Oleh : Riy Muhibban

Aku hanya menatapnya sekilas saat dia keluar kamarnya setelah bicara bahwa dia lapar dan akan membuat nasi goreng sosis untuk mengganjal perut kami. Sejak sore tadi kami menyusun makalah Bahasa Indonesia bersamanya, baru saja selesai dan tinggal kami print. Itu bisa nanti setelah rasa pegal kita berkurang, katanya.

Kutengok jam di nakas, dekat foto seorang anak delapan tahunan yang duduk di tengah dengan senyum manis, antara seorang wanita cantik dan pria tampan. Aku mengulum senyum haru setiap melihat foto itu. Katanya, itu foto terakhir yang dia punya sebelum kedua sosok orang yang ada disampingnya mengalami kecelakaan mobil dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Itu Rasyid dan kedua orang tuanya. Rasyid menjadi yatim piatu sejak itu, dan tinggal bersama neneknya.

Hm… Sudah jam 7 malam lebih.

Namaku Harun, persahabatan kami dimulai sejak kelas sebelas aku pindah ke sekolah dimana dia menimba ilmu, duduk sebangku dengannya dan bicara sedikit basa-basi. Rasyid anak yang menyenangkan, kami akrab dalam waktu singkat, makan bersama di kantin di jam istirahat, karenanya aku tak merasa dikucilkan dihari pertamaku, merasa diterima dengan hangat, olehnya juga teman-temannya yang lain. Selain itu, dengan kecerdasan yang dia miliki, akupun tak sulit menanyakan apa yang belum kumengerti. Entah kebetulan atau bukan, Harun dan Rasyid mengingatkanku pada sebuah kisah tentang seorang khalifah bernama Harun Al-Rasyid yang terkenal. Kami hanya akan tersenyum jika teman-teman kami mengolok-olok kami sebagai pasangan karena kedekatan dan nama kami.

Aku beranjak ke ranjangnya, mengambil novel yang baru setengahnya kubaca dari dalam tasku yang tergeletak disana. Berbaring dan mulai membaca. Tapi entah kenapa, aku tak bertemu dengan titik emosionalnya dalam bagian ini. Maksudku bukan jelek, melainkan jiwaku tak bisa masuk dalam ceritanya, terasa mengambang. Kututup saja setelah halaman yang kubaca terakhir kulipat. Sepertinya aku butuh bacaan lain. Tak ada tv di kamar ini.

Mataku berputar mencari-cari bacaan alternatif sembari menunggunya menyelesaikan masakannya yang terasa lama untuk saat ini -biasanya dia masak dengan cepat- hingga akhirnya mataku berhenti begitu menatap sebuah jurnal di barisan buku pelajaran yang tertata di rak. Dengan senyum sedikit jahil kuraih jurnal warna coklat itu. Salah satu hal yang tak kutahu tentang Rasyid adalah kapan dia berulang tahun, dan bukan sebuah kesalahan sepertinya jika aku memberikan kejutan untuk sahabat terbaik di hari spesialnya. Satu hal yang pasti akan ditanyakannya saat itu adalah dari mana aku tahu hari ulang tahunnya.

“Aku menyontek.Itulah yang akan jadi jawabanku. Sesekali biar aku yang membuatnya bingung.

Kubuka. Rasyid adalah pemuda dengan tulisan tangan terbaik yang kukenal. Seorang perangkai kata terbaik menjadi kalimat-kalimat sederhana yang menohok. Setidaknya begitu bagiku.

***sesak***
Apa yang bisa kulakukan selain menangis? Aku tak rela tapi aku lemah. Adakah hal lain kecuali pasrah? Mengantar kehilangan dengan tabah.
Aku telah merasakan sesak itu menyempitkan nafasku, mengambil setiap kelegaan dari dadaku, memadamkan pelita di jiwaku. Aku 8 tahun kala itu, dan… Ah, aku memang tak bisa apapun, selamat meski terlempar adalah takdir baik untukku. Setidaknya ada tak kehilangan semua keluarganya.
……..
Kulewati saja, aku tak ingin larut dalam kisahnya, setidaknya aku tak akan menangis jika dia datang nanti, karena sudah pasti aku tak akan mampu menahan air mataku. Aku penasaran, adakah orang yang dicintainya saat ini selain neneknya?? Pertanyaan yang melebar.
Lembar demi lembar kubuka. Hanya berisi barisan puisi yang tak kumengerti maksudnya.
Dan.
Harun Shiddiq Alfattah. Tertulis indah di salah satu lembarannya, di tengah jurnal. Namaku??

*** nama yang indah. Mengenalnya adalah anugerah, menjadi dekat dengannya adalah hadiah.
Tapi sesak…. Tetaplah temanku. Dia ibarat darah, mengalir ke setiap celah. Kembali meremas jantungku, menerkamku dalam gerah yang sakit.
Memilikinya adalah mimpi, menjadi pelengkap hidupnya adalah khayal yang terlalu tinggi. Harun Shiddiq Alfattah.
Jika mencintainya adalah air, biarlah aku hanyut tenggelam di dalamnya. Jika mencintainya adalah api, biarlah aku lebur terbakar karenanya. Karena ulas senyum di bibirnya, adalah obat untuk airmata yang kualirkan saat merindunya.
…..***

Rasyid mencintaiku??
Kututup jurnal itu, cepat dalam kekagetan yang teramat sangat, kukembalikan seperti semula. Dan akupun kini merasa sesak, menelan liurku sendiri sembari manahan nafasku. Hatiku bergetar.
Tak lama kemudian, Rasyid datang dengan sebuah nampan berisi semangkuk nasi goreng dan dua buah piring kosong, juga dua gelas teh manis panas. Aku menyambutnya dengan senyum, bersikap biasa meski aku mungkin saja terlihat sedikit aneh jika ia menyadari.
“Tadi sosisnya habis, jadi aku beli dulu, makanya sedikit lama.
“Bukan sedikit lama, itu lama banget, aku lapar.
Dia hanya tertawa mendengarku. Lalu menyidukkan nasi ke piring dengan sangat banyak untukku.
“Kamu akan kekenyangan setelah habisin ini.” ucapnya sembari menyiduk nasi ke piringnya, dengan porsi lebih sedikit. Tentu saja. Dan aku kembali mengakui, Rasyid adalah pembuat nasi goreng terlezat menurutku.

#################

Aku sudah mendengar ucapan selamat tidur darinya beberapa saat yang lalu. Sudah cukup lama. Tapi aku tak yakin dia sudah tertidur, setidaknya pikiranku berubah mulai malam ini. Akupun begitu. Mataku tak mau berkompromi, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Padahal Ini bukan kali pertama aku tidur seranjang dengannya. Tentu saja, malam ini berbeda dengan malam yang lalu.
“Kamu udah tidur, Syid?” setengah berbisik aku bicara, disela ketidakyakinan akan apa yang ingin kukatakan selanjutnya.
Dan dia hanya bergumam sebentar, lalu merubah posisi tubuhnya menjadi telentang setelah sebelumnya memunggungiku. Aku bergeser mendekat. Kupeluk dadanya. Sungguh, aku merasa detak jantungnya tak normal. Lebih cepat dari seharusnya. Tapi dia diam meski sepertinya nafasnya juga mulai tak nyaman lagi.
“Maafkan aku, Syid. Aku gak bisa.
Sedetik kemudian aku ingin menertawakan kebodohanku, tentu saja. Bagaimana aku bisa bicara begitu tanpa sebab yang Rasyid ketahui Dan benar, Rasyid menatapku sekarang, tubuhnya kembali berputar dan membuat tanganku yang sebelumnya memeluk dadanya kini melingkar di pinggangnya.
“Apa maksudmu?”
Mata bening itu menatapku. Meski remang-remang tapi aku bisa melihatnya dengan bantuan lampu luar yang masuk lewat ventilasi dan memantul di cermin kecil di dinding kamar.
“Aku gak bisa balas perasaanmu, Syid.” entah apa yang membuatku memutuskan untuk bicara.
Di seberang mataku, kulihat raut terkejut darinya. Dan itu membuatku menyadari kesalahanku. Seharusnya kupendam saja, Rasyid tak pernah berbuat tak pantas padaku. Tapi… Pedang yang terlanjur menebas tak bisa membuat tapaknya hilang begitu dia ditarik.
“Perasaan….apa?”
“Aku tau kamu mencintaiku.
Rasyid bangkit dan terpekur. Duduk bersila sambil menerawang. Aku menempatkan diriku disampingnya, duduk dan mengusap-usap pundaknya. Kurasakan Rasyid berguncang.
“Udah aku pikirin kalau perasaan ini cepat atau lambat pasti akan terbongkar, Run. Dan aku siap untuk itu sekarang hingga aku gak harus nyangkal lagi.
“Tapi aku tak pernah membencimu, Syid. Apapun keadaanmu, kamu tetaplah sahabat terbaik yang kumiliki.
“Tapi… Dari mana kamu tahu?”
Aku lancang membuka jurnalmu. Maaf.Aku menatap lurus ke wajahnya yang makin menunduk. Sesaat kemudian aku menyadari bahwa akupun merasakan sesak. Entah kenapa.
Matanya berkedip cepat, jakun kecil di lehernya bergerak naik turun seperti menunjukkan ada sesuatu yang sangat mencekat. Dan. Sebutir air mata jatuh tepat dipangkuannya. Walaupun dia bilang siap barusan, itu bukan sebuah alasan dia tak harus sedih. Sementara itu aku merasakan dadaku diremas-remas.
“Kamu berhak atas hidupmu, juga berhak untuk menentukan siapa yang pantas berada di dekatmu. Dan aku harap aku masih mendapat sedikit tempat walau mungkin tak pantas lagi.” Rasyid berbaring kembali, membelakangiku, meringkuk.
Aku memeluknya lagi. Kali ini dia menempatkan telapak tangannya di punggung tanganku. Lalu perlahan menyilangkan jemarinya di antara jemariku. Kubiarkan saja begitu.
“Kamu tetaplah sahabatku, Syid. Dan kamulah yang akan selalu kupilih untuk berada disampingku.”
“Selamat tidur.” ucapnya setelah beberapa saat lamanya tak bersuara.
Aku menyusupkan wajahku di punggungnya sembari mempererat pelukanku. Aku tak habis berpikir bagaimana bisa aku merasakan sedih yang dalam membayangkan apa yang Rasyid rasakan. Ujung mataku basah, dan airmataku mengalir sudah.

########

Rasyid masih setampan biasanya saat dia menungguku di depan rumahnya. Jika bukan aku yang menjemputnya, dia yang akan menjemputku untuk bersama-sama pergi ke sekolah. Kami akan bersama kemanapun, bahkan menu makan di kantin pun selalu sama. Kami akan bercerita banyak hal, mulai dari berita di tv, sampai cerita tentang apa yang terjadi pada tetanggaku atau kucingnya. Benar-benar banyak hal. Dia tersenyum menampakkan barisan giginya yang rapi dan kecil.
Tapi kali ini berbeda. Rasyid lebih banyak diam mulai dari boncengan sampai bel pulang berbunyi. Setiap pertanyaan dijawabnya dengan singkat dan tak ada pertanyaan yang terlontar dari bibirnya. Tentu, itu membuatku lumayan pusing. Tapi aku mencoba memaklumi, bagaimanapun akulah penyebab semua ini. Dan perasaan dalam dadaku, mulai tak kumengerti.
Sementara waktu merangkak, aku dan Rasyid tetaplah sewajar biasanya. menjadi sahabat tanpa menyinggung sedikitpun tentang apa yang dia rasakan. Tapi siapa yang tahu isi hati seseorang selain orang itu sendiri?
Dan padaku, rasa aneh terhadapnya terasa menguat, lebih dari waktu yang sebelum-sebelumnya. Sedang keberanian untuk bicara entah terkubur dimana. Perasaan takut terjerat semakin jauh menghalangiku. Aku takut tak bisa keluar, sementara jiwaku telah mulai singgah di dalamnya. Dan ini membuatku resah dan sesak secara bersamaan.

#######

BRAKK…
Daun pintu yang kudorong tanpa perasaan terbanting menabrak tembok dibelakangnya. Rasyid menatapku dengan alis bertaut. Pekerjaannya melipat dan memasukkan pakaian kedalam koper terhenti otomatis.
Setengah berlari aku menuju belakang tubuh jongkoknya dan segera memeluknya. Melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya yang makin ramping. Belakangan Rasyid terlihat lebih kurus.
“Jangan pergi, aku gak punya siapapun lagi. Aku gak akan punya sahabat lagi.Dan aku sadar aku sedikit berbohong dengan kata-kataku. Karena yang sebenarnya adalah aku takut ditinggalkannya. Ada rasa perih begitu tahu bahwa Rasyid akan pindah ke Singapura.
“Ada banyak hal yang membuatku harus pergi, Run. Bukan berarti aku tak ingin bersamamu terus. Aku udah berusaha menerima ini semua, dan kamu pun harus.Dia berbalik dan menatap mataku. Mengusap airmata yang entah sejak kapan mengalir di pipiku.
Rasyid membimbingku ke tepi ranjang. Kami duduk bersisian. Kali ini tangannya yang mengusap-usap pundakku. Aku terpekur seraya menahan isakku.
“Jangan pergi, tetaplah disini.Ucapku dalam getar suaraku yang tertahan.
“Aku gak punya pilihan, Run. Ada banyak sekali alasan kenapa aku harus pergi.
“Salah satunya karena cintamu padaku gak terbalas kan? Kalo itu alasannya aku akan belajar untuk mencintaimu agar kamu gak pergi, agar kamu tetap disini.Aku membalas tatapannya sekarang, mencoba menunjukkan ketidakinginanku untuk dia tinggalkan. Kali ini aku menyadari bahwa sebenarnya aku sudah mencintainya. Mencintainya dalam waktu yang lama.
“Hidup itu gak hanya soal cinta dan memiliki, Run. Bahwa hidup adalah masa depan yang harus tercapai juga menjadi alasan yang lain. Iya benar, aku masih mencintaimu, bahkan aku tak yakin akan ada seseorang yang menggantikanmu di hatiku, tapi bukan karena cintaku yang gak kamu balas yang menjadi alasan aku pergi.” Rasyid bicara panjang. Menatapku beberapa saat lalu menarikku dalam pelukannya.
“Maaf aku gak bisa bilang alasan sebenarnya. Aku hanya ingin memiliki harapan meski itu sedikit. Aku ingin hidup lebih lama dari seharusnya. Ingin hadir sebagai tamu istimewa di pernikahanmu, ingin memberikan nama untuk anak pertamamu, ingin melihat kebahagiaanmu yang sejati dengan mataku sendiri, semuanya tentangmu sebelum aku benar-benar tak lagi punya kesempatan untuk itu.” Rasyid, kurasakan dia bergetar, sesuatu yang basah jatuh di rambutku.
Sungguh aku tak mengerti apa maksud dari ucapannya itu. Tapi saat seperti ini hanya bisa membuatku diam, memendam ketidak mengertianku dan menumpahkan ketidakrelaanku dalam isakan tangisku di dadanya. Aku menjadi cengeng saat ini

#####

“Kau tahu? Aku pernah membuat seratus perahu kertas dan kubiarkan angin membawanya ketengah danau hingga tenggelam. Aku menuliskan sebuah doa di perahu-perahu itu. Aku ingin menjadi sahabatmu terus, dengan apapun yang aku rasakan padamu. Dan Tuhan mangabulkannya.Ucapnya sembari menerawang beberapa saat. Kegiatannya melipat kertas membentuk perahu terhenti. Aku hanya menatap samping wajahnya yang dihiasi rambut lurusnya yang menari-nari oleh angin. Rasyid mengajakku ke danau ini, sore di hari terakhir kebersamaannya denganku.
Jika sebelumnya aku bilang sepertinya benar, aku jatuh cinta pada pemuda ini, sekarang kalimatku berubah. Aku yakin, aku jatuh cinta pada pemuda ini.
Sore telah beranjak senja ketika kami menyelesaikan membuat seratus perahu kertas. Kini kami hanya perlu menuliskan doa kami sebelum perahu-perahu itu kami lepaskan. Sebuah doa rahasia tentunya.
“Ini memang bukan ide yang baru, tapi aku menyukainya. Semoga kamu juga.” Rasyid kembali bicara saat menaruh perahu-perahu di atas air dan membuat riakan agar perahu itu melaju ke tengah.
Aku lebih banyak diam dari tadi. Ada yang mengganjal begitu saja di tenggorokanku. Mencekat dan menghalangi nafasku. Ini sore terakhir aku bersamanya. Aku merasa sesakku makin sesak mengingat itu. Bahwa aku akan kehilangan sahabat yang sudah kucintai ini. Rasyid Pramuda.

#####

Maaf aku gak bisa antar kamu ke bandara, aku mendadak sakit kepala. Itu isi sms yang kukirimkan kepada Rasyid. Entah kenapa aku begitu takut melihatnya meninggalkanku. Atau mungkin aku berharap Rasyid membatalkan niatnya untuk pergi jika tahu aku sedang sakit.
“Gak apa-apa, jaga kesehatan ya? Jangan lupa minum obat, setelah sampai nanti aku kabarin lewat fb.
Aku mendesah kuat. Jantungku sakit. Kubenamkan wajahku dalam bantal. Basah. Aku takut tak bisa lagi melihatnya. Aku takut tak bisa mendengar lagi suaranya. Aku takut Rasyid melupakanku. Dan…. Aku takut Rasyid jatuh cinta kepada laki-laki lain di sana. Tidak, aku menginginkannya di sini, di sampingku.
Segera aku bangkit, menyambar jaket dan kunci motorku lalu berlari ke garasi. Aku tak peduli lagi dengan kacaunya wajahku, aku harus menghentikannya meninggalkanku.
Tiba di bandara, dengan mudah aku menemukannya, entah siapa yang menunjukkannya padaku, seolah telepati, firasatku benar. Rasyid duduk dan memainkan ponselnya. Earphone kecil pemberianku menyumpal telinganya.
“Aku yakin kamu gak akan mampu menolak permintaanku ini.Kataku sambil duduk disampingnya.
Rasyid yang terkejut hanya menatapku sesaat seolah tak percaya dengan penglihatannya sendiri.
“Kamu ngapain ke sini?”
Tak ada suara yang lebih indah dari suaranya saat ini, juga senyum dari wajah tampannya, siapa yang mengalahkannya saat ini? Tidak ada. Dia adalah yang paling sempurna di mataku.
“Membawamu pulang. Hidup denganku dan menjadi pacarku, kamu mau?”
“Apa?”
Shit. Aku terlalu bersemangat hingga melupakan kalau dia masih mengenakan earphonenya. Dia pasti tak mendengar apa yang kukatakan barusan.
“Aku harus mematikan musiknya dulu. Jadi kamu bilang apa tadi?”
“Ekh… Aku…” tiba-tiba saja aku menjadi sangat gugup, genderang dalam hatiku bertalu begitu keras. Aku kedinginan rasanya, tapi berkeringat.
“Run.. Hei…” Rasyid mengibas-kibaskan tangannya di depan wajahku. Aku terparanjat. Baru kusadari aku melamun sambil menatap wajahnya. Wajah yang melenakanku. “Kenapa?” lanjutnya dengan mimik bingung.
Aku segera menangkap tangannya, meremas jemarinya dalam genggamanku lalu menempelkannya di dadaku. Sesaat aku merasakan sedikit perlawanan, Rasyid menarik tangannya, tapi tak kubiarkan, aku makin menekannya ke dadaku.
“Jangan pergi, kumohon tetaplah di sisiku. Aku mencintaimu, Syid.
“Run, banyak orang disini.Jelas kulihat raut kecemasan di wajahnya, ia memutarkan pandangannya ke sekeliling dan kulihat beberapa orang memang sedang memperhatikan kami. Tapi aku tak peduli. Dalam hatiku bahkan ada rasa entah apa, yang pasti aku bahagia bercampur khawatir.
“Run, mereka memperhatikan kita kamu tau?”
“Aku tak peduli. Bukankah lebih bagus kalau aku menyatakan cintaku padamu di tempat seperti ini?”
“Kamu gila, Run.” Rasyid menambah sedikit kekuatannya untuk menarik tangannya dari dadaku, tapi yang kulakukan adalah semakin menekannya.
“Aku memang sudah gila, Syid. Aku tergila-gila padamu. Kamu dengar detak jantungku kan? Kamu bisa artikan ini kan? Ada yang menyesak disini saat aku mencoba mengingkari bahwa aku tak mencintaimu, bahwa aku tak membutuhkanmu, bahwa kamu tak lebih dari sekedar sahabat.Kali ini kurasakan Rasyid tak lagi mencoba menarik tangannya, tapi mataku menjadi panas, ada yang terdorong keluar dari dalamnya. Airmataku, menggenang di kelopak mata bawahku.
Rasyid menatapku sayu, sementara hatiku terasa begitu ngilu, takut dia meninggalkanku telah berubah menjadi belati yang mengiris-iris. Bukan lagi sesak, tapi perih juga.
“Kumohon jangan tinggalkan aku, Syid. Please.Dan air mataku jatuh juga akhirnya.
Rasyid menggeser duduknya menjadi lebih dekat padaku. Kali ini bersisian, tak lagi berhadapan. Ia lalu menggenggam jemariku, menautkannya dengan jemarinya. Lalu membawa tautan jemari kami ke mulutnya dan mendaratkan sebuah kecupan disana.
Debaran di dadaku makin kuat. Gemuruhnya bahkan seperti kudengar lewat telingaku.
“Kamu mencintaiku karena kamu terbiasa ada disampingku. Kalau aku tak di sampingmu rasa itu akan perlahan hilang, Run. Jangan terbawa emosi. Kamu sebenarnya tak mencintaiku, hanya takut kehilangan seorang sahabat.” Rasyid bicara pelan, tatapannya menerawang ke depannya. Kami -terlebih aku- tak peduli lagi pada beberapa orang yang menatap kami dengan pandangan aneh.
“Lalu getaran dalam hatiku, kehadiranmu di mimpiku, memikirkanmu lebih banyak dari memikirkan hal lain, apakah itu bukan sebuah bentuk dari cinta?”
Rasyid tak menjawab dalam waktu yang cukup lama, tapi kulihat dari sampingku sepertinya matanya mengembun. Dia lalu menarik nafasnya dan menghempaskannya dengan kuat meski lirih.
“Setiap orang punya pendeskripsian cinta yang berbeda. Apa kamu udah bisa mastiin kalau yang kamu rasakan itu cinta?” Rasyid akhirnya bicara dan menatap mataku.
“Aku gak pernah merasa ketakutan seperti ini, gak pernah mikirin orang lain seintens ini, gak pernah mimpiin orang lain sesering mimpiin kamu. Dan bagiku itu cukup sebagai alasan bahwa aku memang mencintaimu.
“Kamu gak rasain itu ke Dinda? Atau Rosi? Atau perempuan-perempuan lain yang kamu pernah bilang kalau kamu menyukainya?”
Baiklah, Rasyid mulai membawa nama perempuan-perempuan itu, mereka yang pernah membuatku galau kala itu. Dan… semua akan semakin melebar jika aku tak mengalihkannya lagi ke topik utamaku datang ke sini.
“Kamu tau doa apa yang kutulis di perahu-perahu itu kemarin?” tanyaku. Rasyid tak menjawab, hanya mempertegas tatapannya padaku. “Tuhan, jika aku mencintainya, hadirkan dia di mimpiku malam ini.Dan Dia mendatangkanmu di mimpiku.
“Itu konyol, Run.
“Bukankah kamu yang mengajariku kekonyolan itu?”
Dia tersenyum sekilas. Aku masih membiarkan tautan jemari kami bersatu hingga beberapa saat lamanya. Sampai ketakutanku kembali hadir tatkala sebuah pemberitahuan bahwa pesawat akan segera berangkat terdengar memekak di telingaku, meski sebenarnya suara itu lembut. Rasyid berdiri, melepaskan jarinya dari jemariku kemudian meraih kopernya.
“Kamu akan tetap pergi, Syid?” Aku menatapnya sendu, khawatir dan takut bergulung dalam jiwaku.
“Ada hal yang menyebabkan aku tetap harus pergi, Run. Selamat tinggal.
“Syid…”
Rasyid kembali menaruh telapak tangannya di dadaku. “Mungkin aku gak harus nyangkal perasaanmu lagi. Mungkin aku memang harus mengerti arti dari debaran jantungmu. Jika kamu mencintaiku, bisakah kamu menjaga debaran ini tetap kuat bahkan hanya dengan mengingatku? Bisakah tetap menghadirkanku di mimpi dalam tidurmu? Hingga saatnya nanti aku di pertemukan lagi denganmu?”
Aku mengangguk beberapa saat kemudian. Kutatap wajah itu sepuasnya, aku ingin mengingat detailnya. Jerawat kecil di kening dan dahinya, bekas cukuran kumis di atas bibirnya, kedipan matanya, hingga bibirnya yang merah, semuanya sejelas mungkin meski tatapanku kini mulai kabur, terhalang air mata.
“Aku juga akan menjaga rasa ini. Sampai jumpa” Rasyid menarikku dalam pelukannya sebentar. Setelah mendaratkan sebuah kecupan kecil di pipiku dia pun pergi diantar tatapanku dan hati yang ngilu. Sakit. Sesak.

##############

“Syid, pipiku kangen bibirmu. Yang kamu cium kan sebelah kanan, yang kiri sekarang jerawatan. Mungkin cemburu. Miss u. Setiap nulis kata kangen itu aku selalu ingin nangis. Aku memang kangen kamu Syid. Love u.
Ini minggu pertama aku ditinggalkannya. Setiap minggu aku akan selalu ke sini untuk hal yang sama. Kusisipkan tulisan itu dalam sebuah perahu kertas, dan kubuat riakan diatas air danau itu agar perahuku melaju. Aku tahu, perahu itu tak akan menyampaikan pesanku hingga di tangan Rasyid, dia akan tenggelam dalam waktu yang singkat. Tapi aku juga tahu, Rasyid pun melakukannya di sana. Melayarkan perahu kertasnya. Dengan d‘a atau isi hatinya tertulis di perahunya, yang juga akan tenggelam dalam beberapa menit kemudian.
Dan suatu saat nanti, setelah seratus perahu kertas kami layarkan, Rasyid akan pulang, menemuiku.

##################

Garut, 29 Oktober