Oleh : Riy Muhibban

Sudah jam dua belas lebih dua puluh menit. Harusnya Pak Surya telah selesai menyampaikan materi sejak lima menit lalu. Aku gelisah dalam dudukku, tak lagi bisa berkonsentrasi pada apapun yang disampaikan dosen design grafis itu. Berkali-kali kulihat jam dinding dan kusamakan waktunya dengan jam tanganku. Hanya terpaut kurang dari sepuluh detik. Kulirik teman-temanku, mereka pun sama, sudah ingin segera menyudahi kegiatan rutin membosankan ini.

Maka begitu Pak Surya menyudahi khotbahnya dengan membekali kami tugas melelahkan, akupun segera menghambur keluar, buku-buku sudah masuk dalam tas punggungku beberapa menit sebelum Assalamualaikum meluncur dari mulut beliau.

Setengah berlari aku menuju gerbang kampus, tempat dimana dia biasa menungguku dibawah pohon palem hias. Dan rasa penatku pun hilang seketika saat kutatap senyum manis yang tersungging di bibir merahnya. Setelah berdiri beberapa detik sambil menghempaskan nafas lega karena kerinduanku terobati, akupun baru melangkah mendekatinya.

“Kamu lama hari ini.” tangannya mengambil sebotol teh dingin dan memberikannya padaku tepat sedetik setelah kami sama-sama duduk di bangku tembok yang mengelilingi pohon palm ini.

“Pak Surya telat datang tadi, jadi dia menambah waktunya dengan mengambil jatah kebersamaanku denganmu. Hhh… Korupsi itu emang gak harus melulu soal uang.Kataku mendadak kesal.

Dia hanya tersenyum dan manampakkan giginya yang berbaris rapi walau tak terlalu putih. Disekanya sedikit peluh di dahiku dengan tisu. Diperlakukan seperti itu, aku hanya bisa diam terpaku dan menatap lekat wajahnya. Bulu mata yang agak panjang dan lentik, pipinya yang tirus dan dagu sedikit lancip. Dua buah jerawat kecil mengganggu nakal di dahi dan pipi kirinya.

“Kamu selalu menggangguku setiap kali aku membersihkan keringatmu!Warna merah merona di pipinya, membuatnya semakin tampak manis.

“Kapan ya aku akan bosan melihat wajahmu?”

Dia kembali tersipu, dan akupun merasakan sesuatu menggelitik jiwaku, selalu begitu. Ada rasa yang sulit kujelaskan lewat kata, sebuah rasa yang lebih dari sekedar bahagia dan membuatku ketagihan berada di dekatnya, merindukannya dengan lebih dari waktu ke waktu. Aku tak tahu apakah aku masih hidup di dunia atau sudah berada di surga setiap kali bersamanya. Dia adalah candu, lebih dari kafein dalam mencegah tidurku.

“Kamu lapar kan? Ini…” tangan kokohnya kembali mengangsurkan sesuatu. Kali ini sebungkus roti isi coklat. Sebenarnya aku sangat suka coklat dan tak suka roti, tapi ketika tangan itu yang memberi, tak ada yang tak kusukai. “Nanti makan yang kenyang di rumah ya?”

“Tapi kamu harus ikut kali ini!” kataku sesaat sebelum memasukkan sepotong rati ke mulutku.

“Aku harus kerja, Iz. Aku harus pulang membawa makanan untuk adik-adikku dan modal yang cukup untuk besok.

“Aku borong daganganmu semuanya, tapi kamu harus temani aku makan.

“Orang tuamu?”

“Mereka tak pernah ada di rumah siang hari. Terlalu sibuk. Kamu tau itu.

Lagi-lagi, dia hanya mengulas senyum ringan dibibirnya, tapi kulihat matanya penuh dengan binar yang indah, menghipnotis jiwaku dan mengikatku dengan pesonanya. Aku tak pernah jatuh cinta sebesar ini kepada siapapun sebelumnya, bahkan ketika Dalfa, seorang pemuda dengan segudang kesempurnaan, menyerahkan dirinya untuk kumiliki, aku tak pernah merasa sebahagia ini. Atau ketika Safira, wanita terindah dimata semua pria seantero kampus, menganggukkan kepala saat kukatakan Maukah kau menjadi kekasihku? dan menjadikanku pemuda paling terkenal kala itu, ia tak pernah membuatku melayang setinggi ini. Tidak seperti Kaffa Firdaus. Pemuda pedagang asongan berhati lembut ini. Pemuda yang mungkin saja akan membuatku mati jika meninggalkanku.

“Kenapa melamun?” Kaffa, kekasihku menyadarkanku. Benarkah aku melamun barusan? Pemuda ini benar-benar melenakanku.

“Iyakah?”

“Mikirin apa?”

“Aku berpikir…. harus berapa banyak lagi Tuhan menciptakan dunia agar besarnya sama besar dengan cintaku padamu.Aku menjadi seorang penggombal sejak berpacaran dengannya enam bulan lalu. Lihat, sudah enam bulan tapi sedikitpun aku tidak merasa bosan dengannya, menatap setiap mili wajahnya, menikmati setiap tusukan matanya dan mengukirkan garis senyumnya dalam ingatanku. Bagaimana bisa aku tak menyebut ini cinta?

“Kamu itu berlebihan!

“Tak ada yang berlebihan, keterlaluan, lebay, cengeng bahkan egois. Ketika semua berdasarkan cinta, maka semua itu adalah wajar jadinya.

Sungguh, aku tak pernah berfilosofi dengan kata apapun sebelumnya, semuanya menjadi begitu lancar mengalir laksana air terjun ketika aku bersamanya. Ya, mungkin inilah efeknya. Cinta yang begitu besar menjadikanku selebay ini. Bahkan setelah mengucapkan kalimat itu akupun tak yakin apakah filosofiku benar atau tidak.

###

“Aku tak ingin dibayar dengan harga mahal hanya karena kau kekasihku, Iz. Bayarlah seperti harga umumnya!” Kaffa menolak sejumlah uang yang kuberikan sebagai pembayaran atas beberapa minuman dan camilan jajakannya secara lebih, sangat lebih malah.

“Kamu gak mau beli baju baru? Atau beli makanan enak buat adik-adikmu?” Aku tak ingin lebih dengan mengatakan kalimat itu, hanya ingin dia menerimanya. Aku mencintainya dan itu berarti aku harus memberikan apapun yang bisa kuberikan bukan? Terserah dia mau pergunakan untuk apa setelahnya karena aku tahu, dia akan bisa memakainya dengan bijak.

“Kalau begitu uang lebihnya aku anggap sebagai hadiah darimu untuk adik-adikku ya?” Ucapnya setelah beberapa saat terdiam seperti berpikir.

“Terserah padamu!Aku tersenyum senang, hingga akhirnya dia membuat wajahku panas yang indah dengan mengecup pipiku. Hanya di pipi dan itu sudah membuatku merasa begitu bahagia. Katakan aku sedang ada di surga, dengannya. Tidakkah surga itu hanya berisi dengan segala keindahan dan kebahagiaan? Dan aku merasakan itu saat bersamanya.

“Makasih” ucapnya kemudian. Dan aku sangsi pada kupingku sendiri, apa benar dia mengucapkan kalimat itu atau tidak. Bukankah yang seharusnya berterimakasih itu aku? Berterimakasih untuk kebahagiaan yang begitu nyata ini.

“Sama-sama.Aku ingin mengucapkan lebih banyak kata lagi, tapi lidahku rasanya malah menggulung, membuat kata-kata yang terkumpul kembali kutelan.

Kaffa menghadapkan tubuhku padanya. Kami berpandangan. Tinggi kami yang nyaris sama membuat salah satu dari kami tak ada yang harus tengadah untuh saling menatap. Kaffa meraih tanganku dan menaruh di pinggangnya yang ramping lalu mengaitkan tangannya dipinggangku.

“Kau tahu karena apa aku mencintaimu, Iz?”

“Aku gak tau!” jawabku sembari menggeleng. Aku tak tahu kenapa aku kehilangan rasa percaya diriku. Dulu ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama oleh Dalfa dan Safira, dengan bangganya kukatakan pada mereka “Karena aku ganteng dan baik. Tapi tidak dengan pemuda ini. Aku sungguh telah kehilangan segalanya. Bahkan aku tak yakin apakah aku masih menyisakan hatiku untuk yang lain atau tidak.

“Lalu apa kamu tau sejak kapan aku mulai mencintaimu?”

“Aku juga gak tau, tapi aku gak butuh kapan. Yang kubutuhkan adalah saat ini dan nanti, ada kamu bersamaku.

“Kalau aku pergi meninggalkanmu?”

“Kamu hanya akan lihat aku di RSJ!

Dia tersenyum dan melelehkan hatiku. “Lebay.” Ucapnya, lalu mencubit hidungku.

“Ih… Sayang sakit tauk!” manjaku, dia malah tertawa, barisan giginya yang gingsul sungguh mempesona. Mungkin berlebihan untukmu, tapi tidak begitu di mataku, sungguh, tak ada yang kurang sedikitpun padanya.

“Bibirmu… Seperti apa rasanya?” dia menelusurkan telapak tangannya di wajahku, kemudian ibu jarinya mengusap bibirku dan jari yang lain menempel lembut di pipiku beberapa lama. Kami hanya diam, lidahku tiba-tiba kelu, tersihir, tak ada yang bisa kulakukan selain menatapnya dengan penuh perasaan. Aku yakin telah menyerahkan segalanya kepada pemuda ini, pemuda yang kemudian mengusapkan telapak tangannya menyusuri wajahku, ke belakang tengkukku, menyisirkan jarinya di rambutku. Kami tak berhenti bertatapan.

“Maafkan aku tak tahu diri, Iz. Harusnya aku tak jatuh cinta padamu, tapi…. Tapi aku mencintaimu.Entah karena alasan apa, matanya berkaca-kaca.

“Aku juga mencintaimu, sangat… Bahkan lebih dari yang kamu tahu!

Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, hingga menyisakan jarak kurang dari setengah jengkal, aku bahkan bisa merasakan hangat nafasnya, juga degup jantungnya yang keras. Apakah ini adalah wujud dari pemasrahan dirinya padaku? Dia terpejam dan aku mulai mengenyahkan jarak. Perlahan, kutempelkan bibirku di bibirnya, lembut, bak sutra yang hangat. Aku tak mampu lagi membuka mata, terpejam membuatku merasakan segala keindahan yang nikmat.

Dia membuka mulutnya, seakan mengizinkanku untuk menjelajahi semua tempat disitu. Kumasukkan lidahku, melilit lidahnya dan merasakan berbagai rasa, basah yang hangat dan manis. Tidak, bukan hangat dan manis, lebih dari itu. Aku tak mampu melukiskannya.

Aku merasakan dirinya semakin erat menempeli tubuhku, menegangkan segalanya, aku mendesah dalam geliatku, pun begitu dia. Aku terbuai, melayang dalam kebahagiaan dan gairah yang beradu dan berbaur, mengalir dalam darahku, menjadi candu yang memabukkan. Ini cinta, sekali lagi ini cinta. Antara aku dan pemuda pedagang asongan, Kaffa Firdaus.

Aku kembali ke kehidupan nyataku tatkala bibir kami lepas. Kami saling bertatapan, wajahku panas dan wajahnya merah. Saling tersenyum dan kemudian berangkulan. Bibirku tepat di telinganya.

“Nanti malam ada acara?” Bisikku.

“Enggak, kenapa?”

“Tunggu aku di depan SD dekat rumahmu ya! Aku akan menjemputmu.

Kaffa menarik wajahnya, menatapku dengan sedikit raut tak percaya. “Kita akan kemana?”

“Nanti kamu tau. Jam tujuh ya?”

Kaffa mencium pipiku dengan cepat dan membuat wajahku yang mulai mendingin, kini memanas lagi. “Aku mencintaimu.

Aku hanya tersenyum dan membiarkan dia melepaskan pelukannya. Dia menggenggam tanganku dan melangkah menuju teras depan.

“Boleh aku pulang sekarang?”

“Dengan syarat satu pelukan lagi.Jawabku. Kaffa lagi-lagi tersenyum dan segera merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Hanya sesaat karena dia segera melepaskanku lagi.

“Sampai jumpa nanti malam.” ucapku, kemudian tertegun menatapnya menjauh, menengok sebentar saat sampai di depan gerbang. Saling melempar senyum.

Sepeninggalnya, seolah kebahagiaan yang begitu besar terkurung didalam jiwaku saat dia di dekatku, kini meluap tak terbendung. Aku berjingkrak, melompat dan membenamkan wajahku sendiri di sofa, tersenyum lebar. Berguling sambil menungkupkan bantal di wajahku.

###

Dia telah menungguku di tempat yang telah ditentukan, memakai jaket abu-abu dengan kaus putih di dalamnya, denim hitam yang sedikit pas di kakinya. Jaket dan denim itu baru, aku belum pernah melihat dia memakai keduanya. Aku terpesona, tentu saja, selalu begitu setiap kali melihatnya, membuat degup-degup baru dalam dadaku, cinta yang meledak-ledak. Motor yang kubawa berhenti begitu saja, memberi kesempatan mataku menatapnya dari jarak beberapa meter di depannya. Dia hanya tersenyum, mengerti kebiasaanku itu.

Aku melirik tas plastik putih yang kugantung di stang motor sebelah kiri. Kejutan untuknya. Kulajukan kembali motorku pelan hingga tepat di depannya.

“Kamu... Beda banget malam ini!” mataku tak lepas mengamatinya, tak ada cela, atau kurang sedikitpun. Kaffa-ku sempurna, bahkan dengan jerawat kecil di pipi dan dahinya.

“Kalau aja kamu gak ngajak aku ke suatu tempat, aku gak akan beli jaket sama celana ini… Ah, kamu membuatku berhutang pada adik-adikku.Dia cemberut manja, manis, sangat manis.

“Biar aku yang membayarnya.Aku tersenyum, ingin sekali aku mencubit pipi itu kemudian menodainya dengan bibirku, meninggalkan jejak cinta disana. “Ayo naik! Aku akan membuat bintang-bintang ada di sekelilingmu.

“Maksudmu?”

“Naiklah, kamu akan ngerti nanti!Kuberikan sebuah helm padanya.

Dan beberapa detik berikutnya aku merasakan wajahku memanas berbarengan dengan punggungku yang menghangat. Kaffa melingkarkan tangannya di pinggangku. Tubuhnya menempel dengan erat kepadaku.

###

“Indah sekali.” dia mengitarkan pandangannya, menatap kelip-kelip di sekitar kami. Tak ada batas antara langit dan bumi. Hitam yang pekat menyelimuti segalanya.

“Rentangkan tanganmu dan bayangkan kamu terbang. Lihatlah…. Apa yang kamu rasakan.Bisikku di belakangnya, tubuhku merapat di punggungnya. Kusilangkan jemariku di jemarinya dan kubimbing tangannya ke samping, menyerupai apa yang dilakukan Jack pada Rose di film Titanic.

“Iz… Aku melihat bintang di bawahku, di atasku, di depanku, di sekelilingku. Aku terbang Iz, melayang.

“Kamu suka, Sayang?”

“I love you.

“I love you too.

Untuk beberapa lama kami tetap begitu. Merasakan sejuknya angin menerpa wajah kami, merasakan debaran jantung kami yang menjadi satu-satunya suara yang ada. Menatap kelip-kelip lampu kota di bawah kaki kami dan bintang-bintang di atas kami. Jauh di depan kami, kelip bintang-bintang itu seolah menyatu dengan kelip lampu-lampu. Ya, dari bukit ini, kami seakan berada di antara kelipaan-kelipan itu.

“Kamu puas, Sayang?” tanyaku di telinganya.

“Kamu menggangguku. Aku baru sadar kalau kakiku pegal sekarang.” dia melepaskan tanganku yang entah dari kapan tak lagi merentang ke samping, tapi sudah melingkar di pinggangnya. “Ayo duduk!

Kami mundur sedikit, dan duduk. Dia menempatkan dirinya di antara kedua pahaku dan menarik tanganku agar kembali melingkar di tubuhnya. Dan dia dengan leluasa menyandarkan kepalanya di dadaku.

“Aku ingin bicarain sesuatu denganmu, Fa!

“Apa?” Kaffa mendongak, dan sebisa mungkin menatap wajahku.

“Bentar ya?” aku melepaskan pelukanku dan berjalan menuju tas plastik yang sedari tadi menggantung bisu. Mengambilnya dan kembali ke tempat dimana Kaffa menunggu sembari tak henti menatapku.

“Apa itu?” tanyanya

“Bukalah!” aku tersenyum.

Dia mengambil kotak berukuran sedang dari dalam tas itu dan membukanya. Sebuah baju seragam OB.

“Ini…. Apa?” dia menatapku tak mengerti

“Mau gak kerja di tempat ayahku?”

“Aku…?”

“Aku udah bicarain dengan ayahku, juga tentang adik-adikmu, dan ayahku setuju menerimamu di kantornya. Tapi cuma sebagai OB. Gak papa? Dari hasil kerjamu, kamu harus kuliah dan jadi orang sukses.

Dia menatapku beberapa saat seolah tak percaya, lalu merangkulku dan mengisak.

“Kenapa?”

“Aku gak tau harus ngucapin makasih gimana buat semua ini, Iz. Kamu terlalu baik padaku.

“Karna aku cinta kamu, Fa. Kamu segalanya saat ini untukku, dan untuk waktu-waktu selanjutnya.Aku menarik kepalanya dan membuat wajahnya tepat di depan wajahku. Aku menghapus air matanya dengan ibu jariku dan mengecup keningnya.

Dia tersenyum. Aku menatap tepat ke matanya, mengangguk. Dia juga. Mengangguk dengan arti yang lain yang sama-sama kami mengerti. Perlahan kudekatkan lagi wajahku. Kali ini bibirku meraih bibirnya, melumatnya pelan. Memanas.

Dan semuanya terjadi. Kami menyatu. Mendaki hingga ke puncak segalanya. Panas dalam hembusan hawa yang dingin, luruh dalam ketegangan yang damai.

###

Tidurku sangat nyenyak. Bahagia adalah obat tidur terampuh. Sepulang dari bukit aku langsung terlelap. Tak menelponnya karena dia tak punya ponsel.

Saat tidurku usai, aku tak segera bangkit meski kusadari kamarku sudah sangat terang. Aku menarik selimut hingga menutupi dadaku, lalu menerawang mimpiku barusan. Mimpi tentang aku dan Kaffa. Dan, sebuah keanehan.

Aku sudah sangat rapi saat ini, setelan tuxedo hitam membalut tubuhku yang sangat sempurna. Ya, aku merasa begitu sempurna dalam mimpi itu. Sebuket bunga melayu dalam genggamanku, beberapa mahkotanya bahkan gugur saat jariku mencoba mengusapnya lembut.

Aku, berada di sebuah taman dengan kelambu-kelambu putih terjuntai. Bunga-bunga, bangku-bangku besi, bahkan kolam kecil di depanku berair putih. Pun begitu lilin-lilin yang dibiarkan menyala di atas sebuah piringan kecil di atas air di kolam itu, semua putih. Hanya aku satu-satunya yang tampak hitam disini.

Kaffa datang dengan cara yang ganjil, entah dari mana, seperti dari sebuah lorong panjang tanpa ujung. Lagi-lagi serba putih, pakaian dan cahaya yang nampak keluar dari tubuhnya pun begitu. Dia mendekat, mengumbar senyum sangat manis namun ada genang di matanya. Wajahnya tampak pucat.

“Aku ingin kamu tahu, dengan atau tanpa aku, tetaplah bahagia. Dimanapun aku, tetaplah tersenyum. Di keadaan apapun kamu, tetap yakinkan bahwa aku akan tetap mencintaimu. Dan aku ada di dekatmu, menjagamu.” Kaffa meraih tanganku dan menggenggamnya, lalu meletakkan di pinggangnya, pinggang rampingnya yang dingin. Aku memeluknya dan menggigil, bergetar entah kenapa. Dari ujung mataku, sesuatu yang basah bergulir, tapi entah jatuh dimana. Mulutku…. bisu, tak ada kata yang mampu kuucap, meski hanya satu kalimat.

Dan, Kaffa lenyap dari dekapanku. Tiba-tiba. Segala yang tampak putih menghitam, gelap, pekat…. Dan….

Aku terjaga dari tidurku dengan ujung mata yang basah.

Tiba-tiba aku merasa takut, semakin kupikirkan mimpi itu terasa semakin nyata, semakin aneh. Tuhan, jangan bilang ini berarti aku akan.

You and I, not event the gods above, can seperate the two of us, no nothing can come between you and I.

Lagu One Direction berjudul You And I yang sekarang menjadi satu-satunya lagi favoritku, membuyarkan pikiranku. Seseorang menelponku. Aku segera bangkit dan meraih ponsel yang kutaruh di nakas dekat foto kebersamaanku dan Kaffa. Aku tersenyum meski hanya dengan menatap wajahnya sekilas.

“Halo..” dengan sedikit malas aku mengangkat panggilan.

“Iz, tugas dari Pak Sanjaya udah belom? Bentar lagi masuk nih. Gue nyontek ya? Gak sempet ngerjain.” Giffar bicara cepat di ujung sana.

“Ya ampun, Pak Sanjaya? Gue baru bangun tidur. Bentar lagi kesana.” jawabku kaget. Dosen menyebalkan itu tak mengampuni keterlambatan, apalagi dengan alasan tak jelas. Mau tak mau, pikiranku tentang Kaffa tersisihkan. Entah aku harus berterimakasih atau tidak atas apa yang Giffar lakukan sehingga aku tak lagi mengingat mimpi aneh itu.

Setelah membersihkan diri tak lebih dari sepuluh menit dan berpakaian dengan terburu-buru, aku segera menyambar jaketku di gantungan dekat pintu kamar dan kunci motor juga ponselku di nakas, lalu berlari menuju garasi. Panggilan Mama untuk sarapan hanya kujawab sambil berteriak, entah Beliau mendengarnya atau tidak, tapi pasti dia mengerti.

Kupacu motorku dengan kecepatan tinggi, tercepat selama yang aku ingat. Jalanan yang tak begitu ramai membuatku leluasa meliuk-liukan motorku menyalip beberapa mobil di depanku. Sekilas kulirik speedometer, di atas 90 km per jam. Aku sedikit angkuh pada diriku sendiri, memuji dan mengaku cukup hebat.

Tak kuhiraukan getaran ponselku yang menandakan seseorang sedang menghubungiku saat itu, paling hanya Giffar yang lebay menungguku untuk menyalin tugas. Kulirik sesaat jam tanganku, aku punya waktu kurang dari sepuluh menit untuk sampai di kampusku. Maka, kutambah lagi kecepatan motorku.

Dan, begitu aku berhasil menyalip sebuah avanza warna metalik di depanku yang juga melaju kencang, kusadari aku telah melakukan sebuah kecerobohan besar. Di depanku tengah berjalan seorang pemuda, menyebrang dengan tergesa-gesa. Dan aku, terlalu panik untuk sekedar menekan rem motorku pada jarak yang terlalu dekat dengannya.

BUKKK… CKIIITTT

Suara dari rem yang kutekan sekuat tenaga tak lagi berguna. Pria itu telah terlanjur terkena hantaman motorku. Dia terpental jauh, terlempar dan terdampar di trotoar, kepalanya terbentur pembatas jalan dan mengalirkan darah segar yang banyak. Dia bergerak beberapa kali tapi kemudian diam.

Aku tertegun menatapnya, terpaku diantara kendaraan yang tentu saja berhenti, terkejut dengan apa yang mereka saksikan di depan mata. Berkerubung mengitari pria naas itu hanya untuk melihat tanpa bisa melakukan apa-apa.

Tunggu… Oh Tuhan… Pakaian yang dikenakannya, bukankah itu adalah…

Aku berlari secepat mungkin menuju pria itu, entah motorku distandarkan atau tidak aku tak lagi peduli. Kusibak kerumunan orang-orang itu untuk memastikan apa yang kupikirkan. Dan…

“Kaffa….” setengah bergumam aku melafalkan nama itu, air mata membuncah dan segera mengalir tak terbendung. Pria itu, kekasihku, tergolek lemah di atas pangkuan seorang lelaki setengah baya.

Aku segera bersimpuh di depannya, meraih kepala dan tubuhnya yang lemah kedalam pelukanku. Darah masih mengalir dari kepalanya menuju sikutku dan menetes di pahaku. Tak peduli. Kuciumi wajah itu hingga wajahku memerah. Aku tak lagi peduli dengan orang-orang yang mungkin saja menatapku aneh. Aku juga tak peduli dengan bau amis darah yang menusuk penciumanku. Aku tak peduli apapun lagi.

“Jangan pergi… Jangan pergi… Jangan…”

“Nak..” kudengar pria yang tadi memangku Kaffa itu memanggilku.

“Buka matamu kumohon… Buka matamu, dengar… Kumohon… Buka… Kaffa…” lirihku sembari menatap wajahnya yang memucat, mengusap kepalanya yang makin terasa berat.

Keajaiban, dia membuka matanya, menatapku dengan lekat lalu tersenyum, dengan senyuman kecil yang lebih terlihat seperti ringisan. Aku tahu dia mengenaliku disela kesakitannya, dia ingin menenangkanku dengan segala sisa kekuatannya. Tatapan itu, aku melihat cinta di dalamnya.

“LAA ILAAHA ILLALLAAH” pria setengah baya itu berbisik di telinga Kaffa, mentalkin dan menuntunnya. Aku melihat bibir Kaffa bergerak pelan. Sementara ketakutan dalam jiwaku begitu besar, melingkupi segalanya, mencekikku hingga aku seakan tak bisa bernafas.

Perlahan, kurasakan tak ada lagi gerak apapun di tubuh kekasihku itu. Panas tubuhnya perlahan juga memudar.

“INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI’UUN” ucap lelaki itu sembari mengusap wajah Kaffa, diikuti gema ucapan yang sama dari orang-orang yang sedari tadi hanya melihat kami. Di telingaku, ucapan itu justru terdengar bagai petir yang menyambar dan membakarku.

“Gak… Ini… Gak mungkin!Aku terisak setelahnya, mencoba menahan air mataku lebih keras, tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Aku memeluknya lebih erat, lebih erat di dadaku.

Tuhan, segera bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Segera sadarkan aku bahwa apa yang aku alami ini bukanlah hal yang nyata, bahwa ini hanya ilusi yang akan hilang begitu mataku terbuka.

“Ikhlaskan. Ikhlaskanlah, Nak”

Aku mengerang panjang, sakit ini terlalu sakit. Aku tak siap, aku tak kuat. Aku tak sanggup kehilangannya dengan cara ini, dengan cara apapun. Aku membatu, mematung, membiarkan jasad malang Kaffa dibawa beberapa orang berbaju putih yang keluar dari ambulance beberapa saat kemudian. Tak melakukan apapun, bahkan untuk menggerakkan tangan saja aku sudah tak sanggup lagi sekarang.

Hingga akhirnya, aku merasakan langit runtuh menimpaku, aku dihempaskan kedalam samudera dan ditelan bumi. Gelap melingkupiku, tak ada udara untuk dihirup, tak ada cahaya untuk melihat. Pekat, sesak. Dan aku tak ingat apapun lagi.

###

Entah berapa lama aku sudah tinggal disini, ditempat yang riuh tapi menyedihkan, tempat yang ramai tapi sepi, tempat yang penuh gelak tawa dan tangis yang tragis. Aku duduk di sebuah bangku besi di bawah sebuah pohon. Jangan tanyakan pohon apa, aku bahkan baru kali ini mampu membedakan antara pohon dan rumput.

Tak ada hal lain yang menggangguku, hanya pikiran-pikiran tentang Kaffa saja yang kuingat. Dia marah, dia benci padaku dan mengutuk. Dia bahkan mencoba membunuhku berkali-kali. Aku menjerit-jerit, takut tapi tak mampu berlari, hanya meringkuk di sudut kamar dan menggigil.

“Kau pembunuh, Faiz… Kau membunuhku. Lalu dia akan menghilang dan meninggalkanku dalam kedinginan dan kesendirian.

Tapi kali ini, kulihat dia tersenyum manis, matanya memendarkan binar yang cerah. Wajahnya teduh dan damai.

“Kamu kurus banget sekarang, Iz. Kenapa? Gak ada yang ngerawatmu? Maaf, aku baru jenguk kamu sekarang, aku pikir kamu baik-baik saja setelah aku tinggalin. Kamu merindukanku ya? Aku juga.” Kaffa menyentuhku, dingin. Tapi ketika aku mencoba menyentuhnya, tanganku seolah tak mengenai apapun, Kaffa adalah angin yang dingin. Kosong. Hanya itu.

“Jangan tinggalin aku, Fa. Ajak aku pergi!

Lagi-lagi Kaffa tersenyum, kali ini lebih manis terlihat, mungkin karena beberapa lama ini aku tak bertemu dengannya secara baik-baik. Dia selalu menakutiku.

“Aku akan menunggumu, tapi gak akan menjemputmu. Teruskanlah dengan hidupmu, Iz. Aku akan selalu di dekatmu kok. Mulai hari ini aku akan selalu ada di dekatmu, memastikanmu baik-baik saja. Mengingatkanmu agar tak lupa makan, sampai ada seseorang yang menggantikanku.” Kaffa duduk bersimpuh di depanku, menidurkan kepalanya di pahaku, tapi lagi-lagi tak bisa kusentuh.

Untuk beberapa saat lamanya aku hanya terdiam, mengumpulkan ingatan-ingatan yang menghilang, yang kini mulai hadir kembali. Kutatap mereka yang tertawa-tawa lepas, yang berlari-lari laksana anak-anak bermain hujan. Tuhan, beberapa waktu yang lalu akupun adalah bagian dari mereka.

Kutatap tempat dimana Kaffa terakhir kali kulihat. Pangkuanku kosong, Kaffa tak ada di depanku atau dimanapun di sekitarku. Tiba-tiba saja aku merasa begitu ketakutan. Tidak, aku tak mau kehilangannya lagi.

Kuedarkan pandanganku ke sekeliling, mencari sosok pemudaku. Nyatanya, aku hanya berhalusinasi tadi. Tapi mungkin saja ini nyata kan? Mungkin. Kaffa pasti datang untuk segera mengingatkanku bahwa sudah saatnya aku kembali ke duniaku yang telah lama kutinggalkan.

Sesaat kemudian aku menyandarkan kepalaku di sandaran kursi, memejamkan mataku dan mencoba mengingat semuanya. Rasanya, kebahagiaan itu terlalu cepat berakhir. Andai saja saat itu aku tak ngebut, andai saja aku tak bangun kesiangan, andai saja aku tak menawarkan pekerjaan kepada Kaffa, mungkin kejadiannya akan lain, mungkin aku masih bersamanya. Sesuatu yang basah kurasakan meluncur bebas dari sudut mataku. Aku membiarkannya saja, tak berniat sedikitpun menghapusnya.

Aku masih tak bergeming dari apa yang kulakukan saat kurasakan seseorang mendekat dan duduk di sampingku. Aku tak ingin mencari tahu siapa dia meski yang harus kulakukan hanyalah membuka mataku. Apa yang baru saja kulewati ini terlalu melelahkan.

Aku hampir saja terlelap saat kurasakan seseorang membelai rambutku, mengusapnya dengan lembut. Kaffa?

“Nak…” lirihnya pelan. Aku mengenal suara itu. “Kapan kau akan sadar? Mama bosan di tempat ini, mama takut dengan apa yang mama lihat setiap hari di sini.

Mama? Bukan Kaffa?

“Mama kangen kamu, Nak. Kangen Faiz-nya Mama yang ceria. Kangen pelukan kamu saat mama memasak, kangen melihatmu makan nasi goreng buatan mama. Sekarang gak ada lagi yang makan di rumah, Nak. Mama dan Papa selalu gak kuat melihat meja makan yang sepi dan dingin.Aku dengar suara itu mengisak beberapa kali, lalu dengan suara makin lirih dia melanjutkan ucapannya. “Mama juga kangen kamu cium tangan mama saat mau berangkat kuliah, terakhir kali kamu pergi bukankah kamu lupa melakukannya, Nak?”

Aku membuka mataku dan menatap wajahnya yang tirus. Tuhan, mama jauh lebih kurus dibanding terakhir kali aku mengingatnya. Apa yang terjadi selama ini?

“Anak mama yang dewasa tapi tetap manja. Cepatlah sadar, ayo pulang, ayo hangatkan rumah lagi!

Aku tak kuat lagi membendung airmataku, aku sudah sadar sepenuhnya sekarang. Mama mengusap air mataku dan meraup wajahku tanpa mencoba memindahkannya sedikitpun.

“Ma…”

Kulihat dia terkejut, memastikan apa yang baru saja didengarnya bukanlah ilusi. Dia pasti merindukan panggilan itu.

“Nak… Sayang, katakan lagi, siapa orang di depanmu ini?Binar mata itu menusukku. Nyeri sekaligus sesak mengganjal di ulu hati.

“Ma…”

Serta merta, setelah aku mengucapkannya, Mama menarikku kedalam pelukannya dan mengisak keras, sangat keras, sekeras pelukannya. Dia hanya memanggil namaku diantara tangisnya itu.

Aku memandang di kejauhan, kepada sebuah sosok yang berdiri tegak. Sosok pemuda yang menjadi satu-satunya pemilik hatiku. Dia tersenyum tanpa lepas menatapku.

“Terimakasih… Terimakasih telah datang untuk menyadarkanku.” ucapku tanpa henti sampai sosok itu perlahan menghilang. Aku rela, aku rela melepaskannya sekarang. Aku ihklas kehilangannya sekarang, karena dalam hatiku, ia tak akan pernah hilang, atau tergantikan oleh siapapun. Dalam hatiku, dia tetap hidup, dan tak akan pernah mati.

###

“Kakak….”

Aku disambut ucapan itu begitu aku, Mama, dan Ayah sampai di rumah. Kudapati dua sosok malaikat kecil yang serta merta memeluk pinggangku. Humaira dan Habib, adik-adik Kaffa yang mulai sekarang akan menjadi tanggunganku. Mama dan Ayah memutuskan untuk merawatnya sejak Kaffa meninggal karenaku. Segera aku menurunkan tubuhku dan kuraih kedua kepala itu kedalam dekapanku.

Beberapa saat kemudian kulepaskan dekapanku dan kutatap kedua wajah polos dan manis yang dihiasi lelehan airmata itu. Aku mengusapnya dan mencium kening mereka bergantian. Nyeri dalam hatiku, bahkan makin terasa begitu melihat bahwa wajah kedua malaikat kecil ini akan terus mengingatkanku pada kekasihku. Wajah Kaffa, akan selalu kutemukan di wajah-wajah mereka.

Tapi inilah hidup, aku tak akan menemukan apapun diakhir hidupku jika aku tak mulai melakukan sesuatu saat ini. Dan hidupku, akan aku mulai lagi hari ini.

###

“SHODAQOLLAAHUL ‘ADZIIM” akhirnya kucap juga kalimat itu setelah susah payah aku menyelesaikan tiga kali bacaan yasinku. Setelahnya, aku hanya mengisak tertahan, tak mampu membendung air mataku yang tumpah begitu saja. Kutatap nisan yang dingin, nisan bertuliskan nama Kaffa Firdaus.

Hingga hari beranjak gelap, aku baru menyadari bahwa sudah seharusnya aku pulang. Aku bangkit tanpa melepaskan pandanganku dari gundukan tanah yang di dalamnya, sebelah jiwaku terkubur. Rasanya begitu berat untuk pergi.

“Aku akan kembali minggu depan. Mungkin akan bicara sesuatu padamu. Tidurlah dengan tenang!Air mataku yang sesaat lalu mulai kering kini membajir lagi. Sesak dan nyeri kembali menikam jiwaku bertubi-tubi. Segera aku melangkah meninggalkan area pemakaman itu. Meninggalkannya kembali dalam kesendirian. Sebaris doa, kuucapkan dalam hati.

Langit semakin gelap, dan perlahan kurasakan rintik-rintik kecil yang jarang menjatuhi tubuhku. Sebentar lagi hujan pasti akan turun. Giffar memasukkan ponselnya kedalam kantong celananya begitu melihatku datang. Dia memang mengantarku kesini tadi dan menungguku sampai selesai. Dia mengangsurkan helm padaku dan menatapku dengan lembut. Tatapan yang aneh. Tapi aku tak mau memikirkannya, sudah saatnya aku pergi sebelum hujan berubah menjadi deras.

Dari sebuah kios buah yang kulewati, kudengar samar-samar lagu yang paling kubenci saat ini. Lagu Agnez Mo yang berjudul Tanpa Kekasihku itu selalu berhasil menjatuhkan air mataku. Kusuruh Giffar mempercepat laju motornya agar lagu itu tak lagi kudengar, tapi yang terjadi adalah hatiku yang terus melantunkannya tanpa sadar.

Ingin kuulang hari. Ingin kuperbaiki. Kau sangat kubutuhkan. Beraninya kau pergi dan tak kembali.

Giffar meraih tanganku dan melingkarkan di pinggangnya, entah apa maksudnya.

###

Selesai