Sexy, Naughty, Dirty cover

Sepertinya makin lama Dewa berada di dekat Arya, pikirannya makin gila. Tapi sepertinya juga sekarang sudah terlambat bagi Dewa untuk kembali kepada kewarasannya.

“Persetan!”

Dewa mendudukkan diri di atas sofa di seberang sofa Arya, membuka kancing jinsnya, menggenggam keluar batang zakarnya dan lalu bersandar untuk memulai pekerjaan lelakinya.

***

Rauf merasa ada sesuatu yang menghimpit dadanya, menindih dan membebani dadanya hingga dia merasa sulit bernapas. Rauf juga merasa ada yang tidak biasa di bawah pusarnya. Karena dua hal itu, beban di dada dan benda asing di antara paha, Rauf memutuskan untuk mengakhiri tidur dan membuka matanya.

Rambut.

Itu yang pertama kali dilihat Rauf dalam keadaan setengah tidur setengah jaga. Tiga detik kemudian, dia sadar kalau seseorang sedang menaruh kepala di atas dadanya. Setelah menemukan jawaban untuk ketidaknyamanannya yang pertama, Rauf berkonsentrasi pada kejanggalan di bawah pinggangnya. Hanya butuh satu detik baginya untuk menyadari kalau kedua tangannya tidak berada di antara pahanya sendiri.

Sial. Batang kemaluannya sedang berada dalam genggaman seseorang, dan sedang keras. Entah karena dipegang, entah karena tengah mengalami ereksi paginya, atau malah gabungan keduanya.

“What the hell…!!!”

Rauf berontak bangun sambil mendorong kepala entah siapa di atas dadanya. Kepala itu bergerak turun dari dadanya diikuti gerakan badan si empunya kepala yang menggeliat terjaga. Rauf belum peduli pada siapa gerangan yang dengan kurang ajar menjadikan dadanya sebagai bantal itu, dia hanya terus memandang ke bawah sana begitu bisa mengangkat kepala. Shit. Rauf masih sempat melihat bagaimana batang penisnya terlepas dari genggaman tangan seseorang lalu tangan itu keluar dari pinggang boxer celana dalamnya dengan luwes tanpa halangan.

Pinggang celana dalam Rauf tersibak dan kepala penisnya yang mekar berwarna merah muda mengucapkan selamat pagi padanya.

Rauf menggeragap bangkit sambil merapikan celana dalamnya. Pria itu merasakan sekujur tubuhnya dikobari api saat sadar apa yang terjadi. Di sampingnya, Dewa berbaring nyaris telanjang. Kenapa nyaris telanjang? Karena dia hanya tidur dengan mengenakan kolor segitiga dari bahan jala. Seluruh ukuran organ vitalnya──yang sepertinya juga sedang mengalami ereksi pagi──mulai dari peler, batang, hingga mulut penisnya terpapar ke pandangan Rauf.

Rauf mengepalkan tinju, dan…

BAMM

“Argh!” Dewa sontak terbangun dan refleks memegang pipinya. “Apa yang terjadi?” cetusnya dengan raut kebingungan khas orang dibangunkan dari tidur di saat belum waktunya untuk bangun.

“Siapa suruh loe tidur di kamar gue, hah?!?”

“He?” Dewa masih belum paham. Yang dilakukannya hanya terus mengusap-usap pipi kanannya dimana terdapat bekas bogeman Rauf.

“Siapa yang ngijinin loe tidur di apartemen gue, di kamar gue!” Kali ini pertanyaan Rauf mutlak bernada bentakan.

“Oh…” Dewa menguap lebar, lalu menggaruk-garuk pusarnya. “Sebentar, gue inget-inget dulu.” Untuk sejenak, ekspresi Dewa benar-benar tampak seakan sedang berpikir. “Sepertinya gue sendiri yang nyuruh,” lanjut Dewa santai lalu kembali menguap.

“Loe tahu apa yang salah dengan loe?” desis Rauf tajam.

Dewa menguap lagi. “Gue salah masuk kamar.”

Rauf bergerak turun dari ranjang dan memandang Dewa penuh marah. “Loe salah menilai sikap orang, Bangsat.”

“Oh, ya? Orang yang mana?”

“Gue gak kayak loe!”

Dewa mengernyit sambil balas menatap Rauf. “Gak kayak gue?” tanyanya sambil membekap selangkangannya. “Loe mau bilang kalau loe gak punya penis?”

Rauf merasakan luapan hasrat untuk membogem Dewa lagi, tapi dia tak mau buang-buang kalori. “Keluar dari apartemen gue!”

“Oh, come on, Dude! Gue cuma naruh tangan di anu loe beberapa menit tapi loe mencak-mencak kayak perawan abis diperkosa tujuh hari tujuh malam.” Dewa berdecak satu kali. “Penis loe masih di situ, tidak hilang dan masih seperti sediakala, lengkap seluruh bagiannya. Kenapa harus marah sih?”

Rauf tidak tahu Dewa itu bodoh atau memang semacam bajingan sejati hingga tidak bisa tahu kalau ada elemen penting dari diri Rauf yang hilang──atau setidaknya terluka──akibat tindakannya itu. Itu adalah ego Rauf sebagai straight. “Keluar dari apartemen gue…,” ulang Rauf lebih serius.

Dewa menghembuskan napas. “Okey, sorry. Tapi sumpah, yang tadi itu terjadi begitu saja. Gue gak maksud grepe-grepein loe.”

Rauf tentu saja tak mau menerima penjelasan yang sangat terkesan penipuan itu. “Loe tahu, hidup gue baik-baik saja sebelum loe datang.” Rauf tahu, inilah saat yang tepat untuk meluapkan kekesalannya pada Dewa yang dua hari lalu tertunda. “Loe baru kenal gue, loe gak tahu apa-apa tentang hidup gue. Bagaimana loe bisa yakin kalau tindakan yang loe ambil yang sangat berhubungan dengan hidup gue, itu sama sekali gak jadi masalah buat gue? Bagaimana loe bisa seenaknya mutusin sesuatu yang bukan kapasitas loe, hah!”

Dewa masih memasang ekspresi tak mengertinya. “Ini tentang apa sih? Gue kira tadinya cuma tentang penis loe yang gue bikin rileks, kenapa sekarang melebar jadi soal ujian sulit begitu?”

Dewa mengelam sudah. “Karena loe terlalu dungu buat paham, jadi dengar ini baik-baik!” Rauf memungut jins Dewa dari lantai dan melemparnya ke pangkuan pria itu, tepat menutupi selangkangannya. “Pertama, gue gak suka barang-barang pribadi gue dipakai tanpa permisi, dan loe seenaknya make pakaian gue hari itu.”

“Ya ampun…”

“Jangan menyela gue saat ini!”

Dewa mengangkat kedua tangannya, marahnya Rauf sepertinya tidak main-main.

“Kedua, loe seenaknya mutusin orang lain boleh tinggal di apartemen gue tanpa ngomong dulu ke gue. Memangnya loe kira yang punya apartemen ini loe, hah?!?”

“Arya!” kata Dewa tegas.

Giliran Rauf yang mengernyit.

“Orang lain itu punya nama, dan namanya Arya…” Dewa bergerak turun dari ranjang Rauf dan lalu memasukkan tungkainya satu persatu ke dalam jins. “Kalau loe ternyata sangat keberatan buat nolongin, seharusnya loe bisa langsung nolak baut nolongin saat itu juga.”

“Bagaimana gue bisa berbuat begitu jika loe sudah bertingkah bagai pemilik apartemennya?”

“Benarkah? Bukannya karena loe itu lumayan pengecut buat bersuara?” Dewa memungut kemeja lengan pendeknya pula dari lantai dan mengenakannya dengan beringas. “Atau harus gue bilang munafik?”

“Jangan sampai gue ngehajar loe!”

“Loe tahu, Raf… orang munafik itu menurut gue lebih berbahaya ketimbang seks bebas tanpa kondom. Mereka pura-pura bersikap seperti seiya sekata dengan loe, padahal di dalam dirinya, mereka sama sekali tidak sependapat dengan loe. Dan selama itu loe malah tetap ngerasa yakin dan percaya kalau mereka di pihak loe, padahal sebenarnya tidak.” Dewa selesai mengancing kemejanya, sekarang dipandangnya Rauf dengan serius. “Gue kira loe sungguhan tulus mau nolongin Arya, setidaknya untuk seminggu, ternyata gue salah ngebaca sikap munafik loe…”

Rauf terdiam. Benarkah dia tidak tulus menerima Arya di apartemennya seperti yang dikatakan Dewa? Tidak, Dewa salah. Rauf-lah yang lebih tahu dirinya sendiri, dan dia kini tahu kalau dia benar-benar tulus menerima Arya di tempatnya. Yang Rauf tidak setuju hanyalah cara dan sikap Dewa, itu saja. “Loe gak tahu apapun tentang gue…”

“Memang, tapi kini gue tahu kalau loe sebenarnya keberatan nampung Arya di sini… kalau sebenarnya loe itu munafik pengecut.”

Terus dipojokkan Dewa membuat Rauf naik berang. “Dan loe sama sekali gak keberatan, gak munafik? Kalau gitu kenapa gak bawa dia untuk tinggal dengan loe, hah? Kenapa malah loe bawa masalah loe itu ke sini? Karena di tempat loe sudah gak ada lagi ruang kosong buat selingkuhan baru? “

Rahang Dewa mengeras. “Setidaknya gue belum menjajakan kontol gue ke seluruh cewek di bar seperti yang loe lakuin.”

“Oh, hebat, sekarang gue berubah dari seorang munafik ke seorang gigolo. Lucu sekali itu keluar dari mulut seseorang yang ngerasa dirinya lebih baik dari orang lain, padahal tidak.” Rauf mendengus kasar. “Jadi sebenarnya ada berapa anus di rumah loe yang sedang menunggu buat disodomi?”

Dewa hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Loe tahu, fuck you!” cetus Dewa lalu bergerak melewati Rauf dan menuju pintu.

Rauf balik badan untuk mengikuti Dewa dengan pandangannya tepat ketika pria itu membuka pintu. Rauf terkesiap, pasti Dewa juga.

Dua meter dari pintu kamar, Arya berdiri dengan rambut berantakan dan tampang baru bangun tidurnya, masih mengenakan baju semalam──oblong biru garis-garis dan celana pendek, mendengarkan percakapan mereka tanpa terlewat.

Dewa menjauhkan tangannya dari handle pintu dan berdiri lesu, dia tidak tahu harus berkata apa. Sementara itu, Rauf merasa sangat buruk. Dia ingin menarik semua ucapannya andai bisa. Rauf ingat kapan terakhir kali dia membiarkan ucapan marahnya keluar tanpa ditahan-tahan, itu adalah saat dia mencoba mempertahankan posisinya di Band X. Saat itu, Rauf sama sekali tidak menyesal mengeluarkan kata-kata kasar, dia tidak menyesal sampai kini dan sampai kapanpun juga. Namun sekarang Rauf menyesal untuk kata-kata yang diucapkannya beberapa saat lalu dalam keadaan marah.

Arya mengangkat hapenya. “Ibra ingin gue tinggal dengannya,” katanya setelah tercenung beberapa saat.

Dewa tahu anak itu sedang berbohong.

Sedangkan Rauf, selain yakin kalau Arya sedang bersandiwara, dia juga bertanya-tanya tentang seseorang bernama Ibra. Apa hubungan Ibra ini dengan Arya? Teman, mantan pacar, atau kerabat? “Loe gak akan pergi ke manapun selagi hutang-hutang loe ke gue belum loe lunasin.” Rauf tidak ingin berkata begini, tapi dia harus mengatakannya demi membuat Arya tetap tinggal, meski itu kian membuatnya terlihat keparat.

“Tulis aja rinciannya!” desis Arya tajam.

“Loe ngutang berapa sama bedebah ini?” tanya Dewa naik darah. Dia tidak suka mendengar ucapan Rauf yang mengintimidasi. Tangannya siap merogoh dompet.

Arya memandang Dewa. “Kenapa loe ngira kalau gue butuh bantuan loe?”

Dewa terkesiap. Dikiranya Arya cuma marah pada salah satu di antara dia dan Rauf, ternyata Arya marah pada mereka berdua. “Loe memang butuh bantuan gue, terserah loe mau ngaku atau enggak.”

Arya mengabaikan ucapan Dewa. “Sebaiknya loe nulis rinciannya sekarang,” katanya pada Rauf yang masih berdiri di belakang Dewa sebelum mengenakan jinsnya di atas celana pendek dan lalu bergerak di sekitar sofa untuk mengumpulkan barang-barangnya ke dalam ransel.

“Hei, gue bilang loe gak akan ke mana-mana!” seru Rauf ketika dilihatnya Arya mulai mengisi kantong belanjaan yang kemarin dengan benda-benda yang dibeli kemarin juga. Ransel Arya tidak bisa menampung semuanya.

“Bukannya loe gak suka menyodomi?” tanya Arya tanpa berhenti dari pekerjaannya. “Buat apa loe ingin gue tinggal? Gue gak punya memek buat ngelunasin hutang gue.”

Arya sadar kalau ucapannya sangat jahat buat Rauf. Tapi dia tidak suka ucapan Rauf tentang sodomi yang tadi didengarnya, meski ucapan itu tidak ditujukan buatnya langsung, tetap saja egonya tersakiti.

Arya berbalik setelah selesai memungut barang-barangnya yang tidak seberapa, ransel di bahu kanan dan kantong belanjaan di tangan kiri. Dipandangnya dua pria di depannya dengan ekspresi datar. “Tiga hari ini gue kira hidup gue udah yang paling buruk, ternyata gue keliru, hidup kalian lebih buruk lagi…”

Tak ada yang mencegah ketika Arya membuka pintu dan lalu menghilang begitu pintu menutup.

***

Sejak keluar dari lift gedung apartemen Rauf, Arya mencoba menghubungi nomor Ibra berkali-kali sampai batre hapenya berubah merah. Dia tidak ingat untuk mengisi daya benda itu semalam.

“Di mana anak itu saat gue benar-benar butuh?” rutuknya.

Arya menyerah. Kakinya mulai lelah. Dia berbalik, gedung apartemen Rauf sudah tidak kelihatan lagi. Mata Arya memerhatikan jalanan Senin yang sesak dari bawah emperan tempat dia berhenti sejenak. Apakah dia sedang mengharapkan melihat mobil Dewa atau mobil Rauf di antara mobil-mobil segala macam rupa di jalan itu?

Bodoh sekali. Bagaimana dia bisa berharap demikian? Dewa dan Rauf sama-sama menyebalkan, sama-sama bajingan dengan cara masing-masing. Arya menyesal pernah begitu terobsesi pada Dewa. Mengingat bagaimana Dewa menggerayangi Rauf benar-benar membuat Arya muak. Tunggu, apakah dia benar-benar muak, atau… cemburu? Tidak, Arya tidak cemburu, dia muak.

Arya memang tidak tahu bagaimana persisnya yang diperbuat Dewa saat mengambil kesempatan atas Rauf. Dia hanya memperkirakan dari apa yang berhasil didengarnya. Tapi Arya bukan anak ingusan kelas satu SD yang polos dan lugu lagi, beberapa bulan ke depan dia sudah bisa dianggap legal untuk mengunjungi situs berisi konten dewasa di internet──bukan berarti Arya tidak mengunjungi situs dewasa selama ini, dia mengunjungi, tapi itu terhitung illegal──jadi, Arya bisa memastikan dengan yakin apa yang diperbuat Dewa pada Rauf.

‘Gue cuma naruh tangan di anu loe beberapa menit’ dan ‘Gue kira tadinya cuma tentang penis loe yang gue bikin rileks’. Itu adalah dua ucapan Dewa yang berhasil didengar cukup jelas oleh Arya. Arti dari kalimat itu juga bisa dipahami sama jelas olehnya. Kesimpulannya, Dewa benar-benar punya masalah dengan kebutuhan seksualnya.

Lalu Rauf, pria dengan penampilan ala peragawan itu juga tak jauh beda. Arya ingat betul ucapan Rauf tentang kehadirannya di apartemen. Rauf tidak suka Arya di situ, begitu yang disimpulkan Arya dari apa yang didengarnya tadi. Tapi… kalau Rauf tidak suka apartemennya ditempati orang lain yang asing baginya, mengapa dia berbaik hati memberi selimut dan bantal? Arya bingung sendiri. Tapi… bisa saja Dewa yang melakukan itu, mengambil selimut dan bantal Rauf untuk diberikan buatnya. Lalu, kalau Rauf keberatan menolongnya, bukankah seharusnya kemarin pria itu menolak menolong membayari belanjaannya? Arya teringat uang yang dijejalkan Rauf kemarin ke tangannya yang kini hanya menyisakan beberapa lembar lima ribuan di dalam dompetnya. Kalau Rauf cukup berengsek untuk jadi baik hati, bukankah seharusnya dia tak peduli?

Arya nyaris percaya kalau dirinya mungkin telah salah menilai Rauf sampai kelibat dua cewek di ATM mall mengusik penilaiannya kembali. Kemudian, ngiang ucapan Dewa menyusul untuk memantapkan predikat bajingan untuk Rauf. ‘Setidaknya gue belum menjajakan kontol gue ke seluruh cewek di bar seperti yang loe lakuin’. Sudah resmi, Rauf juga bajingan. Dia boleh saja baik hati, tapi kelakuannya bersama penisnya tetap saja mengerikan.

Arya tahu dirinya juga bukan orang suci. Dia juga seorang bajingan, ditambah lagi dirinya masih homo. Tapi, sejauh ini yang dilakukannya hanya onani bersama bokep dan sesekali menyasar silit Ibra. Cuma dua hal itu, dan sudah bisa memenuhi kebutuhannya akan seks. Bagaimanapun, Arya harus menganggap dirinya lebih baik ketimbang Dewa atau Rauf.

Kantong belanjaan di tangan kiri Arya makin terasa berat, ranselnya juga. Arya sekarang benar-benar berhenti berjalan. Di bawah emperan toko yang belum buka, dia menjatuhkan kantong belanjaannya, lalu menurunkan ransel dari bahunya. “Bagus, Arya, sekarang loe sukses jadi gelandangan…,” ucapnya pada diri sendiri.

Hapenya yang masih di tangan kanan menderingkan nada panggil, nama Dewa tertera di layar. “Nope!” katanya sambil menekan tanda reject.

Arya memijat-mijat bahunya sambil menatap kantong belanjaannya. Makin lama memandangi kantong itu, makin Arya sadar betapa konyol dirinya terlihat dengan kantong belanjaan itu. Hapenya berdering lagi. Nama Dewa kembali tertera di layar.

“Still nope!” katanya sambil kembali menekan tanda reject. Lima detik kemudian, dering itu kembali terdengar. “Keparat ini minta di-block lagi kayaknya.”

Saat hendak menekan tanda reject untuk ketiga kalinya, suara klakson mengagetkan Arya. Mobil Dewa baru saja berhenti di jalan, tepat di depannya. Pintu mobil di sebelah pengemudi terbuka, sosok tinggi Dewa bergerak pantas menuju Arya. Tanpa bicara apapun, Dewa merunduk mengambil ransel dan kantong belanjaan milik Arya dari ubin emperan.

“Loe mau ngapain?” Arya berusaha menarik ranselnya dari tangan Dewa, tapi pria itu memegangnya sangat erat sampai otot-otot lengannya mengeras.

Ransel itu berhasil dikuasai Dewa setelah saling tarik dengan Arya. Masih tanpa ngomong, Dewa membuka pintu penumpang di belakang dan melempar dua benda di tangannya ke dalam mobil. “Masuk!” perintahnya pada Arya sebelum berputar ke jok pengemudi.

“Gue gak akan ngikut loe!”

Dewa tidak jadi masuk ke mobil, dipandangnya Arya yang masih tegak di tempatnya berdiri. “Terus, kalau gak mau ikut gue, loe mau ikut siapa?”

Arya terdiam.

“Masuk,” ulang Dewa lebih lembut.

“Gue gak mau ikut loe…” Ucapan Arya tidak setegas sebelumnya.

Dewa membuang napas. Dibantingnya pintu mobil hingga menutup lagi lalu dihampirinya Arya di emperan. “Okey, kalau loe gak mau ikut gue, biar gue yang ikut loe…” Dewa berdiri di depan Arya, memandang cowok itu dengan ekspresi lunak.

“Kenapa loe gak pergi aja?”

“Dan biarin loe jadi gelandangan?”

“Ibra bakal jemput gue bentar lagi.”

“Oh ya? Kenapa gue gak yakin?”

Arya mengabaikan ucapan Dewa dan mendail nomor Ibra lagi. Setengah panggilan, hapenya benar-benar padam. “Damn it!”

Dewa mengeluarkan hape miliknya. “Loe hapal nomernya, kan?”

“Nomor siapa?”

“Nomor telpon rumah loe atau nomor telpon bonyok?”

“Gue gak akan pulang.”

“Nah, kalau gitu kenapa loe gak masuk ke mobil dan kita pulang ke rumah?”

Arya menatap Dewa, dia sangat paham kalau rumah yang dimaksud pria itu adalah rumahnya──yang pasti dihuni juga oleh pacar atau selingkuhannya. Arya tidak pasti lagi harus menyebut pacar atau selingkuhan buat orang yang pernah mencegatnya di parkiran PQRS tempo hari. Atau, bisa jadi bukan laki-laki itu yang tinggal bersama Dewa, tapi orang lain lagi. ‘Karena di tempat loe sudah gak ada lagi ruang kosong buat selingkuhan baru?’ Itu yang dikatakan Rauf, kan? Artinya, Dewa tidak hanya punya satu pasangan.

Arya menatap bergantian antara Dewa dan jalanan sibuk di depannya sementara pikirannya berkejaran. Ibra tidak menjawab teleponnya, kemungkinan besar hapenya didiamkan, atau anak itu sedang berada di ruang kuliah. Terus, isi dompetnya sama sekali tidak memungkinkan buat dipakai bertahan hidup satu atau dua hari di jalanan. Terus, hapenya padam. Terus, pulang ke rumah dan menghancurkan ego sendiri karena membuat ucapan papanya benar adalah pilihan yang sama sekali memalukan. Terus… Dewa bersama tubuh tingginya masih menunggu di depannya.

“Motor gue masih di bengkel loe, kan?”

“Masih. Kenapa?”

“Gue perlu.”

Kening Dewa berkerut. “Bukannya loe bilang mau diambil bokap loe?”

“Siapa cepat dia dapat,” jawab Arya. Dalam pikirannya, dia akan menjual motor itu dengan harga nego berhubung tanpa surat-surat dan menggunakan sebagian uang untuk menyewa kosan setahun penuh, membayar hutangnya ke Rauf dan lalu mencari pekerjaan.

“Perlu?”

“Motornya mau gue jual.”

“Hebat,” Dewa terdengar tidak senang. “Loe udah punya calon pembeli? Loe punya surat-suratnya?”

“Motor curian aja ada yang beli, kenapa gue harus susah ngejual motor gue sendiri yang bukan curian?”

“Loe mau jual ke penadah atau bagaimana?”

“Siapapun yang bisa bayar cash. Gue butuh duit hari ini juga.”

Dewa ternganga untuk beberapa saat. “Jadi, loe mau bilang kalau loe gak punya calon pembeli dan gak ada kenalan penadah?

“Loe ada, kan?”

Dewa tidak habis pikir dengan jalan pikiran Arya. “Dan loe mau motor itu terjual hari ini juga?”

“Apa gue terlihat sedang punya banyak uang sekarang?” Arya tampak jengkel dengan daya tangkap Dewa saat ini yang menurutnya lambat itu. “Tentu saja gue mau terjual hari ini juga.”

Dewa tidak tahu harus menangis atau tertawa saat ini. Arya benar-benar membuatnya geregetan setengah mampus. Apa dikiranya Dewa adalah penyihir yang bisa membuat banyak hal terjadi dengan mudah dalam waktu singkat? Arya sepertinya juga lupa kalau motornya masih penyok di beberapa bagian karena pasti belum selesai direparasi Bambang. Arya juga tidak mengerti bahwa ada perbedaan mahabesar antara menjual sayur dengan menjual motor, dimana dia mengira kalau menjual barang mewah seperti motornya sama mudahnya dengan menjajakan sayuran serta kebutuhan sehari-hari di pasar. Yang paling konyol, Arya sepertinya lupa kalau Dewa hanya punya bengkel, bukan dealer atau showroom motor baru apalagi seken. Atau, karena saking begonya, Arya tidak tahu kalau showroom dan bengkel itu berbeda? Terlepas dari itu semua, Dewa sama sekali tidak punya kenalan penadah apalagi calon pembeli seperti yang dimaksud Arya.

“Okey,” kata Dewa akhirnya karena tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana kepada Arya yang sepertinya masih mengira kalau dirinya ada dalam sebuah film petualangan. “Kita bakal jual motor loe. Sekarang silakan masuk ke mobil dan kita akan menjualnya.”

Arya menurut tanpa bantahan lagi.

Di belakang Arya, Dewa menghembuskan napas lelah.

***

Rauf terduduk lama di sofa bekas tempat tidur Arya. Selimut yang dipakai Arya sudah terlipat rapi, diletakkan Arya di atas bantal di ujung sofa. Kepala Rauf berdenyut-denyut minta pasokan kafein, tapi diabaikannya sejak tadi. Pikiran Rauf tertuju pada Dewa dan Arya.

Rauf mengingat-ingat pertengkarannya dengan Dewa, bertanya-tanya apakah ucapannya terlalu menyakitkan buat pria itu? Rauf bisa menjawab iya untuk pertanyaannya sendiri. Dia menyesal untuk apa yang baru saja terjadi. Bukankah dia berniat memulai sebuah pertemanan baru dengan Dewa setelah tidak punya teman dekat satu orang pun untuk waktu yang lama? Harusnya dia punya toleransi lebih besar lagi. Hausnya dia punya tenggang rasa lebih kuat lagi. Toleransi, juga tenggang rasa adalah unsur penting untuk membina sebuah hubungan dalam konteks apapun. Tak ada pertemanan tanpa dua hal itu. Rauf seharusnya sadar lebih awal sebelum terlanjur berkata-kata. Terlebih lagi, mereka sudah sama-sama bukan remaja SMA lagi. Pertengkaran yang terkesan kekanak-kanakan seperti tadi seharusnya tidak meluas jadi saling menjelekkan dan berubah jadi permusuhan serius.

Benar Rauf pantas marah pada Dewa. Pria itu melecehkannya sampai kadar dimana Rauf bisa saja melapor ke kantor polisi dengan kasus pelecehan seksual atau aduan perbuatan tidak menyenangkan. Tapi, bukankah seharusnya Rauf bisa memberikan toleransinya? Jika dia punya niat berteman dengan Dewa, maka itulah yang harus dilakukannya. Namun jangankan bertoleransi, alih-alih Rauf malah meluapkan kemarahannya pada Dewa.

Kini Rauf teringat kalimat Dewa yang terdengar konyol. Kata Dewa, dia hanya memegang penisnya, tidak membuat hilang bagian apapun, dan penisnya masih ada di tempatnya semula. Rauf memang tidak suka ucapan Dewa yang itu. Tapi kini saat sendirian dan berpikir dengan kepala dingin, Rauf harus mengakui kalau kalimat konyol yang diucapkan Dewa adalah benar. Dia masih punya penisnya dan tak kurang suatu apapun.

Sampai pada kesimpulannya, Rauf meraih hape dan mengetik pesan buat Dewa.

[Sorry… seharusnya gue gak berkata-kata seperti tadi ke loe. Loe boleh percaya atau enggak, tapi gue benaran menyesal, sungguh…]

Rauf merasa lega dengan meminta maaf lebih dulu. Dia tak peduli apakah Dewa akan memaafkan atau malah mengabaikan pesannya, setidaknya dia sudah mencoba.

Sekarang, bayangan Arya yang tercenung tak jauh di depan pintu kamarnya tadi mengisi kepala Rauf. Dia sama sekali tidak kesal apalagi marah dengan ucapan Arya untuknya tadi. Kenapa? Karena ucapan anak itu sepenuhnya benar. Yang dia cemaskan adalah, seperti apa imej dirinya kini bagi Arya. Gigolo betulan? Pelacur? Piaraan tante-tante girang kaya raya tapi kesepian? Teman tidur para janda, atau… yang lebih mengerikan, penjahat kelamin?

Rauf memandang bantal dan selimut bekas Arya di ujung sofa. Saat-saat ketika dia menyelimuti anak itu dan mengganjalkan bantal ke bawah kepalanya melintas begitu saja. Rauf ingat betul perasaan lega yang muncul di dalam dirinya semalam, lega yang kini mulai disangsikan Rauf sebagai bentuk lain dari bahagia. Kapan terakhir kalinya dia melakukan hal semacam itu, maksudnya, memedulikan keadaan seseorang? Sudah lama sekali, ketika Katia masih tertawa di sisinya. Sejak tak ada lagi Katia, Rauf juga berhenti memerhatikan siapapun, karena memang tak ada siapapun. Namun semalam dia mencemaskan Arya yang kedinginan, khawatir pada lehernya yang tertekuk pada posisi tak nyaman dan memutuskan untuk memberi cowok itu selimut juga bantal. Bukankah itu bentuk perhatian, bentuk kepedulian? Sangat sederhana memang, tapi tetap saja hal itu ada. Konsekuensi dari kepedulian dan perhatian kecil nan sederhana itu juga nyata dirasakan Rauf… dia merasa bahagia. Rauf harus mengakui bahwa memedulikan Arya semalam ternyata bisa juga membuatnya bahagia.

Rauf melirik jam di sudut ruang tamu. Dia punya lebih kurang dua jam lagi sebelum harus melatih ke Gym X. Direbahkannya badan ke sofa, kepalanya di atas bantal berselimut lalu dipejamkannya mata. Kali ini tak ada Katia sementara mata Rauf terpejam…

***

Dewa benar-benar berharap Ren sudah berangkat kerja. Dia mengulur waktu dengan mengajak Arya berhenti sarapan lebih dulu, juga memilih jalan memutar yang lebih jauh setelahnya untuk sampai ke rumah.

“Kenapa kita tidak ke bengkel?” Arya memerhatikan rumah bergaya minimalis itu dari balik kaca mobil. Tanpa diberitahu pun, dia tahu kalau itu rumah Dewa.

“Gue belum mandi, dan loe juga butuh membersihkan diri,” jawab Dewa tenang, tapi sebenarnya saat ini dadanya sedang berdetak tidak keruan. ‘Bagaimana kalau Ren masih di rumah? Bagaimana kalau hari ini ternyata Ren tidak siaran?’ Dewa sama sekali tidak ingat jadwal kerja Ren, dan Dewa memang belum pernah peduli sampai sekarang.

Dewa baru hendak membuka pintu mobil ketika hapenya mendentingkan nada pesan singkat.

[Sorry… seharusnya gue gak berkata-kata seperti tadi ke loe. Loe boleh percaya atau enggak, tapi gue benaran menyesal, sungguh…]

Dewa tersenyum sendiri di joknya.

“Loe baik-baik aja?” tanya Arya sambil mengernyitkan dahi.

“Yep, sangat baik,” jawab Dewa sambil memencet-mencet layar hapenya dengan ritme cepat, mengetik pesan balasan buat Rauf.

[Apa itu artinya loe gak bakal ngamuk-ngamuk lagi kalau tangan gue masuk ke sempak loe? Karena kalau artinya bukan itu, gue ogah nerima maaf loe!]

Dewa lagi-lagi tersenyum sendiri. Mengerjai Rauf begitu rupa ternyata bisa membuatnya terhibur juga.

“Gila loe kambuh atau bagaimana?” tanya Arya lagi saat kembali menemukan Dewa tersenyum sendiri.

Dewa menyimpan hapenya ke saku jins. “Loe gak akan percaya kalau gue bilang gue tergila-gila sama loe, kan?” Dewa menyeringai sekilas pada Arya lalu membuka pintu mobil.

“Of course, not!” jawab Arya sambil mengikuti Dewa keluar dari jok.

“Kalau gitu buat apa nanya?”

“Okey, lupakan kalau gue pernah nanya.”

Arya mengekor di belakang punggung lebar Dewa menuju beranda dimana terdapat satu set kursi kayu yang juga bergaya minimalis. Arya sudah bisa mengira kalau perabotan di dalamnya juga pasti mengikut konsep yang sama.

Dewa memasukkan anak kunci ke lubang di pintu, sambil terus berharap tak ada perabotan yang melayang begitu pintu terbuka. Seharusnya Dewa menelepon Ren dulu untuk memastikan apakah dia sedang di rumah atau tidak. Kini sudah sangat terlambat untuk melakukan itu.

“Loe tinggal sendiri?” Arya mulai meragukan analisanya sendiri tentang Dewa yang pasti tinggal bersama pacar atau selingkuhannya. Rumah yang dia datangi ini terlalu kesepian.

“Silakan masuk,” kata Dewa sengaja mengabaikan pertanyaan Arya.

Pintu membuka, dan darah Dewa terhisap seketika. Ren tegak berdiri di ruang depan, sudah berpakaian rapi, bersidekap dada dan memandang lurus padanya. Arya masih berada di balik punggungnya, tapi Ren pasti sudah melihatnya. “Halo, Ren… belum berangkat kerja?” Untungnya Dewa bisa menutupi gugupnya tanpa harus tergagap-gagap.

Tahu Dewa sedang bicara pada seseorang, Arya menjenguk melewati bahu lebar pria itu dan segera mengenal sosok yang dipanggil Ren sebagai orang yang sempat ditemuinya di parkiran PQRS. Nyatanya Dewa memang benar tinggal dengan seseorang, atau setidaknya baru satu orang yang dilihat Arya. Siapa bisa menjamin kalau tak ada orang lain lagi di dalam sana? Merujuk pada ucapan Rauf yang masih diingat Arya, Dewa kan sering ‘ngebobol’.

“Hai, Ren…,” sapa Arya berusaha sebisa mungkin untuk terdengar ramah.

Pandangan Ren hinggap sekilas saja pada Arya sebelum kembali menusuk tajam ke arah Dewa. “Nyaris setahun gue ngangkang buat loe dan masih saja loe gak ingat jam kerja gue? Luar biasa…”

Dewa menggidikkan bahu dan melangkah masuk. “Gue bahkan gak ingat nenek gue bintangnya apa, mengapa harus repot-repot ngingat jam kerja loe?”

Dewa bisa saja menanggapi Ren dengan santai, tapi hatinya tetap ketar-ketir memikirkan bagaimana sikap Arya padanya setelah ini. Apakah cowok itu akan menjauhinya? Membarikade kehadirannya dalam bentuk apapun? Dewa tidak bisa membayangkan kemungkinan terburuk itu, dia tidak ingin Arya keluar dari orbit dunianya. Tapi mengingat kata ‘mengangkang’ yang dipakai Ren, bukan mustahil Arya akan melakukan itu, keluar dari kehidupannya.

“Sampai kapan loe bakal bersikap seolah-olah gue gak pernah ada buat loe, seolah-olah kita gak pernah melewatkan waktu bersama di sini, sampai kapan?” tanya Ren, tenang, namun ada kemarahan yang mengalir lewat suaranya.

“Sampai loe sadar, bahwa kita…” Dewa berhenti sejenak untuk menegaskan penekanan pada kata ‘kita’, “memang tak pernah ada,” lanjutnya. “Dan tolong berhenti bertingkah seolah-olah loe mencintai gue…”

“Gue memang cinta sama loe!” Ren meledak.

“Loe hanya cinta apa yang ada di antara paha gue!” Dewa juga sudah tidak tahan.

Arya berdeham. Sampai saat ini dia masih berdiri tegak di pintu bersama ransel di punggung, kantong belanjaan miliknya ditinggalkan di dalam mobil Dewa. “Sebaiknya gue pergi…”

“Sebaiknya loe mati saja!” respon Ren sengit.

“Loe gak boleh pergi,” larang Dewa.

“Lalu apa?” Arya sudah merasa cukup melihat dan mendengar. “Tetap di sini dan ngeliat loe jadi berengsek?”

Dewa dan Ren sama tercengang menemukan Arya berkata begitu, Ren bahkan terbelalak tak percaya. Laki-laki itu sangsi telah salah menilai Arya sebagai maho mata keranjang tak punya perasaan.

Arya menatap lurus pada Dewa. “Sebenarnya hati loe terbuat dari apa sih? Dia sungguhan cinta sama loe dan loe malah nganggap itu mainan? Kalau keyakinan hidup loe terus seperti itu, bahwa seseorang mau bersama loe, menghabiskan waktunya dengan loe karena seks semata, lalu kapan loe bisa menemukan cinta dalam hidup loe? Jawabannya gak akan pernah. Kenapa? Karena setiap ada seseorang yang sungguh-sungguh mencintai, loe jadi berengsek dengan meng-omong-kosong-kan cintanya!”

Ren ternganga, sedang Dewa merasa baru saja ditampar Arya, keras dan nyaring sekali.

Arya merasa kakinya goyah dan matanya perih. Dia tidak tahu apakah dirinya baru saja berbicara mewakili Ren atau atas namanya sendiri. Arya tak bisa membedakan itu sekarang. Ya, dia menyukai Dewa, dia mengagumi pria itu terlepas seburuk apa kelakuannya. Jika mau jujur dengan hatimu sendiri, kau tidak bisa begitu saja berhenti menyukai seseorang jika sudah pernah benar-benar terlanjur menyukainya. Begitulah yang terjadi pada Arya. Dia pernah menyukai Dewa sampai nyaris bisa dikatakan terobsesi dengannya, tapi kenyataannya kini Dewa punya seseorang yang mencintainya, setidaknya begitu pengakuan Ren. Jadi, bagaimana Arya bisa memaksakan dirinya pada Dewa──meskipun Dewa juga tampak menginginkannya──sementara ada seseorang yang harus terluka? Meski Dewa tak percaya akan cinta Ren──jika benar itu cinta dan semoga saja benar begitu──yang membuat Arya benci padanya, tetap saja Arya tak bisa begitu saja berhenti menyukai sosok Dewa. Apa yang tadi diutarakannya mungkin bisa jadi adalah perasaannya sendiri, bahwa dia ingin Dewa balik mencintainya seandainya keadaan mereka tidak begini, seandainya Ren tak ada dan mereka bertemu lebih dulu ketika masih sama-sama sendiri.

Arya menelan ludah, dipandangnya bergantian dua orang di depannya yang tampak masih shock. “Semoga kalian cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah kalian sendiri…” Arya berbalik dan menutup pintu di belakangnya. Dia merasa konyol datang ke rumah Dewa, seharusnya dia tak pernah mengiyakan untuk masuk ke mobil Dewa tadi. Seharusnya… dia tak pernah bertemu Dewa, begitu pasti lebih baik.

Di belakangnya, Arya masih bisa mendengar Dewa dan Ren berdebat sengit. Terdengar suara sesuatu yang dibanting pecah dan lalu pintu rumah terbuka. “Loe mau ke mana?”

Arya tidak menoleh, tidak pula menjawab, tapi dia tahu kalau Dewa sedang berusaha mengejarnya. Arya berhasil mencegat taksi kosong dan melemparkan dirinya ke jok tepat saat Dewa berhasil menyusul. Pria itu tertahan di balik pintu taksi.

“Loe mau ke mana?” Dewa memukul-mukul pintu taksi.

“Jalan, Pak!” perintah Arya pada supir taksi. Dia sadar uangnya tak akan cukup untuk membayar ongkos taksi, tapi pilihannya untuk lolos hanya ini. Tuhan seperti sengaja mengirim taksi ini untuknya tepat pada waktunya.

Taksi melaju, meninggalkan Dewa yang mematung di jalan.

***

“Halo?”

“Loe harus cari Arya sekarang juga!”

“He?”

“Gue gak bisa ngubungin dia, kayaknya nomor gue diblok lagi. Loe nyimpan nomornya? Coba loe yang nelpon…”

“Gue gak nyimpan nomornya.”

“Dia gak punya uang sepeser pun, Raf! Bisa loe bayangin, dia gak punya uang…”

Rauf permisi pada wanita yang sedang dilatihnya untuk kemudian pergi ke pojokan ruangan. “Wa, dia meninggalkan apartemen gue sejak awal pagi tadi, ini sudah beberapa jam sejak dia pergi dan loe nyuruh gue nyariin? Meski gue mau bantu nyari, kemungkinan ketemu tuh satu banding seribu. Kami baru kenal dua hari, gue gak tahu rumahnya, gak tahu siapa temen-temennya, di mana dia sering nongkrong. Loe mau gue nyari ke mana?” Rauf kehabisan napas karena ngomong terlalu cepat. “Gue kira dia sama loe, bukannya tadi pagi loe pergi tergesa-gesa buat ngejar dia?”

Dewa tidak menjawab.

“Mungkin dia sudah pulang ke rumah,” usul Rauf.

“Dia gak akan pulang ke rumah, tidak hari ini.”

“Bagaimana loe bisa yakin?”

“Pokoknya dia gak akan pulang ke rumah.”

“Loe tahu rumahnya, kan? Kenapa gak coba memeriksa ke sana?”

“Gue gak tahu.”

“Loe gak tahu rumahnya? Kalian sudah kenal berapa lama sih?”

“Argh…!”

Klik.

“Wa, halo… Dewa?” Rauf memandang layar hapenya, Dewa sudah memutuskan panggilan. “Damn!”

Percakapan mereka baik-baik saja, maksudnya, tak ada sentimen dan nada sinis meski sesamar apapun. Padahal, baru beberapa jam lalu mereka nyaris baku hantam.

Rauf sadar ada notif pesan singkat saat hendak memasukkan kembali hapenya ke saku jogger pants abu-abunya. Pesan singkat dari Dewa yang tidak disadarinya. Membaca pesan itu membuat mukanya mengelam. “Dewa keparat.”

Yah… tadi pagi mereka memang nyaris berkelahi.

***

Arya punya seratus lima puluh ribu. Itu penghasilan si supir taksi semuanya sepanjang pagi tadi. Awalnya Arya tak percaya kalau si supir cuma mengantongi uang segitu, tapi si supir bersikeras kalau itu sudah semua uangnya──bahkan menunjukkan dompetnya pada Arya──dan dia hanya mampu bayar segitu untuk hape yang disodori Arya sebagai ongkos taksinya. Akhirnya Arya mengalah, dikeluarkannya kartu memori dan kartu sim dari hapenya dan diambilnya uang dari si supir. Seharusnya Arya tahu, bahwa di suatu tempat yang bukan di taksi yang ditumpanginya itu, hape super pintar miliknya bisa terjual berkali-kali lipat dari harga yang mampu dibayar si supir taksi tersebut. Tapi, saat itu dia tidak punya banyak pilihan karena otaknya sedang tidak bekerja dengan seharusnya.

Arya menghempaskan bokongnya di trotoar setelah berjalan nyaris lima ratus meter dari tempat si supir menurunkannya tadi. Matahari mulai terasa menyengat. Diperhatikannya keadaan sekitar, dia berada di depan sebuah toko mainan, boneka-boneka berbulu lembut balas memelototinya dari balik kaca super jernih karena dibersihkan setiap hari. Tak jauh dari tempatnya mendudukkan diri ada halte. Tak ada orang yang menunggu angkot di halte itu. Mobil dan motor berseliweran di jalan. Beberapa pejalan kaki bergerak melewatinya, terlihat seperti turis domestik dengan tampilan santai dan tali kamera di leher, mereka berbicara satu sama lain dan tertawa. Hidup mereka, turis-turis itu, pastilah baik-baik saja hingga bisa berlibur dengan ekspresi ceria sedemikian rupa. Arya belum pernah pergi liburan. Memandang orang-orang itu sekarang membuat Arya merasa iri, setidaknya sampai turis-turis itu berbondong-bondong masuk ke kafé dengan tulisan BREAKFAST besar-besar di pintu kacanya.

Arya mendongakkan kepala dan bisa melihat puncak-puncak gedung di depannya. Pikirannya buntu, tidak bergerak sama sekali, persis seperti gedung-gedung di depannya. Untuk saat yang lama, dia hanya duduk di sana, seperti gelandangan. Atau… dia memang sudah jadi gelandangan?

Jerit klakson pemotor menarik Arya dari ke-tidak-sadar-an-nya. Dia memandang pemotor itu melewatinya hingga hilang di belokan. Ibra punya motor yang seperti itu.

Ibra…

Motor?

Sial… seharusnya dia ke Bengkel Z, mengambil motornya agar bebas bergerak ke sana kemari. Tapi, bagaimana kalau Dewa ada di sana? Tidak… dia tidak boleh ketemu Dewa lagi, sudah cukup semua drama tentang Dewa dan pacarnya yang sama dramatisnya.

Pikirannya tertuju kembali pada Ibra. Yang harus dilakukannya sekarang adalah ketemu Ibra. Tapi bagaimana caranya dia bisa ketemu anak itu? Mereka baru berteman di perguruan tinggi, belum pun satu semester. Arya tidak tahu rumahnya, pada banyak kesempatan selalu Ibra yang datang ke kamar Arya, membawa bokongnya sementara Arya sudah siap dengan pentungannya. Mereka akrab untuk hubungan seperti itu.

Saat ini, yang lebih sial adalah, Arya tak hapal nomor kontak Ibra.

‘Pulang, loe harus pulang, Ar…’

Ingat pulang tidak bisa melepaskan Arya dari teringat Ayas. Arya harus mengakui kalau dia kangen adiknya itu. Seharusnya Ayas saja sudah bisa membuatnya untuk memilih pulang, tapi dia masih benci papa dan mamanya. Dia pergi hari Sabtu, ini baru Senin. Kalau pun harus pulang, setidaknya jangan sekarang.

‘Baru dua hari Ar, tiga hari deh… Pulang sekarang hanya untuk membuktikan kalau bokap loe benar, apa itu tidak melukai harga diri loe?’

Satu-satunya jawaban saat ini sepertinya memang hanya Ibrahimovick.

“Taksi!” Arya mencegat taksi, masuk ke dalamnya sambil berharap uangnya yang tak sampai dua ratus ribu──akumulasi dari isi dompet supir taksi dan sisa uang Rauf kemarin──cukup untuk membayar perjalanannya. “Kampus Ye Aksen, Mas!”

Supir taksinya kali ini lebih muda dari yang sebelumnya, dan berwajah kelimis. Taksinya wangi. Dua hal itu, supir cakep dan taksi wangi, adalah satu-satunya penghiburan untuk Arya sejauh ini

“Mas suka fitness?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Arya.

“Dari sini ke Ye Aksen lumayan jauh, Mas setidaknya harus punya seratus ribu,” jawab mas supir kalem. “Mas punya seratus ribu gak?” si mas menoleh pada penumpangnya sebelum memutuskan menginjak gas.

“Gue bukan gelandangan!” bentak Arya. ‘Setidaknya belum,’ lanjutnya dalam hati sambil menghitung sisa uangnya nanti begitu turun dari taksi.

***

“Bos, ini ada orang yang mau ambil motor itu, katanya disuruh majikannya. Saya harus gimana?”

Dewa merutuk dalam hati. Dia menepikan mobilnya karena tak ingin melewatkan sejengkal pun jalan lolos dari pengawasannya. Bisa saja Arya di sana ketika dia meleng sebentar dari memerhatikan emperan toko dan trotoar.

“Bos?”

“Suruh tunggu, Bang, gue bentar lagi ke situ.”

“Orangnya bersikeras mau ambil terus, buru-buru katanya.”

Buru-buru? Mungkin saja itu Arya. “Apa yang ngambil adalah anak yang pernah ke bengkel hari itu?”

“Bukan, Bos. Saya mah ingat sama itu anak. Ini yang datang bapak-bapak,” sahut Bambang. Dewa baru ingin bertanya ketika Bambang yang seakan mengerti jalan pikiran bosnya itu lebih dulu menyambung. “Dia bawa STNK segala.”

Pasti bokapnya Arya. Tapi… Bambang bilang yang ambil disuruh majikannya. “Jangan kasih dulu, Bang, gue ke situ sekarang.” Dalam pikiran Dewa, mungkin saja karena tidak ingin bertemu dengannya, Arya menemukan cara juga menemukan seseorang untuk mengambil motornya dari bengkelnya. Jika benar demikian, Dewa sudah memikirkan sebuah cara juga agar bisa menemukan Arya.

Dewa memasukkan kembali hape ke saku jinsnya dan berusaha mengabaikan perih ketika luka di pergelangan tangan kanannya bergesekan dengan tepi saku jinsnya. Jika yang sudah-sudah lemparan Ren tidak pernah memberi Dewa luka terbuka di fisiknya, namun tadi tidak begitu. Ren menyasar wajahnya, dan Dewa tidak bego dengan membiarkan wajahnya kena lemparan teko hias begitu saja. Teko itu pecah tepat ketika menghantam lengannya. Kalau saja Dewa tidak berpikir jernih, saat ini mungkin Ren sudah harus dirawat di IGD.

***

Rauf tidak konsen melatih. Kalimat Dewa tentang Arya yang tidak punya sepeser pun mengganggu fokusnya. Ketika sudah tidak mampu lagi menahan diri untuk tetap tinggal sampai jam istirahat pekerjaannya, dia mengeluh kurang fit pada manejer gym dan membereskan tas kanvasnya.

Arya memang bukan siapa-siapanya. Namun Rauf harus mengakui, anak itu sudah berhasil mengacaukan ritme hidupnya. Padahal, ya ampun, dia hanya baru dua hari mengenal bangsat muda itu.

‘Dia gak punya uang sepeser pun…’

Ucapan Dewa saat meneleponnya tadi menggema terus di kepala Rauf selama langkahnya menuju parkiran. Dia menyesal hanya memberi Arya tiga ratus ribu kemarin, lebih menyesal lagi karena meminta anak itu melunasinya tadi pagi.

Rauf masuk ke mobil, menyalakan mesin lalu turun ke jalan sambil berusaha mengingat warna baju yang dikenakan Arya saat meninggalkan apartemennya tadi pagi. Yang harus ditemukannya adalah anak muda mengenakan oblong biru bergaris-garis putih dengan ransel di punggung, dan berwajah tampan. Oh, ya, plus kantong belanjaan.

***

Sebelumnya, Dewa adalah pribadi yang optimis. Tapi ketika sadar kalau penguntitannya berujung ke rumah besar nan megah──di mana seorang pria paruh baya yang mirip Arya dalam versi lebih tua menghampiri orang yang dikuntitnya di halaman rumah, dia cemas tak akan menemukan Arya dalam waktu singkat. Dewa berhenti sebentar untuk melihat pria paruh baya itu membungkuk di dekat motor seperti memeriksa, wajahnya tampak tidak senang.

Akhirnya motor itu benar-benar diambil bokapnya.

Dewa sudah siap menekan gas mobilnya ketika ekor matanya menangkap kelibat seorang bocah berlari ke halaman sambil meneriakkan nama Arya. Dia urung pergi dan memutuskan untuk memerhatikan beberapa saat lagi. Diturunkannya kaca mobil lebih lebar agar bisa mendengar suara bocah itu lebih jelas.

Dewa segera tahu kalau bocah itu adiknya Arya. Wajah mereka benar-benar mirip. Jika pria paruh baya tadi adalah versi Arya yang lebih tua, maka bocah itu adalah Arya versi empat atau lima tahun.

“Mana Mas Arya?”

“Pak Kasman siapkan mobilnya, saya mau balik lagi ke kantor segera.” Pria paruh baya itu mengabaikan pertanyan si bocah. “Dan bawa Ayas ke Bik Euis.”

Dewa memerhatikan sampai bocah bernama Ayas itu digandeng pergi orang yang mengambil motor Arya di bengkelnya tadi. Ketika si pria paruh baya yang pasti bokapnya Arya itu tiba-tiba menatap pintu gerbang yang setengah tertutup, Dewa menaikkan kaca mobil dan melesat pergi. Tapi dia yakin kalau bokap Arya sempat melihatnya lewat celah-celah besi pintu gerbang.

Dewa memutuskan, kalau kelak dia berkeluarga dan spermanya berhasil membuahi seseorang lalu dirinya jadi ayah, dia tidak mau jadi ayah seperti bokapnya Arya. Dewa bahkan berdoa untuk itu.

‘Tapi… bokapnya Arya keren mampus…!’

***

Semesta berubah warna secara perlahan namun pasti. Ketika sadar, hari sudah gelap, malam siap melebarkan sayap pekatnya ke seluruh semesta, seperti induk ayam mengerami bayi-bayinya di bawah ketiak.

Arya adalah bayi ayam itu, sementara gelap di sekitarnya adalah sayap induk ayam.

Menunggu nyaris seharian di depan kampus ternyata sia-sia. Ibra tidak terlihat. Kemungkinannya, Ibra membolos untuk membobol silit pacarnya di suatu tempat, atau dia masuk kuliah tapi Arya melewatkan kelibat anak itu saat jam kuliah selesai. Kemungkinan kedua rasanya mustahil, Arya mengawasi gerbang keluar masuk fakultasnya seperti seorang mata-mata terlatih dalam film spionase. Jam empat sore saat fakultasnya sudah sepi, Arya berjalan kaki ke utara, berhenti di warung tenda saat sadar betapa dirinya kelaparan, setelahnya berjalan lagi sampai kelelahan.

Kini, saat hari sudah gelap, dia terdampar di alun-alun karena ransel di punggungnya makin terasa berat. Kulitnya gosong dan perih, kakinya pegal luar biasa, dan dia belum mandi seharian.

Gelandangan.

Meski tak mau mengakui, dirinya memang sudah jadi seperti itu.

Arya duduk bersandar di bangku beton berlapis ubin yang tersebar di hampir setiap sudut alun-alun, sementara denyut irama kehidupan terus berdetak di sekelilingnya. Tiga hari lalu, dia bisa dikatakan punya segalanya, sekarang, semua yang dia punya ada di dalam ransel miliknya. Itu saja. Arya memandang ranselnya yang sudah diletakkannya di atas bangku dan ingat kalau di dalamnya dia masih punya barang berharga untuk bertahan hidup di luaran jika seandainya keadaan kian bertambah buruk, seperti bila esok dia gagal lagi bertemu Ibra. Dia akan menjual laptopnya.

Arya teringat motornya sejenak dan yakin kalau papanya pasti sudah bertindak untuk mengamankan benda itu seperti yang disuruhnya dalam surat. Memikirkan papanya, memaksa Arya untuk mengingat lagi kejadian di pagi tiga hari lalu. Papanya memukulnya, mamanya menamparnya.

Apa yang salah dengan hidupnya?

Sendirian dengan kondisi yang begitu kontras dengan kehidupannya sebelum tiga hari ini, Arya mulai mencari jawaban untuk pertanyaan itu. Ternyata dia menemukan banyak sekali jawaban, lebih dari yang diharapkannya.

Hidupnya salah karena dia punya orang tua yang tidak peduli, karena dia tidak kenal kasih sayang orang tuanya, karena dia pelaku homoseksual, karena dia mengira hidupnya akan baik-baik saja selama masih bisa menonton bokep dan coli dan memasukkan alat vitalnya ke belakang seseorang, karena dia tidak pintar di bidang akademis─yang mungkin menjadi salah satu faktor penyebab orang tuanya tidak peduli, karena dia terlahir sebagai anak sulung──yang membuatnya tidak punya saudara lebih tua untuk bersandar ketika menghadapi masalah, karena dia tidak punya sahabat dalam kadar yang bisa dianggapnya sebagai saudara, karena dia tertarik sejak pertama kali melihat penis Dewa….

Sialan…!

Arya merutuk sendirian saat pikiran tanpa arahnya justru berakhir pada nama Dewa.

Angin malam berhembus membawa aroma daging terbakar ke hidung Arya. Dia menatap gerobak-gerobak jajanan yang berjejeran di bagian luar alun-alun.

Daripada memikirkan Dewa sialan dan penisnya, bukankah seharusnya dia lebih mengkhawatirkan bagaimana caranya bisa mengisi perutnya? Ya, seharusnya Arya memikirkan isi perutnya, karena sudah diputuskan, bangku beton berlapis ubin──yang terasa makin dingin ini──yang sedang didudukinya sekarang, adalah ranjangnya malam ini.

Arya mengira-ngira jam, pasti belum pukul sembilan. Di rumah, dia tidak memikirkan jam berapa dirinya harus makan malam, bahkan dia sama sekali tidak memikirkan tentang makan, lebih tepatnya, tidak mengkhawatirkannya. Tapi saat jadi gelandangan seperti sekarang, ternyata itu adalah hal utama yang harus dikhawatirkan, tempat bermalam berada di urutan selanjutnya.

Arya merogoh dompet. Menghitung sisa uang di dalam dompet itu malah membuatnya meringis. Dia ingin berhemat, setidaknya sampai besok ketika dia berhasil mencegat Ibra di gerbang Kampus Ye Aksen, tapi rasa laparnya tidak mudah diabaikan begitu saja. Arya memasukkan dompet ke saku jins lalu bergerak untuk menghampiri salah satu gerobak.

Satu bungkus lontong sate seharga lima belas ribu, air mineral tiga ribu. Arya mengulurkan lembaran dua puluh ribuan dan mengantongi kembalian dua ribu. Setelahnya, dia melangkah kembali ke kursi beton berlapis ubin yang sama yang hanya ditinggalkan lima menit saja, untuk mendapati, bahwa ranselnya telah raib…

 

= TO BE CONTINUED =

 

Note :

Sori telat… kalau ada typo, harap dikomentari typonya.

 

Just Oktober 2016

Dariku yang sederhana

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com