download

Brian dan Key

By : Levi

Lembar Empat

Ternyata ulangan remedialku dengan Bu Ratna bukan hari ini, tapi Selasa. Aku kirain ini hari Selasa itu makanya aku banyak salah bawa buku pelajaran tadi. Ini semua gara-gara aku datang telat sih, makanya banyak banget sialnya hari ini. Huh. Besok-besok aku nggak mau dateng telat lagi ah, tapi bukan berarti aku nggak mau memimpikan Aldo sayangku lagi ya. Aku tetap bakalan mimpiin dia kok selama aku punya alam mimpi dan bisa tidur cantik siang malam.

Dan karena aku nggak jadi ulangan remedial akuntansi dengan Bu Ratna hari ini, itu berarti aku bisa pulang bareng dengan Aldo sayangnya aku dan ngebantuin dia jualan ice cream. Aku nggak sabar banget deh jilatin keringat—maksudnya es krimnya—enggak, maksud aku yang sebenarnya itu liat dia pake seragam kerjanya terus senyum-senyum ramah ke pembeli sambil ngucapin selamat datang, nanti aku yang ngelapin keringat dia pas kami lagi istirahat, itu sih maksud aku. Jadi jangan berpikiran kotor seperti kami akan bercinta di dalam mobil ice Ko Aseng, ya! Kayak di mimpi aku bulan lalu, not at all—tapi aku harap itu segera terjadi. Hihihi.

Kerja aku sih selain liatin Aldo sayangnya aku pas lagi jualan, adalah buat jadi penarik pelanggan dengan atraksi taekwondo aku, soalnya banyak pelanggan yang tertarik karena liat atraksi aku dan ngebuat stand Aldo jadi ramai. Oh, kadang aku juga jadi kasir, waiters, atau apa pun yang bisa aku kerjakan selama di situ.

Ah, aku benar-benar nggak sabar deh sekarang.

“Key,” orang di sebelahku berbisik sambil menyikutku sedikit kasar. Aku nggak peduli aja, soalnya fokus aku kan lagi tertuju ke suami masa depan aku yang duduk di barisan paling depan. Look! Sekarang Aldo lagi mainin penis—penanya yang keselip di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, dan itu manis banget menurut aku. “Keeeeyyy…” kali ini orang di sebelahku berani menarik lengan bajuku sampai membuat lamunan aku tentang Aldo benar-benar buyar kayak istana pasir yang diterjang ombak—nggak jadi deh, badai aja gimana biar lebih dramatis.

“Apaan sih…” aku menoleh ke arah Juju yang duduk di sebelah kiriku. Niatnya tadi aku mau nonjok muka dia, tapi nggak jadi pas liat muka sedihnya yang menjijikan itu.

Enggak kok, mukanya Juju nggak menjijikan. Meski kadang begitu sih kalau dia lagi asik banget sama iPod-nya ketimbang dengerin cerita aku tentang Aldo, dan di saat itulah kesabaran aku diuji sama Tuhan. Juju itu teman dekat aku satu-satunya di sekolah, dan aku juga teman dia satu-satunya di sekolah—atau mungkin juga di dunia ini. Iya, soalnya dia itu orangnya introvert banget, nggak mau bersosialisasi dan bergaul. Beda sama aku ya, aku cepet banget akrab sama orang dan banyak orang yang mau deket-deket sama aku tapi aku suka saring-menyaring orang yang pantas buat masuk ke dalam lingkaran kehidupan aku, itu makanya aku punya temen Cuma dikit. Salah satunya Juju.

Kalau Juju itu beda, dia bukannya selektif, tapi memang menjauh. Yah, kayak anti-sosial gitu deh. Tapi kayaknya nggak juga, soalnya dia santai kok kalau ketemu orang atau di ajak ngomong orang lain. Nggak grogi atau keringet dingin gitu. Atau mungkin dia cuma cuek aja sama sekitarnya makanya dia nggak punya banyak temen. Entahlah.

He’s coming…” kalimatnya barusan terdengar seperti sebuah lagu di telingaku, lalu Juju kembali menunduk dan fokus ke bukunya.

Dan detik berikutnya aku baru sadar apa yang terjadi saat Pak Al menggebrak mejaku dengan buku tebal miliknya. Membuatku terlonjak kaget dan juga membuat semua mata yang ada di kelas ini tertuju ke aku yang hanya bisa memberi cengiran pada Pak Al yang sedang melipat tangan di dadanya sambil menunduk untuk melihat aku. “Pak…”

“Apa? Melamun lagi?” tanyanya tajam dan membuat kacamata beningnya berkilat. Mati aku.

Aku mengaruk belakang kepalaku dengan pena sambil menunduk dan terus memikirkan bagaimana caranya membuat guru muda yang baru diangkat jadi pegawai negeri ini berhenti marah sama aku. Kan bisa gawat kalau dia ngamuk di kelas terus aku di usir nggak boleh masuk pelajaran dia lagi sama kayak pas pelajarannya Bu Ratna.

“Kamu ini ya, Key! Ngeliatin Aldo lagi, hm?! Emang ada apaan sih di punggungnya Aldo?” dan aku mendengar beberapa kikikan tertahan dari beberapa sudut, tapi terus langsung aku tatap mereka dengan tajam supaya diam. Dan mereka ciut.

“Nggak kok Pak, saya liat papan kok dari tadi,” kilah aku.

“Tapi saya dari tadi tidak mencatat apa-apa di papan,” dan suara tawa basar dari beberapa cowok mulai berani terdengar. Bahkan Aldo juga terlihat tertawa tertahan di tempatnya.

“He?” ternyata tulisan-tulisan di papan tulis itu bukan materi pelajaran Pak Al. Aduh, kayaknya hari ini aku benar-benar kena sial deh. Pak Al pasti bakalan marah banget sama aku dan mungkin aja nyuruh aku keluar beneran.

“Kalau kamu memang tidak melamun, coba sebut dan jelaskan lima majas yang saya jelaskan tadi,” kata Pak Al sambil membetulkan posisi kacamatanya.

Aduh, majas apaan sih? Aku aja nggak ngerti. Mati aku. Mati aku. Mati aku. Eh, enggak jadi deh. Juju menggeser sedikit buku miliknya, dan aku bisa membaca judul yang dia tulis adalah tentang majas. Jadi aku jawab aja pertanyaan Pak Al sambil nunduk, pura-pura mengingat padahal aku lagi baca.

Dan aku bisa bernapas lega saat semua jawaban aku benar, kemudian Pak Al kembali ke mejanya sambil memberiku senyuman yang aku sendiri nggak tau apa artinya. Mungkin dia senang karena aku jadi pintar karena ngeliatin Aldo, siapa tau lain kali aku dibolehin terus ngeliat Aldo, atau Aldo dipindahin duduknya di sebelah aku supaya aku lebih konsen. Huahaha. Aku kibas rambut cantik aku ke belakang.

Aku menyenggol siku Juju dengan siku aku yang mulus dan ngebuat dia menoleh ke aku. “Thanks Juju, you saved my life once again,” terus aku tersenyum manis yang cuma ditanggapinya dengan menaikkan bahu sekali. Dan kembali fokus dengan iPod yang ia mainkan di bawah laci meja.

By the way, Key,” ia kembali berbicara di saat aku sudah mulai siap untuk fokus dengan pelajaran Pak Al.

“Ha?” aku menoleh ke arah kanan untuk melihatnya.

“Lo tadi berantem sama Mike di kantin, ya?” tanyanya dengan nada yang dibuat sepelan mungkin.

“Lo kok tau? Duh, gue jadi pengen nambahin lebam dia deh kalo inget kejadian tadi,” aku memukulkan kepalan tangan kananku ke telapak tangan kiri aku karena kesal. Biasanya sih di rumah aku mukulin Mr. Hare kalau lagi kesel, berani banget cowok biadab tadi mempermalukan aku di depan Aldo sayangku dan merusak image anggun aku di depan semua orang. Huh. “Emang siapa sih dia?”

Juju menyodorkan iPod-nya ke aku, ada sebuah video jadi aku tekan tombol play. Itu video aku tadi pas di kantin saat menghajar Mike. Dan, what! Are you fucking kidding me?!

“Gue gak tau siapa yang udah ngerekamnya dan ngirim ini ke email gue pake akun fake.”

Shit!” aku hanya bisa mengumpat saat ngeliat video tadi. Orang itu memotong atau mungkin memang sengaja nggak ngerekam bagian pas si-bajingan-Mike narik rambut aku, dan di situ terlihat kayak aku yang mukulin dia tanpa alasan, mana suara aku nggak kedengeran lagi pas ngomong. Fuck! Siapa sih yang berani ngelakuin itu sama aku?

“Gue gak tau banyak tentang Mike, yang gue tau dia baru dikeluarin dari sekolah swasta di luar kota gara-gara ngehajar guru bahasa Cina di sana. Dia baru pindah ke sini tiga bulan yang lalu. Selebihnya, gue gak tau apa-apa, soalnya akun-akun dia pada di gembok,” Juju menarik iPod-nya dan meletakannya di bawah laci lagi. “Kayaknya sekarang lo harus hati-hati deh Key, gue gak yakin orang yang ngerekam ini mau berbuat baik sama lo.”

Aku tertawa kecil, soalnya kalau besar-besar nanti Pak Al denger dan ngamuk lagi. “Lo tenang aja, gue kan cewek perkasa. Gak bakalan ada kok yang bisa nyakitin gue,” kataku dengan percaya diri.

“Ya, ya, ya, terserah lo aja deh,” Juju membuka aplikasi permainan di Ipod-nya, lalu mulai asik dengan dunianya.

Dan aku kembali gak fokus dengan Pelajaran bahasa hari ini. Aku menatap kosong ke arah jendela kelas  di sebelah kiriku untuk menghembuskan napas lelah. Tapi—eh, ada Brian! dia dadah-dadah ke aku, jadi aku senyumin aja dia. Terus pas dia udah lewatin kelas aku, aku baru mikir kenapa dia jam segini berani banget keluar kelas. Soalnya dia itu jarang mau buat ninggalin pelajaran, meskipun itu urusan Osis atau yang lainnya. Hm. Kayaknya ada yang aneh deh sama dia hari ini. Nanti aku tanyain dia aja langsung pas di rumah, sekalian aku mau minjam laptop dia buat daftar turnamen bulan depan. Moga aja dia lagi gak drama mode on.

-*-

Top mungkin masih berada di toilet, sibuk menusukkan barang berharganya ke lubang gadis mana saja yang berhasil dia jerat. Kristina entah di mana, mungkin sudah selesai dengan dramanya dan kembali ke kelas karena takut ketinggalan pelajaran. Sedangkan Sisy—yang marahnya denganku sudah reda karena tadi kuberi snickers kesukaannya—sedang berada di sebelahku, sambil menertawakanku tepatnya.

“Anjir! Segitunya lo dengan cincin. Sekarang gue nggak bisa liat perbedaan lo dengan Kristina deh,” dan dia kembali tertawa jahat sampai terpingkal-pingkal. Rasanya lebih baik mendengarnya marah-marah sekarang karena menolak ajakan makannya tadi daripada harus ditertawakan seperti ini. Aku malu, dan lebih banyak kesal.

Aku mendengus kasar. “That’s not the main point, Sisy! Lo harus liat betapa mudahnya dia ngelupain apa yang gue pengen, atau mungkin dia nggak tau sama sekali.”

“Lo lebay, ah!”

“Apanya yang lebay coba?” aku bersandar di pohon yang ada di belakangku. Bunyi bel masuk sudah berlalu sejak dua puluh menit tadi, tapi kami berdua masih betah duduk di sini.

“Dengar Bri, salah ngasih cincin yang lo pengen bukan berarti dia nggak perhatian sama lo, ato nggak tau apa yang lo pengenin. Tapi lo bisa liat kan betapa dia pengen ngebuat lo impressed? Dia rela-relain nunggu lo di atap dari pagi sampe istirahat. Terus dia juga rela ngebeliin lo hadiah, ya meski nggak sesuai dengan ekspetasi lo, setidaknya lo kan bisa hargai.”

For Squidward’s sake, ini udah kesekian kalinya dia ngebuat gue kecewa karena sikap unromantic-nya yang udah ngelebihin batas. Jadi wajar dong kalo gue kesel, kan?”

“Brian, lo bisa gak sih dewasaan dikit?”

“Gue kan—”

“Nggak dewasa,” seseorang memotong dan melanjutkan kalimatku dengan cepat sambil melempar kaleng soft drink ke wajahku dengan angkuhnya, dan terus saja berjalan. Aku kenal suara bajingan itu! Berani sekali dia melempar sampah botol minumannya ke arahku.

Aku marah dan mengambil kaleng bekas yang jatuh ke pangkuanku. “Anjing!” umpatku sambil berdiri dan melempar Dimas yang terus berjalan seolah tak terjadi apa-apa barusan dengan kaleng yang ia lempar.

“Aw!” Dia mengaduh sambil memegangi belakang kepalanya saat kaleng itu mengenainya dengan keras.

Aku berjalan dengan cepat dan beringas ke arahnya, lalu mengambil lagi kaleng tadi yang sudah jatuh ke tanah sebelum dia berbalik. “Maksud lo apaan ngelempar kaleng ke gue? Lo gak liat gue duduk di situ? Ha!” bentakku tepat di depan wajahnya setelah aku berdiri dan dia berbalik.

Dan dia hanya memasang ekspresi datar sambil menatapku dengan cara yang merendahkan. Sumpah demi apa pun yang ada di langit, rasanya aku benar-benar ingin menghajar wajah menjijikkannya itu sekarang juga. Aku sudah muak dengan orang gila ini!

Dia melipat tangan di dadanya setelah selesai dengan bagian kepala yang barusan kulempar dengan kaleng. “Oh, gue kirain tadi di situ tong sampah,” jawabnya santai sambil terus menatapku dengan sombong.

“Mata busuk lo itu emang nggak bisa ngebedain yang mana tong sampah, ha bangsat?!”

“Enggak. Soalnya kalian mirip. Lagian kenapa lo duduk di sana? Lagi nyari botol buat di jualin?”

Aku meremas kaleng yang ada di tanganku dengan kesal. Percuma berbedat dengan orang seperti dia, tak akan ada habisnya. God! Bagaimana bisa aku bertemu dan harus bekerja sama dengan orang seperti dia? Aku bahkan tak pernah menghormatinya sebagai ketua osis ataupun sebagai kakak kelas, tidak akan pernah!

Orang gila di depanku mendekatkan wajahnya sambil terus menatapku tajam, membuat kepalaku mau tak mau ikut mundur. Tapi aku tetap dengan tatapan nanarku padanya, aku nggak boleh kalah sama bajingan ini. “Atau lo lagi ngomongin gue barusan?”

“Najis!” aku melempar kaleng yang sudah penyot itu tepat ke wajahnya, membuat beberapa tetes air berwarna merah dari dalamnya mengenai dan membasahi wajah busuknya, beberapa membasahi bajunya. “Kita impas,” dia tak beraksi apa pun, bahkan tak bergerak sama sekali. Dan aku tertawa dalam hati sambil berbalik dan menarik tangan Sisy yang masih bengong di tempat duduknya untuk pergi dari sini, mengabaikan sekali lagi orang gila itu di belakangku yang masih bertahan dengan posisinya sambil menatapku tajam.

Aku dan Sisy terus berjalan tak tahu mau ke mana. Yang penting sekarang adalah aku harus berada di jarak sejauh mungkin dari Dimas si bangsat itu sebelum aku benar-benar marah dan menghabisinya di sana, ya, meski aku tak yakin aku akan menang sih. Yang penting aku harus pergi dari sana.

“Stop!” Sisy menyentak tangannya agar terlepas dari peganganku, lalu menatapku dengan kening berkerut. “Gue nggak percaya dengan apa yang barusan gue liat,” katanya sambil berkacak pinggang dan memasang wajah bingungnya.

Kami berhenti di koridor mading yang sepi. Semoga tak ada guru piket yang berkeliling dan menemui kami berdua di sini, aku tak mau membuat sejarah dalam hidupku dengan harus di hukum di sekolah. That’s never in my dictionary, neva!

“Sejak kapan lo sama Kak Dimas bisa berantem kayak tadi? Bukannya kalian sama-sama Osis, ya? Kok lo nggak pernah cerita ke gue kalo lo ada masalah sama dia? ato Cuma gue yang gak tau apa-apa di sini?” Sisy bertanya bertubi-tubi sambil terus memajukan badannya.

“Wow, sabar, sabar, ceritanya panjang. Dan gak bisa gue certain sekarang, lo tau kan hati gue lagi nggak dalam kondisi baik?”

Sisy kembali berdiri tegap dengan dua tangan yang masih memegangi pinggangnya. “Oke. Tapi besok lo harus certain semuanya dari awal! Ngomong-ngomong, gue pengen ke toilet, lo mau ikut?”

“Ya engak lah!”

“Yakin? Gue pake kolor baru loh…” Sisy menggoyang-goyangkan pinggulnya persis kayak boneka punya Key dulu yang bisa nari pakai baterai, sambil menaik-naikkan alisnya Sisy mulai tertawa.

“Idih! Najis! Get away from me, rite now!” aku mengibaskan tanganku menyuruhnya pergi.

Kemudian Sisy berbalik dan pergi sambil terus tertawa mengerikan. Aku hanya menghembuskan napas dengan keras sambil menurunkan kedua bahuku. Entahlah, rasanya hari ini benar-benar melelahkan. Sangat.

Aku berjalan menuju kelas, sambil mengangkat tangan kananku untuk melihat arlojiku yang sudah menunjukkan jam sebelas lewat lima belas, itu artinya pelajaran Fisika dengan Bu Ani masih beralangsung di kelas. Dan aku tentu tak mau ditanyai macam-macam dengan guru super kepo itu hanya karena terlambat masuk kelasnya. Urusannya nanti bisa panjang!

Jadi, aku berbalik untuk berjalan menuju perpustakaan. Sepertinya di sana lebih aman ketimbang berkeliaran tak jelas di sini. Juga aku baru ingat kalau guru piket hari ini adalah Bu Betti, jadi aku tak boleh tertangkap olehnya sedang membolos pelajaran.

Aku melewati kelas anak-anak sebelas IPS, melambai sebentar pada Key yang barusan sedang asik memerhatikan Pak Al di depan kelas menjelaskan tentang majas bahasa yang sudah kami pelajari sejak bulan lalu. Key tersenyum sekilas sebelum merubah keningnya menjadi berkerut bingung.

Aku tak peduli.

Jadi, aku terus saja berjalan. Dan saat aku sudah jauh dari kelas Key, aku melihatnya. Bahkan dari jarak sejauh ini pun aku sudah mengenalinya, aku tau dia dari caranya berjalan. Itu Braga. Pasti dia baru saja turun dari pelataran gedung itu dan akan kembali ke kelas. Jalannya pelan sambil tertunduk lesu, dan aku tak peduli sama sekali tentang apa yang sedang dia pikirkan sekarang. Aku tak mau bertemu dengannya, perasaanku masih kacau dan sedih.

Jarak kami semakin dekat, dan aku mulai memikirkan cara agar bisa menghindarinya tanpa harus berbalik dan membuatku seolah memang sengaja pergi darinya, aku tak mau terlihat kalah. Aku harus bersikap tenang. Ah! Di depan ada toilet. Aku pura-pura saja masuk ke dalam toilet, tapi jarak kami semakin dekat.

Seperti intuisi, Braga menaikkan kepalanya dan tatapan kami bertemu. Dia tersenyum yang tak aku mengerti maksud senyumnya, senyum antara senang dan mungkin sedikit sedih—wait, apanya yang sedih?! Harusnya di sini aku yang sedih. Jadi aku berjalan cepat dan tegak sambil menaikkan dagu, aku tak mau terlihat lemah oleh Braga. Dan saat jarak kami hanya beberapa meter, aku berbelok ke kanan untuk masuk ke dalam toilet.

“Bri!” Braga berhasil meraih tanganku, dan aku mengumpat dalam hati mengapa tanganku mudah sekali ditangkap.

Aku diam, tak juga berbalik. Aku tak mau jadi sedih lagi karena mengingat kejadian tadi. Aku juga menahan marahku selama pagi tadi, agar aku tak marah-marah dan memuntahkan semuanya dengan Braga saat ini. Aku tak ingin memperburuk suasana dan hubungan kami.

“Bri?” dia memastikan bahwa tangan yang dia pegang adalah tanganku sambil mendekatkan wajahnya untuk melihat wajahku.

“Apaan sih?!” aku menghentakkan tanganku sampai terlepas dan sedikit berbalik. “Aku lagi gak mau ngomong. Jadi mending sekarang kamu pergi dari sini gih.”

“Tapi Bri—”

“Udah Braga, aku lagi gak mau bahas apa-apa sekarang,” aku berusaha sekuat tenaga agar terlihat tegas dan tenang. “Jadi mending kamu pergi.”

“Bri—”

“Braga! Gue serius, gue lagi gak pengen di ganggu sekarang,” aku menghadap ke arahnya sambil terus bersikap biasa saja. Aduh, aku tak pandai dalam berakting. Semoga aku tak terlihat berlebihan dan aneh di matanya sekarang. Kami berdua saling diam selama satu menit penuh, dan kupikir ini saat yang tepat untuk pergi. Jadi, aku berbalik dan hendak membuka pintu toilet sebelum Braga berkata lagi.

“Bri, kamu mau ke mana?”

Not your bussines!” sarkasku dan melangkah masuk saat pintu terbuka.

“Gue gak ngerti maksud lo, tapi ini kan toilet rusak.”

Ha?! Toilet rusak? Emang toilet ini lagi rusak, ya? Aku melirik sekilas pada daun pintu di sampingku, selembar kertas bertuliskan TOILET RUSAK tertera di sana. Aduh, Brian lo bodoh banget tau! Mati aku, bagaimana cara menghadapi situasi ini.

Aku menoleh ke belakang sebentar. “Terserah gue lah!” lalu aku cepat-cepat masuk dan menutup pintu toilet dengan keras dan sama cepatnya supaya Braga tak melihat semburat merah di pipiku sekarang.

Aku benar-benar malu! Padahal niatnya tadi aku mau buat image cool di depan Braga, tapi sekarang dia pasti mikir yang aneh-aneh, dan kenapa aku bertingkah setolol itu tadi. Kenapa juga tadi aku tak membaca kertas berisi pemberitahuan kalau toilet ini rusak, padahal sudah ditempel dengan begitu jelas di pintu. Dumb, dumb, dumb!

Aku berdiri di depan westafel, memandangi wajah bodohku yang masih memerah karena malu. Braga pasti masih berdiri di sana, sambil menertawaiku dalam hati mungkin. Aku menarik napas dalam-dalam agar jauh lebih tenang, setelah itu memutar-mutar tiga keran westafel yang sama sekali tak mengeluarkan air, padahal aku ingin sekali membasuh wajah. Lalu, aku menatap kosong pada bayanganku di cermin. Aku mengacak-acak rambut coklat gelapku sampai kusut masai lagi sambil memikirkan kembali kejadian memalukan tadi.

Lain kali kalau aku ketemu Braga lagi, aku harus perhatikan sekelilingku. Bisa jadi kan suatu saat aku ketemu Braga pas di rumah sakit, aku malah masuk kamar mayat yang aku kira ruang dokter. Atau masuk ke ruangan yang isinya orang-orang lagi rapat. Ah, pokoknya kejadian aneh dan memalukan sejenis tadi jangan sampai terjadi lagi deh!

Semoga Braga sudah pergi dan tak lagi berdiri di depan pintu toilet ini sambil menertawakanku dalam hati. Jadi sebaiknya aku keluar dan kembali ke kelas, soalnya aku sudah tak mood lagi untuk ke perpustakaan, lebih baik ditanyai macam-macam dengan Bu Ani yang berakhir dengan nilaiku yang dicoret.

Aku berbalik dan kaget setengah mati saat menemukan Top yang sudah berdiri di belakangku, dan seorang cewek dengan rambut kusut serta baju seragam ketatnya yang keluar dari rok abu-abu pendeknya baru saja keluar dari sini sambil menutup kembali pintu toilet. Meninggalkan aku dan Top di sini.

Top hanya memberiku cengiran sedang jari telunjuk tangan kanannya sibuk memutar-mutar celana dalam hitam berpolkadot pink. Lalu dia mencium celana dalam itu sambil berkpresi menikmatinya—dan aku jadi jijik dengannya sekarang—sebelum mengantonginya dan berjalan ke belakangku untuk menghidupkan keran air di westafel.

Dia pasti baru saja bercinta dengan cewek tadi, nampak dari zippernya yang belum naik sempurna.

“Ini keran kok mati semua? Gimana gue mau cuci tangan,” kata Top sambil memukul keran terakhir yang diputarnya.

“Lo kan tau toilet ini rusak,” kataku saat Top berbalik dan duduk di atas westafel.

“Jadi, toilet ini rusak, ya? Pantes gak ada yang masuk ke sini dari tadi,” Top mulai tersenyum-senyum aneh, memperlihatkan gigi berkawat polosnya. Aku ikut naik dan duduk di westafel, tepat di sebelah Top. “Terus kalo toilet ini rusak, lo ngapain ke sini?”

“Gue tadi lagi ngehindarin orang. Lo?” tanyaku pada Top yang terus-terusan tersenyum. Semoga dia tak sakit jiwa.

“Gue? Gue aja baru tau toilet ini rusak bego,” Top mengencangkan ikatan sapu tangan merah yang melingkar di tangan kirinya tanpa berhenti tersenyum-senyum aneh.

“Bukan, maksud gue, lo ngapain di sini? Terus cewek tadi siapa? Cewek lo?”

“Lo kedengeran kayak Sisy deh kalo banyak tanya kayak gitu,” katanya. Dan aku hanya memutar kedua bola mataku untuk perkataannya barusan. “Kita udah temenan lama, dan lo kayak gak tau gue aja sih Bri.”

“Jadi bener yang tadi itu cewek lo?”

“Nggak juga kok, gue malah baru kenal dia tiga hari yang lalu pas gue nolongin belanjaan dia yang jatuh di escalator mall. Gue tau kok, dia itu player juga, jadi gue cuma pengen pake aja. Lo tau kan?” katanya sambil mengedikkan bahu dan menaik-naikkan alis lebatnya.

“Oh,” aku hanya membulatkan mulutku sambil mengangguk-angguk sok ngerti. “Tapi lo pake pelindung, kan?”

“Tenang, gue maen aman terus. Lagian cewek tadi asik kok, ciumannya…” Top memajukan bibirnya ke arahku sambil membuat suara-suara aneh seperti orang ciuman. “Manis, kayak madu,” katanya sambil tertawa.

“Gila.”

“Tapi dia agak mahal, bro. Matre banget! Kapan-kapan gue pake lagi deh sebelum duit bulanan gue habis buat belanjain dia di mall, terus gue tinggalin.”

Whatever. I don’t fucking care.”

“Yeah, I do what I want to do.” Dan kami terdiam beberapa saat. Top mungkin masih asik berfantasi dan memikirkan kejadian tadi, saat dia sekali lagi berhasil bercinta di toilet sekolah dengan cewek di sekolah ini, sedangkan aku berusaha menghapus rasa kesal, malu dan kecewaku hari ini. “Ngomong-ngomong, kenapa lo ngerutin kening terus dari tadi, ha?”

“Gue? Emang muka gue keliatan begitu ya dari tadi?”

“Iya. Udah kayak duit seribu yang ketinggalan di kantong celana seminggu, lecek,” Top merogoh ponselnya dari saku celananya sebelum mengulurkan layarnya padaku. “Ini liat, berantakan bang—”

“Anjir!” aku refleks mendorong ponsel Top menjauh dari hadapanku saat aku melihat video porno yang masih berputar di sana. Sial Top! Aku tak pernah sekalipun menonton video semacam itu, dan sekarang mata serta otak polosku sudah diracuni dengan video yang sudah kulihat lima detik barusan. Mana ceweknya tadi lagi disodomi dengan tiga buah timun lagi, bikin aku jijik dan geli-geli sendiri jadinya.

Top melihat layar ponselnya sebelum tertawa terbahak-bahak. “Sorry bro, gue lupa matiin videonya tadi. Tapi yang maen keren loh, Lisa Ann. Dan goyangannya tuh, beh, mantep bro!” aku tak peduli. Lalu dia menekan sekali tombol keluar, setelah itu mengulurkan kembali ponselnya kepadaku. “Liat, kucel banget kan?”

“Iya ya?” aku bertanya sambil merapikan rambutku di layar ponsel Top. Iya sih, muka aku keliatan depressed banget.

“Iya, emang lo ada masalah apaan, sih?” tanya Top. “Keliatan kayak orang lagi patah hati.”

“Lo menebak dengan tepat.” Aku menunduk, kemudian memainkan kedua kakiku yang menggantung, sambil mengingat lagi apa yang sudah terjadi tadi pagi.

“Ha? Seriusan? Dengan Braga? Kok bisa?”

“Sekarang lo kan yang kedengaran kayak Sisy,” kataku lalu melihat ke Top yang sedang menaikkan satu alisnya. “Iya, dengan Braga,” kataku lemah.

“Jadi kenapa lo putus sama dia? Wih, minta dihajar tu orang. Tenang Bri, ntar gue hajar dia. Gue panggil Key dulu,” Top hendak turun, tapi segera kutahan tangannya.

You’re stupid fucking idiot, Top. Kapan gue bilang kalo gue putus sama Braga, ha?”

Top menatapku bingung. “Jadi lo gak putus sama Braga?”

“Ya, enggak lah!”

“Terus kenapa lo patah hati? Pasti lo diselingkuhi dia ya? Wah, bener-bener tuh anak, biar gue hajar beneran nih,” Top hendak turun lagi, tapi segera kutahan lagi. Aduh, ini orang kok begonya kebangetan sih. Ini adalah efek langsung dari kebanyakan menonton video porno kurasa.

“Lo kok bego banget sih. Gue nggak diapa-apain kok sama dia.”

“Oh gitu. Yakin kan?”

“Iya. Gue cuma agak kesel aja sama dia,” aku kembali menunduk dalam. “Dia ngasih aku cincin bukan yang gue mau. Padahal dia udah jelas tau apa yang gue mau, tapi dia malah…” aku tak sanggup melanjutkan kalimatku lagi, jadi aku mendongak untuk menarik napas dalam-dalam.

“Oke, Bri, listen. Gue nggak peduli dengan hubungan kalian, selama lo nggak disakiti dengan dia, gue fine fine aja. Tapi kalo lo sakit hati hanya gara-gara masalah sepele gini, gue risih dengernya.”

“Lo gak tau perasaan yang gue rasa Top, until you feel the true love, bukannya selangkangan doang.”

“Lo lebay ah, gue aja sering salah nyebut nama pacar-pacar gue. Dan mereka biasa-biasa aja tuh.”

“Apanya yang lebay, ha?! Lo gak bakalan tau karena lo nggak pernah serius pacaran. Yang lo tau cuma have fun aja, lo juga gak peduli gimana perasaan pacar-pacar lo saat lo lupa nama mereka, atau saat lo ninggalin mereka saat lo ngerasa udah puas dengan mereka, mungkin juga tak berpikir dampak apa yang bisa lo kasih ke orang karena sikap lo. Lo gak bakalan tau, karena lo gak pernah mau tau Top!” nada suaraku meninggi, dan aku menyesal telah berkata sekasar itu kepada Top. Itu rasanya seperti aku baru saja meluapkan semua kesal dan amarahku kepadanya, aku benar-benar merasa aneh hari ini.

“Oh, gitu,” hanya itu tanggapan Top.

“Top, sorry, gue gak bermaksud…” aku berusaha menjelaskan.

Tapi Top mengangkat tangan kanannya untuk melihat jam rollex yang melingkar di sana. “Jam Bu Ani udah habis nih, mending kita balik ke kelas. Yuk!” Top turun dari westafel dan menarik tanganku untuk keluar dari sini.

Dan aku benar-benar yakin kalau hari ini adalah hari paling aneh dan sial bagiku. Shit! This day isn’t my bright day, it’s gloomy day!

Bersambung—