Bintang Jatuh cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

 

Salam…

Melelahkan sekali, tuan-tuan. Malam-malam begadang, malam-malam kurang tidur, dan pagi-pagi yang kumulai dengan kepala berat dan pening selama menulis Bintang Jatuh ini, mungkin tak akan pernah terbayarkan. Tapi anehnya setelah menyelesaikannya, aku merasa hasilnya setimpal. Tak pernah aku merasa seringan ini setelah menulis, mungkin, karena sekali lagi aku berhasil menyelesaikannya, end part III atau apalah namanya.

Tanpa berpanjang-panjang, semoga kalian menikmati membaca Bintang Jatuh seperti aku menikmati ketika menulisnya. Omong-omong, ini tamat. Aku sudah tak sanggup lagi. Kalau ternyata masih ada yang merengek-rengek minta lebih, pastikan kalian bersedia melakukan transfer ke rekeningku sebelum merengek-rengek. Kenapa? Karena kupikir sudah cukup aku menggeratiskan Aidil buat kalian selama ini #LOL

 

Wassalam

n.a.g

##################################################

Untuk setiap harapan yang terwujud,

mungkin ada bintang yang jatuh melintasi langit malam

Untuk setiap doa yang terkabul,

bisa jadi ada bintang yang terlepas mengempasi bumi

***

“Jika kamu ingin keinginanmu terwujud, berjagalah pada malam hari sambil mengawasi langit. Saat kamu melihat cahaya meluncur jatuh dari langit menuju bumi, maka utarakanlah keinganmu dengan bersungguh-sungguh mengharapkannya sepenuh hatimu…”

“Apa mitos bintang jatuh itu benar-benar bekerja?”

Laki-laki yang sedang bertelanjang dada itu menyeringai padaku. “Kamu percaya pada keajaiban?”

“Kupikir aku percaya pada mukjizat,” jawabku. “Tapi, apa bintang jatuh itu salah satu mukjizat untuk mewujudkan keinginan? Mengabulkan harapan?”

Sekarang laki-laki itu melepaskan tirai jendela yang sedari tadi disibaknya untuk membuatku bisa menatap langit ketika kami membicarakan bintang jatuh dan keinginanku untuk tetap berada di sini dan mencintai mereka selamanya. Dia bergerak mendekatiku. Cukup dekat hingga aku bisa membaui samar-samar aroma deodorannya yang segar. Saat dia membuka mulut, udara yang keluar dari hidung dan mulutnya malah bisa kurasakan juga di kulit wajahku. “Katanya, keajaiban datang pada orang-orang yang percaya padanya.”

Dadaku berdebar. Dia berdiri terlalu dekat dan aku tidak bisa mundur karena terhalang tempat tidurnya di belakangku. “Apa, apa… apa Kak Saif pernah melihat bintang jatuh?” Aku terbata di bawah tatapan menghujamnya ke mataku.

Kak Saif menggeleng. “Apa kamu pernah?” Jemarinya menyentuh daguku tepat di saat aku sudah siap untuk menundukkan wajah. Tindakannya itu memaksaku untuk tetap menerima tatapannya yang seperti sedang membaca sesuatu di mataku.

Aku menggeleng. Tumitku membentur kaki ranjang ketika aku gugup menggerakkan kakiku untuk mundur. “Emm… Mbak Ruthiya apa kabarnya?” Aku bertanya kikuk mengalihkan topik sambil berusaha keluar dari intimidasi sosok menjulangnya di depanku. Namun begitu aku mampu berpaling membebaskan daguku dari sentuhan lembut dan hangat jemarinya lalu bersiap bergerak ke samping, tangannya malah menahan pinggangku. Seketika kurasakan wajahku memanas. Aku tak berani lagi menatapnya, dan dia juga tidak berusaha membuatku menatapnya. Pandanganku tertunduk ke perutnya yang tidak berbaju.

“Dia baik,” jawabnya singkat. “Sudah beli tiket juga.”

Lalu hening.

Aku seperti kena totokan. Tak ada bagian tubuhku yang mampu kegerakkan. Sementara Kak Saif─entah apa yang sedang terjadi di dalam kepalanya─tetap bergeming di depanku dengan sebelah tangan berada di pinggangku. Aku mulai merasa bahwa mendatangi kamarnya menjelang jam tidur begini adalah sebuah kesalahan. Tadinya kupikir bicara dengannya akan benar-benar mengalihkan pikiran dan isi kepalaku yang siap meledak sejak pulang bersama Orlando, pikiranku bergejolak demi menyadari kalau celana dalamku ada bercak-bercak basah beraroma sperma saat aku meneliti diri di kamarku berjam-jam yang lalu. Tapi ternyata ide mengobrol bersama Kak Saif kini malah menghadirkan gejolak baru dalam kepalaku.

Aku bergidik ketika jemari tangan Kak Saif membuat gerakan menuju makin ke belakang pinggangku. “Kak Saif mau tidur…,” bisiknya.

“Aku, aku… aku… akan balik ke kamar.”

“Iya, sebaiknya memang begitu.”

Tapi sialnya dia tidak juga melepaskanku, dan lebih sial lagi aku tidak berdaya menyingkirkan lengannya yang kini sudah setengah membelit pinggangku.

“Kak…”

“Hemm…”

“Aku masih mencintai Orlando dan tidak ingin mencuranginya.” Kuberanikan diriku untuk mendongak dan memeriksa reaksinya, “dan… Kak Saif masih kakakku…”

Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum miring. “Aku juga masih mencintai Ruthiya dan tidak bermaksud untuk mencuranginya saat ini,” ujarnya, “dan, kamu juga masih adikku…”

Aku lega mendengarnya.

“Namun, mumpung kita masih kakak adik, aku belum jadi suami Ruthiya dan kamu belum dibawa kabur Lando untuk bersembunyi entah ke mana sudut bumi suatu saat nanti, kita masih boleh, kan, tidur berdua sebagai kakak adik?”

Sebelum aku sempat mencerna dan menanggapi ucapannya, dia menyingkir dari depanku dan menyalakan lampu tidur lalu menuju stop kontak di dinding kamar untuk mematikan lampu utama. Tanpa bicara apa-apa lagi Kak Saif naik ke ranjang dan terlentang di sana.

Aku berdiri bimbang.

“Aidil…”

Aku berbalik menghadap ranjang. Kak Saif mengganjal kedua lengannya di bawah kepala, dalam remang lampu tidur aku bisa menemukan dia sedang memandangiku.

“Kita hanya akan tidur, kok. Kak Saif gak akan melakukan apapun yang pasti bakal dilakukan Orlando padamu jika kalian tidur bersama. Janji…”

Aku berdecak sementara Kak Saif tertawa pelan. Kutinggalkan kebimbanganku di kaki ranjang lalu merangkak naik dan berbaring menelentang di sebelahnya. “Kita hanya akan tidur saja, oke!”

“Tadi, Kak Saif bilang gak akan bertindak kayak Orlando padamu, tapi… gak apa-apa kok kalau kamu yang menganggap Kak Saif sebagai Orlando…”

Aku menendang kakinya dan dia terkekeh.

Lalu dia mengganti posisi tidurnya jadi menghadapku. “Dulu, kamu pernah naksir Kak Saif… kalau sekarang, apa masih naksir juga?”

Sekarang yang kutendang adalah tulang keringnya dan dia lagi-lagi memperdengarkan kekehannya. Melintas dalam ingatanku saat aku jujur mengakui diriku padanya dulu sekali. Katanya saat itu─setelah dia menciumku, dia kakakku dan aku adiknya, kami hanya akan mencintai dengan cara dan dalam konteks itu.

“Sudah enggak. Sekarang aku naksir mati-matian sama temen Kak Saif,” jawabku mantap.

“Kenapa enggak naksir Kak Saif lagi?”

“Gak tahu. Tapi, kupikir itu pasti karena Orlando.”

“Kenapa karena Lando?”

“Tentu saja karena dia.”

“Iya, tapi kenapa? Ada apa dengan manusia itu hingga berhasil membuatmu berhenti naksir Kak Saif?”

“Karena padanya ada cinta luar biasa untukku, dan yang lebih penting, karena dia bukan kakakku.”

Kak Saif terkekeh, lagi. “Berarti, kalau aku bukan kakakmu, ada kemungkinan kalau kamu tetap naksir?”

“Enggak.”

“Gak percaya. Katanya, cowok gay kan punya ketertarikan kuat sama laki-laki cakep, apalagi kalau laki-laki cakepnya punya badan atletis dan otot bagus─”

“Kayak Kak Saif maksudnya?” potongku.

“Iya, kayak aku.”

“Iya, benar. tapi masa-masa aku naksir Kak Saif sudah tertinggal jauh di belakang, sekarang adalah masa-masa aku tergila-gila pada Orlando.” Kejadian di motor Orlando sore tadi kembali melintas di kepalaku. Berani-beraninya dia mempermainkan ingatanku dan membuatku bingung sepanjang petang. Awas saja, besok akan kubuat dia mengakui semuanya. “Saat aku sedang tergila-gila pada satu saja laki-laki cakep yang punya badan atletis dan otot bagus kayak─”

“Aku,” potong Kak Saif menghentikan laju kalimatku.

Aku memutar bola mata. “Kayak Orlando Ariansyah!” seruku sedikit lebih nyaring dari yang kurencanakan. “Saat aku sedang tergila-gila pada satu saja laki-laki cakep yang punya badan atletis dan otot bagus kayak Orlando, maka aku gak punya waktu buat naksir laki-laki lain dengan kadar dan cara yang sama.” Kutarik selimut Kak Saif. “Akhir diskusi, selamat malam.” Aku ganti posisi tidur jadi membelakanginya, selimut lebarnya nyaris kumonopoli sendiri.

“Jadi, kamu berharap bintang jatuh akan mengabulkan harapanmu agar tetap langgeng dengan Lando sampai tua? Karena begitu tergila-gila mencintainya hingga gak punya waktu untuk naksir apalagi mencintai laki-laki lain?”

Aku berbalik menghadap Kak Saif, dalam temaram lampu tidur kami saling bertatapan. “Aku hanya ingin tahu bagaimana caranya hubungan rumit ini bertahan, Kak… Aku percaya keajaiban, aku percaya mukjizat, tapi percaya pada bintang jatuh, itu konyol, kan?”

Kak Saif tersenyum. “Kalau begitu, jangan berjaga sambil mengawasi langit malam.”

“Gak akan.”

Tanpa meminta jatah selimut buatnya, Kak Saif menelungkupkan dirinya dan memejamkan mata. Kupikir inilah akhir obrolan tak jelas kami malam ini. kutelentangkan diriku dan kututup mataku, dan begitu saja ingatanku tertuju kembali pada kejadian bersama Orlando sore tadi yang sekarang sangat kuyakini kalau itu adalah kejadian sebenarnya yang terjadi di luar mimpi.

“Tapi, kalau katamu sudah enggak naksir Kak Saif lagi, kenapa tadi saat Kak Saif deketin, kamu malah kikuk dan terbata-bata begitu?”

Sialan, laki-laki ini masih belum menyerah juga. Apa sih sebenarnya yang dipikirkannya? Aku berdeham. “Karena Kak Saif gak pake baju.”

Dia menggumam di bantalnya.

“Tapi, kenapa Kak Saif mendekatiku seperti itu?”

“Hanya sedang mencoba peruntungan, siapa tahu kamu gak tahan buat grepe-grepe. Lebih baik ketimbang aku coli sendirian, kan?”

Kali ini aku benar-benar menendang pinggangnya. “Aku khawatir Kak Saif akan memaksa Mbak Ruthiya untuk sama-sama khilaf saat dia datang ke sini nanti.”

“Jujur saja, itu ide yang sudah mulai kupikirkan sejak Ruth mengabarkan mau datang.”

“Ya ampun.”

“Bayangkan begini, jika Kak Saif menghamilinya… dia, kan, tidak bisa apa-apa selain tetap berada di sini…”

“Ya Tuhan…”

“Ya Tuhan, brilian sekali. Begitu maksudmu?”

“Ya Tuhan, dangkal sekali pikiran Kak Saif.”

Kak Saif tertawa singkat. “Goodnight, Dil…”

“Mimpi bagus, Kak…”

“Aku menyayangimu.”

“Aku juga menyayangimu.”

Kami bergerak saling memunggungi. Detak weker lalu meninabobokanku, mungkin Kak Saif juga.

***

Dasi itu ketemukan menjulur pas dari kerah kemeja Kak Adam ke dadanya pagi ini saat aku mendatangi meja makan untuk sarapan. Aku melupakan keberadaan dasi itu sejak sore kemarin setelah kukeluarkan dari ranselku yang lembab sebelum aku menelanjangi diri sendiri dan melakukan investigasi menyeluruh pada badan dan pakaianku, baru kuingat kembali saat ini ketika kutemukan dasi itu dikenakan Kak Adam. Aku tidak sempat memerhatikan keadaan meja belajarku tempat kotak dasi itu kuletakkan petang kemarin ketika bersiap-siap di kamar tadi, seperti kataku, aku melupakan benda itu. Bisa saja Kak Adam memang punya dasi serupa sementara dasi yang kubeli buat Orlando masih tergeletak di atas meja belajarku. Tapi, bisa jadi juga Kak Adam─entah untuk alasan apa─memasuki kamarku semalam saat aku tidak sedang di sana atau tadi pagi saat aku sibuk di kamar mandi dan menemukan dasi itu lalu memalinginya.

“Eum… dasi Kak Adam manis banget,” kataku sambil menyendokkan nasi goreng ke piringku.

Kak Adam terkekeh, “Nyindir ya, Dek?” tanyanya dan aku sukses melongo saat mendengar lanjutan kalimatnya. “Maaf deh, Kak Adam lancang langsung ngambil sebelum dikasih, terus lupa pula bilang terima kasih. Jadi, adikku, makasih sudah belikan dasi keren ini buat Kak Adam…” Kak Adam memamerkan giginya padaku.

“He?” Ya ampun, jadi itu benar-benar dasi yang kubeli kemarin. Aku nyengir setengah hati, sedang setengah hati lagi meringis perih. Masa harus nabung uang saku lagi sih buat beli dasi atau sesuatu yang lain untuk Orlando? “Eum, kapan Kak Adam nemunya?”

Kak Adam menelan kunyahannya. “Semalam,” jawabnya. “Kak Adam juga ngambil kwartomu ya, kehabisan semalam buat ngeprint laporan,” lanjutnya santai. “Nanti pulang kerja Kak Adam beli lain.”

“Dasinya?” tanyaku antusias, nyaris yakin kalau kakakku itu akan mengganti dasi yang tidak kubeli untuknya itu. Namun, Kak Adam malah mengernyit bingung menatapku. Aku segera sadar. “Oh, kwartonya, iya.” Aku menunduk lesu pada piringku, mengaduk-ngaduk nasi tanpa minat.

“Dasi ini bukan buat Kak Adam, ya?”

“He?” aku melongo lagi, wajah Kak Adam tampak murung.

“Tapi, masa buat Saif sih, kan dia belum butuh dasi. Yang udah kerja, kan, Kak Adam…”

“Bisa jadi mungkin buat Ayah,” celutuk Kak Saif yang baru saja bergabung di meja makan, bau sampo tercium dari rambutnya yang terlihat basah. Aku menerka dia sudah kadung kelaparan berat hingga tidak punya waktu untuk benar-benar mengeringkan rambutnya sehabis mandi. “Ayah, kan, udah lebih dulu punya kerjaan dibanding Kak Adam,” lanjutnya lalu mengisi piringnya dengan santai.

Pandanganku bertabrakan dengan Kak Adam, dia sedang mengelus dasi barunya. “Buat Ayah, ya?” tanyanya dengan ekspresi bersalah.

Ya ampun, kasihan sekali. “Bukan, itu memang Aidil beli buat Kak Adam kok, mau ngasih semalam tapi keburu lupa gara-gara mampir ke kamar Kak Saif. Beneran…!” kataku yakin.

Ekspresi Kak Adam langsung berubah cerah. “Trims, Dil. Kak Adam suka dasinya.”

Yah, mungkin memang sudah takdir kalau Orlando belum dijodohkan dengan dasi itu. Lagipula, aku belum pernah memberikan apapun buat Kak Adam, padahal pria itu sudah memberi banyak sekali buatku sejak aku datang ke rumahnya, dan pemberiannya yang paling berharga tentu saja perhatian dan peran paripurnanya sebagai seorang kakak terhadapku. Terus, kalau dilihat-lihat lagi, dasi itu memang sangat cocok menggantung di lehernya, serasi dengan kemeja putih garis-garis ungu gelap yang hari ini sedang dikenakannya. Jadi, kupikir memang sudah sepantasnya dasi itu berbelok jadi milik Kak Adam.

“Syukurlah kalau Kak Adam suka.” Aku mulai menyendok sarapanku.

“Asnia dan keluarga di kampung sudah ngabarin sama Bunda kalau mereka jadi ke sini saat Saif wisuda.”

“Wah!” seru Mbak Balqis yang mengekor di belakang Bunda, mereka sudah rapi dengan seragam kerja masing-masing. “Dik Bungsu senang banget tuh bisa kangen-kangenan sama kakak-kakaknya.”

Aku sama sekali tidak tahu kalau keluargaku mau berkunjung. Kabar wisuda Kak Saif juga belum kusampaikan pada mereka. Kupikir mereka pasti tidak bisa hadir karena Bang Anjas tentu sibuk dengan sawah dan pekerjaannya di toko bahan bangunan, sedang Bang Taufik pasti berat meninggalkan pekerjaan mandornya di perkebunan sawit. Tapi bagaimanapun, Bunda telah berhasil meyakinkan mereka untuk berkunjung. Syukurlah. Aku juga sudah kangen berat pada Daman dan Najwa, dua ponakan kandungku yang tak akan pernah bisa tergantikan.

Kulirik Kak Saif ketika aku ingat sesuatu. “Mbak Ruthiya kapan datangnya, Kak?”

Kak Saif sontak batuk-batuk.

“Eh, Dik Gede sama Ruthiya balikan lagi?” Mbak Balqis batal menyendok nasi. “Kapan balikannya?”

“Udah gak nerusin bakat playboy-nya, If?” tanya Kak Adam. “Kapan itu bukannya suka jalan sama teman-temannya Aidil, ya?”

“Temen-temenku sudah gak ada yang mau dimainin buaya darat lagi, Kak. Mungkin itu sebabnya Kak Saif balik sama Mbak Ruthiya.”

Kak Adam tertawa sedang Kak Saif bersungut-sungut.

“Jangan mainin perasaan anak orang, kamu!” ucap Bunda serius sambil menatap Kak Saif.

“Enggak, Bunda.”

“Jangan sok kegantengan trus bisa seenaknya gonta-ganti pacar,” semburku asal.

“Mau kubogem?” ancam Kak Saif.

“Coba kalau berani bogemin adikmu, kupingmu Bunda pelintir sampai miring. Lagian ya, adikmu benar. Jangan sok kegantengan terus mainin hati anak gadis orang di merata tempat. Kamu tuh sudah bukan anak SMA lagi, kalau pacaran ya harus dewasa dan bertanggung jawab, jangan macam-macam. Lihat Orlando, dia itu lebih cakep dan lebih cocok jadi playboy daripada kamu, tapi mana pernah ada kabar dia gonta-ganti pacar?”

Tengkukku mendadak seperti disiram air es demi mendengar nama Orlando disebutkan di meja makan sebagai cowok baik-baik yang tidak suka mainin perasaan cewek. Andai saja mereka tahu kalau Orlando memang tak akan pernah mempermainkan perasaan cewek. Tapi tunggu, apa tadi kata Bunda? Bahwa putra keduanya tidak lebih cakep dari Orlando? Aha! Kak Saif pasti tidak terima.

Di tempat duduknya Kak Saif batuk-batuk lebih keras kali ini, dia sempat melirikku sekilas sebelum menunduk ke piringnya dan mulai memotong-motong telur dadar dengan sendok dan garpu. Rasanya sudah sangat lama aku tidak pernah melihatnya tak berdaya demikian rupa di bawah intimidasi Bunda, berkesempatan melihatnya sekarang ternyata menyenangkan juga. Kalau saja Ayah tidak datang bergabung ke meja makan, aku mau-mau saja meneruskan meledek Kak Saif dan membuatnya makin kesal, semisal dengan berujar: Tuh kan, Bunda saja bisa lihat kalau Kak Lando lebih ganteng dari Kak Saif, padahal Kak Lando, kan, bukan putra Bunda.

“Jadi, kapan Ruth tiba?” tanya Kak Adam.

“Siapa Ruth?” tanya Ayah tiba-tiba.

“Ceweknya Kak Saif yang dulu itu,” jawabku.

Ayah manggut-manggut sambil menerima piring dari tangan Bunda. “Kalau sudah serius ya dinikahi saja.”

Kak Saif sekali lagi tersedak.

“Nah, kalau nanti Dik Gede sudah menikah, berarti kita tinggal nunggu Dik Bungsu mengenalkan calon istrinya ke rumah,” kata Mbak Balqis.

Sekarang giliranku yang tersedak berat sampai berair mata.

“Aidil jangan macam-macam dulu, kuliah dulu yang benar. Tidak usah mikirin pacar-pacaran dulu.” Ayah menutup obrolan.

Suasana hatiku berubah muram. Kalimat Mbak Balqis berputar-putar dalam kepalaku, tak mau hilang. Calon istri, calon istri, calon istri. Pandanganku bertemu dengan Kak Saif untuk beberapa waktu. Dia pasti menemukan raut murungku, karena kemudian aku menemukan tatapannya yang seperti menyemangatiku, seakan dia berkata: jangan takut, semuanya akan baik-baik saja. Lihat, dia begitu berempati untukku. Dan apa tadi yang kupikirkan saat dia tepat sedang membutuhkan dukunganku? Ya, yang kulakukan adalah berniat untuk makin memojokkannya. Aku benar-benar berengsek jadi adik.

***

“Dasar penipu!” tudingku begitu Orlando menutup pintu di belakangnya.

“Eh?”

“Kamu membohongiku!”

Orlando membelalak. “Kapan aku bohongnya?”

“Kemarin, memangnya kapan lagi?!?”

“Kemarin aku memang banyak bohong, tapi seingatku yang kubohongi itu cuma Mama sama sales asuransi yang gak ada kerjaan nelepon ke nomorku.”

Aku geram sendiri. “Udah mandi besar atau belum?”

“Buat apa? Semalam aku gak mimpi basah sama kamu kok.”

“Spermamu ada yang ketinggalan di celana dalamku sore kemarin tauk???”

Orlando batal membidik papan dart yang menggantung di pintu kamarnya. Perhatiannya teralih padaku yang duduk di tepi tempat tidurnya sebelum sedetik kemudian terbahak-bahak kencang sampai aku sempat mengira dia jadi gila mendadak. Kuraih guling di belakangku dan kulemparkan ke arahnya.

Laki-laki itu sigap menangkap lemparanku dengan tangannya yang tidak memegang panah dart. “Bagaimana ceritanya spermaku bisa nyasar ke celana dalammu, Beib? Apa ia terbang lewat jendela kamar dan melintasi halaman lalu menubruk celanamu?” guling itu dipeluknya ke dada dengan luwes dan santai.

Aku mendengus. “Jangan pura-pura bego.”

Orlando mencampakkan panah dartnya sembarangan ke atas meja belajar dan bergerak ke tempat tidur. “Terus, kok kamu bisa menyimpulkan kalau itu spermaku? Kan aku belum pernah mengenalkan spermaku ke kamu, kamu belum pernah ngeliat aku coli sampai keluar, kan?”

“Jangan ngomong jorok!”

“Kan kamu yang mulai, Dil. Aku cuma menanggapi.” Guling ditaruhnya di tempat tidur dan dia duduk di sebelahku sambil menggaruk-garuk perutnya.

Aku lelah bicara tidak jelas dengannya. “Kemarin di gedung tua itu, kita betulan buka baju, kan?”

Orlando diam sebentar, tangannya yang sedang menggaruk perut juga ikut berhenti. “Enggak kok,” jawabnya. “Tunggu, kamu sempat mimpi basah betulan sore kemaren? Wow. Pantesan begitu bangun tingkahmu aneh.”

“Orly, aku serius!”

“Aku juga serius, Dil.”

Ya ampun. Aku frustrasi. Atau memang Orlando benar kalau aku cuma mimpi basah di dalam pelukannya kemarin? Tapi aku benar-benar teliti ketika memeriksa diriku kemarin. Aku tahu bagaimana kondisi celana dalam bila kita mimpi basah, tapi yang kutemukan kemarin sama sekali bukan kondisi celana dalam akibat mimpi basah. Orlando sedang mengerjaiku.

“Kamu mengaku atau enggak, aku gak peduli.”

“Aku harus mengaku apa sih?”

“Mengaku kalau kita kemarin sempat bercinta di atas motormu sebelum aku jatuh tertidur.”

Lagi-lagi Orlando tertawa kencang, kali ini bahkan sampai harus merebahkan dirinya ke tempat tidur lalu guling-guling seperti orang gila di sana hingga semenit lamanya. Setelah semenit kemudian, dia kembali menegakkan dirinya dan duduk bersila di tengah-tengah kasur. “Kamu udah segitu ngebetnya ya pengen ngerasain aksi ranjangku? Aku gak keberatan kok kalau kamu memang pengen, sungguh. Aku nurut apapun yang mau kamu perbuat padaku, Dil. Apapun.” Jakunnya naik turun sementara dia menatapku. “Emm… aku gak keberatan menunjukkannya padamu sekarang.” Tangannya sudah memegang leher kausnya dan sudah hendak menariknya lewat kepala.

“Apa-apaan!” bentakku dan kutarik tangannya dari leher kausnya.

Orlando memamerkan cengirannya padaku.

“Aku benci kamu gak jujur.”

“Fitra Aidil, aku berani sumpah disambar gledek kalau kemarin kamu cuma ketiduran dalam pelukanku, kita gak ngapa-ngapain dan aku enggak nyari-nyari kesempatan buat ngeraba-raba sementara kamu terlelap. Suer!” sekarang dia menunjukkan dua jari tangan kirinya padaku.

“Terus, kenapa celana dalamku ada bekas basahnya?”

“Mana kutahu. Bisa saja karena hujan, kan?”

“Tapi baunya bau sperma, Orly.”

“Ya berarti kamu mimpi basah dong.” Matanya mengarah begitu saja ke selangkanganku.

Kupukul kepalanya dan dia meringis lalu berhenti memerhatikan posisi anuku berada. “Kalau mimpi basah, masa basahnya cuma dikit, harusnya kan basah sampe lengket-lengket.”

“Nah, Fitra Aidil, sekarang siapa yang bicaranya jorok?”

Aku diam memberengut.

“Gak ada jaminan, kan, kalau setiap cowok yang mimpi basah mengeluarkan sperma yang melimpah-limpah?”

“Stop. Gak usah dibahas lagi.”

Orlando terkekeh lalu tiba-tiba memegangi pipiku dengan tangannya kiri kanan. Matanya mendadak berubah serius ketika menghujam ke pupilku. “Aku sayang kamu, Dil, banget. Dan suatu nanti entah kapan kamu sudah bersedia bercinta denganku, akan kupastikan kalau kita tidak akan melakukannya di atas sadel motor yang sempit dan tidak nyaman itu, dan tidak akan di dalam gedung tua yang menyeramkan. Aku janji!”

Aku mengerjap-ngerjap sementara Orlando masih memegangi wajahku.

“Tapi, kalau dipikir-pikir, jika kemarin setelah kamu menciumku, aku berinisiatif mengajakmu ke pojok bangunan, apa kita akan melakukannya di sana?”

“Mungkin.”

Orlando memiringkan kepalanya, memamerkan senyumnya padaku. “Bagaimana dengan sekarang?”

“Enggak.”

“Kenapa? Kamu tidak benar-benar menginginkanku?”

“Aku menginginkanmu, selalu menginginkanmu.”

“Iya, tidak mungkin rasanya kalau kamu tidak menginginkan laki-laki keren kayak aku.” Dia menyingkirkan tangannya dan merebahkan hampir keseluruhan dirinya melintang di atas tempat tidur, kepalanya di atas guling dan kedua kakinya dari lutut menjuntai ke lantai.

Mendengar ucapan Orlando, aku tersenyum sendiri ketika teringat perkataan Bunda tadi pagi yang mengatakan kalau Kak Saif kalah ganteng dibanding temannya ini. Aku membayangkan kalau Orlando ada di sana saat itu, dia  pasti akan bersalto kegirangan. “Maaf, ya…”

“Untuk?”

Kujatuhkan badanku di sebelahnya, lengannya yang diluruskan di atas guling mengganjal tengkukku. “Sebenarnya, kemarin aku beliin kamu dasi.”

“Oh ya?” suaranya terdengar senang.

“Iya. Saat di gedung kemarin, aku pengen ngasih tapi keburu lupa dan ketiduran.”

“Kan masih bisa ngasih hari ini,” tukasnya riang.

“Tapi dasinya udah enggak ada.”

“He?”

“Diambil Kak Adam semalam, dikiranya buat dia. Maaf, ya…”

Orlando tidak menanggapi.

Aku menoleh padanya. “Kak Lando marah, ya?”

“Kok bisa diambil Kak Adam?”

“Dasinya kutaruh di meja belajar. Saat Kak Adam ke kamar buat ngambil kwarto aku sedang gak ada di kamar, jadi dikiranya dasi itu buatnya. Aku nyadarnya pagi tadi, saat dasinya udah dipakai Kak Adam, gak mungkin diminta balik, kan?”

“Ya sudah, gak apa-apa. Sekerat dasi yang gagal kumiliki gak akan menurunkan kadar cintaku buatmu kok.”

“Aku pengen ngasihin kamu sesuatu buat dipakai wisuda, tapi waktunya udah mepet buat ngumpulin uang saku lagi.”

Orlando tertawa. “Kamu maunya ngasih apa?”

“Tadinya dasi itu.”

“Kalau sekarang?”

“Kalau sekarang sedang enggak punya uang.”

“Kalau misalnya sedang punya uang, mau ngasih apa?” Orlando berguling menghadapku, memundurkan badannya agar bisa menekuk kedua kakinya naik ke atas tempat tidur.

“Entah. Kemarin-kemarin kepikirannya dasi, kalau sekarang gak tahu.”

“Coba dipikir dulu.”

Aku diam sesaat mengikuti instruksinya. “Mungkin pantofel. Bisa dipakai buat wisuda juga, kan?”

Perfect. Ayo kita beli pantofel buatku.”

“Gak punya uang.”

“Aku utangin dulu.”

Aku tertawa. Namun tawaku langsung berhenti saat kutemukan ekspresi serius di wajahnya. “Kak Lando belum punya pantofel?”

“Udah.”

“Jadi kenapa harus beli lagi?”

“Belum punya yang dari kamu.”

“Aku gak mau beliin.”

“Kenapa?” tanyanya tanpa emosi.

“Karena kamu udah punya.”

“Aku juga udah punya dasi, kenapa kamu beliin juga kemarin?”

“Karena aku ingin memberimu dasi, karena aku memilih dasi dengan minat dan kesadaran sendiri bukan disuruh dan diarahkan orang lain, karena aku belum tahu kalau kamu udah punya dasi.”

“Ya udah, pura-pura aja kamu belum tahu kalau aku udah punya pantofel buat wisuda. Gampang, kan?”

Aku tak habis pikir dengan tingkah Orlando sore ini. kutekuk kakiku untuk mengikuti posisi berbaringnya. Wajah kami berhadap-hadapan, lututku dan lututnya bertemu. “Bukan begitu rumusnya,” ujarku. “Memberikan sesuatu atas dasar kesadaran sendiri itu makna serta emosinya berbeda jika kita memberikan sesuatu atas dasar kompromi atau petunjuk dari luar kita, apalagi kalau petunjuk itu datangnya malah dari orang yang mau kita hadiahi. Gak ada emosi apa-apa dari hal yang seperti itu, gak punya kesan dan kosong. Kamu paham, kan?” jelasku panjang lebar.

Orlando sepertinya sedang mengamati gerakan bibirku. Sampai kira-kira belasan detik setelah aku menyelesaikan kalimatku, dia masih belum memberikan tanggapan apa-apa.

“Kak?” panggilku.

“Hemm…”

“Mengerti gak?”

Dia menghela napas lebih kuat dari normalnya. “Mungkin… kamu bisa mengganti segala pemberian itu dengan membiarkanku mencium bibir ini sekarang?” Dia menyentuh mulutku dengan ibu jarinya.

Aku bengong sejenak lalu tersenyum. Kalimat bernada tanya yang diucapkan Orlando terdengar begitu dewasa di telingaku, jauh dari kesan egois apalagi memaksakan kehendak. Itu terdengar seperti dia sedang meminta izinku. “Sebenarnya, aku lebih suka jika kamu melakukannya secara spontan tanpa pemberitahuan lebih dulu, tapi… tadi itu terdengar manis sekali.”

Ada senyum nakal yang melintas cepat dalam tatapan Orlando sebelum dia memajukan wajahnya untuk menciumku. Bibirnya terasa begitu familiar, seperti hidupku selama ini hanya kuhabiskan untuk berciuman dengannya. Pemikiran yang aneh, tapi begitulah persisnya yang kurasakan selama beberapa detik bibir Orlando menekan-nekan dan bergerak-gerak lambat di atas bibirku.

Deru mesin mobil terdengar memasuki pekarangan Orlando, papa mamanya sepertinya sudah kembali dari kantor. “Sudah sore, sebaiknya aku pulang.”

Orlando bangun dari tempat tidur. “Jadi, bagaimana persisnya mimpimu kemarin sore?” tanyanya sambil menyeringai jahil.

“Aku gak akan menceritakannya,” jawabku lalu bergerak menuju pintu.

“Aku hanya ingin mengoreksi jika ada bagian diriku yang ternyata ditampilkan secara tidak tepat di dalam mimpimu, tak ada maksud apa-apa. Kamu, kan, belum melihat bagian-bagian diriku yang masih tersembunyi.” Orlando mengekor di belakangku menuju lantai bawah.

Aku sangat tahu ke mana maksud ucapannya. Meladeninya sekarang hanya akan membuat jengah dan salah-salah malah akan membocorkan rahasia kami kepada orang-orang di sekitar kami, jadi kudiamkan saja dia.

“Sore, Tante,” sapaku saat berpapasan dengan mamanya Orlando di lantai bawah.

“Sore, Aidil. Sudah mau pulang?”

“Dia belum mandi, Ma.”

“Memangnya kamu sudah?” tanya Tante Sofiah.

Orlando cengengesan. “Belum juga.”

Tiba-tiba ide untuk mengajak Orlando mandi bersama melintas di kepala. Kalau Tante Sofiah sedang tidak ada, mungkin aku akan benar-benar tergoda untuk menggandeng tangan Orlando dan menuntunnya ke kamar mandi. Kupikir, aku akan menyimpan rencana mesum ini untuk masa depan saja, kalau sungguh-sungguh ada ‘masa depan’ bagiku dan Orlando.

***

Hari ini Sabtu. Dan ada yang tidak beres dengan anggrek bulan di dekat jendela. Sudah berapa lama ia tidak berbunga? Cukup lama untuk membuat rindu. Dan pagi ini kutemukan beberapa daunnya menguning serentak. Apa potnya yang kecil sudah kehabisan unsur hara? Atau, umbi-umbi mudanya yang terus tumbuh mengambil jatah lebih banyak dari induknya? Tapi, bahkan umbi-umbi barunya pun hari ini tampak tidak sehat. Kusibak gorden lebar-lebar agar cahaya matahari menyentuh pot dan kuberi sedikit air untuk membasahi akar-akar dan arang dan batu bata di dalam pot. Kuharap ia akan baik-baik saja.

Sepanjang hari ini aku tak ada jadwal ngampus, yang kulakukan dari pagi hanya mendekam di kamar sambil mengawasi pot di dekat jendela. Saat puas memerhatikan, kuputuskan untuk membersihkan folder-folder sampah di komputer, mengedit title dan memilah-milah file mp3, dan lalu mengganti seprei serta bedcover. Menjelang siang aku turun dan menemukan keajaiban yang dibicarakan Kak Saif dua malam lalu di TV.

Aku hampir-hampir percaya kalau teori tentang bintang jatuh itu benar. Itu gara-gara film Kuch Kuch Hota Hai yang sedang ditonton lagi oleh Mak Iyah sambil menimang ASJ di pangkuan. Mbak Balqis pasti dapat jatah piket di UGD sementara Bunda mungkin memutuskan terjun ke dapur mumpung tidak ngantor dan membiarkan cucunya jadi tugas Mak Iyah. Aku bisa mencium aroma rempah dan mendengar suara letupan minyak mematangkan ikan atau apapun di dalam penggorengan. Kak Saif kuperkirakan sedang sibuk mendrible bola dengan pacarku di lapangan basket sekitar komplek. Tadi pagi aku menolak ikut mereka karena sedang tidak berminat. Tidak kutemukan Kak Adam di rumah, kemungkinan dia belum pulang dari mengantar istrinya ke UGD atau sudah pulang tapi belum tiba di rumah atau keluyuran dulu entah ke mana mumpung bebas dari perannya sebagai suami dan ayah.

Di TV, Anjali sudah berbusana pengantin dengan gelang tersangkut di hidung. Seakan dia adalah seekor ikan kelaparan dan mata pancing raksasa berhasil mengelabuinya untuk memakan umpan. Dia sedang menangis selagi bertatapan dengan Rahul di malam pernikahannya. Dan, saat itulah di balik punggung Anjali yang ber-latar-belakang-kan langit malam, sebuah bintang meluncur jatuh. Aku berdiri dengan bulu kuduk meremang dan getaran di sekujur tubuh. Dulu saat aku menonton film itu untuk pertama kalinya ketika usiaku belum sedewasa sekarang, aku tidak mengerti mengapa dan untuk apa Anjali berdiri menatap langit malam, bahkan aku tidak paham apapun tentang cahaya yang melintas di belakangnya ketika dia berbalik menghadap Rahul. Ketika usiaku sudah sedikit beranjak dan berkesempatan melihat lagi film itu, aku baru mengerti kalau bukan tanpa maksud dan bukan tanpa alasan Anjali berdiri di sana. Dia, sedang menunggu bintang jatuh untuk mengabulkan permohonannya agar bisa bersatu dengan cinta pertamanya di akhir film, dia sedang melempar dadu, berjudi dengan takdir, berharap memenangkan lotre atau apapun istilahnya. Intinya, dia sedang mengharapkan keberuntungan takdirnya saat menunggu bintang jatuh itu.

Mengapa hal-hal seperti itu terasa begitu tepat dan begitu benar bila ditampilkan dalam adegan dramatis sebuah film India? Maksudku, bintang jatuh ini. Sekarang pun, saat diam-diam membungkuk di sebelah Mak Iyah yang khusyuk memerhatikan layar TV, adegan tatap-tatapan Anjali dan Rahul saat bintang jatuh itu terasa begitu tepat dan membuat hati berdesir. Bahkan, bintang jatuhnya sendiri tampak benar, bukan kepercayaan yang tanpa dasar. Masa sih, bintang jatuh bisa membuat Tuhan mengabulkan doa kita? Sangat tidak berdasar, kan? Tapi hatiku diam-diam mulai mengharapkannya benar.

Tawa singkat ASJ di sela-sela mengemut karet dot botol susunya mengalihkan perhatian Mak Iyah. ASJ rupanya sedang berusaha menarik perhatianku, matanya membelalak padaku. Mak Iyah sedikit kaget menemukan kepalaku melongok di sebelah bahunya, aku sedang berdiri membungkuk di belakang sofa tempatnya duduk. “Udah mau habis, ya, Mak?” tanyaku lalu memutari sofa rendah dan duduk di samping Mak Iyah.

“Entah, Mak juga baru di sini beberapa menit lalu, Junior rewel gara-gara haus.”

“Hemm… Mak masak apa hari ini?”

“Bundamu kepengen kari.”

“Wah.”

ASJ melepaskan botol susunya yang sudah kosong dan menjatuhkannya begitu saja untuk ditampung sofa. Mak Iyah menimang-nimangnya di lengan. Di TV, Aman sedang menunggu Anjali mendatanginya untuk segera dinikahkan oleh pandita, tapi Anjali tertahan di tangga sambil berurai air mata. Di menit-menit akhir pertaruhan takdirnya, Anjali memutuskan untuk mengeluarkan senjata utamanya, tangisan. Mungkin suatu saat nanti aku bisa mencoba senjata serupa, meski hal itu mustahil bakal membuat orang-orang tersentuh lalu mengizinkanku lari ke pelukan Orlando tanpa protes lagi.

Ah… seperti apa kehidupan saat cinta terlarang antara aku dan Orlando harus tergerus? Baru membayangkannya saja sudah membuatku begitu tidak bahagia, bagaimana pula jika kejadian? Mungkin, saat hal itu terjadi tak ada yang namanya kehidupan. Atau mungkin kehidupan tetap ada, tapi tak satupun dariku dan Orlando yang benar-benar menjalaninya.

“Sini deh, Juniornya Aidil ambil alih aja.” Kuambil sosok mungil ASJ dari pangkuan Mak Iyah dan kudekap ke dadaku. “Ayo, Om Aidil akan memberimu tour ke seluruh bagian rumah, kamu belum pernah dikasih tour kayak gitu, kan?” Seakan paham ucapanku, ASJ mengeluarkan suara kucingnya dan menghentak-hentakkan kedua kakinya, menendang-nendang perutku. “Ya ya ya, aku tahu kamu sudah tak sabar, Bocah Tukang Ngompol.”

Mak Iyah mengikik pelan. “Mak balik ke dapur dulu.”

“Oke. Jangan kuatirkan bocah ini, Aidil tahu kok caranya mengganti popok.”

Mak Iyah sekarang tertawa.

Alih-alih memberi ASJ tour seperti yang kukatakan, aku malah kembali ke kamar dan berbaring bersama bayi itu di atas bedcover yang baru kuganti. ASJ menggapai-gapai udara dengan kedua tangan dan kakinya sambil mengeluarkan suara ribut tanpa henti dari mulutnya, sementara aku menowel-nowel pipinya yang bulat dengan telunjukku.

“Besar nanti, jangan jadi kayak aku ya, Junior…”

Aku mulai gila, mengajak bicara bayi yang sama sekali tidak paham perkataanku dan sedang asyik sendiri berkomunikasi dengan plavon kamarku dengan bahasanya yang juga tidak bisa dipahami olehku.

“Jangan jatuh cinta pada tetanggamu yang sama-sama cowok, tapi godalah gadis-gadis yang bakal terang-terangan bergenit-genit padamu. Kamu pasti bakal setampan ayahmu, jadi, pasti cewek-cewek itu bakal mengejarmu. Pastikan kamu meladeni cewek-cewek itu, jika ada cowok yang mengejar-ngejar perhatianmu, tendang saja…”

Tiba-tiba ASJ berhenti mengomeli plavon dan memalingkan kepalanya ke arahku. Lalu dia menelungkupkan dirinya dan segera saja kedua tangannya menjajah bagian-bagian wajahku. Apa dia sedang menghiburku?

Aku tersenyum sementara jari-jari mungil ASJ mencakar-cakar pipiku. “Terima kasih, kamu sangat pandai menghibur…”

ASJ menjawabku dengan tawanya, pipiku berhasil dipukulnya satu kali.

“Apa menurutmu, Om Didil dan Om Dodo bisa bersatu selamanya?”

Aku ditampar lagi.

“Hemm… kamu mau mengatakan kalau aku perlu ditampar seisi dunia dulu baru kemudian sadar kalau hal itu mustahil, ya?”

Mata ASJ berkedip-kedip memandangku. Dia tidak lagi menampar dan mencakar, juga tidak ribut lagi.

“Om Aidil sayang kamu, Junior… dewasalah dengan normal. Jangan jatuh cinta pada tetanggamu yang sama-sama cowok. Sebenarnya… jangan sampai jatuh cinta sama cowok manapun, ya!”

ASJ menempelkan sebelah pipinya ke bedcover, mata bundarnya masih mengawasiku.

***

Anggrek itu mati. Satu-satunya makhluk hidup pemberiannya kini sudah tidak hidup lagi. Aku menyadarinya hari ini sepulang kuliah. Entah apa yang salah. Tapi isi pot itu sudah tidak hidup lagi. Menemukannya begitu, rasanya seperti aku terbuat dari gelas dan baru saja jatuh ke batu, hancur menjadi kepingan dan mustahil berwujud gelas kembali. Seakan aku adalah kertas yang baru saja ditumpahi air dan berubah jadi bubur kertas. ‘Kenangan hidup’ bersama Zayed sudah pergi. Rasanya seperti sedang menghadapi kematian kedua kali darinya.

“Apa yang telah kulakukan padamu, Moonlight? Apa yang telah kulakukan…”

Aku tidak mau menangis, tapi sekarang aku menangis, kupikir aku melakukannya tanpa sadar. Pot kecil itu terlalu menyedihkan untuk tidak ditangisi. Aku merasakan, di titik inilah Zayed sudah benar-benar meninggalkanku. Mengapa rasanya malah lebih sakit kini?

Entah sudah berapa lama aku bergeming menatap pot itu ketika telingaku lamat-lamat menangkap percakapan dan suara tawa. Sedetik kemudian ada yang membuka pintu kamarku.

“Dil, kami memutuskan untuk tampil kembar saat wisuda nanti. Orlando baru saja mencocokkan kostumnya.”

“Ya, untunglah tadi kami nemu kemeja yang sama dengan yang kamu belikan buat Saif. Lihat…”

Kudengar suara pintu ditutup dan suara krasak-krusuk kantong belanjaan di belakangku, sebelum tiba-tiba kedua laki-laki itu menyadari keadaanku yang terlalu pasif.

“Dil, ada apa?” Kak Saif menjenguk ke wajahku.

“Apa yang terjadi?” Orlando sepertinya baru saja melempar kantong kemejanya ke tempat tidurku. Sepertinya dia diserang panik.

“Anggreknya…,” ujarku lirih lalu kuseka mataku dengan lengan baju. “Anggreknya mati…”

Kedua orang itu sama mengamati pot di depanku. Entah bagaimana keduanya sepakat untuk tidak berkata-kata. Orlando mendekatkan dirinya padaku, kepalaku segera sadar keberadaan bahunya. Orlando merengkuh kepalaku, dan kupikir aku memang sangat membutuhkannya saat ini.

“Anggreknya mati, Kak… dia meninggalkanku… lagi…”

“Shushh…” Orlando menggumam di rambutku.

Kak Saif bergerak mendekati pot, mengambilnya dari rangka sangganya dan menaruhnya di lantai. Dia berjongkok mengamatinya, seperti sedang mencari tanda-tanda kehidupan dalam pot kecil itu.

“Bagaimana?” Orlando bertanya setengah berbisik.

Gelengan Kak Saif terasa begitu salah di mataku. “Kamu tidak mengamati tanda-tanda kalau bunganya tidak seperti biasa akhir-akhir ini?” Kak Saif menatapku. “Maksudku, bunga ini, kan, di kamarmu, kamu melihatnya setiap hari, aneh kalau kamu sampai gak melihat sejak awal kalau─”

“Lu apaan sih, Sef?” protes Orlando. “Bukan salah Aidil dong kalau bunganya mati.”

Aku tidak suka perkataan Orlando. Walau bagaimanapun, Kak Saif benar. anggrek itu nyaris sepanjang hidupnya berada di kamarku, harusnya aku menyadari tanda-tandanya lebih awal. Dan aku tidak menyadarinya. Aku makin merasa buruk karenanya.

Kak Saif mendesah. “Yah, aku juga setuju kalau ini bukan salahnya.”

“Ini salahku…”

“Gak, ini bukan salahmu,” ralat Orlando dan mulai memelukku ke dadanya. Apa, dia senang anggrekku mati? Dia selalu sedikit sinis pada Zayed selama ini. Apa sekarang saat sudah tak ada kenangan hidup yang ditinggalkan Zayed untukku, dia merasa senang?

Kuangkat kepalaku dari dada Orlando. “Apa maksudmu ini bukan salahku?”

Orlando mengernyit bingung. Sepertinya aku menatapnya terlalu tajam, atau karena nada sinis dalam kalimatku? “Kecuali kamu sengaja menyiramnya dengan herbisida dosis tinggi, anggrek itu mati bukan karena salahmu.”

Herbisida dosis tinggi dalam ucapan Orlando membuatku marah. “Kamu senang anggrek itu mati?” tuduhku.

“Ya ampun.”

“Apa selama ini kamu mengharapkan aku menyingkirkan semua hal tentang Zayed dari hidupku?”

“Aku?” Orlando menunjuk dadanya. “Jadi, sekarang aku penyebab anggrek sialan itu mati?”

“Do, hati-hati…” Kak Saif bangun dari lantai.

“Oh, baiklah… aku senang sekali karena akhirnya bunga keparat itu menyusul pemiliknya!”

“Do!” Kak Saif menegur lagi.

Orlando menatapku tajam. “Dia ingin aku berkata begitu, dan aku sudah mengatakannya,” serunya masih tetap menatapku. “Merasa lebih baik, hah?”

Aku menahan keinginan untuk meninju Orlando sampai ubun-ubunku rasanya hendak meledak.

“Do, bisa gak lu sedikit lebih dewasa sekarang?” Kak Saif memandangi temannya penuh harap.

Orlando mengibaskan lengannya. “Persetan.” Dengusannya kasar sekali. Dia membalikkan badan, menjangkau kantong kemejanya dari atas tempat tidurku lalu keluar dengan membanting pintu. Tapi dua detik kemudian pintu itu terbuka lagi. Wajah Orlando muncul kembali. “Mungkin kamu perlu diingatkan untuk menjernihkan pikiranmu lagi, siapa orang yang selalu mengantarmu ke makamnya meski orang itu sendiri sangat benci berada di pemakaman! Dan sekarang kamu menuduh orang itu menikmati bunga miliknya yang mati? Kamu memang baik sekali, Fitra Aidil…” Pintu terbanting untuk kedua kalinya.

Badanku gemetaran hingga beberapa waktu.

“Apa itu tadi…” Kak Saif berujar datar, sama sekali tak ada nada tanya dalam kalimatnya.

Aku tidak merasa perlu menanggapi. Jadi kuambil pot berisi daun-daun kuning layu itu dari lantai dan kutempatkan di tempat semula lalu mulai menangis tanpa suara. Kak Saif mengawasiku beberapa waktu dengan tatapannya, hingga kupikir dia muak sendiri.

“Tak pernahkah kamu berpikir, Dil… kalau cinta kalian itu sebenarnya sudah cukup bermasalah tanpa kalian menambah-nambahinya dengan masalah lain.” Kak Saif keluar dengan meninggalkan gaung ucapannya terperangkap di dalam kamarku, membumbung dan berputar-putar di plavon sebelum menukik tajam ke kepalaku. Menghajarku dengan keras. Bertubi-tubi.

***

“Apa semuanya baik-baik saja? Suaramu terdengar tidak bersemangat.”

“Iya, Bang… semuanya baik di sini. Aku juga baik.”

“Kamu yakin?”

“Iya.” Kupindahkan ponsel ke telingaku yang satunya. “Jadi, semua orang pergi?” tanyaku mengalihkan topik obrolan dari diriku. Aku khawatir jika tidak kulakukan mungkin satu lagi kalimat bernada tanya dari Bang Anjas akan langsung membuatku jujur padanya.

“Asnia bahkan sudah mulai mengisi koper semalam. Dia benar-benar bersemangat. Padahal masih empat hari lagi sebelum berangkat. Bisa kamu bayangkan, Dek? Asnia benar-benar berlebihan. Tadi pagi, dia harus menggali ke dalam koper untuk menemukan salah satu baju Daman yang ingin dipakaikan hari ini untuk ke Posyandu. Edan bukan?”

Aku memaksa tertawa.

“Katanya, dia bersemangat karena akan berjumpa denganmu. Dalihnya udah rindu berat. Tapi Bang Anjas yakin, itu hanya bisa-bisa Asnia saja untuk membenarkan kelakuan anehnya. Mengisi koper empat hari sebelum hari keberangkatan, yang benar saja?”

Tawa Bang Anjas terdengar lepas. Kupikir abangku itu sedang bahagia. “Mungkin Kak Asnia tidak bohong…,” ujarku.

“Hemm?”

“Mungkin Kak Asnia gak mengada-ngada. Aku juga rindu berada di rumah, tak sabar ingin segera pulang…” dan meninggalkan semua kenangan di sini untuk memulai lembaran baru.

“Sebenarnya, kamu tidak sedang baik-baik saja, kan?”

Anggrekku kemarin mati. Itu pemberian Zayed, dia adalah pacarku sebelum Orlando. Sekarang aku sedang tidak akur dengan Orlando. “Mungkin, efek homesick,” ujarku. Tadinya aku memang mengatakan akan jujur kalau Bang Anjas mengeluarkan satu saja kalimat tanya lagi, tapi jawabanku juga tidak bisa dibilang bohong. Aku memang kangen rumah.

Bang Anjas mendesah. “Empat hari lagi, keluarga kita bakal jumpa. Sabar, ya?”

Aku tertawa pelan.

“Mau dibawakan apa?”

“Aku mau dibawakan sebanyak-banyaknya cinta keluargaku… cukup banyak untuk menenggelamkanku di dalamnya.”

Aku bisa membayangkan senyum lebar Bang Anjas saat ini di rumahku nun jauh di sana. “Hal itu selalu ada bersamamu, Dek… di manapun kamu berada, cinta keluargamu selalu ada bersamamu.”

“Kalau begitu, Aidil tidak perlu apa-apa lagi, kan?”

Bang Anjas menghela napas. “Tidak juga. Kami sepakat membawakanmu sesuatu.”

Kalimat itu terbukti berhasil mencungkil rasa penasaranku. “Apa itu?”

“Lihat saja nanti.”

“Bang!”

Bang Anjas tertawa.

“Bawain apaan sih?!?”

Sayup-sayup aku mendengar jeritan Kak Asnia. Awas aja kalau sampai Bang Anjas gak tegaan trus ngasih tahu dia!!! Dan tawa Bang Anjas menyusul jeritan itu. “Kata Asnia, jawabannya empat hari lagi.”

“Iya, jeritannya kedengaran hingga ke kupingku. Tapi, Kak Asnia gak bakal tahu kalau Bang Anjas memberitahuku dengan berbisik, kan?”

Bang Anjas tertawa. “Bukan sesuatu yang besar, Dek… tapi, ya… cukup punya nilai juga.”

“Yahh…”

“Bang Anjas tutup, ya?”

“Okey.”

“Jangan larut-larut memendam masalah.”

“Aidil tidak sedang mendam masalah, jangan ngotot!”

“Aku kenal adikku.”

Whatever…”

“Segera perbaiki yang salah, sebelum yang salah itu terlanjur berubah jadi penyebab segala ketidakbahagiaan dalam hidup.”

“Sok filsuf…”

Bang Anjas tertawa. “Yang jelas, masalahmu sekarang bukan hanya sekedar kangen rumah.”

“Okey, ini sudah terlalu banyak. Sebaiknya Bang Anjas tutup teleponnya dan ngetik pesan singkat yang isinya dilarang Kak Asnia untuk diberitahu tadi.”

“Kalau begitu, sampai jumpa empat hari lagi.”

“Sampai jumpa empat hari lagi, Bang.”

Aku berguling di tempat tidur lalu diam terlentang memandangi plavon kamar. Apa aku akan baik-baik saja jika sudah pulang kembali ke kampungku? Apa hidupku akan tenang seperti telaga di tengah belantara jika aku memutuskan meninggalkan semua hal dan semua orang di sini? Apa aku akan baik-baik saja tanpa Orlando? Jika iya, aku berharap punya kemampuan melompati waktu dan meloncat ke tiga tahun ke depan, saat itu kuliahku sudah selesai tentu saja. Tapi, jika jawaban semua pertanyaan itu adalah TIDAK, mungkin… Kak Saif benar, bahwa cintaku dengan Orlando memang sudah cukup bermasalah tanpa kami menambah-nambahinya dengan masalah lagi, dan yang harus kulakukan adalah tepat seperti yang disarankan Bang Anjas: jangan berlarut-larut memendam masalah dan segera perbaiki yang salah sebelum segala sesuatunya menjadi salah dan membuatku tidak bahagia.

Pertanyaannya, dari mana aku harus mulai memperbaikinya? Dariku sendiri, atau dari Orlando?

***

“Aku memang berengsek, Jay… sangat…” Angin membawa serta bau kenanga ke hidungku. “Mungkin juga egois.”

Dua orang pelayat─satu pria dan satu wanita─melintas di depanku, berjalan lurus menuju entah di mana makam entah siapanya mereka.

“Menurutmu, jika aku ketemu Lala, apa dia akan memberiku pot yang baru?”

Keluarganya sepertinya baru berziarah juga, mungkin kemarin. Di bagian kepala makam masih menggeletak seikat mawar kering, dan seikat anggrek scorpio setengah kering. Anggrek scorpio, anggrek itu dulu favoritnya. Terbayang di mataku saat-saat dia memberiku tour sambil bertelanjang dada di kebun anggreknya. Itu adalah satu satu hari terbaik dalam hidupku.

“Tapi kupikir, tidak sama, kan? Pot yang sekarang tidak sama dengan yang dulu kamu ulurkan buatku.”

Aku sudah duduk langsung di atas rumput di sisi makam sejak beberapa menit lalu, berjongkok membuatku pegal.

“Kak Saif bilang, tapi dia sendiri juga tidak yakin, katanya kalau aku punya keinginan, mungkin aku harus menggantungkannya pada bintang jatuh. Apa menurutmu aku harus melakukan itu? Karena…” Aku benci mataku yang sejak dua hari lalu sangat mudah mengabut. “Karena aku sangat menginginkan anggrek bulan dari tanganmu itu tumbuh kembali, Jay… seakan… kamu terus hidup lewatnya… tidak pernah benar-benar meninggalkanku…”

Dua pelayat yang melintasiku sudah menemukan makam tujuan mereka. Bermeter-meter dari tempatku sedang mengobrol dengan nisan Zayed. Keduanya kini sedang berjongkok dan menadahkan tangan.

“Aku memang berengsek, Jay… aku menyalahkannya tanpa dasar, hanya karena aku terlalu sombong untuk mengakui kebodohanku sendiri… bunga itu mati karena aku, kan? Karena aku tidak becus menjaganya…”

Sekarang salah satu dari dua pelayat itu, yang wanita, sedang menaburkan bunga. Angin kini membawa aroma mawar ke hidungku.

“Menurutmu, pantaskah dia menerima keberengsekanku?” Jawaban yang kuterima adalah cicit burung yang melintas di atas perkuburan. “Mungkin pantas, ya… dia, kan, tidak pernah bermotor jam-jam tiga malam untuk menjemputku hanya karena aku mengeluh kangen…” Aku tertawa sendiri. “Kamu tahu, adakalanya aku berharap dia jadi kamu… benar-benar jadi sepertimu… bodoh, ya? Padahal kalian adalah dua orang yang berbeda.”

Kawanan burung lain melintas di atas kepalaku, dua pelayat di seberang sana saling berangkulan, yang wanita terlihat sedang mengesat mata sementara yang pria terlihat meletakkan telapak tangan di bahu pasangannya, bermaksud menguatkan.

Suara remuk daun kering yang tiba-tiba terdengar di balik punggungku mengusik keasyikan monologku bersama nisan Zayed. Kutolehkan kepalaku ke belakang. Pupilku langsung melebar. Orlando sontak menghentikan langkahnya, daun-daun kering tampak berserakan di sekitar sepatunya. Satu kakinya berada di depan kakinya yang lain. “Hh… ha… hai…” Cengirannya terlihat bagus saat sedang gugup begitu.

Aku bangun dari rumput, berdiri menghadapnya dan mengesat mataku. Itu benar-benar Orlando, bukan khayalanku. Dia terlihat hebat. Rambutnya yang mulai sedikit gondrong tampak berantakan. Kausnya birunya tidak baru, leher kaus itu bahkan melar jauh menampilkan sebagian besar dada bagian atas si pemakainya. Aku sering melihat kaus itu di badannya. Tapi, dia terlihat hebat. Dan, seikat aster warna kuning dan ungu tergenggam di tangannya. Apa dia mengikutiku?

Cengiran di wajah Orlando lenyap saat aku belum juga bersuara. Bukannya aku tak ingin membalas sapaannya, lebih dari itu aku malah sangat ingin memohon maafnya. Hanya saja, gumpalan di tenggorokanku belum mencair seluruhnya.

Orlando lanjut bergerak. Suara keresekan kembali terdengar saat sepatunya menginjak daun-daun kering itu lagi. Dia mengabaikanku yang mengikuti geraknya dengan mata, masih mengabaikanku ketika aku berbalik kembali menghadap makam saat dia berjongkok di dekat nisan. Aster itu ditaruhnya berdampingan dengan mawar dan anggrek yang sudah lebih dulu berada di dasar nisan. Sebersit dugaan dan ketidakpercayaan menghantamku. Mawar dan anggrek itu bukan dari keluarganya, bukan dari Lala atau Lili atau Tante Ruhama, tapi Orlando yang menaruhnya di sana. Orlando-kah yang melakukannya? Orlando? Nyaris mustahil. Tapi kondisi bunga-bunga itu menjelaskan semuanya. Mawar yang sudah kering kemarin lusa, anggrek yang setengah kering kemarin, dan aster yang masih segar hari ini. Artinya, dia berhasil menyingkirkan ketidaknyamanannya akan perkuburan dan mantap melayat tepat di hari setelah kejadian di kamarku, berturut-turut hingga hari ini.

Aku makin merasa buruk. Orlando tak seharusnya melakukan ini.

“Halo Zayed, bagaimana kabarmu hari ini? Kupikir kamu pasti sedang senang karena dijenguk seseorang yang begitu berarti bagimu, kan?” Tangan Orlando menyentuh nisan. “Kamu suka asternya? Kuharap iya, karena hari ini aku harus melawan seorang tante-tante dan anak gadisnya untuk mendapatkannya buatmu. Jadi kamu tidak boleh tidak menyukainya!”

Gumpalan di tenggorokanku makin besar dan aku mulai menangis lagi.

“Sepertinya, aku gak bisa mengadu hari ini.” Orlando mendekatkan mulutnya ke nisan, dan lalu berbisik, tapi masih cukup jelas untuk ikut kudengar. “Orang yang ingin kuadukan ada di sini, aku tak yakin kamu bakal memihakku kayak kemarin lusa jika aku mengadu. Walau bagaimanapun, kamu akan selalu memihaknya tak peduli dia berada di pihak yang…” Orlando diam sebentar, “Yah, kamu tahulah maksudku…” Punggungnya kembali tegak. Dia sudah cukup berbisik-bisik.

Dua pelayat di sebelah sana masih betah. Sekarang mereka tampak sedang mencabuti rumput-rumput yang mungkin menurut mereka semestinya tidak tumbuh di atas makam yang sedang mereka layat itu.

Orlando tiba-tiba mendongak padaku, menatapku yang sedang berusaha membereskan sisa-sisa tangis di wajahku. “Fitra Aidil…” Kenapa hari-hari terakhir ini dia sangat suka memanggilku dengan dua nama sekaligus? “kamu tahu, aku benci harus menahan diri untuk tidak menemuimu tiga hari ini. Bagiku lebih baik menerima suntikan anasthesi seperti saat anuku dikhitan berkali-kali lagi daripada harus menanggung sakit rindu karena tidak melihatmu…”

Aku menggigit bibir bawahku untuk mencegah diriku menangis kembali, dan untuk mencegahku dari kemungkinan tertawa sambil menangis. Orlando memang ajaib. Hanya dia yang bisa memasukkan kelucuan seperti ‘anuku dibius saat dikhitan’ dalam kalimat-kalimat serius seperti tadi. Dan kemampuannya itu adalah salah satu hal yang kucintai darinya.

“Semalam Saif datang padaku,” lanjutnya. “Katanya, aku lebih tua dari adiknya, harusnya bukan aku yang menunggu adiknya memperbaiki ini. Menurutnya, orang-orang dewasalah yang punya tugas memperbaiki… tak peduli siapa yang menyebabkan kerusakannya, tak peduli orang-orang yang lebih muda menganggap merekalah yang salah, orang-orang dewasa tetap harus memperbaikinya…” Orlando mengalihkan pandangan dariku ke makam. “Bukan berarti kamu tidak dewasa, kerena pada kenyataannya dua hari lalu aku juga bersikap persis anak-anak, bahkan lebih dari itu, anak-anak yang tak tahu tata-krama. Berkata kasar yang tidak pantas pada orang yang begitu dicintai. Itu satu lagi bukti bahwa umur bukan satu-satunya faktor mutlak yang menjadikan seseorang pantas untuk disebut dewasa. Saif benar… umurku dua tahun di atasmu… dan akan sangat memalukan jika aku sampai membiarkanmu yang jadi dua tahun di atasku. Meski pada kenyataannya selama ini sering begitu…”

Hening tercipta lama sekali. Sampai kedua pelayat itu melintas di depan kami tanpa memberi perhatian, Orlando belum berkata-kata lagi dan aku masih tidak menimbulkan suara.

Angin berhembus dan membawa lagi aroma mawar bersamanya. “Apa, kamu benar-benar harus melawan ibu-ibu untuk mendapatkan asternya?” Orlando seperti tidak menyangka kalau aku akan bersuara, matanya berbinar memandangiku. “Hanya karena orang yang sudah gak hidup lagi di dunia gak bisa merespon kita, bukan berarti kita bebas membohongi mereka…”

Orlando tersenyum. “Kamu tidak mau duduk lagi?”

Aku menggeleng.

“Hemm…” Dia kembali menatap makam. “Bukan melawan yang melibatkan jambak-jambakan rambut sih, tapi aku tidak mau mengalah hanya karena dia ibu-ibu dan aku pemuda sehat dari sudut pandang siapapun. Lagipula, aku duluan yang melihat aster itu, aku duluan yang membayar. Peraturan jual beli, kan, siapa yang bayar duluan, bukan siapa yang mengambilnya duluan. Lagipula, anak gadisnya menyerahkan aster itu dengan sukarela setelah kusenyumin…”

“Ibu-ibu itu mengambil lebih dulu?”

“Anak gadisnya yang ngambil. Tapi aku melihatnya lebih dulu, dan membayar lebih dulu.”

“Hemm… bagaimana dengan mawar dan anggreknya?”

“Mawarnya dari pot Mama di rumah. Kalau anggrek, itu ide adik-adiknya Zayed.”

Jadi kemarin dia melayat bersama Lala dan Lili? Kubayangkan dua gadis cilik itu membonceng motor Orlando, dan bayangan itu sungguh menggemaskan, dan sedikit mengharukan karena mereka menuju pemakaman.

“Dulu dia memang sangat suka anggrek scorpio…”

“Iya, Lala dan Lili mengatakan itu padaku kemarin saat kukatakan kalau aku ingin melayat kakak mereka dan butuh bunga. Lala dan Lili menyuruhku menggunting anggrek itu dan aku membawa mereka ke sini setelahnya.”

“Kenapa?”

Orlando meggerakkan bahunya. “Gak tahu, hanya berpikir kalau mungkin Lala dan Lili juga kangen kakak mereka…”

Dia baik sekali mau memikirkan itu. “Kenapa Kak Lando melayat? Bukankah Kak Lando tidak nyaman?”

“Oh… kukira kamu tanya kenapa mengajak adik-adiknya kemari.”

“Tadinya itu juga akan jadi pertanyaanku selanjutnya.”

Orlando terdiam cukup lama sampai kupikir dia tak punya jawaban. Tapi ternyata dia punya. “Aku berharap menemukan pencerahan…”

“Lalu?”

“Dan ternyata bicara satu arah dengannya juga bisa membuatku merasa lebih baik. Dan sekarang aku bisa mengerti mengapa kamu selalu ingin berlama-lama bila sedang di sini. Rupanya pemakaman tidak seseram yang kupikirkan.”

Aku menghela napas dan menghembuskannya perlahan. “Orly, aku minta maaf telah bersikap tidak dewasa dua hari lalu.”

“Aku menyesal anggreknya mati. Sungguh. Sebanyak kamu merasa bahagia tiap melihat bunga itu tumbuh, sebanyak itu pula bahagiaku untukmu, Fitra Aidil… melihatmu bersedih karena bunga itu mati adalah hal terakhir yang ingin kulihat di dunia ini. Aku merasa begitu jahat saat kamu malah mengira aku gembira karenanya… dan juga marah.”

“Maaf…” Kutempatkan sebelah tanganku di bahunya, dan Orlando menempatkan satu tangannya di atas punggung tanganku. Seketika kehangatan dan kekuatan bagai ditransfer dari telapak tangannya dan mengalir ke dalam diriku. Seperti inilah kuatnya, Tuhan… dan bagaimana aku bisa hidup tanpa dirinya suatu saat di masa depan jika Kau menuliskan salah satu dari kami harus menyerah pada norma dan kodrat?

“Ayo kita pulang dan jadi sepasang kekasih lagi seperti seharusnya…” Orlando bangun dan merangkulkan sebelah lengannya ke bahuku. “Kamu tidak keberatan, kan?” tanyanya pada nisan Zayed saat melakukan itu.

Kusikut pelan perut Orlando, dia bergeming. “Sampai jumpa, Jay…”

“Yah, sampai jumpa, Zayed… sayang sekali kami tak bisa menemanimu lebih lama lagi.”

Orlando memutar badan kami lalu mulai mengajakku berjalan. Aku menikmati keberadaannya di sebelahku. Dia, pacarku yang hebat dan lebih dewasa dua tahun di atasku, baru saja berhasil memperbaiki. Kutolehkan wajahku padanya, kugenggam sebagian leher kausnya dan dengan sedikit berjinjit kucium pipinya.

Orlando menggumam dan merapatkan rangkulannya ke sekitar leherku. Sambil berjalan, dia menunduk dan balas mencium pipiku. “Ini lebih terasa menyenangkan daripada kenikmatan bercinta, kamu tahu… berada di dekatmu dengan cara seperti ini, itu nyaman sekali, Fitra Aidil.”

“Terima kasih karena tidak menyerah untuk anak-anak sepertiku…”

“Tak akan pernah.”

“Aku mencintaimu.”

“Oh, itu bukan salahmu. Membuatmu mencintaiku memang sudah bakat alamiku…”

“Nah, itulah tepatnya penyebab aku jatuh cinta padamu, bakatmu yang alamiah itu…”

“Kamu percaya kalau kukatakan kita adalah hasil seleksi alam?”

“Oh, jadi kita adalah mutan. Wow. Teori yang mengagumkan,” ujarku sambil memegangi lengannya yang melingkar di sekitar pundak dan leherku.

“Kita mampu bertahan hingga ke sini. Kalau bukan hasil seleksi alam, mungkin sejak kamu dicium Saif waktu itu di belakang rumah, kita tak akan pernah menemukan cara untuk bersama lagi, kan?”

“Kalau begitu, tetaplah jadi bagian seleksi alamku…”

“Hanya Iron Man yang bisa menghentikanku untuk jadi begitu.”

Kami sampai di gerbang, tempat Orlando memarkirkan motornya. “Menurutmu, apa kita bisa mampir sebentar ke rumahnya Lala?” tanyaku sambil melepaskan lenganku yang membelit pinggangnya dari belakang.

“Sudah terlalu sore untuk mampir, kan?”

“Iya…”

Sepertinya Orlando menangkap nada kecewa dalam suaraku. “Tapi siapa peduli, kita bahkan bisa memaksa untuk makan malam di sana jika mau. Lala dan keluarganya pasti tidak keberatan.”

Aku tersenyum cerah saat naik ke boncengannya.

Seperti kami tak pernah bersitegang. Seperti aku dan Orlando tidak pernah berselisih. Konflik cinta seharusnya memang membuat dua pelakunya kian tegar dan kuat, bukannya tercerai-berai. Aku tak berharap hubunganku dan Orlando mulus-mulus saja sampai akhir sejak awal. Tanpa adanya konfllik, mungkin kami hanya tahu bagaimana caranya mencintai dan tak pernah tahu bagaimana rasanya berjuang untuk cinta, dan lalu jatuh semakin dalam padanya ketika perjuangan itu kami menangkan.

Di balik punggungnya, doaku masih sama, aku ingin selamanya dia jadi pemilikku. Dan entah bagaimana, aku yakin doanya juga serupa.

***

Mereka terlihat benar-benar serupa. Dua laki-lakiku yang hebat. Kakakku yang tampan dan kekasihku yang luar biasa. Seperti kata mereka beberapa hari lalu, hari ini mereka jadi kembaran. Dari ujung kaki hingga puncak kepala, yang melekat pada mereka benar-benar sama persis.

“Gak lupa bawa baju toga, kan?” tanyaku saat rombongan kami turun di parkiran.

“Itu benda pertama yang tercantum dalam daftar ‘hal-hal yang tidak boleh dilupakan hari ini.’” Kak Saif menjawabku. “Mana kameranya?”

“Oh, iya, ada di sini.” Aku membungkukkan badan kembali ke dalam mobil dan menjangkau tali kamera Kak Saif di jok.

“Aku suka batikmu, Sweetheart…,” Orlando berbisik begitu pelan.

“Jangan macam-macam, semua keluarga kita di sini,” bisikku memperingatkan dengan nada mengancam.

“Mereka gak bakal denger.”

“Oh, aku bisa denger itu…,” cetus Kak Saif yang sedang mengenakan jasnya di atas kemeja.

Orlando memutar bola matanya.

“Sebentar,” ujarku. “Bisa lepaskan jasnya? Aku ingin punya foto kalian dengan kemeja saja.”

“Tidak masalah,” jawab Orlando batal mengenakan jasnya sambil bergerak untuk medekati Kak Saif.

“Iya, selama kamu tidak meminta kami melepaskan kemeja juga,” sambung Kak Saif.

“Oh, aku sudah sering lihat kalian telanjang dada,” responku.

“Maksudmu, Orlando, kan?”

Aku mendelik pada Kak Saif.

Familyfamily…,” ujar Orlando. Bibir Kak Saif membentuk kata ‘sorry’.

Mereka saling merangkul bahu setelah Kak Saif berhasil melepaskan jasnya.

Perfect,” ujarku dan mengangkat kemera. Jejeran mobil jadi latar belakang.

“Hey, wisudawan, sampai kapan kalian mau tetap berdiskusi di situ?” Kak Adam menginterupsi. Rombongan keluarga besarku sudah mendahului menuju gedung wisuda.

Kak Saif memakai kembali jasnya, diikuti Orlando. Seragam wisuda mereka dipegang di tangan lalu mulai menyusul menuju gedung wisuda.

“Jadi, di mana Mbak Ruthiya?” tanyaku sambil mengalungkan kemera ke leher.

“Di sana.”

Aku mengikuti arah telunjuk Kak Saif. Dikepung papan-papan bunga segala macam warna dan rupa di pelataran gedung, kutemukan wajah-wajah yang kukenal. Erlangga berdampingan dengan Rani, baju mereka secorak, dan Erlangga membawa kameranya sendiri. Di sebelah mereka, Kak Gunawan sedang bercakap-cakap dengan orang-orang yang kupikir keluarganya. Syuhada pasti akan kikuk bertemu dengan calon mertua dan calon ipar-iparnya nanti. Kulirik Syuhada yang berada dalam rombongan keluargaku, dia yang sudah melihat keberadaan pacarnya tampak tersenyum cerah dan mempercepat langkahnya meninggalkan Mbak Balqis di belakang. Okey, sepertinya Syuhada tak akan kikuk. Dia, kan, sudah berpacaran dengan Kak Gunawan selama semester-semester kuliahnya. Pasti dia punya kira-kira satu semester khusus untuk mengakrabkan diri dengan keluarga calon suami masa depannya di antara semester-semester itu.

Dan di antara orang-orang itu, berdirilah Mbak Ruthiya. Cantik, dan anggun, dan bahagia, dan penuh rindu. Bahkan senyumnya sudah mendahului menuju Kak Saif sebelum langkah-langkahnya sendiri. sekarang kupandang Kak Saif. Oh, rupanya dia juga sudah lebih dulu menunjukkan gigi-giginya buat Mbak Ruthiya, dan kakakku itu tidak bisa menyembunyikan ekspresi terpukaunya. Aku bertanya-tanya tentang bagaimana cara mereka bertemu di bandara kemarin, apakah mereka saling menempel hingga berjam-jam lamanya sampai petugas bandara risih dan lalu mengusir mereka? Apa saat itu Kak Saif sempat benar-benar berniat khilaf seperti yang dibualkannya padaku malam itu? Apa dia sungguhan mengimplementasikan niat khilafnya itu saat mengantar Mbak Ruthiya ke hotel tempatnya akan menginap selama seminggu di sini? Aku tidak bisa memastikan itu. Tapi, dilihat dari ekspresi keduanya saat ini, aku bisa memastikan satu hal: kemarin mereka belum benar-benar tuntas melepaskan kerinduan satu sama lain. Aku bertaruh mereka akan berciuman di depan semua orang sebentar lagi begitu berdiri berhadap-hadapan.

“Itu pacarnya Saif yang dulu itu, kan?” bisik Kak Asnia ketika mencolek punggungku saat rombongan kami makin dekat. “Bukannya mereka sudah putus, ya?”

Aku tersenyum, dan kugamit lengan Kak Asnia. Rasanya sudah lama sekali aku tidak semesra ini pada kakak perempuanku. Semoga Bang Taufik yang berjalan sambil mendekap Daman Huri di sebelah kami tidak cemburu. “Kita tidak pernah benar-benar bisa putus dengan seseorang yang dituliskan untuk jadi jodoh kita, Kak…” Kak Asnia tersenyum mendengar ucapanku dan menepuk-nepuk lenganku yang masih menggamit lengannya.

“Iya. Lagian, mereka terlihat begitu serasi satu sama lain,” kata Kak Asnia. “Oh Tuhan, mereka berciuman.” Suara Kak Asnia tercekat.

Aku memandang ke depan. Lalu tersenyum sendiri. Kak saif sedang memeluk Mbak Ruthiya, seragam toganya yang masih terlipat terjepit di antara mereka.

“If, masih pagi!” seru Bunda memperingatkan putranya yang pasti sudah kelewatan dalam pandangannya.

Kak Saif cengengesan.

Mbak Ruthiya merona abis-abisan ketika Kak Saif membebaskannya dari belitan lengan. Dengan canggung dan malu-malu, Mbak Ruthiya maju untuk menyalami Bunda, menempelkan pipinya dan berpelukan. “Apa kabar, Tante…”

“Bahagia,” jawab Bunda di antara cipika-cipiki dengan calon menantunya. “Jangan biarkan dia mengambil kesempatan atasmu, Nak… Itu memang putra Tante, tapi kamu tidak lupa, kan, kalau sifat dasar lelaki itu adalah buaya? Jangan sampai kamu masuk ke kandangnya…”

Ayah berdeham. “Ayah masih ingat saat Bunda kalian tersesat ke kandang Ayah.” Dan semua orang tertawa.

“Ayo kalian, pakai toganya dan bergabunglah ke dalam untuk disumpah.” Tante Sofiah berseru setelah sesi bersalaman rombongan kami selesai. Khusus hari ini, Tante Sofiah dan suaminya juga mengenakan pakaian semotif.

Aku menunduk menatap pakaianku sendiri, batik berwarna dasar biru indigo dengan motif melati dan sulur-sulur rumit warna putih dan ungu pekat di bagian bawah. Pandanganku beralih ke Kak Asnia dan Bang taufik, lalu ke Daman Huri sebelum lanjut ke Bang Anjas dan Kak Aini serta Najwa yang malas-malasan di dalam gendongan ibunya. Kata Orlando tadi, dia suka batikku. Aku bersyukur keluargaku membuatkan kami seragam untuk hari ini. Kejutan yang dikatakan Bang Anjas padaku lewat telepon waktu itu memang kejutan yang manis. Mengenakan batik yang sama seperti ini, abang dan kakakku seperti ingin menegaskan pada orang-orang. Bahwa tak peduli selama dan sejauh apapun aku meninggalkan mereka di belakangku, aku tetaplah bagian dari mereka. Tak ada apapun dan siapapun yang bisa mengubah itu.

*

Kupeluk Kak Aiyub dan kugumamkan selamat di dekat telinganya. Dia menepuk-nepuk punggungku sementara kami berpelukan. “Jangan terlalu bernafsu, Fardeen bisa mengira aku mengambil kesempatan padamu.”

Aku tertawa dan kulepaskan pelukanku. “Selamat…” Sekarang kusalami Kak Fardeen dan kuberi dia pelukan singkat juga.

“Jadi, bagaimana jas kami? Keren, kan?” tanya Kak Aiyub sambil memamerkan jas online miliknya.

Aku mundur dan menatap mereka berdua. Di sekitar kami, orang-orang tumpah ruah, para keluarga dan para wisudawan yang baru saja selesai diwisuda, berbaur dalam tawa dan haru. “Kalian luar biasa.”

Kak Fardeen tersenyum dan melirik ke balik bahuku. “Kamu sudah ditunggui, Dik…”

Aku menoleh ke balik bahuku dan kutemukan Orlando berdiri di sana, kamera yang tadi kutitipkan padanya entah sudah di serahkannya pada siapa. Dia juga sudah melepaskan jasnya, sekarang pakaian itu tersampir di sebelah bahunya─entah di mana baju toganya. Yang terlihat sekarang adalah kemeja dan dasi yang sama seperti yang juga dipakai Kak Saif. Pasti dia sudah selesai berfoto, Orlando bahkan sudah melonggarkan dasinya. Aku kembali memandang pasangan di depanku. “Kalian tidak ingin saling mengucapkan selamat?”

Kak Ayub melirik Kak Fardeen. Mereka tidak meresponku.

“Ya ampun… kadang aku ragu kalau kalian sudah dewasa.” Kutinggalkan mereka untuk menuju Orlando. Kugenggam pergelangan tangan Orlando dan kuseret dia menuju Kak Aiyub. Seingatku, baru kali ini mereka berkesempatan bertemu langsung lagi setelah drama ‘mantan dan pacar barunya’ dulu itu selesai.

“Hh…hai…”

“Halo, Mantan…,” balas Orlando.

Dan kebekuan itu mencair begitu saja. Mereka semua tersenyum dan lalu berangkulan sambil mengucapkan selamat satu sama lain, Kak Fardeen juga memberi pelukan dan selamat buat Orlando.

“Kalian keberatan kalau aku membawa pacarku pergi dari sini? kami butuh sedikit, ya… kalian tahulah,” Orlando menaik-naikkan satu alisnya, “waktu untuk berdua…”

“Ya, silakan. Kupikir Aidil juga sudah ingin pergi ke ‘waktu untuk berdua’ itu sejak tadi-tadi,” ujar Kak Aiyub.

“Dan jujur saja, kehadirannya malah agak-agak mengganggu ‘waktu untuk berdua’ milikku dan Aiyub.” Oh, level melucu Kak Fardeen ternyata sedang mengalami peningkatan.

Orlando menyeringai sementara aku memutar bola mataku. Lalu tanpa berkata-kata lagi, kami berbalik dan berjalan bersisian, meninggalkan dua lelaki yang menurutku punya ikatan jodoh yang kuat itu. Ikatannya dari adamantium, bukan dari jerami kering.

“Jadi, sekarang kita tinggal menunggumu saja, kan?” kata Orlando.

“Menungguku apa?”

“Menunggumu selesai kuliah lalu menikah.”

“Kamu harus punya pekerjaan dulu kalau ingin lamaranmu diterima keluargaku.” Berpura-pura seperti ini kadang bisa membuatku sangat bahagia. Tapi selamanya, ini hanya akan tetap jadi pura-pura, kecuali orang-orang sudah sangat gila untuk tidak apa-apa jika aku dan Orlando menikah.

“Menjagamu, Fitra Aidil, adalah satu-satunya pekerjaan yang kuinginkan sampai kapanpun.”

Aku tertawa.

“Aku serius.”

Tiba-tiba Orlando berhenti berjalan dan memegang kedua bahuku, membuat kami berdiri berhadap-hadapan di tengah-tengah lautan manusia. Tatapannya tampak begitu berbeda saat ini. Tapi aku hapal situasi ini, aku sangat tahu ke mana ini akan berujung. Kurasakan bibirku bergetar. Jas yang tersampir di bahu Orlando perlahan jatuh meluncur ke dekat sepatu kami.

“Orly, kumohon jangan…” Aku pasti sudah pucat.

Wajah Orlando kian mendekati wajahku. Dan keparatnya, aku tidak punya kekuatan untuk keluar dari situasi ini.

“Sialan, Do… Lu mau micu kiamat, hah!”

Tiba-tiba saja sosokku terbetot ke samping. Aku bersyukur Kak Saif datang tepat pada waktunya, tapi… kutemukan juga Mbak Ruthiya di sebelahnya, menatap kami dengan tatapan clueless-nya. Namun aku bisa melihat kalau perlahan-lahan ekspresi penuh tanya di wajah Mbak Ruthiya berubah menjadi ekspresi kaget yang sama sekali tidak berhasil disembunyikan. Bahkan aku menemukan wajahnya juga mulai memucat. Dia sudah tahu

Orlando menggemerutukkan giginya.

“Apa!” Kak Saif memang sedang berbisik, tapi bisikannya terdengar tajam dan mengintimidasi.

“Maafkan, karena aku tidak seberuntungmu dan Ruthiya…,” desis Orlando penuh luka. “yang bisa berciuman kapan saja di mana saja sesuka hati…”

Ekspresi Kak Saif makin berang. Dan mata Mbak Ruthiya kian membundar. “Pergunakan akal sehatmu, Tolol! Keluarga kita tepat satu inci di sana!” Begitu marahnya Kak Saif hingga tidak bisa memperkirakan jarak dengan benar. Tapi dia memang benar, mengingat situasinya sekarang, aku dan Orlando memang bisa dibilang tepat berada sedekat itu dengan keluarga kami.

“Kak…” Mbak Ruthiya mencengkeram lengan Kak Saif dengan kedua tangannya sekaligus, seakan dengan begitu dia bisa menenangkan Kak Saif.

“Aku tidak peduli, oke! Panggil saja dan akan kuteriakkan ke telinga mereka semua.”

Aku menyesalkan sikap Orlando.

“Ada apa?” Erlangga yang sepertinya sudah mengamati ada yang tidak beres kini berdiri di sebelahku.

“Lando sudah gila,” cetus Kak Saif tanpa pikir-pikir, dan Mbak Ruthiya mulai berusaha menyeret pacarnya pergi.

“Stop!” seruku. “Bisakah kalian pergi saja?” Bisa-bisanya mereka melakukan ini padaku. Orlando dan Kak Saif sama saja. Bertambah lagi satu orang yang tahu tentangku dan Orlando.

Erlangga berdeham, “Ya, sebaiknya kita bubar…”

Kak saif menatapku, masih bengis. “Kamu benar-benar berniat membiarkan dia melakukannya? Di sini? Yang benar saja, di mana sih akal sehatmu? Kenapa selalu harus aku yang repot-repot melindungimu, hah?”

“Kalau begitu jangan melindungiku!”

Kak Saif ternganga sejenak sebelum memperoleh kesadarannya kembali. “Dan membiarkanmu menghancurkan dirimu sendiri?” Nadanya memelan namun tetap saja tajam.

Tak tahukah laki-laki ini kalau sekarang justru dia yang sedang dalam perjalanan menghancurkanku? Lihat, dia membawa serta Mbak Ruthiya yang awalnya tidak tahu apapun. Memang selalu gara-gara dia. Erlangga jadi tahu, Kak Gunawan jadi tahu, itu salahnya. Dan sekarang katanya aku yang menghancurkan diriku sendiri? Apa dia sebegitu tidak berperasaannya hingga mengabaikan itu? Tapi… bagaimana kalau dia tak datang dan Orlando benar-benar menciumku di tengah orang ramai?

Aku tak tahu siapa yang lebih salah di sini. mungkin kadar kesalahan kami bertiga memang sama besarnya.

“Kalau cuma dirimu sendiri yang kamu hancurkan, aku tak akan menghentikan. Silakan saja. Ini hidupmu, terserahmu mau menghancurkannya selebur apa. Tapi kupikir kamu cukup sadar untuk melihat kalau banyak kehidupan lain yang terkait dengan kehidupanmu. Sanggup kamu menghancurkan hidup mereka? Hidup orang-orang yang menyayangimu? Keluargamu? Kamu pikir mereka siap menerimanya?”

Aku bisa merasakan putaran bumi pada porosnya. Ucapan Kak Saif memicuku merasakannya. Mungkin sesaat lagi aku akan ambruk.

“Apa yang terjadi?” Kak Gunawan muncul di antara kami, pada saat yang tepat. Dia memegang lengan atasku, membuatku tetap tegak. Suaranya yang tenang seperti biasa menghasilkan efek terapi psikis buatku. “Kalian sudah mulai jadi pusat perhatian…” Dia melirik ke belakang. “Abangnya Aidil sedang menuju kemari…,” desisnya. “Apapun yang sedang terjadi, kuharap kalian tidak makin mengacaukannya. Kita bukan sekumpulan siswa taman kanak-kanak lagi…”

Dehaman Bang Anjas begitu khas. “Aidil, ada apa?”

“Aku mencintai Aidil…”

Kenapa Orlando tidak bisa kooperatif sekali ini saja? Kenapa dia tidak kasihan padaku? Kenapa dia memilih untuk menghancurkan dunia kami sekarang? Aku tidak tahu harus mengasihani dirinya atau diriku sendiri. Sudah tak ada, semuanya sudah dilepaskan olehnya, untuk kehancuran kami berdua.

Selama hening yang mencekam dan menggetarkan pijakanku pada bumi ini, semua orang menatap Orlando. Bisa kulihat rahang Kak Saif mengeras, wajah Erlangga menegang, dan Mbak Ruthiya tampak pucat. Mungkin sama pucatnya dengan wajahku sekarang. Hanya Kak Gunawan yang tampil tenang.

Bang Anjas mengernyit bingung. “Maksudnya?”

“Kami semua mencintai Aidil…” Suara Erlangga agak tercekat. “Maksudnya, Orlando, aku, Saif, Kak Gunawan dan semua orang di sini mencintai Aidil, Bang… kami… emm… kami…”

“Kami menyayanginya, sangat…” Mbak Ruthiya tiba-tiba membantu Erlangga untuk melanjutkan. “Begitu cinta dan sayangnya hingga kami yang mencintai dan menyayanginya di sini tak ingin dia pergi setelah dia diwisuda kelak…” Mbak Ruthiya sepertinya kesulitan menelan liurnya, tangannya masih memegangi Kak Saif, seperti dengan tetap memegangi begitu dia akan mendapatkan kekuatan. Apa yang dikatakan Mbak Ruthiya bisa jadi adalah jalan keluar paling cemerlang untukku saat ini, dia menemukan jalan keluar itu dengan begitu cermat dan tepat pada waktunya. Erlangga juga. Mungkin aku harus berterima kasih pada mereka berdua nanti.

Bang Anjas menatapku.

“Kami gak ingin Aidil pergi setelah pendidikannya selesai suatu saat nanti, Bang…” Kak Saif berusaha memamerkan senyum sedihnya, mungkin menurutnya itu bisa berguna untuk meyakinkan Bang Anjas. “Kami tiba-tiba jadi membicarakannya begini karena kebetulan momennya pas, aku dan Orlando juga Gunawan sedang diwisuda, jadi… yah… tiba-tiba kami ingat kalau suatu saat nanti Aidil juga bakalan diwisuda, kan?”

“Dan selama ini kami diberikan bayangan kalau Aidil bakal pulang kembali ke kampung setelah kuliahnya selesai… jadi, ya… tiba-tiba suasananya agak melankolis dan beberapa dari kami terlalu mendramatisir itu hingga tak bisa mengontrol emosi.” Kak Gunawan menutup kalimat-kalimat itu dengan senyum meyakinkannya. “Kami yakin, kalau diperbolehkan, Aidil juga pasti akan senang bisa terus berada di sini…”

Bang Anjas tersenyum padaku. “Jadi, karena ini kamu terdengar galau di telepon hari itu, hah?”

Ingatanku pergi ke saat aku menelepon Bang Anjas, sehari setelah kematian anggrek di kamarku. Saat itu dia mengira aku sedang punya masalah. Mungkin sebaiknya aku mengiyakan saja dugaannya saat ini. Samar kutundukkan kepalaku. Aku tidak bisa berbohong jika terus menatap mata Bang Anjas.

Saat kuanggukkan kepalaku, Bang Anjas merangkulkan sebelah lengannya ke bahuku dan menggoyang-goyangkanku. “Kamu beruntung, Dek… di sini banyak orang yang begitu sayang padamu hingga tak ingin kamu tinggalkan…”

Aku memaksa tersenyum buat Bang Anjas. Pada satu kesempatan aku berhasil membuat kontak dengan Orlando. Kukirim pesan ‘jangan berani-berani mengacaukannya!!!!!!!’ dengan tujuh tanda seru sekaligus pada laki-laki itu lewat tatapanku. Orlando tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Aku berdoa dalam hati agar dia tidak berkata-kata bodoh dan nekat lagi. Orang-orang yang peduli pada kami sudah bahu-membahu menutupi jejak. Aku akan menghajarnya dengan tanganku sendiri kalau sampai dia mengacaukannya lagi.

“Jadi, kamu tidak ingin bilang apa-apa ke orang-orang yang menyayangimu ini?” tanya Bang Anjas sambil mengintip ke wajahku dan kembali menggoyangkan rangkulannya pada bahuku.

Kupandang takut-takut Mbak Ruthiya yang kebetulan berdiri tepat di jurusan pandanganku. Menyadari kalau dia sudah tahu rahasia tergelapku sungguh membuatku canggung padanya. Mungkin kedekatan kami akan berubah setelah ini. Mungkin setelah ini aku tidak akan bisa mengobrol akrab dengannya tanpa memikirkan kalau mungkin di kepalanya dia sedang mengulang-ngulang perkataan semisal ‘Aidil bukan cowok normal’ sampai percakapan selesai. “Terima kasih…,” ujarku akhirnya.

Bang Anjas dan yang lainnya seperti menunggu. “Hanya terima kasih?” tanya Bang Anjas setelah aku hanya diam.

“Terima kasih sudah mencintai dan menyayangiku. Rasanya sungguh luar biasa bisa dicintai dan disayangi oleh banyak orang sekaligus dalam satu waktu…”

Bang Anjas tertawa pelan lalu melepaskanku. Sedetik kemudian anak sulung ayah dan ibuku itu berbalik, siap pergi ke keluargaku yang lain yang tadi ditinggalkannya untuk kemari.

“Jadi, apa Aidil boleh tetap tinggal di sini setelah dia lulus nanti?” Orlando tiba-tiba berseru pada Bang Anjas. Dalam jeda singkat sebelum Bang Anjas merespon, bisa kudengar desis samar Kak Saif yang memperingatkan Orlando agar tidak bertindak tolol yang sama sekali tidak digubris oleh temannya itu, Orlando bahkan tidak mau repot-repot memandang Kak Saif.

Bang Anjas menoleh pada kami. “Tidak peduli dia berada di mana, Orlando… tak peduli dia mengembara jauh sekali dari rumah, dia tetap adik kami. Dia bisa berada di mana saja selama dia bahagia. Walau kata orang tak ada tempat lain seperti rumah, tapi buktinya Aidil yang kalian cintai ini menemukan rumah juga di sini… berkat orang-orang seperti kalian…”

Aku ingat ayahku. Jika masih hidup, aku yakin sekali kalau ayahku juga akan mengatakan kalimat serupa itu, dan saat ini cara Bang Anjas bicara begitu mirip Ayah. Mataku berkaca-kaca, tapi sebelum aku sempat menghambur memeluk abangku itu dan berterima kasih untuk petuahnya, dia sudah lebih dulu bergerak. Beberapa meter di depan sana kulihat Kak Asnia tersenyum pada kami, seakan dia sudah tahu apa yang diucapkan Bang Anjas tanpa mendengarnya dan tanpa diberitahu. Seakan kakak perempuanku itu setuju terhadap apapun yang berasal dari kakak laki-laki sulung kami, dan sejauh ini untuk hal-hal tertentu memang begitu. Dia anak pertama Ayah dan Ibu, Kak Asnia dan aku lahir setelahnya, jika dalam keluargaku harus ada seseorang yang wajib dipatuhi setelah Ayah dan Ibu tiada, itu adalah Bang Anjas.

Kualihkan perhatianku dari punggung Bang Anjas. Lalu kulihat Orlando tersenyum padaku, lebar dan lama, sebelum kemudian bibirnya membentuk kata-kata yang kupahami sebagai ‘I love you’. Sebenarnya aku sangat ingin merenggut senyum itu dengan omelan, bila perlu dengan tinju langsung ke tulang hidungnya. Setelah ketegangan yang nyaris saja tadi, dengan santainya dia bisa memamerkan senyum begitu rupa. Apa dia pikir keluargaku dan keluarganya akan membiarkan kami tetap berhubungan bila mereka sampai tahu? Satu-satunya kesempatan kami adalah, dengan membiarkan hubungan ini tetap rahasia, walau sekarang rahasia itu harus dijaga oleh beberapa orang.

“Orlando sekarang boleh bernapas lega. Dia gak akan jadi petani karena Aidil akan tetap di sini.” Kak Saif menggenggam tangan Mbak Ruthiya dan bergerak pergi. Sekilas kutemukan Mbak Ruthiya tersenyum padaku, tulus dan tanpa penyesalan. Apa itu artinya dia memberi restu buatku dan Orlando? Semoga saja.

“Kak Saif…”

Kakakku berbalik, Mbak Ruthiya juga. Mereka berdua sama memandangku, menunggu.

“Jangan berhenti melindungiku.”

“Kupikir tadi kamu berkata sebaliknya,” jawab Kak Saif.

“Jangan berhenti melindungiku,” ulangku lebih tegas.

Kak Saif membiarkan beberapa detik berlalu sebelum memberi tanggapan. “Sejujurnya, aku gak tahu bagaimana caranya berhenti melindungimu…”

Aku tersenyum mendengar respon Kak Saif. Kupandang Mbak Ruthiya. “Tolong jangan cemburu padaku,” ujarku padanya.

Mbak Ruthiya menggeleng. “Dia kakakmu, Dil… dia lahir dengan naluri untuk melindungi adiknya. Bodoh jika Mbak sampai cemburu. Tapi… Mbak cemburu dengan caranya Kak Lando mencintaimu, menyenangkan sekali jika seseorang mencintai kita sebesar itu hingga takut banget kehilangan…”

“Aku bisa mencintai lebih hebat dari kambing itu, Ruth,” potong Kak Saif tak terima.

Mbak Ruthiya tersenyum dan meletakkan pipinya ke lengan Kak Saif. “Dan itulah alasan mengapa aku terus menyebut namamu dalam doaku, Kak…,” lirih Mbak Ruthiya lalu menggamit lengan Kak Saif dan mereka berdua berjalan pergi.

“Aku akan cari tahu, apa namaku ada dalam doa Rani Tayang.”

Tak ada yang berminat merespon Erlangga.

Kak Gunawan memungut jas Orlando dari tanah, mendekat untuk menaruh jas itu di bahu Orlando lalu menepuknya beberapa kali. “Ternyata cinta seperti ini benar-benar ada. Sejak di balai-balai malam itu kupikir ini hanya sebuah hasrat semata, sampai mataku benar-benar melihat dan hatiku teryakinkan saat ini. Aku salut padamu, Kawan…” Kak Gunawan orang berikutnya yang pergi.

“Apa aku harus memberikan kunci mobilku pada kalian? Kupikir setelah drama ‘nyaris ketahuan’ tadi kalian ingin pergi ke suatu tempat berdua, saling melepas pakaian dan melakukan adegan film porno yang paling pa─”

“Enyahlah, Afghanessa. Kamu gak diperlukan lagi di sini,” potong Orlando. Seingatku baru sekali ini dia memanggil Erlangga dengan nama belakangnya.

“Terima kasih kembali,” balas Erlangga lalu pergi setelah mengedip satu kali padaku. Tapi baru dua langkah, dia balik badan kembali. “Serius kalian tidak mau kunci mobilku? Joknya baru diganti dengan yang lebih em─”

“Tidak!” kataku dan Orlando berbarengan tanpa menatap Erlangga. Saat ini aku dan Orlando justru sedang sibuk untuk saling bertatapan.

“Oke. Aku hanya menawarkan, siapa tahu setelah ketegangan tadi kalian butuh ruang untuk bercin─”

“TIDAK!” Sekali lagi aku dan Orlando berucap berbarengan, kini kami sepakat untuk memelototi anak itu.

Erlangga manggut-manggut lalu melanjutkan langkahnya.

Orlando mendekatiku. Kupikir dia akan berusaha menciumku lagi. Tapi ternyata tidak, dia bahkan tidak membuat sedikit pun kontak fisik ketika melintas di hadapanku. “Ayo kita ganggu Daman Huri. Aku tergoda untuk menggelitiki lubang hidungnya, hitung-hitung balas dendam.”

Aku mengikuti Orlando sambil tersenyum dan menerka-nerka perasaannya. Apa sekarang dia tidak lagi dibayang-bayangi ketakutan akan perpisahan kami saat aku lulus nanti? Meskipun dia pernah berapi-api bilang akan mengikutiku, tapi tempatnya bukanlah di sana di antah berantah. Tempatnya seharusnya di sini. Jadi kupikir sekarang dia pasti tak perlu takut lagi.

Ternyata… tak perlu bintang jatuh untuk membuat keinginanku agar bisa terus bersama Orlando terwujud. Momen hari ini menyadarkanku, bahwa yang kubutuhkan hanyalah kakak seperti Kak Saif, calon kakak ipar seperti Mbak Ruthiya, dan teman seperti Kak Gunawan dan Erlangga. Selama mereka ada untuk mendorong punggungku, selama mereka ada untuk menyuruhku maju dan terus, selama mereka tidak memandang sinis cintaku dan Orlando, maka selama itu pula aku dan Orlando punya kesempatan untuk terus bersama-sama. Bagiku, mereka adalah bintang jatuh dalam wujud berbeda. Suatu saat nanti, kuharap diriku dan Orlando juga bisa jadi bintang jatuh untuk mereka.

Ya, suatu saat nanti.

***

24 BULAN KEMUDIAN…

Dasi mereka berkibar-kibar dipermainkan angin sore di lantai paling atas gedung tua ini. Lengan kemeja sama digulung sampai siku, kancing yang paling atas sama-sama dibuka, dan mereka berdua sama-sama terlihat hebat, cowok-cowokku yang tampan. Melihat mereka berdua sekarang mengingatkanku pada masa-masa yang sudah berlalu. Kadang masih sulit rasanya melihat mereka sudah bukan lagi mahasiswa, karena sesekali di balik tampilan eksekutif muda itu aku masih melihat mereka sebagai mahasiswa, khususnya saat kami nongkrong di tenda Kang Umay sepulang mereka kerja dan sehabis kuliahku, dan saat sesekali kami jogging—yang makin jarang saja, dan khususnya saat mereka bercengkerama dengan bola basket di pekarangan jika sama-sama pulang kerja terlalu awal.

Perbedaan yang paling terasa adalah, aku tidak bisa lagi sering-sering ketemu mereka. Banyak tugas yang harus diselesaikan Orlando di perusahaan ayahnya Kak Saif, dan banyak agenda kerja yang harus dikerjakan Kak Saif di kantor papanya Orlando. Sampai saat ini aku tidak mengerti alasan mereka untuk tidak bekerja bersama orang tua masing-masing, tapi malah memilih persilangan begitu rupa. Aku juga tidak tahu gaji siapa yang paling besar, kemungkinan malah orang tua mereka di balik layar sudah sepakat untuk memberikan gaji Kak saif dan Orlando sama besar. Dan itu bukan hal mustahil mengingat situasi dan kondisinya. Penyebab lain kami kian jarang bisa menghabiskan waktu bersama adalah, kuliahku semakin praktikal dan menjurus yang mengharuskanku memburu pasien hingga merasa setengah gila. Aku punya quota kasus yang harus dipenuhi jika ingin di depan namaku ada tiga huruf kecil, de dan er dan ge. Tapi, biasanya kami punya akhir pekan yang berkualitas, setidaknya cukup berkualitas bagiku dan Orlando.

Tapi, hari ini bukan akhir pekan, meski kebersamaan kami sangatlah punya kualitas. Bahkan mungkin lebih berkualitas dari hari-hari akhir pekan yang sudah kami lalui.

“Sedikit menyeramkan, tapi ini memang tempat yang tepat untuk mengikat janji. Lando, silakan pegang tangan pasanganmu.”

Orlando mengikuti perintah. Diraihnya kedua tanganku dan ditautkannya semua jemari kami. Hatiku langsung berdesir-desir. Kami sangat sering menautkan jemari, sangat sering bertatapan, tapi tautan jari dan tatapan mata hari ini terasa begitu berbeda. Karena kami akan mengikat janji pernikahan, tanpa wali nikah, tanpa penghulu, tanpa mahar. Hanya ada kami sebagai mempelai, Kak Saif dan semesta sebagai saksi, dan ijab kabul versi kami sendiri.

Kak Saif mundur lebih menjauh. “Oke, kurasa ini saatnya. Kalian berdua sudah boleh saling mengikrarkan janji…”

Orlando meremas jemariku, bergerak lebih dekat padaku dan menempatkan tangan kami yang saling bertaut di depan dada. Dia menunduk, sementara aku mendongak. Kami saling bertatapan. Orlando terlihat gembira, aku yakin kalau dia juga melihat hal yang sama pada mata dan wajahku.

“Kamu duluan,” kataku.

“Aku lebih suka mengikutimu, Fitra Aidil…,” katanya sambil memamerkan senyumnya.

Aku berdeham, mengeratkan genggaman dan memantapkan diri. Harusnya ini akan mudah mengingat kami tidak benar-benar berhadapan dengan pernikahan yang sesungguhnya. Namun tetap saja aku merasa gugup. Bagiku─mungkin bagi Orlando juga, ini adalah janji pernikahan kami yang kadar ‘sungguh-sungguh’ di dalamnya sama dengan kadar sungguh-sungguh yang ada dalam pernikahan manapun di dunia.

“Aku tidak bisa menunggu selamanya,” seru Kak Saif.

“Selangkah saja lu berani bergerak meninggalkan tempat lu sekarang berdiri,” Orlando menatap tajam pada Kak Saif, “habis, lu!” ancamnya lalu kembali menghadapku sementara yang diancam cuma mengangkat bahu tak peduli. “Ayolah, Fitra Aidil… kamu bisa… kita bisa.” Dia memberi tekanan pada telapak tanganku, dan kehangatan seperti memasuki diriku, memberiku kekuatan dan keyakinan.

Aku menghirup udara banyak-banyak, wangi familiar pria di depanku ikut masuk bersama udara ke paru-paruku. “Aku, Fitra Aidil Ad-dausi, mulai hari ini dan seterusnya, dalam sehat maupun sakit, saat kaya maupun miskin, tak peduli kemarau maupun hujan, paceklik maupun tidak, berjanji untuk mencintai dan tetap mencintai Orlando Ariansyah sebagai pasanganku setiap hari tanpa batas waktu…” Rasanya begitu melegakan.

Orlando tersenyum lebar. Aku tahu kalau kegembiraan yang dirasakannya nyaris membuat dirinya meledak. “Aku, Orlando Ariansyah, menerimamu, Fitra Aidil Ad-dausi sebagai pasanganku mulai hari ini dan seterusnya, dalam suka maupun duka, saat senang maupun susah, ketika musim sedang baik maupun tidak, dan berjanji akan terus mencintaimu setiap hari tanpa batas waktu sebagai takdirku…”

Angin mengisi jeda yang tercipta, juga camar-camar yang melintasi cakrawala, dan deru napasku dan Orlando yang teratur.

Orlando berpaling pada Kak Saif. Aku melakukan hal yang sama. Kak Saif terlihat seperti tak tahu harus berkata apa.

“Wow!”

“Hanya Wow?” tanyaku pada Kak Saif.

“Wow… wow…!!!” ulang Kak Saif.

“Apa aku sudah boleh membawa pasanganku ke ranjang hotel untuk bulan madu?” tanya Orlando kalem.

“Tidak,” jawab Kak Saif.

“Hhhh… menyebalkan sekali,” sungut Orlando.

“Tapi lu boleh nyium pasangan lu.”

Orlando tersenyum mendengarnya. Dirangkulnya pinggangku dan ditariknya aku merapat padanya lalu dia menciumku. Dan ciuman kali ini pun terasa berbeda dari banyak ciuman yang sudah kami lewati. Tentu saja, ini, kan, ciuman pernikahan.

“Akhirnya, kamu sah jadi milikku, Fitra Aidil…” Orlando merangkul kepalaku ke dadanya.

“Iya. Tapi aku masih ingin bulan madu di kamar hotel yang kamu katakan itu,” balasku di dadanya.

Orlando terkekeh. “Tentu. Lagipula, siapa yang perlu izin dari kambing di sana itu? Tenang saja, kita akan mengecohnya…”

“Baiklah, sudah waktunya pulang, Pengantin!” seru Kak Saif dan mendahului menuju tangga.

Orlando menggandeng tanganku, memimpinku berjalan menuju tangga. Dan dengan begitu saja, hari yang bukan akhir pekan ini ditutup dengan begitu sempurna buatku. Aku punya firasat baik dalam hal ini, bahwa esok dan seterusnya, hari-hari juga akan sama sempurnanya. Barangkali akan ada sedikit badai. Bukan dunia jika tanpa badai. Tapi aku tak akan menghadapinya sendirian lagi. Mulai sekarang ada Orlando yang sudah melafaskan janjinya untuk mencintaiku dalam keadaan apapun. Dan aku juga masih punya seorang Ananda Saif Al Fata sebagai kakakku. Jadi… kenapa aku harus takut menghadapi dunia dan segala badai yang mungkin akan menyertainya? Namun selalu ada kemungkinan kalau badai tak akan pernah datang… dan sepanjang musim adalah musim semi yang indah.

Apapun itu keadaannya, akan kulalui tanpa penyesalan. Kerena, tak ada ruang untuk penyesalan dalam cinta yang sebenarnya.

 

 

 

 

 

Hujung Maret 2016

Dariku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com