image

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Untuk pertama kalinya, aku kasih DISCLAIMER!

“Cerita ini tidak layak dibaca oleh siapapun yang berusia di bawah 18 tahun. Mengandung perasan lemon sepohon penuh, jeruk nipis sekebun luas, dan jeruk purut sepemakaman. Harap untuk tidak mengabaikan amaran ini. Segera tinggalkan laman ini jika kalian belum berusia 18 tahun. Segala resiko yang terjadi pada setiap individu atau kelompok setelah membaca tulisan ini, sepenuhnya di luar tanggung jawab penulis!”

Tulisan ini kutulis eksklusif bagi pembacaku yang berusia di atas 18 tahun (i mean it!!!) dan, untuk pertama kalinya, tolong jangan menikmati ketika membacanya, karena aku juga berusaha untuk tidak menikmati ketika menulisnya.

Wassalam
Nayaka Al Gibran

#################################################

Namanya Hunter. Usianya barangkali sepuluh tahun lebih tua dariku. Seorang pekerja konstruksi yang sudah seminggu mengebor atau memalu atau membalok atau apapun tugasnya di lokasi baru pekerjaannya. Kurasa aku tak perlu menjelaskan seperti apa fisik dan tampangnya. Kalau kalian ingin tahu, datang saja ke lokasi pembangunan gedung atau pertokoan, kalian akan menemukan orang-orang seperti Hunter di sana. Tapi aku ingin kalian tahu satu hal tentang Hunter yang tidak bisa kalian ketahui dengan hanya mendatangi lokasi pembangunan gedung atau pertokoan itu tanpa melakukan riset mendalam yang melibatkan diri kalian secara langsung, Hunter punya batang kemaluan yang ditindik dengan bentuk serta ukuran yang akan membuat siapapun yang sebelumnya tidak possesif menjadi possesif secara absolut, jika tidak bertentangan dengan idealisme pribadi. Aku mengatakan ini didasarkan pada pengalaman, tapi jika kalian ingin meragukanku, silakan saja, karena aku juga sempat meragukan diriku sendiri.

Aku menemukannya di Sevenoaks Bar & Club. Bar-nya ada di sebelah depan, selalu penuh dengan orang-orang seperti Hunter, pria-pria dan wanita-wanita matang yang kesepian atau sedang melarikan diri dari masalah sambil berharap hidupnya akan baik-baik saja setelah empat–mungkin sampai sembilan–seloki vodka atau beer jenis apapun melewati kerongkongan. Sedang untuk masuk ke klubnya–yang didominasi kawula muda segala macam rupa, kau harus melewati tangga dan lorong panjang yang gelap menuju basement. Kalau penjaga pintu klubnya yang biseksual sedang baik hati, atau kau sedang beruntung, kau bisa langsung masuk setelah membiarkan tangan besar dan kasar pria Afro Amerika itu singgah di bagian-bagian tertentu tubuhmu–aku lebih sering di sekitar bokong dan celah sempit yang ada di belahannya. Tapi kalau kau sedang tidak beruntung, ada sejumlah dolar yang harus kau keluarkan agar dia membukakan pintu klub untukmu.

Biasanya, aku tidak pernah berlama-lama di bar, tidak satu kali pun. Setiap kali ke Sevenoaks, aku akan terus melewati bar menuju ambang pintu di sebelah rak minuman untuk kemudian menuruni tangga lalu menyusuri lorong gelap menuju klub. Pertama kali berjumpa dengan Hunter di Sevenoaks Bar & Club, pria itu sudah setengah mabuk tapi belum kehilangan kesadarannya. Ketika aku melewati pintu depan Sevenoaks Bar & Club, dia sedang duduk bersandar menyamping ke meja bar. Aku tahu dia sendirian meski seorang wanita berambut pirang bergelombang dan berdada besar tepat berada di ujung pahanya yang setengah tertekuk, berusaha menarik perhatian dan mengajaknya bicara. Aku sudah bertemu banyak pria seperti Hunter–dewasa, matang, bertampang jantan, memiliki badan kokoh dan menjanjikan sex yang hebat, serta kesepian. Sudah banyak sekali. Tapi ketika malam itu mataku singgah di rambut coklatnya yang tebal dan bergelombang, aku segera tahu kalau dia akan mengakhiri malamnya di Sevenoaks Bar & Club dengan penisnya menancap di belakangku.

Sorry, M’am… dia tidak tertarik untuk naik bersama Anda ke tempat tidur manapun malam ini.”

Hunter menolehkan kepalanya, dan wanita berdada besar itu menjauhi lutut Hunter sambil menggerutu.

“Bulu dada yang bagus, mungkin itu yang telah mengakibatkan perhatian wanita tadi tercuri,” kataku sambil kugerakkan daguku ke kemejanya yang luput dikancing sempurna. Dia menunduk sebentar ke dadanya saat merespon gerakan daguku. “Unicorn,” kataku sambil kuulurkan tanganku ke depannya.

“Hunter.”

Tangannya besar dan kasar, tapi aku sudah menduganya. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Tuan Pemburu?” Aku mendekat ke meja bar dan meminta segelas anggur pada bartender perempuan yang sering kulihat tapi tidak kuketahui namanya.

“Aku yakin tidak,” jawabnya sambil melirik pinggulku. “Aku baru pertama kali ke sini.”

“Aneh sekali, aku merasa sudah pernah melakonkan percakapan ini sebelumnya.” Bartender perempuan yang sering kulihat tapi tidak kuketahui namanya itu meletakkan gelas di depanku.

“Mungkin kau sedang mengalami apa yang mereka katakan sebagai deja vu.

Aku mengangguk-angguk. “Kurasa kau benar.” Kuteguk isi gelasku dan kuminta si bartender perempuan yang sering kulihat tapi tidak kuketahui namanya itu untuk mengisinya kembali. “Sebenarnya, Tuan Pemburu, aku penasaran ke mana deja vu ini akan berakhir.” Kuberi sebuah lirikan ke bawah sabuknya. “Maukah kau menunjukkannya padaku?”

Dia menyeringai. “Apa yang dilakukan unicorn sepertimu di tempat para pemburu ini? Bukankah kau terlalu muda untuk melakukan apapun yang sedang kau pikirkan kita lakukan berdua, Kid?”

Gelasku selesai diisi lagi. “Aku bukan unicorn seperti yang kau ketahui selama ini, Tuan Pemburu.” Kucondongkan badanku dan kudekatkan mulutku ke telinganya, “Aku tidak keberatan kau mencari tahu sendiri semuda apa aku bagimu dan setua apa kau buatku.” Mataku tetap berkontak dengannya sementara kukosongkan gelas keduaku.

Sekali lagi, Hunter menyeringai lalu menjangkau entah gelas ke berapa miliknya di atas meja bar. Sebelum meneguk beer-nya, dia membalas bisikanku dengan ucapan lirih bernada misterius. “Kau yang menanggung resikonya sendiri, Kid.”

“Alih-alih diriku, mungkin malah kau yang menanggung sendirian semua resiko yang semestinya kita tanggung berdua.”

Hunter menyeringai lalu mengeluarkan dompet. Dia membayar minumnya dan dua gelas anggurku tanpa mengambil kembalian dari si bartender–persetan, aku tak mau tahu siapa namanya. Tak sampai tujuh detik kemudian, dia sudah mengekoriku menuju toilet.

Aku menghisap penis Hunter pertama kalinya malam itu di toilet sempit Sevenoaks Bar & Club, setelah dia mengencingi toto dan mengeringkan ujung penisnya dengan tisu toilet. Malam itu aku meyakini, penis yang dimiliki Hunter bukan tipe yang mudah dilupakan.

Hunter orgasme lima belas menit setelah melakukan penetrasi egois pada mulutku. Anting metal di ujung batang zakarnya tak terhitung kali menyodok pangkal kerongkonganku. Aku tersedak hingga berair mata juga entah berapa kali. Tapi, spermanya terasa nyaman ketika beririgasi menuju lambungku.

Lima detik kemudian setelah aku merilekskan rongga mulutku yang lima belas menit tadi sempat kukhawatirkan akan robek–atau setidaknya muncul iritasi di sudut-sudutnya, Hunter selesai menyembunyikan kembali penisnya yang baru saja memuntahi mulutku ke balik kancing-kancing celana jeansnya yang tidak baru lagi.

Tapi… malamnya di Sevenoaks Bar & Club belum berakhir seperti yang kuketahui saat pertama kali kulihat rambut coklatnya yang tebal bergelombang itu di depan meja bar. Maka, kupreteli lagi kancing-kancing jeansnya dan kukeluarkan kembali penis Hunter dari dalam celananya, dia diam tanpa protes penolakan, membiarkanku yang mengambil kendali. Ruangan yang sempit memaksaku bermodifikasi, toilet di klub dua kali lebih luas dari toilet bar, di sana aku leluasa menungging tanpa takut terantuk. Kutendang penutup toto dan kudorong Hunter untuk duduk sambil membuka selangkangannya selebar yang diizinkan toilet. Kusarungkan kondom ke penisnya yang sudah mengacung lagi lalu kuturunkan celanaku.

Sebelum kududuki penisnya yang tampak seakan siap murka di antara pangkal pahanya itu, Hunter meludah ke tangan dan melumurinya ke sekitar penisnya.

“Kupikir, ini akan sedikit sulit.”

Dan Hunter benar, aku tidak bisa menerima batang kejantanannya hingga ke pangkal-pangkalnya.

Hunter Memperoleh orgasme keduanya malam itu melaluiku. Dia membiarkan kedua tanganku mengambil alih setelah melucuti kondomnya. Spermanya yang putih kental meluber di jemariku dan ke batang penisnya sendiri.

“Mungkin akan masuk seluruhnya lain kali.”

Begitu kata Hunter sebelum keluar dari toilet, dan aku cukup mengerti bahwa yang dia maksudkan adalah penetrasi zakarnya ke lubang di belakang tubuhku.

***

“Aku bekerja di bidang konstruksi…”

Kugerakkan jemariku perlahan di sepanjang paha Hunter sementara taxi yang kucegat kian jauh meninggalkan Sevenoaks Bar & Club.

“Kau tahu gedung yang sedang dikerjakan di Sussex Street?”

Aku tak perlu menjawab, karena jawabanku sama tak berartinya dengan pertanyaan yang dia lontarkan. Tapi, usapan telapak tanganku di atas celana jeans Hunter–yang kuyakini akan selalu memperlihatkan apa yang kita sebut sebagai bulge meski tidak sedang dipengaruhi birahi–tampak sangat berarti baginya, terlebih buatku.

“Aku baru bergabung di sana dua minggu yang lalu, mengganti orang sebelumnya yang cidera setelah terhantam balok. Dan kupikir, aku akan menetap di sini sampai tua.”

Aku tak merespon dan tidak berkonsentrasi pada keterangannya, karena konsentrasiku sedang berada tepat pada ujung-ujung jemariku yang sudah masuk ke balik pinggang celananya, bersentuhan dengan kepala penisnya yang mekar. Sudah sejak bertemu lagi di bar aku sudah tidak berkonsentrasi pada obrolannya tentang asal-usul mengapa dia bisa terdampar di kota ini, yang kupikirkan adalah, membawa pulang dia berikut kejantanannya ke flatku dan mengakhiri malam dengan kondisi penisnya menancap di tubuhku. Itu saja.

Taxi berhenti. Aku membayar sesuai jumlah yang ditunjukkan argo dan menuju pintu masuk gedung flat murahan tempat tinggalku yang tidak pernah punya petugas jaga. Selangkah di belakangku, Hunter mengikuti bersama penisnya yang bertindik dan setengah mengeras di dalam celana, siap malakukan penetrasi dan menyongsong orgasme keduanya di lubang lain yang dipunyai tubuhku, harus di situ kali ini.

*

Aku tak menghiraukan bau alkohol yang menguar tajam bersama napasnya ketika kulumat mulutnya sementara dia melepas kemejanya dan memelorotkan celananya. Ranjangku berdecit nyaring ketika menerima kami di atasnya. Seperti yang kuduga, otot-otot di seluruh tubuh Hunter liat dan bersekat-sekat, semuanya dalam porsi yang tepat. Aku menemukan tato kawat duri yang melingkari bisep kanannya, dan tato serupa huruf kanji yang berderet dari bagian atas belakang bahu kirinya dan berakhir di pinggangnya. Selebihnya, aku menemukan parut-parut lama, sebagian masih jelas dan sebagian sudah samar-samar.

Dia merancap-rancapkan tangan pada batang kemaluannya yang sudah mengacung hingga ke titik renggang paling maksimal sebelum disodorkannya padaku. Di dalam kedua tanganku, penis Hunter terasa bagai gagang kapak besar yang kokoh. Untuk beberapa saat lamanya, aku menggantikan tangannya melakukan pekerjaan yang persis sama seperti yang dilakukannya sesaat tadi. Ketika kutemukan anting di ujung penisnya basah dan berkilat-kilat bening, aku mengistirahatkan satu tangan dan kumasukkan nyaris setengah batang kemaluan Hunter ke mulutku. Hal itu berhasil merangsang Hunter mengeluarkan desisan pertamanya di kamarku. Aku tak bisa menerka-nerka berapa mulut yang sudah menerima dimasuki phallus-nya ini sebelumku, tapi dengan begitu egoisnya aku ingin mulai sekarang tak ada mulut lain yang menerimanya selain mulutku. Pada titik ini, aku tak ingin berbagi penis Hunter dengan Unicorn-Unicorn lain di luar sana.

Hunter mengerang ketika aku tersedak. Dia berusaha melanggar batas yang sempat disentuh tindiknya ketika kami melakukan hal serupa tanpa menelanjangi diri di toilet Sevenoaks Bar & Club dua malam lalu. Dia ingin melesakkan kemaluannya lebih dalam lagi ke ambang saluran cernaku, dia ingin aku menelan seluruh panjang dan lebar urethra miliknya itu, tak peduli aku harus megap-megap dan tersedak hingga berair mata berkali-kali, tak peduli aku bisa saja mati tercekik dari dalam. Tapi, anehnya, aku tidak keberatan melahap bagian paling pribadi di depan tubuhnya itu setiap kali dia menyodorkannya, bahkan aku bersedia ketika dia menyodorkan skrotumnya yang lentur dan seakan punya nyawa sendiri itu, bahkan… aku tidak marah ketika dia memukul-mukulkan penisnya ke wajahku.

Bau alkohol mendadak lenyap dari deteksi saraf-saraf penciumanku, tergantikan oleh aroma kejantanan milik Hunter. Aku meremas sekat-sekat di perutnya, menggigiti otot-otot di dadanya, menjilat-jilat di sekitar leher dan pangkal lengannya, lalu kembali pada batang kejantanannya untuk merasakan sensasi kekurangan oksigen lagi saat tenggorokanku tersumbat batang penisnya. Aku menggesek-gesekkan diriku di atas perutnya, mengadu kelaminku pada farjinya, memaju-mundurkan selangkanganku di paha dan di pinggulnya saat dia tengkurap, kemudian kembali pada zakarnya untuk menikmati sensasi tercekik lagi dari dalam saat dia menelentang. Ranjang bergoyang hebat dan berdecit ribut di bawah kami ketika Hunter menyenggamai mulutku lagi, persis seperti yang dilakukannya di toilet Sevenoaks Bar & Club, bedanya, kali ini baik aku atau Hunter sama sekali tidak menahan diri.

Hunter menarik penisnya yang basah liur dari rongga mulutku, mencari-cari ke dalam laci di samping tempat tidurku dengan tergesa-gesa. Aku tahu dia sedang berusaha mendapatkan kondom untuk kejantanannya yang tangguh itu.

Kubalikkan badanku dan kubelakangi Hunter yang masih mengaduk-ngaduk isi laci.

“Kid, kau tak punya kondom di sini?”

Aku menyeringai melewati bahuku lalu sebelah tanganku menjangkau pahanya dan kubetot untuk menabrakku. Batang kejantanannya menabrak keras di belahan bokongku. Hunter menggesek-gesekkan dirinya. Aku merasa bagai ada dildo size maksimal yang sedang digerakkan ke atas dan ke bawah di belahan pantatku, bedanya, dildo kali ini terbuat langsung dari otot-otot penis seorang pria.

“Akh, kau sungguhan tak punya kondom?”

“Aku punya banyak, sebenarnya, tapi khusus malam ini, aku meninggalkan semua kondomku di etalase di luar sana. Masukkan saja, semuanya…!”

Hunter menyeringai sebelum meludahi penisnya sendiri lalu mencengkeram pinggangku.

Kami memulai proses persetubuhan, tepatnya, Hunter yang memulai, aku hanya menunggu sambil menungging saja, dan sesekali menggenggam kejantananku sendiri.

Penis Hunter memasuki Unicorn yang sudah tertawan ini lewat celah di belakang tubuhnya. Penetrasi Pemburu itu begitu sulit, memaksa Unicorn untuk menggigit bibirnya sendiri hingga nyaris robek. Ketika si Pemburu akhirnya berhasil memasukkan bukti kelelakiannya senti demi senti hingga ke pangkalnya yang berurat-setelah mencobanya beberapa kali, Unicorn merasa jiwanya seperti terisi. Dan dia mendambakan sensasi terisi itu lagi, berkali-kali lagi. Maka, si Pemburu gagah yang baru saja berhasil menyembunyikan seluruh ukuran kejantanannya ke dalam lorong sempit di belakang Unicorn itu pun memenuhi dambaan Unicornnya tanpa sungkan dan tanpa malu.

Hunter mencari-cari mulutku dengan tiga jarinya. Aku merenggangkan diriku sedemikian rupa dan kubelit tengkuknya dengan sebelah tanganku sementara tanganku yang lain memegangi lengannya yang sedang menyentuh pangkal pahaku. Hunter bergerak maju dan mundur, masuk kemudian keluar, menusuk lalu menarik diri, makin lama makin cepat kemudian melambat sebelum berubah cepat lagi.

Aku menghisap jemarinya di mulutku dan matian-matian menahan agar tidak orgasme di dalam genggamannya. Kejantanan Hunter yang terus menyodok-nyodok di belakangku benar-benar menghalau spermaku menuju ujung penisku. Lebih mati-matian lagi aku bertahan mengimbangi gelegak birahinya yang serupa kuda liar itu.

Hunter, membangkitkan hasrat liarku yang tidak pernah berhasil dibuat terjaga oleh beberapa pria sebelumnya. Dan entah bagaimana, aku merasa yakin bahwa sejauh kehidupan seksnya selama ini, Hunter baru menemukan seseorang yang mampu meladeni sisi kebinatangan di dalam dirinya dan membuatnya bisa menyalurkan seluruh hasrat seksualnya tanpa tertahan. Kami berdua, saat ini bagaikan hasil seleksi alam yang tidak bisa dibilang eksis tanpa kehadiran salah satu dari kami.

Aku berteriak.

Spermaku menabrak dinding dan sebagian berceceran di ranjang dan jemari Hunter. Hunter memelukku sementara kejantanannya menghujam makin cepat dan makin dalam di belakangku bagaikan jarum jahit. Ketika lenguhannya menyumbat liang telingaku dan penisnya di dalam diriku berdenyut-denyut kencang dan keras, aku sudah tidak bertenaga lagi. Ini, kali kedua air mani Hunter memancar ke dalam diriku, meski yang kedua ini akan kembali keluar melewati pintu masuk kepala penisnya yang mekar dan bertindik itu.

Hunter jatuh menindihku. Napasnya memburu. Badannya masih menyisakan getaran-getaran setelah gelegak nafsunya tersalurkan habis padaku.

“Unicorn… kurasa aku telah jatuh cinta padamu… kurasa aku jatuh cinta.”

Ada kekehan samar khas seorang bocah bahagia yang kudengar dari mulut Hunter. Aku masih tidak bertenaga untuk merespon meski ucapannya terasa bagai godam baja di kepala dan dadaku.

“Menikahlah denganku besok di gereja. Aku sudah mencarimu sepanjang usiaku, percayalah, aku sudah berusaha menemukanmu sepanjang hidupku.”

‘Hunter, please don’t…’ Hatiku tersayat.

“Kini setelah menemukanmu, aku tak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan yang lain, tak akan pernah ada yang seperti dirimu…” Bibir Hunter mengecup lembut sisi wajahku. “Kumohon, habiskanlah sisa hidupmu denganku… kumohon… menikahlah denganku besok di gereja, menikahlah denganku… menikahlah denganku… menikahlah denganku…”

Degup jantungnya memelan, napasnya menghembus teratur di rambutku. Aku merasa hangat di bawahnya, tapi ketika dia mengulang-ngulang bagian akhir kalimatnya dengan nada penuh keyakinan, hatiku yang sempat tersayat berlanjut pada jiwaku yang menggigil.

Malam ini bagi Hunter berakhir seperti yang kuketahui ketika pertama kali melihat rambut coklat tebalnya yang bergelombang di Sevenoaks Bar & Club. Dia terlelap, sementara batang kemaluannya masih berada di belakangku. Di bawahnya, aku tak bisa terlelap, sambil menunggu awal fajar, kuhimpun energi yang tersisa dari seluruh selku dan dari hatiku agar aku mampu membebaskan diriku darinya, atau sebaliknya, membebaskan dia dari diriku…

***

Dear, My Hunter…

Saat kau membaca surat ini, aku mungkin sudah berada di dalam kereta menuju suatu tempat yang kuharap bisa menyelamatkan kita berdua. Menyelamatkanmu dari luka di masa akan datang dan menyelamatkanku dari perasaan bersalah setiap harinya bila seandainya kita bersama.

Semalam, untuk pertama kalinya, aku mendengar seseorang mengajakku menikah dan menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Kau harus percaya, itu adalah perkataan paling manis yang pernah diutarakan seseorang padaku sepanjang hidupku. Terlepas kau sedang mabuk atau sadar-sesadarnya saat itu, tapi aku tahu dan perasaanku yakin bahwa kau bersungguh-sungguh.

Tapi aku tak bisa, Hunter. Aku tak bisa meskipun aku begitu ingin.

Jika kita bersama, yang akan terjadi ketika kau berusaha membangun bahtera kita adalah, aku akan cenderung menghancurkannya. Ketika kau berusaha memperbaiki dindingnya, aku cenderung merusaknya. Ketika kau berusaha menambal layarnya, aku malah cenderung ingin melubanginya. Bahtera kita tak akan pernah berlayar ke tujuan yang kau idamkan, tak akan pernah sampai…

Hunter, apa yang ingin kukatakan padamu adalah… kau pria baik yang berhak mendapatkan seseorang yang juga baik, lebih baik dariku, seseorang yang sanggup bertahan tidak berpetualang dari satu pelukan ke pelukan lainnya. Orang itu bukan aku, tak akan pernah menjadi aku.

Terima kasih untuk malam tadi, dan satu malam sebelum tadi. Andai saja aku bukan diriku atau kau yang bukan dirimu, kita pasti pasangan yang serasi sepanjang sisa usia. Tapi kau tetaplah Hunter yang ingin berhenti berburu, dan aku masihlah Unicorn yang ingin terus diburu. Kita tak bisa bersama tanpa ada yang terluka, maka… aku memilih pergi. Di luar sana, ada Unicorn yang menunggu untuk kau temukan, Unicorn yang lebih baik dariku tentu saja, kuharap kau menemukannya dengan segera…

U

Kurobek lembar notes itu dan kuletakkan di dekat lampu tidur. Kutatap sosok Hunter yang menelungkup di ranjang kusut, dengkur halusnya terdengar damai. Aku tak ingin pergi, tapi aku juga tak bisa tinggal. Perlahan kudekati dia dan kuperbaiki selimutnya hinggga ke pinggang. Sangat perlahan juga kutempelkan bibirku di pipinya. “Goodbye, H… kalau kau ingin, kau bisa tinggal sampai tua di flat-ku ini, aku tidak keberatan…”

Kusandang tas bepergianku dan kuraih tas lebih kecil berisi dokumen-dokumenku. Mungkin sudah saatnya putra mahkota kembali sejenak dan menggemparkan seisi rumah, bertingkah sesuai adab seperti tuntutan tradisi keluarga bangsawan satu dua musim, lalu berpetualang lagi. Masih ada banyak Hunter berambut coklat tebal bergelombang di luar sana yang masih jadi pemburu, aku hanya perlu memperlihatkan diri pada mereka.

Ketika sudah kutapakkan kakiku di lorong flat, aku memikirkan lagi… siapa sebenarnya yang jadi Pemburu dan siapa yang jadi Unicorn dalam kasusku dan Hunter? Langkahku melambat sebelum akhirnya berhenti. Kubalikkan badanku dan berdiri tercenung. Pintu di sana itu, begitu mengundangku untuk kembali, tapi Hunter di luar sana yang masih jadi pemburu demikian memesonaku untuk tetap jadi Unicorn.

Dariku yang sederhana
nay.algibran@gmail.com