Sexy, Naughty, Dirty cover

 

Arya terdiam sebentar. “Gak mungkin ya buat mecat CS loe yang lama itu?”

“Trus ngasih jobnya ke elo?”

Arya mengangguk.

“Gue masih punya rasa kemanusian.”

“Kalau gitu, gaji aja dua CS sekaligus.”

“Itu sudah dua orang.”

“Jadiin tiga orang kalau gitu.”

“Apapun yang loe bilang, jangan harap gue mau jadiin loe cleaning service di bengkel ini.”

“Kenapa?”

‘Karena jiwa gue terluka kalau sampai loe jadi petugas kebersihan, di manapun itu.’

Menemukan Dewa terdiam, Arya tak lagi memaksa. Lagipula, dia ingin mencari kerja, bukan mengemis kerja. “Berapa lama waktu yang dibutuhkan buat jadi mekanik?”

Dewa lagi-lagi melongo.

“Mungkin gue bisa belajar semingguan trus kerja di sini sebagai montir.”

“Kepala loe isinya apa sih? Bisa dipake mikir gak? Ibu Peri aja gak bisa bikin orang mahir mesin dalam seminggu.”

“Kalau gitu, jangan seming──”

“Loe ngerti gak sih kondisi loe sekarang itu sesulit apa?” potong Dewa gusar. “Kabur dari rumah tuh gak sesimpel yang loe liat di film-film.”

Arya mendiamkan diri.

“Nih, gue kasih tau, ya. Kalau loe benar-benar yakin gak mau balik ke rumah dan minta maaf sama nyokap dan bo──”

“Gak bakalan!” Giliran Arya yang kini memotong kalimat Dewa dengan sengit.

“Gue belum abis ngomong!” Dewa menjitak kepala cowok di depannya hingga meringis. “Kalau loe gak mau balik rumah dan minta maaf──”

“Bukan gue yang salah.”

Dewa geram. “Loe nonjok bokap loe sampe tumbang, ngomong kasar dan bentak-bentakin dia, dan sekarang loe enteng banget bilang gak punya salah?” Dewa geleng-geleng kepala. “Sekali lagi nih, ya, kepala loe isinya apa sih?”

“Kontol loe!” jawab Arya jengkel karena Dewa terdengar mulai menyalahkannya.

Dewa bungkam mendadak. Dia sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk jawaban semacam itu, membuatnya mempertanyakan keseriusan jawaban Arya. Tapi sepertinya gak mungkin Arya serius, cowok itu lebih terlihat jengkel saat ini.

Setelah sembuh dari kekagetannya, ekspresi Dewa melunak. “Oke, lupakan tentang siapa yang salah dan siapa yang harusnya minta maaf. Yang mau gue bilang adalah, kalau loe serius mau kabur, hal pertama yang harus loe pikirkan adalah di mana loe bakal tidur malam nanti, dan malam besoknya dan malam besoknya dan malam besoknya lagi, itu kalau loe masih sanggup bertahan buat gak pulang. Paham?”

Arya menjawab Dewa dengan diamnya. Kata-kata Dewa sepenuhnya benar, sangat benar malah.

“Dan kalau masalah utama itu udah ada solusinya, yang selanjutnya harus loe pikirin adalah bagaimana caranya loe bertahan hidup.”

“Dengan kerja,” jawab Arya.

“Ya, dengan kerja. Tapi di mana?”

“Kalau gak di bengkel loe, maka pasti ada kerja buat gue di suatu tempat.”

“Loe kira nyari kerja gampang?” Dewa kembali jengkel.

Arya menatap Dewa. “Loe tahu, bentak-bentakin gue kayak gini tuh gak akan ngasih gue jalan keluar apa-apa.”

“Terus, loe ngerasa percuma datang ke sini?” tuduh Dewa. “Kalau gitu kenapa loe milih datang ke gue?”

“Gue gak tahu kenapa gue ke sini dan bagaimana caranya bisa sampai di sini.”

Kening Dewa berkerut. Dia bertanya-tanya, apakah cowok di depannya ini juga mengalami gegar otak saat terkapar di aspal tadi? Jawabannya ngawur sekali.

“Gue gak sadar apa-apa, tahu-tahu aja udah ada di depan bengkel loe…”

Oke, ini mulai terdengar aneh buat Dewa. Tapi Arya terlihat serius, sangat serius malah. Mungkin pengakuan aneh Arya itu memang yang sebenarnya terjadi, dan pasti ada penjelasan ilmiahnya di suatu tempat. Jadi, Dewa memutuskan untuk percaya. Namun kemudian sebersit pemikiran muncul di kepala Dewa. Yang menuntun langkah Arya ke bengkelnya mungkin cupid atau makhluk semacam itu. Jika memang pelakunya adalah cupid, berarti…

“Baiklah.”

“Apanya yang baiklah?” tanya Dewa berhenti dari pemikirannya.

“Sepertinya gue udah terlalu lama di sini.”

“Loe mau pergi?”

“Menurut loe?”

“Tapi loe mau pergi ke mana?” tanya Dewa ketika Arya bangun dari lantai dan mulai berpakaian.

“Seperti yang loe bilang, kan? Nyari tempat tinggal trus nyari kerjaan,” jawab Arya santai.

“Iya, tapi ke mana?”

“Mungkin Ibra bisa bantu.” Kenapa gue baru inget tuh anak sekarang?

Dewa merasa cemburu. “Gak, loe tetap di sini sampai kita nemu solusi yang lebih bagus.”

“Ibra udah yang paling bagus,” kata Arya cuek. “Makasih udah mau gue repotin.”

“Gue bilang tetap di sini!”

Arya berhenti dari segala pergerakannya. Dipandangnya Dewa dengan pandangan serius sampai bunyi cruit-cruit dari perut Dewa menginterupsi momen tatap-tatapan mereka. Bunyi itu ternyata menimbulkan efek berantai pada Arya. Saat pergi dari rumah tadi, Arya sama sekali belum makan apapun, dan belum mandi juga. Bahkan dia belum sempat menyikat giginya. Di depan Dewa saat ini, Arya baru menyadari betapa bau dan berantakannya dirinya, dan juga kelaparan.

Dewa menunduk ke perutnya. Setelah sempat lupa, kini dia teringat pada nasi kuningnya yang entah diletakkan di mana tadi. Saat menemukan Arya dalam kondisi yang jauh dari kata baik, semua fokusnya berkumpul ke sosok Arya, bahkan dia lupa kalau sedang lapar. Baru saja, cacing di perutnya mengingatkannya kembali.

“Gue laper,” keluh Arya.

“Iya, gue tahu,” jawab Dewa cepat.

“Tapi yang barusan bukan bunyi cacing gue.”

“Itu juga gue tahu.” Dewa bangun dari lantai, dipungutnya kunci mobil dari atas meja kerjanya lalu ditelitinya keadaan Arya yang lusuh. Sebenarnya anak itu sangat perlu menghabiskan belasan menit untuk mandi, tapi cacing di perut Dewa tidak bisa diajak toleran lagi. “Ayo kita cari makan!” ajaknya lalu menuju pintu.

“Tampilan gue terlalu gelandangan buat makan di luar,” ujar Arya.

“Gelandangan gak ada yang secakep loe.” Namun setelah berucap demikian Dewa tetap saja kembali meneliti cowok di depannya. Jins dan kaos Arya kini terlihat lebih kotor dari yang tadi dilihatnya. “Shit, loe memang kayak gelandangan kalau wajah loe diabaikan.”

“Terus?”

“Gue aja yang keluar beli makan.”

“Nah, itu yang gue maksud.”

Dewa bergerak ke pintu, di sana dia berhenti dan menoleh Arya. “Jangan berani-beraninya pergi sementara gue gak ada,” katanya sambil mengancam Arya dengan telunjuknya.

“Tenang saja. Gue bakal nungguin loe datang sambil streaming bokep.”

“Good.”

***

Rauf terbangun karena mimpi buruk. Bukan, sebenarnya bagi segelintir golongan, mimpi yang seperti dialami Rauf bisa disebut sebagai mimpi indah. Tapi Rauf bukan segelintir golongan dimaksud sehingga mimpi itu masih dikategorikannya sebagai mimpi buruk. Dewa mengoralnya sementara dia terlentang tak berdaya di atas ranjang dengan tangan dan kaki terikat, dan… bagian terburuknya adalah, Katia mendadak muncul membangunkannya. See? benar-benar mimpi buruk, kan?

Tapi… mengapa pula selangkangannya keras dan tegang?

Rauf menarik pinggang celana pendeknya berikut pinggang celana dalamnya dan segera menemukan kalau batang kejantanannya sedang menodong ke arahnya, seakan berkata dengan pongah ‘‘I’m here, Bro!’’ sambil berkacak pinggang.

Rauf meneliti, mencari tanda-tanda kalau dirinya baru saja ejakulasi. Tidak, bukan itu, lebih tepatnya, mencari tanda-tanda kalau tangan atau mulut Dewa baru saja meninggalkan batang zakarnya. Saat yakin dirinya tidak menemukan tanda-tanda kalau penisnya baru saja dikerjai seseorang, detakan jantung Rauf kembali normal dan dia bisa bernapas lega kembali. Dilepaskannya cengkeramannya pada pinggang celananya dan lalu matanya memindai kondisi kamar. Tak ada sosok Dewa. Apa teman barunya itu tidur di luar, atau sudah meninggalkan apartemennya?

Rauf mengusap dada telanjangnya yang terasa lembab. Suhu kamarnya selalu dingin, tapi mimpi tadi pasti membuat dia berkeringat. Rauf melirik weker, hampir pukul dua belas siang. Dalam kondisi biasa, seharusnya Rauf baru akan terbangun dua atau tiga jam lagi. Dia menimbang-nimbang untuk kembali berbaring dan meneruskan tidur, tapi rasanya kantuk sudah benar-benar terenggut darinya.

Rauf turun dari ranjang dan mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup. Saat tak ada respon apapun, Rauf mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka dan tidak menemukan siapa-siapa di dalamnya. Bodoh, Dewa pasti sudah selesai mandi dari beberapa jam yang lalu. Bagaimana dia bisa berpikir setolol itu? Berpikir mungkin Dewa masih di kamar mandi, terlalu teler untuk menyelesaikan mandinya. Benar-benar bodoh.

Rauf keluar dari kamar. “Wa?” Panggilannya dijawab keheningan familiar yang dimiliki apartemennya. Keheningan yang selalu bisa dinikmatinya selama ini entah mengapa kali ini terasa canggung buatnya. Apa Rauf berharap mendengar suara Dewa menjawab panggilannya? Bagaimana mungkin dia bisa berharap begitu? Dewa hanya baru membuat jejak di apartemennya mungkin kurang dua jam dengan perkiraan setelah menggunakan kamar mandi dia langsung pergi. Pasti ada yang salah dengan otak Rauf kalau dia berharap Dewa masih berada di apartemennya, menungguinya tidur.

Dengung tanda getar hapenya menarik perhatian Rauf. Dia tidak ingat di mana benda itu dilemparnya tadi pagi, tapi dia ingat kalau sejak semalam hapenya diatur dalam mode getar. Selalu begitu kalau Rauf sedang jadi kalong di ABClub, ringtone tidak akan banyak membantu di tempat hiruk-pikuk itu.

Rauf bergerak ke sofa, biasanya dia selalu menemukan hapenya di sana kalau dia tidak bisa mengingat di mana dirinya meninggalkan benda itu. Namun kali ini sofa burgundy itu mengecewakannya. Dengung itu sudah hilang. Rauf tercenung, menunggu dengung selanjutnya. Lima detik kemudian dia bergerak masuk kembali ke kamar dan menemukan hapenya di atas nakas di dekat lampu tidur, sedang bergetar sementara layarnya menyala. Rauf tidak ingat meletakkan hapenya di sana.

Rauf menyernyit. Kapan dia menyimpan nomor kontak Dewa? Sepertinya banyak yang terjadi semalam sementara dia teler. Dia dan Dewa pasti sempat bertukar kontak, Rauf hanya terlalu mabuk untuk mengingatnya.

“Halo?”

“Sorry, gue ganggu tidur loe.” Suara Dewa terdengar tenang.

“Gak. Gue udah bangun.” Dan begitu saja Rauf teringat mimpinya yang aneh. Sosok telanjang Dewa benar-benar tampil jelas di dalam mimpinya, bahkan Rauf bisa ingat bentuk jembut halus yang tersebar di sekitar pubis Dewa. “Shit…”

“Apa? Loe ngumpatin gue?” Sekarang suara Dewa terdengar tidak senang.

Rauf mengutuk diri. Lidahnya sesaat tadi bergerak di luar kontrol. Padahal dia mengira hanya mengumpat dalam hati. “Enggak. Ini… gue numpahin kopi.”

“Oh.”

“Ada apa?”

“Gue sedang di jalan ke tempat loe.”

“Ngapain? Ada barang loe yang ketinggalan?”

“Ada.”

“Apa?”

“Hati gue.”

“Sebentar, gue muntah dulu.”

Suara tawa Dewa terdengar bagus. “Tapi ini serius, gue sedang jalan ke tempat loe. Loe beneran masih di apartemen, kan?” Seperti ucapannya, Dewa sekarang terdengar cukup serius.

“Ada apa?”

“Gue butuh bantuan loe.”

“Kita baru temenan dan loe udah mau ngerepotin gue? Yang benar saja…”

Dewa kembali tertawa. “Lima belas menit lagi gue sampai.”

“Lima belas menit lagi gue cabut keluar.”

“Gak apa-apa, kita pasti papasan di lift.”

Sekarang Rauf yang tertawa.

***

Arya mengikuti langkah luwes Dewa dengan sedikit kepayahan. Perih yang timbul akibat gesekan jins di atas luka lecet di kedua lututnya tidak mudah diabaikan begitu saja. Kalau saja yang berjalan di depannya saat ini bukanlah sosok atletis Dewa dengan segala pesonanya yang masih saja menebarkan aroma parfumnya yang jantan, perih itu mungkin akan sangat mengganggu Arya. Tapi kalau diingat-ingat, ada yang beda pada aroma parfum Dewa yang sekarang dengan yang pernah diingatnya saat beberapa kali melewati waktu dengan pria itu. Arya menyimpulkan, Dewa mungkin mengganti parfumnya.

Kata Dewa saat memarkir mobil tadi, mereka sedang menuju ke apartemen temannya Dewa.

“Dia agak dingin, tapi tenang saja orangnya baik,” ujar Dewa saat mereka keluar dari Lift di lantai tujuh.

Arya mengernyit. “Apa hubungan sikapnya dengan gue?”

“Loe bakal tinggal dengannya sementara waktu sampai gue nemuin tempat tinggal dan kerjaan yang cocok buat loe.”

“Kenapa gue gak tinggal tempat loe aja?” Baru setelah pertanyaan itu keluar dari mulutnya, Arya teringat kalau Dewa tentu tinggal dengan pacarnya yang sempat sudah mengonfrontasinya tempo hari. Selanjutnya, Arya merasa sedikit bersalah karena kini sedang bersama Dewa. Bukankah waktu itu dia sudah bertekad untuk tidak akan berhubungan dengan Dewa lagi dan merusak kebahagiaan seseorang? Kini tentu saja sudah terlambat untuk kembali ke tekad itu. Dewa sepertinya sudah berhasil menceburkan dirinya ke samudra kehidupan Arya, atau… dalam ketidaksadarannya Arya sendiri yang sudah menggelincirkan dirinya ke lembah dunia Dewa.

“Kenapa pula loe mau tinggal bareng gue?” tanya Dewa tanpa menoleh.

“Entah.” Sebenarnya, Arya punya jawaban yang lebih baik dari sekedar ‘entah’.

“Bukan karena loe udah pernah ngeliat kontol gue, kan?”

“Gue gak habis pikir bagaimana loe bisa nekat coli di ruang kerja loe yang transparan itu. Gue gak tahu harus bilang apa, bego, berani, atau gila.”

“Bagaimana kalau, persetan?”

“Yeah, persetan dengan sekitar. Terserah loe mau ngapain dengan penis loe sendiri, kan?”

“Yep.”

Mereka berhenti di depan sebuah pintu mengkilap warna hitam. Dewa hanya mengetuk dua kali, tak sampai semenit pintu itu mengayun terbuka. Seorang pria muncul di pintu, bertelanjang dada dan bercelana pendek sepertengahan paha. Handuk putih bersih menggantung di bahunya yang berwarna coklat cerah. Keadaan itu sekilas tampak bagai vanilla dan caramel sedang bertemu. Dari balik bahu Dewa, Arya memerhatikan si pemilik apartemen yang dikatakan Dewa sebagai temannya itu mengeringkan rambutnya dengan gaya yang hanya dimiliki seorang bintang iklan produk perawatan badan pria. Atau… teman Dewa ini memang seorang model? Arya cukup yakin kalau pria yang punya apartemen ini memang seorang model.

“Bukannya loe udah mandi tadi pagi?” tanya Dewa.

“Itu kaos gue,” balas si pria sambil menunjuk dada Dewa. Lalu pandangannya turun ke tungkai Dewa pula. “Dan itu celana gue.”

Di belakang Dewa, alis Arya bertaut. ‘Pria ini bisa jadi selingkuhannya Dewa, lihat saja, mereka sampai berbagi pakaian.’

“Bensin gue nganterin loe kemari itu enggak gratis, Bro.”

“Harga sempak gue yang loe pakai sekarang itu juga gak murah, Men.”

‘Ya ampun… mereka sampai berbagi celana dalam segala. Sah, yang selingkuhan pasti cowok di PQRS itu, pacar aslinya pasti yang ini.’

“Kaos dan jins ini tarif loe bermalam di mobil gue,” kata Dewa.

“Udah gue bayar saat loe make fasilitas kamar mandi gue pagi tadi,” balas si pria santai.

Hemm… mereka sampai berbagi jok dan berbagi bathtub, how sweet…’

Dewa sudah siap membuka mulut kembali, tapi keburu didahului si pria bintang iklan di pintu. “Apapun yang loe katakan, kaos dan jins itu gak bakal jadi hak milik loe. Kembalikan segera begitu loe gak make lagi.”

“Bagaimana dengan kolornya?”

Si lelaki melirik pinggang Dewa. “Bukannya gue udah pernah bilang kalau──”

“Ya ya ya…” Dewa manggut-manggut sambil melambaikan lengan di depan muka si pria dengan malas. “Disposable, gue gak lupa.”

“Jadi ini ada apa?” Alis tebal si pria di pintu terangkat sebelah, menatap Dewa ingin tahu.

“Ini…” Dewa menyisi untuk memperkenalkan Arya, tapi kata-katanya berhenti hanya di ‘ini’.

“Lubang baru yang loe bilang tadi pagi?” sambung si pria dengan santainya.

Dewa batuk-batuk.

Arya memandang bergantian antara Dewa dan sosok pria di pintu. Dia bingung memahami percakapan dua orang itu dan bingung juga dengan analisa dalam pikirannya. ‘Sebenarnya, mereka sepasang pacar homo bukan sih? Lubang baru apanya?’

“Rauf, ini…” Dewa memandang Arya sesaat. Sebenarnya, dia ingin memperkenalkan Arya sebagai adiknya, tapi… Dewa tak ingin Arya menjadi adiknya, Dewa ingin cowok itu jadi… tidak tidak tidak, bukan selingkuhan. Dewa ingin Arya jadi… ah sudahlah. “Ini… temanku.” Mengenalkan Arya sebagai teman pun sebenarnya tidak disukai Dewa. Dia tidak ingin Arya hanya jadi sebatas Teman. Ya ampun… apa yang terjadi dengannya? Dia bahkan belum yakin tentang orientasi seks Arya. “Arya, ini Rauf, induk semang loe sementara waktu ke depan.”

Rauf tentu saja kaget dengan ucapan Dewa. Induk semang? Jangan bilang Dewa akan menyembunyikan selingkuhan barunya di apartemennya. Kalau itu yang terjadi, Dewa benar-benar telah salah memahami dirinya. Rauf masih lebih suka tinggal sendirian di apartemennya. ‘Tapi, masa iya cowok itu selingkuhannya Dewa? Teman juga meragukan. Kelihatannya mereka belum lama kenal. Bisa jadi malah tidak lebih lama dariku kenal Dewa.’ Rauf membuat kesimpulan sendiri. Dan Dewa ingin Arya tinggal di apartemennya? Rauf ingin menginterupsi ucapan Dewa, tapi tangan Arya yang terulur ke depan perutnya membuatnya mengurungkan niat. Tidak, bukan mengurung, tapi menunda. Dia pasti akan mengonfrontasi Dewa nanti.

“Hai, gue Arya…”

Rauf menatap cowok di depannya dan segera tahu kalau ada yang salah pada sosoknya. Cowok bernama Arya ini bagai habis dibuntal puting beliung lalu dihempaskan di tempat penampungan rongsokan. Pakaiannya kotor, rambutnya acak-acakan, tapi… meski ada memar di wajahnya, orang rabun sekalipun masih bisa menemukan ketampanan di sana, dan matanya… Rauf yakin kalau itu adalah mata terjernih yang pernah ditatapnya sejauh ini.

“Rauf,” ujar Rauf sambil menggenggam telapak tangan Arya. “Rauf Preston.” Genggaman mereka terasa pas, dan hangat. “Loe… baru kecelakaan?”

“Dan baru kabur dari rumah juga,” ujar Dewa.

“Lebih dulu kabur dari rumah, kecelakaannya kemudian,” kata Arya.

Rauf menarik tangannya. Menatap bergantian antara Dewa dan cowok bernama Arya yang baru kecelakaan dan baru kabur dari rumah itu. Rauf menebak-nebak alasan Arya kabur dari rumah hingga mengalami kecelakaan. Tidak terima dinasehati bonyok atas kelakuan buruk, berkelahi dengan kakak atau adik, ketahuan ngedrugs, atau… ketahuan gay? Tatapan Rauf sekarang berhenti pada Arya. ‘Tampilannya sama sekali tak mengindikasikan gay’. Tatapan Rauf berpindah lagi ke Dewa. ‘Penampilan Dewa juga laki banget, tapi secara tersirat dia sudah mengumumkan dirinya suka laki’. Rauf menatap Arya lagi dan membuat kesimpulan. Selalu ada kemungkinan Arya itu suka laki. Dan dia akan tinggal bersamanya untuk entah sampai kapan. Ini tidak bagus.

Arya balas menatap mata Rauf yang dinaungi alis bagus itu. Tatapan Rauf seakan sedang menelanjanginya, menilainya, menganalisa dirinya. Mau tidak mau, Arya gelisah juga memikirkan imejnya yang pasti sedang terbangun di dalam kepala Rauf. Tak ada imej bagus untuk seseorang yang kabur dari rumah, kan? Terus ditatap Rauf dengan matanya yang seakan bisa melihat segala boroknya, Arya mulai merasa tak nyaman.

“Jadi, loe bakal ngebiarin teman gue terus di luar atau bagaimana?” Dewa menginterupsi. Lalu hapenya berdering. Rauf dan Arya kini sama memerhatikannya. Dewa merogoh saku jins Rauf yang sedang dikenakannya dan menemukan nama Ren di layar. Dewa menyentuh tanda JAWAB. “Please go fuck yourself, my cock still busy right now!” serunya di layar lalu mengakhiri panggilan sekaligus menonaktifkan hapenya. Setelahnya, ditatapnya Arya dan Rauf. “Apa?” tanya Dewa cuek.

“Sepertinya ada yang bakal terlibat perang setelah ini.” Rauf masuk lebih dulu dan membiarkan pintu tetap terbuka.

“Gue udah sering ke medan perang, loe gak usah khawatir bakal kehilangan gue di sana, Raf,” balas Dewa.

Great.” Suara Rauf berasal dari kamar.

“Gue gak bisa lama, banyak kerjaan di bengkel,” teriak Dewa.

“Apa!?” Arya urung masuk, sebelah sepatunya sudah berada di lantai apartemen Rauf. Kini dia menatap Dewa di sisi kanannya. “Setidaknya jangan tinggalin gue dalam keadaan masih kebingungan,” desisnya di depan wajah Dewa. Rauf sudah terlalu jauh untuk mendengar mereka. “Jujur, gue masih segan sama tuh model celana dalam. Dan loe mau langsung cabut pergi gitu aja tanpa ngasih tahu ke dia kalau gue bakal ngerepotin untuk batas waktu entah kapan? Yang benar saja!”

Dewa mengerjap satu kali lalu berdeham. “Okey, pertama… dia bukan model celana dalam pria…”

“Jadi, dia bintang film? Shit, gue gak tahu kalau bintang film negeri kita ada yang kayak dia,” desis Arya lagi.

“Dan juga bukan bintang film.” Dewa melirik jam tangannya. “Kedua, barusan gue udah ngejelasin ke dia kalau loe bakal tinggal di sini.”

Arya mengernyit. “Sorry, ini loe yang sedang ngigau atau ada yang salah dengan ingatan gue? Kapan loe ngejelasinnya?”

“Tepat saat gue ngenalin dia ke loe.”

Arya melongo. Dia ingat persis bagaimana Rauf dikenalkan Dewa kepadanya sebagai induk semangnya. “Gitu aja?”

“Yep.”

“Kalian sudah selesai arisan?” Rauf kembali muncul, masih bertelanjang dada, tapi celananya sudah sedikit lebih panjang dan handuk sudah tidak lagi menggantung di bahunya.

Dewa mendorong ransel di punggung Arya hingga benda itu berikut si empunya-nya bergerak melewati pintu. “Sudah,” jawab Dewa. “Trims, Raf. Kalau loe gak punya ranjang ekstra buat Arya, gue yakin dia gak keberatan tidur di sofa loe.”

Rauf memandang Arya yang masih tampak tidak tahu harus menempatkan diri. “Loe bisa tidur di mana aja selama loe tetap tenang. Ada kamar di sana.” Rauf menunjuk kamar kedua di dekat kamar utama yang digunakannya. “Tapi gak ada ranjang. Kalau loe butuh privasi, silakan rapikan sendiri kamarnya. Tapi kalau gue jadi loe, gue lebih milih sofa. Kamar di sana itu sudah terlalu sesak untuk ditinggali.”

Fix, sofa kalau gitu.” Dewa menepuk bahu Arya. “Okey. Satu masalah selesai untuk sementara waktu. Nanti gue kabari kalau udah ada kerjaan buat loe. Sekarang gue cabut dulu.”

“Trims, Bro.”

Dewa mengangguk pada Arya, lalu menoleh pada Rauf. “Lusa gue balikin baju loe. Thanks udah mau gue repotin.”

Rauf hanya merespon dengan diam. Sepertinya rencananya untuk protes pada Dewa harus ditunda dulu.

Arya menurunkan ranselnya ke lantai lalu mengantar Dewa ke luar. “Gue gak tahu harus berterima kasih dengan apa,” kata Arya saat mereka sudah ada di lorong.

Dewa berbalik menghadap Arya. “Loe bisa ngasih gue oral seks kapan-kapan.”

Tik

Tik

Tik

Dewa tertawa besar. “Oh, come on… gue cuma bercanda.”

“Ya, gue tahu. Lagipula, loe kan sudah punya orang buat ngelakuin itu.”

Dewa serta-merta teringat pada Ren. Sudah dipastikan nanti dia akan kembali ribut dengan partner seksnya itu. “Dari mana loe tahu?”

“Tahu apa? Kalau loe udah punya pacar?”

“Ya.”

“Gue bahkan udah pernah ketemu.”

“Apa!?” Dewa melongo. “Loe ketemu Ren?”

“Jadi namanya Ren?”

“Bagaimana ceritanya? Apa yang diperbuatnya? Jadi karena itu loe ngeblock gue kemarin itu? Dia benar-benar udah kelewatan…” Dewa jengkel sendiri.

“Bukan salahnya. Dia hanya berusaha mempertahankan apa yang sudah dimilikinya.”

Dewa menatap Arya. Kalimat Arya yang barusan seakan sudah menjelaskan segalanya tentang kondisi dan perasaan mereka saat ini. “Gue bukan milik siapa-siapa sampai gue sendiri yang mutusin mau dimiliki siapa…”

Arya terdiam. Namun dalam hati dia sudah terlanjur mengangap Dewa egois dalam berhubungan. Bagaimana kalau ada seseorang yang benar-benar mencintai dan ingin memilikinya sedangkan Dewa sendiri menjalin hubungan hanya sekedar untuk senang-senang karena menurutnya dia belum ingin dimiliki? Itu egois, kan? Ren mungkin sungguhan cinta dan ingin dirinya dengan Dewa saling memiliki satu sama lain, tapi Dewanya malah tidak demikian. Itu jahat, kan? Arya mulai mempertanyakan kembali, apakah dia sungguhan mengagumi sosok Dewa? Mungkin iya, fisik Dewa. Sedang pribadinya… Arya kini mulai ragu.

“Jadi, apa yang diperbuat Ren?”

“Gak ada.”

Fine. Gue bisa cari tahu sendiri, dan gue gak bisa jamin itu bakal baik-baik saja buat dia.”

“Maksud loe?”

“Kalau loe gak mau cerita, gue bisa bogemin Ren sampe dia mau ngaku. Pertanyaannya sekarang, apa loe mau gue bogemin Ren?” pancing Dewa.

“Loe benar-benar sialan.”

“hati-hati, orang sialan inilah yang loe datangi saat loe buntu tadi pagi…”

***

Dewa tidak tahu apakah Ren sungguhan menangis atau hanya akting saja agar supaya dia percaya semua pembelaan yang dikatakannya. Tapi terlepas apakah Ren hanya berakting atau tidak, Dewa sudah muak dengan sikap Ren. Menurut Dewa, tindakan Ren yang memanipulasi akun BBMnya demi agar bisa melabrak Arya adalah tindakan paling tidak bijaksana yang pernah dilakukan Ren. Lebih buruk dari sekedar menggunting-gunting bajunya, atau memecahkan bingkai-bingkai fotonya tempo hari. Dan tadi saat membuka pintu depan, sebuah vas menyambutnya, tepat menghantam dadanya, masih sakit sampai sekarang. Lemparan Ren boleh juga.

“Gue gak tahu harus bersikap gimana lagi, Ren.” Dewa menghempaskan diri di sofa, kelelahan setelah adu mulut dengan Ren. “Gue pikir sejak awal gue udah bikin loe yakin dan mengerti kalau apa yang kita lakukan hanya sebatas saling memenuhi kebutuhan biologis, bukannya terlibat lebih dari itu hingga merasa berhak penuh atas salah seorang dari kita. Gue bukan milik loe, Ren. Gue masih sebebas sebelum loe mutusin mau naik ke tempat tidur gue…”

“Bagaimana kalau aku yang selingkuh!” teriak Ren tiba-tiba. “Apa loe gak bakal apa-apa, hah?”

Dewa berpikir sejenak. “Kurasa gue bakal baik-baik saja.”

“Bohong!”

“Coba saja kalau gitu.”

“Loe bisa ngomong gitu sekarang karena memang loe sudah ketemu yang lain, kan? Karena loe yang selingkuh!”

“Okey. Cukup.” Dewa bangun dari sofa. “Kita harus mengakhiri ini, Ren. Hubungan ini sudah tidak sehat lagi.”

“Gue gak mau!”

“Why?”

“Karena gue cinta sama loe, Bangsat!”

Dewa menggeleng. “Itu gak benar. Loe hanya terobsesi dengan fisik gue, dengan selangkangan gue. Dan kita sama-sama tahu itu bukan cinta, tapi nafsu.”

Ren kembali menangis.

Dewa sudah memutuskan kalau tangis Ren hanya settingan. “Loe masih boleh tinggal di sini selama yang loe mau. Tapi maaf, kita gak bisa berbagi ranjang lagi, bahkan kamar.”

“Jadi buat apa gue di sini, hah?”

Exactly!” seru Dewa. “Mengapa tidak pergi saja, kan?”

“I hate you!” Gigi Ren bergemelutuk.

“See? Tadi loe bilang cinta, sekarang bilang benci.” Dewa terkekeh. “Loe dan gue masih sama-sama harus belajar banyak tentang cinta sebelum memakai kata itu dalam kehidupan sehari-hari, Ren.” Dewa mengabaikan ekspresi murka di wajah Ren. “Goodnite.” Dewa bergerak ke kamar. “Oh, satu lagi.” Dewa berbalik. “Mulai malam ini gue yang tidur di kamar gue sendiri. Loe silakan cari kamar lain, atau loe bisa tidur di sofa itu. Jangan kuatir, gue gak bakal coliin loe sementara loe tidur di sana kok.”

***

“Bagaimana?” tanya Rauf saat Arya keluar dari bilik ATM dengan wajah kuyu.

“Diblokir.”

“Congratulation,” lirih Rauf. “Selamat datang ke dunia orphan.

Arya mengabaikan sosok Rauf yang bersandar di dinding. Pikirannya sedang berkejaran. Tadi dua jenis kartu kreditnya tidak bisa dipakai, Rauf berbaik hati membayari troli belanjaannya yang disesaki produk-produk perawatan diri semisal deodorant, cologne dan sebagainya, serta beberapa boks celana dalam. Kalau Rauf tidak menyodorkan kartu debetnya tadi pada kasir, Arya pasti sudah menanggung malu luar biasa saat ini. Arya sudah bilang pada Rauf akan mengganti uangnya yang direspon Rauf dengan diam saja. Baru semalam mengenal Rauf, Arya sudah merasa familiar dengan sikap diam pria itu yang kerap digunakannya untuk menanggapi sesuatu. Kini, satu-satunya kartu ATM yang Arya punya juga tidak bisa digunakan. Papanya rupanya serius dengan ucapannya.

‘Fine. Kalian mau bertarung, jadi mari kita bertarung!’

Arya merogoh dompetnya, mengumpulkan semua kartu yang dia miliki lalu dipatahkannya. Rauf hanya melihat saja sementara Arya menggila. Setelah berhasil membuat kartu ATMnya, kartu kreditnya, dan kartu tanda mahasiswanya terkutung-kutung, Arya menoleh pada Rauf. “Bisa tolong antarkan gue ke kantor pos?”

“Ini hari minggu, Dude.” Rauf sudah paham apa yang bakal dilakukan anak itu.

Shit.”

“Loe bisa pakai jasa kurir. Ada dimana-mana.”

Tentu saja. Mengapa Arya bisa lupa? “Bisa bantu gue nemuin kurir?”

Rauf merogoh hapenya, lalu menatap tangan Arya. “Itu saja? Gak mau nambah dengan SIM dan STNK? Atau… loe beli kedaraan pakai uang sendiri?”

Arya terdiam.

Rauf memencet-mencet layar hapenya. “Kapan motor loe selesai direparasi Dewa?” Saat bertanya ini, Rauf berdoa agar Arya tidak berpikir terlalu jauh hingga merasa tersinggung. Rauf tidak mau Arya punya pikiran kalau dia  bertanya begitu karena merasa keberatan menyupiri cowok itu. Rauf sama sekali tidak keberatan.

“Itu motor bonyok gue.”

Sepertinya Arya tidak berpikir terlalu jauh. Rauf diam-diam merasa lega karenanya. “Oh, bukan motor loe?”

Semalam Rauf pulang jam delapan lewat dengan menu makan malam yang dibungkuskan. Arya menyesal menceritakan kronologi kecelakaannya pada Rauf saat mereka makan malam di apartemen pria itu. Rauf boleh punya sifat kalem dan tenang nan misterius, tapi ucapan-ucapannya sejauh ini selalu jauh dari kesan bercanda──kalau tak mau disebut bernada sindiran. Semalam di sela-sela kegiatan makan malam, Rauf sempat berujar kalau sebenarnya dia tidak pernah membawa pulang menu makannya ke apartemen lalu dilanjutkan dengan ucapan kalau selalu ada pertama kali untuk setiap hal. Itu jelas membuat Arya tidak nyaman sepanjang agenda makan malam mereka. Sekarang, Rauf menyinggung masalah kepemilikan motornya juga dengan nada yang jauh dari kesan bercanda. Atau… sebenarnya justru begitulah cara Rauf bercanda? Entahlah, Arya baru kenal pria itu sehari.

“Menurut loe, apa seharusnya gue juga ngirimin STNK?”

“STNK saja tanpa motor sama sekali gak berarti apa-apa. Keduanya saling terkait, kan?” Rauf menempelkan hape ke kuping. “Ada paket,” katanya membuka percakapan telpon. “Gue tiba di apartemen satu atau dua jam lagi, tergantung jalanan.” Rauf memandang Arya, hape masih di telinga. “Surat-surat yang tadinya berharga… tidak, bukan surat tanah. Sebenarnya, bukan surat-surat sama sekali… sorry…” Rauf melirik dua orang cewek yang melintas di depannya untuk kemudian masuk ke bilik ATM. Yang dilakukan Rauf, melirik cewek-cewek itu, tak luput dari perhatian Arya. Reaksi cewek-cewek itu saat menyadari bahwa Rauf melirik mereka juga tak luput dari perhatian Arya. “Hanya beberapa potongan kartu-kartu. Okey, sampai ketemu.” Rauf menutup panggilan. Matanya masih memerhatikan bilik ATM.

“Saat gue sendirian di apartemen loe kemarin sore, gue make kotak emergency di dapur loe. Sorry, baru bilang sekarang, gue lupa.” Arya tidak mengerti jalan pikirannya sendiri saat ini. Mengapa pula dia merasa perlu mengalihkan perhatian Rauf dari memandang bilik ATM? Untuk menyelamatkan Rauf dari ‘buang-buang waktu’ bersama orang gak jelas? Atau untuk menyenangkan perasaannya sendiri?

Rauf kini melirik jamnya. Saat yang dikatakan Arya itu adalah ketika dia keluar untuk mengambil mobilnya yang ditinggalkan di parkiran ABClub. Gara-gara Arya menyinggung itu, Rauf kembali diingatkan momen tidak mengenakkan ketika dirinya berpapasan dengan ex-bandnya di parkiran ABClub. Rauf hendak pergi sementara mereka baru tiba. Rauf masih ingat tatapan bermusuhan mereka kemarin sebelum dia melenyapkan dirinya ke jok mobil. Dan hal itu bagaimanapun kini telah berhasil mengganggu moodnya. “Loe juga make kamar mandi dan sofa dan lantai apartemen gue, kenapa gak ngasih tahu itu sekalian?” Rauf berkata tanpa memandang Arya, dia sedang memisahkan kunci pintu apartemennya dari kunci lain di rentengan.

Arya kini jadi tahu kalau Rauf sebenarnya lumayan menyebalkan.

“Loe bisa pulang sendirian, kan?” tanya Rauf sambil menyodorkan kunci apartemen ke Arya. “Kurirnya datang dua jam lagi. Tenang saja, gue sering make jasa dia. Loe tinggal ngasih aja paketnya dengan alamat yang jelas ke dia.”

Arya mengambil kunci yang disodorkan Rauf dan kembali menemukan pria itu melirik ke bilik ATM. Sadar kalau percakapan mereka sudah selesai dan tak ada lagi yang bisa dia perbuat, Arya memungut kantong belanjaannya dari lantai mall dan berbalik pergi.

“Hei!”

Arya berbalik saat sudah berjalan beberapa langkah. Dilihatnya Rauf sedang bergerak menujunya. “Loe punya ongkos taksi?”

Arya tidak pernah merasa setidak berdaya dan sesial sekarang dalam hal finansial. Dewa benar, kabur dari rumah tidak sesimpel yang terjadi di film.

Mendapati Arya hanya diam, Rauf merogoh dompetnya lalu memasukkan tiga lembar uang seratus ribu ke tangan Arya. “Buat jaga-jaga kalau-kalau nanti gue pulang larut, loe bisa order pizza atau semacamnya buat makan malam.”

Arya menatap Rauf. Untuk sejenak mereka saling berdiri berhadap-hadapan dan saling memandang sampai akhirnya Arya berhasil buka mulut. “Nanti kalau gue udah dapat kerja pasti gue ganti.”

“Gue harap secepatnya.”

Arya merasa begitu miskin, kepalanya tertunduk dengan sendirinya.

Rauf berdeham begitu sadar kalau ucapannya menyinggung Arya. “Maksud gue, secepatnya dapat kerja.”

“Ya, gue tahu.”

“Okey. Gue cabut dulu.” Rauf berbalik, tentu saja hendak ke bilik ATM di mana dua cewek itu masih betah berada di sana seperti sengaja menunggu. Arya sangat tahu situasi semacam itu. Tiba-tiba Rauf berhenti dan berbalik. “Oh, loe gak perlu bayar ke kurir. Tagihannya langsung masuk tagihan gue.”

***

Dewa sedang menemani Audrey berbelanja. Tidak seperti Ren yang ngamuk-ngamuk tidak terima penjelasan apapun, Audrey justru lebih kalem dan mudah diyakinkan.

“Kak Dewa ada urusan keluarga yang gak bisa diganggu, Dree. Oma sedang sakit dan ingin ditemani semua cucunya. Kamu bisa paham, kan?” kata Dewa saat datang ke kontrakan Audrey pagi tadi. Jelas itu adalah sebuah kebohongan. Tapi menurut dewa, siapa peduli? Audrey cuma ingin seks darinya, dan begitu juga Dewa. Hubungan yang dibangunnya bersama Audrey tidak butuh kejujuran untuk pondasinya. Toh dia tak akan mengambil Audrey jadi istri bila kelak harus berkeluarga.

Hanya dengan penjelasan begitu saja, Audrey langsung menarik Dewa ke kamar dan lalu melucuti pakaian Dewa sebelum meminta pria itu tidur terlentang. Dewa menghabiskan setengah jam tidur tanpa pakaian dengan posisi demikian di atas ranjang sementara si pemilik ranjang menunggangi kejantanannya dengan cara yang tak pernah gagal membuat Dewa melenguh-lenguh sampai harus orgasme di dalam kondomnya kali ini. Dan kemampuan Audrey yang itulah yang membuat Dewa harus berpikir banyak kali kalau mau mengakhiri simbiosis mutualismenya dengan gadis itu.

Gadis itu, Audrey, menurut Dewa tak ubahnya bagai ensiklopedi seks hetero yang tak ada habisnya. Selalu ada yang beda setiap kali dia dan Audrey bercinta, selalu ada sentuhan baru walau sekecil apapun. Audrey meminta Dewa menggesekkan penisnya di antara jepitan dadanya hari ini dan menyuruh Dewa push up sementara dia berbaring dengan kaki terbuka di bawah badan Dewa di hari lain, Audrey menumpahkan es krim di sekitar selangkangan Dewa lalu menjilatinya sampai tak bersisa pada satu ketika dan mengajak Dewa bercinta di kursi makan yang sempit sambil berbagi puding di antara mulut mereka di lain ketika. Audrey seakan paham cara untuk mempertahankan pria seperti Dewa yang tentu saja banyak diincar di luar sana. Kalau dia masih ingin memiliki Dewa lebih lama, maka dia harus mampu membuat Dewa tetap mendatanginya. Eksperimen seks bisa jadi salah satu cara mempertahankan Dewa. Dan sejauh ini terbukti berhasil.

“Apa malam nanti Kak Dewa menginap?” tanya Audrey di sela-sela memilih barang belanjaannya.

Seorang pramuniaga sedang bekerja menyusun barang-barang di lorong yang dia dan Audrey lalui. Melihat pramuniaga itu bekerja, Dewa mendadak ingat Arya. Dia masih belum punya ide tentang pekerjaan apa yang tepat untuk Arya. Mungkin Dewa harus mengontak papanya, dan papanya akan mengontak teman-temannya, pasti ada pekerjaan yang bagus untuk Arya kalau papanya sudah turun tangan. Tapi omong-omong, apa kabarnya anak itu hari ini? Apa Rauf ingat untuk memberinya makan?

“Kak?” Audrey berbalik menghadap trolinya yang sedang didorong Dewa.

“Oh, iya… Kak Dewa lihat dulu nanti, Dree. Kalau tidak ada urusan mendadak, sepertinya bisa.”

Audrey tersenyum lebar. “Jadi, stroberi apa coklat?”

“Apanya?”

“Rasa kondom untuk nanti malam. Kak Dewa mau yang mana?”

“Yang rasain, kan, kamu, Dree. Terserah kamu mau rasa apa.”

***

‘Kartu-kartunya dikembalikan. Maaf, patah saat dipakai buat alas tidur di trotoar semalam.

‘STNKnya juga dikembalikan. Motornya silakan TUAN BESAR atau NYONYA BESAR ambil sendiri di Bengkel Z, secepatnya. Kalau tidak secepatnya,  takutnya nanti keburu terjual. TUAN BESAR dan NYONYA BESAR gak mau, kan, kalau sampai terjual? Gak mau, kan, nanti uang hasil jual motornya yang banyak itu malah terpakai habis buat bertahan hidup ORANG ASING?

‘Terus, ada baiknya TUAN BESAR dan NYONYA BESAR ke Kampus Ye Aksen. Bawa saja Kartu Tanda Mahasiswa yang kebetulan juga patah ini. Bukan apa-apa, takutnya nanti TUAN BESAR dan NYONYA BESAR kesulitan ingat atau kesulitan nyebut nama yang ada di kartu itu, tinggal sodorin kartunya langsung. Katakan ke orang di Kampus Ye Aksen, si pemilik kartu patah ini tidak akan kuliah lagi di sana.

‘Oh, hampir lupa, padahal ini tujuan utamanya. Kalau TUAN BESAR dan NYONYA BESAR kebetulan sedang tidak sibuk meeting, titip peluk dan cium buat Ayas, PELUK dan CIUM betulan. Kalau TUAN BESAR dan NYONYA BESAR gak tahu Ayas yang mana, itu dia bocah paling manis di seluruh dunia yang kebetulan ketiban sial tinggal di rumah TUAN BESAR dan NYONYA BESAR. Kalau masih gak tahu juga yang mana, coba TUAN BESAR dan NYONYA BESAR tanya BIK EUIS, beliau gak mungkin gak tahu Ayas yang mana. Kenapa? Tentu saja karena BIK EUIS lebih kenal Ayas ketimbang papa dan mamanya sendiri. Kalau gak kenal juga sama BIK EUIS, nih ya, BIK EUIS itu orang yang TUAN BESAR dan NYONYA BESAR paksakan tanggung jawab dan tugas yang sebenarnya tugas dan tanggung jawab itu milik TUAN BESAR dan NYONYA BESAR sendiri…’

= ORANG ASING =

 

Arya melipat kertas yang baru saja ditulisinya dengan perasaan marah campur puas itu dan lalu dimasukkannya bersama potongan-potongan kartu dan STNK motor dalam amplop coklat. Dia melirik jam bandul besar di ruang tamu apartemen Rauf, seharusnya kurir itu sudah datang sekarang.

Sembari menunggu, Arya mengeluarkan hapenya, membuka menu pesan dan mengetik sebuah pesan singkat ke nomor Dewa yang sudah dibuka blokirannya kemarin. Arya belum bertukar kontak instant message lagi dengan Dewa, mungkin nanti saat mereka bertemu. Saat ini dia harus puas dengan pesan singkat saja tanpa bisa memandang photo profil Dewa.

[Gue udah bilang ke bonyok kalau motor gue ada di bengkel loe. Kalau ada yang ngambil besok atau lusa, kasih aja. itu orang suruhan Papa atau Mama gue. Gak perlu nanya ini itu pada siapapun nanti yang ngambil, gak perlu jawab apa-apa juga kalau misal yang ngambil nanya macam-macam. Cuma kasih aja motornya. Trims]

Well, ternyata pesan singkatnya sama sekali tidak singkat.

Terkirim. Arya menunggu pesannya berbalas, tapi hingga pintu apartemen Rauf diketuk orang dari luar, Dewa belum juga membalas pesannya. Arya mengambil amplop di meja tamu Rauf lalu bergerak ke pintu.

***

Dewa menemukan pesan Arya terselip di antara banyak pesan dari Ren. dia sedang ada di kontrakan Audrey. Untuk berjaga-jaga, dihapusnya semua pesan dari Ren tanpa dibaca lebih dulu lalu dibukanya pesan Arya. Sial, pesan ini sudah ada di hapenya sejak tadi siang. Gara-gara bejibun pesan dari Ren yang menggempur setiap celah untuk masuk ke hape Dewa, mulai dari aplikasi instant message sampai ke moda SMS yang sudah ditinggalkan banyak pengguna hape pintar zaman sekarang, jadinya pesan Arya harus tertimbun demikian rupa.

Dewa membuka pesan itu dan membacanya. Diliriknya jam tangannya yang mahal, sudah terlalu larut untuk menelepon. Tapi, dia benar-benar butuh tahu tentang Arya. Mendadak Dewa jadi tidak tenang.

Audrey masih di kamar mandi, ke sanalah Dewa beranjak. “Dree…,” Panggil Dewa sambil mengetuk pintu kamar mandi. Audrey menjawab dengan gumam. “Kak Dewa sepertinya gak jadi menginap…”

Tiga detik kemudian Audrey muncul di pintu kamar mandi, wajahnya penuh busa facial foam malamnya. “Kenapa?”

“Kak Dewa baru dapat telepon, Kondisi Oma ngedrop lagi,” bohong Dewa sambil mengangkat hapenya untuk menegaskan kalimatnya.

Di balik busa facial foam-nya, ekspresi Audrey terlihat khawatir. Entah sungguhan entah dibuat-buat.

“Kak Dewa harus segera pulang. Kamu gak apa-apa, kan?”

Audrey mengangguk. “Iya, gak apa-apa, Kak. Semoga Omanya baik-baik saja.”

Dewa mengangguk, mengucapkan selamat malam pada teman ngeseknya itu lalu segera beranjak pergi.

***

Rauf sampai di apartemen dua puluh menit melewati jam dua belas malam. Lampu utama sudah padam, penerangan temaram di apartemennya berasal dari lampu merkuri yang mencuat dari salah satu sudut dinding ruang tamu. Biasanya lampu itu juga selalu dipadamkan Rauf kalau dia hendak tidur, tapi sudah dua malam ini dibiarkan menyala karena Arya tidur di sana.

Rauf mengunci pintu tanpa menimbulkan suara lalu bergerak masuk. Dia melewati ruang tamu dan langsung menuju kamar. Saat hendak membuka pintu kamar, pikirannya terusik sesuatu. Urung masuk ke kamar, Rauf membawa kakinya ke ruang makan yang menyatu dengan dapur. Dia harus memeriksa sesuatu lebih dulu sebelum memutuskan untuk tidur.

Rauf menekan saklar, dapur dan ruang makan berubah terang benderang. Yang pertama kali diperiksanya adalah keadaan meja makan. Bersih, tak ada bekas sisa-sisa makanan semisal remah pizza atau apapun yang tercecer di atasnya. Cangkir-cangkir masih terletak di tempatnya, juga beberapa piring yang dia punya. Rauf memerhatikan keadaan dispensernya dan tidak menemukan perbedaan permukaan air dalam gallon dengan yang sempat diingatnya pagi tadi. Apa Arya makan malam di luar apartemen? Pergi dengan apa? Taksi? Apa uangnya cukup untuk membayar taksi tiga kali dan membayar makan malamnya? Rauf ragu. Apa Arya pergi jalan kaki? Bisa jadi, fisiknya yang besar dan bugar cukup menjanjikan untuk melakukan hal itu. Namun Rauf masih ragu.

Ujung mata Rauf menangkap tong sampah stainless di sudut dapur, dia bergerak ke sana dan menginjak pedal tong sampah itu hingga penutupnya terbuka. Rauf merasa lega sendiri menemukan kotak pizza penyok di dalam tong. Setidaknya perasaan bersalah yang dari siang tadi dirasakannya──bahkan masih tetap dirasakannya ketika penisnya dioral dua cewek yang dikenalnya di depan ATM mall──karena meninggalkan Arya untuk pulang sendiri sekarang agak sedikit berkurang dengan ditemukannya kotak pizza penyok itu.

Rauf mematikan lampu dan bergerak ke kamar. Setelah melepas semua pakaiannya dan meninggalkan boxer super pendek dan ketat yang mana adalah celana dalamnya, Rauf menghempaskan diri di ranjang. Namun dia hanya bertahan lima menit di sana. Pikirannya terusik lagi. Rauf bangun dari ranjang, membuka lemarinya yang besar, mengeluarkan satu selimut dari dalamnya lalu keluar kamar.

Arya tidur menelentang di satu-satunya sofa yang bisa menampung posturnya──dua sofa lainnya lebih kecil dan lebih sempit. Dia bersidekap dada, kepalanya diganjal lengan sofa yang lumayan tinggi. Kalau Rauf yang tidur di situ, esok pagi lehernya pasti kaku. Arya masih berpakaian lengkap, kaos dan celana pendek. Suhu pendingin ruangan pasti tetap terasa dingin meski Arya tidur dengan pakaian lengkap. Buktinya, dia tidur sambil memeluk diri.

Rauf fokus ke wajah Arya. Pikirannya mulai berjalan. Rauf hanya tahu kalau Arya kabur dari rumah dan sedikit cerita tentang kecelakaan motor yang dialaminya. Rauf sama sekali tak punya ide tentang mengapa Arya sampai meninggalkan rumah, masalah apa yang dia punya hingga harus melakukan itu. Dewa tidak cerita apa-apa, dan Arya sepertinya tak akan cerita padanya.

Arya menggumam, posisi kepalanya sedikit berubah.

Rauf tidak pernah kabur dari rumah. keluarganya terbilang cukup solid. Bukan tipe harmonis sempurna memang, tapi, dia yakin bisa mengatakan dengan pasti kalau misal ditanyai, bahwa semua anggota keluarganya saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Rauf dekat dengan kakak perempuannya, juga sangat dekat dengan kakak laki-lakinya, Rauf juga tak pernah punya konflik berarti dengan papa dan mamanya. Namun Arya sepertinya tidak begitu. Di rumahnya, pasti ada masalah serius yang melibatkan dirinya hingga mengharuskannya untuk pergi. Rauf tidak tahu siapa yang salah, orang di rumah Arya kah, atau justru Arya sendiri. Namun, memilih meninggalkan rumah dengan cara tidak baik-baik, dengan kehendak sendiri atau kehendak orang lain, tetap saja adalah keputusan berat dan sulit yang membutuhkan tidak hanya keberanian, tapi juga KEBERANIAN, dengan huruf besar.

Berdiri sambil memandangi Arya tidur sekarang, Rauf tidak tahu apakah harus salut atau kasihan pada cowok itu. Mungkin dia memang harus salut, Arya berani mengambil keputusan untuk pergi dari rumah, terlepas itu kehendaknya sendiri atau dipaksa pergi. Tidak semua orang berani berbuat demikian, kan? Tapi, Rauf juga pantas merasa kasihan. Arya masih muda, siapapun bisa menaksir kalau usianya belum delapan belas. Tanpa uang, tanpa fasilitas, tanpa pekerjaan, mungkin bisa jadi dia bertemu Dewa pun secara tak terencana. Rauf ingat saat Dewa tampak tidak yakin ketika mengenalkan Arya sebagai ‘teman’. Saat dia berpikir Arya bukan selingkuhan Dewa, Rauf juga percaya kalau mereka belum berteman lama. Jadi, tanpa uang, tanpa fasilitas, tanpa pekerjaan, bisa jadi juga tanpa teman sejati, Arya tetap berani meninggalkan rumah. Dikarenakan itu semua, Rauf pantas merasa kasihan pada Arya.

Arya menggumam lagi, kini posisinya bergelung menyamping di atas sofa, dan tangannya masih bersidekap dada. Lehernya makin tertekuk.

Rauf menunggu sampai Arya bernapas tenang lalu dihamparkannya selimut ke atas sosok cowok itu. Saat Arya sudah berselimut, ada kelegaan yang timbul dalam diri Rauf. Setelah berdiri memerhatikan Arya yang sudah berselimut beberapa saat, Rauf bergerak kembali ke kamar. Diambilnya satu bantal miliknya dan dibawa keluar.

Rauf tak yakin tidak akan membangunkan Arya kalau dia mengangkat kepala anak itu dan memasukkan bantal ke bawah lehernya. Tapi Rauf harus melakukan itu. Jadi, dia berlutut di dekat Arya, merundukkan badannya lalu perlahan tangan kanannya menyusup ke bawah leher Arya, mencengkeramnya lembut lalu diangkatnya perlahan. Arya kembali menggumam dan Rauf merasakan debaran dadanya berubah cepat ketika puncak hidung Arya bersentuhan dengan kulit dadanya. Pasti karena dia takut Arya terbangun, bukan karena hal lain. Rauf meyakinkan diri.

Bantal berhasil ditempatkan di bawah leher Arya tanpa membuatnya terjaga. Sekali lagi, Rauf merasakan kelegaan aneh di dalam dirinya. Dia masih berlutut di dekat sofa Arya untuk beberapa ketika sampai ketukan halus terdengar di pintunya.

Rauf mengernyit menatap pintu. Dia tidak pernah menerima tamu tengah-tengah malam buta begini. Bahkan, sebelum kedatangan Arya, Rauf belum pernah menerima tamu sama sekali di apartemennya. Satu-satunya orang  yang datang ke apartemennya adalah kurir, itupun saat dia sedang butuh memaketkan sesuatu untuk keluarga kakaknya atau untuk mamanya, dan tidak pernah malam-malam buta begini. Mau tidak mau, Rauf harus terima kalau ritme kehidupan di apartemennya berubah sejak kehadiran Arya. Sebentar, sebenarnya perubahan itu diawali dengan kehadiran Dewa. Jadi, kalau harus ada yang disalahkan, Dewa-lah orangnya.

Ketukan di pintu kembali terdengar.

Rauf beranjak dari dekat sofa Arya tanpa suara dan mendekat ke pintu. Dia berdeham satu kali. “Siapa?” tanyanya pelan.

“Gue.”

Rauf memang belum lama kenal Dewa hingga bisa mengenali suaranya tanpa melihat sosoknya. Tapi siapa lagi yang bakal datang ke apartemennya dini hari begini kalau bukan Dewa?

“Dewa?” Tetap saja Rauf perlu memastikan.

“Suara loe terdengar antusias, loe kangen gue?”

Sah. Itu Dewa yang di luar pintunya.

Sorry, gue datang malam-malam gini,” kata Dewa saat Rauf sudah membukakan pintu. “Dia sudah tidur, kan?”

Rauf mengunci kembali pintu setelah Dewa sudah di dalam. “Ini sudah pagi,” ujar Rauf sambil mengikuti Dewa yang berjalan ke arah sofa. “Dia sudah tidur sejak lama. Gue baru aja pulang.”

Dewa berhenti di dekat sofa, memandangi Arya yang mendengkur halus. Dilihat dari selimut bagus dan bantal empuk yang digunakan Arya, Dewa menyimpulkan kalau Rauf sepertinya memang tuan rumah yang baik.

“Loe datang larut-larut gini cuma buat ngeliat dia tidur?”

Dewa mengalihkan perhatian ke sosok Rauf, memindai pria itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Apa loe cuma pakai sempak?” tanyanya balik.

“Kenapa, loe keberatan?”

“Iya. Bisa tolong lepaskan saja?”

Rauf memilih untuk mengabaikan kalimat Dewa. “Gue mau tidur, besok masuk gym. Kalau loe udah selesai bawa aja kunci pintunya.”

“Trus besok loe keluar lewat mana?”

“Ada sama Arya.”

Rauf beranjak meninggalkan Dewa yang masih berdiri memandangi Arya. Sepanjang langkah menuju ranjangnya, Rauf bertanya-tanya, jika Dewa sampai merasa perlu memeriksa Arya pada jam di mana seharusnya dia sendiri beristirahat, apa itu tandanya kalau Dewa benar-benar peduli pada Arya?

Peduli. Rauf dulu begitu peduli pada Katia. Sangat peduli. Namun tetap saja, kepeduliannya tidak cukup untuk membuat Katia tinggal.

Sekarang, melihat kepedulian yang ditunjukkan Dewa buat seseorang yang pasti disayanginya, Rauf diam-diam berharap kalau kali ini ada kisah yang berakhir baik, tidak seperti kisahnya. Tapi… dari gelagatnya, sepertinya Dewa itu tipe bajingan. Dan Arya… bodoh, Rauf bahkan belum yakin Arya suka laki atau perempuan. Misalkan saja Arya suka laki, dengan Dewa yang jelas-jelas sudah menjalin hubungan di luar sana, apa mereka bisa menemukan bahagia? Atau… rumus hubungan bahagia maho berbeda dengan pasangan straight? Rauf sudah terlalu jauh berfikir yang bukan urusannya. Jadi dia mengistirahatkan otaknya dan bergelung di bawah bed cover.

*

Dewa mencium Arya.

Ciuman sepihak itu berlangsung cukup lama untuk membuat kejantanan Dewa bereaksi. Sebelum lupa diri dan nekat melakukan perkosaan terhadap Arya, Dewa menjauhkan bibirnya dari mulut Arya yang sedikit terbuka lalu bangkit berdiri. Dengkur halus Arya masih terdengar, sementara detak jantung Dewa juga kian menggenderang. Masih berdiri sambil memandangi Arya, Dewa menyentuh bibirnya sendiri lalu tersenyum. Lembut tekstur bibir Arya masih tersisa di bibirnya. Semakin jauh membayangkan dirinya yang baru saja berciuman dengan Arya, jins Dewa terasa makin sesak khusunya di bagian selangkangannya.

Dewa melirik pintu kamar Rauf yang terlihat jelas dari tempatnya berdiri dan bertanya-tanya sendiri. Jika dia membuka kancing-kancing jinsnya, duduk di sofa, mengeluarkan penisnya yang sudah tegang, lalu coli sambil memandangi wajah Arya dan membayangkan sedang dioral cowok itu, apakah aman?

Sepertinya makin lama Dewa berada di dekat Arya, pikirannya makin gila. Tapi sepertinya juga sekarang sudah terlambat bagi Dewa untuk kembali kepada kewarasannya.

“Persetan!”

Dewa mendudukkan diri di atas sofa di seberang sofa Arya, membuka kancing jinsnya, menggenggam keluar batang zakarnya dan lalu bersandar untuk memulai pekerjaan lelakinya.

***

= TO BE CONTINUED =

Note :

Kali ini gue baik hati, menggalnya pas tanda bintang tiga (***), pas di ‘putus’ bagian. Pertimbangan gue, biar nanti kalau gak posting lanjutannya dalam waktu lama, gue cuma tinggal bilang “Kan ceritanya udah putus tuh!” :p

Mid Oktober 2016

Dariku yang sederhana

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com