8959503_f520

Gemini Tales

Act 2 – Dalam Kebersamaan Lahirlah Cinta

Oleh : Pandu Wiratama

 

Namanya Spica Natalia Arlana. Teman-teman memanggilnya Spi, tapi aku… yah, aku selalu memanggilnya Lana. Bukan berarti aku tidak suka dengan nama panggilan teman-temannya, hanya saja nama itu membuatku teringat kalau Lana tiga bulan lebih tua dariku.

Sejak aku pindah kemari setahun lalu, Lana satu-satunya orang yang bisa kuanggap sebagai teman. Fakta bahwa dia cewek sudah cukup memukul egoku. Masa sih cowok enam belas tahun seperti aku cuma punya seorang teman dekat? Cewek pula! Ditambah lagi dia lebih tua, meski cuma tiga bulan. Rasanya hubungan kami jadi tidak setara. Seolah aku adiknya!

Jadi kuusir jauh-jauh panggilan itu dari mulutku, simpel kan?

Saat ini kami berdua terlihat mesra, duduk di sebuah bangku kayu, satu dari sekian banyak taman bunga yang terhampar sepanjang tepi danau Telaga Dalom, di pojokan yang dikenali aplikasi game di layar hapeku sebagai ‘pojok jadian’.

Dan ya, meski terlihat intim, kami bukan sedang pacaran, melainkan asik bermain pokemon go. Pojok jadian adalah nama sebuah pokestop. Aku dan Lana sedang ‘mancing’ Magikarp. Tak ada pikiran romantis apapun terlintas di otakku. Sama sekali nggak ada, suer!

Maksudku, kami kan bersahabat, bukan berpacaran.

“Ayo kita mancing ikan, biar cepet-cepet berubah jadi naga!”

Begitulah tadi Lana menarik bahuku yang sedang bermalas-malasan di depan komputer. Aku mengerang saat melihat cuaca mendung tak bersahabat di luar jendela dan mengemukakan sejuta protes, yang tentu saja tidak diacuhkan olehnya.

Lana bukan lah Lana jika dia tidak bisa memaksaku. Dan meski aku tidak bisa hidup di langit yang sama dengan awan mendung berada, karena aku kan takut petir, dengan terpaksa aku menelan kembali keluhku dan pergi mengambil sepeda, mengikutinya kemari.

“Sebentar lagi danau ini akan berubah warna,” Lana berkomentar saat mengikuti pandangan mataku yang terpaku pada hamparan air kehijauan yang terbentang di hadapan kami. Seperti biasa, Telaga Dalom tampak misterius dan membuatku bergidik. “Kamu mau gak ngeliatnya berdua sama aku nanti?” tanyanya lirih.

“Tentu,” sahutku tertawa geli. “Bukankah ini yang sedang kita lakukan, dempet-dempetan di bangku taman, melototin danau seperti orang stres, sambil nungguin Magikarp yang entah kenapa nggak muncul-muncul.” Aku menunjuk layar hapeku dengan sikap pasrah. “Pasti mereka kira kita lagi pacaran,” gumamku menunjuk pasangan muda-mudi yang tersebar di sekitar kami dengan anggukan kepala. Semua orang asik bercakap lirih di bangku masing-masing.

Lana ikut tertawa. “Aku gak peduli orang berpikir apa tentang kita,” tukasnya cuek. “Lagian, ada mitos di kota ini, katanya kalo kita nembak orang yang kita suka sesaat sebelum Telaga Dalom berubah warna, cinta kita pasti diterima.”

Aku memutar bola mata. “Artinya kita harus nunggu sampe akhir tahun untuk menyatakan cinta? Bukankah itu konyol? Setahuku danau cuma berubah warna bulan Desember,” kataku sangsi. Tatapan kami lalu bertemu.

Bisa kulihat Lana serius dengan omongannya. Masa sih? Dia kan tak mungkin melakukan apa yang kupikir akan dia lakukan?

Ternyata tebakanku meleset.

“Nyatanya beberapa orang emang melakukan itu,” gumamnya lirih. “Kurasa cinta emang gak rasional, mungkin bagi mereka gak ada salahnya berharap pada mitos, sekonyol apapun itu, apa sih ruginya menunggu, kalo itu membuat kita gak bertepuk sebelah tangan?”

Aku menghela napas. Kualihkan mataku darinya, kembali mengamati gelombang halus pada permukaan danau, pada kepala-kepala berambut ganggang yang seolah mengintip tanpa kata dari kedalaman. Sosok misterius yang selalu membuat kakiku terasa lemas tiap kali sorot hampa mereka menyapu pandangku.

“Selama ini aku selalu diam.” Suara Lana mengalihkan mataku dari hal-hal yang tidak ingin kulihat. “Aku terus menunggu kamu buat nembak aku,” lanjutnya pelan. Lana melamun melihat ke arah danau. Wajahnya sedikit melankolis, menyembunyikan raut keras kepala dan tidak acuh yang biasa kulihat. “Tapi aku gak bisa terus diam menunggumu, kurasa kita kehabisan waktu, jadi sudah waktunya kamu mengambil sikap.”

Cewek itu kembali menatapku, membuat jantungku berdebar dan tubuhku terasa kaku. Aku mulai merasa panik.

“Pandu Wiranata,” panggilnya lembut. “Kamu mau gak jadi cowokku?”

Perutku terasa mulas.

Ya Tuhan! Apa yang harus kukatakan padanya? Aku berusaha menekan rasa bersalahku, tapi tanpa hasil. Aku tahu hari semacam ini akan tiba, hari ketika Lana mengutarakan perasaannya dan menembakku.

Sudah bisa kutebak sejak pertama kami bertemu dulu, saat Lana masuk halaman rumahku tanpa basi-basi dan menyapa.

“Kamu suka berkebun?” tanya Lana waktu itu.

Aku yang sedang terpekur mengamati pipa paralon yang terpancang tegak lurus di halaman belakang, dengan lubang-lubang berisi tanah, nyaris melompat kaget oleh kedatangannya yang tiba-tiba. Kuputar leherku dan kudapati seorang cewek berambut ikal bergelombang dengan celana jins dan kaus kasual berdiri mengamati punggungku.

Sejenak aku terdiam menatap sosok seperti boneka di depanku ini. Bahkan dalam balutan pakaian sederhana dan sikapnya yang terlihat sedikit tomboi, cewek itu luar biasa mempesona. Itu pujian terbaik yang bisa kuberikan, karena meskipun aku cowok, aku tidak tertarik sama cewek. Dia cewek pertama yang membuatku sulit bernapas.

“Ternyata kamu juga suka bengong,” tambahnya sambil tertawa.

“A-aku… “ gumamku tergagap.

“Pandu kan?” Cewek itu menyodorkan tangan. “Kamu bisa panggil aku Spi.”

“Spi?” ulangku.

Lana mengangguk, lalu tersenyum penuh arti. “Oppa gak bohong, aku bakal punya tetangga ganteng.”

“Hah?” Aku melongo seperti orang bego.

Kata-katanya membuatku terbengong, apa cewek ini sedang mengolok-olok? Kuperhatikan wajahnya lekat-lekat, namun tak kutemukan ketidaktulusan di sana. Anehnya, dia terlihat familiar. Apa kami pernah bertemu sebelumnya?

Lalu apa katanya tadi? Opa? Apa aku kenal sama kakeknya? Perasaan aku belum pernah ketemu sama kakek-kakek manapun sejak aku pindah ke sini kemarin? Keningku berkerut. Tunggu dulu! Cewek ini bukan korban drama Korea kan?

Tanpa sadar kulirik rumah bercat oranye di sebelah. Kepalaku memutar kejadian kemarin sore, saat seorang cowok kuliahan menabrakku di hari pertama aku pindah, lalu dengan sikap cuek dan kepedean mengajak berkenalan. Kudapati sosok cewek ini menyatu dengan sosok cowok dalam ingatanku. Jangan-jangan?

“Kamu adeknya Kak Baran?” tanyaku kaget.

Pasti tebakanku benar. Lana versi feminim dari abangnya. Meskipun dia seperti boneka dan Kak Baran sangat gagah, mereka berdua punya kemiripan yang cukup jelas. Rambut keduanya hitam pekat, dengan bola mata gelap seperti malam. Rahang mereka tajam, terkesan keras kepala, meski secara umum ekspresi keduanya hangat dan penuh energi.

Lana tersenyum lebar padaku. Ibu jari terangkat. “Bingo!” katanya mengkonfirmasi.

Mulutku menganga. Maksudku, mana ada sih cewek normal yang manggil abangnya dengan sebutan Oppa ala pilem-pilem Korea? Tapi nyatanya cewek ini kini muncul tepat di depan hidungku. Kurasa aku pasti sudah gila!

Atau dia yang tidak waras? Entah lah!

Baran dan Spi, pikirku dengan jantung berpacu. Pantas saja Lana tadi membuatku terpesona, meskipun dia cewek! Kurasa aku benar-benar sudah jatuh cinta sama abangnya, cowok Taurus yang membuat dadaku bergemuruh tiap kali sosoknya tersenyum dalam ingatan.

Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. “Jadi namamu Spica?” tebakku. “Kamu lahir bulan Agustus atau September?”

Gantian aku yang membuatnya kaget. Mata Lana membesar saat menatapku. “September,” jawabnya. “Dan Oppa benar, kamu punya bakat jadi paranormal!”

Aku terbahak. Komentar Lana persis seperti abangnya kemarin.

“Apa aku terlihat seperti Ki Joko Bodo?” protesku geli. “Lagian nggak semua orang memberi nama bintang buat anak-anaknya, kudengar dari Ayah, ibumu seorang dosen, kurasa dia pasti dosen Astronomi!”

Lana mengerang. “Aku gak tahu kalo kamu fanatik bintang seperti ibuku!”

“Dari caramu mengatakannya, seolah itu hal yang buruk.” Aku kembali protes, kali ini dengan muka dilipat tiga.

“Jangan salahkan aku.” Lana memasang tampang polos yang menggemaskan. “Kamu juga bakal protes kalo ibumu memilih nama yang aneh untukmu. Cuma karena dia menyukai sesuatu, kan gak berarti aku bakal suka juga!”

“Tapi Spica nama yang bagus,” bantahku.

Lana mengangkat bahu. “Kata Ibu, itu bintang paling cemerlang di rasi bintang Virgo, hal-hal konyol semacam itu.”

Aku menggeleng. “Sama sekali tidak konyol!” tukasku. “Bukankah nama adalah sebuah doa? Kupikir ibumu pasti senang karena harapannya terkabul.”

Kata-kataku membuatnya tersentak. Matanya mengerjap beberapa kali, sebelum cewek itu tersenyum lebar. “Apa kamu baru saja memujiku?”

Kurasakan pipiku memanas, mulutku seperti terkunci. Kenapa sih aku harus menggodanya seperti tadi? pikirku penuh sesal.

Lana tertawa melihat kecanggunganku. “Itu cara yang aneh untuk memuji seorang cewek,” katanya geli. “Taruhan, kamu pasti belum pernah pacaran.”

Telingaku memerah seperti tomat. Rasanya aku ingin menggali tanah dan bersembunyi di dalamnya. “Bukan urusanmu!” sergahku malu.

“Kamu lucu kalo lagi malu-malu begini,” kata Lana polos, sama sekali tidak memberiku muka. “Aku senang kamu jadi tetanggaku.”

“Kita baru kenal lima menit dan kamu sudah menilai kalo aku tetangga yang baik?” tanyaku sedikit terperangah.

Lana memeletkan lidah. “Seenggaknya aku bisa cuci mata tiap kali ngeliat kamu,” gumamnya cuek, membuatku kehabisan kata-kata. “Kamu percaya jodoh?” ujarnya lagi. Lana terlihat serius saat menanyakan itu.

Entah kenapa, pertanyaannya membuatku gugup.

“Tidak,” aku menukas.

“Kalo aku sih percaya.” Lana berjalan mendekat dan mengitari pipa-pipa paralon yang bakal menjadi rangka kebun organik vertikal yang tengah kubuat. “Sejak pertama melihatmu, aku merasa kita sudah berjodoh,” katanya sambil mengorek tanah di salah satu lubang.

Aku kembali ternganga. Kugaruk pelipisku dengan kikuk. Kalau Arkan sahabatku ada di sini, pasti dia sudah heboh sendiri. Bisa kubayangkan cowok itu terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk pundakku, dan berkata, “Gila bro, baru sehari pindah, elu uda ditembak cewek! Sumpah, gua kasian sama cewek itu, nggak tahu apa, kalo elu mah doyannya sama cowok!”

Membayangkan sosok Arkan mengolok-olok dengan tawanya yang sengak minta digampar, membuatku jengkel sendiri.

“Kamu nggak serius dengan kata-katamu!”

“Kenapa tidak?” bantahnya. “Kalo ternyata sifat kita cocok, kurasa aku bakal nembak kamu nanti, siap-siap aja!”

Aku meringis, tidak tahu harus menanggapi gimana.

Baru kali ini aku bertemu cewek secuek Lana, yang bisa mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya tanpa malu-malu dan tanpa basa-basi. Kulirik wajah ovalnya yang menatapku dengan mata berbinar-binar.

Sikapnya yang cuek menarik perhatianku bagaikan magnet. Kurasa kalau aku cowok normal, aku pasti sudah jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Atau kalau Lana itu cowok, dia pasti sudah bikin aku klepek-klepek, seperti pesona abangnya padaku.

Sayangnya, aku bukan cowok normal, dan Lana bukan cowok. Aku tidak mungkin bisa jadian dengannya. Aku tahu kami punya kesempatan untuk menjadi dekat, tapi hubungan kami tidak akan bisa lebih dari seorang teman.

Aku selalu tahu. Tapi Lana tidak.

Di sini lah kami sekarang, terlihat mesra duduk beriringan di sebuah bangku couple, dan Lana tetap menanyakan pertanyaan itu untukku.

Pandu Wiranata, kamu mau gak jadi cowokku?

Aku menatapnya, dan dia menatapku. Lana tersenyum seperti bidadari jatuh dari langit, dan aku… aku terlalu pengecut untuk membalas senyumnya, terlalu malu untuk memberinya jawaban. Aku hanya bisa membisu, dan berhenti menatapnya. Kualihkan pandangku kembali ke permukaan danau, pada sosok-sosok buram yang kini melihatku dingin, seolah hendak menelanku hidup-hidup, menyeretku ke dasar danau.

Kudengar Lana menghela napas panjang. Tangannya menggapai telapakku dan meremasnya lembut, penuh rindu. “Selama ini aku selalu berharap,” gumamnya lirih. “Aku tahu kamu gak punya perasaan yang sama untukku. Aku cuma pengen denger jawaban langsung dari mulutmu, agar kamu mengusir semua keraguan di hatiku.”

“Kurasa aku cuma gak bisa berhenti berharap,” katanya tertawa pahit. “Kamu tahu, dalam kebersamaan lahirlah cinta, aku ingin percaya kalo sihir seperti itu emang beneran ada, dan seiring berlalunya waktu, kamu bakal suka padaku, seperti aku menyukaimu.”

Kurasakan sorot matanya pada sisi wajahku. Tatapannya lembut, namun bagiku terasa tajam seperti pisau. Rasa bersalah kembali mengguncangku. Lana benar. Harusnya aku gak sepengecut ini dan memberinya jawaban.

“Maapkan aku,” kataku lirih.

Kuberanikan diri membalas tatapannya. Lana tersentak, senyumnya dipaksakan. “Saat aku membulatkan tekad untuk nembak kamu tadi, aku sudah siap untuk belajar menerima penolakan,” bisiknya. “Tapi aku gak mengira kalo ternyata bakal sesulit ini,” tambahnya serak. Setetes air mata jatuh ke pipi.

Melihatnya begitu membuat hatiku hancur.

Aku berharap aku bisa jatuh cinta padanya, pada cewek yang memanggil abangnya sendiri dengan sebutan Oppa, cewek yang tanpa malu-malu mengaku kalau dia senang cuci mata melihatku, senang memaksaku pergi menemaninya ke semua tempat aneh yang ingin dia datangi. Lana sering mencubitku kalau dia kesal, dan dia juga suka memaksakan kehendak. Terkadang dia bahkan tega mendoakanku tertimpa kesialan dengan alasan absurd. Tapi dia juga teman yang baik. Aku tahu aku menyayanginya.

Kalau perasaan bisa dipaksakan, tentu aku bakal memilih jatuh cinta lagi dan lagi padanya. Sayang, itu cuma mimpi belaka. Tuhan tahu aku sudah berusaha, tapi aku tak bisa membohongi diri sendiri. Aku tidak tertarik pada cewek. Itulah faktanya. Dan aku tidak kuasa membuat diriku berhenti menyukai Kak Baran. Bukankah ini sebuah lelucon jahat? Seorang cewek secantik Lana menyukaiku, tapi aku malah suka abangnya.

Aku tidak tahu berapa lama kami terdiam. Kami sama-sama lupa tujuan kami datang kemari. Hape sudah tersimpan di saku celana masing-masing. Persetan dengan pokemon go! Apa peduliku sekarang kalau aku tidak mendapat cukup banyak permen Magikarp untuk mengubahnya menjadi Gyarados? Apa itu sebanding dengan perasaan Lana? Tentu tidak!

Kuputar otakku untuk menghiburnya, namun kepalaku terasa kosong. Kurasa untuk sejenak, kami memang butuh keheningan.

Namun ternyata alam pun berbalik memusuhiku. Kurasakan tetes hujan jatuh membasahi rambut. Kepalaku mendongak, melihat langit siang kini menghitam seperti malam. Hembusan angin dari arah danau menyapu wajahku, membuatku gemetar.

Kusentuh bahu Lana yang masih bengong menatap awan. “Ayo kita pulang, bentar lagi bakal turun hujan,” ajakku.

Lana tidak merespon.

Kulirik sekeliling kami. Orang-orang yang semula duduk bersantai kini menghilang satu per satu, bergegas pergi mencari tempat berteduh. Aku tahu di kota ini, hujan rintik-rintik bisa berubah deras dalam hitungan detik. Aku harap kali ini tidak seperti itu.

Butir-butir hujan jatuh semakin banyak. Tanpa daya kulirik Lana yang cuma mengenakan kaus katun lengan pendek. Terlihat kontras dengan sweater rajutanku yang tebal berlengan panjang dan memiliki tudung kepala. Tidak seperti aku, Lana emang lebih kebal terhadap cuaca dingin. Tapi aku tahu dia tidak kebal terhadap hujan.

Kami pasti bakal basah kuyup jika tidak cepat-cepat berteduh. Aku tahu kaus yang dikenakan Lana terlalu tipis dan akan mengecap pada tubuhnya jika kebasahan. Mungkin itu tidak masalah buat cowok, tapi secuek apapun Lana, dia kan tetap seorang cewek!

Sambil menggertakkan gigi, kutarik sweaterku dan kupakaikan padanya.

Lana mendongak saat aku menaikkan tudung sweater menutupi kepalanya. “Kenapa kamu melepas bajumu?” tanyanya kebingungan.

Sebelah alisku terangkat. “Karena kamu menolak untuk pulang,” kataku memutar bola mata. “Aku nggak mungkin mengembalikanmu dalam kondisi basah kuyup, gimana kalo Kak Baran marah dan menghajarku karena membiarkan adiknya kehujanan?” Kedua tanganku menyentuh bahunya. “Jadi, apa kamu sudah mau pulang sekarang? Atau masih pengen merajuk dan membuatku basah?” godaku. “Kamu emang suka ngerjain aku!”

Lana tersenyum lemah. Tampaknya dia baru sadar kalau kami terancam masuk angin karena ulahnya. “Kamu kan takut petir?” gumamnya.

“Aku takut sama banyak hal, tapi untukmu aku harus pura-pura berani.”

“Kamu gak harus begitu,” Lana menukas. “Kamu gak perlu duduk menemaniku di sini, kamu gak harus kebasahan karena aku. Bukankah gak ada apa-apa di antara kita? Kalau kamu terus begini, aku jadi makin sulit melupakanmu.”

“Kenapa aku harus dilupakan?” bantahku.

Lana cemberut. “Kamu baru saja nolak aku, ingat?”

Aku meringis. “Aku emang nggak bisa jadi pacarmu, tapi bukan berarti aku harus berhenti menjadi temanmu. Aku cuma punya dua orang sahabat, dan kamu salah satunya,” ujarku lirih. “Aku ingin kita tetap berteman.”

Air matanya kembali menetes. “Kamu sudah bikin aku patah hati.”

“Maap.”

“Aku harap ini cuma mimpi, dan hujan bisa menghapus semua ingatanku.”

“Kamu serius pengen melupakan aku?” tanyaku sedih.

Lana terdiam, menatap air hujan yang menetes dari tubuhku yang kini menggigil kedinginan seperti terkena penyakit Parkinson. “Kamu inget gak ceritamu dulu?” gumamnya perlahan. “Kenapa Magikarp butuh empat ratus permen untuk berevolusi menjadi Gyarados, sementara pokemon lain cuma butuh dua belas sampai seratus permen aja?”

Aku tertegun mendengar pertanyaan Lana.

“Soal ikan Koi yang berubah jadi Naga?” aku balas bertanya.

Tentu saja aku masih mengingatnya. Dahulu di negeri Tiongkok ada sebuah legenda tentang kawanan ikan Koi yang berenang melawan arus sungai. Semua baik-baik saja sampai mereka tiba di sebuah air terjun. Sebagian ikan Koi menyerah dan berenang pulang mengikuti aliran sungai, namun sisanya menolak untuk pasrah pada nasib. Dengan keras kepala mereka berenang melompat-lompat menaiki air terjun, tidak menghiraukan cemooh dari setan penunggu sungai. Setelah seratus tahun, seekor Koi berhasil mencapai puncak air terjun, dan tanpa disangka-sangka, Sang Dewa yang merasa kagum mengubahnya mejadi Naga.

Aku ingat Lana terlihat takjub saat aku menyelesaikan ceritaku. “Koi yang berubah menjadi Naga,” katanya waktu itu. “Aku paham sekarang kenapa butuh upaya ekstra untuk bisa mengubah Magikarp menjadi Gyarados, karena itu menggambarkan perjuangan si ikan Koi. Aku senang kamu cerita soal ini padaku.”

Yang tidak Lana ketahui adalah, aku selalu mengingat kisah ini jika aku sedang merasa sedih dan berputus asa, untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa kalau aku pantang menyerah, mungkin suatu saat aku bisa menemukan cowok lain yang menyukaiku seperti aku menyukainya.

Sosok Kak Baran kembali melintas di kepala.

Aku tahu ini nyaris mustahil, tapi aku berdoa kalau cowok itu adalah Kak Baran, cowok yang bakal mengerti aku dan mewarnai hidupku. Salahkah jika aku terus berharap pada si cowok Taurus, mahluk yang kilaunya terlanjur melelehkan jantungku?

Terus saja bermimpi, Pandu! pikirku getir.

“Aku terus kepikiran sama ceritamu soal Magikarp dan Gyarados,” kata Lana membuyarkan lamunanku. “Kurasa aku gak pengen jadi segelintir Koi yang menyerah mendaki air terjun. Aku ingin usahaku diakui, kamu tahu, berubah menjadi naga, lalu terbang menggapai impianku.”

Hembusan angin menyapu punggungku yang gemetar. Mataku tidak lepas darinya. Kudapati Lana menatapku keras kepala. Aku mendesah. Kusesali tindakanku dulu. Seharusnya aku tahu kapan harus menutup mulut. Lana tidak harus dengar soal ikan yang berubah menjadi naga. Itu kan mantra pribadiku, pegangan di kala aku berputus asa, harapan bahwa suatu saat nanti, aku juga bisa bahagia karena usahaku sendiri.

Lana tersenyum melihat kerutan di dahiku. Sorot mataku pasrah, memberinya isyarat untuk tidak mengatakan apa yang ingin dia katakan. Tapi Lana adalah Lana. Dia selalu menjadi cewek yang tidak mudah berubah pikiran.

“Pandu Wiranata, aku gak bakal nyerah soal kamu!”

 

***

 

Aku tidak sengaja menginjak ekor Minho yang terjulur seenaknya saat akan naik tangga dan sukses membuat mahluk malang itu menjerit seperti kucing sarap. Kurasakan perih di pergelangan kakiku saat si mahluk berbulu memutuskan untuk balas dendam dengan menghadiahiku tiga buah cakaran. Kucing bangsat! pikirku jengkel. Aku kan cuma menginjaknya sekali!

“Oppaaaaaa!”

Kudengar suara gedebak-gedebuk saat adikku menghambur murka dari lantai dua. Waduh, bakal gawat urusan!

“Gak sengaja kali Na, lu pikir gua seneng dicakar kucing lu?”

Aku buru-buru membela diri. “Lagian gak tau kali ya, ini tangga kan buat orang lewat, bukan buat duduk-duduk, tidur-tiduran, dan malas-malasan!” Dengan jengkel kuberi Minho sepakan pelan supaya kucing itu minggir dari jalurku. Lalu kunaiki anak tangga dua-dua sekaligus.

“Gak sengaja, tapi kok setiap hari!” Lana meradang. Dia berkacak pinggang, berdiri di ujung tangga, menghalangiku lewat.

“Iya, sori, sori,” gumamku pasrah. “Entar gua beliin Royal Canin sebagai permintaan maap,” tambahku cengengesan.

Lana berpikir sejenak sebelum membiarkanku lewat.

Dasar matre, gampang banget disuap! aku menggerutu dalam hati. “Gua belinya nanti yang paling kecil, jadi lu gak usah banyak protes!” tambahku setelah tiba di depan pintu kamar dan sukses menghindari cubitan maut darinya.

“Huuu, punya Oppa, tapi pelit minta ampun!”

“Biarin!” seruku dari dalam kamar. “Sukur-sukur punya abang ganteng!”

“Ge-er banget! Hoeeeek!”

Aku tertawa mendengar Lana mengeluarkan suara pura-pura muntah.

Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Kedua mataku menyapu isi kamar yang sama sekali jauh dari kesan berantakan. Yap, meskipun aku cowok, aku termasuk orang yang rapi. Aku hapal dimana aku menaruh semua barangku. Satu hal yang tidak bisa kutolerir adalah isi kamar yang berantakan, seperti kamarnya Lana, atau Aldo.

Aku masih bisa memaklumi kondisi naas kamar Aldo, karena gimanapun dia itu cowok. Dan cowok slebor bertebaran dimana-mana, itu bisa dimaafkan. Tapi Lana! Maksudku, dia itu kan cewek. Dengan mukanya yang seperti boneka, berani taruhan tidak ada satupun di antara temannya yang bakal mengira kamar Lana lebih berantakan dari kamarku. Jauh, jauuuh lebih berantakan! Aku saja pusing melihatnya.

Sejenak kemudian otakku terasa ringan. Entah sudah berapa lama aku ketiduran. Kepenatan mengambil alih seluruh tubuhku. Lelah karena sesorean main futsal bareng Aldo dan teman-teman kuliah. Kurasa aku tidak akan bangun sampai pagi.

Namun suara pintu berderit menarik kembali kesadaranku ke dunia.

Kampret! Lupa ngunci pintu kamar! aku merutuk dalam hati.

“Oppa gak mandi? Jorok amat sih.” Kudengar adikku mengomel dari balik pintu.

“Lu ganggu aja!” gerutuku. “Udah mandi tadi di tempat futsal, udah sana keluar, hush hush, ngantuk nih!” usirku dengan mata separuh terpejam.

Tapi bukannya pergi, Lana malah mendekat ke ranjang, duduk di sebelahku, lalu mencubit perutku kuat-kuat. “Hush, hush apanya, emang aku ayam!” protesnya.

“Apaan sih, Na! Sakit tahu! Kalo bukan cewek, udah gua tampol lu!”

“Ish, galak amat sih Oppaku ini,” balas Lana manja.

Rasanya aku pengen menjenturkan kepala ke dinding. Sudah hampir tiga tahun adikku yang delusional, kasar dan menyebalkan ini memanggilku Oppa. Aku tidak tahu aktor Korea mana yang sudah mencuci otaknya! Meskipun sekarang aku sudah terbiasa, telingaku tetap memerah tiap kali Lana memanggilku begitu di depan teman-temanku.

Sepertinya dia sengaja ingin mempermalukan abangnya!

Aku menghela napas. “Lu pasti ada maunya kan! Apa? Bilang aja, gak usah banyak basa-basi, pake cubit-cubit segala! Gua mau bobo!”

“Pinjem album foto Oppa, boleh ya?”

“Yang mana?” tanyaku masih mengantuk.

“Itu, waktu acara di Sheraton dulu,” gumamnya.

Mataku terbuka lebar. “Waktu lu ikut lomba model cilik, terus nangis-nangis?” tanyaku. Kali ini sepenuhnya terjaga.

Lana kembali mencubit perutku. “Bagian nangis-nangisnya gak usah diinget-inget juga kali! Oppa bikin sebel aja!” tukasnya.

“Anjir, perut gua yang kotak-kotak, jadi biru-biru nih! Gara-gara lu!”

Lana tidak menggubris protes dariku. “Jadi boleh pinjem ya, Oppa.” Nada suaranya kembali manja. Tangannya menggoyang-goyang bahuku.

“Lu gak puas apa, pagi siang sore melototin si Pandu?” gumamku jutek.

Lana diam membisu, dan dia tidak mencubitku! Ya Tuhan! Apa dunia sudah mau kiamat? Aku memicingkan mata. Kudapati wajahnya memerah, membuatku nyaris tersedak. Lana cewek paling cuek sejagat raya. Tidak kusangka dia masih punya urat malu!

“Ya, udah, ambil sana,” kataku. “Di lemari buku, rak paling bawah, sebelah kanan, nomor tiga dari pojok. Nanti balikin lagi, gak pake salah naro!”

Alih-alih mengomentari gejala penyakit OCD-ku seperti yang biasa dia lakukan, kali ini Lana cuma mengangguk dan pergi mengambil album fotonya. Setelah itu, tanpa basa-basi dia langsung menghilang. Ya, ampun, sepertinya adikku beneran jatuh cinta sama anak tetangga sebelah!

Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Kalau diingat-ingat, aku jadi geli sendiri. Ya, waktu Pandu menabrakku setahun lalu, di hari pertamanya pindah ke rumah sebelah, aku langsung teringat pada sosok bocah sepuluh tahun yang dulu sekali pernah kutemui.

Kurasa Pandu sudah lupa padaku, tapi aku tidak. Aku masih ingat ingusnya yang lengket di kausku ketika dia terisak tanpa kata dan lengannya melingkar memelukku, nyaris membuat leherku tercekik. Bocah laki-laki yang membuatku memenangkan lomba foto amatir pertamaku, sosok yang menginspirasi hobiku menjadi fotographer profesional.

Bocah yang sama dengan objek cinta monyet adikku di kelas empat.

 

***

 

Aku kembali teringat kejadian Desember tahun lalu. Ayah memintaku membantu koleganya yang bakal menempati rumah sebelah mengangkati beberapa barang. Ya, aku tahu bodiku emang atletis, tapi aku kan bukan anak gym! Aku tidak terbiasa mengangkati barbel, apalagi kardus-kardus sebesar kulkas yang entah apa isinya sampai membuat tanganku pegal-pegal semua. Tapi semua itu tidak percuma. Karena aku bertemu lagi dengan Pandu. Dan mengingat sifat Lana yang keras kepala, itu berarti aku baru saja melihat calon adik iparku!

Setelah menjalankan tugas sebagai kuli dadakan, aku langsung ngacir ke kamar adikku. “Na!” seruku nyaris mendobrak pintu kamarnya.

Kepala adikku, yang lagi tidur telungkup di atas ranjang sambil nonton pilem, menengadah. “Apaan sih Oppa,” gerutunya. “Jerit-jerit gak jelas, ganggu orang lagi nonton aja, gak tau apa, ini lagi sedih-sedihnya!” Lana mengomel panjang lebar.

Kulihat gumpalan tisu bertebaran dimana-mana. Matanya sembab.

“Yaelah ini Bocah, labil amat, pasti lagi nonton drama Korea! Emang perlu ya, sampe nangis-nangis segala?” aku merepet.

“Kalo cuma mau ngeledek, Oppa mending keluar aja!” gertaknya galak.

Aku mendengus. “Padahal gua kesini mau ngasih lu berita bagus, kalo lu gak mau denger, ya udah, gua balik ke kamar aja!”

Melihat sikapku yang percaya diri, akhirnya Lana melunak. “Oppa duduk sini aja, emang mau cerita apa sih?” tanyanya penasaran.

“Lu kalo ada maunya aja baek, kalo enggak mah, galak bener, kayak gak punya sopan santun sama gua,” aku bersungut-sungut sambil menaruh pantatku di ranjang.

“Aish, Oppa lebay!”

Kusilangkan kakiku di atas selimut, mataku melirik video pada layar laptop. Seorang cowok yang lebih cantik dari cewek tengah flirting sama cewek di tengah hujan deras. Bener kan! Drama Korea, emang pilemnya Lana gak jauh-jauh dari itu!

“Jadi kenapa?”

“Hah?” tanyaku bego, masih terpaku melihat si cowok cantik.

“Katanya tadi Oppa mau ngasih berita bagus?” Lana mengingatkan. Kedua alisnya bertaut. Matanya memicing galak.

“Lu bisa gak sih berenti manggil gua Oppa?” protesku. “Elu sih emang gak punya malu, tapi gua nya tengsin!”

Tangan Lana bergerak cepat dan sejurus kemudian sudah bersarang di perutku. “Kalo cuma mau bahas hal-hal gak penting, aku bakal marah beneran sama Oppa!” Lana memelintir sisi perutku. “Pilemnya lagi tanggung, jadi langsung aja cerita kalo mau cerita, atau Oppa cuma mau ngerjain aku aja?” Kulihat kukunya tertancap dalam di baju.

“Aduh, ampun Na!” seruku. “Iya, iya gua cerita. Berenti cubit-cubit!”

Lana menarik kembali tangannya. Kuusap perutku yang terasa perih. “Punya adek cewek kok beringas gini, malah gua yang kena KDRT,” sungutku.

“Jadi?” tanya Lana pura-pura tuli.

Aku mendengus. “Jadi, lu bakal punya tetangga ganteng, seneng lu?”

“Hah?”

“Lu bakal punya tetangga ganteng, budek ya?” aku mengulang.

Lana mengerjap-ngerjapkan bulu matanya yang melengkung panjang, lalu menaruh telapak tangannya di keningku sambil pasang muka serius. “Oppa, kamu salah makan apa tadi?” tanyanya kurang ajar.

“Bakso Sonny sama es pokat,” kataku polos.

“Siapa yang nanya!”

Aku garuk-garuk kepala. “Lah, lu kan tadi nanya gua makan apa?” jawabku pura-pura bego. Dengan sigap aku meloncat dari ranjang ketika Lana berusaha kembali mencubitku. Aku terbahak. Kalau tatapan bisa membunuh, kurasa aku sudah mati seratus kali. Meskipun galak dan delusional, aku tidak bisa berhenti mengusili adikku tiap kali ada kesempatan.

“Gak lucu!” kata Lana merajuk.

Kuhentikan tawaku. Aku kembali duduk di sampingnya. “Abis tadi pas Kak Baran serius, lu nya malah ngeselin,” protesku.

“Emang kapan Oppa pernah serius?” bantah Lana.

“Dari tadi kali.”

“Soal tetangga ganteng?”

Aku mengangguk.

“Jadi anaknya temen Ayah ganteng?” ulang Lana sambil melotot padaku. “Sejak kapan Oppa ngurusin anak tetangga ganteng apa enggak?”

Bahuku terangkat cuek. “Sejak emak-emak di komplek gencar ngegosipin berita soal LGBT,” jawabku asal.

“Emangnya Oppa gay?” tanya Lana bengong.

Aku mengusap-usap daguku seperti kakek-kakek bijak.

“Kalo cowoknya seganteng anak tetangga, mungkin gua rela jadi gay,” kataku dengan muka serius. “Tapi lu jangan nyesel nanti.”

“Kenapa harus nyesel? Kalo pun Oppa beneran gay, aku gak bakal malu!” Lana menantang. Lidahnya memelet keluar.

“Ini bukan soal malu atau enggak malu, Na,” kataku serius. “Ini soal lu yang bakal patah hati, terus cemburu sama abang lu.”

Lana memutar bola mata, seolah aku abangnya paling idiot. Lalu dia tertawa. “Emang tahu darimana aku bakal patah hati? Lagian cemburu sama Oppa, konyol banget sih. Oppa abis makan puding basi di kulkas ya?”

“Emang ada puding di kulkas?” tanyaku kaget.

“Tadinya ada, gak tau kalo sekarang.”

Aku membelalak. “Anjir, pasti lu abisin, tega banget sama abang lu!”

Lana kembali terbahak. “Mana ada aku yang abisin, yang paling rakus ngabisin makanan di kulkas kan Oppa!” tuduhnya. Lana mengedikkan kepala ke arah tangga. “Tadi sih aku liat masih satu, awas dimakan Ayah.”

Mendengar peringatan Lana, aku buru-buru turun mengambil jatah pudingku lalu kubawa ke atas. Aku kembali ke kamar Lana sambil menikmati sesendok besar puding cokelat buatan Ibu yang bisa bikin pecah perang dunia ketiga. Dari dulu Ayah sering iseng mengambil jatah anak cowok satu-satunya. Dan Ibu tidak pernah membelaku! Padahal semua temanku, ibu mereka menomorsatukan anak dibanding suami. Mungkin sebenarnya aku cuma anak pungut, entah lah.

“Loh, kok balik lagi?” Lana mendongak melihatku muncul dari balik pintu.

“Gak suka liat muka abang lu?”

“Aku kan lagi asik nonton!” gerutu Lana sengit. “Oppa seneng amat sih gangguin aku?”

Gantian aku yang pura-pura tuli. “Lu bener nih gak nyesel, gak mau denger cerita abang lu?” godaku sambil terkekeh.

“Ya, ampun, masih bahas anak tetangga?” Lana mendesah.

“Eits, lu denger dulu, ini bukan sekedar anak tetangga, tapi anak tetangga ganteng,” kataku cengar-cengir, memberi penekanan pada kata ‘ganteng’.

“Iya, iya, terus? Oppa beneran gay? Oppa suka sama dia?”

Lana bangkit dari ranjang dan duduk bersila menyandar dipan. Laptopnya ditarik mendekat. Matanya mendelik padaku.

Cengiranku semakin lebar. “Lu inget gak, bocah kecil yang dulu bikin lu tergila-gila, waktu lu ikut lomba model, sampe lu nangis-nangis gak mau pindah ke kota ini, karena lu masih ngarep bisa ketemu lagi sama doi?”

Lana terkesiap. “Maksud Oppa?” Suaranya bergetar.

Aku menyodorkan foto seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia sepuluh tahun. Anak itu terlihat elegan dalam setelan jas berwarna cokelat. Ada sesuatu pada wajahnya yang meninggalkan kesan sedih dan membuat orang bersimpati.

“I-ini kan…” Lana tergagap.

Tangannya sedikit gemetar saat menerima foto itu.

“Namanya Pandu Wiranata, mulai hari ini dia resmi anak tetangga,” kataku. “Tinggal gimana usaha lu, biar statusnya berubah jadi anak menantu.” Aku terbahak.

Lana terdiam. Kulihat matanya berbinar, tanpa sadar mendekap foto itu di atas dada dengan kedua tangan bersilang.

Aku tertawa melihat reaksi adikku yang biasa secuek gunung es, kini mencair seperti cewek labil yang baru kenal pacaran. Sambil tersenyum geli, aku meninggalkan kamarnya. “Lu boleh pinjem foto itu malem ini,” kataku sambil melambaikan gelas puding yang sudah kosong. “Tapi nanti balikin lagi, soalnya itu set foto amatir pertama gua, nilai historisnya gak ternilai kalo nanti gua sukses jadi fotographer profesional,” tambahku sengak.

“Meskipun gua tau kalo lu tergila-gila sama objek foto itu, gua tetep gak rela ngasih jepretan pertama gua, lagian besok lu tinggal dateng aja ke sebelah buat kenalan,” aku mengakhiri sebelum menghilang dari balik pintu.

Begitulah besoknya adikku bertemu kembali dengan Pandu. Aku memperhatikan dari jauh saat Lana tanpa basa-basi masuk ke halaman belakang rumah tetangga dan mengajak anak cowok sebelah berkenalan.

Ya, urat malu Lana emang sudah lama putus, tapi dia tetap adikku, meskipun mengesalkan, aku tetap sayang padanya.

Dan kini aku tahu ada yang salah dengan adikku. Dari cara Lana meminjam foto Pandu dan meninggalkan kamarku dalam kebisuan, kurasa dia sedang patah hati. Hadeh!

Kuingat kembali kejadian tadi siang, sebelum aku pergi futsal.

Saat itu Lana dan Pandu bersepeda pulang di tengah siraman hujan. Kebetulan aku sedang menunggu Aldo sahabatku di teras, tapi posisiku tersembunyi pot bunga ibuku yang semua tak ada yang berukuran normal.

Pandu menggigil ketika menyandarkan sepedanya ke tiang rumah. Kulihat bibirnya membiru. Dia bertelanjang dada. Alasannya dengan mudah kuketahui saat melihat Lana mengenakan sweater bertudung yang seingatku tadi dipakai Pandu.

Rasanya aku ingin mendamprat adikku. Apa dia lupa Pandu punya asma? Dan cowok itu kan takut petir! Gimana kalo dia terkejut lalu asmanya kambuh dan kenapa-kenapa? Bisa repot urusan kalo sampe begitu!

Aku nyaris bisa mereka ulang gimana Lana memaksa Pandu melepas sweater hanya karena kaus adikku tidak bertudung sementara sweater Pandu ada tudungnya. Lana kadang suka bersikap tidak masuk akal, dan Pandu, entah kenapa, selalu mengalah padanya.

“Kuharap kamu bakal masuk angin.” Kudengar Lana bergumam.

Aku ternganga mendengarnya. Bukankah Lana tergila-gila sama anak tetangga? Kenapa dia tega mendoakan hal yang jelek-jelek?

Cowok itu meringis. “Jadi sekarang kamu dendam padaku?” tanyanya pasrah.

Lana melepas tudung sweater dan menggeleng. Rambutnya terlihat lembap, tapi tidak basah kuyup seperti Pandu. “Bukan begitu, tapi kalo kamu demam, aku kan jadi punya alasan buat jagain kamu di rumah,” sahutnya enteng.

Kutepuk jidatku. Adikku ini emang sudah tidak ada harapan. Pantas saja Pandu menolaknya! Kurasa sikap delusional Lana makin tahun semakin parah. Dan ya, aku paham semua gelagat Lana. Berani taruhan adikku tadi nembak Pandu, tapi cowok itu berkata tidak. Kurasa aku gagal dapat adik ipar tetangga sebelah, entah lah.

Setelah tersenyum lemah, Pandu pamit pulang. Kulihat punggungnya mengeras saat cowok itu terburu-buru mengayuh sepeda melewati pagar. Aku terus bersembunyi di balik pot bunga ketika pintu depan berayun dan Lana menghilang ke dalam rumah.

 

***

 

Semula aku ingin tetap pura-pura tidak melihat apa yang terjadi tadi siang, tapi kini, kurasa aku harus mengecek keadaan Lana dan menghabiskan waktu berkualitas dengannya. Selama ini aku selalu curiga Lana punya sedikit masalah dengan kepalanya. Kurasa dia terkena semacam serangan delusional stadium tiga atau apa lah. Dan ya, sebagai abangnya, aku cemas, gimana kalo adikku itu bunuh diri karena ditolak cowok?

Pasti bakalan tragis, dan konyol!

Jadi sambil menggerutu aku bangkit dari ranjangku, memungut gitar dari pojok kamar, dan melangkah pergi ke kamar Lana. Baru empat langkah dan aku tersandung sesuatu yang empuk dan berbulu hingga nyaris terjerembap. Lagi-lagi betisku nyeri oleh cakaran.

Si jelek Minho!

Kucing ini emang selalu cari gara-gara sama aku! Jadi kusepak mahluk jahanam ini sampai jeritnya menggema di lantai dua.

Diluar dugaan, tidak ada langkah kaki gedebak-gedebuk dan omelan panjang lebar. Kamar adikku tetap sepi seperti kuburan. Aku mendesah. Kubuka pintu kamarnya. Kudapati Lana sedang berbaring menelungkup dengan kedua tangan bersilang di atas album foto. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena terkubur dalam-dalam pada lekukan bantal.

Tanpa suara aku duduk di atas ranjang, tepat di sampingnya. Lana tidak berkomentar. Kurasa dia sedang menangis.

“Na,” panggilku.

Tidak ada jawaban.

Aku memutar bola mata dan menggerutu dalam hati. Emang ada abang sebaik aku di dunia ini, yang mau repot-repot ngurusin adek ceweknya yang patah hati? Kurasa tidak ada, mungkin cuma aku abang paling bodoh di alam semesta!

“Lu inget gak, Na?” tanyaku. “Desember tahun lalu, waktu Pandu pindah kemari, terus gak sampe dua hari, rumahnya kembali kosong.”

Kembali tak ada respon. Kuabaikan kebisuannya, dan kulanjutkan kata-kataku, “Waktu itu lu panik banget, mood lu jadi jelek, dan lagi-lagi gua yang kena, setiap hari lu maen cubit sampe badan gua biru-biru semua.”

“Rasanya gua pengen sujud sukur waktu akhirnya Pandu pulang setelah tahun baru, karena mendadak mood lu jadi baek lagi,” aku mengaku. “Kalo ngeliat sikap lu sekarang, gua jadi keinget waktu itu.” Aku terdiam sejenak. Tanganku iseng mengecek senar gitar.

“Lu abis ditolak ya?” tanyaku akhirnya.

Meskipun Lana tetap membisu, kali ini bisa kudengar napasnya terkesiap.

Aku mengerang dalam hati. Ternyata emang benar!

Hadeh, dasar adikku ini menyusahkan saja! Sudah bagus abangnya mau peduli dan rela jadi tempat curhat, eh, dia malah diam saja! Kugaruk kepalaku, lalu kulirik gitar di tanganku ragu-ragu. Apakah Lana bakal marah-marah dan mencubitku kalau abangnya ini menyanyikan lagu patah hati untuknya? Aku kembali mendesah. Kurasa aku lebih baik melihatnya marah-marah daripada terus bermuram durja seperti ini.

Jadi kuposisikan gitarku dan kupetik senarnya, aku mulai bernyanyi untuknya. Kugumamkan bait-bait pertama dengan lirih karena liriknya sedikit tidak pantas untuk adikku yang seorang cewek dan masih kelas sepuluh. Apa boleh buat, aku tidak bisa menemukan lagu lain. Otakku sering macet kalau disuruh mikir soal cinta-cintaan.

She don’t say, “It’s okay, I never loved him anyway.” She don’t scroll through her phone just looking for a Band-Aid,” bisikku lirih.

 

Kunyanyikan reff-nya,

 

“It’s different for girls, when their hearts get broke,

they can’t tape it back together, with a whiskey and coke,

They don’t take someone home, and act like it’s nothing

They can’t just switch it off, every time they feel something

A guy gets drunk with his friends and he might hook up

Fast forward through the pain, pushing back when the tears come on

But it’s different for girls..”

 

Suara gitarku menggema. Sambil terus bernyanyi, kusapu kamarnya yang super berantakan dengan mataku, sebelum kembali fokus melihat bahunya yang naik turun. Kudengar Lana menyedot ingus, dan aku kembali memutar bola mata.

Aku masih tidak habis pikir gimana seorang Pandu bisa membuat dunia adikku jungkir balik. Bukankah selama ini Lana selalu menjadi gunung es yang tidak bergeming oleh badai estrogen dan testosteron? Aku tidak tahu sudah berapa banyak cowok yang patah hati karena adikku. Apakah ini karma? Sambil geleng-geleng kepala, kulantunkan bagian bridge tanpa iringan gitar,

“It’s different for girls, nobody said it was fair, when love disappears, they can’t pretend it was never there.”

Suaraku bergetar, tanpa sadar memikirkan sosok unyu yang membuat hatiku pedih. Ayolah, Baran, stop mikirin dia! pikirku kelu. Aku tahu kadang cinta tidak rasional. Meski bibirku kini berkata kalau rasanya berbeda untuk cewek, aku tahu cowok juga merasakan kepedihan yang sama ketika mereka patah hati.

“When the going gets tough, yeah, the guys they can just act tough.. so tough.. it’s different for girls..”

Aku menghela napas. Tidak seperti Lana, kurasa aku emang lebih jago berpura-pura tabah. Walau menurutku ini bukan suatu kelebihan. Jujur terkadang aku iri pada adikku, karena dia berani mengungkap semuanya. Bukankah itu bisa mengurangi beban di hati?

“Na, lu boleh cerita sama gua, kalo lu mau cerita,” gumamku lembut. Aku berbaring di sisinya. Gitar kupeluk dengan tangan kananku.

Sesaat dia terus membisu, namun kemudian, Lana mengubah posisi dan tidur menyamping. Tangannya menggapai, lalu memeluk bahu kiriku. “Oppaaa!” tangisnya pecah. “Aku patah hati!” ujar Lana keras-keras, seperti bocah.

“Aku gak tahu kalo rasanya bakal sesakit ini,” keluhnya. Tangannya mengepal dan memukuli bahuku hingga aku meringis.

“Pandu yang nolak, kok gua yang kena gebuk?” protesku.

“Biarin!”

“Lu udah SMA, kelakuan masih aja minus,” aku kembali menggodanya.

“Biarin!” serunya lagi.

Aku tertawa geli. “Ya, udah, untuk sekali ini aja, lu boleh nangis dan gebukin gua sepuas lu,” kataku. “Tapi udahnya lu janji, lu harus bisa move on, oke?”

Lana menghentikan tangisnya. “Aku belum bisa dan belum mau move on!” dia berkata keras kepala. “I won’t say, “It’s okay, I never loved him anyway.” I won’t scroll through my phone just looking for a Boy-Aid.” Dia mengubah lirik yang tadi kunyanyikan.

Sebelah alisku terangkat. “Bukannya lu selalu bilang, lu gak suka lagu Country?”

Lana mengerang. “Aku capek dengerin Oppa gejreng-gejreng lagu Country terus tiap malem pake gitar, mau gak mau aku hapal juga lirik satu dua lagu! Oppa pasti sengaja mau cuci otakku kan, ngaku aja!”

“Kalo lu udah bisa ngedumel panjang lebar gini, artinya lu udah baik-baik aja,” komentarku terbahak, tanganku mengacak rambutnya.

“Emang dari tadi aku gak apa-apa!” bantahnya sengit, menepis tanganku.

Aku tersenyum miring. “Looking for a Boy-Aid, eh?”

“Aku gak butuh cowok laen, cukup Pandu seorang!” Lana merengut.

“Bukannya lu udah ditolak?”

“Gak masalah,” kata Lana setengah melamun memelototi langit-langit kamar. “Tekadku udah bulat, aku bakal berjuang untuk jadi Gyarados!”

“Hah?” Aku menatap Lana seolah dia sudah gila.

Namun dia malah balas menatapku. Lana tersenyum penuh teka-teki. “Meskipun itu Oppa, aku gak bakal kalah dari siapa pun!”

 

-TBC-