KISAH ORION & GEMINI

Oleh : Pandu Wiratama

***

 

“Hei, Jagoan.”

Itu kalimat pertama yang kudengar saat aku membuka mata.

Pandanganku masih kabur, semua tampak buram di sekelilingku. Dimana aku berada? Aku ingat sesaat tadi, sebelum kelopak mataku terbuka, aku bersama Bunda, kami berkeliling di kebun sayuran organik vertikal, mirip sekali dengan yang di halaman belakang rumahku, namun ukurannya jauh lebih besar. Jauh lebih indah.

Aku berani taruhan kalau surga itu ada, bentuknya pasti seindah ini. Apakah aku berada di surga? Apakah Tuhan mengijinkan aku menemani Bunda di sana? Aku tidak yakin. Tuhanku dan Tuhannya berbeda, apakah Tuhan kami sepakat mempertemukan kami kembali, mungkin merasa kasihan pada kami, pada seorang ibu dan anak yang terpisah selama bertahun-tahun karena alasan yang tidak aku mengerti kenapa? Kurasa tidak mungkin. Karena Tuhan-Tuhan kami tidak ingin kami bersama. Itu kah alasan Bunda dulu meninggalkanku, membawa pergi belahan jiwaku?

Lagipula aku telah berbuat bodoh, tindakan yang mungkin diganjar dengan siksa api neraka seumur hidup, atau seumur mati? Bagaimana rasanya disiksa selama-lamanya, seperti yang pernah kudengar dari pendeta saat mengikuti kebaktian? Apakah aku akan dicelupkan ke dalam kuali berisi lahar panas mendidih? Atau ditusuk dengan besi panas dari lubang dubur hingga tembus ke mulut seperti sate? Aku bergidik membayangkannya.

Apakah aku benar masuk neraka? Pikiranku kembali pada Bunda yang tadi menggenggam jemari tanganku penuh kerinduan, dedaunan cabe dan tomat terhampar tinggi melebihi pucuk kepalaku di sekeliling kami. Rasanya begitu damai. Sebelum tiba-tiba Juna datang dan menampari kedua pipiku dengan begitu ganasnya. Adikku itu terlihat mengamuk. Tentu saja dia berhak untuk marah, pikirku getir. Aku telah membuatnya kecewa, membuat semua orang yang peduli padaku kecewa. Ada banyak kah orang seperti mereka? Manusia yang peduli padaku? Aku tidak yakin. Ini membuatku sedih.

Aku tahu aku pantas diperlakukan seperti itu oleh Juna. Dia menendang bokongku hingga tubuhku terpelanting, masuk ke dalam lingkaran cahaya yang membutakan. Apakah Juna sengaja mendepak aku dari surga? Masa sih dia setega itu menjatuhkan aku ke neraka? Aku kan abangnya satu-satunya.

Abang kesayanganku, aku ingat Juna selalu mengucapkan itu sambil mencium pipiku saat ulang tahun, membuat seringai lebar menghiasi wajahku. Rasanya sudah lama sekali. Terakhir kali Juna memelukku erat-erat begitu ketika ulang tahunku kesepuluh. Ayah dan Bunda memberi kami pelukan beruang, momen paling bahagia dalam hidupku.

“Jagoan?” suara itu lagi, kali ini sedikit bergetar, panik.

Aku menoleh ke asal suara. Sebuah wajah yang tampan dan gagah menatapku lekat-lekat, tersenyum lemah, dengan sorot mata meneduhkan. Lelaki paruh baya ini terlihat seperti jelmaan malaikat yang turun ke Bumi. Pasti lah begitu.

“Ayah,” panggilku lemah.

“Ya, Jagoan?” Dia memberiku tatapan penuh cinta.

“Kirain Pandu udah di surga, sama Bunda,” bisikku.

Mata ayahku mengerjap, pedih.

Tangannya mengelus rambutku. Dia terlihat lelah. Entah sudah berapa lama dia tidak tidur. Aku tahu Ayah pasti enggan beranjak dari sisi ranjang.

“Tadi sore Bunda datang ke mimpi Ayah,” balas ayahku sambil tertawa, mungkin berusaha melucu. Aku tidak ikut tertawa, mataku masih menerawang ke luar jendela. “Bunda kamu bilang, belum waktunya kamu ketemu Bunda, jadi kamu masih harus bersabar dulu, menemani Ayah lebih lama lagi.”

Aku menghela napas.

“Di luar hujan,” kataku letih.

Ayah mengikuti pandanganku ke luar jendela, sebaris kilat berenang-renang di langit malam seperti ular. Aku memucat, tanganku berusaha menggapai lengan kokoh Ayah, namun rasa sakit menusuk menahanku diam. Keningku mengernyit, sudut mataku berair. Entah kebodohan apa yang membuatku menyakiti diri sendiri.

Seperti bisa menebak pikiran, Ayah menggenggam lembut tanganku.

“Ayah sengaja menaruh kamu di kamar ini, karena Ayah tahu kamu suka melihat laut,” dia mengerling ke arah jendela.

Kelopak mataku menutup. “Pandu takut sama petir,” aku mengaku.

Pengakuanku membuat Ayah tertawa kecil. Tangannya mengacak rambutku. “Ayah selalu tahu,” katanya sambil mengecup keningku. Bisa kurasakan sosoknya menjauh dari tempat tidur, melangkah menuju jendela.

Saat aku kembali membuka mata, tirai tebal telah menutupi kaca jendela, menghalau kilau cahaya petir di luar sana. Ruangan kamarku kedap suara. Satu-satunya yang tidak aku sukai adalah aroma obat yang begitu tajam, dan jarum suntik yang bersarang di lengan kananku.

Dulu aku menyukai rumah sakit, sekarang tidak lagi.

“Apa saja yang Ayah pikir tahu soal aku?” tanyaku tiba-tiba.

Tubuh jangkungnya tersentak. Kurasa aku telah salah bicara. Apa dia mengira aku sedang bersikap sinis? Padahal tidak. Aku cuma penasaran, apakah Ayah benar-benar tahu semua rahasia yang kusembunyikan darinya? Soal aibku yang paling dalam? Rahasia tergelap dalam hidupku? Ya Tuhan, kuharap tidak. Aku belum siap jika ada orang lain lagi yang tahu. Cukup satu kali saja aku mendapat penolakan.

Ayah memaksakan sebuah senyum. Dia kembali duduk di tepi tempat tidur, jemari tangan menyusup di sela-sela rambutku. Tatapan matanya janggal. Ayah tidak pernah menatapku begitu sebelumnya, sorot mata yang intens, penuh cinta kasih, seolah aku sebutir permata paling ajaib di dunia, hartanya paling berharga.

Perutku terasa hangat oleh sayangnya.

“Ayah tahu kamu selalu ranking satu, dari kelas satu sampe kelas sembilan.”

“Emm, mungkin semester ini nggak,” keluhku.

“Kalopun begitu juga nggak apa.” Ayah mengangkat bahu, cuek. “Kamu tetep kebanggaan Ayah sama Bunda.”

Aku berpikir sejenak, sebelum kemudian mengangguk. “Jadi Ayah cuma tahu soal itu? Em, semua juga tahu kalo Pandu pinter,” kataku sombong, yang disambut sebuah gelak tawa. Kali ini tawanya terdengar lepas, tidak dipaksakan.

Tangannya kembali mengacak rambutku. “Kamu suka melihat ombak lautan.”

“Ayah sudah mengatakan itu tadi, alasan memilih kamar ini, ingat?”

“Emm, benar juga,” katanya dengan nada menyerah. “Apalagi ya,” gumamnya, mata Ayah mengerling jenaka. “Ayah tahu terlalu banyak soal kamu, jadi sulit untuk memulai darimana,” dia berujar dengan muka serius.

“Ayah lagi ngeles,” tuduhku datar.

“Kamu tuh dari dulu pinter ngomong di depan Ayah sama Bunda,” katanya seraya memencet hidungku. “Kamu pinter memanipulasi orang tua sendiri, kamu selalu tahu gimana caranya supaya Ayah mau ngasih uang jajan lebih, gimana caranya supaya Bunda nggak ngomel sama Juna waktu adikmu berulah.”

“Pandu kan abangnya,” aku membela diri. “Pandu harus melindungi Juna.”

“Dari Ayah sama Bunda?”

“Dari siapapun yang mau menjewer adikku satu-satunya,” jawabku nyengir.

Ayah kembali terbahak.

“Pandu kangen sama Juna,” kataku lirih.

“Ayah tahu.”

“Nggak, Ayah cuma pura-pura tahu!” tudingku.

“Ayah sayang sama kamu,” katanya sambil tersenyum.

Tatapan kami bertemu. Tenggorokanku tercekat. Aku tidak mau terlihat cengeng, tapi sudut mataku mulai terasa berat. Sebaris air mata turun ke pipi tanpa bisa kucegah. “Maapin Pandu, Yah,” bisikku terisak.

Ayah tidak membalas, hanya menatapku sayang, sorotnya meneduhkan, seolah dia berkata ‘jangan khawatir, karena tidak ada di dunia ini yang bakal bikin kamu sedih lagi, tidak selama Ayah masih di sini’.

Isak tangisku makin hebat. Kuminta maapku berulang-ulang sambil Ayah menarikku dalam dekapan bahunya yang kokoh, membiarkan aku meluapkan semua emosi dalam hatiku. Tubuhku terguncang dalam peluknya. Aku menangis hingga tertidur pulas seperti bayi. Kurasa hari ini aku menangis lebih banyak dibanding seumur hidupku digabung jadi satu.

Aku tidak peduli. Hatiku sejuk dalam rengkuhnya.

Kata-kata ayahku terus menggema di telinga, seperti irama sebuah lagu.

“Sssssh… semua bakal baik-baik saja… Ayah janji.”

 

***

 

“Mbak Diana tuh perawat apa psikolog?”

Seorang wanita muda awal dua puluhan menoleh padaku. Satu alis terangkat. Tangan yang sedang membuka bungkusan plastik sarapanku berhenti di udara, seperti membeku. Dia tersenyum padaku, senyum yang bisa membuat cowok manapun klepek-klepek.

Aku terkekeh.

“Bukan dua-duanya,” dia menjawab enteng. “Mbak cuma tetangga reseh yang suka minta diambilin jambu.”

“Mbak nggak reseh,” bantahku. “Tapi kalo soal jambu, emang bener.”

“Kamu bikin mbak khawatir aja,” katanya mengeluh. “Nanti siapa coba yang mau ngambilin jambu kalo mbak lagi ngidam.”

Aku memicingkan mata. “Kawin aja belum, masa udah ngidam!”

Dia balas tertawa renyah.

Ini hari Sabtu pagi, hari keempatku di rumah sakit, hari keduaku setelah kembali membuka mata. Aku kehilangan banyak darah, dan golongan darahku cukup langka, O rhesus negatif. Untung sejak aku masih kecil, keluargaku ikut semacam komunitas sesama golongan darah rhesus negatif, sehingga kalau terjadi apa-apa, kami bisa saling tolong satu sama lain, meskipun aku sendiri belum pernah donor darah karena belum tujuh belas.

Tubuhku masih terasa lemas, tapi kini jauh lebih baik. Secara fisik mungkin aku sudah bisa pulang untuk rawat jalan, tapi Ayah memaksa tinggal lebih lama. Aku tidak keberatan, karena ada Mbak Diana merawatku.

Dia lulusan Poltekkes Tanjung Karang, dan kini sudah setahun lebih menjadi perawat di sini. Lebih dari itu, Mbak Diana juga tetanggaku. Rumah kami persis bersebelahan. Kami menjadi akrab karena selain sama-sama anak tunggal – oke, sekarang aku bisa dibilang anak tunggal karena Juna tidak tinggal bersama kami – Mbak Diana juga suka minta tolong sama aku untuk memanjat pohon Jambu Jamaika yang tumbuh menjulang di depan rumahku untuknya. Mbak Diana sudah seperti mbakku sendiri.

“Sini adek mbak yang ganteng disuapin dulu,” katanya memanjakan.

Aku tertawa sambil membuka mulut. Suapan bubur ayam masuk ke atas lidah, lalu kutelan dengan lahap.

“Bubur rumah sakit kok bisa enak begini?” komentarku terheran-heran. “Mbak tambahin micin ya?” tuduhku pura-pura kesal. “Huuu, ntar kalo Pandu jadi bego, Mbak Diana harus tanggung jawab!”

Sebagai balasan, tangannya menjitak kepalaku.

“Aduh, sakit geh mbak!” protesku. “Orang sakit bukannya disayang, malah dijitak!”

Dia tertawa melihat tingkahku. “Manja!” tuduhnya.

“Biarin!” kataku memeletkan lidah.

Aku senang berada di dekat Mbak Diana. Entah kenapa dia suka sekali memanjakan aku, padahal selama ini aku lah yang harus banyak mengalah pada adikku, pada Juna. Dan pada Arkan. Jangan pikirkan soal dia! sudut kepalaku bersungut-sungut. Jangan pernah lagi mikirin cowok itu, pengkhianat bangsa negara!

“Kok tahu-tahu manyun?” selidik Mbak Diana. Mungkin dia melihat perubahan wajahku saat sosok Arkan melintas di kepala.

“Nggak…” aku menghindar. “Ayah kemana mbak?”

“Om Indra pulang sebentar, tadi dia nitipin kamu sama mbak.”

Ayah emang sengaja meminta pihak rumah sakit untuk menyediakan tenaga perawat yang khusus menanganiku, dan pilihannya jelas jatuh pada Mbak Diana. Toh kami emang sudah akrab di rumah.

“Emangnya aku barang, pake dititip-titip,” keluhku.

Mbak Diana melirikku sambil menghela napas. Tangannya terus aktif menyuapi aku bubur disela-sela obrolan.

“Kamu tahu nggak dek, Om Indra tuh nyaris nggak tidur nungguin kamu, apalagi pas kamu masih di ruang operasi.”

Aku terdiam, mati kutu.

“Mbak nggak pernah ngeliat Om Indra sekacau malam itu,” Mbak Diana lanjut cerita. “Dia jerit-jerit keluar sambil membopong kamu. Untung tangan kamu sudah dibebat. Kemejanya darah semua, mama mbak sampe mau pingsan liatnya. Kalo bukan papa mbak yang nyetir mobil, mungkin Om Indra udah nabrak orang saking pengen ngebut.”

Nada suara Mbak Diana lembut, tidak menyalahkan, tapi aku tahu dia sengaja cerita begitu supaya aku sadar apa yang telah aku perbuat, bahwa tindakanku salah. “Maap mbak, Pandu udah bikin susah semua orang,” kataku tercekat.

Mbak Diana meremas lembut bahuku. “Om Indra tuh sayang banget sama kamu dek, kamu harusnya nggak boleh ngerasa seputus asa ini, masih banyak orang yang peduli sama kamu, ada ayahmu, ada mbak, papa mama mbak, dan adik kamu si Juna. Masa kamu tega bikin kami semua bersedih?”

Aku menggeleng. Suaraku macet di tenggorokan. Aku tahu aku bakal nangis lagi kalo bicara. Aku benar-benar merasa bersalah. Aku sudah melanggar janjiku sama Bunda, sudah bikin ayahku terluka. Dan bisa-bisanya aku melupakan Juna. Gimana perasaan adikku kalo tahu abangnya nekat begini? Apa sih yang ada di otakku?

Kami berdua terdiam sementara Mbak Diana terus menyendok bubur, memindahkannya ke mulutku sampai habis. “Maap dek, mbak malah bikin kamu sedih lagi,” kata Mbak Diana. Tangannya menyingkap sedikit rambut yang jatuh ke dahiku. “Kamu tuh kayak adek mbak sendiri, mbak sedih ngeliat kamu begini.”

“Pandu yang salah mbak.”

“Kamu janji ya, nggak boleh begini lagi,” desaknya lembut.

Kepalaku terangguk. “Iya, Pandu tahu kalo ini salah,” jawabku. “Pandu nyesel mbak, nggak mau lagi bikin Ayah kecewa.”

“Nah, itu baru adek mbak.” Dia tersenyum.

 

***

 

“Cuacanya mendung lagi,” keluh ayahku.

“Emang lagi musim hujan, mau gimana lagi, Yah.”

Ayah melirik gemas. “Tapi kan percuma Ayah ambil kamar view laut, kalo ujan terus begini,” sesalnya. “Yang ada tirainya ditutup terus, gara-gara kamu pake acara astraphobia segala.”

Aku terbahak geli. Ayahku lucu deh, masa anaknya terbaring di rumah sakit begini masih sempet-sempetnya ngeributin kamar view laut. “Pandu cuma separo phobia, Yah!” seruku protes. “Kalo phobia beneran Pandu udah sembunyi di dalem lemari kalo ngeliat petir.”

“Sama aja!” Ayah mendengus.

Tawaku kembali membahana. Rupanya kerianganku menular padanya. Ayah ikut tertawa lebar bersamaku. Dia tampak jauh lebih rapih dan gagah dibanding saat aku melihatnya kemarin. Kurasa sepagian tadi dia sudah sempat tidur, mandi dan bercukur. Usia ayahku baru tiga puluh delapan, jangkung dan tampan.

Kalau kata Mbak Diana, ayahku idola emak-emak. Aku sama sekali tidak setuju, karena aku tahu banyak mahasiswi kesengsem sama Ayah. Selain memiliki firma konsultan arsitektur sendiri, Ayah sering diundang sebagai dosen tamu di sejumlah Universitas.

“Ayah nggak lembur?” tanyaku.

Hari ini kan Sabtu. Ayahku libur dua hari seminggu, setiap Sabtu dan Minggu, namun Sabtu adalah hari favoritnya untuk lembur. Sejak Bunda pergi, Ayah emang terlalu giat bekerja, seorang workaholic sejati. Mungkin ini menjadi semacam pelarian untuknya. Jadi Ayah punya alasan untuk menjauh dariku.

Aku melihat rasa bersalah di matanya. Pertanyaanku tadi kulontarkan secara reflek, tanpa maksud apa-apa, meskipun aku tidak jamin, apakah secara tidak sadar aku sedang menyudutkan ayahku? Menjadikan kesalahanku menjadi kesalahannya juga? Sedikit banyak dia ikut andil dalam membuatku tertekan, sejujurnya itulah yang terjadi.

“Ayah nggak akan kemana-mana, Ayah pengen nemenin kamu di sini.”

“Maap, kerjaan Ayah jadi terbengkalai gara-gara Pandu.”

Ayah mengacak rambutku. “Nggak usah kamu pikirin, semua beres sama Om Nino.” Pria itu tangan kanan ayah di kantor.

“Pandu harus minta maap juga sama Om Nino, dia jadi lembur sendirian.”

Ayah berusaha tertawa.

“Kalo Ayah rindu sama kerjaan, Pandu nggak apa kok ditinggal, udah ada Mbak Diana juga,” kataku lagi. Entah apa yang ada di kepalaku sampai berulah begini. Aku ingat kalimat semacam ini sering dilontarkan Juna untuk membuat kedua orang tuaku merasa bersalah saat akan pergi kerja, terutama ketika ada pemberitahuan lembur.

“Apa Ayah terlihat seperti orang tua yang suka mengabaikan anak?”

“Kurasa terkadang begitu.”

Ayah menatap penuh sesal. “Ayah tahu kamu sedang menyalahkan Ayah, dan emang Ayah banyak salah sama kamu, kurang perhatian sama kamu, kalo itu alasan kenapa kamu berbuat nekat kemaren, Ayah minta maap, dan Ayah janji nggak bakal begitu lagi.”

“Bukan salah Ayah,” kataku setengah berbohong.

“Ayah sayang sama kamu.”

Aku tertawa. Sepertinya Ayah punya kalimat favorit baru ketika bingung harus berkata apa padaku. Ayah sayang sama kamu!

Simpel, tapi sangat berarti bagiku.

“Ayah seneng liat kamu cengengesan begitu.”

Dia duduk di sebelah ranjangku, dengan kepala bertumpu pada kedua tangan yang dilipat di atas kasur. Selama di rumah sakit, tingkah ayahku semakin aneh saja. Aku ingat biasanya dia suka menjaga jarak. Sikapnya sering terlihat cuek, juga tegas dalam mengambil keputusan. Ayah tidak pernah main tangan, tapi sangat galak kalau sedang marah.

Singkatnya dia tidak pernah memanjakan aku.

Bahkan kami tidak pernah bicara seakrab ini, ngomongin soal cuaca dan rasa takutku sama petir, rasanya seperti dalam mimpi. Ayah kembali menjadi dirinya dulu, riang dan hangat, sebelum berubah dingin saat Bunda pergi membawa Juna.

“Pandu nggak mau Ayah sedih lagi,” kataku jujur.

Senyum ayahku semakin lebar, sudut bibirnya tertarik seolah terbuat dari karet. “Kalo kamu nggak mau Ayah sedih, kamu harus janji untuk selalu gembira,” pintanya. “Kalo kamu ada masalah, langsung cerita sama Ayah.”

Aku mengangguk, ingin mengatakan sesuatu, tapi saat aku hendak buka mulut, seseorang mengetuk pintu kamar.

Bibirku kembali terkatup.

Kami sama-sama menoleh. Ayah pergi ke depan untuk membukakan pintu. Aku tidak bisa melihat siapa yang datang karena terhalang dinding kamar mandi yang membentuk koridor kecil menuju pintu kamar.

Tak lama kemudian Ayah kembali menghampiri ranjang dengan senyum merekah. “Teman kamu datang menjenguk,” dia memberitahu.

Sesosok tubuh ramping mengintip malu-malu dari belakang punggung Ayah.

Tubuhku membeku di tempat.

Orion Arkan al-Jauza. Cowok itu masih sama seperti yang terakhir kulihat beberapa minggu lalu pada saat pembagian rapor. Tubuhnya masih sama tinggi denganku, ramping tapi tidak terlalu kurus, berkulit putih susu dengan mata agak sipit, khas orang Lampung. Pipinya sedikit jerawatan. Arkan terlihat seperti bule celup dengan pipi bintik-bintik merah muda. Bahkan dengan bintik-bintik jerawat, dia tetap keren dan gagah.

Ayah heran melihat ekspresiku seperti melihat hantu.

Hanya sesaat, karena detik berikutnya aku berhasil menghentikan rengutan pada wajahku, membuatnya kembali datar.

Ayah tidak boleh tahu soal itu, cukup aku dan Arkan saja.

Sejenak cowok itu terlihat canggung, bingung untuk bersikap gimana. Ya, sebenarnya kami sama-sama canggung. Tapi seperti halnya aku, Arkan dengan cepat menutupi rasa jengahnya. Dia tersenyum lebar, entah terpaksa atau tidak, aku tidak tahu. Arkan bisa jadi aktor terkenal kalau dia mau. Selain punya tampang, dia juga pintar akting.

Aku sudah menjadi sahabat terdekatnya sejak kami kelas tujuh. Jadi aku tahu semua borok dan sifat jeleknya. Dia senang dan jago mengadali guru-guru kami di sekolah. Sementara aku… aku orang yang selalu membelanya, berbohong untuknya, mengomelinya ketika dia berbuat salah. Dia sering menuduhku cerewet seperti emak-emak, padahal aslinya aku pendiam, hanya untuknya aku rela membuat mulutku lelah bercuap-cuap.

Salahku emang. Aku menyayanginya seperti adik sendiri, seperti sayangku pada Juna.

Dan dia mengkhianati aku.

Teganya dia berbuat begitu! Jantungku seperti diiris-iris dengan pisau, rasanya begitu sakit, menyisakan ruang kosong dalam hatiku.

“Ori,” kataku datar, menyebut nama panggilannya di sekolah.

Kulihat matanya mengerjap, apakah benar yang aku lihat? Adakah kilatan sesal dan bersalah pada binar matanya?

“Hei, Pan… seneng ngeliat elu udah baikan,” katanya lirih. “Dan selamet ulang tahun, bro!” tambahnya menyorongkan sebuah cake.

Kulirik sekilas lapisan kue merah bata diselingi krim warna putih, dengan potongan stroberi segar mengelilingi sebuah lilin angka lima belas. Red velvet, tidak kusangka Arkan masih ingat kue kesukaanku.

“Makasih,” jawabku sambil melirik Ayah.

Sepertinya Ayah memahami arti lirikanku, dia langsung berdehem tidak enak hati. Seperti biasa, dia melupakan ulang tahunku.

“Sebetulnya Ayah udah kepengen beli kue buat kamu, tapi malah keduluan si Arkan,” kata ayahku ngeles.

Aku mendengus. Kenapa dia selalu membuatku kecewa, bahkan saat aku dirawat di rumah sakit begini?

“Bohong!” tuduhku kasar.

Yang tidak kusangka, Ayah memberiku tampang terluka. Dia berjalan menuju sofa tamu, mengambil tas gunung yang dia bawa-bawa ke rumah sakit, lalu mengaduk-aduk isinya, menarik sebuah bungkusan dari dalam sana.

“Kamu suka buruk sangka sama Ayah,” dia mengeluh, tangannya menaruh bungkusan tadi tepat di atas pangkuanku. “Lihat, kadomu udah Ayah siapin.”

Aku jadi merasa bersalah. “Maap, biasanya Ayah selalu lupa.”

“Ayah nggak bakal lupa lagi,” janjinya.

Aku mengangkat bahu. “Terus gimana Pandu buka kadonya?” tanyaku, memamerkan kedua lengan yang tidak berdaya.

Jarum opname sebesar pena masih menancap di lengan kananku, sementara lengan kiriku, yah, lukanya emang masih sakit. Setiap kali berusaha menggerakkan jari-jariku, aku masih merasa ngilu. Sebenarnya hal ini membuatku cemas, apakah nanti tanganku akan baik-baik saja? Tapi aku terlalu malu untuk bertanya. Bisa dibilang, ini kan emang mauku sendiri. Siapa suruh begitu bodoh mengiris lengan sendiri?

“Kadonya nanti saja Ayah bantu bukain,” komentar Ayah, mengambil kembali hadiah dan meletakkannya di meja di sebelah ranjang. “Sekarang tiup lilin dulu, masa Arkan kamu diamkan saja dari tadi,” tegur ayahku.

Pandanganku kembali teralih pada cowok yang dari tadi sabar memegangi kue ulang tahun sambil tersenyum lemah. Ayah mengambil korek dari sakunya dan menyalakan lilin. Arkan kembali menyodorkan kue hingga sejengkal di depan hidungku.

“Make a wish, bro!” dia menyemangati.

Dengusanku terdengar tanpa bisa aku tahan. Make a wish sontoloyo, makiku dalam hati. Pengen rasanya aku berharap cowok bintik-bintik di depanku ini hilang ditelan bumi, atau berubah jadi batu seperti di cerita malin kundang. Cowok keparat ini emang durhaka sama aku. Biar jadi batu sekalian! Batu jerawatan.

Seolah bisa membaca semua hal buruk yang terlintas di kepalaku, Arkan mengernyit pasrah. “Bikin harapan jangan yang jelek-jelek, nanti kalo sampe terkabul, elu nyesel lagi,” katanya dengan nada bercanda.

Ayah memperhatikan suasana tegang di antara kami dengan mata memicing, membuatku tidak bisa berkutik. Aku harus pura-pura bahwa semua baik-baik saja di antara aku dan mantan sahabatku ini. Ya, benar sekali, Arkan sudah lama kucoret dari daftar teman terbaik sepanjang masa yang listnya emang tidak banyak.

“Rugi amat buang-buang harapan dengan doa yang jelek-jelek,” aku pura-pura membantah. Padahal dalam hati aku sudah meneriakkan seribu satu macam kutukan agar cowok ini ketiban sial, minimal saat pulang dari sini, kuharap dia jatuh ke got atau semacam itu.

Arkan tertawa dipaksakan.

“Kalo udah doanya, cepet tiup lilin, biar nggak netes ke kue,” Ayah mengingatkan.

“Nggak pake nyanyi?” tanyaku.

“Suara Ayah jelek, nanti kamu malah pingsan.”

Secara reflek kami menoleh pada Arkan, membuat cowok itu terbatuk gugup. “Arkan juga nggak bisa nyanyi Om,” akunya pada Ayah.

Aku kembali mendengus. “Jangan percaya, Yah. Bohong tuh! Pas nembak Nadia, Ori pake acara nyanyi di depan kelas.”

Ups, apakah aku emang berkata begitu? Bisa-bisanya aku keceplosan? Kan terdengar seolah aku cemburu padanya. Maap ya, padahal tidak!

Arkan terbelalak, seolah menuduhku ‘kok elu tega-teganya buka aib gua?’.

Ayah tersenyum melihat tingkah kami. “Kamu sama Arkan lagi marahan ya?” Ayah bertanya blak-blakkan, membuat kami berdua terhenyak. Aku dan Arkan saling pandang, tanpa sadar sepakat untuk membantah.

“Ya nggak lah, Yah!” kataku.

“Nggak kok, Om!” protes Arkan.

Reaksi kami serentak seperti paduan suara. Aku jadi ingat kami emang selalu kompak saat menghadapi musuh bersama di sekolah, misalkan Pak Erwansah, guru matematika super killer yang hobinya menampari siswa yang ketahuan merokok. Entah sudah berapa kali aku menyelamatkan jerawat di pipi sahabatku dari tangan besi Pak Erwansah. Sudah tidak terhitung seberapa banyak kebohonganku untuknya.

Kedua alis ayahku menyatu, dia tampak sangsi. “Sejak kapan kamu manggil dia Ori?” selidik Ayah. “Biasa juga manggilnya Arkan.”

“Itu panggilan Ori di sekolah,” jawabku cepat.

“Semua teman manggil begitu, Om,” Arkan menambahkan.

“Tapi kalian bukan cuma sekedar teman,” kata ayahku perlahan. “Ayah tahu selama ini kamu manggil Arkan dengan nama panggilannya di rumah, karena kalian sudah lama bersahabat.” Ayah emang kenal dengan Arkan dan keluarganya, karena keluarga kami sama-sama anggota komunitas rhesus negatif. Ya, Arkan juga memiliki golongan darah yang sama denganku, O rhesus negatif, ini salah satu alasan kami dulu cepat akrab.

Kami berdua terdiam.

Emang salahku juga. Dalam kemarahanku padanya, aku tidak lagi memanggil dengan nama panggilan yang diberikan orang tuanya di rumah. Rasanya terlalu akrab, padahal kami tidak seperti dulu. Arkan pergi menjauh dariku.

Ayah menghela napas. “Ayah harap apapun masalah di antara kalian, nggak bakal berlarut-larut,” katanya seraya menoleh padaku dengan tatapan menilai. “Cari teman itu susah loh, apalagi sahabat, yang gampang itu cari musuh,” tambahnya menohok.

“Iya, Yah.” Kepalaku terangguk lesu.

Arkan diam saja di tepi ranjang.

“Kalo gitu sekarang tiup lilinnya,” perintah Ayah. “Tuh lihat, sudah netes-netes di atas kue, sayang kan.”

Setelah itu kami berdua mengobrol dengan keramahan palsu. Aku dan Arkan. Sementara ayahku sibuk menatap awan mendung di luar jendela, asik dengan pikirannya sendiri. Tidak lama kemudian Arkan pamit. Aku tersenyum penuh pura-pura padanya. Dia membalas dengan cengiran dipaksakan. Kami saling mengenal terlalu baik. Ayah mungkin bisa termakan dengan akting kami, seolah kami sudah baikan, namun baik aku maupun Arkan sama-sama tahu, hubungan kami masih retak, mustahil kembali baik-baik saja.

Itu semua sembilan puluh sembilan persen kesalahannya, Orion Arkan al-Jauza, si cowok bintik-bintik, mantan sahabat terbaikku.

 

***

 

“Kamu masih marah sama Arkan?”

Suara Mbak Diana.

Kali ini dia sedang menyuapiku makan malam. Ayah tadi pergi sebentar untuk mandi dan berganti pakaian di rumah. Katanya persiapan untuk lembur malam ini menemani putranya tidur, membuatku tertawa mendengar kata-kata gombalnya.

“Darimana mbak tahu?” tanyaku kaget.

“Sejak kamu naik kelas sembilan, dia nggak pernah lagi maen ke rumah.”

“Dia sibuk pacaran,” jawabku separo jujur.

Mbak Diana menarik napas, terlihat ragu-ragu mengatakan sesuatu. Sikapnya membuatku gelisah. Saat tatapan mata kami bertemu, kulihat dia seperti membulatkan tekad. Jantungku mulai berdetak lebih kencang. Apakah selama ini kecurigaanku benar? Kumohon, apapun yang dia tahu, beberapa hal lebih baik tidak pernah dibicarakan.

Sayang, harapanku tidak terkabul.

“Kamu suka sama Arkan?” tanya Mbak Diana lembut, tidak ada nada menghakimi di sana, tidak pula tatapan jijik.

Hanya sebuah pertanyaan. Lugas, tapi penuh pengertian.

“M-maksud mbak?” tanyaku gelagapan.

Mbak Diana kembali menarik napas, kali ini lebih panjang, dia terdengar letih. “Mbak nggak pengen ngomongin hal-hal yang pribadi buatmu, tapi mbak takut ini ada kaitannya sama tindakan kamu kemaren,” katanya hati-hati. “Mbak cuma pengen kamu tahu, gimanapun kamu, mbak bisa menerimanya, dan mbak yakin mbak nggak sendiri. Kamu punya banyak orang yang sayang sama kamu, yang bisa menerima kamu apa adanya.”

Lidahku kelu, hatiku mencelos mendengar gombalan yang keluar dari mulut mbak Diana. Semua itu dusta, aku tahu. Tidak banyak orang yang bisa menerima kondisiku, begitulah faktanya. Bahkan mungkin tidak juga ayahku. Kurasa Ayah bakal mengusirku kalau sampai tahu seperti apa sebenarnya aku.

Tapi bukan itu yang aku takutkan saat ini, ignorance is bliss, tak ada gunanya mencemaskan reaksi ayahku, orang yang tidak tahu apa-apa soal ini. Yang bikin aku ketar-ketir adalah Mbak Diana. Darimana dia tahu?

Apakah waktu itu Mbak Diana sudah bisa nebak?

Aku seperti tersambar geledek. Ya, Tuhan, kalau emang benar seperti itu, artinya wanita di depanku ini sudah lama tahu, hampir selama aku sendiri. Tubuhku terasa panas dingin. Tapi kalau benar begitu, kenapa sikapnya padaku selama ini tidak berubah? Apa dia tidak merasa canggung, muak padaku?

Aku saja jijik pada diriku sendiri.

Tiba-tiba kudengar suara halilintar menggema di luar, membuatku berkeringat dingin. Saat kulihat kilat menyambar di sela-sela kegelapan malam, membuatku seolah terhisap kembali pada kenangan sepuluh bulan lalu.

Waktu itu bulan Februari, usiaku empat belas tahun dua bulan, dan musim hujan semakin menjadi-jadi. Gemuruh langit seolah mencerminkan suasana hatiku yang lagi mendung. Ini Minggu ketiga ayahku lembur berturut-turut. Aku tidak masalah kalau ini hari Sabtu, tapi Ayah kebangetan banget menelantarkan aku di hari Minggu, sudah tiga kali beruntun pula. Dia bahkan tidak sempat mengantarku ke Gereja.

Aku kesepian seorang diri di rumah.

Salahku sendiri, kenapa aku harus rela Arkan membatalkan acara menginapnya di rumahku karena cowok bintik-bintik itu harus mengantar Nadia naek angkot untuk beli buku di Fajar Agung, disusul jajan ringan di Bakso Marem, modus pendekatan super romantis buah pikir seorang Pandu Wiratama Atmaja.

Ya, aku lah sahabat terbaik, atau terbodoh, terserah, yang merancang metode pendekatan Arkan untuk menaklukkan pujaan hatinya, Nadia Lakshita Deviana, cewek paling cantik di kelasku, sekaligus rivalku memperebutkan posisi nomor satu paling pintar di kelas delapan. Oke, ini sedikit tidak tepat. Karena aku mutlak nomor satu, dan dia mutlak nomor dua. Sudah begitu dari pertama kami masuk kelas unggulan di kelas tujuh. Aku emang sepintar itu, dan senarsis ini, gimanapun dia berusaha, secara akademis Nadia tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Untuk yang satu ini aku yakin seratus persen.

Lain halnya soal perasaan Arkan.

Aku cukup tahu diri. Seorang sahabat tidak akan pernah bisa menyaingi seorang gebetan. Sudah lama aku mengikhlaskan diri jika suatu saat posisiku sebagai yang nomor satu di hati Arkan harus tergusur oleh ledakan hormon bernama Nadia. Aku ikhlas berada di posisi kedua, bahkan aku rela membantu melengserkan diri sendiri.

Dulu Nadia pernah suka sama aku. Cewek itu menembakku diam-diam, mengirimiku surat cinta pink lope-lope yang diselipkan di antara halaman buku cetak yang kupinjam darinya. Jadi aku memberinya jawaban secara diam-diam juga, menyelipkan surat penolakan warna biru kotak-kotak pada buku yang sama.

Aku menolak Nadia bukan karena kondisiku begini. Tidak, aku masih belum sadar waktu itu. Aku tidak punya perasaan khusus untuknya, kecuali rasa tidak mau kalah, banyak-banyakan angka sembilan di rapor. Ya, sesuatu yang sekonyol itu. Tapi ini penting bagiku. Kupikir kalau nilai-nilaiku selalu jadi yang terbaik, Ayah akan bangga padaku. Mungkin dia akan berhenti lembur, tidak lagi mengabaikanku. Pikiran kanak-kanak yang terlalu naif.

Meskipun aku menolaknya, sikap Nadia tidak berubah memusuhiku. Dia masih selalu sama, tersenyum jika kami berpapasan, menanyakan seberapa yakin aku dengan jawaban ulangan harian kami setelah tes berakhir, apakah aku mengerjakan semua pe-er, kapan ulang tahunku, apa merek cokelat kesukaanku. Omong-omong Nadia bertanya soal cokelat seminggu sebelum valentine, jadi ketika aku menemukan sepak ferrero rocher kemasan besar tanpa nama di dalam laciku, aku tahu cokelat ini ulahnya.

Waktu itu aku menganggap tingkahnya sangat manis.

Padahal dia cewek dan aku cowok, harusnya aku yang bersikap manis padanya, memberinya sebatang cokelat dibungkus kertas kado lope-lope.

Itu tidak kulakukan, tentu saja.

Aku mulai memanipulasi perasaan Nadia padaku supaya dia mau melirik sahabatku. Seperti yang dituduhkan Ayah, dari dulu aku pandai memanipulasi orang. Arkan tidak tahu Nadia pernah menembakku, jadi sahabatku itu dengan lugunya curhat kalau dia menyukai Nadia. Ya, kupikir tidak ada salahnya jika orang yang dulu suka padaku jadian dengan orang yang aku sayangi, aku mulai memakcomblangi mereka.

Sepertinya usahaku kini menuai hasil. Arkan mulai mengantar Nadia kemana-mana, meski cuma naek angkot karena mereka belum bisa bawa kendaraan dan tidak punya SIM. Awalnya aku merasa senang. Namun aku tidak bisa bohong, kini terkadang aku merasa iri pada Nadia. Cewek itu mencuri waktuku bersama Arkan. Dan apa yang dicurinya tidak lah sedikit, saat ini misalnya, jadwal menginap kami diserobotnya.

Aku berusaha menegur diri sendiri, tapi rasa iri tidak dengan mudahnya hilang begitu saja. Karena itu lah aku bermuram durja, dengan awan kelabu menggumpal di langit, duduk melamun di tepi ranjang.

Lalu kilat mulai menari di langit siang yang tanpa matahari. Aku terlonjak dari lamunanku, memucat oleh suara geledek dan cahaya petir. Napasku mulai setengah-setengah, serangan panik melandaku. Aku benci hujan, tepatnya lagi aku tidak suka petir. Saat melihat pantulan kilat di langit, selalu terbayang gimana rasanya jika aku sampai tersengat, kulit terbakar hangus. Pikiran itu begitu menakutkan.

Asmaku kontan langsung kambuh.

Kutarik inhaler di saku celana di sela-sela napas yang terputus. Kuhirup dengan rakus obat asmaku, lalu aku ngacir turun ke bawah.

Kamarku terletak di lantai dua, sarang paling nyaman, dengan jendela lebar memamerkan keelokan panorama Teluk Lampung. Aku selalu terhanyut saat menatap cakrawala di kejauhan, tempat penuh sihir dimana langit biru bertemu lautan yang tidak kalah birunya. Rasanya seperti di negeri dongeng.

Tapi tidak dalam cuaca jelek begini.

Jendela keparat itu berubah menjadi musuhku paling jahat, bagai pedang bermata dua.

Bahkan kalau aku memberanikan diri mendekati jendela untuk menutup tirai, cahaya petir masih sanggup menerobos masuk, seolah ada pengkhianat yang mengijinkannya lewat. Aku benci petir, saat ini aku juga benci kamarku!

Satu-satunya pelarianku jika sudah begini adalah ruang baca Ayah, kantor keduanya yang tidak pernah dia gunakan, kecuali ketika aku sedang sekolah. Tentu saja Ayah lebih suka lembur di kantornya di Jalan Ki Maja daripada menggunakan ruangan ini. Kalau tidak begitu gimana dia bisa menghindari aku, mahluk polos yang selalu setia tanpa kata, menunggu sosok jangkungnya pulang membuka pintu depan.

Jaket kulit ayahku terhampar di kursi kebesarannya. Baunya memenuhi ruangan, tercampur dengan aroma buku-buku yang berjajar di lemari. Aku suka di sini, ruangannya kedap suara, tanpa jendela, tidak ada cahaya petir menerobos masuk, tidak ada geledek memekakkan telinga, dan bisa kubaui aroma segar ayahku. Aroma yang dulu selalu membuatku nyaman, bergelung manja dalam dekapnya.

Oke, sudah cukup aku mengasihani diri sendiri.

Ini tidak seperti dirimu, Pandu! ingatku dalam hati. Juna bakal terbahak kalo dia ngeliatmu begini!

Di tengah serangan rasa bosan, aku otomatis mencari satu-satunya pelipur lara yang ada di ruangan ini, koleksi majalah ayahku. Ayah langganan National Geographic. Hobinya membaca telah lama menular padaku, dan ini majalah kesukaanku.

Tanpa sadar aku mulai membalik-balik halaman Natonal Geographic edisi bulan Februari. Seperti kutebak artikel utamanya soal cokelat dan hari valentine. Aku skip karena ini bikin aku ingat sama Nadia, dan pada gilirannya membuat aku ingat sama Arkan. Aku bisa gila kalau lebih lama lagi mikirin si cowok bintik-bintik, mahluk super tega yang meninggalkan sahabatnya melamun seorang diri tanpa tujuan di hari Minggu. Oke, cukup soal dia. Aku sudah cukup kecewa dengan Ayah, tidak perlu ditambah-tambah lagi.

Kutelusuri daftar isi dengan jariku. Skip semua tentang cokelat. Skip tentang valentine. Skip semua soal cinta. Tunggu dulu. Jariku berhenti bergerak pada sebuah judul artikel. Artikel tentang cinta, ya ampun, ngapain aku lama-lama baca yang begini! Tapi, artikel ini berbeda. Napasku mulai memburu. Jantungku melompat-lompat.

Perasaan apakah ini? Yang memanggil-manggil agar aku tidak hanya menatap bego judul artikel dengan huruf besar-besar, tapi melahap habis isinya sekalian, tulisan dengan latar belakang pink lope-lope.

Aku tak kuasa menolak hasrat untuk membaca.

Artikel itu membuatku terhanyut. Aku merasa syok, terkejut tidak terperi. Kalimat-kalimat dalam tulisan itu terus berkelebatan dalam kepala, seperti mantra. Hampir tanpa sadar aku bangkit meninggalkan kursi kebesaran Ayah dan duduk di pojok ruangan. Kedua kaki kutekuk dan kupeluk melingkar dengan lengan. Kurebahkan kepalaku pada dengkul. Aku bahkan tidak sadar kapan air mataku menetes dalam diam.

Waktu seolah berhenti berputar. Yang ada dalam otakku hanyalah artikel itu saja. Kata demi kata, paragraf demi paragraf, simbol pink lope-lope menari di depan mata. Apa sih yang baru saja kubaca? Kenapa aku harus baca artikel begitu? pikirku penuh sesal. Apa sih yang ada dalam otakku, apakah aku sudah mulai gila?

Tidak kudengar suara pintu ruang baca dibuka.

“Dek, kamu sembunyi di sini lagi?”

Pintu ditutup kembali.

“Kamu selalu ngumpet di sini kalo hujan, bikin mbak gemes aja.”

Masih hening. Aku tidak merespon, karena aku emang tidak mendengarkan. Aku tidak mau mendengar apapun saat ini.

Kudengar suara napas terkesiap. Langkah seseorang mendekatiku. Lalu sosok itu duduk di sebelahku, perlahan melingkarkan lengannya pada bahuku. “Kamu kenapa, dek?” katanya sambil meremas pundakku. “Jangan bikin mbak khawatir,” tambahnya lirih.

Aku sudah lama berhenti terisak. Kurasa air mataku sudah kering.

Kuberanikan menatap matanya. Mbak Diana, pasti dia mau minta tolong diambilkan jambu, pikirku otomatis. Aku tersenyum sumbang. “Mbak bikin kaget aja,” kataku parau. “Emang ujannya udah reda? Kalo udah nanti Pandu ambilin jambu.”

“Huu, masa hujan-hujan begini makan jambu, entar tambah kedinginan,” balasnya. “Mbak bawain kamu Bakso Sonny nih, yuk ambil mangkok, kita makan bareng-bareng.” Dia memamerkan bungkusan di tangan satunya yang bebas, tidak memelukku. Seperti tersengat lebah, aku jadi malu sendiri dengan situasi ini. Masa sih aku mewek di pelukan cewek? Gimana pun aku ini tetep cowok, egoku meraung. Cepat-cepat aku bangkit, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mbak Diana pun tidak bertanya lebih lanjut. Dia emang selalu pengertian, kupikir dia lebih cocok jadi psikolog dibanding perawat. Aku bersedia dikonseling olehnya.

Setelah itu kami makan bakso, dan kejadian itu tak pernah lagi diungkit-ungkit. Sampai aku lupa itu pernah terjadi.

Jadi dia menyadarinya saat itu? pikirku getir.

Tatapan Mbak Diana saat ini membenarkan dugaanku. Setidaknya, dia sudah tahu soal aku, tentang diriku sebenarnya. Entah darimana pun dia tahu, faktanya tidak berubah. Dia tahu! Aku merasa mual.

“Jadi benar kamu suka sama dia,” ulang Mbak Diana.

Aku menggeleng. Mana mungkin aku ngaku?

“Kamu tuh manis banget,” komentar Mbak Diana tiba-tiba, senyumnya dikulum. “Kalo kita seumuran, pasti mbak sudah klepek-klepek sama kamu.” Tangannya yang menyuapiku bubur kini mengacak rambutku.

Mulutku ternganga. “Gombal!” tuduhku tanpa pikir.

Dia tertawa heboh sendiri, mau tidak mau aku jadi tertular sedikit keceriannya, tawaku ikut menggema.

“Beneran dek, kamu tuh ganteng,” kata Mbak Diana berusaha meyakinkan aku. Sebenarnya tidak perlu, aku cukup sadar diri kalo aku emang cakep, biarin aja dibilang narsis, karena kenyataan berkata begitu.

“Pasti banyak tuh yang klepek-klepek sama kamu,” tambahnya lagi. Aku mulai menebak ke arah mana muara pembicaraan kami berakhir. “Cowok itu nggak cuma Arkan,” gumamnya lembut, membuatku pengen teriak sekencang-kencangnya, kalau aku sama sekali tidak tertarik sama cowok bintik-bintik itu!

“Mbak… nggak aneh ngomong begini sama aku?” tanyaku lirih.

“Kenapa harus aneh?” dia balas bertanya.

“Pandu kan cowok mbak,” kataku lesu.

“Kamu emang cowok, ganteng pula, tapi cowok kan manusia juga. Pasti pernah jatuh cinta seperti semua orang.”

“Cowok harusnya suka sama cewek.”

Kepala Mbak Diana terangguk setuju. “Harusnya sih begitu, tapi teori sama praktek kadang nggak sejalan,” ujarnya. “Namanya juga perasaan dek, emangnya bisa dipaksakan? Kalo pun begitu jatohnya cuma pura-pura saja kan?”

Aku membisu, tidak tahu harus berkata apa.

“Intinya dek, kamu harus sabar. Emang kondisimu lebih susah buat nyari orang yang tepat, tapi kamu nggak boleh putus asa. Dengan tampang kamu ini, mbak yakin banyak juga cowok yang bakal ngejar-ngejar kamu.”

Mataku membelalak. Mbakku ini serius ngomong apa yang baru saja dia omongin? Apa tidak salah? Kurasa aku lupa mengorek telinga semalam.

Mbak Diana kembali tertawa melihat ekspresi takjub di wajahku. “Oke, sarat dan ketentuan berlaku,” tambahnya cengengesan.

“Saratnya berat mbak, cowok itu harus sama kayak Pandu,” kataku getir.

“Sama-sama ganteng, tinggi dan berbodi atletis?” Mbak Diana memotong geli. “Kamu suka pilih-pilih dari dulu.”

Aku memutar bola mata.

“Bukannya maksud Mbak Diana tuh sama-sama aneh, nggak normal?” desahku mengasihani diri sendiri.

“Emm, biarin aja aneh, abnormal, yang penting ganteng, terus sifatnya baik.”

Kembali aku kehabisan kata-kata.

“Kamu dari dulu nggak pernah egois, selalu mikirin orang lain terlebih dahulu,” kata Mbak Diana mantap. “Mbak kan merhatiin dari kamu kecil dulu, dari pertama pindah jadi tetangga mbak lima tahun lalu. Si Arkan yang rugi kalo dia nggak sadar kebesaran hatimu dek. Kamu jangan sampe kecil hati dengan kondisimu.”

Aku jadi tersentuh mendengar kata-kata Mbak Diana. Cuma satu saja yang aku tidak suka. “Kenapa dari tadi mbak nyebut-nyebut Arkan terus sih?” protesku dengan tampang dilipat-lipat, merengut kelas kakap.

“Tuh, kan benar, kamu suka sama dia!”

Ya, Tuhan, ini sudah ketiga kalinya dia menuduhku suka sama Arkan.

“Aku belum pernah jatuh cinta!”

Alis Mbak Diana terpaut menampilkan wajah sangsi. Kalau ekspresi bisa ngomong, kurasa Mbak Diana sedang menuduhku berbohong. Dia menatap seolah aku sudah gila, bahwa aku terlalu depresi untuk mengakui perasaanku sendiri.

“Sumpah, Pandu nggak bohong,” kataku lelah. “Terserah mbak mau percaya ato nggak.”

“Terus?”

“Terus apa?”

“Kalo kamu belum pernah jatuh cinta,” katanya perlahan. “Kok kamu bisa sadar kamu suka sama cowok?”

Harus ya ditanya blak-blakan begitu? rutukku dalam hati. Aku masih jengah dengan obrolan semacam ini. Gimana aku bisa dengan santainya ngomong soal aibku sendiri? Harusnya ini rahasia yang kusimpan rapat-rapat sampai mati, tidak pernah dan tidak pantas dibicarakan. Andaikan aku sedang mematut diri di depan cermin, pasti lah aku mendapati mukaku sudah semerah tomat. Kok bisa aku seterbuka ini pada Mbak Diana?

Apa karena dia berbakat jadi psikolog?

Meskipun tidak bertanya lebih lanjut, tatapan matanya masih menyiratkan bahwa dia tetap menunggu jawaban.

“Pandu udah pernah mimpi basah,” akhirnya aku mengaku.

Aku berani taruhan kulitku tidak bisa lebih merah lagi dari ini, mungkin aku lebih merah dari kuah sarden buatan Ayah. Dan lebih kecut juga. Kepalaku terasa panas, bisa-bisa nanti ada uap yang keluar dari lubang telingaku.

Kelopak mata Mbak Diana mengerjap, lalu dia mulai terpingkal-pingkal. Rambutku habis diacak olehnya.

“Mbak tega banget, Pandu diketawain,” kataku lesu.

“Maap dek, abisnya mbak nggak sangka jawaban kamu begitu.”

“Huuuu, kejam!” keluhku.

Seakan masih belum puas membuatku malu, Mbak Diana kembali melontarkan pertanyaan tidak peka. “Kamu mimpi sama Arkan?”

Whaaaaaat? Kok bisa-bisanya aku tadi mengira mbakku ini calon psikolog? Dia orang paling tidak sensitif sejagat raya!

“Nggaaaak!” bantahku sengit.

 

***

 

Arkan kembali berkunjung ke kamarku. Kali ini pagi-pagi, saat aku sedang asik disuapi bubur sama Mbak Diana. Sebenarnya aku tidak punya pantangan makan, karena aku kan tidak sakit, cuma sedikit kekurangan darah akibat tindakan nekat, seperti menyayat pergelangan tangan. Ya, hal-hal bodoh semacam itu lah. Intinya aku bebas makan apa saja, tapi aku malah minta dibawakan bubur, entah apa yang dicampur di dalamnya, aku resmi tergila-gila makan bubur rumah sakit. Mungkin mereka menambahkan ganja atau apa, pikirku ngawur.

Seperti biasa Ayah kembali menghilang untuk mandi dan berganti pakaian di rumah setelah semalam suntuk ‘lembur’ menjagaku. Dia tidak tidur semalaman, aku tahu. Entah dia pikir aku bakal kembali menyayat tanganku pake jarum suntik jika dia tertidur, atau menurutnya sikap manisnya membuatku merasa diinginkan, entah lah.

Yang pasti aku tahu Ayah sedang berusaha menjadi orang tua yang lebih baik, meskipun kadang dia terlalu keras berusaha. Dia jadi sering mengacak rambutku, berulang kali mengatakan kalau dia sayang padaku, dan yang paling bikin aku jengah, menggodaku soal cewek. Semalam aku cuma bisa pasrah ketika Ayah membahas daftar cewek-cewek cantik di sekolah yang konon katanya rela antri buat pacaran sama aku.

Ini pasti ulah Arkan, darimana lagi coba Ayah bisa mendapatkan sederet nama cewek teman sesekolah, dari kelas tujuh sampai kelas sembilan. Aku benar-benar malu, rasanya pengen hilang ditelan bumi. Aku kan tidak suka cewek!

Jadi saat aku melihat muka mantan sahabatku yang bintik-bintik oleh jerawat, rasanya aku pengen bangkit dari ranjang dan menerkamnya, ingin kupotong-potong dan kumasukkan dia dalam koper, terus kubuang ke tempat penimbunan sampah.

“Hei, Pan!” sapanya, cengar-cengir gelisah.

Arkan selalu begini, pikirku. Mungkin mukanya gatel-gatel kalau tidak cengengesan barang semenit, tingkahnya kekanakan sekali.

Aku memberinya pelototan paling jutek yang bisa kubuat. Ayahku tidak ada, jadi tidak perlu pura-pura kalau aku tidak sedang benci padanya. Lagipula Mbak Diana, satu-satunya saksi mata di kamar ini, emang sudah tahu soal aku.

“Ori,” balasku datar.

Tadinya aku pengen ngomong, ‘eh, lo ngapain dateng lagi?’ tapi rasanya terlalu kejam dan tidak sesuai dengan personalitasku. Sebenci apapun aku padanya, aku masih terlalu lembek untuk bersikap sejahat itu.

“Sori ya Pan, kemaren Om Indra nanya soal mereka-mereka itu,” Arkan langsung bergumam lesu, sepertinya membahas daftar cewek-cewek yang dimiliki ayahku semalam. Apa dia tahu aku pengen melabraknya soal ini? Biasanya dia tidak terlalu peka, bersikap seenak jidat. “Gua nggak bisa berkutik ditanya begitu,” tambahnya.

Dia memberiku tatapan sesal yang biasa dia pamerkan di depan guru, mungkin dikiranya aku amnesia, begitu mudah dikibuli. Dia lupa aku lah yang selama ini jadi sutradara atas semua akting bobroknya di sekolah.

“Emang lo ditanya apa sampe keluar semua list primadona sekolah?”

Suaraku terdengar ketus.

Mbak Diana yang melihat gelagat tidak enak segera memotong percakapan kami, berpura-pura sibuk dan meminta Arkan menggantikan dirinya menyuapi aku sarapan, tidak mengindahkan semua protesku.

“Nanti mbak ke sini lagi,” katanya sambil buru-buru menghilang di balik pintu, mungkin tak ingin terjebak dalam perang dunia kesepuluh.

Tentu saja dia bakal balik lagi, Mbak Diana kan digaji untuk itu!

“Em, jadi elu udah baikan?” Arkan menyodorkan sendok buburku, membuatku merasa risih, kenapa harus dia sih yang nyuapin aku?

Aku mengangguk setengah hati.

“Tangan elu… masih sakit ya?” tanyanya lirih.

“Kalo uda nggak sakit, gua bisa makan sendiri,” jawabku jutek.

Arkan menghela napas. “Makan yang banyak nih,” gumamnya. “Biar elu cepet sembuh, cepet keluar dari sini.”

“Gua nggak sakit,” aku membantah, kemudian terdiam. “Tapi kayaknya emang lo nganggep gua sakit.” Aku sengaja memberi penekanan pada kata terakhir.

Tubuhnya tersentak di sebelahku. Tangan Arkan yang sedang terangkat di depan wajahku berhenti, jari-jarinya gemetar. Dia menatapku tajam. Aku balas menatapnya, kulihat kilatan pada matanya, hitam pekat seperti malam.

Untuk pertama kali aku gagal membaca arti sorot matanya. Arkan cukup mudah ditebak, biasanya aku bisa membaca emosinya semudah membalik halaman buku, namun tidak kali ini. Aku mendadak sedikit gugup.

Sama gugupnya seperti saat aku cerita padanya soal diriku lima bulan lalu.

Ya, aku dulu coming out padanya, Orion Arkan al-Jauzi, cowok bintik-bintik yang kukira akan menerima diriku apa adanya, sama seperti aku bisa menerima dirinya dengan semua keegoisan dan kebengalannya.

Hari yang akan menentukan nasibku itu jatuh pada hari Selasa. Seperti biasa setelah ekskul basket selesai Arkan berkunjung ke rumahku, naek angkot karena Ayah tidak bisa menjemput kami. Sebetulnya aku bisa bareng sama Ayah dengan catatan langsung pulang, namun karena aku harus menunggu Arkan selesai ekskul dulu, waktunya bertabrakan dengan jadwal ayahku.

Lihat kan, kurang apa aku berkorban untuknya?

Aku menemaninya maen basket, padahal aku ada asma dan tidak bisa terlalu banyak gerak. Aku juga rela pulang naek angkot, tidak dijemput agar dia bisa maen ke rumahku. Lalu sampai di rumah, Arkan memaksa maen dota, padahal aku tidak bisa dan tidak suka, tapi demi memuaskan egonya untuk membantai seseorang, karena selama ini dia yang kena bantai orang lain, lagi-lagi aku merelakan diri dipecundangi oleh Treant Protector, yang konon menurut Arkan cuma hero support super cupu, entah dia serius atau tidak.

Aku tidak paham. Ya, aku emang secupu itu maen dota, dibantai Arkan berkali-kali sampai dirinya puas, sementara akunya lemas. Kalah mulu, siapa coba yang tidak merasa lelah hati dan pikiran? Setelah lima sesi berdarah-darah, akhirnya aku tidak bisa tidak mengumumkan kalau aku muak maen dota.

“Ah, elu… masa baru maen sebentar minta udahan, nggak sportif amat, mentang-mentang kalahan,” Arkan merepet panjang lebar.

“Coba maen civilization lima, dan kita lihat siapa nanti yang bakal merengek-rengek minta berhenti,” balasku jengkel.

Cowok itu langsung cengengesan.

“Galak amat sih elu, bro,” komentarnya sambil merapikan kabel LAN. Kami bermain pake komputer desktop dan laptopku, karena terlalu repot kalau harus mengambil laptop Arkan dulu di rumahnya. “Ada bokep baru nggak bro? Minta dong,” gumamnya sambil mengubek-ubek isi folder laptopku yang sedang dia pake. Aku menatapnya serba salah. Semenjak aku tahu seperti apa diriku lima bulan lalu, aku jadi sensitif soal hal-hal begini.

“Gua nggak simpen yang begitu,” jawabku jujur.

Arkan langsung memonyongkan bibir. “Elu kayak bukan cowok aja, masa sih kagak punya bokep? Emang nggak pernah coli apa?”

Langsung kujitak kepalanya. “Di kamar gua nggak boleh ngomong vulgar!”

“Kayak ada siapa aja,” katanya bersungut-sungut. “Adek elu kan nggak ada di sini.” Arkan melirik bingkai foto aku dan Juna yang kuletakkan di atas meja belajar. Foto itu diambil saat ulang tahunku kesepuluh, seminggu sebelum Juna menghilang bersama Bunda. Kami berdua berangkulan akrab, pamer senyum.

“Lah yang di depan gua ini apa dong,” gumamku. “Anak bebek?”

Arkan melirikku cengar-cengir. “Gua mah adek ketemu gede,” katanya sambil tertawa.

Aku mendesah. Gara-gara omongan Arkan soal bokep, aku jadi teringat dengan artikel yang merubah hidupku. Sudah lima bulan ini aku merasa gelisah. Bisa dibilang aku tertekan. Entah sudah berapa kali aku mau cerita pada sahabatku ini, namun aku terus menunda-nunda dengan berbagai alasan. Selama ini tidak ada rahasia di antara kami. Aku merasa tidak adil kalau aku tidak cerita padanya. Meskipun rasanya menakutkan, aku yakin Arkan bisa mengerti aku. Kurasa lebih dari apa pun, aku butuh seseorang menerima kondisiku.

“Kan!” panggilku.

“Hmmm?”

“Ada yang mau gua liatin nih sama lo.” Tanganku menarik sebuah majalah dari sudut meja belajar. National Geographic.

Arkan memindai majalah di tanganku. Wajahnya terlihat heran.

“Edisi Februari?” tebaknya.

“Kok tahu?” aku menyodorkan majalah itu.

“Di rumah Papa juga langganan,” jawabnya enteng. “Lagian kover pink lope-lope norak gini, nggak bakalan lupa lah.”

Aku terbahak.

Lalu aku membalik-balik halaman hingga ketemu artikel yang mau aku tunjukin padanya. “Yang ini, coba geh dibaca!” perintahku.

Arkan terdiam sambil melirikku sekilas. “Ini artikel soal cowok maho kan?” tanyanya datar, wajahnya mengernyit seolah mengingat sesuatu. Tangannya kini membalik-balik artikel yang cuma diliriknya sebentar.

“Lo uda baca?” tanyaku bingung.

“Waktu itu, sepintas lalu,” jawabnya tak acuh.

Aku jadi semakin bingung, kalau Arkan sudah baca, terus apa? Padahal niatku membiarkan Arkan baca dulu, menilai reaksinya, terus mengakui kondisiku kalau suasana mendukung. Ternyata semua rencanaku berantakan. Dan sialnya, aku tidak punya plan B. Sepertinya aku terpaksa harus berimprovisasi.

“Menurut lo gimana?” tanyaku akhirnya.

“Gimana apaan?”

“Itu… artikelnya?”

“Ya, nggak gimana-gimana juga sih,” jawabnya bingung, matanya memicing padaku penuh tanya. “Cuma gua sedikit heran…”

“Heran?”

“Kok cowok itu bisa nggak sadar kalo dia maho?”

Kurasakan aliran darah ke wajahku terhenti, membuatku memucat. Aku tidak suka pada pemilihan kata yang digunakan Arkan. Maho. Kata-kata itu terlalu agresif buatku, membuat hatiku sakit mendengarnya.

“Mungkin semua butuh proses?” tebakku lirih.

“Iya, lucu juga sih, masa dia baru sadar pas umurnya udah empat belas.” Arkan menggaruk-garuk kepala. “Apa dia sadar karena mulai puber ya?” cowok itu ikut menebak-nebak. “Tahu kan,” katanya sambil nyengir kuda, “pasti gara-gara mimpi basah tuh, tindih-tindihan pake pedang sampe lengket.” Arkan terbahak-bahak.

Aku ikut tertawa setengah hati. Kata-katanya kembali menyakiti hatiku. Arkan emang suka bercanda, pikirku berbaik sangka. Kurasa cowok normal manapun akan risih ketika harus ngobrol tentang hal seperti ini.

Kuperhatikan Arkan suka menjadikan segala sesuatu yang membuatnya resah jadi lelucon, teknik klasik untuk lepas dari kecanggungan, agar dia bisa menertawakan kesialan yang dialami, mengusir hal-hal jelek dalam hidup.

Lalu apakah aku termasuk salah satu hal jelek itu? pikirku sedih.

Kucoba peruntunganku, bisa dibilang aku sudah nekat, tidak peduli lagi apapun yang bakal terjadi. “Gua juga baru tahu kalo gua gay.”

Saat itu posisiku duduk menyandar pada kepala dipan, sementara Arkan tidur telungkup di sebelahku. Kepala kami berhadap-hadapan, tubuh kami saling sejajar. Arkan mengangkat kepalanya dari majalah, tatapan kami bertemu.

Dia kelihatan sangat terkejut.

“Elu… ngomong apa barusan?”

Aku tersenyum pahit. Kuulangi perkataanku dengan raut wajah datar.

Kening Arkan berkerut. Tubuhnya sedikit tersentak. Sejenak dia terus memandangiku tanpa bicara. Mukanya serius banget, tidak cocok dengan sifatnya yang selengekan. Aku tidak tahu berapa lama dia mematung. Detik demi detik berlalu, bagiku rasanya seperti seumur hidup. Aku terus diam menunggu. Seperti apa kira-kira dia bereaksi?

“Elu udah gila!” semburnya.

Arkan menyeringai, lalu terbahak-bahak sambil melempar majalah tadi ke tubuhku.

“Gila, gila… elu emang edan! Muka serius begitu dipake buat becanda, cacad!” Arkan terus menyumpah-nyumpah sambil tertawa. “Ah, gua aja nyaris kena tadi, bro! Elu tuh… dasar kunyuk! Belajar akting dimana lah kamu nak, nak!”

Melihat Arkan tertawa ngakak begini membuatku pasrah, entah aku harus ikut tertawa atau menangis. Buset ni bocah! Aku lagi coming out, dia malah ngakak. Kok tega bener, pikirku merana. Dikira gampang mengaku kalau aku gay? Anjrit!

Setelah puas tertawa histeris akhirnya Arkan berangsur-angsur terdiam, sepertinya bingung melihat tampangku yang masih serius. Keningnya kembali berkerut. “Udahan ah, becandanya, Pan. Kalo kebanyakan nggak lucu lagi tahu.”

“Tapi gua nggak lagi becanda,” balasku tersenyum tipis.

“Eh, elu beneran, bro?”

Kaget. Dia terbelalak. Mulutnya sampai membentuk huruf O besar-besar. Mungkin sesuatu pada nada bicaraku akhirnya membuat dia percaya. Bagus lah! Rasanya akutidak kuat kalau harus ditertawai lagi olehnya. Bisa-bisa aku nangis guling-guling.

“Beneran nih… elu bener-bener serius?” ulangnya.

Aku cuma bisa mengangguk lesu.

Arkan kembali terdiam, lebih lama dari pertama tadi, sepertinya sibuk mencerna pengakuan dariku. Lalu dia membuka mulutnya, tampak hendak mengatakan sesuatu, namun bibirnya kembali mengatup. Dia terlihat gelisah.

Aku tahu ada yang salah dari caranya menatapku. Tatapannya berbeda dari biasa, tidak ada lagi binar-binar ceria di sana, tidak ada lagi kehangatan. Pupil matanya memicing. Dingin. Matanya menatapku seperti es.

Benar, aku mulai panik. Ini coming out pertamaku. Arkan satu-satunya sahabat terdekatku. Kenapa dia malah diam saja? Bukankah ini saat dimana dia seharusnya memberiku semangat dan menanyakan perasaanku, meyakinkan bahwa aku tidak perlu bersedih karena semua akan baik-baik saja. Aku merasa seperti ada bunga es menjalar di sepanjang tulang punggungku. Sekarang aku bisa merasakan ada yang keliru.

Sangat keliru!

Karena aku tahu semua tidak akan pernah baik-baik saja.

Setelah beberapa saat, akhirnya Arkan kembali bersuara, tapi kata-katanya serasa menusuk jantungku. “Elu… suka sama gua?” tanyanya lemah, bisa kurasakan nada panik di sana. Mata kami kembali bertemu.

Arkan membuang muka.

Tapi aku sempat melihat kilau ketakutan di sana, pada bola matanya. Dia melihatku seolah aku alien yang suka makan cowok cakep. Jujur aku tidak pernah ada rasa dengan Arkan. Ya Tuhan, cowok bintik-bintik ini sudah seperti adikku sendiri, mana mungkin aku jatuh cinta pada Juna, sama tidak mungkinnya aku suka sama Arkan!

Dan teganya dia menatapku begitu, penuh praduga dan prasangka! Seolah setiap cowok gay bakal naksir sama dia. Mungkin sebagian besar emang bakal klepek-klepek di depannya, tapi tidak denganku!

“Gua dulu sayang sama lo, seperti gua sayang sama Juna,” jawabku datar.

Arkan terkesiap. “Dulu?” bisiknya lirih.

“Dulu!” aku menegaskan. Kali ini aku yang menatapnya dingin.

Saat kepala kami beradu, kembali kulihat serangan panik pada wajahnya yang bintik-bintik. Arkan seperti terkena serangan jantung. Wajahnya mengernyit. Bibirnya membuka lalu menutup bergantian. Dia seperti berjuang hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak ada kata-kata yang berhasil menyelinap dari mulutnya.

Begitulah coming out pertamaku gagal total.

Tidak hanya itu, aku juga kehilangan seorang sahabat. Sejak kejadian itu, Arkan tidak pernah lagi main ke rumahku. Dia bahkan menghindariku di sekolah, seolah aku pembawa virus dan takut tertular. Kami baru saja naik kelas sembilan. Seperti biasa kami kembali satu kelas. Meskipun nakal Arkan cukup pintar untuk masuk kelas unggulan. Dia resmi berpacaran dengan Nadia, membuatnya punya alasan semakin menjauh.

Aku tidak peduli lagi.

Penolakan Arkan atas kondisiku menorehkan luka mendalam di hati, kehampaan yang tidak mungkin bisa terisi kembali. Seperti apapun usahanya, sosok Arkan yang dulu sudah lama mati di hatiku, terkubur dalam-dalam di relung hatiku paling kelam.

Jadi saat kulihat wajah bintik-bintiknya sekarang di ranjang rumah sakit, dengan sendok di tangan menyuapi aku bubur, sama sekali tidak ada rasa hangatku untuknya. Aku tahu Arkan datang kemari untuk mengubur rasa bersalahnya, atas andilnya menyayat pergelangan tanganku.

Aku tidak menyalahkan siapa pun, kecuali diriku sendiri, atas apa yang telah kuperbuat. Tapi kalau Arkan merasa bersalah atas hal ini, aku juga tidak akan memberinya kalimat basa-basi untuk menenangkan hati.

 

***

 

“Tadi Arkan datang lagi ya?” tanya ayahku.

Kenapa sih semua orang bertanya soal Arkan? Aku saja bosan mendengar namanya terus disebut-sebut. Kuberi anggukan malas pada Ayah.

“Wah, gigih juga dia. Artinya selama kamu di rumah sakit, Arkan udah tiga kali dateng buat jenguk kamu,” komentar Ayah.

Aku tidak paham sama pujian di awal kalimatnya tadi. Gigih juga dia? Apa maksud ayahku berkata begitu? Seolah Arkan pengen nembak aku saja. Emangnya pedekate cowok itu sama Nadia dulu? Itu baru bisa disebut gigih!

Eh, tunggu dulu. “Tiga kali?” aku balas bertanya. “Kayaknya baru dua deh.”

“Sekali waktu pertama dulu… pas malam itu,” jawab Ayah sedikit enggan. “Ya, kamu masih belum sadar lah, masih terkapar begitu kok di ruang operasi, bikin ayahmu ini jantungan saja!” dia mengeluh.

Kalimat ini sukses mengunci mulutku. Aku seperti kena skak.

“Emang Arkan tahu darimana, Yah? Kok bisa dia menjenguk malam itu?”

“Waktu sampe di rumah sakit kamu harus langsung operasi, darahmu nyaris kering, begitu dokter bilang,” jawab ayahku. “Ayah ketar-ketir langsung posting di grup BBM, minta tolong sama siapa saja yang bisa, supaya langsung dateng ke sini buat donorin darah buat kamu. Arkan dan Pak Soetarjo yang pertama sampe.”

Pak Soetarjo papanya Arkan. Ayah pasti menghubungi komunitas rhesus negatif.

“Oh.” Aku manggut-manggut.

“Tahu nggak, Pan?” kata ayahku menerawang.

“Kenapa, Yah?”

“Malem itu Ayah nggak terlalu merhatiin, pikiran Ayah fokus sama kamu, sementara buat masalah donor mendonor, Ayah serahin semua ke papanya Arkan buat jadi koordinator untuk kerja sama dengan pihak rumah sakit,” cerita ayahku panjang lebar.

Aku menyimak dengan sabar.

“Nah, pas pertama dateng si Arkan langsung ngotot mau ikut donor darah buat kamu, dia sampe nangis-nangis segala, maksa banget.”

Aku terbelalak, bisa kubayangkan cowok manja itu memaksa papanya supaya dia bisa ikut donor darah, padahal Arkan belum tujuh belas, masih belum dianjurkan dokter. Aku tak tahu harus tertawa atau gimana.

“Jadi akhirnya dia ikut donor?”

“Ya, nggak, toh yang dateng udah lebih dari cukup.”

“Terus?”

“Sahabat kamu itu nggak mau diajak pulang sama papanya. Dia maksa mau nemenin Ayah di ruang tunggu operasi, Ayah bisa denger kalo dia nangisin kamu semaleman, nggak berenti-berenti nyedot ingus.”

Aku tidak bisa lagi menahan tawa, sungguh geli ngebayangin cowok beringas seperti Arkan terisak sambil nyedot ingus semalam suntuk.

“Lah kamu malah enak-enak ketawa!” tuding ayahku. Kepalaku kena jitak.

“Maap, tapi buat Pandu ini lucu.”

Aku kembali dijitak. “Apanya yang lucu?” tegur ayahku. “Kami semua beneran waswas, dia nangis karena khawatir sama kamu.”

Tiba-tiba aku terdiam. Benar juga yang dibilang sama Ayah. Kok aku bisa tidak berperasaan, tertawa begini? “Maap, Pandu udah bikin semua jadi cemas,” kataku penuh sesal. Kalau dipikir lagi sikap Arkan malam itu benar-benar manis.

Ayah menghela napas. “Kamu juga harus terima kasih sama orang grup, mereka rela dateng malam-malam buat nolongin kita.”

Mendadak aku merasa sangat bersalah. Aku sama sekali tidak kepikiran dengan orang-orang itu, yang dengan senang hati pergi ke rumah sakit malam-malam hanya untuk mendonorkan darah mereka padaku. Aku jadi merasa tidak tahu diri.

“Umur tujuh belas nanti, Pandu bakal rutin donor darah tiga bulan sekali,” tekadku.

“Bagus itu!” Ayah menyemangati.

“Dan Pandu janji, Yah… kalo suatu saat ada orang yang butuh sama darah Pandu, meskipun malam-malam atau subuh-subuh sekalipun, Pandu bakal dateng buat bantu donorin darah Pandu, meskipun harus naek angkot!”

“Emang kalo malam atau subuh ada angkot?”

“Kan hiperbola sedikit, Yah,” gerutuku. Namun beberapa saat kemudian wajahku mengeras penuh tekad. “Tapi Pandu serius, Yah. Kebaikan mereka yang udah nyelametin nyawa Pandu, nggak bakal pernah Pandu lupain. Kalopun Pandu nggak bisa bales langsung ke mereka, Pandu bakal bales pada orang yang butuh, seperti kita kemaren.”

Mendengar kata-kataku yang sedikit lebay, tapi murni dari hati terdalam, Ayah mengacak rambutku dengan mata berkaca-kaca. “Ayah bangga sama kamu,” pujinya. “Ayah harap kamu nggak pernah lupa janjimu ini, karena Ayah pun udah bertekad seperti itu, sejak malam orang-orang yang tidak terlalu kita kenal mau mengulurkan tangan untuk bantu nyelametin nyawa anak Ayah!” suara ayahku bergetar.

Tanpa sadar setetes air mata jatuh di pipiku.

Aku jadi menyadari betapa berharganya hidup, dan masih banyak orang baik di luar sana, orang yang rela berbagi demi kebaikan orang lain.

 

***

 

“Kata Papa, Om Indra bakal ngajak elu balik kampung?”

Hari ketujuh aku menginap di rumah sakit. Kondisiku sudah benar-benar pulih. Dokter akan mencabut selang infusku hari ini. Dan luka sayat tipis namun dalam di lengan kiriku sudah tidak lagi terasa sakit. Kata dokter aku harus bersukur karena tidak ada saraf yang rusak, artinya jari tanganku bakal berfungsi normal seperti sedia kala.

Suasana hatiku sedang bagus karena akhirnya kedua lenganku akan kembali bisa kugunakan bebas. Tapi rencana Ayah untuk balik kampung sedikit membuatku gelisah. Aku sama sekali tidak mencemaskan kondisi kampung ayahku, karena meskipun kami menyebutnya kampung, tempat itu telah menjadi sebuah kotamadya puluhan tahun lalu.

Bumi Telaga Dalom, yang terletak antara Kabupaten Lampung Barat dan Tanggamus, berada di lingkar wilayah Pegunungan Bukit Barisan, sebuah kota resort yang kental akan budaya, sekitar seribu meter di atas permukaan laut, dengan cuaca yang dingin dan lembap, dan tidak kalah besar dengan Bandar Lampung, ibukota provinsi yang aku tinggali saat ini.

Menurut ayahku, kota itu lebih asik dibanding Bandar Lampung yang terletak di tepi pantai dan bercuaca panas dan kering. Satu-satunya ganjalan adalah aku harus meninggalkan temanku di kota ini. Bukan berarti dalam lima belas tahun hidupku aku punya segudang teman untuk ditangisi ketika aku pindah, namun membayangkan untuk berpisah dari Mbak Diana sukses membuat sudut mataku berair.

Ayah cukup tegas dengan keputusan untuk pindah. Aku kehilangan hak vetoku. Alasannya dapat kuterima, Bandar Lampung telah menggoreskan banyak luka di hati kami. Pertama masalah Bunda yang pergi membawa Juna, meskipun setelahnya kami pindah rumah, dan aku bertetangga dengan Mbak Diana lima tahun lalu, baik aku dan Ayah masih belum bisa melupakan itu, terbukti dengan sikap Ayah yang nyaris mengabaikanku hingga aku berakhir di rumah sakit seperti saat ini, yang menjadi masalah kedua kami.

Masalah ketiga adalah pekerjaan ayahku. Klien terbesarnya dulu dan sekarang tetap Telaga Dalom Resort, raksasa ekonomi yang bercokol kuat di Bumi Telaga Dalom. Setiap tahun resort ini semakin berkembang, dan tahun ini Ayah mulai mengerjakan proyek besar yang mengharuskannya menghabiskan banyak waktu di lokasi site, yaitu di kampungnya. Ayah enggan melepas proyek ini, namun juga enggan jika harus meninggalkan aku ke luar kota dalam jangka waktu yang cukup lama. Sejak aku mengiris pergelangan tangan, Ayah jadi sangat posesif.

Artinya keputusan kami untuk pidah sudah tidak bisa diganggu gugat, bahkan kalau langit runtuh sekalipun, Ayah pasti tidak bakal mengubah pendiriannya. Aku harus menguatkan diri untuk tidak lagi bertetangga dengan Mbak Diana.

Dan harus bersabar dengan pertanyaan berulang-ulang dari cowok bintik-bintik yang entah kenapa datang berkunjung setiap hari.

“Emang elu beneran kepengen pindah, Pan?” tanya Arkan kesekian kalinya.

Sejak Ayah cerita soal hari pertama Arkan datang menjenguk, dimana cowok itu termehek-mehek sambil menyedot ingus, aku berhasil sedikit memberinya maaf. Hubungan kami tidak serta merta kembali menjadi best friend, tapi setidaknya aku tidak lagi bersikap sinis padanya sepanjang waktu.

Aku bahkan kembali memanggilnya ‘Arkan’, hal yang membuat dia melonjak gembira tanpa alasan jelas.

“Kenapa gua nggak pengen pindah?” aku membalik pertanyaannya.

Arkan menatapku dengan sorot terluka, seolah dia anjing setia yang ditendang sama anak majikan gara-gara menjilat sembarangan. “Elu… nggak bakal pernah bisa maapin gua ya?” bisiknya parau.

“Ge-er amat, emang lo pikir gua pindah gara-gara lo doang?” tukasku.

Arkan kembali menatapku seperti di hari aku mengaku padanya, tatapannya lama terpaku padaku, sorotnya panik, bercampur dengan emosi yang tidak bisa kutebak. Sama seperti hari itu, Arkan mencoba untuk mengutarakan sesuatu, secepat bibirnya terbuka secepat itu pula kembali menutup, sepertinya dia menelan kembali apa yang ada dalam pikirannya. Aku jadi gemas sendiri melihat Arkan yang galau seperti ini.

Biasanya cowok itu kan penuh energi, cengar sana cengir sini.

“Emangnya lo bakal kangen kalo gua pindah?” tanyaku kepedean.

“Pasti lah!” gumamnya.

Aku mendengus tidak percaya. Selama semester kemarin saja dia sama sekali tidak terlihat kangen saat menjauhiku seperti penyakit menular.

Arkan mengangkat bahu pasrah, kemudian pergi ke depan lemari es, mengambil sebutir Pir Korea ukuran raksasa yang tadi jadi buah tangannya. Aku sempat kaget juga, ternyata Arkan tidak amnesia selama nyaris satu semester menghindariku. Cowok itu masih ingat semua yang aku suka, juga yang tidak aku suka.

Misalkan Pir Korea di tangannya, aku tergila-gila sama buah satu itu!

“Gua potongin ya buat elu,” katanya lembut, memamerkan senyum sayu yang bikin cewek satu sekolah klepek-klepek.

“Kan, lo inget nggak pertama kali kita ketemu pas MOS?” tanyaku ketika dia mencuci pir dan memotongnya dengan pisau.

Dia nyengir padaku. “Gara-gara Pir Korea ini kan.”

Aku mengangguk.

 

***

 

Aku terguncang-guncang di kursi belakang.

Bukan karena jalannya jelek, tapi karena Ayah harus ngerem mendadak. Di depan sana truk besar terguling, membuat jalanan kontan dipenuhi jeritan klakson. Suara mobil berdecit-decit dan terjadi tabrakan beruntun sekitar sepuluh mobil di depan kami. Untung lah kami tidak ambil bagian dalam drama itu. Nanti perjalanan dua jam berubah jadi setengah hari dengan semua tetek bengek yang harus dijalani.

“Kamu nggak pusing maen laptop gitu?”

Om Nino melongok ke belakang dari kursi penumpang di kiri Ayah. Sohib sekaligus tangan kanan ayahku, Om Nino yang masih melajang ternyata ikut pindah bersama kami ke Bumi Telaga Dalom. Perawakannya tinggi besar seperti tukang pukul. Wajahnya seperti preman, namun hatinya lembut. Kurasa dia sedikit perasa.

“Nggak kok, Om,” jawabku singkat.

Tanganku sedang menimang sebuah bungkusan, kado ulang tahun yang diberikan Arkan di menit-menit terakhir sebelum aku pergi. Cowok itu datang diantar papanya tadi pagi, terlihat sedih melihat kami sudah siap berangkat.

“Kado ulang tahun elu,” katanya menyodorkan bungkusan yang kini kupegang.

“Kok baru dikasih sekarang?”

Dia tersenyum kecil sebagai balasan.

Setelahnya kami hanya diam membisu, berdiri berdampingan melihat Ayah sibuk melakukan persiapan akhir sebelum berangkat. Aku sudah berpamitan pada Mbak Diana malam sebelumnya karena dia kan harus masuk kerja. Sebetulnya dia ingin ngambil cuti supaya bisa ikut mengantarku pergi, tapi kutolak dengan tegas. Aku tak ingin banjir air mata di hari kepergianku. Lagipula aku kan pindah tidak jauh-jauh amat.

Kami masih saling mendiamkan hingga Ayah menyuruhku masuk mobil. Tangan Arkan tiba-tiba mencengkeram lenganku, seolah tidak rela aku pergi. Aku meliriknya. Tidak kusangka dia akan maju dan memberiku pelukan erat. Kurasakan wajahnya basah di sisi leherku.

“Cepetan buka kado gua di mobil, tapi elu butuh laptop buat melihat isinya,” dia berpesan saat melepasku.

Alisku terangkat penuh tanya.

“Elu bakal ngerti semuanya. Gua ingetin dari sekarang, pake earphone, kalo elu nggak mau yang laen ikut denger.”

Aku bisa mengira-ngira apa isinya, jadi aku memberinya anggukan sekilas dan senyum tipis sebelum menghilang ke dalam mobil.

Setelah lama termenung akhirnya aku membuka kado dari Arkan. Benar dugaanku, sebuah flash disk bekas. Kurasa hadiahnya bukan flash disk-nya sendiri, namun folder-folder di dalamnya. Penasaran juga aku dengan isi folder itu. Mengingat sifat Arkan yang ajaib, aku nyaris bertaruh isi folder ini bokep gay, atau deretan foto cowok telanjang, ya… hal-hal norak semacam itu. Benarkah? Jantungku berdegup kencang.

Kalau benar, aku janji bakal menghajarnya saat kami bertemu lagi.

Ternyata dugaanku salah. Puji Tuhan!

Aku menatap takjub pada deretan folder yang dinomori. Sebuah notepad bernama ‘Baca Dulu’ nangkring di atas folder yang lain.

Kupencet notepad tadi.

‘Untuk sahabat terbaikku, Pandu Wiratama Atmaja, dari sahabat, atau mungkin bagimu, mantan sahabatmu, Orion Arkan al-Jauza.’

Begitu lah isi kalimat pertamanya. Respon awalku adalah, ehm, tumben si Arkan sopan dikit, pake ‘aku-kamu’. Lalu diikuti dengan sebaris kalimat kedua.

‘Ini semua memori tentang kita, gua tahu elu masih marah bro, dan mungkin elu nggak mau mengingat semua ini, tapi gua juga tahu, memori ini nggak bakal bisa ilang dari kepala gua, sampai kapan pun, elu sahabat terbaik gua, gua minta maap karena gua nggak bisa jadi teman yang baik buat elu.’

Wah, yang ini sudah kembali pake ‘gua-elu’. Benar-benar tipikal Arkan, plin-plan dan tidak punya pendirian.

Terakhir sebuah catatan, isinya kurang lebih memintaku membuka foldernya satu per satu, dimulai dari angka satu.

 

***

 

Folder pertama diberi judul ‘awal mula’. Untung lah dia tidak sok English dan menamakan folder itu genesis atau apa. Isinya foto-foto waktu kami MOS, awal masuk kelas tujuh. Kami masih mengenakan seragam putih-merah. Meskipun aku sudah bertekad untuk bersikap biasa saja, hatiku tersentuh melihat semua memori di depan mata.

Arkan pasti mengumpulkan semua foto-foto ini dari teman-teman kami yang lain. Ternyata cowok itu bisa juga tidak malas kalau emang sedang niat. File paling bawah sebuah format video. Apakah ini yang tadi dimaksud olehnya agar aku memakai earphone? Aku kembali curiga, jangan-jangan isinya beneran bokep gay?

Elu kayak bukan cowok aja, masa sih kagak punya bokep? Emang nggak pernah coli apa?

Kata-katanya dulu kembali terngiang di kepala.

Kurasakan wajahku matang seperti cabe. Kalau Arkan ada di sebelahku, pasti sudah kuhajar dengan bogem mentah.

Bisa-bisanya dia mencuci otakku dengan kata-katanya yang cabul!

Akhirnya kuputar video itu setelah memastikan earphone-ku sudah terpasang. Aku tak mau terjadi hal tak diinginkan jika ternyata isinya emang bokep gay, dan suara tidak pantas menggema kemana-mana di dalam mobil.

Bisa mati aku dirajam Ayah!

Alih-alih model porno ganteng, wajah bintik-bintik Arkan tampil di layar. Dia duduk di depan meja komputernya, merekam diri sendiri dengan web cam. Whaaat? Apa si Arkan mau jadi model amatir yang suka chatting jorok dan striptis di internet? Kubuang jauh-jauh pikiran itu dari kepala. Terlalu menjijikan! Aku tidak bernapsu membayangkan Arkan melepas pakaian satu per satu, lalu joget-joget di layar, itu membuatku mual.

Rasanya seperti membayangkan ayahku mandi. Sumpah, lebih baik kita akhiri saja soal ini! Gimanapun bagiku Arkan tetap bagian dari keluarga, sama seperti Ayah, Juna, Mbak Diana. Jauh di lubuk hati, masih kuanggap begitu.

Arkan di layar laptop berdehem.

“Hei, Pan… gua seneng elu mau liat video buatan gua. Ya, gua harap elu nggak bosen sama monolog yang bakal elu denger.”

Jari Arkan menyentuh hidungnya sendiri dengan lagak sengak.

“Suatu hari kelabu…” katanya memulai cerita, “di hari pertama perploncoan yang menyaru sebagai masa orientasi siswa, seorang cowok tampan bernama Arkan sang pemburu bertemu muka dengan cowok ajaib yang berhasil mencuri sebongkah hatinya.”

Aku mengernyit. Sebongkah hati? Gombal amat!

“Cowok ajaib itu, karena sebuah alasan bodoh, jatuh dari khayangan, tempat mahluk serba sempurna seperti dirinya memandang rendah dunia. Ya, dia diusir dari nirwana karena sebutir Pir Korea. Di saat para bangsawan nirwana meminta upeti berupa sebutir apel, si cowok ajaib dengan nekatnya membawa Pir Korea ukuran jumbo yang memenuhi kotak makan biru berbentuk wajah si tikus ganteng.”

Anjrit! Kok dia masih ingat sama kotak makanku di hari pertama MOS? Kotak makan Mickey Mouse yang bikin aku pengen bunuh diri saking malunya! Salah ayahku yang dengan teganya lupa membelikan aku kotak makan untuk keperluan MOS, sehingga aku terpaksa membawa peninggalan jaman kelas tiga SD dulu.

“Awalnya kupikir bodoh sekali cowok ajaib ini, kenapa dia rela dihukum di neraka bersama pemburu tampan sepertiku cuma untuk sebuah pir? Ya, anjing-anjing nirwana itu semakin menggila dalam menyelewengkan kekuasaan, apalagi di kelompok neraka, kumpulan jiwa-jiwa biadab yang sama sekali tidak berarti di mata mereka. Aku tertawa melihat cowok ajaib itu menyeret tubuhnya menggelepar seperti cacing di tanah, semua ini demi sebuah pir bodoh? Setimpal kah? Ingin sekali kutanyakan ini pada wajah ajaibnya, yang kini belepotan tanah, membuat kulitnya yang seperti porselen ternoda oleh bumi.”

Em, ini beneran Arkan kan ya? Bukan orang tidak dikenal yang pura-pura jadi dirinya? Masa cowok selengekan itu bisa kepikiran bikin video penuh omong kosong semacam ini? Apa dia baru diculik alien dan otaknya diganti dengan otak sapi? Entah lah.

“Hei, cowok ajaib, tanyaku. Kenapa kamu kurang kerjaan guling-guling di tanah hanya demi sebuah kepuasan sesaat? Dia balas menatapku seolah aku pemburu tampan paling sarap di muka bumi. Maksud kamu apa, wahai pemburu tampan? Aku melirik anjing-anjing nirwana di sekeliling kami, kulihat mereka sedang bersantai memijat-mijat kaki sambil makan berbagai jajanan langit. Ya Allah, siomay itu bikin aku ngiler saja! Kualihkan mataku pada potongan apel di pangkuanku, inilah makan siang kami, mahluk-mahluk hina korban perploncoan. Lalu kutatap potongan besar pir di tangan cowok ajaib. Dia makan dengan lahapnya, seolah tidak iri seperti aku ketika melihat jajanan langit berseliweran tanpa bisa kami sentuh.”

Aku mulai tertawa, ini cara yang aneh untuk menceritakan kisah pertemuan pertama kami yang melibatkan hukuman dari kakak kelas dan Pir Korea. Aku ingat menu makan siang kami adalah sebutir apel, dan aku berulah dengan membawa pir ukuran raksasa. Aku dan Arkan berakhir pada kelompok pembangkang. Ya, kalo Arkan sih emang selalu berulah, berani-beraninya dia menggoda kakak kelas cewek, tidak heran dia dikerjai habis-habisan waktu itu.

“Melihat sorot mengiba si pemburu tampan, membuat cowok ajaib luluh juga. Kamu mau? tanyanya menyodorkan potongan paling kecil. Ish, tidak kuduga ternyata dia pelit juga, niat ngasih kagak sih, umpat pemburu tampan dalam hatinya yang sudah dicuil oleh cowok ajaib. Cuilan itu awalnya nyaris tidak terlihat, tapi semakin hari semakin menganga, membuat si pemburu tampan ketakutan, apakah dia akan mati saat seluruh hatinya dicuil tak bersisa?”

Oke, aku mulai tidak nyaman dengan bagian ‘cuil-cuilan hati’. Entah apa maksud kata-kata Arkan itu? Apa dia sedang menyindirku? Karena dia tahu aku gay? Bukankah sudah kutegaskan aku tidak pernah suka padanya?

Lupakah dia? Atau, dengan semua sifat kepedean dan kepala besarnya itu, dia mengira aku bohong padanya? Bahwa aku diam-diam suka padanya, tapi mengelak karena keadaan? Aku tidak menyukai pemikiran ini.

Kupaksakan diri terus melihat videonya yang tidak lucu.

“Oke, sekian dulu intronya, gua udah kehabisan bahan buat cuap-cuap, gua harap elu nggak bosen dan sudi mampir ke lapak kedua, oke bro!”

Gubrak! Videonya selesai.

 

***

 

Folder kedua dan seterusnya hampir sama seperti folder pertama, berisi kenangan kami di sekolah, dari kelas tujuh sampai kelas sembilan. Kumpulan foto itu membuat hatiku hangat, bahwa sejauh ini hidupku tidak sia-sia. Ternyata aku punya banyak teman, semula tidak kusadari itu, dan semua yang kami alami nyata.

Dulu Bunda pernah bilang ketika dirinya sedang termenung memandangi album keluarga di atas pangkuan, salah satu kelebihan manusia adalah otak kami bisa digunakan sebagai flash disk, tempat menyimpan memori. Kalau kata Bunda, hanya sedikit mahluk ciptaan Tuhan yang diberkahi kemampuan untuk mengingat.

Kupikir dia cuma mengada-ada, membohongi bocah kecil seperti Juna yang tidak mau ikut poto keluarga karena sedang ngambek tidak dibelikan es krim. Tapi sekarang aku sadar, kenangan itulah yang membuat kita jadi manusia, membedakan kita dengan binatang yang hanya didominasi oleh hasrat.

Memori membuat kita ingat hal-hal terbaik yang pernah kita alami, juga hal-hal buruk dan hikmah yang bisa kita petik darinya.

Aku masih tidak yakin alasan Arkan melempar semua kenangan ini ke mukaku tepat di hari aku pindah. Tapi aku mulai berbaik sangka padanya, seperti ajaran Bunda dulu. Kupikir inilah cara Arkan menyemangatiku, memintaku melupakan hal-hal buruk, karena masih banyak kenangan baik yang pernah terjadi.

Perasaanku campur aduk dibuatnya.

Dengan setia aku memencet setiap file berformat video di tiap folder. Meskipun tampang Arkan jauh dari penampakan model porno favoritku, suaranya juga tidak seseksi Phillip Phillips, dan ceritanya soal Arkan sang pemburu dan cowok ajaib kacau balau, mataku terus lekat memandangi laptop sampai video selesai diputar.

Secara sadar atau tidak, aku curiga dia emang sengaja, ada sebuah latar yang selalu tampak, meski tidak mencolok, di dalam layar, di sudut sebelah kanan. Sebuah kalender sobek ukuran besar merah menyala.

Jika melihat dari clue di kalender, sepertinya Arkan membuat video-videonya dengan urutan terbalik. Video di folder pertama dibuat pada hari ketujuh aku di rumah sakit, hari yang sama saat Arkan membawakanku Pir Korea, yang juga disinggung dalam videonya.

Rasanya terlalu pas untuk dibilang sebagai kebetulan. Apa dia emang sudah merencanakan ini? Aku nyaris tidak percaya. Bukan kah kita sedang membicarakan Orion Arkan al-Jauza? Cowok paling simpel yang pernah hidup di muka bumi. Sejak kapan dia jago berstrategi? Apa dia terpaksa belajar bersiasat karena aku, orang yang biasa melindungi dari balik layar, akan segera pergi dari hidupnya yang sederhana?

Tapi nyatanya inilah yang terjadi. Arkan bersiasat di belakangku. Aku kembali memutar apa yang terjadi selama aku di rumah sakit, semua kunjungannya, oleh-oleh yang dia bawakan, obrolan kami, semua seperti diputar kembali oleh videonya di setiap folder. Satu tema untuk setiap folder. Sekali ini Arkan berhasil membuatku angkat topi.

Ada satu hal yang tidak lepas dari pengamatanku. Arkan selalu terlihat lebih murung pada video selanjutnya. Bisa kurasakan efek tindakanku pada dirinya. Arkan terlihat kacau di video yang dibuatnya di awal-awal aku masuk rumah sakit. Terlihat jelas dia mengkhawatirkan aku. Video itu ditaruhnya di folder-folder akhir.

Aku sempat terenyuh melihat penampilan Arkan pada video di folder keempat. Kalau aku benar, artinya video ini dibuat di hari keempatku rawat inap, hari ulang tahunku. Hari dimana dia datang berkunjung membawakanku red velvet. Arkan terlihat rapi dan gagah saat mengintip malu-malu dari punggung ayahku. Yang tidak aku tahu, dia sangat kacau sebelumnya.

Terlihat jelas di video. Rambut berantakan, kemeja seperti tidak disetrika, bahkan matanya sembap. Saat itu mungkin Arkan baru mendengar kabar kalau aku sudah sadar, lalu terburu-buru membuatkan video untuk kadoku, mungkin loh ya, karena nyatanya dia tidak memberiku kado hari itu, hanya sebuah cake.

Di akhir monolog cerita pemburu dan cowok ajaib, Arkan mendesah.

“Hei, Pan… ini video pertama gua soal pemburu dan cowok ajaib, haha.. konyol, gua tahu. Seharusnya gua nyerahin ini buat kado elu, betewe selamet ultah bro, gua harap elu suka kado gua yang aneh ini, meskipun gua pikir-pikir, mungkin gua nggak berani ngasih ini ke elu. Entah lah, kita lihat saja nanti.”

Arkan terdiam selama beberapa detik. Sudut matanya kini basah, jatuh ke pipi bintik-bintik tanpa suara.

“Gua cuma pengen elu tahu, gua sayang elu bro, maapin salah gua selama ini, gua tahu gua udah jahat sama elu. Pan, elu tuh lebih kuat dari ini, gua tahu. Gua mohon sangat bro, jangan lagi ngelakuin apa yang elu lakuin kemaren. Gua nggak bakal ngegombal gua akan selalu ada buat elu, karena nyatanya nggak begitu, tapi elu masih punya Juna, elu harus jadi kuat buat dia.” Suaranya bergetar oleh isakan.

Aku termangu melihat sesal di mata Orion Arkan al-Jauza, ingusnya yang keluar dari lubang hidung, dan pipinya yang basah.

 

***

 

Mobil kembali terguncang. Kualihkan mataku dari laptop ke jalanan di depan.

“Ada lobang tadi,” Ayah memberitahu. “Tumben, biasanya jalan ke sini mulus, namanya juga tujuan wisata.”

“Palingan resort terlambat ngasih angpau, bentar lagi kan Natal,” celetuk Om Nino.

“Hush, jangan komen nggak-nggak!” tukas Ayah.

Om Nino cengengesan di kursi depan.

Aku geli sendiri melihat tingkah dua sohib setengah baya ini. Kata ayahku, mereka berteman akrab sejak SMP, sama seperti aku dan Arkan. Ya, kuharap pertemanan kami bisa seperti Ayah dan Om Nino, langgeng sampai punya anak, meskipun Om Nino masih selibat. Mau tak mau aku curiga kalau omku itu sama seperti aku, dari caranya menatap Ayah, kurasa Om Nino suka padanya, entah lah, aku tak enak hati memikirkan itu.

Rasanya aneh, dan sedih juga. Apakah aku akan ditatap seperti itu oleh anak Arkan nanti? Bukannya aku suka sama Arkan loh ya, tapi bisa saja anaknya nanti berburuk sangka padaku, sama seperti yang kini kulakukan pada Om Nino. Ah, pusing!

“Kamu dari tadi serius amat ngeliatin kado dari Arkan,” komentar Ayah membuatku kaget. “Emang apaan sih isinya?”

“Foto-foto, satu album,” jawabku menerawang. “Ada video juga, sama cerpen.”

Ayah terbahak. “Ayah nggak sangka dia segigih itu.”

“Maksud Ayah?”

“Ayah nggak tahu dia salah apa sama kamu,” kata Ayah sambil angkat bahu. “Tapi dia serius minta maap, kamu jangan lama-lama ngambeknya, kasihan.”

Oh, jadi itu maksud perkataan ayahku dulu di rumah sakit. Aku jelas lega. Kukira Ayah tahu apa yang terjadi antara aku dan Arkan, kalau begitu kan sama saja artinya dia tahu soal kondisiku. Tidak, Ayah masih belum boleh tahu!

Aku tidak mau diusir dari rumah, aku belum sanggup, pikirku muram.

Oke, Pandu, selesaikan ini satu per satu! Kita mulai dari Arkan, ayok kita lihat apa sih mau cowok ini sebenarnya.

Kubuka folder kelima. Isinya sederetan foto dan sebuah cerpen. Aku tidak tahu Arkan bisa menulis cerita. Segera kubaca. Kalimat demi kalimat menari di mataku.

 

***

 

Namanya Pandu Wiratama Atmaja.

Pertama kali bertemu, kami dikerjai sama kakak kelas, diberi berbagai macam tugas sampai aku muak dan meninju salah satu di antara mereka. Bukan salahku! Karena kakak kelas itu sudah keterlaluan. Dia menyuruh Pandu lompat katak dua puluh kali, padahal cowok itu sudah pucat pasi. Mereka tidak tahu Pandu punya asma.

Hari itu hari ketiga MOS. Dua hari pertama, Pandu selalu membantuku. Ya, aku emang suka cari masalah, bahkan saat berdiam diri sekalipun. Lucu, tidak pernah aku begitu cepat akrab dengan orang lain seperti dengannya, mungkin karena kami punya banyak kesamaan. Sama-sama ditinggal pergi ibunda kami, misalnya. Atau golongan darah O rhesus negatif.

Dan kami sama-sama suka melihat langit malam.

Entah apa pesona seorang Pandu sampai aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

Aku berhasil masuk kelas unggulan. Kaget juga mengingat semua ulahku saat MOS dulu. Aku dan Pandu duduk semeja. Aku tidak pernah sesenang ini dalam hidupku. Pandu begitu pintar, dan anaknya juga asik. Rasanya kami emang jodoh, aku cerewet dan suka mendominasi, sedang Pandu tidak banyak bicara dan suka mengalah. Aku egois, Pandu bisa mengerti keegoisanku. Kami saling melengkapi, kurasa.

Atau dia cuma senang menjagaku, terserah. Toh Pandu lebih tua dua bulan.

Liburan kenaikan kelas delapan, sekolah mengadakan kegiatan study tour ke Bumi Telaga Dalom, sebuah resort di pedalaman Lampung. Aku sudah lama ingin pergi ke sana, jadi aku sangat senang dengan pilihan sekolahku. Aku yakin di sana tidak kalah dari Bali atau Jogja atau Bandung. Lagipula tempat itu kampung halaman Pandu. Kurasa aku mulai posesif pada sahabatku, ingin tahu semua hal tentang dirinya. Wajar kah itu? Entah lah, kalau dia cewek mungkin sudah kutembak dari kelas tujuh dulu.

Tentu saja tidak kulakukan. Pandu kan cowok. Dan aku masih waras.

Momen yang tidak mungkin kulupakan adalah ketika kami tiduran di sebuah taman bunga di samping danau. Aku dan teropongku, bersuka ria menatap taburan bintang di langit. Tubuh Pandu rebah di sebelahku.

“Danau ini angker loh, Kan!” dia menakut-nakuti.

Aku tidak peduli. Kenapa harus takut kalau dia di sebelahku?

“Gua nggak pernah bosen ngeliat tiga bintang berjejer itu,” kataku mengabaikan ucapannya. Tanganku menunjuk sebuah rasi bintang.

“Bintang Bajak?”

“Emangnya elu orang Jawa?” kataku sewot tanpa alasan jelas. “Gua lebih suka menyebutnya sang pemburu,” tambahku.

Satu alisnya terangkat. “Kalo gua lebih suka nyebut itu narsis!”

“Ah, elu, sialan!” sungutku.

Pandu terbahak. “Lagian lo aneh, suka melototin rasi bintang yang namanya sama kayak lo, apalagi sebutannya, kalo bukan narsis.”

“Tapi sang pemburu emang kilau paling tampan di langit!” tukasku.

“Emm, sayangnya lo bukan mahluk paling cakep di muka bumi.”

“Anjrit!”

Tawanya kembali menyeruak, memenuhi hatiku.

“Tapi lo lumayan cakep kok, bukan paling d’best, di atas rata-rata lah, meski cuma sedikit,” tambahnya, entah menghibur atau menghina. “Kalo lo tetep pasang muka badak, menggombal tiap hari, mungkin Nadia bakal klepek-klepek juga.”

Aku terdiam memikirkan Nadia, cewek yang sejak sebulan lalu jadi gebetanku. Kok bisa ya Nadia mencuri masuk ke dalam hatiku? Padahal selama ini kami tidak akrab, bisa dibilang musuhan. Cewek itu ketua kelas paling galak dan paling sistematis di kelas tujuh. Sebagai ketua kelas, tindak tanduknya seperti robot, nyuruh ini nyuruh itu, lebih cerewet dibanding guru. Dan korbannya tidak jauh-jauh dari aku, si kambing hitam kelas unggulan. Cowok yang dicap badung, tukang berantem, pengaruh jelek buat lingkungan.

Temanku sih banyak, tapi rata-rata mereka segan sama aku, seolah aku sewaktu-waktu bisa meledak dan bogemku terbang kemana-mana. Cuma Pandu yang bersikap biasa saja di dekatku, dia menyapa bukan karena basa-basi, berani meledek tanpa takut kupelototi. Lebih dari itu, Pandu lah yang selalu membelaku di depan guru, Pak Erwansah, misalnya.

Dan Nadia. Cuma dia cewek yang berani marah-marah sama aku, bahkan aku pernah kena jewer sama dia. Cewek sarap! Tapi seperti kata pepatah, kalo itu emang pepatah, benci jadi cinta, kurasa aku kualat.

“Jangan ngomongin Nadia sekarang,” kataku menghindar.

“Ah, lo mah cemen, berantem aja jago, nembak cewek nggak berani!”

Lihat kan, Pandu menggodaku tanpa perasaan.

Kutinju bahunya sampai cowok itu mengaduh. Sukurin, rasain tuh bogemku! “Mungkin gua bakal nembak sang pemburu di atas sana aja,” keluhku.

“Emm, lo mau nembak diri sendiri?” gumam Pandu sinis. “Ternyata lo nggak cuma sekedar narsis, tapi sarap! Emang nggak malu nembak sesama cowok?”

Whaaaaat? Aku tersedak.

“Kalo nembak diri sendiri emang dianggep nembak sesama cowok?” bantahku.

“Ya, nggak juga, kalo lo-nya cewek, ya nembak sesama cewek,” balas Pandu asal.

“Elu sarap kalo lagi liat langit.”

Pandu menghela napas. “Gua sarap kalo ngeliat gemini.”

Kami terdiam sejenak. Pandu mengambil teropong dari tanganku, matanya menggeser dari tiga kilau sabuk Orion, pindah tidak jauh ke sebelahnya, ke arah dua bintang yang menjadi kepala si kembar Castor dan Pollux, mahluk paling berkilau di rasi Gemini.

“Kangen Juna?” tanyaku pelan.

“Selalu.”

Jawabannya membuatku cemburu. Ya, bodohnya aku, kok bisa aku cemburu pada saudara kembarnya? Elu emang sarap, Arkan! Baru sadar?

“Apa gua udah pernah bilang, kalo gua iri sama Juna?”

“Sering.” Pandu memutar bola mata.

“Juna beruntung banget punya abang model elu, perhatian,” gumamku.

Pandu mendengus. “Emang gua kurang perhatian sama lo? Kan udah gua bilang, tingkah lo mirip Juna, bikin gua sayang aja.”

Aku tertawa canggung. Rasanya ajaib banget kan, kami bisa ngomong soal sayang-sayangan begini, secara blak-blakan pula. Gimanapun aku dan Pandu kan sama-sama cowok. Untung lah kami cuma berduaan, tidak ada teman yang dengar. Nanti mereka bisa mikir macam-macam, padahal kan tidak begitu.

Pastinya, iya kan? Sesaat aku meragu, namun ketika sosok Nadia kembali hadir di kepala, semua pikiran aneh yang sempat terlintas langsung lenyap tersapu. Tentu saja tidak ada apa-apa antara aku dan Pandu. Aku anak tunggal yang selalu kepengen punya saudara, dan Pandu seorang abang yang rindu pada adiknya.

Lihat, hubungan kami sesimpel itu bukan? Kami sama-sama cowok.

“Lo inget nggak, Kan? Tiga bulan lalu, abis mid semester?”

Aku menoleh sahabatku. Wajahnya tampak mendung. Teropongku dimain-mainkan seperti tongkat sihir.

“Pas elu mendadak pergi ke Bandung seminggu?” tebakku.

Kepalanya terangguk. “Gua belum sempet cerita, waktu itu gua melayat ke makam Bunda,” katanya lemah.

Napasku terkesiap. Tanganku bergerak mencari telapaknya. “Maap, gua ikut berduka,” aku berbisik, tidak tahu harus berkata apa. Sedikit kuremas kepalan tangannya. Waktu itu Pandu sedikit murung setelah menghilang seminggu tanpa kabar. Saat aku bertanya dulu, sikapnya menghindar. Tidak heran, ternyata ada kejadian seperti ini.

“Bunda kecelakaan, tabrak lari.”

Bisa kudengar amarah pada suaranya. Tentu saja dia marah. Aku yang sahabatnya saja ingin mengamuk mendengar kisahnya. Tabrak lari! Apalagi sampai timbul korban jiwa, bundanya sendiri! Ingin rasanya aku menghajar siapa pun itu yang membuat sohibku kehilangan bundanya, bila perlu kumutilasi sekalian!

“Yang nabrak masih belum ketangkep.”

“Tabah ya, bro!” kataku, merasa bodoh dan tidak berguna. Ya, dari dulu aku tidak pandai merangkai kata. Aku orang yang simpel, tidak bisa menunjukkan perhatianku, tidak seperti Pandu, kurasa aku tidak bakat jadi abang.

Saat ini aku sangat merana, kalau saja aku bisa memindahkan sedikit kesedihan Pandu pada diriku sendiri, pasti sudah kulakukan, lagi dan lagi. Aku tidak tahan melihat kepedihan yang tersirat pada wajahnya.

“Yang gua heran, kenapa Ayah nggak bawa Juna balik?” Pandu kembali curhat padaku. “Dia sama siapa sekarang, gua nggak tahu. Gua cemas banget, gua aja masih nggak terima Bunda pergi, kebayang gimana dengan Juna?”

Hening. Dasar aku mahluk tampan tidak berguna. Kenapa di saat-saat begini otakku malah macet? Kenapa tidak ada kata-kata penghiburan yang keluar dari mulutku? Aku selalu begini, tidak heran orang-orang menuduhku tidak punya perasaan. Aku tahu aku bukan teman yang baik, selalu kesulitan mengutarakan isi hatiku di saat orang lain membutuhkan aku. Mereka pasti mengira aku sangat kejam.

“Tahu nggak, Pan?” kataku memutar otak.

“Hmmm?”

“Mungkin Juna di luar sana juga sedang memandangi Gemini, kepikiran soal elu,” kataku mengarang-ngarang cerita. “Mungkin, di mana pun dia berada saat ini, dia lega ngeliat Castor dan Pollux masih berkilau di langit, karena Juna pasti tahu abangnya, elu bakal selalu mikirin dia, selalu mendoakan yang terbaik untuknya.”

Setelah beberapa saat Pandu tertawa. “Sarap, gombalan lo jelek bener, pantes Nadia kagak bisa lo dapet-dapetin.”

Aku terhenyak.

“Sialan, nyesel gua nyoba ngehibur elu!”

Dia tertawa semakin keras. Aku lega mendengarnya. Jujur aku tidak suka melihatnya sedih. Sama halnya Pandu tidak suka melihatku dijewer.

“Elu tahu nggak, tujuh bintang paling cerah di rasi Orion, semua masuk dalam list bintang paling berkilau di langit malam,” kataku mengalihkan obrolan. Aku tidak suka hal-hal sedih, dan tidak bakat jadi penghibur.

“Yaelah, kumat lagi narsisnya.”

Tidak kupedulikan gerutuan sahabatku. “Kata Papa, dia sama mamaku pertama bertemu di perkemahan kampus, kedua-duanya suka menatap Orion, jadi saat aku lahir mereka langsung milih Orion sebagai namaku.”

“Kok lo nggak dinamain Bintang Bajak aja sekalian?” kata Pandu jutek.

“Elu gimana sih, papa mama gua kan bukan orang Jawa,” jawabku lugu.

“Ish, nggak nyambung.”

“Tadinya gua mau dinamain Orion al-Jabbar.”

“Orion si Raksasa?” tanya Pandu ngakak. “Lo ceking begini ngaku-ngaku raksasa, untung Om Soetarjo berubah pikiran.”

“Ah, sialan lu, bodi atletis gini dibilang ceking, minta beliin kacamata sono sama Om Indra!” tudingku mencak-mencak.

“Bodi atletis?” ulang Pandu, terbahak semakin kencang.

Kutubruk tubuhnya, lalu kupiting lehernya sampai dia mengampun. “Enak aja berani ngatain gua ceking!”

“Udah, nyerah!” serunya. “Sesak, nggak bisa napas, asma gua…”

“Alah, bohong!”

Kami berdua cekakak-cekikik sambil guling-gulingan di tanah.

Tamat!

 

p.s.

Gua selalu pengen nanya Pandu, apa dia pernah nanya Om Indra, kenapa nama mereka harus Pandu dan Arjuna, bukan Nakula dan Sadewa aja, kalo emang pengen nyomot nama wayang buat anak kembar, kenapa pake setengah-setengah begitu ya, entah lah..

p.s. lagi

Gua bingung pengen nyebut cerita ini cerpen ato apa, karena ini kan bukan fiksi, rasanya tidak pas kalo disebut cerpen, tapi gua enggan menyebut ini diari! Tolong ya ini bukan diari, ehm.. boleh deh disebut jurnal..

 

***

 

Kupandangi foto-foto saat kami liburan ke Bumi Telaga Dalom satu setengah tahun lalu. Itu acara sekolah paling berkesan. Aku ingat hampir semua murid ikut, karena lokasinya tidak jauh dan biayanya tergolong murah.

Ya, study tour itu menjadi pelipur lara di saat hatiku gundah setelah kepergian Bunda, aku sangat merana karena kali ini kepergiannya mutlak, bukan sekedar pindah rumah atau pindah kota dengan alasan yang tidak kuketahui, seperti yang dia lakukan saat usiaku sepuluh. Dia tidak pernah menghubungiku, Bunda pergi seolah aku tidak ada lagi di hatinya. Gimana aku tidak hancur ketika mendapat kabar Bunda kecelakaan dan tubuhnya telah dimakamkan di Bandung. Aku bahkan tidak menghadiri prosesi pemakaman. Bunda sudah dikubur saat aku datang.

Sudah lah, aku tidak mau mengingat soal ini. Rasanya pedih, sakit hati!

Kubaca ulang cerpen, atau diari, atau jurnal, terserah lah, yang dibuat Arkan. Ternyata tidak sejelek yang kukira, meski Arkan tidak bakat menulis, tapi kisahnya mengena di hatiku. Arkan sang Pemburu, begitulah dia menjuluki diri sendiri. Orion seorang pemburu dalam mitos Yunani, dan al-Jauza adalah nama kuno rasi bintang itu dalam bahasa Arab, meskipun nama modernnya berubah menjadi al-Jabbar, sang raksasa.

“Kok elu bisa tahu arti nama gua? Elu ngepens sama gua? Kepo amat!”

Dulu Arkan pernah bertanya, dengan nada sengak minta digampar.

Yang kubalas dengan tonjokan di bahu. Meskipun staminaku lemah karena asma, aku cukup kuat kalo menonjok. Aku tidak mahir berkelahi, tapi aku bisa membuat lawanku babak belur, meski aku tahu aku bakal kalah pada akhirnya.

“Yaelah, lo lupa siapa gua?” balasku sengit.

“Cowok paling pinter seangkatan? Calon astronom amatir?” tebaknya cengar-cengir.

“Nah, itu belum amnesia.”

“Lo sering nuduh gua narsis, terbukti lo lebih narsis!”

“Emang,” jawabku cuek.

“Anjrit!” makinya. “Nggak pernah menang gua debat sama elu.”

“Makanya belajar debat dulu yang bener, baru bebantahan sama gua,” aku terbahak. “Gitu loh, sodara Saif al-Jabbar.”

Arkan membeku di tempat. Mulutnya menganga seperti ikan mas koki. Aku heran, kok dia senang banget terlihat seperti orang bodoh.

“Elu beneran kepo… gila, nggak sangka sohib gua ternyata stalker!”

Saif al-Jabbar, itu nama aliasnya di sebuah forum game. Sumpah, aku juga kaget kami ikut forum yang sama, maksudku, ini kan game kesukaanku, bukan game ketangkasan tidak perlu mikir yang disukai kebanyakan orang.

Tanpa bermaksud merendahkan seorang Orion Arkan al-Jauza, tapi sejak kapan sih cowok simpel itu jadi tergila-gila game strategi macam civilization? Ya, ampun, aku tahu Arkan cinta mati sama game ini, kalau melihat jumlah post dan semua komentar berbunga-bunga di forum. Aku yang cuma kenal saja malu setengah mati dengan komen-komennya, apalagi di sub forum bebas tempat para member berceloteh.

Dia seperti punya kepribadian ganda.

“Udah deh, Pan, stop ketawa!” semburnya. “Emang belum puas bikin gua malu? Entar gua tonjok juga lu!”

Kulihat mukanya semerah tomat busuk. Sejak mengaku suka sama Nadia, mukanya mulai jerawatan. Tapi saat ini, bintik-bintik merah muda di pipinya terlihat kalah merona dibanding sisa wajahnya. Aku terpingkal sampai sakit perut.

“Entar pulang sekolah, maen civ lima aja yuk, bosen maen dota, gua kalah terus.”

Dia mengangguk lesu.

“Sialan elu Pan,” katanya masih tidak terima. “Kok elu tega mata-matain gua. Saif al-Jabbar tuh borok gua, malu tahu!”

“Makanya pilih alias tuh yang bener dikit, kalo al-Jabbar sih clue-nya udah jelas sama kayak nama lo. Terus Saif, emang keren sih, artinya pedang kan, cocok dengan sifat lo yang sengak. Lagian Saif al-Jabbar salah satu bintang di rasi Orion, kalo gua bacanya sih, salah satu nama samaran Orion Arkan al-Jauza.”

“Wew, sejak kapan elu jadi Detektif Conan?” sindirnya.

“Sejak gua muak dengan postingan seseorang bernama Saif al-Jabbar yang sering one liner, flaming dan ngejunk di forum favorit gua, dan tahu kalo lokasi bocah labil ini ternyata di Bandar Lampung, Indonesia.”

“Huu, rugi punya temen calon astronom,” keluhnya.

“Oh iya, Kan, dari kemaren gua pengen nanya satu hal sama lo, emang sejak kapan lo punya bakat eksibisionis?”

“Jangan dibahas!” kilahnya dengan muka merah.

“Ternyata lo bakat bikin stensilan, hobi amat bahas selangkangan di forum.”

“Beneran gua tonjok nih!” Arkan mengejarku.

Tentu saja aku langsung ngacir.

 

***

 

“Kita udah mau sampe,” Om Nino mengumumkan.

Kulepas earphone-ku dan kutatap jendela samping. Jalanan sepi berliku-liku. Di kanan kiriku tampak jurang menganga, tampaknya kami mulai memasuki kawasan Bukit Barisan. Ayah dari tadi sudah mematikan AC karena udara terasa semakin dingin menusuk.

“Kamu nangis, Pan?” Kali ini suara Ayah.

Buru-buru kusapu sudut mataku. “Kelilipan,” kataku jelas-jelas berbohong.

“Hmm, kayaknya kamu udah maapin si Arkan ya?” goda ayahku. “Ayah jadi pengen lihat isi flash disk yang dia kasih ke kamu.”

“Isinya pribadi!” tukasku jutek.

Om Nino tertawa. “Kamu kangen sama Arkan?” dia ikut-ikutan menggodaku. “Nggak sampe satu hari udah kangen-kangenan.”

Aku mati kutu. Kok tega duo bapak-bapak di depanku ini ngebuli remaja unyu-unyu seperti aku. Entah mereka salah makan apa tadi. Kuabaikan saja, daripada mood-ku tambah jelek, kupakai kembali earphone dan kubuka folder terakhir.

Isinya sebuah video bernama ‘conscience’. Selain file video, tidak ada apa-apa lagi di sana, kosong melompong. Tidak ada foto, tidak ada cerpen, hanya sebuah video. Entah kenapa judulnya dalam bahasa Inggris.

Emm, akhirnya dia mulai sok English, responku otomatis.

Saat kupencet tombol putar, sosok Arkan dalam web cam kembali memenuhi layar laptop. Perlu sedetik penuh bagiku untuk mengenalinya. Arkan terlihat berantakan. Banget! Maksudku, dia emang cuek, tapi jelas tidak selepek ini! Tampilannya lebih lusuh dari gembel yang biasa tidur di trotoar jalan.

Rambutnya kusut seperti habis dijambaki, setelan kemeja lusuh dan jins robek yang entah sudah berapa lama tidak diganti. Aku berani taruhan Arkan belum mandi, pesonanya sama sekali hilang, kurasa dikasih gratis pun Nadia bakal menolak cintanya saat ini. Kantung matanya bengkak oleh tangis. Lingkaran hitam dan segaris keletihan tercetak jelas di bawah mata.

Aku belum pernah melihat Arkan kacau begini.

Kulirik ayahku, apakah dia juga terlihat separah ini setelah menungguiku semalaman tanpa tidur saat aku menjalani operasi? Kemungkinan begitu, tapi bedanya Ayah tidak seputus asa Arkan sampai memaksakan diri bikin rekaman dalam kondisi seperti korban tsunami. Kutatap sahabatku, pada sorot matanya yang terlihat nekat.

Cukup lama Arkan membisu, sebelum akhirnya mulai bicara sendiri.

“Hei, Pan…”

Kalimat pembuka yang biasa dia gunakan. Namun ada yang berbeda, suaranya parau, tanpa keceriaan apapun. Arkan terlihat putus asa, mau tak mau membuatku khawatir. Hei, yang baru saja gagal bunuh diri kan aku, terus kenapa sosoknya jauh lebih merana dibanding saat aku menyayat lengan menggunakan pisau dapur? Kudengar jantungku bertalu-talu.

Dia kan tidak mungkin ikut-ikut aku potong tangan?

Aku tahu video ini diambil sebelum aku sadar.

“Gua lega operasi elu udah selesai, kata dokter elu bakal baik-baik aja, tinggal istirahat dan tunggu sadar, bagus lah.”

Ternyata di video kali ini tidak ada akting apapun, tidak ada cerita tentang sang pemburu, cowok ajaib, atau apalah.

Simpel, seperti Arkan yang selama ini kukenal.

“Pas denger beritanya dari Papa, sumpah gua kaget banget. Selama ini elu tuh sosok paling tangguh yang pernah gua kenal, role model semua orang.”

Cowok itu menarik napas dalam-dalam, kemudian terdiam.

“Gua kaget, Pan,” ulangnya lagi, lirih. “Dan gua juga takut, elu begini pasti ada kaitan sama gua, gara-gara sikap gua! Gua emang orang paling tega di dunia. Gua pikir, elu bisa nerima tingkah bodoh gua untuk terakhir kali, seperti elu memaklumi semua sikap gua selama ini. Teganya gua ninggalin elu di saat elu lagi butuh dukungan sahabat elu, dukungan dari gua. Gua emang bego bro. Kenapa sih gua tega bikin sahabat terbaik gua menderita?”

Jeda sejenak. Arkan mendesah.

“Gua mau jujur sama elu, Pan. Dari pertama kita duduk semeja, gua ngerasa ada yang aneh sama diri gua, nggak tahu kenapa sosok elu nggak bisa ilang dari kepala. Tiap kali ke sekolah, gua seneng banget, karena gua bisa ketemu elu lagi. Aneh ya, mana ada sih orang suka pergi sekolah, kecuali mahluk sarap kecanduan belajar kayak elu sama Nadia.”

“Omong-omong soal Nadia, gua beneran jatuh cinta sama dia. Waktu dia mulai merespon semua gombalan gua, sumpah rasanya seperti terbang,” cerita Arkan. Sorot matanya tidak fokus, seolah mengingat kembali perasaan senangnya waktu itu. Sudut mulutnya tersenyum. Tidak lama. Karena detik kemudian wajahnya kembali mendung.

“Tapi bro, elu tahu nggak, sesuka-sukanya gua sama Nadia, tetep nggak bisa bikin elu enyah dari kepala. Pandu Wiratama Atmaja, kenapa elu bagai candu buat gua? Selama ini gua selalu mikir kalo ternyata seorang sahabat lebih penting dari gebetan, seperti elu yang selalu jadi nomor satu, ngalahin Nadia di hati gua.”

“Bro, ternyata gua cuma menipu diri sendiri. Elu masih inget majalah NatGeo edisi Februari yang dulu elu tunjukin, dengan cover pink lope-lope norak. Ya, gua nggak bakal mungkin lupa sama majalah itu, bukan karena covernya norak, tapi karena artikel yang dulu gua baca, artikel yang elu tunjukin sama gua.”

“Karena setelah gua baca tulisan itu sehari sebelum valentine, tiba-tiba gua sadar bro, apa yang selama ini gua rasain buat elu, sama dengan yang dirasain si cowok dalam artikel,” kata Arkan mengaku, setengah panik.

Cowok itu mulai terisak, semula perlahan, makin lama semakin kencang, sampai akhirnya menangis sesugukan.

Aku menelan ludah.

Tenggorokanku terasa kering.

Ini bukan sekedar akting kan? Aku cukup yakin sekarang bulan Desember, tidak ada orang kurang kerjaan yang mau ngerjain aku dan tiba-tiba berteriak April Mop! Dulu kupikir aku mengenal seorang Orion Arkan al-Jauza, membacanya luar dalam seperti membaca buku cetak matematika, simpel dan mudah ditebak.

Ternyata aku salah. Aku tidak lagi mengenalnya.

“Bahkan setelah gua jalan sama Nadia, meskipun belum berstatus pacaran, elu masih jadi nomor satu di hati gua. Ya, Allah, gua jijik sama diri gua sendiri! Gua merasa berdosa sama Nadia, berdosa sama elu. Kenapa gua bisa mengkhianati perasaan kalian? Kenapa gua nggak bisa berenti sayang sama elu, Pan?”

Aku meremas jok kursi begitu erat hingga kuku jariku membekas. Selama ini Arkan al-Jauza suka padaku? Apa tidak salah? Kepalaku berputar, mataku berkunang-kunang.

Ini cuma mimpi kan? Pasti tidak benar-benar terjadi.

Arkan tuh normal, jeritku dalam hati. Kuulangi berkali-kali seperti membaca mantra.

“Selama ini gua selalu memendam rasa suka yang salah ini diam-diam. Gua takut kalo elu sampe tahu, elu bakal benci sama gua, nggak bakal mau lagi jadi temen gua. Pasti elu bakalan jijik sama gua! Sumpah, gua merana banget bro! Sempet terpikir di kepala pengen berbuat aneh-aneh, seperti yang elu lakuin, tapi gua beruntung bro, punya elu sama Nadia. Kalian selalu ada buat gua. Terutama elu, Pan. Elu selalu ngertiin gua, perhatian sama gua.”

“Tapi semua berubah hari itu bro. Elu inget nggak, waktu elu nunjukin majalah keparat itu? Sumpah, jantung gua nyaris copot, apalagi pas elu ngebuka artikel itu, sama sekali nggak terpikir di kepala kalo elu coming out sama gua. Yang ada gua malah parno, elu udah tahu borok gua, dan elu pengen bikin gua ngaku.”

“Gua takut, Pan,” isaknya lirih. “Gua nggak mau kehilangan elu. Rasanya pengen mati aja, daripada elu tahu soal gua.”

Aku menyedot ingus. Tanganku masih mengepal erat. Sekuat tenaga kutahan agar air mata tidak jatuh, tapi percuma. Entah sudah berapa lama tangisku mengalir seperti anak sungai di pipi. Bodohnya aku.

Kenapa waktu itu aku begitu fokus pada diri sendiri, gagal menebak reaksi sahabatku yang ternyata sama takutnya seperti aku.

“Saat elu bilang elu gay, gua pikir elu mau gua ngaku soal perasaan gua sama elu, kalo elu udah nebak sayang gua buat elu. Gua takut banget bro, takut elu pura-pura, takut kalo elu cuma pengen gua ngaku. Dan waktu akhirnya gua sadar kalo elu serius, semuanya udah terlambat. Gua terlanjur bikin elu kecewa.”

“Elu bilang dulu elu sayang sama gua. Dulu, Pan! Artinya sekarang rasa elu udah mati buat gua, rasanya gua mau nangis mendengarnya bro! Meskipun gua tahu elu cuma sayang gua sebatas sodara, adek yang harus elu jaga, karena untuk seorang Pandu, Orion nggak akan lebih dari sekedar pengganti Gemini, selalu begitu, iya kan?”

Arkan mengelap air mata yang tumpah ruah di pipi menggunakan lengan kemeja. Tampak kelegaan ganjil pada sorot matanya, mungkin dengan mengakui semua perasaannya, separo beban pikiran kini terangkat.

“Gua nggak bakal menghindar lagi, Pan. Capek otak gua, sekarang elu udah tahu perasaan sayang gua buat elu.”

Sikapnya kini lebih tenang. Dia berhenti terisak, meskipun butir-butir air mata masih turun meleleh dari sudut mata.

“Pasti elu bingung kan, kenapa gua nggak joget guling-guling waktu elu ngaku ke gua soal rahasia elu?” Senyumnya sedikit merekah. “Jujur gua sempet seneng, gua pikir artinya gua punya harapan bikin elu klepek-klepek sama gua. Meski gua tahu selama ini elu nggak punya rasa buat gua, tapi kalo gua terus pasang muka badak, seperti saran elu dulu, gua bakal gombalin elu setiap hari, pasti rasa suka bakal tumbuh juga di hati elu.”

Dahiku mengerut. Sialan nih bocah, berani amat kegeeran gombalin aku!

“Pasti elu lagi pasang muka jutek ngedenger gua di sini,” tebaknya memaksakan senyum.

Aku tertawa sampai tersedak ingus sendiri.

“Ini yang paling gua sesalin, Pan. Waktu gua sadar gimana adanya elu, gua kok malah takut setengah mati,” bisiknya lirih.

“Gua emang sayang banget sama elu, Pan. Ini fakta dan masih seperti ini sampe sekarang. Tapi, gua nggak mau munafik, gua juga nggak mau terjebak sama perasaan gua ini. Sebut gua egois, karena nyatanya begitu! Gua jatuh cinta sama Nadia, emang nggak sebesar rasa sayang gua buat seorang Pandu, tapi rasa cinta itu ada, nggak dibuat-buat. Cinta gua buat Nadia bukan pura-pura, bukan sekedar kedok. Dan gua terlalu lemah, terlalu takut memperjuangkan sayang gua sama elu. Karena itu gua menjauh dari elu, Pan.”

Wajahnya meringis pedih, seperti muak pada diri sendiri.

“Elu bener tentang gua, Pan. Gua teman paling egois, habis manis sepah dibuang, terserah makian apa yang elu pake buat nyebut gua, nyatanya gua emang mengkhianati elu. Karena gua cari selamet sendiri. Gua takut tertular sama elu, padahal gua sendiri udah terjangkit. Gua mati-matian menjadikan Nadia sebagai obat penawar dari candu bernama Pandu. Dalam prosesnya, gua udah bersikap nggak adil sama kalian, sama Nadia karena selalu gua duakan oleh pesona seorang Pandu, dan sama elu, sahabat yang gua tinggalin karena takut tekad gua runtuh dan gua bakal gombalin elu setiap hari buat jadi cowok gua.”

Arkan kembali menangis.

Kembali kulihat sosok seorang adik pada wajah bintik-bintik di depanku. Ya, aku akan selalu menyayangi Arkan, seperti sayangku untuk Juna. Keduanya adik yang tidak bisa digantikan. Kutatap Arkan, wajahnya yang tampan meski sedikit jerawat menghias pipinya, sikapnya yang keren, cowok paling selengekan di kelas unggulan. Banyak orang salah mengerti dirinya, dia emang terlihat acuh, kadang sangat egois, tapi sikapnya bisa sangat manis.

“Gua capek jadi orang egois, Pan,” katanya lagi. “Tahu nggak, waktu nungguin elu di kamar operasi, gua nggak pernah nyesel begitu seumur hidup. Gua tahu sesal itu nggak ada obatnya. Jadi waktu itu gua bertekad, gua nggak bakal ninggalin elu lagi. Gua janji, Pan, gua akan selalu ada buat elu, baik di saat elu senang atau sedih.”

Matanya kembali menatap nanar, seperti kehilangan sebagian kewarasan.

“Kalopun elu kenapa-napa, gua janji gua bakal nemenin elu sampe akhir,” bisiknya. “Bahkan kalo gua harus nyusul elu ke tempat lain. Gua takut bro, makanya elu harus baek-baek aja, jadi gua nggak perlu nyusul elu kemana-mana.”

 

***

 

“Pan?” Suara ayahku terdengar sedikit geli.

Tiba-tiba aku sadar masih di mobil, tatapan kami bertemu di spion belakang. Aku dan Ayah. Kulihat wajahku merona matang.

Ayah terkekeh. “Kenapa ya, anak Ayah tingkahnya dari tadi seperti orang gila?” gumamnya, cukup keras untuk bisa didengar satu mobil. “Udah nangis, lalu tertawa, terus merengut kemudian cengar-cengir sendiri.”

Aku tidak menanggapi.

“Kamu kayak anak cewek yang lagi jatuh cinta,” komentar Ayah menohok hati.

“Pandu kan cowok, Yah!” seruku murka.

Kedua pria di kursi depan terbahak-bahak. “Perasaan Ayah nggak kayak gitu deh waktu jatuh cinta sama Bunda,” goda ayahku.

“Waktu itu Ayah udah kuliah, dan Bunda cerita kalo Ayah nggak berani nembak langsung,” balasku tidak mau kalah.

“Bunda bilang Ayah nembak pake surat cinta pink lope-lope yang diselipin diem-diem ke tas Bunda! Ayah tahu nggak, waktu di kelas tujuh, temen Pandu pernah nembak Pandu begitu, dan dia CEWEK!” seruku.

Kali ini Om Nino terbahak paling kencang.

“Wah, baru tahu kalo kamu nembak Bundanya Pandu kayak anak cewek nembak cowok.” ledek Om Nino, sengaja membantuku godain Ayah. Kami bertukar kedip penuh konspirasi di spion. Omku itu emang om terbaik.

Ayah berdehem. “Kita udah sampe nih!” katanya ngeles.

Kulihat sebuah bangunan bercat putih di kejauhkan. Ternyata kami emang sudah sampai. Kehidupan baruku akan segera dimulai.

Tapi ada satu hal yang perlu kuselesaikan.

 

***

 

Aku segera turun dari mobil dan pergi ke sudut rumah yang sepi, tidak menghiraukan Ayah dan Om Nino yang sibuk mengatur pindahan. Barang-barang kami sudah dikirim sehari sebelumnya menggunakan jasa ekspedisi. Dan Ayah kini sedang mengkomandoi orang-orang suruhan kakekku untuk beres-beres.

Dengan tidak sabar, kukeluarkan hapeku dari saku celana. Kupencet nomor yang ada dalam daftar prioritas.

Brukk!

Seseorang menabrakku, atau aku yang menabraknya, entah lah.

“Maap,” gumamku otomatis.

“Baru pindahan udah sibuk maen hape, pasti mau telepon ceweknya nih.” Cowok yang tadi kutabrak tiba-tiba menggodaku.

Hah, serius nih? pikirku kaget setengah mati.

Suaranya berat, enak didengar. Kualihkan tatapan mataku dari layar hape. Sosoknya besar menjulang di depanku, setengah kepala lebih tinggi. Kurasa dia anak kuliahan, baru semester awal mungkin, soalnya masih muda banget.

“Baran Noval Alberdo,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Panggil aja kak Baran.”

Aku sedikit bengong oleh sikapnya yang sok kenal sok dekat. Kusambut tangannya. “Pandu Wiratama Atmaja,” aku mengenalkan diri dengan kaku.

“Gua tinggal di sebelah,” katanya menunjuk bangunan bercat oranye di samping rumahku. “Kita resmi tetanggaan.”

Aku manggut-manggut seperti orang bego. Selintas pikiran menyeruak di kepala. “Kak Baran bintangnya Taurus?” tanyaku tanpa pikir.

“Loh kok tahu?”

Aku cuma tersenyum tipis.

“Hmmm, menarik juga,” gumamnya. “Punya tetangga paranormal, meskipun anak kecil, ya udah, kak Baran pergi bantu-bantu dulu.”

Secepat kilat dia menghilang, kembali ke halaman depan. Tangannya tadi sempat melambai padaku, membuatku terbengong-bengong.

Masih separo bingung oleh tingkah calon tetanggaku, kutekan tombol panggilan di hapeku, menimbang-nimbang apa yang akan kukatakan nanti. Aku sempat merasa cemas melihat rekaman terakhir Arkan. Tapi kupikir cowok itu sudah lama tahu kalau aku baik-baik saja. Jadi tidak perlu ada adegan susul-menyusul dramatis.

“Hei bro,” Arkan mengangkat teleponku.

“Orion Arkan al-Jauza,” aku balas menyapa. “Lo nggak usah sarap pake acara pengen nyusul gua segala!”

Napasnya tersentak di ujung sana. “Elu udah buka kado gua?” tanyanya lirih.

“Lo pikir gimana?”

Arkan mendesah. “Elu marah ya bro?”

“Nggak, cuma murka! Rasanya pengen mutilasi orang!”

“Pan, elu masih nggak mau kasih maap elu buat gua?” gumamnya pasrah.

Suaraku macet di tenggorokan. Kutarik sejumput rambut dengan frustasi. Kenapa sih punya sahabat, tapi bego macam si Arkan!

“Gua sayang sama lo, Kan. Harusnya lo ngomong jujur dari pertama, jadi nggak pake salah paham ala sinetron begini.”

Keluar juga pengakuanku. Omong-omong ini bukan pengakuan cinta ya!

“Maap, Pan, gua…” Arkan terdengar ragu-ragu di sana. “Gua emang sayang sama elu, lebih dari sayang gua sama Nadia, tapi sekarang kami resmi jadian. Meskipun itu elu, nggak ada niat gua buat selingkuh.”

Aku terdiam. “Lo barusan nolak gua?”

“Emang kapan elu nembak gua?” dia balik bertanya, ngeles.

“Ya, nggak pernah sih,” balasku, garuk-garuk kepala. “Cuma sedih aja, kok lo lebih milih Nadia dibanding gua.”

“Emang kalo gua milih elu, elu nya mau sama gua?”

Aku berpikir sejenak, mengulang pertanyaan yang sama sejak aku tahu Arkan suka padaku. “Mungkin nggak,” jawabku jujur.

“Gua kurang ganteng buat elu?”

Loh, kok malah dia yang sewot, padahal aku yang ditolak, aku memaki dalam hati. Eh, tapi kapan aku ditolak, nembak aja nggak pernah kok!

“Orion bakal selalu jadi pengganti Gemini buat gua,” gombalku.

Desahnya menggema di ujung telepon. “Gua selalu tahu.” Suaranya pasrah.

“Kan, lo baek-baek ya di sana,” kataku mulai serius. “Lo bener, Kan. Jangan sampe hanyut kayak gua. Lo masih punya kesempatan. Seenggaknya lo punya penawar bernama Nadia, lo nggak boleh maenin perasaan dia, kalo gua sampe tahu lo selingkuh, lo bakal gua culik ke sini, terus gua tenggelemin ke danau!”

Hening sejenak.

“Maapin gua, Pan, rasanya gua berkhianat lagi sama elu.”

“Jangan gombal, gua nggak pernah jatuh hati sama lo, dasar ge-er!”

“Tapi kalo jatoh sayang pernah kan? Elu ngaku aja deh bro,” katanya terbahak dengan nada kepedean.

“Kan udah tadi ngakunya,” tukasku asal.

Arkan menghela napas. “Orion bakal selalu ingat sama Gemini,” katanya lembut. “Elu tuh sahabat sekaligus cinta pertama gua, kombo maut, dobel kill, nggak bakal mungkin bisa gua lupain seumur hidup!”

Gantian aku yang terbahak.

“Diingat boleh, tapi perasaan lo ke gua harus berubah,” aku mengingatkan. “Lagian lo juga nggak punya harapan bro, kayaknya barusan ada yang berhasil mencuri hati gua, dan nggak cuma sebongkah kayak seseorang, tapi semuanya!”

Pipiku merona, teringat calon tetangga yang tadi kutabrak.

Ya, Tuhan, ini pasti bohong kan? Aku tidak pernah percaya gombalan bernama jatuh cinta pada pandangan pertama, menurutku itu sekedar napsu. Aku penganut paham ‘dalam kebersamaan lahirlah cinta’. Ya, buatku cinta itu harus lah dipupuk, disiangi, dan disiram seiring berlalunya waktu, bukan tumbuh begitu saja seperti kacang ajaibnya Jack.

Tapi di sini lah aku, jatuh cinta pada pandangan pertama, kurasa. Kalau tidak begitu, kenapa kepalaku terus memutar adegan kami berkenalan tadi, cowok kuliahan yang baru saja kulihat dan kukenal, kenapa sosoknya tidak bisa enyah dari otakku?

“Hah, baru tiga jam, elu udah lupa sama gua?” protes Arkan.

“Kalo gua lupa, ngapain gua telepon.”

“Gua bakal merengek sama Papa, biar bisa pindah ke tempat elu.”

“Sarap!”

“Gua cemburu!”

“Lo nggak punya hak, kan lo sendiri yang milih suka sama cewek.”

“Tapi gua masih nggak bisa ngelupain seorang Pandu, hati gua terlanjur dicuil terlalu banyak, gua minta elu balikin beserta bunga!”

Kami berdua terpingkal-pingkal. Air mataku sampai menetes di sudut mata. Tangis bahagia, tentunya. “Gua seneng kita berdua baik-baik saja,” kataku.

“Gua lega kita masih bisa ketawa meskipun elu udah jauh di sana,” balas Arkan.

“Dulu gua sempat cemburu sama Nadia,” aku mengaku.

“Katanya elu udah bisa move on dari gua?”

“Sumpah, kadang gua pengen jewer Nadia kalo lo nggak jadi nginep gara-gara nganterin dia kemana, bikin jengkel aja.”

“Emang elu berani sama Nadia?”

“Emm, lo nggak tahu aja, Kan. Nadia sih jinak kalo sama gua.”

“Karena dia pernah nembak elu?”

Aku kaget. “Nadia udah cerita?”

“Yap, dari awal jadian,” jawab Arkan lirih. “Aneh ya, Pan. Gua dan Nadia sama-sama pernah suka sama elu, dan sekarang kita malah pacaran.”

“Lo bukannya masih suka sama gua sampe sekarang?” godaku.

“Anjrit!”

“Ngaku aja deh!”

“Kalo elunya terus ngegoda gua begini, gimana gua bisa move on dari elu?” protesnya pasrah. Berani taruhan dia sedang menggosok ujung hidung dengan lagak sengak, kebiasaannya kalau lagi merasa jengah.

“Gua juga masih cemburu kok sama Nadia.”

“Buset dah!”

“Mungkin gua juga bakal cemburu begini kalo Juna punya pacar,” kataku tiba-tiba. “Rasanya menakutkan ketika orang yang kita sayang membagi sayangnya dengan orang lain, entah lah, gua mungkin cuma takut kalo gua bakal dilupakan, seperti mainan lama yang tergantikan dengan yang lebih baru.”

“Gombal!”

Aku kembali tertawa untuk kesekian kalinya.

“Lagian elu tuh bukan maenan, mana mungkin bisa dilupain begitu aja.”

Sebentuk rasa lega menyeruak dari perutku, terasa hangat. Aku senang mendengar Arkan berkata begitu.

“Akhirnya kata-kata lo bisa dewasa juga, artinya gua bisa ninggalin lo dengan tenang di sana, Orion Arkan al-Jauza.”

“Tapi elu tetep harus sering nelepon gua.”

“Kenapa bukan lo aja yang telepon?”

“Karena elu kan abangnya, gua kan adek elu, masa gua yang keluar pulsa?”

“Manja!”

“Biarin, omong-omong, elu cerita dong soal gebetan elu yang tadi.”

“Males amat!”

“Pasti ganteng, mirip sama gua.”

Aku membuat suara pura-pura muntah. “Namanya Baran,” akhirnya aku cerita. “Bintangnya Taurus, gua rasa namanya diambil dari Aldebaran, mahluk paling berkilau di rasi Banteng Jantan. Sosoknya gagah seperti namanya.”

“Elu… nggak jauh-jauh dari itu, ketara banget belum bisa move on dari Orion, inget nggak, Orion sama Taurus kan tetanggaan!”

“Masa sih?”

TAMAT