HERO - El Rumi.

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Kepada Kalian yang ‘bandel’ dan tetap mengunjungi blog ini bahkan ketika tahu dan sadar bahwa tak ada pos baru sama sekali, El Rumi ini kutulis buat kalian, HANYA buat kalian. Jika ada yang baca selain kalian, aku tidak ridha lahir batin. Biar dosa curang karena ‘baca tanpa izin’ ini mereka pertanggungjawabkan sendiri dengan nurani mereka masing-masing.

Buat kalian yang ‘bandel’ dan tetap mengunjungi blog ini bahkan ketika tahu dan sadar bahwa tak ada pos baru sama sekali, harapanku semoga kalian menikmati membaca El Rumi seperti aku menikmati ketika menulisnya.

 

Wassalam.

n.a.g

##################################################

Aku ingat sempat sudah berada dalam keadaan antara hidup dan mati, entah untuk berapa lama sampai seseorang menarik nyawaku kembali ke kehidupan. Seseorang itu, kepedihan dan ketakutan──mungkin juga harapan──dalam suaranya ketika berteriak memanggilku kupikir yang telah mengusir Malaikat Maut dari sekitarku untuk tidak membawaku lebih jauh lagi ke kematian. Bisa jadi Malaikat Maut gentar karena ‘kepedihan’ dan ‘ketakutan’ yang menyertai suara itu, atau… Malaikat Maut tidak gentar namun berubah pikiran kerena terkesima pada ‘kekuatan harapan’ dalam suara dan rintihan seseorang yang begitu berat untuk membiarkanku mati itu. Jadi Malaikat maut memilih mengalah mungkin karena berpikir bahwa seseorang itu lebih membutuhkan nyawaku di dunia ketimbang dibawa bersamanya ke akhirat. Entahlah, yang pasti, aku tak jadi mati, belum saat ini, alih-alih aku merasa bagai baru dibangunkan dari tidurku yang begitu lelap dan dalam.

Samar-samar ketika kurasakan aliran udara kembali masuk ke saluran napasku, dari balik bulu mataku yang berat untuk kuangkat karena terasa seperti baru saja ditaburi pasir, kutangkap satu wajah penuh memar sedang menangis. Air matanya menetes-netes ke atasku. Apa dia sedang menangisiku? Atau… dia menangis karena memar-memar yang dimilikinya membuatnya kesakitan hingga perlu menangis? Tapi, bagaimana dia bisa mendapatkan memar sebanyak itu?

“Hero… Tuhan, syukurlah… tetaplah bersamaku, jangan hilang…!”

Saat bulu mataku terasa kian berat untuk kulawan agar pandanganku tetap terbuka, sebelum kegelapan benar-benar menelanku kembali, penuh keheranan dan kebingungan, aku memeras otak memikirkan dan menerka-nerka siapa orang yang menangis di atas wajahku, dan… siapa pula Hero itu?

***

Rasanya aku sudah tidur berhari-hari ketika hari ini aku terbangun dengan perasaan lapar dan dahaga yang tiada terkira. Seorang wanita paruh baya entah siapa kutemukan duduk di sebuah kursi, terpekur pada sebuah buku yang tergeletak di pangkuan. Butuh beberapa detik bagiku untuk menyadari bahwa wanita itu tidak sedang tertidur, tapi tengah mengaji dengan suara pelan. Aku ingin menunggu sampai dia selesai mengaji lalu meminta air padanya, tapi aku tidak bisa sesabar itu. Aku mencoba menggerakkan mulutku, butuh usaha keras sebelum akhirnya aku mampu mengeluarkan suara. Dan ketika aku berhasil mengeluarkan suaraku, anehnya aku merasa bagai itu bukan suaraku sendiri.

“Air…”

Wanita di kursi tersentak, bacaannya terhenti dengan serta merta dan wajahnya mendongak padaku. Tapi alih-alih memberiku air, dia malah menyingkirkan bacaannya ke tempat lain dan tergopoh-gopoh mendekatiku.

“Romi, syukurlah, Nak… syukurlah…”

Wanita asing ini mulai menciumi kepalaku sementara aku mengernyit bingung merespon tingkahnya. Dia masih terus menciumi kepalaku hingga beberapa detik kemudian. Tidak tahukah dia kalau saat ini aku sedang haus setengah mati?

“Air, tolong…”

“Ya ampun, maafkan Bude.”

Bude? Apa aku punya seorang bude? Aku tidak ingat bagaimana kisahnya aku bisa punya seorang bude seperti wanita paruh baya ini. Sementara dia membongkar-bongkar isi lemari kecil di dekat tempatku berbaring, aku berusaha mengenalinya di dalam kepalaku. Tak ada wanita ini di sana.

“Ini, Romi… minumlah.”

Wanita ini kembali menyebut Romi. Siapa Romi?

Aku masih ingat beberapa waktu lalu──yang tidak bisa kuhitung dengan pasti, ada seseorang yang menyebut sebuah nama, aku ingat orang itu menyebut Hero. Sekarang ada orang lain yang menyodorkanku nama baru, Romi. Siapa Hero dan Romi itu?

Bibir gelas di dekatkan ke mulutku.

Sambil susah payah berusaha minum tanpa membuat tumpah isi gelas, aku meyakinkan diriku tak pernah tahu orang-orang yang bernama Hero maupun Romi. Tapi, mengapa wanita yang sedang memberiku minum ini memanggilku Romi? Aku yakin itu bukan namaku, pasti nama milik seseorang lain. Bisa jadi wanita paruh baya ini salah mengenaliku sebagai orang lain itu, orang lain bernama Romi.

Nama.

Sedikit air tumpah dari mulutku dan meluncur jatuh melewati leher, lalu sebuah pertanyaan menggema begitu saja di dalam kepalaku.

Siapa namaku?

Tepat ketika bibir gelas dijauhkan oleh si wanita paruh baya itu, kepanikan melandaku. Aku tidak ingat siapa namaku. Aku ingin meneriakkannya, rasanya bagai nama itu sudah ada di ujung lidah. Tapi tak bisa, tak ada sebuah nama pun yang bisa kutemukan di dalam kepalaku.

“Aku tidak bisa mengingat namaku,” ujarku dengan panik. “Aku tidak tahu namaku…”

Wanita paruh baya di depanku terpegun. Kami bertatapan. Ini aneh, aku merasa bagai sudah sering menatap matanya, padahal kami baru bertemu beberapa menit lalu.

“Di mana keluargaku, mereka bisa memberitahu namaku. Tolong panggilkan mereka ke sini…”

Aku makin bingung ketika mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Sejenak kemudian dia meninggalkanku begitu saja, pergi menuju pintu. Semenit setelah kepergiannya, aku sadar diriku sedang ada di mana. Ini rumah sakit. Mengapa aku bisa ada di rumah sakit? Apa yang terjadi padaku? Memikirkan pertanyaan itu ternyata sama melelahkannya dengan mencoba mengingat siapa diriku. Aku menyerah ketika si wanita paruh baya masuk kembali ke kamarku, dia turut membawa tiga orang bersamanya. Aku tahu salah satu dari tiga orang itu pastilah seorang dokter. Mereka mendekat ke tempatku berbaring.

“Romeo El Rumi. Kenal nama itu?”

Aku menatap laki-laki berkaca mata dengan tampang simpatik itu beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng.

“Kalau Bude Ningsih? Tahu?”

Kami bertatapan lagi dan aku kembali menggeleng.

“Bagaimana dengan Ibu ini? kamu kenal?”

Aku mengalihkan pandangan dari sosok si pria karismatik pada sosok wanita paruh baya yang tadi membantuku minum. Wanita paruh baya itu tampak lelah dan kuyu, tatapannya berkaca-kaca. “Kami baru bertemu tadi,” jawabku.

Si pria karismatik yang kuyakini sebagai dokter itu manggut-manggut, sementara wanita paruh baya di sebelahnya mulai menjatuhkan air mata. Dan mendapati semua hal ini, aku bingung dan heran luar biasa hingga sejenak lupa pada pertanyaan besarku sebelumnya. Siapa aku?

***

Namaku Romeo El Rumi. Hero juga aku, begitu pula Romi. Lucu, tadinya aku tidak bisa ingat secuil pun penggalan dari namaku, huruf pun tidak, dan sekarang tiba-iba aku punya tiga nama sekaligus. Tuhan murah hati sekali. Hari ini umurku tujuh belas tahun tujuh bulan tujuh belas hari, aku menghitungnya sendiri berdasarkan tanggal lahirku yang dikatakan mereka, yah… hanya kebetulan saja angka tujuh muncul hingga tiga kali, itupun kalau hitunganku benar.  Wanita yang memberiku minum pagi tadi adalah kakak almarhumah ibuku, namanya Bude Ningsih, dan dia seorang janda tanpa anak. Kata Dokter Halim──pria karismatik berkaca mata itu, aku menderita post traumatic amnesia, kehilangan memori karena trauma di kepala. Aku bingung harus berekasi seperti apa saat diberitahu demikian.

Aku tidak yakin, apakah saat ini aku sedang berada dalam sebuah drama sinema elektronik di televisi, atau Tuhan memang sedang ‘bermain-main’ dengan ingatanku di suatu tempat entah di mana…

***

“Kami baru saja dari ruang rawat Dekalvin, dia menitipkan salamnya buatmu. Begitu diizinkan meninggalkan tempat tidur, dia janji akan langsung ke sini.”

Sebelumnya, Bude Ningsih──wanita paruh baya yang mulai dua hari lalu dimaklumkan padaku sebagai kerabat terdekatku──sudah memberitahu kalau pria muda berkemeja rapi ini adalah salah satu guruku, sedang beberapa remaja putra dan putri yang ikut bersamanya adalah teman-teman sekelasku. Aku frustrasi karena tidak mampu mengingat seorang pun dari mereka. Tatapan mereka membuatku gelisah, membuatku bertanya-tanya seperti apa kebersamaanku dengan teman sekelasku sebelum ini? Aku ingin tahu, adakah salah satu teman akrabku di antara mereka? Ataukah dia tidak bisa datang karena suatu alasan? Terus, siapa Dekalvin? Dari kalimat pria muda yang adalah guruku itu, katanya mereka baru saja dari ruang rawat orang bernama Dekalvin. Aku tergerak untuk bertanya.

“Apa orang bernama Dekalvin ini adalah teman sekelasku juga?” Kuperhatikan Bude Ningsih saling bertatapan dengan para penjengukku. Mereka terlihat putus asa.

“Dia teman sebangkumu, sudah lebih satu semester belakangan ini kalian berdua kayak objek dan bayangan saja, kemana-mana selalu berdua.” Salah seorang remaja laki-laki yang terlihat lebih ramah dari sosok-sosok lainnya mewakili menjawab pertanyaanku.

Aku menatap cowok itu. “Apa Dekalvin ini teman dekatku?”

Cowok itu mengangguk dan tersenyum. “Tapi dulu dia sebangku denganku di kelas dua.”

“Dia dulu teman dekatmu?”

“Jangan kuatir, kamu enggak merebut teman dekatku kok,” jawabnya sambil menyengir. “Lagipula, Deka baik sama semua orang.”

“Maafkan aku gak bisa mengingatnya. Ah… maafkan aku karena gak bisa mengingat kalian semua, ingatanku sedang payah tiga hari ini. Aku pasti dapat nilai merah jika ikut ulangan mata pelajaran apapun dengan ingatan kayak gini di sekolah, kan?” Mereka merespon usahaku melucu dengan tawa canggung.

Orang-orang itu berada di kamar rawatku yang baru ini sampai sekitar lima belas menit, mengobrol pelan entah apa sesama sendiri, juga Bude Ningsih yang sekilas tampak terlibat obrolan rahasia dengan pria muda yang dikenalkan sebagai salah satu guruku itu. Yah, saat ini aku memang bukan lawan bicara yang tepat bagi mereka, tidak di saat aku bahkan tidak bisa tahu nama seorang pun dari mereka. Apa yang bisa kuobrolkan sementara aku bahkan tidak bisa mengingat nama mereka? Jadi, aku berkonsentrasi pada nama Dekalvin, mencari-cari apapun yang bisa kutemukan terkait nama itu di dalam kepalaku. Tak ada apapun, yang kulihat hanyalah susunan huruf yang membentuk nama itu, tak ada apapun selain delapan deret abjad itu.

Sejenak setelah rombongan itu pamit meninggalkan keranjang-keranjang buah dan kaleng biskuit di kamar rawatku, entah bagaimana aku yakin kalau aku tidak berteman cukup akrab dengan sosok-sosok berseragam itu. Jika kata cowok yang terlihat lebih ramah tadi tentang Dekalvin dan aku adalah benar, mungkin teman akrabku di sekolah hanya anak bernama Dekalvin itu. Seperti apa dia? Apakah dia akan segera sembuh? Sakit apa yang dideritanya hingga harus dirawat juga di sini? Yang pasti sakitnya bukan amnesia, buktinya kata guru muda tadi Dekalvin itu menitipkan salam buatku.

Untuk pertama kalinya sejak kudapati diriku hilang kemampuan mengingat, rasa penasaranku terhadap anak bernama Dekalvin ini mengalahkan rasa ingin tahuku terhadap diriku sendiri dan kehidupan yang sudah kujalani di belakang sana.

***

Seminggu setelah terbangun dalam kondisi tanpa ingatan, perlahan-lahan aku mulai tahu apa yang menimpaku. Kalian dikeroyok preman sepulang sekolah. Itu kalimat pembuka Bude Ningsih saat bertutur padaku di awal pagi tadi. Seseorang memukulku di bagian belakang kepala. Saat Bude Ningsih mengatakan itu, aku reflek memegang bagian belakang kepalaku. Di bawah lilitan perban yang menutupi hampir tiga perempat batok kepalaku, rasanya aku bagai bisa melihat retakan di sana.

Lega rasanya mengetahui kalau preman-preman pengeroyok itu berhasil diringkus dan sekarang mendekam di sel. Yang mengejutkanku adalah, ‘kalian’ yang dimaksud Bude Ningsih adalah Dekalvin dan aku. Akibatnya, sekali lagi seharian ini aku terus memikirkan anak bernama Dekalvin yang ternyata sama-sama dirawat di rumah sakit ini karena dihajar preman.

Menjelang sore, karena tidak tahan, aku kembali merecoki Bude Ningsih walau sudah pernah diperingatkan agar tidak memaksakan diri untuk memikirkan hal-hal berat. Tapi aku butuh ingatanku kembali, bagaimana cara aku bisa mendapatkannya selain dengan berusaha memikirkan dan mengingat?

“Bude pasti kenal baik Dekalvin, kan?”

Bude Ningsih menatapku sekilas sebelum melanjutkan mengupas buah. “Bagaimana Bude tidak kenal baik, kamu sangat sering membawanya ke rumah. Kalian sudah berteman sejak sekolah dasar.”

Itu informasi baru.

“Ingat bapak dan ibu yang menjengukmu di ruang rawat sebelumnya, sehari setelah kamu sadar?”

Ingatanku kembali ke enam hari lalu saat sepasang suami istri mampir melihat kondisiku dengan ekspresi prihatin yang nyaris membuatku yakin kalau mereka adalah orang tuaku yang ternyata masih ada. Pasangan itu tidak lama berada di sana, hanya menanyakan kabarku lalu mengobrol sebentar dengan Bude Ningsih. Mereka pergi setelah memaksakan amplop ke dalam telapak tangan budeku itu. Kami tidak membicarakan kunjungan pasangan suami istri itu hingga sekarang.

“Mereka papa dan mamanya Dekalvin,” lanjut Bude Ningsih.

Informasi baru lagi.

“Mereka kaya, keluarga Dekalvin ini?” tanyaku begitu saja.

Bude Ningsih menghampiri tempat tidur dengan membawa serta piring buah hasil kupasannya, senyum menghiasi wajah lelahnya. “Kaya miskin itu hanya sebutan manusia, Nak… pada dasarnya setiap manusia itu sama statusnya di dunia. Jika ternyata kemudian ada yang kaya, kita bisa menganggap kalau mereka ketitipan amanah harta dari Tuhan. Dan mereka yang tidak dipercayakan amanah harta kepadanya, bukan berarti Tuhan tidak menyayangi atau tidak memercayai. Yang namanya amanah itu musti wajib disampaikan, kan? Jika semuanya dititipkan amanah harta, lha terus amanahnya mau diteruskan ke siapa tho?”

Aku mendiamkan diri.

Bude Ningsih tersenyum sambil meletakkan piring buah di atas dadaku. “Mamanya Dekalvin dan almarhumah mamamu kabarnya dulu pernah dekat, karena putra-putra mereka juga berteman. Bude sedikit yakin kalau mamanya Dekalvin sudah menganggapmu bukan orang asing lagi. Ah, kalau saja kamu bisa mengingat bagaimana dekatnya dirimu dengan Deka.”

“Deka?”

“Oh, itu panggilan Dekalvin.”

“Deka,” ulangku.

“Seringnya hanya tiga huruf depannya saja.”

“Dek.” Lidahku bergerak begitu saja.

“Iya, tepat seperti itu. Orang-orang akan berpikir kalau kalian kakak adik.” Bude Ningsih tersenyum lagi. “Sekarang makan buahnya, Bude akan pergi menjenguk ke kamarnya Dekalvin sebentar.”

“Bisa tolong sampaikan salamku?”

“Dia pasti akan senang.”

Iya, aku juga pasti akan senang bila jadi Dekalvin. Seorang teman yang mampu diingatnya menitipkan salam buatnya. Berbeda denganku yang terheran-heran ketika dia menitipkan salamnya beberapa hari lalu.

***

“Hai…”

Pandanganku menatap lekat cowok berkulit pucat yang terbaring di tempat tidur. Dekalvin.

‘Begitu diizinkan meninggalkan tempat tidur, dia janji akan langsung ke sini.’

Demikian kata guru muda yang menjengukku hampir dua minggu lalu. Kaki kirinya di-gips dari pertengahan betis hingga sedikit di atas mata kaki, pantas saja dia tak kunjung diizinkan meninggalkan tempat tidur. Kalau aku tidak memaksa ingin menemuinya hari ini, mungkin baru satu atau dua minggu lagi dia diizinkan meninggalkan tempat tidurnya.

“Kudengar kamu gak punya ingatan lagi,” lanjutnya diikuti cengiran di sudut mulutnya. Dalam pandanganku, cengiran itu tampak dilakukannya dengan terpaksa. “Bagaimana rasanya amnesia?”

Aku menggendong botol infusku sambil mendekat ke ranjangnya. Aku tahu karena diberitahu kalau sebelum ini kami adalah karib, tapi berhadapan dengannya sekarang artinya bagiku sama seperti bertemu pertama kali dengan orang baru. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Dan pertanyaannya terdengar tidak tulus, maksudku, dia tidak benar-benar ingin menanyakan hal itu, tapi hanya untuk berbasa-basi, basa-basi yang terdengar sinis. Aku bertanya-tanya, apakah dia juga merasa canggung berhadapan denganku yang tidak lagi ingat siapa dia dan bagaimana interaksi kami sebelum ini?

“Kamu datang sendirian?” tanyanya lagi saat aku sudah berada cukup dekat dengan tempatnya berbaring.

“Bude Ningsih mengantarku…”

“Kamu bisa ingat sama Bude Ningsih,” sambarnya cepat. Sekilas aku bisa melihat matanya membundar.

Aku menggeleng dan ekspresinya kembali lesu. “Maafkan aku, tapi aku akan berusaha untuk mengingatnya…”

“Bude Ningsih?”

“Gak hanya Bude Ningsih, kamu juga… dan semua orang yang kukenal sebelum ini.”

Dia tersenyum, yang ini juga terlihat dipaksakan. “Masih aneh bagiku, bagaimana seseorang bisa gak ingat apapun tentang hal-hal yang pernah dilaluinya, gak ingat sama orang-orang yang pernah dikenalnya…”

“Aku bahkan gak bisa ingat siapa diriku,” potongku. Aku tidak suka ucapannya. Terdengar seolah-olah penyakit amnesia sialan yang menimpaku ini hanya settingan belaka, hanya bohongan.

Dia terdiam. Aku mengikuti jejaknya sampai kakiku pegal berdiri terus, dan sepertinya dia menyadari itu.

“Kamu boleh pergi jika ngerasa gak nyaman. Aku juga akan ngerasa gitu kalau ketemu sama orang asing.”

Aku sangat tahu dan sadar kalau dia sedang menyindirku, tapi ada kebenaran dalam ucapannya yang lagi-lagi bernada sinis itu. Berapa lama pun dulu kami pernah kenal, sedekat apapun hubungan kami dulu, tapi dengan keadaanku yang tanpa ingatan, Dekalvin sekarang adalah orang asing yang baru ketemui beberapa menit yang lalu.

“Aku gak pernah pengen untuk jadi amnesia…,” ujarku lalu membalikkan badan menuju pintu.

“Kamu tahu, hari itu kamu bisa berbalik jika mau…”

Kalimatnya membuatku membalikkan badan lagi menghadapnya.

“Tapi kamu memilih untuk gak melakukannya.”

Keningku mengernyit, tak mengerti ke mana arah pembicaraannya. “Apa maksudmu?”

“Kamu bisa memilih untuk gak jadi amnesia… kalau kamu mau.”

Lipatan di dahiku kian bertambah.

“Pergilah, dan selamat terlahir kembali.”

Aku bisa saja marah dan membela diri karena ucapan-ucapannya terus saja memojokkanku, tapi Dekalvin entah mengapa tampak begitu sedih dan terluka, dan gips di kakinya──yang membatasi pergerakannya──melarangku untuk menambah kesedihannya dengan balik menyerang. Di antara kami berdua, saat ini mungkin dialah yang lebih patut dikasihani, di balik gips itu mungkin saja tulangnya patah atau hancur, siapa yang bisa menjamin kalau dia tak akan pincang saat sembuh? Sedang aku, selain kepala yang berbalut perban, fisikku bisa dikatakan sehat wal afiat, aku hanya tak punya ingatan tentang masa laluku. Hanya tak punya ingatan.

Kudorong daun pintu kamar rawatnya dan kubawa keluar diriku serta botol infusku. Di lorong di kursi tunggu, mama dan papanya yang tadinya keluar saat aku datang tampak sedang serius bicara. Insting menuntun kepalaku untuk kembali menoleh dan menatap ranjang Dekalvin melalui kaca di pintu. Aku tidak tahu mana yang lebih membuatnya sedih hingga harus menangis seperti itu, gips di kakinya, atau amnesia di kepalaku. Tapi yang pasti, aku tak suka menemukannya sedang menangis, dan perasaan tidak suka ini terasa begitu familiar. Mungkin dulu, aku juga tidak suka melihatnya menangis…

***

Aku membawa serta kursi roda ke kamarnya pagi ini. Perban di kepalaku baru saja di ganti, dan seragam pasienku masih menebar bau deterjen. Tanpa selang infus di tangan, secara keseluruhan aku tampak sehat dan bugar. Esok aku sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit, rawat jalanku bersama Dokter Halim akan dijadwalkan setiap Selasa. Peluangku untuk memperoleh kembali ingatanku sama sekali tidak bisa diprediksi. Kata Dokter Halim, semakin lama aku berada dalam kondisi tanpa ingatan ini, maka semakin kecil kemungkinan ingatanku kembali. Ini sudah tiga minggu, harapanku kini kian berubah jadi titik putih kecil di ujung lorong yang gelap.

“Hanya di sekitar taman saja,” kata dokter wanita yang menangani Dekalvin. “Jaga kaki kirinya tidak membuat banyak tekanan dan gerakan dulu.”

Aku mengangguk mengerti sementara Dekalvin dengan dibantu papanya dan seorang perawat lelaki sedang dipapah ke kursi. Ekspresi anak itu sama sekali jauh dari kesan senang, dan masih begitu saat kursi rodanya sudah kudorong di sepanjang koridor. Kupikir dia pasti sudah mendengar kabar kalau aku dibolehkan pulang esok. Kuterka-terka kalau hal itu sedikit banyak juga telah memengaruhi suasana hatinya. Kalau aku di posisinya, aku juga pasti akan bersikap sama mendapati diriku tidak bisa kemana-mana sementara temanku yang dirawat di masa bersamaan bebas pergi ke mana saja sesukanya.

“Aku akan sering menjengukmu.”

“Gak perlu,” balasnya. “Sebenarnya, kamu juga gak perlu melakukan ini.”

“Pas di kamar tadi, kamu bisa nolak kalau memang gak mau, kenapa gak nolak aja?”

Dia tidak menjawab.

Taman rumah sakit ini begitu lengang. Aku berhenti mendorong saat tiba di bawah sebatang pohon kamboja besar berbunga putih. “Dengar, aku sama sekali gak tahu mengapa kamu bisa begitu marah padaku. Mereka bilang sebelumnya kita adalah teman dekat, begitu dekat sampai orang-orang mengira kamu adikku, tapi saat ini, darimu aku tidak melihat tanda-tanda kalau kita pernah berteman dekat…” Kuputuskan untuk mengajaknya membicarakan hal yang paling pokok di antara kami. “Kupikir, kamu bisa membantuku untuk mengingat, tapi sikapmu saat pertemuan paling akhir kita sama sekali gak membantu…”

Dekalvin memerhatikanku dengan matanya yang jernih itu, lekat dan tidak terbaca. Saat-saat begini, rasanya aku ingin memberikan kedua kakiku demi bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkannya.

“Katakan sesuatu, tolong…”

“Kenapa kamu harus hilang ingatan…”

Kalimat pertanyaan yang sama sekali tidak bernada tanya darinya membuatku kesulitan merespon. Yang kulakukan hanya balik menatap ke dalam matanya.

“Kenapa kamu gak luka-luka saja, atau patah tulang sepertiku. Kenapa harus ingatanmu yang pergi?” Dekalvin menerawang ke dahan-dahan kamboja yang merentang rendah di atas kami. “Butuh waktu lama bagi kita untuk dekat kembali, aku berjuang untuk itu dulunya, benar-benar berjuang. Jika posisi kita dibalik, bagaimana perasaanmu saat menyadari kalau semua perjuanganmu musnah dan kamu harus mengulangnya dari awal lagi?”

“Apa maksudmu dengan ‘dekat kembali’?”

Dia memandangiku, “Percuma, kamu gak akan ngerti.”

“Kalau kamu enggak memberitahuku, lalu bagaimana caranya aku bisa mengerti?”

Dekalvin membuang muka dari memandangku, kembali menerawang pada cabang-cabang rendah pohon kamboja. “Kita teman waktu SD, lalu keluargaku pindah, kita pisah. Saat aku kembali lagi ketika SMA, kamu mengacuhkanku untuk waktu yang lama, kamu membenciku, menganggapku melupakanmu saat aku pergi dan tidak mengabari apapun, padahal kenyataannya enggak gitu…”

“Enggak gimana?”

“Aku gak lupa padamu selama kita pisah. Tuhan tahu aku enggak lupa. Tapi kamu menganggapku begitu. Dan aku berjuang untuk akrab lagi denganmu, untuk jadi temanmu lagi, dan Tuhan juga tahu itu enggak mudah.” Dekalvin menatapku. “Dan kini, amnesiamu membuatku memulainya lagi dari nol. Amnesiamu, mengubur semua hal dan kenangan yang sudah pernah kita buat bersama. Katakan padaku, bagaimana seharusnya aku bereaksi sekarang?”

Mengertilah aku kini, anak ini bukan marah padaku, tapi pada keadaan. “Kita bisa membuat kenangan baru,” ujarku.

Dekalvin menggeleng. “Tak akan sama lagi…”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Kamu bisa mendorong kursiku kembali ke kamar sekarang.”

Sepertinya aku harus memperkuat sabarku dengan anak ini. “Dek…” Mata Dekalvin sesaat kutemukan membundar. “Saat di kamar hari itu, katamu aku bisa memilih untuk gak amnesia, apa maksudnya itu?”

Dia menggeleng lesu. “Aku meracau waktu itu,” jawabnya. “Bisakah kamu mendorong kursiku balik ke kamar lagi?”

“Aku masih ingin kita di sini.”

“Untuk apa?”

“Seperti kataku, membuat kenangan baru.”

“Aku pengen Hero yang dulu, bukan Hero yang sama sekali gak punya ingatan sekecil apapun tentangku.”

“Mengapa kamu terus saja menyudutkanku? Sudah kubilang, kan, aku gak pengen jadi lupa ingatan kalau bisa milih.”

Dekalvin menggigit bibirnya, dan matanya berkaca-kaca. Apa bentakanku begitu kentara buatnya? Aku ingin menyentuhnya, tapi kecanggungan menghalangiku. Jadi, aku hanya berdiri kaku di depannya sementara dia mulai menangis diam-diam.

“Maaf…,” ujarku beberapa saat kemudian ketika Dekalvin berhasil menguasai emosinya kembali.

“Kamu tahu, mungkin ini akan terdengar egois… tapi aku benar-benar gak ingin hilang dari ingatanmu, dan sayangnya justru itu yang sekarang sedang terjadi… kamu gak lagi mengingatku, sebenarnya, sekarang kamu bahkan gak lagi mengenalku.” Dan matanya kembali berkaca-kaca. “Dari dulu, dilupakan olehmu adalah ketakutanku yang paling besar…”

Aku terpegun. Kembali aku bertanya-tanya, seberapa dekat aku dan Dekalvin dulunya hingga dia bisa merasa begitu sedih saat aku tidak bisa mengingatnya. “Sedekat apa kita dulu?”

Dekalvin membisu.

“Dek, jawab aku…” Aku jongkok di depannya, memegangi kedua lengannya.

“Dek…!”

Aku dan Dekalvin sama menoleh. Seorang lelaki jangkung berbadan atletis tepat berdiri dua meter dari kami, dan dia kenal Dekalvin.

“Mas Nawi…!”

Ada nada gembira dalam suara Dekalvin saat balas memanggil laki-laki yang baru muncul itu. Laki-laki yang dipanggil Mas Nawi itu mendekat, tatapannya hanya tertuju pada Dekalvin, seolah keberadaanku yang tepat sedang berdiri dengan lututku di depan Dekalvin tak ada artinya sama sekali. Saat dia sudah berada di samping kursi, aku bangkit berdiri dan mundur untuk memberi ruang buatnya.

“Maafkan aku baru bisa pulang sekarang, kuliah lagi sibuk-sibuknya.”

Laki-laki itu membungkuk untuk memeluk Dekalvin, dan yang dipeluk balas melingkarkan kedua lengannya ke punggung orang yang memeluknya. Entah apa yang terjadi dalam diriku, keakraban yang ditunjukkan mereka berdua membuatku iri. Dekalvin bisa begitu hangat pada laki-laki yang baru tiba itu, tapi amat dingin saat menanggapiku karena amnesiaku.

“Harusnya Mas gak usah pulang,” Dekalvin bersuara di dada laki-laki itu.

“Adikku sakit, bagaimana bisa aku gak pulang?”

Tak ada yang memberitahuku kalau Dekalvin punya kakak.

“Aku gak sakit, aku hanya gak bisa lari aja untuk sementara waktu.”

Laki-laki itu terkekeh lalu melerai pelukannya, sekarang dia ganti berlutut di depan Dekalvin. “Wah, lihat, ada manusia semen!” katanya sambil mengetuk kaki Dekalvin yang di-gips dengan jarinya.

Dekalvin tertawa, begitu lepas. Untuk sejenak, aku terpegun melihat dan mendengar dia bisa tertawa begitu. Aku yakin, dulu bersamaku dia juga pernah tertawa selepas itu. Pertanyaannya, kapan aku bisa mengulangi kenangan yang kuyakini pernah terjadi namun tidak bisa kuingat itu?

Kecerian di wajah Dekalvin ternyata tak hanya membuatku sebatas terpegun. Ada yang terjadi di dalam kepalaku, hanya sepersekian detik saja, tapi begitu jelas. Di dalam pikiranku, aku bisa melihat sebuah kilasan wajah Dekalvin, wajahnya yang memamerkan tawa yang sama dengan yang sedang ditampilkannya sekarang di sini. Detik ketika aku mengerjapkan mataku, kilasan itu hilang sama cepat dengan kemunculannya. Apa ini gejala kalau ingatanku akan segera kembali? Kuperhatikan dengan lekat wajah Dekalvin, menunggu senyum atau tawanya muncul kembali. Aku sama sekali tidak keberatan melakukan hal ini, maksudku menatap wajahnya, mungkin ingatanku memang terikat dengan anak ini.

“Mas belum ke rumah ya?”

Laki-laki itu mengikuti arah pandangan Dekalvin, aku melakukan hal yang sama. Satu carier tergeletak bersandar di tiang koridor menuju taman rumah sakit. Dekalvin beruntung punya kakak yang begitu mementingkannya.

“Dari bandara langsung kemari.”

“Pantas saja masih bau keringat.”

Si lelaki kembali terkekeh. “Kupikir keadaanmu parah, karena aku kuatir enggak sempat mendengar wasiatmu makanya langsung terbang ke sini. Eh gak taunya cuma terkilir gini.”

“Keterlaluan!” sungut Dekalvin. “Kakiku patah tauk!”

“Ya ya ya…” Kakaknya mengacak kepala Dekalvin dengan kedua tangan, dan Dekalvin membiarkan saja.

Lalu aku sadar, keberadaanku sama sekali tak ada artinya lagi. Kakaknya sudah menarik Dekalvin ke dunia mereka berdua, dunia adik-kakak yang hangat dan bersahabat. Namun aku tak ingin beranjak.

“Mas Nawi mau mendorong kursiku balik lagi ke kamar?” Bahkan saat bertanya demikian, Dekalvin sama sekali tidak melirikku.

“Aku yang mendorongmu kemari, kupikir aku juga yang harus membawamu kembali ke kamar,” kataku seakan menegaskan keberadaanku pada mereka.

Dekalvin tidak menanggapi, tapi kakaknya──untuk pertama kali sejak kehadirannya di sini──berbalik menghadapku. “Kupikir kamu sudah pergi dari tadi, karena sepertinya kehadiranmu sama sekali tidak dibutuhkan lagi di sini.”

Aku menindih kesal di dada dan berusaha untuk tetap ramah. Bagaimanapun, aku harus menaruh hormat pada kakaknya Dekalvin. “Aku sudah janji pada orang-orang untuk mengembalikan Dekalvin lagi ke kamar, itu tanggung jawabku.”

Kakaknya Dekalvin menyeringai, sangat terkesan mencemoohku. “Masih saja sok jagoan rupanya. Bagaimana kalau kamu pergi saja entah kemana untuk mencari ingatanmu dan aku yang akan mengemban, apa tadi katamu? Tanggung jawab?” dia tertawa pendek, sangat jelas ditujukan untuk mengejekku. “Kayak kamu paham arti tanggung jawab saja…”

“Mas, cukup!”

Apa Dekalvin baru saja membelaku? Nadanya terdengar marah ketika meminta kakaknya berhenti ngomong. Sejenak keheningan menggantung di antara kami sampai Dekalvin kembali bersuara.

“Aku ingin balik ke kamar.”

Dekalvin mulai menggunakan kedua tangannya untuk menggerakkan roda kursi. Aku bergerak dari tempatku berdiri untuk mendorong kursinya, tapi kakaknya mendahuluiku. Aku tampak seperti orang bodoh, berdiri bagai patung sambil menatap mereka bergerak. Saat mereka berhenti di tempat ransel besar itu tergeletak, sangat jelas kulihat tatap bermusuhan yang ditunjukkan kakaknya Dekalvin ketika memandangku sejenak sebelum menyandang ranselnya dan lalu pergi.

Kenapa laki-laki itu bisa terlihat begitu tidak menyukaiku? Bagaimana persisnya pertemananku dengan adiknya sebelum ini? Apa aku membawa pengaruh buruk bagi Dekalvin hingga kakaknya begitu tidak menyukaiku? Tapi papa dan mamanya sangat bersahabat denganku.

Tuhan, aku ingin ingatanku kembali… tolong berbelas kasihlah…

***

“Tidak ada kilasan-kilasan?”

Aku teringat kilasan yang muncul saat aku berada bersama Dekalvin di bawah pohon kamboja seminggu lalu, kilasan saat kakaknya berhasil menarik keluar tawa Dekalvin. Kilasan itu begitu singkat, bahkan kini aku ragu kalau itu adalah penggalan ingatanku yang sudah terhapus, bisa saja itu adalah refleksi harapanku sendiri yang ingin agar hubunganku dan Dekalvin bisa sama hangatnya dengan hubungan Dekalvin dan kakaknya. Bisa saja, itu adalah khayalanku sendiri yang terjadi tanpa kusadari.

“El Rumi?”

Suara Dokter Halim menarikku kembali ke ruang kerjanya. Kugelengkan kepalaku dan dia kembali memperhatikan hasil foto kepalaku. Bude Ningsih duduk tenang di sebelahku, tampak sedang memikirkan sesuatu. Ini kunjungan rawat jalanku yang pertama, aku sudah mengatakan bisa pergi sendiri, tapi Bude Ningsih bersikeras ikut dan membolos kerja. Mungkin dia takut bila aku pergi sendiri maka aku akan membuat rusak motor almarhum suaminya lagi yang baru saja selesai diperbaiki.

“Bagaimana dengan mimpi-mimpi? Apa semingguan ini kamu punya mimpi?”

Aku banyak bermimpi, banyak. Dan semua mimpi itu sama sekali tidak menampilkan diriku yang sudah dewasa, tapi dua anak berseragam merah putih dalam berbagai interaksi. Dugaanku, mimpi-mimpi itu adalah kilasan masa laluku bersama Dekalvin, muncul sebagai manifestasi pikiranku atas ucapan Dekalvin tempo hari yang memberitahu kalau kami teman masa kecil. Aku tidak yakin yang mana diriku di dalam mimpi itu.  “Ada…,” jawabku. Bude Ningsih menolehku. “Mimpi tentang aku dan Dekalvin saat masih SD…”

Dokter Halim mengernyit. “Bagaimana kamu tahu? Kamu bisa mengingat masa SDmu?”

Aku menggeleng. “Aku hanya menduganya.”

Dokter Halim manggut-manggut. “Bagaimana dengan serangan nyeri kepala, apa kamu pernah mengalaminya?”

Aku mengingat-ingat sebentar lalu menggeleng. “Tapi kadang bekas lukanya masih terasa.”

“Itu nyeri berbeda. Ini nyeri atau sakit kepala ketika kamu berusaha mengingat, ada?”

Aku diam.

“Romi?” Bude Ningsih menegur ketika aku tak kunjung bersuara.

“Kamu tidak berusaha mengingat?” tanya Dokter Halim.

“Aku berusaha,” jawabku cepat karena sepertinya orang-orang ini meragukanku.

“Seberapa keras?”

“Cukup.”

Dokter Halim tersenyum bijak. “Cobalah lebih keras lagi kalau begitu.” Lalu dia mulai menulis di kertas resep.

“Apa aku akan lupa ingatan selamanya?”

Dokter Halim masih terus menulis. “Kalau ini temporary amnesia karena traumatic seperti diagnosaku, seharusnya sekarang kamu sudah bisa mengingat meski tidak seluruhnya, El Rumi.” Resep itu disodorkan kepadaku. “Yang kita takutkan, hilang ingatan sementara ini sedang bertransformasi jadi hilang ingatan menetap…”

Hanya satu hal yang terlintas di kepalaku saat mendengar ucapan dokter Halim, ketakutan paling besar Dekalvin.

Dari dulu, dilupakan olehmu adalah ketakutanku yang paling besar…’

Bagaimana jika aku tak akan pernah bisa mengingat dirinya lagi di masa laluku? Bagaimana jika kini aku terlanjur asing buatnya? Apa dia akan berhenti dari menjadi karibku?

***

“Hey, aku akan membantumu mengejar ketinggalan…”

Anak yang hari itu menjengukku saat di rumah sakit, yang tampak lebih ramah dari yang lainnya, langsung bergabung di mejaku──atau yang kukira sebagai mejaku──begitu aku berhasil menemukan kelasku setelah melewati banyak sekali tatap heran dan pandangan ingin tahu di sepanjang koridor.

“Gak lama lagi kita akan ujian akhir, PR-mu banyak sekali. Tapi gak usah kuatir, aku akan membantumu,” lanjutnya bersemangat sambil memperlihatkanku cengirannya yang lebar. Aku jadi ingat cengiran terpaksa Dekalvin hari itu saat aku menjenguknya ke kamar rawatnya.

“Bagaimana dengan Dekalvin? Kamu akan membantunya juga?”

Anak itu mengibaskan lengan dan tersenyum lebar. “Deka itu pintar, kamu gak usah mencemaskannya.”

Apa dia baru saja mengatakan secara tersirat kalau aku bodoh, karena itu aku perlu bantuan sementara Dekalvin tidak?

“Ya ampun… maaf… aku gak bermaksud mengataimu bodoh atau semacamnya…”

Kurasa anak ini bisa membaca pikiran lawan bicaranya. “Gak apa-apa. Aku mengerti kalau kamu gak bermaksud begitu. Kamu perlu membantuku karena aku sama sekali tidak ingat pelajaran kita yang sudah-sudah, kan?”

Dia tersenyum. “Kamu tau, Hero… sekarang kamu jadi lebih sopan dan ramah.”

Apa maksudnya itu?

“Tapi omong-omong, kamu sudah tau kalau Deka sudah keluar dari rumah sakit?”

Aku menggeleng. “Baguslah.” Padahal aku berencana menjenguknya sepulang sekolah nanti. “Kapan?”

“Kemarin.”

“Bagaimana kakinya?”

Better, katanya. Dia terdengar senang di telepon semalam.”

Ya, dia juga terlihat senang hari itu saat kakaknya datang dan pasti akan berubah sinis dan dingin saat bertemu denganku.

Beberapa teman sekelasku──yang satu dua kuingat sebagai orang-orang yang menjengukku di rumah sakit──melewati meja kami sambil melempar senyum atau anggukan kepala. Anak di sampingku bertukar sapa dengan siapa saja yang baru masuk kelas. Aku datang kepagian karena takut butuh waktu lama untuk menemukan kelasku.

“Maryam, gak apa ya kamu sama Ayudhia untuk sementara pindah duduk ke mejanya Deka?” Anak  di sebelahku──yang sampai sekarang belum kuketahui namanya──bicara pada cewek yang baru masuk kelas dan pandangannya langsung tertuju ke tempat dudukku. Aku langsung tahu kalau sudah salah memilih bangku bahkan sebelum anak di sebelahku bicara.

Cewek yang dipanggil Maryam tersenyum. “Gak masalah,” katanya pada anak di sampingku lalu tatapannya kembali tertuju padaku.

“Maaf aku gak tahu kalau ini tempat dudukmu. Tapi aku bisa pindah ke kursiku sekarang, di mana itu?” Aku bersiap-siap bangun.

“Gak usah, Hero. Sekali-sekali aku juga pengen tau gimana rasanya duduk jauh dari papan tulis,” kata maryam sambil tersenyum.

“Ya, gak perlu pindah. Mungkin ada baiknya juga kamu duduk lebih di depan, biar lebih fokus. Seperti kataku tadi, kamu kan harus mengejar kereta.”

“Ayu, tempat duduk kita di belakang ya!” seru Maryam pada cewek agak tomboy yang baru saja masuk kelas. Sejenak kulihat cewek yang dipanggil Ayu tertegun, sepertinya dia tidak menyukai ide pindah tempat duduk.

“Perintah ketua kelas!” seru anak di sebelahku. Aku penasaran siapa namanya tapi terlalu segan bertanya.

Ayu atau Ayudhia mengangguk lalu bergerak kembali setelah tadinya sempat tertegun. “Selamat datang kembali ke kelas, Hero,” sapanya saat hendak melewatiku. “Rambut barumu keren.”

Aku tidak yakin cewek bernama Ayudhia itu serius dengan ucapannya, tapi aku tetap mengucapkan terima kasih atas pujiannya. Saat dia dan Maryam menjauh dari kursiku, bisik-bisik mereka masih sempat ditangkap kupingku. “Sadar gak, dia jadi berbeda sejak amnesia,” kata entah Maryam entah Ayudhia. “Dia cakep dengan rambut pendek begitu. Rambut gondrongnya dulu bikin dia kelihatan kumal,” jawab entah Maryam entah Ayudhia. “Dan ngomongnya jadi lebih sopan, bahkan dia tak sungkan minta maaf duluan.” Sepertinya yang barusan dari mulut Maryam. “Jahat gak sih kalau berharap dia amnesia terus?” Dan lalu mereka mengikik.

“Gak usah dipikirkan. Cewek-cewek memang gitu.” Sepertinya teman sebangkuku yang baru juga ikut mendengar bisik-bisik itu.

“Apa dulu aku gondrong?” Kutatap anak di sebelahku.

“Lumayan. Rambutmu pasti dipangkas di rumah sakit saat mereka menjahit kepalamu waktu itu.”

“Aku merapikannya dua hari lalu di tukang pangkas.”

“Ya, aku bisa lihat itu. Maryam sama Ayu benar, mungkin kamu bisa mempertimbangkan untuk terus berambut pendek,” ujarnya sambil kembali menyengir. “Omong-omong, aku Khiar. Kamu gak ingat namaku, kan?”

Aku tertawa. Khiar ikut-ikutan tertawa.

“Ya ya ya… kamu memang lebih bersahabat saat amnesia begini. Pantas saja mereka pengennya kamu tetap amnesia…”

Perlahan tawaku memudar. “Apa sebelumnya aku seburuk itu?”

Khiar menggidikkan bahu. “Kamu sangat baik kok sama Deka. Banyak yang iri dengan persahabatan kalian. Tadinya kupikir kamu gak akan pernah jadi karib siapapun di dalam kelas ini, tapi Deka tidak menyerah denganmu meski diabaikan. Bisa dibilang, dia yang membuka mata seisi kelas, Deka yang mengubah pandangan semua orang tentangmu…”

Dekalvin, mendadak aku begitu ingin bicara dengannya. Bukan, ini bukan keinginan untuk sebatas bicara, ada perasaan lain yang juga ikut kurasakan. Aku bingun menjelaskannya, itu lebih seperti perasaan saat kau jadi addict kepada sesuatu. Seperti perokok yang merasa gatal bila tak merokok setelah makan, atau seperti junkies yang gelisah saat putus zat. Perasaan ini, sakau akan Dekalvin ini, sungguh membuatku gelisah dan ingin segera berlari menemuinya.

Aku masih ingin menggali banyak hal dari Khiar, namun dering bel tanda dimulainya jam pelajaran pertama mengurungkan keinginanku.

*

Butuh satu jam lebih bagiku untuk menemukan rumah Dekalvin. Harusnya kuiyakan saja tawaran Khiar yang ingin menunjukkan langsung jalannya buatku. Aku tiba di gerbang rumahnya yang setengah terbuka dengan seragam bau matahari dan keringat. Nomor 7C, tepat seperti yang dikatakan Khiar, ada pohon palem di kiri kanan pintu gerbang.

“Kalau aku jadi kamu, aku akan berbalik pulang sekarang juga.”

Setengah kaget kutolehkan kepalaku ke sumber suara. Aku datang ke rumah yang benar. Kakaknya Dekalvin entah baru pulang dari mana. Penampilannya masih sama seperti waktu di rumah sakit : atletis. Ternyata dia masih meliburkan diri dari kuliah. Bukankah hari itu katanya kuliahnya sedang sibuk-sibuknya? Kehadirannya yang mengejutkan itu membuatku urung menuntun motorku lebih jauh memasuki pekarangan rumah Dekalvin.

“Aku ingin bertemu Deka.”

“Dari terakhir kali kalian bertemu hari itu, harusnya kamu sadar kalau Deka gak senang bertemu denganmu. Kamu membawa pengaruh buruk buatnya,” sambarnya.

Aku tak akan percaya. Kata Khiar, justru Dekalvin yang membawa pengaruh baiknya buatku. Tapi… mungkin saja yang dimaksud oleh lelaki ini adalah kecelakaan itu, yang telah membuat adiknya harus di-gips. “Aku menyesal untuk kecelakaan yang dialami Deka karena aku. Tapi aku benar-benar harus bertemu Deka. Dia sahabatku…”

“Kenapa kamu begitu keras kepala? Kenapa gak nyerah saja dan membiarkan Deka hidup damai? Memangnya apa yang masih kamu ingat tentang Deka, hah?” Rahangnya mengeras, “Kamu bahkan tidak becus mengingat dirimu dulu siapa dan seperti apa. Berandal!”

Cukup sudah. Disebut sebagai berandalan membuatku hilang hormat. “Siapa dan seperti apa aku dulu sama sekali bukan urusanmu.”

Kuabaikan kakaknya Dekalvin dan lanjut menuntun sepeda motorku memasuki pekarangan. Namun baru dua langkah, aku harus berhenti lagi. Bahuku dibetot ke belakang.

“Apa-apaan, hah?!?”

Dia menunjuk pintu gerbang yang sudah kutinggalkan sejauh dua meter dengan tangannya yang bebas. “Jangan sampai aku menyeretmu!”

“Silakan saja kalau kamu bisa!” Kusingkirkan tangannya dari bahuku dengan marah dan bersiap-siap bergerak maju lagi. Namun…

PRAAAKKK

Seragamku robek di bahu saat badanku kembali dibetot.

Kutendang standard motor tuaku dan cepat berbalik.

BUUKK

Kakaknya Dekalvin terjajar setengah langkah ke belakang. Perutnya kena jotosku. Tapi sepertinya itu tidak jadi masalah buatnya, dia bahkan sama sekali tidak meringis, apalagi mengaduh kesakitan. Tidak menunggu dan tidak mengelus bekas tinjuku, dia merangsek maju dan kepalannya yang keras tahu-tahu saja sudah berada di depan mataku. Tinju pertama berhasil kuelak dengan memudurkan kepalaku, tinju kedua yang menyasar dadaku kubendung dengan tinjuku sendiri dan jemariku rasanya bagai dihantam palu. Naas, tinju ketiga yang datang begitu cepat ke arah mukaku luput kuhindari.

Giliranku yang terhuyung-huyung hingga nyaris membuat jatuh motor tuaku. Mataku berkunang-kunang sehabis dihantam tinju kakaknya Dekalvin. Belum sempat aku mengontrol diri, tinju berikutnya kembali mendatangiku. Sekarang perutku yang jadi sasaran. Rasanya sakit luar biasa. Namun aku tahu, jika kupaksakan diri untuk memegangi pinggangku yang melilit, lelaki ini pasti akan leluasa menghajarku habis-habiskan karena pertahananku sedang terbuka di mana-mana. Jadi, kuterima sakit bekas jotosannya di perutku dan kusilangkan lenganku untuk melindungi pelipisku dari tinju berikutnya. Berhasil.

Begitu mampu menguasai diri, aku melakukan lompatan dan kuarahkan sepatuku ke perut lawanku. Seakan sudah bisa menerka kalau aku akan mengarahkan tendangan ke perutnya, dengan cerdik kakaknya Dekalvin memutar badan. Tedanganku hanya lewat begitu saja, luput dari menjamah pinggangnya. Laki-laki ini tahu caranya berkelahi.

BUKK

Tulang keringku sakit luar biasa. Dia berhasil mengirim tendangan balasan saat aku menarik kakiku ke posisi kuda-kuda.

“Jangan bilang aku tidak memperingatkanmu!”

BUKK

Aku terhuyung-huyung. Bahuku baru saja kena jotosan.

“Sialan!” rutukku.

Aku menerkamnya. Kuabaikan tinjunya yang berkali-kali menjamah badanku. Begitu berhasil mengunci badannya dengan kedua lenganku dengan pengorbanan yang menyakitkan berupa hantaman bertubi-tubi yang harus kuterima di sekitar pinggang dan sisi kiri-kanan badanku, kuhantamkan dahiku ke mukanya sekuat tenaga.

PAAMM

Kami jatuh bergedebukan. Hidungku sepertinya berdarah, kulihat hidung kakaknya Dekalvin juga berdarah.  Hanya sesaat setelah terkapar, kami sama-sama segera bangun dan hendak saling menghajar lagi. Namun kruk itu lebih dulu datang menggebukku dan kakaknya Dekalvin bergantian.

“Kalian pikir kalian jagoan, hah!”

BUKK BUKK

“Rasakan ini!”

BUKK BUKK

“Arrghh!” aku mengaduh sambil memegangi lenganku yang sakit dihantam kruk.

“Dek, sakit!” Kakaknya Dekalvin sedang menggosok-gosok pinggangnya.

Berkaus dan bercelana selutut, Dekalvin berdiri marah di depan kami. Satu kruk di bawah ketiak kirinya, satu lagi kruknya──yang tadi dipakainya untuk memukuli kami──sekarang tergeletak di bawah. Sepertinya benda itu terlepas dari tangannya saking bersemangatnya dia mengayunkannya ketika menghajarku dan kakaknya barusan. Dia memelotiku dan kakaknya bergantian dengan dada naik turun.

“Kalian pikir kalian siapa, hah?”

Tak ada yang menjawab. Kakaknya mendiamkan diri sambil masih mengelus pinggang, entah karena masih sakit entah karena tidak tahu harus bertingkah seperti apa untuk menanggapi kemarahan adiknya.

“Tingkah kalian kekanakan sekali, tau gak!”

“Dia yang mulai,” ujar kakaknya.

“Dia yang membuat bajuku robek lebih dulu,” balasku tak terima.

“Hebat…” Dekalvin membungkuk, berusaha menjangkau kruknya. “Gak ada yang dewasa ngaku salah duluan dan minta maaf.” Dia kepayahan mengambil kruknya.

Aku mendekat, ekor mataku juga sempat melihat kakaknya mendekat. Kali ini aku tak mau mundur. Kruk itu berhasil kuraih dan kusodorkan buat Dekalvin. Anak itu menatapku sejenak sebelum menerima kruknya.

“Maaf,” ujarku lirih.

“Bukan padaku…”

Setelah menempatkan kruknya di bawah ketiak kanan, dia mulai bergerak menuju rumah. Kakinya sudah tidak di-gips, terlihat bagus, bahkan sudah bisa dibawa melangkah meski tetap harus dibantu kruk. Mungkin seminggu lagi dia sudah tidak membutuhkan kruk lagi. Aku merasa gembira hingga sejenak lupa kalau hidungku masih berdarah.

Di depan teras, Dekalvin berhenti dan berbalik. “Ngapain masih di pekaranganku? Pulang sana! Apa masih kurang kuhajar, hah!”

Baiklah, sekarang di mengusirku. Setidaknya aku sudah mengetahui keadaannya. Dia akan segera sehat dan akan segera masuk sekolah. Aku tidak perlu memaksanya untuk menerimaku hari ini, lagipula suasana hatinya sedang tidak baik, dan bekas hajaran kruknya masih perih di kulit lenganku. Aku tidak datang ke sini untuk dihajar kruk hingga dua kali.

Kudekati motorku, kutendang standard dan kutuntun menuju gerbang. Aneh, kenapa kakaknya juga ikut menuju gerbang? Apa dia bermaksud melanjutkan pertarungan kami di luar pekarangan, di jalan? Aku mulai was-was. Aku sadar kalau kemampuannya berkelahi jauh melebihiku. Kalau tadi Dekalvin tidak muncul dengan kruknya, kondisiku pasti lebih babak belur lagi dari sekarang.

“Aku tidak ingin berantem lagi…,” kataku sambil terus menuntun motorku dengan sikap waspada.

Kakaknya Dekalvin menolehku. “Caramu berkelahi payah sekali, khas preman setengah jadi. Aku juga enggan berkelahi lagi denganmu, buang-buang waktu saja…”

“Kalau begitu kenapa masih mengikutiku?”

“Kamu tuli ya? Bukannya Deka meminta kita pulang?”

Aku mengernyit. Ada fakta yang keliru di sini. “Bukannya rumahmu dan rumah Deka itu sama?”

Sekarang laki-laki di depanku yang mengernyit. “Yah, sekarang aku sudah seratus persen yakin kalau amnesia itu sungguhan nyata.”

“Kamu bukan kakaknya Deka?” todongku.

“Deka anak tunggal, Bodoh!” dia mendorong kepalaku dengan tangannya. “Kenapa tidak coba benturin kepalamu ke tembok? Mungkin dengan begitu ingatanmu akan pulih kembali…”

Aku terdiam, sama sekali tidak berminat meladeni perlakuannya. Pikiranku sibuk tertuju pada Dekalvin, pada kedekatan Dekalvin dan laki-laki yang sempat kukira sebagai kakaknya padahal bukan. Jika bukan kakaknya, mengapa laki-laki ini begitu sangat peduli pada Dekalvin sampai rela berbolos-bolos dari kampusnya──yang dari percakapan mereka tempo hari bisa kuterka berada jauh di suatu tempat yang mengharuskannya menempuh jalan udara──agar bisa pulang dan melihat kondisi Dekalvin? Apa selain aku, laki-laki ini juga adalah teman paling dekat Dekalvin? Sedekat apa mereka? Apa lebih dekat dari hubungan perteman Dekalvin denganku?

Aneh… mengapa aku merasa tidak suka memikirkan kalau hubungan laki-laki ini dengan Dekalvin lebih dekat ketimbang hubunganku dengan Dekalvin? Apa dulunya aku juga tidak suka pada hubungan mereka?

*

Bude Ningsih memarahiku habis-habisan sepulang dari pekerjaannya mencuci di warung makan dan mendapati wajahku memar dan seragamku di ember cucian kotor robek-robek.

“Apa kamu ndak ada kapok-kapoknya, Romi… Apa manfaatnya berantem?”

Aku tidak menjawab, hanya duduk di kursi dapur mendengarkan sementara dia merendam cucian.

“Yang sudah kamu peroleh sekarang apa belum cukup membuat jera? Itu kepalamu masih belum pulih apa ndak ingat juga? Sebelum berkelahi mbok ya ditimbang-timbang dulu untung ruginya…”

Yah, dalam kasusku kali ini memang sama sekali tak ada untungnya.

Sepertinya Bude Ningsih capek sendiri. Tak terdengar lagi repetannya dari arah kamar mandi di belakang. Sesaat kemudian aku mendengar dia membuang ingus. Aku bangun dari kursi dan menjenguk ke belakang. Bude Ningsih yang sedang berjongkok membelakangiku dengan ember cucian di depannya kutemukan tengah mengesat matanya. Tuhan, apa dia menangis karena aku?

“Bude…”

Wanita itu buru-buru mengucek cucian. “Kamu sudah makan?” suaranya terdengar bergetar.

“Sudah.” Aku bergerak meraih timba dan mulai mengisi ember untuk air bilasan. “Romi minta maaf kalau sudah bikin Bude sedih,” ujarku sambil terus menimba dari sumur.  Sepertinya ucapanku malah membangkitkan kembali kesedihannya. Sekarang dia benar-benar tidak menyembunyikan lagi tangisnya. Aku urung lanjut menimba untuk mengisi bak mandi dan ikut berjongkok di sebelah Bude Ningsih. Kurangkulkan sebelah tanganku ke pundaknya. “Maafin Romi, Bude…”

Busa deterjen di tangan Bude Ningsih pasti ikut tertinggal di rambutku saat dia mengusap kepalaku. “Bude ndak tahu harus bilang apa ke papamu, Nak. Sampai sekarang dia belum tahu apa yang terjadi padamu…”

Papa? Kupikir aku sudah yatim piatu. Tak ada yang memberitahuku kalau ayahku masih hidup. Kupikir, aku cuma punya Bude Ningsih saja sebagai satu-satunya kerabat yang tersisa.

“Di mana dia?”

***

Aku bisa melihat kemiripan diriku dengan pria di seberang meja kami. Bude Ningsih masih sibuk mengesat matanya. Aku yakin beberapa menit tadi dia menangis saat menceritakan keadaanku pada ayahku. Sebaiknya Bude bicara lebih dulu dengan papamu, nanti kamu menyusul masuk. Nyatanya aku tidak menyusul seperti yang diminta, kecanggungan dan kebingungan membuat kakiku diam lebih lama di luar ruangan hingga Bude Ningsih harus menjemputku dengan mata merah.

“Bagaimana keadaanmu, Nak?” tanyanya sambil menjabatku.

Masih canggung rasanya menyebut pria kurus di depanku dengan papa karena amnesia ini, tapi dia memang ayahku bagaimanapun keadaannya kini, tak peduli lidahku canggung dan sudah lupa pernah memanggilnya papa, aku tetap harus memanggilnya begitu sampai kapanpun.

“Papa menunggu-nunggu kamu dan Deka menjenguk lagi ke sini… Papa tidak tahu apa yang menimpa kalian sampai hari ini. Maafkan Papa tidak bisa menemanimu saat di rumah sakit…”

Jadi, Dekalvin tahu kalau ayahku seorang narapidana? Aku berdeham, kutatap tanganku yang baru saja berjabatan dengan tangan papaku, jabatannya terasa familiar. “Apa aku dan Deka sering kemari?”

“Tiga sampai empat kali sebulan…”

Cukup sering. “Aku gak bisa mengingatnya…”

Ayahku tersenyum ramah. “Tidak apa-apa, tidak apa-apa…,” ujarnya sambil menepuk-nepuk punggung tanganku di atas meja. “Kalau sudah saatnya, Nak, kamu pasti akan mengingatnya, ini hanya masalah waktu.” Sepertinya hanya papaku yang paling baik dalam menerima amnesiaku. Entah karena emosinya benar-benar stabil, atau dia menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya dariku.

Bude Ningsih menyodorkan rantang yang diisinya dari warung tempatnya bekerja──Bude Ningsih memberi tahuku kalau aku juga sebelumnya bekerja paruh waktu di sana sebagai pelayan. Rantang itu berisi nasi putih, daging rendang dan pepes teri. Aku melihat sendiri saat Bude Ningsih mengisinya di warung.

“Mbakyu kenapa repot-repot begini,” ujar Papa dengan nada malu menerima rantang yang disodorkan Bude Ningsih.

“Hanya nasi. Kau bisa makan di sini dengan Romi. Dia juga belum makan. Sepulang sekolah dia langsung menjemputku ke warung.”

Aku tidak merasa lapar, tapi saat ini aku tidak mau mengecewakan mereka berdua. Jadi kuterima anak rantang yang disodorkan Bude Ningsih ke tanganku.

“Sebaiknya Mbakyu juga ikut makan bersama kami,”

Bude Ningsih menolak, tapi aku memaksanya. Kami, keluarga kecil yang tidak akan pernah menjadi utuh lagi, akhirnya makan bersama di ruang jenguk penjara. Aku tidak tahu bagaimana dulu, tapi kupikir, ini pertama kalinya aku makan bersama ayahku di penjara.

***

Senin. Aku masuk kelas dan menemukan Dekalvin di bangku yang lebih dua minggu kemarin selalu ditempati Maryam dan Ayudhia. Dia… bagaimana aku mengatakannya? Apakah hal yang wajar bila seorang cowok memuji fisik sesama cowok? Tapi, Dekalvin benar-benar terlihat tampan hari ini. Tidak, ini bukan karena aku sudah lama tidak melihatnya, tapi dia benar-benar terlihat lebih cakep dari terakhir kali kulihat.

Setelah sempat terhenti di depan pintu selama beberapa detik, aku bergerak menuju tempat dudukku yang sebenarnya. “Hai…,” sapaku sambil kuletakkan tas sandangku di meja.

“Mungkin ada baiknya kamu tetap sebangku dengan Akhiar, saat ini aku juga sama ketinggalan pelajaran sepertimu, bahkan aku lebih tertinggal dar─”

“Aku akan tetap duduk di sini,” potongku lalu duduk di sebelahnya. “dan ngomong-ngomong tentang siapa yang paling tertinggal, kamu tahu kan kalau aku tidak ingat pernah belajar di dua kelas sebelumnya…”

“Aku gak akan bisa membantumu sebaik yang Khiar lakukan.”

“Kenapa gak? Kata Khiar kamu juga sama pintarnya dengan dia. Lagipula…” Aku ragu-ragu, Dekalvin menungguku melanjutkan bicara, tatapannya tertuju padaku. Aku menelan liur. “Umm… lagipula… aku kangen teman sebangkuku…” Aku berkata jujur, saat melihatnya tadi, aku langsung tahu kalau diriku merindukannya.

Untuk sejenak, kutemukan mata Dekalvin membundar cerah. Hanya sesaat saja. “Bagaimana kamu bisa merindukan orang asing? Kamu baru mengenalku saat di rumah sakit, kan?”

“Oh, Dek…” Kuacak rambutku dan kutopang daguku dengan kedua tangan lalu kutatap Dekalvin yang berada dalam jarak cukup dekat denganku saat ini.

“Apa…”

Sepertinya anak ini kikuk kupandangi begitu. Dia mulai membetulkan letak dasinya yang sudah rapi dan berhenti beradu pandang denganku. “Kapan kamu akan berhenti marah padaku?” Dia terpegun. “Kalau amnesia ini berlangsung selamanya, apa selamanya kamu akan marah?”

Dekalvin mendiamkan diri.

“Sini…” Dia kaget saat tangannya kupegang. “Tinju aku di sini,” kataku sambil menunduk dan kuletakkan tangannya di belakang kepalaku. “Kali aja ingatanku balik.”

“Jangan gila,” katanya sambil menarik tangannya dari kepalaku.

Ide gila terlintas di dalam kepalaku. Benar-benar gila sampai Dekalvin mengaduh kesakitan.

“Apa-apaan???” katanya sambil mengelus kepalanya yang baru saja berbenturan dengan kepalaku. Bunyi benturannya membuat beberapa teman sekelasku yang baru datang memberi perhatian ke meja kami.

Aku masih ingin mengerjainya. Kuabaikan sakit bekas benturan di ubun-ubunku dan meneruskan maksudku. “Masih belum,” kataku. “Mungkin sekali lagi, yang lebih keras.” Aku memundurkan kepalaku, mengambil ancang-ancang seakan hendak menghantamkan kepala kami lagi.

“Dasar orang aneh!”

Detik dia mengatakan itu, di bawah meja ujung sepatunya menghantam tulang keringku. Cukup keras untuk membuatku mengangkat kakiku, mengelus-ngelusnya sambil mengaduh. Kutemukan raut cemas di wajah Dekalvin.

“Hero, kakimu baik-baik saja?” tanyanya.

“Mungkin aku akan baik-baik saja jika kamu melakukannya di tengkorakku,” jawabku sambil menyeringai.

“Berhenti bertingkah gila.”

“Oke.”

Dekalvin merogoh ranselnya. “Kamu tahu…”

“Sama sekali enggak,” jawabku sambil kuturunkan kakiku dari kursi.

“Aku belum selesai ngomong.”

“Nah, itu juga enggak.”

Dekalvin berdecak dan lanjut merogoh tasnya. “Selama di rumah, aku merenungkan perkataanmu saat di rumah sakit.”

“Aku banyak mengoceh saat di rumah sakit. Yang mana yang kamu renungkan?” Dekalvin memutar bola matanya menanggapi pertanyaanku. Dan melihatnya melakukan hal itu ternyata membuatku senang. Kupikir, dia sudah tidak marah lagi.

“Kalau kamu juga gak pengen jadi amnesia…”

“Kalau ucapanku yang itu yang kamu renungkan, artinya kamu sudah memilih ocehanku yang benar,” ujarku yang dihadiahi pandangan tajam dari Dekalvin. Aku langsung diam dan menunggunya bicara lagi.

“Dan bahwa sikapku padamu sama sekali tidak membantumu mengingat.”

“Aku juga turut menyesal kamu sadar dirinya telat banget…”

BUKKK

“Kenapa aku ditonjok???” protesku sambil mengelus-ngelus bahuku yang baru saja ditinjunya. Tangan kanannya yang tadi meninju kini sudah mengobok-obok isi tasnya kembali. Cepat sekali gerakannya.

“Kalau kamu gak berhenti cerewet, aku akan menonjokmu lagi.”

Aku mengangkat kedua tanganku, menyerah padanya.

Dekalvin berdeham. “Jadi, aku sadar kalau seharusnya aku gak bersikap demikian dan kuputuskan untuk mencoba membuatmu mengingat.” Dia tersenyum sendiri. “Aku akan berusaha mendapatkan kembali Hero-ku yang dulu…,” lirihnya sambil mengeluarkan banyak sekali foto dari dalam ranselnya. Foto-foto itu ditebarkannya di atas meja. “Tadinya kupikir akan menunjukkannya saat jam istirahat…”

“Apa itu?”

Akhiar muncul di mejaku dan Hero. Dan kehadirannya ternyata menebar reaksi berantai. Maryam yang baru masuk kelas bersama Ayudhia mendatangi meja kami tanpa menyimpan tas mereka lebih dulu, atau bisa jadi mereka masih berpikir akan menempati mejaku dan Dekalvin.

“Deka!” seru Maryam.

“Ya ampun… kamu makin putih, Dek. Berendam cairan pemutih terus ya selama di rumah?” Lebih dua minggu ini aku memang mengenal Ayudhia sebagai pribadi yang ceplas-ceplos.

“Gak diragukan lagi,” ujarku menanggapi perkataan Ayudhia. “Aooww…!” Aku memekik, tulang keringku ditendang untuk kedua kalinya oleh Dekalvin. Sepertinya anak ini punya kebiasaan menendang tulang kering orang. Di samping itu, ini juga membuktikan kalau kakinya sudah sembuh hingga bisa dipakai menendang lagi.

“Apa itu Deka?” Darajatul yang baru datang ikut mengerubungi meja kami.

Dekalvin mengumpulkan kembali lembar-lembar foto yang sempat diseraknya di atas meja, padahal aku sangat penasaran dengan gambar-gambar itu.

“Hei, belnya masih sepuluh menit lagi,” kataku mencegahnya.

“Iya, dan kudengar desas-desus di luar hari ini Pak Amir masih sakit. Kita bebas membuat onar di jam pertama,” Kata Darajatul. “Oh my God… Deka kamu makin cute…”

“Dara, please… jangan cubit pipiku!”

Terus terang, aku sendiri saat ini sangat ingin mencubit pipi Dekalvin. Dari yang kulihat hanya dalam beberapa menit dan hanya baru dari sebagian kecil teman sekelasku, Dekalvin disayangi dan disukai semua orang di kelas. Lebih dua minggu ini, mereka juga menunjukkan keakraban yang sama terhadapku, tapi aku ragu kalau dulunya mereka tidak begitu. Lagipula, entah Ayudhia entah Maryam pernah mengharapkan agar aku tetap hilang ingatan. Apa kata mereka waktu itu… ya, aku lebih sopan dan lebih menarik dan lebih ramah saat aku tak punya ingatan tentang hari-hari yang sudah lewat.

Tapi… bukankah Dekalvin pernah mengatakan menginginkan Hero yang dulu? Bahkan tadi, aku masih ingat apa yang dilirihkannya, aku akan berusaha mendapatkan kembali Hero-ku yang dulu…

Bagaimana kalau sikapku tak lagi ramah, bicaraku tak lagi sopan, dan sosokku tak lagi menarik buat dijadikan teman oleh mereka saat kudapatkan kembali ingatanku? Bagaimana kalau… aku balik jadi berandalan seperti desas-desus yang kudengar selama lebih dua minggu ini aku di sekolah?

Kupandang Dekalvin yang masih memegang erat gambar-gambar di tangannya. Anak ini… dia begitu tampak terluka saat mendapati diriku tak lagi mengingatnya. Jadi kupikir… persetan, aku tak peduli apakah orang lain akan menyukaiku atau tidak. Dekalvin seorang saja sudah sangat setimpal. Ya, sangat setimpal, aku ingin ingatanku kembali karena Dekalvin juga menginginkan aku yang dulu. Terserah mereka mau menyukaiku atau tidak, aku tak peduli itu asalkan Dekalvin peduli padaku. Itu sudah cukup.

Bel berdering. Beberapa siswa lagi yang baru masuk kelas ikut mengerubungi meja kami.

Kusentuh pergelangan Dekalvin yang masih memegangi foto-foto. Dia mengangkat wajahnya dan kami bertatapan. “Ayo, bantu aku mengingat,” kataku nyaris berupa bisikan.

Sejenak Dekalvin tertegun, lalu dia tersenyum padaku. Senyumnya ini, adalah senyum yang sama seperti yang kulihat di taman rumah sakit ketika laki-laki yang kukira sebagai kakaknya datang mengacaukan pembicaraan kami dan menarik Dekalvin ke dunianya. Saat ini Dekalvin mestilah sedang bahagia.

Kemudian mataku terpaku pada sudut-sudut bibirnya yang tertarik membentuk senyum. Waktu seperti diperlambat, dan kilasan-kilasan itu memenuhi kepalaku. Kilasan-kilasan wajah Dekalvin yang menampilkan senyum itu, senyum yang persis sama itu…

‘Coba saja datang ke rumah setelah Mas Nawi lulus, mungkin aku akan berubah pikiran…’

Sekarang kilasan wajah tersenyum yang lebih lebar, wajah Dekalvin yang sedang memperlihatkan cengiran lebarnya…

‘Aku bosnya, aku yang mengatur nasibku sendiri. Dihajar, atau tidak dihajar. Anggap saja aku memolopori bully yang lebih santun dan beradab…’

Lalu kilasan itu berganti begitu cepat, aku melihat garis senyum yang sama di wajah seorang anak. Wajah Dekalvin saat masih sekolah dasar…

‘Romi, ayo…! gowes lebih kencang, gak malu sama badanmu?’

Senyum di wajah anak yang sama lagi, wajah Dekalvin pada usia enam atau tujuh tahun.

‘Yang di dekat mamamu itu mamaku, mereka kayaknya berteman deh, kayak kita…’

“Hero…, hei… kamu baik-baik saja?”

Gambar di kepalaku beralih menampilkan wajah Dekalvin dewasa lagi, masih dengan senyum yang sama. Di dekat wajah yang tersenyum itu, samar-samar menyembul wajah ayahku. Kilasan itu, pasti adalah memoriku saat kami menjenguk ayahku di penjara.

‘Romi sudah gak doyan berantem lagi, Om… kayaknya dia ketularan sifat penakutnya Deka…’

“Hero, hei…”

Aku mengerjap. Pergelanganku sedang digenggam Dekalvin. Di sekelilingku, wajah-wajah cemas menatapku.

“Kamu tidak apa-apa?” yang paling terlihat cemas adalah wajah Dekalvin.

“Ak… aku… sepertinya… aku… aku mengingatmu…”

Hening.

“Kita berdua menjenguk Papa di penjara. Aku ingat itu…”

Dekalvin mengerjap lagi, tapi ekspresinya terlihat gembira. Lalu dia mulai sibuk mengocok gambar-gambar di tangannya, mencari-cari. Teman-temanku yang lain masih mengerubungi dalam diam.

“Ini…” Dekalvin memperlihatkan selembar foto.

Aku melihat wajahku di dalam foto itu. Rambutku gondrong, aku sedang tertawa. Di tengah-tengah adalah wajah tirus ayahku, sedang tersenyum. Dan wajah Dekalvin dengan senyum seperti yang kulihat dalam kepalaku barusan berada di urutan selanjutnya dalam foto. Foto itu pasti diambil dari jarak dekat dengan kamera ponsel, hanya wajah kami yang terlihat.

“Kamu ingat?” tanya Dekalvin.

Kupandangi foto itu lekat-lekat, dan kilasan itu muncul begitu saja di dalam kepalaku.

‘Ayo, kita berfoto sebelum pulang… nanti ditempel di kamar…’

Suara itu menggaung di dalam kepalaku, suara Dekalvin saat mengajak kami berfoto.

“Papa bilang ingin menyimpan hasil cetak foto itu satu untuknya di sel,” ujarku.

Dekalvin tertawa tertahan, matanya berkaca-kaca. “Kita membawakan foto ini buat Om saat kita menjenguknya lagi, kamu ingat?” genggamannya di pergelangan tanganku kian mengerat, anehnya aku tidak merasa sakit, alih-alih aku malah merasa nyaman, dan kuat.

‘Foto ini pasti akan bagus di dinding sel Om…’

‘Deka akan bawain foto yang lain kapan-kapan. Om pengen punya foto kecil Romi?’

‘Oh, please, Dek… jangan─’

“Jangan foto karnaval itu…”

“Ya!” Dekalvin berseru. “Kamu bilang gitu hari itu…” Lalu dia mencari-cari lagi di tumpukan foto. “Ini… kamu ingat?”

Itu adalah foto masa kecilku dan dekalvin, dia berpakaian adat Bali sementara aku DKI Jakarta. Aku tersenyum melihat lidah kami yang terjulur, dan merasa bahagia menemukan tangan kami yang bergandengan di dalam foto.

“Mamaku meminta kita menjulurkan lidah sementara Tante memotret kita…,” ujarku.

Dekalvin lagi-lagi memperdengarkan tawa tertahan dan matanya makin berkaca-kaca.

“Ayo, Hero… kamu pasti bisa…” Akhiar yang berdiri di belakangku menepuk-nepuk bahuku.

“Tetap ramah kalau amnesiamu sudah sembuh yah…” Ini suara Ayudhia.

“Jangan gondrongin rambut lagi, kamu cakepnya kalau cepak gini…” Yang ini suara Maryam.

“Tetap berhenti merokok,” kata Darajatul. Aku belum ingat kalau dulu aku perokok, desas-desusnya hanya menyebutkan kalau aku berandalan, preman. Tapi harusnya aku sudah tahu, kan? Merokok adalah perangai para berandalan.

“Yang paling penting, jangan amnesia lagi,” cetus seseorang lain dalam kerumunan yang ditingkahi tawa pendek yang lainnya.

Dekalvin ikut tertawa, dan tawanya menular padaku. Disodorkannya foto-foto itu ke tanganku. “Kamu pulang juga, akhirnya…”

“Ingatanku menunggumu untuk dibawa pulang kembali…,” balasku jujur.

Kuterima foto-foto dari tangan Dekalvin. Dan mulai kuperhatikan satu persatu. Hampir keseluruhan foto itu menampilkan aku dan Dekalvin semata. Lokasinya di mana-mana. Di sekolah, di rumah, di atas motor tuaku, di warung yang kukira sebagai warung tempatku dan Bude Ningsih bekerja, di kamar berlatar belakang meja belajar yang pasti milik Dekalvin, di kelas, dan tentunya di penjara. Kutemukan wajah Bude Ningsih di salah satu foto, wajah wanita yang kuyakini sebagai mamanya Dekalvin di salah satu foto yang lain, dan wajah papaku di foto yang hanya menampilkan kami berdua tanpa Dekalvin.

“Aku paling suka foto ini…”

Aku berhenti pada selembar foto yang dikatakan Dekalvin sebagai foto yang paling disukainya.

“Aku suka semua foto-foto ini, tapi yang satu ini punya arti lebih,” lanjut Dekalvin. “Aku jadi suka memanggilmu Hero gara-garanya…” Dekalvin menyengir.

“Ya kah?”

Kuperhatikan foto yang menampilkan sosokku dan Dekalvin sebatas dada. Dekalvin mengenakan oblong hitam polos berleher huruf V yang tampak baru, sedang kemeja lengan pendek warna putih yang kukenakan terlihat tua dan lusuh. Aku ingat sempat melihat kemeja itu ada di dalam lemariku tadi pagi, lebih lusuh dari yang terlihat di dalam foto. Pakaian yang aku dan Dekalvin kenakan memang terlihat begitu kontras, tapi ekspresi di wajah kami tampak begitu padu dan sama. Kami tidur beralaskan rumput, posisi tangan kananku memberi tahu kalau akulah yang mengambil foto itu. Di dalam foto, tawaku dan tawa Dekalvin sama lebarnya hingga nyaris menenggelamkan mata kami di dalam kelopak mata masing-masing.

“Kalian mesra sekali… aku iri…”

Ucapan centil Maryam tidak mampu menarik konsentrasiku dari letupan ingatan di batok kepalaku.

‘Kucing itu pada akhirnya mati juga, aku hanya menunda kematiannya selama beberapa hari. Kakinya yang remuk kelindas ban motor ternyata cukup parah. Tapi anak yang punya kucing sudah terlanjur manggil aku Bang Hero sejak hari aku memindahkan kucingnya dari tengah jalan sebelum digilas ban lainnya…’

‘Jadi, sejak itu kamu jadi Hero?’

‘Taufan pasti doyan nonton kartun Marvel…’

‘Siapa Taufan?’

“Taufan itu yang punya kucing…” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku.

“Ya,” cetus Dekalvin girang. “Kita mengambil gambar ini di hari kamu nyeritain cerita anak kucing ketabrak itu, anak kucing milik Taufan…”

Aku tersenyum pada Dekalvin. “Iya, Dek… sepertinya aku ingat hari yang kamu maksudkan itu…”

Kembali aku mengamati sisa-sisa foto di tanganku sampai kutemukan satu foto lagi, fotoku, candid, seorang diri, sedang merokok di atas motorku, dengan seragam abu-abuku yang tersibak robek, dan wajah memar. Satu kilasan mendadak saja muncul di kepalaku. Bukan kilasan tentang saat foto itu diambil Dekalvin tanpa kusadari, tapi kilasan lain yang lebih menyakitkan…

‘Hero, sebaiknya kita berbalik saja. Kamu sudah janji gak bakal berantem lagi…’

‘Gak, Dek. Aku mau bikin tuntas urusanku sama preman sialan itu hari ini juga. Gak usah kuatir, mereka cuma berdua. Kamu di atas motor saja, aku bisa ngurus mereka kok.’

‘Mungkin teman-teman Ipang yang lain sedang sembunyi di suatu tempat. Ayo pulang lewat jalan lain saja…’

Lalu di dalam kepalaku, kulihat diriku dikeroyok oleh sedikitnya lima orang, Dan seseorang baru saja menendang kaki Dekalvin. Aku melihat Dekalvin terguling sambil merintih sakit. Aku melihat diriku tersungkur ke tanah setelah seseorang menendang perutku, bisa kurasakan bau seperti anyir darah di mulutku. Aku melihat Dekalvin mengiba, tanpa bisa bangkit berdiri. Aku melihat mereka merampas tasnya, menjarah apapun semau mereka. Aku melihat buku-buku Dekalvin berserakan di tanah, dipijak-pijak hingga hancur.

Rasa sakit seperti menjalar di seluruh tubuhku saat ini. Aku ingin memutus koneksi sarafku ke memori ini, tapi kilasan ingatanku kali ini seperti memaksaku untuk tetap berjibaku dengannya. Memaksaku untuk menerimanya tak peduli aku suka atau tidak, tak peduli saraf-sarafku mengirim stimulus berupa rasa nyeri ke sekujur badanku.

“Hero, kamu baik-baik saja?” seseorang seperti menggerak-gerakkan tangannya di depan wajahku, tapi aku melihatnya hanya sebatas gerak semu semata. Kilasan itu masih terus berlangsung di dalam kepalaku.

“Hero…”

Aku juga tahu kalau Dekalvin baru saja memanggilku, menepuk-nepuk pipiku perlahan. Tapi hal itu sama sekali tidak bisa mengalihkan perhatianku.

Di dalam kepalaku, kini kulihat Dekalvin menangis, wajahnya dipenuhi memar. Lalu sakit luar biasa menghantam batok kepalaku di bagian belakang…

“Arrrgghh…!!!”

Reflek kutekapkan kedua tanganku ke bagian belakang kepalaku, tempat rasa sakit luar biasa baru saja muncul di sana, pandanganku bahkan berkunang-kunang.

“Hero, ya Tuhan… apa yang terjadi denganmu?”

Tangan Dekalvin memegangi kedua lenganku. Saat kupandangi wajahnya, kecemasan luar biasa tampak di sana.

“Kamu nangis?”

Pada detik Dekalvin bertanya begitu, setitik air merembes keluar dari ujung mata kananku. Rasa sakit yang timbul secara misterius di bagian belakang kepalaku perlahan-lahan sirna. Dan aku merasa bagai baru saja keluar dari dalam kolam setelah tenggelam beberapa lama di dalam airnya. Sekonyong-konyong kepalaku seperti penuh, seakan semua ingatan yang sempat pergi dari sana berbondong-bondong kembali ke dalam, mengisi setiap sulkus yang ada di otakku.

“Dek, apa yang terjadi dengannya?” Sepertinya aku bengong terlalu lama, bahkan Akhiar terdengar cemas.

Dekalvin menggeleng, namun tatapannya tetap terkunci ke mataku.

Aku mengerjap satu kali. “Harusnya aku mendengarkanmu, Dek…” Suaraku terdengar parau. Dekalvin mengernyit tak mengerti. “Harusnya hari itu kita berbalik dan nyari jalan pulang lain… maaf, mereka menyakitimu gara-gara aku…” Lalu kutubruk Dekalvin, kupeluk badannya seerat yang kuinginkan, seperti yang sudah sering kulakukan dulu.

Dekalvin ragu-ragu ketika balas melingkarkan lengannya di punggungku, namun saat dia sudah melakukannya, dia membalas pelukanku sama eratnya. Ini juga seperti yang sudah sering dilakukannya dulu. “Kupikir kita tak akan pernah berpelukan lagi…,” bisiknya di kupingku.

“Welcome back, Bro…” Akhiar menepuk-nepuk bahuku.

Dekalvin menarik diri dariku, senyum merekah di bibirnya dan kusadari kalau hal yang sama juga sedang terjadi padaku.

“Jadi, amnesiamu sudah sembuh ya?” tanya Maryam.

“Sepertinya sudah,” jawabku.

“Apa kamu bakal balik jadi ‘Hero’ yang kayak dulu lagi?” lanjut bertanya Ayudhia sambil memberi tanda kutip dengan dua jarinya saat menyebut namaku.

Aku diam sejenak, membuat mereka yang mengerubungiku menatapku serius. “Mmm… kupikir… aku akan tetap merokok,” ujarku. Beberapa wajah menampilkan rona kecewa. “Dan aku juga berpikir… kalau aku suka rambutku yang sekarang…,”  lanjutku. Beberapa wajah itu kini menampilkan senyum.

Kulirik Dekalvin yang tepat berada di depanku, aku ingin menariknya lagi ke dalam pelukanku, membayar waktu yang terbuang karena amnesia sialan itu, tapi orang-orang yang masih berada di sekitarku dan Dekalvin menghambatku untuk melakukannya. Saat akhirnya satu persatu mereka meninggalkan meja kami, Dekalvin memberiku senyum magisnya itu sekalai lagi. Dengan begitu saja aku sadar, bahwa ada keterikatan mahakuat antara hidupku dengan senyum Dekalvin itu. Mungkin ini akan terdengar muluk, tapi rasanya kini aku mulai yakin, bahwa senyum itulah yang telah membawaku dan ingatanku kembali kepada Dekalvin…

***

Entah ada apa dengan senyum itu

Yang kutahu…

Ia mampu membawaku pulang

Ia seperti menemukanku dalam ketersesatanku

Menggandengku sambil berujar,

‘Ayo, kubawa kau ke jalan yang menuju ke rumah…’

Ketika aku tiba di rumah yang dikatakannya,

kutemukan dirimu menunggu di pintu

Bersama semua kenangan tentang kita di kedua tanganmu

Dan kutemukan senyum yang sama di wajahmu…

Rupanya senyum itu milikmu…!

Kini aku takut,

tanpamu…

aku mungkin saja tersesat,

kan?

.

.

.

Tulisan tangan Hero acak-acakan, tapi dapat terbaca dengan mudah. Aku yakin pasti butuh perjuangan mahakeras baginya untuk menulisiku puisi ini. Mungkin ada berlembar-lembar kertas buku yang tersobek, atau beberapa kali jambakan rambut di kepala sendiri, atau keringat yang memercik di dahi, atau kombinasi ketiga kemungkinan itu sebelum akhirnya beberapa baris sempurna itu mengisi kertas yang sudah lumayan kucel di tanganku ini.

Kupandangi sosok yang sedang mendengkur halus di atas dipan satu kasur di kamar kecil tempatku berada sekarang. Gemuruh hujan ternyata hanya mengganggu tidurku. Perlahan kulipat lagi kertas kucel di tanganku dan kuselipkan kembali di antara halaman buku teks miliknya, tepat di tempat semula, seakan kertas itu belum pernah ditemukan siapapun. Tak akan susah bagiku untuk berpura-pura bagai baru pertama kali membaca puisi itu saat nanti dia menunjukkannya padaku, itu pun kalau dia ingat untuk menunjukkannya. Jika tidak pun, setidaknya aku sudah tahu kalau dia pernah menuliskannya.

Kubereskan beberapa kertas buram yang tadi kami pakai saat belajar bersama dari atas dipan sebelum kantuk membuat kami tumbang. Kubiarkan saja satu dua kertas yang terselip di bawah badannya yang tidak berbaju untuk tetap terselip. Kupungut pensil dan penghapus dari lantai semen yang nyaris masuk ke kolong dipan. Tanpa ribut-ribut, kuatur semua itu di meja triplek di dekat dipan.

Setelah semua itu, sama perlahannya dengan saat aku turun dari dipan tadi, kubaringkan diriku untuk kembali berdesak-desakan dengannya di atas kasur. Kulit badannya yang berkeringat menempel di kulit badanku, harusnya dia punya kipas di kamar ini. Aku bergerak menyamping, tidur membelakanginya, bermaksud memberi ruang lebih bagi kulit telanjangnya untuk bernapas. Bagaimanapun juga, ini tempat tidurnya, dia lebih punya hak untuk mendapatkan sedikit tambahan ruang dibanding aku.

Namun ternyata dia tidak sepikiran denganku.

Karena…

Hanya tiga hitungan setelah aku tidur menyamping, dia ikut tidur menyamping. Menempelkan semua bagian depan sosoknya di belakangku. Ketika lengannya menyebrang untuk memeluk hingga ke depan perutku, dengan begitu saja, mendadak kudapati diriku membenci pagi dan kokok ayam jantan milik budenya dengan teramat sangatnya…

Akhirnya, dari dalam dekapan Romeo El Rumi pada dini hari ini, kuucapkan selamat malam kepada semesta…

 

 

 

Mid Agustus 2016

Dariku, yang ganteng luar biasa (kata seseorang)

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com