Elang_Senja_Dan_Langit_Biru_Coverr

a fiction by Nayaka Al Gibran featuring Ardhinansa Adiatama

###########################################

Kejadian membingungkan terjadi di penghujung bulan ketiga Langit bekerja. Siapa bisa mengira kalau dia sanggup bertahan hingga sejauh ini. Hubungan kami tidak serta merta berubah baik meski dia sudah hampir penuh bekerja untukku selama dua belas minggu. Dia masih tetap Langit, pria nyebelin yang tidak pernah berpikir dulu sebelum bicara, arogan, kasar, tidak berperasaan, kurang ajar dan suka meninggikan dirinya dengan cara merendahkanku. Selalu ada ketegangan tak kasat mata saat kami sedang bersama. Aku tahu dia juga pasti tahu tentang itu. Tapi, kejadian hari ini membingungkanku.

Kami sedang di taman ketika percekcokan itu terjadi.

“Halo Elang? Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Kulihat kamu masih buta saja…”

Aku masih ingat betul suara itu. Ketika aku tidak lagi bisa melihat, kemampuanku mengingat dan mengenali suara melesat ke atas. Itu suara Dallas. Bagaimana dia bisa muncul di sini?

“Ternyata penglihatan masih terlalu mahal untuk dibeli nenekmu yang cerewet itu ya…”

Kupingku berdenging. Ini bukan Dallas. Dulu dia selalu bicara sopan padaku. Tapi sekarang tidak. Apakah selama jadi asistenku dia mengenakan topeng?

“Ehem, apa maksud lo ngomong kayak gitu sama Elang?”

Itu suara Langit. Aku kaget mendengar caranya bicara kini. Ada kemarahan yang tersirat dalam nada bicaranya.

“Wow, lihat, Elang… ada yang ingin jadi pahlawan. Oh tapi bagaimana kamu bisa lihat, kamu kan buta.”

“Tutup mulut lo, Berengsek!”

Dallas mendendam. Dan sekarang dia sedang membalasnya. Dia sakit hati karena dipecat. Dan kini dia sedang mengobati sakit hatinya dengan menyakitiku lewat kata-katanya. Tapi Langit adalah lain hal. Selama ini dia juga suka mengungkit-ungkit kebutaanku, dengan cara yang juga hampir sama buruknya dengan yang dilakukan Dallas. Tapi kini dia marah ketika ada orang lain yang mengejek kebutaanku di depannya. Apa yang terjadi padanya?

“Kamu pasti asisten baru si buta ini, ya? Hemm… tunggu saja sampai kamu juga didepak keluar sepertiku. Orang-orang kaya seperti mereka itu tidak punya nurani. Mereka kira dengan memiliki banyak uang dunia akan menyembah mereka.” Sepertinya seseorang meludah, entah Dallas entah Langit. Aku bisa mendengar suara decak lidah. “Aku tak akan melakukannya, entah denganmu,” lanjut Dallas, pasti dia yang meludah.

Lupakah Dallas bagaimana dulu dia mengiba padaku dan Oma agar tidak dipecat? Jika Bang Rendra tidak datang, Dallas pasti akan melakukan persis seperti yang sesaat tadi dikatakannya tak akan dia lakukan: menyembah. Dan Oma memberinya pesangon. Kini dia mengatakan kami tidak berhati nurani?

“Maksud lo apa?” Kurasakan langit beranjak dari sisiku. Aku meraba-raba, berharap menemukan lengan Langit untuk menariknya duduk kembali. Tapi aku hanya menemukan udara kosong.

“Maksudku, si buta ini juga akan melemparmu kembali ke jalanan seperti anjing kurap saat dia bosan dan merasa jasamu sudah tidak diperlukan lagi.”

Fitnah. Dallas dipecat karena kesalahannya sendiri. Aku ingin bersuara membela diri. Tapi perkelahian itu sudah kadung terjadi.

BUKK

Pertama-tama aku mendengar suara gebukan dan umpatan ‘bangsat’, lalu suara samar seperti seseorang baru saja terjerembab. Kuharap itu bukan Langit. Sedetik kemudian aku mendengar caci-maki yang saling berbalas-balasan. Kata-kata seperti anjing, bangsat, bedebah dan sialan selang-seling masuk ke telingaku, ditingkah samar suara gebukan. Aku panik. Mereka sedang saling menghajar. Kudapati diriku sedang mengkhawatirkan Langit.

“STOP…!!!”

Caci-maki itu masih berlanjut.

“BERHENTI…!!!”

Perkelahian itu masih terjadi.

Aku bangun dari kursi dan berjalan dalam kepanikan sambil meraba-raba di udara, menuju sumber sumpah-serapah itu. Aku mengutuk kebutaanku lagi hari ini, sesuatu yang sudah jauh tertinggal di belakang, sesuatu yang sudah sangat lama tidak pernah kulakukan lagi. Aku mengutuk takdir, marah pada Tuhan dan benci pada kenyataan betapa tidak berdayanya diriku tanpa mataku. Sampai…

“Aarrgghh…!!!”

Aku terjerembab. Kakiku tersandung dengan entah apa dan wajahku menghantam rumput. Sesaat aku merasa pusing. Ada rumput di dalam mulutku. Aku meludahinya keluar. Saat aku berusaha bangun, nyeri luar biasa menyerang pergelangan kaki kiriku.

“Langit…!!!” aku berteriak panik saat sekali lagi nyeri itu muncul ketika aku berusaha menggerakkan kakiku, terasa lebih nyeri kini.

“Elang, ya Tuhan…!!!”

Hidungku mengenali bau Langit sebelum lengannya menarikku dan menjauhkan wajahku dari rumput. Saat dia berusaha membantuku berdiri, nyeri itu kembali terasa. Aku mengeluarkan jeritan tertahan dan kembali mengelesoh di tanah.

“Apa kakimu sakit?”

Aku mengangguk. Mati-matian berjuang agar tidak menangis.

“Itu karmamu, Elang!” suara Dallas, napasnya memburu.

“Lo bisa enyah gak?!?” geram Langit, napasnya juga terdengar ribut.

“Makasih, Mas Dallas…” Hening terjadi beberapa detik lamanya─kecuali napas kelelahan mereka berdua. “dan maafkan aku dan Oma jika selama membantuku dulu Mas Dallas sering merasa direndahkan…”

“Elang, apa-apaan kamu?” protes Langit. “Manusia gak tahu terima kasih kayak dia enggak pantas menerima hormatmu…”

Aku tidak memedulikan ocehan Langit. “Mas Dallas benar, ini karmaku.” Tak ada yang bersuara. “Kebutaan yang tak kunjung berakhir ini adalah karmaku…” dan pertahananku hancur-lebur. Aku menangis sudah.

“El… shuhhh…” Langit─dengan tidak disangka─menyapu pipiku dengan jarinya berkali-kali sebelum dia menyerah dan membiarkan pipiku basah begitu saja. Tapi kedua tangannya masih memegangiku.

“Ck,” seseorang berdecak. Pasti Dallas. “Drama sekali,” katanya.

“Jangan sampai gue ngehajar lo lagi!”

“Cuih, kayak aku gak bisa balas menghajar saja!” balas Dallas.

“Enyahlah!”

Aku tidak tahu apakah Dallas sudah pergi atau masih di sini, tapi suaranya tidak terdengar lagi sampai aku menyelesaikan tangisku.

“Apa kakimu masih sakit?” tanya Langit lirih.

Aku mengangguk.

“Makanya, jangan sok-sokan jalan ke sana ke mari. Kayak kamu bisa ngelihat saja!”

“Maaf.” Detik setelah kata itu keluar dari bibirku, aku menyesalinya. Harusnya aku memarahinya karena tidak menjagaku, aku majikannya. Harusnya dia yang minta maaf karena lalai. Langit pasti akan makin besar kepala setelah mendengar aku minta maaf padanya. Besok-besok, pasti sifat kurang ajarnya akan makin menjadi-jadi.

“Untung saja kamu jatuh ke tanah, bayangkan kalau sampai kamu terjatuh ke arah batang pohon ini. Mukamu pasti penyok.”

Aku meraba-raba di tanah, mencari tahu apa yang membuat kakiku tersandung. Kutemukan akar-akar pohon yang muncul keluar dari permukaan tanah. “Apa pohonnya besar?”

“Cari tahu saja sendiri.” Langit memegang tanganku dan membimbingnya ke pohon yang rupanya berada sangat dekat denganku.

Telapak tanganku merasakan kasarnya kontur kulit batang pohon itu. Tangan Langit meninggalkan tanganku. Rindu dari segala arah melabrakku. Dulu, aku sangat mahir memanjat pohon. Aku ingat bagaimana rasa kulit pohon pada telapak tanganku. Bertemu lagi dengan hal-hal kecil seperti itu─rasa kulit pohon, kini membuatku merasa seakan baru saja pulang setelah pergi begitu lama ke negeri yang amat sangat jauh dan asing.

Kususurkan tanganku perlahan di atas kulit pohon itu, dan kenyaman aneh merebak dalam diriku. Di dalam kepalaku, aku seperti bisa melihat bagaimana rupa kulit pohon itu, bagaimana teksturnya yang kasar dan berarit-arit seperti hendak terkelupas, warnanya yang coklat tua dan ketebalannya. Aku tak bisa mencegah diriku untuk tersenyum sendiri.

“Yap, dan kini kamu jadi gila. Sempurna, buta dan gila. Aku akan mengusulkan kenaikan gaji. Karena, selain menjaga cowok buta, aku juga harus menenangkan cowok gila.”

Untuk pertama kalinya, aku tak merasa dibully lagi oleh kata-kata Langit. Deskripsi kulit pohon di kepalaku membuatku tidak peduli pada apapun selainnya.

“Sudah jauh sore, aku akan membawamu pulang. Sebentar lagi jam kerjaku habis. Ayo!” dia menarikku untuk bangun.

“Akh…”

“Kenapa lagi?”

“Kakiku masih sakit.”

Diam sejenak. Langit pasti sedang memerhatikan kakiku. “Lalu?”

“Sepertinya akan sangat sulit bagiku untuk bisa jalan sendiri.”

“Aku gak akan menggendongmu.”

Aku membisukan diri. Jujur saja, pikiran tentang dia yang harus menggendongku sama sekali tidak terlintas dalam kepalaku, alih-alih aku hanya berharap dia mau menyanggaku agar mudah berjalan.

“Sialan. Kamu benar-benar merepotkan!”

Lalu tahu-tahu dadaku sudah menabraknya─belakangan aku baru tahu kalau yang bertubrukan dengan dadaku adalah punggungnya─dan kedua lengannya mengunci pahaku kiri kanan di dekat lipatan lututku. Refleks kedua tanganku menyebrangi pundaknya dan membuat cengkeraman di kain bajunya setelah meraba-raba sebentar. Kurasa aku mencengkeram bajunya di bagian dada kiri dan kanan. Sedetik kemudian aku sadar kalau sosokku sudah terangkat dan kami mulai bergerak.

Bau Langit tercium lebih kuat dari biasanya. Hidungku pasti sangat dekat dengan tengkuknya.

“Katakan pada omamu, aku minta bonus akhir bulan ini. Menggendong Elang Senja sama sekali tidak tercantum dalam daftarnya Nuna.”

Aku ingin meneriakkan padanya kalau kemungkinan paling mungkin adalah, Oma akan memecatnya karena membiarkan kakiku terkilir. Tapi ide aneh kalau aku tidak ingin Langit dipecat mengurungkan teriakanku.

Rasanya begitu tidak lazim, berada di punggung seseorang seperti ini. Aku pernah digendong, oleh Papa, saat aku masih tujuh tahun dan terjatuh ketika bermain kejar-kejaran di halaman. Kedua lututku lecet dan berdarah hingga rasanya sangat sakit bila aku meluruskan lututku untuk berjalan. Papa menggendongku. Rasanya begitu aman dan terlindungi saat itu. Tapi, berada di punggung Langit sekarang terasa begitu berbeda.

Aku tidak tahu seperti apa sosok Langit. Setinggi mana dia, selebar mana bahunya, sebidang mana punggungnya, sebesar mana otot-otot bisepnya. Tapi aku merasakan kenyamanan, seakan aku tak perlu khawatir dia akan kelelahan, tak perlu takut dia patah tulang, atau terjengkang ke tanah karena bobotku. Ini adalah pertama kalinya aku membuat kontak intim dengan Langit, bisa dibilang ini malah kali pertama aku membuat kontak fisik di banyak area dengan orang asing. Aku terhenyak pada fakta mengejutkan, bahwa posisi memeluk Langit dari belakang seperti ini terasa begitu enak. Aku bingung dengan diriku sendiri.

“Kupikir, sebaiknya kamu mengunci lenganmu di sekitar leherku.”

Ucapan Langit menghentikan lamunan di kepalaku. Dengan canggung, kugerakkan lenganku untuk melakukan apa yang dia suruh. Saat melakukan itu, aku menemukan kalau kemejanya tersibak di bagian dada. Sebagian kecil kulit jari-jariku bersentuhan dengan kulit dadanya. Aku seperti disengat arus listrik berskala rendah, bulu-bulu di tengkukku berdiri dan tetap begitu selama beberapa detik.

“Emm… kenapa kemejamu gak dikancing?”

Jeda sejenak. Mungkin Langit sedang memeriksa keadaan kemejanya, atau bisa jadi dia baru sadar kalau kemejanya lupa dikancing. “Tadinya sudah kukancing, tapi pria bernama Dallas Bangsat tadi membukanya. Kurasa dia tak tahan ingin melihat perutku yang six pack. Dia pasti sengaja memanas-manasi biar bisa berkelahi denganku lalu membuat bajuku robek-robek. Dia pasti membayangkan bisa menelanjangiku dengan berkelahi. Harusnya dia bisa minta baik-baik.”

Aku yakin kalau mukaku bersemu lagi kini. Ternyata Langit bukan lupa mengancing kemejanya, tapi perkelahiannya dengan Dallas membuat kancing-kancing kemejanya tanggal. Tapi, ada apa dengan pikirannya? Mengapa juga Dallas perlu berpikir untuk menelanjanginya? Dasar gila.

Sisa perjalanan kami lalui dalam kediaman. Saat tiba di rumah tanpa sekalipun berhenti untuk istirahat, aku yakin kalau Langit adalah sesosok pria dengan tinggi di atas rata-rata, berbahu lebar, punya punggung dan dada yang bidang dan otot-otot lengan yang kokoh sehingga kuat menggendongku sampai ke rumah tanpa kehabisan napas.

Aku penasaran, apakah dia sungguhan punya kotak-kotak di perut seperti yang dibualkannya?

***

Aku mengambil ice pack dari dalam kulkas untuk sedikit mendinginkan pipiku yang terkena hantaman si banci sialan tadi sore. Di belakangku, Nuna masih mengawasiku. Aku memang belum memberi penjelasan apa-apa, namun wajahku pasti sedikit banyak sudah menggambarkan bahwa sesuatu buruk baru saja terjadi.

“Ngit, kamu…”

“Ntar ya, Nun, okay? Aku lagi gak bisa ngomong.” Bohong. Tapi bodo amatlah. Aku bergegas ke kamar Elang masih sambil memegangi ice pack di pipiku. Dia sedang mandi.

Pipi dan tubuhku baik-baik saja. Walaupun keahlianku bukanlah berantem, melainkan melepas kemeja dan kait celana, pukulan si banci masih bisa aku terima. Dia juga tidak pandai berkelahi.

Yang aku khawatirkan adalah Elang. Bengkak di pergelangan kakinya memang terlihat serius, tapi akan sembuh, kan? Bagaimana dengan luka hatinya? Saat dia mendengar ocehan si banci tadi sore? Aku yang tidak dihinanya saja sakit hati, apalagi Elang? Kenapa juga dia masih bisa bersikap tenang? Dia nangis sih, yang entah kenapa membuatku makin marah pada si banci juga pada diriku sendiri. Si banci jelas manusia sampah yang tidak tahu balas budi, aku saja, akan memberikan service luar biasa di atas ranjang jika habis diberi sesuatu yang mahal oleh seseorang sebagai bentuk balas budi. Oke, gak nyambung.

Marah pada diriku sendiri, karena selama ini aku juga sudah keterlaluan dengan kata-kataku. Ya ampun, Elang itu masih belasan tahun! Yah, aku juga baru akan menginjak duapuluh sih.

Aku akan mengurangi keisenganku dengan kebutaannya. Mungkin ganti mengisenginya dengan hal lain.

Ada rasa tidak nyaman ketika aku menyentuh leherku, tempat kedua tangan Elang bertaut tadi. Lumayan lama, dan… entahlah! Aku tidak bisa menggambarkannya, maksudku aku belum pernah merasakan yang demikian. Aku hanya menggendongnya, dengan pakaian lengkap, tanpa ada unsur seksual, dia juga bukan tipeku, tapi penisku mengalami ereksi kuat dan menyakitkan di bawah sana ketika aku menggendongnya. Kalian tahu? Ereksi sambil menggendong seseorang itu perlu stamina lebih. Mari kita beri penghormatan khusus untuk para pemain bokep di luar sana.

Aku tidak akan mempertanyakan keabnormalan seksualku, aku masih abnormal, karena Elang masih laki-laki. Dia juga menarik, tidak ada yang salah, aku masih homo. Hanya kurang pas.

Aku merasa agak berdosa. Well, dosaku sudah cukup banyak tentu saja.

Ada belasan pesan dari Harris yang aku abaikan. Aku masih berdiam diri, duduk di atas ranjang sambil mataku mengawasi kamar mandi. Rasanya aku ingin masuk dan membantu Elang mandi. Tapi, aku tidak bisa melakukannya.

Elang tidak pernah menyentuhku, selalu aku yang menyentuhnya. Jadi, kejadian kali ini benar-benar di luar akal sehatku. Jemari halusnya masih bisa aku rasakan sedikit menyentuh dada bagian atasku tadi. Putingku saja menjerit penuh harap karena tidak sempat mendapat belaian dari Elang.

Setan! Kenapa pikiran cabulku malah sampai ke sana?

Elang bukan tipeku, Elang bukan tipeku. Bayangin Faisal telanjang, bayangin Faisal telanjang. Lalu kemudian bayangan Elang tengah berusaha keras untuk mandi di dalam sana malah muncul ke permukaan. Aaargh, aku gila!

Aku meletakkan ice pack yang sedari tadi kutempelkan ke pipiku, sewaktu Elang keluar dari kamar mandi. Kasihan sekali, kali ini dia harus merangkak.

Aku bergegas membantunya, namun aku tidak bersuara. Aku hanya masih sedikit bingung dengan perasaanku sendiri. Lagipula masih ada yang menggangu pikiranku. Bagaimana kalau si Eyang Bawel memecatku gara-gara kejadian sore ini? Kehilangan pekerjaan ini bukanlah suatu hal besar. Aku masih bisa survive tanpa pekerjaan ini, apalagi sekarang ada Harris. Aku hanya tidak bisa membayangkan tidak bisa bertemu dengan Elang lagi, itu saja.

***

Oma pulang setengah jam sebelum jam kerja Langit berakhir. Aku sudah mandi alakadarnya, nyaris menyerah dan meminta Langit membantu memakaikan pakaian dalamku kalau tidak ingat kalau itu akan sangat membuatku malu nantinya. Aku keluar dari kamar mandi dengan merangkak dan langsung dipapah Langit ke tepi ranjang. Ketika Oma masuk ke rumah, kami sedang di ruang tivi dan Mbak Nuna sedang mengoleskan minyak gosok Oma ke pergelangan kakiku.

Seperti yang sudah kuperkirakan, Oma merepeti Langit─yang tidak menjawab apapun─habis-habisan dan berakhir dengan kalimat : Hari ini kelalaianmu membuat kaki cucuku terkilir, siapa yang bisa menjamin kalau besok kelalaianmu tak akan membuat cucuku patah tulang? Jadi mulai Sabtu depan, kau tak perlu datang lagi.

“Oma, sudahlah…,” kataku. Dan lalu sasaran repetan Oma beralih padaku.

“Apanya yang sudahlah? Kamu kira ini masalah sepele? Ini masalah serius. Kakimu terkilir, bukan bulu matamu rontok. Bahkan bagi Nicole, bulu mata rontok pun sama sekali bukan masalah sepele, akibatnya bisa fatal. Dan sekarang kamu bilang sudahlah? Apanya yang sudahlah, hah?!?”

“Sudahlah jangan marah lagi,” jawabku kalem. “Oma merepet pun kakiku gak akan sembuh secara ajaib, kan? Yang ada Oma capek sendiri, tensinya naik, kolesterolnya naik, asam uratnya naik dan kuping Elang sakit.” Oma menjewerku, tidak dengan serius. Aku tersenyum dan mencari-cari tangan keriputnya, kuciumi saat sudah kupegang. “Terima kasih sudah mencemaskan Elang sebesar itu. Elang sayang Oma.”

“Hemm…” Kupikir marahnya sudah berakhir dan masalah ini sudah selesai, sampai… “Tapi Langit tetap harus dipecat!”

Huft. “Baiklah, pecat saja. Dan jangan carikan siapapun sebagai asisten pengganti. Elang sudah capek gonta-ganti asisten. Tidakkah Oma juga lelah?” Aku terdengar seperti sedang membela Langit. Tapi dia kan memang tidak salah sepenuhnya. Oke, dua puluh lima persen memang salahnya, tapi dua puluh lima persennya juga salahku, dan sisanya adalah kesalahan Dallas. Kakiku tidak akan terkilir kalau Dallas tidak muncul dan memicu perkelahian. Aku tidak bisa membayangkan akan semarah apa Oma kalau sampai tahu kejadian yang sebenarnya. Aku mengarang cerita kalau aku terpeleset saat keluar dari kamar mandi.

“Baiklah, Langit. Satu kesempatan lagi, kalau kau sampai mengacaukannya, jangan berani-berani lagi muncul di sini.”

Aku tidak tahu apakah Langit setuju atau tidak. Dia tidak menjawab apapun.

“Nuna, suruh Wili menyiapkan mobil dan panggil Rendra ke mari untuk mengangkat Elang ke mobil. Kami akan ke tukang urut.”

“Biar saya saja yang menggendong Elang ke mobil…”

Ada yang salah padaku. Aku merasa senang mendengar Langit menawarkan diri untuk menggendongku. Catat, menawarkan diri.

“Kalau begitu, apa lagi yang kau tunggu?” semprot Oma.

***

“El,” aku menyapa Elang lembut.

“Hmm?”

Sentuh aku, peluk aku. Sial, aku gila! Hanya karena gendong menggendong minggu lalu saja, aku bisa jadi segila ini. Bayangan diriku sedang melakukan sesuatu yang intim dengan Elang sering sekali menghantui pikiranku akhir-akhir ini. Dan sehabisnya? Aku merasa bersalah.

“Enggak jadi.”

Elang menghembuskan napas perlahan, “Dasar aneh.”

Dan aku hanya diam saja. Sambil mengawasinya yang kembali larut dalam lamunannya.

“Sebentar lagi omamu pulang, dan jam kerjaku sudah habis.” Aku berdiam diri. Baru kali ini terasa berat untuk meninggalkan Elang sendirian.

“Kamu boleh pulang, Ngit.”

Aku tersenyum sedikit, “Akan aku tunggu sampai omamu pulang.”

Dan Elang tersenyum. Entah senyum itu untuk apa, aku juga tidak paham. Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersamanya. Walaupun hanya saling berdiam diri.

Lima belas menit kemudian, aku mendengar deru mobil memasuki halaman rumah. Aku bangkit berdiri, “Omamu sudah sampai rumah, aku pulang dulu.”

“Langit…”

“Ya?”

Elang diam cukup lama, hingga membuatku berpikir bahwa dia tidak akan mengucapkan apa-apa. “Terima kasih.”

Aku diam, namun senyumku terkembang. Aku membuka pintu kamar Elang dan pergi dengan hati yang entah kenapa terasa sangat ringan. Berpamitan dengan Nuna, menyapa Eyang Bawel, lalu beneran pulang. Iya, aku pulang! Tidak mampir lagi ke mall, atau nongkrong untuk mencari sugar daddy. Aku bahkan menghindari Harris. Entahlah, aku juga mulai bingung dengan diriku sendiri. Hanya saja, jika aku mengencani orang lain, aku merasa tengah mencurangi Elang. Padahal, aku dan Elang sama sekali tidak punya hubungan yang spesial. Aku asistennya, dia bosku, titik.

Hari Rabu ini ada kejadian yang sangat aneh. Aku baru saja pulang dari gym, ketika melihat sepasang suami istri dengan anak mereka. Bukan, aku tidak berniat mengincar suaminya! sembarangan!

Istrinya buta, dan aku melihat betapa suaminya sangat sabaran. Menggendong anak mereka, membawakan beberapa barang belanjaan. Tidak begitu peduli dengan pandangan orang-orang di sekitar mereka. You know what? Pandangan kasihan? Pity look in their eyes. Kalau aku berada di posisi sang suami, apakah aku bisa bertahan?

Apa aku selama ini sesabar itu menghadapi Elang?

Aku menggeleng, sama sekali tidak. Bahkan jauh dari itu.

Apakah Elang pernah menghabiskan waktunya berjalan-jalan di mall sesudah dia mengalami kebutaan? Pasti belum pernah. Hhh, lagipula apa gunanya juga dia jalan-jalan di mall? Gak bakal dapat apa-apa. Mending di pelukanku, kan? Aish, taik babik! Ke situ lagi juga pikiranku. Ini otak sudah akan mengalami over load sepertinya.

Aku membuyarkan lamunanku dan bergegas pulang ke kosan.

Faisal sudah menungguku ternyata, dan tumben banget dia mengenakan baju lengkap. Maksudku, kaos dan celana pendek. Biasanya dia hanya memakai kolor doang jika sedang berada di lingkungan kosan. Bahkan beli eskrim di depan saja dia hanya koloran.

“Ini, Ngit, duit seratus ribu lo.”

Aku tersenyum sambil merampas duit itu dari tangan Faisal. Seperti yang aku bilang, aku sudah tidak dalam ‘gerakan mencari sugar daddy karena merasa mencurangi Elang’, jadi aku sekarang sedikit berhemat. Gaji dari Eyang Bawel masih mencukupi untuk kebutuhan gym plus nutrisi tetek bengeknya, bayar kosan, dan sedikit hang out. Harus bersabar dua atau tiga bulan jika ingin membeli pakaian branded. Well, I can do this. I can through this.

“Gimana lo sama Harris?”

Aku memutar anak kunciku, masuk ke dalam kamar, melakukan aktifitas normal, seperti menyalakan AC, dll, sebelum akhirnya merebahkan diri di atas kasur. Sengaja tenagaku, aku habiskan bersama treadmill dan dumbell, agar aku bisa berhenti memikirkan Elang, memikirkan menyentuh kulitnya, mengajarinya untuk… ah lupakan!

“Gak gimana-gimana.” Aku menjawab lesu. Aku memang menceritakan hampir semuanya ke Faisal. Termasuk hal-hal paling sensitif sekalipun. Dia tahu semuanya tentangku. I trust him.

“Lo gak pernah jalan sama dia lagi?”

Aku menggeleng. Aku memang menghindari Harris. Dan dia menyerah terlalu cepat. Atau, dia menemukan yang lebih bagus dariku. Ini Jakarta, dimana segala tipe homo tumpah ruah. Mulai dari yang jelek ngondek, jelek manly, muscle jelek, muscle ganteng, muscle ngondek, ganteng ngondek, ganteng manly, yah pokoknya di sini ada semua. Dan mencari penggantiku bukanlah sebuah masalah besar.

“Kenapa?”

“Gak tahu. I am just tired of this game. I want a relationship.”

Faisal langsung meletakkan tangannya di dahiku dengan gaya dramatis. Matanya melotot panik dengan mimik berlebihan. “Lo sehat, kan?”

“Menurut lo?” Aku melempar tangan Faisal yang masih bertengger di keningku. Dasar kurang ajar, dia kira aku gila apa?!

“Gak biasanya lo ngomong gini! Seinget gue, lo pernah bilang, love is bullshit! Remember that one?”

Iya, sebelum aku bertemu Elang. Eh, wait, it’s mean I’m in love with Elang? Gak, gak bisa! Gak mungkin! Big no. No, just no!

But, it could be?

“Hei, tadi Om Rudi ke sini, dia bilang ada satu klub gay yang lagi butuh striper ganteng buat dilelang. Lo mau join gak?” sambung Faisal lagi, tanpa mengindahkan pernyataan sebelumnya.

“Hah? Apaan?”

“Itu, halloween party, nah mereka butuh cowok-cowok seksi dalam kostum-kostum seksi gitu. Lumayan fee-nya, Bro! Belom lagi, kalau ada om-om yang minat ama kita, double kan duitnya? Kayak tahun lalu gitu.”

Ooh, gitu.

“Lo kok lesu gitu? Gak tertarik lo?” Faisal sepertinya menganggapku sakit beneran, karena dia kembali meletakkan tangannya di dahiku.

“Enggak. Gak minat sama sekali.”

Faisal malah tersenyum girang, “Bagus deh.”

“Bagus deh?” Aku mengulangi perkataan Faisal. Maksudnya apa, dia menyuportku untuk stop jual diri gitu? Eh, enggak jual diri ding, aku gak pernah menggunakan seks untuk mendapatkan uang. Seks hanya aku pakai untuk sugar daddyku. Eh, oral belum termasuk seks, kan? Whatever-lah.

“Ya bagus, tahun lalu, gue hampir frustasi karena semua pengunjung  fokusnya ke elu. Lha tahun ini elu gak ada. Hahaha.”

“Monyet.”

“Eh, tapi ngomong-ngomong lo jadi kayak gini bukan karna si buta dari goa hantu itu, kan? Lo gak lagi, you know, dimabuk asmara?”

“Dia emang buta, tapi gak pantes buat dijadiin becandaan, kan?”

“Lah, sewot. Kan elo yang dulu kalau cerita ke gue nyebutnya gitu.”

Ha? Masak sih? Gila ya, ternyata aku setega itu.

“Gapai semua jemariku, rangkul aku dalam pelukanmu…” Faisal mulai mendendangkan sebuah lagu. Aku melempar bantalku tepat ke kepalanya. Dia hanya terbahak sambil keluar dari dalam kamar. Benarkah? Aku mulai timbul rasa untuk Elang? Karena, aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya.

***

Sebulan setelah kejadian di taman yang membuat kakiku terkilir, Oma Soetedjo meninggal, dalam usianya yang ke-66 tahun. Beliau meninggal siang kemarin di rumah sakit setelah dirawat sembilan hari karena penyakit ginjal. Anak-anak Oma Soetedjo memutuskan untuk menyemayamkan jasad ibu mereka semalam di rumah duka dan akan dimakamkan hari ini, Sabtu.

Aku tak bisa menahan air mata ketika Oma meberitahuku pagi-pagi sekali agar bersiap-siap untuk menghadiri pemakaman Oma Soetedjo. Aku baru diberi tahu pagi ini kalau Oma Soetedjo meninggal, Oma sengaja merahasiakan kabar itu dariku sejak semalam. Alasan Oma, beliau takut aku kesulitan tidur kerena bersedih.

Saat Langit datang, aku sudah selesai mandi dan berpakaian. Oma yang menyiapkan pakaianku dan meninggalkan kamar setelah memastikan kalau aku bisa berpakaian sendiri.

“Siapa yang baru saja meninggal?”

Aku berpaling ke arah pintu. Dari mana Langit tahu kalau kami sedang berkabung?

“Dengan celana dan kemeja hitam kayak gitu, pasti kamu akan ke pemakaman, kan?”

Oh, tentu saja saat ini aku sedang mengenakan setelan berkabungku. “Oma Soetedjo…,” jawabku lirih dan nyaris gagal untuk tidak mengeluarkan air mata lagi. Langit pasti asing dengan nama itu.

Bagiku, Oma Soetedjo juga sudah bagai nenekku sendiri, meski kami tidak berhubungan darah sama sekali. Beliau adalah karib kental Oma, konon mereka sudah bersahabat sejak muda dulu. Oma Soetedjo sering menghabiskan waktunya di sini. Saat aku kecil dulu, setiap datang beliau pasti akan membawakanku banyak sekali mainan. Aku tak bisa memikirkan wanita tua itu tanpa mengingat kardus besar penuh mainan masa kecilku yang sudah kumuseumkan sejak lama, dan secuil kenangan zaman putih-biru-ku saat aku masih bisa melihat dan mengenalinya.

“Aku turut berduka cita.”

“Terima kasih.”

“Hemm…” Lalu kurasakan tangannya memegang kepalaku. “Biar kurapikan rambutmu, kamu gak akan datang ke pemakaman dengan rambut berantakan seperti ini.” Dia mulai menyisir rambutku dengan jari-jarinya. “Kenapa sih kamu malas sekali potong rambut? Sudah kayak rambut cewek tahu gak!”

Aku terlalu sedih untuk meladeninya hari ini. Kubiarkan saja dia mengerjai rambutku semaunya.

“Elang, kita berangkat sekarang…” Oma datang sepuluh menit kemudian. “Nice try, Langit,” gumam Oma yang ditujukan buat asistenku. “Oma baru tahu kalau rambutmu ternyata bisa dirapikan dengan cara begitu, Elang…”

Tangan Langit meninggalkan kepalaku dan tanganku sendiri ganti memeriksa hasil karyanya pada rambutku. Aku menemukan gulungan kecil diikat karet gelang di belakang kepalaku, rambutku dilipat-lipat dan dibebatnya dengan karet. Saat kususurkan jemariku ke sekitar kepalaku, aku juga menemukan helai-helai tak beraturan yang dibuat seperti tidak sengaja terlepas dari ikatan. Rasanya aku bisa membayangkan seperti apa aku terlihat.

“Kamu terlihat keren, Elang…”

Aku terpegun mendengar suara Langit. Ada kejujuran dalam kalimatnya.

Sejenak tak ada yang berbicara, sampai Oma memberi perintah beberapa saat kemudian. “Langit, kau juga harus ikut. Elang akan membutuhkanmu di sana mengingat aku harus meninggalkannya untuk berbicara pada kerabat dan kolega yang datang melayat.”

“Saya tidak punya kemeja hitam. Bukankah warna merah terlalu kurang ajar untuk dipakai ke tempat orang mati?”

Tidak bisakah dia bicara sedikit lebih lembut kali ini? Aku menunggu-nunggu Oma mendumel, tapi sepertinya Oma-pun terlalu sedih untuk merepet. “Cari saja di lemari Elang.”

“Dan dengan kemeja kekecilan itu saya akan dengan senang hati memamerkan perut sixpack saya, itung-itung menghibur para pelayat. But, saya rasa itu agak terlalu kurang ajar bukan? Oopsy.”

“Jangan menaikkan tensiku di hari pemakaman temanku!” bentak Oma. Well, sepertinya Oma tidak sesedih yang kukira. Tapi ada kemungkinan kalau kekurangajaran Langit sejenak membuatnya lupa akan kesedihannya. “Pergi jumpai Wili dan minta pinjam kemejanya, katakan aku yang menyuruhmu.”

Tak ada jawaban dari Langit.

***

Kemeja milik Wili ini agak terasa kasar di kulitku, namun mulutku terdiam, bahkan untuk protes saja aku sungkan. Kadang aku suka di luar batas, kali ini tidak. Aku sepenuhnya under control kok.

Aku pernah mendengar tentang Heaven Funeral Home, rumah duka dengan pelayanan sekelas hotel berbintang ini. Namun aku belum pernah masuk ke dalam salah satu ruangannya.

Ada free wi-fi, man! Gilak kaga tuh? Kalau tidak ada Elang di sampingku, yang entah kenapa terlihat sangat rapuh, aku sudah sangat tertarik untuk streaming xvideos.com

Eyang bawel? Dia sedang berada di tengah-tengah keluarga besar Soetedjo. Mungkin mereka bersahabat sejak kecil, jadi sudah seperti keluarga sendiri. Harga sewa rumah duka ini puluhan juta, sangat menjelaskan seberapa kayanya keluarga Soetedjo. Bahkan hingga mati pun, orang masih ingin show off dengan hartanya. Sudahlah, Ngit, jangan sentimen sama orang yang sudah meninggal.

Rencananya, pemakaman akan dilakukan siang ini, eum, di mana ya tadi? Aku lupa, nanti aku akan cari tahu.

“Hey, kamu lapar gak, El?” Elang menggeleng. Aku menghembuskan nafas tertahan. Mulai saat ini aku akan menolerir perasaan sayangku untuk si jutek ini. Walaupun, otakku sangatlah tidak setuju.

Aku hanya sempat makan roti saja sebelum ke rumah Elang tadi, jadi aku berdiri dan mengambil beberapa camilan yang aku pikir akan sedikit mengganjal perutku. Aku mengabaikan tatapan aneh para pelayat lain. Don’t give a damn ya, gue laper!

Aku kembali duduk di samping Elang yang masih berwajah mendung. Sesekali aku mengulurkan tisu ke wajahnya dan dia refleks memegang tanganku untuk kemudian sama-sama menghapus air matanya, juga ingusnya. Aku melakukannya sambil ngemil tentu saja. Dan fakta bahwa sentuhan-sentuhan kecil kulit tangan kami sedikit berefek arus listrik di tubuhku, membuatku tidak keberatan sama sekali membereskan bukti kesedihannya itu.

“Kamu makan?” Akhirnya Elang bersuara.

“Yeah, wanna some?” Aku menawarkannya dengan hati tulus. Mungkin sudah saatnya aku belajar memperlakukan anak ini dengan lembut.

Elang menghembuskan nafas perlahan, seperti menahan kesal terhadapku. Memangnya aku melakukan apa? “Bukankah itu kurang sopan?” desisnya.

“Lalu kenapa coba keluarga duka menyiapkan makanan itu kalau bukan untuk dimakan?”

Lagi-lagi, Elang seperti menahan kesal, “Terserahmu saja.”

Aku jadi tidak bernafsu untuk makan lagi. Lagi-lagi, aku mempertanyakan kewarasan hatiku, bisa-bisanya organ satu ini memilih orang yang salah! Aku gak mungkin menyayangi anak ini. Gak mungkin! Selera humornya payah sekali.

Akan tetapi, tetap saja, ketika bahu Elang sedikit terguncang lagi, aku kembali merangkul bahunya. Membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku buruk dalam hal ini, kalian tahu? Karena aku belum pernah kehilangan orang yang aku sayang. Aku tidak tahu rasanya. Jadi, aku juga bingung sendiri bagaimana cara untuk menenangkan Elang.

“Kamu ganti parfum lagi? Baumu beda…,” lirih Elang.

“Ini bau kemejanya Wili,” jawabku.

Elang diam sebentar. “Bau bajunya Mas Wili aneh.”

Aku tersenyum kecil. “Jadi, lebih suka bauku, hah?” Setelah perkataanku barusan, Elang langsung menegakkan tubuhnya sekaligus melepaskan dirinya dari rengkuhanku. Ada perkataanku yang salah ya?

Saat matahari tengah berada di puncaknya, beberapa orang mulai mengangkat peti mati, dimana Eyang Soetedjo berada di dalamnya. Sepertinya, proses pemakaman akan segera dimulai. Aku dan Elang berada di dalam mobil bersama Wili, sedangkan si Eyang Bawel aku tidak tahu dimana rimbanya.

Aku tidak tahu persis berapa mobil yang mengikuti iring-iringan mengantar Eyang Soetedjo ke peristirahatan terakhirnya ini. Yang pasti lumayan juga. Lumayan bikin macet jalanan, pastinya.

Ternyata Eyang Soetedjo akan dimakamkan di San Diego Hills Memorial Park, Karawang, Jawa Barat. Gile ya? Jauh banget! Di sana, ada lahan yang memang sudah dipersiapkan untuk pemakaman seluruh keluarga Soetedjo. Ya habisnya, luas amat! Bisa kali itu untuk jadi kuburan dua puluh dua orang. Ya, mungkin sebanyak itu keluarga Soetedjo kali, ini kan kavling pemakaman keluarga.

Ada pembatas tembok rendah dengan dilengkapi meja dan juga pot bunga. Disertai bangku panjang di sisi kiri dan kanan. Eyang Soetedjo pasti betah dikubur di sini, guling-gulingan seharian  juga pasti nyaman.

Aku menghembuskan nafas perlahan, orang kaya!

Elang, sedari tadi masih merapatkan kepalanya di pundakku, masih sedikit canggung kupikir. Sesekali dia sesenggukan. Aku, benar-benar bingung harus berbuat apa. Aku hanya bisa membelai kepalanya sesekali. Dan mengasihani kemeja Wili yang sekarang pasti sudah belepotan ingus.

Pak pendeta menyampaikan khotbah singkat, sebelum akhirnya Queer menyanyikan sebuah kidung duka, mengiringi dimasukkannya peti mati bermuatan Eyang Soetedjo ke dalam tanah. Aduh, bahasaku acak adut. Bukan karena aku takut ya, karena area pemakaman ini lebih tampak seperti taman bermain ketimbang kuburan.  Hanya saja, suasana di sini membuatku agak kehilangan kata-kata. Sudahlah, kalian tidak akan mengerti.

“Kalian bertiga pulang duluan saja, Oma masih harus kembali ke rumah Soetedjo.” Eyang Bawel menghamipiri kami bertiga ketika para pelayat sudah semakin sepi. Mungkin hanya tinggal kerabat dekat dan juga anak-anak Eyang Soetedjo saja.

“Elang ikut.” Aku hanya diam, walau sebenarnya ingin berteriak, ‘Ngapain ikut? Di sana toh juga kamu tidak akan banyak berguna!’ Tapi aku memilih diam. Mengerem mulutku yang kadang blong ini ternyata sangat susah. Super!

“Kamu harus istirahat, Elang, lagipula di sana pasti ramai. Nanti kamu terlalu kecapekan.”

Elang terlihat masih akan mendebat neneknya, namun Willi terlanjur mendahuluinya, “Lalu nanti Nyonya perlu saya jemput?”

“Ndak usah, nanti biar diantar salah satu kerabat Soetedjo. Sudah, sana kalian bertiga pulang. Langit, aku titip Elang.”

Aku hanya mengangguk pelan sambil menuntun Elang menjauh dari area pemakaman yang sudah mulai sepi.

Tidak ada percakapan selama perjalanan pulang. Elang terlalu lelah, sedangkan aku terlalu sibuk memperhatikannya. Dia sudah mengalami duka terlalu banyak. Kehilangan orang tua, dan sekarang salah satu kerabat terdekatnya. Aku membelai rambut Elang dengan hati-hati, dia bersandar lemas di jok, kepalanya terkulai ke arah pundakku. Bocah ini tidak lagi menangis sejak masuk mobil. Mungkin air matanya sudah habis. Kurasa saat ini dia malah sedang setengah tertidur. Lalu kejadian selanjutnya yang tanpa sengaja aku lakukan adalah, mengecup keningnya.

Untung Willi tidak melihatnya, dia terlalu sibuk memperhatikan jalan di depan.

Elang seperti kaget, alisnya mengerut detik ketika aku menempelkan bibirku di dahinya, namun selain itu dia tidak bereaksi apa-apa. Badannya memang sedikit menegang tadi, namun sekarang sudah relaks kembali. Aku sendiri bingung mencerna perbuatanku, untuk apa aku melakukan itu? Menghibur Elang? Atau menuntaskan rasa penasaranku untuk menyentuh Elang?

Sesampainya di rumah, Elang menolak bantuanku untuk menuntunnya masuk ke dalam kamarnya. Dia memilih meraba-rabanya sendiri. Di belakangnya, aku memperhatikannya dengan sedikit merana. Apa karena ciumanku tadi? Aku kan refleks melakukannya. Bukan disengaja juga.

Sesampainya di kamar, Elang langsung naik ke ranjang. Apakah dia akan tidur siang? Sudah agak terlambat memang, tapi apakah Elang memang selalu sedisiplin ini? Atau dia hanya ingin merenung sendirian? Meratapi Eyang Soetedjo, sendirian? Lagi? Terserahlah, aku memang bukan tipe penyabar.

“Aku numpang mandi di kamar mandimu.”

Elang langsung terduduk di ranjangnya, “Apa katamu, barusan?”

“Aku numpang mandi. Kemeja Willi ini bikin gatal, dan ingatkah kalau kamu barusan meninggalkan ingus cukup banyak di kemeja ini?” Wajah Elang bersemu merah. Entah untuk alasan apa, “Jadi, bolehkan aku numpang mandi, sementara kamu tidur siang?”

“Terserahmu sajalah.”

Dua kata itu agaknya memang sudah jadi ciri khas Elang. Aku mengangkat bahuku dan masuk ke dalam kamar mandi. Sengaja pintunya tidak kututup, agar aku juga bisa mengawasi Elang. Siapa tahu dia nekat mau bunuh diri atau apa, iya kan? Lagipula, Elang juga tidak bisa melihatku yang tengah mandi kan?

Aku baru saja kelar dengan mandiku ketika Elang tiba-tiba berteriak. Hanya sempat melilitkan handuk, aku langsung berlari ke arahnya, dimana Elang tengah meringkuk ketakutan.

“Hey, El, kenapa?” Aku memeluknya, sepertinya aku jadi kebiasaan mencuri-curi kesempatan untuk memeluk Elang ya? Dan jantungku berdegup dua kali lipat ketika Elang menaruh jemari halusnya di kulit dadaku yang terbuka.

“Tadi, seperti ada serangga yang jatuh ke kepalaku.” Aku otomatis langsung memeriksa kepalanya. Seekor rayap entah dari mana datangnya bergerak menuruni rambutnya, segera kutepis. Aku hendak memberitahunya, tapi pikiran usilku keburu mengambil alih.

“Gak ada kok. Yakin jatuhnya ke kepala? Mungkin masuk ke kemejamu? Coba aku lihat!” Belum juga aku mengintip ke dalam kemeja yang sedang dikenakannya, Elang sudah mendorongku.

“Pakai bajumu dulu sana!”

“Yah, situ yang teriak-teriak lebay juga tadi,” kataku sedikit kecewa sambil berjalan kembali menuju kamar mandi. Tadinya, kupikir aku bisa menanggalkan kemejanya.

***

Langit mengecup keningku saat pulang dari pemakaman. Aku tidak yakin apakah hal itu benar-benar terjadi atau hanya imajinasiku saja. Saat itu aku berada dalam kondisi antara tidur dan terjaga, mungkin saja Langit yang mencium keningku hanya terjadi dalam pikiranku. Tapi… tadi dia juga memelukku. Maksudku, benar-benar memeluk. Aku yakin saat itu dia hanya mengenakan handuk, kulitnya basah dan dingin, tapi dadanya terasa panas di telapak tanganku ketika tidak sengaja kuletakkan tanganku di sana. Hanya dengan bersentuhan lagi dengannya, kebingunganku pada perasaan dan kenyataan bahwa debaran jantungku selalu terburu-buru ketika hal itu terjadi, kembali mbulet dalam kepalaku. Aku tak tahu apa yang salah, hanya saja, setelah moment Langit menggendongku di punggungnya dulu itu, perasaanku selalu jungkir balik tiap kali melakukan kontak fisik dengannya. Dan seharian tadi, kami membuat kontak fisik sangat banyak, sangat banyak. Percayakah kalian jika kukatakan kalau aku merasa nyaman dengan hal itu? Aku sendiri nyaris tidak memercayai diriku sendiri.

“Langit sedang mendung…”

Aku tersadar dari lamunan dan mencari-cari keberadaan Langit dengan hidungku. Baunya jauh.

“Kamu mau bergabung denganku di dekat jendela dan memperhatikan langit hitam?” agaknya dia sadar kalau aku ingin tahu keberadaannya, tapi ucapannya terasa salah buatku.

“Enggak, terima kasih, aku sudah kenyang melihat hitam.”

“Apatis sekali.”

“Kamu bilang apa?”

“Gak ada apa-apa.”

Aku mengisi paru-paruku. “Mungkin kamu akan mengerti jika mengalaminya sendiri lalu tidak seenak perutmu mengatai orang lain apatis…”

“Oh come on, El… berapa lama sih kamu sudah buta? Dua tahun, tiga tahun?”

“Empat tahun!” desisku.

Kurasakan pergerakan Langit menujuku, sofa yang sedang kududuki merespon hempasan bokongnya. “Dan sudah selama itu kamu masih saja ingin memposisikan dirimu seolah-olah cuma kamu satu-satunya makhluk di bumi ini yang buta? Masih ingin beranggapan bahwa hidupmu begitu terpuruk? Bahwa kamu cuma punya kegelapan saja untuk diumbar dan diteriakkan ke seluruh benua?”

Aku mengeraskan rahangku. “Kamu gak tahu bagaimana rasanya jadi aku!”

“Oh ya? Kalau begitu mari sadarkan aku!”

“Percuma, kamu gak akan pernah tahu.”

“Iya. Aku memang gak akan pernah tahu. Yang kupahami, Tuan Muda Elang Senja Yang Terhormat, hidupmu semilyar kali lebih beruntung dari orang buta yang pernah kulihat di luar sana. Kamu punya asisten untuk mengawasi langkahmu sementara banyak orang buta di luar sana kerap tersandung ketika melangkah. Kamu punya fasilitas berkecukupan dan tempat tinggal yang nyaman sementara banyak orang buta di luar sana harus jadi pengemis dikarenakan kebutaan mereka, demi apa? hanya demi bisa makan. Terus, kamu punya nenek yang begitu menyayangimu hingga─”

“Setidaknya, banyak anak-anak buta di luar sana yang masih punya orang tua…” Aku menunduk dalam. Aku tak bisa menyalahkan perkataan Langit. Dia sepenuhnya benar. “Hidupku begitu beruntung, seperti katamu. Aku punya segala-galanya. Aku hanya tidak bisa melihat, hanya tidak bisa melihat.”

Langit terdiam.

Setelah tadi puas menangisi kematian Oma Soetedjo, kini aku ingin menangisi hidupku sendiri.

“Mbak bawakan teh dan bolu, mungkin kal─”

Kalimat Mbak Nuna terputus dan sandalnya berhenti bersuara. Aku mengesat mataku. “Makasih, Mbak. Taruh saja di meja.”

“Den Elang baik-baik saja?”

Aku mengangkat wajahku dan berusaha tersenyum, tidak yakin apakah wajahku menghadap ke arah yang tepat atau tidak. “Iya, Mbak. Setidaknya aku belum jadi pengemis…” Kudengar Langit berdecak.

Mbak Nuna kembali melangkah. “Mbak juga sedih, Ibu Soetedjo juga selalu baik sama Mbak… Nanti lama-lama Den Elang bakal lupa kok, sabar aja…”

Yah, biar saja Mbak Nuna berpikir begitu.

Sepeninggal Mbak Nuna, kurasakan jemari Langit menyentuh telapak tanganku sebelum gelas teh yang terasa hangat menggantikannya. Langit membuat kedua tanganku menangkup gelas itu, di sebelah luar, kedua tangannya menangkup kedua punggung tanganku. Tuhan, aku sangat ingin bisa menatapnya saat ini. Aku ingin tahu seperti apa tatapannya sekarang, apakah dia merasa menyesal atau malah kasihan?

“Maafkan perkataanku tadi… aku tak seharusnya membanding-bandingkan kondisimu. Aku memang tidak tahu apa-apa tentang menjadi buta.” Yah, dia menyesal, bukan kasihan. Baguslah.

“Enggak, kamu benar kok.”

Tangan Langit meremas tanganku. “Aku hanya tidak tahan melihatmu seperti ini. Hidupmu masih panjang, Elang. Menjadi tunanetra bukan berarti dunia berhenti berputar buatmu. Aku mau kamu optimis, gembira dan hidup dengan semangat yang sama seperti dirimu sebelum kegelapan ini. Kamu boleh buta, tapi kamu tidak mati.”

Aku menggigit bibirku, berusaha membendung tangisku, lagi. Kapan terakhir kali seseorang menyuntikkan spirit buatku seperti yang dilakukan Langit saat ini? Aku tidak ingat, karena memang tidak pernah ada seorang pun sebelum Langit yang melakukannya. Tentu saja Oma memberiku wejangan, tapi dengan cara yang berbeda.

“Jangan gigit bibirmu begitu, nanti sobek.”

Aku tertawa pendek dan berhenti menggigiti bibirku.

Langit menuntun tangan kami ke mulutku. Aroma segar teh lemon menyerbu hidungku. Tangan Langit tidak meninggalkan tanganku selama aku menyesap teh dari mulut gelas.

Momen ini, entah mengapa terasa begitu pantas dan pada tempatnya. Ini memang bukan kali pertama seseorang membantuku makan dan minum, mereka sebelum Langit Biru pernah memerankannya. Tapi rasanya tidak sama ketika yang memerankannya adalah Langit Biru. Aku takut diriku telah tersesat dan ketika aku sadar sudah terlalu jauh dan terlambat untuk berbalik.

***

“Aku akan menginap.” Elang menanggapinya dengan mimik muka berlebihan, seolah-olah aku sedang mengatakan kalau UFO bermuatkan segerombolan alien baru saja mendarat di pekarangan rumahnya.

“Kenapa harus menginap?” tanyanya ketika kesadarannya sudah pulih.

Aku memutari ranjang dan naik ke atasnya. “Besok hari Minggu, aku akan bekerja lagi. Kedua, di luar tengah hujan deras. Dari rumahmu ini, hingga ke jalan besar butuh waktu sekitar lima menit, tidakkah kamu kasihan kalau aku kehujanan dan sakit hingga tidak bisa bekerja besok?”

“Tidak.” Elang menjawab singkat.

Aku mengabaikan jawaban teganya itu. “Ketiga, Omamu menginap di rumah Eyang Soetedjo, jadi anggap saja aku menemanimu.”

Elang menggeleng pelan. “Aku tidak butuh ditemani.”

Dasar keras kepala! Tapi, aku menangkap nada keragu-raguan dalam suaranya. Aku memutar akal, karena jujur saja, aku agak takut dengan kilat. Seakan-akan ia tengah mengincar untuk menyambarku, karena dosa-dosaku. Dan malam ini, kilatnya bukan main. “Elang, please? Aku tidak akan macam-macam oke?”

“Aku tidak yakin dengan ketiga alasan yang kamu kemukakan tadi.” Cih, sialan! “Bukannya kamu selalu tidak peduli denganku? Lalu kenapa hanya karena Oma tidak pulang, kamu jadi repot-repot ingin menemaniku?”

Apa katanya? Aku tidak peduli? Lalu apa yang dikiranya sedang kulakukan tadi sore ketika mengagumi bibir merahnya? Umm, maksudku, menyuntikkan semangat hidup buatnya. Hhh, gengsi anak ini tinggi sekali.

“Aku takut dengan kilat, oke?” kataku mengakui fobiaku. “Happy? Jadi bisakah aku menginap untuk malam ini aja?”

Elang seperti ingin tertawa namun terlihat menahannya kuat-kuat. Dia berdeham, “Apakah itu urusanku?” tanyanya kemudian.

“Iya, itu urusanmu! Karena nanti kalau aku mati disambar geledek maka enggak akan ada yang berani mengisengimu lagi, enggak akan ada yang mau berdebat denganmu, enggak akan ada yang  berantem lagi buatmu, membantumu minum teh, atau menggendongmu kalau terkilir lagi. Dan kamu pasti akan kangen berat pada semua hal itu! Selamat malam, aku akan tetap menginap!” Elang terdiam di sana, entah apa yang tengah dia lakukan karena aku sudah memunggunginya.

Hening selama lebih dari satu jam, ketika aku merasakan pergerakan Elang di balik punggungku. Dia pasti sudah merubah posisi berbaring jadi menghadapku, dan matanya yang buta tidak bisa mengukur jarak, akibatnya dia membentur punggungku, setidaknya itu pikiranku sampai kemudian sebelah tangannya menyeberangi pinggangku. Aku tidak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Elang hingga dia punya inisiatif untuk memelukku. Aku tidak bergerak, mungkin sebaiknya aku pura-pura sudah tertidur.

“Langit…,” panggilnya lirih.

Aku diam.

“Apa kamu sudah tidur?”

Apa sebaiknya aku pura-pura mendengkur saja?

“Jangan ngambek denganku…”

Demi Tuhan, siapa juga yang ngambek? Aku tidak pernah ngambek seumur hidupku. Bahkan saat dulu sewaktu masih kecil, tamiaku diinjak oleh mobil tetangga, aku juga tidak ngambek. Padahal waktu itu usiaku baru enam tahun.

Kali ini Elang semakin merapatkan dirinya. Ini anak, lagi ngapain sih? “Lucu sekali kamu bisa takut dengan kilat. Padahal kukira, tidak ada yang kamu takuti.” Elang terkekeh samar, suaranya makin lirih saja. “Nyatanya, cuma dengan kilat saja kamu tidak berani pulang.”

Aku memutar tubuhku dengan cepat, hingga membuat Elang sedikit terlonjak dan siap untuk mundur. Aku menahannya. “Aku tidak takut dengan kilat, aku hanya tidak suka.”

“Per─perkataanmu tadi tidak demikian.”

Sepertinya anak ini gugup. Atau, jangan-jangan dia sungguh mengira kalau aku sudah lelap hingga berani nempel-nempel? “Kalau begitu, aku mengoreksinya,” kataku ringan. Aku sadar tangan Elang masih di pinggangku. “Katamu yang aku tidak pernah peduli padamu, itu salah. Aku selalu peduli padamu, Elang, hanya saja aku kurang pandai menunjukkannya.” Shit! Apakah ini berarti aku baru saja mengungkapkan perasaanku padanya? Perfect! Mungkin sebentar lagi Elang akan menendangku. Bukankah, dia pernah menendangku satu kali? Hebat sekali sampai hampir dua jam aku berada di atas ranjangnya, kakinya masih anteng saja. Belum menunjukkan gejala-gejala tendangan macan ala Tsubasa. Atau mungkin dia baru melakukan persiapan? Pasang kuda-kuda?

“Sungguh?” Pertanyaan itu dilontarkan sangat pelan oleh Elang hingga aku sendiri pun ragu bahwa Elang baru saja mengucapkannya.

“Sungguh? Sungguh kenapa?” tanyaku pura-pura tidak tahu. Aku tidak akan mengulangi perkataanku. Itu memalukan. Aku bahkan yakin wajahku tak kalah merah dengan udang rebus saat ini.

Elang diam sebentar, “Perkataanmu tadi.”

“Yang mana?” Aku benar-benar salah tingkah sekarang. Kalian tahu? Aku belum pernah mengungkapkan perasaanku duluan, bahkan aku belum pernah sesayang ini dengan orang asing selain keluargaku. “Ah, sudah malam, Elang. Saatnya tidur, good night.” Lagi-lagi, aku melakukan hal bodoh dengan mengecup keningnya. Kenapa tidak sekalian saja aku kulum bibirnya? Aaaaaargh!!

***

Aku terbangun dalam kebingungan. Biasanya aku selalu terbangun sendirian, tapi kali ini di atas ranjang aku tidak sendirian. Aku terbangun dengan seseorang bersamaku. Dengkur halus terdengar begitu dekat dengan telingaku dan hidungku seperti membaui aroma Langit. Ketika berhasil kukumpulkan kesadaranku, aku tahu bahwa Langit takut petir, bahwa Langit tidak pulang, bahwa Langit ikut menginap, bahwa Langit peduli padaku dan tidak tahu cara menunjukkan kepeduliannya, bahwa Langit mencium keningku saat mengucapkan selamat malam, dan… bahwa aku tertidur di atasnya. Apa-apaan?

Aku ingin tahu pukul berapa sekarang, untuk sejenak aku lupa kalau aku buta. Apakah ini sudah pagi, atau masih dini hari? Saat aku masih menerka-nerka, Langit menggumam entah apa dan bergerak mengganti posisi tidurnya. Aku meluncur dari dada dan perutnya lalu jatuh telungkup ke ranjang, sebelum aku sempat membuat sebarang gerakan, dada Langit sudah menindih punggungku, detak jantungnya yang teratur memukul pelan punggungku. Masih menguman tak jelas, sebelah paha Langit naik ke atasku dan satu lengannya masuk ke bawah ketiakku sedang satu lengannya yang lain sepertinya terjepit di bawah leherku. Aku, saat ini, menjadi guling sempurna untuk ruang yang disediakan tubuh Langit.

Aku tak akan bisa tidur lagi. Aku bahkan merasa yakin tak akan tertidur hingga seribu satu malam ke depan. Aku terjaga dalam kegelapan pandanganku, memikirkan Langit yang tidur sambil memelukku dan aku yang terjaga dalam dekapannya. Aku memikirkan tekanan di beberapa bagian tubuhku yang diakibatkan fisik Langit. Aku memikirkan dada keras Langit yang tidak berbaju sedang menempel di punggungku. Aku memikirkan perut Langit─yang sering diumbarnya punya enam kotak setiap ada kesempatan─sedang menekan pinggangku. Aku memikirkan paha Langit yang menindih pahaku. Aku memikirkan otot-otot bisep lengan Langit sedang mengganjal kepalaku. Aku memikirkan, seperti apa rupa langit sebenarnya? Dengan semua anatomi fisiknya yang terasa begitu pas di tubuhku, aku memikirkan, seperti apa wajahnya? Seperti apa gaya rambutnya? Seperti apa alis dan matanya? Seperti apa bentuk hidung dan tulang rahangnya? Seperti apa bibir dan dagunya? Apakah dia serupawan yang kerap dinilai olehnya sendiri? Jujur, aku begitu penasaran dengannya. Setelah sekian bulan dia jadi asistenku, untuk pertama kalinya, rasa penasaranku terhadapnya terkumpul dalam jumlah yang besar, lebih besar dari rasa penasaranku terhadap seseorang bernama Zayn Malik yang kata Mbak Nuna luar biasa tampan itu.

Entah berapa lama aku berada dalam pusaran pikiran yang tidak berujung itu, ketika sayup-sayup suara fajar menyadarkanku. Pagi sudah benar-benar menggeser malam.

Pelukan Langit mengendur, kupikir dia akan berguling dan melepaskanku. Alih-alih, dia malah menarik lengannya yang tadi masuk ke bawah ketiakku dan memindahkannya ke perutku. Entah imajinasiku entah Langit sungguhan menyusupkan telapak tangannya ke balik piyamaku lalu melakukan gerakan mengusap di sekitar perutku. Entahlah mana yang benar, sejak kemarin pikiranku kerap bingung. Saat aku berusaha fokus ke perutku, tangan Langit bergeming di sana. Sepertinya, aku benar-benar berhalusinasi sesaat tadi.

Mungkin sudah saatnya menegaskan pada Langit kalau aku sudah terjaga dan dia juga harus segera bangun. Jadi, aku mengeliat, berhasil membuat pelukannya kian mengendur. Kupikir, saat aku memutar badanku, dia akan melepaskanku sepenuhnya, namun aku salah perhitungan. Yang terjadi adalah, wajahku tenggelam di dadanya dan sebelah kakinya masih leluasa menindihku. Anehnya, aku merasa nyaman dan tidak ingin menarik diriku darinya. Lalu, entah dari mana datangnya pikiran itu, aku berhasrat untuk menuntaskan rasa ingin tahuku atas seorang Langit Biru, selagi dia masih belum terjaga…

Maka, aku meraba-raba. Jemari tangan kananku sampai ke perutnya. Langit Biru tidak bohong, garis yang ditimbulkan dari lekuk-lekuk dangkal di perutnya membuktikan kalau bagian tubuhnya yang itu memang terkotak-kotak, walau tidak terasa begitu kentara di kulit jemariku. Aku menggerakkan jemari tanganku melintasi perutnya, sempat ragu-ragu ketika menemukan pusarnya sebelum mantap naik menuju lebih ke atas. Aku memundurkan kepalaku dan telapak tanganku ganti menempel di dadanya. Detak jantungnya teratur dan terasa kuat menghantam rongga dadanya, bukti bahwa Langit Biru hidup bernyawa dan nyata. Perkiraanku dulu kalau dadanya bidang dan bermassa bisa jadi benar, telapak tanganku menyetujuinya. Langit Biru pasti tipe laki-laki penggila olah raga.

Aku mendongak ketika jemariku meraba lebih ke atas untuk menemukan wajahnya. Telunjukku menemukan dagunya yang terasa kasar, kubayangkan dia baru saja bercukur pagi kemarin. Jemariku bergerak lebih ke pinggir, ketegasan tulang rahangnya juga terasa kasar di kulit jari-jariku. Aku hampir berhasil membayangkan bentuk utuh wajah Langit. Jemariku bergerak lagi dan segera menemukan alisnya. Selanjutnya kususurkan ujung telunjukku menuruni tulang hidung Langit dan berakhir pada cuping hidungnya. Aku tidak bisa memastikan bagaimana kemancungan hidung laki-laki ini, tapi aku bisa menyimpulkan kalau hidungnya bagus.

Aku berubah kaku ketika jemariku bersentuhan dengan bibir Langit. Jemariku berhenti bergerak. Ingatan semalam ketika Langit mencium keningku datang melabrak. Bibir inilah, yang beberapa jam lalu menempel di kulit wajahku. Sumpah, semalam aku baru bisa tidur satu jam kemudian setelah lelah memikirkan apa maksud Langit mengucapkan selamat tidur buatku dengan cara demikian. Pagi ini, ketika menyentuh bibirnya, kurasa aku nyaris paham alasannya. Langit Biru peduli padaku. Dia melakukannya karena dia peduli. Lantas, apakah aku juga peduli padanya?

Ketika aku baru hendak mencerna pertanyaanku sendiri, tiba-tiba saja bibir Langit bergerak. Aku hilang akal untuk beberapa ketukan. Saat sudah berhasil menguasai diri kembali, kusadari bahwa Langit baru saja mengecup jari-jari tanganku. Dalam kecanggungan yang mendadak muncul, kutarik tanganku dari wajahnya dan hendak berguling menjauh. Namun, gerakan tangan Langit lebih cepat lagi. Dia menarik pinggangku untuk merapat ke perutnya. Dadaku berdentuman kuat hingga aku khawatir tulang-tulang igaku akan tertekuk keluar.

“Apa yang sudah kamu lakukan padaku, Elang Senja…?”

Suara Langit terdengar begitu jauh. Mendadak saja, aku kehilangan kemampuan bicaraku.

“Apa yang sudah kamu lakukan padaku?” ulang Langit sama lirihnya.

“Ak… aku… aku…”

Langit menyusupkan tangannya ke balik piyamaku dan mengusap punggungku perlahan, seperti dia sedang mengagumi kulitku, atau, entahlah… Aku ingin menarik diri, tapi perasaan nyaman yang hadir lewat sentuhan Langit terasa lebih kuat dari niatku untuk menjauh darinya. Untuk pertama kalinya sejak jadi laki-laki buta, aku merasa jika diriku dikagumi, jika diriku diinginkan. Sentuhan Langit membuatku bernapas lebih sering dari biasanya, baru kusadari, kalau ternyata aroma Langit begitu menghipnotis. Sendi-sendiku melemah. Dalam dekapannya, aku seperti kehilangan daya.

Langit menunduk ke rambutku dan menggumam di sana. “Apa yang sudah kamu lakukan padaku, Elang?” Mengapa dia terus mengulang pertanyaan itu? Memangnya apa yang sudah kulakukan padanya? “Mantra apa yang sudah kamu pakai padaku?”

“Aku… aku… aku tidak melakukan apa-apa…” Aku terbata di dadanya. “Aku… aku, hanya menyentuh untuk menjawab keingintahuanku tentangmu…” Aku yakin, pasti Langit menemukan wajahku yang memerah.

“Iya. Aku tahu. Aku hanya sedikit kecewa karena kamu memulainya dari perutku, seharusnya kamu memulainya sedikit lebih ke bawah lagi, aku tidak akan keberatan…”

Sejenak, aku tidak paham maksud perkataannya. Detik berikutnya ketika otakku berhasil menangkap arti kalimatnya, aku jadi kesulitan menelan ludah dan badanku serasa demam.

Kutangkap kekeh samar Langit. Kemudian tangan Langit meninggalkan punggungku untuk kemudian diraihnya tanganku dan ditempelkan padanya, tepat di dadanya. “Bisakah kamu rasakan, Elang?”

Aku tak bersuara, hanya ada telapak tanganku yang merasakan detakan jantungnya.

“Kamu tahu apa ini?”

Aku diam. Lalu fokusku mendadak terbagi seketika, antara detakan di dada Langit dan fakta bahwa baru saja kurasakan ada yang berontak di bawah pinggang Langit, kuperkirakan, tepat di balik zippernya. Ah tidak, sepertinya dia tidur hanya dengan berboxer, dan sejauh yang kuketahui boxer tak punya zipper.

Langit mengeliat, membuat sosok kami kian berpagutan. Kupikir, dia melakukannya dengan sengaja dan dengan maksud yang sudah jelas. Ketika sekali lagi dia mengeliat, hal yang baru saja terjadi pada Langit menular padaku. Aku lupa, entah kapan terakhir kalinya gairah menyambangiku. Yang terjadi kini adalah, aku merasakan gairah pada Langit, aku merasakannya lewat sosok Langit yang tidak pernah kulihat dan mungkin tak akan pernah bisa kulihat.

“Kupikir…” ada jeda, Langit seakan ragu. “Kupikir, aku sungguh-sungguh peduli padamu, Penyihir…”

Aku tidak mengerti maksudnya. Tapi apapun itu, aku yakin maknanya adalah sama seperti bila Langit mengatakan kalau dia menyayangiku dan ingin melindungiku dari apapun hal menakutkan di semesta ini. Di dadanya, meski secuil kecil akal sehatku menjerit-jerit tak setuju, senyumku merekah. Kutempelkan bibirku di pertengahan dada Langit dan kujangkau punggungnya dengan tanganku yang bebas. Memeluk sosok Langit seperti ini, terasa seperti hidupku tak akan bisa lebih baik lagi.

“Kalau-kalau kamu bingung mengartikan ucapanku, mungkin ini akan membantu…” Dia diam sejenak, “Kurasa, kurasa… aku sudah jatuh cinta padamu…”

Sesuatu bernama bahagia baru saja menemukan jalan pulang kembali padaku. Setelah sekian lama, setelah sekian tahun hilang ditelan gelap dan hitam, kini bahagia itu pulang lagi. Langit Biru membawanya pulang kembali padaku. Semoga bukan untuk singgah lalu pergi, tapi untuk menetap sampai ke ujung waktu.

.

.

.

EPILOGUE

Dua pemuda, yang satu lebih jangkung dari yang lain, berjalan di lidah ombak Pantai Kuta saat langit yang sebelumnya biru di atas mereka tengah bersalin warna menuju jingga keemasan.

Dua pemuda, salah seorang berbadan lebih kecil dari salah seorang lainnya, bergandengan tangan menapaki bibir Pantai Kuta sementara burung-burung elang entah dari mana rimbanya melintasi cakrawala senja di atas mereka.

Angin meriap-riapkan rambut gondrong salah seorang mereka dan membuat dada bidang salah seorang lainnya tersibak. Mereka bicara, menolehkan kepala, kadang tersenyum, dan sesekali tertawa. Gembira. Selama itu keduanya terus bergandengan tangan, seakan salah seorang dari mereka akan kehilangan salah seorang lainnya jika gandengan itu terlerai. Seakan sesuatu yang mengerikan akan terjadi jika mereka melerai genggaman sesaat saja.

“Kalau esok kamu bisa melihat lagi, apa hal pertama yang begitu ingin kamu pandang?”

“Aku gak ingin bisa melihat lagi.”

“Kamu enggak serius.”

“Aku serius.”

“Kenapa?”

“Aku takut, jika aku bisa melihat dan menemukan kalau ternyata wajahmu begitu jelek, aku tidak ingin dicintai olehmu lagi.”

Pemuda berbadan lebih jangkung terkekeh samar. “Kalau begitu, aku akan berdoa supaya kamu gak akan pernah bisa melihat lagi, jadi wajah jelekku aman bersama kebutaanmu.”

Gantian pemuda gondrong yang tertawa.

“Awas, semeter di depan kita ada bule sedang berbaring sambil menggaruk selangkangannya. Agaknya dia belum ganti celana dalam sejak pesawatnya mendarat di Bali.”

Tawa pemuda gondrong makin menjadi, ia mengikuti bergerak ke arah pemuda jangkung menuntun genggaman mereka. “Apa sunsetnya sudah sempurna?” tanyanya kemudian.

Mereka berhenti berjalan. Pemuda yang dada bidangnya terekspos sempurna menarik pemuda satunya untuk berdiri berhadap-hadapan dengannya. Bahkan meski sudah terhalangi sedemikian rupa oleh sosok di depannya, mata manapun yang tidak buta masih bisa menikmati keatletisan badan si pemuda jangkung lewat kaus berleher rendahnya yang berbahan menerawang. Wajah si pemuda jangkung menunduk ke wajah pemuda berambut gondrong ketika ia membawa tangan-tangan mereka ke dadanya. “Denganmu bersamaku di sini seperti ini, Elang Senja, semua yang kulihat, kudengar dan kurasa sempurna belaka…”

Sudut-sudut bibir pemuda gondrong yang dipanggil Elang Senja oleh pemuda jangkung tertarik membentuk senyum lebar. “Kamu ingin tahu kenapa aku tidak begitu peduli lagi pada apakah esok aku akan bisa melihat atau tidak?”

“Karena kamu khawatir kalau aku tidak setampan bayanganmu selama ini. Padahal, sebenarnya, kamu gak perlu khawatir sama sekali tentang itu. Aku pantas untuk kamu pandang. Pantas…”

“Aku tahu, tapi bukan karena itu.”

“Terus?”

“Karena aku tidak memerlukannya lagi. Kamu tahu, sebenarnya, aku bahkan tidak memerlukan apapun lagi…”

“Ha, lucu sekali.”

“Apa perlunya lagi penglihatan kalau aku sudah memiliki matamu yang melihat segalanya untukku, memiliki tanganmu yang menjangkau dan memegang apapun yang kuinginkan, memiliki kakimu yang berjalan dan melangkah ke manapun arah dan tujuanku. Apa perlunya lagi?”

Pemuda jangkung membisukan diri sejenak. “Tapi aku masih berharap kalau suatu hari kamu bisa melihat dan mengagumi wajahku yang rupawan, atau sekedar mengintipku mandi diam-diam lewat pintu yang sengaja kubiarkan terbuka sementara aku berpura-pura tidak tahu kalau kamu sedang mengintip.”

Mereka berdua tertawa.

Lidah ombak masih menjilat kaki mereka yang telanjang. Angin masih meriap-riapkan rambut dan pakaian keduanya. Langit di atas kepala mereka masih terus bersalin warna. Dan burung-burung elang masih melintasi cakrawala yang kian keemasan.

“Kupikir, ini saat yang tepat buatmu untuk menciumku, Langit Biru.” Sembari berkata demikian, kedua tangan Elang Senja menyusur naik melewati dada pemuda jangkung yang disebutnya Langit Biru itu dan berhenti bergerak ketika kedua lengannya sudah memagut di leher si pemuda.

Langit Biru, dengan tanpa ragu, membelit pinggang Elang Senja dengan kedua lengannya lalu menariknya lebih lekat. “Kuharap, liburan semesterku kali depan, Oma Saraswati menghadiahimu paket liburan ke Raja Ampat atau Ke Chiang Mai,” katanya tepat sebelum menunduk kian rendah ke wajah Elang Senja.

Hari ini, senja Kuta berlangsung lebih lama dari biasanya. Langit keemasan bertahan lebih lama dari hari-hari kemarin. Malam seperti tak mau buru-buru menurunkan tirainya dan memupus senja. Bahkan waktu pun, terasa enggan menunjukkan kuasanya atas perubahan alam, hanya demi memberi tenggat ekstra bagi sepasang anak manusia yang tengah berpagutan di bibir Kuta untuk saling jatuh lebih dalam lagi pada cinta.

Nopember 2015

nay.algibran@gmail.com