Iyawa Bittara Mangkasara' Cover.

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

 

Salam…

Buat Google dan Wikipedia dan Kompasiana dan siapapun yang menulis di sana, terima kasih sudah memberiku referensi yang benar-benar bermanfaat meski harus mikir lama ketika memasukkan informasinya ke dalam cerita, biasah, khas penulis amatiran.

Buat temenku, Ramly, yang telah begitu banyak membantu selama cerita ini dibuat, terima kasih dariku segede Pulau Sulawesi. Sorry ya, Ly, jika aku gak kenal perbedaan waktu saat ngerecokin kamu via DM Twitter dan WA, dan maaf pula jika endingnya tidak seperti yang kukatakan pertama kali saat kita bicara tentang project ini. Sudah terlalu panjang juga, kalau aku menggulirkan cerita ke ending yang sempat kusinggung padamu, mungkin cerita ini bisa jadi sebuah novel 300an halaman. Kupikir, aku gak bakal sanggup, dan gak bakal ada yang mau baca novelnya kalaupun dipaksa sanggup. Jadi, aku ambil ending seperti ini, ending cerita pendek. Semoga kamu bisa menerima dan enggak mencap aku omong doang. Lagipula, seperti yang pernah kukatakan padamu beberapa kali, settingnya susaaah dan aku sering stuck lama, sudah dari Desember 2015, ya, kalau gak salah? Dan, maaf kalau langsung kupost tanpa kukirim ke kamu lebih dulu untuk memeriksa settingnya. Kalau ada yang keliru tempat dan waktu terkait setnya, DM aja atau email saja atau WA saja.

Buat sobatku, Bro Yuda ‘kaktusius’ Agustian, maafkan kalau kover keren darimu  enggak jadi kupake di sini. Aku tahu kamu pasti marah, kecewa dan mungkin juga menganggapku gak menghargai waktu yang kamu luangkan untuk membuatnya. Tapi sungguh, aku tidak memakainya bukan karena aku gak suka kover itu, seperti kataku di twitter, kover itu sama kerennya dengan bikinanmu yang dulu2. Tapi saat aku menulis end cerita ini (itu setelah aku mengunduh file kirimanmu di inbok gmail-ku), tiba-tiba aku ingin kovernya ada gambar sepedanya, benar-benar gak bisa kutahan. Jadi aku browsing gambar sepeda pula dan menjadikannya kover. Mohon jangan marah padaku ya. Please… tapi aku tetap simpan kover darimu kok. Aku suka kedinamisannya kali ini. Saking dinamisnya, nama belakangku sampai-sampai harus jungkir-balik kayak cheerleader gitu LOL. Apapun, intinya thank you, Bro, and sorry😦

Buat pembacaku (aneh rasanya menggunakan istilah tersebut), semoga kalian menikmati fiksi ini seperti aku menikmati ketika menulisnya.

 

 

Wassalam

n.a.g

 

##################################################

 

Pertama kali mereka bertemu, langit mengamuk dan merajam bumi dengan tetesan hujannya yang tak terhingga, payung-payung berkembangan, mobil-mobil menyorotkan lampu dan memelankan laju, pengendara motor menipu diri dan terus menerobos hujan tak peduli terlihat konyol, dan para pejalan kaki berlarian menuju tempat berteduh. Mereka hanya berpapasan. Yang satu bergerak cepat dengan kemeja tak berkancing riap-riapan dan ransel setengah berisi melindungi kepala, yang lainnya berlarian setengah basah dengan rokok padam nyaris patah di sela bibir. Titik mereka saling bertemu sebelum saling melewati adalah sebatang tiang listrik penuh tempelan selebaran yang entah apa di jalan Urip Sumoharjo. Tak ada kontak mata, tak ada kontak fisik, hanya saling melewati begitu saja. Mereka tidak sadar pernah berada di tempat dan waktu yang sama satu kali itu, mereka tidak tahu kalau jalan mereka pernah bersinggungan. Namun, semesta tahu, semesta melihat, semesta mencatat.

Kali kedua mereka bertemu, mesin fotocopy mendesis-desis ketika menghisap dan memuntahkan kertas, ribut mesin tik kuno yang sedang dioperasikan seorang mahasiswi di pojok ruangan meningkahi dalam ritme tergesa-gesa, dan suara lantang Iwan Fals sedang meneriakkan Guru Oemar Bakrie beserta sepedanya dari speaker butut si empunya kedai. ‘Daeng, fotocopy, sembilan kali, sore nanti saya ambil!’ seru salah satu dari mereka ketika menjatuhkan senaskah diktat kusam di atas kabinet kaca sebelum sikunya menyenggol tanpa sadar lengan salah seorang lainnya. ‘Daeng, beli kwarto empat rim sama bantal stempel dan tintanya!’ ujar seorang lainnya─yang hari itu sedang menunaikan perintah perwira atasannya─tanpa menaruh perhatian pada lengannya yang baru saja bersinggungan dengan siku seorang mahasiswa terburu-buru. Ada kontak fisik, tapi mereka hanyalah dua orang yang sedang menunaikan keperluan masing-masing di kedai ATK. Orang-orang datang silih berganti ke sana, tidak ada pengunjung spesial, mereka hanya dua orang di antara sekian banyak orang. Mereka tidak sadar pernah berada pada tempat dan waktu yang sama lagi saat itu, mereka tidak tahu kalau jalan mereka kembali bersinggungan. Namun, semesta tahu, semesta melihat, semesta mencatat.

Ketiga kali mereka bertemu, blitz kamera berkilat-kilat mengabadikan setiap momen, papan-papan bunga bertebaran mengumandangkan ‘selamat’ tanpa suara di luar gedung Baruga Hasanuddin yang megah, senyum bahagia terukir di wajah-wajah alumnus, air mata haru menggenang di wajah-wajah ibu dan ayah, dan topi-topi toga dilemparkan ke udara diiring sorak-sorai. ‘Maaf, itu punya kakakku,’ kata salah seorang dari mereka yang saat itu sedang ikut berbahagia karena saudarinya resmi jadi sarjana. ‘Selamat, buat kakakmu,’ balas salah seorang lainnya─yang hari itu terpaksa mau diajak ke agenda wisuda istri salah satu seniornya di unit tugasnya untuk jadi fotografer dadakan─sambil mengulurkan topi yang baru saja dipungut. Topi diterima dan senyum ditukar sebelum keduanya saling berbalik untuk memunggungi. Begitu saja, pertemuan wajar dua anak manusia beda usia di tengah-tengah lautan manusia. Tak ada yang aneh, tak ada yang khusus, hanya percakapan standar, dan pamer senyum selama tak sampai tigaperempat detik. Bagi mereka, pertemuan itu sama seperti pertemuan-pertemuan dengan orang asing yang pernah mereka alami sebelumnya. Jenis pertemuan yang mudah dilupakan. Milyaran orang pernah mengalami hal demikian berkali-kali. Keduanya tidak sadar bahwa itu bukan pertama kalinya mereka berada pada waktu dan tempat yang sama, mereka tidak tahu bahwa itu adalah kali ketiga jalan mereka bersinggungan. Namun, semesta tahu, semesta melihat, semesta mencatat.

Kali keempat mereka bertemu, orang-orang berseragam polisi menghadang di sekitar pertigaan St. Alauddin, para pengendara menggerutu dengan wajah masam ketika mereka dihentikan, surat-surat kendaraan ditunjukkan, dan SIM-SIM dikeluarkan. ‘Boleh lihat SIM sama STNK-nya, Dik?’ kata salah seorang dari mereka yang hari itu sedang menjalankan tugas ketika menghentikan salah seorang lainnya yang baru pulang kuliah. ‘Adik tahu tidak kalau pajak motornya sudah kedaluwarsa seminggu lalu?’ Si mahasiswa menggeleng, ‘Saya lupa memeriksanya,’ katanya sambil dalam hati meyakini bahwa dirinya akan ditilang. Polisi yang sedang bertugas itu tersenyum sambil menyerahkan kembali STNK dan SIM milik si mahasiswa, ‘Segera diurus perpanjangannya, ya…’ Si mahasiswa menerima kedua dokumen itu dengan raut bingung, ‘Apa saya tidak ditilang?’ tanyanya saat itu. Si polisi menggeleng dan menempelkan telunjuk di bibir, ‘Ssstt… ini hari lahirku. Tapi lain kali Adik pasti ditilang.’ Si mahasiswa tersenyum senang dan mengantongi kembali STNK dan SIM-nya dengan segera, ‘Selamat ulang tahun, semoga panjang umur,’ ucapnya lalu segera menggas motornya sebelum petugas polisi itu berubah pikiran. Sekali lagi, mereka berada pada tempat dan waktu yang sama, dan sekali lagi mereka tidak tahu itu. Namun, semesta tahu, semesta melihat, semesta mencatat. Dan, catatan itu tetap tersimpan, hingga kemudian dibuka untuk ditulis lagi setelah sebelas purnama terlampaui…

***

Langit kelabu mengatapi Losari dan sekitarnya. Pagi Minggu yang seharusnya cerah sudah mulai disaput awan mendung sejak subuh tadi, dan sebelum pukul 08.00 WITA, awan-awan mendung itu mulai menjatuhkan diri dalam bentuk gerimis tipis dan terus menjatuhkan diri sepanjang pagi, tidak juga berubah jadi hujan lebat tapi tetap betah dalam mode gerimis. Gatta sebenarnya menyukai hujan, tapi tidak bila dia sedang akan terlunta-lunta di sepanjang Jalan Penghibur sambil menuntun sepedanya. Dia berhenti dan menoleh ke belakang, beberapa peserta fun bike masih kelihatan di belakangnya, mengayuh santai di bawah gerimis sambil mengobrol entah apa dengan rekan di sebelah, satu dua orang yang tidak punya rekan ngobrol terlihat asyik sendiri dengan telinga tersumbat earphone. Tadinya sebelum sepedanya kandas, Gatta nyaris berada di barisan paling depan, tapi sekarang dia nyaris terpisah dan ditinggalkan rombongan.

“Kenapa, Dik?” Seorang wanita lingkungan 30-an yang hendak melewatinya menyerukan tanya, tapi tidak menunjukkan gelagat akan berhenti mengayuh sepedanya.

“Rantainya putus!” teriak Gatta memberitahu sambil tersenyum kecut dan wanita itu terus berlalu setelah menghadiahi Gatta dengan tatapan prihatin.

Hadir di event fun bike untuk mengisi agenda car free day ini adalah sebuah kesalahan. Gatta mulai menyumpah-nyumpah dalam hati saat tidak menemukan bengkel apapun untuk memperbaiki sepedanya di jalur Losari sini. Harusnya dia mendengarkan Dayang yang sudah memperingatkan kalau sepeda yang dimilikinya bersama kakak perempuannya itu tidak layak dipakai jarak jauh sebelum dipreparasi, tapi Gatta malah menertawakan. Sekarang, dia merasakan akibatnya. Kira-kira, bagaimana reaksi kakaknya itu jika dia menelepon? Gatta menemukan tempat untuk berlindung dari gerimis, ditendangnya standard sepeda dengan tenaga berlebihan lalu dia merogoh saku celana pendeknya.

Daeng, rantai sepedanya copot…”

Dayang cekikikan luar biasa hingga semenit lamanya untuk merespon kalimat pertama adiknya. “Apa kataku?” katanya setelah menamatkan tawanya.

Daeng ke sini dong, bawa mobil Bapa’ buat angkut sepedanya,” rayu Gatta.

“Gak bisa, Ndi’, itu kue di oven belum matang, masih banyak nih di loyang yang belum dioven.”

“Minta tolong Mama’ liatin. Gatta tungguin, ya? Mau ya?”

Di ujung sana, Gatta mendengar kakaknya menggerutu dan dia tahu bahwa dirinya pasti akan mendengarkan alasan selanjutnya. “Mama’ sedang sibuk merapikan sarangmu dan mengumpulkan cucian kotormu untuk direndam. Cari bentor saja buat pulang!”

“Di sini gerimis, Daeng. Gak ada bentor yang lewat,” rengeknya.

“Ya sudah, jalan kaki dan cari sampai ketemu bentornya sana, jangan manja. Anak laki bukan sih?”

Gatta memanyunkan bibirnya tanpa sadar, padahal kakaknya tak akan melihat itu.

“Sudah, aku tutup ya teleponnya, itu ovennya sudah bunyi.” Dayang memutuskan sambungan.

Gatta menoleh ke jalan yang baru saja ditinggalkannya, tak ada lagi sepeda yang terlihat. Dia mendongak langit, keadaannya masih sama. Sudah dipastikan kalau hari ini adalah hari sialnya. Gatta menimbang-nimbang untuk menunggu sampai gerimis berhenti, mungkin setelahnya bentor-bentor itu akan berkeliaran. Tapi siapa bisa menjamin kalau gerimis tak akan berubah jadi hujan deras beberapa saat lagi? Dan, ini masih car free day di Losari, bisa jadi kendaraan bermotor tak akan lewat sini walau gerimis berhenti. Khawatir akan dua hal itu, Gatta mulai melanjutkan menuntun sepedanya.

Biang keringat mulai membersit di kulit kepala dan membuatnya gatal. Gatta juga mulai merasakan bulir peluh menuruni tulang belakangnya, menuju pinggang. Dia gerah, padahal cuaca sedang adem-ademnya.

“Adik, kenapa sepedanya?”

Sekonyong-konyong seorang pesepeda mengerem di sebelah kanan Gatta, membuatnya setengah terkejut. Tadinya dia mengira sudah tak ada lagi peserta fun bike yang tersisa di belakangnya. “Oh, ini Daeng, rantainya putus,” jawabnya.

Pesepeda itu, pemuda atletis dengan potongan rambut ala tentara, melirik setang sepeda anak di depannya, memperhatikan rantai yang sudah dililitkan si anak di sana. “Tadinya Andi’ ikut fun bike, ya?”

Gatta mengangguk, “Daeng juga?”

Si pemuda menggeleng, “Hanya sedang mengayuh di sekitar sini.”

Gatta salah mengira. Dia memercayai keterangan si pemuda, kalau misalnya orang ini ikut fun bike, pasti dia sudah bersama rombongan terakhir yang melewatinya belasan menit lalu. Gatta menyeka peluh di cuping hidungnya dan mulai bergerak lagi menuntun sepedanya.

“Rasa-rasanya aku pernah melihat Andi’ sebelumnya, tapi lupa di mana.” Si pemuda mengikuti gerak Gatta tanpa turun dari sadel sepedanya. Dia menggerakkan sepeda itu dengan langkah-langkahnya di atas aspal.

Gatta menoleh pada lawan bicaranya, meneliti wajah pemuda asing itu sekilas sebelum merasa yakin kalau ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. “Mungkin aku hanya mirip seseorang yang Daeng kenal dulu.”

Si pemuda tersenyum, “Yah, Andi’ mungkin benar,” ujarnya sambil mengipas-ngipasi kaus putihnya yang sudah lembab dibuat gerimis yang bekerja sama dengan peluhnya. “Sudah nuntun dari mana?”

Gatta tersenyum getir, “Lumayan jauh, Daeng…”

Si pemuda tampak berpikir sambil memperhatikan Gatta dan sepedanya. “Hei, ayo kuantar ke bengkel sepeda terdekat.”

Untuk sejenak, Gatta terpegun mendengar tawaran pemuda asing di sebelahnya. Dia ingin menolak, bukan kerena dia belum mengenal si pemuda sehingga masih merasa canggung untuk menerima pertolongan orang, tapi juga karena dia tidak paham bagaimana caranya pemuda asing itu hendak mengantarnya ke bengkel sepeda. Pemuda asing itu sama-sama sedang bersepeda seperti dirinya. Tapi ketika si pemuda menempatkan sebelah kakinya di pengayuh sepedanya dan tangan itu terulur buatnya, Gatta memahami cara si pemuda hendak menolongnya.

Gatta naik ke sadel sepedanya dan menaruh tangan kanannya di dalam genggaman tangan kiri si pemuda. Sesaat kemudian, ketika si pemuda mulai mengayuh sepedanya, mereka berdua bergerak hampir sejajar di atas sepeda masing-masing, dihubungkan tangan yang saling memegang erat. Kini─dengan ditarik oleh si pemuda yang sekarang harus mengerahkan tenaga ekstra saat mengayuh sepedanya─Jalan Penghibur Pantai Losari ini bagi Gatta tampak tidak lagi sepanjang yang terlihat dan terasa ketika dia masih menuntun sepedanya dengan berjalan kaki. Di sekitar mereka, gerimis luruh bagai butiran beras yang diremukkan jadi tepung, halus, ringan, dan nyaris tak terlihat.

Hari Minggu bergerimis ini, mereka berada pada tempat dan waktu yang sama lagi untuk kelima kalinya. Dan mereka masih belum tahu…

***

Nifai tiba di kontrakannya dalam keadaan banjir peluh, baju kaosnya lengket di badan. Gerimis sudah berhenti belasan menit lalu. Saat dia meninggalkan seorang anak yang ditolongnya di bengkel sepeda yang belum buka, langit sudah berangsur-angsur bersih. Sebenarnya, dia ingin menunggu sampai bengkel sepeda itu buka demi untuk memastikan kalau anak itu tidak sia-sia menunggui bengkel yang sedang libur, tapi anak yang ditolongnya bersikeras untuk tak usah dikawani, jadi dia meninggalkannya di sana. Setelah membeli bassang untuk menu sarapannya dalam perjalanan pulang, dan mengambil cuciannya di binatu, barulah dia mengayuh sepeda menuju kontrakan.

“Tidak piket, Fai?” tetangga bersebelahan kontrakannya, Ambo Tang, yang sedang mengopi di teras sambil membaca koran menegurnya.

“Tidak, Daeng,” jawabnya sambil berkutat dengan lubang kunci.

“Bersepeda ke mana?”

“Itu, Losari.”

“Oh, fun bike, hah?”

Nifai tersenyum sambil mendorong daun pintu rumah kontrakannya, bayangan anak yang ditolongnya melintas lagi. Anak itu juga mengira dia ikut fun bike. “Tidak, Daeng, cuma bersepeda saja di sekitar sana,” jawabnya lalu masuk ke rumah bersama kantong sarapan dan cucian bersihnya sementara Ambo Tang melanjutkan ritual paginya.

Setelah melempar bungkusan cuciannya ke dalam kamar tidur, Nifai menuju dapur yang letaknya agak menjorok ke belakang bersama-sama kamar kosong berukuran lebih kecil dari kamar utama, ada kamar mandi juga di bagian sini. Keadaan dapurnya nyaris kosong, sangat khas bujangan. Di sini hanya ada kompor gas satu tungku yang dari kondisinya terlihat jarang digunakan, bak cuci piring, dispenser, dan rak tempat menyimpan beberapa gelas dan piring juga sendok. Tak ada lemari gantung untuk menyimpan bahan dapur atau makanan, tak ada set meja makan. Satu-satunya benda yang mengambil ruang paling banyak di bagian ini adalah kulkas dengan pintu ganda yang sama tinggi dengan tinggi badan si empunya.

Nifai mengambil mangkuk di rak, menuangkan bubur jagung ke dalamnya, mengisi gelas dengan air dari dispenser lalu membawa sarapannya ke ruang depan. Ruang depan ini terkesan lebih sesak dari seluruh ruang yang ada. Set sofa beserta meja rendah yang dialasi karpet bulu imitasi nyaris memakan setengah luas  ruangan yang tidak bisa dikatakan luas itu. Ditempatkan berhadapan dengan sofa di sisi berseberangan, adalah home theatre serta televisi plasma lumayan lebar. Sebuah buffet rendah diatur merapat ke dinding samping sedemikian rupa agar tidak menghalangi jendela, rak buku tinggi yang dialihfungsikan sebagai tempat menyimpan segala macam benda─mulai dari sepatu kerja bersih, topi polisi, stoples-stoples tak berisi, kotak bekas ponsel, sampai barbel─kecuali buku, berdiri mendampingi di sebelah buffet. Rak buku─yang isinya berantakan─dan buffet itu sudah ada dan sudah di posisi demikian ketika dia menempati rumah kecil tersebut. Nifai tak hobi membaca, dia lebih senang menonton, itulah mengapa tak ada satu buku pun di dalam rak. Di langit-langit ruangan, sebuah fan sedang berputar kencang.

Masih bau keringat, Nifai duduk di sofa, menyalakan televisi lalu mulai menyendok sarapannya.

Saat-saat sedang di rumah beginilah ucapan orang-orang yang ditinggalkannya untuk kemari kerap mengusik kesendiriannya. ‘Wes lima tahun iki, Le. Opo kamu ndak kangen rumah… dadi polisi ndak musti jauh dari rumah saklawase tho, di sini juga iso.’ Itu perkataan Ibuk saat dia menelepon seminggu lalu. ‘Ibuk sama Bapak sendirian, Fai. Aku dan Mbak Nanik sudah punya rumah sendiri-sendiri. Suruh Pak Lik ngurus pindahanmu ke Jawa lagi, kasian Bapak sama Ibuk sendirian di rumah…’ yang ini ucapan Mbak Naura saat bertukar kabar sebulan lalu. ‘Kamu itu anak bungsu, Dek, harusnya kamu yang paling terakhir pergi dari rumah, bukan yang pertama pergi terus gak pulang-pulang,’ Mbak Nanik lebih tajam lagi ketika menyindirnya beberapa hari lalu. Ibuk pasti meminta kakak-kakak perempuannya untuk ngomong seperti itu padanya, mungkin tidak meminta secara langsung. Nifai tak bisa menyalahkan Ibuk karenanya. Orang tuanya itu hanya kesepian ditinggalkan putra putri mereka yang sudah dewasa dan punya hidup masing-masing.

Bassang di dalam piring ludes. Nifai meneguk habis air dalam gelas lalu menyulut rokok.

Lima tahun lebih. Sudah selama itu karirnya di Polri berjalan, pangkatnya Briptu sekarang. Lebih dari lima kali dua belas bulan dia jadi polisi, sudah selama itu pula dia meninggalkan rumah, melewatkan pernikahan kedua kakak perempuannya, melewatkan kelahiran keponakan pertamanya dan keponakan selanjutnya, melewatkan banyak momen berharga keluarganya.

Nifai masuk SPN karena ternyata kampus bukanlah tempat yang cocok buatnya. Dia keluar dari universitas di akhir semester tiga, setelah berseteru dengan salah satu dosennya, saat itu usianya sembilan belas. Pak Lik Sasono─perwira polisi, pamannya dari pihak ibu─yang tidak suka melihat sang keponakan terlunta-lunta tanpa pendidikan memasukkan Nifai ke SPN untuk mencegahnya jadi berandalan. Dan karena merasa keponakannya perlu dididik hidup mandiri lebih lanjut, delapan bulan kemudian setelah selesai dari pendidikan Bintaranya, Nifai diuruskan sang paman untuk dikirim bertugas ke Sulawesi. Prinsip local boy for local job dalam penempatan Bintara berhasil dibelokkan sang paman. Protes mbakyu-nya─ibu Nifai─tidak diindahkan, kata Sasono tika itu, ‘Anak bungsu kalau pun sudah bukan anak-anak lagi biasanya tetap manja, biar dia belajar dewasa dan mandiri jauh dari rumah selama dua atau tiga tahun. Tak usah kuatir, anak laki-laki Mbakyu bakalan baik-baik saja di sana.’

Tapi siapa mengira kalau Nifai ternyata betah di Makassar? Begitu betahnya sampai ‘dua atau tiga tahun’ yang pernah dikatakan sang paman berterusan hingga melampaui angka lima. Nifai pernah beberapa kali pulang untuk waktu yang singkat selama kurun waktu lima tahun itu, berada di rumah nyaris sepanjang hari demi mengobati kangen Ibuk, dan itu pernah cukup buat Ibuk. Tapi semenjak Mbak Nanik menikah dan mengikuti jejak kakak sulung mereka untuk meninggalkan rumah, sudah satu tahun terakhir ini setiap kali berbicara di telepon, Ibuk mulai selalu menyuruhnya untuk benar-benar ‘pulang’. Tapi Nifai menyukai kehidupannya di sini, hanya saja, jika sedang tidak bertugas dan berada di rumah sendirian seperti hari ini, dia kerap memikirkan Ibuk dan Bapak.

Ketika Mbak Nanik masih di sana, Nifai tidak mengkhawatirkan apapun tentang orang tuanya, tapi kini dia mulai mengkhawatirkan banyak hal. Bagaimana kalau genteng rumah bocor? Atau pipa air dan keran bermasalah? Bagaimana kalau saluran septic tank mereka sumbat? Bagaimana kalau parit depan rumah tidak mengalir lagi dan menggenangkan pekarangan saat musim hujan? Bagaimana kalau lampu di loteng yang tinggi itu putus? Bagaimana kalau Ibuk sakit mendadak atau Bapak yang sakit tiba-tiba?

Jam kecil di atas buffet menunjukkan angka 11.12 WITA ketika Nifai menyudahi lamunan dan memadamkan puntung rokok ke dalam asbak di meja. Setelah mencuci peralatan makan yang baru saja digunakan, dia menarik kausnya yang sudah kering lewat kepala dan mencampakkannya ke keranjang cucian di dekat pintu kamar mandi. Tapi kemudian dia berdiri mematung, menatap keranjang cucian kotornya yang sudah penuh lagi. Bukan keadaan keranjang itu yang membuatnya terpegun, namun baju kausnya yang teronggok di bagian paling atas tumpukan, warna kausnya putih. Anak yang ditolongnya tadi juga mengenakan kaus warna putih, yang beda hanya panjang lengannya.

Nifai membuka telapak tangan kirinya di depan wajah, memperhatikannya seperti dia tak pernah melihat telapak tangannya sendiri sebelum ini. Dia bertanya-tanya, berapa lama dirinya dan anak itu saling genggam? Nifai mendesah gusar lalu mendorong pintu kamar mandi. Sesaat kemudian, dalam kondisi setengah telanjang, dia mulai mengguyur kepalanya dengan air dari bak, sambil berharap setiap guyuran itu tak hanya akan mengguyur kepala dan badannya, tapi juga akan membilas pikirannya dari mengingat seorang remaja asing yang dijumpainya di Losari lebih dua jam yang lalu…

***

Gatta tiba di rumahnya di Perum Minasa Upa ketika Dayang sedang mengemas kue-kue kering dalam stoples. Kakaknya itu memang tidak bisa duduk diam. Usaha kue kering ini sudah dijalaninya semenjak masih jadi mahasiswi, dan tetap diteruskan hingga sekarang di sela-sela hari sibuknya sebagai pegawai bank. Bahkan, kue keringnya sudah punya label sendiri, memakai namanya. Stoples-stoples kue kering kakaknya itu tersebar di banyak swalayan dan mini market di sekitaran kota Makassar.

“Gimana?” tanya Dayang saat Gatta memasuki dapur dengan wajah mengelam serta badan bau keringat, langsung mengubek-ubek air dingin dari kulkas.

“Don’t ask!” semburnya marah sebelum meneguk minum langsung dari mulut botol. Bengkel sepeda yang ditungguinya ternyata libur, benar-benar sial. Dia duduk di sana bagai orang bego hampir satu jam lamanya sebelum sepenuhnya sadar kalau bengkel itu tutup.

“Pulang pake apa?” tanya Dayang lagi setelah adiknya menghabiskan isi botol hingga setengahnya.

Gatta ngos-ngosan karena terlalu buas minum tanpa jeda napas. Kakinya masih lelah. Dari bengkel sepeda yang tutup itu, dia harus berjalan kaki lagi hampir sepuluh menit lamanya sebelum menemukan bentor yang kosong. Dan untuk semua kesialan itu, dia menyalahkan kakaknya yang tak mau menjemputnya dari awal.

“Pokoknya tunggu aja, kalau Daeng butuh apa-apa bantuan, Aku gak bakal mau bantu.”

“Eh,” Dayang terpegun, “ini aku baru mau minta dikawani ke CK, Ndi’. Kamu mau ji temani ka’ to?” Dayang memelas.

Gatta tahu sampai di sana dia akan memindahkan kotak berisi stoples kue milik Dayang sementara kakaknya itu bicara pada manejer. Itu bantuan yang biasa diminta Dayang darinya. Tapi saat ini dia sedang ingin balas dendam. “Enggak bisa,” katanya singkat sambil membuka kembali pintu kulkas dan menyimpan botol minumnya.

“Kenapa kesalnya sama Daeng sih? Kan aku udah ingatin itu sepeda gak bisa dibawa jauh lagi kalau belum diservis. Kamu aja yang bandel dibilangin.”

“Ajak Daeng Adjie aja,” tukas Gatta menyebut nama pacar kakaknya. “Kan bisa sambil kencan hari Minggu.”

Daeng Adjie sedang ada acara ke tempat kerabatnya di Gowa.”

Gatta angkat bahu lalu berjalan pergi meninggalkan Dayang yang mulai mendumel sendiri dan ujung-ujungnya berteriak memanggil Bapa’.

Kamarnya jadi rapi dan bersih dan wangi. Mama’ pasti sudah mengganti pewangi kamarnya dengan yang baru, atau bisa juga pewanginya tidak diganti tapi baunya bisa tercium lagi setelah gunungan baju kotornya yang dominan menguarkan bau keringat dikeluarkan dari kamar. Gatta menuju kamar mandi. Ketika menggosok-gosok telapak tangannya satu sama lain sambil bersabun ria di bawah pancuran, pikirannya begitu saja tertuju ke pemuda baik hati yang membantunya melewati Jalan Penghibur. Untuk sejenak, dia terpaku pada telapak tangan kanannya. Aneh, erat genggaman dan hangat telapak tangan pemuda asing itu bagai masih tertinggal di telapak tangannya.

Sekarang, Gatta mengingat-ingat sambil meratakan sampo ke seluruh rambutnya, apa dia sempat mengucapkan terima kasih pada pemuda asing itu? Dan sebentar kemudian, pikiran yang lebih aneh lagi merasuki kepalanya. Apakah dia masih diingat oleh pemuda itu saat ini, atau sudahkah dirinya dan sepedanya yang tak berantai itu dilupakan dan terhapus dari memori?

***

Nifai sengaja mampir ke Jalan Nusantara sepulang dinasnya hari Kamis ini, seragam polisinya disamarkan jaket kulit warna gelap. Semangkuk Coto Nusantara sebelum pulang ke kontrakan mungkin akan mengganjal perutnya sebelum jam makan malam tiba. Tapi, warung coto di jalan itu sedang sangat sesak ketika motornya berhenti di sana. Pengunjungnya bahkan tumpah hingga di mulut warung, tertahan menunggu meja kosong atau menunggu pesanan mereka dibungkus. Nifai menimbang-nimbang untuk ikut mengantri bersama orang-orang itu, tapi kemudian memutuskan kalau sebaiknya dia mencari warung coto lain.

Daeng!?

Nifai baru saja menendang tuas engkol motornya ketika mendengar seseorang berseru. Dia tak yakin seruan itu ditujukan untuknya, tapi tetap saja perhatiannya teralihkan ke sumber suara. Seorang remaja cowok berjalan meninggalkan kerumunan di mulut warung menuju ke arahnya. Pandangan Nifai menyipit pada remaja itu.

Daeng, kan?” tanya si remaja sambil juga menyipitkan matanya. “Ini Daeng yang di Losari hari Minggu kemarin, kan? Yang bantuin aku ke bengkel?” ulangnya menegaskan.

Ingatlah Nifai sekarang, remaja yang sedang berdiri di samping motornya dengan ransel di punggung dan kemeja dibiarkan tak berkancing menampakkan oblong putih berprint gambar skuter ini, adalah anak yang ditemukannya sedang menuntun sepeda di dekat Anjungan Losari beberapa hari yang lalu. Dalam tampilan begitu, anak ini terlihat berbeda dengan anak yang dijumpainya di Losari. Ada rasa senang yang dirasakan Nifai begitu menyadari kalau dia dan anak itu bertemu lagi di sini. Nifai refleks mengulurkan tangannya. Dia tersenyum dan mengangguk, “Gimana sepeda Andi’? sudah baik?”

Mereka bersalaman sebentar. “Bengkelnya ternyata tutup, Daeng,” jawab remaja itu sambil memberi Nifai sebuah cengiran.

“Yah, sayang sekali,” ujar Nifai. “terus gimana?”

“Aku pulang naik bentor. Sepedanya sekarang jadi rongsokan di garasi, belum diperbaiki.”

Nifai memutar kunci untuk mematikan mesin motor. “Duh, lebih sayang lagi ya,” selorohnya.

Anak itu tertawa pendek lalu memperhatikan Nifai, “Daeng baru datang atau sudah mau pergi?”

“Tadinya mau makan coto di sini, tapi sepertinya sedang penuh. Saat Andi’ memanggil, aku baru mau pergi.”

“Teman-temanku masih belum selesai makan di dalam, kalau Daeng mau, bisa gabung di meja mereka. Aku akan mengantarkan.”

Andi’ kenapa keluar duluan? Tidak jadi makan?”

“Aku buru-buru. Mau jemput kakakku pulang kerja. Baru saja ditelepon.”

Nifai manggut-manggut

“Kalau Daeng mau makan di sini, sebaiknya Daeng kuantar sekarang ke kursi yang baru saja kutinggalkan…”

“Tidak apa-apa, biar lain kali saja.” Mereka berpandangan sesaat.

“Emm… oke. Kalau gitu, sampai jumpa.”

Nifai mengangguk mantap, seakan yakin dirinya dan anak itu memang akan berjumpa lagi. Sementara si anak berlalu menuju motornya sendiri, Nifai memutar kunci dan menendang tuas engkol sekali lagi, tapi ketika dia baru hendak memasukkan persneling, suara itu terdengar lagi di dekatnya.

Daeng, tunggu…”

Nifai menoleh, anak itu sudah berdiri lagi di dekatnya dengan helm di tangan. “Ya?” tanyanya.

“Aku tidak bisa mengingat, apakah hari itu aku sudah mengucapkan terima kasih atau belum sebelum Daeng pergi.” Ekspresi si anak terlihat serius.

Nifai merasa lucu sendiri. “Sepertinya sudah,” jawabnya tak yakin. Di antara kilasan-kilasan ingatannya beberapa hari ini yang lumayan sering tentang si anak, ironis sekali Nifai tak bisa mengingat sepotong ucapan terima kasih pun. Tapi toh hal itu tidak penting juga. Dia hanya memberikan sedikit bantuan, dan bila ingat kalau hari itu dirinya telah mengantar anak di depannya ini ke bengkel yang tutup, ucapan terima kasih itu sama sekali tidak diperlukan. Nifai memfokuskan perhatian lagi pada sosok di depannya. Sekilas, dia bagai melihat keragu-raguan di wajah anak di depannya. “Kenapa?” tanyanya.

“Tak ada, aku hanya merasa berhutang budi pada Daeng.”

Sekarang Nifai tertawa. “Terus?”

Anak di depannya terlihat seperti sedang berpikir. “Daeng tidak apa-apa kalau kontaknya kusimpan?”

Nifai tidak tahu formula apa yang sedang berlangsung dalam dirinya. Ketika anak di depannya berkata demikian sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dia merasa senang sendiri untuk alasan yang tidak diketahuinya. Sementara remaja itu menunggunya mendiktekan angka-angka, di atas motornya, Nifai berpikir keras mengapa dia tidak bisa begitu saja mengabaikan anak itu, tidak bisa mengabaikannya bahkan sejak di Losari. Hari itu, sebenarnya Nifai bisa saja terus berlalu bersama sepedanya, atau dia boleh saja berhenti sebentar dan bertanya ‘mengapa’ kemudian berlalu, tapi ada sesuatu pada remaja ini yang membuatnya tak hanya berhenti untuk bertanya namun mengulurkan tangannya juga. Dan sudah beberapa hari ini, dia terus saja ingat pengalamannya itu saat sedang tak punya pekerjaan. Sekarang, siapa sangka kalau alam akan mempertemukan mereka kembali?

Daeng?”

Nifai tersadar. “Ya?”

“Tidak boleh ya?”

“Oh, tentu saja boleh,” jawabnya lalu mendiktekan sebelas digit nomor simcard pasca bayarnya.

“Aku harus ngasih nama apa?”

“Nifai.”

“Oke, Daeng Nifai, yang itu nomorku.” Si anak menunjuk ponsel Nifai yang tercetak di paha di bawah kain celananya yang ketat.

Nifai menunduk dan merasakan getaran halus dalam sakunya sebelum Justin Bieber melantunkan Where Are Ű Now yang jadi nada panggil ponselnya. “Dan aku harus menamakan nomor itu dengan apa?” tanya Nifai setelah ponselnya diam.

“Gatta.”

Nifai manggut-manggut. “Baiklah, Andi’ Gatta, senang berkenalan denganmu.”

Lalu hape di tangan Gatta menyanyikan Soldier-nya Before You Exit. “Kakakku, aku harus menjemputnya,” kata Gatta sebelum tergesa-gesa menyimpan hapenya ke saku celana tanpa menjawab panggilan lebih dulu. “Sampai ketemu lagi, Daeng Nifai…” Gatta memakai helmnya.

“Ya, sampai ketemu.”

Hingga semenit setelah anak bernama Gatta itu pergi bersama skuternya, di atas motornya yang terus menderum halus, Nifai masih belum juga menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Mengapa aku tidak bisa mengabaikan anak itu?

Nifai telah bertemu dengan banyak orang asing selama hidupnya, kini itu jadi bagian dari pekerjaannya. Tapi perjumpaan dengan anak bernama Gatta─yang nomor ponselnya sekarang ada dalam daftar missed call ponsel miliknya─terasa berbeda dengan banyak pertemuan sebelum ini. Ada sesuatu pada diri anak bernama Gatta ini yang telah membetot semua kepedulian dan kepekaan yang dimilikinya, bahkan sudah begitu sejak dia mengantar anak itu ke bengkel. Ada sesuatu pada Gatta yang telah membuatnya bersikap dan berperasaan demikian rupa, dan dia akan mencari tahu apa itu…

***

Sudah nyaris satu jam Gatta memperhatikan deretan angka itu di layar ponselnya. Daeng Nifai Police, itu nama yang dia berikan untuk nomor baru di menu kontaknya. Sejak bertemu pertama kali hari Minggu lalu, Gatta sudah curiga kalau pemuda yang sekarang diketahuinya bernama Nifai itu adalah seorang polisi. Model rambut dan postur tubuhnya mengindikasikan demikian. Dan tadi sore di depan Coto Nusantara yang tak pernah sepi, dari celah kerah jaket kulit yang dikenakan Nifai, dia bisa mengintip seragam kepolisian pemuda itu. Fakta itu juga terlihat dari warna celana dan model sepatunya.

Gatta mengubah posisi berbaringnya jadi menelungkup di atas tempat tidur, matanya masih mengawasi layar ponsel. Ada apa dengan dirinya? Kenapa suasana hati dan pikirannya jadi berubah sejak hari Minggu lalu setelah bertemu Nifai? Malam ini sebenarnya dia punya tugas makalah yang harus dikerjakan tentang interaksi dan cara kerja pennisilin, tapi yang dilakukannya sejak masuk kamar setelah makan malam tadi hanya bolak-balik memeriksa ponsel dan membuka menu kontak. Benar-benar edan dan tak bisa dipercaya, memandang ponsel demikian rupa selama nyaris sejam. Tapi begitulah yang terjadi.

Gatta kembali menelentang, dan saat itulah Before You Exit mengakhiri kebimbangan dan keragu-raguan dari pihaknya.

Daeng Nifai Police calling

Gatta menunda keinginannya untuk langsung menyeret icon gagang telepon di layar ponsel ke arah kanan. Menurutnya, menunggu dua atau tiga detik lagi mungkin akan memberi kesan bagus buat dirinya sendiri, menutupi kebenaran bahwa dia memang sedang bersiaga dengan ponselnya menunggu panggilan atau apapun dari nomor Nifai. Sial, Gatta merasa dirinya persis anak SMA, anak SMA yang sedang… Gatta takut melanjutkan pikirannya. Dia belum pernah seperti ini.

“Halo, Andi’?”

Suara itu terdengar bagus di corong hape. “Iya, Daeng, ada apa?” Ada tawa singkat yang terdengar enak di liang dengar Gatta. Sedang apa dia di tempatnya? Di mana dia duduk atau berdiri atau tiduran saat ini? Apa dia juga menimbang-nimbang untuk menelepon seperti yang aku lakukan sebelum benar-benar menelepon?

“Tak ada, hanya ingin memastikan kalau ini beneran Andi’…”

Sekarang Gatta yang tertawa, “Ini sungguhan aku.”

“Iya, Daeng masih ingat suaramu.”

Gatta bingung mau merespon dengan kalimat apa, jadi dia mendiamkan diri.

“Sedang apa?”

Hampir saja kalimat ‘Mengamati nomor pasca bayar Daeng kayak orang linglung’ meluncur dari mulutnya. “Oh, ini, ngerjain tugas Mata Kuliah Farmakologi,” bohongnya.

Andi’ kuliah jurusan obat-obatan?”

“Iya, Fakultas Farmasi.”

“Tamat nanti jadi apa?”

“Sepertinya jadi apoteker.”

“Keren.”

“Lebih keren polisi lagi, punya pistol.”

Di ujung sana Nifai kembali tertawa. “Tahu dari mana?”

“Kalau polisi punya pistol? Sudah jelas, kan? Anak TK juga tahu.”

“Tahu dari mana kalau Daeng polisi?”

“Oh, itu, dari posturnya, sama gaya rambutnya.”

“Kelihatan banget ya?”

Gatta mengangguk, tapi segera sadar kalau anggukannya tak dapat dilihat lawan bicaranya. “Iya,” jawabnya. “Apa pangkat Daeng sekarang?”

“Briptu.”

“Setelah Briptu jadi apa?”

“Brigadir, tapi itu masih lebih kurang tiga tahun lagi.”

“Setelah Brigadir?”

“Setelah empat tahun jadi Brigadir, terus jadi Bripka.”

“Setelahnya?”

“Kenapa? Ada SKS tentang jenjang karir Bintara dalam kepolisian di Fakultas Farmasi?”

Gatta tertawa. “Tidak. Hanya saja Daeng adalah kenalan pertamaku yang polisi, aku cuma penasaran.”

Dan rasa canggung itu berangsur-angsur sirna seiring percakapan mereka yang terus bergulir. Gatta jadi tahu kalau Nifai bukan orang asli Sulawesi, polisi itu berada sangat jauh dari rumahnya di Jawa Timur. Dan bahwa nama lengkap polisi itu agak kebarat-baratan sekaligus kearab-araban menurutnya, John Nifai Ramadhan. Dia jadi tahu kalau Nifai lahir saat bulan puasa, kalau mereka sama-sama anak terakhir di keluarga masing-masing, dan bahwa mereka juga anak lelaki satu-satunya─meski dalam kasus Gatta Bapa’ dan Mama’ juga hanya punya satu anak perempuan. Gatta jadi tahu kalau sekarang Nifai berusia dua puluh lima dan akan jadi dua puluh enam pada akhir Oktober tahun ini. Gatta juga diberitahu kalau polisi itu tinggal sendirian di rumah kontrakan tak jauh dari Polrestabes Makassar. Kesimpulannya, Briptu John Nifai Ramadhan adalah dewasa muda yang matang dalam sikap dan tingkah laku, seorang pria yang mandiri, mapan, dan masih lajang.

“Kenapa milih jauh-jauh ke Makassar?”

“Ulah Pak Liknya Daeng.”

“Terus, setelah sekian lama di sini, gak ada rencana balik ke Jawa sana?”

“Entah.”

“Kok entah? apa Daeng Nifai ada rencana nyari pendamping hidup gadis Makassar, ya?”

Di tempatnya, Nifai terbahak-bahak. “Kenapa, Andi’ mau merekomendasikan seseorang?”

“Tergantung kriterianya Daeng kayak apa.”

Percakapan mereka terjeda begitu saja. Seakan mereka tanpa sadar sudah menyeret obrolan ke topik yang sama-sama tidak mereka sukai. Untuk beberapa saat lamanya, yang terdengar hanya desah napas keduanya saja.

“Tugasnya sudah selesai dikerjakan?”

“Tugas?”

“Katanya tadi sedang ngerjain tugas Farmakologi?”

“Oh…, iya, hampir selesai.”

Nifai tertawa, “Andi’ sebenarnya sedang tidak ngerjain tugas, kan?”

“Eng… enggak,” jawab Gatta, dia merasa wajahnya merah karena Nifai dapat dengan mudah membuatnya mengakui kebohongannya. Tawa Nifai masih berterusan. “Tapi tugasnya beneran ada,” lanjutnya kemudian.

“Sudah dikerjakan?”

Gatta tak akan berbohong lagi. “Belum.”

“Ini sudah jam sepuluh, apa mau dikerjakan sekarang?”

“Iya.”

“Kalau begitu, Daeng akan membiarkanmu mengerjakannya.”

“Iya.”

“Jadi, sampai jumpa?” ujar Nifai dengan nada bertanya, seolah menyerahkan keputusan pada Gatta apakah akan mengakhiri obrolan mereka atau meneruskannya.

“Iya, sampai jumpa, Daeng.”

Dan begitulah obrolan telepon pertama mereka berakhir.

Gatta mendekat ke meja belajarnya, menarik kursi dan mendudukkan dirinya. Laptop dinyalakan, diktat dibuka, namun hingga setengah jam kemudian dia belum juga bisa berkonsentrasi sepenuhnya pada tugasnya. Suara bariton pria yang baru saja berbicara dengannya di telepon masih mengambil dan belum mengembalikan hampir semua konsentrasinya. Bahkan lewat telepon sekalipun, suara bariton itu tetap terdengar sama tanpa terdistorsi. Dan sekarang, dengan konsentrasinya yang sudah tercuri sepenuhnya dari lembar tugasnya, mau tidak mau Gatta harus membiarkan dirinya terseret ingatannya sendiri tentang sosok Nifai yang berkaus putih dan bercelana sedengkul sedang menariknya di atas sepeda ketika melewati Jalan Penghibur.

***

Karebosi Skylounge tidak begitu dipadati pengunjung sore ini. Jujur saja, Nifai belum pernah satu kali pun ke sini. Karenanya, ketika tadi Gatta mengajaknya bertemu di kafé rooftop kepunyaan Candotel Hotel ini dia langsung menyetujui. Gatta bersikeras mentraktirnya sebagai tanda terima kasih atas bantuan tak berarti yang diberikannya dua minggu lalu, meskipun Nifai sempat menolak dengan tegas, bukan menolak bertemu, tapi menolak ditraktir.

Nifai tidak tahu kalau untuk dapat mengakses kafé di atap hotel, pengunjung dikenakan tarif yang tidak murah. Dia merasa tak nyaman ketika Gatta─yang sepertinya sudah pernah ke sini─mengeluarkan beberapa lembaran lima puluh ribuan untuk tiket masuk mereka berdua. Rasanya begitu tidak pantas ada seorang mahasiswa membayari dirinya yang notabene lebih tua dan sudah berpenghasilan sendiri. Diam-diam Nifai berniat menggantinya.

“Kabarnya, waktu yang tepat untuk ke sini adalah menjelang matahari terbenam,” ujar Gatta ketika mereka sudah duduk berhadap-hadapan.

“Apa kita terlambat?” tanya Nifai.

“Sebenarnya kita kecepatan,” jawab Gatta sambil meletakkan mini bag-nya di atas meja.

Nifai memperhatikan Gatta yang sekarang sedang meneliti daftar menu. Sepertinya dia mulai hapal dan akrab dengan gaya berpakaian Gatta. Hari ini, kemeja denim lengan panjangnya juga tidak dikancing, bagian lengan digulung hingga siku, kaos dalamnya warna putih lagi, tapi bukan kaos yang pernah dilihatnya di Jalan Nusantara. Gatta itu fashionable─menurut Nifai, apapun yang melekat padanya mulai dari sepatu kanvas di kakinya hingga mini bag yang sudah tak lagi disandangnya itu terlihat cocok buatnya. Sementara dirinya sendiri terlihat begitu sederhana, polo shirt dan jeans lusuh dan sepatu sandal.

Sunset dari tempat ini luar biasa,” ujar Gatta setelah pelayan meninggalkan mereka dengan secarik catatan.

Andi’ sering ke sini?”

“Dua kali, sama temen dan sama Daeng Dayang.”

“Siapa itu?”

“Kakak perempuanku.”

Nifai manggut-manggut. Gatta sudah pernah mengatakan padanya kalau dia punya seorang saudara perempuan, tapi tidak pernah memberitahukan namanya. “Kalian akrab?”

“Kadang kayak kucing dan tikus juga sih,” Gatta menyengir. Lalu mendadak dia merasa salah tingkah ketika Nifai menatapnya lebih lama. “Daeng kenapa?”

Nifai melipat kedua lengan di meja. “Aku benar-benar masih merasa kita pernah bertemu sebelumnya.”

“Iya, di pinggiran Losari dan di depan Coto Nusantara.”

“Bukan. Aku merasa kita pernah bertemu jauh sebelum itu.”

Gatta terdiam sejenak, terlihat berpikir, wajahnya mendongak langit kelabu di atas kepala mereka. “Mungkin… di kehidupan terdahulu kita adalah teman dekat, atau dua ekor dari keluarga merpati yang terpisah setelah kebakaran hutan.”

Alis tebal Nifai berkerut, lalu dia tertawa. Konsep tentang merpati dan kebakaran hutan yang dikatakan Gatta dengan raut serius terdengar lucu buatnya. “Kehidupan terdahulu, huh?”

“Iya,” jawab Gatta sambil memberi pria di depannya sebuah anggukan mantap.

Nifai berhenti tertawa, “Yah, bisa jadi.”

Menu mereka diantar pelayan yang sama. “Kapan-kapan, aku ingin main ke kontrakannya Daeng, apa boleh?”

“Kontrakan Daeng jelek.”

“Itu artinya gak boleh. Oke.”

Nifai tertawa. “Daeng gak bilang gak boleh.”

“Berarti boleh?”

“Datang aja pas hari Minggu kayak sekarang, Daeng libur di akhir pekan.”

“Termasuk Sabtu?”

“Sabtu kadang-kadang.”

Sore bergulir menuju senja di Karebosi Skylounge. Mereka tertawa. Mereka bicara. Mereka menatap. Langit luas di atas kepala, angin petang yang berhembus sejuk di ketinggian itu, dan cakrawala Makassar di sekeliling mereka, semuanya seperti bersinergi membentuk simfoni semesta untuk mengakrabkan dua anak manusia yang masih berhadap-hadapan di sebuah meja.

Sunset-nya,” ujar Gatta menunjuk ufuk barat.

Nifai malah seperti tak menyadari, pandangannya masih tertuju ke wajah Gatta.

Daeng,” panggil Gatta.

Nifai mengedip. “Ya?”

Sunset-nya,” lirih Gatta dengan sisa-sisa jengah di sekitar lehernya yang membingungkannya.

“Oh, iya.” Nifai memalingkan wajah dan menatap bulatan jingga keemasan yang sekilas terlihat bagai tepat berada di atas bangunan dan gedung-gedung tinggi di sebelah Barat sana. “Daeng kira cuma Losari tempat paling bagus melihat matahari terbenam,” ujarnya tak dapat menyembunyikan nada takjub dalam ucapannya.

Daeng Nifai belum pernah ke sini?” Gatta nyaris terbelalak ketika Nifai memberikan gelengan sebagai jawaban.

“Hotel ini belum lama ada,” bela Nifai.

“Oke. Aku ingin tahu tempat-tempat yang belum Daeng kunjungi selama lima tahun sudah minum dan pipis di Makassar.”

Nifai tertawa. “Aku kerja di sini, Andi’, bukan berlibur.”

“Mana saja?” tuntut Gatta.

“Aku kerja.”

“Mana saja.”

“Aku ker─” Nifai tertawa pelan ketika Gatta mencondongkan badan ke arahnya lalu tangan anak itu meninju lembut dadanya. Ekspresi Gatta benar-benar menuntut. “Oke, Trans Studio─”

“APA?!?” kali ini Gatta benar-benar membelalak, dan ekspresinya itu berhasil membuat Nifai tertawa lepas sekali lagi. “Bagaimana mungkin?”

“Aku kerja.”

“Tidak ketika akhir pekan, kan?”

“Kadang-kadang juga di akhir pekan.”

“Aneh… padahal menurutku polisi muda kayak Daeng itu suka keluyuran.”

Nifai suka keluyuran, dulunya. Sebelum jalan hidupnya menikung tajam dan membawanya ke sini, dia adalah berandalan. Di Jember sana, dia tak akan pulang ke rumah sebelum lewat tengah malam. Namun begitu babak baru kehidupannya digelar, kebiasaan dan perilakunya berangsur-angsur ikut bertransformasi. Tahun-tahun terakhir ini, dia lebih sering menghabiskan waktu luangnya dengan menonton dan kadang memasang perangkat karaoke miliknya di kontrakan. Beberapa temannya di Polri kadang menemani, tapi dia lebih sering sendirian ketika sedang tidak mengenakan seragamnya.

“Terus, mana lagi?”

“Emm… Toraja.”

Sekali lagi Gatta terbelalak. “Sudah lima tahun lebih di sini tapi belum ke TanaToraja?”

“Kan Daeng kerja, Ndi’…,” ulangnya.

“Huft…”

Nifai terkekeh.

“Baiklah, nanti kapan-kapan kita pergi ke Toraja.”

“Ngapain?”

“Gak ada, cuma nunjukin jalan ke sana buat Daeng.”

Daeng tahu jalannya kok.”

“Meragukan.”

Sapuan kuas tak terlihat Sang Pencipta berubah menakjubkan di ufuk Barat sana. Warna jingga keemasan melebar di langit, mengganti warna biru kelabu yang sebelumnya mendominasi. Bola api itu perlahan-lahan menukik turun, seakan gravitasi pelan-pelan membetotnya ke bumi di belahan sana. Sisa hari itu mereka lalui dengan memandang kepergian matahari dari langit Makassar, hingga hembus angin terasa kian sejuk dan gelap diam-diam merayapi atmosfir.

Mereka meninggalkan Karebosi Skylounge ketika adzan dari Mesjid Al Markaz Al Islami menggema ke segala penjuru. Sebelum benar-benar turun dari sana, entah mendapat keberanian dari mana, Gatta menarik lengan Nifai dan menyeretnya ke tepi. Mereka sama-sama tersenyum ketika kamera ponsel Gatta mengabadikan keduanya berlatarbelakangkan kerlap-kerlip lampu kota dan sisa-sisa langit keemasan di arah Barat.

Ketika sama-sama menuju parkiran untuk mengambil kendaraan masing-masing, tanpa disadari, Nifai menyelipkan dua ratus ribu ke balik zipper mini bag yang disandang Gatta. Dan dengan begitu, egonya sebagai pria dewasa pun tertenangkan.

***

Gatta sungguhan berkunjung ke kontrakannya pada menjelang tengah hari seminggu kemudian. Selama kurun seminggu itu, percakapan telepon mereka makin kerap dan instant message keduanya makin sering. Semalam, Gatta menyinggung lagi niatnya untuk berkunjung ke kontrakan Nifai. Tanpa keterpaksaan dan tanpa keengganan sedikit pun, Nifai menjelaskan secara tepat posisi kontrakannya di atas tanah Kota Makassar pada anak itu.

“Semalam, aku nemu dua ratus ribu dalam tas. Jadi tadi pagi aku bilang pada Daeng Dayang ada temanku yang nitip kue,” ujar Gatta dari ruang depan sambil menyusun beberapa stoples kue ke rak buku Nifai.

Nifai yang sedang berada di depan kulkas untuk mengambil minum buat tamunya terpegun sebentar. Dia tahu Gatta membawakan sesuatu buatnya, kantong yang dijinjing anak itu sejak turun dari skuternya tak mungkin berisi sampah. Yang membuatnya kaget adalah, Gatta tahu uang itu darinya dan berinisiatif mengembalikan padanya dalam bentuk lain. Benar-benar keras kepala, pikir Nifai. Tapi sejenak kemudian dia tersenyum sendiri, dia menyukai cara Gatta mengembalikan uang itu padanya. Diambilnya botol cola dari dalam kulkas dan dua buah gelas dari rak lalu kembali ke ruang depan.

Nifai menemukan Gatta sedang menyingkirkan stoples-stoples kosong miliknya dari rak, memasukkannya ke dalam buffet agar dapat menempatkan stoples-stoples baru yang dibawanya.

“Kenapa bisa tahu uang itu Daeng yang selipin?” tanya Nifai sambil meletakkan gelas di meja. “bisa saja orang lain, kan? Bisa juga itu uang Andi’ sendiri yang gak ingat pernah disimpan di situ.”

“Ada sidik jari Daeng kok,” jawab Gatta acuh tak acuh sambil masih meletakkan stoples-stoplesnya.

Nifai membuka botol cola dan menuangkan isinya ke dalam gelas. “Bukankah itu terlalu banyak?”

Gatta selesai di rak. “Apanya?”

“Kuenya. Nanti kakakmu rugi. Kan uang Daeng cuma dua ratus ribu.”

“Tuh, ngaku juga kan kalau uang itu punya Daeng.”

Nifai menyeringai. “Itu cookies?” dia menunjuk salah satu stoples.

Gatta meraih stoples yang ditunjuk itu dari rak dan membawanya pada Nifai. “Iya. Salah satu andalan Daeng Dayang. Permintaan pasarnya tinggi. Aku bukan mau muji kakakku, tapi ini lebih baik dari cookies kemasan pabrik.” Gatta melepaskan lilitan lakban dari tutup toples dan meletakkan cookies itu di depan Nifai.

Gatta mendudukkan dirinya di sebelah kiri Nifai. Sementara pria itu mulai membuat kurang isi stoples, Gatta sibuk memperhatikan keadaan kontrakan Nifai. Aroma di dalam kontrakan kecil itu entah bagaimana membuat Gatta nyaman. Campuran samar-samar bau asbak dalam udara, ditingkahi pewangi laundry yang pasti berasal dari cucian bersih Nifai yang entah di mana, dan cologne pria itu, bagi Gatta terasa bagai terapi saja. Gatta menyandarkan punggung ke sandaran sofa, sambil berusaha menyelediki merek cologne yang dipakai Nifai.

Andi’ gak suka cola?” tanya Nifai di sela-sela kunyahannya saat melihat Gatta tidak menyentuh gelasnya.

Cola bikin gigi rapuh,” jawab Gatta singkat.

“Ke dapur aja, ambil sendiri minumnya dari dispenser. Kalau mau air dingin atau sirup, ada di kulkas.”

“Gak ada teh?”

“Adanya kopi. Panaskan saja dispensernya.”

“Aku mau ke toilet saja.”

“Tak ada teh di sana.”

Gatta tertawa pendek sebelum meninggalkan ruang depan dan berjalan ke arah dapur. Di sana, dia memutar kenop pintu yang dikiranya sebagai toilet.

“Emm, jangan ke situ.”

Gatta terperanjat dan tangannya refleks menutup pintu yang sudah setengah dibukanya itu. Dia tidak tahu kalau Nifai menyusul di belakangnya.

“Itu kamar kosong tapi berantakan,” lanjut Nifai sambil tersenyum timpang pada Gatta. “toiletnya ke arah sini.”

Gatta mengikuti Nifai masuk lebih dalam ke dapur dengan wajah sedikit merah dan suasana hati yang benar-benar membingungkan bagi dirinya sendiri. Di kamar yang dikatakan Nifai sebagai ‘kamar kosong tapi berantakan’ tadi, lewat pintu yang sudah sempat setengah dibukanya, Gatta menemukan dengan matanya beberapa helai celana dalam pria di rangka jemuran, milik Nifai. Harusnya pemandangan tersebut diresponnya dengan biasa saja, tapi untuk pertama kalinya, dadanya bergemuruh. Gatta banyak melihat hal serupa sebelum ini, dia juga sering main ke kos-kosan teman-temannya yang lebih berantakan lagi dalam hal mengurus pakaian mereka luar dalam. Responnya biasa-biasa saja sebelum ini. Tapi hari ini di kontrakan Nifai, efek pemandangan serupa itu dirasa lain oleh Gatta. Di toilet, sambil berdiri di depan kloset sementara vesika urine-nya dikosongkan, Gatta berusaha memikirkan sebuah jawaban. Namun dia tidak bisa menemukan alternatif pikiran lain, selain bahwa, celana dalam itu kepunyaan Nifai, dan sudah pernah dikenakan Nifai.

Gatta menemukan Nifai sedang mengaduk cangkir di depan dispenser saat keluar dari toilet, pria itu sedang membuatkannya kopi. “Mau pakai susu?” tanyanya.

Daeng punya?”

“Tidak, aku suka minum kopi begitu saja, tapi kalau Andi’ pengen pakai susu, aku akan beli di kios sana.”

“Ya sudah, beli sana.”

Nifai berhenti mengaduk cangkir dan berdiri melongo memandang Gatta. “Serius?” tanyanya.

“Iya. Kan katanya kalau aku pengen pakai susu, Daeng bakal belikan. Aku pengen, jadi silakan sana pergi beli.”

Nifai masih mematung. “Serius, ya?”

Gatta mengangguk.

“Oke.” Nifai menyodorkan cangkir ke tangan Gatta lalu berbalik pergi.

Sepeninggal Nifai, sambil bersandar di dinding dapur dan mengaduk pelan cangkirnya, mau tidak mau, Gatta merasa senang diperlakukan seperti itu oleh si tuan rumah. seakan dirinya adalah orang yang istimewa bagi Nifai. Gatta tak tahu berapa lama dirinya tenggelam dalam pemikiran itu sampai Nifai muncul di dapur dengan kaleng susu kental manis di tangan. Pria itu tersenyum ringkas pada Gatta lalu membuka kaleng susu.

Semenit kemudian mereka sudah berada kembali di sofa, duduk bersebelahan. Televisi sedang menanyangkan iklan obat ketek pria, tapi tidak satupun dari mereka yang memperhatikan. Nifai menunduk memandang ke stoples yang ditaruhnya di paha kanan, sedang Gatta masih menunggu kopinya tidak terlalu panas untuk diminum.

“Makasih,” ujar Gatta.

“Ya?” Nifai merasa akhir-akhir ini konsentrasinya mudah sekali teralihkan jika Gatta ada di sekitarnya. Dia tidak fokus pada apa yang baru saja dikatakan Gatta.

“Aku bilang makasih. Daeng kenapa sih?”

Nifai mendesah. “Gak ada. Daeng cuma sedang berpikir tentang cookies ini kenapa bisa enak sekali.”

Gatta geleng-geleng kepala lalu menyeruput kopinya. “Daeng biasanya makan siang di mana?”

Nifai melirik arlojinya di pergelangan tangan kanan, hampir tengah hari. Anak di sebelahnya ini pasti sudah kelaparan. Sebenarnya dia sudah nyaris kenyang gara-gara cookies, tapi membiarkan Gatta menahan lapar di kontrakannya bukanlah ide bagus. “Habiskan susunya, Daeng ganti celana dulu trus kita keluar makan.”

“Ini kopi,” protes Gatta. Ucapan Nifai yang menyebut susu malah membuatnya berpikir kalau pria itu sedang meledeknya sebagai anak-anak usia sekolah yang masih dicekoki susu oleh ibu mereka setiap hari.

“Itu susu yang dicampur kopi,” jawab Nifai lalu berlalu ke kamar.

Gatta selesai menyimpan botol cola ke dalam kulkas, mencuci cangkir dan gelas yang mereka gunakan di sinky, dan kembali ke ruang depan ketika Nifai selesai dari kamar dan memanggilnya. Nyatanya pria itu tak hanya mengganti celana pendeknya dengan jins saja, dia juga mengganti kaus polonya dengan kemeja denim berlengan pendek yang mengekspos kebagusan lengannya.

Gatta harus mengakui kalau Nifai adalah pria yang kehadirannya di manapun pasti akan menarik perhatian sedikitnya semua kaum Hawa belum bersuami yang sedang berada di tempat yang sama dengannya. Pesona postur dan wajahnya sangat sulit untuk diabaikan. Gatta merasa dirinya terlalu lembut menilai Nifai. Apakah wajar ada lelaki yang menilai fisik sesama lelaki seperti dirinya sekarang?

Sepanjang perjalanan menuju piring makan siang mereka yang Gatta tak tahu di mana, di atas boncengan Nifai, Gatta berusaha membuat apapun penilaian dan apapun respon perasaannya terhadap sosok Nifai terasa wajar.

Mereka makan pallubasa bersama nasi putih dan es teh manis di Jalan Serigala. Ada satu moment yang berhasil membuat Gatta tertegun nyaris seperti kena totokan, itu adalah ketika Nifai─entah dengan sengaja atau hanya menurutkan insting melindunginya─meniup-niup sendok berisi kuah dan daging pallubasa miliknya sebelum disuapkan ke mulutnya. Itu dilakukan Nifai setelah Gatta memuntahkan sendokan kuah yang diambil dari mangkuknya sendiri ke piringnya gara-gara lidahnya terbakar.

“Masa Andi’ gak tahu sih kalau kuahnya masih panas?” Nifai menarik mangkuk milik Gatta dan mulai mengaduk-aduk isinya dengan perlahan─sampai taburan kelapa sangrai di atasnya menyatu dengan kuah─sementara Gatta mengademkan lidahnya dengan es teh. Saat itulah Nifai menyendokkan kuah dan daging pallubasa itu ke mulutnya setelah meniup-niup beberapa kali. Gatta dipaksa harus menerima suapan itu jika tak mau ada pengunjung yang memergoki tingkah Nifai seandainya sendok itu tertahan terlalu lama di depan mulutnya.

“Udah laper banget, ya?” ledek Nifai sambil menyeringai.

Gatta merasa malu sendiri. Tak menjawab ledekan pria di depannya, ditariknya mangkuk miliknya kembali dan mulai serius makan. Nifai membiarkannya menghabiskan isi mangkuk dan piring tanpa bicara lagi.

Dalam perjalanan pulang menuju kontrakan Nifai, Gatta melamunkan tingkah Nifai─yang meniup-niup makan siangnya─sepanjang perjalanan, hingga tidak menyadari jika pelukan lengannya ke pinggang pria itu sudah terlalu erat ketimbang saat perjalanan pergi tadi.

***

Subuh ini Nifai terbangun dalam kebingungan. Begitu kuatkah pikirannya memikirkan Gatta hingga alam bawah sadarnya ikut terpengaruh? Yang lebih membuatnya bingung adalah, cara alam bawah sadarnya menghadirkan Gatta dalam tidurnya. Nifai bangun dan duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki diturunkan ke lantai. Dia mengusap wajah dengan kedua tangannya dan berhenti dengan meremas-remas kepalanya sendiri yang nyaris plontos. Pandangannya tertuju ke pinggang. Bagaimanapun dirinya tak ingin percaya, tapi kenyataan itu tak bisa dibantah. Gatta sungguhan ada di mimpinya dan dia terbangun setelah orgasmenya. Apakah wajar seorang pria memimpikan sesama pria dalam mimpi yang erotis?

“Sial.”

Nifai mengeraskan rahang. Satu dua wanita pernah hadir dalam hidupnya. Tapi tak pernah bertahan lama. Ada Karin, yang dipacarinya selama empat bulan di SMA. Nifai yang memutuskan hubungan mereka karena tak tahan segala hal tentang hidupnya dari A sampai Z terus saja direcoki Karin, setiap saat. Lalu ada Lula, gadis pertama yang dipacarinya di kampus. Lula memang tidak merecoki apapun, dia hanya terlalu agresif menurut Nifai. Kalau saja Nifai mau, tak akan susah baginya untuk membawa Lula ke ranjang, gadis itu akan dengan senang hati mengikuti. Masalahnya, Nifai merasa tak nyaman dengan keagresifan sedemikian rupa yang ditunjukkan terang-terangan oleh Lula. Tujuh bulan di Makassar, dia bertemu Tenri Ako, putri dari keluarga terhormat. Mereka menjalin hubungan hampir delapan belas bulan. Namun, ketika Tenri mengutarakan niatnya untuk membuat hubungan mereka lebih serius, Nifai mulai membuat jarak. Saat itu dia hanya berpikir bahwa dirinya belum siap mengemban tanggung jawab untuk sebuah hubungan yang lebih serius, dia belum siap berkomitmen. Hubungan itu berakhir baik-baik. Nifai melewati kesendiriannya dalam tempo yang lama, dan mendadak saja dia merasa nyaman dengan itu. Hingga kini.

Tapi, baru saja seorang laki-laki belia berhasil datang ke mimpinya yang erotis dan mencuri orgasmenya.

Nifai kebingungan. Dia tak ingin mengakui, tapi dia sungguh merasa ketakutan.

Seingatnya, mereka hanya baru berjumpa empat kali. Mereka hanya bicara lama di telepon yang akhir-akhir ini hampir terjadi tiap malam. Mereka hanya dua orang asing yang sedang berteman, tidak lebih dari itu.

Ada yang salah padanya. Nifai tahu, sesuatu entah apa sedang berlangsung diam-diam di dalam dirinya.

“Sial.”

Nifai mengumpat lagi. Disingkirkannya selimut dengan marah lalu bangun dan menuju kamar mandi. Celana dalamnya yang lembab di sebelah depan dan masih berbau sperma baru dilepaskannya. Dia menjangkau botol sampo setelah membasahi tangannya dan kemudian duduk bersandar dinding di lantai kamar mandi, mengangkang. Dia membayangkan Karin, tapi sesaat kemudian bayangan Gatta di dalam mimpinya menghalau Karin pergi. Giginya bergemelutuk. Tenri Ako yang cantik dan lembut ditariknya keluar dari kotak memori di kepalanya, tapi beberapa detik kemudian bayangan Gatta di dalam mimpinya mengusir Tenri Ako kembali ke kotak memorinya. Nifai membenturkan kepalanya ke dinding di belakangnya dengan frustrasi. Lula yang agresif dikhayalkannya sedang ditindihnya, itu berhasil sebelum perlahan-lahan bayangan Lula berganti sosok Gatta yang bersih dan tampan.

“Sial.”

Nifai menjauhkan tangannya sambil mengumpat lagi. Busa sampo masih memutih di sela-sela jarinya. Ada yang mendesak-desak di bawah pusarnya sedang kepalanya terasa bagai hendak meledak saja. Dia menyalahkan mimpinya, dia menyalahkan anak itu.

Dinding kamar mandi merasakan tinju frustrasinya dua tiga kali, akan jadi empat atau tujuh kalau saja dia tidak merasakan tulang-tulang jemarinya bagai retak.

“Gara-gara dia!” desisnya pada dinding. “gara-gara anak itu…” Dinding itu seakan hidup dan menatapnya balik dengan ejekan, seakan mendesiskan dengan sinis: benarkah?

Nifai memejamkan matanya. Benarkah ini gara-gara anak itu? Salah apa dia? Apa yang dilakukan anak itu yang tidak pantas padanya? Gatta hanya berusaha jadi temannya. Tak ada yang salah pada cara dan sikap anak itu untuk berteman. Bukankah dirinya sendiri yang sejak awal sudah memilih untuk mengulurkan tangannya pada anak itu? Jadi, bukan salah Gatta. Bukan salah Gatta.

Nifai bersandar lagi. Melanjutkan yang tertunda. Kali ini dengan membiarkan saja mimpinya mengendalikan gerakan tangannya di bawah sana hingga desakan-desakan di bawah pusarnya hilang dan tekanan dalam kepalanya mereda.

***

“Kita bisa berangkat malam, jalan-jalan dari pagi hingga sore trus malamnya balik lagi. Aku gak perlu bolos kuliah, Daeng gak usah libur kerja. Gimana?”

Nifai memandang anak di depannya. Mereka sedang di Anjungan Losari, menghabiskan sore sambil makan pisang epe’. Nifai yang memaksa menjemput Gatta di rumahnya di Minasa Upa saat kebetulan dia baru saja berjumpa seorang teman sesama polisi di sekitar komplek perumahan itu. Gatta bahkan belum mandi ketika dia sampai. Nifai jadi kenal dengan Dayang─dan tunangannya yang seorang manajer cabang sebuah bank bernama Adjie─saat duduk bersama mereka di ruang tamu sementara Gatta mandi.

“Malam Sabtu depan?”

Gatta mengangguk, dia sedang mengunyah.

“Balik lagi ke sini malam Minggu?”

Gatta mengangguk lagi.

“Kenapa gak malam Senin aja baliknya? Jadi kita punya dua hari jalan-jalan di sana? Kan Minggu masih libur.”

Gatta menelan kunyahannya. “Daeng gak apa-apa kalau Senin masuk kerja sambil terkantuk-kantuk kurang tidur?”

“Kalau Andi’ gak apa-apa ngikutin kuliah sambil terangguk-angguk di tempat duduk, Daeng juga gak apa-apa ketiduran di Polres.” Nifai menyuap sekerat pisang epe’ ke mulutnya.

Gatta menimbang-nimbang ide itu sejenak sebelum mengangguk pada pria di depannya yang makin ke sini terasa makin dikenalnya, seolah-olah mereka memang sudah akrab sejak bertahun-tahun sebelumnya. “Oke, tapi bila ternyata berada Toraja tidak semenyenangkan bayangan Daeng, jangan paksakan bertahan hingga dua hari, ya! Malam Minggu kita langsung angkat kaki.”

“Oke,” jawab Nifai, sementara hatinya bertanya-tanya tanpa bisa dicegah: apa yang tidak akan terasa menyenangkan jika kamu berada di sana bersamaku?

***

Gatta mengira mereka akan bepergian dengan bus. Saat Nifai bilang akan menjemputnya di rumah setelah Maghrib, sama sekali tidak terfikirkan olehnya bahwa Nifai akan menjemputnya dengan mobil. Gatta mengira Nifai akan menjemputnya dengan motor lalu ke kontrakan pria itu terlebih dulu untuk menyimpan motor dan mengambil ranselnya lalu ke terminal bus dengan taksi atau kendaraan apapun yang bukan mobil pribadi. Tapi Gatta tertipu pikirannya sendiri.

Di teras, Gatta terpegun menemukan kalau yang turun dari mobil itu adalah Nifai. Tadinya dia mengira kalau Daeng Adjie baru saja mengganti mobilnya dengan yang baru.

“Udah siap banget buat pergi, ya?” ujar Nifai sambil menunjuk ransel Gatta di kursi teras.

“Itu mobil siapa?” jawab Gatta dengan balas bertanya.

“Mobil seniornya Daeng di unit. Kebetulan nganggur.” Nifai mendaki ke teras. “Mana Ibu, sudah pamitan?” Padahal Nifai baru pernah satu kali ke rumah Gatta─sekarang jadi dua kali, tapi bagai sudah sangat kenal orang-orang yang tinggal di rumah itu, dia langsung masuk dan mencari ibu teman mudanya sampai ke dapur tanpa sungkan. Di belakangnya, Gatta mengikuti.

Sepertinya pria itu memang sangat diterima di rumah Gatta. Alih-alih segera berangkat setelah pamitan, Nifai malah ditahan di meja makan.

“Gatta, ajak Daeng Nifai makan dulu. Gak usah buru-buru berangkat, Torajanya gak akan berpindah jadi jauh sementara kalian makan malam.”

Itu kata ibunya ketika Gatta mengabarkan dia dan Nifai bisa mampir makan di mana saja dalam perjalanan.

“Lagipula, sudah waktunya makan malam, dan meja makannya sudah disiapkan.”

Yang ini kata sang ayah ketika mempersilakan Nifai ke ruang makan rumahnya.

“Apa perlu dibekalkan cookies dalam perjalanan? Untuk kalian aku kasih potongan harga khusus sodara, bagaimana?”

Dan Dayang berhasil merangsang tawa pertama di meja makan.

*

Mereka meninggalkan Minasa Upa pukul 20.21 WITA, keluar dari Kota Makassar lalu berkendara ke arah Utara menuju Toraja. Gatta masih tercengang-cengang mengetahui fakta kalau Nifai bisa menyetir, sangat mahir malah. Dia sendiri masih terlalu enggan untuk belajar mengemudi, Dayang lebih berani darinya, kakaknya itu bahkan sudah mahir menyetir mobil sejak semester pertamanya di Unhas. Sedang dirinya lebih tertarik bermotor kemana-mana. Mungkin dia sudah bisa mengancang-ancang kapan akan minta diajari mengemudi.

“Discnya ada di laci situ, pilih saja dan putarin mana yang kamu suka.”

Gatta mengubek-ubek laci dasbor dan segera tahu kalau senior Nifai fanatik musik dangdut. Dia tidak menemukan disc apapun yang bukan dangdut. “Aku gak tahu kalau Daeng bisa nyetir mobil.”

Nifai tertawa pendek. “Kurasa, tak ada polisi yang tidak bisa menyetir.”

“Oh ya?”

Kusulam benang bulaeng, sumpata ri Pantai Losari, disaksikan deru ombak, angin laut Makassar…

“Ya ampun…” Nifai tertawa sementara Elvy Sukaesih masuk ke bait pertama Sumpah Benang Emas setelah selesai menghajar raal yang dramatis di bagian depan lagunya. “Aku lupa kalau Bripka Dipa penggemar musik dangdut. Kurasa perjalanan ini akan sedikit menyiksa buatmu, ya?” Nifai melirik sekilas ke jok di sebelahnya.

Gatta tersenyum. “Ini perjalanan yang luar biasa, konser dangdut selalu berhasil memeriahkan suasana. Aku tidak menemukan alasan untuk tersiksa karenanya…”

Nifai tertawa lagi. “Kalau gitu, bisa besarkan volumenya sedikit?”

Keduanya tertawa berbarengan.

*

Gatta terbangun di joknya dengan bau cologne akrab di hidungnya. Bahkan masih dalam keadaan setengah terjaga pun dia bisa kenal kalau itu bau cologne Nifai. Saat membuka matanya lebar-lebar, dia menemukan jaket kulit Nifai menutupi badannya hingga ke leher. Gatta menegakkan badan dan memerhatikan jalan. “Daeng tidak membuat kita tidak tersesat, kan?”

Nifai melirik anak di sebelahnya sebentar. “Omong-omong, aku masih bisa baca penunjuk jalan.”

“Baguslah. Kalau begitu, bisa beritahu kita sudah sampai di mana?” Gatta mendekap jaket Nifai ke dadanya, menerka-nerka kapan dia jatuh tak sadarkan diri di joknya dan kapan pria di sampingnya melepas jaket dan menyampirkan ke badannya? Dia pasti memarkir mobil di tengah jalan untuk melakukan itu.

“Penunjuk jalannya bilang kita sudah di Pare Pare.”

Daeng tidak mau istirahat dulu? Harusnya tadi kita istirahat di Barru.”

“Kita? bukannya Andi’ sudah beristirahat, ya?” sindir Nifai.

“Menyebalkan,” sungut Gatta menanggapi sindiran Nifai. “maksudku, apa Daeng tidak pegal dan ngantuk menyetir tanpa istirahat?”

Nifai tertawa. “Sementara kamu bermimpi, aku sudah ngopi kok di Kota Barru tadi.”

“Tanpa ngajak aku?” tanya Gatta kaget.

Daeng gak tega bangunin,” jawab Nifai. “tapi di dekatmu ada camilan dan kopi susu dalam plastik. Semoga belum dingin.”

Gatta melirik ke samping kanannya dan segera menemukan camilan yang dimaksud Nifai tergeletak di antara jok mereka. Menit-menit selanjutnya dihabiskan Gatta dengan mengemil dan menikmati kopi susunya yang sudah hampir dingin. Namun rasanya tetap saja enak, apalagi jika dilakukan sambil memikirkan betapa baiknya Nifai mau mengingat kesukaannya akan kopi susu. “Apa aku tidur lama?” tanyanya setelah selesai mengisi perut.

“Enggak juga, tapi cukup lelap untuk tidak sadar apa-apa.”

Tidak sadar apa-apa? Pikiran Gatta melompat-lompat. Memangnya apalagi yang dilakukan pria ini selagi aku tidur selain menyelimutkan jaketnya?

“Apa perjalanannya masih jauh?” pertanyaan Nifai memutus pikiran Gatta.

“Masih ada Sidendreng dan Enrekang yang harus kita lewati sebelum akhirnya kita sampai di Kabupaten Toraja.”

“Oh ya? Sudah dekat berarti, oh hei… lihat, atap Tongkonannya sudah kelihatan tuh!”

Gatta meninju pelan bisep kiri Nifai sebagai respon candaan pria itu. Mereka tertawa singkat.

“Jangan tidur lagi…,” kata Nifai tiba-tiba.

“Kenapa? tanya Gatta heran.

Nifai menggidikkan bahu. “Hanya butuh kawan ngobrol.”

Gatta tersenyum, mengendus lagi aroma jaket Nifai dan lalu membesarkan volume music player. Meggy Z sedang berusaha meyakinkan mereka berdua kalau sakit gigi itu lebih baik dari sakit hati. “Kupikir, Om Meggy Z tidak pernah menderita sakit gigi sama sekali semasa hidupnya,” ujar Gatta yang disambut Nifai dengan ledakan tawa.

***

Mereka tiba di Rantepao ketika hari sudah terang. Gatta mengarahkan Nifai untuk menyetir ke Jalan Landorundun. Di sana mereka berhasil mendapatkan salah satu kamar di Hotel Indra. Gatta yang merekomendasikan hotel itu berdasarkan pengalaman kunjungannya yang terdahulu. Kamarnya punya satu tempat tidur king size, cukup luas untuk ditiduri berdua. Kesan pertama yang hinggap di dada Nifai saat mereka melewati pintu adalah debar aneh ketika Gatta menerkam ranjang dan berguling-guling di atasnya seperti balita.

Sementara Gatta merenggangkan otot-ototnya yang kaku akibat terperangkap di jok mobil hampir delapan jam, Nifai masuk ke kamar mandi bersama kilasan mimpinya dua minggu lalu. Dia bertanya-tanya, apa yang tengah dipikirkan Gatta saat ini? Anak itu begitu gembira, tapi Nifai memang belum pernah melihat Gatta tidak ceria setiap mereka menghabikan waktu berdua akhir-akhir ini.

Mereka masih sempat sarapan di hotel setelah cuci muka dan sikat gigi. Setuju tidur beberapa saat untuk melepas penat perjalanan sebelum berkeliaran di Toraja lebih lanjut, mereka urung mandi dan tidur bersisian di ranjang untuk pertama kalinya pagi itu.

*

Gatta kikuk sendiri ketika Nifai keluar dari kamar mandi hanya berlilitkan handuk hotel yang putih pucat. Sambil membuat dirinya terlihat sibuk dengan memencet apa saja yang terpampang di layar smartphone-nya, Gatta bertanya-tanya apakah Nifai juga merasa seperti dirinya sekarang waktu dia keluar dari kamar mandi tadi? Sepertinya tidak, karena begitu Gatta selesai menggunakan kamar mandi, Nifai langsung ganti menggunakannya. Gatta bebas bertelanjang dalam kamar saat berpakaian tanpa harus diintimidasi tatapan pria itu.

Dengan cuek, di depan lemari tempat pakaian-pakainnya sudah dikeluarkan dari ransel, Nifai melepas handuk dan mengenakan celana pendeknya di atas celana dalam yang sudah lebih dulu dipakainya di kamar mandi. Ekor mata Gatta memperhatikan saat lelaki itu menyemprotkan cologne, mengoleskan lotion ke kaki dan tangan lalu mengenakan jinsnya.

Gatta terlambat mengalihkan pandangannya ketika Nifai tiba-tiba berbalik, tangannya di kancing-kancing celana. Gatta bahkan tidak sadar sejak kapan wajahnya tepat menghadap ke sosok Nifai.

Pandangan mereka terkunci begitu saja. Ada panas yang merambati leher Gatta, naik ke wajahnya. Andai saja Nifai tidak berdeham dan berbalik kembali menghadap lemari yang terbuka, sudah dipastikan kalau rona merah di wajah Gatta akan semakin kentara.

Nifai menarik sehelai kaus lengan panjang berleher V dengan kikuk. Saat dia menatap Gatta tadi, hatinya terus berdesir. Seakan darahnya mengalir lebih cepat keluar masuk arteri jantungnya. “Emm… Andi’ mau ke pergi ke mana dulu?” tanyanya tak yakin. Dia hanya berusaha untuk keluar dari suasana yang membingungkan. Nifai hampir yakin kalau Gatta juga sama bingung dengannya setelah momen tatap-tatapan mereka baru saja. Dia bertanya-tanya, apa Gatta terus memperhatikannya sejak keluar setengah basah dan hampir telanjang dari kamar mandi?

Gatta mengeluarkan suara batuk rendah satu kali sebelum menjawab. “Apa Daeng setuju kalau kita melihat-lihat kuburan dulu?”

Kepala Nifai terjulur dari kerah kaus. Kali ini dia berbalik dengan sengaja dan memamerkan senyumnya. “Kabarnya cuma Toraja yang menjadikan kuburan sebagai tempat wisata paling fenomenal di negeri kita,” katanya pada Gatta. “Oke, kita ke kuburan dulu.”

Gatta balas tersenyum. Sementara Nifai memeriksa tampilannya di cermin, dia turun dari ranjang, mencantel tali mini bag di bahu kiri dan tali kamera di bahu kanan, lalu Gatta mendapati kalau dirinya kembali memperhatikan Nifai yang sedang mengenakan arloji, mengantongi dompet dan ponselnya, lalu mengambil kunci mobil.

Daeng gagah sekali…”

Nifai tertegun.

Gatta kaget dengan kalimatnya sendiri. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya seakan luput dari sensor-sensor sarafnya. Dia seperti orang yang mengigau saat melamun. Tiga kata itu memang terdengar wajar dan biasa, yang tidak wajar dan biasa adalah cara Gatta mengucapkannya, persis seperti seseorang yang sedang terpesona dan menaruh hati. “Emm, maksudku, emm…”

Nifai bergerak menghampiri, menangkap pergelangan tangan Gatta dan membawanya berjalan keluar pintu kamar. Nifai tak mau membuat anak itu kesulitan sendiri jika seandainya dia tetap berdiri menunggu hingga Gatta menyelesaikan kalimatnya. Namun anehnya, dia tak bisa menahan perasaan senang sepanjang perjalanan menuju parkiran hotel. Gatta memujinya gagah, dan meski kalimat itu tampak tidak direncakanannya, anak itu terdengar tulus dan jujur.

Nifai menurut untuk melepaskan genggaman ketika di ambang lobi resepsionis Gatta menarik lengannya, tapi anehnya dorongan untuk berjalan sambil merangkul bahu Gatta malah datang menggantikan. Dia menoleh pada anak di sampingnya yang berjalan sambil menatap lurus, lalu tersenyum sendiri.

*

Di Batu Lemo, mau tidak mau Nifai harus mengakui kalau bulu kuduknya sedikit meremang menyaksikan pameran makam khas Toraja. Jejeran peti-peti mati dan pemandangan tulang–belulang manusia untuk pertama kalinya membuatnya takut. Bukannya dia belum pernah melihat peti mati atau mayat membusuk yang memperlihatkan tulang-tulang sebelumnya, Nifai pernah melihatnya beberapa kali sejak jadi polisi, tapi peti mati dan kerangka manusia di pemakaman Toraja sungguh berbeda. Seakan aura mistis menggempurnya dari segala penjuru. Dan Tau Tau di gua batu itu seperti menatap balik padanya. Dia meringis ketika Gatta memaksa mengabadikan sosokya ber-latar-belakang-kan Kuburan Batu Lemo, dan merasa nyaman ketika Gatta ikut berdiri di dekatnya sementara seorang turis dari Makassar berbaik hati memotret mereka.

Hal yang sama juga terjadi di Terjal Londa. Gatta sempat tertawa ribut saat Nifai berjalan sambil mengaitkan jari-jarinya di ujung kemejanya yang tidak dikancing. Kata Nifai, patung kayu yang dipanggil Tau Tau itu bahkan terlihat lebih hidup dari yang dipertontonkan di Batu Lemo.

“Apa semua bayi yang mati di kuburkan di sini, di pohon?” tanya Nifai ketika mereka berada di kawasan Sangalla.

“Sepertinya iya. Orang-orang Toraja percaya kalau ada bayi yang mati maka harus dikubur di pohon. Jadi ya, sepertinya semua bayi mati memang dikubur di pohon-pohon mengingat Suku Toraja sangat mantap memegang keyakinan dan adat mereka.” Gatta mengarahkan kamera, menangkap kuburan pohon dan sosok Nifai sesukanya.

Nifai mengagumi Desa Kete Kesu dengan sepenuh hati. Deretan Tongkonan yang merupakan rumah asli Suku Toraja terasa bagai rapalan mantra sihir baginya. Nifai mengagumi ukiran-ukiran di dinding Tongkonan yang menampilkan pola abstrak dengan warna tak jauh-jauh dari putih, merah dan hitam. Lumbung-lumbung padi seakan menyuruhnya untuk melongokkan wajah lebih lama. Patung-patung kayu di depan rumah seperti menggumamkan selamat datang padanya. Di beberapa rumah, pria-pria Toraja lingkungan 50-an memahat dan mengukir dengan khidmat, seakan kegiatan itu adalah sebuah ibadah. Gatta mengangkat kamera dan memotret setiap pengukir yang mereka temukan sementara Nifai akan diam-diam menempatkan dirinya di sisi paling pinggir bidang lensa, tersenyum senang.

“Kenapa namanya Tongkonan?” tanya Nifai setelah mereka difoto berdua dengan latar belakang deretan Tongkonan─kali ini oleh seorang wisatawan dari Bima.

“Karena, kalau namanya Rumah Gadang adanya di Padang sana, nah kalau namanya Rumah Joglo itu ada─”

Gatta tak sempat menghabiskan kalimat. Nifai menariknya, merangkulkan satu lengan besarnya ke bahu Gatta lalu memutar-mutar tangannya yang lain di atas kepala anak itu, membuat rambutnya mencuat ke segala arah. Gatta tertawa-tawa dan tidak berusaha melepaskan diri dari rengkuhan lengan Nifai yang sekarang seperti sedang memeluk lehernya. “Serius, apa ada arti khusus tentang nama Tongkonan ini?” Mereka berjalan pelan di jalanan Desa Kete Kesu, diapit Tongkonan di kiri dan kanan.

“Itu kabarnya berasal dari Bahasa Toraja, tongkon, artinya duduk.”

“Jadi, Tongkonan artinya dudukan? begitu?”

Gatta tertawa. “Entahlah. Tapi masyarakat Toraja percaya kalau rumah adat mereka dibangun pertama kali di surga.”

“Wow!” seru Nifai. “Jadi, bagaimana ceritanya sekarang malah ada di dunia?” tanya Nifai tanpa kesan sinis sama sekali, bahkan terdengar kagum.

“Leluhur mereka yang membangun Tongkonan pertama kali ketika turun ke bumi.”

Sekali lagi, Nifai berseru ‘wow!’.

“Toraja sangat mengistimewakan pernikahan dan kematian, Rambu Tuka dan Rambu Solo. Upacaranya bisa sangat besar untuk dua momen itu. Dipenuhi tarian-tarian dan atraksi, kerbau-kerbau disembelih dan babi-babi digulingkan.” Gatta merasa sedikit kecewa ketika Nifai tak lagi merangkul bahunya. “Kalau pada upacara Rambu Solo sendiri. Hewan sembelihan itu adalah sarana transportasi arwah menuju puya, menuju Tuhan.”

Andi’ tahu banyak tentang Toraja, ya?”

“Enggak juga, aku sengaja ngopi bareng Om Gugel di kamar hampir tiga jam malam Kamis kemaren,” jawab Gatta sambil nyengir.

*

Setelah tenunan dan Tongkonan berkepala kerbau di Pallawa membuat Nifai terpukau, terasering dan kehijauan alam Batutumonga yang berada di lereng Gunung Sesean berhasil membuatnya takjub. Mereka memarkir mobil dan membiarkan tubuh dibelai iklim dingin di dataran tinggi itu, melupakan perut yang hanya diisi camilan dan soda penunda jatah makan siang dan membiarkan alam Batutumonga membuat mereka jatuh cinta.

Saat berwisata ke Toraja ketika kelulusan SMA, rombongan kami piknik di sekitar sini,” ujar Gatta membuka obrolan saat mereka sudah duduk bersisian begitu saja di rumput. “Dua orang temanku jadian di sini. Kata temenku yang cowok, ini adalah tempat yang tepat untuk menyatakan perasaan. Dia bisa jadi benar, karena cintanya gak ditolak sama temenku yang cewek.”

Nifai menatap Gatta, tidak berkata-kata, hanya menatapnya begitu saja hingga anak itu merasa salah tingkah sendiri.

“Kenapa Daeng memadangku begitu?”

“Memandangmu bagaimana?”

“Begitu,” jawab Gatta lalu menggigit bibir bawahnya.

“Kamu gak suka Daeng pandang?”

Gatta menggeleng, “Bukan…”

Nifai terkekeh ketika Gatta memalingkan wajah dan mulai menyabuti rumput-rumput di sekitar kakinya. Dulu Nifai pernah bertanya-tanya pada diri sendiri mengapa dia tak bisa mengabaikan Gatta, sepertinya sekarang dia mulai mendapatkan jawabannya. Gatta tak jemu untuk dipandang, dan juga karena dia memang tak mudah diabaikan begitu saja─seakan itu sudah sifat alami Gatta untuk tidak mudah diabaikan. Ketika Nifai menggali ke dalam dirinya saat memikirkan mengapa dia mau menolong Gatta hari itu di Losari, dia juga mendapatkan jawaban yang lebih pasti, Gatta membangkitkan naluri melindungi di dalam dirinya. Fakta bahwa Gatta adalah pribadi yang menyenangkan, memiliki personality yang baik dan tahu caranya menjadi teman yang tepat buatnya─selain juga tampang lembut dan caranya berpenampilan itu, adalah tambahan kecil lainnya mengapa Nifai senang setiap kali menghabiskan waktu bersamanya.

“Jadi, besok kita akan ke mana?” tanya Nifai ketika Gatta mengakhiri keakraban mereka di rumput itu dengan bangkit lalu menuju mobil.

“Mungkin jalan-jalan sambil ngeliat batu lagi ke Lokomata dan sorenya mandi air panas di Makula.”

Great. Feeling Daeng bilang, bakal ada mayat-mayat lagi di celah-celah batu di Lokomata.” Saat Gatta mengangguk dan menyengir, Nifai masuk ke balik kemudi dengan geraman. “Bagaimana kalau kita skip saja Lokomata dan berendam sampai melepuh dari pagi hingga sore di Makula?”

“Aku baru tahu kalau ternyata ada juga polisi yang takut mayat,” cibir Gatta sambil memasang seat beltnya.

“Polisi juga manusia,” jawab Nifai santai dan menstarter mobil.

Kendaraan mereka melaju meninggalkan Batutumonga menuju arah pulang ke Rantepao. Kali ini, bukan Elvy Sukaesih atau Meggy Z yang menemani mereka di dalam mobil, tapi Zaskia Gotik dan Siti Badriah dan Ayu Ting Ting serta Cita Citata.

*

Mereka menyempatkan mampir di sebuah warung makan di sekitar Jalan Sam Ratulangi untuk makan siang kesorean sebelum kembali ke hotel. Nama Restoran itu mengingatkan Gatta pada Pinkan Mambo eks dua Ratu dulu. Ketika dia iseng memberitahu Nifai, pria itu malah berkelakar kalau bisa saja yang punya restoran itu adalah Pinkan Mambo-nya sendiri.

Mereka tiba di hotel saat sudah gelap. Nifai yang kelelahan menyetir bahkan langsung menggeletakkan dirinya di atas ranjang tanpa melepas pakaian dan tidak mandi. Saat keluar dari kamar mandi dan mendapati bahwa Nifai sudah mendengkur halus dengan mulut sedikit terbuka, diam-diam Gatta mendekati ranjang dengan kamera dan memotret Nifai yang telelap.

“Bagaimana kamu bisa membuatku sebingung ini, Tuan Polisi?” bisik Gatta pada diri sendiri.

***

Kenyataannya, mereka tidak pernah pergi ke Lokomata dan tidak akan sampai ke Makula selama di Toraja.

Nifai terjaga telanjang di atas ranjang pagi itu dengan Gatta yang sama telanjangnya di dalam pelukannya. Akibatnya, pria itu merasa marah pada dirinya sendiri dan pada Gatta yang terlihat ketakutan dan tidak berani bersuara sepanjang pagi. Nifai mandi banyak-banyak di kamar mandi, membiarkan shower terus menyala sementara dia menyabuni diri banyak-banyak. Dia bagai baru saja sadar dari mabuk berat. Kilasan-kilasan kejadian semalam membuatnya jijik pada dirinya sendiri dan sedikit juga pada Gatta. Nifai tidak pernah berpikir untuk mengeksploitasi hubungannya dengan Gatta seperti kejadian semalam. Entah siapa yang mulai di antara dirinya dan Gatta. Namun Nifai sadar betul kalau dia yang melepas kausnya sendiri, membuka celananya sendiri, dan menuntun Gatta untuk menjamahnya.

Nifai membanting sabun ke lantai kamar mandi dan meninju dinding. Sekarang dia tahu dan sadar bahwa benar-benar ada yang salah dalam dirinya.

Mungkin Gatta yang salah sudah menyesatkan akal sehatnya dengan pesonanya. Tapi, tidakkah dia juga salah karena telah membiarkan dirinya tersesat oleh pesona Gatta?

Nifai melilitkan handuk ke pinggang tanpa repot-repot mengeringkan air dari rambut dan dari kulitnya. Saat melangkah dengan perasaan marah yang sedang berteka-teki di dalam dirinya, bayangan Gatta semalam yang menurut ketika ditindihnya muncul di dalam kepala dan membuatnya makin marah. Harusnya Gatta menolaknya, meninjunya, tapi alih-alih memberinya hajaran Gatta malah membiarkan dirinya ditelanjangi Nifai, membantu Nifai.

“Kita kembali ke Makassar sekarang juga!” ucap Nifai geram pada Gatta yang masih duduk dengan wajah bingung campur takut di atas ranjang.

Gatta terlihat begitu rentan dalam kondisi demikian, dan Nifai tergerak untuk menghampiri dan memeluk anak itu. Tapi kali ini rasa marah mengalahkan naluri melindunginya. Dia berjalan ke lemari dan mempentangkan pintunya. Sementara Nifai menjejalkan baju-bajunya ke ransel dengan tenaga berlebih, Gatta membuntal selimut sebatas pinggang dan masuk kamar mandi.

Nifai menghembuskan napas panjang saat Gatta sudah menghilang di balik pintu kamar mandi, mengusap wajah seperti orang frustrasi dan duduk di tepi ranjang. Suka atau tidak, diinginkan atau tidak, hal itu sudah terjadi. Terlepas dari siapa yang memulai atau siapa yang patut disalahkan, pihak yang paling dirugikan mungkin adalah Gatta. Nifai telah menyodominya semalam. Tapi, tidakkah dirinya juga bukan berada di pihak yang diuntungkan dalam kasus ini?

Nifai mengeraskan rahang hingga giginya bergemelutukan. Apa sekarang dia sudah sepenuhnya bukan laki-laki normal? Ditinjunya guling hingga melesak lalu berpakaian.

*

Gatta tak tahu seberapa banyak air mata sudah dikeluarkannya di bawah shower. Guyuran air membuatnya tak bisa membedakan keduanya. Tapi yang pasti, matanya mulai perih. Apa yang dipikirkannya semalam saat membiarkan Nifai memasukinya? Apakah kewarasannya semalam hilang untuk sementara? Jika iya, pasti bukan dirinya saja yang ditinggal pergi kewarasannya, tapi Nifai juga.

Dia terjaga dini hari dengan wajah menempel di dada Nifai, sedang sebelah paha pria itu memeluk tubuh bagian bawahnya. Apakah dia yang salah karena bukannya berguling menjauh dan keluar dari ceruk tubuh Nifai tapi malah bertahan menempel padanya? Atau Nifai yang berbuat keliru karena bukannya melepaskannya saat terjaga tapi malah mencium keningnya penuh perasaan, dan hasrat?

Apa jadinya hubungan mereka sekarang? Nifai jelas kelihatan marah. Tidakkah dirinya juga berhak marah? Dia yang membawa bukti kejadian semalam di tubuhnya, dia yang berada di pihak tidak mengenakkan. Dan sekali lagi, siapa yang patut disalahkan? Bagaimana mereka berdua bisa hilang kendali sehilang itu? Sebentuk pikiran terbersit di benak Gatta di bawah guyuran shower, bahwa semalam mereka melakukan itu karena sama-sama menginginkan satu sama lain. Tapi, jika memang begitu, bukankah harusnya Nifai tidak harus murka dan dirinya juga tak perlu merasa terpuruk dalam pusaran emosi campuran marah dan bingung dan sedih?

Saat melangkah keluar dari kamar mandi dan menemukan hanya ransel Nifai di atas ranjang yang membalas tatapannya, perasaan takut mahabesar menguasai Gatta. Bagaimana kalau ini adalah akhir dari pertemanannya dengan Nifai? Bagaimana kalau Nifai tak mau membuat kontak apapun lagi dengannya? Bagaimana kalau Nifai membencinya, haruskah dia juga balas membenci pria itu?

***

“Apa kabarnya Daeng Nifai kamu, Ndi’? Udah enggak pernah kelihatan lagi ke rumah? Kamu juga makin betah ngeram gak keluyuran kalau Sabtu dan Minggu kayak gini. Kalian marahan?”

Gatta mengatur stoples-stoples milik Dayang ke kardus tanpa menggubris pertanyaan kakaknya itu. Tapi pikirannya berpusar pada satu nama yang baru saja disinggung Dayang. Nifai baru dua kali bertemu keluarganya, tapi dua kali itu sudah bisa dikatakan volume yang cukup berkualitas untuk membuat anggota keluarganya ingat padanya.

“Beneran lagi marahan?” Dayang mulai melakban kardus-kardus yang baru saja diisi adiknya.

“Enggak,” jawab Gatta singkat dan mulai mengisi kardus kelima.

“Terus?”

“Dia sibuk.”

“Oh.”

Gatta mengangkat salah satu kardus yang sudah dilakban dan membawanya ke mobil yang menunggu di garasi. Sampai di sana, setelah meletakkan kardus berisi stoples-stoples kue kering itu, dia merasakan lagi perasaan terbuang yang sudah dirasakannya sejak dirinya sadar kalau Nifai tak akan pernah hadir lagi dalam hidupnya. Dirogohnya saku, lalu bersandar di mobil dan mulai mengulang kebiasaannya akhir-akhir ini mengulir-gulirkan daftar kontaknya di sekitar nama Nifai.

Rindu bisa serupa siluman

Tak kasat mata dan begitu astral

Dapat menyelinap meski semua celah bahkan telah dilakban

Kau bisa saja tak percaya siluman

Tapi itu bukan berarti ia tak berada di sekitarmu

Lima minggu tanpa saling berkabar. Setelah Nifai menurunkannya di gerbang hari itu sepulang dari Toraja tanpa sepatah katapun dari mereka berdua, Gatta langsung tahu kalau hubungannya dengan pria itu memang sudah berakhir sejak sore itu. Bodohnya dia yang hingga hari ini masih berharap kalau Nifai akan menghubunginya dan mengatakan kalau mereka bisa memperbaiki bersama-sama kerusakan yang sudah mereka berdua sebabkan. Nifai tak akan pernah menelepon, dan dirinya terlalu takut untuk menghubungi lebih dulu, takut dirinya akan menerima kemarahan atau yang lebih buruk: pengabaian.

“Ada apa sih denganmu akhir-akhir ini? Sering banget Daeng lihat kayak orang bingung sambil gosok-gosok layar hape begitu.”

Dayang memasukkan kardus yang dibawanya ke mobil lalu menatap Gatta yang sedang menyimpan ponselnya kembali ke saku. Dia tahu adiknya sedang punya masalah. Mereka cuma berdua, cuma dia kakak yang dimiliki Gatta dan cuma Gatta adik yang dia punya, terpaut umur enam tahun lebih tua dari Gatta membuat Dayang lebih peka untuk membaca adiknya.

“Kamu tahu, kan? Kalau kamu masih bisa cerita apa saja ke Daeng?”

Gatta mendesah. “Yeah, tapi saat ini enggak ada yang perlu diceritakan,” ujarnya lalu kembali ke dapur untuk memindahkan sisa kardus ke mobil.

***

Nifai menemukan memory card itu terselip di salah satu kantong ranselnya minggu lalu ketika dia bermaksud mencucinya. Dia tak yakin apakah Gatta menyimpan salinannya atau tidak. Tapi setahu Nifai, Gatta tidak membawa perangkat komputer dalam bentuk apapun ke sana, dan semua hasil foto kamera pastilah tersimpan di memory card-nya. Gatta pasti menyelipkan benda itu saat dia keluar menjernihkan pikiran─yang gagal berhasil─setelah berpakaian di pagi mereka meninggalkan Toraja. Apapun yang sedang dipikirkan Gatta saat itu, Gatta memutuskan bahwa dirinyalah yang harus menyimpan kenangan journey mereka ke Toraja, dan memikirkan hal itu membuat Nifai gamang.

Kini, setelah seminggu sejak ditemukan, Nifai mengalah dan mencolokkannya ke slot macro memory card di laptopnya. Foto pertama yang terlihat adalah foto terakhir yang diambil Gatta saat mereka di Toraja, fotonya yang sedang terlelap dan terlihat damai sekali di atas ranjang, mengenakan pakaian yang sama dengan yang dipakainya untuk mengelilingi Toraja seharian itu. Gatta hanya menjepretkan kameranya satu kali ke arah ranjang. Nifai bertanya-tanya, apa yang dipikirkan Gatta ketika memotretnya malam itu?

Tak banyak foto Gatta, Nifai kebanyakan melihat sosok dirinya sendiri dengan latar belakang alam dan budaya Toraja, lebih banyak lagi foto yang tidak menampilkan dirinya maupun Gatta sama sekali namun hanya Toraja belaka, dan lebih sedikit lagi foto Gatta di sebelahnya. Nifai menghitung, tak lebih dari tujuh lembar dari seabrek foto itu yang memperlihatkan sosok Gatta. Itu adalah foto-foto yang diambil oleh timer kamera dan dua foto yang dijepret oleh orang lain yang mereka mintai tolong.

Dia berhenti di selembar foto yang menampilkan dirinya dan Gatta di depan Tongkonan. Tanpa sadar, jari-jari Nifai sudah berputar di roda scrool mouse, dan wajah Gatta yang sedang tersenyum memenuhi layar laptopnya dengan serta-merta. Wajah Gatta memenuhi pandangannya. Hatinya berdesir begitu saja.

Rindu adalah harimau liar yang dirantai

Dengan ambisi ingin bebas lepas kembali ke hutan

Menunggu celah dan mengintai

Semakin kau coba menambahkan rantai ke kakinya

Semakin ingin ia untuk membebaskan diri

Roda mouse di-scrooll lagi ke arah berlawanan. Nifai memperhatikan lengannya yang merangkul bahu Gatta, dia berdiri agak di belakang anak itu, kemeja luar Gatta yang tidak dikancing menutupi setengah bagian badan kausnya. Di foto itu, mereka berdua tampak bahagia.

Malam itu bukankah dirinya sendiri yang lebih dulu memeluk Gatta? menaikkan pahanya ke pinggul anak itu? Bukankah dia sendiri yang lebih dulu menciumi Gatta? Dia tidak mabuk, tapi sedang sadar-sesadar-sadarnya. Lantas mengapa dia bisa begitu marah ketika pagi? Begitu marahnya seakan-akan Gatta-lah yang telah merayunya? Bukankah harusnya yang marah adalah Gatta? Dia sudah melakukan sesuatu yang buruk pada anak itu, bukan mustahil malah menyisakan trauma psikis berkepanjangan. Sekali lagi, bukankah harusnya Gatta yang lebih berhak untuk marah padanya pagi itu?

Lima minggu sudah. Nifai tak bisa bohong lagi. Dia merindukan anak itu. Dan… sekarang dia sadar, kalau dirinya mungkin berhutang maaf pada Gatta. Saat hendak mengangkat ponselnya, sebuah pertanyaan menahannya. Bagaimana kalau Gatta memang tak ingin berhubungan lagi dengannya? Bagaimana kalau panggilannya diabaikan? Mungkin saja, Gatta memutuskan membiarkannya menyimpan Toraja dalam bentun memory card ini adalah karena dia sudah tak ingin mengingat apapun lagi tentang dirinya, pria bejat yang telah dengan tak tahu malu menggagahinya di Toraja.

Ponsel itu disimpannya kembali.

***

“Apa sih yang terjadi padamu?!?” Dayang berseru ketika adiknya tak kunjung meresponnya.

Mereka sedang di rooftop Candotel Hotel lagi hari ini, Dayang yang ngotot ingin ditemani adiknya. Sebenarnya Gatta tak ingin ikut, karena pasti kafé atap itu akan mengingatkannya pada Nifai, tapi Dayang bersikeras menyeret Gatta meski adiknya itu berulang kali mengatakan agar dia seharusnya menelepon Adjie dan minta dijemput saja. Daeng lagi pengen jalan sama kamu, kata Dayang ketika menyodorkan helm dan kunci motor pada adiknya waktu di rumah.

Jadi akhirnya, sore Gatta terjebak di sini, di atap Candotel, bersama kakaknya yang entah kenapa kini malah melotot padanya. “Ada apa?” tanya Gatta tidak semangat.

Dayang mengerang samar. “Daeng tanya padamu tadi, bagaimana kalau abis dari sini kita shalat di Al Markaz lalu ke Trans Studio? Kamunya bengong aja kayak orang linglung.” Dayang menyeruput minumnya yang penuh pecahan es.

Trans Studio, apa Nifai sudah pernah ke sana selama mereka tidak berkomunikasi? Bisa saja sudah. Mungkin dia bertemu dengan seseorang dalam beberapa minggu ini, seorang gadis mungkin, atau siapapun─yang sama sekali bukan urusan Gatta─dan mengajaknya ke sana.

“Ya ampun…” Dayang mengeluarkan suara aneh dari mulutnya saat memandang Gatta.

“Apaan sih!” Gatta mulai kesal. “Abis dari sini aku mau terus pulang. Minta saja Daeng Adjie jemput di sini.”

Dayang terdiam. Ditatapnya wajah adiknya lekat-lekat. “Apa sikap anehmu akhir-akhir ini ada hubungannya dengan Nifai?”

Mereka bertatapan. Gatta merasa ditelanjangi. Mendadak hatinya ciut. Akhirnya dia menundukkan wajahnya.

Dayang mendesah, lalu dengan tenang menghabiskan isi gelasnya. Sebelum membuka percakapan lagi, ditatapnya cakrawala Makassar yang sedang menuju malam. “Kamu mau tahu pendapat Daeng, Ndi’?”

Gatta mengangkat wajahnya, berusaha membalas pandangan Dayang yang datar tanpa emosi.

“Apapun nama hubungan yang kamu pikir bisa kamu jalani dengannya, itu tidak benar-benar ada, Ndi’…”

“Aku gak ngerti maksud Daeng apa…”

“Kamu adikku, aku selalu tahu seperti apa dirimu.”

“Memangnya aku seperti apa?” Gatta merasakan sedikit gelegak emosi di dalam dirinya.

Dayang terdiam. “Daeng tak peduli seperti apapun dirimu, karena kamu tetap saja masih adikku, sampai langit runtuh pun fakta bahwa darah yang sama mengisi jantung kita itu tak akan bisa didustai. Jadi masalah sebenarnya adalah bukan seperti apa adikku, tapi seperti apa dunia memandang adikku, seperti apa aku sendiri memandang adikku…”

Gatta bergeming di kursinya.

Dayang melakukan hal yang sama.

Hampir belasan menit sampai Adzan Maghrib berkumandang dari Mesjid Al Markaz Al Islami mereka sama-sama mendiamkan diri. Gatta hendak bangun dari kursi ketika suara Dayang mengurungkan niatnya.

“Aku harap kamu bisa membuat pilihan yang benar dalam hidupmu, Andi’… tapi jika pun suatu saat ternyata kamu tidak begitu pintar dalam membuat pilihan, aku ingin kamu tahu… bahwa saat itu aku tetaplah kakakmu, tak peduli betapa pun sukarnya untuk diterima, aku akan tetap berusaha menerima.”

Gatta mendadak tak ingin pulang, dia ingin menangis pada Dayang dan bercerita segala perasaan yang mendera hatinya berminggu-minggu ini. Meminta Dayang membantunya menata pandangan. Gatta tak ingin salah membuat pilihan, dia tak ingin mengecewakan orang-orang terdekatnya. Mungkin akan lebih baik jika pagi itu dia menolak uluran tangan Nifai, dengan demikian, pria itu tak akan meledakkan awal sebuah kebingungan rumit ke dalam hidupnya yang semula baik-baik saja.

***

“Kalau kamu seneng di situ, ndak apa, Le. Ibuk sama Bapak bisa ngerti. Toh kamu juga sudah dewasa, punya hidup sendiri seperti dua mbakmu. Jangan terbebani sama pikiran pulang jika kamu belum ingin pulang. Omongan Ibuk yang dulu-dulu ndak usah terlalu dipikirkan, begitu juga sama omongan mbakmu…”

Nifai diam mendengarkan suara ibunya di ujung talian. Hari ini dia yang menelepon lebih dulu, mengabarkan kalau dirinya kangen rumah sambil tertawa tak semangat. Dan naluri seorang ibu memang tak bisa ditipu. Ibu Nifai tahu kalau putranya tidak benar-benar kangen rumah yang bisa membuat sang putra mau pulang untuk selamanya, tapi putranya itu sedang mengalihkan perhatian dari masalah yang lebih dari sekedar kangen rumah ketika berusaha membuat dirinya senang lewat telepon.

“Ono opo tho, Le? Kok tiba-tiba ngomong kangen rumah, jarang-jarang kamu ngomong kangen rumah sejak betah di situ. Ibuk tahu, kamu iki bukan sedang kangen rumah…”

Nifai ingin cerita semua, meminta saran dan nasihat pada ibunya tentang apa yang semestinya dia lakukan, tapi Nifai masih ingin melihat ibunya sehat dan hidup tanpa serangan jantung. Jadi, dia mengurungkan niat dan menghela napas panjang.

“Le…” Sang ibu memanggil lembut.

“Ya, Buk?” Nifai menutup layar laptopnya begitu saja untuk menghilangkan wajah Gatta dari penglihatannya, lalu fokus mendengarkan suara ibunya.

Ono opo?” Kali ini pertanyaan ibunya terdengar begitu sukar dielakkan.

Nifai lagi-lagi menghela napas panjang. “Hanya sedang bingung, Buk. Gak tahu harus mengambil keputusan seperti apa.”

“Urusan hati atau urusan lain?” tanya ibunya langsung.

Nifai terdiam lama. Kalau hari lain, dia pasti akan tertawa mendengar ibunya menodong demikian, tapi tidak dengan hari ini. “Kayaknya hati deh, Buk.”

Sang ibu menggumam sesaat lalu bersuara. “Le, dalam hidup, banyak orang yang datang untuk menetap, dan tak sedikit yang datang untuk pergi. Yang menetap tidak selamanya adalah orang-orang yang kita inginkan untuk tinggal. Yang pergi pun belum tentu adalah orang-orang yang kita inginkan untuk menjauh. Mereka tinggal karena memang ditakdirkan untuk tinggal, tak peduli kita menginginkan mereka atau tidak. Begitu juga mereka yang pergi, tak peduli seberapa besar keinginan kita agar mereka tinggal, kalau alam mengharuskan mereka pergi, mereka akan pergi…”

Nifai menerka-nerka kemana maksud ucapan ibunya yang terdengar sangat serius itu. Apa ibunya mengira kalau dia baru saja ditinggal pergi kekasihnya? Yah, kalaupun ibunya menduga begitu, memang sedikit ada benarnya. Ada sebagian dirinya yang merasa bagai ditinggalkan Gatta, meski mungkin pada kenyataannya bisa jadi malah dia yang meninggalkan anak itu.

“Tapi kita selalu bisa memilih, Le…”

Nifai kembali fokus pada suara ibunya.

“Kita selalu bisa memilih, memilih memperjuangkan mereka yang kita inginkan untuk menetap bersama, atau memilih melepaskan mereka untuk pergi dan hilang…”

Nifai tercenung.

“Kalau kamu belum ingin pulang, Le… tetaplah di situ dan bahagialah. Kapanpun nanti kamu sungguh-sungguh ingin pulang, maka pulanglah.”

Nifai tak bisa bicara apapun.

“Sudah dulu, Ibuk mau bikinkan jamu Bapak.”

Bahkan setelah satu jam sejak ibunya menutup telepon dengan meninggalkan gema ucapan yang memantul-mantul di dalam kamarnya, Nifai masih belum berhasil membuat pilihan.

***

14 Days Later…

Anjungan Losari entah bagaimana mendadak sepi sore ini. Padahal sepanjang hari tadi langit berwarna biru cerah, jaminan untuk sunset yang akan terlihat jelas menyala-nyala di ujung hari. Harusnya orang-orang memilih sore ini jika ingin melihat matahari terbenam di Anjungan Losari. Tapi kenyataannya Anjungan Losari sepi, seakan sebagian besar warga Kota Makassar entah bagaimana terhubung pada satu pikiran dan sepakat untuk tidak mendatangi Losari sore ini. Ide yang aneh, tapi begitulah yang terjadi, Losari sore ini hanya didatangi beberapa pasangan, beberapa keluarga kecil dengan balita mereka, dan satu dua genk SMA yang terlihat sangat ‘SMA’ bahkan hanya sekilas pandang saja.

Gatta membidik lagi langit keemasan di sebelah barat dengan lensanya, setelah lebih dulu menangkap diam-diam potret sebuah keluarga dua anak yang terlihat sakinah mawaddah warahmah─si ayah berkoko, ibunya hijaber, dua putri kecil mereka juga hijaber─di dekat tulisan LOSARI. Angin meriap-riapkan pakaiannya dengan marah, seperti hendak merobek-robek kemejanya. Perhatian Gatta tertarik pada sepasang remaja yang duduk berdekatan menghadap laut, membelakanginya, kepala si cewek miring ke bahu cowoknya. Gatta tersenyum dan mengarahkan kameranya ke mereka. saat segerombolan burung melintasi cakrawala, dia ganti mendongakkan wajah dan kameranya lalu membidik berkali-kali.

Puas dengan hasil jepretannya, Gatta mulai menuntun sepedanya bermaksud mencari spot lain untuk menangkap gambar. Sebulan terakhir ini, hobi photography-nya sedikit mengalami peningkatan volume. Gatta punya alasan bagus mengapa dia mau menyisihkan waktunya menggeluti hobi yang sama sekali tak ada kaitan dengan kuliahnya: pengalih perhatian, dia menyebutnya begitu. Sangat tidak enak rasanya mengisi waktu luang dengan melamun dan mengenang.

Sepedanya distandarkan di pinggir jalan, diangkatnya kamera ke depan mata dan mulai memainkan fokus jarak jauhnya sambil memindai bidang gambar di depannya. Lensa kameranya melewati beberapa pasangan, beberapa mobil yang memelankan laju mencari slot parkir yang tepat, bermeter-meter bibir pantai, dan sudah siap untuk melewati sosok seorang pria yang sedang berjalan sambil menuntun sepeda jika saja jantungnya tidak mencelos jatuh ke ujung kaki dan tangannya tidak gemetaran kemudian hingga kameranya nyaris terlepas. Si pria yang sedang menuntun sepeda─dengan kaus polo pas badan dan celana pendek dan sepatu olahraga tanpa kaus kaki serta earphone yang sudah disampirkan dari pundak kiri ke pundak kanan─sedang tepat menujunya dengan langkah tegap dan lebar, menyebrangi jalan dalam satu garis miring lurus yang panjang.

Gatta menurunkan kamera lalu berdiri gemetaran ketika sadar dan tahu kalau sosok itu bukan tipuan lensanya, tapi sungguhan ada dan memang sedang berjalan menujunya. Gatta tercekat, bingung menunjukkan reaksinya. Apakah dia harus kaget, gembira, marah, takut, atau bersedih diri? Atau, menghindar saja?

Belum pun Gatta tahu harus bereaksi bagaimana, sosok Nifai sudah berada di depannya. Dua sepeda itu kini berdiri berdampingan dan dua pemiliknya saling berhadapan.

Nifai menunggu Gatta mengucapkan sesuatu, tapi anak itu sepertinya terlalu bingung untuk bicara. Jadi, dia maju lebih dekat pada Gatta yang berdiri terlalu ke pinggir jalan lalu mengambil kamera dari tangannya. Gatta melepaskan dan merelakan kameranya begitu saja, bibirnya tetap terkatup tapi sorot matanya yang tidak terbaca terus mengikuti kemanapun Nifai bergerak.

Nifai bergerak ke samping kanan Gatta, mengangkat kamera ke arah sepeda mereka yang bersisian tak jauh dari posisinya dan Gatta berdiri, lalu memotret. Sementara Nifai meneliti hasil jepretannya di layar kamera, Gatta yang sudah menolehkan wajahnya ke kanan terus saja memperhatikan pria itu.

Nifai memerosotkan tubuhnya dan duduk begitu saja di tepian jalan, mulai menggulir-gulirkan hasil foto Gatta.

Gatta masih berdiri. Dia menahan diri agar tidak menjadi cengeng. Setelah nyaris dua bulan dan hampir berhasil menghalau ‘siluman’ bernama rindu itu dengan membunuh kesendirian bersama kamera dan sepedanya, kini justru rindu itu melabraknya dari segala arah hingga nyaris terjengkang. Sadarkah pria itu kalau dia ingin sekali memeluk rindu dan membenamkan wajah meredakan tangis ke dadanya?

Jemu menunggu Gatta yang tak kunjung mengikutinya, Nifai menarik lembut lengan kanan Gatta untuk duduk bersamanya.

Sentuhan itu… Gatta tak bisa menjelaskan betapa dirinya mengenal sentuhan tangan Nifai, sampai-sampai rasanya dia mati rasa terhadap sentuhan selain itu. Gatta hanya bertahan duduk tegak dan diam selama tiga menit di sebelah kiri Nifai, begitu detik pertama di menit keempat berdentang, dia kalah.

Nifai menoleh pada kepala Gatta di bisepnya, membiarkan Gatta menangis diam-diam tanpa mengganggu. Padahal kalau saja saat ini mereka berada di ruang yang lebih privat, ingin saja dia merengkuh kepala itu ke dadanya dan menenangkan tangis Gatta dengan kata-kata dan belai-belai. Di sini, yang terbaik yang bisa diberikannya adalah waktu dan bahunya. Nifai sudah memutuskan akan menunggu sampai Gatta selesai menangis. Dan ternyata itu cuma butuh tujuh menit sejak kepala itu menyentuh bahunya, tadinya Nifai mengira kalau bahunya harus kesemutan dulu sebelum Gatta benar-benar berhenti.

Gatta mengusap wajahnya dengan kemeja, mengambil kameranya dari tangan Nifai lalu bangkit dari pinggir jalan dan mendekati sepeda.

Nifai terheran-heran.

Gatta mengalungkan tali kamera ke leher, memutar arah sepeda, naik ke sadel dan mulai menganyuh.

Nifai buru-buru bangun, buru-buru memutar arah sepeda, buru-buru duduk di sadel dan buru-buru mengayuh pedal mengejar Gatta.

Temaram cahaya senja menyirami mereka. Keduanya mendayung sepeda bersisian tanpa bicara, mereka sama-sama tahu, kalau kata-kata sama sekali tidak diperlukan saat ini. Seakan diam sudah berbicara sangat banyak kepada mereka hingga melewati makna yang bisa ditawarkan oleh kata-kata.

GRIK GRRRRKKK GGGRRRRKKK

Nifai berhenti menganyuh dan menekan tuas rem untuk memelankan laju sepedanya. Di belakangnya, Gatta sudah berhenti total, anak itu menunduk memperhatikan bagian bawah sepedanya. Nifai menikung di tengah jalan untuk memutar arah sepedanya dan kembali pada Gatta.

Rantai itu putus lagi.

Gatta menstandarkan sepeda, melepaskan rantai rongsok itu dari sepedanya dan melilitkannya ke setang, persis seperti yang pernah dilakukannya di hari bergerimis itu. Saat dia sudah tegak lagi, tangan kiri Nifai sudah terulur padanya.

Mungkin berlebihan, tapi rasanya memang sungguh seperti pulang ke rumah bagi Gatta. Tangan Nifai terasa akrab di tangannya. Tangan Nifai seperti menyambutnya hangat, sehangat rumah yang sudah lama menantinya pulang.

Dan…

Mungkin berlebihan, tapi rasanya memang bagai menemukan tempat pulang buat Nifai. Tangan Gatta terasa benar di dalam tangannya. Tangan Gatta seperti rambu-rambu penunjuk jalan, menuntun tanpa suara tapi dengan kebenaran yang absolut, bahwa itu menunjukkan arah yang benar menuju rumah.

“Aku ingin jadi orang yang memperjuangkanmu untuk tidak pergi, Miqail Gatta… maukah kamu memperjuangkanku agar tetap tinggal?”

Genggaman mereka mengerat.

“Aku ingin menjadikan Daeng pilihan yang tepat… tapi bersediakah Daeng membuatku jadi pilihan yang sama tepatnya?”

Senyum lepas mereka menyeruak di wajah.

Sekali lagi langit menggelap di Makassar. Satu hari lagi di Makassar terlampaui. Satu kisah lagi muncul di bawah langitnya. Mungkin benar, bahwa jika kau menginginkan sesuatu dengan segenap jiwa ragamu, semesta mungkin akan berkonspirasi denganmu untuk membuatnya terwujud.

 

 

Akhir Pebruari 2016

Dariku yang sederhana

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com