email1

-d’Rythem24 present: GARA-GARA E-MAIL!-

Summary:
Aku nggak nyangka e-mail pernyataan cinta yang aku kirimkan untuk guru Bahasa Inggris-ku ternyata akan ditanggapi oleh si penerimanya. Duh, aku harus bagaimana? Mau tahu kenapa aku panik? Soalnya guruku itu laki-laki. Dan aku ini juga murid laki-lakinya. Mau ditaruh di mana mukaku saat pak Wisnu justru mengajak aku bertemu untuk bicara empat mata dengannya?
Rasa-rasanya aku jadi makin nggak waras. NO!

. . .

“Aku… udah nembak pak Wisnu, guys!”

Mendengar pemberitahuan dariku itu, ketiga kawanku—Jaya, Heru dan Heri—menyemburkan minuman serta makanan yang sedang mereka teguk dan kunyah. Heri terbatuk-batuk, Jaya melongo dengan mulut penuh air, sedangkan Heru sedang kelabakkan meraih kotak tisu yang ada di ujung meja.

“Lo… serius, Han?”

Aku mengangguk pelan menjawab pertanyaan Heru yang sedang sibuk mengelapi mulut kembarannya yang masih sedikit terbatuk.

“A—uhuk—aku gak nyangka kamu berani banget, Han.” komentar Heri sesaat setelah batuk akibat tersedaknya mereda.

Aku cuma menghela nafasku.

“Terus, pak Wisnu jawab apa?” tanya Heru lagi. Kali ini gantian mengelapi mulut dan seragam Jaya yang basah.

Aku menggeleng. “Aku gak tau.”

“Lho, kok?” Heri dan Heru berseru kompak.

“Kan aku nembaknya lewat e-mail. Jadi kemungkinan, baru nanti malem aku dapat balesan dari dia.” jawabku disertai senyum simpul.

Heri dan Heru saling melempar pandangan. Jaya berdeham keras sambil menepis pelan tangan Heru dari wajahnya. “Gue kira lo nembak langsung, Han.”

Aku menekuk mulutku. “Aku gak seberani itu, keleeeus.” ujarku lebay. Jaya memutar bola matanya.

“Terus, kamu nembaknya gimana?” tanya Heri antusias.

“Semalem aku cuma kirim e-mail: ‘Pak Wisnu, saya suka bapak. I love you, pak. Mmuach!’, udah gitu aja.” jawabku laun dan cepat.

Krik krik krik.

Jaya, Heri dan Heru mengangakan mulut mereka. Aku mengerutkan kening melihat reaksi kurang memuaskan itu.

“Nggak ada cara nembak yang lebih kreatif lagi, ya?” komentar Jaya sinis.

Heru mendengus. “Tau ah, si Yuhan! Padahal kan gue ngarepnya lo ngirimin puisi dulu gitu, atau nggak—”

“Bentar deh,” Heri menyela penuturan kembarannya. “Alamat e-mail kamu kan Hantuduapuluhsembilan et ge-mail dot com, pak Wisnu bakalan tau gak kalo kamu yang nembak dia?” tanya Heri menatap lekat ke wajahku.

Seketika, aku pun mematung. Seakan baru tersadar, refleks aku menjambak rambutku sendiri dengan kedua mata melotot. “Iya, ya! Sekarang gimana dong?!” jeritku parau, baru menyadari kebodohanku.

“Palingan pak Wisnu cuma bales e-mail lo dengan: ‘Maaf. Saya gak tertarik untuk pacaran dengan mahluk dari dunia lain’.” dan jawaban menyebalkan Jaya disambut tawa oleh si kembar di meja ini.

Aku mendelik sebal. “Aku serius, Jay! Ah, kamu!” aku melemparkan sedotan dari botol minuman Jaya ke wajahnya.

“Habisnya, lo sendiri yang salah.” cerca Jaya gak acuh sembari mengelap muka menggunakan tisu. Heru coba membantu, tapi tangannya ditepis lagi.

Aku merengut lalu menutupi wajahku yang serasa dibakar oleh rasa malu.”Eh, tapi itu bisa jadi bagus, kan?!” seruku tiba-tiba. Menyadari makna dibalik kebodohanku ini.

“Maksud kamu?” tanya Heri sambil lanjut memakan bulatan bakso kecil di mangkuknya.

Aku tersenyum berseri-seri. “Kan kalo pak Wisnu nggak tau yang ngirim e-mail buat dia itu aku, berarti aku nggak perlu takut dong?” paparku diakhiri embus nafas lega.

“Takut kenapa?” kali ini Heru yang bersuara.

Aku berdecak. “Ya takut aku…” mengecilkan suara, “ketauan gay lah, Ru. Gimana sih kamu?” sungutku membalasnya.

Heru membulatkan bibir. “Tapi kalo kayak gitu akhirnya, lo tetep gak bakalan dapet apa-apa. Usaha nekat lo nembak dia setelah lo mendam perasaan selama ini, sia-sia aja,” tuturnya cukup panjang dan ngena ke hatiku yang sedang bimbang.

Aku menjatuhkan kepalaku ke atas meja. “Ya terus aku mesti gimana dong? Aku malu, tauk!” keluhku lirih.

Jaya menjawab kejam. “Mati aja lo sana!” dan aku menginjak kakinya. Yang sayangnya, yang kena injak itu justru kaki Heru, soalnya dia yang berteriak kesakitan.

Aku nyengir tertahan. Sedangkan Jaya dan Heri aku dengar tertawa keras. Huh, dasar para sahabat kurang waras!

. . .

Lagu berjudul Surga Indah Di Bawah Angkasa yang dibawakan oleh band yang sering perform di tempat tongkorongan favoritku mengalun lembut. Memenuhi suasana sepi kamar yang baru saja selesai kurapikan. Ah, aku selalu suka suara merdu dari cowok yang merupakan vocalis band Bless My Way ini. Yang setiap kali aku mendengarnya, pasti dibuat deg-degan tanpa tahu sebabnya. Apalagi saat aku menyaksikannya tampil secara langsung di depan kedua mataku, dan begitu kaset berisi lagu-lagu dari band-nya ditanda tangani oleh Arta–si vocalis yang aku yakin sangat ganteng itu, aku semakin dibuat tergila-gila. Uh. Aku kangen melepas masa sepiku setiap sedang mendengarnya bernyanyi.

Mengecilkan sedikit volume lagu ini dari GOM player, aku beralih menuju ke Mozilla Firefox, setelahnya mengetikkan alamat google mail untuk memeriksa daftar e-mail baru yang masuk.

Ya Tuhan, aku dibikin makin berdebar ‘kan? Seandainya saja aku tahu bagaimana cara biar e-mail yang sudah terkirim dan terbaca musnah dari ingatan si penerimanya. Seandainya aku nggak tergoda untuk mau-maunya mencatat alamat e-mail pak Wisnu di mading tempo hari. Seandainya aku… Ah, terlambat untuk menyesal sekarang. Lebih baik aku melihat e-mail baru yang…

TUH, KAN! Pak Wisnu membalas e-mail-ku! Ya ampun! Apa isinya, ya? Pasti pak Wisnu nggak tahu kalau aku yang sudah mengirim e-mail buatnya ‘kan? Yang sok nekatnya menyatakan cinta lewat akun jejaring sosial cukup jadul ini. Habis mau bagaimana? Aku nggak punya alamat
twitter dan facebook pak Wisnu. Huh.

Menghela nafas terlebih dahulu, aku mulai meng-klik e-mail balasan dari guru yang aku sukai ini. Dan kontan saja, kedua mataku melotot dengan mulut yang menganga besar, tangan kananku gemetaran memegangi mouse dari layar laptop yang masih menampilkan halaman inbox e-mail-ku yang baru saja aku tengok.

“I-ini…”

Aku membaca sekali lagi balasan pesan dari Wisnuhandiarta et ge-mail dot com yang terpampang di depan mataku.

[Ini Yuhan Raharjuan dari kelas 11 A, ‘kan? Saya kurang mengerti maksud dari pesan kamu. Bisa kita bertemu saja besok di sekolah? Bicara empat mata.]

Aku lekas memekik. “HERU, HERI, JAYA! AKU HARUS GIMANA?!” saking frustasinya sambil meremas mouse dan menjedot-jedotkan kepalaku ke meja.

“Yuhan! Udah malem, malu sama tetangga!” seru Mamah dari luar kamarku. Aku mengerang tanpa menghiraukannya.

Jadi, Pak Wisnu tahu kalau Hantuduapuluhsembilan itu aku. Tapi bagaimana dia bisa tahu? Duh, itu nggak penting banget! Yang jelas bikin aku gak habis pikir, pak Wisnu mengajak aku untuk bertemu besok di sekolah untuk bicara empat mata? Guru bahasa Inggris ini sedikit
sinting atau memang benar-benar nggak mengerti, sih? Aku kan sudah jelas-jelas mengetik kata ‘I love you’ di sana, tapi masa dia nggak paham sepenuhnya?

Aku menutup laptop tanpa meng-shut-down-nya terlebih dulu. Cepat-cepat meraih ponsel untuk mengirimi Heri pesan. Kalau Jaya dan Heru bisa diurus nanti, pasangan somplak itu akan lebih banyak memberi bully-an daripada saran.

[To: Heri.

Her, Pak Wisnu ternyata tau. Dia ngajak aku ketemuan besok, aku harus gimana?]

Setelahnya, aku menekan tombol ‘send’. Gak berselang satu menit, balasan dari Heri datang.

[From: Heri.

Wew…]

Aku mengernyit nggak suka membaca pesan singkat gak bermakna itu. Sahabat biadab.

[To: Heri.

KASIH SARAN BUAT AKU LAH, DODOL!]

[From: Heri.

Hehehe… Sorry, Han. Tunggu aku pulang, ya? Sekarang lagi sama Abang Dendit nih. Hihi.]

Aku mendengus gemas. Ini malam Jum’at Kliwon, tapi bisa-bisanya si Heri malah kencan dengan pacarnya yang lebih tua empat tahun itu? Eh, sebentar… Aku dan pak Wisnu saja jarak usianya lima tahunan, kok. Duh, gak penting banget lah!

Aku pun jadi sewot. Ketar-ketir. Sampai-sampai membanting ponselku ke ranjang, lalu berguling-guling di lantai sambil menggerutu. Apa yang harus aku lakuin? Apakah besok aku benar-benar harus bertemu dengan Pak Wisnu? Eh, tapi…

Aku kemudian terduduk di lantai. Menelengkan kepalaku. Masalahnya, kami mau ketemuan di sekolah di bagian mananya? Jam berapa?

Ya Tuhan, Yuhan… Kamu kok jadi cowok lelet banget sih otaknya?!

***

Sialan berpuluh-ratus-ribu-sialannya. Kenapa aku bisa lupa kalau ini hari Jum’at? Yang artinya Pak Wisnu akan mengajar di kelasku karena hari ini ada mata pelajaran bahasa Inggris di jadwal.

Aku terpaku di tempat duduk. Berulang kali Heri menyuruhku untuk tenang dan melupakan kemungkinan tentang Pak Wisnu yang berniat mengajak aku bicara. Nah, mana bisa aku begitu? Aku sangat yakin kalau Pak Wisnu serius dengan kemauannya. Meskipun aku belum tahu dia mau menemuiku di mana dan pukul berapa.

“Her, waktu kamu ditembak sama bang Dendit dulu, rasanya gimana?” tanyaku entah gerangan mengapa.

Heri menggumam sebentar, “Aku seneng dong. Soalnya Bang Dendit kan udah aku sukain sejak pertemuan pertama kami. Em, meski dia sempet salah nembak. Tetep aja! Gimana sih perasaan kamu pas tau kalo cowok yang kamu suka ternyata suka juga ke kamu? Pasti seneng, dong!” perjelasnya dengan suara pelan dan wajah berbinar.

Aku menghela nafasku, menolehnya. “Kalo seandainya pak Wisnu ngancam aku karena tau aku homo, gimana, Her? Aku udah kurang ajar lagi nembak dia via e-mail.” aku pun mengungkap kegalauan yang merundungku.

Heri tersenyum menenangkan. “Harusnya kamu udah mikirin resiko itu dong, Han, sebelum nembak Pak Wisnu. Ya, kan?” responnya tepat sasaran.

Aku tertunduk lesu. “Aku takut, Her,” ujarku parau. “Aku takut kalo…” aku gak sanggup melanjutkan. Pikiranku dipenuhi oleh kilasan-kilasan masa depanku yang mengerikan.

Bunyi bel tanda masuk berbunyi, membuatku terlonjak di tempat. Merasa kalau bel ini merupakan panggilan kematian untukku. Kakiku gemetaran, tubuhku panas dingin.

Ya Tuhan, bolehkah aku meminta Pak Wisnu absen hari ini? Aku mohon.

. . .

Tuhan nggak mengabulkan do’aku. Tahu kenapa? Karena Pak Wisnu benar-benar masuk ke kelasku. Mengajar materi bahasa Inggris di jam ke-dua. Dan sepanjang jam pelajaran berlangsung, aku hanya sanggup menunduk. Sampai akhirnya, sosok lelaki berusia dua puluh dua tahun itu menegurku…

“Yuhan Raharjuan?”

“YES, SIR?!” aku menjerit kelepasan, terkejut oleh panggilannya.

Seisi kelas kontan cekikikan mendapati responku itu. Wajahku terasa panas, aku ingin sekali terjun dari jendela kelas saat ini juga.

“Are you feeling well? You look pale,” tanya Pak Wisnu penuh perhatian, membuatku merasa kalau dia juga menyukaiku.

Ya Tuhan, otakku pasti sudah nggak waras. Mana mungkin Pak Wisnu juga menyukaiku. Tapi jika diperhatikan, sepertinya Pak Wisnu nggak ada kelihatan risih atau pun sebal dengan keberadaanku. Mengingat fakta tentang aku yang sudah mengungkapkan perasaanku padanya.

“Yuhan?” sekali lagi namaku dipanggil.

Heri yang duduk sebangku denganku menyenggol lenganku pelan, aku tersadar.

“I-I’m fine, sir. Just a little bit… dizzy,” jawabku lemah dan sedikit gugup.

Tanpa aku duga, pak Wisnu malah berjalan mendekat ke tempatku. Tanganku terkepal di atas pangkuan saking tegangnya. Dan ketika tangan besarnya menyusup di balik poni rambutku untuk memeriksa suhu tubuhku, wajahku langsung terasa dibakar. Jantungku kencang berdebar-debar, aku lupa bagaimana cara mengambil nafas dengan benar.

Begitu telapak tangan pak Wisnu lepas sudah dari keningku, aku melemas.

“Heri, please take him to the infirmary.” titah pak Wisnu yang segera saja Heri turuti.

Antara lega dan juga nggak enak. Karena aku bisa mengambil jam kosong di kelasnya, namun juga aku harus merepotkan Heri. Sebab bahasa Inggris merupakan salah satu mata pelajaran favorit sahabatku ini.

“Kamu beneran gak enak badan, Han?” tanya Heri sesaat setelah kami keluar dari pintu kelas.

Aku dipapahnya dengan hati-hati. “Bisa dibilang… mungkin. Aku butuh waktu, Her. Belum siap berhadapan langsung sama pak Wisnu.” Jawabku sejujurnya.

“Hm… Ya udah. Kalo gitu kamu istirahat aja dulu, buat menenangkan diri. Pas jam istirahat aku bawain makanan nanti.” ujar Heri penuh pengertian.

Aku tersenyum. “Thanks ya, Her.”

“No problem.”

Untung saja aku mengalami kegalauan ini masih ditemani sosok sahabat-sahabat yang sama sepertiku. Kalau aku sendirian, bagaimana coba nasibku nanti?

. . .

Aku berbaring miring di ranjang ruang kesehatan. Melirik jam dinding yang menunjukan pukul 09.57. Tiga menit lagi menuju jam istirahat.

Aku menggaruk kepalaku yang nggak gatal, berguling ke kiri dan berbaring ke arah sebaliknya lagi. Mataku terpejam, membayangkan kemungkinan apa yang akan pak Wisnu lakukan demi menanggapi perasaanku padanya. Apakah dia akan menghukumku? Meng-scors-ku? Atau justru mengadukannya pada kedua orang tuaku kalau aku ternyata gay? Tetapi ya itu, mengingat sikapnya yang biasa aja ketika melihatku di kelas tadi, membuat aku sedikitnya percaya kalau pak Wisnu nggak akan melakukan itu semua.

Duh. Repotnya menjadi murid yang menyukai gurunya sendiri. Ya, nggak apa-apa kalau aku ini murid perempuan yang menyukai guru laki-lakiku. Nah, ini… sudah murni murid laki-laki dan aku menyukai guru laki-lakiku pula. Hidupku benar-benar menyedihkan. Ah, nyatanya
kehidupan para kaum homoseksual memang kebanyakan sepertiku ini. Dirundung galau berkepanjangan, serta dilema penuh drama.

Aku mendengar suara pintu ruang kesehatan yang ada di belakangku terbuka, tanpa menengokkan kepalaku terlebih dulu, aku langsung membangunkan diri karena yakin itu Heri yang datang. Sesuai perkataannya, dia akan membawakan aku makanan di jam istirahat.

“Her, kam—” aku menoleh, dan ucapanku tertahan di ujung tenggorokanku begitu aku tahu ternyata orang yang memasuki ruang kesehatan ini bukan Heri, melainkan pak Wisnu.

Ya. Aku nggak salah lihat. Itu PAK WISNU!

Seketika saja, kondisi tubuhku yang beberapa saat tadi baru dilanda ketenangan mendapatkan paniknya lagi. Aku harus bagaimana menghadapinya?

Jantungku berdebar-debar kuat, nafasku ketahan-tahan nggak karuan dan parasku mendadak memanas. Kenapa pak Wisnu yang ada di sini?

“Sudah merasa baikan, Yuhan?” tanyanya begitu sudah berdiri di sisi tempatku.

Aku meneguk ludah secara susah payah, menjawab tanyanya melalui anggukan yang sangat lemah.

“Sungguh?” tanyanya lagi, memastikan.

“I-i-iya, p-p-pak,” ucapku tergagap. Pak Wisnu tersenyum tipis, tangannya bergerak merapikan poni rambutku yang pasti sangat berantakan karena aku berulang-ulang merubah posisi
tidur. Aku diam saja mendapati perlakuan ini darinya, malah sejujurnya menginginkan lebih. Lalu saat tangan Pak Wisnu membelai lembut helai-helai rambutku, aku mengerjap takjub. Tiba-tiba berpikir bahwa yang sedang aku alami ini merupakan mimpi semata.

Pak Wisnu menarik kursi plastik yang berada nggak jauh dari posisinya berdiri, mendudukinya, kemudian menatapku intens. Membuatku gak berkutik, gak mampu sekedar untuk berkedip melawan tatapannya. Wajahnya yang tampan dan sosoknya yang memang menjadi idola dari para siswi di sekolah ini benar-benar mempesona. Aku sungguhan suka padanya.

“Yuhan?” sebutnya lirih. Aku berkedip sekali, tersadar sepenuhnya kini. “Saya…” ucapannya menggantung. Aku was-was menunggu kelanjutannya. “Hm, tentang e-mail kamu—”

“Stop, sir!” aku menukas cepat penuturannya, bahkan dengan lancang tanganku bergerak ke depan mulutnya, menempel di sana. Membuatku bisa merasakan tekstur agak kasar di dagunya, embus nafasnya yang teratur dan juga helai-helai kumis tipis yang tumbuh di atas bibirnya.

Kami berdua sama-sama bergeming, saling melempar tatap yang bagiku teramat janggal. Wajahku makin panas saja suhunya, tanganku yang menempeli mulut pak Wisnu melemah. Turun dengan sendirinya dari sana.

“M-m-m-m…” aku menghela nafas banyak-banyak. “Ma-ma-maaf, pak—sir, emm… Sa-saya,” aku mengembuskannya. “Sa-saya nggak bermaksud lancang, cuma s-saya ng—maksud saya…” aku diam, kemudian menunduk. Merutuki kegugupan yang sangat memalukan ini.

Tangan pak Wisnu tanpa terduga menyentuh pipiku, membuat aku mendongak. Sedikit tersentak saat sadar bibirnya sedang menampakkan senyuman, sampai-sampai kepalaku terteleng melihatnya. Takut-takut jika ini semua memang hanya halusinasi berupa mimpi indahku.

“P-pak Wisnu?” sebutku linglung.

Tangan yang ada di pipiku turun ke dagu, menarik wajahku mendekat bersamaan dengan gerakan wajah sosok guru laki-laki yang aku kagumi ke wajahku. Aku kontan melotot. Yang sulit aku percayai adalah perasaan yang mana bibirku dan bibir pak Wisnu sepertinya menempel.

Apakah pak Wisnu menciumku?

Tunggu dulu! Jadi aku dicium pak Wisnu? Aku dan pak Wisnu beneran berciuman, nih? Kami berdua—Impossible!

Otakku memang sudah nggak waras. Ini pasti mimpi, halusinasi. Seratus persen yakin memang hal itulah yang tengah aku hadapi. Jadi, tanganku yang gemetaran kugunakan untuk mencubit kulit tangan sendiri. Dan begitu merasakan sakit, aku meringis dan sigap memundurkan kepala.

Mata pak Wisnu dan mataku bertemu, nafasku terengah-engah. Bibirku aku sentuh, mendapati sensasi basah yang aneh tertinggal di sana. Mataku membelalak, mulutku ternganga.

YA TUHAN, JADI INI SEMUA BUKAN MIMPI?!

Kalau ini bukan mimpi dan bukan pula halusinasi, bahwa pak Wisnu benar-benar menciumku. Apakah itu artinya pak Wisnu sama sepertiku? Guru laki-laki muda dan tampan ini menyukaiku juga? Kalau iya, aku akan dibuatnya benar-benar nggak waras.

Pak Wisnu memegangi tanganku yang tadi baru aku gunakan untuk muncubit tanganku yang lain, sorot cemasnya terarah ke sana. “Tangan kamu sakit?” tanyanya penuh perhatian.

Aku menahan senyum bahagia. Sekarang, aku sudah nggak peduli lagi apabila nanti jadi nggak waras betulan. Akhirnya, aku bertindak lancang padanya lagi dengan memeluk tubuhnya dan melingkarkan kedua tanganku di sisi-sisi lehernya. Membaui aroma tubuhnya yang jantan dan
menggoda. Bikin aku gigit bibir dan mengendus-ngendus nakal ke lehernya. Pak Wisnu pun nggak mendorong aku apalagi memarahiku, justru dia balas memeluk. Menepuk-nepuk lembut punggungku sambil membelai rambut belakangku.

“Pak Wisnu, I love you.” bisikku ke telinganya.

Suara kekehan merdu pak Wisnu yang terdengar gak asing bersenandung menanggapi ungkapanku. Meskipun detak jantungku belum berkurang ritme debarannya.

“Jadi, e-mail kamu itu serius, ya?” Pak Wisnu lantas bertanya.

Aku menjauhkan tubuhku darinya perlahan, menunduk dan menatapnya seperkian detik dibarengi anggukan.

“Saya kira kamu iseng, Yuhan,” ujarnya.

Aku mengernyit. “Sa-saya gak iseng kok, pak. Sa-saya beneran suka sama bapak.” kataku menanggapinya.

Pak Wisnu tersenyum lalu bergerak maju, mendaratkan ciuman hangat di kening berponiku. Aah. Aku meleleh, deh. Padahal inginnya, aku berteriak dan jingkrak-jingkrak, bahkan goyang dumang kalau perlu. Saking sangat kesulitannya menjabarkan bagaimana indahnya perasaanku.

“Saya senang kalau kamu serius. Karena kamu juga satu dari beberapa murid di sekolah yang menarik perhatian saya.” tuturnya menjelaskan, meski sedikit membingungkan.

“Apa bapak…” aku meneguk ludah. “Suka juga sama saya?” tanyaku ragu.

Dan aku terperangah takjub melihatnya mengangguk mantap. Aku tertawa pelan dengan paras yang terasa direbus.

“Tapi hanya sebagai murid saja tentunya. nggak lebih.”

Hah? Aku nggak salah dengar kan tadi?

Tawaku kontan tertelan lagi ke tenggorokan. Debaran kencang di jantungku seolah gak berdetak sama sekali kini. Sangat yakin nafasku sudah hilang. Dan indah yang baru ingin kuraih berubah menggelapkan, membawa perih yang menikam hatiku, beralih menuju ke mataku. Aku
menangis sudah. Menggigit bibirku yang gemetaran, panas parasku tersiram air mata.

Jadi ini yang namanya sakit hati? Ini yang namanya di-PHP? Setelah ini, aku ingin sekali masuk ke rumah sakit jiwa. Soalnya aku tahu, aku memang sudah nggak waras. Berharap terlalu tinggi, terbang dalam angan yang berlebihan sehingga aku dibanting sekaligus tanpa ampun. Pak Wisnu ternyata nggak sama sepertiku. Sungguh memalukan sekali.

Sapuan lembut sepasang tangan di pipiku membuat aku membuka mata. Wajah pak Wisnu terlihat buram, tapi aku sedang nggak mau peduli. Aku membuang muka, mengelap wajah cengengku menggunakan lengan seragam. Terburu-buru, aku turun dari ranjang ini, mengambil sepatu dan cepat-cepat berjalan menuju ke pintu.

Aku mau makan. Kepengen curhat pada Heri kalau aku sekarang sedang sakit beneran. Dan inginnya, pak Wisnu nggak akan mengajar dulu ke kelasku sampai sakit hatiku ini mereda.

“Yuhan, tunggu dulu!” pak Wisnu menahan tanganku, membuat sepatu yang aku pegang terjatuh.

Aku meronta, tapi dia nggak mau melepaskan. Membuat air mata yang sudah aku bersihkan menetes lagi, dan kali ini aku terisak-isak. Perlahan-lahan sekali, tubuhku dibalikkan pak Wisnu untuk menghadapnya. Aku mendongak, merengut padanya menunjukkan betapa sudah sakit hatinya aku dibuat olehnya. Semua lelaki ternyata sama saja. Suka memberi harapan palsu. Biadab. Kecuali aku tentunya.

“Kamu kenapa nangis?” tanyanya sembari mengeringkan air mataku menggunakan tisu yang entah dari mana.

Aku menyusut hidung, menahan ingus yang bersiap keluar. “Saya nangis karena saya lapar, pak. Saya mau ke kantin. Lepasin saya!” jawabku ketus, menepis kasar tangannya.

Namun pak Wisnu memegang kedua tanganku, membuatku gak berkutik. “Saya belum meneruskan jawaban saya buat kamu, Yuhan,” ujarnya laun dan penuh penekanan.

“Sa-saya gak perlu tau!” sergahku sambil menundukkan kepala.

“Tapi saya mau kamu mengetahuinya. Kalau saya menganggap kamu murid istimewa saya hanya di sekolah saja,” aku pura-pura nggak mendengarnya. “Nah, kalau di luar dari itu, saya tentu saja akan memperlakukan kamu seperti pacar saya. Emm, itu pun kalau kamu bilang sukanya sekalian mau minta saya jadi pacar kamu. Makanya, saya bilang saya masih kurang mengerti,” mendengar penuturan lanjutannya itu, kontan saja aku mendongak dengan kedua mata melotot. Rasa hangat dan asin yang terkecap dari atas bibirku nggak kuhiraukan, tapi pak Wisnu nampak geli melihatku. “Kamu ingusan.” katanya sembari mengusap bagian bawah hidungku.

“P-pak Wisnu serius kan? Gak lagi PHP-in saya kan?” tanyaku menuntut.

“Kamu jawab dulu, mau jadi pacar saya atau nggak?” dia balik menanyai.

Tanpa pikir panjang, langsung saja aku sahuti. “Ya iyalah, pak! Saya mau!”

Pak Wisnu tertawa, setelah itu memelukku bersamaan dengan bibirku yang diciumnnya. Dan kali ini, aku bersorak girang dalam hati.

Aku masih waras dan aku sudah resmi jadi pacar pak Wisnu.

Biar kuceritakan. Wisnu Handiarta adalah guru bahasa Inggris pendatang baru di sekolahku. Hanya mengajar di kelas 11 serta beberapa kelas 12. Dia pertama kalinya masuk adalah ke dalam kelasku. Sosoknya yang sangat ramah, tampan, keren dan sungguh mempesona bak aktor yang sering muncul di sinetron-sinetron tontonan Mama, nggak cuma menarik perhatian para murid perempuan saat itu, aku yang laki-laki saja dibuat klepek-klepek oleh kharismanya.

Yah… nggak aneh, sih. Dari dulu aku lebih tertarik untuk memperhatikan dan mengagumi sosok dari kalangan kaum Adam daripada kaum Hawa. Entah apanya yang salah, tapi nyatanya aku memang begitu. Kalau melihat cewek berparas cantik, dadanya besar seperti melon, bahkan yang pantatnya montok bak baskom sekali pun aku Cuma berkedip-kedip saja. Tapi giliran mendapati cowok yang cakep, senyumnya menawan, tubuhnya bagus berotot, tonjolan di selangkangannya menggembung dan hal semacam lainnya itu, aku pasti sukses melotot dan megap-megap. Salah satu sisi nggak waras yang aku anggap ada dalam diriku. Lalu, kehidupan nggak waras ini berlanjut saat aku memasuki masa SMA.

Aku bertemu cowok cantik nan angkuh bernama Jaya dan si kembar yang bernama Heru dan Heri, kemudian berkenalan dengan mereka. Mereka bertiga sangat ramah, tetapi aku yang sejak dulu cukup pemalu dan minder-an dikarenakan orientasi seksualku pun dibuat sedikit susah ketika hendak berbaur bersama mereka. Sampai hari itu datang…

Heri menyampaikan pesan dari kembarannya buatku, katanya aku disuruh menemui Heru di perpustakaan karena dia ingin meminjam buku tugas milikku. Aku yang sudah berada di dalam perpustakaan pun cuma bisa diam sembari mencarinya, karena ruang penuh buku itu selalu menerapkan larangan tentang ‘tidak boleh membuat kebisingan’.

Aku hampir menyerah begitu akhirnya menemukan keberadaan Heru yang ternyata sedang mojok bersama Jaya sambil… berciuman dan berangkulan. Kedua mataku melotot dan jantungku berdebar-debar kencang melihat bagaimana bibir mereka saling menempel dan tarik-menarik, sesekali lidah Jaya dan Heru bahkan diadukan. Mataku pun menyipit saat sadar masing-masing tangan kosong mereka bergerak-gerak janggal di bawah meja. Dan ketika Heru membuka matanya begitu sesi ciumannya dengan Jaya disudahi, teman sekelasku saat duduk di kelas 10 itu langsung terperanjat di tempatnya, nampak panik.

“Y-Y-Yu-Yuh-Yuhan?” Heru gelagapan menyebut namaku. Jaya yang terduduk di sampingnya pun menunduk, nggak kuasa menghadapi aku saking malunya.

Tetapi yang aku berikan pada mereka berdua adalah senyum pertemanan dibarengi embus nafas lega. Lega karena yang nggak waras di antara kami ber-empat nggak hanya aku seorang. Bahkan semakin merasa senang saat tahu kalau Heri juga sama seperti aku, Heru—adik kembarnya— dan Jaya. Apalagi tipe laki-laki yang Heri sukai adalah mereka yang usianya lebih tua darinya. Seperti pacarnya yang sekarang, bang Dendit. Nggak sesuai dengan karakternya yang lembut dan terlihat lugu, ternyata dia itu… sangat biadab. Heru yang kasar dan suka berantem saja nggak se-biadab kakak kembarnya—yang cuma beda sebelas menit.

Yang menyedihkannya, di antara kami ber-empat, aku lah satu-satunya yang belum memiliki pasangan. Jadi ketika teman-temanku itu sedang mojok dalam rangka berpacaran bersama pasangannya, aku malah menghabiskan waktu sebagai jomblo ngenes dengan menonton Bless My Way manggung. Padahal aku yang paling imut. Beneran deh, aku yang paling imut. Kalau nggak percaya, coba tanya Mamaku.

Tapi untungnya status jombloku bakalan kadaluarsa mulai hari ini, soalnya aku sudah resmi jadi pacar pak Wisnu. Guru muda yang tipe aku banget dan aku sukai diam-diam selama enam bulan belakangan ini. Ah, pak Wisnu… I love you so much.

Aku dan pak Wisnu menyudahi ciuman yang tadi membuat nafasku nyaris ludes. Mataku mengerjap takjub, nggak menyangka kalau aku bisa berciuman dengan cara seperti itu. Padahal aku cuma pernah berciuman sekali. Tepatnya, aku pernah dicium sekali oleh cowok yang menyukaiku di SMP dulu.

“Kamu manis sekali, Yuhan.” puji pak Wisnu sambil mengelus-elus rambutku.

Aku tersipu, “Pak Wisnu juga cakep,” dan balas memuji.

Pak Wisnu tertawa pelan. Dan kali ini, aku yang berinisiatif untuk menciumnya. Menarik kerah kemejanya, menurunkan wajahnya agar sejajar denganku dan menempelkan bibirku ke mulutnya. Belum lama menikmati kuluman pak Wisnu di bibirku dan rabaannya di punggungku, pintu di belakang kami terbuka.

“Yuhan, ini aku baw—”

Heri nggak meneruskan kalimatnya. Sigap aku melepaskan kerah kemeja pak Wisnu, menjauhkan bibirku dari mulutnya. Menoleh perlahan dengan paras memanas, aku melihat raut shock di wajah Heri yang ternyata membawa serta Jaya dan Heru bersamanya. Yang juga nampak gak kalah kagetnya.

Pak Wisnu menegang kaku, raut wajahnya kelihatan gugup. Dia pasti khawatir karena kepergok ciuman dengan siswa cowoknya oleh muridnya yang lain.

“Emm, tadi kita gak liat apa-apa kan, ya?” ujar Jaya bertanya sambil mengerling pacarnya. Heru mengangguk.

“Yuk, Her, Ay. Kita keluar!” dan setelah berucap demikian, Heru menarik tangan Heri dan Jaya lantas menutup pintu, kulihat sambil sedikit menahan tawa.

Aku dan pak Wisnu berpandangan sejenak, setelahnya terkikik geli dalam hati. Ah, aku nggak sabar ingin menceritakan perihal keberhasilanku saat mendapatkan hati sang guru idola. Meskipun aku jadi dibuatnya bertanya-tanya: Memangnya pak Wisnu sejak kapan suka padaku?

“Emm, pak Wis—”

“Temen-temen kamu tadi mergokin kita, Yuhan,” tukas pak Wisnu terdengar cemas. “Apa gak apa-apa?” lanjutnya, menampakkan raut panic yang menggemaskan.

Bikin aku nggak tahan untuk mencium pipinya, lalu tersenyum padanya, “Tenang aja, pak. Temen-temen saya tadi sama kok kayak saya, sama-sama doyan cowok.” selorohku enteng menjawabnya. Meski gak yakin kalau Heru, Heri dan Jaya akan merasa ‘fine. It’s okay’ begitu tahu aku membocorkan perihal orientasi mereka.

Seperkian detik, pak Wisnu terdiam saja seperti sedang mencerna jawaban dariku. Dan ketika embus nafas lega darinya terdengar, aku tahu kalau kekasihku ini sudah mengerti.

“Jadi mereka…?” pak Wisnu menggantung pertanyaannya dan aku mengangguk cepat.

“Mereka juga udah lama tau kalo saya suka sama bapak, lho.” paparku ceria.

“Oh, ya? Emang sejak kapan kamu suka sama saya?” tanya pak Wisnu terlihat tertarik.

“Sejak pertama kali bapak masuk ke kelas saya dan bapak senyumin saya.” jawabku malu-malu.

Aku memang masih mengingat jelas hari itu. Karena saat itu pak Wisnu begitu mempesona, aku dibuat takjub sampai kesulitan berbicara. Begitu pak Wisnu menegurku dan bikin aku gelagapan nggak karuan, guru baru itu tersenyum geli ke arahku. Oh, tampannya. Dia memang tipe aku sekali. Namun anehnya, mendengar jawabanku itu, pak Wisnu mengernyitkan kening nggak puas.

“Kamu… gak inget ya, Yuhan?” tanyanya memasang raut serius.

Aku mengerjap. “Inget apa, pak?” tanyaku balik.

“Bukannya pertama kalinya kita ketemu itu, waktu kamu nonton saya manggung dan minta tanda tangan saya?” ujarnya menjawab dan bertanya sekaligus.

Aku mendelik heran. Nonton? Tanda tangan? Maksudnya apa?

“Maksudnya apa ya, pak?” aku mengerutkan kening, semakin dibikin kebingungan.

Pak Wisnu tiba-tiba tersenyum, menggeleng pelan lalu mengacak lembut rambutku. “Gak apa kalau kamu ternyata lupa. Tapi saya masih ingat, kamu hapal semua lagu dari band saya,” tuturnya.

“Band bapak?” desisku sedikit berpikir keras.

Pak Wisnu mengangguk, “BMW namanya.”

Dan ketika tiga inisial huruf yang nggak asing itu sampai ke telingaku, seketika aku terperangah. Mengangakan mulut, aku mundur beberapa langkah, setelah itu menunjuk pak Wisnu dengan telunjukku yang gemetaran. “P-pak Wisnu anggota band Bless My Way?!” seruku histeris menanyainya.

“Iya. Saya dulu jadi vokalisnya.” perjelasnya.

Mataku berbinar-binar.

Ya Tuhan, aku nggak percaya ini. Sudah tipe aku dari tubuh tinggi, wajah tampan, suara merdu dan senyum menawannya, rupanya pak Wisnu nggak lain dan gak bukan adalah vokalis dari BMW. Jadi, itu berarti…

“Bapak ini Arta, ya?” tanyaku masih belum puas meng-introgasinya.

Arta adalah sebutan untuk  vokalis band BMW, yang setiap kali manggung, dia akan bernyanyi mengenakan topi koboi plus kacamata bulat lucu. Yang selalu aku percayai jika dia sebenarnya punya paras cakep. Tapi semenjak tahu Arta mengundurkan diri dari band itu dan digantikan
oleh cewek bernama Weni, aku jadi nggak berminat lagi pada grup music beranggotakan lima orang itu. Meskipun drummer-nya yang bernama Bi lumayan keren juga. Kan yang aku sukai di sana adalah Arta. Habisnya suara cowok itu merdu, sih. Dan nggak aku sangka-sangka rupanya pak Wisnu merupakan jelmaan asli dari seorang Arta. Tapi tunggu…

“Iya. Nama Arta diambil dari nama paling belakang saya; Han-di-AR-TA,” pak Wisnu melafalkan sedikit demi sedikit. “Karena nama asli saya kedengeran kurang keren katanya. Jadilah…” imbuhnya yang cuma aku respon dengan anggukkan linglung.

“Ta-tapi kok bapak sama Arta beda, ya?” ucapku lebih-lebih menanyai diri sendiri. Masih belum sepenuhnya mempercayai fakta menggelikan ini.

“Bukannya beda, Yuhan,” pak Wisnu maju mendekat, lalu pipiku ditepuk-tepuk gemas oleh tangan besarnya. “Tapi saat saya hadap-hadapan sama kamu tempo hari kamu minta tanda tangan saya itu, kamu gak berani natap langsung ke muka saya. Apalagi kamu nontonnya
malem dan gak pernah kebagian tempat terdepan, ya wajar kalau kamu gak sadar.” kekasihku ini membeberkan penuturan yang membuatku teringat akan kebodohanku sendiri.

“Iya, sih. Apalagi saya cuma pernah minta sekali.” komentarku.

“Tapi karena sekali itu lah saya langsung jatuh suka sama kamu…”

Aku cepat-cepat mendongak saat mendengarnya. “Eh?”

Pak Wisnu menundukkan wajahnya, mengecup bibirku. “Makanya saya datang ke sekolah ini. Arta pernah nanyain nama kamu, umur kamu dan sekolah kamu di mana, ‘kan?” aku mengangguk patah-patah menjawab pertanyaanya.
Benar. Kejadian itu berlangsung sekitar setahun yang lalu. Jadi, dengan kata lain…

“Bapak pindah ke sini karena memang mau ketemu saya?!” tanyaku antara heran dan ke-ge-er-an. Namun melihat pak Wisnu mengangguk sambil tersenyum, semata-mata menciptakan perasaan bahagia nggak terhingga yang menerobos dadaku. Aku memeluk pak Wisnu. “Saya seneng, pak!” sorakku.

Pak Wisnu menyuarakan kekehan merdunya ke telingaku. “Kalau kita berduaan, jangan panggil ‘pak’ lagi, ya. Panggil saja Kak atau… Arta.” pintanya seraya mengusap rambut belakangku. “Dan sebaiknya, jangan lagi pake bahasa saya-saya-an. Biar lebih romantis.” Lanjutnya yang kemudian mengecup daun telingaku.

Aku bergidik nikmat. “Iya-ah, K—Arta! Sa—aku ngerti!” responku dengan perkataan yang gak karuan.

“I love you, Yuhan.” bisiknya laun dan menyentuhku sampai ke bagian terdasar hatiku.

Aku menarik diriku, menatap ke dalam mata pak Wisnu. Mengsyukuri sisi nggak warasku yang membawa aku jadi bisa bersatu dengannya.

“Saat pertama kali baca e-mail kamu, aku kaget, lho,” ucap pak Wisnu memecah keheningan sok romantis di antara kami.

“Kaget kenapa?”

“Karena ada hantu yang ngirimin e-mail,” selorohnya nampak menahan tawa. Aku merengut. “Habis itu aku cari-cari informasi soal pemilik e-mail itu, dan tahu dari pak Restu kalo alamat e-mail itu ternyata kepunyaan kamu.” terusnya bercerita.

Aku menjentikkan jari. “Hm. Pantesan. Dulu pak Restu pernah suruh kumpulin tugas lewat e-mail, sih. Sa—aku mau aja ganti sebenarnya, tapi kontaknya udah terlanjur kesimpan di sana semua.” ujarku.

Pak Wisnu tertawa pelan. “Tapi kalo bukan gara-gara e-mail hantu itu, kita gak mungkin bisa begini kan?” godanya.

“Iya. Gara-gara e-mail aku, kita akhirnya bisa jadian!” aku berseru senang. Pak Wisnu mendekapku penuh sayang.

Aku serasa terbang diiringi embus nafas kelegaan dan debaran kencang yang mengantarkan sukaku kepadanya hari ini. Kekhawatiran dan juga ketakutanku nggak berakhir nyata, justru terbalas indah yang nggak terduga-duga. Perasaan senang yang Heri maksudkan ternyata ada benarnya. Bahwa saat mengetahui orang yang kita sukai juga memendam perasaan yang sama terhadap kita, sensasinya amat menyenangkan, sekaligus menakjubkan.

Aku menciptakan jarak dengan pak Wisu, tersenyum dan kemudian mempertemukan kedua belah bibir kami untuk kesekian kalinya. Aku ingin memanfaatkan waktu berduaan kami saat ini. Nggak masalah kalau harus sembunyi-sembunyi di luar sana nanti, yang terpenting, kami sudah saling memiliki.

Memiliki sosok kekasih yang ternyata sejak lama telah menjadi idolaku. Yang dulu seringkali menemani sepiku. Memupuskan rasa kesendirianku melalui lagu yang dinyanyikannya. Dan ternyata, selama ini aku nggak pernah benar-benar jauh darinya.

Terima kasih, Tuhan. Aku akan sangat mengsyukuri kehidupan baru yang dimulai gara-gara e-email nekatku tempo hari.

Tamat