es.wordpress.com/2016/02/wp-1455637714638.png”>image

CUAP2 NAYAKA

DISCLAIMER!

Konten khusus dewasa. Tidak diperuntukkan bagi pengunjung yang belum berusia 18 tahun. Segala bentuk resiko yang ditimbulkan sebagai efek membaca tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengunjung dan pembaca masing-masing. Pemilik blog dan penulis akan menyangkal tuduhan apapun yang mungkin muncul disebabkan postingan ini, dalam kata lain, pemilik blog dan penulis sudah cuci tangan jauh2 hari saat tulisan ini selesai dibuat dan diposting. Iya, cuci tangannya pakai sabun!

Sekian.
Dan,
terima kasih kalau pembaca budiman sekalian bersedia membaca entri ini tanpa berusaha menikmati, karena penulisnya juga tidak berusaha menikmati ketika menulisnya.

Wassalam
Nayaka

###############################################

Setiap pria menyimpan monster di dalam dirinya. Sebagian mereka mampu menjinakkannya, sebagian lain membiarkannya tetap liar untuk dilepaskan pada waktunya. Alan Davenport adalah salah satu dari yang tidak mampu—atau tidak berusaha sejak awal untuk—menjinakkan monster di dalam dirinya. Dan sialnya, aku terjebak bersamanya di kota kecil ini.

Kami bertemu di luar stasiun dua puluh tujuh hari lalu. Aku berpura-pura tersandung sepatuku sendiri tepat saat kami berpapasan agar terlihat tidak sengaja ketika tanganku berpegangan ke tonjolan di celananya untuk mencegah diriku jatuh pura-pura. Jujur saja, postur dan wajahnya bahkan sudah mencuri perhatianku dari jarak puluhan meter saat keluar dari stasiun. Inderaku seakan sudah terlahir untuk tidak mengabaikan tubuh jangkung wajah tampan dan rambut coklat begitu saja di tempat manapun. Jadi, aku mengambil arah yang benar agar bisa bertubrukan dengannya. Ide untuk meremas bagian di antara dua pahanya sendiri terfikirkan begitu saja saat aku melirik ke sana dan menemukan kalau pria itu ternyata punya kejantanan besar yang tidak mudah disamarkan oleh celana jins yang tengah dikenakannya.

“Ya ampun, maafkan kecerobohanku.”

Dia tersenyum, menyentuh gundukan di celananya—yang baru saja kulepaskan setelah sudah berdiri tegak—lalu menyingkirkan earphone dari kupingnya. “Tidak apa-apa, senang ada bagian tubuhku yang bisa menolongmu agar tidak sampai terjatuh di trotoar.”

“Aku sungguh-sungguh minta maaf.” Kuusahakan diriku untuk menampilkan mimik menyesal semeyakinkan mungkin, sedang kontur batang penisnya yang liat masih tertinggal di telapak tanganku. “Emm… kau, tidak apa-apa?” tanyaku sambil melirik ke selangkangannya.

“Yah, hanya sedikit ngilu.” Dia menyeringai, “kau berpegangan terlalu erat. Mungkin akan menyenangkan kalau kau bisa sedikit lebih lembut padanya.”

Sore itu, dia menerima tawaranku untuk mengopi sebagai permintaan maaf. Aku baru saja balas memperkenalkan diriku sebagai Brent Unicorn padanya ketika cangkir kopi kami diantar pelayan wanita—yang jelas-jelas memberitahu kalau dia siap dimasuki penis Alan dengan mengatakan padanya bahwa dia selesai bekerja jam delapan nanti—dengan gestur genit yang kentara. Alan hanya menjawab ‘Oke’ lalu memutar bola mata padaku setelah wanita itu pergi. Obrolan tentang bagaimana aku bisa sampai ke kotanya bergulir sore itu, aku mengarang sebuah kisah yang kupikir ingin didengar Alan, bahwa aku kabur dari perjodohan keluarga karena aku tidak mencintai calon istriku dan bahwa aku tidak siap menikah dengan wanita manapun sekarang dan bahwa kota kecilnya adalah tujuan kabur yang sempurna karena tak akan ada seorang pun yang mengira aku bersembunyi di kota kecilnya. Ketika kukatakan kalau aku baru saja tiba dan masih asing di kota dan belum punya info apapun tentang motel dan penginapan, dia menawariku bermalam di tempatnya dan berjanji besok akan membantuku mencari motel.

Tentu saja aku tidak menolak. Kata orang, kan, kesempatan tidak datang dua kali. Jadi, aku masuk ke truknya dan dia menyetir ke pondoknya di pinggiran kota, jauh ke pinggiran kota.

Jam sebelas malam itu, dalam keadaan setengah telanjang dia mengetuk kamar sempit yang kutempati dan menanyakan apakah aku bisa membantu memijit tengkuk dan bahunya sebentar? Bekerja di pemrosesan kayu meninggalkan efek yang tidak enak setiap harinya di tubuh bagian atasnya. Di kamar mandi tadi, aku menemukan banyak sekali koyo. Cukup untuk membuktikan kebenaran ucapannya tentang pekerjaannya. Aku mengira-ngira seberapa besar kemungkinannya bagiku dapat menyingkap handuk yang melilit rendah di pinggang Alan lalu memijat penisnya juga ketika kujawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan.

“Aku tidak mahir memijat, tapi kupikir aku bisa melakukannya cukup baik.”

Itu kataku ketika dia tengkurap di atas single bed yang diberikannya sebagai tempatku bermalam, sebelum aku naik dan duduk mengangkang di atas bokongnya yang kencang. Entah bagaimana, mendadak aku punya niat untuk menelepon Sean esok dan berterima kasih atas kirimannya ke rekeningku hingga aku bisa duduk di atas bokong seksi Alan Davenport malam itu.

Alan memejamkan matanya ketika aku mulai memijit tengkuk dan bahunya, aku fokus di sana hingga lima belas menit sebelum kuturunkan jari-jariku lebih rendah ke punggungnya sebelum lima belas menit kemudian turun lagi ke sekitar pinggangnya. Aku tidak yakin Alan tak menyadari penisku yang tegang di bokongnya. Aku juga ragu kalau Alan mungkin tertidur saking lelahnya. Tapi yang jelas, aku punya sebuah kesempatan emas yang sedang tengkurap menunggu di depan mataku.

Jadi aku menelanjangi diriku sementara Alan tak bergerak dan masih terpejam. Ketika kutidurkan diriku yang sudah telanjang ikut tengkurap sama-sama di atasnya, dia menggumam pendek lalu mencari-cari tanganku, mengangkat pinggulnya sesenti dari kasur dan memasukkan tanganku ke balik handuknya.

Aku segera tahu kalau Alan belum mengenakan celana dalamnya. Dan penisnya yang sudah tegang benar-benar seperti yang kubayangkan.

“Tanganmu lembut sekali, Unicorn…,” gumam Alan lalu menggesek-gesekkan batang kemaluannya di telapak tanganku.

“Rongga mulutku lebih lembut, dan aku punya yang lebih lembut lagi dari keduanya…”

Alan menggumam, mengangkat kepalanya dan kami berciuman untuk yang pertama kalinya. “Kau suka penisku?” gumamnya di sela-sela ciumannya dan pijatan jari-jariku di sepanjang batang penisnya.

“Lebih dari yang kau tahu.”

“Bagaimana pendapatmu tentangnya?”

Baru Alan, yang membicarakan penisnya denganku sementara kami sedang akan bersenggama. Pria yang sudah-sudah semuanya terlalu sibuk bicara dengan otot-otot dan anatomi yang dimilikinya ketika aku bercinta dengan mereka. Alan mungkin terdengar aneh karena ‘meng-orang-kan’ penisnya, tapi jujur saja topik tentang kabar organ paling privaci miliknya ternyata begitu merangsang gairah.

“Keras sekali,” jawabku sambil melakukan gerakan menggenggam pada batang kejantanannya yang mulai panas. “Bagaimana rasanya diisi penis sekeras ini, aku sungguh penasaran.” Kutabrak-tabrakkan selangkanganku ke bokongnya hingga handuknya melonggar dan akhirnya sedikit tersibak. Aku diam menikmati kondisi batang penisku yang terjepit diantara belahan pantat Alan.

“Jujurlah, kau tidak secara tak sengaja menggenggam penisku tadi sore di jalan. Kau tergoda padanya sejak saat itu, kan?”

“Aku suka penis besar seperti milikmu ini. Aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai melewatkan kesempatan untuk menyentuhnya sore tadi.” Sekarang aku melakukan gerakan mengocok berulang-ulang hingga Alan harus mengangkat lagi pinggulnya beberapa senti selama beberapa menit untuk memuluskan gerakan mengocokku itu sementara mulutnya melenguh-lenguh keenakan.

Aku berhenti mengguncangkan tabung biologis di depan tubuh Alan ketika dia menjatuhkan lagi pinggulnya ke ranjang dan menggumam memberitahuku kalau penisnya perih. Sepertinya aku mengerjainya terlalu kasar.

“Kau tidak punya vaseline atau semacamnya?” tanyaku sambil melepaskan penisnya dan bertumpu lengan di bahunya yang lebar, menekan penisku lebih kuat di bokongnya yang seksi.

“Sudah lama aku tidak ke ranjang dengan pelumas, Brent.”

Aku mengernyit. “Maksudmu, kau sudah lama tidak bercinta dengan seseorang?”

Alan diam. Aku menganggap pertanyaanku dijawab dengan IYA. Pikirku malam itu, ya Tuhan, kasihan sekali pria ini. Dengan aset semenggairahkan yang dia punya, Alan sangat berhak dimanjakan secara seksual dengan cara bagaimanapun yang disukai penisnya.

Jadi, aku bangun dari belakangnya dan membalikkan badannya untuk menelentang. Kurenggut handuk dengan beringas dari pinggangnya dan segera kumasukkan kepala penisnya ke mulutku. Mukaku terbenam ke selangkangnya, naik turun untuk melumuri penisnya dengan 99% air ludahku dan 1% dengan cairan penisnya sendiri yang keluar sebagai efek euforia libidonya.

“Akh… Brent… luar biasa melihatnya keluar masuk mulutmu seperti itu.” Alan lagi-lagi memanusiakan penisnya.

Aku mengedip padanya sebelum kulepaskan mulutku dan terengah-engah. Baru sebentar, aku sudah merasa pegal dan tersedak beberapa kali ketika batang besar panjang dan lurus itu menyodok-nyodok hingga melewati tekakku.

Penis Alan kini licin dan berkilat, aku yakin dia tak akan merasa perih lagi walau penisnya kuguncangkan sampai bagai hendak tercabut dari tempatnya mencuat keluar. “Kemarilah…” Alan menarikku ke pelukannya dan kami berciuman dengan tanganku tetap berpegangan pada penisnya yang menunjuk penuh hasrat minta dilemaskan dari perenggangannya yang ajaib.

Lidah Alan menerobos masuk ke mulutku. Kulepaskan penisnya lalu merangkak naik ke perutnya yang ramping dan bersekat-sekat. Aku segera tahu kalau Alan adalah seorang pencium handal ketika dia melumat bibirku penuh perasaan dan melepaskannya ketika dirasanya aku mulai kehabisan udara. Dia tersenyum menemukanku yang terengah-engah dan lalu membiarkanku menggigiti bibir bawahnya, menggigit dan menariknya ke arahku hingga dia mengerang sambil memicingkan matanya sebelum memajukan wajahnya lagi untuk menutup mulutku.

“Alan,” panggilku sambil meremas otot-otot di dadanya yang bidang dan kokoh.

“Hemm…”

“Apa pendapatmu tentang enam dan sembilan?”

“Kreatif dan efisien.”

Kami sama tersenyum dan Alan kembali menelentang. Rasanya luar biasa melihat batang penisku lenyap ke dalam mulut Alan, melihat bibirnya menempel di perutku benar-benar membuatku gila. Sudah sangat lama sejak seorang pria tidak keberatan melakukan posisi ini bersamaku. Berusaha tidak terpengaruh secara total pada isapan Alan di penisku, kulahap kejantanan Alan yang menunggu tepat di depan hidungku, kuciumi dan kujilati berulang kali dari pangkal menuju ujungnya yang besar dan tumpul. Kuputar-putar lidahku di sekitar mulut penisnya sebelum kupompakan mulutku menukik turun lalu melesat naik berulang-ulang di sepanjang batang kemaluan Alan.

Ketika gerakan mulutku yang naik turun di penisnya makin cepat dan kencang, Alan membebaskan penisku dan melenguh berkali-kali seperti kuda jantan sambil menggerakkan pinggulnya ikut naik dan turun mengimbangi mulutku. Aku tahu dia sedang menuju orgasmenya.

“Arrgghh…!!!”

Air mani Alan membanjiri mulutku ketika dia menghujamkan kejantanannya sedalam-dalam yang bisa diterima mulutku—aku yakin kalau batang penisnya sedikit tertekuk melengkung di dalam mulutku karena kepala penisnya mentok di kerongkonganku. Sebagian maninya yang kental dan lengket itu berhasil tertelan dan sebagian besarnya keluar dari sudut-sudut bibirku dan mengalir di batang kemaluannya sebelum menggenang tepat di pangkalnya.

Alan masih terengah-engah, menelentang dengan penis mengacung keras dan sesekali berkontraksi seakan sedang menunjuk-nunjuk loteng kamar. Aku naik dan tidur di atasnya, merasa nyaman berada dalam ceruk yang disediakan tubuhnya untukku. Alan memelukku dan berguling. Sisa-sisa sperma yang tadi menumpuk di pangkal penisnya jatuh ke perutku saat dia menindihku.

“Apa kau capek?” Gumamnya di telingaku.

“Mulutku yang capek, tapi duburku tidak…”

Alan tersenyum, bangun dari ranjang dan berlutut. Penisnya masih saja keras dan warnanya masih merah muda, menunggu.

“Aku belum sempat beli kondom saat turun kereta,” ujarku ketika ikut berlutut dan mengangsurkan bagian belakangku di depannya. “Mengingat kau sudah lama tidak punya pelumas, aku yakin kau juga tidak memilikinya saat ini…”

“Jadi, kita harus bagaimana?” Alan merangkulkan lengannya ke perutku, tangannya yang besar dan kasar membelai perutku sementara penisnya yang berotot itu digesek-gesekkannya di sebelah pantatku. Dia menunduk dan menciumi leherku yang sedang menengadah.

Kujambak rambut Alan ketika dia bermaksud membuat bekas cumbu di leherku dengan menghisapnya kuat-kuat. Untuk sedetik, aku sempat berpikir kalau Alan adalah vampir.

“Brent… aku harus memasukimu. Sungguh… aku butuh melakukan penetrasi ke dalam dirimu, aku butuh dipuaskan, penisku menginginkan itu. Kita tak seharusnya menghentikan dia, kan?” Alan menelusupkan jari-jarinya yang basah ke celah pantatku. Aku menduga dia membasahi jarinya dengan liurnya, atau dengan sisa-sisa air maninya sendiri yang masih melumuri batang penisnya? Bisa jadi.

Aku medesah ketika jari-jari Alan masuk dan berusaha menyamankan jalan masuk penisnya yang besar dan panjang itu.

“Brent… aku akan… memasukimu saat ini juga…”

Kurasakan kepala penis Alan menerobosku, mendorong-dorong memaksa masuk. Alan menjenguk ke wajahku dan mencari-cari mulutku. Sebelah tangannya kuyakin sedang menggenggam batang kemaluannya untuk dituntun masuk ke dalam diriku sedang tangan yang satunya menahan pinggulku agar tidak menjauh dan menerima hujaman penetrasi erotis dari otot penisnya yang sudah sekeras tulang.

Sedikit, aku merasa perih ketika kepala penis Alan berhasil membuka jalan bagi batang penisnya. “Alan…” Aku menegang dan otot-otot lubang pantatku berkontraksi menjepit penis Alan.

Pria itu mengerang di telingaku. “Be relax, Sweetheart...” Ya ampun, kenapa dia harus memanggilku demikian? “Saat kejantananku berhasil masuk seluruhnya, kau akan terus minta lagi dan lagi supaya aku terus menghujamkannya ke dalam. Aku janji…” Alan mendorong dirinya masuk lebih dalam, lebih dalam dan lebih dalam sampai kurasakan perutnya menempeli bokongku.

Aku merasa penuh.

“Sudah masuk. Kau mau memeriksanya?” Alan memundurkan badannya sedikit agar aku bisa mengintip ke belakangku. Aku takjub ketika kutemukan batang penis Alan yang panjang itu itu ternyata sudah tidak tampak lagi, semuanya sudah hilang amblas masuk hingga ke pangkalnya ke dalam duburku. Alan memundurkan pinggulnya, memperlihatkan padaku setengah dari batang penisnya. Sensasi tarikan itu membuatku gila. Ketika dia memajukan diri kembali, aku nyaris melolong saking keenakannya.

Alan mencengkeram pinggangku dan pinggulnya mulai bergerak maju mundur dengan jantannya, mengeluar-masukkan batang kemaluannya dari dan ke dalam liang duburku. Aku tersentak-sentak saat irama tusukannya berubah cepat dan kuat. Tanpa bisa kutahan spermaku tumpah ruah ke seprei Alan yang sudah kusut tak keruan. Alan tidak berhenti menyodok-nyodok, sementara aku ejakulasi, dia terus saja menjahitku dengan jarum tebal dan panjang yang dimilikinya.

“Kau suka diperlakukan begini, huh?!?” Alan menampar bokongku dengan sebelah tangannya dan tangan yang lain bergerak menggenggam penisku yang baru saja selesai muntah dan mulai mengocoknya.

Alan membabi buta malam itu. Penisnya tidak bisa dibilang berhenti menghujami lubangku bahkan saat kami berganti posisi untuk sama-sama tidur menyamping di ranjang sempit itu, dia memelukku erat dari belakang. Sepanjang sesi bercinta itu, penisnya tidak benar-benar meninggalkan diriku.

Aku mengalami orgasme untuk kedua kalinya malam itu ketika Alan juga mendapatkan orgasme keduanya tanpa repot-repot mengeluarkan penisnya dari dalam diriku.

Aku tidak bisa bilang kalau aku tidak menyukai sesi bercinta pertama kami malam itu. Alan memperlakukanku begitu baik di kesempatan pertama, hampir-hampir membuatku yakin kalau dia mungkin jatuh cinta padaku dan aku sempat berencana untuk tinggal. Sangat sulit rasanya bagiku untuk mempercayai dirinya yang sekarang.

Bermula malam keempat aku di pondoknya yang jauh dari kota—aku menyetujui usulnya untuk tak perlu mencari motel karena katanya aku bisa tinggal dengannya selama apapun yang kumau, monster di dalam dirinya perlahan-lahan menampakkan diri. Dia mengikatku di ranjang untuk pertama kali dan menyetubuhiku seperti malam sebelumnya, berkali-kali dalam berbagai gaya menyiksa hingga aku tak bertenaga lagi bahkan untuk bilang ‘cukup’.

Aku tak pernah diikat sebelumnya. Saat itu kupikir, Alan sedang memberiku pengalaman baru. Jadi, aku tidak mempermasalahkannya.

Namun malam-malam esoknya, dia mulai lebih sering menampar-nampar bokongku sementara aku tak bisa berbuat apa-apa karena dia juga mulai gemar mengikat kedua kakiku. Tapi aku masih menganggap wajar dan tetap menanti Alan pulang dari tempat pemrosesan kayu untuk menyetubuhiku seperti malam-malam kemarin. Kupikir, sudah lama tidak bercinta membuat Alan punya ide-ide baru untuk diterapkan di ranjang. Dan aku tak ingin berbohong, sedikit banyak aku menyukai caranya melampiaskan nafsunya terhadapku.

Tapi malam-malam selanjutnya kian membuatku yakin kalau Alan adalah penganut sadomasokis terselubung. Dia pernah menyabetkan ikat pinggangnya ke punggungku yang telanjang saat membuka celananya , tertawa ringan saat aku memekik dan tak bisa berbuat apapun karena terikat. Dia pernah menyetubuhiku dalam keadaan mabuk berat, kutemukan badanku penuh bekas cengkeraman saat mandi pagi. Saat suatu malam aku menolak bercinta, dia marah besar dan mulai memaksakan diri dengan cara yang kasar. Malam itu aku sama sekali tidak menikmati penetrasinya, malam itu aku menganggap diriku diperkosa. Paginya, aku bermaksud pergi. Tapi Alan berhasil meyakinkanku untuk tinggal. Pagi itu, sebelum berangkat ke pekerjaannya, di dapur, dia menyetubuhiku dengan lembut persis seperti malam pertama kami bercinta. Aku berhasil diyakinkan kalau aku masih ingin menikmati penisnya. Maka aku tak jadi meninggalkannya.

Tapi tujuh hari kemudian, aku mendapati diriku sudah jadi hamba seks buatnya. Dia melakukan penetrasi padaku kapanpun dia mau, kapanpun dia suka. Di dapur, di kamar mandi, saat aku sedang tidur, saat aku sedang membuat sarapan, bahkan ketika aku sedang tidak bernapsu padanya pun dia tetap memaksakan kejantanannya ke tangan, mulut dan lubang pantatku. Dia makin sering berada di rumah, seakan dapat mencium niatku untuk kabur darinya dan mulai berjaga-jaga.

*

“Jangan pernah berpikir kau bisa kabur dariku, Jalang!”

Alan merampas ranselku, merobek kemejaku dan melemparku ke kursi ruang depan sebelum mengeluarkan penisnya dan memaksaku mengoralnya dibawah intimidasi cengkeramannya pada rambutku.

“Kau kira aku akan membiarkanmu pergi begitu saja, hah? Penisku masih membutuhkanmu, dan selama testisku masih membuat sperma, kau tidak akan ke mana-mana!” Dia menamparku. “Sekarang, hisap ini…!!!”

Dua puluh hari sebelumnya, Alan adalah pria manis yang begitu kusukai, tapi kini satu-satunya perasaanku padanya adalah muak, dan takut. Iya, untuk pertama kalinya sejak jadi Unicorn aku merasa ketakutan pada pria yang menyetubuhiku. Aku takut kalau Alan Davenport adalah karmaku. Tak peduli setampan apapun dia, sejangkung apapun sosoknya, sepadat apapun otot-otot di seluruh tubuhnya, sebesar dan sekeras apapun penisnya, tak peduli walau dia adalah karma dalam wujud lelaki tampan, yang namanya karma tetap saja mengerikan, kadang juga tragis.

Hari itu di bawah dera seksual Alan yang menyakitkan fisik, aku bertanya-tanya, sebesar apa luka yang kutinggalkan pada pria-pria baik yang pernah mengizinkanku menikmati hangat mereka saat aku memilih pergi? Dibutuhkan luka sebesar apa untuk memberiku karma seperti ini?

Chris, Michael, Jack, Ryan, Lucas, Brad, David, Mike, Luke, Colin, Zayn, Hugh, Liam, Hunter, Brian, bahkan Sean… mereka adalah sederet pria-pria baik dalam daftar panjang pria-pria lainnya yang pernah kutemui selama jadi Unicorn yang seharusnya tak pernah kusakiti dengan meninggalkan. Seharusnya, aku jangan pernah mengusik pria-pria baik itu demi memuaskan diriku. Dengan begitu mereka akan baik-baik saja. Harusnya, aku hanya memilih pria brengsek saja yang sama bajingannya denganku. Pria-pria bajingan seperti Alan…

Mungkin ini bukan karma, tapi untuk pertama kalinya, semesta berhasil menuntunku kepada monster yang sepandan dengan monster yang mendekam di dalam diriku.

Sperma Alan berceceran di wajahku, dan perlahan-lahan pandanganku menggelap.

***

Setiap pria menyimpan monster di dalam dirinya. Sebagian mereka mampu menjinakkannya, sebagian lain membiarkannya tetap liar untuk dilepaskan pada waktunya. Alan Davenport adalah sesosok monster.

Luka di bibirku masih belum kering, Alan tidak pernah lagi menciumi bibirku, tapi menggigitnya. Aku bergerak untuk memampangkan punggungku ke cermin dan segera melihat pantulan ruam-ruam perih di kulit punggungku. Sisa sabetan ikat pinggang semalam terlihat lebih merah dari bekas-bekas sabetan malam-malam lalu. Aku menunduk pada pergelangan tanganku, bekas ikatan di sana nyaris mengelupaskan kulitku, hal serupa kudapati di atas mata kakiku.

Beratku pasti menyusut banyak selama dua puluh tujuh hari ini. Tapi rasanya bodoh jika aku mengkhawatirkan berat badanku saat ini.

Aku meringis ketika kuraba perutku yang penuh bekas cengkeraman, bahkan samar-samar aku bisa mengenal perih asing di liang senggamaku. Alan memang memiliki batang penis dengan ukuran di atas rata-rata. Dilakukan dengan lembut saja kadang tetap menyisakan perit saat bangun tidur, dan akhir-akhir ini penetrasinya tidak pernah lembut sama sekali.

Pintu kamar mandi didobrak terpentang. Aku terlonjak di depan cermin. Bayangan Alan yang telanjang dengan batang penis tegak  muncul di belakang bayanganku di cermin.

Aku tahu dia siap menyetubuhiku lagi pagi ini.

Alan memelukku dari belakang, menggesek-gesekkan batang penisnya ke pantatku dengan beringas. “Aku mau bercinta denganmu, Brent. Ayo ke ranjang dan layani penisku dengan benar!” Bibirnya, tidak, giginya menggigit pangkal leherku.

Cukup sudah.

Aku menjangkau sikat gigi dalam gelas, mematahkannya selagi Alan menunduk ke leherku dan selagi penisnya mencari-cari celah untuk menerobos masuk, lalu kuhujamkan ke pahanya dengan ujung patahan menancap lebih dulu.

Alan terjajar ke dinding dan melolong kesakitan. Wajah tampannya murka. “Jalang kurang ajar…!” Dia mengeram dan berusaha mencabut gagang sikat gigi yang nyaris tenggelam sepenuhnya dari pahanya. “Kau akan membayar mahal untuk ini…!”

Sudah telanjur.

Saat Alan sibuk berusaha mengeluarkan patahan sikat gigi, aku menjangkau besi penyangga handuk yang murnya setengah rapuh dari dinding kamar mandi. Tapi belumpun tanganku menjangkaunya, Alan sudah menyergapku lagi dari belakang dan langsung mencekikku.

Aku berusaha membebaskan leherku, tapi gagal. Dia lebih kuat dari sudut pandang manapun. Saat pandangaku mulai berkunang-kunang, aku meraba ke selangkangannya dan membetot batang penisnya sekuat tenaga. Alan berteriak ngeri dan hal selanjutnya yang terjadi adalah, kepalaku dibenturkan ke wastafel.

Entah mur perekatnya yang sudah goyah, entah benturan Alan memang sangat kuat, bak wastafel itu terlepas dan terbelah empat di ubin. Aku tak punya waktu untuk khawatir pada darah yang mulai mengalir di wajahku karena aku tahu dan sadar kalau Alan tak lagi segan menyakitiku, bahkan yang lebih buruk, melenyapkanku.

Merangkak di lantai, kuraih segera bagian pecahan wastafel yang paling besar dengan kedua tanganku dan lalu berbalik.

Ayunan lenganku bertepatan dengan terkaman yang dilakukan Alan ke arahku.

Pria itu terjajar ke belakang setelah pelipisnya dihantam pecahan wastafel, bersandar di dinding setengah berlutut sebelum perlahan-lahan mengelesoh ke lantai. Matanya mengerjap-ngerjap.

Aku menarik handuk, membuntalnya dan bergegas kutekankan ke kepala Alan. Lukaku sendiri terlupakan. “Jangan mati!” Kuambil tangannya dan kuminta dia menekap lukanya sendiri. “Hei… Alan… lihat aku…!” Kujentikkan jariku di depan matanya, Alan sepertinya mengalami disorientasi, tapi aku yakin dia mampu bertahan untuk tidak mati. “Kau akan baik-baik saja, terus tekan lukamu, oke!”

Matanya memandangku, dan aku menemukan lagi tatapan lembut itu, tatapan lembut yang sama dengan di hari kami menghabiskan sore di sebuah coffee shop setelah aku berpura-pura tidak sengaja memegang penisnya. “Maaf,” ujarnya, dan, “jangan pergi…”

Aku hampir saja menangis mendengar dua ucapan itu. Ucapan penyesalan dan pengharapan. Kugigit bibirku dan kutempatkan lagi satu tangannya di atas handuk. Aku melesat keluar. Berpakaian seadanya dan membelitkan robekan kemeja Alan ke sekitar kepalaku. Kucari-cari topi kerja Alan dan segera kutemukan terselip di antara baju kotornya di sudut kamar. Kukenakan topi itu untuk menyembunyikan luka di kepalaku. Jaket Alan di atas ranjang jadi item selanjutnya yang kuambil dan kupakai.

Hal selanjutnya yang kulakukan adalah kembali ke kamar mandi bersama handuk lain dan telepon tanpa kabel milik Alan. Kusampirkan handuk di atas pangkuan Alan untuk menutupi ketelanjangannya sementara dia terus menatapku.

“Jangan pergi…”

“Aku tidak bisa untuk tidak pergi, Alan.” Kuraih satu tangannya dan kumasukkan gagang telepon ke sana. “Buat dirimu berguna untuk dirimu sendiri. Kau tahu nomornya, kan?”

Alan meneguk liur. “Nine one one…”

“Apa yang akan kau katakan?”

“Aku terpeleset di kamar mandi dan kepalaku membentur wastafel.”

“Bagaimana dengan luka di paha?”

“Pecahan wastafel menusuk kakiku saat terjatuh.”

Disorientasinya sudah berlalu.

“Maafkan aku… maafkan aku…” Alan mulai menangis.

Kudekatkan wajahku ke wajahnya dan kuciumi pipinya lalu kuusap-usap bekasnya dengan jariku. “Untuk mengingatkanmu, bahwa dua tiga hari dulu, aku pernah berpikir mungkin kita sama-sama telah jatuh cinta.”

Aku bangun, kupungut dan kukantongi patahan sikat gigiku, lalu pergi keluar. Jika Alan benar-benar menyesal, dia pasti bersikeras ‘terpeleset’ dan tak akan menyeret-nyeretku dalam masalah yang mungkin ditimbulkannya esok. Kuambil ranselku dan keluar ke jalan. Dengan berjalan kaki, aku memilih rute lain menuju pusat kota agar tidak berpapasan dengan mobil petugas dan berhasil mencegat taksi tiga ratus meter dari pondok Alan.

Di depan sebuah bok telepon umum, aku meminta si supir taksi menunggu sejenak sementara aku membuat panggilan telepon. “Halo, Brother… aku terlibat masalah serius. Aku ingin sembunyi beberapa lama, bisakah kau menyembunyikanku?”

Napas Sean terdengar berat. “Akan kukirim ke rekeningmu.”

“Trims…” Aku siap menggantung gagang telepon ketika Sean kembali bersuara.

Pulanglah, Unicorn.. pulanglah padaku… untukmu, aku akan jadi apapun yang kau mau… sudah cukup, pulanglah dan sembunyi bersamaku…”

Entah karena apa, aku mulai menangis.

Dariku yang sederhana
nay.algibran@gmail.com