TERIMA KASIH, KARENA KAU TELAH MENCINTAIKU

Oleh : d’Rythem24

***

Apa bagian dari tubuhmu yang paling kau sukai? Buatku, mata adalah
bagian kesukaanku. Andai jika aku tak dapat berjalan, mataku bisa saja
mencari arahnya. Kalau aku tak bisa bicara, mataku masih bisa
memandang apa dan siapa yang mengatakan sebarang kata padaku. Dan saat
aku tak memungkinkan untuk bisa mendengar, mataku masih mampu
menyaksikan apa yang tak sanggup aku dengarkan itu. Namun, apabila aku
tak dapat melihat, tak mampu menyaksikan, bahkan tak bisa merekam
apa-apa saja yang ada di dunia ini melalui penglihatanku, sepi dan
laralah yang pasti akan aku rasa. Aku tak ingin memiliki sepasang mata
tetapi tidak bisa menggunakannya dengan baik.

…sama seperti mataku yang dulu.

Aku membuka mataku dengan malas, gendang telingaku sudah tidak sanggup
lagi mengabaikan suara alarm yang kupasang otomatis pada ponselku yang
tengah berbunyi ini.

Klik

Alarmnya sudah mati. Itu artinya sekarang sudah jam setengah enam
pagi. Aku menyibak selimut tipis yang menutupi tubuhku, bangun lalu
terduduk sembari menggantungkan kakiku di tepi ranjang. Aku
meregangkan tubuhku sambil mengucek-ngucek mataku yang belum terbuka
sempurna. Tetapi saat aku yakin pandanganku seharusnya telah benar,
kenapa yang nampak di sekitarku malah keburaman tidak jelas begini?

Aku mengucek lagi mataku, hasilnya tetap saja buram. Aku pun
menggeleng-gelengkan kepalaku, dan pandanganku masih buram. Apakah
mataku mendadak minus? Tidak mungkin sekali.

Aku segera turun dari ranjangku, mengambil handuk yang tergantung di
belakang pintu kamarku, kemudian keluar. Mungkin mataku butuh disiram
air segar supaya normal kembali.

Sudah satu jam berlalu, aku sudah selesai mandi, memakai kemeja
berwarna polos dirangkap almameter dan jeans agak kepanjangan,
mendandani diri seperlunya. Sayangnya, dengan penglihatanku yang masih
saja memburam. Ada apa sih sama mataku?

Aku mendengar dua kali suara klakson motor yang dibunyikan dari luar,
membuat aku cepat-cepat menggaet tas punggung yang ada di atas
gantungan di dekat cermin, lalu mengambil kacamata yang tadi kupinjam
dari Ibu kosku. Kacamata untuk mereka yang bermata minus. Meski aku
yakin aku tidak begitu.

Kunci pintu kamar kos kumasukkan ke dalam saku celana. Tubuhku
berbalik, menahan senyumku melihat Alex yang menatap ke arahku sambil
terduduk diam di atas motornya. Sedikit, pagiku yang membingungkan
terobati oleh sosok kekasihku ini. Aku mulai melangkahkan kaki keluar
dari halaman kosan seraya mulai menggunakan kacamata dalam peganganku.

Alis tebal Alex bertautan begitu aku sudah sampai di hadapannya. “Buat
apa kamu make kacamata itu?” tanyanya bingung sembari mengusap sisi
pelipisku, menyentuh luka kecil yang terdapat di sana.

“Gak tau,” jawabku, memegang sebentar tangannya yang menyentuhku.
“Tiba-tiba mata aku buram gak karuan, jadinya pakek ginian.
Lumayanlah, daripada nanti gak fokus di kelas.” perjelasku pada Alex.
Dia hanya memberikan aku helaan nafas pasrah.

Cowok di depanku ini bernama Alex Wangxiu Hanz. Kekasih dari Rizki
Zarkijaya, yang tentu itu merupakan namaku sendiri. Oh, kami memang
lebih dari sadar apabila jenis kelamin kami sama. Pun karena aku dan
Alex memang sama-sama pecinta sesama jenis. Ah, meski seingatku Alex
itu biseks. Aku nyaris sulit untuk tertarik pada cewek, dan lebih
memilih terjerat oleh pesona memabukkan Alex. Cowok yang setahun lebih
tua dariku, orang kedua yang pernah membelaku ketika teman
seangkatannya menghukumku habis-habisan pada saat Ospek dulu. Membuat
aku menaruh perhatian lebih padanya, mendekatinya, dan memutuskan
untuk menjalin hubungan dengannya begitu dia menyatakan perasaan
padaku beberapa bulan setelah kami saling mengenal.

“Emang ada apa sama mata kamu? Kelilipan? Atau apa?” tanya Alex masih
belum puas.

Aku menggelengkan kepala dua kali. “Aku juga nggak tau, Lex. Ya, masa
baru bangun sekeliling aku udah ngeburam aja.” Tuturku menerangkan
dengan nada lebih meyakinkan.

Dan dapat aku lihat sudut bibir Alex tertarik. “Nanti kita periksa,
ya?” usulnya yang langsung aku tolak melalui gelengan lebih kuat.
“Loh? Kenapa?” dia menatapku dekat.

Aku menghembuskan nafasku, menyentuh luka di siku kanannya yang
kelihatan sudah mengering. “Kalo aku periksa, kamu juga harus mau ya
periksa luka kamu ini…” gantian aku yang memberinya gagasan.

Alex memutar bola mata kecokelatannya. “Ki, ini luka kecil. Aku gak
akan apa-apa.” sanggahnya sembari menepis lembut tanganku. Tuh, kan.
Gampang sekali dia meremehkan luka akibat kecelakaan kami beberapa
minggu lalu. “Harusnya kamu yang–”

“Ya udah! Aku gak mau kalo gitu.” kataku, memotong kalimat bujukannya
yang lain. Alex mendesah lelah, aku terkekeh. “Gak usah cemas, Lex.
Nanti juga aku mendingan, kok.” ujarku sambil memberi Alex tanda Ok
dengan jari-jariku tanganku.

“Kalo sampe gak mendingan, gimana coba?” aku mendengus tidak suka
mendengar pertanyaan jahatnya. “Emangnya kamu betah makek kacamata
kayak gitu?” aku menjawab jujur pertanyaan keduanya dengan gelengan
masygul. Yang kontan membuat Alex sukses terbahak. “Ya udah, deh. Tapi
lain kali kamu harus mau periksa, ya? Yuk, naek.” aku cuma menaikkan
bahuku merespon ucapan Alex barusan.

Aku pun menunggangi boncengan motor suzuki besar milik Alex. Dan dia
mulai menggas motornya bersama aku yang melingkarkan kedua tangan ke
pinggangnya, seperti biasa.

Seperti biasa juga, Alex akan menurunkan aku beberapa meter jauhnya
dari gedung fakultasku, fakultas teknik. Sebab dia tidak mau kalau
sampai ada yang curiga apalagi mengetahui perihal hubungan kami yang
menyimpang ini. Yah, kami memang menghindari kemungkinan bisa di-bully
habis-habisan nantinya.

Alex kembali melajukan motornya, sedangkan aku mulai melangkah menuju
ke dalam gedung fakultasku. Saat entah darimana datangnya, suara cowok
sialan itu membuat aku mem-pause gerak kakiku.

“Pagi, Kiki.”

Aku memutar kedua bola mata yang malah menjadikan kepalaku sedikit
pusing. Ck, dasar cowok pembawa sial ya dia itu. Jadi, tanpa sudi
menoleh kepadanya, aku melangkahkan lagi kakiku tak mengacuhkannya.

“Kiki!” sahutnya saat aku berjalan menjauhinya. “Ki, mata kamu
kenapa?” tanyanya yang tahu-tahu sudah ada di sampingku. “Kamu sakit
mata? Mata kamu luka? Apa kamu gak apa-apa? Udah periksa belum?”
rentetan pertanyaan darinya terus menyerbuku. Tapi persetan dengan
dia. Jadi aku tetap mendiamkannya tanpa sedikit pun berniat melirik.

“Kamu manis deh, Ki, kalo pakek kacamata.” mendengar pujian darinya,
membuat aku mual sejadi-jadinya. “Kiki…” dia meraih pergelangan
tanganku, membuat laju kakiku terhenti.

Aku menggeram, melepaskan tanganku secara kasar dari pegangannya lalu
memandangnya penuh rasa tak suka. “Bisa gak sih lo berhenti gangguin
gue?” aku menudingkan jari tengahku buatnya saat melemparkan
pertanyaan ini. Aku sudah sangat muak dengan segala tingkah polahnya.
“Gue tuh gak suka lo deket-deket sama gue. Bawaanya gue sial mulu kalo
gue ada di deket lo. Jadi ada baiknya, lo pergi jauh-jauh dari gue.
Hush!” cercaku masa bodoh dengan kekasaranku padanya.

Dia terdiam, bibirnya sedikit terkekuk. Benar-benar cowok menyebalkan.
Dan entah apa sebabnya, dia mendadak menunjukkan senyum lebarnya. “Aku
seneng kamu mau ngomong sama aku, Ki.” ungkapnya disusul kekehannya
yang menjengkelkan yang semata-mata bikin aku terperangah, makin
sangat benci pada dirinya.

Aku dianggapnya sedang bicara padanya? Dasar cowok dungu. Butakah dia?
Aku tepat sedang menunjukkan ketidaksenanganku padanya dengan cara
paling buruk, dan dia malah menganggap kami sedang terlibat percakapan
menyenangkan? Kurasa ada yang salah pada otaknya. Yang aku lakukan
selanjutnya hanya memberinya dengusan keras, kemudian aku segera saja
berlalu dari hadapannya. Benar-benar ya dia itu. Kenapa dia tidak
pernah berhenti menggangguku? Awalnya sih aku cuek saja, tapi lama
kelamaan aku tak tahan sampai harus membentak dan bersikap kasar. Tapi
apa hasilnya? Dia malah makin berani mendekatiku.

Nah, biar aku beritahu siapa cowok sialan tadi itu. Namanya Dimas
Prawira. Cowok pertama yang membelaku ketika aku dihukum pada saat
ospek dulu. Tapi mengapa dia tidak menarik perhatianku? Itu karena dia
justru mempermalukanku. Gara-gara dia yang berniat menolongku, hukuman
untukku dan dia jadi bertambah. Tidak tahu apa kalau aku capek? Dan
saat aku berusaha mencuri-curi perhatian Alex, beberapa kali kehadiran
sosok sialnya selalu nyaris menggagalkan usahaku. Untung saja, aku dan
Alex berhasil jadian. Dan oleh sebab itulah aku sedapat mungkin mesti
menghindari Dimas. Aku sudah memiliki Alex, aku tidak mau sampai
kekasihku salah paham dengan eksistensi Dimas di dekatku yang terlalu
sering. Karena jelas sekali, Dimas menyukaiku dan dia berniat untuk
menarik perhatianku buatnya. Maaf saja. Meskipun aku tahu dia
merupakan anak dari orang super kaya raya yang banyak dipuja-puja, aku
tetap tidak akan pernah sudi untuk peduli.

Ponselku terasa bergetar di saku kemejaku, membuat aku segera
mengambilnya dan menjawab telepon masuk, yang ternyata dari Alex.

“Halo, Lex?”

Alex berdeham di ujung sana. “Emm, Ki… hari ini kamu pulang sendiri
aja ya, gak apa kan?” ujarnya.

Aku mengangkat kedua alisku mendengar itu. “Ada apa emangnya?” tanyaku.

“Aku… eem, cuma gak bisa aja. Ada keperluan penting soalnya.”
katanya menjawabku dengan nada sedikit gusar. Atau cuma perasaanku
saja?

Kenapa urusan pentingnya mendadak begini? Biasanya kalau ada urusan,
Alex akan memberitahukannya padaku sejak kemarin.

“Ya udah, Ki. Maaf ya. Aku mau pergi dulu. Bye.” Dan sambungan telepon
dari Alex diputuskan olehnya begitu saja.

Aku melepaskan kacamata yang aku pakai sejak pagi tadi. Menatap nanar
ke kedua telapak tanganku. Mata sedang tidak sehat begini, masa aku
harus pulang sendirian? Mana angkutan umum tidak ada yang lewat di
sekitarku. Terpaksa, aku mulai menggerakkan kakiku, berjalan pulang
menuju ke kosan.

Belum seberapa jauh aku meninggalkan pelataran kampus, sebuah mobil
berwarna merah tiba-tiba saja berhenti di sampingku setelah sebelumnya
membunyikan klakson berulang kali. Siapa, sih? Ketika kaca mobilnya
terbuka, nafasku berhembus lesu mendapati Dimas yang ternyata
memegangi kemudi di dalam mobil honda jazz itu. Tentunya, aku tidak
terkejut. Dia kan sudah sering gonta-ganti merk mobil, dua hari lalu
seingatku dia membawa mobil suzuki entah model apa. Dih, buat apa aku
peduli. Dia kan memang cowok brengsek tukang cari perhatian. Aku
membuang muka dan melanjutkan jalanku tanpa mau menoleh untuk yang
kedua kali.

“Kiki, mau ikut gak?!” Dimas berseru ke arahku, sepertinya dari dalam
mobil. Dan aku tetap diam. Malas sekali meladeninya. Dan aku terkejut,
“Ki?” ketika Dimas sudah saja menangkap pergelangan tanganku. Kok dia
sudah ada di sini? “Ikut, yuk. Aku antar kamu pulang ke kosan. Mata
kamu lagi gak sehat ‘kan? Daripada nanti kenapa-napa. Mau, ya?”
ujarnya mengajakku dengan nada memelas. Sedikit, aku tercekat
mengetahui fakta tentang dia yang seakan justru mengerti keadaanku.
“Ki?” sebutnya lembut.

Aku menatapnya, menemukan pancaran penuh harap di matanya. Tapi aku
menggeleng kuat-kuat, yang malah membuatku lagi-lagi pusing dan
pandanganku makin memburam.

“Ki, kamu gak apa-apa?” suara Dimas semakin dekat ke telingaku,
sentuhan tangannya terasa di puncak kepalaku. Saat aku coba melihat
wajahnya, parasnya jadi menggelap. “Kiki?” bisikkannya menyadarkanku.

Aku menepis kasar tangan Dimas. Tanpa berkata apa-apa padanya, aku
berlari menjauhinya. Tidak mengindahkan panggilan dan teriakan Dimas
untukku sama sekali. Dan sepanjang langkah yang aku ambil, tiap hal
yang tertangkap oleh indra penglihatanku seolah menambah sakit di tiap
sarafnya.

Sebenarnya apa yang salah pada mataku?

. . .

Aku menghembuskan nafas lega begitu berhasil tiba di kosan, meski
sedikit harus berusaha lebih lama mencari jalan. Aku coba gunakan
kacamata yang sempat aku lepas di kampus, dan yang terpampang di depan
mataku berupa bintik bintik hitam yang berloncatan kemana-mana. Aku
memejamkan mata, kacamata aku lepaskan kembali.

“Kiki?”

Sedikit terlonjak mendengar panggilan dari belakang punggungku, aku
pun membalikkan tubuh perlahan. Melihat Ibu kosku, Bu Hanah tengah
menatap ke arahku. Walaupun sosoknya tak begitu jelas saat ini, tapi
aku masih sedikit menangkap warna kerudung hijau yang pagi tadi juga
dikenakannya.

“Mata kamu udah mendingan?” tanya Bu Hanah lembut sembari menepuk pundakku.

Aku menggerakkan bola mataku ke kanan dan kiri, ke atas-bawah lalu
memutarnya, pandanganku masih buram, dan titik kecil kehitamannya
makin ramai terlihat. Aku menyentuh sebelah mataku, meringis
dikarenakan pusing yang melanda.

“Cobalah periksakan matamu, Ki. Takutnya ada apa-apa. Mata itu panca
indra yang penting loh, seenggaknya kalau kamu tau kenapa ‘kan kamu
mungkin bisa mengobatinya.” saran Bu Hanah padaku dengan sikap
keibuannya.

Aku enggan untuk meng’iya’kan. Tetapi jika tidak mengikuti saran dari
Bu Hanah juga Alex pagi ini, aku tidak akan mendapatkan jawaban apapun
atas kondisi mataku yang mengkhawatirkan. Akhirnya aku mengangguk
dibarengi seulas senyuman di bibirku untuk bu Hanah. Kemudian aku
merasakan belaian hangat di rambutku. Yang terasa seperti belaian
almarhummah Mama.

Aku memanglah seorang yatim piatu. Ah, bagaimana aku harus
menjelaskannya, ya? Ayahku masih hidup, tapi aku tidak pernah
mengetahui di mana keberadaannya pun tidak tahu menahu seperti apa
sosoknya. Aku hanya punya papa tiri yang dinikahi Mama tiga tahun yang
lalu sebelum mamaku meninggalkanku selamanya disebabkan kanker rahim
yang dia derita. Aku juga memiliki dua saudara tiri, anak papa dari
istri pertamanya. Sayangnya, mereka semua berada di luar kota,
sedangkan aku ngekos di sini. Jauh dari keluarga bukan sedarahku.

“Besok Kiki bakalan periksa, Bu.” kataku yang aku yakini, membuahkan
senyum kelegaan di bibir wanita yang menganggapku sudah seperti
putranya kandungnya ini.

. . .

Aku berdecak kesal. Sudah berulang kali aku menghubungi nomor Alex
sejak tadi malam, tapi terus menerus ditolak olehnya. Jika tidak,
nanti dialihkan ke kotak suara. Dan berakhir dengan nomornya yang
tidak aktif, seperti barusan.

Aku menggeleng masygul. Cepat-cepat mengambil dompet, kacamata, jaket
dan memasukkan ponselku ke dalam kantung celana. Pada akhirnya, aku
akan pergi sendirian. Lebih baik menggunakan taksi saja. Masa bodo
dengan Alex yang entah ada di mana sekarang ini.

. . .

“A-apa, dok?!”

Kedua mata buramku nyaris membelalak penuh, kedua tanganku gemetaran
dan keringat dingin sudah saja terasa di sekitar tengkuk hingga
pelipisku. Penjelasan yang dokter katakan barusan pasti bohong, kan?

“Saraf mata Anda mengalami cedera, nak Rizki,” dokter di depanku
sekali lagi membaca kertas hasil pemeriksaanku. “Jika saja Anda
memeriksakan kondisi mata Anda lebih awal, saya yakin terapi bisa
membantu. Tapi…” dokter memberikan aku gelengan masygul. “Jika sudah
seperti ini, Anda bisa saja kehilangan penglihatan Anda untuk
selamanya.” tutur sang dokter yang semakin membuatku merasakan kalut.

Aku menggeleng samar. “Ke-kenapa, dok? Kenapa kondisi yang saya alami
mendadak begini?” tanyaku gemetaran.

Dokter menghela nafasnya. “Ini merupakan gejala yang tertunda, bukan
mendadak. Biasanya cedera para saraf mata diakibatkan oleh beberapa
kondisi. Seperti trauma, kerabunan yang parah, kecelakaan…”

Mendengar kata kecelakaan itu, semata-mata membuat aku teringat
kejadian yang menimpa aku dan Alex beberapa minggu lalu. Waktu itu,
Alex berniat mengantarkan aku pulang saat tiba-tiba hujan deras turun
dan membuat kami kalang kabut. Dibawah guyuran hujan, Alex terus
memacu laju motornya tanpa mengurangi kecepatan. Sampai dia melihat
lampu merah dan mendadak menginjak rem, membuat motornya tergelincir
dan kami berdua terjatuh. Siku Alex membentur aspal jalanan, sedangkan
pelipis hingga sedikit bagian tulang kepalaku membentur bagian besi
motor pengendara lain. Aku memegangi sisi pelipisku yang masih
meninggalkan bekas luka di sana. Apa ini sebabnya?

“Anda punya waktu kurang dari sepuluh hari, nak Rizki…” ujar dokter
itu menyadarkanku.

“Sepuluh hari? Untuk apa, dok?” tanyaku tak mengerti.

“Supaya mata Anda bisa dioperasi segera atau…” aku menunggu
kelanjutan kalimatnya dengan was-was. “mata Anda tak akan bisa melihat
lagi untuk seterusnya.” dan petir yang menggelegar di luar sana,
seolah menyambar langsung ke tempatku seketika itu juga.

Apa itu artinya, aku akan buta?

. . .

Aku berjalan lesu di antara titik-titik buram gelap memusingkan yang
mengelilingiku. Seluruh sendi-sendi di kakiku seakan remuk ditimpa
beban yang sedikit demi sedikit menghancurkannya dari dalam. Membuatku
tak berdaya, tak tahu harus berbuat apa, sebab aku hanya terfokus pada
beban itu sendiri.

‘Anda punya waktu kurang dari sepuluh hari, nak Rizki. Supaya mata
Anda bisa dioperasi segera atau… mata Anda tak akan bisa melihat
lagi untuk seterusnya.’

Ucapan sang dokter di rumah sakit itu terus terngiang-ngiang dan
menelusupi indra pendengaranku. Serupa sebuah bisikan yang kian
menakutiku, menyudutkanku, hingga menumbuhkan putus asa. Aku tidak mau
kehilangan penglihatanku. Benar-benar tidak mau. Jika aku tidak bisa
melihat, bagaimana aku akan mengetahui perkembangan dunia yang
sehari-harinya hadir dalam hidupku?

Kenapa gelap itu justru akan menutupi indra penglihatanku selamanya?
Lagipula, darimana aku bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi
mataku nanti? Pengeluaranku dalam waktu tiga bulan saja tidak mungkin
cukup. Di tabungan aku hanya punya simpanan yang tersisa 2,5 juta.

Aku mendongak, menyaksikan cuaca mendung yang bak penampakkan malam di
mataku. Aku yakin ini bahkan belum genap jam empat sore. “Mama, Kiki
harus ngapain?” desisku hampir tak bersuara.

Aku tak ingin pesimis, tapi untuk saat ini, mampukah aku?

Bayangan sosok Alex muncul begitu saja dalam ingatanku. Benar, Alex.
Aku segera mempercepat langkahku meski tetap mesti berhati-hati. Aku
harus menemuinya dan menceritakan semuanya. Aku yakin, Alex pasti
bersedia membantuku.

. . .

Gerbang rumah Alex tertutup. Ke mana perginya dia? Apa itu artinya aku
harus menunggu? Tetapi kelihatannya sebentar lagi hujan akan turun.

Aku duduki bangku kayu di dekat pohon besar yang letaknya tepat di
seberang jalan rumah Alex, lalu melepas kacamata yang aku pakai,
sedikit membuahkan rasa sakit di kepala akibat pemandangan buram dan
titik-titik hitam yang bertebaran di sekitarku.

Kembali, aku memikirkan apa yang dokter di rumah sakit tadi katakan
padaku. Mataku terpaksa harus di operasi, jika tidak… Ah. Aku tak
sanggup membayangkannya, jadi yang kulakukan hanyalah memejamkan kedua
mataku.

Tak jauh dari tempatku duduk, suara deru motor yang tidak asing di
telingaku terdengar makin mendekat ke sini. Itu suara motor Alex. Aku
langsung membuka kedua mata, memakai lagi kacamata yang tadi aku
lepas, kemudian berdiri dari dudukku. Sewaktu hendak menyerukan nama
kekasihku, diriku justru dibuat terpaku…

“Alex…” lirihku menyebut namanya.

Angin dingin menerpaku yang sudah terlanjur menggigil. Melihat Alex
memberhentikan motornya tepat di depan gerbang rumahnya, tetapi
cowokku itu tak sendirian. Ada seorang gadis cantik yang menduduki
boncengan di mana biasanya akulah yang berada di sana.

Alex tersenyum lembut ke arah gadis itu. Dapat aku dengar sayup-sayup
percakapan mereka, pelukan gadis itu di pinggang Alex tidak juga
dilerai, sampai akhirnya pintu gerbang terbuka dari dalam, lalu Alex
dan gadis yang tak aku kenali itu masuk bersama ke dalam pelataran
kediamannya masih sambil menaiki motor.

Bukan lagi sekedar beban yang menimpaku. Kali ini, aku merasakan bumi
dan seluruh isinya jatuh menindihku. Memutuskan tiap syaraf di
tubuhku, menghancurkan tulang-tulangnya, dan meremukkanku seutuhnya
tanpa sisa. Sekarang, apa yang aku miliki? Apa yang harus aku lakukan?

Hujan turun dengan derasnya, membuatku yang masih bergeming dalam
lukaku basah kuyup. Apa aku akan berakhir dengan cara seperti ini?
Sedramatis inikah hidupku?

Aku mengepalkan kedua tanganku yang gemetaran sebab dingin tetes lebat
air. Lantas, aku berlari. Diiringi perasaan remuk redam, hancur,
sedih, dan sakit. Yang semata-mata membuat aku meneteskan air mata dan
duniaku berubah gelap total. Ya Tuhan, apa yang terjadi? Kenapa aku
tidak bisa melihat apapun?

Dengan panik, aku mencoba mengucek kedua mataku yang malah
mengakibatkan kacamataku terlepas dan terjatuh entah ke mana. Aku
tersedu-sedu diselimuti rasa takut dari kegelepan yang menyergapku
saat ini.  Masih gemetaran, aku menggerakkan tanganku kesana-kemari,
berusaha menyentuh siapapun, atau apapun yang bisa aku dapatkan.

Aku sungguh-sungguh tidak mau kehilangan indra penglihatanku. Tuhan,
kumohon tolong aku.

Aku membalikkan badan, melangkah ragu dan merasakan pijakanku yang
hampa. Lalu yang aku rasakan selanjutnya adalah nyeri di sekujur
tubuh, terutama bagian daguku yang terbentur daratan basah bertekstur
kasar berkerikil. Aku pasti jatuh ke jalan raya.

Menyentuh daguku yang perih dan ngilu, aku meringis membaui amis yang
pekat dari luka lecet di sana. Dengan pasrah, aku membaringkan tubuhku
yang terasa lemas di jalanan. Tetes demi tetes air hujan berjatuhan ke
atas wajahku yang sedikit membuat perih, sayangnya aku tidak ingin
ambil peduli. Aku menggigit bibir. Mataku terbuka, air hujan yang
menitik di sana terasa, namun mengapa tak ada yang bisa aku tangkap
melalui indraku ini?

Mataku terpejam perlahan. Rasa putus asa itu kian meruntuhkanku.
Menumbuhkan sensasi menyakitkan yang melemahkanku, membuatku tidak
kuat.

“Kiki?!”

Sayup-sayup suara yang menyerukan namaku di antara tetes deras hujan
terdengar entah dari mana. Lalu aku merasakan tangan dingin seseorang
menyentuh tengkuk dan wajahku.

“Ki?”

Mataku terbuka, tetapi si pemilik suara itu tak dapat aku tatap
parasnya. Saat kepalaku diusap lembut, pertahananku sudah tidak bisa
lagi menemani.

Tuhan, aku tidak mau mati membawa kebutaanku ini.

***

Kelopak mataku tidak bisa aku naikan. Padahal aku yakin aku tengah
terjaga. Apakah mungkin kegelapan sudah sepenuhnya menutup
penglihatanku? Tapi, rasa-rasanya ada sesuatu yang membelenggu mataku,
membuatku menggerakkan tangan kiriku dan… tunggu, tangan kiriku.
Tangan kananku ikut aku gerakan untuk menyentuh tangan kiriku yang
terasa dicucuk sebuah jarum. Dan aku menangkap kabel kecil di atas
pergelanganku. Apakah ini infusan?

Kemudian tangan kananku aku gerakan lebih ke atas, untuk menyentuh
mataku. Dan yang terasa justru tekstur agak kasar sebuah kain yang
sepertinya mengelilingi bagian kepalaku. Ini perban, ya? Meraba lebih
ke bawah lagi, daguku juga merasakan tekstur kain yang sama. Daguku
yang terluka rupanya sudah di…

“Kamu udah sadar, Ki?”

Aku sedikit terperanjat mendengar suara samar yang tidak begitu jelas
tiba-tiba terdengar dari samping kiriku. Keningku menyernyit, “Siapa
kamu?” tanyaku pelan namun terdengar lantang untukku sendiri.

Aku merasakan sentuhan tangan menelusup di antara jemariku. “Ini aku,
Ki. Dimas,”

Refleks aku menarik tanganku, dan mengepalkannya. Meneguk ludahku
kalut mengetahui keberadaan cowok ini. Kenapa bisa-bisanya Dimas ada
di sini? Lagipula, di mana aku sekarang?

“Mau apa lo disini?” aku bertanya ketus padanya, tubuhku mendadak
gemetar ketakutan. Sekarang, aku dilanda perasaan tak tenang. Apalagi
aku sedang dalam kondisi tidak dapat melihat apa-apa.

“Aku di sini buat… berpura-pura jadi keluarga kamu, biar mata kamu
bisa dioperasi, Ki.”

“Hah? Apa maksud lo?” aku terperangah atas penuturannya barusan.

Dimas kembali meraih tanganku. Aku berusaha menariknya, tapi tenagaku
yang masih lemas membuatku kalah darinya. “Tenang aja, Ki. Aku jamin
kamu pasti bisa sembuh dan bisa ngeliat lagi nanti. Kemarin, mata kamu
udah dioperasi.” perjelasnya.

Jantungku tersentak kuat. Tubuhku serasa meremang. Darimana dia tahu
tentang kondisi mataku? Dan tadi dia mengatakan apabila mataku
sudah… aku menggeram.

“Darimana lo bisa tau soal ini semua?!” bentakku kalut. Aku meneguk
ludahku. “Kenapa lo seenaknya sendiri, sih?! Emangnya lo itu siapa
sampe berani-beraninya lo–”

“Aku nggak mau kamu buta, Ki,” dia memotong kalimat protesku. “Aku
selalu ngawasin kamu begitu aku tau mata kamu mulai ngalamin keanehan.
Dan pas aku tanya dokter yang waktu itu kamu datangin, dokter itu
ngejelasin semuanya dan aku… aku sedih. Demi Tuhan, Ki… aku nggak
sanggup ngebayangin hari-hari aku tanpa kamu yang nggak bisa ngeliat.
Aku… aku gak bisa, Ki.” penjelasan alasannya yang lain itu seketika
membisukanku. Punggung tanganku terasa diusap. “Kamu boleh marahin
aku, caci maki aku kayak biasanya, tapi tunggu nanti, saat penglihatan
kamu udah kembali pulih.

“Kamu gak perlu takut, Ki. Aku di sini. Kamu cukup percaya, seberapa
pekat pun kegelapan menjerat kamu, aku nggak akan kemana-mana.”
bisiknya yang setelah itu dengan lancangnya mencium puncak kepalaku.
Tetapi yang tak biasa dariku, adalah aku yang hanya mampu bergeming.

Inginnya aku memprotes, hanya saja, tindakan yang Dimas berikan padaku
sudah terlalu jauh. Dia terlalu gila dengan melakukan semua hal
berlebihan ini kepadaku. Apakah dia sungguh-sungguh…

“Kamu haus, Ki?” pemikiranku buyar mendengar pertanyaannya, tetapi aku
memilih untuk tidak menjawab. “Kamu pasti laper juga, kan? Udah dua
hari lho kamu gak sadar. Nih, kebetulan pihak rumah sakit udah
nganterin jatah makanan buat kamu,” aku mendesah lega begitu tahu di
mana tepatnya lokasiku berada saat ini. “Kamu makan ya, Ki. Biar badan
kamu seger lagi,” aku masih mendiamkannya. “Ayo, buka mulut kamu!” dan
yang lebih membuatku heran terhadap diriku sendiri, aku justru
menurutinya.

Aku membuka mulut, sedikit menahan ringisan merasakan perih di luka
yang ada di daguku. Lalu benda dingin yang menyentuh kulit bibirku
yang aku yakini sendok itu, mengantarkan rasa hangat yang asin beserta
aroma kuah daging ayam.

“Enak ‘kan?” kali ini, aku menjawab pertanyaan Dimas yang kesekian
melalui anggukkanku yang pelan. Lantas, tangan Dimas membelai
helai-helai rambutku. “Kalo gitu kamu makan yang banyak, ya. Biar kamu
cepet sehat.” tuturnya.

Dan sepanjang hari itu, Dimas terus menemaniku. Membangun kembali
pertahanan diriku yang sempat roboh, memupuskan rasa putus asaku
sedikit demi sedikit, pun menumbuhkan semangat yang seketika
memenuhiku. Semakin aku dibuat aneh oleh semua ini. Sebab, untuk
pertama kalinya, aku tersentuh damai oleh keberadaan Dimas di sisiku
setelah selama ini aku selalu menganggapnya sebagai pengganggu. Dan
tanpa aku sadari, untuk pertama kalinya juga, aku memberikan Dimas
senyuman tulus dari bibirku yang disambutnya dengan pelukan bahagia.

Hal lain yang aku sadari, aku turut bahagia bersamanya.

***

Perban yang membelit bagian mata sampai kepalaku telah dilepaskan. Dan
yang sekarang tersisa, adalah dua kapas yang menempel di mataku.
Perlahan sekali, aku merasakan kapas-kapas itu ditarik dari sana. Agak
membuatku berdebar, sebab tegang akan seperti apa hasil dari operasi
mataku ini. Aku takut, sekaligus berharap.

“Nah, Rizki… sekarang coba buka mata kamu pelan-pelan,” ujar dokter
mata pribadi sewaan Dimas itu berbisik ke telingaku.

Aku menghela nafas terlebih dahulu sebelum pelan namun pasti mulai
menaikkan kelopak dan membuka kedua mataku perlahan-lahan. Mulanya
gelap, tapi setelah aku mengerjap beberapa kali, mataku yang sudah
terbuka sepenuhnya ini menangkap wajah buram seseorang yang berada
tepat di depanku.

Entah mengapa, wajahnya yang memang tampan sejak dulu itu terlihat
berbeda dalam pandanganku kali ini. Apakah mungkin karena penglihatan
baruku ini merupakan pemberiannya?

Satu tangannya melambai-lambai. Aku berkedip satu kali, mati-matian
menahan tawaku melihat tingkah konyolnya. “Ini berapa, Ki?” tanyanya
seraya menunjukkan kelima jari tangannya yang barusan melambai di
depan wajahku.

“Lima,” jawabku lekas. “Jari kamu ada lima, Dimas,” terusku dengan
suara lebih lirih.

Dapat aku lihat kedua mata Dimas membulat. Setelah itu senyum cerianya
nampak memenuhi wajahku. Dia melenguh senang, kemudian memelukku erat.
“Kamu udah bisa ngeliat, Ki.” bisiknya seraya melepas pelukan.

Dimas lantas berdiri dari duduknya. Dan dengan penuh rasa gembira,
dirinya gantian memeluk Dokter sewaannya dan dua Suster yang ada di
dalam ruangan ini sambil berulang kali berteriak; ‘Dimas bisa melihat!
Terima kasih!’ pada mereka.

Membuatku sedikit tertegun. Lihat, betapa senangnya Dimas mendapati
kepulihanku. Apakah dirinya memang sepeduli ini terhadapku? Seorang
Kiki, yang bahkan bukan siapa-siapanya.

Lalu Dimas berbalik, kembali menatapku. Masih sedikit samar memang,
tapi aku jelas bisa menangkap senyuman di bibirnya. Yang langsung
kubalas juga melalui senyuman. Dan untuk pertama kalinya, aku
tersenyum bahagia sambil melihat tepat ke dalam matanya.

. . .

Aku meletakkan majalah yang sedang aku baca ke atas meja begitu pintu
ruang rawatku terbuka, Dimas masuk kemudian sembari membawa kursi roda
bersamanya. Itu buat apa?

“Kita jalan-jalan, yuk, Ki! Mata kamu butuh refreshing. Kebetulan di
samping rumah sakit kan ada taman. Mau, ya?” ajak Dimas agak memelas.
Kursi roda sudah diposisikannya tepat di samping tempat berbaringku.

Aku menghela nafas. Tersenyum tipis, kemudian mengangguk menerima
tawarannya. Aku rasa itu bukan ide yang buruk. Lagian sudah
berhari-hari aku dikurung diruang rawat ini tanpa mampu menyaksikan
dunia luar. Aku rindu menghirup bau tanah dan menatap langit biru.
Jadi, Dimas mulai membantu aku turun dari ranjang rawatku.

. . .

Dimas mendorong pelan kursi roda yang kini aku duduki. Begitu sampai
di lobi rumah sakit dan hendak berbelok ke koridor menuju taman yang
sedang kami tuju, sudut mataku yang baru pulih total ini menangkap dua
sosok yang sangat tidak ingin kutemui.

“Mereka…” desisku lirih. Yang kontan saja membuat Dimas menghentikan
laju kursi roda ini.

Aku melihat Alex dan gadis yang waktu itu dibawa olehnya, sedang
terduduk di kursi tunggu di dekat tempat administrasi. Gadis itu
bahkan dengan manjanya menyandarkan kepala ke bahu Alex. Bahu cowok
yang aku tak yakin, apakah dia masih memikirkanku. Mengingat kami
sudah berhari-hari hilang kontak. Aku menggigit bibir menahan lara.
Aku tidak boleh menangisinya lagi.

Tanpa kuduga-duga Alex malah menoleh ke arahku dan membuat kedua mata
kami saling bertemu tatap. Matanya membulat melihatku, lantas segera
berdiri dari duduknya. Disusul gadis di sampingnya yang juga ikut
berdiri. Mereka berdua terlihat bercakap, sesekali Alex menunjuk aku
menggunakan dagunya. Tidak ingin peduli dengan apa yang tengah mereka
bicarakan, aku bersiap meminta Dimas melanjutkan perjalanan kami,
namun sekarang Alex dan gadis itu justru berjalan ke mari. Aku
mengepalkan tangan.

“Hai,” gadis itu melambaikan tangannya ke arahku dan Dimas sewaktu
telah sampai di depan kursi rodaku. “Kamu temen Alex kan? Namanya
Kiki, kan?” tanyanya padaku dengan nada ceria yang tulus. Tangannya
terulur ke arahku, “Kenalin, nama aku Clara, tunangan Alex,” mendengar
itu, seketika tubuhku bergetar hebat. Dadaku serasa disiram dari
dalam.

Aku tertunduk. Tidak mempedulikan tangan Clara yang masih mengambang,
meminta balasan jabat tangan dariku. Kenapa Alex tega? Bukankah kami
berdua masih terikat hubungan? Air mataku tak terasa mulai menetes.
Aku membungkam mulut rapat-rapat, tidak mau sampai isakanku terdengar.
Tangan Dimas yang menyentuh bahuku yang berguncang aku genggam,
memberitahukannya titah tanpa suara.

“Maaf. Rizki udah ngalamin amnesia. Jadi sepertinya, dia nggak bisa
mengingat siapapun, terutama seorang cowok bernama Alex.” ucap Dimas
sinis. “Permisi.” dan setelah itu kursi rodaku lanjut didorongnya.

Dengan begini, ikatan antara aku dan Alex berakhir sudah. Tentu saja,
bukan? Memangnya siapa yang mau diduakan dengan cara seperti ini?

Laju kursi rodaku terhenti. Diterpa angin sore menyejukkan yang
membuat kulit telanjangku tersentuh dingin, aku membuka mulutku yang
mengeluarkan suara isakan. Merutuki sikap Alex. Bertanya-tanya,
mengapa dia melakukan ini terhadapku? Sejak kapan dia dan Clara
bertunangan? Tapi bukannya kami masih…

“Alex minta putus sama kamu empat hari setelah kamu di rawat di sini,”
dan penuturan yang Dimas beritahukan tadi membuat aku mengangkat
kepala. Menatapnya yang ternyata tengah berjongkok di depanku.
Tanganku dipegangnya lembut. “Selama kamu di rawat di sini, aku yang
mengurus semuanya. Ngasih kabar ke keluargamu, minta izin pihak kampus
buat cuti kuliahmu, juga… Alex,” Dimas mengeratkan pegangannya.
“Maaf karena aku gak ngasih tau kamu sejak awal, Ki. Aku cuma gak mau
kondisi kamu drop.” perjelasnya meneruskan. Sedikit membuahkan
pemahaman untukku.

Satu tangan Dimas mengusap sebelah pipiku, berusaha mengeringkan
tetesan air mata di sana.

“Jangan gunain mata baru kamu buat nangis, Ki. Terutama nangis buat
cowok kayak dia, aku gak suka,” katanya lekat menatapku. “Rasanya gak
enak, kan? Sakit memang saat melihat orang yang kita cinta
mencampakkan kita begitu saja, tapi akan lebih sakit lagi…” ada
jeda. Aku tak berkedip memandangnya. “…saat kita melihat orang yang
kita cintai menangis hanya untuk orang lain.” dan kata-kata itu sukses
memenuhiku dengan rasa haru. “Aku cinta kamu, Ki. Cinta banget sama
kamu.” akhirnya, kata itu diungkapkannya.

Bibirku bergetar. Aku jelas tahu Dimas mencintaiku. Cowok ini
melakukan hal yang sudah terlalu banyak yang aku yakin orang
terdekatku saja belum tentu sanggup melaksanakannya. Tetapi dia…

“Kenapa, Dim? Kenapa kamu bisa cinta sama orang kayak aku? Padahal
selama ini aku jahat dan gak pernah nganggap kamu. Aku kasar. Kamu
sadar itu, kan?” paparku bertanya dengan suara parau.

Dimas tersenyum seraya menggelengkan kepala. “Kamu gak pernah jahat
dan kamu juga gak pernah gak nganggap aku, Ki. Bukannya tiap kita
ketemu kamu selalu ngomong sama aku? Tiap aku ngomong ke kamu, kamu
selalu ngerespon aku. Inget kan?”

Air mataku sukses merembes lebih banyak mendengar jawaban konyolnya.
Ternyata selama ini Dimas begitu sabar menghadapiku. Bentakkan dan
sikap kasarku padanya saja dia anggap sebagai respon dariku
terhadapnya.

“Aku minta maaf. Maaf, Dimas. Maafin aku,” ucapku penuh sesal. Satu
tangannya yang masih menggenggamku aku pegang erat.

Dimas membelai rambutku lembut, masih dengan senyuman. “Aku gak butuh
maaf kamu, Ki…” komentarnya. “Yang aku mau dari kamu cuma dua,” dia
mengusap kembali pipiku. “Pertama, berhentilah nangis,” dan aku
langsung menurutinya. Aku menelan isakan dan memerangkap sisa bening
di mataku sekuat tenaga. “Kedua, mulai hari ini, cobalah mencintaiku,
Ki. Bisa?” dan aku menyemburkan sedikit tawaku seraya memberinya
anggukkan. Dimas yang tertular tawaku lantas mendekap tubuhku.

“Kayaknya aku malah udah cinta deh sama kamu, Dim,” bisikku yang
dibalas ciuman darinya ke puncak kepalaku. “Terima kasih, Dimas.
Terima kasih, karena kamu mencintaiku.” ucapku lirih.

Dimas melerai dekapannya, menunduk padaku dan mendaratkan kecupan
manis ke bibirku, seolah tidak mempedulikan tempat kami berada saat
ini. Sedangkan aku tersenyum dipenuhi sensasi bahagia tak terkira.

***

Duniaku berubah sejak hari itu. Dan hanya satu sosok itu yang
mengubahnya. Seorang lelaki bernama Dimas Prawira. Orang yang pernah
aku lihat dengan tatapan benci dari mataku yang dulu.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk semakin mendamba dan lebih
mencintai lelaki sebaik dia. Lelaki yang mengajarkan aku akan arti
cinta yang sesungguhnya. Bahwa cinta bukanlah tentang kesetiaan, bukan
tentang seberapa luas dan besar perasaan yang kita berikan ataupun
tentang sakit dan bahagia yang kita akan dapatkan karenanya. Tetapi
cinta adalah tentang ketulusan. Tulus mencintai dengan sabar, setia
dan menerima apapun resiko yang akan kita terima nanti karenanya. Dan
cintaku, adalah Dimas Prawira. Aku sungguh berterima kasih, karena dia
telah memilihku juga sebagai cintanya.

-Tamat-