Sexy, Naughty, Dirty cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Kutulis buat kalian yang merasa ‘seksi’ meski pada pandangan orang lain mungkin sama sekali tidak. Kupersembahkan kepada kalian yang dianggap ‘bandel’ oleh orang sekitar meski kalian sama sekali tidak sependapat dengan mereka dan masih saja menganggap diri kalian anak baik. Dan… ini juga kuposting untuk kalian yang pikirannya suka ‘jorok’ kalau sedang buka internet meski kalian tidak mengakuinya.

Selamat berjumpa Rauf, Arya dan Dewa dalam SND. Selamat merasa seksi dan bandel dalam saat bersamaan, dan berpikir joroklah bersama mereka.

Yang terakhir dariku, semoga kalian menikmati membaca Sexy, Naughty, Dirty seperti aku menikmati ketika menulisnya.

 

Wassalam.

n.a.g

##################################################

Narator said:

Ini adalah sebuah kisah yang pasti tidak akan didongengkan oleh bokap atau nyokap zaman dahulu saat mengantar putra-putri mereka tidur, tidak juga bokap-nyokap zaman sekarang. Ini adalah sebuah kisah yang hanya terjadi ketika emosi tampil lebih dominan dan lebih kuat daripada karakter, watak, bahkan jenis kelamin. Ini adalah cerita tentang bagaimana perasaan ternyata bisa membelokkan logika dan akal sehat. Dalam cerita ini, perasaan bahkan mampu menyulap tokoh-tokoh di dalamnya untuk jadi apa yang mereka katakan sebagai… tunggu, biar kuingat-ingat dulu… ah iya, apa yang mereka katakan sebagai ‘seperti yang kamu mau’.

Jadi, anak-anakku yang budiman, lupakan sejenak Cinderella dan labunya, lupakan Snow White and The Seven Dwarfs, dan simpan dulu buku The Wizards of OZ milik kalian di bawah bantal…

Sudah?

Baiklah, mari kita mulai ceritanya.

Once upon a time in the country called X.Y.Z… urip telu joko kasep sing…

.

.

.

INTRODUCING

RAUF

Nama Lengkap :

Di KTP, Rauf R. Preston. Di Ijazah dan Paspor, Rauf Preston. Di akta lahir dan STNK mobil, Rauf Ramadhan Preston. Belum diketahui bagaimana persisnya penulisan namanya di buku bank atau SIM miliknya

Umur :

24 Tahun dan akan bertambah setahun demi setahun setiap Oktober

TB/BB :

179/80

Golongan Darah :

Unknown (Rauf said : Gue takut jarum suntik)

Zodiak :

Sepertinya Scorpio

Pekerjaan :

Setelah dikeluarkan dengan tidak baik dari X Band kini beralih profesi jadi instruktur paruh waktu di Gym X dan paruh waktunya lagi jadi kalong (kadang-kadang) dan lebih sering jadi kebo habis disuntik bius (baca : sleepy head)

Status :

Lajang (baca : playboy)

Kualifikasi :

Tinggi menjulang, tungkai bagus, pinggang tanpa lemak, perut kotak-kotak, dada bidang, bahu lebar, lengan kokoh, punya kadar sex appeal yang tinggi, pencium andal dan belum pernah gagal membuat orang-orang menganggapnya seksi

Hobi :

Telanjang dada (baca : show off)

Ketakutan terbesar :

Dilupakan

ARYA

Nama Lengkap :

Semua dokumen miliknya tertulis RM. Arya Kamandanu Tahir, kecuali pada sertifikat bertajuk ‘Juara 1 Lomba Menggambar Semangka’ yang diperolehnya ketika jadi siswa di kelas Nol Besar, yang mana di sertifikat rombeng itu namanya tertera sebagai Deden Arya (Arya’s act : nyiram bensin ke sertifikat jahanam dimaksud sambil garuk-garuk selangkangan)

Umur :

Belum genap 18 dan sudah bawa kendaraan sendiri gara-gara gigih menguber-uber oknum penyedia jasa pengurusan SIM gadungan sejak masuk SMA

TB/BB :

173/70

Golongan Darah :

Pasti AB

Zodiak :

Arya said, “Itu nama makanan Jepang, ya?”

Pekerjaan :

Hampir tidak lulus UN di SMA Y, tapi thank God… sekarang sudah jadi junior di Kampus Y’ a.k.a Ye Aksen

Status :

Ngakunya baru putus

Kualifikasi :

Selain punya ketertarikan mahabesar terhadap sesuatu berbau pelanggaran dan keributan, dia punya wajah cute dan senyum maut luar biasa. Jadi kalau kamu bosen idup, gak perlu pusing mikirin cara apa yang paling enak buat bunuh diri, lihat saja senyumnya.

Hobi :

Dulu : nonton bokep. Sekarang : (masih) nonton bokep

Ketakutan terbesar :

Kalau dulu, ulangan dan ujian akhir. Sekarang pasti berubah jadi mid test dan final

DEWA

Nama Lengkap :

Cokorda Made Dewata Mahendra Rayi, dan belum pernah disingkat dalam dokumen manapun dan sepertinya memang selamanya tak akan pernah disingkat walau bahkan jika slot untuk namanya gak cukup sekalipun karena pertimbangan tentang betapa penting dan bergengsinya atribut yang ada di depan nama intinya

Umur :

Sebenarnya sudah 25, tapi orang-orang masih saja mengira kalau umurnya baru 20 (Dewa says : Kacang-kacangan dan alpukat adalah rahasia awet muda gue. Trust me… it works…!)

TB/BB :

175.4/76.9

Golongan Darah :

Dewa said, “Kalau tidak salah Nol deh. Tapi sebentar, coba gue lihat dulu.” (merogoh-rogoh dompet) “Aha! Ketemu. Eh, rupanya A.” (nunjukin kartu donor darah miliknya)

Zodiak :

Leo, kalau tidak salah

Pekerjaan :

Sempat jadi korban PHK dengan alasan tak masuk akal, sekarang setelah dimodali keluarga bokapnya yang kaya raya dan berdarah biru itu, dia jadi bos di Bengkel Z yang merupakan miliknya sendiri.

Status :

HTS (baca : kumpul kebo)

Kualifikasi :

When you guys meet him, just look at him…!

Hobi :

Sejauh ini adalah ngesek sama temen kumpul kebonya, tetapi karena satu dan lain hal, hobi ini kadang-kadang dialihkan ke selingkuhan kumpul kebonya

Ketakutan terbesar :

Tidak dapat mengakses situs-situs porno di dunia maya karena internet filtering

INTRODUCING OVER

.

.

.

Bengkel Z hari ini sepi costumer. Setelah mobil sport keren yang harus ditangani sendiri oleh Dewa dibawa pemiliknya──yang cerewet dan curigaan dan suka memaksa──meninggalkan bengkel hampir satu jam yang lalu, otomatis tak ada pekerjaan apapun lagi di Bengkel Z. Sembilan orang montir gajian Dewa hanya menghabiskan waktu dengan menonton siaran ulang El Clasico di TV kabel yang ditempatkan menempel di satu sisi dinding bengkel. Mereka, montir-montir itu, terlihat sangat menikmati momen langka di Bengkel Z yang biasanya selalu ada pekerjaan itu.

Setelah membereskan peralatan dan membasuh tangannya di wastafel, Dewa berjalan ke ruang kerjanya sambil mencoba melupakan betapa tidak menyenangkannya sikap anak muda pemilik mobil sport yang baru saja diservisnya. Bayangkan saja, pekerjaan servis ringan yang biasanya hanya butuh waktu paling lama setengah jam bagi Dewa untuk melakukannya, molor jadi satu jam lebih gara-gara si pemilik sangat ingin tahu setiap hal yang dilakukan Dewa, apapun. Yang lebih menjengkelkan, alih-alih duduk menunggu di ruang tunggu bersofa nyaman sambil membaca atau memilih channel atau apapun sementara mobil mahalnya dikerjakan, si pemilik malah bergerak kesana kemari di sekitar area kerja Dewa sambil mengomentari ini dan itu yang menurut Dewa sama sekali tidak perlu dan tidak ada gunanya. Kalau saja anak muda itu tidak punya wajah imut menurut standar imut yang Dewa tetapkan, ingin saja dia menyuruh enyah pelanggan mudanya itu dari wilayah kerjanya, atau bahkan menolak mobilnya sekalian.

Dewa menaikkan level AC dan mendudukkan diri di balik meja kerjanya yang berantakan.

Tapi… kalau sekarang dipikir-pikir, ada sesuatu pada pelanggan lumayan cerewet──untuk ukuran cowok──yang sepertinya baru pertama kali ke Bengkel Z itu, sesuatu yang membuat Dewa mendadak ingin pulang dan meminta Ren menungging untuknya, atau kalau menungging dirasa terlalu berat mengingat Ren baru saja melakukan hal itu dini hari tadi, sekedar mengangakan mulutnya pun jadi-lah. Tapi, Ren kan sedang siaran?

Selangkangan Dewa berontak satu kali.

Sambil merutuk dalam hati, Dewa menimbang-nimbang untuk pergi ke kontrakan Audrey yang uang sewanya selalu dibayar olehnya, toh bengkel lagi sepi. Ren tentu saja tidak tahu perihal Audrey, dan Dewa tentu saja belum cukup dungu untuk memberitahu Ren perihal dirinya yang juga suka ‘mencuci’ penisnya ke ‘sumur’ lain selain milik teman kumpul kebonya itu. Hal yang sama juga berlaku bagi Audrey yang sama sekali tidak tahu kalau Dewa juga punya ‘piaraan’ lain selain dirinya.

Tapi… buat apa Dewa ke kontrakan Audrey? Cewek itu kan sedang ada di kampus.

Buntu. Tapi itu hanya sesaat sebelum jalan keluar terakhir dan sejauh ini selalu berhasil menyala-nyala di kepala Dewa bagai bohlam yang dihubungkan pada arus listrik yang tepat. Dewa buru-buru merogoh hapenya dan mulai streaming bokep lewat salah satu situs dari sederet situs porno langganannya. Ada tiga video baru dengan judul yang kembali menimbulkan lonjakan di selangkangannya. Dewa menyentuh video bertajuk ‘Makes Dad’s Friend Relax’ dan langsung disuguhi gambar seorang cowok bule remaja berwajah manis membukakan pintu untuk seorang pria bule paruh baya berbadan tegap dengan brewok tipis warna kelabu di wajahnya yang jantan. Pantas saja rating videonya tinggi, kedua aktornya bernilai sempurna.

Dewa menoleh ke sisi kanannya, ke pintu ruang kerjanya yang berupa kaca tembus pandang dari kedua sisi, volume TV yang sedang ditonton anak buahnya──yang kesemuanya berumur tidak lebih muda darinya──bisa terdengar sampai ke tempatnya. Kesimpulannya, dia aman.

Saat layar hapenya menampilkan si bule remaja sedang berlutut dengan wajah tepat berada di depan zipper lawan mainnya, Dewa mengusapkan telapak tangannya ke atas zippernya sendiri, berulang kali. Ketika si bule remaja mulai mengulum penis gede ‘teman ayahnya’ dengan bersemangat, Dewa membayangkan Ren sedang memberikan blow job buatnya. Lima menit berlalu, kini si bule remaja terlihat tidur di sofa, kakinya disangga bahu lebar ‘teman ayahnya’ sementara sang teman ayah itu menusuk-nusukkan alat vitalnya dengan ekspresi tenang seakan untuk menunjukkan betapa berpengalamannya dirinya dibanding si bocah dalam mengatur emosi bercintanya hingga menuju klimaks. Dan dengan begitu saja Dewa membayangkan dirinya sedang menindih Audrey, melakukan hal yang persis sama seperti yang pria bule itu lakukan pada ‘anak temannya’ sementara Audrey mendesah-desah keenakan dengan manja.

Akibatnya, dari sekedar mengusap kini dewa mulai meremas.

Video berlanjut ke adegan berikutnya dimana kini si bule remaja tidur tengkurap sambil membuka pahanya lebar-lebar sementara si pria bule midle age menindihnya sambil menaik-turunkan pinggulnya.

Merasa aman, Dewa membuka kancing paling atas celana jins-nya, batang penisnya terasa hangat di kulit telapak tangannya. Tiga menit kemudian ketika irama naik-turun pinggul si pria bule paruh baya terlihat makin cepat, telapak tangan Dewa juga mulai ikut bergerak naik turun. Ujung mata Dewa mengetahui keberadaan kotak tisu di sudut meja, ditaruhnya hape di atas meja disangga sedemikian rupa dengan tumpukan buku faktur agar layar menghadap ke arahnya lalu dijangkaunya kotak tisu untuk berjaga-jaga.

Orang-orang di layar hape berganti posisi lagi. Si bule remaja sedang menduduki kemaluan ‘teman ayahnya’.

“Permisi?”

“What the fff…” Dewa berputar sembilan puluh derajat di atas kursinya hingga membelakangi arah pintu di mana seseorang baru saja melanggar batas privasinya.

“Sorry, gue gak ber─”

“LOE GAK BISA BACA ADA TULISAN DI PINTU, HAH! HANYA KARYAWAN!” Dewa selesai merapikan celananya. Sekarang dia berdiri galak menantang orang di pintu. Cowok itu pasti sempat melihat penisnya tadi, setidaknya sebagian penisnya. Benar-benar sial.

“Tadi gue sempat manggil-manggil, semuanya pada konsen nonton bola, jadi gue kemari. Tapi, gak apa-apa kalau loe lagi sibuk, lanjut aja. Gue cuma mau ambil ini, ketinggalan di depan, untung masih ada.” Orang di pintu menunjukkan mini bagnya yang katanya ketinggalan.

“Kalau sudah ambil kenapa gak pergi aja, ngapain harus kemari.”

“Ya gue kan harus kasih tahu dulu. Masa siap ambil langsung nyelonong pergi aja, kalau kebetulan ada yang lihat, entah montir lain entah orang di jalan terus gue diteriakan maling, loe pikir itu nyaman di gue?”

Suara erangan sayup-sayup keluar dari speaker hape Dewa yang ada di atas meja. Salah satu pemain pasti sedang mengalami ejakulasinya, dan part terbaik itu dilewatkan Dewa begitu saja. Betapa ruginya.

Cowok di pintu melirik hape Dewa.

“Kenapa? Loe gak pernah nonton bokep?”

“Hobi gue nonton bokep kok.”

Dewa mendengus tak peduli pada mantan pelanggannya, anak muda cerewet pemilik mobil sport yang baru diservisnya tadi. Tapi dalam hati mau tak mau dia bertanya-tanya juga, apa anak muda itu tahu kalau bokep yang sedang ditontonnya hari ini adalah bokep gay? Itu tadi suara erangan cowok. Setahu Dewa berdasarkan pengalamannya streaming situs porno, kalau bokep hetero yang lazim terdengar adalah erangan cewek, apalagi kalau bintangnya cewek asia.

“Ya sudah, ngapain lagi ngacung di situ?” tanya Dewa sengit.

Si cowok menggidikkan bahu lalu berbalik pergi. Tapi tiga langkah setelahnya dia berbalik lagi.

Dewa menaikkan sebelah alisnya.

Nice cock, bay the way,” ujarnya sambil mengarahkan telunjuk ke selangkangan dewa lalu lanjut pergi tanpa menunggu reaksi orang.

Dewa melongo.

***

Manusia bisa jatuh cinta berkali-kali selama hidupnya. Tapi bagi Rauf, dia hanya pernah jatuh cinta satu kali. Dan tragisnya, gadis yang membuatnya jatuh cinta tidak sama seperti dirinya. Si gadis──yang sangat mudah membuat orang jatuh cinta padanya ternyata juga sangat mudah jatuh cinta pada orang lain yang belum tentu juga jatuh cinta padanya──meninggalkan Rauf untuk bersama lelaki lain. Yang lebih tragis lagi, Rauf tidak bisa melupakan Katia begitu saja seperti gadis itu melupakannya. Tidak. Seperti yang sudah kita ketahui, Rauf bukan manusia kebanyakan yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidup.

‘Kamu bukan tipe lelaki yang mudah untuk dimiliki, Raf. Aku tidak mau hidup dengan pikiran bahwa di luar sana begitu banyak gadis yang mengkhayalkan untuk hidup denganmu. Sangat tidak menyenangkan berada di dekatmu setiap kali ada cewek yang memandangmu penuh kagum, atau hasrat. Aku tidak sekuat itu walau hanya untuk berbagi pandangan dengan gadis lain. Kamu terlalu sempurna untuk dimiliki. Seakan Tuhan menciptakanmu hanya untuk sekedar dikagumi saja. Butuh lebih dari sekedar Katia untuk mampu memilikimu, dan aku hanya seorang Katia. Maaf…’

Itu permintaan maaf indah Katia sebelum seminggu kemudian Rauf memergoki cewek itu mencium bibir Barep di parkiran kampus. Kita tahu kalau permintaan putus Katia yang dibalut kalimat bak puisi nan indah itu adalah bualan belaka, tapi tidak dengan Rauf. Butuh waktu satu tahun bagi lelaki itu untuk membuat dirinya ‘tahu’ bahwa Katia sudah melupakannya. Butuh satu tahun lagi baginya terpuruk bersama ketakutan terbesarnya, dilupakan orang yang dicintai. Buntutnya, X Band tidak bisa mentolerir lagi keabsenannya yang mulai istiqomah. Mereka menyebutnya tidak bermusik dengan sepenuh hati, mereka menyebutnya egois, tidak professional dan blah blah blah. Setelah ribut-ribut dengan personel lain, dia ditendang begitu saja dari band yang mereka rintis bersama-sama, seperti anjing kurap. Posisinya sebagai bassist digantikan begitu saja oleh orang lain. Menyedihkan sekali.

Itu adalah cerita Rauf Preston dua tahun yang lalu.

Namun jika pun sekarang Rauf terlihat menikmati hidupnya, terlihat berhasil keluar dari ketakutannya setelah dilupakan Katia, itu adalah apa yang tampak di permukaan saja. Yang sebenarnya adalah, dia masih terluka. Terluka sembari melancarkan misi balas dendam. Bukan pada Katia, karena hingga saat ini ternyata baru gadis itu yang berhasil membuat dia jatuh cinta. Rauf sedang balas dendam pada dunia yang dianggapnya sudah menjungkirbalikkan hidupnya. Jadi, jika kemudian banyak cewek yang silih-silihan jatuh ke dalam pelukannya, itu bukan karena dia jatuh cinta dengan cewek-cewek itu, sama sekali tidak, dia hanya memberikan apa yang cewek-cewek itu mau darinya. Hasrat. Seperti yang dikatakan Katia.

“Mas goyangannya hebat banget, saya betah deh lama-lama digoyang sama, Mas…”

Mbak-mbak berwajah cantik yang sopan──yang membuat Rauf berbicara sopan juga──yang tadi siang dimentorinya di Gym X baru saja selesai mandi, kini sedang berpakaian di depan cermin. Branya warna zebra, satu set dengan panty yang tadinya sempat ditarik lepas Rauf di atas ranjang hotel.

Tidak menanggapi ocehan si mbak, masih bertelanjang dada, Rauf meneruskan merokok di balkon.

“Kapan-kapan nanti kalau saya pengen ngajak Mas main lagi, apa bisa?” Si mbak mengeluarkan beberapa lembar uang seratusan dari dalam tasnya.

Rauf kini memberi perhatian, bukan karena uang yang sedang berusaha dihitung si mbak di sela-sela pandangannya ke perut kotak-kotak miliknya, tapi karena pertanyaan si mbak. “Saya bukan lelaki seperti itu…” Rauf menghembuskan asap rokok dari bibirnya. Dia tahu rokok merusak kesehatan, dan sebagai salah satu trainer di Gym X, dia juga tahu kalau seharusnya dia tidak merokok, tapi itu sudah jadi kebiasaannya setiap habis memuntahkan lahar putih kental dari mulut penisnya.

Si mbak melongo, gerakan jari-jarinya menghitung uang terhenti mendadak.

“Saya bukan pekerja seks yang bebas diajak asal dibayar,” ulang Rauf mempertegas. “Saya manusia merdeka yang bebas ngatur diri sendiri sesuka hati. Mbak tentu paham maksud saya.”

“Oh…” Ekspresi si mbak jelas terlihat kecewa.

“Tapi Mbak bisa mengganti uang sewa hotelnya.” Rauf beranjak dari balkon dan membuang puntung rokoknya ke tong sampah.

“Ah iya, pasti.” Si mbak kembali sibuk menghitung lalu meletakkan beberapa lembaran merah di atas ranjang.

Rauf mendekat, mengambil tidak semua lembaran uang di atas ranjang, hanya secukup untuk mengganti uangnya yang tadi dipakai saat check in di resepsionis. Tidak dipedulikannya raut heran di wajah si mbak, dengan cuek dia mengenakan kaos berikut jaketnya lalu menuju pintu.

“Tunggu,” panggil si mbak.

“Ya?”

“Setidaknya izinkan saya melihat penis Mas sekali lagi, please…”

Alis tebal Rauf bertaut. Ini tidak biasa. “Mbak gak bawa cutter atau semacamnya, kan?” tanyanya sambil mulai membuka kancing-kancing jins-nya kembali. “Bukannya apa-apa, saya hanya tidak mau masuk berita dengan headline mengerikan sekaligus memalukan…”

Si mbak menggeleng.

Good.”

Rauf menyibak pinggang jins-nya lalu menurunkan pinggang celana dalamnya. Dan di situlah batang penisnya yang setengah tegang berada, mengggantung lemas untuk ditatapi si mbak dengan mata berkilat-kilat. Yeah, Rauf Preston tahu segala potensi yang ada padanya, dan dunia tahu kalau dirinya memang hobi pamer.

***

“Untuk laki-laki kayak si montir itu, gue gak masalah jadi bot,” ujar Arya sebelum melahap burger jumbo miliknya.

“Loe gak pernah mau jadi bot kalau sama gue,” protes Ibra sebelum mengikuti melahap burger miliknya sendiri.

“Loe gak cukup kriteria buat bikin gue mau nungging,” balas Arya santai. “Tunggu aja sampai loe liat sendiri gimana wujudnya si montir Bengkel Z itu.”

“Gue sama bokap pernah servis mobil di Bengkel Z, gak ada tuh montir yang bikin gue horny di sana. Semua sudah pada mas-mas, satu dua malah sudah bapak-bapak. Yakin deh, semua sudah punya anak istri. Iya sih, ada dua tiga yang badannya kekar, tapi masa iya elo cuma liat kekar. Bukannya loe pernah ngomong, salah satu alasan kenapa loe mau ngebobol pantat gue karena tampang gue?”

Arya menggidikkan bahu. “Mungkin dia montir baru,” jawab Arya lalu teringat sesuatu. “Atau bisa jadi dia bosnya. Soalnya kemarin itu pas gue pergokin dia lagi coli, itu di ruangan full AC.”

“Kok bisa mobil loe diservis langsung sama bosnya?” tanya Ibra seakan kurang memercayai teman seks pas lagi butuh dan pas botnya sedang tidak dalam jangkauan itu.

“Mana gue tahu. Pas gue sampe sana dia ada di depan ya gue minta dia buat nyervis.” Sebenarnya bukan minta sih, tapi Arya memaksa-maksa agar Dewa yang menangani mobilnya.

Ibra manggut-manggut lalu menggigit lagi burgernya. “Loe mau jadi bot buat top kayak montir itu, emangnya loe yakin dia top, emangnya loe yakin dia PLU?” tanyanya lagi di sela-sela kunyahannya.

“Mana gue tahu, loe kira gue dukun?”

“Loe bilang sempat liat stick tuh montir, gede gak?”

“Gede.”

“Gedean mana sama punya elo?”

“Gak tahu, nanti coba gue bandingin kalau setan mempertemukan gue sama dia.”

“Itu kalau dia maho ya, amin deh.”

Arya melahap bagian terakhir burger daging miliknya, mengunyahnya dengan pandangan sesaat menerawang. “Omong-omong, loe punya bokep baru?”

“Yang gay ada.”

“Memangnya sejak kapan loe ngoleksi yang hetero juga?”

“Kalau lakinya oke gue juga ngoleksi kok.”

“Hhh Kirain loe udah demen memek juga.”

“Gue belum semenyedihkan itu.”

Arya menjitak kepala teman seks sewaktu-waktunya itu. “Kondisi loe memang sudah menyedihkan, Sob. Jangan pura-pura gak tahu, itu bikin loe makin menyedihkan.”

“Oke. Hidup gue memang sudah menyedihkan.”

“Kalau montir itu mau ke ranjang bareng gue, level menyedihkan hidup loe naik satu tingkat.”

“Gue bertaruh nyepongin loe sebulan penuh kalau dia straight.”

“Enak di elo!”

“Itung-itung buat ngebayar ego gue yang loe nodai tiap gue nungging.”

“Itu juga buat bikin loe keenakan, Bego!”

“Asal loe tahu aja, gue lebih ngerasa keenakan saat nyodok.”

***

Dewa sedang membiarkan Audrey menghisap penisnya ketika bayangan pelanggan bengkelnya dua hari lalu terlintas di kepala. Seperti yang sudah dipikirkannya hari itu, ada sesuatu pada diri si anak muda itu yang membuat pikirannya bergairah. Sementara Audrey memain-mainkan lidahnya yang lihai di kepala penisnya, pikiran Dewa mengembara kemana-mana. Seperti apa rasanya dihisap si anak muda itu di dalam mobil sportnya? Apa sama seperti saat Audrey atau Ren melakukannya, atau lebih hebat lagi? Tapi selalu ada kemungkinan kalau hisapannya lebih buruk. Kalau hisapannya ternyata buruk, lantas bagaimana dengan jepitannya?

“Kak Dewa, Audrey pengen dimasukin…,” bisik Audrey manja di antara pangkal paha Dewa.

Dewa menggumam samar. Audrey pengen dimasuki, artinya sepulang dari kontrakan ini setidaknya dia harus mencari asupan protein yang tinggi untuk tubuhnya, berjaga-jaga kalau-kalau Ren juga sedang menunggu untuk dimasuki di rumah mereka. ‘Rumah kita’ atau ‘rumah mereka’ adalah sebutan Dewa dan Ren semata, pada dasarnya Dewa-lah satu-satunya pemilik rumah itu, Ren hanya ikut tinggal.

Audrey sudah melepas bajunya sendiri, menyisakan bra dan celana dalamnya untuk dibuka Dewa nanti.

Dewa bangun dari sofa, sambil memegangi pinggang celananya yang sudah tersibak menampilkan batang penisnya yang mengacung lurus, dia mengikuti Audrey menuju kamar.

***

Tisu bertebaran di dalam kamar yang sekilas tampak bagai bukan kamar, tapi gudang untuk segala macam sampah dan kotoran itu. Sampah dan kotoran dimaksud adalah akumulasi dari segala macam ketidakberaturan yang terdapat di dalam kamar itu. Ransel-ransel menggeletak begitu saja di lantai, berpasang-pasang sepatu olah raga dengan kaus kaki di dalamnya berserakan di satu sudut── ditemani jersey-jersey lembab, jins-jins kotor menggantung di belakang pintu──sebagian teronggok di lantai dalam wujud tidak keruan, kaus-kaus dan kemeja bau keringat menggunung di sudut yang lain──dengan hampir dua lusin kolor beraroma aneh yang mengintip di sela-sela ketiak atau dari balik punggung kaus dan kemaja itu. Selain tebaran tisu, di tengah-tengah lantai kamar juga bertebaran buku-buku, kepingan-kepingan compact disc berprint sosok manusia yang nyaris tanpa busana, laptop dan headphone yang kabelnya berbelit-belit tak rapi, juga kotak tisu bersih berisi setengah yang berdampingan dengan botol berisi cecair bening yang sekilas tampak seperti jelly.

Sebetulnya, masih ada sederet ketidakberaturan lagi yang ada di dalam kamar itu──termasuk bantal-bantal penuh noda entah apa yang bergelatakan di sekitar bed, tapi yang sudah disebutkan sudah cukup mewakili betapa pantasnya kamar itu disebut ‘gudang segala macam sampah dan kotoran’.

Adalah misteri bagaimana bisa ada manusia yang masih mampu beradaptasi dengan kondisi kamar sedemikian rupa tanpa mengalami kegagalan fungsi organ-organ vital di dalam tubuhnya. Misteri itu kini sedang terbaring menelungkup di atas spring bed tanpa ranjang yang langsung dibentangkan di atas lantai. Seprei berlogo Barcelona FC sudah tidak lagi menutupi bed itu dengan baik, tapi kusut awut-awutan dan nyaris berkumpul seluruhnya membentuk buntalan di tengah-tengah bed, tepat di bawah sosok yang tidur nyaris telanjang di atas bed.

Pintu kamar itu digedor kasar dari arah luar, menimbulkan kaget kecil pada sosok yang masih molor di atas bed.

“MAS ARYAAAA…!!! BANGUN CEPAT SUDAH SIANG…!!!”

Itu adalah suara bocah yang sepertinya baru berumur Nol Kecil.

BUM BUM BUM

“MAS ARYAAAA…!!! KULIAH NGGAAAKKKK…!!!”

BUM

Di atas bed, sosok Arya menggeliat, tapi belum cukup kuat untuk membuat posisinya berubah.

BUM BUM BUM BUM BUM

Pintu kamar kembali dipukul-pukul.

“MAS ARYAAAA…!!! BUDEG YAAAA…!!!”

Arya bangun dari bed, mengucek-ngucek mata lalu tanpa memeriksa kondisinya segera turun dari bed dan berjalan ke pintu sambil menggaruk-garuk perut.

“IYA GUE UDAH BANGUN BOCAH…!” teriaknya begitu membuka pintu.

“Anunya Mas Arya keliatan tuh…”

Arya menunduk ke pinggangnya yang ditunjuk Ayas. Pinggang boxernya ternyata melorot hingga kepala penisnya yang memang masih dalam kondisi ereksi pagi karena belum pipis itu mengintip keluar. Sehabis coli sambil ngebokep semalam, Arya malas mengenakan kolor kembali sehingga pagi ini penisnya harus kelihatan demikian rupa. Dengan cuek dia menarik pinggang boxernya ke atas. Dikacaunya dengan sayang rambut rapi Ayas yang sudah mengenakan seragam TK-nya. “Sana turun, Mas Arya mau mandi dulu.”

Ayas hendak balik badan, tapi urung. Cuping hidung bocah itu kembang kempis. “Mas Arya nyium gak, ada bauk aneh…”

Arya sangat paham kalau bau aneh yang dikatakan adiknya adalah aroma pejuhnya sendiri yang menguar dari kamarnya, juga dari boxer yang sekarang dipakainya. “Mas Arya barusan kentut,” jawab Arya sambil cengengesan.

Ayas menonjok perut kakaknya dengan tinjunya yang kecil lalu berbalik untuk menuruni tangga. Di belakangnya, kakaknya masih tertawa-tawa.

***

“Ramai sekali,” keluh Dewa begitu memasuki Gym X dengan pakaian seadanya.

“Iya, sepertinya banyak yang mindahin jadwal mereka ke hari ini.” Seorang pengunjung meningkahi keluhan samar Dewa.

Dewa adalah salah satu yang mindahin jadwalnya. Biasanya dia ke Gym X tiap malam sabtu bersama Ren kalau kebetulan teman kumpul kebonya itu tidak siaran. “Loe gak kebagian alat juga?” Dewa memandang lawan bicaranya, lelaki tinggi yang hanya ber-jogger panjang warna hitam dengan otot-otot yang menurut Dewa sudah sempurna. Sepertinya lelaki ini juga bernasib sama dengannya, belum kebagian fasilitas fitness.

Yang ditanya tersenyum simpul. “Gue salah satu instruktur di sini.”

“Oh, sorry. Loe pasti gak mentorin tiap Sabtu, gue belum pernah liat loe di sini.”

Si instruktur mengangguk. “Hanya Senin, Selasa dan Kamis, tidak sampai malam juga.”

Part time eh…”

“Yeah, begitulah. Omong-omong, ada beberapa treadmill yang masih luang di lantai tiga. Mungkin sementara menunggu yang lain kelar, loe bisa nge-tread dulu di sana.”

“Oke. Gue Dewa, bay the way.”

“Rauf.”

Jabatan mereka tampak erat sebelum saling melepas lalu saling berjalan menjauh. Lima langkah terpisah saling memunggungi, Dewa berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, ke punggung Rauf yang bagus dan bokongnya yang seksi. Gue harus tetap di jadwal ini sepertinya, bantin Dewa sebelum lanjut berjalan ke tangga. Delapan langkah berjalan saling memunggungi, Rauf berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, sosok Dewa nyaris menghilang di tangga, telat selangkah saja dia tak akan kesampaian melihat pemandangan punggung Dewa. Apa Katia akan menganggap kalau laki-laki seperti Dewa juga hanya untuk dikagumi, tidak untuk dimiliki? tanya Rauf dalam hati sebelum lanjut menuju toilet.

***

“INI BENGKEL MOBIL, BRO…!” kata Dewa setengah menahan kesal pada dua anak muda yang salah satunya pernah datang untuk memeriksakan kesehatan mobil sportnya ke Bengkel Z.

“Sudah saya bilangin loh Mas Dewa, tapi anak-anak ini ngeyel!” cetus Bambang, salah satu montir senior di Bengkel Z. “makanya saya panggilin Mas Dewa,” lanjut Bambang.

“Maaf, Kek, kita bukan anak-anak lagi,” protes anak muda pemilik mobil sport yang pernah memergoki Dewa coli tidak terima akan ucapan Bambang. “kalau mau nih ya, kami udah bisa bikin anak-anak.”

Bambang mendelik.

Dewa merasa geli sendiri. Yang pertama karena ada yang berani usil menyebut Bambang yang baru berusia awal tiga lima sebagai ‘kakek’, meskipun itu hanya untuk membalas kalimat Bambang yang sebenarnya ada benarnya juga. Yang kedua, karena kalimat kedua si anak muda tentang ‘bikin anak’ ternyata terdengar menggelikan bagi Dewa.

“Meski demikian, ini tetaplah bengkel mobil,” ulang Dewa low profile.

“Tolong dong, Kak… rusaknya ringan kok, cuma kabel koplingnya yang perlu diganti, jauh loh kalau kami harus ngedorong ke bengkel motor yang entah di mana,” kata teman si anak muda yang sempat melihat penis Dewa tempo hari itu.

“Di ujung jalan ini ada bengkel motor,” cetus Bambang.

“Kalau gitu Bapak tolongin deh dorong ke sana, tenaga kami udah abis buat ngedorong kemari.” balas teman si anak muda yang sempat memuji penis dewa sebagai ‘nice cock’ tempo hari itu.

Bambang mendumel dalam hati.

Dewa melirik anak muda pemilik mobil sport yang diservisnya beberapa hari lalu. Tumben hari ini dia tidak cerewet, batin Dewa. Ternyata yang dilirik tepat sedang menatapnya. Dewa berdeham. “Motor loe?” tanyanya.

Si anak muda menggeleng, “Motor dia,” jawabnya sambil menggerakkan dagu ke arah temannya.

“Tapi loe yang bikin koplingnya putus!”

“Loe kira gue sengaja gitu bikin putus kopling motor jelek loe itu?”

“Motor jelek itu harganya nyaris setengah harga mobil rombeng loe, jangan lupa!”

“Oh ya? Bukannya cuma seharga spion mobil rombeng gue ya?”

“Loe Keba──”

“STOP!” Dewa mengangkat sebelah tangannya untuk membungkam cocot anak-anak di depannya. Sekali lagi dia melirik anak muda yang punya mobil sport sambil bertanya-tanya kenapa dia tidak mengemudi dengan mobil sport kerennya itu hari ini. Kembali yang dilirik ditemukan Dewa juga sedang menatapnya. Dewa mendesah kalah. “Bang, periksa deh, barangkali ada tali kopling yang cocok sama tuh motor,” perintahnya pada Bambang sementara dia sendiri bergerak mendekati motor gede yang sudah distandardkan di tengah-tengah lantai bengkel.

Yang tidak diketahui Dewa adalah, di belakangnya dua anak muda yang sejenak tadi bagai sudah siap untuk berbagi bogem, sekarang saling menyeringai satu sama lain penuh kemenangan sebelum sama-sama mengamati pergerakan Dewa yang lugas bak seorang atlet.

Dewa mencabut tali kopling rusak dari motor dan mengamatinya.

“Ada gak, Kak?” tanya anak yang punya motor.

“Seharusnya sih ada, nunggu Bambang dulu.” Dewa menoleh pada pelanggannya. “Sementara itu kalian nunggu saja di sana,’ lanjut Dewa sambil menunjuk arah ruang tunggu dengan dagunya.

“Kami di sini aja, Kak, gak apa-apa,” jawab anak yang punya motor.

Dewa memandang sekilas pada anak yang punya motor sebelum beralih menatap ke temannya yang sudah pernah menungguinya bekerja tempo hari di Bengkel Z. Yang ditatap menggidikkan bahu lalu balik badan menuju tempat yang dimaksud Dewa.

“Arya, gak di sini aja?” panggil anak yang punya motor saat melihat temannya bergerak pergi.

Jadi namanya Arya?

“Terserah loe deh, Bra. Gue gerah, mau pewe dulu. Motor jelek loe enggak ada AC-nya,” jawab Arya cuek tanpa balik badan.

“Setan betul, loe!”

Kembali Dewa merasa geli sendiri. Ditatapnya sosok Arya sampai anak itu menghempaskan bokongnya ke sofa ruang tunggu.

“Jadi, nama loe Bra?” tanya Dewa sambil menggulung tali kopling rusak di tangannya. “Bra yang itu?” sebelah alis Dewa terangkat.

Yang ditanya tersenyum lebar. “Ibrahimovick, Kak, bukan Bra yang itu. Terus yang itu Arya Kamandanu,” jawab Ibra sambil menunjuk Arya yang sudah tiduran di sofa sambil main hape, sangat terlihat tak peduli pada beberapa pelanggan bengkel Dewa yang sudah lebih dulu menunggu di sana. “Dan nama Kakak adalah?”

Dewa berhenti menatap sosok Arya yang sedang tidur di sofa. “Loe udah denger tadi Bambang manggil gue Dewa.”

Ibra manggut-manggut.

Bambang datang dengan tali kopling baru yang jelas-jelas berbeda dengan yang ada di tangan Dewa. “Cuma ini yang ada, Mas Dewa, yang lainnya lebih panjang atau lebih besar. Tapi sepertinya bisa pas kok di motor itu.”

Dewa menggangguk pada Bambang. “Loe ambil alih deh, Bang. Bahan sama ongkosnya gratiskan saja.”

“Siap, Bos.”

Di satu sisi, Ibra ingin jingkrak-jingkrak karena skenario yang diaturnya bersama Arya tidak membuatnya rugi ongkos, tapi dia juga kecewa karena bukan Dewa yang jadi teknisinya melainkan Bambang yang sama sekali tidak ganteng. Tapi… kalau dipikir-pikir, jedolannya Mas Bambang ini gede juga. Gak apalah, tak ada rotan akar pun jadi.

Dalam perjalanan menuju ruang kerjanya, Dewa sengaja menyempatkan diri melirik ke arah ruang tunggu bengkel yang seluruh dindingnya──termasuk pintu yang bertempelkan tulisan PUSH dan PULL──terbuat dari kaca tembus pandang. Arya ternyata sudah mendudukkan diri di sofa dan tepat sedang menatap ke arahnya.

Tiba di ruang kerjanya dengan pikiran gusar, Dewa sudah memutuskan untuk pulang cepat dan akan menyuruh Ren menunggangi penisnya sore nanti.

***

Malam ini Rauf jadi kalong. Dia selalu jadi kalong tiap malam Sabtu di ABClub, semalam lebih awal dari jadwal manggung X Band. Dan semalam lebih awal ini bukanlah tanpa alasan. Dia masih belum mau sejadwal dengan eks bandnya dulu. Jadi, Rauf mengalah memberikan Sabtu malam yang bayarannya lebih besar buat orang lain sementara dirinya mengambil malam Sabtu yang tidak seramai malam Minggu.

Setelah memutuskan tak ingin menebar perangkap malam ini, oh bukan, sebenarnya dia telah menebar perangkap sejak naik ke stage, selalu begitu. Perangkapnya tertebar secara otomatis begitu sosoknya yang seksi berada di atas panggung dan entakan keras dari perangkat elektronik yang dimainkannya mengikuti kemudian. Perangkap itu seakan mengalir bersama entakan irama hingga ke seluruh dance floor, menjerat gadis-gadis mahasiswi yang sudah bisa dipastikan hampir setengah dari mereka sudah kehilangan virginitas, menjebak mbak-mbak kesepian butuh belaian atau istri-istri dari suami peselingkuh dengan sekretaris mereka masing-masing, dan pastilah perangkap itu juga mampir pada anak-anak muda atau pria-pria kantoran bahkan om-om yang cuma terangsang dengan jenis kelamin berlambang panah seperti jenis kelamin mereka sendiri. Sejauh ini, Rauf mengabaikan perangkapnya yang menjerat orang-orang dari urutan terakhir dan selalu mengutamakan para mbak-mbak cantik kesepian yang butuh dibelai oleh lelaki seperti dirinya.

Tapi malam ini Rauf tidak berselera memeriksa perangkap yang ditebarnya. Turun dari panggung dengan kaus basah keringat, dia langsung menuju backstage, tidak mampir ke meja bar untuk minum seperti yang biasa dia lakukan dimana di sana nantinya dia akan menemukan wanita yang mendatanginya lalu berlanjut pada one night stand.

“Ternyata loe multi talent, ya. Gue kaget saat negeliat loe di stage…”

Rauf berbalik di lorong dan menemukan seseorang sedang melangkah menujunya. Dalam keremangan lampu ingatannya bisa mengenali orang yang ditemuinya di Gym X tiga hari lalu saat ini sedang berjalan menujunya. “Oh, hai…”

“Hai,” balas Dewa. “gue mau bilang kalau cara loe nge-DJ tadi itu pecah abis, Men… tapi… sepertinya gue lupa nama loe.” Dewa menyengir.

Rauf tersenyum. “Rauf, tidak terlalu susah untuk diingat. Tapi nama loe sangat mudah diingat. Dewa, kan?”

Sekali lagi keduanya berjabatan.

“Orang lain bisa nge-DJ lebih baik dari gue,” kata Rauf. “Loe hanya harus sering-sering kemari. Apa jadwal dugem loe juga berubah ke malam ini?”

Dewa tertawa. “Tidak juga. Gue baru pertama kali ke mari dan ternyata langsung ketemu orang yang… yeah, bisa dibilang dikenal walau cuma baru ketemu satu kali.”

Rauf tidak menanggapi. Alih-alih merespon kalimat lawan bicaranya, dia malah mulai meneliti sosok Dewa yang malam ini tidak berpakaian minim seperti saat di Gym X, namun pesonanya tetap saja sama dengan waktu itu. Apa Rauf merasa iri? Sepertinya iya. Tapi kemudian sebersit pemikiran muncul di kepalanya, dia dan Dewa mungkin memiliki satu kesamaan besar. Mereka mungkin sama-sama adalah tipe lelaki yang akan dikatakan Katia sebagai ‘hanya untuk dikagumi tapi tidak untuk dimiliki’.

“Gue biasanya dugem di klub sebelah, tidak sering sih, tapi ya, itu tempat gue biasa dugem,” terang Dewa tiba-tiba seakan kehabisan akal untuk menyela keheningan di antara mereka yang mulai terasa canggung. Tadinya dia mengira akan mudah saat memutuskan untuk mengikuti Rauf ke backstage, dia tidak memperkirakan kalau ternyata lelaki bernama Rauf itu lumayan kalem, sedikit misterius juga.

“DE-Fault?”

“Yeah, itu namanya. Tidak seramai di sini, tapi di sana DJ-nya juga keren-keren.”

Rauf memandang Dewa tanpa kata untuk sejenak. Pikirannya berjumpalitan untuk sesaat. “Dengar, gue harus ganti baju dan lalu pulang. Mungkin kita bisa mengobrol banyak lain kali…”

“Yeah, okey…” Mau tidak mau perasaan tidak diinginkan itu menerpa Dewa. “Gue cuma mau bilang apa yang pengen gue katakan, dan itu sudah.”

Rauf mengangguk satu kali lalu berbalik pergi. Apa dia terlalu sinis? Bukan salah Dewa kalau dia terlahir tampan. Mengapa dia harus seantipati itu hanya karena Dewa mengejarnya hingga ke sini? Mungkin saja Dewa hanya ingin berteman. Rauf berbalik dengan niat untuk memanggil Dewa, tapi Dewa tidak ada lagi di lorong. Rauf berjalan kembali ke klub, tapi Dewa tidak ada dimana-mana.

***

Arya bolos kuliah. Bukan hal baru lagi, dia sudah pernah melakukannya banyak kali. Yang baru adalah, alasan dia bolos kali ini. Untuk menguntit Dewa. Ya, Arya sudah sampai pada tahap terobsesi sedemikian rupa hingga akhir-akhir ini fantasinya ketika nonton bokep di kamarnya yang semakin beraroma apek pejuh basi itu adalah sosok Dewa terus. Dewa yang sedang disepong, Dewa yang sedang melakukan penetrasi, Dewa yang sedang dijilati perutnya, Dewa yang sedang orgasme dan seterusnya. Bicara tentang bau kamarnya yang kian aneh, Ayas adiknya bahkan sudah tidak mau lagi menggedor pintu kamarnya akhir-akhir ini. Dan ternyata ketiadaan gedoran itu membuat Arya kangen. Bokap-nyokapnya boleh saja sibuk seharian, selama dia masih bisa menemukan Ayas di rumah, hari Arya terselematkan. Mungkin setelah misi pengintaian ini kelar, Arya akan ‘mencuci’ kamarnya dan lalu main playstation di kamar itu bareng Ayas.

Kembali ke misi. Arya sudah melakukan misi pengintaiannya sejak pukul sembilan pagi, tepat saat mobil Dewa tiba di Bengkel Z. Arya tidak pakai mobil mahalnya, tapi bermotor agar lebih mudah bergerak dan tidak mencolok. Lagipula, Dewa sudah pernah melihat mobil sportnya dan belum berkenalan dengan motornya yang ini, ditambah topi di kepala yang hampir menutupi sepertiga bagian wajahnya, Arya menilai penampilannya sebagai pengintai sudah tersaru sempurna. Mungkin dia punya bakat terpendam jadi mata-mata. Tapi, kalau dia jadi mata-mata, bagaimana dengan cita-cita luhurnya untuk jadi bintang bokep tanpa bayaran? Masa harus terkorbankan begitu saja? Itu kan cita-cita luhur banget.

Kembali lagi ke misi. Tujuan misi abal-abal ini sebenarnya simpel saja──tidak past tense juga sih, hanya untuk mengetahui tempat-tempat yang didatangi Dewa selain bengkel. Kenapa Arya perlu tahu? Sudah jelas sekali, agar dia bisa merancang skenario untuk seolah-olah bertemu tidak sengaja dengan Dewa di tempat-tempat tersebut. Sangat tidak keren sekali kalau Arya ke bengkel terus dengan alasan motor atau mobilnya perlu diservis, masa servisnya seminggu bisa sampai dua tiga kali, kan gak lucu. Yang lebih tidak lucu, Ibra pernah menyarankannya untuk merusak TV atau kulkas di rumahnya dan membawanya ke Bengkel Z. Ya, sudah bisa dipastikan kalau ada yang salah pada otak Ibrahimovick yang itu. Lalu, selain tujuan simpel──tidak past tense juga──itu, tujuan sampingan misi ini adalah untuk mencari tahu sebanyak-banyaknya informasi tentang seorang Dewa, bisa saja di antara sekian banyak informasi yang berhasil dikumpulkan nantinya, ada satu saja informasi yang membawa angin segar buat Arya, semisal informasi kalau Dewa punya pacar cowok, walau nantinya hal itu akan menimbulkan misi baru lagi bagi Arya, yaitu menyingkirkan cowok sialan yang selama ini menikmati pejuh Dewa. Tapi bila nanti ternyata Dewa bukan gay, setidaknya Arya bisa berteman akrab dengan Dewa. Dan saat berteman itulah nantinya dia akan melaksanakan misi terberat, yaitu membelokkan Dewa jadi gay, atau setidaknya biseks.

“Kak, maaf, di motor Kakak ada monsternya?”

Arya menoleh pada remaja tanggung yang sedang mengarahkan ponsel ke arahnya dan motornya.

“Kak, turun bentar dari motornya boleh? Monsternya ngumpet di belakang Kakak nih, susah…”

“HEH, LOE MAU MAKAN BOGEMAN GUE, HAH…!?” Arya membuka topinya, melotot pada si remaja tanggung sambil mengepalkan tinju kanannya yang besar.

Ketakutan, korban Pokemon Go itu ngibrit dari hadapan Arya.

“Game keparat,” rutuk Arya sendirian dan hendak mengenakan topinya kembali.

“Jadi, sekarang motor loe yang rusak?”

“Heh?”

Arya kaget. Dewa sedang berdiri tiga meter di depannya. Tuh, lihat kan? Pokemon Go itu memang keparat. Sedikit saja dia meleng gara-gara game itu, misinya gagal total. Padahal bukan dia yang mainin game itu.

“Mau ke bengkel?” tanya Dewa lagi saat Arya tak kunjung merespon dan tampak kebingungan.

“Oh, eng-eng-enggak… ini gue baru berenti, ada anak-anaktadi nyebrang sambil mainan hape, jadi gue berenti.”

Dewa menurunkan pandangannya ke motor Arya yang distandard dobel dan langsung tahu kalau dia sedang dikibulin. Sebenarnya, tadi pun dia sempat melihat Arya menunjukkan tinjunya pada seorang anak dari tempat dia memarkirkan mobil. Yang menarik perhatiannya justru adalah suara gahar Arya yang sayup-sayup masuk ke telinganya. Namun sekarang Dewa berlagak percaya saja pada ucapan Arya. Diedarkannya pandangan sekilas ke sekitar, memperhatikan lalu lintas yang tidak begitu sibuk hari ini di jalan di mana bengkelnya berada sebelum kembali memandang Arya. “Gue kirain mau ke bengkel lagi,” katanya.

“Enggak!” cetus Arya, lebih keras dari yang diinginkannya.

“Oke. Gue cabut dulu kalau gitu.”

“Loe mau kemana?” Kalimat tanya itu meluncur begitu saja dari mulut Arya tanpa bisa dicegah.

Dewa urung balik badan. “Kenapa? Loe mau ikut?”

Arya enggan untuk mengangguk.

“Gue mau makan siang.”

Arya refleks melirik jam tangannya. Ya ampun, ternyata gue udah di sini berjam-jam. Sedetik kemudian, Arya sadar bahwa dirinya kelaparan.

“Ikut gak?”

Arya memandang Dewa yang masih menunggu. “Okey, tapi gue yang bayar.”

Dewa menggidikkan bahu tak peduli lalu berjalan menuju mobilnya, sementara Arya menuntun motornya ke bengkel dengan pikiran dipenuhi oleh ‘gue akan pergi berkencan dengan Dewa’.

***

Rauf baru benar-benar terjaga ketika matahari sudah tergelincir jauh dari titik kulminasinya ke arah barat. Itu pun karena hasrat ingin pipis mendesak-desak hingga membuat urethranya merenggang jauh dari pangkalnya. Hari ini Selasa, dia off sepenuhnya hingga bisa tidur seperti kebo kena bius.

Setelah mencuci muka dan menggosok gigi di wastafel di kamar mandi apartemen yang ditinggalinya hampir setahun terakhir ini, Rauf menuju dapur, menyalakan mesin kopi dan membuat segelas kopi untuk dirinya sendiri. Setelah memanggang roti di pemanggang listrik dan menemukan hapenya di bawah bantal sofa, masih bertelanjang dada dia membawa gelas kopi dan piring rotinya ke balkon apartemen. Memang masih lama menunju senja──yang selalu tampak indah bila dilihat lewat balkonnya dimana awan jingga dan merah bundar matahari akan jadi latar belakang untuk gedung-gedung tinggi yang tersebar di seluruh kota, tapi Rauf tak peduli. Dia akan tetap mengopi, melahap roti bakarnya dan sekaligus merokok di balkon apartemennya yang bersimbah panas matahari.

Bicara tentang tempat tinggal Rauf setahun terakhir, apartemen itu dulunya milik kakaknya, sebenarnya sekarang pun masih. Setelah melahirkan anak ketiga mereka, sang kakak dan suaminya yang bekerja di penerbitan merasa apartemen mereka kekecilan untuk ditinggali satu keluarga yang terdiri dari lima jiwa, jadi mereka membeli rumah komplek dan Rauf diminta tinggal di sana sampai ada yang menawar untuk membeli. Dan setelah bulan-bulan terlampaui, apartemen tersebut nampaknya tak akan dijual lagi.

Rauf belum pernah membawa perempuan manapun untuk menginap bersamanya di apartemen. Selama dirinya memamerkan status lajangnya sebagai deklarasi bahwa dirinya pejantan yang merdeka dan terbuka untuk siapa saja yang diinginkannya, kamar hotel selalu jadi solusi paling praktis. Lagipula, Rauf tidak bisa bercinta di kamar utama apartemennya tanpa diganggu pikiran bahwa dulu kamar itu digunakan kakaknya bersama abang iparnya.

Lima belas menit di balkon dengan pikiran menerawang, hapenya mendentingkan nada chat LINE.

Mbak-mbak yang dimentori Rauf kemarin sore baru saja mengirimi poto belahan dadanya yang sengaja disingkap ke ruang obrolan LINEnya. Chat berikutnya masuk ke hape Rauf, berisikan nama hotel dan nomor kamar.

Rauf menimbang-nimbang apakah dia ingin dihisap atau tidak hari ini, menimbang-nimbang apakah dia butuh melakukan penetrasi atau tidak saat ini? Dan tidak perlu berpikir panjang-panjang, jawabannya adalah IYA. Tadinya sebelum chat si mbak masuk ke hapenya, Rauf sempat berpikir untuk coli sebelum mandi, tapi kini setelah chat panas dari si mbak, ide itu tampak seperti Kangen Band bila dibandingkan dengan One Direction.

Kata IYA dikirimnya ke ruang obrolan, dikuti I’LL BE THERE IN FEW MINUTES setelahnya.

Balasan dari si mbak adalah stiker Conny yang sedang jingkrak-jingkrak.

Rauf keluar dari LINE. Membereskan piring dan gelasnya lalu meninggalkan balkon. Di pikirannya, dia akan berendam terlebih dulu di bathtub selama belasan menit──mungkin sambil memikirkan Katia, lalu berpakaian dan pergi membawa penisnya untuk si mbak. Oh ya, Rauf tak perlu khawatir si mbak akan pergi karena kelamaan menunggu, karena si mbak tak akan pergi. Pengalamannya mengajarkan, semakin lama dia membuat pasangan one night standnya menunggu, semakin blingsatan si pasangan ketika memberinya servis.

***

Dewa pulang ke rumah dan langsung dikonfrontasi Ren yang sepertinya memang sudah menunggu kedatangannya. Yang membingungkan Dewa, Ren jelas terlihat dan terdengar tidak sedang dalam suasana hati yang kondusif. Apa yang salah? Bukankah baru malam kemarin dia membiarkan Ren minum pejuh langsung dari mulut penisnya? Setidaknya mood Ren akan bagus selama tujuh hari ke depan, kan?

“Tadi siang gue mampir ke bengkel dan loe gak ada di sana, dan gak kembali setelah tiga jam ditunggui,” buka Ren sambil melipat lengan di dada.

“Loe ke bengkel? Ya Tuhan, Ren… apa yang gue bilang tentang gak boleh terlihat di bengkel? Orang-orang bisa curiga, papa mama gue akhirnya bisa tahu, dan kita tamat. Ke mana perginya akal sehat loe?” Dewa langsung meradang. Selama ini dia sangat menutupi keberadaan teman kumpul kebonya itu dari orang-orang di sekitarnya yang mengenal dirinya. Dewa tidak ingin namanya dicoret dari daftar ahli waris papanya. Dan Ren baru saja membuat namanya di daftar itu terancam didepak.

Ren terlihat tidak suka diketusin. “Oh ya? Sungguh? Loe ingin tahu kemana perginya akal sehat gue, hah? Sungguh?” Ren bangun dari sofa.

Dewa berdiri diam dengan rahang keras. Ini sepertinya akan jadi pertengkeran sengit pertamanya dengan Ren. Bukannya mereka jarang ribut, sering, tapi selama ini jika mereka terlibat pertengkaran selalunya berkaitan dengan hal remeh-temeh, tidak pernah menyinggung hal-hal besar yang langsung  berhubungan dengan ranah privasi dimana harus dijaga super ketat. Tapi tadi Ren ke bengkel, menunggunya tiga jam di sana, itu adalah ranah privasi yang seharusnya tidak boleh disentuh. Tiga dari sembilan orang montir Dewa adalah orang yang dimasukkan papanya ke Bengkel Z. Dewa sangat tahu alasan kenapa papanya berbuat begitu, untuk mengawasi gerak geriknya tentu saja, dan tadi Ren menunggu hingga tiga jam. Orang-orang di sana pasti akan berspekulasi. Teman jenis apa yang rela menunggu hingga tiga jam?

“Gue lelah, Ren. Beritahu saja kenapa loe perlu ke bengkel dan memperkeruh keadaan yang sebenarnya bisa baik-baik saja…,” kata Dewa lelah.

“Tiga jam, Wa… tiga jam, gue menunggu sampai pukul empat, ditambah hingga pukul enam sekarang, totalnya lima jam. Apa yang loe lakuin sama bocah itu setelah makan siang dengannya di PQRStation hingga membutuhkan waktu lima jam, hah? Kalian ke hotel?”

Sial. Ren dan tim siarannya di Radio M juga makan siang di PQRStation hari ini.

Dewa tidak bisa berkata-kata. Harusnya dia bisa bilang kalau dia bisa menjelaskan semuanya. Tapi Dewa belajar dari film-film, bahwa kalimat itu justru akan membuat orang yang mengucapkannya tampak makin salah. Jadi, Dewa tidak akan menggunakan kalimat keparat itu, tidak sekarang, dan tidak sampai kapanpun.

“Siapa bocah itu?”

“Dia hanya seorang teman.”

“Dulu gue juga hanya seorang teman, ingat?”

“Ya Tuhan, Ren… gue belum tidur dengan Arya! Kami hanya makan siang.”

“Belum? Belum katamu?”

Kurang ajar, Dewa salah berucap.

“Jadi kapan rencananya loe akan tidur dengan Arya Keparat itu?”

Dewa mendesah lelah. “Terserah loe, Ren. Gue capek!” katanya lalu hendak berlalu.

“Gue butuh penjelasan, Wa!”

“Percuma. Sampai mulut gue berbusa ngejelasin, loe gak akan pernah percaya. Gue bukan baru kenal loe, Ren. Loe udah ngisap penis gue hampir setahun penuh.” Dewa pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamar. Ren mengekori di belakangnya.

“GUE BOTNYA, SIALAN. GUE YANG PALING MENDERITA DALAM HUBUNGAN INI!” teriak Ren tepat saat Dewa membuka pintu kamar mandi.

Meski bingung apa hubungan teriakan Ren dengan dugaan kalau dirinya telah selingkuh──dan itu memang benar bila mengingat keberadaan Audrey dan akan semakin benar bila mengingat hasratnya pada cowok bernama Arya yang pasti akan terlampiaskan cepat atau lambat, Dewa tetap saja membalas seruan Ren sekenanya. “Yang gue lihat kok malah sebaliknya, ya? loe cukup keenakan kok jadi bottom!” balas Dewa santai sebelum membanting pintu kamar mandi di depan hidung Ren.

Ren menendang pintu kamar mandi satu kali sebelum mulai melampiaskan kemarahan pada pakaian Dewa yang tidak bersalah di dalam lemari. Sebenarnya, bukan hanya memergoki Dewa makan siang dengan cowok lain yang membuat Ren marah besar, tapi fakta bahwa si cowok lain bernama Arya itu lebih menawan ketimbang dirinya. Dan mengingat bagaimana nama Arya dilafaskan dari bibir Dewa tadi, sasaran kemarahan Ren tidak hanya pada pakaian Dewa, tapi juga pada bingkai-bingkai berisi foto Dewa yang tersebar di seluruh rumah. Semuanya foto Dewa, tak ada secuil kuku pun sosok Ren dalam bingkai-bingkai itu, Dewa tak mau ambil resiko saat kerabatnya mendadak datang mengunjungi. Dan kini, tanpa kekhawatiran akan menyobek wajahnya sendiri dalam bingkai-bingkai itu, Ren membabi buta tanpa terbendung.

Kalian pernah tahu klip Blank Space milik Taylor Swift? Yeah, pada kasus ini, Ren adalah Taylor Swift-nya.

Di kamar mandi di bawah guyuran shower, mendadak Dewa paham kenapa Ren meneriakkan kalau dirinya yang jadi bottom dan kalau dirinyalah yang paling menderita. Ren sedang mengkritik ucapan Dewa yang mengatakan kalau sudah hampir setahun dia menghisap penis Dewa. Harusnya Dewa mengucapkan kalimat yang lebih mendeskripsikan betapa menderitanya Ren jadi bottom dalam hubungan mereka, kalimat yang tidak hanya berisi kata ‘isap’, tapi ucapan semisal : Gue bukan baru kenal loe, loe udah nungging buat penis gue hampir setahun penuh. ‘Nungging’ setidaknya sedikit banyak bisa mendeskripsikan penderitaan Ren, meskipun menurut Dewa Ren sama sekali tidak menderita, tetapi seperti katanya tadi, Ren keenakan.

Berpikir seperti itu, Dewa tidak bisa menahan rasa gelinya. Bagai orang gila, dia terbahak sendiri di bawah shower sementara di luar sana tanpa sepengetahuannya, Ren sedang melampiaskan kemarahannya dengan cara yang… well, simpel, tapi kali ini past tense.

***

Arya tidak perlu melakukan investigasi mendalam yang komprehensif untuk mengetahui seyakin-yakinnya apakah Dewa maho atau tidak. Momen makan siang mereka dua hari lalu mungkin sudah memberinya sedikit celah dan secuil praduga, tapi belum cukup meyakinkan bila dipakai untuk memvonis orientasi seks Dewa. Tapi, yang terjadi hari ini di parkiran PQRStation bisa dikatakan sebagai hasil pasti dari sebuah investigasi tingkat tinggi tanpa melewati tahap-tahap dan proses investigasi itu sendiri. Ungkapan awamnya, kenyang tanpa harus makan terlebih dahulu. Luar biasa.

“Loe Arya?”

“Iya, apa gue kenal loe?”

“Gue peringatkan loe sebaiknya jauh-jauh dari laki gue!”

Apa yang terjadi?

 

TO BE CONTINUED…

 

Notes :

Itu tulisan TO BE CONTINUED gak usah dianggap serius ya. Belum tentu juga cerita ini berlanjut, soalnya baru selesai sampe situ dan udah masuk bulan baru juga. Takutnya entar jeda postnya makin panjang sampe berbulan-bulan kayak kemarin, jadi langsung gue post sekarang, setidaknya bisa diemin beberapa teman yang suka nanya post baru ke e-mail dan bilang kangen di Twitter. Okey, itu saja kayaknya. Eh, selamat lebaran qurban juga, gue belum punya baju baru, yang mau ngasih gue baju baru buat lebaran pasti gue terima dengan suka cita. Omong-omong, ukuran gue M, pinggang 29.

 

 

 

Awal September 2016

Dariku yang sederhana

Nayaka Al Gibran

nay.algibran@gmail.com