image

CUAP2 NAYAKA

Ini aku sedang usil, gegara gak ada kerjaan ketika sedang menunggu. Langsung kuketik via App WordPress, jadi maaf kalau kurang rapi.

Semoga kalian menikmati membaca Hero (Road to the Sequel) seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam.
Nayaka Al Gibran
###############################

Aku kebingungan sepanjang minggu ini. Penyebabnya, tentu saja cowok yang duduk di bangku seberang tak jauh dari mejaku dan Khiar. Aku dan Hero boleh saja sudah berdamai satu sama lain dan tidak mempermasalahkan apapun yang terjadi selama kami berpisah, tapi di kelas, kami tetaplah dua orang asing yang tidak banyak berinteraksi, nyaris tidak pernah bahkan. Kalau saja aku adalah anak kepala sekolah, atau ayah atau ibuku adalah salah satu guru paling berpengaruh di SMA ini, aku akan merengek-rengek persis balita agar dudukku dipindahkan ke meja Hero, mengusir Fatahul yang meskiΒ  hampir genap dua semester duduk semeja dengan Hero namun masih terlalu enggan untuk menjadi temannya, atau sebaliknya Hero yang terlalu tidak peduli dan tak acuh pada teman sebangkunya–yang ini lebih mungkin. Sayangnya, aku bukan anak kepsek dan ayah-ibuku tidak mengajar di SMA.

Aku meraba keningku. Hampir dua minggu lalu, ketika aku dan Hero duduk berdekatan di kursi taman di alun-alun, kukira dia akan menciumku saat menundukkan wajahnya ke wajahku. Ternyata bibirnya yang habis dicemari tembakau itu mengecewakan bibirku yang masih original ini. Dia hanya menempelkan bibir dan dagunya sebentar di keningku, hanya sebentar. Benar-benar bikin kecewa. Tapi, anehnya, meski hanya di kening dan dilakukan cuma dalam tempo yang begitu sekejap, bekasnya bagai masih melekat di keningku sampai nyaris dua minggu setelah Hero melakukannya. Padahal, sudah tak terhitung kali aku membasuhnya ketika kufungsikan facial foam di kamar mandiku secara tepat guna. Bekasnya mungkin memang hilang, tapi sensasinya masih tertinggal enggan pergi. Dan inilah yang membingungkanku. Ciuman di kening itu, benakku yang hari itu bergolak atas tindakan spontan Hero, dan sikap antipatinya di sekolah, semua bercampur dan bermuara kepada satu pertanyaan: apa yang sedang direncanakan Hero terkait diriku dan dirinya? Apakah dia sedang bermain layangan di mana aku yang mengangkasa sementara dia mengulur benang? Jika iya, kapan dia akan berhenti mengulur lalu menggulung benangnya?

“Pada dasarnya, membuat anekdot bertema pendidikan itu tidak sesulit yang kalian pikirkan. Jadi Bapak rasa, tugas kali ini tidak perlu dikumpulkan sampai setelah dua atau tiga minggu akan datang, Bapak ingin tugas ini sudah selesai dan dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya.”

Beberapa desah kecewa mengudara dari bangku di deretan paling belakang ketika Pak Al–yang hari ini masih tampan dengan kemeja pas badan dan celana bahan yang memamerkan kedua tungkainya dalam takaran yang pas–menutup jamnya dengan sebuah PR. Aku memutuskan koneksi ke sosok Hero dan beralih ke guru muda di depan kelas. Pak Al Hisham sedang membereskan buku-bukunya. Aku bertanya-tanya, berapa kali Pak Al mengunjungi fitness centre dalam sebulan untuk mempertahankan postur badannya? Dan… apa Pak Al punya pacar? Dan… apakah pacarnya sanggup menahan diri dan tidak pernah khilaf saat berada begitu dekat dengan keseksian begitu rupa?

Aku mengakhiri pikiranku yg gila ketika Pak Al Hisham melanjutkan ucapannya.

“Lusa sebelum Bapak masuk kelas di jam pertama, tugasnya sudah harus terkumpul di meja.” Pak Al fokus ke mejaku dan Khiar, “Dekalvin akan mengumpulkannya, jadi, kalau ada yang mengumpulkan sendiri pada Bapak setelah itu, tidak akan berguna lagi. Selamat siang.”

Bel pulang menjerit nyaring tepat setelah Pak Al menutup kelasnya. Sementara teman-temanku sibuk grasak-grusuk membereskan isi laci mereka, aku kembali memperhatikan sosok Hero di kursinya sambil sepenuh hati berharap, dia akan menoleh dan tersenyum akrab padaku. Namun hingga tasnya tersandang di sebelah bahu dan dia berdiri lalu bergerak ke pintu, dia hanya memberiku pemandangan punggungnya.

“Sampai jumpa Senin, Dek,” ujar Khiar padaku. “Kalau kesulitan ngerjain anekdotnya, chat aku aja ya!”

Aku mengangguk pada ketua kelasku itu. Khiar, selalu baik hati padaku. Kapan itu, aku terlupa mengerjakan tugas Mapel Fisika, dia mengizinkanku menyalin buku PR-nya saat jam istirahat. Aku tak bisa untuk tidak berpikiran kalau rangkingku yang bagus di kelas sedikit banyak disebabkan karena aku duduk semeja dengannya.

Dengan enggan dan tanpa semangat karena lagi-lagi hari ini Hero mengabaikanku di kelas, kubereskan ranselku dan menuju pintu setelahnya.

Aku jadi siswa terakhir yang meninggalkan kelasku. Koridor sudah sepi saat kulewati. Mas Nawi pasti akan menyambutku dengan wajah keruh di parkiran karena menunggu sedikit lebih lama dari biasanya. Biarlah, toh cuma dua tiga minggu lagi dia akan memboncengku sebelum ujian akhirnya dilaksanakan, lalu dia akan lulus dan meninggalkanku. Jujur saja, aku sempat berharap Hero akan menggantikan Mas Nawi, menjemput dan mengantarkanku pergi dan pulang sekolah. Aku tak keberatan mengganti uang bensinnya. Tapi, aku tak berani meminta Hero, lebih tepatnya, aku takut kecewa jika dia ternyata tidak bersedia.

“Zamhur masih mengantar-jemput, ya?”

Entah bersembunyi di mana, sekonyong-konyong Hero sudah berjalan di sebelahku. Aku sempat kaget dan melambatkan langkah sejenak sebelum jantungku yang mencelos jadi normal kembali, dan saat menyadari kalau Hero yang mensejajari langkahku, giliran hatiku yang berubah jadi toko kembang.

“Kukira kamu sudah pulang.”

“Habis dari toilet,” jawabnya.

“Merokok?” tebakku.

“Pikiranmu padaku selalu negatif saja, ya?” nadanya berubah sinis.

Aku melambatkan langkah ketika ujung koridor hampir tiba, aku ingin kebersamaan kami diperpanjang beberapa detik lagi. Tapi sialnya, Hero tetap melangkah lebar-lebar. Kenapa dia tidak peka sih? Dengan marah aku terpaksa mengikuti gerak tungkainya, tapak sepatuku mengentak kuat-kuat di lantai.

“Kenapa? Lantainya bikin salah padamu?”

“Kamu sebenarnya masih dendam gak sih padaku?”

“Kenapa?”

“Kamu masih mengabaikanku di sekolah.”

“Terus, maunya aku harus bagaimana? Berada di dekatmu sepanjang waktu?” Nadanya datar saja ketika Hero bertanya, tidak sinis seperti sebelumnya.

“Kalau tidak keberatan, iya,” jawabku.

Hero terkekeh pendek. “Itu sama mustahilnya dengan memintaku jadi bayanganmu, Dek.”

‘Begitulah tepatnya yang kuminta, Romeo.’

Koridor sudah berakhir, aku bisa melihat sosok Mas Nawi duduk di atas motor di parkiran.

“Deka,” tiba-tiba Hero berhenti berjalan dan menghadapku. Aku ikut berhenti bergerak dan memandangnya. Ada keragu-raguan pada raut wajahnya yang bandel. “Aku tidak tahu kamu setuju atau enggak, tapi… aku ingin mengajukan diriku untuk menjemput dan mengantarmu pulang dan pergi sekolah kalau si Zamhur itu sudah tidak bersekolah lagi di sini…”

Aku terbengong-bengong. Apa sebenarnya aku belum bangun dari tidur malamku? Hero menawarkan dirinya. Menawarkan dirinya sendiri atas inisiatifnya sendiri. Ini tidak nyata.

“Yah, motorku memang tidak sekeren punya Zamhur, tapi…,” Hero seperti terbata-bata untuk melanjutkan kalimat. “Tapi, sejauh ini gak pernah mogok di jalan…”

Aku masih bengong, kupandang Hero tanpa berkedip. Kucubit pahaku sendiri dan segera sadar kalau aku benar-benar pergi ke toilet ketika bangun tadi pagi. Hero masih menatapku, berandal seperti dia, menawarkan diri dengan suara pelan dan ragu-ragu, seperti takut kutolak. Anehnya di mataku sikapnya malah terlihat manis dan sedikit lugu, kondisi yang bukan dirinya sama sekali.

“Apa katamu?” Hero menggigiti bibir bawahnya, jelas sekali dia sedang gelisah.

Aku mengerjap satu kali, dan ide untuk balas dendam meledak di kepalaku. Kuluruskan badan dan kutinggalkan dia.

“Hei…!” Hero menyusulku, “apa katamu?” Dia berjalan menyamping di sebelahku, menuntut jawaban.

“Ogah,” desisku. Dari parkiran, Mas Nawi sudah melihatku.

“Karena motorku jelek?” Hero terlihat murung. “Itu motor peninggalan suami Bude Ningsih, andai saja aku punya uang buat beli motor sendiri yang lebih bagus…”

Aku tersenyum. “Coba saja datang ke rumah setelah Mas Nawi lulus, mungkin aku akan berubah pikiran,” ujarku.

Hero mematung sementara aku terus berjalan. Saat kutolehkan kepalaku sekilas padanya, kudapati dia sedang tersenyum cerah. Melihatnya begitu, aku tak bisa menampik pikiran yang mendadak muncul di kepalaku, Hero sedang mencoba membangun kembali jembatan penghubung emosinya dengan emosiku yang sempat ambruk sewindu kemarin.

‘Tenang saja, Romi, kita akan mengganti kayu lapuk itu sama-sama. Ketika semua kayu sudah terganti, kita akan berjalan meniti jembatan ini sambil tertawa dan bergandengan tangan.’ Hatiku berlompatan dalam perjalanan menuju parkiran.

Di atas motornya, aku tak tahu mengapa Mas Nawi kelihatan sedang tidak bahagia.

Dariku yang sederhana
nay.algibran@gmail.com