Dasi Untuk Orlando

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Aku merasa chapter ini aneh. Mungkin ada beberapa bagian yang akan kalian skip saat membacanya, tapi, aku sangat menikmati saat-saat diriku menulis Sekerat Dasi Untuk Orlando ini, dan kuharap kalian juga bisa menikmati ketika membacanya.

Wassalam

n.a.g

##################################################

 

Sebelumnya,

aku adalah sosok primitif,

tanpa baju,

buta,

dan terbelakang

Lalu cinta menyentuhku,

mengubahku jadi manusia beradab

berbaju,

berwawasan,

dan berperasaan

***

Waktu aku kecil dulu, saat masih mengenakan warna merah dan putih untuk ke sekolah, aku punya cinta monyet. Bukan mauku, sebenarnya. Bahkan, aku sama sekali tidak mengerti apapun saat itu. Dan kurasa, pasangan yang dipasangkan oleh teman-temanku untukku juga tidak mengerti apa-apa. Hubungan yang diciptakan oleh lingkungan, bukan oleh kesadaran perasaan dan kemauan hati, kurasa itulah yang disebut cinta monyet. Omong-omong, pasangan cinta monyetku itu seorang cewek yang kebetulan peringkat di rapornya selalu kejar-kejaran denganku. Aku menduga-duga, alasan teman-temanku menjodoh-jodohkan dan memasang-masangkan nama kami setiap ada kesempatan dan menuliskannya di beberapa tempat yang tidak semestinya itu adalah karena peringkat kami yang kejar-kejaran. Padahal, kami berdua─aku dan cewek itu─bisa jadi sama sekali tidak tertarik satu sama lain. Namun lingkungan tidak mau tahu itu. Maka begitulah, kami jadi sepasang pacar yang masih ingusan.

Saat sudah dewasa sekarang, ketika aku telah menanggalkan banyak warna seragam, aku memiliki cinta yang bukan cinta monyet. Cinta yang datang sebagai wujud kesadaran perasaan, dan terlebih penting adalah kemauan hati sendiri. Pasanganku tidak lagi ditentukan oleh lingkungan, tidak dipilih oleh teman-temanku, tapi kutentukan dan kupilih sendiri. Dunia mungkin menganggap pilihanku salah. Terserah dengan dunia. Kalau saja dunia mau lebih memahami makna pilihan, mungkin dunia akan mengerti dan sadar. Bahwa apa yang disebut sebagai pilihan pada dasarnya tidak berkaitan dengan konsep benar atau salah, itu lebih berhubungan dengan kebebasan dan tanggung jawab. Saat seseorang sudah memilih, apapun resiko dari pilihan yang diambilnya akan di-per-tanggung-jawab-kan-nya sendiri. Aku sudah memilih, dan aku akan bertanggung jawab dengan pilihanku. Sesederhana itu, dunia harusnya tidak terlalu sukar untuk memahami.

“Kamu tahu apa yang paling membuatku bingung sekarang, Dil?”

“Bagaimana aku bisa begitu membuatmu tergila-gila dan blingsatan saat sedang mengenakan baju dan jeans baru begini?”

“Ya, aku blingsatan. Ingatkan aku untuk membuka celana dan bajumu nanti sepulang dari acara membosankan ini. Tapi bukan itu jawabannya.”

“Oh, maaf. Tapi yang barusan tadi adalah jawaban terbaikku.”

“Yang membingungkanku adalah, bagaimana orang-orang egois di luar sana bisa seenak perut menghakimi kalau cintaku padamu ini tidak benar, hanya karena cara kita mencintai berbeda dengan cara mereka mencintai.”

Aku diam sebentar, sangat tahu ke mana maksud ucapan Orlando. “Kak Gunawan tidak egois.”

“Tapi juga tidak ada setengah hati pun menganggap hubungan kita normal-normal saja.”

Aku mengalihkan pandangan pada Kak Gunawan yang sedang mengambil makan dengan Syuhada di meja prasmanan. Sejak datang tadi sampai prosesi pasang cincin antara Erlangga dan Rani selesai, pria mata empat itu tidak sekalipun menyapaku atau Orlando, tapi dia menyapa orang-orang lain dalam rombonganku─Kak Saif, Kak Adam dan keluarga kecilnya, juga ayah dan bundaku. “Hubungan kita memang gak normal kok,” ujarku pada Orlando.

Untuk sejenak, Orlando memasang tampang seperti hendak membuka paksa pakaianku tapi lalu mendapati kalau pakaianku terbuat dari lempengan besi yang dilas sambung-menyambung. Dia mendengus, “Kamu lihat sendiri, kan? tadi manusia sok alim itu sangat sengaja untuk tidak menegur kita saat berbasa-basi di pintu. Dikiranya dia bersih tanpa dosa apa…”

Aku menyikut Orlando. Laki-laki itu bergeming, sama sekali tidak merasakan akibat sikutanku di badannya. “Kak Gunawan mungkin masih merasa canggung,” kataku, lebih kepada menghibur diriku sendiri ketimbang menenangkan perasaan Orlando. Sejujurnya, aku juga merasakan tepat seperti apa yang Orlando utarakan terkait sikap antipati Kak Gunawan terhadapku dan pacar lelakiku. Tapi, aku bisa apa? Kita tidak bisa memaksakan perasaan seseorang, kan? Aku bergerak dari tempatku berdiri, Orlando mengikuti di belakangku. Di satu sisi ruangan, Erlangga dan Rani masih mengoper-ngoper ASJ sementara kedua induk bocah itu merapat ke prasmanan.

“Kalian gak makan?” tanya Erlangga. Sedetik setelahnya liur ASJ─yang sedang mengemut tangan sendiri─menetes-netes ke lengan kemeja pertunangan Erlangga.

“Sini, biar kupegangi.” Rani menyingkirkan tangan ASJ dari mulut sebelum mengambil bocah itu dari pangkuan Erlangga. Setelah mengeringkan mulut ASJ dan lengan kemeja Erlangga dengan tisu, dia beranjak dari sofa rendah yang didudukinya dan bergerak ke arah mamanya yang sedang mengobrol dengan beberapa kerabat di sudut lain ruangan. Dalam gendongan Rani, kulihat ASJ mulai mengunyah─dengan penuh semangat─ujung kerudung calon istri Erlangga itu.

Congratulation, Bro!” Orlando menjabat tangan Erlangga dalam gaya panco, menggoyang-goyangkan jabatan mereka beberapa saat sebelum saling membenturkan pundak setengah berpelukan.

Aku tidak mau repot-repot mengikuti tingkah berlebihan pacarku, jadi aku langsung mengisi kekosongan yang ditinggalkan Rani, maksudku sofanya, bukan hati Erlangga.

“Jadi, kapan tanggal pernikahannya?” tanya Orlando setelah mendudukkan diri di sebelah Erlangga.

“Aku maunya cepet, tapi papa mamanya Rani pengen putri mereka sarjana dulu.”

“Kurasa, yang lebih tepatnya, mereka mau kamunya yang sarjana dulu, Ngga, bukan Raninya,” jawabku sambil mengitari ruangan dengan pandangan. Aku tidak melihat Kak Saif sejak acara pertunangan dimulai. “Itu isyarat halus untuk kalimat langsung semacam, ‘kamu harus punya kerjaan dulu sebelum berani ngawini anak saya,’ gitu,” lanjutku lalu menyerah mengitari ruangan dengan mataku.

“Yep,” Orlando menunjukku, “yang dikatakan calon istriku itu benar.”

Aku mencari-cari sesuatu yang bisa kupakai untuk menimpuk kepala Orlando. Benda yang paling dekat adalah vas kristal di atas buffet di sisi kiri set sofa rendah tanpa sandaran yang sedang kami duduki.

“Vas kristal itu kayaknya mahal, Dil,” cetus Erlangga yang kudapati sedang mengikuti arah pandanganku. “Calon mama mertuaku pasti gak bakal jingkrak-jingkrak kesenangan kalau kristalnya pecah.”

Orlando melirik bergantian antara aku dan Erlangga. “Kalian sedang ngomongin apa?”

Erlangga menunjukku, “Calon istrimu punya niat untuk memecahkan vas punya mama calon istriku ke kepalamu.”

Hening.

“Kalian sama-sama menyebalkan.”

“Oh, anggap saja persekongkolan para calon suami,” sahut Erlangga santai.

“Dil, kamu sungguhan mau bikin pecah kepalaku?” Orlando menyisir rambutnya ke atas dengan jemari sambil menatapku serius.

“Permisi, aku mau keluar dari percakapan tidak edukatif ini.” Tanpa menunggu mereka bersuara, aku bangkit dari sofa dan berjalan tanpa minat menuju meja prasmanan. Tapi begitu mendekati ke sana, aku teringat pada Kak Saif. Ngumpet di mana manusia itu? Apa acara pertunangan begitu menakutkan buatnya?

Aku menjelajah rumah besar Rani, menjenguk ke ruangan-ruangan selain kamar tidur, membuka satu dua pintu kamar mandi yang masuk kriteria bisa diakses orang asing tanpa terkesan kurang ajar, bahkan aku menghadirkan diriku ke dapur. Sosok Kak Saif tak ada di tempat-tempat itu. Apa dia pulang duluan? Dengan apa? Kami hanya menyetir satu mobil sejak dari rumah. Mustahil dia nekat naik becak apalagi angkot. Sama sekali bukan gayanya.

Aku mendorong salah satu pintu di bagian belakang rumah Rani, suara gemericik air langsung menyerbu pendengaranku.

Ternyata, rumah Rani punya kolam ikan hias yang tepat berada di balik dinding bagian belakang rumahnya, memanjang hingga hampir mentok ke tembok tinggi yang membatasi properti mereka dari milik orang lain. Suara gemericik yang terdengar nyaring di sini ditimbulkan oleh pancuran bertingkat lima dari batu-batu setinggi kira-kira satu meter di atas permukaan air dan berada tepat di tengah-tengah kolam ikan itu. Bunga teratai berkerumun di satu sudut dan tumbuhan eceng gondok berkelompok di sudut lain kolam. Di permukaan kolam yang tidak tertutupi teratai dan eceng gondok, ikan-ikan berwarna cerah berseliweran memamerkan diri. Pot-pot segala jenis tanaman hias berjejer rapat di pinggir salah satu sisi kolam, sedang batang-batang bambu rumah berbaris rapi di sepanjang tembok pagar. Aku mendongak, semacam tirai gelap yang nyaris setransparan kelambu membentang tinggi mengatapi area kolam ikan hingga ke tembok di seberang. Keadaan terasa sejuk di sini.

“Aku berani bertaruh, Erlangga dan Rani pasti sering pacaran di belakang sini…”

Aku memanjangkan leherku untuk memandang ke balik jejeran pot tanaman hias yang tinggi besar itu. Ada semacam balai-balai dari bambu tanpa atap di sana yang luput kuperhatikan dengan saksama beberapa saat tadi. Pot-pot mungil berisi bermacam-macam anggrek bergelantungan pada tiang-tiang yang diatur di sekitar balai-balai itu. Sejenak, aku teringat rumah Lala Lili dan almarhum kakaknya yang menggemari anggrek.

Kak Saif kutemukan sedang duduk berselonjor atas balai-balai, sibuk memencet-mencet gadget di tangan. “Bagaimana caranya Kak Saif bisa ke sana?” tanyaku. Kak Saif menunjuk sisi kolam yang hampir mentok tembok pagar tanpa bersuara, bahkan tidak memberi perhatian, semua fokusnya tersita ke benda yang sedang dipegangnya.

Aku menuruni undakan teras belakang rumah Rani, mengenakan sandal jepit yang bergeletakan di rumput lalu memutari kolam, melewati batang-batang bambu di dekat tembok sambil berusaha agar tidak miring dan tercebur ke air. Celah yang disisakan antara pinggir kolam dengan tembok pagar menjadi cukup sempit untuk dilalui dengan adanya batang-batang bambu ini. Siapapun yang mengatur pembuatan kolam ikan ini, mereka tidak merencanakannya dengan matang, harusnya ada sisa ruang yang cukup di bagian sini agar mudah dilalui. Kubayangkan Erlangga yang mahasiswa arsitektur itu pasti akan setuju denganku. Bahkan aku yakin─jika ucapan Kak Saif tadi benar, Erlangga pasti pernah mempertanyakan ketidakbenaran posisi kolam ikan ini pada Rani di sela-sela agenda apelnya, atau setidaknya mempertanyakan keberadaan batang-batang bambu yang membuat siapapun tidak leluasa mengitari kolam dari semua sisi ini. Tapi… bisa jadi juga kalau kolam ini lebih dulu dibuat sebelum bambu-bambu ini ditanam. Ah, sudahlah, bukan urusanku. Intinya aku berhasil melintas tanpa tercebur masuk ke kolam yang membuatku bisa bercumbu bersama ikan-ikan di dalamnya kalau sampai kejadian.

“Kenapa Kak Saif bisa tahu kalau di belakang sini ada tempat yang pas untuk melarikan diri dari acara pertunangan di dalam sana?” aku naik ke balai-balai rendah itu dan bergabung bersama Kak Saif.

“Feeling pria dewasa,” jawabnya datar, masih tanpa mengalihkan perhatian dari gadgetnya. Dua jempolnya bergerak cepat di atas layar.

“Kak Saif melewatkan acara pertunangannya.”

“Itu pertunangannya Erlangga, bukan pertunanganku. Kalau Erlangga yang tidak di sana, itu baru masalah.”

Sedang apa sih manusia satu ini dengan gadgetnya? Kenapa saat ini benda itu tampak sangat menarik perhatiannya? Aku beringsut lebih dekat, dengan maksud hendak mencuri lirik ke layar tabnya.

“Harusnya kamu ajak Lando ke sini,” ucap Kak Saif. Gerakan beringsutku berhenti mendadak. “tempat ini pas banget buat pacaran.”

“Kak Saif nyaranin aku untuk bunuh diri?”

Untuk pertama kalinya sejak aku tiba di sini, Kak Saif melirikku kemudian menyeringai. “Kalau pacarannya di kamar Lando, bukan bunuh diri, ya?” ledeknya lalu kembali fokus ke apapun yang sedang dikerjakannya di tablet.

“Apa yang salah dengan hari ini? Kenapa orang-orang seperti sedang berlomba-lomba untuk menunjukkan sifat menyebalkan mereka padaku?” tanyaku sembari berusaha memanjangkan leher ke arah gadget Kak Saif melewati pundaknya.

“Siapa lagi yang menjailimu?”

“MBAK RUTHIYA?!?” teriakku.

“Sialan, pecah telingaku, Dil!” Kak Saif menjauhkan kepalanya dariku.

“Kak Saif sedang chat sama Mbak Tiya?” mendadak aku jadi bersemangat.

Sekilas tadi saat berhasil memanjangkan leherku, aku sempat melihat photo profil teman chat Kak Saif, dan mataku tak akan pernah salah mengenali Mbak Ruthiya di manapun, dalam wujud apapun. Sejak kapan mereka menjalin komunikasi lagi? Bukankah Kak Saif sudah menghancurkan hati wanita itu dengan sebuah kata putus? Mbak Ruthiya bahkan sempat mengiba padaku waktu itu, dan Kak Saif sempat jadi playboy magang untuk beberapa lama. Tapi sekarang sepertinya ada cerita baru di antara kakak laki-lakiku ini dengan wanita yang sudah pernah jadi mantannya itu. Ada PR cinta di antara mereka yang belum selesai. Berpikir demikian, aku tidak bisa mencegah diriku untuk merasa euphoria. Ingin saja aku jingkrak-jingkrak kesenangan. Aku masih ingat bagaimana sedihnya Mbak Ruthiya ketika dipaksa menerima keputusan Kak Saif saat itu.

Kak Saif cengengesan. “Senang?” tanyanya padaku. “ini yang kamu harap-harap, kan? Kalau kakakmu ini balikan lagi sama Mbak Tiyamu itu…”

Aku tersenyum pada Kak Saif. “Yang Kak Saif butuhkan itu ternyata cuma waktu, ya… ketika tiba saatnya, Kak Saif bakal sadar bahwa satu-satunya wanita yang mampu membuat Kak Saif mencintai sepenuh hati itu hanya Mbak Ruthiya.”

“Sebenarnya, ini lebih karena kamu berhenti comblangin Kak Saif sih…”

Aku tahu ucapannya tidak serius. “Jadi, bagaimana kabarnya?”

Kak Saif merubah posisi duduknya jadi bersila dan menyingkirkan tabletnya. “Baik. Katanya dia akan berkunjung saat wisuda nanti, walau aku sudah melarangnya, dia gak perlu melakukan itu.”

Aku tersenyum jahil, “Yakin kak Saif melarangnya dengan sepenuh hati?”

Kak Saif menggaruk-garuk kepalanya sambil menyeringai malu-malu. Aku berani bertaruh kalau untuk sedetik wajahnya sempat merona. “Enggak sepenuh hati juga sih.”

Aku tertawa kencang.

“Ya ya ya, silakan tertawakan kakakmu sepuasnya.”

Tawaku mereda, “Aidil senang dengarnya, Kak. Ah, jadi gak sabar ngeliat Kak saif sama Mbak Tiya peluk-pelukan di terminal kedatangan luar negeri.”

Kepalaku kena jitak. Sementara aku bersungut-sungut, Kak Saif mesem-mesem sendiri. Kurasa, pasti dia sedang membayangkan ucapanku barusan di dalam kepalanya.

“Sejak kapan?”

“Apanya?”

Huft, kasmaran memang bikin otak penderitanya tumpul. “Sejak kapan ce el be ka lagi sama Mbak Tiya?”

“Oh…” Kak Saif tersenyum, “Ruth bilang, kami tidak pernah benar-benar putus.”

“Yep, seingatku, cuma Kak Saif aja yang nganggap gitu, kan?”

“Gak usah dibahas.”

“Nah, itu dia, egonya laki-laki. Jarang mau mengakui kekeliruan sendiri.”

“Lando gitu juga?”

“Kak Lando itu rumit, khususnya kalau lagi cemburu gak jelas─”

“Tapi kalau sedang tidak cemburu, aku sangat mudah bikin adik lu itu makin cinta, Sef…”

Aku dan Kak Saif menoleh ke belakang. Entah sejak kapan Orlando sudah menguping di belakangku dan Kak Saif. Dia pasti memutari rumah Rani dari arah pekarangan depan.

“Lu nguping, Do?”

“Enggak, lebih tepatnya, memata-matai. Aku gak mau kecolongan lagi, lu itu kan musang berbulu ayam, Sef. Sempat aku silap dikit aja pasti lu udah nyium Aidil lagi.”

“Apaan sih!” sergahku gusar sementara Kak Saif mendiamkan diri.

Orlando membuka alas kakinya dan bergabung bersama kami. “Gila, tempat ini nyaman banget, pantas saja kalian betah berduaan di sini,” kata Orlando lalu meluruskan dirinya tidur di atas balai-balai.

“Itu sindiran, ya?” tanya Kak Saif.

Orlando menekuk kedua lengannya ke bawah kepala, “Itu protes, bego lu!” cetusnya lalu memejamkan mata.

Sementara Kak Saif menggumam entah apa, aku tak bisa untuk tidak mengalihkan perhatianku ke pinggang Orlando yang agak tersingkap karena ujung kemejanya tertarik ke atas sebagai akibat dia menekuk lengannya sedemikian rupa. Pemandangan sekitar perut dan pangkal pahanya terpampang tumpah ruah di depanku. Damn, dia seksi dalam posisi begitu rupa. Sepertinya, kami harus mengatur rencana bermalam bersama lagi di kamarnya setelah ini.

“Ehem….” Dehaman Kak Saif memutuskan konsentrasiku dari pinggang Orlando─lebih tepatnya dari bagian meninggi di pertengahan tubuhnya. “Dil…,” panggilnya.

Sial. Pasti aku ketangkap basah sama Kak Saif. “Ya?” tanyaku pada kakakku itu dengan tampang setengah bengong.

“Biarin aja, Sef. Aku pacarnya,” tukas Orlando.

Setan. Rupanya manusia ini sengaja mengatur posisi menggoda iman sedemikian rupa tepat di depanku. Maunya apa sih? Membuktikan kalau dirinya lebih bisa membuatku meleng dibanding Kak Saif bila kami bertiga sedang berada di tempat dan waktu yang sama? Apa pentingnya?

“Edan lu, Do.” Kak Saif memegang kembali gadgetnya.

“Ehem, Kak Lando mau tahu kabar terbaru?” tanyaku mengalihkan topik.

Orlando membuka matanya, “Kambing itu ngejilat ludah sendiri sudah bukan kabar baru lagi, Cinta…”

Aku mengernyit. “He?”

Orlando bangkit untuk mendudukkan dirinya. “Iya, kambing itu ngejilat ludah sendiri,” katanya sambil menunjuk Kak Saif. Yang ditunjuk tenang-tenang saja. “Dulu mutusin, sekarang balikan.”

“Ternyata ada yang enggak sadar diri,” timpal Kak Saif santai.

“Eng…” Orlando kehilangan lidahnya.

Aku tersenyum sendiri, kutepuk pundak mereka berdua. “Cinta sejati itu hebat, Kak. Tak peduli berapa kali ia pernah dipisahkan, tak peduli berapa kali ia pernah dilerai putus, cinta sejati selalu punya cara untuk kembali, selalu tahu jalan pulang dan bertaut lagi…”

“Iya, kayak cinta kita,” tukas Orlando dan meremas lembut tanganku di pundaknya.

Tiba-tiba wajah Kak Gunawan nongol di pintu, Orlando sontak memindahkan tangannya dari atas tanganku dan aku langsung menarik kedua lenganku lalu duduk tegak. Sejenak kami dan Kak Gunawan saling melempar pandangan.

“Emm… kalian dicari Kak Adam, mau pulang. Junior rewel, ini jam tidurnya,” ucap Kak Gunawan di pintu.

“Makasih, Kak,” sahutku. Kak Gunawan mengangguk samar, tapi tidak segera pergi. Sepertinya dia sedang ragu-ragu.

“Emm… tapi, kalau kalian belum ingin pulang, aku akan bilang pada Kak Adam. Nanti kalian bisa pulang bareng aku dan Syuhada.”

“Kukira kamu sedang tidak ingin dekat-dekat aku dan Aidil dulu, Gun. ‘Kalian’ yang kamu maksudkan tadi, termasuk aku sama Aidil, kan?”

Untuk kedua kalinya sepanjang hari ini, aku ingin menimpuk kepala Orlando. Di Pintu, Kak Gunawan terlihat kebingungan untuk merespon. “Gak apa, Kak. Sepertinya kami pulang sekarang aja. Tapi… mungkin lain kali kita bisa mutarin kota rame-rame dengan jeep Kak Gun, pasti menyenangkan.”

Kulihat Kak Gunawan tersenyum samar. “Ya, kapanpun…” Kak Gunawan menoleh ke dalam rumah, “Emm, aku akan ke dalam dan bilang pada Kak Adam kalau kalian pulang sekarang.”

“Oke,” kataku, “makasih lagi…”

Kak Gunawan mengangguk sopan lalu melenyapkan diri di balik pintu.

Kak Saif mendesah. “Apa itu tadi? Perang dingin?” tanyanya sambil memandang Orlando. Yang dipandang menggidikkan bahu ogah-ogahan.

“Time to go, gentlemen…” Aku beringsut turun dari balai-balai Rani diikuti dua laki-laki paling berpengaruh dalam hidupku akhir-akhir ini.

***

[PING!]

[Kring!]

[Cring!]

[Pring!]

[Bring!]

[Apa itu?]

[Karena ping! sudah terlalu mainstream :D]

[Ada apa? Kangen? Kan baru ketemu tadi]

[Kak Lando ngapain?]

[Nothing. Just… thinking of you :*]

[:)]

[Sambil coli di tempat tidur]

[Dil…]

[Dil…!]

[Aidil!]

[Kabur, ya?]

[Halo?]

[Beneran lagi gituan?]

[Kenapa? Mau dibantuin, ya?]

[Iya, pake sambal]

[Aku lebih suka pake ludah sih sebenarnya]

[Stop!]

[Gak bisa berhenti, udah nanggung nih, udah di ujung]

[Sialan, Orly. Kamu ngapain sih?]

[Sejujurnya, lagi ML sama guling yang malam ini sedang kusuruh untuk berpura-pura jadi kamu]

[Menyedihkan sekali]

[Apanya? Gulingnya?]

[Kamunya yang menyedihkan!]

[Abisnya, aku harus gimana? Pacarku kan gak mau tidur denganku]

[Kan udaaaah…!]

[Tapi kan gak ngapa-ngapain. Aku pengennya tidur yang ngapa-ngapain]

[Well, silakan ngerjain guling kalo gitu]

[Hehehe… Aku sedang nonton episode terbaru One Piece kok]

[Dasar tukang bohong, tadinya bilang sedang mikirin aku]

[Mikirin kamu itu udah jadi semacam kebutuhan dasar, Dil. Sama kayak aku butuh bernapas biar gak mati]

[:) I love you]

[Yeah, I know. Omong2, seingatku kamu masih punya hutang ciuman padaku]

[:*]

[Tuh, udah]

[The real kiss, Baby]

[Oke]

[Kapan?]

[Di mana?]

[Secepatnya. Di tempat sepi]

[Tempat sepi? Hemm… aku ngusulin kuburan]

[Kita mau ciuman, bukan syuting film hantu]

[:D]

[Gak usah kuatir. Nanti kalau udah saatnya, Kak Lando bakal tahu kalau aku sedang ngebayar hutang. Tenang saja. Tempat dan waktu itu gak penting]

[Great]

[One Piece-nya abis]

[Iya. Kupikir, aku akan tidur sekarang]

[Selamat tidur kalau gitu. Aku juga akan tidur, dan… semoga dalam mimpimu dan mimpiku, kita berdua sedang ML]

[Selama cuma mimpi, kurasa aku tidak keberatan]

[I love you]

[I want you]

[Oh, sudahlah]

[I wanna f*ck you]

[Enyahlah]

***

Aku menemukan mereka berdua di pojok yang dideskripsikan lewat pesan BBM oleh salah satu dari mereka, sedang terpekur pada layar smartphone─juga kepunyaan salah satu dari mereka. Piring kosong menggeletak di meja, gelas besar berisi minuman entah apa yang tinggal separuh menjadi pendamping masing-masing piring itu. Keduanya tidak menyadari kedatanganku sampai kuhenyakkan bokongku di satu dari dua kursi yang tersisa di depan mereka. Sepertinya pasangan ini sengaja duduk di meja untuk empat orang karena tahu akan datang.

“Eh, Dil, udah datang?” tanya Kak Aiyub.

“Belum, ini sedang ngetem dulu di jalan,” jawabku.

Kak Fardeen tertawa pendek. “Dia memang suka mengajukan pertanyaan retoris yang amat retoris dan gak penting akhir-akhir ini, Dek. Kapan itu, dia sempat nanya, apa ukuran celana dalamku masih el, padahal sehari sebelumnya dia baru mengeceknya sendiri.”

“lebih tepatnya, kami saling mengecek ukuran celana dalam satu sama lain, di kamarku,” lanjut Kak Aiyub.

Aku Melongo. Sementara mereka berdua saling melirik.

“Eh, mau makan apa, Dek? Ayo pesan aja, aku dan Aiyub sudah duluan tadi.”

“Gak usah dikasih tahu dia juga udah bisa ngeliat kalau kita habis makan,” tukas Kak Aiyub sambil menunjuk meja dengan gerakan dagunya. “Dia memang gitu, Dil. Suka aktif ngasih tahu sesuatu yang jelas-jelas sudah diketahui lawan ngobrolnya. Kapan itu, dia ngasih tahu kalau dia habis makan soto, padahal tanpa dikasih tahu pun Kak Aiyub bisa ngerasain sisa-sisa rasa soto di bibir dan lidahnya…”

“Iya, dia ngerasainnya pake bibir dan lidah juga,” timpal Kak Fardeen, “di kamarku.”

Aku makin melongo. Sementara mereka berdua kembali saling melirik. “Emm… kalian berdua sedang streaming video emm… video itu ya? Kok ngomongin mulut sama celana dalam?” tanyaku dengan suara serendah-rendahnya.

Mereka berdua sejenak saling melempar pandangan. “Kamu sedang ngebayangin ngecek celana dalam Lando, ya?” tanya Kak Aiyub kurang ajar.

“Atau sedang berpikir untuk ngajak dia makan soto biar setelahnya bisa saling kecap-kecapan sisanya di bibir, ya?” Kak Fardeen minta disiram sisa minumnya sendiri.

Aku tak tahu siapa di antara dua laki-laki ini yang paling nyebelin saat ini. Aku juga kebingungan memilih kalimat makian untuk mereka berdua saking banyaknya sampel kalimat makian yang disediakan otakku sekarang. Lalu mereka berdua kompak terbahak.

“Nih,” Kak Aiyub memamerkan layar smartphone-nya padaku. “kami sedang nyari-nyari setelan jas di online shop. Buat wisuda. Aku dan Fardeen sepakat mau mengenakan setelan yang sama saat wisuda nanti.”

“Oh…”

Kak Fardeen mengangkat tangannya untuk memanggil pramusaji. “Kamu pesan dulu, Dek.”

“Aidil udah makan di kampus tadi, Kak.”

“Minum deh kalau gitu,” balasnya.

Pada pramusaji yang datang sesaat kemudian, aku memesan segelas coke float.

“Jadi, kenapa ingin ketemu?” tanya Kak Aiyub sambil lanjut men-scrool layar smartphone-nya.

“Butuh nasihat mentor,” ujarku.

“Nasihat tentang apa?”

Aku mendiamkan diri beberapa saat di bawah tatapan dua pasang mata yang tampak bagai sedang membaca pikiranku habis-habisan.

“Oh, shit… bocah ini benar-benar sedang berpikir untuk memeriksa celana dalam pacarnya, bukan cuma ukuran, tapi seluruh bagiannya hingga ke jahitannya sekalian,” cetus Kak Aiyub.

“Iyakah?” tanya Kak Fardeen setengah membeliak.

“Bukan gitu tepatnya,” aku membela diri.

“Jadi tepatnya bagaimana? Blow job?” Kak Aiyub mengutarakan pertanyaan kedua dengan suara berbisik.

“Enggak!”

“Hemm, bukankah kita sudah pernah membahas itu, Dek?” kata Kak Fardeen.

“Iya,” jawabku.

“Terus?” tanya Kak Fardeen lagi.

“Pesona Lando membuatnya ingin melakukan sesuatu yang lebih nakal, aku dulu juga gitu…”

Kak Fardeen melirik pacarnya galak. “Mesti bilang ‘aku dulu juga gitu’?”

Kak Aiyub cengar-cengir sebentar lalu meraih gelasnya, mengosongkannya sampai kering.

“Dia mencintaiku dengan sangat, Kak…,” ujarku. “Kadang aku berpikir, dia terlalu posesif dengan cintanya. Cemburunya, sifat ngambekannya, caranya merespon gelagat-gelagat yang tidak disukainya di sekitarku, itu memperlihatkan betapa dia mencintaiku. Dan jujur saja, itu membuatku… apa ya namanya…”

“Merasa dimiliki?” usul Kak Aiyub.

“Ya… membuatku merasa bahwa aku ini kepunyaan paling berharga yang pernah dimiliki olehnya, dan dia bisa gila kalau kepunyaan yang paling berharga itu hilang…”

“Dan kamu berpikir untuk membalas cintanya yang luar bisa itu dengan berlutut di antara dua kakinya?” usul Kak Aiyub lagi.

“Bukan begitu tepatnya!” kataku nyaris hilang sabar.

“jadi, dia yang berlutut di─”

Kedatangan pramusaji dengan segelas coke float pesananku menghentikan kalimat Kak Aiyub. Setelah meletakkan pesanan di meja tepat di depanku sambil tersenyum ramah, Pramusaji itu pergi lagi.

“Oke, enam sembilan?”

Aku melotot pada Kak Aiyub, tapi dia tenang-tenang saja menunggu tanggapanku. “Bukan yang Kak Aiyub katakan, maksudku itu… emm… itu…” percakapan BBM-ku dengan Orlando dua malam lalu menari-nari di kepala.

“Ya ampun, em el, Dil. Apa susahnya sih menyebutkan dua huruf itu?” Kak Aiyub menjangkau gelas yang baru saja diletakkan pramusaji dan menyedot sebagian kecil isinya, tanpa takut-takut, apalagi malu-malu. Padahal, aku dan Kak Fardeen sedang menatapnya tajam. Setelahnya, dia berdecak-decak dan menjilati bibirnya atas bawah lalu menoleh pada pacarnya. “Ini untuk kamu rasain nanti,” ujarnya sementara tangannya kembali mendorong gelas ke posisi semula di depanku. Kak Fardeen hanya bisa mengerjap bingung menanggapi ketidakjelasan pacarnya. “Terus, apa yang jadi masalahnya, Lilbro?” lanjut Kak Aiyub santai kembali fokus padaku.

“Masalahnya, kenapa dia bisa begitu menganggap penting hal itu?”

“Aku akan menelepon Lando dan memintanya ke sini untuk menjawab langsung pertanyaanmu,” kata Kak Aiyub sembari tangannya bersiap kembali hendak menjangkau gelasku. “Sial,” katanya batal mengambil minumku. “aku mau pipis.” Kak Aiyub bangun dari kursi, “Fardeen, kamu mau ikut ke toilet? Mumpung coke float-nya masih segar.”

“Oh, please, jangan sekarang,” kataku.

“Kupikir, aku akan di sini saja.” Kak Fardeen diam sebentar, lalu memandangku, “ehem, kecuali kalau Aidil tidak keberatan kita meninggalkannya untuk ke toilet.”

“Aku keberatan,” tukasku buru-buru.

Kak Fardeen tertawa sedang Kak Aiyub berlalu pergi untuk mengeluarkan organ pipisnya ke urinoir.

“Akhir-akhir ini dia sering bertingkah gila, Dek, Kak Aiyubmu itu,” ujar Kak Fardeen sepeninggal pacarnya. “Tapi, selalu menyenangkan bisa jadi bagian dari tingkahnya itu.”

“Hemm…”

“Orlando ini, aku memang belum pernah punya kesempatan bertemu dengannya. Tapi dari cerita-ceritamu dan cerita Aiyub satu kali dulu tentang mereka, kurasa, kisah cintamu dengan Orlando lebih serius dari kisah cinta Aiyub dengannya dulu. Yah, mungkin karena saat itu mereka masih remaja labil, sedang sekarang kalian sudah sama-sama dewasa.”

Aku tersenyum. Kak Fardeen ini benar-benar sesuatu. Dia membicarakan pacarnya dan mantan pacar pacarnya dengan cara yang jarang dilakukan oleh orang lain. “Tapi, caraku dan Orlando mencintai belum sedewasa cara Kak Fardeen dan Kak Aiyub mencintai. Aku masih suka membuatnya kesal, dan dia… kalau sedang cemburu persis seperti balita yang keinginannya tidak dipenuhi.”

Kak Fardeen tersenyum menanggapi ucapanku.

Aku melipat lengan di meja dan mencondongkan badanku, “Aku kerap merenungkan ini, Kak…”

“Apa itu?”

“Ke mana hubungan kayak gini mau dibawa…”

Untuk pertama kali sejak aku mengenalnya, Kak Fardeen tampak sangat serius. Auranya yang biasa terlihat menentramkan kini tersaput riak-riak gelisah. Tapi, sekejap kemudian dia memaksakan sebuah senyum kecil padaku. “Apa kamu pernah membicarakannya dengan Orlando?”

“Belum pernah benar-benar membicarakannya secara serius, tapi… Orlando pernah mengatakan kalau dia tak peduli apa kata dunia.”

Kak Fardeen memandangku lekat, “Berarti kalian sudah pernah membicarakannya secara serius dong, setidaknya cukup serius dari pihak Orlando.”

“Bagaimana dengan kalian?”

Kak Aiyub bergabung lagi ke meja. “Ada adik-adik di toilet yang mirip Sid.”

“Siapa Sid?” tanya Kak Fardeen.

“Cinta tak kesampaiannya Kak Aiyub setelah bubar sama Orlando,” jawabku. “dia tidak menceritakannya pada Kakak?”

Kak Fardeen melirik Kak Aiyub, “jadi, itu sebabnya kamu lama di toilet?”

“Zipperku macet.”

Kak Fardeen melirik jeans pacarnya, “Itu kan celana yang sama, terakhir kali kuperiksa, tadi siang masih pake kancing-kancing, bukan zipper…”

Oh, mereka mulai lagi membeberkan aktivitas seksual mereka tanpa diminta. Kuperkirakan kejadiannya di mobil dan salah satu dari mereka sedang memegang kemudi, atau, bisa jadi mereka bergantian memegang kemudi setelahnya.

Fine, aku mengobrol dengan anak yang mirip Sid itu. Dia habis ngawani ceweknya belanja.”

“Sudah sore,” aku mengosongkan gelasku, “aku butuh tumpangan.”

Kak Aiyub meraih bil dan bangun lebih dulu menuju kasir, aku dan Kak Fardeen mengikuti meninggalkan meja.

Dua puluh menit kemudian mereka menurunkanku di depan gerbang, “Yakin gak mau mampir dulu?” tawarku sambil membuka pintu mobil.

“Enggak usah,” jawab Kak Aiyub di balik kemudi.

“Oke, makasih kalau gitu.” Aku turun dan menutup pintu mobil lalu berjalan ke gerbang.

“Dek, hei…!” Aku berbalik, kepala Kak Fardeen melongok dari kaca. “Jangan terbebani dengan ‘mau dibawa ke mana’, cinta itu punya jalan sendiri-sendiri kok.”

“Iya,” sambung Kak Aiyub, “kalau cinta tidak membawa kita ke jalan buntu, paling-paling ia akan mencampakkan kita di sepanjang jalan kenangan.”

“Jangan dengarkan dia,” tukas Kak Fardeen.

“Saat ini memang tidak,” kataku.

“Aku percaya setiap orang punya takdir cinta mereka sendiri-sendiri, Dek. Yang dibutuhkan hanya kesiapan, untuk menghadapi takdir itu, baikkah, atau burukkah. Untuk cinta seperti yang kita jalani, masalah sebenarnya bukan mau dibawa kemana, karena kita sama-sama tahu, di negeri kita, cinta seperti ini tidak akan kemana-mana. Masalah sebenarnya adalah, berapa lama kita bisa dan mau mempertahankannya.”

Di ujung kalimatnya, Kak Fardeen menyunggingkan senyuman yang tampak begitu tulus, begitu berbeda dengan ekspresinya ketika kami menyinggung hal yang sama di resto tadi. Kurasa, ucapannya barusan adalah juga jawaban buat dirinya sendiri.

“Oke,” ujarku setelah terdiam merenung untuk beberapa saat. “dan terima kasih banyak.”

“Yep.”

“Omong-omong, kenapa beli jasnya harus online? Bukankah lebih pasti kalau langsung bisa dipaskan di toko? Tanpa resiko kebesaran atau kekecilan?” tanyaku.

“Oh come on, Liltle Brother…” Wajah Kak Aiyub muncul di balik bahu pacarnya. “belanja di online shop jaman ini sudah jadi semacam gaya hidup.”

Kak Fardeen tersenyum miring padaku, “Itu idenya, Kak Fardeen tidak salah apa-apa,” ujarnya sambil menggerakkan kepalanya ke arah Kak Aiyub.

Aku tertawa. “Kalian awesome.”

“Sampai jumpa.” Kak Aiyub membunyikan horn, Kak Fardeen menegakkan badan lalu mobil mereka meninggalkan gerbang.

Aku berbalik dan masuk ke pekarangan.

Di negeri kita, cinta seperti ini tidak akan kemana-mana. Masalah sebenarnya adalah, berapa lama kita bisa dan mau mempertahankannya.

Jika Kak Fardeen benar, mungkin aku patut senang, karena Orlando pernah mengatakan ingin melewati masa tua bersama-sama denganku. Tapi… apa dunia kami mengizinkan itu?

***

Dasi itu begitu menarik perhatian, tergulung rapi dalam kemasannya yang mungil dan setengah terbuka. Bahannya berkilat-kilat, membuat warna ungu tuanya terkesan elegan. Orlando pasti akan tampan dengan dasi itu di lehernya.

“Coba lihat yang ini, Mas,” kataku pada si pramuniaga yang kutaksir usianya sepantaran denganku.

“Yang ungu?” tanyanya.

Aku mengangguk. Beberapa detik kemudian dasi itu sudah merentang di sekitar jari-jariku, bahannya lembut, apa ya nama bahan kayak gini? silk? Entahlah. Aku memperhatikan kotak kemasnya, item fashion ini bermerek. Apa uangku akan cukup ya?

“Emm, berapa, Mas? Gak ada diskonnya, ya?”

Si pramuniaga memamerkan senyum khas ala SPB. “Ini dasi impor.”

Ya aku bisa lihat itu merek impor, impor berarti gak ada diskonnya. Menyebalkan. Tapi… masa aku mau ngasih barang diskon buat seseorang yang keberadaannya begitu memberi arti dalam hidupku? Boleh-boleh saja sebenarnya, hanya agak kurang etis. Saat si pramuniaga menyebutkan harga yang diperolehnya setelah meneliti kotak kemasan, aku harus menghitung-hitung kembali uang yang kubawa. Baiklah, setelah nebus dasi di kasir aku bisa jalan kaki dari depstore ini ke halte dan nyegat angkot yang lebih murah, pikirku. Atau, aku bisa minta dijemput seseorang, tak perlu khawatir tentang ongkos angkot atau becak yang sepertinya akan kurang setelah aku mengantongi dasi itu. Kuputuskan, aku akan mengambil dasi branded yang sedang dimasukkan kembali ke kotaknya oleh si pramuniaga.

Aku menelepon Kak Saif. Baru dijawab setelah lima kali panggilan. “Gak bisa, Dil. Kak Saif sedang di lapangan basket, lagi seru ini,” kata Kak Saif. “Ini panggilan teleponmu juga sebenarnya ganggu.”

“APA!” berani-beraninya dia berterus terang begitu.

Di seberang sana kudengar suara kekehan kakakku. “Telepon Kak Adam sana, sambil pulang kerja dia mungkin bisa lewat situ.”

“Ya sudah, Aidil pikir akan nelpon Kak Lando saja.”

“Dia juga di sini, itu lagi di lapangan. Tapi, sebentar, biar kutanyakan, mungkin dia rela mengorbankan hobinya demi menjemputmu.” Aku mau melarang, tapi samar-samar kutangkap suara Kak Saif berteriak memanggil karibnya itu. Tak sampai semenit kemudian, dia sudah bicara lagi di telepon. “Kalau sampai kambing itu gak mau ngejemput, berarti baginya kamu nomor dua setelah kostum basketnya.”

Aku tertawa, “Harusnya Kak Saif gak usah ngasih tau dia.”

“Tunggu aja di situ.” Kak Saif menutup telepon.

Aku menunggu di pelataran bangunan tiga lantai ini sambil memerhatikan lalu-lalang orang dan kendaraan. Apa sebaiknya aku mulai menghitung mobil biru dan mobil merah untuk membunuh waktu sampai motor Orlando tiba? Alih-alih menghitung mobil, pikiranku malah terpusat ke ransel di punggungku. Di salah satu kantong ranselku, kotak berisi sekerat dasi untuk Orlando teronggok menunggu bersamaku.

Aku tak tahu berapa lama diriku termangu, saat mataku mengenali motor Orlando memasuki pelataran depstore, hari sudah jauh sore. Aku bergerak menyongsong motor Orlando yang berhenti belasan meter di depanku, lalu aku sadar kalau hari belum sesore yang kukira, langit yang sedang mendung membuat sore terlihat lebih sore dari keadaan sebenarnya.

“Maaf lama, ada dua titik razia yang harus kuhindari,” kata Orlando, “Gara-gara gak bawa helm, aku terpaksa mutar jauh.”

“Bandel, bukannya bawa helm.”

Dia nyengir.

Aku naik ke boncengan dan kami bergerak pergi. “Jadi, kita pulangnya lewat mana?”

“Kalau dari sini, kayaknya kita bakal melewati persimpangan ke bangunannya Zayed.”

“Oh.”

“Karena udah dekat situ, gimana kalau kita mampir ke sana?” tanya Orlando sambil menekan gas untuk menyalip sebuah sedan di depan kami.

“Apa gak kesorean? Lagian, kayaknya mau turun hujan,” kataku sambil mempererat pegangan ke pinggang Orlando saat dia kembali menambah kecepatan untuk mendahului pengguna jalan lain, kali ini beberapa pengendara motor matik sekaligus.

“Justru asyik, kan? Kita bisa pulang hujan-hujanan,” jawabnya santai.

Aku hendak menyuarakan keberatan, tapi kupikir, mungkin romantis dan bakal terkesan sesuatu juga kalau aku menyerahkan dasi di dalam ranselku pada Orlando saat kami berada di lantai paling atas bangunan itu, ditemani deru angin dan diatapi langit kelabu, syukur-syukur kalau mendung ini tidak berlangsung hingga klimaks, mungkin kami juga berkesempatan melihat matahari terbenam walau tidak sejelas biasanya. “Oke.”

Tapi harapanku kandas begitu saja ketika hujan dengan serta merta turun tepat saat Orlando sudah membelokkan motor ke jalan menuju bangunan terbengkalai itu. Tak ada tempat berteduh, satu-satunya pilihan adalah terus melaju menantang hujan, kami bisa berteduh di lantai dasar bangunan di sana. Jadi, Orlando mengebut motornya seperti ada sekawanan setan yang ikut bermotor di belakang sana hingga aku khawatir motor kami akan tergelincir di jalan.

Biasanya jika datang ke sini, Orlando akan memarkirkan motornya tidak jauh dari jalan karena tingginya ilalang dan sempitnya jalan setapak yang disisakan ilalang-ilalang itu. Tapi hari ini, dia menerabas padang ilalang itu seperti mesin pemotong rumput. Motornya baru berhenti saat kami tepat berada di bawah bangunan. Aku turun dari boncengan diikuti Orlando. Aku basah, tapi Orlando lebih kuyup lagi. Serpihan-serpihan daun kering dan bunga ilalang menempel di celana kami.

“Ranselnya basah?” tanya Orlando sambil menyingkirkan rambut yang berjuntaian di keningnya dengan tangan.

Aku melepas ranselku dan memeriksanya, “Tidak begitu basah.” Saat kualihkan lagi pandanganku dari ransel pada Orlando, laki-laki itu sedang menatapku intens, berdiri bersandar pada motornya. Kemeja lengan pendek yang sedang dikenakannya kini menyatu pada kulitnya karena kebasahan, memberiku pemandangan penuh ke lekuk-lekuk bagian depan badannya. Aku mengalihkan pandangan ke tirai hujan di luar naungan bangunan. “Hujannya deras, Kak…”

“Iya,” jawab Orlando singkat. “kurasa kita akan lama di sini.”

Aku mengitari lantai dasar bangunan dengan pandanganku. Selain graviti yang makin tebal dan rapat, tak ada yang berubah dari tempat ini, tapi dalam cuaca hujan yang sesekali diselingi petir dan keadaan temaram begini, kesan seramnya makin kentara. Sebenarnya, aku ingin menyuruh Orlando mengeringkan pakaiannya yang basah, dia dapat memerasnya. Tapi, untuk itu dia harus membuka pakaiannya terlebih dahulu, dan aku hampir yakin tak akan bisa menahan diriku untuk menyentuhnya jika dia sampai membuka kemejanya dalam keadaan dan cuaca seperti ini.

“Bagaimana kalau hujannya gak berhenti?” tanya Orlando.

“Gak ada hujan yang gak reda, Kak,” jawabku tanpa mengalihkan perhatian dari tembok-tembok penuh cat di kiri dan kananku.

Bermenit-menit setelahnya, kami melewati waktu dalam diam. Aku menghitung petir, entah apa yang dilakukan Orlando, tapi aku tahu dia masih berdiri di dekat motornya sambil memperhatikanku. Aku dapat merasakan tatapannya di punggungku.

“Ini aneh,” kata Orlando di belakangku, “biasanya aku selalu merasa paranoid jika kemari, teringat makhluk halus dan sebangsanya…”

“Makhluk halus ada di mana-mana, kita juga harus mempercayai yang gaib, kan?” balasku masih tanpa menoleh padanya.

“Anehnya, saat ini, dalam cuaca yang seperti ini, tempat ini malah membuatku berpikir lain. Bangunan ini berada jauh dari orang-orang, lokasi dan kondisi yang sangat cocok untuk melakukan pemerkosaan.”

Petir menggelegar. Ada sesuatu yang tersambar entah apa dan di mana. Dalam kaget, aku menoleh ke belakang, kutemukan Orlando malah terkekeh.

“Gotcha…!”

Sial. Aku berhasil dikerjainya.

“Kamu takut sama petir gede barusan apa takut padaku, Dil?” dia menunjuk wajahnya sendiri dengan jari, “wajahmu agak pucat. Kamu takut aku nekat memerko─”

“Jangan ngomong yang bukan-bukan!” sergahku setengah melotot padanya.

Orlando tertawa lagi, tapi tak lama. Aku berjalan ke tepi bangunan, berusaha meneliti langit yang sedang galau dan mengira-ngira berapa lama lagi ia akan menunjukkan bukti kegalauannya pada bumi.

“Dil, feeling-ku hujannya bakal lama. Apa tidak sebaiknya kamu menelepon ke rumah dan mengabarkan kalau kamu akan terlambat pulang?”

Aku tidak merespon kalimat Orlando yang disuarakan dengan setengah berseru itu. Pikiranku justru tertuju ke ucapan-ucapannya sebelum itu, ke kata dasar tak pantas yang nyaris diucapkannya hingga dua kali itu. Dia boleh bermaksud bercanda, tapi… bukankah kita mengatakan apa yang sedang kita pikirkan? Angin bercampur tempias hujan berhembus ke dalam bangunan, menerpaku dan berhasil membuatku bergidik.

Abisnya, aku harus gimana? Pacarku kan gak mau tidur denganku…’

‘ Aku pengennya tidur yang ngapa-ngapain…’

Dan kini kalimat itu berhasil mengganggu ketenanganku, memperparah kekalutan pikiranku.

Untuk cinta seperti yang kita jalani, masalah sebenarnya bukan mau dibawa kemana, cinta seperti ini tidak akan kemana-mana. Masalah sebenarnya adalah, berapa lama kita bisa dan mau mempertahankannya…’

Ucapan Kak Farden menggaung tumpang tindih dengan chat Orlando, diselingi kata-kata ‘pemerkosaan’ yang muncul berkali-kali dalam kepalaku. Bayangan liar diriku dan Orlando dalam kepalaku sebagai efek kata itu terasa begitu mengganggu, namun anehnya aku tak bisa berhenti melihatnya dalam kepalaku.

Kutatap langit gelap nun jauh di atas sana lalu kuteruskan pandanganku pada tirai hujan yang belum berubah intensitasnya. Mereka seperti mengusirku untuk masuk lebih ke dalam dan berteduh saja. Kami masih akan lama, kata langit, dan hujan membenarkannya. Pergilah ke sana dan tenggelamkan dirimu dalam pelukannya, seru hujan, lalu langit menyetujuinya.

Kubalikkan badanku, beberapa meter di depan sana, masih bersandar setengah duduk di motornya, tatapan Orlando membalas tatapanku. Masih memandanginya, kurogoh ponsel dari saku celanaku yang lembab dan kupencet keypad redial. “Halo, Kak Saif, bilang sama Bunda, Aidil akan terlambat sampai di rumah. Kami terjebak hujan…”

Kumasukkan kembali ponselku ke saku setelah Kak Saif mengiyakan permintaanku. Dalam perjalanan melintasi jarak menuju Orlando, kujatuhkan ranselku ke lantai bobrok dan tidak kupedulikan lagi keberadaannya.

Orlando tidak bersuara, hanya menatapku dengan matanya yang gelap itu. Saat jarakku kian dekat padanya, seakan memahami gelagat yang kutunjukkan, seakan bisa membaca isi kepalaku, dia beringsut untuk lebih bersandar ke motornya dan merenggangkan tungkainya untuk menerimaku.

Aku masuk begitu saja ke ceruk yang disediakan tubuhnya untukku, lalu aku menciumnya di bibir, satu kali, tanpa menutup mataku. Kuangkat kedua tanganku dan kutaruh di dadanya yang bidang. Kemejanya benar-benar basah. Kami bertatapan. Lalu aku yang tiba-tiba menguap lebar merangsangnya untuk tersenyum. Dia menarikku ke arahnya.

Saat kutempelkan lagi mulutku ke mulutnya─kali ini aku memilih untuk memejamkan mataku, dia menyentuh lembut kedua sikuku yang telanjang, kulit telapak tangannya terasa hangat di kulitku. Ketika aku menggigit pelan bibir bawahnya dan Orlando mendesah pelan, kedua tangannya perlahan meninggalkan sikuku untuk kemudian bergerak menyusup ke balik kemejaku. Dia membelai perlahan kulit punggungku, begitu perlahannya hingga aku nyaris yakin akan butuh waktu seribu hari baginya sebelum seluruh permukaan kulitku berhasil dijamah tangannya.

Aku melepaskan ciuman kami dan kubuka mataku. Selagi kami saling balas memandang dalam jarak begitu dekat, selagi kurasakan jemari-jemarinya untuk sejenak bergeming pasif di sekitar punggung dan pinggangku, selagi ketemukan bagian bawah pinggang kami saling membentur, selagi guruh hujan dan guntur petir masih merajam bumi di luar sana, aku membuka satu persatu kancing kemejanya tanpa bersuara dan tanpa dicegah. Setelah semua kancing berhasil kubuka, aku mundur setengah langkah, cukup jauh untuk bisa leluasa menanggalkan pakaianku sendiri sambil melihatnya melepaskan kemejanya, tapi masih cukup dekat untuk dijangkau kedua lengannya jika dia ingin menjamahku.

Orlando berdiri memisahkan diri dari motornya bertepatan dengan aku yang berhasil melepaskan bajuku. Kini di lantai, selain ranselku, dua helai kemeja milik kami ikut menggeletak begitu saja, sama-sama tidak dipedulikan lagi. Orlando menjangkau pinggangku dan menarikku ke arahnya dengan sebelah tangan sementara tangannya yang lain menyentuh wajahku. Dingin yang sempat kurasakan saat bajuku meninggalkan badanku dengan serta merta berganti rasa hangat ketika diriku bersentuhan dengan Orlando. Bibir Orlando bergerak-gerak seakan hendak berkata-kata. Aku menunggu dia bersuara, tapi tak ada. Alih-alih dia malah mulai membelai wajahku.

Sementara Orlando meneliti wajahku dengan jari-jarinya, aku mencoba menyeberangkan kedua tanganku dari dadanya yang berdetak teratur menuju perutnya. Kian tanganku dekat dengan pinggang celananya, kian Orlando mengendurkan belitan lengannya di pinggangku. Aku tidak menemukan kesulitan untuk membuka kancing paling atas celananya dan beberapa kancing lagi pengganti zipper setelahnya. Tangan Orlando meninggalkan wajahku dan turun ke pinggulku, kemudian kusadari kalau kedua kakiku sudah menggantung dan kedua pahaku mengapit pinggangnya. Kini posisi wajahku lebih tinggi di atas Orlando, dia mendongak menatapku, aku tidak tahan untuk tidak menunduk dan memenuhi undangan dari bibirnya. Jemariku menyusur di kepala Orlando, di antara helai-helai rambutnya yang basah. Air menetes-netes dari ujung rambut Orlando ke bahu lebarnya sementara bibir kami berpagutan seakan tak mau lepas lagi. Lalu kurasakan Orlando bergerak setengah lingkaran dan sadar-sadar diriku sudah berada di sadel motor, membelakangi posisi setang. Orlando menarik dirinya dan aku berusaha menyamankan kedua tungkaiku di kiri kanan motor.

Kemudian tanpa bicara, Orlando menundukkan pandangan ke pinggangku diikuti kedua tangannya yang menuju ke sana dan dalam sekejap dia sudah berhasil membuat wajahku merah semerah-merahnya. Jujur saja, dengan kondisi pinggang celanaku tersibak sedemikian rupa, meski belum telanjang, tapi rasanya bagiku itu lebih telanjang dari kondisi telanjang yang bagaimanapun. Aku tak berani menatap Orlando, tidak juga mampu menunduk dan mendapati kondisiku yang paling telanjang itu, jadi, aku menoleh ke sisi kiri. Meski begitu aku masih cukup sadar untuk mengetahui kalau Orlando sudah melakukan hal yang sama pada celananya sebelum memposisikan dirinya di atas motor bersamaku, tepat di depanku. Kami berhadap-hadapan, kaki kiriku dan kaki kanan Orlando berada di sisi motor yang sama sedang kaki kirinya dan kaki kananku di sisi sebaliknya. Aku berdoa dalam hati agar motor ini tidak miring dan menjatuhkan kami dari atasnya.

Aku seperti tersengat bara api ketika Orlando menyatukan bagian depan tubuh kami. Tangan kanannya menyentuh daguku dan memaksaku untuk menatapnya beberapa saat sebelum dia menempelkan bibirnya ke pangkal leherku. Aku khawatir gigitannya di sana akan meninggalkan jejak. Namun aku tak bisa lama-lama berpikir, karena masih sambil menjelajahi leher dan bagian atas dadaku, Orlando meraih satu dari dua tanganku yang sebelumnya hanya bisa bergeming di kedua pundaknya untuk dituntunnya ke tempat lain. Aku sadar kalau bagian paling pribadi dari diri Orlando yang tak akan pernah bisa dilihat apalagi dijamah sebarang orang, kini sedang berada di dalam jari-jariku, panas dan hidup. Aku tak bisa mencegah getaran di sekujur tubuhku. Karenanya, Orlando merasa perlu memelukku, mungkin dia mengira aku kedinginan, padahal aku tepat sedang mendidih. Wajah kami bersebelahan. Aku menunduk ke pundaknya, menggigitinya sementara dia mengerang halus saat kugerakkan genggamanku dalam ritme yang lambat-lambat dan teratur. Aku membelai punggung Orlando dengan tanganku yang bebas, mengakrabi tekstur otot-otot di sekitar bahu dan pinggangnya sebelum dengan geram kutancapkan kukuku di susunan tulang belakangnya yang membentuk parit dangkal.

“Akh…”

Orlando melenguh, menyusurkan mulutnya di sekitar daun telingaku sebelum mengecup kepalaku yang masih menunduk di pundaknya. Lalu dia mendorongku perlahan hingga punggungku menabrak bagian tangki motor. Orlando memajukan dirinya lalu mencondongkan dirinya ke arahku sedemikian rupa, membuat posisiku nyaris setengah rebah di atas motor. Aku membebaskan tanganku dari celah perut kami dan merangkul pinggangnya. Orlando memposisikan paha kananku ke atas paha kirinya, menyamankan posisi kami di ruang yang terbatas itu. Lalu dia menciumku sambil bergerak naik lalu turun lalu naik lalu turun lagi di atasku. Pelan dan pasti, Orlando mulai menciptakan friksi yang tepat di sekitar pinggang dan perutku.

Aku mengerang di sela-sela lumatan bibir Orlando. Tanpa bisa kucegah, punggungku melengkung bagai busur panah ke arah laki-laki ini, membuat friksi yang sedang dibuat olehnya untuk kami makin kentara kurasakan, juga setiap pahatan otot yang dimilikinya.

Aku mengeratkan rangkulanku di pinggangnya. Otot-otot lengan Orlando yang bertumbu di atas tangki motor kian mengencang. Gerakan naik dan turunnya berubah cepat dan pendek, membuat sosokku menghentak-hentak mengikuti gerakannya. Aku sangat sadar kalau motor yang menahan kami juga ikut terguncang-guncang. Aku menyembunyikan wajahku ke dadanya dan dia menunduk ke rambutku.

Aku tak tahu lagi apakah hujan masih mengguyur, ataukah langit masih berduka cita. Detik-detik bergulir dan tergelincir di atas motor ini, menit-menit saling mengejar dan terjajar di sekitarku dan Orlando, entah sudah berapa lama. Aku tak tahu pasti, kuyakin Orlando juga tidak.

Namun, aku akan ingat beberapa detik berharga dalam menit ini. Mungkin tak akan pernah kulupakan sampai akhir hayat. Orlando─yang hampir kelelahan, berkeringat, rahang mengeras, helai-helai rambut yang setengah mengering bergerak-gerak di sekitar kening─menggeram ketika mendapatkan orgasmenya bersamaku, pertama kalinya bersamaku. Ini juga orgasme pertamaku yang kudapatkan lewatnya.

Untuk beberapa saat, Orlando bagai menumpukan bobotnya padaku. Napas kami masih memburu sebelum berangsur-angsur berubah normal beberapa menit kemudian. Aku berusaha menundukkan pandangan ke perut kami, mencari-cari bukti orgasmeku dan Orlando, keadaan hari yang nyaris gelap menyusahkanku untuk menemukan itu. Lalu dia menegakkan badan, menarikku untuk bersandar ke dalam pelukannya dan mulai melafaskan namaku berkali-kali bagai sedang meninabobokanku dengan namaku sendiri…

“Aidil…”

Orlando membelai pipiku.

“Aidil…”

Orlando membelai pipiku.

“Aidil…”

Orlando membelai pipiku.

“Aidil, hei…”

Dia mulai menepuk-nepuk lembut pipiku.

“Hei…” Tepukan di pipiku makin kuat. “Hei, Aidil, bangun… hujannya reda. Atau kamu mau kita bermalam di sini?”

Aku membuka mata. Yang kutangkap pertama kali adalah keremangan di sekitarku. Setelahnya Orlando yang sedang memelukku. Setelahnya kepalaku yang bersandar di dada Orlando. Setelahnya aku yang duduk menyamping dan Orlando yang duduk mengangkang di atas motor. Setelahnya ranselku yang tergeletak di lantai beberapa meter di sana. Tak kutemukan kemejaku atau kemeja Orlando di lantai.

Aku menegakkan dudukku dan memutar kepala untuk dapat memeriksa seluruh lantai. Tak ada kemeja yang entah berapa puluh menit lalu kami tanggalkan. Apakah makhluk halus penghuni bangunan tua ini mengambilnya. Berpikir demikian, bulu-bulu di tengkukku jadi siaga satu.

“Ada apa sih?” Orlando menjenguk ke wajahku.

“Baju kita, harusnya ada di sana,” kataku sambil menunjuk bagian lantai tak jauh dari motor, tempat kuperkirakan kemeja kami tadinya tergeletak.

Orlando mengernyit, memandang bergantian antara wajahku dan lantai yang kutunjuk. “Kamu belum sepenuhnya bangun, ya?” kembali dia menepuk-nepuk pipiku, sekarang kiri dan kanan sekaligus.

“He?” aku mendongak padanya dan rasa gatal di perut membuat tanganku melakukan gerakan menggaruk. Aku sontak menunduk ke perutku dan kusadari kalau diriku masih mengenakan bajuku, kancing celanaku juga tidak sedang terbuka seperti yang kuyakini. Aku masih bingung. Kupandangi Orlando, dia juga masih mengenakan bajunya. Kusentuh ujung badan kemejanya dan kusingkap ke atas.

“Eh?” Orlando yang kaget dengan tingkahku refleks memegangi tanganku. “kenapa tarik-tarik baju?” tanyanya.

Aku mengerjap-ngerjap memandangi selangkangan Orlando dan sebagian perutnya yang tersibak. Kancing-kancing celananya terpasang rapi, tak ada tanda-tanda baru saja dibuka.

Aku mendongak menatap Orlando. “Kamu ingat?”

Masih bingung, Orlando menatapku penuh tanda tanya. “Ingat apa?”

“Yang kita lakukan tadi?”

Mata Orlando bergerak liar beberapa saat seakan sedang mengingat-ingat. “Maksudmu, kamu yang tertidur sambil kupeluk?”

Sekali lagi, aku meneliti selangkangan Orlando, bahkan mengulik kancing jeansnya.

“Mau kubukain untukmu?” tanya Orlando. “bangun tidur mungkin membuatmu ingin mengemut sesuatu…”

Aku mendongak memandang Orlando lagi. “Aku… tertidur?”

“Yep, tepatnya terlelap dalam pelukanku,” jawabnya sambil tersenyum. “aku suka kamu tidur dalam pelukanku kayak tadi.”

Mustahil. Kejadian tadi terlalu nyata untuk disebut mimpi. Sungguh. Terlalu nyata. “Kupikir… kupikir… aku tidak tertidur…”

“Kamu menjatuhkan ranselmu di sana…” tunjuk Orlando pada ranselku di lantai, “lalu kemari dan menciumku satu kali sebelum memelukku. Aku kira kamu kedinginan, jadi kita duduk sambil berpelukan di atas motor. Eh ternyata beberapa menit kemudian kamu malah ketiduran…” Tangan Orlando naik ke kepalaku dan melakukan beberapa kali gerakan memutar, membuat rambutku mencuat ke segala arah. “pegel tahu nahan bobotmu,” lanjutnya, “tapi… rasanya menyenangkan jadi tempatmu bersandar, meski cuma untuk tidur siang… eh, tidur sore…” dia cengengesan.

Aku menghembuskan napas panjang. Tak habis pikir pada kenyataan bahwa percintaanku yang klasik dan panas sesaat tadi bersama Orlando cuma berlangsung di alam bawah sadarku. Jujur saja, aku seakan masih bisa merasakan ukuran dan keadaan organ vital Orlando di telapak tangan kananku. Gila sekali. Yang lebih gila lagi, di kepalaku masih tergambar jelas ekspresi Orlando ketika mendapatkan orgasmenya, lengkap dengan suara geraman dan lenguhannya. Amat sangat gila sekali. Tapi rupanya itu hanya mimpi indah di sore dingin dan berhujan ini. Aku tidak tahu harus senang atau kecewa.

“Sana, ambil ranselmu. Nanti keburu hujan lagi.”

Aku meloncat turun dari motor dan berjalan gontai untuk memungut ranselku. Orlando menyalakan motor dan menghampiriku. Aku naik ke boncengannya, menempelkan sebelah pipiku ke punggungnya, memeluknya erat. Sejenak kemudian ketika motor kami melintasi padang ilalang menuju jalan besar, aku merasa pilu sendiri. Sesaat tadi, tepat pada momen yang kupikir benar-benar terjadi, aku mengira sudah memberikan apa yang Orlando inginkan, apa yang mulai kuyakini dengan ragu-ragu juga kuinginkan, apa yang kupikir adalah sebuah tonggak penting yang akan mempertahankan takdir cinta kami, ternyata aku hanya mengira dan berpikir di dalam mimpi.

“Orly…,” panggilku lirih.

“Ya? Ngantuk lagi?”

Di balik punggungnya aku tersenyum. “Aku ingin, kapan-kapan, kamu mengajariku cara bercinta…”

Hening.

Aku tak yakin laki-laki ini mendengar suaraku dengan jelas. Angin masih menderu-deru meski hujan sudah sepenuhnya berhenti. “Kak Lando?”

“Hemm…”

“Kak Lando dengar tidak yang kukatakan barusan?”

Orlando menolehkan kepalanya sekilas ke samping sebelum kembali memandang jalan. “Aku juga belum pandai bercinta, Dil… tapi… kalau kamu ingin belajar caranya dariku, kupikir aku akan berusaha mendapatkan kitab kamasutra untuk kita berdua.”

Aku tertawa, dan tawaku tertular padanya. “Aku lebih setuju kalau kita lupakan saja tentang kitab kamasutra entah apa itu dan belajar sama-sama satu sama lain, dengan cara kita sendiri. Bagaimana menurutmu?”

Diam sejenak, laju motor Orlando sudah melambat sejak beberapa saat lalu. “Apa aku harus beli kondom? Kamu suka rasa apa?”

Aku terbahak. “Aku pikir, aku lebih suka yang tanpa dibungkus, lebih original. Tapi, kalau kamu ingin kita bereksprimen dengan rasa, kukira kondom rasa soto Kang Umay pasti bakal seru…”

Orlando terbahak hingga laju motor berubah zig zag untuk beberapa detik. “Baiklah, kita bisa merendamnya dalam kuah soto Kak Umay selama tujuh hari tujuh malam, tenang saja.”

“Dan di hari ke delapan, kondomnya jadi basi.”

Aku menaikkan tangan kiriku ke dadanya, memeluknya lebih erat. Orlando menempatkan tangan kirinya di atas punggung tangan kiriku, dan masih di sana nyaris sepanjang perjalanan pulang menuju rumah.

“Jadi, kenapa bangun tidur tadi tingkahmu berubah aneh?” tanya Orlando saat menurunkanku di gerbang.

Aku berpikir-pikir untuk menjawab jujur, tapi pasti itu memalukan. “Aku mimpi kita kecebur sungai dan baju kita basah, jadi kita menjemurnya di lantai bangunan itu. Jangan tanya bagaimana sungai dan lantai bangunan itu tiba-tiba jadi karib begitu, aku gak tahu alasannya, semua hal mungkin saja terjadi kalau itu mimpi, kan?”

Orlando manggut-manggut. “Mimpi yang aneh.”

“Iya.”

“Kukira, kamu mimpiin kita bercinta di atas motor. Saling pagut dan saling gesek sampai sama-sama pipis di celana.”

Mataku membeliak. Bagaimana dia bisa tahu? Untuk sejenak, aku mulai meragukan keyakinanku kalau kejadian di atas motor itu adalah mimpi. Mungkin sebenarnya aku tidak tertidur saat itu. Aku memang sempat tertidur, tapi bisa saja aku tertidur setelahnya,karena kelelahan setelah kami bercinta. Lalu selagi aku tertidur, Orlando yang jail berusaha mengaburkan ingatanku dan membuatku bingung dengan sengaja menutupi jejak-jejak percintaan kami, merapikan celanaku dan celananya, serta memakaikan diriku dan dirinya kemeja. Aku menolak untuk memikirkan lebih jauh bagaimana cara dia menjangkau kemeja di lantai sementara kami masih di atas motor dan memakaikannya kemudia. Akan banyak penjelasan logis dan tak logis jika aku memilih memercayai kalau kejadian itu bukan mimpi, begitu sebaliknya.

Kupandang Orlando, mengapa laki-laki itu malah memberiku seringai mencurigakan begitu?

“Aku pulang, mau mandi, badanku lengket. Dah, Dil…”

Belum sempat aku menanyainya lebih lanjut, Orlando sudah melesat menuju rumahnya.

Aku berbalik dan tergesa-gesa berjalan menuju rumah. Setengah berharap kalau aku akan menemukan bercak-bercak sperma yang bukan hanya milikku di sekitar perut dan celanaku saat aku memeriksa nanti. Entah bagaimana caraku bisa membedakan jika memang kutemukan apa yang setengah kuharap itu. Mengingat tak ada ciri-ciri spesifik yang bisa membedakan sperma milik siapa dari milik siapa secara kasat mata, aku pasti akan mengalami kesulitan. Dan, selalu ada kemungkinan kalau aku sempat mimpi basah, dan semua yang kutemukan─jika memang kutemukan─adalah milikku sendiri.

Begitu fokusnya aku pada hal membuktikan ini hingga tak sedikitpun perhatianku tertuju pada sekerat dasi yang tergulung apik di kantong ranselku. Sama sekali tidak, sampai aku menyadari sudah melewatkan kesempatan memberikannya buat Orlando di bangunan terbengkalai yang selalu disebutnya bangunan Zayed…

 

 

Awal January 2016

Dariku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com