image

CUAP2 NAYAKA

***
Disclaimer!

Untuk 18 tahun ke atas. Mengandung unsur dewasa, tidak diperuntukkan bagi remaja. Silakan tinggalkan postingan ini jika belum berusia di atas 18. Segala resiko yang terjadi setelah membaca postingan ini diluar tanggung jawab penulis dan pemilik blog.
***

Seperti biasa, ini kutulis khusus untuk pembacaku yang sudah dewasa. Mohon jangan dinikmati, karena aku juga berusaha untuk tidak menikmati ketika menulisnya.

Wassalam
Nayaka Al Gibran

###########################################

Aku yakin rumah tangganya sedang bergolak. Bisa jadi karena istrinya mulai terendus selingkuh, atau justru dia sendiri yang mulai suka melakukan eksperimen pada penisnya dan mencoba mencicipi seks dengan cara berbeda. Namun itu bukan urusanku. Yang jadi urusanku sekarang adalah, bagaimana untuk tetap mempertahankan posisi berdiriku sementara bosku ini mengerjai lubangku dengan pemukul bisbolnya yang disunat dan berurat itu.

Atasanku yang baru belasan hari ini sangat berbeda dengan beberapa pria seusianya yang pernah kuajak bercinta. Dia necis, kelimis, wangi, terlihat akademik, dan sangat sopan dalam hal memperlakukanku—kali ini—di salah satu meja restoran ketika kami cuma tinggal berdua. Sopan yang kumaksudkan adalah, dia tidak kasar dan tidak terburu-buru ketika memintaku mengoral batang organ reproduksinya, tidak egois dengan berusaha memasukkan hingga amblas seluruh batang penisnya itu—hanya semampu dan senyaman diterima mulutku, dia tidak membuka paksa celanaku tapi dengan sabar dan nyaris tanpa mengeluarkan suara membuka kait lalu menurunkan zipper dan menyibaknya perlahan sampai bokongku terekspos, bahkan saking sopannya, dia masih berpakaian lengkap pada dua kesempatan menyetubuhiku sebelumnya. Yang kuceritakan ini adalah kali ketiga, by the way…

Kali pertama terjadi empat hari setelah aku resmi jadi pramusaji baru di restoran makanan Mediterania miliknya ini. Jadi karena masih baru, aku kebagian tugas tambahan memeriksa atau merapikan (termasuk membersihkan) seluruh sudut resto sebelum pulang selama sebulan penuh masa trainingku. Malam itu, aku baru saja selesai melaksanakan tugas tambahanku dan sudah hendak menyetop taksi ketika dia menghentikan mobilnya untukku. Ternyata dia butuh kawan minum. Di bar, pesonanya yang makin menggoda dan mengusik hasrat seksualku meski dalam keadaan setengah mabuk itu membuatku nekat menyentuhkan lututku ke gundukan di antara pangkal pahanya yang bercelana kain. Entah karena sudah setengah mabuk, atau karena dia butuh melepaskan ketegangan saraf-saraf di sekitar bawah pusarnya setelah seharian jadi manajer, atau bisa jadi karena sudah sangat lama sejak selangkangannya disentuh seseorang seperti itu, Tuan Manajer ini tidak menolak aku mempertahankan posisi lututku di depan penisnya di depan meja bar yang ramai. Tidak juga keberatan ketika kugerakkan lututku perlahan-lahan di sepanjang garis yang timbul di depan celananya akibat kejantanannya yang terjaga dan menunggu penasaran.

Malam itu aku menghisap penis Mr. Harvest di jok depan mobilnya sampai aku nyaris kewalahan mengatasi muncratan maninya yang seperti bendungan jebol di rongga mulutku—membuatku bertanya-tanya berapa lama dia tidak dioral. Dia juga melakukan penetrasi ke lubang belakangku di jok belakang mobilnya malam itu tanpa repot-repot membuka pakaian kami. Kondom yang penuh berisi spermanya kulempar ke luar kaca mobil ketika dia merapikan celananya—seharusnya kujual saja sperma mengandung gen berkualitas itu ke bank sperma. Malam itu aku bertekad ingin merasakan penetrasi batang kemaluannya itu lagi di kedua lubang yang kumiliki dalam waktu dekat.

Dan waktu dekat itu datang dua hari kemudian di restoran.

“Unicorn, Mr. Harvest memintamu ke ruangannya,” kata Greg siang itu ketika resto sedang ramai-ramainya.

Kupikir aku akan diberhentikan karena menggodanya sampai tergoda dan merelakan penisnya untuk kunikmati dua malam lalu di mobilnya dengan cara yang seharusnya dilakukan istrinya sendiri. Ternyata pikiranku salah. Aku tahu itu ketika dia memintaku mengunci pintu ruangannya setelah masuk.

Jadi begitulah, hari itu aku bersembunyi di kolong meja kerjanya sementara dia tetap duduk di kursinya sambil membuka kedua pahanya lebar-lebar sementara aku merangsang air maninya dengan mulut dan lidah dan jemariku yang sudah sangat terlatih. Sepuluh menit setelah spermanya yang bermili-liter kental putih dan beraroma lelaki itu berhasil kujadikan asupan protein tambahan buatku siang itu, dia memintaku—dengan lembut dan sopan—untuk berdiri mengangkang setengah menungging sambil bertumpu lengan di meja kerjanya sementara dia mengeluar-masukkan dua tiga jarinya sebelum lanjut menusuk-nusukkan batang penisnya keluar masuk lubang pantatku. Jujur saja, siang itu saat batang kejantanannya dimanjakan lubang pantatku, kudapati wajahnya tampak lebih tampan saat kuperhatikan dirinya lewat bahuku yang tersentak-sentak menerima sodokannya. Siang itu aku yakin, ini bukan kali terakhir Mr. Harvest yang tampan itu membiarkan air maninya keluar meninggalkan testisnya disebabkan diriku.

Dan malam ini keyakinanku siang itu terbukti.

“Apa kau mau segera pulang?”

Aku pura-pura tersentak dengan kehadirannya dalam keremangan cahaya di dalam restoran. Sebenarnya aku justru sedang mempersiapkan diri menunggunya menghampiri dengan berlama-lama mengatur letak kursi dan meja yang sudah teratur itu.

“Ah, Mr. Harvest, anda belum pulang?”

“Kuncinya ada padaku, bagaimana aku bisa pulang lebih dulu sementara kau masih di sini?”

“Saya sudah selesai, dan akan segera pulang.” Aku bertingkah seakan hendak beranjak pergi. Itu berhasil membuat sebelah tangannya meraihku dan dalam sekejapan mata saja aku sudah membentur ke depan tubuhnya. Penisku yang sudah setengah tegang terasa ngilu saat bertabrakan dengan ular yang baru saja bangun tidur dan siap memangsa di balik zippernya.

“Kenapa buru-buru?” tanyanya lembut dengan suaranya yang kasar khas lelaki—lebih banyak unsur bassnya. “Kamu menemukan pria lain untuk mengakhiri hari ini?” Tangannya yang besar mengusap pelan pinggulku dan berubah jadi menusuk lembut ketika menuju belahan di antara bokongku. “Aku menginginkanmu,” bisiknya, “kejantananku membutuhkan dirimu…”

Kurasakan penis Mr. Harvest memberontak di balik zippernya.

“Bercintalah denganku di sini, Brent…,” lanjutnya meminta.

Aku menatap matanya yang biru. Brian Harvest bisa jadi pria pemilik mata paling bagus yang pernah kukecap spermanya sejauh ini, mungkin juga bisa jadi yang paling tampan. Usianya mungkin hujung tiga tujuh, atau awal tiga delapan, usia matang, segelintir orang malah setuju usia tiga lima hingga empat puluh adalah usia emasnya seorang pria. Brian Harvest jelas sedang berada tepat pada usia di mana sosoknya sedang sangat memesonanya.

Seperti kebanyakan favoritku, Brian Harvest punya rambut coklat yang lebat dan disisir ke belakang, menegaskan segala kesempurnaan yang dimiliki wajahnya. Hidungnya tinggi, alisnya tebal dan lurus, bibirnya kissable, dan bentuk rahangnyalah yang paling membuatnya terkesan jantan. Bahkan keremangan ini tidak bisa menyembunyikan ketampanannya. Aku penasaran wanita bodoh macam apa yang membiarkan pejantan berkualitas seperti Brian Harvest ini terjebak di sini bersama Unicorn jalang ini.

“Bercintalah denganku, Brent.” Dia meraih sebelah tanganku dan digesek-gesekkannya di atas penisnya yang sudah meregang ke ukuran dan ke kondisi siap dinikmati.

Aku melakukan gerakan menggenggam pada cetakan batang kemaluannya di sebelah luar, kupijat lembut untuk merangsang organ ajaib itu mengeluarkan seluruh ukurannya. “Bagaimana dengan Mrs. Harvest? Mungkin dia sedang menunggu anda di rumah.”

“Di mana pertanyaan itu saat kita di mobilku seminggu lalu, dan di kantorku siang itu?” Dia kini memasukkan tanganku ke dalam celananya. “Apa saat itu ataupun saat ini aku terlihat masih perlu Mrs. Harvest?”

Aku langsung menjamah batang kemaluan Mr. Harvest dengan jari-jariku. Denyut dan gelanyar yang kuperoleh dari kejantanan itu pada permukaan kulit telapak tanganku terasa nyaman dan adiktif sekali.

“Anda seharusnya pulang ke rumah dan membiarkan Mrs. Harvest membuat anda nyaman…” Aku sedang berkata demikian, tapi tanganku terus bergerak bolak-balik di sepanjang otot-otot penisnya yang makin menyesaki celananya. “Seharusnya ini hanya milik Mrs. Harvest…”

“Bagaimana kalau kali ini kamu yang jadi Mrs. Harvest lagi?” Dia meremas bokongku lembut, penisnya menghentak kuat dalam genggamanku.

Kemudian dia mulai menciumiku. Kugunakan kesempatan itu untuk mengeluarkan penisnya melalui zipper. Tidak berhasil. Terlalu panjang dan terlalu besar dan sudah terlalu keras untuk dibelokkan ke arah zipper. Aku membuka kait ikat pinggangnya dan kancing celananya. Sekarang batang panas merah muda dan liat itu mengacung bebas. Aku menggenggam dan melakukan kocokan perlahan tapi berterusan pada batang itu.

Mr. Harvest melepaskan mulutku, mengerang dan sekilas menunduk memandangi penisnya yang persis seperti botol sampanye sedang diguncang-guncangkan ke atas dan ke bawah, oleh tanganku.

Dia melonggarkan dasinya sebelum kembali memasukkan lidahnya ke mulutku. Aku meladeni ciumannya dengan mulutku, sembari itu juga berusaha membuat tongkat biologis di tengah-tengah tubuhnya yang kian keras itu keenakan.

Saat aku menambah ritme kocokan pada batang zakarnya itu, bahkan kini dengan dua tangan sekaligus, Mr. Harvest kembali memutus ciuman dan menunduk dengan mulut terbuka ke penisnya.

“Akh…”

Aku merasakan ada yang menetes lalu mengalir ke jemariku dari ujung penis Mr. Harvest. Itu getah pra sperma, semacam pembersih saluran urethra dari bekas pipis sebelum nantinya akan dilewati oleh sperma yang steril. Cairan ini bening tidak seperti sperma yang keruh, kental dan yang kulihat keluar dari penis Mr. Harvest tak pernah kutemukan sebanyak itu dari pria-pria yang pernah menyetubuhiku. Dalam keremangan, aku dibuat takjub. Kusapu cairan kental itu dari mulut penis Mr. Harvest dengan jemariku dan lalu kulumuri ke seluruh batang penisnya sebelum kulanjutkan hand job-ku.

“Kau menyukainya, huh?” Merasa tak perlu mendengar jawabanku, dia kembali memasukkan lidahnya ke mulutku.

Penisnya sudah siap. Keras. Makin cerah. Berdenyut-denyut. Mr. Harvest menghentikan ciumannya dan mendorong bahuku agar berlutut dan memposisikan wajahku di depan batang kemaluannya yang kokoh itu.

“Please, Mrs. Harvest… suck my c*ck…”

Itu kalimat perintah, tapi nadanya sama sekali tidak memerintah, bahkan nyaris benar-benar memohon. Brian Harvest adalah pria yang paling menghormati dan paling lembut memperlakukanku saat bercinta selama aku jadi jalang lelaki sudah tiga tahun terakhir ini.

Maka, aku melakukan apa yang disuruhnya. Mula-mula kuciumi batang kemaluannya hingga ke pangkal, lalu kujilati dari ujungnya yang basah hingga ke tempat tumbuhnya yang berbulu. Aroma kejantanan Brian Harvest membuat penisku sendiri berkedut-kedut minta dijamah. Maka, sambil kukulum dan kugerakkan kepalaku ke depan dan ke belakang untuk membuat batang kejantanan Mr. Harvest masuk dan keluar mulutku tanpa benar-benar keluar, kubuka zipperku dan kujamah penisku sendiri.

“Ohh…”

Lenguhan Mr. Harvest memaksaku mendongak. Untuk pertama kalinya, dia membuka bajunya. Aku terpesona menemukan otot-otot di perut dan dadanya. Dengan posisi berdiri mengangkang dan wajah mendongak merespon kenikmatan yang sedang kutimbulkan pada batang kemaluannya sedemikian rupa, Brian Harvest benar-benar memesona. Keringatnya mulai membuat licin badannya, dan dalam keremangan begini rupa, kulit badannya tampak begitu menggairahkan untuk dijilati, atau untuk sekedar jadi tempatku menggesek-gesekkan penisku.

Seakan mendengar isi kepalaku, Mr. Harvest menarik penisnya dari mulutku dan dengan lembut memegang kedua lengan atasku untuk dibantunya berdiri. Dia menciumku satu kali sebelum membuka seluruh kain yang ada di tubuhku.

Saat keadaanku sudah sama seperti bila aku hendak mandi, tanpa membebaskan tungkainya dari belitan celana yang sudah melorot hingga ke lututnya, dia menggendongku.

“Mari kita buat kau keenakan…,” bisiknya lalu mengawinkan mulutnya ke mulutku lagi.

Maka aku melakukan persis seperti yang kubayangkan pada perutnya yang keras dan berkotak-kotak itu. Penisku mematuk-matuk seperti ular buta di sekitar perutnya. Aku mendesah dan nyaris saja hilang kontrol. Jika tidak ingat kalau Mr. Harvest belum melakukan persetubuhan lewat bagian belakangku, ingin saja aku menggeliat-geliat di depannya sampai kuperoleh orgasmeku di perutnya.

Aku turun, dan Mr. Harvest menggunakan jeda itu untuk menyatukan penis kami. Aku harus berjinjit dan dia harus menekuk kakinya untuk itu. Tentu saja penisnya lebih tebal dan lebih tinggi dari milikku. Dengan dua tangan sekaligus, kugantikan sebelah tangan Mr. Harvest untuk menggenggam penis kami lalu kubuat gerakan mengocok. Rasanya sungguh linu, tapi juga nyaman yang enak. Mr. Harvest melenguh.

Sekali lagi, penisku hampir muntah sperma setelah nyaris lima menit diadu Mr. Harvest pada batang penisnya. Aku menyerah. Mr. Harvest juga kewalahan. Spermaku memuncrati perutku dan sebagian melejit tinggi hingga dada. Lenguhan Mr. Harvest menarik perhatianku ke penisnya yang makin kencang dan merah. Pria ini hendak orgasme. Aku berinisiatif membantunya. Dia tidak keberatan mulutku mengambil alih kerja tangannya. Aku menghisap kepala penis itu kuat-kuat untuk dua tiga menit, sebelum kemudian air mani itu menembak hingga ke faringku. Aku tersedak kuat dan terbatuk-batuk, sperma yang banyak itu tidak luwes lagi untuk kutelan. Aku lari ke wastafel terdekat dan muntah di sana. Kunyalakan keran dan kubersihkan luberan sperma di sekitar mulutku.

“Sorry…” Brian Harvest memelukku dari belakang, mengusap-usap pipiku dengan punggung tangan kanannya. Batang kemaluannya tepat menempel di belahan pantatku, masih keras dan siap melakukan penerobosan kapan saja.

Aku berbalik setelah menutup keran dan kami berpelukan. Rasanya begitu nyaman diperlakukan selembut dan sesabar ini olehnya, oh Tuhan, dia bahkan minta maaf karena membuatku tersedak spermanya. Dan caranya memelukku… aku takut hal ini akan membuatku susah pergi darinya kelak. Tapi demi iblis, cara tubuhnya memperlakukan tubuhku sungguh membuat betah.

“Lagi?” tanyanya sambil membelai perutku yang bergaris samar.

“Iya, ayo buat aku keenakan sampai lupa diri…”

Dan di salah satu meja restoran inilah aku membaringkan diri, mengangkat kedua kaki agar bertumpu ke bahunya dan menerima setiap sodokan batang kejantanannya di duburku sambil mengerang-mengerang selayaknya pelacur professional.

Penetrasinya merangsang spermaku untuk keluar lagi. Mr. Harvest memperhatikan itu dengan ekspresi bangga pada diri sendiri yang terlihat jelas. Setiap sodokannya mendorong spermaku keluar, seakan batang penisnya langsung memencet kantung spermaku dari dalam, nikmatnya hanya iblis yang tahu. Sialan, pria lembut dan sopan ini sangat tahu cara membuat pasangan kawinnya keenakan.

“Akh… akh…” Dia mencabut penisnya, merobek kondom dan bergerak cepat ke bagian kepalaku. Lima detik kemudian, air maninya memancar seperti terperas ke wajahku, sebagian bahkan masuk ke hidungku.

Kami perlu mandi sebelum pulang.

Di kamar mandi kantornya, aku menghabiskan setengah jam untuk mengagumi ketelanjangan Mr. Harvest. Setengah jam lagi untuk meneliti setiap bagian, setiap milimeter dan setiap urat di batang penisnya, hingga aku yakin bisa melukisnya dengan sangat akurat dan sama persis dengan aslinya ketika sedang tegang sempurna.

***

Isu itu merebak dan berdengung di antara karyawan restoran dua minggu kemudian. Mr. Harvest akan segera bercerai dan melajang kembali.

“Yang lebih dulu berhasil mengajak Mr. Harvest ke ranjang, jadi pemenang…”

“Taruhannya gaji sebulan penuh.”

Yang kalah harus mengambil alih tugas tambahan yang menang selama dua bulan berturut-turut…”

“Yang menang berkewajiban menunjukkan photo jelas Mr. Harvest, naked dan sedang on, sedikit saja blur, kemenangan dibatalkan!”

“Deal!”

Emma dan Annie sedang mendiskusikan taruhan mereka, sementara aku berdiri dengan beban pikiran di kepala. Alarm yang sudah sangat lazim sudah berdering-dering sejak beberapa hari lalu dalam kepalaku.

Pergi.

Pergi.

Pergi.

Unicorn tidak bisa berlama-lama di satu tempat. Sudah jadi tabiatnya.

Berapa kali sudah aku bercinta dengan Brian Harvest, bosku? Tujuh belas kali dalam kurun empat puluh satu hari aku di sini. Jumlah yang sudah lebih dari cukup untuk membuatku harusnya terpuaskan. Namun harus kuakui, ada sesuatu pada cara Brian Harvest memperlakukanku ketika dia melakukan penyatuan dirinya denganku yang membuatku terus menginginkannya. Tapi, sangat bukan diriku jika memilih tidak pergi di saat seperti ini. Dia akan bercerai, akibatnya bisa tidak baik untuk status Unicornku. Cukup satu kali saja seseorang mengajakku menikah, aku tak bisa berhadapan dengan ajakan serupa lagi. Aku khawatir tak bisa menolak jika itu terjadi.

Kalau aku pergi, kota mana yang akan kutuju? Aku juga mulai kekurangan sumber daya sebenarnya, itulah mengapa aku harus mengambil lowongan pekerjaan di sini lebih sebulan lalu. Tujuannya untuk menekan pengeluaranku yang pasti akan akan besar jika setiap harinya aku sibuk keluyuran. Bekerja, selain memangkas waktu keluyuranku yang pasti butuh ongkos, juga memberiku pemasukan, dan bonus bila selama bekerja aku berkesempatan menemukan pemilik penis yang tepat untuk menerobosku lewat belakang.

Brian Harvest adalah pemilik penis yang tepat itu. Tapi dia akan segera bercerai. Butuh berapa lama waktu sebelum dia ingin menikah lagi? Aku tidak mau menerka-nerka.

Selagi belum, Unicorn… selagi belum.

Kupandang Emma dan Annie yang masih mengira-ngira sebesar apa batang kemaluan Brian Harvest saat sedang tegang, dan masih berdebat tentang rok siapa yang akan lebih dulu disingkap untuk kemudian dimasuki penis itu nantinya. Menyedihkan sekali mereka.

Sean… ya… Sean bisa meminjamiku uang untuk berpindah dan hidup di kota lain.

Sudah kuputuskan, aku tak akan bertahan di sini dan menunggu sampai Mr. Harvest berhasil mengajakku menikah. Kupreteli dasi kupu-kupu dan rompi hitamku, lalu kudekati dua wanita yang masih terus membahas kemungkinan mereka akan diajak tidur oleh pemilik restoran.

“Penisnya pasti tidak disunat…,” kata Annie.

“Pasti keras sekali, aku sangat ingin memberinya blow job,” sahut Emma.

“Dia disunat.” Kutaruh dasi dan rompiku di meja di depan gadis-gadis itu sementara mereka menatapku bingung. “Hati-hati saat blow job, dia gemar muncrat di mulut dan sangat menikmati kalau spermanya ditelan lawan mainnya, masalahnya, tembakan spermanya kadang bikin tersedak… jadi, hati-hati…”

Aku mengedipkan mata pada keduanya lalu melenggang pergi. Brian Harvest berikutnya bisa jadi sedang menungguku di kota entah yang akan segera kutuju. Untuk lebih enaknya, anggap saja aku sedang dalam perjalanan ke pemilik penis berikutnya yang sedang menunggu mulutku dan celah sempit di belakangku…

Dariku yang sederhana
nay.algibran@gmail.com