image

CUAP2 NAYAKA

Untuk kedua kalinya, aku kasih DISCLAIMER!

“Cerita ini tidak layak dibaca oleh siapapun yang berusia di bawah 18 tahun. Mengandung perasan lemon sepohon penuh, jeruk nipis sekebun luas, dan jeruk purut sepemakaman. Harap untuk tidak mengabaikan peringatan ini. Segera enyah jika kalian belum berusia 18 tahun. Segala resiko yang terjadi pada setiap individu atau kelompok setelah membaca tulisan ini seperti celana dalam sempit, iritasi di sekitar organ vital, atau harus mandi besar, sepenuhnya di luar tanggung jawab penulis!”

Tulisan ini kuposting eksklusif buat pembacaku yang berusia di atas 18 tahun (I mean it!!!) dan sekali lagi, tolong jangan menikmati ketika membacanya, karena aku juga berusaha untuk tidak menikmati ketika menulisnya.

Wassalam
Nayaka Al Gibran

################################################

Mansion ini sama terkutuknya seperti hidupku. Penuh skandal. Penyelewengan. Wajah-wajah bertopeng. Dan aroma permusuhan. Aku tidak percaya diriku kembali lagi ke sini, ke tempat dan ke orang-orang yang dua tahun dulu kutinggalkan dengan tidak sabar. Baru seminggu di sini, keinginan untuk segera angkat kaki dan keluar dari pintu gerbang mansion kian mendesak-desakku seiring bertambahnya hari.

Aku ingin jujur pada kalian. Sebenarnya, bukan skandal, bukan penyelewengan, bukan orang-orang yang tidak pernah menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya–yang diam-diam menebar jaring permusuhan–di mansion ini yang membuatku kian hari kian ingin pergi. Tapi adalah, ketiadaan siapa saja yang bisa mengangkangiku dalam kondisi telanjang sambil menabrak-nabrakkan dirinya berkali-kali di belakangku. Tujuh puluh lima persennya karena itu, dan sisanya karena keluargaku memang sudah dikutuk sejak kakek-kakek buyutku dulu, dikutuk untuk menjalani hidup bersama skandal dan berpura-pura bahwa kehidupan kami baik-baik saja dari segi moral dan sama terhormatnya dengan orang-orang berdarah biru lainnya di lingkungan ini.

Padahal seisi mansion tahu, bahwa semua pelayan wanita yang baru diterima bekerja di sini pasti akan diberhentikan dalam waktu dekat jika menolak disetubuhi tuan besar di ruang kerjanya beberapa kali dalam seminggu. Seisi mansion juga tahu, kalau istri tuan besar tahu dan menyadari kelakuan suami dengan para pelayannya itu sementara ia sendiri sedang disenggamai siapapun rekan kerja suaminya di mana-mana tempat dan bila-bila waktu yang memungkinkan.

Itu, salah satu dari sederet alasan mengapa aku selalu memandang rendah Mom dan Dad.

Kemudian juga seisi mansion tahu–bahkan aku makin tahu setelah baru seminggu berada lagi di sini, bahwa si bungsu dalam keluarga ini yang baru tujuh belas tahun beberapa bulan kemarin, kerap mengendap diam-diam ke ranjang kakak sulungnya yang hampir tiga puluh demi bisa memanjakan kejantanannya di tempat biasa kakak sulungnya menyamankan penisnya, mengendap-ngendap didasarkan kode dari istri kakak sulungnya di saat sang suami mungkin justru sedang melakukan penetrasi ke kemaluan istri orang lain entah di hotel atau ranjang mana.

Khusus aib yang itu, malah membuatku salut dengan keberanian adik bungsuku yang masih ingusan itu saat kutinggalkan dua tahun lalu untuk menjadi Unicorn.

Tindakan dan kenekatan Sean untuk bermain api dengan wanita lebih tua yang sudah tiga tahun jadi kakak iparnya malah mengubahnya tampak bukan lagi ingusan dalam pandanganku. Dua tahun saja kutinggalkan, kelakuan dan tampilannya sudah layaknya gentlemen saja sekarang ketika aku kembali. Aku tidak yakin Logan tidak tahu kelakuan adik bungsu dan istrinya di belakangnya, sama seperti aku tidak yakin kalau dia juga tidak tahu jika Mom dan Dad suka mengumbar kemaluan selama ini. Sean sudah mulai diperbudak nafsunya sendiri dan nafsu Marion sejak dia masih lugu-lugunya di angka lima belas, sejak Marion sadar bahwa dia tidak mungkin bisa merasakan penis adik pertama suaminya yang berusia tujuh belas saat itu untuk mengeras di dalam liang kewanitaannya, karena aku lebih tertarik dan penasaran bagaimana cara kejantanan Logan mengeras ketimbang membayangkan bagaimana caranya dia membuka kakinya untuk penis saudaraku. Maka, jalang itu mengalihkan sasaran ke Sean yang darah mudanya sedang akan menggelegak. Sudah selama itu, buta jika Logan sampai tidak tahu.

“Masih suka dimasuki dari belakang, Brother?”

Aku mendongak sekilas dari Pride and Prejudice yang sedang berusaha kutamatkan lagi di tempat dudukku sore ini. Siapa sangka ternyata novel ini masih tergeletak di tempat aku meletakkannya dua tahun dulu, bahkan semua benda-benda di kamarku juga, seakan tak ada yang menyentuh, seakan tak ada yang masuk ke sana selama kutinggalkan–bahkan oleh pelayan. Sean kupastikan baru saja membakar kalorinya dengan lari keliling mansion. Alternatif lain membakar lemak jika Marion sedang tidak ada atau sedang tidak bisa membantunya membakar kalori di kamar salah satu dari mereka. Dia setengah telanjang, cuma bercelana pendek sedengkul, pakaian atasnya berupa lapisan keringat di atas kulit sewarna tembaga hasil berselancar intens di pantai yang menimbulkan kilatan-kilatan ketika sinar matahari sore menerobos lewat jendela lebar di sisi tempat dudukku.

“Kenapa? Kau berniat memasukiku?” tanyaku tak acuh.

Kudengar Sean tertawa pendek dan lirikan mataku menangkap tangan kirinya sekilas meremas batang kemaluannya yang melintang miring ke arah kanan pinggulnya. Aku bertanya-tanya, berapa kali sehari air maninya disemprotkan ke payudara atau muka Marion? Dua kali, satu kali? Marion sudah pergi sejak pagi kemarin bersama Logan untuk mengunjungi kerabat dari pihak ayahnya yang melangsungkan pernikahan hari ini, mereka baru akan tiba lagi di mansion besok pagi.

Hitung-hitungannya, jika selama ini Sean biasa mengeluarkan maninya sehari sekali ke atas tubuh Marion, maka sejauh ini dia sudah dua kali tidak melakukannya. Jika setiap kesempatan bercinta Marion berhasil memeras air mani dari testis Sean hingga dua kali, artinya adik bungsu tiga tahun di bawahku ini sekarang sedang dalam masalah besar: batang penisnya sudah melewatkan empat kali kesempatan untuk mengeras dan berkedut-kedut sementara spermanya menuju dunia luar. Kasihan sekali dia, apakah pola ketergantungan seksualnya dengan Marion membuatnya sukar puas dan enggan melesakkan kejantanannya ke vagina lain selain milik kakak iparnya itu?

“Kalau kau mau,” dia memberi perhatian padaku sedang aku memberi perhatian pada penisnya yang hampir memunculkan tenda di bawah perutnya yang berkotak-kotak, “hanya kalau kau mau, bawa saja salah seorang pelayan di dapur ke kamarmu, atau kau bisa mengajak dua sekaligus untuk mandi denganmu.”

Sean terdiam. Apa dia sedang memikirkan berapa kali Dad sudah menyarangkan penisnya ke masing-masing pelayan yang kami miliki? Kurasa iya, karena kudapati kemudian dia menggelengkan kepala. Aneh sekali, dia tidak apa-apa melakukan coitus dengan wanita yang sudah sangat dipastikan selalu dituju penis Logan–kakaknya–saat sedang ingin melakukan coitus, seharusnya sama saja dan tidak apa-apa kalau dia memuaskan ego lelakinya dengan pelayan-pelayan itu.

“Aku akan ke kamar,” katanya lalu bangun dari kursi di sebelahku.

Good luck…!” ujarku sambil kembali fokus ke bukuku. Tapi lalu aku dipaksa tercengang.

“Kupikir, Brent… mungkin sebaiknya kau mau mengoral penisku…” Sean berdiri seakan sedang menantang nyaliku. “Atau kau mau membiarkan aku melakukannya cuma dengan pelumas saja?”

Aku mencoba memahami situasi. Terakhir kali aku bercinta, adalah dengan seorang pekerja konstruksi yang punya kejantanan besar dan bertindik. Lalu hingga ke sini, tidak ada satu penis pun yang memasukiku, pelayan-pelayan pria di sini tak ada yang cukup proporsional untuk kuajak ke kamar dan kutelanjangi sebelum kusuruh keluar dengan beberapa lembar uang sebagai ganti spermanya.

Kupandang Sean yang masih menunggu. “Kurasa kau harus puas dengan pelumas saja, Sean.” Aku kembali menunduk ke buku, “selama ini aku tidak pernah mengoral tanpa disetubuhi juga.”

Shit, kau menantangku, Brent?”

Aku diam terpekur pada buku.

“Aku ingin menyiramkannya di wajah, tidak di dalam.”

*

Batang kejantanan Sean berwarna merah muda di bawah kulit tipis serupa sarung yang menutupinya. Ketika kukeluarkan batang lurus dan keras itu dari celana pendeknya, kepala penisnya yang bagus sudah menerobos melampaui kulit serupa sarung itu. Aku berjongkok dengan masih berpakaian lengkap di depan Sean yang berdiri mengangkang, siap memompa batang kemaluan Sean yang belia itu.

Sean mendesis ketika kudorong sarung batang kemaluannya itu menuju pangkal penisnya agar semakin panjang area merah muda yang terlihat. Kubayangkan dia juga mengeluarkan desisan yang sama saat Marion bermain-main dengan batang kejantanannya.

Aku menyarungkan penis Sean lagi, hanya untuk mengulangi proses mengeluarkannya kembali dan menikmati desis birahi ala pria jantan dari mulut Sean. Kalian pernah memperhatikan kuda jantan ketika hendak bersenggama dengan kuda betina? Penis Sean yang kukeluarkan dari sarungnya secara perlahan-lahan sambil kugenggam erat, persis sama dengan proses kuda jantan mengeluarkan otot penisnya dari dalam kulit yang menutupinya.

Sean sepertinya sedang buru-buru. Atau dia merasa aku terlalu ‘keluarga’ untuk memperlakukan dan memperhatikan penisnya dalam proses keluar masuk dengan kondisi keras demikian rupa. Sedetik kemudian, dia sudah mengamblaskan batang zakarnya itu ke mulutku. Sean mendongak, sedang pinggulnya mulai bergerak maju mundur di depan wajahku. Kutatap badannya yang berkilat-kilat karena keringatnya makin aktif keluar. Jujur saja, aku tidak keberatan menindihnya atau dia menindihku demi bisa merasakan sensasi dihimpit badan berotot berkeringat begitu rupa.

Aku terbatuk dan Sean berhenti memaju-mundurkan pinggulnya. Liurku menetes ke lantai dari tepi batang kemaluan Sean.

“Bagaimana kau bisa memiliki kejantanan sekeras ini? Aku baru pergi dua hari dan kau sudah jadi kuda liar begini…” Aku sangat hapal cara-cara memuji ego lelaki.

Sean menyeringai. “Logan saja tidak punya yang sebesar ini, Brent. Kau bisa membuktikannya kalau Logan pulang…”

Aku sangat tahu kalau kalimat sebenarnya yang ingin dikatakan Sean sesaat tadi adalah : kata Marion, penisku lebih besar ketimbang punya Logan. Tapi seperti halnya semua orang memasang topeng di mansion ini, aku dan Sean juga menutupi perkara yang kami sudah sama-sama tahu. Padahal kalau mau, bisa saja semua itu jadi obrolan meja makan saat sarapan pagi tanpa sungkan dan pasti semua orang di meja akan menanggapi sambil melempar senyum. Tapi seperti kataku, semua orang mengenakan tabir dan berlagak seolah-olah hidup kami baik-baik saja di sini.

Maka penis itu kembali menyenggamai mulutku. Sean mendesis-desis keenakan setiap kali batang kemaluannya masuk lebih dalam dan lebih dalam lagi. Sel-sel nafsu di sepanjang batang kemaluannya mengirim pesan puas ke saraf di kepalanya. Aku mendapatkan kepuasan dengan cara sebaliknya, dari sensasi gerak lurus menusuk ke dalam yang ditimbulkan benda tumpul berkarakter yang memiliki panjang serta ketebalan yang terasa menyenangkan di rongga mulutku itu.

Aku mendorong Sean untuk duduk di tepi ranjang lalu kutelanjangi diriku sendiri. “Kita akan bercinta, Sean, kau dan aku, seperti pengantin.”

Sean mengerjai penisnya sendiri yang sudah memerah sementara aku menarik pakaian terakhir yang menutupiku. Aku mendekat ke Sean, dia menolak ketika hendak kukawinkan mulutku ke mulutnya, tapi tidak keberatan ketika kuciumi otot-otot dada dan perutnya.

“Gagahi aku, My Evil Brother…”

Seakan mantra, setelah kubisikkan kata itu ke liang telinganya, Sean menelentangkanku ke tempat tidurnya, memposisikan dirinya di antara dua kakiku lalu membuka pahaku ke arah berlawanan agar saling menjauh.

Dari cara Sean memasukiku, aku tahu kalau dia sudah sedemikian rajinnya menindih Marion hingga sangat paham cara terbaik untuk melesakkan penisnya dan membuat wanita yang menerima tindakannya itu blingsatan hingga mungkin bisa orgasme detik itu juga, Sean belajar terlalu sering dan Marion mengajarkan terlalu banyak. Aku sudah hendak kalah ketika baru beberapa saat Sean menusuk dan menarik dan menusuk lagi dan menarik lagi. Dia benar-benar bisexual bajingan. Usianya menipu. Pantas saja Marion belum ingin memiliki anak bersama Logan hingga kini, dia tidak mau kesulitan menikmati secara maksimal setiap sesi bercintanya dengan Sean. Marion tidak ingin perut besarnya mengurangi kemampuannya menikmati Sean dan Sean menikmati dirinya.

Entah berapa lama Sean menyetubuhiku ketika tiba-tiba dua ketukan samar terdengar di pintu sebelum benda itu terdorong lalu terbuka sama tiba-tibanya.

“Sean–”

Itu panggilan dengan nada mesra penuh birahi di awal namun nada terakhirnya dipenuhi dengan keterkejutan.

Spermaku menabrak-nabrak perut Sean begitu saja beberapa kali sementara Marion berdiri terguncang di pintu kamar selingkuhannya. Sean sepertinya cukup shock untuk merespon kecanggungan yang mendadak ini hingga lupa menarik penisnya dari dalam diriku. Dia kaku bertatapan dengan Marion.

Perkiraanku, Marion pulang lebih dulu dari Logan dan lebih awal sebelum pesta pernikahan itu usai dengan dua alasan: kangen sodokan Sean yang sudah tidak diterimanya selama dua hari atau Logan malah meninggalkannya sendirian selama pesta sementara dia asyik menjajakan penisnya ke sepupu-sepupu perempuan Marion sepanjang waktu.

Intinya, Marion kini ada di ambang pintu kamar Sean yang belum menemukan treasure-nya seperti yang direncanakan.

“Marion.” Sean tercekat.

Aku masih terengah-engah paska semburan spermaku. Itu stok selama seminggu ini, bayangkan saja.

Marion mengelam dan sedetik kemudian membanting pintu dan lenyap dari pandangan. Saat itulah Sean seperti tersadar dan begerak untuk menarik batang kemaluannya yang terlanjur nyaman di dalam diriku, setelahnya dia mungkin akan mengejar Marion untuk menjelaskan mengapa sekarang aku menempati posisi yang seharusnya ditempati wanita itu ketika Sean berhasrat mengurangi hasil produksi testisnya.

Tapi aku tidak akan membiarkan jalang itu mengambil alih hidup laki-laki paling muda dalam keluarga ini dan menjadikannya sebagai budak seks untuk dirinya saja. Sudah saatnya Sean tidak lagi tunduk pada jalang itu. Aku lebih berhak atas Sean, he is my brother dan jalang itu bukan siapa-siapa.

Tepat ketika kejantanan Sean siap meninggalkanku, sigap kulingkarkan kakiku ke pinggangnya dan kuangkat tubuhku dari berbaring di ranjang. Kudorong dia ke dinding dan kukunci diriku di depannya. Mau tidak mau, Sean harus menahan pinggulku jika masih ingin penisnya mengacung lurus dalam posisi normal kalau sedang tegang, atau bisa saja dia membiarkanku merosot ke bawah dengan resiko menciderai otot-otot penisnya sendiri yang masih bersarang ketat di dalam diriku.

“Apa yang kau lakukan!” bentaknya.

“Menuntaskan sesi senggama kita,” jawabku santai sambil mulai kugerak-gerakkan diriku di depannya.

“Kau gila.”

Kupandang Sean tajam. “Marion buatmu berakhir hari ini, Sean… betapapun kau berusaha membuat samar apa yang sedang kita lakukan di sini, Marion sudah melihatnya cukup jelas. Jadi buat apa lagi? Apa kau mau selamanya terikat pada jalang itu saja sepanjang masa mudamu sementara kau bisa bertualang dari satu wanita ke wanita lainnya? Kau harusnya yang jadi bos untuk penismu sendiri, bukan jalang itu… Kau masih muda, banyak wanita di luar sana yang menunggu untuk kau setubuhi dari arah mana saja semaumu, jalang di mana kau membuang spermamu selama ini tidak punya hak mengekang kejantananmu ini, Brother!” Kulanjutkan gerakanku yang sempat terjeda di batang kemaluan Sean sementara dia menatapku seakan sedang tercerahkan.

Dalam hitungan ke lima setelah itu, Sean membalikkan diri dan kini aku yang memunggungi dinding. Lalu, dia menyetubuhiku dengan beringas seakan hendak membuat penisnya menembusi batok kepalaku tiap kali dia melesakkan alat bercintanya ke lorong genetalku.

Aku mengerang-ngerang diperlakukan demikian. Sean lupa diri. Atau pada dasarnya dia tak pernah ingat siapa dirinya dan siapa aku yang sedang disetubuhinya ini. Penisnya butuh ditenangkan dari amuk, kami berdua sedang berusaha menenangkannya.

Lenguhan Sean memantul di dinding kamar. Alih-alih ingin menyirami mukaku dengan air maninya, dia malah mendorong-dorong kejantanannya makin ke dalam sementara maninya menyembur-nyembur dan membuat becek liang duburku.

Dan… dia menutup sesi senggama perdana kami dengan sebuah ciuman lembut di bibirku–yang entah bagaimana mengorek kenanganku akan pria terakhir seminggu lalu yang pipinya kukecup sebelum kutinggalkan–lalu menuju tempat tidur dan berbaring tanpa tenaga di sana.

Sean, pada dasarnya sama seperti pria pekerja konstruksi itu, punya ego yang menunggu disentuh dan mendamba ditaklukkan. Aku mungkin berhasil menaklukkan ego pria pekerja konstruksi itu di satu titik saat dia membiarkan dirinya ditaklukkan, tapi menaklukkan Sean adalah hal berbeda buatku…

Sean pria muda yang sudah terlalu lama egonya dikekang wanita yang bahkan tidak mau tahu, bahwa pria-pria di keluarga ini dikutuk untuk jadi petualang seks. Menyedihkan memang… ketika cinta terlihat tidak berharga untuk dimiliki pria-pria di keluargaku, sama tidak berharganya dengan ceceran sperma yang sangat mudah diumbar.

Sah. Aku, ayahku, dan saudara-saudara lelakiku… dikutuk untuk tidak memiliki cinta…

***

Aku pergi seminggu kemudian, setelah Sean menyetubuhiku untuk yang ketujuh kalinya sejak kejadian pertama. Marion tidak lagi menerima semburan sperma Sean, tidak juga dari Logan. Dia memang perempuan dungu, tidak belajar dari keadaan dan pengalaman. Dua hari setelah Sean dilihatnya sedang mengeluar-masukkan penisnya ke lubang bawah tubuhku, percakapan itu benar-benar terjadi di meja makan saat sarapan. Tapi perkiraanku salah. Percakapan itu tidak terjadi secara santai sambil melempar senyum, borok semua orang justru dibuka secara terang-terangan untuk pertama kalinya.

Dimulai oleh Marion yang menudingku berusaha membelokkan orientasi seks Sean, padahal jelas-jelas Sean bisexual yang masih mencari-cari kebenaran terkait bakat yang diberikan alam kepada penisnya. Aku tidak tahan dikambinghitamkan dan menuduhnya memperbudak Sean. Logan marah–atau setidaknya pura-pura marah–mengetahui istrinya tidur di depan hidungnya sendiri dengan adiknya. Marion mulai menyebutkan nama-nama ketika Logan kian memojokkannya, itu adalah nama-nama wanita yang pernah tidur dengan suaminya. Kasihan sekali menyenangkan sekali, mereka bercerai pagi itu juga.

Kau bisa menyetubuhi pelayan-pelayan bodoh itu sesukamu, Edward, kata Mom saat tak ada lagi salakan dari semua orang, tapi jangan sekali-sekali kau berani mengatur kepada siapa aku harus dan tak harus membuka kakiku. Mom membuka sendiri boroknya dan borok Dad di meja makan, padahal semua orang sudah tahu.

Silakan saja, Lucile, silakan pilih sesukamu oleh siapa kau ingin digagahi, tapi jangan sekali-sekali kau berani mengusir pelayan-pelayanku dari rumah ini tanpa persetujuanku. Dad mengakui boroknya sendiri dan mempertegas borok Mom di meja makan, padahal–sekali lagi–semua orang sudah tahu.

Maka aku memilih pergi sekali lagi, setelah kupikir sudah cukup bagi Sean untuk menggagahiku dan menyemburkan maninya ke dalam mulut dan lubang pantatku. Sudah saatnya dia menyebarkan spermanya di luar lingkungan mansion. Bagaimana denganku? Apa yang akan kulakukan? Ke mana aku harus pergi?

Entahlah…

Di dalam kereta, kutemukan diriku lelah dan setengah berharap seseorang akan menemukanku lalu mantra kutuk ini akan dipatahkannya dariku. Pertanyaannya, kapan, di mana, dan oleh siapa?

Dariku yang sederhana
nay.algibran@gmail.com