya jauh di sisi lain kota.

Sejak pertama bertemu muka, aku dan Lastri saling tidak menyukai karena alasan yang tidak jelas. Dia selalu merengut jika melihatku, seakan keberadaanku saja membuat bola matanya terasa sakit. Jelas perasaan ini saling berbalas. Karena aku juga merasa begitu ketika bertemu dengannya. Kurasa kami emang ditakdirkan untuk tidak akur.

“Kak Baran ngaco deh,” kata Lastri sambil terkikik seperti kuda. “Mana mungkin kami jalan bareng, lagian Spi udah putus sama si anak pindahan, udah dua hari mereka gak setegoran di kelas.” Lastri mengerling padaku waktu dia menyebut-nyebut soal anak pindahan.

Itu julukan lamaku ketika pindah ke kota ini di tengah tahun ajaran lalu. Julukan berkonotasi negatif, serta semua gosip yang menyertainya.

“Anak pindahan gimana?” Alis Kak Baran terangkat. “Kan Pandu udah lama di sini, kalian juga semua anak baru kok di SMA!”

Lastri cuma membalas dengan memanyunkan bibir.

Melihat reaksi cewek itu, Kak Baran melirikku penuh tanya. Aku menggelengkan kepala dan menyiratkan agar dia tidak membahas hal ini lebih lanjut. Cowok itu mengernyit sebentar sebelum kembali memasang wajah datar.

Lalu Kak Baran menoleh adiknya.

“Emang beneran Na, lu gak setegoran sama Pandu? Lu masih ngambek?” Kak Baran menatap adiknya lekat-lekat. “Perasaan, kalian kan masih pergi bareng, pulang bareng dari sekolah?” Lehernya berputar melirikku.

Dahi Kak Baran berkerut, seolah mengingat sesuatu.

“Aku enggak lagi marahan sama siapa-siapa,” Lana membela diri, melotot pada sahabatnya yang kembali cekikikan.

“Iya kak, kami nggak pernah marahan kok,” aku ikut berkomentar, lalu melirik arlojiku yang hampir menunjuk jam setengah lima dan bertanya pada Lana, “Kamu mau ikut aku ke Rosalie Florist nggak, Lan?”

“Mau beliin aku bunga?” Lana menggoda.

Aku tersenyum getir. Tampaknya anak-anak tetangga sebelah, baik adik maupun abangnya sama saja, keduanya suka membuli aku!

“Wew, mesra amat,” Kak Baran ikut-ikutan meledek.

Aku tidak membalas, hanya menatap Lana penuh tanya.

Sebelum Lana sempat menjawab, Lastri sudah memotong, “Sori, tapi hari ini Spi ada perlu sama aku, kamu kan cowok, bisa pergi sendiri!”

Jleb! Nih cewek kalo ngomong sama aku selalu bikin jengkel! rutukku.

Tapi yang lebih membuat kecewa, Lana juga menolak ajakanku. “Maap ya Pan, aku bener-bener gak bisa pergi sama kamu,” tolaknya dengan muka menyesal. “Aku udah janji nemenin Lastri nonton ke TDM.”

TDM singkatan dari Telaga Dalom Mall, satu dari dua mall besar di kota ini.

“Kalo kamu nggak bisa, nggak apa, aku sendiri aja,” kataku memaksakan senyuman.

Yang tak kusangka adalah, detik itu Kak Baran menawarkan diri mengantarku. “Ya udah, kalo gitu lu pergi sama gua aja, Pan. Kebetulan gua juga ada yang mau dibeli deket-deket situ. Tapi tunggu bentar, gua ganti baju dulu biar gantengan dikit.”

“Nggak ngerepotin Kak Baran nih?” Tatapan mataku mengikuti Kak Baran yang dengan sigap membereskan botol sabun, kanebo dan ember yang dia gunakan untuk mencuci mobilnya yang kini sudah mengkilap seperti porselen.

“Ngerepotin gimana, gua juga sekalian mau jalan,” jawabnya sambil menggulung selang air, lalu sosoknya menghilang ke dalam rumah setelah melambai dan menyiratkan agar aku menunggu. Kedua anak cewek saling berpandangan melihat hasil kerja Kak Baran yang terpola dan efisien, lalu mereka menatapku.

“Kamu malah jadi diculik Oppa,” Lana mendesah. Ekspresinya terlihat janggal, seolah enggan membiarkanku pergi dengan abangnya.

“Biarin aja, Spi, mereka kan sama-sama cowok,” komentar Lastri di sebelahnya.

Aku menahan diri untuk tidak tersenyum lebar. Sejujurnya aku malah senang Kak Baran mau menemaniku. Bukankah ini bisa dibilang seperti kencan?

Tentu saja aku tidak boleh terlihat sesenang itu, nanti ada yang curiga lagi!

Dan ini bukan kencan! Pandu, tolong lo jangan ngarep!

“Omong-omong, kamu bener, Spi. Abangmu ganteng-ganteng OCD, kerjanya lebih-lebih dari robot. Padahal anaknya selengekan gitu, waktu pertama kali liat, aku kira abangmu sifatnya urakan, siapa sangka dia jauh lebih rapi dari kamu,” komentar Lastri.

Lana menatap sahabatnya penuh arti, seolah berkata, tuh kan apa aku bilang!

“Kak Baran emang lucu, dia pernah bilang padaku kepalanya bisa pusing kalo ngeliat hal-hal yang nggak simetris,” aku ikut berkomentar, teringat ketika Kak Baran membantuku memotong pipa paralon untuk kebun vertikalku.

Kali ini Lastri tidak berusaha bersikap menyebalkan. Dia manggut-manggut penuh semangat mendengar gosip dariku.

Kami bertiga tersenyum geli membayangkan Kak Baran pusing karena hal sesepele itu.

“Udah puas ngomongin gua?” Tiba-tiba suara Kak Baran terdengar dari ruang tamu. Sesaat kemudian sosoknya terlihat. Jantungku berhenti berdetak sepuluh detik, yang sedikit hiperbola, tapi aku seterpesona itu melihat Kak Baran dengan celana jins dan kaus polo hitam yang melekat elegan mengikuti tubuhnya.

Kapan sih aku nggak terpesona sama si cowok Taurus? keluhku dalam hati. Kurasa kalaupun Kak Baran berkeliaran hanya menggunakan batok kelapa di pinggang pun, aku bakal tetap terpesona olehnya. Terpesona dan menegang! pikirku mesum.

“Oppa mandi pake botol parfum?” Lana menggoda.

“Biarin, yang penting wangi,” balas cowok itu cuek. “Lu berdua ikut gua, apa pergi sendiri?” Kak Baran menatap kedua anak cewek.

“Nanti kami dijemput mamanya Lastri.”

“Ya udah, kalo gitu gua duluan, yok, naek Pan!”

Kepalaku mengangguk. “Bentar kak,” kataku, lalu menoleh pada Lana. “Aku titip sepeda ya?” Tanpa menunggu jawaban kutuntun sepedaku ke garasi rumahnya.

Setelah itu, tanpa bisa menahan cengiran di wajah, aku menghilang ke dalam mobil Jazz Kak Baran. Aku tahu ini bukan kencan, tapi tak ada ruginya berpura-pura, iya kan?

***

Suara nyaring Paloma Faith menggema di dalam mobil.

Only love can hurt like this…“ senandungku mengikuti lengkingan suara di radio. Jemariku mengetuk-ngetuk setir seirama lagu.

“Suara Kak Baran bagus.” Bocah SMA di kursi sebelah memujiku. Aku sekilas meliriknya dan mendapati cowok itu sedang menatapku.

“Maklum lah, mantan anak band,” aku menyombong.

Pandu tertawa. Suara tawanya riang dan lepas. Aku nyaris tak mengenali sosok sedih bocah sepuluh tahun yang dulu pernah menangis dalam pelukku.

“Tapi kok lagunya suram amat?” Pandu kembali berkomentar. “Biasanya Kak Baran seneng nyetel lagu Country?”

Aku mengangkat bahu. “Namanya juga radio, mana bisa kita atur semau kita, lagian lagunya bagus kok, dengernya jadi pengen tereak-tereak.”

“Kak Baran tereak apa curhat nih?” goda Pandu cengengesan, memamerkan sebaris giginya. “Sumpah, Kak Baran nyanyi kayak orang lagi patah hati aja.”

“Iya kali,” kataku ikut tertawa. Padahal dadaku terasa nyeri.

Sosok unyu yang membuatku remuk redam kembali memenuhi kepala.

“Eh, serius, Kak Baran beneran lagi patah hati?” Pandu bertanya kaget.

“Lebih parah dari itu,” gumamku depresi.

Pandu mengernyit. “Aku kok nggak pernah lihat Kak Baran bawa cewek ke rumah, kirain Kak Baran masih jomblo,” komentarnya tidak peka.

“Anjir, sialan lu, Pan!” sungutku. “Mentang-mentang tiap hari cewekan sama Lana, lu berani ngeledek gua?”

Bocah di sebelahku sedikit gelagapan. “Aku nggak bermaksud ngeledek Kak Baran,” katanya cepat-cepat, seolah tidak ingin aku marah padanya. “Maksudku, aku nggak nyangka Kak Baran putus sama cewek, karena kupikir Kak Baran nggak lagi pacaran.”

“Emang patah hati tuh cuma karena putus sama pacar aja?” bantahku.

Pandu terbelalak. “Kak Baran ditolak cewek?”

“Bukan ditolak,” tukasku. “Karena gua nya gak berani nembak.” Aku tertawa. “Only love can hurt like this, gua bertepuk sebelah tangan.”

“Gak mungkin!” Pandu berseru, seperti tidak terima. “Cowok sekeren Kak Baran, emang ada cewek waras yang bakal nolak?” tanyanya sengit, membuatku sedikit terbengong melihat sikapnya yang menggebu-gebu. “Kak Baran nya aja kali kurang pede, kalo emang suka tembak aja kak, nanti nyesel loh, rasanya mustahil Kak Baran ditolak, kecuali kalo ceweknya itu…” Pandu terdiam sejenak. “… suka sama cewek juga,” tambahnya lirih.

Aku terbahak mendengarnya. Pandu tersenyum lemah. Lucu. Sepanjang sisa perjalanan dia jadi sedikit pendiam, seolah merenungkan sesuatu.

Perjalanan kami tergolong cepat. Jalanan di kota ini emang lebar-lebar dan tidak dipadati mobil pribadi, jadi hampir tidak pernah ada kemacetan. Rosalie Florist terletak dekat alun-alun di pusat kota. Alun-alun ini berupa lapangan luas berbentuk persegi, tempat berbagai kesenian adat dipentaskan. Di dalamnya terdapat jalur jogging, area food court serta taman oriental dilengkapi kolam ikan dan jembatan-jembatan kayu yang melintasi sungai buatan. Lokasi ini biasa disesaki para pelari dan pesepeda, serta pedagang asongan.

“Lu mau beli bibit lagi?” tanyaku ketika kami sudah tiba di depan pintu toko. Kulihat rak-rak berderet-deret dipenuhi bunga aneka warna. Aku tahu Pandu suka berkebun, hobi yang cukup aneh untuk anak cowok, menurutku.

Tapi tak kukira responnya negatif. “Kali ini nggak, kak,” katanya dengan kepala menggeleng. “Aku mau beli cangkokan wisteria cina,” jelasnya menambahkan. “Bakalan lama dan ribet kalo mau germinate sendiri dari biji, soalnya ini kan tanaman subtropis. Bisa-bisa nunggu aku lulus kuliah dulu baru mulai berbunga.”

Aku cuma bisa manggut-manggut seperti orang bego mendengar Pandu bicara pake bahasa alien. Kuiikuti bocah itu masuk ke toko. Dengan percaya diri dia mendekati si empunya toko yang berdiri di dekat kasir.

Pandu memanggilnya cici Rosalie, dan mereka terlihat sudah cukup akrab. Wanita itu masih muda, sedikit lebih tua dariku, asli Tionghoa, dengan segaris mata yang memancarkan keramahan serta senyum elegan. Dia tidak terlalu cantik, namun jelas tidak jelek.

Dengan sabar aku menunggu Pandu dan cici Rosalie mengobrol panjang lebar dengan bahasa alien mereka. Aku memandang sekeliling, membaui aroma bunga yang menyegarkan. Kurasa usaha begini keren juga, cukup duduk-duduk menerima pelanggan sementara mata dimanjakan hijaunya dedaunan dan warna-warni bunga, sementara aromanya mengusir stres dari kepala.

Namun saat mataku kembali terpaku pada cici Rosalie, yang penuh semangat menjelaskan sesuatu pada Pandu, aku tahu pikiranku tadi terlalu naif. Kurasa butuh dedikasi dan kecintaan pada tanaman untuk sukses di bidang ini.

“Nganterin adikmu ya?” Sebuah suara menyapa.

Aku menoleh dan mendapati seorang cowok Tionghoa seumuranku menyapa dengan wajah ramah dan senyum terkembang.

“Stephen,” katanya menyodorkan tangan.

Aku menyambut ragu-ragu. “Baran,” balasku.

Cowok itu mengedik ke arah Pandu dan berkata, “Aku lupa namanya, tapi aku sering liat dia kemari, dia salah satu langganan setia ci Rose. Kalau tidak salah, cici berjanji menyimpan setangkai wisteria sinensis hasil cangkokan dari koleksi pribadi.”

Aku menatap cowok itu dengan mulut ternganga seperti orang idiot. “Maap, gua gak ngerti soal bunga,” aku mengaku sambil garuk-garuk kepala.

“Oh.” Cowok itu mengernyit kaget. “Aku kira kamu juga kebuners, seperti adikmu.” Stephen kembali melirik Pandu.

“Kebuners?” Aku melongo. Baru tahu aku ada istilah begini.

Stephen tertawa. “Itu sebutan kami di sebuah forum untuk sesama kami, orang-orang yang punya hobi berkebun.”

“Kalo forum sih, gua tahunya cuma kaskus,” kataku jujur.

Stephen kembali menunjuk Pandu dengan kepalanya. “Kalo kamu tertarik, kamu bisa tanya pada adikmu, kurasa dia anggota aktif karena cici tidak bakal mau ngasih wisteria koleksinya untuk sembarang orang.”

“Kayaknya gua gak ada bakat berkebun.” Langsung kutolak saran cowok itu. “Lagian Pandu bukan adek gua, dia anak tetangga sebelah.”

Wajah Stephen kembali terkejut. Dia menatapku penasaran.

Ya, kalau dipikir-pikir, emang aneh juga sih, cowok kuliahan sepertiku membawa-bawa anak cowok tetangga ke toko bunga. Apa kata dunia?

“Pandu tuh calon adek ipar gua,” jelasku, membuat cowok Tionghoa yang baru saja kukenal ini terbahak-bahak.

“Kamu lucu juga,” komentarnya. “Sepertinya kita seumuran. Kuliah?”

“Semester tiga. Kriminologi,” jawabku.

“Kriminologi?” ulang Stephen. Dia tersenyum. “Tidak banyak universitas yang punya jurusan kriminologi, dan di sini jelas cuma satu, artinya kita pasti sealmamater. Kalau aku anak manajemen. Semester tiga juga.”

Aku dan Stephen mengobrol akrab sementara Pandu memeriksa kondisi tanaman apalah itu yang dia pesan tadi. Stephen ternyata cukup asik. Ketika akhirnya Pandu mengeluarkan dompet dan membayar belanjaan, aku dan Stephen saling bertukar kontak.

“Kak Baran udah akrab aja sama Koh Stephen.” Pandu tersenyum menghampiri kami.

“Ternyata kami satu almamater,” Stephen menjelaskan.

Pandu mengangguk, lalu menoleh padaku. “Ayo, kak, sekarang giliranku nemenin Kak Baran belanja.”

“Itu tanemannya gak sekalian dibawa?” tanyaku.

“Entar dianter anak buah cici Rosalie ke rumah, packing kayunya aja dua meter lebih, mana muat di mobil Kak Baran.”

Aku berpamitan pada Stephen dan melangkah ke parkiran. Pandu mengekor di belakangku. “Itu tadi harganya berapa Pan?” tanyaku ketika sudah menghidupkan mesin mobil. Bisa kulihat tadi Pandu menyerahkan banyak lembaran merah ke cici Rosalie. Kurasa kalau sejuta sih pasti lebih. Gila, mahal juga cuma taneman gak jelas begitu, pikirku.

“Sejuta dua ratus kak,” jawab Pandu datar. “Itu pun termasuk murah, karena tingginya udah lebih dua meter, usianya juga udah siap berbunga.”

“Mahal amat, padahal jelek begitu!”

Pandu tertawa. “Itu karena belum waktunya berbunga, nanti bulan April atau Mei Kak Baran liat deh, bunganya bakal keren banget.”

“Mau lu taro mana emang?”

“Di atas gazebo, samping kolam renang. Wisteria kan jenis tumbuhan merambat, jadi kalo digantung dari atas bakal keren. Aku udah pesen ke cici Rosalie, kalo nanti ada hasil cangkok bagus, bakal disimpenin satu buatku.”

“Hah, lu masih mau beli lagi?” aku terperangah. “Enak banget jadi anaknya om Indra, bikin gua iri aja lu Pan, bokap gua mah pelitnya gak ketolongan. Coba lu bilangin sama om Indra, biar gua diangkat jadi abang lu aja.”

“Ngaco ah!” Pandu cekakak-cekikik di kursi sebelah. “Lagian itu uang tabunganku sendiri, mana mungkin Ayah ngasih uang buat beli wisteria. Dia nggak semurah hati itu! Padahal nanti yang paling sering bengong ngeliatin kebun buatanku tuh Ayah.”

“Masa sih?”

Senyuman di wajah Pandu menghilang. Kulihat sekilas kesedihan pada binar matanya, sorot yang dulu sekali pernah kulihat ketika dia menangis. “Bunda dulu suka berkebun,” jelas Pandu lirih. “Meski Ayah nggak pernah bilang, aku tahu Ayah kangen sama Bunda, karena itu aku nerusin hobi Bunda berkebun, biar ada yang bisa ngingetin Ayah pada Bunda waktu Ayah merasa kangen.” Pandu tersenyum, tapi senyumnya terlihat dipaksakan.

Aku terdiam menatap lampu merah yang kini berubah menjadi hijau.

“Kak Baran laper, mau makan dulu gak?”

***

“Rainbow milk!” Pandu berseru dan bergegas mendatangi kasir.

Dia bukan hendak membayar belanjaan di keranjangku, tapi meraup permen lolipop dengan bungkus warna warni norak yang tertancap pada wadah berbentuk bola di samping meja kasir. Aku tersenyum geli melihat tingkahnya.

“Lu masih suka makan begituan?” ledekku. “Itu kan makanan anak SD!”

Pandu menoleh padaku dengan telinga memerah. Dia mengangkat bahu pasrah, tapi tidak menanggapi ledekanku. Kulihat cowok itu memborong semua Rainbow Milk dari wadahnya, malu-malu menyodorkan pada mbak kasir yang tidak berhasil menyembunyikan tawa. Itu membuat Pandu memelototiku dengan sorot menyalahkan.

“Digabung aja, mbak,” kataku sambil memindahkan barang belanjaan dari keranjang ke meja kasir. Si mbak kasir tersenyum padaku. “Adiknya ya, koh?” mbak itu bertanya. Kepalanya terangguk menunjuk Pandu.

“Bukan, dia anak tetangga. Dan gua orang Lampung, bukan koko koko!” tukasku.

Pandu tergelak seperti orang gila, sementara si mbak kasir cengengesan salah tingkah.

“Ternyata pergi sama Kak Baran tuh enak.” Pandu cengar-cengir setelah kami meninggalkan bangunan Chamart dan bergerak menuju parkiran. “Udah disupirin, dibayarin makan, masih ditraktir permen juga!”

Aku tertawa. “Makanya lu maennya jangan sama Lana terus, yang ada lu kena cubit, terus disuruh bawain belanjaan dia yang seabrek-abrek, udahnya masih disuruh nganterin ke tempat gak jelas, dan gak tau kapan dibolehin pulang!”

“Eaaa, ada yang curhat.” Pandu terbahak. “Kayaknya Lana nggak separah itu deh.”

Kubuka bagasi dan kulempar semua belanjaanku. Kutoleh Pandu seolah dia sudah gila. “Dia emang separah itu!” bantahku. “Selama ini gua selalu heran, kok lu bisa-bisanya tahan deket-deket adek gua satu itu. Emang gak tersiksa lahir batin?”

Kami masuk ke mobil dan aku mengunci pintu. Pandu menenggelamkan tubuh ke jok kursi. “Lana teman yang baik,” katanya tersenyum membela adikku. “Dia suka memaksa, tapi Lana selalu tahu kapan dan gimana harus membela temannya.”

Kulirik bocah di sebelahku, pada tangannya yang menggenggam lolipop tiga warna yang kini bersarang di bibirnya. Pandu balas melirikku, sepertinya sadar aku sedikit-sedikit meleng dari jalan untuk memperhatikannya.

“Kak Baran mau juga?” tanyanya ragu, melambaikan batang lolipop yang masih terbungkus, seolah siap membuka kertas pembungkus jika aku mengangguk.

“Gua gak suka makanan manis.”

Dia terlihat ragu. “Atau ada yang salah dengan mukaku?”

“Tidak juga.”

Pandu mengernyit. “Kalo gitu kenapa Kak Baran dari tadi senyum-senyum melirikku?” tanya cowok itu curiga. “Kita hampir nerobos lampu merah tadi, aku nggak mau kita berdua masuk rumah sakit cuma karena ada cemong di pipiku.”

Aku terbahak. “Gak ada apa-apa kok, Kak Baran cuma geli aja ngeliat lu makan permen kayak anak kecil.”

Pandu cemberut. Dia menghela napas dalam-dalam dan termenung kaku melihat bungkusan Rainbow Milk di tangannya. “Aku juga gak suka makanan manis,” Pandu mengaku. Kembali kutatap wajahnya penuh tanya.

Bocah itu tersenyum. “Dulu waktu aku masih SD, aku menjatuhkan sesuatu yang penting bagiku dan membuatnya rusak,” ceritanya setengah melamun. “Lalu seorang anak SMP memberiku permen dan aku berhenti menangis.”

“Lucu ya kak,” katanya sambil tertawa. “Itu sudah lama terjadi, tapi aku nggak pernah bisa lupa, meski aku juga nggak ingat gimana rupa anak SMP yang memberiku permen. Entah lah, sejak kejadian itu, aku selalu membeli Rainbow Milk setiap aku melihatnya, karena permen ini selalu bisa mengusir sedihku.”

Aku tidak ikut tertawa bersamanya. Meski mataku terpaku pada keramaian jalan, pikiranku melayang kembali pada kejadian di depan hotel Sheraton enam tahun silam. Ketika seorang bocah berjas cokelat berdiri kaku di depan kolam ikan di pelataran parkir, tertunduk pucat melihat bandul keperakan di tangannya.

Ekspresi bocah itu putus asa melihat retakan menganga pada permukaan bandul. Sepertinya rantai bandul yang dia kalungkan di leher itu putus dan membuat bandulnya terjatuh menghantam tepian batu kolam ikan.

Aku tidak tahu kenapa, tapi aku juga tidak bisa melupakan momen itu, pada kesedihan yang tergambar jelas di wajah Pandu saat itu. Aku tahu aku harus mengabadikan momen ini. Bocah yang bersedih, itulah nama yang kuberikan pada hasil jepretan kamera instanku. Itu memang bukan hasil jepretan pertamaku, karena aku tidak tahu sudah berapa banyak foto yang kuambil untuk lomba bodoh yang diikuti Lana. Tapi ini jepretan pertamaku yang kuambil tulus dari dasar hati, tidak penuh keterpaksaan seorang abang yang diminta jadi fotographer dadakan karena adiknya tiba-tiba punya pikiran konyol untuk menjadi model.

Rasanya aneh, Pandu bercerita tentang momen yang terjadi antara kami dulu, tapi dia tidak tahu kalau aku lah anak SMP yang menyogoknya dengan lolipop bodoh supaya dia berhenti terisak dan mencekik leherku.

-TBC-