image

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Aku lagi suka ngulik-ngulik App WordPress di tab murahan milikku. Ternyata menulis sambil tidur enak juga, selain terhindar dari tekanan di sekitar pundak dan pegal di sekitar pinggang hingga punggung yang sering kudapatkan jika menulis sambil duduk di depan Toshi-kun, menulis di tab sambil tidur juga ternyata bikin selangkanganku lega (jangan negatif dulu), kenapa? Karena aku bebas ngangkat-ngangkat kakiku–yang masih agak-agak gengsi dibawa naik-turun tangga–ke dinding kamar, atau diluruskan hingga mentok kerangka tempat tidur, atau ya… seperti kata dasar yang sudah kusebutkan di atas… bebas ngangkang selebar-lebarnya di kasur empuk😀

Ini tulisan iseng berikutnya. Semoga kalian menikmati membaca HERO (Still Road to the Sequel) seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam
Nayaka Al Gibran

############################################

Dua tahun. Dua kali dua belas purnama. Selama itulah Zamhur Nawawi sudah merelakan sadel motornya buat kududuki saat pulang pergi sekolah–kadang juga saat kami pergi nongkrong kayak remaja normal lainnya di luaran sana. Selama dua kali dua belas purnama juga dia mengizinkan pinggangnya jadi tempatku menaruh tangan–kadang juga melingkarkan lengan–sepanjang perjalanan pulang dan pergi sekolah atau tempat manapun yang kami datangi berdua. Selama dua kali dua belas purnama pula dia tidak keberatan punggung atau bahunya jadi tempatku menyandarkan pipi–kadang juga jadi objek kejahilanku setelah mengupil jika sedang kesal karena ekskul basketnya membuatku menunggu terlalu lama–kalau mengantuk sementara kami menuju rumah.

Dua tahun dia jadi kakak laki-laki buatku yang tidak pernah punya saudara di rumah karena aku anak tunggal. Dua tahun dia menempatkan dirinya di sekitarku sebagai kakak kelas paling berpengaruh dan menghentikan secara otomatis agenda bullying yang sering kualami ketika aku SMP. Dua tahun dia menjagaku di SMA meski dia tak menyadari itu. Dua tahun dia membagi kehidupan remajanya denganku tanpa mempermasalahkan perangaiku yang kadang manja dan menyusahkan hari-harinya di SMA. Selama itu dia bisa saja mengabaikanku, mengejar dan mengencani cewek-cewek yang naksir padanya karena dia kapten tim basket paling sempurna yang pernah dimiliki SMA-ku yang sekarang jadi bekas almamaternya. Dia bisa saja mengemudi bersama teman-temannya tanpa perlu ganti seragam sepulang sekolah dan menggoda gadis-gadis ber-rok mini di mall, atau kongkow di jembatan sambil bicara jorok dan saling meneriaki, atau berbagi bokep lewat hape di kantin atau di halaman belakang sekolah, atau onani bareng gengnya sambil nonton video lesbian di rumah salah seorang dari mereka. Dia bisa saja menjalani masa SMA-nya lebih maksimal tanpa terikat denganku, adik yang juga tidak pernah dimilikinya di rumah karena orang tuanya sama kikirnya dengan orang tuaku dalam hal membuat anak.

Tapi dia malah memilih mengikat dirinya padaku selama dua tahun terakhir masa putih abu-abunya yang seharusnya bisa lebih menantang. Dia memilih tak peduli pada hura-hura SMA dan jadi ‘kakak’ bagiku yang merangkap ‘supir’ pribadi selama dua puluh empat bulan.

Dan sekarang… dia akan pergi meninggalkanku…

“Aku belum pernah naik pesawat,” ujarku sementara laki-laki di depanku sedang mengetatkan tali carrier-nya.

Entah perasaanku atau memang benar dia terlihat murung sejak dalam mobil tadi. Kami nyaris tidak berbicara sepanjang perjalanan dari rumahnya menuju bandara. Kurasa, dia masih belum sepenuh hati menerima keputusan orang tuanya untuk ‘membuangnya’–dia menyebut begitu saat mengadu padaku beberapa hari lalu–ke lain propinsi hanya untuk jadi mahasiswa.

“Aku juga belum pernah naik pesawat,” ujarnya lalu melirik jam.

“Gimana ya rasanya jet lag?”

“Mungkin seperti PMS yang suka dialami cewek sebulan sekali,” cetusnya asal tanpa minat.

“Terus, gimana rasanya PMS itu, ya?”

Mas Nawi memandangku sedikit lebih serius dan aneh dari biasanya, membuatku sempat mengira dia hendak menimbuniku dengan ransel mahabesar di punggungnya itu. “Kamu gak apa-apa ya kalau aku pergi jauh?”

Aku mencoba mencerna pertanyaannya. Benarkah aku gak apa-apa? Hemm, mungkin pemikiran kalau besok Senin Hero akan mulai menjemputku membuatku tidak begitu ‘apa-apa’ dengan keberangkatan Mas Nawi ke pulau lain negeri ini.

“Kamu gak ngerasa kehilangan, atau apapun itu nama perasaan yang diakibatkan pemikiran kalau orang yang dekat dengan kita akan pergi jauh?” Mas Nawi masih memandangku sambil tetap berdiri sejak kami tiba di bandara sementara aku langsung duduk begitu menemukan ruang untuk bokongku.

Tidakkah ransel mahabesar itu terasa berat? “Kenapa carrier-nya gak sekalian dibagasikan aja, Mas?” tanyaku mengalihkan topik. “Itu kan berat, ya?”

Mas Nawi menghela napas dan memperhatikan papa mamanya yang sedang mengurus tiketnya serta bagasinya melewati dinding kaca di sebelah sana. “Ternyata kamu gak ngerasa kehilangan ya, Dek…”

Aku terpegun sejenak lalu buru-buru sadar. “Aku ngerasa kehilangan, sumpah. Tapi… mungkin gak begitu keliatan karena aku juga ngerasa sudah akan terbebas dari tugas menyalin catatan Mas hampir setiap minggunya seperti selama ini.” Berhasil, ada seringai setengah jadi di sekitar bibirnya. “Di kampus nanti, kira-kira Mas mau menyelesaikan masalah buku catatan ini dengan cara bagaimana ya?” Sekarang dia tersenyum.

“Kan cuma setahun aja, tahun depan kamu bakal datang dan membawa solusi langsung untuk masalah itu.”

“He?”

Melihat raut bingungku, Mas Nawi mengeraskan rahang. “Kamu udah janji mau nyusul taun depan, jangan coba-coba buat mangkir!”

“Kapaaaan?”

“Gak usah berlagak gak ingat. Awas aja kalau sampai taun depan kamu gak jadi mahasiswa baru di kampusku, aku akan pulang dan mencarimu sampai dapat, mengeluarkanmu dari kampus manapun jika ternyata kamu sudah terlanjur kuliah di situ lalu meng-koper-kan-mu bersamaku.”

Aku bengong. Dia akan meng-koper-kan-ku? Apa… dia… berniat… melakukan… mutilasi… padaku??? “Mas akan memotong-motongku?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Aku akan memotong-motongmu kalau kamu berani ingkar janji.”

“Aku gak pernah bikin janji.”

“Silakan aja kalau mau menyangkal, tapi Tuhan maha mendengar…”

Aku bergidik.

Om Sabri selesai mengurus check-in tiket putranya, dia dan istrinya sekarang bergerak menuju kami. “Kenapa ranselnya gak sekalian dibagasikan?” ulangku.

“Gak tahu, kayaknya keren aja bawa-bawa ransel besar di bandara.”

Aku tersenyum. Pandanganku menyapu sosoknya dari ujung kaki hingga topi terbalik yang hari ini dikenakannya di puncak kepala. Ada atau tidak ransel raksasa itu di punggungnya, menurutku dia tetap saja keren. Bisepnya yang terbentuk di lapangan basket memenuhi tanpa celah ujung lengan kausnya, tingginya yang menjulang ditopang tungkai yang saat ini dibalut jins dengan aksen cakaran kucing di kedua paha menegaskan kehadirannya–bahkan di antara ribuan orang yang mendesaki bandar udara. Pasti di tempat barunya sana Mas Nawi tak akan punya kesulitan dalam hal mencari pacar. Kemungkinan besar, dia malah tak perlu mencari, mahasiswi-mahasiswi itu akan mendatangi bahkan mungkin akan memperebutkannya sampai jambak-jambakan. Tapi… berandalan di kelasku tetap orang yang akan kuminati sekarang ini.

“Mau langsung ke waiting room atau mau di sini dulu beberapa menit lagi, Zam?” Tante Laina menyodorkan boarding pass ke telapak tangan putranya, “jangan sampai kececer.”

“Penerbangannya tidak lama lagi, masuk saja.” Om Sabri tidak menyisakan pilihan. Aku memang mengenal ayah Mas Nawi ini sebagai pria yang tegas dan berwibawa. Saat awal-awal akrab dengan putranya, aku malah merasa takut tiap kali berjumpa Om Sabri ini di rumahnya. Saat itu aku akan sebisanya menolak datang ke rumah Mas Nawi kalau Om Sabri sedang di rumah. Namun seiring waktu, aku jadi terbiasa, dan Om Sabri sendiri kadang juga bisa jadi teman ngobrol yang menyenangkan, khususnya jika aku sedang melek berita di tivi.

“Sana, pamit sama Deka,” kata Tante Laina sambil membetulkan letak kerudungnya.

Mas Nawi memelukku. Tinggiku yang cuma sedadanya membuat kepalaku tenggelam dalam bisepnya yang seakan bertransformasi jadi boneka Teddy ketika kepalaku membentur dadanya. Aku tak bisa melingkari seluruh lebar badannya ditambah ukuran ranselnya dengan kedua lenganku meski aku sudah berusaha merapatkan diriku. Jadi, saat dia menepuk-nepuk bahuku, aku balas menepuk-nepuk sisi ranselnya.

“Jangan nakal,” katanya saat melepaskanku keluar dari lengannya.

“Iya.”

“Aku titip kamarku ya, Mama akan mengizinkanmu di sana kapan aja kamu datang.”

“Celengan babinya dalam lemari belum dipecahin, kan?” Tante Laina tertawa mendengar pertanyaanku pada putranya.

Mas Nawi terkekeh, “Belum, kalau uang jajanmu kurang ya dipecahin aja gak apa-apa.”

“Kalau gitu aku pasti bakal sering jenguk kamarnya deh.” Sekali lagi mereka tertawa.

Mas Nawi menyalami dan berangkulan dengan orang tuanya sementara aku menatap di balik mataku yang sialnya mulai berkabut. Beberapa menit lalu, kehilangan itu belum terasa, tapi sekarang ketika melihat dia bergerak dengan langkah tegap namun tampak enggan di lantai bandara, aku mulai merasakan apa yang sempat dipertanyakannya tadi. Aku merasa kehilangan, dan ditinggalkan. Bahkan, belumpun pesawat itu membawanya pergi menyeberangi pulau dan zona waktu, belumpun lalu-lalang manusia di sini menyamarkan sosoknya dari penglihatanku, rasanya aku sudah merindukannya.

Di gerbang menuju ruang tunggu penumpang, dia berbalik sejenak mamandang kami–yang anehnya kurasa kalau dia hanya fokus menatapku seorang–sebelum meluruskan badan dan lanjut bergerak. Carrier itu seperti mendorongnya pergi, mendorong tepat di punggungnya untuk meninggalkanku. Rasanya begitu aneh, seakan hari-hariku tidak akan pernah sama lagi mulai saat ini. Kakak laki-lakiku–tapi bukan kakak laki-lakiku–baru saja meninggalkanku.

Hapeku mendentangkan nada pesan instant.

[Susul Mas taun depan… ini bukan permintaan, Dek… tapi secuil permohonan yg sama besarnya dgn sebongkah pengharapan]

Aku tidak mengetikkan apapun. Sebelum aku benar-benar mempermalukan diriku dengan kondisi ‘cowok labil sedang menangisi layar hape’ dalam tatapan orang-orang seisi bandara, aku bergerak keluar mendahului orang tua Mas Nawi. Dalam perjalanan, hapeku kembali bersuara, dentang nada SMS kali ini.

[Tak sabar menunggu Senin…]

Hero tak punya aplikasi pesan instant, dia cuma punya hape jadul yang menghasilkan foto buram ketika fitur kameranya difungsikan dan suara terdistorsi pada tingkat paling parah ketika fitur mp3 playernya diaktifkan. Tapi dia baik-baik saja selama masih bisa mengirim pesan singkat dan menelepon saat pulsanya banyak. Dan padanyalah aku akan menitipkan setahun terakhir masa putih abu-abuku, sebelum kuputuskan… apakah aku akan memenuhi sebongkah harapan lelaki yang pernah melewati dua tahun masa putih abu-abu-nya denganku, atau memberi kesempatan bagi laki-laki yang bersamanya pernah kuhabiskan dua tahun masa merah putih-ku, untuk melewati beberapa tahun lagi masa muda kami…

Dariku yang sederhana
nay.algibran@gmail.com