download

Brian dan Key

By : Levi

Lembar Tiga

Aku turun dari lantai dua dengan cepat, aku kan harus buru-buru sampai di kantin kalau nggak mau ngebuat Aldo sayangku nunggu kelamaan dan ngebuat Brian ngoceh-ngoceh tentang masalah kedisiplinan di depan muka aku sampai ngebuat telinga aku sakit, dan aku harus menahan diri matian-matian buat nggak ngebuat kaki cantik aku melayang ke depan mukanya Brian buat nutup mulut nyinyirnya—soalnya kalau itu beneran terjadi, aku takut Braga gak bakal beliin aku makarons lagi kalau main ke rumah karena udah nendang istrinya. It scares me.

Aku melewati lapangan futsal yang berada di dekat ruang latihan klub bela diri. Kemudian berhenti sebentar untuk mengamati anak-anak futsal yang lagi lari-larian ngejar bola.  They like starving chicks. Mengejar ke sana ke mari bola yang sebenarnya bisa dengan mudah aku buat gol dari ujung gawang ke gawang lainnya cuma dengan sekali tendang.

Aku masuk ke dalam lapangan futsal yang ditutupi dengan jarring-jaring supaya bolanya nggak keluar dan menciderai orang lain kayak aku lagi. Hm, kalau dipikir-pikir sebenernya kejadian waktu itu salah aku sih, salah aku kenapa masuk ke dalam lapangan futsal cuma buat ngambil sampah botol bekas air minum yang ada di dekat gawang, hanya karena aku pengen ngebuat Aldo-nya-aku impressed ke aku. Dan ngira aku ini cewek yang rajin dan cinta lingkungan, dia kan suka cewek-cewek yang kayak gitu.

And—It’s he! Zetta. Ah, mungkin aku bisa bantuin Kristina dengan cara ini. Aku tinggal suruh aja si Zetta buat nemuin Kristina, terus nanti sisanya biar dia yang ngurus. Dia pasti seneng banget pas ada Zetta di samping dia yang lagi terpuruk. Eh, atau nanti aku malah ngebuatnya makin buruk. Bisa aja mereka malah berantem kan di sana? Terus bunuh-bunuhan, dan pagi besoknya pas Dad baca koran ada berita hangat tentang dua siswa SMA yang saling bunuh di toilet cewek setelah yang satunya minta disodomi. Terus nama aku kebawa-bawa gara-gara kasus duo homo itu, aku nggak mau ya terlibat urusan yang kayak begitu. Gak elit banget! Ya udah deh, aku nggak jadi aja minta tolong Zetta. Jadi aku berbalik dengan cantik sampai ngebuat rambut hitam bervolumeku juga ikut melayang dan berputar. Huh. Pasti mereka sekarang jadi nggak fokus main futsalnya pas ngerasain aura kecantikan aku bertebaran di lapangan ini.

WATCH OUT!!!!” teriakan seseorang membuatku dengan cepat menoleh ke belakang lagi.

Eh, liat, ada bola melayang ke—ke depan wajah aku bego! Bola itu melayang dengan cepat, tapi aku langsung berbalik lagi dan pasang kuda-kuda. Kemudian saat bola yang berputar ke arahku itu sudah dekat, aku menahan bola itu dengan telapak kakiku sampai jatuh ke tanah tepat di bawahku. Bola itu berhasil aku tahan di bawah kakiku sekarang. Fiuh, untung kali ini aku cepet refleks, kalau enggak, mungkin muka cantik aku bisa benjol. Kan malu kalau mau ketemu Aldo dengan muka aku yang memar-memar, ya, meski kami sering ketemu di kelas sih. Tapi aku nggak rela aja muka aku kalau sampai kenapa-kenapa. Ugh! Siapa sih orang yang berani nendang bola ini ke aku?

Seorang cowok berlari ke arah aku, keringat membuat jersey-nya basah di beberapa bagian. Rambut brunette-nya yang masih tersisir rapi gak menghalangi titik-titik keringat itu jatuh ke tanah saat dia sampai di depanku. Itu Zetta.

“Lo?” tunjukknya, dia mulai memucat sekarang. Ekspresinya lucu. “Duh, maaf—I mean I’m so sorry. This time, it’s not my fault, it was one of his,” dia menunjuk salah satu cowok di kerumunan pemain futsal yang entah sejak kapan sudah ada di tengah lapangan dan memperhatikan kami dengan tatapan was-was. “Rama. If you want to kick someone, you can do it with him,” katanya sambil terus menunjuk cowok yang barusan menendang bola ke aku. Ternyata dia sopan juga ya, aksennya juga lucu. Kayak orang Holland mungkin.

Huh. Sebenernya aku kan pengen marah-marah sama dia, but that’s not my main purpose. Mana dia ngirain aku bule yang cuma bisa pakai bahasa inggris lagi. I’m a Deautsch, dan aku bisa bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

“Iya, kali ini lo gue maafin,” kataku dan membuatnya bengong sambil tersenyum bego.

“Oh, maaf banget ya Kak,” dia menggaruk-garuk belakang kepalanya yang aku yakin banget pasti nggak gatal sama sekali. “We’ll never do it again.” Gelagatnya makin lucu deh sekarang.

“Ya, ya, ya, apologize is accepted. But, I need your help.”

Dia mengerutkan keningnya. “Apaan, Kak?”

“Ada orang yang butuh banget lo, dia ada di toilet cewek lantai dua, di deretan kelas anak sepuluh IPA. Lo bisa ke sana sekarang, kan?”

“Hah? Itu kan deket kelas gue. Emang dia kenapa Kak?”

“Udah, nggak usah banyak tanya. Ke sana aja sekarang, kalau enggak mau gue tendang lagi.”

“I-iya, Kak, gue ke sana. Bentar, gue bilang dulu sama anak-anak,” Zetta berbalik dan berlari menuju ke tengah lapangan. Ternyata benar kata Kristina, pantatnya waktu lari kenyal-kenyal, naik-turun gitu kayak okky jelly drink.

“Oke, cepet ya, sekarang gue mau pergi dulu. Bye!” teriakku dan hanya dibalasnya dengan acungan jempolnya, lalu aku mendendang bola di kakiku ke cowok klimis yang ditunjuk Zetta tadi sampai dia mundur beberapa langkah. Untung dia bisa menahannya dan nggak sampai mengenai perutnya. Kemudian aku berjalan pergi menuju kantin lagi, mengabaikan mulut anak-anak futsal yang menganga lebar karena tendangan aku barusan. Hahaha, apa mereka baru tau kalau aku cewek cantik di sekolah ini yang ahli banget dalam urusan tendang-menendang? Dasar anak kelas sepuluh.

Aku berlari secepat yang aku bisa. Lalu saat sudah sampai di kantin yang sudah agak sepi, aku menarik napas sebentar sambil menunduk dan memegangi lututku. Bau parfum aku masih kecium, jadi aku nggak perlu semprotin lagi, lagian aku nggak keringatan kok. Aku masuk dan mencari di mana Aldo duduk. And, I found him at the first sight. Dia lagi duduk sendirian menghadap ke arah kedatangan aku.

Aku jalan sambil loncat-loncat—eh, aku kan harus anggun. Jadi aku berhenti sebentar untuk mengambil cermin dari saku bajuku, kemudian bercermin dengan kaca hello kitty aku yang warna pink itu sambil merapikan ikatan rambut aku yang sedikit berantakan—lagi. Lalu menepuk-nepuk rok abu-abu setengah pahaku supaya nggak ada debu yang menempel di sana. Mulai sekarang aku harus berhenti jalan locat-locatan lagi dan harus jalan kayak Patricia Gunawan aja gimana. Aldo ngeliat ke aku sambil tersenyum pas aku datang, dan senyuman dia itu ngebuat aku meleh deh sekarang. Ah, I love this boy.

Saat sudah sampai, aku langsung duduk di bangku kantin di sebelah dia.

“Aldo sayangku, maafin aku ya kalau kelamaan. Tadi aku ada urusan bentar,” kataku sambil memeluk lengan kanannya dan menyandarkan kepalaku di bahunya. “Kamu nggak kenapa-kenapa kan selama aku tinggalin? Kamu nggak diganggu orang, kan?”

Dia berusaha melepas pegangan aku dari lengannya. Ih, emang kenapa sih? “Iya Key, nggak apa.”

“Ah, pokoknya kamu harus maafin aku. Sebagai permintaan maaf, nanti sore aku bantuin kamu kerja, ya?”

“Ah, nggak usah deh Key. Kemarin kan kamu juga udah bantu aku, lagian kamu udah keseringan bantuin aku jualan. Jadi nggak usah deh.” Dia masih berusaha melepaskan pegangan aku dari lengannya, jadi aku makin pegang erat. Hihihi… soalnya lucu liat muka dia yang kayak gini.

“Kamu nggak ngebolehin aku pasti karena takut aku kecapekan, kan? Aaaa… kamu perhatian banget deh sama aku. Tapi nggak apa kok Aldo sayangku, aku nggak capek sama sekali selama ada kamu. Jadi, walau kamu nggak ngebolehin, aku tetap ikut kamu jualan,” kataku lalu memajamkan mata, ngerasain hangatnya tubuh Aldo-sayang-nya-aku.

“Tapi Key—”

“Udah deh Do, aku nggak bakal kecapekan atau semacamnya.” Dan dia pasrah, jadi aku biarin aja posisi kami yang kayak gini.

Aldo sayang aku itu ganteng dan manis banget loh. Dia punya kulit kuning langsat yang mulus, terus hidungnya yang kecil dan tinggi itu sering dijadiin ganjalan kacamata dia pas lagi baca dan belajar, tapi di luar aktivitas itu, dia nggak pake kacamata kok. Belum lagi ekspresi serius dia pas lagi belajar dan baca koran itu bisa bikin aku kejang-kejang bahkan mimisan. Rambut dia juga dipotong rapi banget, belum lagi kumis tipisnya yang menawan dan alis hitam lebat dan panjangnya itu, bikin muka dia tambah manis. Dia juga sopan dan baik banget sama aku—sama semua orang juga sih. Mukanya Aldo itu indo banget. Pokoknya dia itu definisi paling tepat buat my future husband. Huahaha.

“Ngomong-ngomong kamu udah pesan makanan belum, sayang?”

“Belum sih, tapi,” dia berhenti sebentar, jadi aku ngebuka mata aku lagi dan memerhatikan muka dia yang lagi mandang lurus ke depan sambil tersenyum. Dan saat aku mengikuti arah pandangnya, aku nggak terlalu kaget sih waktu liat di depan kami ternyata ada dia. Ya, meski aku agak jengkel sekarang. “Ini punyaku, ya?” Aldo bertanya sambil menunjuk gelas minuman berisi es teh yang baru aja di bawa si Looser.

“Iya, maaf ya lama. Abisnya yang beli rame,” terus cewek biadab itu duduk di depan kami. “Eh, ada Key. Halo Key!” sapanya sok hangat, aku putar bola mata aja sebelum tersenyum dengan terpaksa ke dia.

Cewek di depan aku sekarang ini namanya Princess a.k.a Looser, dia anak sebelas IPA dua. Dan dia itu bitch! Percaya deh,  I hate she so bad! Dia itu juga suka sama Aldo dan itu alasan kenapa aku benci sama dia, tapi untung aja dia nggak sekelas sama Aldo dan aku. Ya, meski mereka sering ketemu di klub rohani Kristiani sih.

Let me tell you, Looser itu cewek bermuka dua yang menyebalkan. Dia terlihat sempurna di depan semua orang. Dia emang cantik sih, anggun, pintar, kaya, dan mudah akrab sama siapa aja. Bahkan dia punya ketawa yang manis menurut semua orang—padahal menurutku ketawanya mirip nenek sihir. Dia disukai semua orang di sekolah, dan dia popular banget. Tapi kenapa dia harus suka sama Aldo? Kayak nggak ada cowok lain aja yang lebih sempurna, Aldo kan cuma milik aku seorang. Bahkan aku udah cinta sama Aldo-nya-aku pas pertama kali MOS, nggak kayak dia yang baru-baru ini aja kenal. Huh. Pokoknya aku benci, benci, benci banget sama cewek ini.

Tapi, diluar itu semua, dia itu sebenarnya nggak baik-baik banget kok. Dia sering ngomongin orang-orang di belakang dengan teman-temannya dia dari klub renang. Dia juga sering ngebully anak-anak culun di kelas sepuluh, tapi nyuruh dan ngancam mereka buat nggak bilang siapa-siapa kalau dia suka ngebully mereka. Liat, jahat banget kan cewek biadab itu? Jangan pikir aku mengada-ngada ya, Juju sendiri kok yang bilang ke aku. Soalnya kan dia suka pulang telat gara-gara sering mainin hapenya di kelas sendirian sampe sore, he’s gadget maniac.

“Udah lama kamu di sini, Key?” sekarang Princess—ew! Lidah aku gatal manggil nama dia, jadi aku panggil dia Looser aja deh—bertanya ke aku dengan nada suaranya yang dibuat sok-sok lembut.

“Nggak kok, gue baru aja dateng,” jawab aku seanggun mungkin, kan aku nggak mau kalah anggun sama dia. Aku melepaskan pegangan aku di lengan Aldo yang keras dan hugable banget itu.

“Oh gitu, kami juga baru dateng kok. Tadi habis dari ruang musik buat latihan pentas natal bulan depan. Aldo, tadi main gitarnya bagus banget, besok kita pasti bakalan jadi pasangan duet yang paling bagus. Iya kan, Do?” dia menatap Aldo sayang aku, dan hanya dibalas dengan anggukan kepala karena Aldo lagi menyedot es tehnya.

Aduh, siapa juga sih yang nanya mereka habis dari mana. Lagian dia bukan kedengaran ngasih info deh, tapi lebih kayak pamer gitu ke aku. But wait, wait, wait, kalau dari tadi mereka di ruang musik berarti Aldo nggak nungguin aku dong, dan berarti dari tadi mereka berduaan di ruang musik? Terus kemana Brian? aku baru sadar kalau dia nggak ada di sini.

Kenapa mereka semua bikin aku kesal hari ini. Aku rasanya mau marah dan meledak-ledak di sini, atau matahin semua bangku kantin—eh, atau matahin lehernya si Looser aja, kan lebih seru— kalau aja aku nggak ingat buku panduan aku tadi. Be elegan Key, be elegan.

Setelah selesai dengan minumannya, Aldo tertawa renyah sebelum menanggapi kalimat Looser barusan. “Semoga aja sih, tapi kamu emang dasarnya udah bagus kok nyanyiinnya.” Lalu mereka berdua tertawa bersama, seakan aku nggak ada di sini. Apaan sih mereka beruda ini. Bikin darah di kepala aku menggelegak aja, kayak minyak goreng pas Ibu bikin kentang goreng buat cemilan. Cemilan? Oh, aku jadi kangen cemilan di rumah. Nanti aku mau maling satu cemilan lagi ah di dalam lemari, biar aja Ibu nanti marah-marah pas tau cemilannya ilang.

Jadi, daripada aku tambah mikirin cemilan Ibu atau benar-benar ngamuk di sini dan benar-benar matahin semua kursi dan meja atau mungkin lehernya Looser, sebaiknya aku pesan makanan sekarang. Aku baru mau manggil Uda Asep saat tangan seseorang menepuk pundak aku sedikit kasar. Aku berdecak sambil menoleh ke belakang, dan terkejut ketika melihat Sisy. Maksud aku, bukannya aku terkejut gara-gara kedatangan dia yang mendadak, tapi muka masamnya yang sangat jarang aku liat itu yang ngebuat aku kaget. Mana tampangnya yang kuyu itu mirip banget lagi sama zombie di film the walking dead minus darah dan baju koyak-koyak.

“Eh, Sisy? Lo kenapa?” aku menyuruhnya duduk di depanku.

“Makan…” dia memberi isyarat makan dnegan tangannya yang masuk ke mulut. Aduh, sejak kapan dia berubah jadi kayak gini, sih? Lebih-lebih dari gembel perasaan. “Makaaaaannn…”

“Iya, iya, bentar.” Aku memanggil Uda Asep dan menerikai pesanan kami padanya yang hanya dibalas acungan jempol. Kemudian menarik tangan Sisy supaya duduk di depanku.

“Temen kamu kenapa, Key?” Looser si muka dua sekarang sedang menjalankan perannya. Dia pura-pura baik dan sempurna di depan Aldo, padahal sebenarnya dia nggak seperti itu. Liat deh sekarang, dia ngelus-ngelus tangan Sisy yang duduk di sebelah dia sambil sok perhatian. Dasar ular.

Aku tak menanggapinya. “Brian mana?” tanyaku pada Sisy.

Dia langsung menoleh ke arahku dengan mata melototnya. “Don’t say that name!” katanya lalu membaringkan kepalanya di meja. “Gue laper…”

“Iya, iya, bentar lagi pesanan lo dateng.”

“Kasian ya dia Aldo, aku harap ada yang bisa aku bantu buat dia.” See? Muka sok polos dan sok baik dia itu keliatan banget. Kontras dengan apa yang sebenernya dia lakukan di belakang semua orang.

“Lo bisa bantu dengan diem,” sarkasku.

“Oh,” dia mengkeret di tempat duduknya. Great.

Kami semua saling diam, bahkan saat pesanan kami di antar. Masih terus diam sampai aku menghabiskan tusuk sate terakhirku. It’s an awkward moment. Aku harus mencairkan suasana canggung ini.

“Aldo-sayangnya-aku, pulang nanti aku anter lagi, ya?” aku memberinya kedipan cantik aku.

“Emang—”

“Aldo, kamu bawa gitarnya, kan? Pulang sekolah kita latian lagi di kelas aja ya?” Princess taik ayam itu langsung memotong pembicaraan kami. Is, apaan sih mau cewek itu?

“Bawa, bawa. Iya, aku juga males latian di ruang music lagi. Kita berdua di kelas aja,” jawab Aldo-nya-aku.

Apa? Berdua? Di kelas? Ini salah, ini nggak bener, ini nggak boleh dibiarin. Aku harus cari cara supaya mereka nggak bisa berduaan. Enak aja si cewek biadab itu mau memonopilo Aldo-nya-aku lagi. Tadi kan mereka udah lama di ruang musik berdua.

“Aldo, kamu lupa ya? hari ini kamu harus jualan. Nggak enak dong sama Ko Aseng kalau kamu nggak jualanin ice cream-nya. Lagian tadi kan udah aku bilang kalau aku bakalan ikut kamu jualan.”

“Oh iya, makasih Key udah ngingetin aku. Princess, kita latiannya lain kali aja ya, lagian kan natal masih lama.” Hah! Eat that, bitchy. Dan aku tersenyum penuh kemenangan ke arah si Looser saat Aldo menjawab begitu.

“Gitu ya, yaudah, gak apa,” dia membalas senyumanku dengan senyum busuknya itu. “Tapi, aku boleh ikut bantuin kamu jualan, kan?” kalimatnya barusan membuatku tersedak saat sedang meminum air putihku.

“Hah? Nggak usah deh Princess, ada Key juga. Nanti kamu capek.”

“Nggak apa Aldo, aku udah biasa capek kok.” Jawab cewek itu. Apanya yang udah biasa capek, ha? Paling baru nyendok tiga cone es krim aja pasti langsung ngeluh pengen pulang. Dia kan bisanya cuma masang celak.

“Nggak usah deh,” Aldo masih berusaha ngebuat si bitchy itu nggak ikutan jualan.

“Ayolah Do, aku bisa kok. Aku pengen banget bantu kamu.” Heh, apa-apa itu? gak usah pake pegang-pegangan segala bisa, kan? Aku langsung narik tangan Aldo-nya-aku yang dielus-elus si Looser.

“Iya, nggak usah deh Loos—Princess, nanti lo capek. Kan kasihan kalau lo keringetan terus pingsan, lalu mati.” Kataku berusaha membuatnya supaya nggak usah ikut-ikutan Aldo sama aku jualan. Nanti yang ada aku malah ngelempar es krim pelanggan ke muka dia yang mirip tong sampah itu lagi. Kan bahaya.

“Nggak apa Key, aku bisa kok. Makasih ya udah khawatirin aku,” dia tersenyum sok manis lagi ke aku. Dan aku menanggapinya dengan senyum terpaksaku.

“Ya udah, kamu boleh ikut deh. Tapi kalau kamu kecapekan jangan salahin aku, ya?” Aldo-sayangnya-aku ujung-ujungnya menyetujui juga permintaan cewek biadab itu. Ih, kenapa sih dia nggak ngerelain banget kami berduaan bentar aja pas jualan? Itu artinya pertempuran hari ini sudah di mulai. Let me see what you can do with your silly makeup and your fucking face later, bitchy!

“Iya, iy—” kalimat Looser terpotong karena sendawa Sisy yang membahana ke seisi kantin, sampai membuat suasana hening dan semua mata tertuju ke arahnya, bahkan Uda Asep berhenti mengipasi satenya dan menatap ke arah kami, Bukde nasi gemuk juga langsung berhenti menyendok nasi gemuk ke piring hanya untuk melihat kami. Aduh, aku aja yang duduk di depannya malu banget sekarang.

Sisy hanya memberi cengiran dan menatap semua orang di kantin. “Maaf, kelepasan,” katanya sambil menggigit bibir bawahnya dan menurunkan kedua alisnya kemudian memasang puppy eyes-nya ke semua orang. Membuat siapa saja yang ngeliat dia dengan ekspresi itu pasti akan kasihan. Itu senjata utama dia. Dan semua orang yang memperhatikan kami tadi langsung mengedikkan bahu tak peduli kemudian kembali dengan aktivitas mereka. “Hai! Gue Sisy dari sebelas IPA satu,” sapanya lalu menyalami Princess dan Aldo.

“Hi Sisy, aku Princess, dan ini Aldo.”

“Iya, gue udah kenal kalian berdua kok. Ngomong-ngomong, kalian ngomongin apaan, sih?” tanyanya kepada kami saat semua sudah berjalan normal seperti sebelumnya. Wow, dia udah balik lagi jadi manusia, padahal sebelumnya mukanya udah kayak zombie yang minta makan otak manusia. “Oh iya, Key, Brian nggak bisa ke sini soalnya lagi ada urusan yang menurutnya lebih penting daripada nemenin gue makan, jadi dia mengutus gue buat ke sini. Top sibuk sama urusan dia dengan toilet dan semacamnya. Kalau Kristina—eh, ke mana ya tuh bencong tadi? Entahlah, pokoknya dia lagi berduka cita dan sibuk sama dramanya yang bikin gue muak.”

“Oh, gitu. Oke, oke,” jawabku sambil megangguk. Emangnya apaan sih urusannya Brian yang sok penting itu? palingan juga ngurusin proposal atau surat-surat Osis. Atau palingg enggak—“AWW!!!”

Aku menjerit saat seseorang menarik rambut aku dari belakang, terus dia berdiri di samping meja kami dan menatapku dengan muka sialannya. Siapa sih dia? Dan mata aku berhenti pada sepasang mata hitam pekat yang tajam milik cowok yang menarik rambutku—itu cowok tadi pagi, cowok yang sama-sama kena hukum Bu Betti denganku gara-gara dateng telat. Itu cowok di samping aku yang badannya aku pinjem buat jadi pegangan biar aku nggak jatuh ke tanah pas akting pingsan aku. What’s wrong with him?

Do you think what are you doing, asshole? Lepasin gue!” teriakku sambil kedua tanganku memegangi rambutku yang ditariknya. Aku kan nggak mau melawan, nanti keanggunan aku hilang lagi di mata Aldo. Aku harus tahan sampai cowok ini melepaskan rambut aku.

“Mike, lepasin aja deh. Dia kan cewek dari klub taekwondo itu,” teman cowok ini yang muncul dari belakang tubuhnya mulai berbisik, badannya kurus kayak nggak pernah di kasih makan dari bayi, dan baju putihnya juga agak kekuning-kuning.

“Iya, udah deh lepasin aja dia,” dan satu lagi teman cowok bangsat yang baru aku tau namanya Mike itu berdiri di samping kirinya sambil berbicara pelan. Hey, aku tau cowok keriting ini, dia ada di kelas dua belas Bahasa setauku. Oh, jadi mereka bertiga ini anak kelas dua belas yang mau cari masalah sama aku? Tapi aku baru sekali liat muka cowok berengsek yang narik rambut aku ini di sekolah. Apa dia anak baru, ya?

Aw! Dia makin kuat narik rambut aku, dan itu benar-benar sakit.

“Kalian diem aja deh! Gue masih kesel sama nih cewek bule. Berani-beraninya dia main-main sama gue tadi pagi.” Bentak cowok bar-bar ini.

“Woy, lepasin!” Aldo yang duduk di samping aku berdiri sambil menunjuk mereka. Oh, my hero. Tapi belum apa-apa dua teman Mike langsung menarik Aldo dan memegangi tangannya. Aldo berusaha melepas pegangan dua cowok itu, tapi Aldo kan lemah jadi nggak bisa. Beraninya mereka menyentuh my prince charming!

Aku mulai kesal dengan mereka. “Fuck! Lepasin gue bastard! Mood gue lagi jelek sekarang, jadi gue kasih lo kesempatan buat lepasin rambut gue sekarang!” bentakku dan membuat semua orang di kantin mulai riuh, tapi tak ada yang berani mendekati kami. Pasti mereka mau ngebantuin cowok ini supaya nggak aku hajar sampai mati di sini, tapi kayaknya mereka juga sama takutnya dengan si Mike ini. Jadi mereka memilih buat jadi penonton aja.

Sisy ikut berdiri lalu menyiram Mike dengan es teh milik Princess dan berusaha ngelepasin tangan Mike dari rambut aku. “Heh, bego, lo lepasin sekarang deh mendingan daripada lo mesti di rawat inap di rumah sakit selama sebulan!” ancam Sisy, tapi cowok bar-bar itu langsung mendorong Sisy sampai jatuh. God! Itu jahat banget! “Shit!” umpat Sisy. Lalu berdiri dari lantai dan berjalan mundur agak menjauh sambil melipat tangannya di depan dada. “Oke, gue udah peringatin lo, ya? Awas aja kalo lo sampe nyesel.” Oh, terima kasih Sisy, kau sangat membantu.

Princess taik ayam hanya berdiri diam di tempatnya nggak ngebantuin aku sama sekali, dia menutup mulutnya dengan sok anggun. Padahal, liat, matanya sedang tertawa kesenangan melihatku.

“Lepasin rambut gue sekarang!” bentakku karena udah muak dengan semua ini. Aku nggak bisa jadi anggun dalam kondisi begini. “Ini peringatan terakhir dari gue dan jangan menyesal, lepasin gue. SEKARANG!” aku memukul perutnya dengan tangan kananku, lalu melayangkan tinju tepat di bawah dagunya sambil berdiri. Pegangannya dari rambutku sudah lepas, bahkan kuncitan rambutku juga lepas. Sekarang dia jatuh terduduk di lantai.

Fuck!” dia meludah sekali lalu bangkit berdiri.

Mike berusaha meemberikan tinjunya, tapi aku segera berputar dan menendang rahang kanannya sampai dia terjatuh beberapa meter di dekat kaki Sisy. Aku melompati meja dengan tangan kananku dan melayang hingga membuat rambut hitamku berkibar sampai aku berhasil menduduki perut Mike yang sedang berbaring di lantai.

Dia sudah setengah sadar, aku mendekatkan wajaku ke wajahnya. “Lo beruntung gue nggak matahin semua tulang yang ada di badan lo. Lagian ini masih di lingkungan sekolah juga. Jadi, jangan pernah ganggu gue lagi kalau lo nggak mau cari mati. Inget itu!” ancamku, setelah berucap begitu aku langsung menamparnya sekali dan membuatnya benar-benar pingsan.

Tenang, aku nggak ngebuat dia luka parah kok. Paling muka songongnya dia bengkak-bengkak besok, lagian aku ngelakuinnya pelan-pelan kok tadi. Aku tau kalau dia nggak bakalan kenapa-kenapa, soalnya aku udah hapal betul anatomi manusia meskipun aku bukan anak IPA. Palingan yang parah itu cuma rahangnya yang bekas aku tendang tadi.

“Boss!” aku menoleh kebelakang dan melihat cowok kurus yang memegangi Aldo berlari ke arahku. Dengan cepat aku berdiri dan menendangkan kakiku ke atas sampai benar-benar lurus, dan membuat kakiku mengarah tepat ke bawah dagu cowok kurus itu dan membuat rambutnya yang acak-acakan tertiup angin karena gerakanku barusan. Dia berhenti bergerak saat menyadari bahwa telapak sepatuku sudah berada beberapa inci di bawah dagunya. Untung aja aku ini pendek, jadi kakiku nggak nyampe ke dagunya, kalau aku lebih tinggi dikit mungkin dia udah melayang beberapa meter ke belakang karena tendangan vertikalku.

Aku mempertahankan posisi kakiku sampai dia mulai memucat, lalu menunjuk mereka satu persatu. “Lo. Dan kalian. Gue masih ngehormatin kalian berdua sebagai kakak kelas, dan tolong ajarin boss kalian yang sok hebat ini buat jangan main-main sama gue. Kalian kenal gue, kan? Keynes Susanteo Wolfsjäger dari klub taekwondo.” Aku tersenyum miring lalu menurunkan kakiku. Untung nggak ada yang ngintip celana dalam aku tadi, soalnya aku lupa pake celana pendek tadi pagi, kan soalnya aku dateng telat. Mana rok abu-abu aku pendek banget lagi.

Cowok yang lagi megangin Aldo tadi langsung berlari mendekat dan menarik cowok kurus brengsek yang masih mematung dan shock di depanku ini, kemudian mereka mengangkat si Brengsek Mike yang masih pingsan pergi dari sini.

Aku melihat ke arah Sisy yang sudah duduk kembali di bangku dan menuangkan air putih dengan santainya, lalu menoleh ke Aldo yang sedang dibantuin Princess buat kembali duduk. Ih, harusnya kan aku yang bantuin Aldo bukan si Looser.

“Aldo, kamu nggak kenapa-kenapa? Mereka nggak mukulin kamu, kan?” tanyaku saat dia sudah duduk di depanku.

“Aku nggak apa Key. Harusnya aku yang nanya gitu, kamu nggak apa, kan?”

I’m pretty well,” lalu menoleh ke arah Sisy di sampingku. “Lo, Si?”

“Gue nggak apa juga sih, tapi dia tadi dorongnya kuat banget,” jawab Sisy sambil memegangi pinggangnya.

“Maaf ya aku nggak bisa bantu kalian, soalnya aku takut dan nggak bisa ngapa-ngapain tadi,” kata Princess. Beneran deh, rasanya pengen aku tendang ini cewek sekarang kalau nggak ingat perjanjian kami. Iya, jadi aku sama si Crazy Evil Bitch ini udah berdamai kalau di depan Aldo buat saling baik dan bersaing secara sehat, jadi aku nggak bisa deh mukulin dia kalau lagi di depan Aldo. Lagian kalau kami lagi berdua juga aku bakalan mikir dulu kok buat mukulin ini cewek.

“Iya Princess, gue tau kok kalau lo nggak bisa ngebantuin apa-apa. Nanti lo malah mati kena tonjok lagi,” aku meminum air putih yang diberikan Sisy dalam sekali teguk sambil tersenyum mengejek ke Looser. Dan hanya ditanggapinya dengan muka masam.

“Ya udah, kita balik ke kelas yuk!” ajak Sisy dan kami semua pergi dari kantin yang sudah berjalan normal seperti sebelumnya.

-*-

Aku terus berlari keluar dari gedung tanpa menoleh ke belakang. Aku benar-benar kecewa sekarang. Juga sedih. Ternyata Braga itu benar-benar tak bisa menjadi cowok romantis seperti harapanku. Bahkan hal sekecil itu saja dia bisa tidak tau. Aku berjalan semakin cepat, berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis lagi. Dan saat aku kembali berbelok di koridor tempat aku tabrakan dengan cowok gila tadi, aku melihat dia masih berdiri di sana memunggungi kedatanganku. Jadi aku berhenti sebentar, ragu untuk memilih jalan lain supaya menghindarinya atau terus saja berjalan. Dan aku lebih suka opsi ke dua.

Tapi kenapa dia masih berdiri di sana? Aku tak mau menanggapinya sekarang, tidak saat hati aku sedang sesedih ini. Jadi aku segera berjalan lebih cepat untuk melewatinya. Dan aku tercekat saat tanganku lagi-lagi dipeganggnya. Dia menyadari kehadiranku ternyata.

“Mau kemana, buru-buru banget?” suaranya yang sangat kubenci itu mulai mengaung di telingaku.

“Lepasin gue sekarang, jerk!

“Enak banget, liat apa yang udah lu perbuat,” dia menyodorkan tangan kanannya yang bekas cakaran aku tadi.

“Kan gue udah minta maaf. Lagian gue juga gak mau ya jadi pacar lo!” teriakku tepat di depan mukanya lalu menyentak lepas pegangannya di tanganku.

Tapi dia hanya tertawa sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Ternyata lu gak sepintar yang gua kira, ya? Ujung-ujungnya juga ntar lu jadi pacar gua kok tetap. Liat aja nanti.”

“Lo memang udah sinting, gimana bisa gue kerja sama ketua Osis gila” aku geleng-geleng kepala dan berbalik untuk pergi dari sini.

“Eits!” dia meraih tanganku lagi dan memeganginya lebih kuat sampai rasanya pergelangan tangankku tidak bisa dialiri darah lagi.

Fuck! Apaan lagi sih? Ini sakit tau!”

“Bule tolol, kan udah gue bilang tadi lu harus tanggung jawab buat luka ini.”

“Ya udah, sini biar gue antar lo ke UKS!” aku mengalah, percuma juga berdebat terus dengan si bastard ini.

“Nggak bisa dong, lu yang buat, lu juga yang harus obatin!”

“Gue bukan anak PMR bego, lagian gue gak ada kotak obat.”

Dia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. “Gue ada plester, lu pasangin gih.” Dan dua plester terulur ke depanku.

“Idih, kenapa lo nggak pasang sendiri, sih? Udah kayak luka gede aja!” kataku sambil terus berusaha melepaskan pegangan cowok gila ini di tanganku yang lama kelamaan pasti akan ngebuat darahku benar-benar berhenti mengalir ke pergelengan tanganku.

“Kan udah gue bilang berkali-kali bule tolol, lu yang buat, lu juga yang harus selesain.”

You’re devil!” aku mengambil secara kasar plester saat dia melepas cengkramannya, kemudian mulai membuka plester itu. Dengan kasar aku menempelkan dua plester itu di tangannya, di tempat bekas cakaranku.

Dan selama aku melakukan itu, dia terus menundukkan wajahnya supaya lebih dekat dengan wajahku. Aku mulai risih dan memukul tangannya saat sudah selesai dengan pekerjaanku.

“Udah! Bye!” aku segera berbalik dan menjaga tanganku supaya nggak ditariknya lagi dan berjalan pergi dari sini sebelum aku menendang selangkangannya lagi. Karena bisa kupastikan sesuatu di sana akan pecah jika kutendang lagi.

Tapi di belakangku, dia mulai tertawa bahagia. “Brian, I love you!” teriaknya. Aku menoleh kebelakang sebentar dan melihatnya yang sedang bersandar di dinding di sampingnya sambil melipat tangan di depan dada dan terus memerhatikanku. Dia benar-benar gila. Aku terus berjalan sambil mengacungkan jari tengahku. Untung saja di sini jarang sekali ada siswa yang lewat, jadi aku tak harus takut kalau ada yang dengar ucapan gilanya barusan.

Aku tak akan pernah lagi menghormatinya. Tidak sebagai ketua osis, tidak juga sebagai kakak kelas.

Dimas bastard itu memang sudah gila, aku yakin itu!

Ah, kenapa dunia seperti mempermainkanku hari ini?

Bersambung—

-Side Story-

Jika ada penghargaan untuk gadis cantik termurung seantero sekolah, tak bisa tidak bahwa Kristina akan menjuarainya—tentu saja jika ia sudah operasi kelamin di Thailand seperti cita-citanya. Maksudnya, bukan berarti dia ingin menjadi Moaning Myrtle yang akan mati mengenaskan di toilet sekolah dan menghabiskan masanya untuk menjadi hantu pengganggu toilet cowok—di kasus ini toilet cewek. Dia juga tentu tak mau mengganggu gadis-gadis di sini, karena dia lebih suka melihat dan mengganggu pria.

Gadis—maksudnya pria—kemayu itu masih sibuk meratapi hatinya yang sedang sesedih dan segelap terowongan Casablanca di tengah malam jum’at yang hujan sambil terus memoles kuku cantiknya dengan kutek beraneka warna, membuat gradasi warna yang indah di kuku terawatnya. Dengan sesekali sesenggukan tentunya.

Kristina yakin kalau tak ada lagi yang bisa memperbaiki hatinya yang hancur berkeping-keping itu sekarang—kecuali Zetta. Hey! Dia tak boleh memikirkan cowok itu terus kalau tak mau membuat hatinya semakin hancur, kan?

Semakin dia memikirkan cowok itu semakin cepat juga gerakan tangannya menguas cat pewarna kuku itu. Seolah kukunya adalah metafora dari wajah Zetta yang ingin sekali dia belai—maksudnya cakar-cakar. Sekarang dia sedang memoles warna merah marun, sebelumnya dia baru selesai dengan tosca. Marun adalah warna kesukaan Zetta, dan dia mengumpat selama mengecat kukunya dengan warna itu.

Pria kemayu berponi itu melihat ke jam tangan digital berwarna putih yang melingkar di tangan kirinya, membuat jari kelingkingnya melenting. Jam sebelas lewat dua puluh. Itu berarti dia sudah melewatkan satu jam pelajaran Fisika dengan Bu Ani. Tapi tak masalah baginya, itu karena Kristina sudah mendapat nilai bagus di mata pelajaran itu, jadi sesekali membolos tak apa pikirnya.

Lalu lalang orang yang keluar masuk toilet ini sudah tak terdengar lagi sejak dua puluh menit yang lalu, karena semua anak kelas sepuluh pasti sudah masuk ke kelas mereka masing-masing. Bunyi-bunyi orang dari luar toilet juga sudah tak ada, membuat suasana hening berputar di sekitar Kristina. Suasana itu mendukung sekali untuknya bersedih, dan dia mulai benar-benar menangis—lagi.

Kristina akui kalau dia jadi lebih sensitif belakangan ini, mengalahkan Deva—teman sekelasnya yang sangat cengeng. Bukan apa, itu hanya karena dia sudah terlalu lelah dengan kisah cintanya yang mengenaskan dan seolah tak pernah berakhir untuknya. Padahal dia sudah yakin hidupnya akan berakhir happy ending seperti dongeng-dongeng putri kerajaan yang masih dia baca sampai sekarang saat menjelang tidur. Tapi Kristina berpikir itu tak mungkin saat ia berada di dalam taksi semalam. Dan sekarang dia mulai mengutuki Ariel karena lagu Kisah Cintaku mulai terngiang di telinga pemuda kemayu itu, membuatnya menangis makin jadi.

Dia melihat dua pembalut di dalam tong sampah di dekatnya, dan mulai berpikir untuk menutup saja telinganya dengan dua barang kotor itu daripada harus mendengarkan lagu menyedihkan yang terus terngiang di telinganya. Tapi tentu dia tak jadi melakukannya, bukan karena dia takut darah haid dari pembalut itu menempel di telinganya dan membuat telinganya kotor dan ujung-ujungnya berjerawat, tapi lagu itu langsung hilang dari telinga Kristina saat bunyi pintu toilet terdengar pelan tapi nyaring. Suasana haru biru dan kelabu berubah menjadi horror. Air matanya berubah menjadi keringat dalam sepersekian detik. Dia jadi teringat adegan di film Saw yang dia tonton kemarin malam.

Jangan salahkan Kristina jika sekarang dia sedang berpikiran macam-macam seperti ada pembunuh bayaran yang siap menghabisi nyawanya di sini—ew! Mana ada orang yang mau membunuh bencong tak berharga seperti dia—atau mungkin psycho yang selama ini mengincar dan terobsesi dengannya—apa lagi itu. Dia tak mau mati muda, juga tak mau mati di tempat jorok, kotor, tak higienis semacam toilet. Itu tak keren sama sekali.

Pemuda bercelana abu-abu yang dibuat ketat itu sudah berdiri panik di atas kloset dengan memegang gagang sikat toilet berwarna biru. Rencananya adalah memukul pembunuh itu di bagian kepala sekuat mungkin—oh, sekarang dia jadi bersemangat ketika memikirkan dia bisa bertarung seperti Usagi di film Sailor Moon. Lalu berlari keluar toilet setelah menendang kemaluan pembunuh itu dengan tendangan baletnya. Kemudian dia akan selamat dan tetap hidup sebagai gadis—pria yang kuat!

Bunyi langkah kaki orang itu semakin dekat, Kristina makin erat memegang gagang sikat toilet. Orang itu terus berjalan dalam diam. Suasana semakin mencekam, dan keringat semakin banyak mengalir dari wajah mulus Kristina. Dipastikan pulang dari sini dia akan berendam lagi dengan kelopak-kelopak bunga mawarnya di dalam bathtube.

Kristina terkesiap saat merasakan kalau orang itu sudah sampai tepat di depan pintu bilik toiletnya, dan saat pintu di depannya perlahan terbuka membuat kepala orang itu mulai terlihat, Kristina langsung melompat dari kloset dan memukulkan senjata mematikannya tepat ke kepala orang itu dengan teriakan ala tim cheers.

“Hiaaaaattt…!”

BUUUGG.

“Aw!” orang itu—maksudnya cowok itu—berteriak saat kawat-kawat tipis yang di pukul Kristina menghantam kepalanya. Dia langsung menunduk sambil memegangi kepalanya yang mulai terasa sakit.

Eat that! Huahahahahaha!” Sekarang Kristina berdiri di depan orang itu sambil tertawa dengan mulut tertutup anggun. “Sekarang rasakan tendangan ballerina Kristina cantik! Hiiaaattt—” Kristina sudah siap mengangkat kakinya.

“Stop!” orang itu masih menunduk dengan tangan kiri yang memegangi kepala sedang kanan yang terulur ke depan sebagai tanda agar Kristina berhenti menendangnya. “Please, stop it.” Dan Kristina benar-benar membatalkan serangan terakhirnya.

Kristina kenal suara itu. Itu suara orang yang selama enam bulan tiga puluh hari ini ia cintai, itu suara Zetta. Dan setelah berhasil melihat wajah kesakitan gebetannya itu, Kristina langsung melempar sikat toilet yang dipeganginya ke sembarang arah dan mendekati Zetta dengan agak takut.

Oh my Zetta! Sorry sorry sorry sorry!” Kristina panik sendiri saat Zetta tak berhenti meringis dan memegangi kepalanya.

Shit! Ini sakit banget tau!”

“Nggak tau. Tapi maaf banget Zet, aku kirain kamu itu orang lain yang mau ngebunuh aku. Maafin aku ya,” Kristina terus mengusap-usap kepala Zetta agar rasa sakitnya hilang. “Sini, duduk dulu.” Dan Zetta duduk di atas kloset sambil tangan kanannya terus memegangi kepala, sedang tangan kirinya tanpa sadar memegang tangan Kristina.

Kristina merasa terbang saat dia senang bisa sedekat ini dengan Zetta, dan hanya berdua pula. Belum lagi tangannya yang terus dicengkram Zetta dengan posesif membuatnya harus menahan diri sekuat tenaga agar tak melompat dan menduduki paha cowok di depannya ini.

“Lagian kamu ngapain ke sini sih? Ini kan toilet cewek?” Kristina bertanya saat Zetta sudah berhenti meringis.

“Lo juga ngapain di sini? Lo kan tau ini toilet cewek?” Zetta melirik tangannya yang memegangi pergelangan tangan Kristina, lalu sontak melepaskannya dan menusap-usapkan telapak tangannya ke celana.

“Yah… aku… lagi kutekan. Look!” Kristina memamerkan kukunya yang telah selesai ia warnai dan membuat gradasi warna yang indah.

“Mesti ya kutekan di sini?”

“Suka-suka aku dong! Kamu sendiri kenapa ke sini, hm? Kamu lagi cari-cari aku ya? Pasti iya kan! Oh, I know, kamu pasti stalking aku dari pagi tadi, kan? Terus pas ada kesempatan kayak gini baru kamu berani nunjukin diri. Ngaku aja deh!” Kristina meniup-niup kukunya agar cepat kering. “Kalo kamu mau minta maaf sama aku, aku nggak bakal maafin soalnya aku masih marah sama kamu Zetta!”

Dan Zetta hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai respon kalimat Kristina barusan. Di detik berikutnya Zetta sadar kalau Key baru saja menjebaknya untuk berduaan saja dengan bencong busuk di depannya ini.

“Zetta, honey, listen. You can’t break my heart dengan cara kayak semalam, even if my heart is a fragile heart. Aku ini cewek—cowok maksudnya—terkuat di sekolah ini setelah Key. Wait, Key itu cewek, kan?” Kristina bingung sambil menggaruk-garuk keningnya, membuat noda karena cat pewarna kuku miliknya yang belum kering di sana.

Zetta tertawa tertahan melihat wajah Kristina, lalu dengan sigap menarik tangan cowok itu agar mendekat lalu membersihkan noda itu dari keningnya.

Kristina yakin kalau hatinya akan meledak sebentar lagi, wajah Zetta hanya berjarak beberapa meter dari wajahnya yang sudah semerah gincu merah yang dicampur dengan air. Belum lagi jari jempol tangan kanan Zetta yang bergerak lembut di atas alis kiri Kristina membuat cowok kemayu itu tak bisa berhenti berkedip dengan sangat cepat.

Mereka diam beberapa saat, Kristina menelan ludahnya sambil terus menatap wajah bule Zetta. Cowok kemayu itu mulai memejamkan matanya, merasakan setiap hembus napas Zetta yang berwangi mint sambil memikirkan apa yang akan terjadi sebentar lagi. Dia berharap saat ini bukanlah mimpi dan membuatnya terbangun di kasurnya dengan area selangkangan yang sudah basah dan lengket

Guys, kalian berdua menjijikan!” suara seseorang membuat mereka berdua terkejut dan langsung menatap ke arah pintu.

Dan Sisy sudah berdiri di sana sambil melipat tangan di depan dada.

“Hai, Si,” Kristina hanya memberi cengiran dengan tubuh yang masih condong ke arah Zetta sebelum dia di dorong Zetta.

“Ini nggak seperti yang lo bayangin. Gue…”

“Lanjutkan aja lagi honeymoon kalian, gue cuma mau ke westafel kok,” kata Sisy kemudian berbalik dan pergi dari sana.

“Oke! Thanks Sisy!” Kristina berbalik untuk menutup pintu, dan yang terjadi selanjutnya adalah—

NOOOOOOOO!!!

Bersambung Juga—