ulat_bulu_cover

an Al Gibran Nayaka failed story

####################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

1

2

Jujur, masih suka blushing2 sendiri tiap baca pesan2 di atas, yang paling bikin ngakak ya itu, bagian yang aku stabiloin warna merah, hehehehe. Semoga kalian menikmati membaca Ulat Bulu seperti aku─Pakcik Nayaka LOL─menikmati ketika menulisnya. Dan, trims buat temanku Yuda ‘@kaktusius’ Agustian atas kover cantiknya lagi. You’re the best, Bro!

####################################################

Rok mini biru-putih itu melambai-lambai dipermainkan angin sore, menggodaku untuk memerhatikan tanpa berkedip sosok-sosok seksi pasukan cheerleaders sekolahku yang sedang berlatih di dekat lapangan basket. Mayang yang jadi ketua tim cheers nyaris membuat rahang bawahku lepas. Celaka, kenapa dia harus meloncat begitu rupa? Oh, shit… celana dalamnya merah muda sekali. Mendadak aku merasa kalau ukuran celana dalamku sendiri mulai menyusut secara ajaib dari L ke M lalu ke S.

“Kha, umpan…!!!”

Aku menoleh, hanya untuk menerima operan dengan mukaku.

PAAAM

Kudapati untuk sedetik burung-burung beterbangan, bintang-bintang berjatuhan, dan kunang-kunang berseliweran dengan bokongnya yang gemerlapan di sekitar kepalaku. Aku terjengkang di lantai lapangan basket yang keras. Ini disaster.

“Aduh, sori…!”

Aku mendongak dan menemukan Galih tergesa-gesa menghampiriku. Amarahku menggelegak saat menyadari apa yang baru saja terjadi. Operan Galih yang terlalu kencang menghajar mukaku dengan telak. “Lo mau bunuh gue, hah?!?” teriakku sebelum kurasakan sesuatu mengaliri lubang hidungku.

“Hidung lo,” gumam Galih yang mulai pucat. Rekan-rekan basketku mulai mengerubungi.

Kusentuh hidungku dengan jari. Basah. Sial, hidungku berdarah. Ini karma rok mini biru-putih dan celana dalam merah muda Mayang, tak salah lagi. Kupencet hidungku lalu bangkit berdiri. Aku tak yakin sesore ini masih ada siswa piket di UKS, tapi hidungku butuh pertolongan. “Gue ke UKS deh! Latihannya udahan hari ini.”

“Lo butuh dikawani?” Galih sepertinya sedang berusaha menebus dosa.

“Berani lo ngekorin gue, tiba di sana lo juga bakal dirawat dengan keluhan gigi rontok!”

Galih batal menyusul langkahku. Saat melewati pinggir lapangan dan menemukan bola basket menggeletak begitu saja, kusalurkan kekesalanku pada Galih dengan menendang benda bundar itu hingga menggelinding jauh menuju pagar pekarangan sekolah. Dari ekor mata, kulihat Galih berlari menyusul bola sebelum benda itu bergulir lebih jauh menuju selokan.

*

“Hei, apa masih bisa berkunjung?”

Aku tiba di UKS dengan wajah horor dan sulit bernapas. Darah mulai mengaliri jemariku, kupencet hidungku makin kuat. Sosok berseragam putih-abu-abu yang baru saja menutup pintu ruang UKS itu membalikkan badanya menghadapku. Aku langsung malas dan ingin berbalik pergi saja. Kenapa yang piket sekarang harus anak itu? Sejenak kami berpandangan, membuatku jengah. Aku sudah siap hendak membentaknya ketika dia kembali menghadap pintu dan memasukkan kunci. “Iya, masih bisa,” jawabnya datar lalu mendorong daun pintu hingga membuka.

Satu sekolahan ini tahu gosipnya. Paris, siswa Kelas X yang imut dan pintar menggambar itu, tidak suka cewek. Sebenarnya, kalau tidak memikirkan kondisi hidungku, ingin saja aku mencegahnya membuka kembali pintu UKS yang sudah dikuncinya sesaat tadi dan bergegas pergi. Terakhir kali teman sekelasku, Petra, sempat digosipkan punya hubungan khusus dengan anak itu hanya gara-gara mereka pernah terlihat satu kali datang bersama ke sekolah, berboncengan dengan motor Petra. Dan selama sebulan, kepada semua orang yang menggosipkannya, Petra dibuat sibuk menjelaskan kalau dia tinggal sekomplek dengan Paris dan hari itu kebetulan berpapasan dengannya di gerbang komplek. Kasihan Petra sampai harus pontang-panting membela status kelelakiannya demikian rupa di depan semua orang.

Hanya karena membonceng Paris satu kali saja, Petra butuh sebulan untuk meredakan rumor. Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk membersihkan imejku jika ada gosip yang beredar bahwa aku berduaan dengan Paris di UKS, saat sekolah sedang sepi? Hanya Tuhan di atas arash yang tahu.

“Kalau Kak Sakha tidak jadi berobat, sebaiknya aku menutup kembali pintunya?”

Untuk sejenak aku terpegun. “Lo tahu nama gue?”

Wajahnya datar saja ketika menjawab. “Jika aku sampai tidak tahu nama kapten tim basket sekolahku, statusku sebagai salah satu siswa sekolah ini patut dipertanyakan. Kupikir tak ada siswa di sini yang tidak tahu namamu.”

Darah hampir menetes dari tepi telapak tanganku. Kugunakan tanganku yang bebas untuk menyekanya sambil dalam hati setuju dengan jawaban adik kelasku ini. Ternyata, aku cukup beken juga. Tapi, mengapa Mayang tidak juga bergenit-genit padaku? Apa dia menungguku takluk pada rok mininya lalu menyerahkan diriku padanya dengan sukarela? Seharusnya dia tahu kalau aku sudah lama bertekuk lutut pada pesona rok mininya itu.

“Baiklah, kupikir aku akan menutup pintunya dan pulang saja.” Paris memperbaiki letak tali tas selempangnya dan bersiap keluar.

“Kalau lo pulang, gue bisa kehabisan darah dan jadi vampir. Kalau sampai gue mati kehabisan darah, lo orang pertama yang bakal gue hantui,” semburku. Paris kembali mempentangkan daun pintu. Aku melangkah masuk ragu-ragu sambil dalam hati berdoa semoga tak ada warga sekolah khususnya siswa ekskul yang melintas di depan ruang UKS dan memergokiku.

Aku berbaring di dipan berseprei putih bersih sambil masih memencet hidungku. Paris meletakkan tasnya di salah satu kursi dan mendekat ke meja peralatan di samping tempatku berbaring. Dengan cekatan dan terlatih, anak itu membuntal kapas dan kasa lalu mengahadapku. Hal pertama yang dilakukannya adalah menjauhkan tanganku dari hidungku. Kesan pertama yang kurasakan adalah, kulit telapak tangannya sehalus pantat bayi.

Aku meringis ketika jemari Paris menggantikan jari-jariku menjepit hidungku. “Nabrak tiang ring?” tanyanya sambil mulai membersihkan luberan darah di sekitar hidung dan bibirku dengan kapas yang terasa dingin di kulit.

Pasti lebih memalukan jika kukatakan kalau wajahku dihantam bola. “Iya. Lompatan gue ketinggian.” Saat kulihat kening Paris bertaut, aku sadar sudah salah berucap.

“Nabrak tiang ring apa papan pantulnya?”

“Papan pantulnya,” bohongku.

Paris hanya membulatkan bibirnya yang merah muda, seakan menabrak papan pantul adalah hal yang lumrah terjadi, padahal tidak. Lalu aku menemukan bibirnya berkedut-kedut lucu ketika dia mulai serius menangani mimisanku. Sial, kenapa aku malah memerhatikan bibirnya?

Hidungku disumbat kapas, untuk sementara waktu, kata Paris. Tulang hidungku yang katanya memar ditempelinya dengan koyo menthol. Dia mundur untuk membereskan peralatannya setelah membersihkan jari-jari tanganku dari darah setengah mengering menggunakan kapas alkohol. Setelah memastikan meja peralatannya teratur, Paris mendudukkan dirinya di kursi dan memandangi dinding.

Aku bergerak bangun dari dipan.

“Sebaiknya kamu berbaring beberapa menit lagi. Itu bisa mencegah perdarahan berlanjut,” katanya serius sambil menatapku. Lalu kurasakan pandangannya turun ke dadaku. Aku menunduk ke dadaku dan menemukan bercak darah di kostum basketku. Saat kuangkat pandanganku untuk memandang Paris, anak itu sudah mengalihkan perhatiannya kembali ke dinding yang sama putihnya dengan warna seprei. Tadinya, kupikir aku akan menemukannya sedang memandangi bagian pinggangku. Bukankah biasanya homo berbuat begitu? Tapi, kenapa Paris tidak? Atau, aku bukan tipenya? Mustahil sekali. Semua cowok cakep pasti tipenya semua gay.

*

Aku ingin terus berlalu dengan motorku dan tidak memedulikan keberadaannya yang sedang menunggu angkutan di dekat gerbang sekolah. Tapi sisa-sisa naluri kemanusiaan dalam diriku membuatku mengerem motor setelah meninggalkannya kira-kira sejauh tujuh meter di belakang. Tak ada salahnya menunjukkan sedikit balas budi, tak akan ada yang memergoki, sekolah sudah lengang.

Aku berdiri menunggu bersama motorku, tidak menoleh dan tidak menawarkan. Kukira anak itu pasti cukup pintar untuk menyimpulkan kalau aku bukan sedang menunggu si komo lewat. Tapi hingga dua menit kemudian, aku belum juga merasakan kehadirannya. Ternyata tidak semua orang diberkahi kepekaan untuk membaca bahasa tubuh. Aku menoleh ke belakang. Pantas saja anak itu tidak tahu, dia tidak sedang memandang ke arahku. Atau, pura-pura tidak sedang memandangku.

“Woooiii…!!!”

Di tempatnya berdiri, dia tersentak, menoleh padaku lalu menunjuk dadanya sendiri. “Aku?”

“Bukan! Itu, tiang telepon di sebelah lo!” kataku gusar, dia masih terpegun. “Iya, lo, Paris! Memangnya ada orang lain selain lo di situ?” Kudapati dia kian terpegun, aku bahkan bisa melihat matanya membulat. Dan, apa itu? Mengapa matanya kelihatan berkilat-kilat begitu? Aku sadar sudah jauh terlambat untuk membatalkan niat kemanusiaanku ketika kutawarkan sadel motorku buatnya. “Ayo gue anterin pulang!”

Dia mendekat kayak orang linglung, memandangku dengan ekspresi aneh. Tidak, bukan aneh. Kupikir itu adalah tatap mendamba. Damn. Dia memandangku seolah-olah dirinya adalah tanah tandus dan aku adalah awan mendung yang melintas di atasnya. Pada detik ini, aku menyesal menurutkan rasa kemanusiaanku. Cara anak di depanku ini menanggapi kemanusiaanku membuat bulu di tengkukku bagai hendak tercerabut dari tempat tumbuhnya.

“Kamu…,” ujarnya nyaris terbata, “tahu namaku?”

Tik tok tik tok tik tok.

“Kamu tahu namaku?” ulangnya, kali ini lebih lancar.

Kirk kirk kirk

Lalu dia tersenyum kecil dan ceruk serupa lesung di sebelah pipinya untuk sejenak menimbulkan efek psikotropika padaku sebelum kudapatkan egoku kembali. “Anak-anak satu sekolahan tahu nama jelek lo, kenapa gue harus gak tahu?”

Ada yang salah pada susunan saraf anak ini. Padahal aku jelas-jelas sedang mengejek namanya, tapi dia malah kian lebar memamerkan senyumnya. “Kukira Kak Sakha gak tahu…”

Aku membuat kebisingan dengan menekan gas motorku hingga mengeluarkan suara berderum-derum. “Gue buru-buru. Kalau lo mau diantar sebaiknya naik ke boncengan sekarang juga.” Tapi, saat Paris sudah duduk di boncengan dan melingkarkan kedua lengannya ke pinggangku, mendadak aku jadi bingung sendiri. Sama sekali tidak terpikirkan dalam kepalaku─yang akhir-akhir ini cuma berisi seragam cheers Mayang─kalau dengan membonceng Paris maka aku bakal dihadapkan pada kondisi seperti ini. Aku menunduk ke pinggangku, memerhatikan lengan halus dan putih milik Paris yang melingkar di sana. Kuseka hidungku dengan punggung tangan kiri dan segera sadar kalau hidungku masih nyeri. Aku meringis.

“Kenapa, Kak?”

“Eng… umm…” Aku kesulitan berbicara. Ingin saja aku berteriak menyuruhnya turun dari motorku lalu mengemudi pergi darinya seperti kesetanan, tapi kemanusiaanku melarangnya. “Enggak kenapa-kenapa,” jawabku. Tapi seolah mengerti kegusaranku, Paris perlahan menarik kedua lengannya sampai benar-benar meninggalkan pinggangku. Alam semesta tahu betapa leganya rongga dadaku karenanya.

Aku mengemudi. Menghindari polisi tidur. Menghindari lubang di jalan. Menjaga kecepatan di batas aman. Menjaga agar tidak bergeser dari posisi dudukku. Dan berusaha untuk tidak mengerem mendadak. Semua itu demi agar Paris tidak merosot ke depan dan menempeliku. Nyaris sepanjang perjalanan, aku merapal doa agar sosok di balik punggungku tidak mengambil kesempatan langka menggrepe-grepe kapten tim basket sekolahnya.

***

Aku berusaha tidak peduli. Tapi tawa heboh itu makin mengusik kenyamananku di kursiku. Seseorang di kelompok Ronan sepertinya baru saja dengan sengaja melintangkan kakinya ketika anak itu melintasi meja mereka. Akibatnya, dia terjerembab ke lantai kantin dan merangsang tawa heboh pertama dari cowok-cowok di meja Ronan. Sebenarnya, jika dia hanya terjerembab seperti biasa dan semangkuk bakso tidak meluncur seperti sengaja dijatuhkan dari meja ke atasnya lalu merangsang tawa heboh kedua, aku akan tetap tidak peduli. Tapi kali ini dia tidak hanya terjerembab.

Kudorong mangkuk baksoku lebih ke tengah meja lalu bangkit berdiri. Entah apa yang sedang kulakukan. Rasanya aku melangkah tanpa sadar, tahu-tahu saja aku sudah berada di sekitar meja genknya Ronan, dan tanganku sedang terulur. “Lo gak apa-apa?” Pertanyaan bodoh macam apa ini? Dia baru saja dipermalukan, dan seragamnya basah kuah bakso, meninggalkan noda merah saus bercampur kecap. Siapapun yang memandangnya tahu kalau dia tidak baik-baik saja. Dan aku justru mengeluarkan pertanyaan bodoh itu.

Dia meraih tanganku, kutarik dia untuk berdiri dari lantai yang penuh ceceran mie juga beling mangkuk bakso. “Makasih,” ujarnya singkat lalu menunduk dalam. Pasti dia terlalu malu mengangkat wajah dan menantang tatap geli serta ekspresi mengejek dari seluruh warga kantin.

Aku sadar, ternyata suasana kantin sudah hening. Kupandang Ronan yang terlihat santai saja di kursinya. “Lo semua udah keterlaluan tahu gak?!?”

“Dia jatuh sendiri. Anak lembek kayak Paris gitu, ditiup angin dikit juga pasti berkaparan,” kata Ronan datar. Teman-temannya sontak tertawa lagi.

“Bagaimana dengan mangkuknya, hah? Apa juga bergeser sendiri?”

“Sepertinya iya, apa itu masalah buat lo?”

Aku mengeraskan rahang.

Ketika jemari Paris bergerak-gerak, aku baru sadar kalau sedari tadi masih menggenggam tangannya. Sontak kulepaskan peganganku. Setelah ini, aku pasti akan diterpa gosip. Apa yang terjadi padaku? Harusnya aku tidak ke mari. Bukankah selama ini aku tidak peduli terhadap apapun bentuk kejailan Ronan cs pada Paris? Kenapa aku harus mulai peduli hari ini? Anak itu hanya memberi koyo pada hidungku minggu lalu, hanya koyo, bukan hal besar.

Paris sudah akan bersiap pergi ketika bentakan Ronan membuat langkahnya urung. “Heh, lo mau ke mana? ganti dulu bakso gue!” Ronan sampai berdiri dan bertumpu lengan pada meja, seperti sengaja memamerkan kepalan tangannya.

Paris merogoh dompetnya. Aku membelalak. Seharusnya aku sudah pergi sejak tadi, tapi kini kudapati diriku malah sedang mencegah Paris untuk mengganti bakso Ronan. Seluruh penghuni kantin tahu, kalau mengganti bakso Ronan bukanlah tanggung jawab Paris. Namun anak itu sepertinya tidak sependapat. Dia mendorong tanganku dari dompetnya dan menaruh selembar uang dua puluh ribu di meja Ronan cs. Paris memandangku sekilas lalu berjalan pergi dari kantin, dengan bahu turun dan seragam kotor.

Aku merasa bersalah untuk kesalahan yang dilakukan orang lain padanya.

“Mang Obes, gue mau bakso lagi!” teriak Ronan sambil mendudukkan diri. Pandangannya jelas mencemooh ketika kami bertatapan. Dia juga mencibir, “Para homo bikin sekolah kita tercemar saja…”

Aku berusaha tak peduli pada cibiran Ronan, meski aku sangat tahu kalau kalimat itu tidak hanya ditujukan buat Paris saja, tapi juga buatku. Gosip sudah dimulai, secepat ini. Dalam perjalananku menuju mangkuk baksoku sendiri, di kursinya, kutemukan Mayang tersenyum manis ketika pandangan kami bertubrukan. Akibatnya, aku berjalan sambil melayang.

*

“Sakha, hai…”

Aku mendongak dari tali sepatuku. Sosok semampai Mayang dalam balutan mini seragam cheernya sejenak membuatku lupa bernapas. Mimpi apa aku semalam? Yang menegurku ini Mayang, catat, Mayang─cewek cantik nan seksi yang digilai semua cowok satu sekolahan─mengajakku bicara untuk pertama kalinya. Namaku yang sudah luar biasa terdengar makin luar biasa ketika dia yang mengucapkannya. Aku menggeragap bangun, kubiarkan tali sepatu olah ragaku tak bersimpul. Mayang tertawa renyah, seperti wafer. Aku ingin memasukkan tawanya ke stoples dan mengemilnya sekerat demi sekerat saat nonton bola.

“He─hei…” Aku gagap mendadak. Tak bisa kutahan diriku untuk tidak menarik-narik kupingku.

Mayang tertawa lagi, kali ini terdengar merdu. Aku ingin merekamnya jadi Mp3 dan kuputar di music playerku dalam mode repeat selama kira-kira seumur hidup. “Apa aku mengganggu?”

“Iya, eh, maksudku, eng.. enggak.”

Sekarang dia tersenyum. Mayang menyibakkan rambutnya dengan gaya seperti yang akan dilakukan seorang personil girlband Korea ketika menyibak rambut, lalu memandang ke lapangan basket. Teman-teman timku baru saja memasuki lapangan untuk mulai berlatih. “Padahal tempat latihan kita bersebelahan, aneh sekali kita baru punya kesempatan ngobrol sekarang, ya…”

“Iya.” Sial, di mana kemampuan bersosialisasiku saat diperlukan? Mayang pasti akan mengira aku cowok cupu yang kebetulan jadi kapten tim basket sekolah karena lucky factor. Sama sekali bukan lawan bicara yang menyenangkan, apalagi untuk dijadikan pacar.

Aku baru hendak mengeluarkan kata-kata selanjutnya ketika Mayang tersenyum lagi. Efeknya, aku lupa kata apa yang tadi hendak kuucapkan. “Yang kamu lakukan di kantin tadi, itu keren sekali.”

“Oh, itu, iya, keren.” What the… “Eh, maksudku, itu bukan apa-apa.” Kugaruk kepalaku yang tidak gatal. Dan Mayang tersenyum manis melihat tingkahku. Apa dia suka melihatku garuk-garuk kepala? Mungkin aku harus menggaruk kepalaku lebih sering kalau sedang bersamanya, bila perlu dengan dua tangan sekaligus. Mungkin aku juga sudah boleh mempertimbangkan untuk memelihara satu keluarga kutu agar gerakan menggarukku nantinya terlihat alami.

Well, ternyata ada efek positif juga membela Paris. Mendapat perhatian Mayang. Untungnya, Mayang ada di sana tadi. Besok-besok kalau aku hendak membela Paris akan kupastikan Mayang melihatnya, kalau Mayang tak ada di tempat kejadian, abaikan Paris atau siapapun yang butuh pembelaan.

Mayang dipanggil teman-teman cheernya. “I’m coming, Girls…!” serunya. Aku kaget saat dia meraih tanganku dan menjejalkan sesuatu ke dalamnya. “Kuharap kita bisa lebih sering menghabiskan waktu bersama,” ujarnya sambil tersenyum lalu berlari cantik menuju teman-temannya.

Kubuka telapak tanganku. Secarik kertas bertuliskan sederet nomor, sebuah id aplikasi chatting beken, dan pin. Senyumku terkembang seperti layar diterpa angin dan dadaku membengkak bagai balon gas. Apa tadi katanya? Kuharap kita bisa lebih sering menghabiskan waktu bersama. Jelas sekali, itu lampu ijo.

Ketika aku berjongkok untuk melanjutkan mengikat tali sepatu, kelibat Paris yang sedang melintasi koridor tertangkap ekor mataku. Sosoknya mengganggu fokusku. Aku menolehkan kepala ke arahnya. Dia, seperti biasa, berjalan lurus melintasi kelas-kelas seolah tak terlihat oleh mata manapun. Tak ada seorang pun dari lautan putih abu-abu yang hendak pulang itu mau repot-repot menoleh, menyapa, atau menunjukkan kesadaran akan kehadiran Paris. Selain untuk objek bully dan bahan gosip, Paris dianggap tak pernah eksis oleh hampir seratus persen siswa SMA ini. Aku termasuk salah satu dari ‘hampir seratus persen’ itu. Tapi kini aku memerhatikannya, dan masih memerhatikan sampai dia berbelok ke lorong selanjutnya, menuju ruang UKS. Apa jadwal piketnya selalu di hari yang sama dengan ekskul basketku? Terus, apa dia akan piket di ruang hygienis itu dengan baju seragam jorok demikian rupa? Kontras sekali.

Mendadak aku tak tega melihat keadaan seragam anak itu. Kusuruh Galih dan yang lainnya latihan lebih dulu, sementara aku berlari meninggalkan lapangan.

*

“…bagaimana orang bisa yakin untuk mendapatkan pertolongan pertama di sini kalau petugas UKSnya saja gak sadar kebersihan?”

Aku tiba di pintu tepat ketika Miss Cantika, guru muda Pembina UKS, sedang menegur Paris. Anak itu hanya menunduk saja sementara Miss Cantika merepet panjang lebar tentang prinsip bersih dan steril yang diusung UKSnya. Dehamanku menyadarkan mereka kalau ada orang lain di sini.

“Ada apa, Sakha?” Miss Cantika menatap wajahku sekilas lalu menurunkan pandangan memandang kostumku. “Lapangan basket bukan di sini.”

“Saya belum pikun untuk gak tahu di mana letak lapangan basket, Bu,” kataku, sedikit terdengar lebih kasar dari yang kuharapkan. Aku tidak senang guru muda itu memarahi anak didiknya, seakan Paris tidak pernah bersih sebelum ini, seakan Paris selalu menggunakan seragam jorok tiap kali jatah piketnya. Well, aku memang gak yakin apakah ini kali pertama Paris piket di UKS dengan seragam kotor atau bukan. Bisa jadi Paris sudah sering piket dengan keadaan berantakan kayak sekarang mengingat begitu seringnya agenda bullying terjadi padanya. Aku tidak cukup peduli pada Paris sebelum ini untuk mengetahui hal itu. Tapi, melihat dia dimarahi entah mengapa membuatku tidak senang. Tanpa dimarahi pun, hari ini sudah cukup buruk untuknya. “Saya mau nganterin seragam ganti buat dia,” kutunjuk Paris dengan gerakan daguku. Yang kutunjuk berdiri bengong setengah kaget sambil memandangku.

“Baguslah. Seragam bersih memang sesuatu yang paling dibutuhkannya saat ini.” Miss Cantika melewatiku dan berjalan pergi meninggalkan ruang UKS.

Untuk semenit, keheningan menggantung di atmosfer ruang. Paris masih memandangku dengan tatapan tak percaya, sementara aku berusaha meyakinkan diriku bahwa apa yang aku lakukan ini adalah hal yang wajar. Aku yang ‘hampir seratus persen’ ini tiba-tiba merasa perlu meminjamkan seragam buatnya. Oh hell, di mana letak kewajarannya? Dan dia dicap sebagai maho sekolahan. Apa yang sudah kulakukan? Aku ingin berbalik dan membawa kembali baju seragam di tanganku ketika anak itu membuka mulutnya.

“Kenapa?”

“He?”

“Kenapa kamu melakukan ini semua?”

Aku diam. Jujur saja, pertanyaan Paris buatku adalah juga pertanyaanku buat diriku sendiri. Kenapa aku melakukan ini? Kenapa aku membantunya?

“Tadi di kantin, dan sekarang seragam. Kenapa?”

“Gak usah banyak nanya. Nih, ganti seragam lo!” Baju itu melayang ke arahnya. Paris dengan sigap menyambut baju seragam yang kulemparkan. Dia menatap bergantian antara aku dan seragam di tangannya. “Itu punya gue, pasti bakal kebesaran di badan lo. Lebih baik kebesaran daripada jorok.” Aku balik badan, siap untuk pergi.

“Kak Sakha gak takut dibilang gay?” Aku bergeming di ambang pintu. “Mereka yang terlihat bersamaku selalu dibilang gay…” Suara Paris melirih.

Aku tak ingin berlama-lama lagi. Dia benar. Mengapa selama ini dia tak punya teman dekat adalah karena siapapun yang berteman dengannya bakal digosipkan sebagai homo. Sakti, Rehan, Noe dan Petra adalah di antara yang sudah pernah diterpa gosip. Tak ada yang berani mengambil resiko segede itu. Aku juga tidak. “Jangan lupa balikin seragam gue, secepatnya, setelah dicuci bersih dan disetrika.” Aku bahkan tak mau repot-repot menoleh, apalagi berbalik.

***

“Novel ini romantis banget loh, aku bacanya bulan lalu. Tokoh ceweknya bikin iri, beruntung banget dia, dapet cowok paling sempurna di sekolahnya.”

“Oh ya?” kupandang sekilas kover novel yang diperlihatkan Mayang padaku sambil berusaha menampilkan ekspresi tertarik yang jauh dari kesan dibuat-buat.

“Iya, aku punya. Nanti kapan-kapan aku pinjami deh,” tawar Mayang ceria.

“Boleh juga.” Kenyataannya, aku tidak suka membaca, apalagi baca novel, mending main game online, atau lari di treadmill mamaku sampe keringetan, atau gangguin Ares. Membaca selalu bikin mataku mengantuk. Tapi Mayang suka membaca novel, mungkin aku juga harus mulai menyukainya.

“Kha, menurutmu, aku harus beli yang mana dulu?” Entah sejak kapan, Mayang sudah memegang tiga novel lain di tangannya. “Tiga-tiganya sudah lama pengen aku baca, tapi uangnya cuma cukup buat dua buku.” Mayang tampak murung, menatap ketiga buku di tangannya dengan tatapan mendamba.

Ini kesempatanku. “Kalau gitu, ayo kita beli sekalian tiga-tiganya.” Mayang memandangku, masih murung. “Aku beliin,” kataku mantap.

Wajah Mayang berubah ceria sesaat sebelum muram lagi. “Aku minta ditemani kamu bukan untuk biar dibayari buku, aku gak mau terkesan manfaatin cowok…,” katanya lalu meletakkan salah satu dari tiga novel di tangannya kembali ke rak. “Ayo, dua aja dulu.” Mayang melenggang menuju kasir.

Aku meraih kembali buku yang baru saja diletakkan Mayang. Kurogoh saku celana seragamku untuk mengambil dompet saat kususul dia ke kasir.

“Tiga-tiganya, Mbak,” kataku pada penjaga mesin kasir sambil membuka dompet.

“Sakha, gak usah,” larang Mayang sambil mendorong tanganku.

“Pilih mana, kubeliin buku apa kutinggal pulang?”

Mayang sejenak terdiam seakan berpikir, lalu tersenyum, manis sekali. Dia pasti doyan ngemil gula. “Aku masih ingin dianterin kamu pulang,” sahutnya kemudian.

Kubayar novelnya dan kugandeng Mayang, bukan untuk segera pulang, tapi nongkrong di starbucks. Aku tak mau mengakhiri agenda pedekate ini tanpa menraktirnya makan. Gentlemen selalu menarik perhatian seorang lady dengan membayarinya minum wine atau sejenisnya. Well, karena kami masih berseragam putih abu-abu, kupikir aku tetap bisa jadi gentlemen dengan membayari Mayang minum espresso di starbucks.

***

Mama menggoyang-goyangkan bahuku, membuatku dengan amat terpaksa harus mengakhiri ritual tidur siangku. “Ada temenmu tuh di depan. Temui sana!”

“Hemm.” Aku masih menelungkup di guling.

“Bangun buruan!” Mama makin kencang mengguncang bahuku.

“Iyaaaa…!”

Aku bangun dan menuju kamar mandi sementara Mama merepeti keadaan kamarku yang katanya persis seperti habis dibom. Saat aku keluar dari kamar mandi, keranjang baju kotorku yang sebelumnya penuh kini kosong melompong, dan tempat tidurku jadi rapi. Aku turun setelah mengenakan baju seadanya: singlet item di atas kargo navy. Paling-paling yang datang Galih, atau Petra. Cuma mereka berdua yang lumayan sering main ke rumah. Tapi, ketika sampai di ambang pintu depan, aku jadi kaku.

Di teras, adikku, Ares, tergelak ribut sambil lompat-lompat sementara cowok di depannya menggerak-gerakkan patung Ultraman di tangan kanan dan patung Dinosaurus di tangan kiri, kedua patung itu sedang terlibat pertempuran sengit.

“Ayo, Ultraman! Hajar Monster Dinonya!” Patung Ultraman menyeruduk patung Dinosaurus.

Ares tertawa senang dan berteriak-teriak. “Ayo! Ayo! Ayo!”

“Arrgghh…!!! Ultraman terkena ekor Monster Dino!” Patung Dinosaurus menyodok patung Ultraman dengan ekornya, patung Ultraman berputar-putar di lantai. “Gawat, Ultraman terluka, dia terjatuh ke gedung-gedung,” serunya dengan nada tegang. Gedung yang dimaksud adalah serakan lego Ares.

“Aduh!” Ares membekap kedua pipi tembemnya dengan gaya seorang bintang cilik di iklan susu balita. Di tempatku menunggu, tanpa sadar aku tersenyum sendiri melihat cara mereka berdua berinteraksi.

“Tapi lalu Ultraman bangun lagi, kemudian berteriak memanggil kekuatan penghancurnya. Ehem, dengan kekuatan bulan, kuhancurkan kamu Monster Dino. Bip bip bip bip bip…!!!” Patung Dinosaurus berkaparan di lantai, tidak berkutik lagi, sementara patung Ultraman berdiri tegak di antara lego.

Apa katanya? Dengan kekuatan bulan? Ultraman? Yang benar saja!

“Monster Dinonya mati.”

“Horeee…!!!” Ares bertepuk tangan dan melompat-lompat makin tinggi, kian mirip bintang iklan.

Di depan Ares, dia tertawa senang. Mereka berdua lalu melakukan tos. Kemudian, dia melihatku di ambang pintu dan tawanya hilang seketika. Aku keluar ke beranda. “Res, Mama ngajak mandi, masuk sana gih!” bohongku. Kuacak kepala Ares. Bocah empat tahun itu memungut patung-patungnya lalu mendekati teman mainnya sore ini.

“Besok datang lagi ya, Kak Pais,” katanya. “Ales mau mandi dulu.” Paris tersenyum pada Ares sebelum benar-benar tertawa saat adikku itu mendekatkan mulut basahnya untuk mencium pipi teman main dadakannya itu. Sementara Ares berlalu, Paris menyeka pipinya yang sekilas terlihat bagai habis diludahi.

“Dari mana tahu rumah gue?” aku duduk di kursi teras, memandang dingin pada Paris yang masih berjongkok di lantai.

Paris bangun dan menempati kursi di sampingku. “Aku mau balikin seragamnya,” kata Paris tidak menjawab pertanyaanku. Aku baru sadar akan keberadaan bungkusan yang dibawanya. “Makasih sudah mau meminjamkannya tempo hari, Kak.” Paris menyodorkan bungkusan itu padaku.

“Dari mana tahu rumah gue!?” ulangku sedikit lebih tegas kali ini.

Paris diam. Bungkusan itu ditaruhnya di atas meja.

“Lo tuli atau gimana sih?”

“Aku udah lama tahu.”

Giliran aku yang bisu. Apa maksudnya sudah lama tahu? “Lo nguntitin gue?” tanyaku sama sekali jauh dari kesan senang.

Paris membisukan diri kembali.

Aku hendak menyalak lagi, tapi mamaku keburu datang membawa dua cangkir teh dan sepiring penuh irisan bolu. “Silakan, Nak Paris, minum dulu.”

“Duh, Tante, kenapa harus repot-repot.” Paris tersenyum pada mamaku.

“Cuma teh kok ini. Lagipula, Nak Paris kan baru sekali ini main ke rumah Sakha, nanti kalau sudah sering juga pasti Tante suruh ambil sendiri.”

“Dia gak bakal datang lagi, Ma,” tukasku, masih jauh dari senang. Mama dengan serta merta melotot padaku. Firasatku langsung buruk. Mama suka sosok Paris. Atau, jangan-jangan bolu itu Paris yang bawa?

Paris terlihat gelisah di kursinya. “Iya, Tante, Kak Sakha benar. Ini pun saya datang karena ada perlu kok.” Paris kembali tersenyum pada mamaku sebelum meraih cangkir teh dan menyeruputnya sampai habis. “Sepertinya Mama saya harus belajar cara bikin teh seenak ini deh dari Tante.”

Mamaku tertawa senang dipuji Paris. “Nak Paris sangat tahu cara bikin senang hati orang tua.”

Paris ikut tertawa, lalu bangun dari kursinya. “Saya pamit deh, Tante, perlunya sudah disampaikan sama Kak Sakha.”

“Loh, kenapa buru-buru? Nak Paris baru saja datang lho.”

“Orang mau pulang gak usah dilarang-larang, Ma. Biarin aja!” Aku kembali dipelototi Mama.

“Nanti lain kali kalau ada perlu, saya pasti main lagi ke sini deh, Tante.”

Akan kupastikan kalau lain kali yang dia sebutkan itu tak akan pernah ada. Memikirkan Paris menguntitku pulang membuatku bergidik. Apa lagi yang dilakukannya yang tidak aku tahu? Mengintipku ganti seragam saat ekskul basket? Memerhatikanku diam-diam? Menulis diary tentangku? Berkhayal jorok sedang tidur denganku? Atau, menangkap gambarku diam-diam dan mengoleksinya? Atau yang lebih mengerikan, mengedit mukaku ke gambar bintang bokep gay? Seharusnya aku tidak pernah mengantarnya pulang, tidak pernah membelanya saat di kantin, tidak pernah meminjaminya seragamku.

“Nak Paris perginya gak pake motor, kan? Kalau gitu, biar dianterin Sakha,” kata mamaku tiba-tiba. Aku kaget. Baru saja aku menyesali pernah mengantarnya sekarang malah disuruh mengantarnya lagi? Edan.

“Gak usah, Tante.”

“Iya, Ma. Gak usah.”

“Jangan banyak omong. Ada apa sih denganmu sore ini? temanmu datang bukannya senang, malah diketusin. Sana ganti baju dan anterin Paris pulang!” Baru kali ini aku dimarahi mamaku di depan temanku. Ralat, Paris bukan temanku.

“Katanya kan gak usah, Ma…”

“Baiklah, seminggu tanpa uang jajan.”

“Maaa…!” Aku saling pandang dengan Mama, dan aku kalah.

“Tante, beneran deh, gak usah diantar.”

Kalimat dengan nada menyesal yang diucapkan Paris membuatku ingin membentaknya, tapi Mama pasti akan menjewer kupingku jika itu sampai kulakukan. Benar-benar sial. Padahal Paris hanya memuji tehnya, dan Mama memuja homo itu dengan segenap jiwa raga, sampai rela membuat putranya sendiri jadi gojek. Aku bangun dari kursi, berjalan ke kamar, kutarik jaket dari gantungan dan keluar lagi. Paris dan mamaku tertawa-tawa di teras, entah apa yang begitu lucu. Kustarter motor sementara Paris pamit part two pada mamaku. Kali ini pake acara salaman dan cium tangan segala. Dasar penjilat!

“Gak usah mepet-mepet gue duduknya!” kataku saat Paris naik ke boncengan. “Awas aja kalau tangan lo sampe megang-megang pinggang gue, gue turunin di jalan!”

***

 Aku berkelahi dengan Ronan di kantin. Mereka mengataiku homo, tidak secara terang-terangan. Tapi aku tahu betul kalau yang mereka maksud sebagai ‘cowok homo’ itu adalah aku, karena dua kata itu tepat dilantangkan ketika aku melintasi meja mereka. Bibirku berdarah, seragamku robek, hidungku mimisan, dan pelipisku berdenyut bekas hantaman Ronan. Bedebah itu lebih beruntung, genknya ikut membantu. Bangsat tengik itu hanya memar di pipi dan hidung berdarah, seragamnya baik-baik saja dan bibirnya sehat walafiat. Kalau tidak ada genknya, aku pasti berhasil membuat satu atau dua gigi Ronan copot dari gusinya.

Mang Obes dan pekerjanya melerai kami. Ronan menyogok beberapa siswa yang belum kembali ke kelas dengan bakso gratis supaya tidak melapor ke guru BP. Lalu aku? Melapor dan membuat diriku diskors? Tidak akan. Lagipula, apa yang akan kulaporkan? Kalau Ronan menyebutku homo? Itu sama saja mempermalukan diriku sendiri.

Aku mencari-cari sosok Mayang di antara siswa yang masih ada di kantin, syukurlah dia tak ada. Aku tak mau dia melihatku dalam keadaan mengenaskan begini rupa.

“Sebaiknya lo diam-diam ke UKS, Bro, jangan sampai ada siswa lain yang lihat, apalagi kalau sampai papasan sama guru.” Seseorang entah siapa menyarankan. Aku tak sempat memerhatikan, sibuk mengelap hidung dan mulutku.

*

“Kenapa gue harus selalu berurusan sama elo tiap kali ke ruang sialan ini!?”

Paris tercengang melihat keadaanku.

“Apa tidak ada siswa keparat lain yang berjaga di sini selain lo, hah?”

Paris berdeham setelah berhasil menguasai keterkejutannya. “Aku piket dua hari dalam seminggu.”

“Siapa yang nanya?” aku berjalan ke dipan dan duduk di sana.

Paris mendiamkan diri. Dia mendekati meja peralatan lalu tangannya mulai bergerak lincah meraih ini dan itu sebelum mendekat padaku.

“Gue bisa sendiri,” kutepis tangan kanannya yang memegang kasa dan kuambil kasa lain dari dalam kom yang dipegangnya di tangan kiri. Entah aku yang terlalu beringas entah dia yang asal pegang. Suara berisik khas stainless steel membahana di ruangan ketika benda itu jatuh menghantam lantai. “Damn it!”

Paris menghela napas lalu memungut semua kasa dari lantai dan mencampakkannya dalam keranjang sampah di sudut ruangan. Dia menaruh kom yang jatuh itu ke bak cuci dan mencuci tangannya sekaligus. Setelah itu semua, dia kembali mendekati meja peralatan dan tangannya kembali cekatan.

“Bahkan superhero sekalipun tidak bekerja sendiri saat menumpas kejahatan. Spiderman butuh Harry untuk melawan Manusia Pasir, Batman dibantu Robin untuk melindungi Kota Gotham, Ironman punya Jarvis yang super pintar, Wolferin pu─”

“Omongan lo gak ada hubungannya sama sekali!”

Paris berbalik dengan kom baru. “Intinya, Jagoan, kita tidak bisa hidup sendiri.” Disodorkannya kom kasa itu padaku. “Kita butuh bantuan orang lain untuk hal-hal yang tidak mampu kita lakukan sendiri. Mengesampingkan ego, dan mengakui keterbatasan sendiri, kurasa itu inti dari menjadi pahlawan.”

“Omongan lo makin melantur.” Kurampas kom itu dari tangannya dan kubersihkan luka-luka di wajahku. Tapi hingga kasa di dalam kom itu habis, aku tidak merasa kalau luka-lukaku sudah dibersihkan.

Paris membuntal kasa baru, membasahinya dengan aqua des lalu mendekatiku. “Inti dari omonganku, Mister Sok jagoan, adalah ini!”

“Aoww…!!!” aku berteriak saat kasa di tangan Paris menekan hidungku, reflek kutangkap pergelangan tangannya. “Lo mau bikin hidung gue patah sekalian, hah?”

Paris memandang tanganku yang mencekal pergelangan tangannya. Sadar apa yang sudah kulakukan, kulepaskan tanganku dari tangannya. Selanjutnya, kubiarkan anak itu mengurus luka-lukaku. Dia bekerja dalam keheningan untuk beberapa menit lamanya.

“Gue berkelahi dengan Ronan…” Entah apa yang mendorongku untuk bercerita padanya. “Dia ngatain gue…”

Tangan Paris berhenti bergerak di hidungku. Kami berpandangan. “Maaf Kak Sakha harus mengalaminya juga,” ujar Paris.

Aku mendesah. “Telat.”

Hening kembali. Paris berbalik dan kembali sibuk dengan peralatannya. Saat menghadapku lagi, tangannya sudah memegang kirbat es. “Kompres pelipismu pakai ini.” Tanpa membantah, aku melakukan apa yang disuruhnya. Kepalaku terasa sejuk tepat saat benda itu menyentuh pelipisku.

“Kuharap ini kali terakhir aku menempelkan koyo di hidungmu,” katanya saat memberi hidungku sekerat koyo.

“Percayalah, itu juga harapan gue,” tukasku. Paris beralih ke sudut bibirku, menyekanya dengan kapas basah lalu ganti menekan-nekannya dengan kapas antiseptik. “Omong-omong, ‘dengan kekuatan bulan’ itu bukan katanya Ultraman, itu kata Sailor Moon. Lo ngibulin adik gue kemarin itu.”

Paris menatapku sekilas lalu balik badan dan mulai membereskan peralatannya sementara aku masih di atas dipan, duduk bersandar pada dinding sambil menahan kirbat es di kepala. “Bagaimana kabar Ares?”

Apa aku harus jawab jujur kalau sudah tiga hari ini setiap aku pulang sekolah bocah itu selalu bertanya ‘Apa Kak Pais ikut?’ dan ‘Kapan Kak Pais main lagi ke lumah?’. “Dia nanyain kamu,” jawabku. “Ares pengen tahu kapan kamu main lagi ke rumah. Mama juga ingin tahu, apa aku sudah baikan sama kamu atau belum.”

Paris berbalik. “Aku-kamu, hah? Ke mana perginya lo-gue itu?” sebelah alisnya terangkat.

Aku terperanjat. Kutangkap ekspresi geli di wajah Paris. Sial. Ada apa denganku? “Sebaiknya gue balik ke kelas.”

“Silakan.”

Aku beringsut dari dipan, tapi setengah jalan aku jadi bimbang. Kalau aku balik ke kelas, apa yang harus kujawab saat ditanya guru mata pelajaran nantinya? Masa aku harus beralasan kepeleset di toilet. Kondisiku terlalu berantakan untuk dikatakan terpeleset di toilet. Kurogoh hapeku dan kuketik chat singkat untuk Petra. ‘Tra, tolong urus absen, ya. Gue pusing, di UKS’. Delivery sedetik lalu read. ‘OK’, balasnya.

“Gak jadi balik ke kelas?” Paris sudah duduk di kursi, sebuah buku bersampul hitam terbuka di depannya. Pulpen di tangan.

Apa yang hendak dilakukannya? Menulis diary? Sepertinya perkiraanku tentang anak ini benar. Memang masih jaman ya nulis-nulis diary kayak gitu? “Gue mau di sini dulu sampe jam pulang,” jawabku. Paris mengangkat bahu, mengabaikanku lalu terpekur pada bukunya, maksudku, diary-nya. “Apa lo nulis tentang gue juga di situ?”

“Kenapa kamu ingin tahu?”

Iya, kenapa aku ingin tahu? Tak kudapatkan jawaban untuk Paris, tidak juga buatku sendiri.

Miss Cantika masuk ke ruangan. Paris buru-buru menutup bukunya dan memasukkan benda itu ke dalam tas. “Ada yang pingsan di lapangan bola, kawani Ibu memeriksa ke sana. Cecep terlalu gemuk untuk diboyong ke sini, kita coba sadarkan dia di sana dulu,” katanya pada Paris sebelum mengalihkan tatapan padaku. “Kenapa dengan wajahmu, Sakha?”

“Dia jatuh motor, Bu,” jawab Paris sebelum aku sempat menyerukan ‘terpeleset di toilet’. Yah, jatuh motor memang terdengar lebih macho daripada terpeleset di toilet. Alasan itu juga cocok dengan kondisiku.

Miss Cantika memandang Paris sekilas sebelum fokus lagi padaku. “Ke mana helm-mu?”

“Eng… lupa bawa, Bu.”

Miss Cantika manggut-manggut. “Paris, bawa kotak emergency dan ikut saya ke lapangan.”

*

Aku tak bisa menahan diri. Dua menit setelah aku ditinggal sendirian, kucampakkan kirbat es di meja peralatan dan kurogoh tas Paris. Aku harus tahu apa saja yang dituliskannya di sana tentangku, pasti ada tentangku, dia homo. Dan meskipun aku tak tahu apapun tentang menjadi homo, aku sangat yakin diriku memenuhi semua kriteria tipe cowok yang diinginkan seorang homo.

Halaman pertama bertuliskan namanya. Paris pintar menggambar, itu hal yang sudah diketahui semua orang di sekolah ini di samping isu kalau dia suka cowok. Qalam Alfaris. Nama itu digambarnya sangat artistik, padahal Paris hanya menggunakan dawat. Selama ini kupikir namanya Paris saja, pakai P. Padahal tak ada satu pun huruf P dalam namanya.

Aku harus cepat sebelum anak itu balik ke ruang UKS dan memergokiku. Halaman-halaman awal hanya berisi coretan-coretan tak jelas, mungkin puisi, juga sketsa-sketsa seperti gambar-gambar komik.

‘Diary, kamu tahu ulat bulu, kan? Ulat yang bikin gatal itu. Jika kamu tersentuh ulat bulu, efek gatalnya seperti berakar ke dalam dagingmu, kamu menggaruk, menggaruk, dan terus menggaruk. Gatal tersentuh ulat bulu itu lama hilangnya, kadang sampai bentol-bentol. Beberapa kasus tersentuh ulat bulu, butuh antihistamin dosis tinggi untuk menghilangkan efek gatalnya. Hebat kan, Dy, ulat bulu itu…’

Aku mengernyit saat menemukan catatan aneh pertama dalam buku hitamnya Paris.

‘Pesonanya berefek ulat bulu padaku, Dy. Sejak pertama kali datang ke sekolah ini dan melihatnya, efek ulat bulu itu sudah kurasakan. Aku tak bisa berhenti memikirkannya. Siapa namanya, di mana rumahnya, dengan siapa dia tinggal, apa hobinya, topik apa yang sering dia obrolkan dengan teman-temannya, atau ke mana dia menghabiskan hari liburnya. Kurasa aku bahkan ingin tahu apa saja yang dia lakukan dari bangun tidur sampai tidur lagi, setiap harinya. Aku ingin tahu semua tentangnya. Lihat kan, Dy? Dia sangat pantas jadi ulat bulu. Padahal aku belum membuat sebarang kontak dengannya, tapi memikirkannya saja sudah membuatku demikian bahagia. Sukar sekali mengenyahkan dia dari pikiranku.’

Siapa ‘si ulat bulu’ yang dimaksudkan Paris? Saat membalik sebanyak tujuh halaman, meski sudah menduganya, tetap saja aku nyaris terkena serangan jantung.

‘Tadi aku mengobati hidungnya. Katanya akibat menabrak papan pantul. Tapi aku tahu itu bohong. Untuk dapat menabrak papan pantul, dia harus benar-benar sanggup melompat tinggi melewati ring. Itu kan hal yang nyaris mustahil dilakukan pemain basket, sanggup slam dunk aja sudah paling hebat. Mau tahu yang lebih membahagiakan daripada mengobati hidungnya? Aku diantarnya pulang, Dy. Badannya wangi, kalau tidak mikir dia bakal risih, aku sangat ingin meletakkan wajahku di punggungnya dan membaui wanginya sepanjang jalan pulang.’

Aku menahan hasrat untuk mencincang buku hitam di tanganku ini hingga lumat.

 ‘Romantis katamu? Hhh… jangan senang dulu, Dy, dia pasti mau mengantarku sebagai bentuk balas budi. Dia itu straight, langit runtuh kalau dia suka padaku, konon lagi kalau sampai jatuh cinta. Tapi, Dy, meski aku tahu itu mustahil, tetap saja aku tak bisa berhenti menyukainya. Aku tak bisa berhenti menyukai  Daeng Sathiya Sakha, ulat bulu itu…’

Buku itu dirampas dari tanganku. “Kurang ajar sekali kamu!” mata Paris menyala-nyala. Tidak, bukan karena marah, aku bingung mengatakannya, tapi kurasa dia hendak menangis. “Apa kamu tidak pernah mengenal apa yang disebut privasi, hah!?” Paris bergetar.

Aku berdiri. “Gue bukan homo kayak lo. Stop nulis apapun tentang gue. Stop suka sama gue. Dan jangan dekat-dekat gue lagi mulai sekarang! Dasar orang aneh!”

Dengan begitu, kutinggalkan Paris yang masih bergetar sambil mencengkeram kuat buku hitamnya. Kepalaku berdenyut-denyut sakit, lebih sakit dari bekas bogem Ronan di pelipisku. Memikirkan ada cowok yang naksir padaku benar-benar membuatku pusing. Sialan. Harusnya aku tak pernah membuat kontak sejak awal dengan anak bernama Paris itu. Dia cowok aneh. Apa sih yang salah padanya? Apa menariknya cowok di matanya hingga ingin dia pacari? Oke, aku memang menarik, tapi harusnya cewek saja yang punya hasrat padaku. Paris itu cowok, organ biologisnya sama dengan punyaku. Apa yang ada padaku juga dimiliki olehnya, sama persis. Tidakkah dia tahu kalau makhluk bernama cewek punya bagian seksi menggairahkan yang tidak akan pernah bisa dia dapatkan pada seorang cowok?

Di belokan koridor, aku nyaris menabrak rombongan yang sedang membopong tubuh tambun Cecep. Butuh selusin siswa laki-laki untuk mengangkat anak itu. Agaknya Cecep tidak berhasil disadarkan di lapangan. Miss Cantika mengekor di belakang, berjalan dengan wibawa yang anggun seperti biasanya. Aku terlalu cape pikiran untuk membalas senyum ramah guru cantik itu. Namun pikiranku melayang begitu saja ke hari Paris ditegur Miss Cantika gara-gara seragamnya kotor. Hari itu, aku sungguh-sungguh tidak senang dia dimarahi, dan aku sungguh-sungguh tulus saat memberikan seragamku, sungguh-sungguh tulus. Dan baru saja tadi, aku mengatainya ‘homo’ serta ‘orang aneh’. Begitu kontrasnya.

Wajah pucat Paris dengan matanya yang berkaca bermain-main di kepalaku. Bagaimana kalau aku yang berada di posisinya? Aku tak bisa menjawab. Kutundukkan kepalaku ke dada. Seragam yang pernah kupinjamkan pada Paris kini sedang kupakai. Aku bertanya-tanya, seperti apa bahagia yang dirasa Paris ketika mengenakan bajuku, jika bisa memandang atau memikirkanku saja sudah membuatnya demikian bahagia?

***

Mayang bersikeras memintaku menamatkan novel favoritnya. Sudah lima hari, dan novel keparat itu belum juga kutamatkan. Padahal tebalnya cuma dua ratus empat puluh enam halaman─termasuk kata pengantar dan daftar isi dan riwayat pengarang. Mayang, setiap kali kami bicara di telepon, pasti akan merecokiku dengan isi novel itu. Sudah baca sampe mana? Bagaimana menurutmu novelnya? Bagus, kan? Aku suka quote yang disisipkan pengarangnya lewat monolog tokoh utama. Kamu lebih suka quote yang mana? dan blah blah blah. Jadi, sebisanya aku harus baca novel ini agar obrolanku dengan Mayang nyambung. Sangat tidak keren kan kalau aku gagap saat menjawab pertanyaan-pertanyaannya, meski sejauh ini bisaku cuma ngeles tiap kali dia bertanya apa aku sudah menamatkan novelnya itu.

‘Aku tak ingin buru-buru menamatkannya. Novel ini terlalu bagus untuk segera ditamatkan. Aku ingin meresapi kata per katanya hingga tak ada lagi makna yang bersisa.’

Selalu, Mayang akan tertawa renyah setiap kali mendengar jawaban begitu dariku, dan aku masih ingin men-stoples-kan tawanya. Sekarang, sebuah paragraf dalam novel ini membuatku termenung lama.

‘Kamu tidak pernah tahu pasti, berapa banyak orang di luar sana yang merasa bahagia hanya dengan kamu ada. Hanya dengan kamu hidup. Padahal kamu bukan badut, bukan pelawak, bukan biduan atau insan hiburan. Kamu hanya kamu, dan mereka tetap saja merasa bahagia. Bisa jadi, kamu bahkan tidak mengenal mereka, tapi itu bukan masalah. Mereka tak butuh dikenal, karena mengenalmu sepihak saja sudah cukup untuk membuat mereka bahagia. Jadi, rasanya begitu aneh jika kamu berteriak-teriak pada semesta, melarang mereka agar berhenti bahagia dikarenakan kamu ada. Aneh, karena bahkan kamu tidak mengenal mereka.’

Aku membaca paragraf itu hingga dua kali, lalu catatan Paris di dalam buku hitamnya berkelibat tumpang tindih di kepalaku. Aku, mau tidak mau, suka tidak suka, adalah salah satu sumber bahagia buat Paris. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk merubah hal itu. Tak bisa berbuat apa-apa…

***

Hari ini.

Kami berpapasan di koridor saat jam istirahat. Dia berjalan lurus seperti dirinya yang biasa, tidak digubris dan seakan invisible bagi orang-orang di sekitarnya. Aku berjalan sama lurus seperti yang dilakukannya. Namun saat dia sudah lewat beberapa langkah di balik punggungku, aku berbalik, hanya untuk memastikan apakah dia juga berbalik untuk menatapku atau tidak. Aku tidak mengerti mengapa aku merasa kecewa ketika dia hanya terus berjalan.

Esoknya.

Aku terjatuh di lapangan saat ekskul basket, lututku lecet, dan terlalu baik-baik saja untuk pergi ke UKS. Tapi aku tetap menuju ke sana. Seorang cewek menyambutku. Kudapati diriku tercari-cari, dan masih tercari-cari bahkan saat aku sudah sangat sadar dia tak ada di sana.

Hari ini.

Ares mengajakku main dengannya. Jadi, kutinggalkan Clash Of Clans dan kuseret langkahku mengikuti bocah itu ke beranda. Ultraman di tangan kananku, Dino di tangan kiriku. ‘Dengan kekuatan bulan, kuhancurkan kamu Monster Dino’. Ares tertawa-tawa saat aku merobohkan Monster Dino, sementara aku terbengong sendirian setelah menyerukan kalimat yang persis sama dengan yang pernah diserukan seseorang di sini beberapa minggu lalu.

Esoknya.

Aku menghajar Ronan habis-habisan saat dia sekali lagi mendesiskan ‘cowok homo’ di kantin. Kali ini genknya pun tidak berani membendung kemarahanku. Mang Obes sampai harus memanggil beberapa guru pria. Aku diskors seminggu, Ronan tiga hari, dengan pertimbangan aku yang mengawali perkelahian dan kondisi Ronan yang terlihat lebih tidak baik-baik saja dibanding keadaanku. Jadi, diputuskan aku yang harus dapat hukuman lebih berat. Persetan. Memang tidak ada gigi Ronan yang tanggal, tapi aku sudah merasa puas dapat memermak wajahnya yang kini terlihat seperti baru saja diantuk tawon satu sarang. Saat diusir dari ruang guru BP, aku sadar bahwa Ronan tidak kuhajar untuk diriku sendiri, tapi juga mewakili seseorang lain.

***

Mayang mengajakku jalan di hari terakhir masa skorsing-ku. Awal sore aku menjemputnya dan kami makan es krim di kafé. Saat pramusaji sudah meletakkan dua cup es krim di atas meja, aku bertanya-tanya, apa Paris menyukai es krim juga?

“Kha?”

Sudah berapa hari aku tidak melihat Paris? Seminggu masa skorsingku, ditambah beberapa hari sebelum aku diskors. Apa dia ada memikirkanku selama itu?

“Sakha…?”

Apa yang dituliskan Paris dalam diary-nya setelah kejadian di ruang UKS? Mungkin lembar-lembar buku hitam itu akan berisi kesedihan, dan air mata. Atau… berisi rindu?

“Sakha, hei…” Mayang menyentuh lenganku, mengembalikan diriku ke kursiku. “Kamu baik-baik saja?”

Aku mengerjap-ngerjap menatap Mayang, seolah baru sadar kalau dia ada di situ. Seolah Mayang baru saja jatuh dari langit, asing dan tidak kukenali. “Hemm, iya, aku tidak apa-apa.”

Mayang menghela napas panjang, tangannya menepuk lembut lenganku. “Jangan paksakan dirimu untuk tetap berada di sini sementara pikiranmu berada di tempat lain…” Aku mengernyit, menatap Mayang dalam ketidakmengertianku. Yang ditatap tersenyum tulus. “Dalam hidup, ada beberapa hal yang bisa menunggu, Sakha. Tapi dalam hal cinta, sebaiknya kita tidak menunda-nunda selagi ia ada.”

Kerutan di keningku makin bertambah. Apa ini isyarat agar aku menembaknya sekarang?

Mayang menggoyang lenganku, seolah untuk membangunkanku ke alam nyata. “Sana, temui Paris.”

“He?” aku terperanjat saat nama Paris disebutnya.

“Jangan tanyakan dari mana aku menyimpulkan. Aku cewek, perasaanku lebih peka.” Mayang tersenyum. “Sana, pergi dan raihlah cintamu.”

“May, aku…”

“Ya ampun, Sakha… jangan jadi pengecut gitu. Persetan dengan orang-orang seperti Ronan. Mereka gak tahu apapun tentang cinta. Sana pergi!” Mayang mendorong lenganku lebih kuat.

Aku sontak berdiri dan balik badan. Saat sudah meninggalkan Mayang beberapa langkah, aku sadar telah melewatkan sesuatu. Bergegas kembali kuhampiri Mayang dan kugenggam tangannya. “Kamu pantas mendapatkan cowok yang lebih straight dariku, May…”

Mayang tersenyum. “Kamu sangat straight ketika mencuri-curi lihat ke bagian bawah rokku saat aku latihan cheers,” sahutnya kalem.

Damn. Dia tahu.

*

Maka aku mengebut motorku. Di sepanjang jalan cinta, bunga-bunga bermekaran, orang berciuman di mana-mana, balon-balon gas bentuk hati warna merah dan merah muda beterbangan ke udara, langit mendadak jadi berwarna pink, kicau burung menyemarakkan perjalananku, ditingkahi syair-syair indah dari pujangga cinta yang entah siapa. Perjalanan menuju cintaku, berakhir di ambang pintunya.

Aku bertindak persis seperti debt collector saat mengetuk pintunya. Hingga tanganku cape, tak ada seorang pun yang datang membukakan kayu persegi itu untukku. Ke mana hilangnya orang-orang di rumahnya? Atau, apakah dia sudah pergi? Apa cowoknya baru saja datang menjemput untuk ber-candle light dinner di restoran? Mungkin aku sudah terlalu lama menunda-nunda. Mayang benar, dalam hidup ada beberapa hal yang bisa menunggu, tapi cinta harus disegerakan selagi ada dan selagi bisa. Apa aku sudah begitu terlambat? Ya, kenapa pula aku harus merasa istimewa untuk ditunggunya? Bukankah aku sudah menyuruhnya untuk jauh-jauh dariku? untuk tidak menyukaiku lagi? Jadi, kenapa dia harus berhati besar dan menunggu seseorang yang sudah pernah dengan jelas menolak untuk ditunggu?

Aku mundur dari pintunya ketika benda itu tak kunjung membuka. Dia sudah tak ada. Aku datang terlambat. Keretanya sudah berangkat. Kupandang sekali lagi pintu rumahnya yang lengang sebelum balik badan lalu mengatur langkah engganku menuju motor.

“Kak Sakha…”

Suara itu memanggilku bagai mantra. Baru kutahu, betapa selama ini aku begitu menyukai suaranya, hanya saja selama ini aku tak sadar. Kubalikkan badanku dan kutemukan dia di sana. Berdiri menatapku. Nyata dan hidup. Parisku. “Hei,” sapaku dari tempatku berdiri di dekat motor.

“Hai,” balasnya.

“Apa kabar?”

“Patah hati,” jawabnya.

“Sama, aku juga.”

“Aku?” tanyanya.

“Iya, aku.”

Lalu Paris tersenyum dengan cara yang tak akan pernah bisa dilakukan oleh seribu orang Mayang digabung jadi satu. Andai harus kuarung seluruh gurun di lima benua untuk menjadikan senyum itu milikku, maka akan kuarung semua gurun dan benua itu. Paris bergerak menghampiriku, berdiri tepat di depanku. Dia hanya perlu mengulurkan tangan dan akan langsung menyentuhku. Aku hanya perlu bergerak setengah langkah jika ingin menutup jarakku dengannya. Aku tak perlu berlari lagi. Dia tak usah mengejar lagi.

“Aku masih straight,” ujarku.

Paris tertawa. “Dan dunia tahu aku masih homo,” balasnya.

“Meski begitu, aku tetap mau jadi ulat bulumu.”

“Kamu sudah jadi ulat buluku sejak lama.”

“Aku gak mau digrepe-grepe kalau kamu lagi gatal.”

“Aku akan minum antihistamin banyak-banyak biar gak gatal.”

“Aku serius!”

“Aku juga tidak sedang bercanda.”

“Tapi aku gak bisa janji gak bakal selingkuh sama cewek.”

“Aku juga gak bisa janji gak bakal kepincut sama ulat bulu lain.”

Kuangkat jari kelingkingku seperti yang sering dilakukan Ares saat seseorang menjanjikan sesuatu padanya. Paris ikut menunjukkan kelingkingnya. Aku dan Paris, menorehkan janji cinta kami sendiri.

Di atas sana, burung-burung mencicit pulang ke sarang mereka masing-masing. Di dadaku─meski masih risih, kepala Paris bersandar untuk pertama kalinya. Di pinggangku─meski sangat risih, lengan Paris melilit pas. Begini bersama Paris dalam pelukanku, semua pertanyaanku dulu tentang keanehan perasaan yang dimilikinya kupahami sudah. Bahwa, tak peduli siapa tertarik kepada siapa, tak peduli siapa mencintai siapa, tak peduli siapa berhasrat untuk siapa, perasaan bernama cinta itu akan tetap bernama cinta.

Paris melepaskanku lalu buru-buru mendongak ke langit. Aku mengernyit heran dengan tingkahnya. “Ada apa?” tanyaku.

“Oh, tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang memeriksa,” jawabnya.

“Memeriksa apa?”

“Ternyata langit belum runtuh…”

Untuk beberapa detik aku hanya menatap bergantian antara wajah Paris dan langit kelabu di atas sana. Lalu terbahak-bahak.■

 

 

Awal Desember 2015

Dariku yang sederhana

nay.algibran@gmail.com

Iklan