image

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Well, masih cuma sempat via app WP di tab, di sela-sela ngexcel dan nge-GOM sama Backstreet Boys dan Westlife dan *N-Sync dan–syukurlah–Britney Spears sebagai satu-satunya suara perempuan (kumasukkan ke playlist karena kangen lagu2 pas doi masih teeneger) kali ini. Tidak lebih panjang dari 2 post sebelumnya, tapi kuharap bisa lebih baik dan lebih layak baca, tak perlu bagi semua orang, satu dua saja sudah cukup.

Semoga kalian menikmati membaca Hero (the Last Road to the Sequel) seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam
Nayaka Al Gibran
#############################################

Ternyata begini rasanya mendapatkan perhatian dari gebetan. Enam hari dalam seminggu buatku sekarang rasanya benar-benar luar biasa, begitu luar biasa semenjak Hero jadi rekanku pergi dan pulang sekolah. Yang dilakukannya sejauh ini memang masih hanya menjemput sekitar jam tujuh atau belasan menit setelah jam tujuh dan mengantar setelah semua kegiatan sekolah berakhir, tapi buatku itu sudah merupakan perhatian besar yang sanggup diberikan oleh cowok seperti Hero. Bayangkan saja, dia yang selama ini cuek padaku dan pada dunia di sekitarnya, tiba-tiba mau bersosialisasi–well, belum dengan semua orang memang tapi setidaknya dia sudah mengambil langkah awalnya denganku, itu sebuah langkah besar, kan?

Aku belum punya hak untuk mengharapkan lebih dari apa yang sudah Hero berikan untukku. Aku tahu dia sudah berkorban banyak sekali hanya dengan mau memboncengku. Dia harus menempuh jarak lebih panjang, bangun lebih pagi, datang lebih cepat ke sekolah, sampai di rumahnya lebih siang dari biasanya–karena harus mengantarku lebih dulu, tergesa-gesa saat hendak masuk kerja part time-nya gara-gara jeda setelah pulang sekolah ke jam kerjanya berubah singkat–lagi, karena harus memulangkanku lebih dulu, belum lagi jam merokoknya yang terpangkas, waktunya untuk diri-sendiri yang berkurang dan tentu saja resiko lakalantas yang sewaktu-waktu bisa saja menimpanya di jalan–Tuhan, semoga ini tidak pernah kejadian–lagi-lagi karena harus mengantar-jemputku.

Dengan semua hal yang dikorbankannya serta resiko yang bisa saja menimpanya itu, aku tidak mau ngelunjak dengan menyeretnya untuk ke kantin bersamaku ketika jam istirahat. Aku tidak bisa menahannya agar mengobrol denganku saat di kelas sambil menunggu guru masuk. Aku tidak bisa memaksanya agar mau mengerjakan tugas sekolah bersama-sama di Perpust kapan-kapan saat luang, atau menemaniku ke ruang guru, atau menunggui selama aku piket kelas, atau memintanya untuk memintaku menemaninya merokok di toilet atau halaman belakang sekolah saat sepi. Aku masih tahu diri untuk tidak merecoki hidupnya dengan hidupku. Aku tak ingin membuat Hero jadi bukan dirinya lagi, atau yang lebih parah, membuatnya merasa bukan dirinya lagi saat bersamaku dikarenakan diriku sendiri.

Lagipula, apalagi yang bisa kuharapkan kalau aku sudah punya waktu khusus yang berkualitas bersamanya dua kali sehari selama enam hari dalam seminggu? Aku sudah cukup senang bisa berduaan dengannya pagi hari saat berangkat sekolah dan siang hari ketika pulang sekolah. Dua momen itu saja, aku sadar kalau Hero sudah memberi banyak buatku lebih dari yang–mungkin–bisa diberikannya untuk orang lain.

“Kamu enggak apa-apa, kan, kita cuma temenan di sadel motor begini?”

Kusingkirkan daun kering yang baru saja diterbangkan angin dan menyelip di antara kerah jaket tua Hero dan tali helm bututnya yang tidak mengilap dan penuh baret itu. “Kenapa aku harus apa-apa?” tadinya ingin kuremas saja daun kering ini dan kubiarkan remahannya bertabur di jalanan, tapi ia baru saja singgah pada sosok Remeo-ku. Aku tidak sampai hati memperlakukannya sekasar niatku barusan. Jadi, kuciumi daun itu sebelum kulepaskan nasibnya kembali pada angin, utuh dan tidak hancur.

Hero diam cukup lama sampai aku mengira dia tak akan meneruskan obrolan kami siang ini. “Aku gak ingin kamu kehilangan teman-temanmu karena sibuk bergaul denganku di sekolah…”

Giliran aku yang tidak bisa berkata-kata.

Sama sekali tidak terfikir olehku kalau Hero akan memberiku kata-kata seperti itu. Rasanya… begitu penuh pengorbanan menyedihkan di satu sisi dan terasa melimpah kepedulian menyenangkan di sisi lainnya. Haruskah kubantah, kalau aku lebih baik kehilangan seluruh teman-temanku daripada harus kehilangan dia?

Hero tiba-tiba terkekeh sendiri. “Apa yang bakal terjadi kalau kita ke kantin sama-sama dan duduk satu meja untuk makan mie ya? Siswa baik-baik di sekolah temenan sama preman sekolahan.”

“Bagaimana kalau besok kita ke kantin sama-sama dan mencari tahu jawabannya langsung?”

Hero terbahak, laju motornya sempat terganggu, dan aku tentu saja tak mau melewatkan kesempatan untuk mendekat lebih rapat ke punggungnya.

“Aku gak bisa sering-sering ke kantin.”

Gak bisa sering-sering apanya? Aku bahkan tidak pernah melihatnya di kantin selama ini. Tapi aku tak ingin protes, apalagi berkata-kata yang bisa menjatuhkan egonya, berkata-kata semisal : aku punya uang jajan yang lebih dari cukup untuk membayari kita berdua di kantin.

Hero mungkin harus menjawab ‘gak bisa sering-sering ke kantin’ karena uang jajannya bisa jadi tidak cukup untuk membayar semangkuk mie dan segelas sirup, bisa juga uang jajannya hanya setara dengan dua tiga batang rokok saja, atau hasil kerja part time-nya terlalu berharga untuk ‘dibuang’ di kantin sekolah. Apapun itu, aku menghormati alasan Hero.

“Mama juga suka ngewanti-wanti aku untuk gak boros di kantin, semester lalu aku malah dibelikan celengan babi. Katanya biar aku belajar menabung dari sekarang.” Aku sangat ingat kalau celengan babi ini adalah hasil kerja sama mamaku dengan mamanya Mas Nawi yang bisa sangat kompak dalam beberapa hal remeh-temeh dan tidak urgent sama sekali, contohnya ya babi itu.

Hero tertawa. “Bukankah itu sudah sedikit terlambat saat ini? Harusnya kamu punya celengan babi sejak TK, kan?”

“Nah, itu masa-masa celengan ayam, sekarang jadi babi, mungkin saat aku tamat kuliah kelak Mama bakal ngasih celengan kebo pula.”

Hero tertawa lagi. “Tapi ini serius, Dek…” Hero mengusir becak penuh anyaman bambu yang memborong hingga ke tengah jalan dengan jerit panjang klakson motornya yang setengah kehabisan batere. Aku ragu-ragu jerit klakson itu bisa sampai ke lubang telinga abang becak di depan kami itu. “kamu enggak apa-apa, kan, kalau sejauh ini kita cuma temenan di atas sadel motor?”

Aku ingin berteriak di telinganya kalau aku tak peduli teman-temanku mempermasalahkan pertemananku dengan preman sekolah, tapi ucapan panjang Hero selanjutnya sukses mendorong balik teriakan itu ke dalam pita suaraku dan malah membuatku ingin memukulinya sampai sadar.

“Aku gak ingin kamu berpikir kalau aku gak bergaul denganmu di sekolah karena aku enggan, sama sekali bukan. Aku gak ingin kamu dibicarakan apalagi sampai dikucilkan gara-gara kita terlihat terus bersama saat di sekolah, aku gak mau mereka berpikir kalau kamu sudah terpengaruhi imej jelekku dan lantas menjauhimu karenanya. Buatku, Dek, dari dulu sejak hari pertama kita mengenal sekolah, adalah melindungimu dari siapapun manusia dan apapun hal yang hendak menyakiti dan membuatmu menangis, meski ‘siapa’ dan ‘apa’ itu bisa jadi malah diriku sendiri. Tapi sumpah, andai keadaannya lain, aku tidak keberatan jadi si M. Akhiar sok cool itu.” Hero tertawa sendiri. “Hemm… mungkin hanya belum saatnya aja ya, Dek…”

Iya, Romi… belum saatnya. Kamu akan tahu dan sadar ketika tiba saatnya aku berhasil menjadikan kita sahabat yang tidak hanya di sadel motor saja. Aku masih punya dua semester untuk mewujudkannya. Warning-ku, awas saja, salah-salah kamu bisa jadi tak akan hanya mencium keningku nanti, tapi mencium bibirku dan membiarkanku menggrepe-grepe memiliki dirimu, bukan hanya sebatas teman, tapi sebagai pacar.

***

Ternyata begini rasanya jauh dari sosok seorang Zamhur Nawawi. Ternyata begini rasanya ketika suara dan gambar bergerak di layar saja tidak cukup. Ternyata begini rasanya terpisah pulau dan beda waktu dengan seseorang yang pernah sekota bahkan sekomplek perumahan dengan kita. Ternyata… begini rasanya rindu pada buku catatan sialan milik Mas Nawi yang sok pergi merantau itu (duh lupa, yang sok suruh anaknya merantau itu Om Sabri dan Tante Laina ding). Tapi tetap saja, kalau Mas Nawi seratus persen gak ingin pergi pasti orang tuanya juga bakal mundur. Dia kan bisa saja mogok makan, mecahin piring di dapur, nyabutin isi pot bunga di pekarangan, ngelemparin batu ke jendela rumah, melubangi plavon ruang tamu dengan bor listrik, merobek-robek kain gorden atau menggunting semua wayer elektronik di rumah sebagai bentuk protes. Kalau aku pasti bakal gitu, walau resikonya bisa digampar Mama bolak-balik sampai wajah jadi asimetris dan disabet tali pinggang Papa sampai merah-merah.

Intinya, kangen sama seorang Zamhur Nawawi itu menyebalkan.

Biasanya, keseringan setelah aku menyalin catatannya, dia akan mengajakku nonton film, atau mentraktirku di tempat makan cepat saji yang prestisius. Dan di sana aku bisa menikmati peranku sebagai adik yang sedang dimanjakan kakaknya, kadang-kadang juga aku senang membayangkan diriku berada di posisi tetangga sekomplek yang sedang morotin tetangganya sendiri. Rasanya sungguh menyenangkan. Tapi sudah belasan hari ini, aku kehilangan momen-momen semacam itu. Mau tahu yang lebih menyebalkan lagi? Hal ini akan berlangsung berhari-hari lagi bahkan berbulan-bulan lagi ke depan. Coba kalau toko furniture ada menjual pintu ajaib yang bisa membuat kita berada di tempat mana saja yang kita inginkan saat dibuka, aku pasti beli satu dan tidak keberatan jadi Nobita. Pintunya tinggal kupasang di rumah, kalau pengen ke kamarnya Mas Nawi di pulau lain sana, cuma perlu mutar kenop. Ah senangnya.

Lupakan. Intinya, kangen seorang Zamhur Nawawi itu bisa bikin pikiranku hilang logika.

Maka, sebelum aku jadi gila dan nekat ke toko furniture hanya untuk kemudian diusir pramuniaganya karena nanyain produk ‘pintu ajaib ke mana saja’ yang tak akan pernah ada sampai Einstein dibangkitkan dari kubur, kucari nama Mas Nawi di daftar kontak.

“Sedang apa?”

“Udah jam berapa ini? Kenapa belum tidur?”

“Sedang apa?”

“Di sini tuh sudah pukul nol-nol, harusnya kamu sudah bobo manis di kasur.”

“Sedang apa?”

“Kalau susah tidur, sana bikin susu coklat hangat.”

“Sedang apa?”

“Barusan ngerjain pe er, ya?”

“Sedang apa?”

Di ujung sana, dia sekarang tertawa sendiri. “Mau jawaban jujur atau bohong?”

“Jawab aja, nanti aku nilai sendiri jujur apa bohong,” jawabku.

“Hemm, okey. Sedang mikirin adikku…”

“Kalau yang jujurnya apa?”

Mas Nawi terdiam lumayan lama sampai kukira dia ketiduran. Dalam jeda lumayan panjang itu, yang terdengar cuma deru halus udara dari hidungnya.

“Mas?”

“Hemm… lagi nyalin catatan.”

“Belum pun sebulan kok catatannya udah perlu disalin sampai larut malam bigini?” Aku seperti mendengar decit kerangka tempat tidur. “Mas nyalin catatan apa sedang tidur?”

“Nyalin catatan.”

“Sampai larut malam begini?”

“Iya.”

“Gak bisa dilakukan besok?”

“Enggak.”

“Udah selesai atau masih banyak banget?”

“Hampir.”

Entah perasaanku saja atau Mas Nawi memang sengaja mulai menjawab pendek-pendek setelah kuminta jawaban jujurnya.

Aku menghela napas. “Jadi, aku salah nilai, ya?”

“Gak tahu.”

“Kalau gitu, mana yang jawaban jujurnya?”

“Entah.”

“Kenapa mikirin aku?”

“Menurutmu?”

“Menurutku, karena catatan Mas mulai banyak yang belum disalin.” Berhasil, dia terkekeh.

“Dekalvin, mungkin ini akan terdengar tidak serius bagimu… tapi sungguh, sebelum kamu pindah ke komplek perumahan kita, dan sebelum kita kenal lalu aku jadi mas-mu dan kamu jadi adikku, aku tidak tahu bagaimana rasanya menjadi khawatir…”

Aku ingin bilang dia mengada-ngada, tapi nada suaranya terdengar sebaliknya.

“Dan sekarang… saat aku tidak di situ untuk… yah, katakanlah mengawasimu… rasa khawatir ini sering menjelma jadi mimpi buruk buatku…”

“Aku baik-baik saja, Mas… tak perlu sekhawatir itu. Aku hapal jalan pulang ke rumah kok.”

Kukira dia akan tertawa, tapi ternyata tidak. “Setidaknya, ini cuma sebentar. Setelah dua semester nanti, aku mungkin memang tak perlu se-khawatir ini lagi, karena kamu akan di sini.”

Hening.

“Sudah, sana tidur.”

Sambungan diputuskan.

Katanya, ‘Sebelum kita kenal lalu aku jadi mas-mu dan kamu jadi adikku, aku tidak tahu bagaimana rasanya menjadi khawatir.’ Kini aku yang justru khawatir tidak bisa mengurangi rasa khawatirnya setelah dua semester yang dihitungnya sebagai ‘cuma sebentar’ itu…

Dariku yang sederhana
nay.algibran@gmail.com