image

CUAP2 NAYAKA

DISCLAIMER!

Konten khusus dewasa. Tidak diperuntukkan bagi pengunjung di bawah 18 tahun. Segala bentuk resiko yang ditimbulkan sebagai efek membaca postingan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengunjung dan pembaca masing-masing. Pemilik blog dan penulis akan menyangkal tuduhan apapun yang mungkin muncul disebabkan membaca entri ini.

Sekian, tapi, terima kasih kalau pembaca sekalian bersedia membaca entri ini tanpa berusaha menikmati, karena penulisnya juga tidak berusaha menikmati ketika menulisnya.

Wassalam
Nayaka

##############################################

Terkadang, orang yang paling tidak ingin kau temui lagi selama sisa hidupmu, justru akan jadi seseorang yang mengeluarkanmu dari kesulitan di saat-saat tak terduga. Terkadang, orang yang paling tidak kau harapkan perjumpaannya justru berubah menjadi seseorang yang paling kau butuhkan saat kau menjumpainya. Luke Adams adalah orang terakhir yang kuinginkan untuk hadir kembali dalam masa depanku, namun tak bisa kupungkiri kalau kehadirannya yang tak terduga itu ternyata begitu kubutuhkan saat ini.

Hubungan seksual Sejarah kami terjadi lebih kurang satu setengah tahun yang lalu. Ketika aku masih begitu kaya sebagai Unicorn dan bisa bersiar-siar kemanapun semauku tanpa khawatir kehabisan sumber daya. Kami bertemu di The Queens, pada hari kelima dari keseluruhan tiga puluh hari jadwal pelayaran kapal mewah itu di lautan. Luke Adams, dewasa tampan berambut terang dan berotot, hari itu sedang memamerkan semua maskulinitas yang dimilikinya—kecuali penisnya yang tersembunyi satu-satunya pakaian yang dikenakannya—di pinggiran kolam renang.

Para wanita berbikini yang melintas di dekatnya terlihat sangat menikmati keberadaan mereka di sekitar Luke. Mereka menatap Luke terang-terangan, tatapan mendamba mereka tak luput dari perhatianku, sementara reaksi santai dari sosok yang ditatap juga kurekam jelas. Luke tampak menikmati diperhatikan banyak mata wanita. Kesimpulanku yang menyakiti diriku sendiri saat itu adalah, pria jantan yang sedang berjemur itu lebih suka kejantanannya dipompa keluar masuk ke dalam vagina seorang wanita ketimbang ke anus menyesatkan seorang pria.

Tapi, lima belas menit setelah kesimpulan itu kubuat, di pinggiran kolam, kutemukan dia berciuman singkat dengan lelaki muda yang tiba-tiba muncul dan bergabung bersamanya. Aku tersenyum, di balik glasses gelap yang kupakai hari itu, mataku berbinar-binar. Sementara para lady di sekitar Luke merengut masam dengan wajah shock setelah si lelaki muda yang baru datang merusak mood mereka, di sisi kolam berseberangan, aku sedang memperhitungkan seberapa besar kemungkinan diriku bisa menyingkirkan sainganku dan mengambil alih kejantanan Luke darinya?

Well, aku memang tidak berhasil mengambil alih sepenuhnya kejantanan Luke dari Travis—laki-laki muda seumuranku yang selama itu jadi tempat Luke menumpahkan spermanya. Sulit, karena waktu itu Luke mengklaim kalau anak itu adalah soulmatenya. Jujur saja, aku hampir gagal menahan muntahan ketika kata soulmate keluar dari bibir Luke. Yang benar saja. Bagaimana dia masih bisa mengatakan seseorang sebagai belahan jiwanya sementara baru beberapa menit yang lalu penisnya menyodok-nyodok anus pria lain dengan penuh nafsu birahi hingga orgasme?

“Aku mencintainya. Kami berencana menikah setelah perjalanan ini…”

Itu jawaban Luke ketika aku kembali berusaha membujuknya untuk hanya mendatangi dan memberikan penisnya buatku sepanjang sisa pelayaran The Queens dan mencampakkan Travis. Aku memutar mataku saat itu. Tak ada apapun yang bisa kupercayai terkait cinta dan pernikahan, itu semua omong kosong. Maksudku, jika dia mencintai Travis dan berencana menikahinya, bukankah harusnya dia setia pada orang yang disebutnya sebagai belahan jiwanya itu? Namun lihat apa yang dilakukannya denganku, dia memberikan kejantanannya juga untuk kukangkangi. Jadi, di mana cinta dan rencana menikah itu saat dia mendorong masuk batang kemaluannya ke dalam diriku tanpa paksaan? Cinta dan rencana menikah itu berubah jadi lelucon dan ironi semata.

Tapi ternyata, saat itu, untuk seseorang seperti Luke, mudah sekali membuat dia menggantikan soulmatenya. Apalagi bila itu dilakukan oleh seseorang sepertiku.

Travis memergoki kami, tepat di saat penis besar dan panjang Luke menerobos masuk ke dalam duburku di ranjangku. Malam itu adalah malam ke sembilan belas The Queens di lautan. Tak ada yang lebih menggembirakan saat menemukan kalau rencanamu berhasil dengan baik seperti yang kau rencanakan, bahkan sangat baik. Aku memang mengharapkan Travis melihat Luke merajam lubang belakangku, aku yang menuntun Travis untuk diam-diam mengikuti Luke ke kamarku dan memergoki pejantannya itu sedang menunggangiku. Dan tentu saja, aku menikmati melihat mereka cekcok.

“Kau benar, tak ada cinta atau omong kosong apapun semacamnya di dunia seperti ini. Kata Travis semalam, mengapa kita bertiga tidak berhenti berpura-pura saja?”

Itu ucapan Luke saat dia mendatangi kamarku lagi tak sampai dua puluh empat jam setelah Travis memergokinya sedang menyetubuhiku. Aku tersenyum menanggapi kalimatnya saat itu. Luke meninggalkan kamarku setelah membiarkanku menguras isi testisnya dengan mulutku pagi itu. Babak baru persetubuhan kami akan dimulai malam nanti.

Sisa pelayaran itu, setiap malamnya, aku dan Travis berbagi batang kemaluan dan sperma Luke di kamar mereka. Ternyata, threesome dengan Luke dan peliharaannya tidak sekompetitif yang kucemaskan. Lebih-lebih lagi bila selama melakukan hal itu, batang kejantanan Luke lebih sering amblas masuk ke mulut dan anusku ketimbang ke lubang yang dimiliki seseorang yang pernah disebutnya sebagai belahan jiwa itu. Tapi, Travis adalah rekan seks yang baik, terlepas dari fakta bahwa dia telah dikhianati, dia sama sekali tidak mempermasalahkan lubang anus siapa yang disodomi lebih lama oleh penis Luke, atau ke mulut siapa Luke lebih dulu mengarahkan kepala penisnya saat dia hendak ejakulasi. Setidaknya Travis tetap begitu sampai kapal kami berlabuh dan menjungkirbalikkan semuanya…

“Kau akan meninggalkanku demi orang asing yang hanya kau kenal kurang dari sebulan di lautan?” Travis meledak di dermaga.

Aku sendiri terkejut luar biasa. Kupikir, Luke akan menggandeng Travis setelah kami saling mengatakan sampai jumpa. Jujur saja aku memang berpikir itu yang akan terjadi, Luke dan Travis tetap bersama sedang aku pergi bebas melanglang buana seperti sediakala, toh aku sudah amat sangat puas menikmati kejantanan Luke Adams selama kurang dari tiga puluh hari di The Queens. Tapi alih-alih saling mengucapkan goodbye, yang terjadi malah dia mengatakan pada Travis kalau hubungan mereka sebaiknya diakhiri.

“Kau bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku setelah ini, Travis.”

Sementara Luke berusaha membuat keputusannya tidak terlalu menyakitkan buat Travis, kepalaku malah berdenyut-denyut sakit dan alarm yang tidak asing lagi menyala ribut dan berdentang-dentang seperti lonceng gereja di dalam otakku.

“Bullshit…!” Travis menendang koper Luke sampai oleng. “Sebaiknya kalian mati saja!” Travis menatapku penuh marah, meruntuhkan ingatanku tentang partner threesome kooperatif selama sepekan terakhir kami di The Queens.

“Kupikir, kalian perlu waktu berdua.” Aku menelan liur sementara mereka berdua memandangku, Travis dengan tatap kebenciannya dan Luke dengan tatapan lembutnya yang membuatku ketakutan. “Aku… aku,” kuedarkan pandanganku ke dermaga, “aku akan di sana saat kalian selesai bicara.” Kutunjuk acak salah satu spot penuh kursi dan meja di dermaga dengan daguku.

“Ya, enyahlah sebelum aku membunuhmu, Jalang!”

“Travis!” Luke memperingatkan.

“Aku tidak mengharapkan akhir seperti ini, Travis, kalau kau ingin tahu. Tadinya kupikir bukan begini yang akan terjadi…”

“Dasar bajingan!”

“Brent, bisakah kau menunggu di sana saja sementara aku bicara berdua dengan Travis? Aku tidak akan lama.”

Jadi, saat itu ucapan Luke bagiku terasa bagai hembusan angin yang mengembangkan layar kapal. Tak menunggu lagi, kuraih gagang koper dan kuseret benda itu pergi bersama langkahku. Aku tidak sempat menunggu di spot manapun di dermaga untuk mengetahui bagaimana drama Luke dan Travis berakhir, karena aku tidak berhenti melangkah untuk kemudian menunggu seperti yang disuruh Luke, melainkan terus bergerak dengan langkah mantap. Aku merasa lega setelah masuk ke dalam salah satu taksi yang berhasil kucegat di luar dermaga, tanpa menoleh ke belakang. Kurayakan kemerdekaanku saat itu di dalam taksi dengan tersenyum lebar dan membicarakan cuaca dengan si sopir taksi.

Tapi, malam ini, entahlah angel atau demon yang menuntun langkah Luke kepadaku, atau sebaliknya langkahku kepada Luke. Siapapun yang melakukannya, kupikir mereka pantas mengklaim jiwaku…

*

“Sudah kukatakan, kalau aku bukan tunawisma. Kalian seharusnya membantuku, bukan malah ingin memenjarakanku. Aku korban pencurian, seseorang di dept store itu mencuri dompetku! Kau kira aku akan membawa belanjaanku ke kasir jika memang punya niat mengutil? Manajer swalayan itu tak seharusnya menelepon kalian!”

“Manajernya melakukan tindakan benar untuk menyerahkanmu pada kami, tempat mereka sangat sering jadi sasaran tunawisma mengutil,” kata officer yang sedang menginterogasiku sambil kembali mencoba menghubungi nomor yang kudiktekan padanya beberapa menit lalu. Dia terlihat lelah, bosan, dan marah.

Aku sangat yakin kalau dia menganggap ucapanku hanya dusta yang sering dilontarkan tunawisma yang kepergok mengutil di supermarket. Well, aku tidak menyalahkannya. Keadaanku saat ini memang sangat pantas untuk dicurigai sebagai tunawisma. Selain karena tidak bisa menunjukkan kartu identitas apapun—karena aku benar-benar kehilangan semua dokumenku berikut kartu debetku, semua yang melekat di tubuhku sungguh memprihatinkan. Jaket denim lusuh, kaus yang sama lusuhnya, jeans yang belum kuganti sejak kupakai dua hari lalu selama perjalanan kereta yang sambung-menyambung dalam pelarianku, dan belum mandi selama itu juga. Aku benar-benar seperti kotoran. Dan luka setengah kering di pelipisku membuat interogasi ini makin tidak mengenakkan buatku.

“Tidak tersambung. Kau yakin nomornya benar?”

Sialan, di mana Sean saat aku benar-benar hampir masuk ke neraka? “Mungkin ponselnya mati, atau bisa saja dia kehabisan baterai, kan? Nomor itu benar-benar milik adikku, cobalah menghubunginya terus!”

Officer itu meletakkan gagang telepon dengan kesal dan melipat lengan di meja. “Dengar, kenapa kau tidak berhenti berpura-pura dan membiarkanku menyudahi interogasi yang tidak perlu ini? Kita sama-sama tahu interogasi ini akan berakhir seperti apa…”

Aku sangat paham ucapannya. Maksudnya dengan ‘sama-sama tahu’ itu adalah, aku memang tunawisma yang sedang sial dan mungkin perlu mendekam dalam sel untuk beberapa waktu. Mataku membelalak marah pada sosok penuh lemak di depanku. “F*ck you!”

“Hey, jaga ucapanmu!” Telunjuknya menudingku.

“Kalau tidak kenapa? Kau akan menyetubuhiku, hah?!?” Kekesalan membuatku hilang kontrol. “Seperti kau punya penis saja…”

Officer itu menggemelutukkan giginya.

“Brent…”

Aku menoleh ke sumber suara, si officer juga memberi perhatian. Seorang pria berkemeja yang tampak kaya dan meyakinkan tegak berdiri lima meter dari kursiku. Aku tidak mengenalnya. Tapi dia tahu namaku. Kami bertatapan, dan nama-nama berlesatan dalam kepalaku.

Chris, Michael, Jack, Ryan, Lucas, Brad, David, Mike, Liam, Hugh…

“LUKE…!!!”

Aku tak pernah merasa sesenang sekarang ketika bertemu dengan seseorang yang pernah jadi bagian petualanganku sebagai Unicorn.

Pria itu tersenyum, dan kelebatan diriku yang sedang mengoral batang kejantanannya memenuhi batok kepalaku, berselang-seling dengan ingatanku tentang penetrasinya yang keluar masuk tubuhku di sebuah kapal pesiar.

“Officer, aku mengenalnya.”

Luke mendekat dan mengeluarkan dokumen-dokumennya untuk menjaminku. Sementara dia membereskan kekacauan itu, aku sibuk membayangkan sebesar apa ukuran penisnya sekarang.

*

Apartemen Luke menyamankanku. Setelah terlunta-lunta tanpa tujuan dan nyaris jadi gelandangan, berada dalam apartemen Luke seperti menemukan jati diri lagi buatku. Sebelum kejadian Alan Davenport, aku sangat akrab dengan fasilitas seperti ini.

Luke memeriksa luka di pelipisku dengan sabar dan sama sekali tidak bertanya bagaimana aku bisa mendapatkan luka itu. Entah bagaimana dia seakan tahu dan paham bahwa aku tak ingin membicarakan luka itu. Dia mengoleskan krim antiseptik dan memberi plaster luka. Selama dia melakukan itu, aku menikmati wangi tubuhnya yang jantan sepuasku dan sesekali mencuri lirik ke perut dan sekitar pahanya.

“Ehem… aku tidak tahu kalau kau juga menetap di negara bagian ini…”

Luke menatapku dengan mata birunya yang indah. Aku masih terpesona dengan mata itu, sama seperti ketika aku pertama kali menatapnya di The Queens. “Kau pergi buru-buru waktu itu, tentu saja banyak hal yang belum kau ketahui tentangku.”

Luke memang mengatakannya dengan ekspresi bersahabat, tapi aku tetap saja merasakan sindiran dan protes dalam kalimatnya.

“Aku sedang menangani pekerjaan di sini, mungkin selama sebulan. Tapi kalau Deputi yang kutemui tadi di kepolisian bisa membantu melancarkan pembebasan properti lebih cepat, bisa jadi kurang dari itu.” Luke meluruskan posisi berdirinya setelah selesai memeriksa lukaku. Dia memandangku intens sambil melipat lengan di depan dada. “Mengapa kau tak menunggu waktu itu?”

Aku tak bisa menantang mata birunya, jadi kutundukkan kepalaku menekuri kemejanya yang kupakai dan celana pendek longgar yang dipinjamkannya setelah aku selesai di kamar mandi. Di balik celana pendek itu, aku tidak memakai celana dalam. “Apa kabar Travis?”

“Kau tak menunggu karena Travis?”

Kuangkat kepalaku. “Aku tak menunggu karena aku tidak pantas, Luke.”

“Bukan kau yang memutuskan dirimu pantas atau tidak untukku, aku sendiri yang lebih tahu apa yang pantas dan tidak pantas untukku.” Ucapan Luke terdengar marah, tapi kemudian dia mendesah lembut. “Travis baik-baik saja. Dia dan Ben mengadopsi anak.”

Kutatap Luke. “Bagaimana denganmu?”

Luke mengangkat bahu. “Aku benci membuatmu bangga. Tapi, selama ini, aku masih berharap menemukanmu atau seseorang yang sepertimu. Sayangnya, kau limited edition, semuanya, apa yang ada di dirimu dan bagaimana caramu memperlakukanku dan menempatkan dirimu ketika bersamaku… hanya kau yang mampu begitu.”

Belum pernah ada pria yang menyanjungku setinggi itu. Rasa bersalah berputar-putar mengelilingiku.

“Mereka bukan kau, Brent…,” lirih Luke.

Kusimpulkan kalau selama ini Luke Adams sibuk mengencani pria-pria muda yang dianggapnya mirip diriku dan berakhir pada kesimpulan bahwa mereka bukan Unicorn. Kalau kesimpulanku tepat, artinya aku tak harus takut melukai Travis-Travis lain kali ini. Tapi… tunggu… sejak kapan aku mengkhawatirkan itu? Bukankah selama ini aku tak peduli? Aku bahkan tak peduli jika kepergianku meninggalkan luka buat pria yang kukangkangi penisnya, apatah lagi khawatir pada pacar-pacar mereka. Sepertinya ada yang salah dengan kepalaku. Kupikir, ini pasti akibat dibenturkan Alan Fucking Davenport ke wastafel.

Jam bendentang sebelas kali.

“Kupikir kau sebaiknya istirahat, Brent. Ayo, kuantar kau ke kamarmu.”

Aku mengekor di belakang Luke. Ketika kami sudah di kamar, berdiri saling berhadapan dan sama-sama enggan mengucapkan selamat tidur, kutarik lengan Luke agar pria itu memelukku. Luke tidak keberatan. Rasanya nyaman sekali berada di dadanya. Rasanya nyaman sekali ketika tonjolan di depan tubuhnya menabrak perutku. Rasanya nyaman sekali ketika kedua lengannya berada di sekitarku.

Aku mendongak, dan Luke langsung menutup mulutku dengan bibirnya. “Kupikir, aku akan tidur di sini saja, Brent.”

“Kupikir, aku akan menghisap batang penismu sementara kau tidur…”

*

Penis Luke yang keluar masuk mulutku masih seperti yang kuingat, liat, keras, dan mengisi penuh rongga mulutku hingga ke belakang tekak. Luke terlihat senang. Matanya seperti tertawa ketika kulirikkan mataku ke wajahnya. Liurku yang bercampur cairan pre ejakulasi yang keluar dari penis Luke membentuk benang ketika kujauhkan mulutku dari kepala penis Luke yang merah muda dan mekar. Sambil batuk-batuk, kugenggam batang kemaluan Luke dengan kedua tanganku dan kuguncang-guncangkan. Luke melenguh keenakan dan mulai melepaskan kemejanya sendiri sementara kujilati batang zakarnya dengan lidahku.

Aku bangun dari berlutut dan naik ke tempat tidur saat Luke berhasil melepaskan kemejanya. Kupandangi Luke di tepi ranjang yang sedang membebaskan kakinya dari celana dan celana dalamnya yang mahal. Penisnya mengacung pongah melewati pusarnya, testisnya yang dibalut kulit skrotum menggantung seperti dua bola meriam yang saling bersisian. Luke menggenggam batang penisnya setelah menyingkirkan semua kain dari tubuhnya, diurutnya batang kemaluannya itu beberapa saat sebelum dia merangkak naik ke atasku yang sudah lebih dulu telanjang.

“Aku belum sempat beli kondom sejak tiba di sini lima hari lalu,” bisik Luke sementara penisnya menindih batang penisku sambil digesek-gesekkan. “Aku tidak tahu kalau akan bertemu denganmu.”

Aku tertawa samar. Kulingkarkan kedua kakiku ke pinggangnya dan kutabrak-tabrakkan penisku ke perutnya yang berpetak-petak. Luke menyambar mulutku, melumat bibirku untuk waktu yang lama sampai aku harus terengah-engah ketika dia memundurkan wajahnya. Ketika bibir Luke menempel dan mencumbui di sepanjang leherku, kususurkan kedua tanganku melintasi dada dan perut pria itu lalu berakhir dengan menggenggam batang kemaluannya yang panas. Kejantanan Luke terasa mantap dalam genggamanku. Kuputar-putar jariku di mulut penis Luke yang licin precum, pria itu mendesah dan penisnya memberontak keras dalam genggamanku. Selagi Luke menelungkup di atasku sambil menggigiti kulit leherku, kugerakkan jari-jariku di sepanjang batang zakarnya, lebih sering di bagian antara kepala penisnya yang mekar dan batangnya yang lurus panjang.

“Akh… Brent…” Luke melenguh sambil bertumpu lengan di sisi badanku. “Kau hampir membuat air maniku keluar…”

Aku tersenyum lalu berbalik menelungkup di depannya. “Please… f*ck me…” Kubuka kakiku selebar-lebarnya dan kubiarkan Luke menggesek-gesekkan batang kemaluannya yang keras di sekitar mulut anusku sambil mendesis-desis. Rasanya seperti bernostalgia di atas The Queens. Dulu, beginilah persisnya yang kulakukan dengan Luke Adams di atas kapal itu.

Ketika kepala penis Luke menerobos masuk, aku tak bisa untuk tidak memikirkan penetrasi pertama batang kejantanannya ke liang senggamaku satu setengah tahun lalu di atas The Queens. Saat itu kami melakukannya di toilet kasino. Luke yang tidak ditemani Travis malam itu adalah satu-satunya peluangku untuk mendekati dan mengenalkan diriku padanya. Jadi, aku bermain bridge di meja yang sama dengan Luke, berkenalan dengannya dan berusaha menarik perhatiannya sepanjang permainan yang sama-sama berakhir kekalahan bagi kami berdua. Kami merayakan kekalahan di bar kasino, kubiarkan dia yang membayar minumanku, kebanyakan pria memang suka bila dibiarkan tetap menjadi superior. Malam itu aku bertindak benar dengan membiarkan Luke yang mengendalikan perkenalan kami. Saat kupikir alkohol sudah cukup untuk membuat Luke rileks, dan obrolan-obrolan kami sudah cukup untuk jadi pendahuluan bagi sesuatu setelahnya yang melibatkan selangkangan kami berdua. Kutarik lengan Luke agar meninggalkan bar untuk masuk ke toilet pria. Di sana, Luke tidak menolak ketika penisnya kuoral hingga spermanya tumpah di mulutku dan sedikit berceceran ke kemejaku, juga tidak keberatan saat kusarungkan lateks tipis transparan rasa buah ke batang kejantanannya sebelum kududuki. Dan berawal dari sana, The Queens lalu mendadak berubah jadi ladang persenggamaan bagi kami berdua.

Dan sekarang, ladang persenggamaan kami berlanjut di sini. Di ranjang ini. Tepat di sini, penis Luke kembali keluar masuk tubuhku, kali ini tanpa lateks rasa buah apapun. Kulit batang kejantanannya tepat dan langsung bersentuhan dengan dinding liang senggamaku. Membayangkan itu saja sungguh membuatku gila.

Luke mendorong dirinya seperti hendak meremukkanku. Giliran dia menarik batang kejantanannya keluar tanpa benar-benar keluar, sensasi remuk yang sama juga ikut menderaku hingga aku mengerang-ngerang di bantal. Luke sangat paham cara memajumundurkan selangkangannya untuk membuat lawan bercintanya jadi gila. Kadang dia mendorong dirinya begitu perlahan hingga rasanya aku bisa menghitung mili demi mili batang kemaluannya yang menyesakkan lubang di belakang tubuhku itu memasukiku hingga ke pangkalnya. Kadang dia mendorongnya sekuat tenaga dan begitu cepat hingga aku merasa bagai penisnya tak pernah meninggalkanku, bagai batang kejantanan Luke sendiri adalah mikikku sendiri dan sudah tertanam di sana sejak lama. Pun begitu ketika dia menariknya dari dalam diriku, ketika dia melakukannya dengan amat perlahan, aku seperti bisa melihat penisnya keluar mili demi mili dari dalam duburku dalam kepalaku, tergambar jelas hingga ke urat-uratnya yang kebiru-biruan. Dan saat dia menariknya dengan cepat, aku merasa bagai ada benda asing mahakeras sedang melintasi rongga-rongga yang kupunyai pada tubuhku dengan kecepatan luar biasa, seperti kecepatan motor yang dikemudikan pembalap yang sedang marah di sirkuit balapan. Dan aku menyukai Luke karena kemampuannya saat mengeluar-masukkan organ biologisnya itu.

Luke menjatuhkan dirinya di atasku. Dadanya yang keras terbentuk bagus dan lebar menekan punggungku, satu lengannya merangkul leherku, dan satu lagi masuk ke bawah dadaku dan memelukku erat. Pinggulnya masih terus bergerak menusuk-nusukku. Ranjang tak ubahnya sedang dilanda gempa. Luke merajamku dengan kejantanannya bertubi-tubi. Eranganku seakan terdengar sebagai teriakan penyemangat buat Luke. Aku bisa mendengar deru napasnya yang memburu di dekat telingaku. Dan batang penisnya yang besar serta sekeras skeleton terus saja menggesek prostatku tanpa henti, mendorong-dorong spermaku agar keluar.

“Akh… Luke… Luke… Luke… akh…”

Tangan Luke yang di didadaku melintas turun menuju perutku. Telapak tangannya terasa mantap ketika menggenggam batang penisku yang tadinya bagai siap merobek kasur. Aku mengerang, kutekankan penisku kuat-kuat ke telapak tangan Luke dan air maniku tumpah ruah dalam genggamannya, membuat pegangannya licin.

Luke menggeram. Dengan kedua pahanya, didorongnya pahaku agar lebih membuka dan dia menghujamkan kejantanannya dalam tusukan terakhir yang kuat dan dalam. Aku seperti dihantam air bah. Batang kemaluan Luke berkontraksi berkali-kali yang bagiku terasa seperti tak akan pernah berhenti. Pria itu menembakkan air maninya berkali-kali dalam jumlah yang tidak sedikit, aku merasakan sensasi kekenyangan tanpa makan. Penis Luke masih berkedut-kedut. Dia atasku, bisa kurasakan tubuh Luke bergetar samar. Bobotnya sepenuhnya menghimpitku, membuatku nyaris melesak tenggelam ke dalam tempat tidur. Namun itu pun terasa nikmat. Aku tidak keberatan Luke berbaring menindihku sepanjang malam seperti ini.

Pinggul Luke sudah berhenti bergerak, tapi napasnya masih memburu, penisnya juga masih keras di dalam diriku, dan tetap seperti itu hingga napasnya  berangsur-angsur tenang. Beberapa saat kemudian, Luke mengecup kepalaku dan perlahan-lahan menarik penisnya keluar dariku. Spermanya sempat menetes di kulitku sebelum batang penisnya yang basah itu melintang menempel di bokongku. Lalu, aku merasakan sperma yang disemburkan penis Luke ke dalam tubuhku pelahan-lahan mengalir keluar menuju mulut anusku.

Aku menolehkan wajahku, dan Luke langsung mencium bibirku. “Kau baik-baik saja?” tanyanya.

Aku mengangguk dan Luke tersenyum. Dia lalu bertumpu kedua lengan dan mulai menciumi ruam-ruam di punggungku dengan lembut dan penuh perasaan.

Aku menunggu-nunggu dia bertanya tentang ruam-ruam itu sejak kutelanjangi diriku di depannya sebelum penisnya kuhisap, tapi hingga kami selesai bersetubuh, Luke belum juga bertanya.

Luke membiarkanku berbalik, kini dia mengangkangi perutku, penis kami saling menempel. Untuk beberapa saat, kami hanya bertatapan.

Luke meraih tanganku. “Berhentilah menyakiti dirimu sendiri, Brent…” Pria itu mengecup lembut bekas ikatan di pergelangan tangan kananku, mata birunya masih menatapku. “Berhentilah berpura-pura kalau kau bahagia dengan menemukan lalu meninggalkan…”

Aku kehilangan kata-kata.

Luke berguling dari atasku, menelentang dan membuka tungkainya di sebelahku. Lalu seperti rusa yang terluka dan rapuh, aku beringsut ke atas dadanya dan mulai menangisi hidupku yang berantakan. Luke mengecup keningku, mengecup bekas lukaku dan lalu memelukku erat.

“Tak peduli apapun yang sudah kamu lalui di belakangmu, Brent… tak peduli berapa banyak pria yang pernah kau tinggalkan… tak peduli siapapun dirimu sebelum ini… aku ingin jadi destinasimu sekali lagi. Kali ini, kumohon menetaplah bersamaku. Sekali ini, kumohon patuhilah perintahku… jangan pergi. Jangan pergi…”

“Aku tak pantas, Luke…”

“Bukan kau yang memutuskan.”

Dan begitu saja… di dalam pelukan Luke, pria yang pernah kutinggalkan dulu, untuk pertama kalinya, kupikir semesta berhasil menghukumku. Semesta menghukumku dengan membuatku merasakan sesuatu yang selama ini begitu kuremehkan. Aku kini merasakannya, tepat di dalam dadaku, tepat bersinergi bersama setiap tarikan napas dan detakan jantung juga aliran darahku.

Cinta.

Karena perasaan itu, untuk pertama kalinya saat ini, aku ingin berada bersama seorang pria bukan karena aku menginginkan penetrasi penisnya ke dalam diriku, melainkan karena aku membutuhkan eksistensinya di sisiku. Untuk pertama kalinya, hasrat ingin dilindungi juga membersit dalam jiwaku. Dan Luke adalah orang yang eksistensinya di sisiku begitu kubutuhkan. Luke adalah pria yang benar-benar kuinginkan untuk melindungiku. Seperti katanya, tak peduli siapapun diriku sebelum ini, dia tetap ingin aku menjadikannya sebagai destinasiku. Jadi, mengapa aku masih ingin pergi di saat aku tepat sudah tiba pada titik destinasiku?

Ya… kupikir… semesta memang sedang menghukumku dengan membiarkanku memiliki dan merasakan emosi yang lebih dari tiga tahun ini ku-omong-kosong-kan. Hukuman itu datang lewat sosok Luke, pria yang dulu pernah kutinggalkan ketika aku masih seorang tunacinta. Lalu, akibat yang mulai kurasakan sebagai efek hukuman itu adalah, ketakutanku akan kehilangan Luke di masa depan, dan ketakutan yang lebih besar lagi dari itu… ketakutanku kalau suatu saat nanti Luke tidak lagi mencintaiku…

Dariku yang sederhana
Nayaka Al Gibran