download

Brian dan Key

By : Levi

Lembar satu

 

When life gets you down,
do you wanna know what you’ve gotta do?
Just keep swimming!

Dory, Finding Nemo-

-*-

Morning babe, pas istirahat temuin gue di tempat biasa ya? Ada yang mau gue kasih ke kamu. Sampai ketemu. Love you.’ 06.15 AM.

Aku tersenyum lagi di tempatku. Mengabaikan Ibu yang berhenti menyendok nasi goreng ke piringku dan memerhatikanku sambil geleng-geleng kepala. Ah, aku benar-benar tak peduli, aku sangat senang sekarang, soalnya tumben sekali Braga mau sok-sok romantis seperti ini ke aku dengan memberi surprise. Secara kan, Braga itu orang paling unromantic yang pernah aku ketahui dalam sejarah percintaan umat manusia.

Seriously, dulu aja dia pernah merusak date pertama kami di pantai dengan membuat buah kelapa aku—yang aku maksud benar-benar buah kelapa ya, bukan kelapa di dada aku soalnya aku kan cowok jadi tak punya dada segede kelapa—jatuh menggelinding dan membasahi seluruh pakaianku.

Jadi ceritanya waktu itu dia mau mengelap mulutku yang belepotan karena baru saja selesai dengan jagung bakarku, eh tapi sebelum tangannya sampai di mulutku, tangannya tak sengaja menyenggol minuman kelapa mudaku yang disajikan langsung sama buahnya. And then, air kelapa dengan sirup rasa pandanku itu jatuh dan tumpah ruah di atas meja, dan sebagian lagi membuat bajuku basah. Aku marah dengannya seharian, wajar saja kan?  He’s not romantic at all, really-really unromantic and barbaric boy. Tapi aku tetap sayang dengannya, itu aneh.

“Brian, kamu kenapa sih? Dimakan dong, jangan senyum-senyum aja dari tadi,” rupanya ibu masih memerhatikanku yang masih asik mengamati ponselku dari tadi—membaca berulang-ulang pesan dari Braga dan mulai menebak-nebak apa yang mau dia kasih ke aku aku nanti. Aku memberi Ibu senyuman lalu mulai memakan sarapanku. “Key mana?” tanyanya lagi. Aku menaikkan bahuku.

Key itu kembaran perempuanku. Tapi, walau kami kembar, aku dengan dia tetap berbeda. Selain karena dia perempuan dan aku laki-laki, dia itu juga adalah orang gila. Mungkin kau tak akan memercayainya. Dia jatuh hati dengan teman laki-laki di kelasnya yang bernama Aldo. Terdengar tak ada yang aneh? Tapi akan aneh jika setiap pagi saat aku masuk ke kamarnya, dia mulai mengigau dengan menyebut nama cowok itu sambil memeluk guling dan menciuminya dengan liur yang sudah menggenang di mana-mana. Belum lagi ambisinya untuk bisa berpacaran dengan Aldo itu sangat menggebu-gebu, dia bahkan rela pulang sekolah naik bus setiap hari hanya karena harus mengantar Aldo pulang. Katanya dia khawatir kalau Aldo nanti di jalan dicegat preman-preman dan dipukuli. Jadi, setelah dia mengantar Aldo pulang—dengan jalan kaki tentu saja—dia baru pulang juga. See, sangat aneh, kan? Tapi kalau aku dengan Braga kan beda, kami saling mencintai sejak awal, dan kami juga gay—Kalau Braga baru pertama kali pacaran dengan cowok sih, dan itu aku. Ah, aku jadi kangen benaran sama dia.

“Ibu kayak nggak tau aja,” aku meminum susu putihku sampai habis dan selesai dengan nasi gorengku yang masih bersisa banyak.

“Gak dihabisin lagi? Kamu ini kebiasaan deh. Jangan suka membazir Brian, di luar sana—”

“Dah Ibu, Tschüss Dad!” kataku setelah mencium pipi Ibu, kemudian Dad yang hanya ditanggapinya dengan anggukan sambil terus membaca koran paginya. Dad itu sangat tidak suka jika konsentrasinya buyar.

 

Aku berlari ke luar sambil memakai tas punggungku sebelum Ibu menasehatiku panjang lebar tentang bagaimana orang-orang tidak mampu yang harus berjuang untuk makan sesuap nasi yang mana sudah aku dengar berkali-kali itu.

Bukannya aku ini anak yang durhaka apalagi sombong, ya! Aku memang tidak biasa saja menghabiskan makananku sampai benar-benar bersih like a homeless who never met a food for the million years. Itu sudah bawaan aku dari lahir, tidak pernah habis kalau makan walaupun sudah dikasih sangat sedikit. I dunno why.

Aku menghidupkan motor matik kesayanganku, memasang earphone di telingaku, lalu melaju pergi menuju sekolah. This day must be a nice day! Dan lagu Happy dari Pharrel William memulai pagiku.

-*-

“Kamu mau tidur sampai kapan, hm? Bangun!” Ibu masuk ke kamarku dan mengacaukan mimpi indahku, padahal di mimpi sebentar lagi aku sama Aldo sayangnya aku mau ciuman di bawah sinar bulan purnama di pertengahan bulan Juli sebelum aku kembali ke kayangan aku di surga bersama para dewa. Huh. Ibu benar-benar jahat banget sama aku!

Sekarang dia goyang-goyangin badan aku, aku pura-pura aja masih tidur. Soalnya aku males banget buat sekol—oh, God! Aku kan ada remedial hari ini dengan Bu Ratna.

Aku melompat dari tempat tidurku, membuat Ibu terkejut setengah hidup, lalu masuk ke kamar mandi, lalu keluar lagi karena lupa bawa handuk, lalu masuk lagi dan memulai ritual pagiku.

“Brian udah pergi duluan, jadi kamu harus cepat kalau nggak mau kehabisan bus! Key mandinya cepetan!” teriak Ibu dari luar.

“Iya-iya Bu…” kataku dari dalam kamar mandi sambil sikat gigi dan pemanasan.

For your information, aku ini atlet taekwondo loh. Bukannya mau show off or something like that ya, tapi beneran aku memang seorang petarung. Ya, meski banyak banget yang nggak percaya karena liat muka aku yang imut—cantik maksudnya. Jadi aku harus melakukan pemanasan rutin supaya badan aku nggak pegal-pegal, ya, siapa tau aja kalau-kalau aku mau mecahin kepala orang nantinya. Oh, Sekarang aja aku lagi split di lantai sambil sikat gigi.

Setelah selesai mandi dan mengenakan seragamku, aku segera berlari turun menuju meja makan.

“Pagi Bu, guten Morgen Dad,” aku melirik sekilas jam dinding di dekat pintu dapur, jam 6.45, aku benar-benar akan terlambat. Jadi aku cepat-cepat mengambil piring dari Ibu yang sedang mengambilkan nasi goreng untukku. Lalu menghabiskannya dalam beberapa menit dan mengosongkan gelas berisi susu coklatku. “Tschüss Dad, dah Ibu!” aku mencium mereka lalu berlari ke luar rumah.

“Key…” suara Ibu yang memanggilku, aku abaikan. Soalnya aku benar-benar bakalan telat bentar lagi. Duh, moga aja masih ada bus yang lewat sekolahan.

Aku sudah nggak peduli lagi dengan sekitarku, tadi aja aku nyenggol abang-abang yang asik maen HP sampai HP-nya jatuh. Huahaha, I don’t fucking care. Aku aja nggak peduli dengan rambut hitam legam aku yang tadi cuma aku sisir alakadarnya, juga nggak peduli lagi dengan bajuku yang sebagian sudah keluar dari dalam rok abu-abu ini, karena yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana aku bisa lolos dari hukuman Bu Betti nanti kalau aku benar-benar telat.

Eh, tunggu, kayak ada yang tinggal deh. Aku berhenti sebentar, halte sudah tinggal beberapa meter lagi di depanku, juga ada bus yang lagi berhenti di sana. Aduh, ayo dong, ingat-ingat lagi apa yang tinggal. Shit! Aku lupa bawa tas!

Key, you’re a fucking stupid asshole! Bagaimana bisa aku meninggalkan barang segede itu di kamar? Jadi, sepanjang jalan menuju kembali ke rumah aku mulai mengutuki segala hal. Sepertinya aku benar-benar akan dihukum Bu Betti hari ini. Huft. Dan aku nabrak abang-abang tadi sampai HP-nya jatuh lagi.

“Woy, bule gila!”

“Sorry, Bang!”

***

Aku hanya menunduk dari tadi. Jadi, aku dengan sembilan orang lainnya yang datang telat hari ini sedang mendengarkan Bu Betti berceloteh ria sejak setengah jam yang lalu. Sampai rasanya kaki aku pegal deh, belum lagi panas banget hari ini.

Bu Betti itu salah satu guru tua—senior maksudnya—di sekolahku. Juga guru paling killer yang sebenarnya malas banget buat aku ceritain. Dia ngajar matematika di hampir seluruh kelas sebelas, kecuali kelas sebelas Bahasa lima sampai tujuh, soalnya anak-anaknya nakal-nakal dan susah diatur banget katanya.

Sekarang dia diam, berhenti menceramahi kami semua. Tapi terus bolak-balik sambil ngeliatin kami dengan mata tajamnya yang berada di balik kacamata tebal berbingkai aneh miliknya. Duh, dia itu mirip Valak plus kacamata deh, juga keriput-keriput yang so euh itu. Bunyi ketukan dari penggaris kayu yang selalu dibawanya dengan lantai konblok menambah aura mencekam di antara kami semua. God, help us.

Aku terus berdoa semoga ada keajaiban hari ini. Kan nggak elit banget kalau nanti aku sampai di hukum buat bersihin toilet, atau disuruh hormat di depan tiang bendera, atau hukuman konyol dan memalukan lainnya cuma gara-gara aku datang telat doang. Reputasi aku sebagai cewek cantik di sekolah kan bisa hancur lebur.

Dan aku menghembuskan napas lega saat melihat Brian berjalan mendekat ke arah kami. Aduh, kembaran aku yang ganteng itu benar-benar baik banget deh sama aku. Nanti aku beliin dia dildo getar ah sebagai ucapan terima kasih. Secara dia kan botty manja yang sensitif dan sok perfeksionis.

“Kalian ini, benar-benar ya! Apa kalian tidak bisa bangun pagi-pagi? Ayam saja sudah bangun pagi-pagi buta. Dan sekarang lihat, saya harus nungguin kalian dan kepanasan di sini. Kalian gak tau ya, saya ini guru senior di sini!” suara Bu Betti makin meninggi, mata tajamnya nggak berhenti memindai kami satu per satu dari balik kacamata berlensa aneh miliknya. “Jangan menunduk! Biarkan wajah kalian menghadap matahari!” kali ini aku terlonjak kaget sampai memucat saat ia ternyata sudah berdiri di depanku yang sedang melamun. “Kalian ini—”

“Permisi, Bu,” semua mata tertuju ke Brian yang berada di belakang Bu Betti. Seluruh siswa di sekolah emang udah tau kok kalau cuma Brian yang berani menyela dan memotong pembicaraan Bu Betti tanpa membuatnya marah dan harus dihukum membersihkan toilet. Itu karena hanya Brian murid kesayangannya yang selalu diperlakukan istimewa, dan nggak ada satu orang pun yang membencinya kerena itu. Mereka semua sudah tau kalau Brian memang siswa teladan, juga pintar—nggak kayak aku. Belum lagi jabatannya sebagai sekretaris Osis, membuatnya makin disegani semua orang dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas.

Kadang-kadang aku aja iri sama dia. Eh, nggak jadi irinya deh, soalnya kan aku juga se-famous dia. Selain karena aku kembaran dia, aku juga cantik—tapi kebanyakan orang bilang aku imut dan menggemaskan, aku benci dibilang begitu, soalnya aku kan cantik bukan imut. Aku juga senior sekaligus pelatih dan ketua di klub taekwondo, dan aku adalah cewek cantik paling mematikan di sekolah sejauh ini sih.

Bu Betti membenarkan posisi kacamatanya untuk melihat Brian lebih jelas sebelum tersenyum ramah padanya. “Oh, anakku, kenapa kamu Brian?”

“Ini Bu, saya mau minta tanda tangan Ibu buat proposal kegiatan kita Senin depan.” Itu hanya alasan, aku tau itu. Tujuan Brian sebenarnya kan datang ke sini buat nyelamatin kembarannya yang cantik dan anggun ini. Jadi, tadi itu aku ngirim pesan ke Brian buat nolongin aku—dari kekejaman Bu Betti—yang pasti bakalan dateng telat pas naik bus yang untungnya masih ada tadi. Dia emang nggak bales pesan aku sih, tapi aku tau dia pasti tetap nyelamatin aku kok. As usual.

“Loh, bukannya saya sudah tandatanganin itu kemarin?” Bu Betti berhenti mengetukkan penggaris kayunya ke tanah.

“Yang kemarin itu buat surat permohonan kegiatan Bu.”

“Oh, gitu, sini, mana yang harus saya tandatanganin?” Brian nyodorin jilidan kertas yang dari tadi dia pegang ke Bu Betti dan memintanya menandatangani di bagian Waka Kesiswaan. Lalu Bu Betti menyuruh Brian memegangi penggaris kesayangannya itu yang nggak boleh dipegang orang lain selain dia sama Brian. Bu Betti mulai mencoretkan tinta pena ke atas kertas jilidan itu. “Ini, sudah.” Bu Betti menyodorkan kembali jilidan itu, dan Brian mengembalikan penggarisnya.

Brian mengedip sekali padaku setelah menerima kembali jilidan proposal itu. That’s the sign. It’s time for me, watch and learn. “Iya, makasih ya Bu.”

“Hm. Sekarang kamu boleh per—” ucapan Buk Betti terpotong saat melihatku akan pingsan dan membuat semua orang di sana heboh.

“Oh, kepalaku pusing, sepertinya aku akan pingsan…” aku berlagak jatuh ke samping dan berpegangan dengan cowok di sebelah aku supaya aku nggak benar-benar jatuh ke tanah dan membuat baju aku kotor, soalnya kan besok masih harus dipake. Cowok di sebelah aku refleks memegangiku—untung dia cepat tanggap dengan situasi. Huft.

“Oh, Dewa! Cepat angkat dia!” Bu Betti mulai panik saat melihat wajah pucatku, aku terus memegangi kepalaku yang sebenarnya gak sakit sama sekali.

“Biar saya,” Brian mengangkatku dan membopongku dengan mudah. Aku tersenyum dan memberi kedipan pada kembaranku yang baik hati itu.

“Sepertinya perutku mulai terasa mual. Oh Tuhan, tolonglah hambamu…” suaraku aku buat seserak mungkin supaya ucapanku terdengar sangat dramatis dan meyakinkan. Guru itu pasti sudah tertipu sekarang. Huahaha. Makanya Bu, jangan kebanyakan nonton Uttaran, hidup ini nggak selebay sinetron kok.

“Brian, cepat antar kembaran kamu ini ke UKS sekarang,” Bu Betti yang sudah sangat panik mulai membuka kipas raksasa miliknya dan mengipasi dirinya yang sudah berkeringat, itu sudah menjadi kebiasaan guru killer itu saat sedang panik atau kesal. Lalu sambil membenarkan kacamata miliknya, Bu Betti kembali memberi tatapan sadisnya pada siswa lainnya. “Apa? Kalian mau ikut-ikutan ke UKS juga, hm?” dan semua siswa di sana yang hendak pergi mengikuti Brian hanya bisa tersenyum canggung—padahal dalam hati mereka semua pasti menrutuki guru sialan itu.

Oh, aku memberi kedipan juga pada cowok di sebelah aku tadi yang membantu akting aku lebih meyakinkan. Tapi dia cuma melotot ke arah aku dengan mata hitamnya. Huh. Apa-apaan sih dia, masa nggak mimisan dengan kedipan aku yang cantik ini.

Tanpa menunggu lebih lama lagi dan membuat lengannya keram karena dia jarang banget olahraga dan nge-gym, Brian cepat-cepat pergi menuju ke arah UKS.

Barulah saat sudah berada pada radius yang aman dari penglihatan Bu Betti, Brian langsung menjatuhkan aku ke lantai.

“Fuck! Ini sakit bodoh!” seriusan, itu benar-benar sakit, man. Aku meringis sambil memegangi pantat aku yang baru aja menabrak lantai.

“Lagian lo kenapa sih mesti dateng telat mulu, ha?” Brian melipat tangan di depan dadanya, persis cewek-cewek bangsawan inggris di zaman medieval kalau lagi kesal dengan pasangan dansanya. Jujur aja, Brian pasti mulai bosan gara-gara harus nyelamatin aku terus dari amukan Buk Betti. Atau kadang ngebantuin aku meloncati pagar belakang sekolah. Tapi kan nggak sering—oke, belakangan ini emang sering sih. Tapi aku datang telat kan hanya kalau mimpiin Aldo sayangnya aku aja. Soalnya kalau lagi mimpiin dia aku nggak mau bangun cepat-cepat. Sayangnya akhir-akhir ini aku emang sering mimpiin Aldo-sayangnya-aku. Hm.

Aku berdiri, lalu mengambil tasku yang juga ikut terjatuh tadi. “Oh, my unyu-unyu twin, kenapa kamu harus cemberut gitu sih? Dedek Key kan jadi sedih,” aku mencoba menggoda Brian dengan mencubit pipinya. Tapi itu tak berhasil. “Oke, maafin gue deh, lain kali gue gak telat lagi. Promise!”

“Senin kemarin ngomongnya gitu juga, kan?” Brian menaikkan satu alisnya.

“Tapi yang ini serius, Bri!”

“Serius, ya! Awas lo,” ancam Brian sambil menunjuk aku dengan alisnya yang bertaut.

“Iya, iya,” kataku sambil merangkul Brian dan mengajaknya berjalan. “Btw, thanks, udah nyelamatin gue lagi Bri. Ntar gue traktir sate padang Uda Asep deh,” aku menyandarkan kepalaku di bahu kirinya sambil menggandeng lengan kirinya.

“Alah, omongan lu. Paling-paling nanti sok-sok lupa bawa dompet, ujung-ujungnya gue yang bayar sendiri, sekalian punya lo juga. Udah deh, gue udah hapal betul kelakuan lo,” Brian melepas peganganku di lengannya. Aku cemberut.

“Ih, santai Nyet! Nggak, kali ini beneran. Udah dulu ya, gue mau ke kelas, mau liatin Mamas Aldo. Udah tujuh belas jam nggak liat mukanya yang bikin gue melted,” kataku saat kami sudah berada di ujung koridor mading karena dia harus belok ke kanan sedangkan aku harus kembali ke kelas XI IPS 1 di sebelah kiri.

“Iya, iya, awas lo kalo nggak jadi. Gue bilangin Ibu kalo lo yang matahin lipsticknya kemaren gara-gara lupa di puter balik dan asal tutup aja!” ancam Brian saat ingat kelakuan aku tiga hari yang lalu. Ih, dasar homo tukang ngadu ya!

Aku memutar bola mata amber-ku. “Iya… Bye!” aku mencium kembaranku dan berjalan sambil loncat-loncat ke arah kelas dan membuat rambut hitam legamku bergoyang kiri-kanan. Oh,oh, aku suka begini, aku suka.

-*-

Jadi dari tadi, hampir semua siswa di kelasku mengabaikan Pak Frits yang sibuk menceritakan masa mudanya yang—menurutnya—gemilang itu. Tentu tidak semuanya, hanya beberapa siswa yang duduk di bangku paling depan dan haus akan nilai yang sedang asik mendengar cerita beliau. Padahal aku tau, mereka mati-matian untuk tidak menguap di depan Pak Frits dan berusaha terjaga untuk terus mendengarkannya.

Sedangkan kami berempat masih bertahan dengan posisi duduk kami yang terlihat bagai kelompok belajar yang kenyataannya kami malah asik bergosip ria—kecuali Top tentunya. Dan Kristian—Kristina maksudnya—juga terus mengoceh sambil sesekali menangis sesenggukan yang dibuat-buat, dia bercerita tentang bagaimana Zetta memperlakukannya sama seperti teman-teman cowoknya yang lain saat mereka ngumpul dengan anak-anak dari klub futsal semalam.

“Aku itu nggak bisa ya dibegendongin. My fragile heart kan jadi sakit banget. Huhuhu… hurt, hurt, hurt,” katanya sambil mengipas-ngipasi matanya yang mulai berkaca-kaca itu dengan jari-jari lentiknya. Lalu berusaha mengelap matanya dengan sapu tangan merah yang melingkar di tangan kiri Top. Tapi buru-buru ditepisnya, tentu Top tak mau sapu tangannya dinodai oleh air mata Kristina. “Ih, Top, kamu jahat, nggak punya hati nurani. Huhuhu…”

“Diam deh, gue jadi lupa kan mau ngebales chat-annya cewek kelas sebelah apaan,” dan Top kembali asik dengan ponselnya lagi.

“Ugh, Kristian, puhleaseee… kita udah dengar cerita lo dari tadi, bahkan lo juga udah bahas itu semalam di grup line.” Ucapan Sisy barusan adalah malapetaka bagi semua orang di dunia sebenarnya, kecuali dirinya tentu saja. Kristina tidak pernah berani mencekik leher Sisy seperti yang ia lakukan kepada semua orang saat mereka memanggilnya Kristian. Itu karena Sisy pernah menendang alat vital pemuda kemayu yang senang shopping online itu saat dia berusaha mencekiknya. Jadi Kristina tak berani lagi melakukannya.

Wait bitchy, kamu panggil aku tadi apaan? Call me Kristina, don’t ever ever and ever call me like that. Repeat after me, Kristina.”

“Kristina,” Sisy mengikuti ucapan Kristina sambil memutar bola matanya.

Good. Cop, cop, cop,” dia mengucapkannya sambil menjentikkan jarinya tiga kali di depan wajah Sisy sebelum mulai tertawa ala-ala putri kerajaan sambil menutup mulutnya dengan anggun.

Dan bunyi bel istirahat menghentikan Pak Frits bercerita tentang masa mudanya yang bahkan aku tak peduli sama sekali, juga menutup obrolan absurd kami dan membuat Sisy dan Kristina berbalik kembali menghadap depan.

Pesan line masuk ke ponselku. Itu dari Key.

Key BigFoot

‘Kembaran, jadi gak? Gue udah setengah jam nih duduk di kantin.’ 10.15 AM.

‘Otw.’ 10.15 AM. Read.

Padahal aku tau dia bohong. Jadi aku memasukkan kembali ponselku ke dalam kantong celana abu-abuku dan duduk kembali dengan tegak. Aku menyenggol Top dengan lengan kananku sebagai isyarat bahwa sebentar lagi Pak Frits mau keluar, dan dia tak peduli seperti biasanya.

Setelah Gema memimpin salam dan guru tua yang tahun depan sudah memasuki masa pensiun itu keluar dari kelas, Sisy dan Kristina berbalik lagi.

“Makan apa kita hari ini, gengs?” tumben sekali Sisy yang bertanya duluan, tapi itu malah terdengar bagus bagi kami. Jadi Kristina tak harus mencak-mencak di depan muka dia lagi karena marah dengannya yang tidak jelas. Serius, dia itu paling susah kalau diajakin makan. Jawabannya selalu terserah, tapi pas diajak dia malah tak mau dan banyak protes. Like, ‘jangan makan di sana ah, jorok!’ Atau, ‘gue gak suka sayur-sayuran, dan di sana Cuma ada menu sayur-sayuran. Iyak!’ Kadang juga, ‘Kristina, lo kok milih tempat makan yang isinya nenek-nenek begini, sih?!’Padahal waktu itu kami hanya sedang makan sate di pinggir jalan, tapi tepat di sebelah panti jompo. Actually, I know why she do that, because her purpose is to have a perfect body dengan cara diet dan semacamnya.

“Gue gak makan ah, ada sepuluh video Lisa Ann yang baru gue download, cewek di kelas sebelah juga lagi nungguin gue buat dikangkangin. Gue ke toilet dulu!” Top langsung kabur ke toilet sambil memegangi selangkangannya. Dan aku hanya geleng-geleng kepala saja.

“Gila tuh anak, yang dipikirin selangkangan mulu!” ujar Sisy dan mendapat anggukan setuju dari Kristina. “Jadi kita makan apaan nih?”

“Kalian aja deh yang makan, aku nggak. Aku kan masih berduka cita, kokoro aku kan masih sakit. Aku butuh waktu sendiri dulu. Mungkin sambil kutek-an di toilet lantai dua, soalnya Mom baru beliin aku nail polish yang ada twinkle-twinkle little star-nya gitu. Ulala. Oh, I mean, huhuhu…” lalu Kristina berlari ke luar kelas dengan dramatis sambil menangis.

“Drama Bencong. Padahal Zetta aja nggak nganggap dia pacar. Huh!” Sisy menghadap padaku lagi. “Jadi, Bri, gimana kalo sate Uda Asep?”

“Boleh, boleh,” jawabku sambil mengangguk dan segera berdiri.

Aku baru saja akan keluar dari mejaku saat sebuah pesan masuk lagi ke ponselku. Itu pasti dari Key, kenapa dia tak bisa sedikit bersabar, sih? Aku mengusap layar hp-ku dan menemukan pesan itu ternyata dari Braga. Gosh! Kenapa aku bisa lupa dengan Braga. Dia kan katanya mau ketemuan dengan aku di tempat biasa.

Prince Braga.

‘Gue udah di sini, Yang.’ 10.15 AM.

Aku menepuk sekali keningku karena bisa-bisanya lupa dengan hal yang paling aku tunggu-tunggu di hari ini. Hal yang pasti membuat moodku benar-benar baik hari ini.  Lalu aku mengetik balasan pesan untuk Braga dengan cepat.

‘Emang kamu mau ngasih apaan sih? Aku mau makan dulu nih.’ 10.15 AM. Read.

Aku berpura-pura nggak peduli, padahal sebenarnya aku sangat senang Braga mau memberiku kejutan.

‘Oh, yaudah, kamu makan aja deh dulu. Cincinnya aku kasih pas pulang sekolah aja deh.’ 10.16 AM.

Aku menaikkan sebelah alisku. Ternyata dia mau memberiku cincin, aku tak menduganya. Aduh, dia benar-benar so sweet hari ini. Tapi tunggu, kenapa dia mau memberiku cincin? Oh, oh, I know , I know! Itu pasti cincin yang pengen banget aku beli pas kami jalan ke mall tiga hari yang lalu. Iya, itu pasti cincin putih tanpa mata dengan ukiran halus di sepanjangnya yang aku inginkan sekali itu. Sepertinya aku meleleh sekarang.

‘Eh, salah, maksudnya bukan cincin. Serius, bukan! Bukan cincin. Itu salah ketik doang.’ 10. 16 AM.

Braga itu tolol. Dan aku tersenyum miring setelah membaca pesannya barusan. Sisy menepuk pundakku, membuatku terlonjak kaget. “Jadi nggak sih? Aku udah laper banget nih!”

“Si, gue gak makan deh, lo aja,” kataku setelah mengantongi ponselku.

“Yah, kenapa—”

“Di sana ada Key, lo minta bayar aja sama dia. Bilang gue yang nyuruh. Tschüss!” aku berlari kecil ke luar kelas setelah melewati Sisy yang masih belum selesai dengan omongannya. Dia pasti mulai cemberut.

Dari luar kelas aku bisa mendengar suara perut Sisy yang protes, dan aku terbahak sepanjang jalan. Pasti semua orang di sana juga sedang memandang Sisy dengan tatapan ilfeel mereka. Poor Sisy.

Bersambung—

Agustus tujuh, 16’
Levi