Oleh : Ari Setiawan

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.” Suara operator lady semakin membuatku kesal. Bagaimana tidak? Telah satu jam aku di halte menunggu jemputan. Entah berapa puluh kali panggilan berulang ke nomor yang sama, selalu dia yang menjawab. Aku kembali menghempaskan pantatku di kursi panjang ini. Mengulang panggilan serupa, namun tetap saja operator lady yang menjawab. Kemana mas Agung? Dia sendiri semalam yang menelponku dan berjanji ingin menjemputku sepulang kuliah. Namun mengapa hingga kini tak kunjung datang, hilang tanpa kabar.

 

Hilir dan mudik kendaraan yang lewat silih berganti, sedangkan aku masih tetap disini. Terik dan panas sinar mentari siang sepertinya sedang membakar emosiku. Seakan-akan menyetujui bahwa aku harus marah kepada mas Agung. Jika aku yang meminta jemput maka mungkin keterlambatan mas Agung masih dapat dimaklumi. Namun ini sudah kesekian kali mas Agung yang meminta diri untuk menjemputku sepulang kuliah, namun dia sendiri yang mengingkari. “Apa aku harus pulang sendiri lagi?” Gumamku dalam hati.

Bib, bib, bib, bib.” Dering bunyi BBM di saku tas membuyarkan pikiranku.

Kubuka kunci tombol dan membaca pesan yang tertera. Ternyata mas Agung. “Mas sedang ada urusan mndadak, kamu pulang sendiri ya dek! :*

Aku hanya me-read tanpa membalasnya. Mas Agung benar-benar keterlaluan. Sungguh membuatku kesal. Aku seperti orang tolol disini karena menunggu sesuatu yang tak pasti.

“Desi… Kok belum pulang?” Kulihat Andy datang, mematikan mesin motor metic-nya, kemudian melepas helm.

Aku hanya melihatnya sekilas kemudian kembali mengutak-atik ponsel.
“Iya nih, lagi nunggu jemputan!” Aku mencoba menyembunyikan rasa kesalku.

“Aku antar pulang mau gak?”

Entah mengapa Andy selalu bisa membuat mood-ku yang sebelumnya buruk kini berangsur-angsur membaik. Ada saja caranya untuk membuatku kembali tersenyum. Meski hal biasa namun ketika Andy yang menceritakan, alur dan kisahnya menjadi menarik. Atau mungkin aku yang terlalu antusias? Entahlah! Dan yang aku rasakan kini hatiku kembali tenang. Andy tahu betapa rumitnya hubunganku dengan mas Agung dalam sebulan ini. Dia selalu memiliki cara untuk mengalihkan antara aku, pikiran kusut dan masalahku. Andy adalah sahabatku sejak SMA.

“Yakin nih gak mau diantar pulang? Kita searah loh!”

“Gak usah Ndy, antar disini aja. Aku mau ke Gramedia, ada buku yang mau kubeli.”

“Terus kamu pulangnya pakai apa?”

“Pakai kakilah!”

“Tahu pula pakai kaki, maksudnya siapa yang jemput?”

Aku menyempatkan bercanda sebentar dengan Andy. “Aku pulang pakai taksi, nih kamu bawa helmku. Antar ke rumah, kasih ke mamaku. Masa cewek cantik kayak aku hang out di Mall ngetenteng helm!”

Lebih satu jam aku menghabiskan waktu dengan sahabat terkasih rasanya seperti sekilas saja. Benar kata orang-orang, saat sedang bahagia waktu terasa begitu cepat berlalu. Namun beda halnya ketika sedang dilanda nestapa. Satu jam waktu berlalu seakan tahu betul kejadian setiap detiknya. Seakan-akan hidup sedang ketiban sial dan kebahagiaan-kebahagiaan enggan untuk menyapa. Ini memang perasaan naluriah yang dimiliki hati manusia. Perasaan yang menyesatkan untuk menjadikan manusia kufur nikmat.

Gue mengambil kesimpulan sendiri: semua belalang jantan udah tahu kalo kepala mereka bakalan dimakan kalau mereka kawin, tetapi mereka tetep mau kawin. Kesimpulannya: belalang jantan berani mati demi cinta. Kesimpulannya lagi: tidak ada yang lebih romantis daripada percintaan antara dua belalang. Gue tidak akan mungkin seberani belalang-belalang jantan ini. Kalau gue jadi belalang jantan, hal pertama kali yang gue lakukan adalah mendeklarasikan kalau gue homo, cari belalang jantan lain yang masih berondong dan kawin di Belanda.

Senyum tersungging di bibirku ketika membaca satu paragraf di pertengahan pada bab terakhir novel Marmut Merah Jambu. Aku suka dengan cara Raditya Dika yang selalu berhasil mengawinkan secara poligami antara sains, kenyataan dan ide kemudian menyuguhkannya menjadi bacaan ringan dan penuh humor. Tanpa ada kesan berlebihan. Meski hanya fiksi namun sungguh ampuh membuat pembacanya seolah-olah menjadi tokoh utama di cerita itu.

Senyumku kini berubah menjadi tawa lirih ketika membaca paragraf selanjutnya. Mukaku merah merona saat melihat beberapa pengunjung toko buku lainnya yang mendapati diriku tertawa dan asyik sendiri. Sungguh, aku menjadi malu. Membaca ulasan keseluruhan isi novel dan beberapa paragraf di bab terakhir membuatku berkeinginan untuk memiliki buku ini. Selalu saja niat awalku untuk membeli buku penunjang kuliah berhasil diusik oleh keinginan lainku untuk memiliki novel.

“Semuanya seratus tiga puluh lima ribu rupiah.” Tanpa basa sasi, aku memberikan uang pas, kemudian tersenyum tipis. “Terima kasih!” Lanjut wanita cantik itu. Aku kemudian menjemput pemberiannya.

Sepeninggalan dari kasir, pikiranku terngiang-ngiang tentang kejadian di halte tadi dan sebulan ini. Tentang hubunganku dengan mas Agung. Aku mengakui dan meyakini bahwa nasihat yang dikatakan Andy memang benar adanya. Untuk mengubah hubungan menjadi kearah yang lebih dewasa, kami harus dapat melewati berbagai macam rintangan. Dan mungkin ini adalah rintangan yang harus kami hadapi, harus kami selesikan secara bersama, karena masalah akan mendewasakan setiap insan yang berhasil melewatinya.

Cinta memang mampu mengubah segalanya. Mampu mendekatkan yang jauh mampu merapatkan yang dekat. Cinta juga mampu menyatukan dua insan dari lautan pemisah, menyatukan dua insan dari jurang perbedaan. Seolah-olah menjadi jembatan penghubung, seolah-olah menjadi palu penghancur tembok yang menghalangi. Cinta memang selalu memiliki cara tersendiri dan tak terduga untuk menyatukan dua insan. Seperti hubungan yang telah setahun ini kami jalin, antara aku dengan mas Agung. Cinta telah menyatukan kami.

“Wah, kamu hebat dong! Bisa pacaran sama bang Agung. Dia itu supel loh, banyak cewek yang suka sama dia. Tapi kamu berhasil memacarinya.” Itu tanggapan Dewi sahabatku sehari setelah aku dan mas Agung resmi pacaran. Aku langsung meninju pelan lengannya karena kurang setuju dengan pernyataan Dewi. Bagaimana tidak? Tanggapannya barusan seolah-olah menyimpulkan aku yang mengejar dan berusaha untuk mendapatkan mas Agung. Padahal sebaliknya, mas Agung yang berupaya keras untuk mendapatkan cintaku.

Papa memang tidak pernah membatasiku dalam berteman baik itu lelaki atau wanita manapun namun papa memberikan warning untukku. Jika aku melanggar koridor yang menjadi sebuah kewajaran, maka papa yang akan menghukumku. Karena aku masih belia yang kini beranjak dewasa harus pandai-pandai menjaga diri, menjaga sikap dan bertindak sewajarnya. Saat aku menceritakan pada papa karena mas Agung yang ingin mendekatiku, papa menjaga ketat anak gadisnya. Meneliti mas Agung dengan permainannya sebelum memutuskan untuk mengizinkanku membina hubungan dengan mas Agung.

Mas Agung memang sabar dalam menghadapi permainan papa. Papa tidak mengizinkan mas Agung menemuiku diluar kecuali di rumah. Jika malam minggu tiba, kami menghabiskannya dengan duduk dan bercerita di saung yang terletak di atas kolam taman rumahku. Begitu seterusnya hingga empat bulan berlalu. Aku tahu, papa memang berniat untuk menguji nyali mas Agung. Mengukur sejauh mana keberanian dan keteguhan cinta mas Agung untukku. Karena papa mengatakan, seorang lelaki tidak butuh waktu lama untuk menyukai lawan jenisnya. Jika hanya sekejap maka itu bukan cinta melainkan sebuah kekaguman. Dan empat bulan penjajakan, akhirnya papa mengizinkanku untuk memberikan keputusan kepada mas Agung.

Co cwiiit…” Dewi munutup ceritaku tentang usaha mas Agung untuk mendapatkan cintaku. Pipiku merah merona karena Dewi mengatakan aku beruntung memiliki lelaki yang dengan tangguh berjuang untuk mendapatkan cintanya. Dewi berkali-kali memujiku. Membuatku melayang dan terbang mengarungi angkasa. Membuatku seperti berada di kasur busa empuk dengan dikeliling taman bunga indah nan luas.

Berbeda lagi dengan Andy. “Apa? Kamu pacaran dengan si Agung? Kok bisa?” Itu tanggapan pertamanya saat aku menceritakan perihal hubunganku dengan mas Agung. “Ada sedikit keanehan, kamu harus periksa kesehatanmu ke dokter!” Andy melanjutkan komentarnya yang sepertinya kurang menyetujuiku.

Kadang pikiran dan perasaanku bergulat. Saling baku hantam, saling menjatuhkan untuk menyudahi pertikaian  antara mereka agar menemukan siapa pemenangnya. Aku adalah wanita rumahan yang kurang terlalu suka menghabiskan waktu di luar. Kegemaranku adalah mengunjungi toko buku dan perpustakaan. Rela menghabiskan waktu berjam-jam, hanya dengan menjelajahi baris tiap baris dan halaman demi halaman untuk berimajinasi dengan berbagai jenis buku.

Namun, aku sangat berbeda dengan mas Agung. Dia tergabung dalam beberapa klub olahraga seperti basket dan futsal. Gym adalah kegiatan rutin terjadwal yang tidak akan terlantar karena aktivitas padatnya. Belum lagi perihal nasihat dan saran mas Agung tentang pola makan sehat dan istirahat cukup. Mungkin sebuah kewajaran buat Andy yang kaget dan tak percaya karena aku memulai menjalin hubungan dengan mas Agung. Aku sangat berbeda dengan mas Agung.

Keputusanku semua memiliki alasan. Kegigihan mas Agung untuk mendapatkan cintaku benar-benar bisa diacungi jempol. Kegigihannya yang tulus berhasil meluluhkanku, menimbulkan benih-benih cinta yang sebelumnya memang tak pernah ada. Mas Agung juga berhasil memberikan kepercayaan untukku dan membuat keyakinanku menjadi lebih kuat. Aku berharap benih-benih cinta ini tumbuh subur dan akan kupanen kelak jika saatnya tiba. Cobaan seperti sekarang diibaratkan angin. Semakin tinggi pohon, maka semakin kuat pula angin yang menerpa. Pohon yang menjulang tinggi dan tetap berdiri tegak adalah pohon yang kokoh. Dan aku menginginkan hubunganku tetap kokoh.

Aku menyelempangkan tas setelah mengambilnya dari penitipan, kemudian keluar toko sambil menenteng plastik putih berisi buku. “Bib, bib, bib, bib.” Bunyi BBM di saku celana membuaku berhenti sejenak. “Nak, jam berapa pulang? Tolong papa, ke sutoyo sebentar. Ambilkan tanaman ke pak Ramhat.” Barusan yang mengirim pesan adalah papa. Membayangkan harga ongkos taksi dan tanaman yang akan kuambil nanti, uang yang ada di dompetku tak akan cukup untuk membayar kedua tagihan itu. Hanya tinggal selembar uang kertas berwarna hijau, bergambar pahlawan nasional Oto Iskandar Di Nata. Niatku menuju depan kemudian batal dan berbelok kearah kanan, berjalan menuju atm center.

Tanpa sengaja pandanganku terpagut. Sebelumnya hanya buyar tak jelas kini berangsur-angsur fokus. Pandanganku bukan fokus pada meja atau tulisan Exelco Café di pintu masuk, melainkan fokus dengan sepasang pengunjung disana. Lelaki yang cenderung menghadapku dengan wanita yang duduk di kursi di seberang mejanya, memunggungiku. Sebelumnya lelaki itu berbentuk siluet namun berangsur-angsur menjadi nyata. Dia adalah mas Agung. Yah, betul! Lelaki itu adalah mas Agung.

Aku terpaku. Lantai ini seperti memiliki lem yang super kuat untuk menempelkan telapak sepatuku dengannya. Aku mendadak enggan melangkah dan hanya bisa diam, memandang pengunjung yang jauh disana, dengan jarak lebih dari sepuluh meter. Entah berapa lama waktu yang kuhabiskan hanya dengan berdiam diri. Banyak momen yang kurekam jelas dalam memoriku.
Ada sutu momen saat dia meraih tangan wanita itu, kemudian mencoba untuk menciumnya. Tanpa sengaja mata mas Agung memandang ke arahku. Mata yang membuktikan sebuah kekagetan beradu dengan pandanganku yang mengisyaratkan tentang kesedihan. Berlawanan dan saling menjatuhkan.

Satu detik…

Dua detik…

Tiga detik…

Aku sudah tak sanggup lagi beradu pandang dengannya. Aku tahu, seharusnya aku yang lebih tegar karena aku tak bersalah namun memandangnya terlalu lama semakin membuat luka hatiku menganga lebar.

Pandanganku tiba-tiba saja memudar. Tanpa sadar, air mata tumpah mengalir dari mata kemudian membasahi pipi. Dia sama sekali tak memberiku waktu untuk berusaha membendungnya agar tak tumpah. Aku benar-benar menangis. Aku sudah tak sanggup lagi menahan remuk hati dan dera luka. Remuk hati dan dera luka yang kualami benar-benar memisahkan antara aku dan tempatku berada. Remuk hati dan dera luka ini membuatku lupa dunia dan mati rasa. Aku menangis sesugukan dan tak menghiraukan apa yang ada di sekelilingku.

Rasanya ingin berlari sekenang-kencangnya namun tenagaku nyaris tak bersisa. Aku berjalan gontai, berjalan sempoyongan dengan segenap tenaga yang aku punya. Entah dengan cara apa, tak menunggu waktu lama mas Agung datang menghampiriku, menghentikan langkahku dengan menarik lengan kiriku.

“Tunggu dek, mas bisa jelaskan semuanya.”

“Sudah mas, tak perlu penjelasan lagi! Aku udah tahu jawabannya.”

“Dia bukan siapa-siapa mas dek!”

“Plak…” Tanpa dipandu telapak tangan kiriku mendarat di pipi kanannya.

“Mas janji dek akan menepati janji mas!”

“Plak…” Kini punggung tangan kiriku yang mendarat di pipi sebelahnya.

“Dek…”

“Cukup mas. Cepat pergilah sana, temui dia. Hibur dia. Jangan bikin keadaan semakin rumit. Aku ingin pulang mas, jangan tahan aku. Jika mas mencintai dia maka jangan bikin dia patah hati sepertiku.”

Tenagaku seakan terisi seketika. Aku mampu berlari kencang menuju pintu keluar. Menuruni puluhan anak tangga. Mas Agung berkali-kali memanggilku. Aku tak peduli dan mengabaikannya. Aku hanya ingin pulang, aku hanya ingin tidur. Dan berharap ini hanya mimpi buruk dan akan hilang saat kuterbangun nanti.

Tuhan tolonglah aku sedang patah hati
Yang baru sekali kualami
Oh Tuhan ternyata rasa ini memang perih
Benar apa yang mereka katakan
Tak pernah kusangka, apa yang kurasa
Ternyata tak sama, dengan apa yang dia rasakan

Sungguh tubuhku tak kuasa tuk menahan
Jiwaku yang terbang bersamanya
Oh Tuhan kumohon tiupkan nafas cinta-Mu
Ke dalam jasadku yang telah mati
Mungkin aku harus menerima semua
Bahwasannya cinta yang sejati hanyalah di cinta-Mu

Tuhan tolonglah aku
Tuhan tolonglah aku

Tuhan tolonglah aku sedang patah hati
Yang baru sekali kualami
Oh Tuhan ternyata rasa ini sungguh perih
Benar apa yang mereka katakan
Tak pernah kusangka apa yang kurasa
Ternyata tak sama dengan apa yang dia rasakan
Kini aku harus menerima semua
Bahwasannya cinta yang sejati hanyalah di cinta-Mu

Tak perlu menunggu waktu lama bagi langit untuk retak kemudian runtuh menimpaku. Angkasa yang seharusnya indah untuk diarungi saat aku terbang melayang kini berubah menjadi awan kelabu dan hujan badai. Awan kelabu dan hujan badai yang menjadi mimpi buruk bagi para penerbang karena kekuatan dahsyatnya mampu menjatuhkan, menghujamkan ke bumi kepada siapa saja yang berani menentangnya.

Taman bunga indah nan luas sebagai tempat tidurku juga musnah oleh banjir bandang yang datang dalam waktu sekejap. Datang tanpa tahu dimana arah tujuan dan asalnya. Taman yang sebelumnya indah dengan kumbang-kumbang penghisap madu kini berubah menjadi warna cokelat lumpur. Tandus dengan tak bersisa keindahan sedikitpun barang sepetak merupakan penggambaran yang pantas untuk taman ini.

Aku adalah penerbang yang dihantam badai angin, kemudian terjatuh di lumpur yang membenamkanku disana. Aku jatuh dari ketinggian, kemudiam terbenam dalam perasaan yang bernama remuk hati dan dera luka. Remuk hati dan dera luka yang tak menemukan obat dan plester untuk menutup nganganya. Remuk hati dan dera luka yang disebabkan oleh lelaki yang aku cinta. Sangguh rasanya sulit untuk dipercaya. Lelaki yang dengan gigih menggunakan semua daya dan upaya untuk mendapatkan cintaku kini berbalik membunuh perasaanku.

Enam bulan ini aku seperti tikus yang dikejar oleh kucing. Seolah-olah artis papan atas Hollywood yang menghindari kaum paparazzi. Aku mulai lelah dan ingin menyudahi pelarian ini karena aku sadar aku tak salah. Mas Agung sering menghampiriku dan mencoba untuk memperbaiki hubungan kami. Namun rasa egoisku masih tak ingin membukakan pintu maaf untuknya.

“Mas tahu dek mas salah karena tega menduakanmu! Mohon masnya dimaafkan!”

“Cukup mas, jangan paksa aku untuk membenci mas lebih dari ini.”

“Mas ingin memulainya lagi dari awal, merajut kebahagiaan yang sebelumnya tertunda.”

“Mas memang bisa mendapatkan maaf dariku, tapi belum tentu dengan cintaku.”

Itu permohonan maaf mas Agung sebulan lalu karena mengakui kesalahannya. Lima bulan aku menjadi seorang pelarian namun tidak serta merta membuat mas Agung menyerah. Dan sebulan ini usahanya untuk menemuiku demi mendapatkan cinta dan maafku lebih gigih dari pada lima bulan sebelumnya karena aku sepertinya memberikan sebuah harapan.

Aku tak akan mungkin selamanya bisa menghindari mas Agung karena aku tahu betul mas Agung seperti apa. Kegigihannya untuk mendapatkan sesuatu akan membuatnya tidak peduli dengan apapun. Mengabaikan hinaan dan rasa malu dari dunia luar yang tertuju untuknya. Kejadian ini membuatku terkenal seantero kampus. Aku tak bisa pergi karena kewajibanku sebagai mahasiswa adalah kuliah dan mas Agung satu kampus denganku.

Aku, Dewi dan Andy sedang menyantap makan siang di kantin kampus. Gelak tawa dan candaan seketika terhenti ketika mas Agung datang. Dia menyuguhi kami masing-masing teh botol bersoda.

“Sori ganggu waktunya!” Dia membuka percakapan yang kutahu itu tertuju untuk Dewi dan Andy.

“Apaan sih kamu mas! Pergi sana!”

“Ayo dek, kasih mas maafmu, kasih mas kesempatan kedua. Setiap orang punya salah dan mas berharap memiliki kesempatan itu. Ayolah, mas memohon.”

Selain teh botol bersoda mas Agung juga menyuguhiku dengan permintaan-permintaannya yang aku simpulkan hanya sebuah gombalan. Aku memutar bola mata. Kulihat kedua sahabatku duduk terdiam menyudahi makannya, seperti menahan senyum dan sedikit takut. Terkadang saling lirik. Mas Agung memang tak memiliki malu sedikitpun kepada Dewi dan Andy. Benar-benar mengabaikan penilaian dunia terhadapnya.

“Mas, jika ingin semuanya seperti sedia kala, mas jangan temui aku. Temui papa sana. Ceritakan semuanya dari awal. Mas mohonnya sama papa. Karena mas membuat anaknya patah hati.”

Mas Agung terdiam sejenak, kemudian berucap.”Oke, mas akan temui papa kamu dek.” Mas Agung beranjak dari duduknya dan pergi menuju parkiran motor kemudian berlalu. Aku menghembuskan nafas berat melalui mulut, membisu sesaat. Dewi dan Andy masih terheran-heran melihat kejadian barusan.

Mungkin aku memang tak memiliki angkasa yang layak untuk diarungi atau taman yang indah untuk dijadikan permadani tidur. Namun badai di angkasa akan menyisakan bianglala dengan tujuh rupa warna. Taman yang telah hancur dan tandus masih bisa diolah ulang. Akan selalu ada pelajaran yang dapat dipetik dari semua kejadian yang aku alami.

Suasana tegang berangsur-angsur mencair saat aku mengulas senyum untuk sahabatku. Jam perkuliahan sebentar lagi dimulai. Entah untuk alasan apa kami bertiga kompak. Menyudahi makan meski hanya menghabiskan sedikit saja nasi, sayur dan lauknya. Kejadian barusan benar-benar membuatku sesak di perut, membuatku menjadi kenyang. Begitu pula yang dirasakan oleh Dewi dan Andy. Tawa renyah kembali membuncah di perjalanan kami menuju ruang kelas.

Selesai…