Sexy, Naughty, Dirty cover

 

Arya tidak perlu melakukan investigasi mendalam yang komprehensif untuk mengetahui seyakin-yakinnya apakah Dewa maho atau tidak. Momen makan siang mereka dua hari lalu mungkin sudah memberinya sedikit celah dan secuil praduga, tapi belum cukup meyakinkan bila dipakai untuk memvonis orientasi seks Dewa. Tapi, yang terjadi hari ini di parkiran PQRStation bisa dikatakan sebagai hasil pasti dari sebuah investigasi tingkat tinggi tanpa melewati tahap-tahap dan proses investigasi itu sendiri. Ungkapan awamnya, kenyang tanpa harus makan terlebih dahulu.Luar biasa.

“Loe Arya?”

“Iya, apa gue kenal loe?”

“Gue peringatkan loe sebaiknya jauh-jauh dari laki gue!”

Apa yang terjadi?

Well, sudah tertebak sih apa yang terjadi, tapi biar cerita ini lebih utuh, mari kita kembali ke lebih kurang dua belas jam sebelumnya…

.

.

12 HOURS EARLIER…

#Arya’s room…

Nada BBM yang meningkahi erangan samar berjamaah dari speaker mini bervolume kecil mau tak mau membuat Arya meleng juga dari layar laptopnya yang sedang menampilkan adegan tidak senonoh antara dua orang pria kulit putih dengan dua orang pria kulit putih lainnya di dekat batang pohon tumbang di sebuah hutan yang ada entah di mana (wuih, panjang bener ini kalimat). Kenapa adegan yang ditampilkan di layar laptop Arya tidak senonoh? Tentu saja karena film yang sedang ditonton mahasiswa otak mesum itu adalah film porno. Kalau seandainya yang sedang ditonton adalah kartun Dora Eksplorer, pasti yang ditampilkan adalah Dora beserta poninya yang lurus banget itu dan suara yang terdengar bukanlah erangan tetapi seruan PETA, PETA, PETA dan PETA.

(PQRS, jam makan siang besok, ada yang pengen gue omongin. Gak usah chat, sepanjang pagi besok mungkin gue sibuk dan gak sempat bales, langsung ke PQRS aja, kita ketemu di sana)

Seketika gambar penis-penis telanjang bulat di layar laptop jadi tidak penting lagi buat Arya. Ini adalah ajakan kencan kedua dari Dewa setelah tiga hari lalu mereka baru saja makan bersama untuk pertama kalinya yang tetap saja dihitung Arya sebagai kencan pertama──meskipun sebenarnya itu bukan kencan sama sekali.

Arya untuk sejenak terpesona pada gambar profil Dewa yang menampilkan wajah tampannya tanpa cela. Bahkan, dia sama sekali belum menghapus riwayat obrolan mereka meskipun sejauh ini isi obrolan itu hanya hal-hal yang umum dibicarakan orang yang baru kenal. Bukan berarti selama tiga hari ini dia sering chat dengan Dewa, sama sekali tidak sering. Sejauh ini malah baru dua kali, tiga kali dengan sekarang. Benar dia memang sangat ngebet dengan Dewa, tapi Arya masih tahu malu dengan tidak mengirimi mekanik mobil itu chat bertubi-tubi tiga kali sehari seperti bila orang minum obat. Menurut Arya, gak masalah loe itu homo, tapi jadilah homo yang bermartabat dan tidak gampangan. Kenapa? karena yang gampangan itu biasanya banci. Lagipula, homo elegan itu adalah sesuatu yang tidak pasaran alias punya kelas alias langka. Arya adalah homo elegan menurut dirinya sendiri. Dan bila Dewa juga maho, artinya Dewa juga jenis maho elegan──masih menurut Arya, dan homo elegan itu hanya diciptakan setan untuk homo elegan juga. Rumusnya sesimpel itu──lagi-lagi menurut Arya sendiri.

(PING!)

Ya ampun, saking terpesonanya pada gambar profil Dewa, Arya hampir lupa mengetik chat balasan.

(Oke. Gue pasti datang)

End chat, karena Dewa sudah tidak membalas apa-apa lagi setelah ditunggu lebih semenit. Saatnya membuat penis tegang kembali. Arya kembali fokus ke layar laptopnya.

“Babi, bokepnya tamat!”

#Dewa’s room…

Dengkur halus Dewa mengalun merdu bagai suara Afgan Syahreza saat menyanyi. Lelaki itu sama sekali tidak menyadari apa yang sudah dilakukan Ren pada akun BBMnya. Ren, sang pemuas nafsunya selama ini baru saja mengirim sederet teks buat calon potensial selingkuhannya berikutnya tanpa sepengetahuannya. Kini sang pemuas nafsu itu sedang berdiri sambil menyeringai setelah menaruh kembali hape Dewa di meja. Seperti yang diduga Ren saat menyelinap diam-diam ke sofa tempat Dewa tidur pulas di ruang tamu sudah tiga malam ini, mustahil Dewa tidak punya kontak Arya. Dan ternyata dugaannya benar.

‘Tunggu saja Arya Lonte, jalan loe buat ngedapetin kontol pejantan gue ketemu jurang besok!’

Ren ingin berbalik pergi tidur ke kamar utama, namun siluet sosok Dewa yang terbaring menelentang di sofa yang diterangi cahaya dari TV yang tidak dimatikan menarik minatnya. Sudah berapa hari mulut atau silitnya tidak dimasuki penis Dewa? Nyaris seminggu. Dan mengingat betapa murkanya Dewa saat menemukan pakaiannya terkutung-kutung dan fotonya hancur-hancuran, mungkin Ren belum akan dimasuki lagi lewat lubang manapun yang dia punya  oleh Dewa hingga berminggu-minggu ke depan.

Tapi Ren kangen penis Dewa setengah mati.

Ren memandangi sosok Dewa penuh birahi, khususnya area di sekitar pinggang Dewa yang hanya ditutupi secarik boxer. Sudah diputuskan, dia akan mencoba peruntungannya kali ini. Jadi, Ren bertekuk lutut dengan kepala tepat di sisi selangkangan Dewa. Tangannya mulai mengelus naik turun di atas tonjolan yang terbentuk alami di tengah-tengah tubuh Dewa. Tiga menit kemudian saat Ren merasa penis Dewa setengah menegang, perlahan diturunkannya pinggang boxer berikut pinggang celana dalam Dewa hingga menampilkan apa yang didambakannya setengah gila itu.

Ren merunduk ke atas selangkangan Dewa yang terbuka, mengeluarkan lidahnya dan mulai melumuri kepala penis Dewa dengan liurnya. Tapi sayangnya, hal itu tidak bisa berlangsung selama yang Ren inginkan…

“Arya… aahhh… Aryaah…”

Gumam samar dari mulut Dewa itu terasa bagai petir yang langsung menyambar di atas puncak kepala Ren. Lidah Ren tersembunyi kembali ke dalam mulutnya dengan serta merta. Penuh marah dicakarnya perut Dewa dengan dua tangannya sekaligus.

“APA-APAAN!” Dewa menggeragap bangun. Perih di kulit perutnya memberangus semua kantuk dan mimpi indahnya barusan. “Apa yang loe lakuin, hah?!?” Dewa merapikan celananya sambil menatap bengis pada Ren yang juga sedang menatapnya sama bengisnya.

“Loe memang bajingan,” desis Ren. “bahkan dalam tidur pun loe masih aja ingat dia!”

“Loe ngisapin gue sementara gue tidur?” tanya Dewa tak menghiraukan ucapan Ren. “Apa loe udah gila?” Dewa menunduk ke perutnya dan baru menyadari goresan-goresan lurus bekas cakaran Ren di perutnya. “Setelah baju-baju gue, kini loe mau robek kulit gue? Apa sih yang salah dengan loe?”

Ren merapatkan rahang. Ingin saja dia meninju Dewa sampai giginya berguguran, tapi mengingat ukuran badan Dewa yang lebih besar darinya, amat sangat mustahil baginya untuk mewujudkan hal itu.

Kesal menunggu Ren hanya mematung sambil memandangnya penuh marah, Dewa menggaruk kepalanya gusar dan bangun dari sofa. “Gue udah gak sanggup lagi, Ren. Kelakuan lo kayak anak SD. Gue gak tahan,” kata Dewa sambil meraih jinsnya dari lantai.

“Oh ya, sekarang seolah-olah gue yang salah?” serang Ren tidak terima. “Yang selingkuh siapa, Wa, Siapa?”

“Ya Tuhan… jangan bersikap seolah-olah kita akan ke KUA suatu saat nanti dan jadi pasangan suami istri,” ujar Dewa sambil mengancing celananya. “Loe tahu itu gak akan pernah terjadi. Dan sadarlah, gak ada emosi dalam hubungan seperti ini, semuanya nafsu…”

“Gue cinta sama loe, Dewa…”

“Wow, gue kira kita bersama selama ini atas dasar saling membutuhkan dan memuaskan. Sejak kapan loe mengenal cinta? Sejak barusan kah?”

“Loe gak bisa buang gue gitu aja, Wa…”

Dewa selesai mengenakan kausnya, tidak menanggapi repetan Ren yang sepertinya akan lama, dia bergerak pergi. Sudah diputuskan, dia akan menginap di kontrakan Audrey…

.

.

“Loe Arya?”

“Iya, apa gue kenal loe?”

“Gue peringatkan loe sebaiknya jauh-jauh dari laki gue!”

Arya melongo sambil menatap cowok manis yang tidak lebih tinggi darinya di depannya itu. “Laki loe yang mana, ya?” tanya Arya bagai orang bego.

“Loe tahu siapa yang gue maksud.”

“Enggak, gue gak tahu.” Tapi pikirannya tertuju pada Ibra. ‘Apa ini botnya si Ibra ya? Mampus si Ibra ketahuan.’

“Dewa.”

JEGER JEGER JEGER

Arya refleks mendongak langit, karena sesaat tadi di dalam kepalanya dia bagai baru saja mendengar gelegar petir, bukan satu kali, tapi tiga kali berturut-turut. Lalu, diawali seringai kecil di sidut bibirnya, Arya tertawa terbahak-bahak bagai orang gila sementara lawan bicaranya menatapnya heran.

“Apa yang lucu?”

Arya masih saja tertawa, bahkan sampai harus memegangi perutnya.

“Sialan, apanya yang lucu, hah?” bentak Ren mulai kesal.

Well, sebenarnya Ren memang sudah kesal dari sejak menunggu kemunculan Arya di parkiran PQRS, makin kesal saat cowok jangkung keren itu datang bersama motornya yang sudah pernah dilihat Ren di Bengkel Z. Dan kini saat Arya tertawa bekakakan di depannya, kesalnya sudah berada di titik puncak. Kalau saja Arya ini banci atau tipe cowok melambai berkuku mengkilap, pasti sudah digamparnya dari tadi-tadi. Tapi ini alih-alih mau gampar, Ren dipaksa harus mengakui kalau sosok Arya ternyata malah membuat hatinya ser-seran. Kalau Ren mau jujur pada diri sendiri, dia tidak akan menolak bila diajak Arya untuk mencicipi kehangatan dari tubuh mudanya.

‘Tapi… kalau dilihat-lihat, Arya ini kan jantan abis. Masa iya Dewa mau selingkuh sesama tukang sodok? Nanti siapa yang nyodok siapa yang disodok?’

Ren mulai meragukan tuduhannya.

Arya berhasil menguasai diri, tapi wajahnya masih terlihat menahan tawa. “Jadi, Dewa itu maho?”

Giliran Ren yang melongo heran. ‘Tuh kan bener, sepertinya praduga gue salah deh. Dia aja kaget gitu denger Dewa gay… mungkin, mereka memang temenan.’

“Dan loe pacarnya Dewa?”

Kata ‘pacarnya Dewa’ mau tidak mau berhasil menaikkan gengsi Ren di hadapan Arya. Dengan dada mengembang, dia mengangguk mantap.

Sebenarnya, Arya senang luar biasa saat tahu Dewa gay hingga dia harus tertawa besar sesaat tadi. Meski awalnya saat terpikat pertama kali pada sosok Dewa, Arya sempat menginginkan Dewa secara membabi buta, bahkan berniat merebut Dewa segala dari pacarnya kalau semisal lelaki itu sudah punya pacar, tapi kini saat berhadapan langsung dengan kondisi real dimana ternyata Dewa sudah dimiliki, mau tak mau membuat Arya mempertimbangkan kembali rencana ‘babi butanya’ itu. Bagaimanapun, pacarnya Dewa yang entah bernama siapa ini juga manusia. Arya memang tidak percaya ada cinta di antara selangkangan para maho, dia sudah melihat buktinya pada Ibra, juga pada dirinya sendiri selama karirnya sebagai top. Tapi bisa saja kalau pacarnya Dewa ini benar-benar mencintai Dewa, kan? Pertanyaannya kini, sanggupkah Arya menyakiti orang lain hanya demi memuaskan ego gay-nya sendiri? Di samping itu, selalu ada kemungkinan kalau Dewa juga benar-benar mencintai pacarnya ini. Jika ternyata kemudian Dewa juga mengakrabkan diri denganya, itu bisa saja karena Dewa ingin berteman semata denganya, tidak lebih. Hubungan pertemanan dan hubungan ranjang itu tidak sama.

Arya berdeham. “Dewa tidak di sini, kan?”

Ren menggeleng.

“Yang ngirim chat BBM dari hapenya semalam itu elo?”

Ren mengangguk.

“Jangan bilang loe lupa ngapus chat itu dari hape Dewa…”

“Gue gak sebodoh itu.”

Arya manggut-manggut. “Oke. Gue kira gak ada lagi yang pengen loe sampein, kan?”

“Gue udah bilang apa yang pengen gue bilang.”

“Oke. Kalau gitu, bisa gue masuk sekarang? Karena jujur aja, gue laper berat.”

Ren hampir tidak bisa menahan diri untuk menawarkan dirinya menemani Arya makan kalau saja cowok itu tidak segera berambus dari hadapannya dengan langkah-langkah lebarnya. Bau cologne Arya yang jantan yang tertinggal di lubang hidung Ren menggodanya untuk mengekor di belakang punggung Arya, kalau saja hapenya tidak berdering.

“Kita mau on air, dan loe belum stand by jam segini?” kata suara di corong hape Ren sengit.

Calm down, I’m on my way, Bitch…!”

***

Cincin seperti itu pernah diberikannya buat Katia. Itu terjadi satu semester sebelum Katia memutuskannya dengan kata-kata manis yang sulit dibantah oleh lelaki seperti dirinya. Apa semua lelaki scorpio memang seperti dirinya? Menerima kata putus tanpa banyak cincong? Apa semua lelaki scorpio memang seperti dirinya? Tetap saja cinta walau sudah tahu dan sadar kalau cintanya tidak akan berbalas lagi?

“Posisi lengannya begini ya, Mas?”

Ucapan si mbak pemilik cincin yang sedang di-trainernya menyadarkan lamunan Rauf. Mbak ini cantik, sudah beberapa kali dilatih Rauf. Berbeda dengan kebanyakan mbak-mbak yang dilatihnya, mbak yang ini sepertinya benar-benar ke Gym X untuk melatih kebugarannya, bukan untuk mengincar air mani instrukturnya. Dan entah bagaimana, Rauf menghormati si mbak dan tidak berusaha merayunya dengan memberi perhatian lebih. Tapi meski begitu, Rauf tahu kalau cincin si mbak baru dipakainya hari ini.

“Ditekuknya sampai mentok, Mbak,” kata Rauf sambil memberi contoh dengan barbel yang beratnya sama dengan yang dipegang si mbak di kedua tangannya. “Semampunya saja, kalau mampu dua puluh kali, ya dua puluh kali, jangan diforsir.”

Si mbak mengangguk mengerti.

“Cincinnya baru ya, Mbak?” tanya Rauf saat tak mampu lagi membendung rasa ingin tahunya.

“Oh, ini… iya. Tapi kata pramuniaga tokonya, ini enggak baru. Meski gitu, harganya lumayan juga, tapi sepadan sih dengan cantiknya. Yang jual kalau gak kepepet uang, pasti bego gak bisa lihat keindahan nih cincin…”

‘Katia sudah menjualnya…’

Itu murni dugaan. Bisa saja cincin seperti itu bukan satu-satunya, kan? Tapi pikiran Rauf sudah kadung menuju ke sana. Katia sudah benar-benar melupakannya, sudah benar-benar melupakannya. Dia, sudah benar-benar dilupakan.

DILUPAKAN.

DILUPAKAN.

DILUPAKAN.

“Mbak teruskan saja dulu, saya permisi ke toilet sebentar…”

“Oke.”

Di toilet, Rauf membasuh wajahnya di wastafel berkali-kali sampai matanya perih. Tapi tetap saja hal itu tidak bisa mengenyahkan wajah Katia di matanya, Rauf bahkan bisa melihat garis tawa Katia.

‘Rauf, ini indah sekali. Aku tidak pantas memilikinya…’

‘No, Kat… kamu lebih dari pantas.’

‘Bagaimana kamu bisa semanis ini sih…?’

‘Entah, aku juga gak tahu. Tapi kurasa itu karena kamu…’

Rauf ingat bagaimana persisnya cincin itu disarungkannya di jari manis Katia saat cewek itu ulang tahun. Rauf ingat bagaimana binar-binar senang di wajah Katia yang terus tersenyum sepanjang malam itu sambil tak henti-henti memuji betapa cantiknya jemarinya karena cincin itu. Rauf ingat gaun hijau yang dikenakan Katia, sanggul cantik Katia, warna lipstiknya, warna kuteksnya, dan semua obrolan mereka saat itu. Bahkan, Rauf bisa ingat bagaimana persisnya lilin-lilin di sekitar mereka berkedip-kedip.

‘Aku tidak pantas lagi untuk memakai cincin ini, Ra…’

‘Itu hadiah, kuberikan bukan untuk kupinjamkan.’

‘Tetap saja aku tak pantas lagi untuk hadiah ini…’

‘Kumohon, Kat… just wear it, okey!’

‘Aku gak bisa, Ra…’

‘Setidaknya sampai aku tidak ada lagi dalam ingatanmu…’

‘Dan setelah itu?’

‘Setelah itu mungkin kamu bahkan tidak ingat dari mana cincin ini berasal…’

Sekali lagi, Rauf menamparkan air di telapak tangan ke wajahnya. “Dia sudah melupakanku…”

“Siapa yang melupakan siapa?”

Rauf kaget. Empat langkah di sampingnya, Dewa sedang berdiri menyender pada salah satu pintu bilik bilas sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk dengan gaya cuek.

“Jadwal loe mindah betulan ke hari ini?”

“Yep,” jawab Dewa masih cuek sambil kini mengenakan kausnya. “Tapi bukan buat ngerecokin loe kok.”

Alis Rauf bertaut.

Dewa menyampirkan handuk di lehernya dan balas menatap Rauf. “Jadi, siapa yang sudah ngelupain loe? Karena gue belum ngelakuin itu kok…” Dewa menyeringai.

“Gak, gak ada.”

Dewa manggut-manggut, dipungutnya ransel sport miliknya dari lantai lantas disampirkan di bahu kirinya. “Iya, sebaiknya memang begitu. Karena menurut gue, bodoh namanya kalau sampai ngelupain orang kayak loe.” Dewa bergerak melewati Rauf begitu saja, keluar dari toilet yang juga berfungsi sebagai kamar bilas itu.

Saat Dewa sudah menghilang, Rauf merasa bagai baru saja melewatkan sesuatu. Dia menjenguk ke jalan masuk toilet, punggung Dewa masih kelihatan. “Hei,” panggilnya.

Dewa berhenti berjalan dan menoleh.

Thanks…!” seru Rauf.

“Thanks for what?”

“Untuk spirit yang tadi.”

“Ah, never mind. Gue memang suka ngoceh.” Dewa terlihat seperti sedang berpikir-pikir. “Tapi yang tadi itu serius. Ngelupain orang kayak loe itu adalah tindakan paling bodoh untuk dilakukan.”

Rauf tersenyum miring. “Sabtu nanti gue on stage, kalau-kalau loe masih mau hangout setelah gue manggung…”

Dewa manggut-manggut. “We’ll see…,” katanya lalu lanjut pergi.

Sudah berapa lama Rauf tidak menjalin pertemanan? Lumayan lama buat diingat. Dan Dewa sepertinya adalah calon teman potensial, terlepas bagaimana orientasi seksualnya nanti. Sejak malam Dewa mengejarnya ke backstage, Rauf sudah menduga-duga kemungkinan kalau Dewa mungkin gay, atau setidaknya biseksual. Dikuntit lelaki bukan perkara baru bagi Rauf, seperti yang sudah diketahui, selama ini Rauf mengabaikan jebakannya yang itu. Dan kini dengan Dewa bukan berarti Rauf berubah pikiran, tapi seperti katanya, dia ingin mencoba berteman. Setidaknya begitu yang dikira Rauf…

***

Arya sudah sampai pada keputusan akhirnya. Lupakan Dewa untuk selamanya, lelaki itu bukan untuknya. Arya yakin dirinya sudah cukup brengsek dengan jadi gay, dia tak mau jadi lebih brengsek lagi dengan merebut pacar orang, merusak sebuah hubungan, mematahkan hati seseorang, atau dalam istilah yang lebih mudah dipahami : membuat orang lain tidak bahagia hanya demi kebahagiannya sendiri. Tapi bukankah dia melakukan apa yang katanya tak ingin dilakukannya itu pada hubungan Ibra dan bottomnya?

‘Tidak, dengan Ibra itu berbeda. Gue gak ngeganggu kebahagiaan bottomnya Ibra…

Benarkah demikian?

‘Ya ampun, ternyata sama saja. Kenapa gue bego banget? Meskipun bottomnya gak tahu, tapi tetap saja itu akan merusak kebahagiaannya bila dia tahu nanti…’

Jadi, setelah Arya menghapus nomor Dewa dari ponselnya, mendelete Dewa dari daftar kontak akun BBM miliknya dan unfollow semua sosmed laki-laki itu sekaligus memprivate akunnya sendiri dari dilihat Dewa, dia mengetik sebuah chat ke ruang obrolan Ibrahimovick.

(Loe gak usah nungging lagi buat gue, Bra. Mulai hari ini gue pensiun jadi top loe)

Tak sampai sepuluh detik, balasan Ibra masuk ke hapenya. (Apa yang terjadi? Loe mau ganti peran? Gue jamin loe pasti enak)

Arya mendesah malas. Dicarinya nama Ibra dalam daftar kontak hapenya.

“Bagaimana, loe mau ngerasa jadi bottom? Itung-itung persiapan buat dimasukin kontolnya si montir itu…,” todong Ibra langsung saat menjawab panggilan telepon Arya.

“Stop ngelantur!”

“Oke. But, what happening to you, Bro?”

Arya berdecak pelan. “Gue cuma gak mau ngerusak kebahagiaan orang lain, kebahagiaan loe, siapapun.”

“Loe gak ngerusak kebahagian gue. Loe tahu kan gimana enaknya gue saat loe sodomi? Loe sendiri pernah bilang gue enakan saat loe entot.”

Arya sedang tidak bernapsu meladeni ‘kalimat super’ Ibra. “Gue gak mau merusak kebahagiaan pacar loe yang setia dan cinta loe banget, Bra…”

“Oh…” Sepertinya Ibra sudah paham. “Tapi ini bukan karena loe udah bakal sibuk sama penisnya si montir sampai gak punya waktu buat ngebor silit gue, kan?” Baiklah, Ibra baru setengah paham.

“Dewa udah punya pacar…”

“Ya ampun. Dia straight, kan? Apa gue bilang. Omong-omong, taruhannya berlaku ya, loe gue sepong sebulan penuh, dimulai besok di toilet kampus. Jangan coli malam ini, gue pengen maskeran pake pejuh loe besok.”

“Pacarnya lakik,” kata Arya tidak semangat.

“Eh? Kok bisa? Padahal gue udah doa tiap abis solat supaya si montir straight biar bisa nyepongin loe abis-abisan sampe kering…”

“Gue udah ketemu sama pacarnya.”

“Hemm… udah fix berarti ya? Terus, cakepan mana pacarnya sama loe? Taruhan, pasti banci dan pasti jerawatan.”

“Gak penting lagi, Bra.”

“Justru ini penting banget, Ar… kalau kenyataannya loe lebih cakep dari tuh lonte, masakan Dewa buta gak bisa bedain mana comberan mana kolam susu? Saran gue nih ya, demi kelangsungan hidup loe sebagai gay elegan, pergi dan tendang itu banci dari selangkangannya si montir dan gantiin posisinya.”

Arya mendiamkan diri.

“Bayangin gimana rasanya enam sembilan sama Dewa, penis bagus loe di mulutnya dan kontol gede Dewa dalam mulut loe. Bayangin sekarang, bayangin!”

“Bra, please…”

“Gak, loe yang plis dengerin kata gue. Lelaki kayak Dewa itu adalah hasil seleksi alam super ketat, hanya terjadi setiap seribu tahun sekali──”

“Dari mana loe tahu?” potong Arya.

“Pokoknya gue tahu aja. Kalau sampai loe gak ngambil kesempatan loe saat ini, jangan harap loe ketemu yang kayak gitu lagi di masa mendatang. Coba loe bayangin, Ar… loe bahkan bilang bersedia jadi bot untuk top kayak Dewa, what that’s mean, huh? That mean is, loe benar-benar menginginkannya jauh di lubuk hati loe paling dalem. Catet, benar-benar menginginkannya. Dan sekarang loe mau nyerah hanya demi kebahagiaan seorang banci? Yang benar saja, Bro. Banci itu bisa bahagia dengan apa saja, dikasih terong atau jagung sekilo juga pasti bahagia.”

Arya terdiam beberapa saat lamanya, dan Ibra masih menunggu. “Gue hanya gak mau menyakiti orang lain demi kebahagian gue sendiri, Bra. Itu selfish sekali…”

“Ya ampun… jaman sekarang masih mikirin orang lain? Loe sehat gak sih, Ar?”

“Setidaknya sekarang gue lebih sehat dari loe.”

“Loe nonton film Kapan Kawin, gak? Itu di sana ada quote yang akurat banget.”

“Apa?”

“Sebelum mikirin kebahagiaan orang lain, mikirin kebahagiaan diri sendiri dulu. Sebelum ngebahagiain orang lain, loe-nya dulu yang harus bahagia.”

“Tapi bukan dengan ngancurin kebahagiaan orang lain juga, kan?”

“Terserah, pokoknya loe harus nyingkirin tuh kerikil yang ngalingin jalan loe ke air maninya Dewa. Titik!”

“Arrrgghhh…,” teriak Arya gusar. “Intinya nih ya, gue berhenti jadi top loe sejak hari ini. Sekian!”

“Tapi gue gak mau berhenti jadi bo──”

Klik.

***

Ketika Rauf muncul di stage, Dewa sedang memeriksa BBMnya. Bukan untuk membaca belasan chat dari Ren yang terus-terusan menanyakan keberadaannya, bukan pula untuk membalas chat Audrey yang katanya baru saja berhenti mens, tapi Dewa sedang memeriksa daftar kontaknya. Tak ada lagi foto Arya di sana. Keluar dari BBM, di tengah kebisingan musik yang sedang dibuat Rauf dari atas panggung, Dewa mencoba menghubungi nomor kontak Arya. Operator mengabarkan kalau panggilannya tidak bisa disambungkan ke nomor itu. Dewa mulai gusar. Dia sign in ke Instagram dan mendapati kalau akunnya sudah tidak terhubung lagi ke akun Arya. Dewa sign in ke Twitter, dan mendapati hal serupa, Arya melindungi akunnya dari dilihat Dewa. Arya lenyap, bukan, Arya melenyapkan diri. Tapi kenapa? Apa yang terjadi? Apa salah Dewa?

Sampai Rauf selesai nge-DJ, pertanyan itu masih terus berseliweran di kepala Dewa, dan masih begitu saat mereka mengobrol di bar.

Hangout bersama Rauf mendadak tidak semenarik yang dipikirkan Dewa saat berangkat tadi. Dan Rauf yang sepertinya tahu kalau ada yang tidak beres pada Dewa hanya membiarkan lelaki teman barunya itu menghabiskan sedikit demi sedikit minumannya sambil mengulik-ngulik hape di tangan.

“Loe kenal seseorang yang namanya Arya?” tanya Dewa bego saking buntunya. Entah apa yang terjadi padanya, mendadak saja sejak sampai di ABClub pikirannya terus saja tertuju pada Arya.

Rauf menatap bingung sesaat lalu menggeleng.

Dewa kembali mengulik hapenya. Dia sedang mencoba menemukan Arya di Facebook yang baru saja diaktifkannya kembali malam ini setelah ditutup lebih tiga tahun yang lalu saat Facebook mendadak tidak semenarik Facebook lagi. Dewa memang menemukan banyak Arya di sana, tapi tak ada Aryanya.

Dewa tersentak.

Aryanya?

Sejak kapan Arya jadi Aryanya?

“Apa yang terjadi? Loe tampak membingungkan,” ujar Rauf di sela-sela mengangkat gelasnya ke mulut. “Apa ada hubungannya dengan seseorang bernama Arya yang loe tanyain?”

Dewa menyerah. Sepertinya Arya tak punya akun Facebook, atau pernah punya dan sekarang sudah tidak eksis lagi. “Anak ini, Arya, pernah datang ke bengkel gue buat servis mobilnya…”

“Jadi loe punya bengkel, hah?”

Dewa tidak menjawab pertanyaan Rauf dan meneruskan ceritanya tentang Arya. “Gue sempat udah akrab. Tapi barusan gue cek, semua kontaknya hilang dari hape gue. Aneh gak?”

Rauf mengernyit bingung. Dia ingin mengajukan pertanyaan frontal pada Dewa, tapi takut teman barunya itu tersinggung. Tapi, mengapa pula Dewa merasa tidak masalah bercerita tentang teman akrabnya yang bernama Arya padanya? Sekilas terlihat bagai Dewa sengaja membiarkan Rauf menganalisa dirinya. “Kalian sedang ada masalah?” tanya Rauf kalem.

“Gak.” Lalu Dewa teringat Ren yang sempat melihatnya dan Arya di PQRS. Selalu ada kemungkinan kalau Ren menemui Arya.

“Kalau menurut loe Arya ini pantas ditemukan kembali, gue pikir loe memang harus berusaha menemukannya lagi, Bro.”

Dewa menatap Rauf. Saat melihat Rauf pertama kali di Gym X, Dewa tahu kalau Rauf adalah tipe lelaki yang tidak perlu melakukan apapun untuk membuat siapapun bertekuk lutut, baik pria maupun wanita. Apa yang ada pada Rauf adalah kesempurnaan semata, bahkan tindik di salah satu cuping telinganya juga sempurna. Tapi saat Rauf secara tersirat menolak menghabiskan waktu dengannya saat mereka bertemu kembali di ABClub malam itu, Dewa pun langsung bisa memastikan kalau Rauf itu straight, atau setidaknya masih straight. Dan meski kini pun Rauf mau menghabiskan masa dengannya, hasratnya kepada lelaki ini──meskipun masih hanya sekedar fantasi──tidaklah sekuat hasrat dan fantasinya terhadap sosok Arya. Seperti yang sudah disadari Dewa jauh-jauh hari, ada sesuatu pada Arya yang tidak ditemukannya pada siapapun, bahkan pada Rauf yang sempurna sekalipun.

“Iya, Arya memang pantas,” jawab Dewa. “Sorry, terlalu banyak tentang gue. Bagaimana dengan loe? Dengan siapa loe sekarang?”

Rauf sudah menahan hasrat untuk merokok sejak turun dari stage, dan kini saat ditodong pertanyaan sedemikian rupa oleh Dewa, dia sudah tak sanggup menahan lagi. Dirogohnya bungkus rokok dan pemantik dari saku jinsnya. Lima detik kemudian asap tipis mulai mengepul dari bibirnya, bergabung bersama asap rokok milik orang lain dalam atmosfir bar. “Sayangnya sedang tidak dengan siapa-siapa,” jawab Rauf pendek.

“Lelaki sempurna kayak loe, tidak sedang dengan siapa-siapa? Pasti ada yang salah pada dunia…,” ujar Dewa sambil meraih rokok dan pemantik yang diletakkan Rauf di atas meja.

Rauf menghisap rokoknya kuat-kuat, mengurung asapnya lumayan lama di saluran napasnya sebelum menghembuskannya perlahan-lahan ke udara. “Mungkin masalahnya bukan pada dunia, tapi pada gue sendiri.”

“Loe impoten?” tanya Dewa sekenanya lalu tertawa pendek.

Rauf tersenyum lebar. “Kalau itu pertanyaannya, mungkin hampir separuh cewek di sini bisa menjawabnya buat loe…”

“Sombong,” desis Dewa sebelum meletakkan filter rokok di sela bibirnya. Setelah satu hisapan panjang, dia kembali mengoceh. “Gue jarang ngerokok. Sejujurnya, gue bahkan gak ingat kapan terakhir kali gue ngerokok…”

“Yeah, kelihatan kok,” ujar Rauf.

“Bukan karena gue aktivis anti rokok, bukan karena gue punya pengalaman seram dengan rokok, bukan karena dilarang pacar juga… tapi kalau pun beneran dilarang, gue bakalan ngacungin dia jari tengah. Dan yang terpenting, bukan karena gue gak mampu beli.”

Untuk pertama kalinya, Rauf tertawa besar. “Gue penasaran loe bakal ngoceh apa aja saat sedang teler kalau sedang tidak teler saja loe bisa ngoceh setidak penting itu.”

“Loe mau tahu?”

Not really, tapi gue lumayan penasaran.”

“Kalau gitu, ayo kita menelerkan diri…”

“Hanya dengan syarat gue gak bakal dirokok loe saat sedang teler.”

Hening.

Rauf khawatir sudah salah berucap, tapi seringai lebar yang muncul kemudian di wajah Dewa memupus rasa khawatirnya.

“Siapa yang ingin? Lagipula, loe kan masih impoten…”

***

Arya ingin membolos kuliah Sabtunya lagi dengan tidur seharian di sarangnya yang masih saja berantakan dan bau hari ini. Kamar bau bukanlah masalah besar bagi Arya, selama botol deodorant dan cologne-nya masih berisi, penampilan dan aroma dirinya sendiri terselamatkan. Persetan dengan kamar dan seperti apa aromanya, toh kamar beserta aromanya yang pernah disebut Ibra ‘beraroma jantan’ itu tidak dibawa Arya saat bepergian kemana-mana. Namun, ide membolos dengan tiduran sepanjang hari itu hancur serta merta saat samar-samar suara tangisan Ayas masuk ke lubang telinganya yang masih setengah sadar.

Arya spontan bangun ketika volume tangisan Ayas kian meningkat dari detik ke detik. Tanpa sempat mengenakan kausnya, Arya melesat turun. Di bawah, ditemukannya Ayas sedang mengelesoh sambil memeluk kaki kanan mama mereka yang sudah siap berangkat kerja.

“Ayas, jangan bikin ulah. Kenapa hari ini gak mau diantar supir, hah? Mama udah telat kerja, lepasin!”

“Ayas, lepasin gak? Papa sama Mama ada meeting penting di kantor.”

“GAK MAUUUU…!!!” teriak Ayas di sela isakannya masih sambil memeluk erat kaki Mama.

“Bik Euis…!!!” teriak Mama memanggil salah satu pembantu yang biasa mengurus Ayas. “Ambil Ayas ini…!!!”

Tergopoh-gopoh Bik Euis muncul dari dapur, dan kemunculan wanita paruh baya itu hanya untuk menerima bentakan Papa.

“Bik Euis ini digaji untuk apa sih, kami udah telat meeting ini. Bukannya ngurus Ayas malah asik sendiri.”

“Maaf, Tuan…,” ujar Bik Euis sambil berusaha membuat Ayas lepas dari nyonya besarnya, tapi anak itu tidak mau melepaskan kaki mamanya begitu saja.

“AYAS, MAU PAPA PUKUL, HAH?!?” Papa mengangkat tangannya.

“YA, PA… PUKUL, AYO PUKUL SAJA!” Arya mengeraskan rahangnya sampai giginya bergemelutukan.

Sang papa terlihat kaget menemukan Arya dengan tampilan berantakan baru bangun tidur menantangnya sedemikian rupa. “Lancang sekali kamu membentak-bentak papamu!”

“Oh, jadi sekarang mendadak aku punya Papa di rumah ini?”

“Arya!” Mama membentak.

“Apa?!?” balas teriak Arya dengan berang. “Kalian ini sebenarnya siapa sih? Orang tua atau hanya manusia yang merasa pantas jadi orang tua padahal sama sekali tak pantas…”

“Jaga mulutmu…!” bentak Papa.

“Kalau tidak kenapa, hah?!?”

Bik Euis berteriak nyaring saat telapak tangan tuan besarnya mendarat di pipi Arya, tangis histeris Ayas menyusul kemudian.

Cukup sudah. Arya sudah sampai di titik muak. Tidak peduli rasa perih yang muncul di sudut bibirnya, tidak peduli dengan siapa dia sedang melakukan konfrontasi, tinjunya terangkat dan terayun begitu saja. Sosok tinggi besar papanya terjerembab ke lantai berbarengan dengan teriakan mamanya.

“JANGAN BERANI-BERANINYA BANGUN DARI LANTAI ITU…!!!” ancam Arya dengan tangan terkepal ketika papanya bersiap bangkit dengan wajah mengelam. “ATAU AKU AKAN MENGINJAK-INJAKMU…!!!”

PLAAAK

“AKU TIDAK MEMBESARKAN ANAK TAK TAHU DIRI SEPERTIMU DI RUMAH INI. KELUAAAR…!!!”

Tamparan keras mamanya menambah perih di bekas hajaran papanya. Tapi ucapan mamanya tetaplah yang paling perih. Perih, karena seingatnya, Bik Euis lah yang membesarkannya dan Ayas. Semampu Arya mengingat, tak ada sosok mama atau papanya yang menidurkannya, membelai kepalanya ketika dia sakit, mengisi kotak bekalnya, mengambil rapornya, memeriksa atau membantunya mengerjakan pekerjaan rumah, atau sekedar menanyakan apakah segala sesuatunya berjalan baik di sekolah? Berapa nilai ulangannya? Sudahkah dia melunasi SPP? Dan ketika Ayas ada, tetap tak ada mama atau papa yang membuatkan dia dan Ayas sarapan, mengantar Ayas ke TK, atau sekedar membantu Ayas bangun saat terjatuh dan memeriksa lutut lecetnya. Tak ada. Dan meskipun dulunya pernah ada papa dan mama, itu sudah tertinggal jauh sekali di belakang, dan terjadi ketika Arya bahkan tidak tahu kalau dirinya ada dan hidup, ketika otaknya belum mampu mengingat dan menyimpan informasi dan memori.

Tangisan Ayas kian terdengar memilukan. Sesaat hasrat untuk menarik adiknya dan lalu keluar seperti yang diserukan mamanya terlintas di kepala Arya, tampak begitu menggoda. Tapi eratnya cara Ayas yang kini sedang berdiri sambil memeluk pinggang Bik Euis menyadarkan Arya bahwa adiknya baru lima tahun.

“Kuharap setelah ini sekali saja Mama sempat bertanya pada diri sendiri, anak mana yang pernah Mama besarkan di rumah ini selayaknya seorang ibu, sebut satu saja antara aku dan Ayas…”

Arya bergerak ke kamarnya, berpakaian sekenanya, mengisi ransel dengan laptop dan beberapa potong jins dan kaos, menyambar kunci motornya lalu melesat turun lagi.

Kepergiannya tidak dihalangi. Mamanya terpekur di satu sofa di ruang depan, sedang menangis. Papanya yang bersidekap dada di teras dilewatinya begitu saja. Saat Ayas melesat untuk mendapatkannya yang sedang mengeluarkan motor dari garasi, lari bocah itu dihentikan papanya.

“Mama tidak serius, Arya…!!!”

Teriakan mamanya yang berlari ke beranda teredam deru motor dan teriakan Ayas yang terus menjeritkan ‘Mas Arya’.

“Biar, Ma… biar dia tahu bagaimana kerasnya hidup di luar sana sambil belajar menghormati orang tuanya. Papa bertaruh, lusa dia akan merengek-rengek pulang ke rumah.”

Tapi kalimat-kalimat keras papanya menusuk telinganya bagai jarum akupuntur.

***

Rauf terbangun di mobil Dewa. Masih berpakaian semalam. Di luar parkiran hari sepertinya sudah terang, dan kepalanya masih pening luar biasa. Sepertinya dia lebih teler daripada Dewa. Arlojinya menunjukkan pukul tujuh lima belas pagi. Diliriknya jok di sebelahnya, Dewa masih bergelung di bawah selimut. Apa itu tandanya kalau Dewa yang sebenarnya lebih teler di antara mereka berdua?

Hasrat ingin pipis memaksa Rauf untuk membuka pintu mobil. Terlalu pening untuk mencari toilet yang bisa ada di mana saja, Rauf memojokkan dirinya ke satu sudut, membuka kancing-kancing jinsnya dengan sedikit usaha dan lalu pipis sembarangan. Kepalanya sedikit ringan setelah menyembunyikan kembali organ pipisnya ke balik kancing-kancing celananya.

Saat dia masuk kembali ke mobil, Dewa sudah terduduk di jok sambil meraba-raba ke dashboard. “Gue gak percaya loe ngebuang urine di pojokan sana kayak doggy…”

“Loe sedang apa?” tanya Rauf tak peduli pada kalimat Dewa.

“Batre hape gue kosong.” Dewa berhenti meraba-raba. “Tapi persetan, gue belum perlu menghubungi siapa-siapa saat ini.” Dilemparnya hape di tangannya ke dashboard lalu dia menyalakan mesin mobil.

“Loe ingat di mana kita meninggalkan mobil gue?” tanya Rauf sambil memandang keluar jendela mobil.

Dewa sejenak terpegun memandang Rauf lalu tertawa kencang. “Gue kira gue yang mabuk berat semalam, ternyata malah loe.”

“Serius, gue gak bisa ingat.”

“Hhh… mobil loe ada di parkiran ABClub. Ke sana kita bakal pergi sekarang.”

“Sepertinya gue gak bisa nyetir tanpa menabrak sesuatu.”

Dewa menjalankan mobil keluar dari gedung parkir. “Jadi, loe mau diantar ke mana?”

“Gue butuh mandi dan lalu tidur.”

“Hotel?” tanya Dewa.

“Gue belum pernah ke hotel cuma buat tidur.”

“Kalau gitu loe bisa ngoral gue atau gue yang ngoral loe, tapi bakal lebih efektif dan efisien kalau kita saling ngoral. Gak cuma tidur, kan?”

“Edan.” Rauf diam sebentar sebelum tiba-tiba melirik Dewa. “Jujur, apa semalam loe ngegrepe-grepe gue sementara gue gak sadarkan diri?”

“Jujur?”

“Ya, jujur.”

“Katanya kesempatan gak bakal datang dua kali, kan?” Dewa menaik-naikkan alisnya.

Rauf sontak menunduk ke pinggangnya.

“Semalam gue baru tahu kalau orang pingsan ternyata bisa ngaceng juga kalau dicoliin.”

“Dewa, gue serius!”

Dewa tertawa kencang. “Yep, serius. Gue juga ngasih loe servis oral.”

“Jawab jujur sebelum gue lempar loe ke jalan!”

“Ya Tuhan… gue sama mabuknya dengan loe, Men. Kapan gue sempat gerayangin loe dan kapan gue tidur kayak kebo?”

Good. Karena selama ini gue gak pernah dioral selagi tertidur, itu bikin gue rugi besar.”

Dewa tertawa. “Ini serius, loe mau diantar ke mana?”

“Apartemen gue…”

Dewa menunggu, tapi Rauf tak kunjung buka suara lagi. “And… where is it?”

“Just drive

Dewa menggidikkan bahu.

***

Arya mengebut seperti orang gila tanpa tujuan. Pikirannya buntu, tidak, bukan buntu, tapi kosong. Bahkan sebenarnya saat ini dia sama sekali tidak memerhatikan jalanan. Tak ada apapun dalam kepalanya, dia benar-benar blank. Dan mengemudi kebut-kebutan dalam keadaan seperti itu bisa berakibat fatal.

Di satu perempatan, Arya tidak menyadari lampu yang berubah merah dan terus melaju bersama motornya. Sebuah mobil bergerak kencang dari jalan di arah kanannya. Klakson bersahut-sahutan ribut, decit ban yang beradu rapat dengan aspal karena remnya diinjak kuat meningkahi sama ributnya, beberapa pejalan kaki berteriak nyaring, seorang ibu-ibu penyapu jalanan bahkan histeris…

***

Ada banyak chat dari Audrey, dan lebih banyak chat lagi dari Ren. Dewa mengabaikan keduanya. Hubungannya dengan Ren sudah memanas lebih seminggu, dan Audrey bersikap seolah-olah pekerjaan Dewa hanya melakukan penetrasi ke dalam dirinya, seolah-olah Dewa tidak membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Padahal Dewa juga butuh waktu untuk melakukan aktivitas lain yang bukan penetrasi berbuntut ejakulasi itu. Dibiarkannya hapenya tersambung charger begitu saja sementara nada panggil dan nada pesan sosmed masuk silih berganti. Dewa butuh berbaring dan ranjang empuk Rauf tampak begitu menggoda untuk menampung bobot tubuhnya.

Saat Rauf selesai menggunakan kamar mandi beberapa menit kemudian, Dewa sudah mendengkur halus di satu sisi tempat tidurnya, masih berpakaian lengkap, bahkan bersepatu. Hape Dewa masih memperdengarkan nada panggil, dan sebenarnya cukup mengganggu bagi Rauf yang lebih suka ketenangan saat sedang berada di apartemennya, tapi dia tak mungkin membangunkan Dewa dan menyuruh laki-laki itu enyah dari apartemennya hanya karena hapenya membuat keributan terus menerus.

Yakin bahwa kantuknya sudah lenyap disiram air dari shower, Rauf ke dapur, membuat kopi untuk dirinya sendiri seperti biasa, memanggang roti juga untuk dirinya sendiri seperti biasa lalu pergi merokok ke balkon. Namun di balkonnya yang membelakangi arah matahari terbit Rauf cuma sanggup bertahan tak lebih dari sepuluh menit. Terlalu lembab di pagi hari, dan hari ini cuaca tidak secerah kemarin. Rauf suka sinar matahari, bagus untuk membuat kulitnya tetap coklat, dan dia suka kalau bisa sedikit berkeringat.

Saat Rauf kembali ke kamar, Dewa sudah tidak ada di atas ranjang, tapi hapenya masih terus berdering. Bagaimana laki-laki itu bisa tidur lelap seperti tadi hanya belasan menit saja? Rauf tak habis pikir, jika Rauf, dengan kantuk seperti yang dialami Dewa, dia bisa tidur hingga seharian lamanya. Dering selanjutnya dari hape Dewa akhirnya membuat Rauf maklum mengapa Dewa tidak meneruskan tidurnya lagi.

“Hei, loe punya pisau cukur baru?” Kepala Dewa melongok dari balik pintu kamar mandi.

Rauf mencari-cari dalam laci buffetnya dan menemukan apa yang dibutuhkan Dewa ada bersama beberapa sikat gigi baru di samping kotak-kotak celana dalam. “Loe butuh kolor ganti?” tawar Rauf pada teman barunya.

“Kalau ada yang baru boleh. Eh, tapi kalau gak ada, bekas loe juga gak apa-apa deh,” jawab Dewa sambil menyengir lebar.

Sorry gak ada yang bekas gue. Itu karena semua kolor gue disposable,” kata Rauf membual sambil menyerahkan pisau cukur dan sikat gigi berikut celana dalam baru ke tangan Dewa.

Dewa terbahak-bahak.

“Kalau nanti setelah loe mandi gue udah tidur, jangan bangunin. Kalau loe mau cabut pergi silakan saja.”

“Oke,” kata Dewa. “Tapi kalau loe tidurnya lelap banget, gua gak bisa jamin gak bakal tergoda buat grepe-grepein.”

Rauf memasang tampang malas. “Gue gak habis pikir, bagaimana laki-laki se-manly loe bisa suka laki.”

Be careful, Dude. Jangan sampai loe kemakan omongan sendiri.”

Rauf menggidikkan bahu tak peduli. Dia siap berbalik ketika ingat satu hal. “Loe keberatan bila hapenya gue silent?”

“Matikan saja. Atau jawab saja siapapun yang nelpon dan bilang kalau gue udah nemu lubang baru, lalu matikan.”

“Loe serius?” tanya Rauf.

“Ya ampun, gue kebelet mau mandi, sama sekali gak punya waktu buat gak serius.”

“Obrolan kita dari tadi gak ada yang serius kok.”

“Oke. Tapi yang barusan gue serius.”

“Oke.” Rauf bergerak ke hape Dewa, nama di layar tertera Ren, lengkap dengan foto. “Laki loe manis juga,” ujar Rauf, entah didengar Dewa entah tidak, tak ada respon di belakangnya. Rauf memencet tanda ‘jawab’ dan mendekatkan hape ke kupingnya. “Dewa udah nemu lubang baru, sorry…,” kata Rauf lancar lalu memutuskan sambungan lebih dulu.

Tombol onoff pada sisi hape Dewa dipencet Rauf lama-lama sampai layar benda itu berubah gelap. Saat Rauf membalikkan badannya menghadap kamar mandi, Dewa sudah lenyap di balik pintu. Sebenarnya, Dewa sudah menutup pintu kamar mandi dari tadi-tadi sejak Rauf bilang ‘oke’. Dewa bahkan tidak tahu kalau Rauf sungguhan melakukan apa yang diocehkannya.

Rauf mendapatkan ketenangannya di atas ranjang. Kantuk yang tadi dikiranya sudah hilang ternyata menipunya. Bahkan secangkir kafein yang sudah dipasoknya dua puluh menit yang lalu memilih mengalah pada kantuk itu. Tak butuh waktu lama bagi Rauf untuk pulas. Saat alam bawah sadarnya sudah menguasai, Katia hadir menari-nari di dalam mimpinya.

***

Dalam kekalutan pikiran, laju pelan motornya yang lumayan ringsek membawa Arya ke Bengkel Z. Arya tidak tahu bagaimana caranya dia bisa sampai di sana. Bukankah seharusnya dia ke IGD seperti yang disuruh orang-orang? Jika saja dia mengiyakan ajakan bapak-bapak yang menyerempet motornya, yang memberinya luka lecet di kedua lutut dan lengan kiri dan pelipis kanan──karena helmnya yang tidak dikaitkan terlempar dari kepalanya, mungkin sekarang dia sudah ditangani dokter Rumah Sakit RSTU di Instalasi Gawat Darurat mereka. Tapi Arya malah sampai ke bengkel Dewa tanpa sadar. Padahal dia sama sekali tidak memikirkan Dewa saat mengemudi, bahkan sebenarnya dia tidak bisa memikirkan apapun karena kepalanya mendadak terasa kosong saat meninggalkan rumah dan Ayas.

Ayas.

Siapa yang akan menjaga Ayas kalau dia tidak lagi ada di rumah?

Arya mulai memikirkan adiknya, tapi tetap saja yang paling menyita pikirannya saat ini adalah misteri bagaimana dirinya bisa sampai terdampar di depan bengkel Dewa .

Motornya mungkin punya pikiran sendiri. Motornya mungkin salah satu Autobots. Motornya mungkin berteman dengan Optimus Prime atau Bumblebee atau Iron Head. Kalau iya, tinggal menunggu masa saja motornya akan bertransformasi jadi robot keren suatu saat nanti.

Di depan Bengkel Z, Arya termangu di atas motornya yang masih berderum halus. Haruskah dia berbalik pergi saja? Dipandangnya keadaan dalam bengkel, para montir terlalu asik dengan pekerjaan mereka sendiri-sendiri untuk menyadari kehadirannya. Sepertinya ini akan jadi hari yang sibuk di Bengkel Z, masih pagi tetapi sudah banyak mobil yang perlu diutak-atik. Tanpa sadar Arya tercari-cari. Tak terlihat sosok Dewa. Arya baru sadar kalau dia juga tidak melihat mobil Dewa di tempat dia pernah melihat mobil itu diparkir.

Perih yang mendadak muncul dari luka di pelipisnya membuat Arya meringis. Seharusnya gue ke IGD, bukan kemari. Ditatapnya kepala motornya dengan seksama. Apa yang loe pikirkan saat loe bawa gue kemari? Dewa itu sudah punya pacar, loe tahu? Cara loe ini gak akan berhasil bikin dia jadi milik gue. Dia sudah termiliki…

Arya sudah gila karena mengajak telepati motornya yang tidak punya otak.

***

Seperti yang dipesankan, Dewa tidak membangunkan Rauf. Karena memang sangat butuh, dia nekat nyolong oblong dan jins Rauf dari dalam lemari pakaian lelaki itu tanpa minta ijin lebih dulu, toh besok-besok akan dikembalikannya lagi. Pakaian yang dikenakan Dewa semalam sudah bau keringat bercampur bau tembakau dan bau alkohol, dan dia baru saja mandi, sangat bukan dirinya bila memakai baju kotor lagi setelah mandi.

Dewa menyalakan hapenya setelah selesai di depan cermin besar yang ada di kamar tidur Rauf, bercermin ini sendiri dilakukan Dewa sambil menghabiskan gel rambut dan parfum Rauf sesukanya. Setelah memastikan nomornya tersimpan di hape Rauf dan nomor Rauf di hapenya, masih mengabaikan puluhan──mungkin malah sudah ratusan──panggilan tak terjawab dan pesan yang sudah dipastikan datang dari Ren dan Audrey, Dewa membuntal pakaian kotornya dan meninggalkan apartemen Rauf sambil berharap kalau oblong dan jins bagus yang diambilnya dari lemari pakaian lelaki itu bukanlah pakaian favorit teman barunya itu.

Dewa mengebut ke Bengkel Z. Sabtu biasanya selalu ramai di bengkelnya. Jika ada satu hari dimana Dewa turun tangan sepenuhnya dari sejak bengkel dibuka Bambang sampai ditutup olehnya sendiri, itu adalah hari Sabtu. Setengah perjalanan dari apartemen Rauf menuju bengkelnya, Dewa menyadari kalau dirinya kelaparan. Dia menghentikan mobilnya di depan gerobak yang menjual nasi kuning lalu meminta ibu-ibu pemilik gerobak membungkuskan sarapan untuknya.

Tiba di Bengkel Z, hati Dewa mendadak mengembang. Arya sedang duduk di atas motornya yang distandar dobel di depan bengkel, terlihat seperti sengaja sedang menunggunya datang. Dari gelagatnya, Arya tidak menyadari kehadiran Dewa.

Dewa melangkah sambil memandangi punggung lebar Arya yang duduk membelakanginya, dan dia mendapati betapa dirinya ingin melihat wajah si pemilik punggung itu. Banyak hal yang ingin ditanyakannya pada Arya. Dan semua pertanyaan itu nantinya akan dimulai dengan ‘mengapa’. Mengapa Arya mengabaikannya, mengapa Arya menghilangkan diri, mengapa nomornya tidak bisa dihubungi, mengapa BBMnya didelete, mengapa Twitternya diblokir, mengapa Instagramnya diunfollow, mengapa dia tidak bisa menerima begitu saja semua yang dilakukan Arya untuk menghindarinya, dan yang terpenting adalah mengapa Arya merasa perlu membatasi kehadiran Dewa di dekatnya atau kehadirannya di dekat Dewa.

Kian dekat dengan tempat Arya menunggu, tahulah Dewa kalau ada sesuatu yang salah, pada sosok Arya dan pada motor yang sedang didudukinya. Saat tiba-tiba Arya menolehkan kepalanya ke belakang, Dewa menemukan kepedihan dalam tatapan cowok itu. Darah setengah mengering di pelipis Arya entah bagaimana membuat Dewa seakan bisa ikut merasakan pedih yang sama…

*

Kapas kotor bekas dipakai untuk membersihkan luka Arya menumpuk di dalam tisu di atas lantai ruang kerja Dewa. Di dekatnya menggeletak botol antiseptik, gulungan kasa, piring berisi air mineral, beberapa gumpalan tisu serta plaster luka dan kemasan kapas yang masih bersih. Semua benda-benda P3K itu dikeluarkan Dewa dari kotak P3K di ruang kerja montir-montirnya.

Arya sudah melepaskan jaket dan jinsnya, sekarang dia hanya mengenakan boxer dan kaus saja. Luka-lukanya sudah diolesi antiseptik semua, termasuk ruam merah di sudut kiri bibirnya bekas tinju papanya dan tamparan mamanya. Luka di pelipis kanannya diberi plester oleh Dewa, luka gores di jari-jari tangan kanannya juga diberi plester, sedangkan luka berupa lecet lebar di kedua lutut dan di lengan kirinya dekat siku akibat terseret di aspal dibiarkan terbuka setelah dioleskan antiseptik. Semua itu Dewa yang melakukan karena Arya tampak terlalu bingung bahkan untuk merawat lukanya sendiri.

Dewa terdiam lama setelah Arya bercerita bagaimana kronologinya sampai dia bisa pergi dari rumah hingga diserempet mobil gara-gara melanggar lampu merah. Tadinya sebelum mendengarkan cerita Arya sambil membersihkan luka-lukanya, begitu banyak hal yang ingin ditanyakan Dewa, tapi setelah melihat keadaan Arya dan mendengarkan cerita cowok itu, semua hal yang sempat ingin diketahui Dewa mendadak tidak lagi penting.

“Jadi, apa yang bakal loe lakuin sekarang?” tanya Dewa setelah keheningan menggantung cukup lama di antara mereka.

Apa yang akan dilakukannya sekarang? Jujur saja, tadinya Arya belum sampai pada pertanyaan penting itu. Apa yang akan dilakukannya sekarang? Yang jelas bukanlah nonton bokep.

Arya mengisi paru-parunya dengan udara berlebih lalu menghembuskannya perlahan. “Entahlah. Nyari kerja mungkin.”

Dewa manggut-manggut. Tapi dalam hatinya bertanya-tanya, pekerjaan macam apa yang bisa dilakukan cowok tamat SMA seperti Arya yang selama ini pasti sudah terbiasa hidup serba mudah. Kemudian Dewa teringat satu hal yang menurutnya juga tak kalah penting untuk dipikirkan Arya selain nyari kerja. Karena tadinya Arya sempat mengatakan tak ingin pulang ke rumah dan membuat ucapan papanya yang menyakitkan terbukti benar, sebelum nyari kerja, Arya perlu nyari tempat tinggal lebih dulu.

“Tapi sebelum itu, gue harus nyari tempat tinggal dulu,” cetus Arya seperti tersadar.

‘Apa anak ini bisa membaca pikiran?’

Bibir Dewa bergerak-gerak, siap untuk berkata kalau Arya bisa tinggal dengannya sebelum sosok Ren dan sikapnya yang begitu kekanakan membuat mulutnya tetap bungkam.

“Loe butuh clening service di bengkel ini?”

“He?” Dewa melongo. Tak bisa dibayangkannya cowok sekeran Arya kerja jadi petugas kebersihan dan membersihkan toilet. Bayangan Arya yang memegang sikat kloset dan gagang pel cepat-cepat ditepisnya dari dalam kepala. “Gak, gue udah punya CS di bengkel ini.”

“Mana? Gue gak pernah liat tuh,” tuntut Arya.

“Ya pantas loe gak liat. Kerjanya di awal pagi sama pas bengkel mau tutup aja.”

Arya terdiam sebentar. “Gak mungkin ya buat mecat CS loe yang lama itu?”

“Trus ngasih jobnya ke elo?”

Arya mengangguk.

“Gue masih punya rasa kemanusian.”

“Kalau gitu, gaji aja dua CS sekaligus.”

“Itu sudah dua orang.”

“Jadiin tiga orang kalau gitu.”

“Apapun yang loe bilang, jangan harap gue mau jadiin loe cleaning service di bengkel ini.”

“Kenapa?”

‘Karena jiwa gue terluka kalau sampai loe jadi petugas kebersihan, di manapun itu.’

 

= TO BE CONTINUED =

 

 

Early October ’16

Dariku yang sederhana

nay.algibran@gmail.com