TENTANG MEREKA

Oleh : d’Rythem24

***

Aku ingin berbicara tentang cinta disini. Hanya saja, bukan tentang
cinta seperti yang kebanyakan para insan manusia miliki, yaitu kisah
cinta antara laki-laki dan perempuan. Sungguh bukan. Tetapi disini,
aku akan membicarakan tentang cinta yang terjaring dalam dunia
homoseksualitas, dan ini lebih mengarah kepada pihak kaum lelaki.

Ya. Aku akan berbicara tentang kisah cinta seorang gay. Namun, cinta
ini bukan cinta dua orang lelaki yang saling menjaga rasanya satu sama
lain, bukan juga tentang seorang lelaki yang cintanya bertepuk sebelah
tangan karena pria yang dicintainya telah memiliki kekasih, bahkan
Istri. Tidak juga hendak berbicara mengenai laki-laki yang mencintai
sesama jenisnya secara diam-diam. Dan bukan pula tentang laki-laki
yang mencintai kekasih yang tak menganggapnya.
Lantas apa?

Aku Rendi. Dan aku ingin bercerita tentang sebuah kisah, dimana
seorang laki-laki tetap mencintai lelakinya yang telah tiada. Ya, ini
bukan tentang kisah cintaku. Tetapi tentang mereka…

***

[Aku di meja nomor 14]

Itulah isi sms dari Ferdi yang sampai ke ponselku sesaat setelah aku
turun dari mobil. Aku mengaktifkan alarm keamanan, kemudian mulai
melangkahkan kaki ke dalam restoran di mana Ferdi sudah menunggu aku
sejak beberapa menit lalu. Tapi, dia tak sendirian begitu langkahku
terhenti di meja tempatnya berada saat ini.

“Eh, dateng juga kamu, Ren!” sahut Ferdi menyambutku.

Aku cuma tersenyum seraya daguku menunjuk pada satu orang yang
terduduk di sampingnya. “Nah, aku kira kamu sendirian,” ujarku
merespon. Mendudukkan diriku pada satu kursi yang tersisa di meja ini.

“Oh, dia,” Ferdi berdeham sambil sikunya menyenggol lengan pemuda di
sampingnya itu. “Kenalin,…” ucap Ferdi.

“Aku Revan. Adfian Revandra,” pemuda yang bernama Revan ini
menyodorkan tangannya ke hadapanku sambil tersenyum.

Aku pun menyambutnya. “Aku Rendi. Temen Ferdi,” balasku.

“Hehe… Aku tau, kok. Malam ini aku diajak sama Kak Ferdi buat
gabung, gak apa-apa, ‘kan?” tanya Revan seraya memandangku.

“Gak apa-apalah. Temen Ferdi, berarti temenku juga.”

“Berarti temen Kak Ferdi, temen aku juga!” respon Revan dengan mimik lucu.

Dan kami bertiga pun tertawa bersama.

Tak pernah aku menyangka, jika malam itu merupakan malam dimana aku
bertemu dengan seseorang baru yang bisa amat mempengaruhi hidupku…

***

“Fer!” aku menegurnya ketika kulihat ia tengah sibuk membenahi bagasi mobilnya.

“Apa?” tanyanya seraya menoleh padaku.

“Pulangnya aku nebeng, ya?” pintaku.

Ferdi baru selesai dengan bagasinya yang kemudian dia tutup. “Emang
mobilmu ke mana?” tanyanya yang sudah berbalik menghadapku.

“Tadi berangkat pake taksi. Mobil dipake Papa buat ngantor,” jawabku.

“Nah, kenapa pulangnya gak pake taksi lagi aja?” aku melongo mendengar
respon darinya. “Sorry, Ren. Abis ini aku mau ngejemput Revan ke
rumahnya, sekalian mau nganter dia les. Maklum, masih SMA dia,” lanjut
Ferdi menjelaskan.

“Yah, kamu gitu deh,” aku tertunduk lesu.

“Gak apa-apa, ‘kan? Aku buru-buru nih,” katanya seraya melirik layar ponselnya.

Dan aku pun cuma bisa memberikan anggukan untuknya. Ck, tumben sekali
si Ferdi tidak mau menolong sahabatnya ini. Sepenting apa memang Revan
buat dia?

Mobil Ferdi melaju meninggalkanku setelah membunyikan klakson sekali.
Terpaksa, duit jajanku harus tekor lagi.

. . .

Malam-malam sekali aku dikejutkan dengan kedatangan Ferdi ke
kediamanku. Wajahnya terlihat lesu dan kusut, membuat aku yang baru
selesai mengerjakan tugas pun menatapnya bingung.

“Kamu kenapa, Fer? Ada masalah?” tanyaku padanya ketika kami sudah
sampai ke kamarku. Ferdi bilang, dia mau menginap malam ini.

“Jenuh aku di rumah, Ren. Mama tiap malem ngerentet melulu ngomongin
‘Mama gak sabar mau punya cucu’. Ck, aku stres tau gak!” jawab Ferdi
sesudahnya ia membaringkan tubuhnya di atas ranjangku.

“Lha? Terus?” Ferdi mendelik menanggapi pertanyaanku.

“Ya aku bosen, Ren. Udah lebih dari seminggu ini omongan Mama isinya
itu-itu aja! Kupingku panas!”

“Maklumlah, Fer. Kamu kan anak tunggal, sama siapa lagi Tante mau
bicara gitu kalo gak sama kamu, ‘kan? Lagian, umur kamu juga udah
cukup, udah lumayan mateng tuh buat nyari calon istri, terus nikah,”
tuturku yang tidak aku sangka-sangka malah mendapatkan bogem pelan
dari Ferdi.

“Bukannya ngehibur aku. Eh, kamu malah ikut merepet. Dasar Ibu-Ibu!”
omelnya padaku.

Aku menggaruk-garuk kepalaku. Kepalang bingung terhadap sikapnya.

“Udah ah. Aku mau tidur, jangan bikin risih. Kamu tidur aja noh di
sofa!” aku yang mendengar titah dari Ferdi pun mendumel. Aku tarik
bantal yang tengah jadi tumpuan kepalanya yang lalu aku pukulkan
bertubi-tubi padanya.

“Seenak jidat banget kamu! Kamu kira ini rumah siapa, hah?!” dan
perang bantal pun terjadi antara kami. Dua lelaki yang sudah tak
pantas lagi bertengkar dengan cara semacam ini.

Ferdi adalah sahabat terdekatku. Keluarga kami masing-masing pun telah
saling mengenal. Cukup pintar dan on time, namun dia memiliki sifat
mudah tertekan entah dalam masalah apapun yang dia hadapi. Seperti
sekarang ini.

***

Aku dikejutkan oleh kedatangan Revan yang entah bagaimana dia kini
sudah berdiri tegap di depan ambang pintu rumahku. Aku mengernyit, tak
tahu mau mengatakan apa padanya yang juga cuma diam melihatku.

Tint!

Dan kebingunganku pun buyar begitu aku memandang ke arah gerbang
rumahku setelah mendengar bunyi klakson tadi. Ferdi melambai dari
dalam mobilnya untukku.

“Kak Rendi udah siap?” tanya Revan yang kembali mendapatkan perhatianku.

“Siap? Ngapain?” aku balik menanyainya.

“Kan kita bertiga mau jalan bareng. Tadi kak Ferdi bilang dia udah
sms. Gak tau, ya?” dan aku menjawabnya dengan gelengan lemah. Bahkan
aku lupa, di mana aku menaruh ponselku setelah pagi tadi aku gunakan
untuk browsing. “Yaah, jadi gimana?” Revan berujar kecewa.

Lantas aku melirik penampilanku sendiri. “Bentar deh. Kamu ke mobil
aja duluan, aku mau ngambil dompet sama jaket, ya.”

Daripada jenuh di rumah, lebih baik aku ikut saja.

. . .

Acara jalan kali ini tak jauh beda dengan yang minggu lalu. Sekarang,
kami bertiga tengah duduk tenang menunggu makanan pesanan kami datang.
Tak semuanya makanan, karena Ferdi cuma memesan Ice Cappucino.

“Fer?” lirihku memanggilnya yang duduk di hadapanku. Sedangkan Revan
duduk di sampingnya.

“Apa?” Ferdi menatapku.

“Tante masih sering merepet kah?” tanyaku yang herannya langsung
membuat raut wajah Ferdi terlihat panik.

“Jangan omongin itu disini, Ren. Plis, aku bawa kamu kesini buat have
fun, bukan buat ngebahas hal gak penting itu,” ucap Ferdi penuh
penekanan.

Revan memandang ke arah Ferdi dan aku dengan alis terangkat.
“Ngomongin apa sih?” tanyanya polos.

“Gak kok, Van. Bukan apa-apa,” jawab Ferdi cepat dibarengi belaiannya
pada rambut tipis Revan.

Sedikit menimbulkan rasa heran teruntukku.

“Kalian sejak kapan saling kenal?” ujarku refleks, aku pun tak
menyangka mulutku akan mengutarakan pertanyaan demikian. Revan dan
Ferdi saling melempar pandangan sejenak.

“Udah dari tahun lalu, kok,” jawab Ferdi santai, sedikit mengejutkanku.

Sudah selama itu? Tapi kenapa aku baru dikenalkan pada Revan sekitar
seminggu lalu? Biasanya, siapapun teman Ferdi, pastilah aku
mengenalnya juga. Aku hendak menyuarakan tanya lagi, tapi terhenti
oleh kedatangan seorang Waiter yang mengantarkan pesanan kami. Dan
perutku yang memang sedang sangat lapar sudah tak bisa menunda lagi
untuk tak segera menyantap hidangan di hadapanku saat ini.

Hariku berakhir di sana, tanpa bisa aku ingat sedikit pun tentang
Ferdi dan Revan untuk aku tanyakan kembali.

***

“Kak Rendi?”

Lagi, aku dikejutkan oleh kehadiran Revan yang entah darimana
datangnya. Sekarang tiba-tiba saja dia sudah berada di sampingku yang
sedang menilik satu persatu CD musik terbaru untuk kuputar di rumah.

“Lho, Revan di sini juga? Ngapain?” pertanyaan bodoh memang.

“Mau nyari CD Original punya Mbak Celine, Kak. Nah, kakak?”

“Nggak tau nih, masih liat-liat aja. Sendirian?”

“Nggak. Sama teman sebangku, tapi dia ada dibilik yang lain,” aku pun
manggut-manggut mendengar jawabannya. Sampai disana, aku tidak tahu
ingin berbicara soal apa lagi dengannya. Padahal baru kemarin kami
bertemu. “Kak?” gerakan tangan Revan yang sedang memilih-milih CD
berhenti sembari ia menghadapkan diri padaku.

Aku pun menoleh, satu kotak CD berada dalam genggamanku. “Iya?”

“Kemaren itu… maksud ‘Tante masih merepet’ yang kakak bilang ke kak
Ferdi itu apa? Kak Ferdi lagi dirundung masalah kah?” tanya Revan
dengan memasang raut bingung dan polosnya.

Aku berpikir sebentar, antara mengingat-ingat dan menyiapkan jawaban.
Haruskah aku memberitahunya? Tapi masa iya Revan tidak tahu? Ferdi
saja cerita padaku, masa kepada Revan tidak?

“Itu lho… si Tante katanya tiap hari ngomel terus ke si Ferdi,
nyuruh Ferdi buat cepet nikah. Kayaknya gak sabar pengen cepet punya
cucu tuh dianya. Maklum, insting seorang Ibu,” jawabku sejujurnya.
Raut bingung di wajah Revan sirna, digantikan dengan ekspresi yang tak
dapat aku artikan.

“Kak Ferdi mau nikah?” tanya Revan yang sepertinya tak menangkap jelas
maksud jawabanku.

Aku menggeleng, “Nggak. Tapi Mama dia yang ngebet banget pengen Ferdi
bisa cepet ngasih cucu. Aneh ya, Tante… Ferdi kan cowok, masa iya
bisa?” Revan diam tak menanggapi candaanku.

Dia menarik nafas berat, lalu menunduk lesu. “Makasih jawabannya,
Kak,” ucapnya. “Kayaknya lain kali aja ya aku nyari CD-nya lagi. Udah
sore, aku mau pulang dulu.” Dan tanpa menunggu respon dariku, Revan
sudah menggerakkan langkahnya meninggalkanku. Lenyap di antara
bilik-bilik rak tinggi yang menjadi tempat ratusan CD serta kaset.

Ada apa ya dengannya? Apakah kabar Ferdi direpet Tante amat sangat
memukul perasaannya?

***

Ferdi tak menunjukkan sedikit pun senyum, padahal sudah setengah hari
ini aku terus berada di sampingnya.

“Kamu kesambet, Fer?” tanyaku sambil menepuk pundaknya. Ferdi
menggeleng lesu seraya melepas tas gendongnya. “Tante lagi?” tebakku.
Dan Ferdi memberi satu anggukan pelan.

“Aku bingung, Ren. Kok hidup gini amat ya ngerepotinnya?” desis Ferdi
sembari menerawang.

Ada apa lagi dengan Ferdi sebenarnya? Melihatnya begini, membuat aku
mau tak mau ikut bingung juga.

“Namanya hidup, pasti ada pasang surutnya, Fer. Jangan lesu gini, gak
cuma kamu yang punya masalah serius,” ujarku sembari menepuk-nepuk
punggungnya. Berharap perkataanku dapat mengurangi suasana buruk
hatinya. Tapi Ferdi tak meresponku, cuma mengedik lalu menghela nafas
berat.

Semoga saja dia tak terlalu berlarut-larut.

***

Aku terbangun dari tidurku begitu merasakan getaran hebat yang membuat
ngilu kepalaku. Ck, ini pasti ponselku yang aku setting dalam mode
vibration. Aku tengok jam dinding dan terbelalak melihat jarum
pendeknya mengarah ke angka dua. Siapa orang yang meneleponku di waktu
sedini ini?

Aku pun menyelipkan tangan kananku ke bawah bantal untuk menarik
ponselku dari sana. Mengernyit melihat nama Ferdi mengerjap di layar,
masih dibarengi getaran dan sedikit suara ‘bipp’.

“Enggh, halo, Fer,” jawabku sambil sedikit menguap. “…jangan bikin
waktu tidurku kebuang sia-sia cuma demi ngangkat telpon kamu, ya,”
lanjutku dengan suara berat karena kantuk. Tak ada suara dari seberang
sana. Apa jangan-jangan Ferdi menelpon sambil tidur? “Ferdi, kamu di
sana kan?” aku bersuara sekali lagi. Dan kali ini, aku mendengar suara
sesengukan yang membuatku mulai dirundungi rasa khawatir. “Ferdi? Fer?
Plis ngomong, jangan bikin aku—”

“Aku takut, Ren,” suaranya menyelaku, namun sedu isakannya tak
tersamarkan. Apakah Ferdi menangis?

“Kamu kenapa sih, Fer? Cerita aja sama aku… tap-tapi jangan nangis
gitulah,” aku membangunkan diri dari pembaringanku. Sepertinya
kantukku sudah tak bersisa lagi.

Hening. Suara di seberang hanya terdengar berupa isakan lirih Ferdi.

“Dia marah sama aku, Ren. Aku gak mau kehilangan dia,” Dia siapa? Aku
baru ingin menanyainya, tapi kembali didahului oleh Ferdi, “Tadi aku
berantem sama Mama dan Papa,” aku terkesiap. “Ini udah hampir satu
bulan dan tiap hari omongan Mama masih itu-itu aja isinya. Aku bosan,
Ren, aku stress! Makanya aku clubing sepulang dari kampus tadi, begitu
pulang aku dimarahin Mama. Aku khilaf, Ren, dan aku akhirnya ngebentak
Mama,” aku bengong. “Tapi Papa justru mukulin aku, dia bilang aku anak
gak tau diuntung dan mereka bakal nyariin aku calon istri secepatnya
supaya aku nggak jadi anak yang makin salah kaprah,” seusai Ferdi
menjelaskan, aku pun bisa cukup mengerti sekarang. Pantaslah jika dia
sampai menangis. Sedewasa apapun seseorang, bila sudah berhadapan
dengan orang tua, pastilah akan sedih akhirnya. Aku beruntung memiliki
orang tua yang tidak sekeras orang tua Ferdi.

Aku menghela nafas pelan, “Terus sekarang gimana keadaan kamu?”

“Aku takut, Ren. Aku gak mau menikah sama siapa-siapa,” suara Ferdi
semakin parau.

“Kamu di mana sekarang?”

“Aku ada di dalam kamar, ngurung diri. Aku muak sama Papa dan Mama,
aku gak suka cara mereka—”

“Ferdi!” bentakku, “Gimana pun ngeselinnya, mereka itu tetep orang tua
kamu! Kamu gak boleh ngumpat begitu!” sergahku menasehatinya.

“Bisakah kamu berpihak sama aku, Ren? Jangan jadi kayak Mama, Papa dan
Revan. Aku berharap ada yang bisa ngerti keadaanku sekarang.
Soalnya… aku udah capek. Serba salah rasanya,” nadanya kian putus
asa.

“Kamu jangan ngelantur deh, Fer. Mending sekarang—”

“Aku gak tau harus ngapain lagi. Aku ras—”

“Ha-halo?”

Tutt! Tutt!

Panggilannya terputus. Secepat mungkin, aku berusaha menelepon balik
nomor Ferdi. Tapi…

‘Maaf. Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.’

Aku mengacak-acak rambutku sendiri. Seandainya Ferdi bukanlah
siapa-siapa bagiku, aku tidak akan merasa serunyam ini. Ditambah aku
juga bingung tentang Ferdi yang membawa-bawa ‘Dia’ yang tidak aku
ketahui siapa. Juga Revan yang entah apa maksudnya. Jangan sampai
Ferdi bertindak terlalu jauh.

Setahuku dia tak pernah nekat apalagi sampai clubing hingga tengah
malam, tapi tadi… Ck, aku yakin, masalahnya semakin rumit.

. . .

“Tumben kamu telat bangun, Ren. Begadang?” tanya Mama sesaat setelah
aku terduduk di ruang makan, menemaninya yang hanya duduk sendirian.
Papa pasti sudah berangkat ke kantor.

“Nggak, Ma. Jam dua tadi aku kebang—eh, dibangunin getaran hape. Ferdi
nelpon,” jawabku sembari mulai membalikkan piring.

Mama pun sigap, langsung menyadukkan nasi, lalu lauknya ke piringku.
“Malam banget nelponnya. Apa dia lagi ada masalah?” aku mengangguk.
“Apa memangnya?”

“Intinya, Tante Wijaya merepet terus sama Ferdi supaya dia mau cepet
nikah. Nah, Tante Wijaya ngomongin hal itu tiap hari sampe si Ferdi
bosen dan pulang malem. Mereka berantem, terus Ferdi kena bogem si
Om,” perjelasku yang membuat Mama terkesiap.

“Kok sampe segitunya?” nada suara Mama mulai melemah.

“Gak tau deh, Ma. Rendi juga bingung banget. Kasian Ferdi,” Mendadak,
nafsu makanku serasa tidak bersisa lagi. Kemudian, belaian tangan Mama
pada helai rambutku menenangkanku.

“Kamu coba cari tau, temeni dia terus, ya? Mama yakin, kamu adalah
salah satu orang yang sedang Ferdi butuhkan disaat begini.” Aku
memberikan Mama anggukan pelan.

Aku pasti akan membantunya semampuku.

***

Berulang kali. Berulang kali aku coba menghubungi nomor ponsel Ferdi,
tetapi nomor yang aku tuju tak kunjung aktif. Menengok ke kediamannya,
tetapi gerbang rumahnya terkunci rapat. Aku menanyai para tetangga,
namun semuanya memberiku gelengan kepala sebab mereka pun tidak tahu
menahu.

“Ferdi, kamu ke mana sih?” gumamku sembari menggaruk kepalaku
kuat-kuat saking stresnya. Kemudian ponsel dalam genggamanku
berdering, tanpa melihat layar terlebih dulu segera saja aku angkat
panggilan yang masuk itu. “Halo? Ferdi?!” sahutku menjawab.

Tak ada suara untuk beberapa detik. Aku berniat melihat layar
ponselku, lalu, “E-eh, bukan, kak,” Aku mengernyit mendengar suara
yang terasa familiar ini. “Ini Revan, Kak,” seketika, harapanku pun
pupus begitu mendengar jawabannya.

“Oh, Revan. Ada apa? Kok kamu tau nomorku?” tanyaku padanya.

Namun, Revan mengabaikan pertanyaanku. “Aku mau kita ketemuan. Bisa?”

. . .

Revan kelihatan kacau. Matanya yang awal-awal dulu tampak berbinar
bening, kini disertai lingkar hitam di sekitarnya. Matanya pun merah,
dengan bibir dan hidung yang terlihat merah juga pucat. Apa yang
terjadi padanya? Aku tak sanggup menduga-duga.

“Emm, ka-kamu sakit, Van?” tanyaku memecah keheningan di antara kami
sejak beberapa menit lalu. Kami saat ini berada di restoran tempat
kami pertama bertemu dulu. Revan menggeleng, tapi raut wajahnya tak
bisa membohongiku.

“Kamu kenapa?” aku bertanya lagi. “Apa ini ada hubungannya… sama
Ferdi?” meski terdengar sok tahu, tapi entah mengapa, aku justru
melontarkan pertanyaan itu.

Revan sedikit tercengang, menatapku tak percaya tanpa mengerjap.
“A-apakah Kak Rendi… udah tau?” tanyanya terdengar gelagapan.

“Emm, tau apa?” aku balik bertanya heran. Dan ekspresi anehnya tak bersisa lagi.

Kembali Revan memberiku gelengan. “Apa kak Ferdi gak ada ngasih kabar
ke kakak?” tanyanya hampir menggumam.

Aku menghela nafas. Berarti tak hanya aku yang kebingungan karenanya.
“Nggak ada, Van. Aku juga gak tau gimana keadaan dia sekarang. Padahal
ini udah tiga hari sejak terakhir kali dia nelpon aku,” tuturku
menjawab pertanyaannya. Dan selama tiga hari itu pula, hatiku
dirundungi perasaan tak enak dan bimbang.

“Aku takut,” suara Revan lirih. Dan aku membelalak.

Ya Tuhan, dia menangis.

“Tiga hari ini aku ketakutan. Aku takut Kak Ferdi kenapa-napa. Aku… aku…”

Aku sudah tak mendengarnya lagi. Aku tidak tahu harus merespon apa dan
bagaimana untuknya. Selanjutnya, yang aku tahu rasa khawatirku untuk
Ferdi kian kalut dan tak menentu.

Tuhan, tolong lindungilah sahabatku.

“Ayo, kita ke rumah Ferdi sekarang!” gagasku yang ditanggapi oleh
kerjapan bingung dari Revan. Tapi setelahnya, dia mengangguk setuju.

. . .

Aku menghela nafas cukup lega begitu mendapati gerbang kediaman Om
Wijaya terbuka lebar. Bahkan aku bisa melihat mobil Avanza hitam
miliknya terparkir di pelataran dengan Tante dan Om yang kelihatan
tengah menurunkan barang-barang dari bagasi. Aku menatap Revan
sebentar, memberi anggukan yang menandakan bila kami harus turun dari
mobilku sekarang.

“Lho, Rendi? Revan?!” seru Tante Wijaya, menatap bingung aku dan Revan
bergantian. Dan rupanya, dia juga sudah tak asing dengan rupa Revan.

“Met sore, Tante,” sapaku dan Revan hampir bersamaan.

“Kak Ferdi ada?” tanya Revan langsung tanpa basa-basi.

“Eh? Memangnya dia nggak sama kalian?” tanya Tante Wijaya balik, yang
aku berikan gelengan mantap.

“Udah tiga hari dia gak ada kabar, Tante. Apa Ferdi baik-baik aja?”
jawabku yang semata-mata membuat Tante menatap penuh heran pada Om.

“Tapi selama tiga hari ini, Om dan Tante pun gak di rumah. Ini kami
baru pulang dari luar kota,” perjelas Tante lirih. Matanya terlihat
berkaca-kaca. “Ferdi gak ikut sama kami, dan ketika pulang keadaan
rumah pun masih sama, gak ada perubahan. Mungkin aja dia pun pergi
keluar rumah.” tuturnya menambahkan.

“Tapi nomor ponselnya gak aktif, Tante,” ujarku.

“Maka dari itu kami pulang cepat, Ren. Telpon rumah pun gak ada yang
ngangkat. Kami khawatirnya dia ngeluyur gak jelas kaya beberapa hari
kemarin. Anak itu keterlaluan, untunglah kepergian kami sudah
membuahkan hasil,” kata Om menimpali.

Aku dan Revan mengernyit bersamaan. “Hasil apa Om?” tanyaku.

“Kami sudah menemukan calon yang tepat untuk Ferdi jadikan istri,” itu
suara Tante yang tak bisa menyembunyikan nada bahagianya.

Ah, jadi begitu. Tapi, apakah Ferdi siap mendengar kabar ini? Juga, Om
dan Tante sepertinya menutup rapat sekali tentang pertengkaran mereka
yang lalu dengan Ferdi. Apa tandanya masalah ini amat serius?

“Revan, Rendi. Ayo, masuk dulu,” ajak Tante sesaat setelah pintu
rumahnya terbuka. Aku mengangguk pelan, mulai melangkahkan kakiku
menaiki undakan kecil menuju teras rumah ini. Tapi sebelum masuk ke
dalam, aku menoleh terlebih dahulu ke arah Revan masih bergeming.
Matanya yang memerah kelihatan membelalak, nampak shock. Ada apa lagi
dengannya?

“Rendi! Papa!”

Mendengar teriakan Tante, cepat-cepat aku berlari ke dalam. Aku
mendapati Tante yang berdiri di ujung tangga dengan mimik wajah cemas.

“Ada apa, Ma?” tanya Om Wijaya yang sudah menyusulku masuk.

“Kamar Ferdi kekunci, Pa. Kemungkinan selama tiga hari ini dia tetap
di rumah,” lalu Tante menunjukkan sepasang sepatu abu-abu kesayangan
Ferdi pada kami. “Liat? Sepatu ini pun masih ada di depan pintu
kamarnya. Mama yakin, Ferdi gak kemana-mana selama tiga hari ini,”
imbuh Tante penuh keyakinan.

Dan tanpa meminta izin dulu pada mereka, aku buru-buru menaiki satu
per satu anak tangga untuk menuju kamar Ferdi yang berada di lantai
dua. Selama kakiku menginjak lantai tangga ini, makin dekat tujuanku,
perasaan khawatirku pun kian membuncah. Apa yang terjadi pada Ferdi
selama tiga hari ini? Kenapa dia tak pergi kemana-mana? Dan kenapa dia
terus mengurung dirinya?

“Ferdi?!” Aku berseru setibanya di depan pintu kamarnya yang langsung
aku ketuk keras-keras. “Kamu di dalem kan? Ini aku, Fer, Rendi! Tolong
bukain pintu!” aku menaik-turunkan gagang pintu, tapi pintunya memang
dikunci. Aku mengetuk-ngetuk lagi, kali ini lebih keras dan terburu.
“Ferdi?! Tolong buka pintunya, Fer. Jangan ngurung diri terus di
dalam!” Tetap tak ada sahutan. Aku mengusap wajahku sendiri
dikarenakan kalut.

Mataku melirik pot bunga yang berada tak jauh dari daun pintu kamar
Ferdi. Aku menelan ludahku sebelum memantapkan diri memutuskan untuk
mengambilnya. Ferdi begitu mempercayai aku, bahkan setahuku yang
memang sudah beberapa kali memanfaatkan ini. Di dalam pot bunga busa
ini ada kunci kamar cadangannya yang dia simpan. Dan tanpa mau
membuang waktu lebih lama, segera saja aku masukan kunci itu ke dalam
lubangnya. Aku tidak peduli bagaimana reaksi Ferdi nanti, yang aku
inginkan saat ini hanyalah mengetahui keadaannya.

“Ferdi, kamu ken—”

Aku tertegun sesaat sebelum seruanku untuk Ferdi terselesaikan.
Tanganku yang masih memegang gagang pintu menegang seketika, panas di
seluruh tubuhku seakan memenuhi pandanganku yang mulai memburam,
tetapi jiwaku justru terasa menggigil. Aku tidak mampu merasakan
apapun saat ini, rasanya syaraf-syarafku lemas. Terjawab sudah segala
kekhawatiranku.

“Ferdi,” lirihku hampir tak bersuara menyebutnya.

Sedangkan orang yang kini aku tatap nanar, tubuhnya telah terbaring
kaku di atas lantai kamarnya. Kulit muka hingga tubuhnya sudah
membiru, dengan mata yang terkatup rapat dan penuh lebam luka di
beberapa bagian tubuhnya. Aku berjalan tanpa merasakan pijak langkahku
menghampirinya, dan saat aroma tak sedap menyengat tercium dari
tubuhnya, barulah aku sadar, bahwa Ferdi sudah tak bernyawa lagi.

Aku gemetaran seketika, aku menarik nafas sesak. Pipiku sudah basah.

“Astaga, Ferdi!” itu suara Tante yang menjerit histeris terdengar di
belakang punggungku.

Aku tak menyadari kedatangannya sama sekali. Aku bahkan tak sempat
menoleh. Aku masih dalam mode… shock mungkin. Melihat sahabat…

“Pa?! Papa?! Tolong! Rendi, Tolong!”

Selanjutnya, aku kembali tersadar dari atmosfir penuh keterkejutan
ini. Aku melihat ke belakang, di sana Tante Wijaya terlihat tengah
kewalahan menangani tubuh Om yang terlihat mengejang dengan satu
tangan yang ia letakan di depan dadanya.

Ya Tuhan…

Baru saja aku menjatuhkan lututku di samping tubuh Om Wijaya, laju
cepat seseorang beserta suara isakannya mengejutkanku lagi. Itu Revan.

“Kak Ferdi! Bangun, Kak! Kak Ferdi! Bangun!” jerit tangis Revan menggema parau.

Pada saat itulah segala suasana yang aku tengah jalani berputar cepat,
dengan hanya aku yang bergerak lambat di dalamnya. Semua kejadian ini
amat sangat melekat jelas dalam memoriku.

Ferdi bunuh diri. Dan aku merupakan orang pertama yang melihat juga
menemukan jasadnya. Mengingat bagaimana histeris dan paniknya Tante
Wijaya mendapati putra tunggalnya terbujur kaku tak bernyawa yang
justru membuat suaminya terkena serangan jantung. Juga, tak bisa aku
hilangkan ingatanku dari Revan yang tak hentinya menangis, berteriak
sambil mengguncang tubuh mati Ferdi. Jeritannya hingga tangis pilunya.
Semuanya tak terlupakan sama sekali.

Lalu hari ini. Hari dimana sudah genap dua tahun sejak tragedi itu
berlalu, aku masihlah Rendi. Seorang pemuda biasa yang menjalani
hari-harinya dengan rutinitas biasa pula. Namun, dia tak lagi memiliki
sosok sahabat sejak kecilnya. Karena semenjak sahabatku Ferdi tak ada,
lintas kehidupanku pun banyak berubah. Tentunya dengan beberapa
dorongan keadaan yang amat mendesakku yang saat itu masih bersama
mereka dalam tempat kejadian perkara.

Om Wijaya sampai hari ini masih tak dapat beralih dari atas kursi
rodanya, dan di sampingnya Tante hampir selalu tak dapat bisa menahan
perih di matanya. Putra mereka telah tiada, dan kini sang suami justru
stroke. Yang menyebabkannya tak berdaya, saking shock-nya akan apa
yang dulu disaksikannya. Aku yakin, lebih dari itu, pasti Om Wijaya
merasa amat bersalah. Sebab perihal ini, pastilah ada hubungannya
dengan pertengkarannya dan Ferdi. Sebelum dia memutuskan pergi
meninggalkan Ferdi yang akhirnya meregang nyawanya dengan menenggak
racun beberapa jam setelah itu.

Hasil otopsi mengatakan jikalau nyawa Ferdi telah hilang dua hari jauh
sebelum aku datang. Ini tak pernah terpikirkan olehku sama sekali,
bahwasannya Ferdi memang telah teramat depresi pada saat itu.

Seringkali aku berpikir, tidakkah Ferdi kasihan terhadap kami? Padaku,
sahabatnya yang selama belasan tahun ini sudah melalui banyak hari
bersamanya. Sedih, senang, damai hingga runyam yang kadang diwarnai
selisih paham. Pada Om dan Tante yang adalah orang tuanya, mereka yang
sejak ia masih bayi telah berusaha mendidik dan menyayanginya setulus
hati, walau pada akhirnya pertengkaran terjadi dan menyebabkannya
mengakhiri  nyawanya sendiri. Lalu, Revan…

Aku mendesah, menahan lara yang menohok dadaku.

Aku masih mengenalnya meski Ferdi telah lama pergi dan tak ada lagi di
antara aku dan Revan. Bahkan setiap hari, aku tetap ada di sisinya.
Saat ini pun, dia ada di sampingku. Duduk bersila di atas ranjang
sambil mengusap dan mengajak satu bingkai foto itu bicara.

Jika boleh aku katakan, kondisi Revan lah yang paling memprihatinkan.
Lebih-lebih dari Om Wijaya yang didiagnosa stroke, Tante Wijaya yang
mengalami shock berat. Dia mendapatkan kondisi yang lebih buruk
daripada mereka. Sebab, Revan pun mendapatkan guncangan hebat.
Guncangan yang tercipta oleh penyaksiannya langsung dari kematian
kekasihnya…

Dua hari setelah kasus bunuh diri Ferdi, aku dimintai tolong oleh
Tante untuk membawa barang-barang Ferdi yang aku suka. Bukan tanpa
alasan dia mengatakan itu. Tante lebih dari tahu apa-apa saja yang
sering aku gunakan sebagai respon buat Ferdi kala ia memamerkan apa
saja yang menjadi miliknya. Tapi ketika aku sudah mulai menginjakan
kakiku ke dalam kamarnya, aku tak mengambil apapun dari sana melainkan
sibuk mencari ponselnya yang kemudian aku temukan di bawah ranjang.
Tak jauh dari tempat di mana jasadnya terbaring tempo hari.

Ponsel Ferdi tak mati sama sekali, hanya modenya saja yang dijadikan
offline. Tanpa mau repot-repot, segera saja aku menekan kuat-kuat
tombol pagar yang menjadikan mode offline berubah menjadi general.
Berselang beberapa detik setelahnya, ponsel dalam genggamanku
dibanjiri puluhan pesan masuk yang membuat aku kewalahan untuk
memeriksanya.
Namun, ada satu nama dan satu pesannya yang membuat aku mengetahui
segala kejanggalan yang aku rasakan selama ini…

[From: Revan.

Aku cinta sama Kak Ferdi. Aku sayang banget sama kakak. Tapi aku
ikhlas kalaupun kakak bisa bahagia sama pilihan Orang tua kakak.
Asalkan itu yang terbaik.]

Disanalah awal aku mengetahui hubungan mereka. Dan dapat aku
simpulkan, kekhawatiran Revan dan rasa takut Ferdi pada saat itu
dikarenakan mereka yang memang saling mencintai. Cinta yang juga
saling meruntuhkan jiwa mereka.

Ini tentang mereka.

Tentang Revan yang tetap mencintai Ferdi meskipun yang dicintainya
telah lama pergi. Dan juga tentang Ferdi, yang rela mengakhiri
hidupnya dengan jalan menyedihkan hanya supaya mereka tak terpisahkan,
namun justru menciptakan luka teramat dalam bagi sosok tercintanya.
Membuat Revan tak hentinya menjeritkan namanya, mengkhayalkan
hadirnya, menggapai sosok semunya, dan juga, berusaha untuk ikut pergi
bersamanya. Hingga dia, berakhir di tempat ini.

Tak ada sanak saudara, kerabat dan keluarga yang mau menampungnya.
Mengakui pun seakan tak sudi, kecuali aku…

‘Berarti temen kak Ferdi, temen aku juga.’

Masih dapat aku ingat kalimat yang terucap dari Revan pada saat
pertama kami bertemu dulu. Ya, Revan adalah temanku. Maka dari itu,
aku harus tetap membantunya semampuku. Melindunginya atas kemauanku
sendiri. Karena semenjak Ferdi tak ada, keadaannya tak kunjung
membaik. Di masa sekarang pun, tak ada kemajuan berarti yang ia
tunjukan. Revan sudah bukan Revan yang dulu lagi sejak kejadian dua
tahun lalu.

Aku hanya bisa diam memerhatikannya sedekat ini. Tak pernah berani
menyela apalagi menimpali tiap tutur katanya. Revan sudah kehilangan
akal sehatnya.

Tok tok tok!

Suara ketukan pintu itu mengalihkan perhatianku.

“Maaf, pak. Jam besuk Anda hari ini sudah berakhir. Anda bisa datang
lagi besok.”

Aku benci bila salah satu perawat telah menyampaikan pesan itu padaku.
Ck, aku masih ingin menemaninya.

Dengan berat hati, aku bangun dari dudukku di kursi kayu di samping
ranjang Revan. Menatap Revan iba, lalu menghela nafas lesu.

“Revan?” panggilku. Dan Revan mendongak melihatku, mengerjap bingung
padaku lalu tersenyum. “Kak Rendi pulang dulu, ya? Kakak janji, besok
pasti datang lagi kesini bu—”

“Bawa Ferdi ya kemari?” potongnya penuh harap.

Aku terdiam sebentar, lalu mengangguk padanya. Tidak pernah sekali pun
aku tak meng-iya-kan keinginannya sejak ia berada di sini. Tetapi
Ferdi yang kubawa, hanyalah seperkian banyak bingkai berparaskan
wajahnya. Sahabatku yang dicintainya. Kenyataan bila ia telah tiada,
tak pernah Revan indahkan sama sekali.

Aku berjalan pelan menyusuri koridor tempat ini. Tempat penuh
kehisterisan dari mereka yang juga tak jauh beda dari Revan. Tempat
berakhirnya, yang dengan teganya keluarga Revan jadikan jalan keluar
atas ketidakwarasan putra mereka. Keputusan kejam dari mereka yang tak
bertanggungjawab, yang memaksa aku memiliki tekad dan merubah pola
hidupku sampai detik ini.

Aku sudah berada di dalam mobilku sekarang, menatap bangunan rumah
sakit jiwa ini dari lapangan parkir. Berharap, sesegera mungkin aku
tak akan pernah lagi mengisi buku tamu hanya untuk menemuinya. Orang
yang sama yang tak kunjung sembuh di sini. Namun, apa daya… segala
upaya, tak ada yang dapat membantu. Tak ada yang mendukung apalagi
menyetujuiku. Yang aku inginkan hanya satu, segala apa yang telah aku
usahakan berakhir indah pada waktunya. Dan semoga, segala tekad serta
keputusanku tak sia-sia.

“Sampe besok, Van.” gumamku parau.

Mesin mobil mulai aku nyalakan, kemudian aku pun melaju meninggalkan
tempat ini. Tempat yang setiap harinya, walau hanya beberapa detik
harus selalu bisa aku sempat datangi dan kunjungi. Buat menemani
sepinya yang telah kehilangan lelakinya, sahabatku.

-THE END-