download

Brian dan Key

By : Levi

Lembar Dua

Karena toilet di lantai bawah lagi rusak, aku jadi terpaksa harus pergi ke toilet di lantai dua. Lantai dua ini di dominasi oleh anak-anak kelas satu IPA. Dan aku cuma pernah beberapa kali naik ke sini.

Semua mata anak kelas satu tertuju ke aku—rasanya aku jadi kayak Putri Indonesia deh—pas aku lewat di depan kelas-kelas mereka. Karena sekarang masih jam istirahat, makanya banyak banget orang berlalu-lalang di koridor ini atau cuma sekedar berdiri di dekat pagar semen yang jadi pembatas balkon. Aku mengibaskan rambut hitam aku yang panjang dan berkilau, supaya cowok-cowok pada terpesona dan yang cewek beserta bencong-bencong pada ngiri. Hihihi… duh, kapan lagi coba tebar pesona di depan kandang adek kelas.

“Scuse me, ini Kak Key dari klub taekwondo, kan?” dua orang cewek berkacamata dan berkuncit rambut dengan gaya jadul berdiri di depanku, membuat aku berhenti berjalan. Tuh, kan, apa aku bilang, aku itu juga se-famous Brian kok, buktinya aja ada yang kenal aku.

Aku ketawa cantik dalam hati sambil kibas rambut ke belakang. “Iya,” jawab aku, kemudian  mengambil kuncit rambut bulu-bulu warna pink aku dari saku baju. Dua cewek culun itu yang satu megang hp, yang satunya megang buku sama pena. Oh, gawd! Mereka mau minta foto sama tanda tangan aku pasti. “Kenapa?” tanyaku sambil mulai mengikat rambut hitamku ke belakang. Beberapa cowok terdengar bersiul, aku senyum miring aja.

“Emm…gini Kak, kami boleh minta tolong nggak?” tanya cewek yang lagi meluk buku dan pena di dada.

“Boleh, boleh. Minta tolong apa?” aku bertanya balik dengan ramah.

“Tolong sampein salam kami sama Kak Brian ya, Kak?” kata cewek culun yang megang hape sambil ngasih aku mata puppy eyes-nya yang mirip matanya Gollum.

WHAT!!!

Aku mematung dengan mulut melongo dan mata melotot, juga tangan yang masih berada di belakang kepalaku untuk mengikat rambut. Fucking shit! What she said?

“Iya, kami ngefans banget sama Kak Brian. Tolong ya Kak!” tambah cewek yang megang buku. Dan dua mahkluk biadab itu pergi sambil jalan loncat-loncat kayak aku, memamerkan rambut busuk mereka yang berantakan. Itukan cara aku jalan, slut!

Sabar Key, sabar. Setidaknya lo bisa tahan emosi buat nggak menendang patah leher dua cewek nerd barusan. Atau melempar mereka dari lantai dua ini. Aku mendengus. Ternyata aku nggak se-famous Brian. Ih, aku beneran sedih deh. Mood aku hancur berantakan sekarang.

Aku kembali berjalan pelan menuju toilet. Berusaha ngelupain kejadian tadi. Lagian aku juga harus cepet, kan kasihan Aldo-nya-aku sama Brian kalau harus nungguin aku di kantin kalau aku kelamaan di sini.

Toilet ini sepi, jadi aku langsung aja ke westafel untuk cuci muka. Karena aku tadi dateng telat, makanya penampilan aku nggak seprima biasanya. Aura kecantikan aku aja rasanya hilang-timbul, dan itu membahayakan buat kelangsungan hubungan aku sama Aldo.

Aku mengibaskan air ke mukaku tiga kali kayak di iklan-iklan sabun pembersih muka itu loh. Setelah itu aku mengambil sapu tangan ungu aku dari kantong buat ngeringin mukaku, lalu melihat pantulan muka aku di cermin. “Wow, dengan cuci muka aja muka gue bisa secantik ini,” aku mengedip sekali pada cermin di depanku lalu menciumnya. Aku memang benar-benar cantik. Ya, meski banyak banget yang bilang aku ini imut dan menggemaskan, padahal kan faktanya aku ini cantik.

Aku sama Brian itu emang kembaran sih, dia yang keluar duluan dari perut Ibu, tiga menit setelahnya baru aku keluar dan melihat dunia. Tapi walaupun kami kembar, muka kami nggak mirip-mirip banget kok. Malah beda banget menurut aku.

Brian itu lebih mirip Dad, physically. Dia punya hidung tinggi yang kecil dan lancip mirip Dad punya. Alis matanya yang sewarna dengan rambutnya itu juga panjang dan lebat. Terus matanya sendu-sendu gimana gitu dengan warna violet. Dulu sih,  waktu lahir matanya itu warna biru laut sama kayak Dad, tapi pas umur kami tujuh tahun, aku nggak sengaja nendang muka dia sampai dia jatuh dan kejedot anak tangga paling bawah. Itu bukan salah aku sepenuhnya kok, waktu itu kan kami lagi main putri-putrian, terus dia yang jadi putrinya, aku yang jadi naganya, masa dia mukul kepala aku dengan tongkat peri aku yang bentuknya bintang warna pink itu, terus aku marah dan khilaf nendang dia. Then, dia nangis kayak anak kecil—kami emang anak kecil sih waktu itu. Sedangkan aku cuma diam di tempat sambil tonjok-tonjok Mr. Hare—boneka kelinci aku yang di kasih Tante Adrianne pas aku bayi—dengan kesal dan takut dimarahi Ibu.

Padahal kan dia nggak kenapa-kenapa, tapi Ibu nyalahin aku terus. Besoknya kepala dia benjol segede telur. Aku nggak bisa nahan buat nggak ngakak tiap kali kami ketemu di meja makan. Dan kami diem-dieman satu minggu setelahnya. Huh.

Oh, iya, Brian itu juga punya rambut dark brown—yang kayak Dad lagi. Juga dagu yang terbelah. Dia lebih tinggi dari aku sih, tapi kalau aku udah selesai dengan susu bonetto dan program peninggi badan aku, aku pasti bisa jauh lebih tinggi dari dia dan semua orang di sekolah ini, jadi leher aku nggak sakit lagi kalau liat manusia. Brian juga punya bibir tipis merah muda. Oh, oh, dia juga punya lesung pipi yang kalau dia senyum, tuh lesung bisa ngebuat cewek-cewek dan cowok gay di manapun mimisan ngeliat dia—itu bualan dia waktu kami di pesawat lima bulan yang lalu. Tapi kalau dari sifatnya, Brian itu mirip Ibu, baik, lembut pengertian, suka sesuatu yang romantic dan dramatic banget, cepet ngambek, dan cerewet. Beh, Brian itu ngoceh terus kerjaannya kalau di rumah. Dia bakal ngoceh kalau aku minjem gitar dia, dia bakal ngoceh kalau aku mindahin barang-barang dia di kamarnya, dia bakal ngoceh kalau aku lupa nyuci piring pas selesai makan. Padahal aku aja nggak ngoceh kalau dia minjem brush make-up aku buat ngebersihin keyboard laptop dia, aku juga nggak bakalan ngoceh kok kalau dia masuk ke kamar aku sambil mewek-mewek kalau lagi berantem sama Braga. Dia itu angel berhati devil.

Kalau aku sih, nggak kayak gitu, tapi aku suka kesel kalau orang-orang lebih sering bilang aku imut dan menggemaskan—rasanya pengen aku ajakin kyorugi1 deh mereka. Itu kan cuma gara-gara tinggi aku yang kurang dari seratus enam puluh centi. Kalau aku lebih tinggi lagi aku pasti dibilang cantik, bukan imut. Dulu aku sama Brian pernah ikut kontes kecantikan untuk anak-anak, Brian didandani Ibu persis kayak anak cewek, aku aja masih ada fotonya. Itu aib terbesar buat Brian waktu kecil, jadi jangan kasih tau dia, ya?

Aku nggak menang sih, Brian yang menang dan mengalahkan semua kontestan perempuan di sana. Tapi aku juga dapat penghargaan kok, di kategori bibir paling manis  dan menarik. Iya sih, bibir aku memang kecil, bulat, dan penuh, juga merah muda. Pacar pertama aku aja sampai nangis-nangis pas pertama kali aku cium, dia bahagia banget bisa ngerasain bibir aku yang manis dan seharum stroberi—iya dong, aku kan pakai lib balm yang rasa strawberry sebelum tidur.

Kalau secara fisik Brian itu lebih mirip Dad, aku malah mirip Ibu. Kami punya rambut tebal hitam yang panjang, mata bulat besar dengan warna amber cerah, dan hidung yang nggak terlalu mancung. Dagu aku samaan kayak Brian, sama-sama terbelah. Tapi sifat aku samaan dengan Dad. Kami punya jiwa adventure, suka nyoba hal-hal baru dan gila, juga nggak ada takut-takutnya. Kami aja sering pergi mancing bareng di pemancingan umum Rottstock kalau lagi berkunjung ke rumah Tante Adrianne di Brandenburg, Brian kadang ikut, tapi cuma duduk-duduk aja di bawah pohon yang ada di pinggir danau atau pergi makan ikan di Imbiß2. Oh, dan aku Juga pantang menyerah kayak Dad. Beneran deh, kalau aku nggak pantang menyerah, aku pasti udah berhenti ngejar-ngejar Aldo-nya-aku.

Beside that, aku itu kadang suka lupa dengan sikap feminin aku dan ngebiarin ketomboy-an aku merajalela di diri aku—apalagi kalau aku lagi berantem. Itu makanya, sejak aku jatuh cinta sama Aldo-nya-aku, aku berusaha sekuat mungkin supaya nggak memperlihatkan sisi tomboy aku, karena itu aku udah mulai jarang dateng ke klub taekwondo. Sekarang aja aku udah mulai bantu-bantu Ibu masak, udah sering dateng ke sekolah pake make-up, sudah bisa jalan catwalk  kayak model-model di Asia’s Next Top Model yang sering ditonton Brian itu loh. Ya, meski aku emang masih sering jalan sambil loncat-loncat sih kalau nggak ada Aldo-nya-aku. Nah, beda sama Brian, dia kadang keceplosan ngeluarin aura feminin-nya yang mematikan dan mencemari lingkungan itu. Tapi jarang banget sih, kecuali kalau dia lagi dramatic mode on.

Eh, ngomong-ngomong, gara-gara keasikan ngeliatin muka cantik aku di cermin, aku jadi lupa deh buat makan di kantin. Duh, Brian sama Aldo-nya-aku pasti udah nungguin aku dari tadi. Jadi, aku semprot sekali eau de parfume aku yang Aura by Swarovski dulu. Karena aku mau ketemuan sama Aldo-nya-aku, jadi aku pakai yang botol Love.

Terus aku sisiran bentar supaya lebih cantik. Key, you’re the most beautiful girl in here.

Oh, aku hampir lupa. Hari ini aku belum baca buku 21 Tips Mendapatkan Hati Cowok ala Anak SMA. Jadi, aku memeriksa kantong rok aku, dan ketemu. Ternyata buku kecil itu masih ada di rok aku, untung aku nggak ganti rok hari ini. Aku ngeluarin buku kecil itu, dan mulai membaca tips ke dua puluh. Eh, ternyata aku udah hampir selesai bacanya.

  1. Tampil seanggun mungkin di depan gebetan. Karena 85% cowok—normal—suka dengan cewek yang berpenampilan anggun. Gunakan pakaian serapi dan secantik mungkin untuk memikat hati gebetan. Hindari pemakaian make-up yang berlebihan, dan atur cara berjalan kamu semenarik mungkin.

Oke, meski aku nggak tau kenapa harus ada kata ‘normal’ di sana, tapi aku sudah tampil anggun kok sekarang. Cara jalan aku udah clear, pakaian clear, aura kecantikan clear. Its time to be an elegan woman.

Aku menyimpan kembali buku keramat aku itu ke dalam kantong rok aku. Buku itu aku dapat dari rak teenage di perpus, aku meminjamnya tanpa pakai kartu perpus, tapi akan aku kembalikan kalau udah selesai kok. Juju yang sok tau itu bilang aku maling dari perpus, padahal kan enggak. Aku pasti balikin nanti kalau aku udah selesai dan ngedapetin hati Aldo sayangnya aku. Janji deh.

Setelah aku selesai, aku pergi menuju pintu, tapi aku baru sadar kalau ternyata lantai toilet di sini sudah tergenang air entah sejak kapan. Soalnya aku nggak ingat kalau pas aku masuk tadi sudah ada air yang menggenang di sini. Aku diam dan mencoba fokus, ternyata ada bunyi keran air di salah satu bilik toilet. Duh, siapa sih orang bodoh yang lupa matiin keran air, liat kan sepatu aku jadi basah gini! Huh.

Aku berjalan untuk mencari di mana sumber air ini. Aku menendang satu per satu pintu toilet, tapi kosong. Dan saat aku berada di pintu toilet terakhir, aku menarik napas dalam-dalam sebelum menendangnya.

“Wattaaa…!”

“AAAAAAAAA!!!”

“Eh?” aku berdiri bingung di tempatku sambil menaikkan sebelah alisku. Itu Kristian—maksudku Kristina. Dia lagi duduk di kloset sambil menatapku bingung sekaligus terkejut. Lalu dia kembali menangis sambil kutek-an. Keran air terus menyala mengisi ember kecil di sampingnya. “Kristina, lo kenapa?” aku berjalan mendekati dia dan menutup keran air itu biar airnya nggak ngebanjiri sekolah ini, lalu berjongkok di sampingnya.

Kristina itu sahabat cowoknya Brian di XI IPA 1, itu artinya dia juga temen aku. Dia, Sisy sama my brother Top sering banget main ke rumah dan main sama aku juga. Kristina geleng-geleng kepala dengan masih memakai nail polish di kukunya. Look, look! Kuteknya bisa bikin efek bling-bling kayak bintang gitu!

Kristina masih aja nangis, oh, atau aku kasih tau aja Brian kalau Kristina lagi di sini, ya? Aku mengeluarkan iPhone aku dan mulai mencari nama Brian di daftar kontak. Tapi aku berhenti saat Kristina mulai mengendus-ngendus bau tubuhku kayak anjing pelacak.

“Ini, ini EDP Aura by Swarovski amber and white musk varian, kan? Kamu pake yang botol apa?” tanyanya dengan semangat dan mata yang berbinar-binar.

Aku terpana. Duh, aku kirain cuma aku satu-satunya orang di sekolahan ini yang tau parfum ini. Ternyata dia juga tau, kan aku jadi seneng sekaligus bangga.

“Lo tau juga, ya? Gue pake yang Love.”

“Ya tau dong, aku kan juga pake, aku dikasih Kakak aku yang di Singapura. Romantic is my favorite one.”

“Oh, kalau gue sih pake yang Romantic kalau mau ngedate berdua aja sama Aldo-nya-aku,” jawabku. “Oh, iya, lo ngapain nangis di sini?”

“Aku lagi heartache tau. Huhuhu…” sekarang dia nangis di pundak aku setelah menutup nail polishnya dan menyimpannya di saku celananya.

“Nggak, maksud gue, ngapain lo nangis di sini, hm? Ini kan toilet cewek.”

“Eh?” dia kaget dan kembali duduk tegap sambil melihatku. “Ini toilet cewek, ya?” tanyanya bego. “Nggak apa lah, kan bentar lagi aku juga punya vagina kalau udah lulus nanti.”

Aku memutar bola mataku. “Keluar aja yuk, gue capek jongkok terus.”

“Nggak ah, aku mau di sini aja, meratapi nasib hidup aku yang nelangsa dan menyedihkan,” lalu dia meniup-niup kukunya dan menggeser duduknya agak ke kiri. “Kalau capek, sini, duduk sebelah aku aja. Aku lagi butuh banget temen curhat, supaya beban berat di hati aku terbang melanglang buana menembus angkasa dan cakrawala hingga mentereng di sana kayak kupu-kupu cantik.” Dan aku hanya memberinya poker face.

Aku duduk di sebelahnya, semoga kloset ini nggak pecah. Aku kan harus ngebantuin orang yang punya kesukaan yang sama dengan aku. Lagian dia juga sahabatnya Brian kok. “Jadi, gimana ceritanya lo bisa terdampar di sini?” aku memulai pembicaraan, soalnya dia sibuk niupin kukunya mulu sih.

“Oh iya,” dan dia nangis lagi. Aduh, ini bencong kok drama banget sih. “Gini Key, aku itu kan manusia berhati lembut kayak sutra dan mudah tersentuh. Agak sensitif juga sih. Terus aku jatuh cinta sama gebetan aku. Zetta, kapten futsal yang sexy dan adorable itu loh. Yang kalau dia lari-larian ngejar bola pantatnya yang kenyal-kenyal kayak oky jelly drink itu naik turun, yang tinggi menjulang dan punya dada bidang yang senderanable banget. Ulala.” Kristina berhenti sebentar untuk kembali meniupi kukunya.

Oh, Zetta yang anak kelas X IPA 1 itu, yang mukanya agak kebule-bule-an itu, yang pernah aku aku kasih Dwi huryeo chagi3 sampai pingsan gara-gara nendang bola dan kena kepala aku itu, dan dia lupa minta maaf lagi. Huh. Aku masih dendam sama dia, untung aja waktu itu aku lagi sama Aldo-nya-aku, jadi aku bisa nahan marah aku dan balik jadi feminin lagi. Kalau enggak, beh, mungkin udah masuk UGD tuh bocah.

“Aku udah nembak dia berkali-kali tapi dia belum ngasih jawaban yang pasti ke aku. Terus semalem dia ngajakin aku keluar, aku seneng banget. Aku udah milih dress—maksudnya kemeja—yang bagus banget. Udah berendam dengan bunga mawar hampir tiga jam supaya aroma tubuh aku wangi. Aku bahkan bela-belain nggak ngasih makan malamnya Tobi—Tobi itu kura-kura kesayangan aku—soalnya dia jemput aku cepet banget. Oh, poor Tobi.” Dia sesenggukan gara-gara habis nangis, terus aku ngasih sapu tangan ungu aku buat ngehapus air matanya. Eh, tapi malah dipakenya buat buang ingus, terus dia balikin lagi sapu tangan itu ke aku, dan aku buang ke tempat sampah di belakangku. “Aku kirain kami bakalan candle light dinner di resto mahal sambil diiringi lagu  You’re Beautiful-nya James Blunt dengan biola, lalu semua orang yang ada di sana nyanyiin lagu Marry You-nya Bruno Mars sambil Zetta ngasih aku cincin, dan disaksikan oleh puluhan mata pengunjung dan oleh rembulan serta bintang-bintang di langit. Ulala. Ngebayanginnya aja aku rasanya pengen mimisan.” Dan dia ketawa yang bagi aku kedengaran kayak kodok kejepit.

Actually, aku nggak penasaran sama sekali dengan cerita dia, tapi untuk ngehargai perasaannya yang lagi bersedih, jadi aku putuskan untuk bertanya. “Terus?”

“Ternyata kami nggak candle light dinner, dia ngajak aku buat ngumpul dengan teman-temannya dari klub futsal. Bahkan di sana aku nggak di anggap ada oleh mereka semua, Zetta memperlakukan aku sama kayak temen-temen cowoknya yang lain. Aku sakit. Aku sedih. Jadi aku langsung pulang naik taksi.”

“Aduh, Kristina, lo itu kalo bener-bener cinta sama dia, ya tunjukin dong. Jangan kayak gitu, mudah banget nyerahnya. Selama lo cinta dia dan pengen dapetin dia, lo harus punya hati sekuat baja, nggak lembek kayak gini. Hati lo harus lo relain buat di sakitin berkali-kali sampai orang yang nyakitin lo sadar seberapa kuatnya hati yang lo punya yang lo beri buat dia. So, be strong, be smart, and never ever and ever give up anymore. I believe you’re just as strong as Superman—I mean Wonder Woman.”

“Benarkah?” tanyanya sambil menatapku dengan berbinar-binar.

“Yap,” jawabku mantap. “Jadi,” aku meraba-raba kembali tong sampah kecil di belakangku, setelah menemukan kembali sapu tangan unguku tadi, aku menghapus air mata Kristina di pipinya kiri dan kanan. Aku mengambil tangannya untuk memberikan sapu tangan itu, lalu menggenggamnya sebagai tanda bahwa dia itu kuat. “Jangan pernah menyerah untuk cinta. Karena gue yakin true love is real. Lo juga, kan?”

Kristina mengangguk takzim. “Makasih ya Key. Ternyata kamu lebih dewasa dari Brian, meski keliatannya kamu itu tomboy dan barbar,” aku roll eyes aja untuk perkataannya tadi. “Kamu juga punya hati yang sangat baik. Thanks for everything, my Thinker Belle.”

Aku memberinya senyuman, meski nggak tau apaan itu Thinker Belle. “Yaudah kalo lo nggak sedih lagi, yuk kita keluar. Gue juga mau ke kantin, lo mau ikut?”

“Nggak deh, aku di sini aja. Jari kelingking aku yang kiri kan belum aku kutekin,” kemudian dia merogoh saku celananya dan menemukan nail polish warna hitam itu tadi, lalu melanjutkan kegiatannya sambil menyilangkan kaki dengan gaya centil.

“Oh gitu, ya udah. Bye.”

Bye,” jawabnya. Aku berdiri dan pergi dari bilik toilet ini. Pasti Brian nanti bakal ngoceh-ngoceh gara-gara aku lama banget datengnya, Aldo-nya-aku kan juga kasihan harus nungguin aku. Sorry ya, honey. “Eh, Key?” Kristina memanggilku lagi.

Aku yang baru saja keluar, langsung mundur lagi untuk melihatnya. “Apa?”

“Tutup lagi dong pintunya.”

Aku mendengus kesal dan membanting pintu itu.

-*-

‘Aku ke sana, bentar lagi nyampe.’ 10.17 am. Read.

Setelah selesai mengetik pesan untuk Braga, aku berbelok sambil memasukkan ponselku ke dalam saku bajuku. Tapi aku sangat terkejut ketika tubuhku menabrak seseorang yang juga berbelok dari ujung koridor ini. Aku meraih segala hal secara serampangan.

SRAATT!

Shit!” umpatku, untung saja tangan orang itu berhasil memegangi pinggangku, membuat dadaku dengannya berhimpitan dan menggagalkan pantatku untuk berciuman dengan ubin. Ah, aku kenal bau parfum ini. Tapi saat aku melihat ke tangan kanannya yang sedang melingkar di pinggangku, tiga garis sepanjang lima centi sudah tercetak jelas di sana. Itu pasti cakaran dari kuku-ku saat aku refleks tadi.

Dia melepaskan lengannya yang melingkar di pingganggku, lalu aku berdiri tegak lagi sambil merapikan seragamku yang sedikit berantakan karena insiden barusan. “Fuck. Aw!” dia meringis sambil memegangi bekas cakaranku.

Sorry,” jawabku sambil terus bersikap tenang dan menegakkan kepalaku.

“Kan udah gua bilang, potong kuku lu itu. Sekarang liat, kan?!” mukanya memerah saat memarahiku begini rupa. “Shit! Makanya jalan itu hati-hati, Bule Tolol!”

Darahku sudah mendidih sampai di ubun-ubun. Aku memang salah, dan aku sudah minta maaf, tapi kenapa dia tak pernah berlaku baik kepadaku sekali aja, ha? Kayaknya dia memang punya dendam kesumat denganku. “GUE KAN UDAH MINTA MAAF, TOTAL FUCKING ASSHOLE!” aku meninggikan suaraku sambil berjinjit dan mendekatkan mukaku ke depannya. Aku sudah melupakan etika dan rasa hormatku pada orang gila ini. Dia memang selalu begitu, selalu mencari kesalahanku dan membuatku kesal setiap bertemu. And I hate him so fucking much!

Dia memasang wajah merendahkannya yang sangat kubenci sambil tersenyum miring. “Lu pikir cuma minta maaf lu bisa ngilangin nih luka, ha?”

“Terus lo mau apa?”

“Lo harus jadi pacar gue!”

I’m surprised. I mean, I really-really surpised. Bagaimana bisa cowok bego yang menjabat sebagai ketua Osis ini mengatakan hal se-freak barusan. Oke, kami memang saling membenci di luar kegiatan Osis, kami juga saling mencaci, kami bahkan pernah hampir berantem di ruang Osis hanya karena aku lupa bikin surat permohonan kegiatan. Tapi, ucapannya tadi benar-benar tak masuk akal.

Aku benar-benar membencinya. “FUCK!” umpatku kemudian berlalu melewatinya, tapi dia menarik tanganku sampai aku berbalik dan langsung menciumku. Aku terkejut, lalu menendang selangkannya dengan lututku. Dia melepas ciumannya lalu menunduk sambil memegangi selangkannya yang kuharap isi di dalamnya hancur dan dia harus pergi ke rumah sakit karena itu. Dia itu memang orang gila.

Aku pergi dari sana dan berjalan secepat yang kubisa, mengabaikan sapaan dan teguran beberapa adik kelas dan kakak kelas yang kulewati. Mereka bingung sendiri dan saling berbisik saat aku terus saja berjalan tanpa melirik mereka sekali pun. Tidak seperti biasanya. Karena yang jadi pikiranku sekarang, semoga tadi tak ada orang yang melihat adegan kami. Ya, Tuhan! Aku sudah berciuman dengan orang lain selain Braga. Terkutuklah aku.

Aku terus berjalan hingga sampai di gedung pertemuan. Letaknya yang memang jauh dari kelas membuatku harus berhenti sebentar untuk menarik napas, dan menangkan pikiranku atas kejadian tadi. Gedung pertemuan yang memiliki tiga lantai ini memang jarang di pakai, yang paling sering ke sini sih hanya anak-anak Osis kalau sedang ada rapat besar. Atau gedung ini juga digunakan saat ada pertemuan antar sekolah, atau antar murid, atau antar pihak sekolah dengan orang tua siswa. Selebihnya, gedung ini kosong.

Aku memasuki gedung, lalu segera bergegas menuju tangga dan menaikinya satu per satu sampai berada di lantai tiga. Lalu aku menaiki tangga kayu yang menghubungkan lantai dengan lubang yang sengaja di buat di langit-langit ruangan ini. Setelah aku sampai di pelataran atap gedung yang sangat luas ini, mataku langsung menangkap sosok Braga yang sudah berdiri menghadap kehadiranku. Aku dan Braga memang sangat senang berada di sini. Selain karena di sinilah tempat Braga pertama kali menyatakan cintanya padaku, tempat ini juga tak mungkin di datangi orang lain selain kami berdua. Itu sebabnya di sini jadi spot favoritku dan Braga.

Aku dan Braga berjalan mendekat. Tangan kirinya tesembunyi di balik tubuh tegapnya yang lebih tinggi dariku. Aku tersenyum, itu pasti cincin yang mau dia kasih ke aku itu. Aduh, aku bahagia banget sekarang.

“Hai,” sapanya sambil menaikkan tangan kanannya.

Dan aku membalas sapaannya. “Hai. How’s your study?”

“Ha?” ia memasang tampang begonya yang menggemaskan. Oh, iya aku lupa kalau Braga itu tidak mengerti sama sekali dengan Bahasa Inggris. Padahal kan dia itu jurusan Bahasa. Ah, my stupid lovely Braga.

Aku memberinya tatapan sedih dan bersalah. “Maaf. Maksud aku, gimana tadi belajarnya?”

“Oh, itu. Ya, kayak biasalah, Bu Betti tadi sibuk marah-marah gara-gara gue lupa bawa buku paket matematikanya.” Dan kami berdua tertawa. Tawa yang sangat canggung.

So, apa yang mau kamu kasih ke aku, hm?”

“Oh, aku bakalan kasih, setelah kamu kasih gue hadiah juga. Gimana?”

You try to bargain with me, ha?”

“Gue nggak tau apa yang kamu omongin. Tapi gue yakin jawabannya pasti iya. Dan memang, Iya!”

Mata violetku memutar sekali karena jawaban absurd Braga. Aku berpikir keras apa yang mau aku kasih ke dia. And, I got it!

Aku menjinjit sedikit untuk menciumnya. Ciuman singkat yang tepat kusarangkan di pipi kanannya. Dia membulatkan bibirnya dengan ekspresi senang. “Oke. Sekarang kamu tutup mata dulu.”

Aku menurut dan menutup mataku.

“Dihitunganku. Satu. Dua. tiga. Buka sekarang.”

Aku membuka mataku pelan-pelan. Dan euphoria di diri aku mulai meletup-letup. Kedua tangan Braga sekarang sedang terulur ke depanku, dia memberiku senyumnya yang paling menawan. Dan saat aku melihat kotak cincin yang berwarna putih itu aku kecewa.

Rasanya aku mau menamparnya dan turun dari tempat ini saat ekspetasi aku hancur tepat di ujung kakiku. Itu jelas bukan cincin yang aku mau, dan cincin itu bahkan tak mirip sama sekali dengan cincin yang pernah aku tunjuk di etalase toko perhiasaan di mall tiga hari yang lalu.

Aku kecewa dengannya, bahkan dia tak tau apa yang menjadi inginku. Oh, bahkan cincin putih dengan permata biru itu sudah kotor oleh tanah juga sedikit penyok di beberapa sisi. Sepertinya aku akan menangis sekarang. Dan aku benar-benar menangis sambil menunduk.

“Hei, hei, kenapa?” dia mendekat dan memelukku. “Cincinnya jelek, ya? Ini kan cincin yang kamu mau?” aku diam saja dan terus menangis. “Kamu nggak suka gara-gara cincinnya kotor, ya? Sorry banget, tadi cincinnya jatuh dan nggak sengaja aku injek pas nungguin kamu di sini.” Aku memukul-mukul dadanya sambil terus menangis. Dia benar-benar sudah membuatku sedih seperti ini. “Bri, kalo kamu mau—”

Dengan sekuat tenaga aku melepaskan diri dari pelukannya, lalu berlari dan kembali turun menuju tangga. Braga sama sekali tidak mengejar atau bahkan menahanku. Aku sempat melihat ekspresi bingung dan sedihnya saat akan menuruni tangga kayu itu.

Aku butuh tempat untuk berpikir dan menenangkan diri sekarang.

Bersambung—

 

  • Kyorugi : Pertarungan untuk mengaplikasikan teknik-teknik dalam taekwondo.
  • Imbiß :Warung (Germany).
  • Dwi huryeo chagi :Tendangan berputar melalui belakang (flip back)