Kemeja Untuk Saif

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Kupikir, judulnya kali ini sesuatu sekali. Nama Saif dibawa-bawa jadi judul segala. Kuharap, bukan judulnya saja yang jadi sesuatu, tapi isinya juga. Singkat saja kali ini, Fellas, 5.000an kata saja, ini aku sengaja nyuri-nyuri waktu buat nulis disela-sela bejibun laporan kerja yang harus kubuat, jadi khusus kali ini, aku minta kalian untuk berhati-hati nulis komentar yang berisi kritik dan atau komentar berisi ketidakpuasan kalian terhadap postingan kali ini (kalau kalian bersedia mengetik sebuah komen tentunya), karena aku bisa menganggap kalian tidak tahu terima kasih─lagi─jika menyampaikan kritikan dan ketidakpuasan dengan cara yang salah😛. Dan bisa dikatakan ini adalah tulisan terkait Love Actually yang paling cepat selesai, cuma kutuliskan selama dua malam saja, belum sempat kuperiksa kesalahan penulisan dan atau kalimat rancu dan atau kesalahan lainnya yang kujamin pasti ada. So, bantu aku menemukannya bagi yang berkenan membantu…

Semoga kalian menikmati membaca Sepotong Kemeja Untuk Saif seperti aku menikmati ketika menulisnya.

 Wassalam

n.a.g

##################################################

Tersebutlah sepotong kemeja tidak istimewa,

untuk seorang kakak yang istimewa.

Tidak sebanding,

dan begitu miring.

Terkisahlah sepotong kemeja biasa,

untuk seorang kakak yang luar biasa.

Tidak seimbang,

dan demikian timpang.

Tapi…

yang kupunya hanya sepotong kemeja itu,

dan niat baik kepada kakak istimewa nan luar biasa itu…

***

Mencintai lalu menjalin sebuah hubungan adalah salah satu langkah besar di antara sekian deret langkah besar seorang anak manusia dalam meniti kefanaan hidup. Mencintai bukan pekerjaan yang bisa dilakukan begitu saja. Mencintai butuh kekuatan hebat. Kau memang jatuh cinta begitu saja tanpa terencana, tapi mencintai adalah lain hal. Ketika kau mencintai seseorang, secara tidak langsung kau telah terikat kontrak pada beberapa hal, diantaranya: ikut merasakan sakit ketika orang yang kau cintai sakit, siap mengalah dan mendahulukan kenyamanan dan keinginan orang yang kau cintai dalam banyak hal, siap untuk tidak lagi menjadi egois dan mementingkan diri sendiri, siap untuk kehilangan beberapa waktu khususmu, siap membagi segala rahasiamu, siap menerima segala kekurangan orang yang kau cintai, siap menerima orang yang kau cintai beserta dunianya untuk meleburkan diri ke dalam duniamu, siap menjadi setia, dan siap berhadapan dengan kemungkinan terburuk perpisahan atau patah hati, dan banyak lagi. Sungguh, mencintai lalu menjalin sebuah hubungan adalah satu langkah besar yang juga membutuhkan kekuatan sama besar untuk membuatnya berhasil.

Saat aku memutuskan untuk mencintai dan menjalin hubungan dengan Zayed dulu, aku masih begitu hijau. Cinta pertama memang membutakan. Aku tidak melihat apapun selain Zayed dan cintanya padaku. Aku tidak pernah tahu kalau dengan mencintai dan menjalin hubungan dengan Zayed maka aku akan memasuki dunianya lebih jauh ke dalam, merasakan kebahagiaan dan kedukaan yang ada di dalamnya hingga ke tingkat yang tidak pernah kubayangkan. Aku sama sekali tidak pernah berpikir kalau diriku juga bakal mengalami kesakitan ketika Zayed sakit sampai kulihat dia tersungkur sehabis dihajar Kak Saif. Aku baru sadar akan maknanya mengalah dan mendahulukan ketika Zayed menunjukkan perilaku itu padaku, Zayed menunjukkan padaku bagaimana untuk tidak jadi egois dan mementingkan diri sendiri di saat aku tepat menjadi demikian. Zayed banyak kehilangan waktu khususnya─bahkan jam tidurnya─demi memenuhi egoku. Zayed membagi semua rahasianya, semua cerita hidupnya dan semua cerita yang tidak tidak sempat diceritakannya. Saat Zayed pergi, aku baru benar-benar sadar sepenuhnya bahwa dengan mencintai artinya kita juga harus siap dengan kemungkinan terburuknya: sakitnya kehilangan.

Dan kini, selain semua hal itu, lewat Orlando, aku juga belajar siap dengan rasa cemburu yang tidak masuk akal dan kekanak-kanakan sekali yang sering diperlihatkannya, belajar mengatasinya, belajar menentramkannya lalu jatuh cinta semakin dalam lagi padanya ketika aku berhasil.

“Kenapa kamu nyuruh aku ngepasin kalau kemeja itu bukan buatku?”

Aku menghembuskan napas lelah sambil memeluk tiga helai kemeja berbeda ke dadaku. “Badan Kak Lando kan sama kayak Kak Saif,” jawabku entah untuk yang ke berapa kali bagi pertanyaan senada.

“Mundur lagi ke belakang, di rumah tadi kenapa kamu ngajak aku kalau sampai sini malah beli kemeja buat orang lain?”

Aku memutar bola mata dan mulai mengingat-ingat keadaan dompetku untuk beli dua kemeja sekaligus, hasilnya, dompetku berkata TIDAK. “Orang lain itu Kak Saif,” kataku makin gusar.

“Kenapa harus selalu dia yang dipertama-in? kamu gak pernah beli kemeja buatku…”

Orlando menatap bengis ke dadaku hingga aku takut dia akan merebut ketiga kemeja itu dan lalu merobek-robeknya hingga jadi kain perca─yang harus kubayar entah dengan apa jika sampai kejadian. Setelah beberapa hari lalu dia sempat bersikap seakan tidak pernah mencemburui Kak Saif, kini sifat itu balik lagi. Kurasa menu makan siangnya hari ini tidak enak, atau ada salah satu kolornya yang raib lagi.

“Jadi ini beneran gak mau bantuin ngepas?” tanyaku memastikan.

Orlando mendiamkan diri sambil menekuk bibir.

“Uangku gak cukup buat beli dua potong kemeja, Kak.”

“Kalau gitu beli satu dulu buatku.”

“Tapi aku udah niatkan beli buat Kak Saif hari ini, sungguh.”

“Kapan namaku pernah muncul pertama kali dalam niatmu? setiap kali berkaitan sama Saif selalu saja nama kakakmu itu yang lebih dulu.”

Aku kehabisan akal. Kutatap tiga helai kemeja yang sudah kupilihkan sejak tadi, burgundy, warna gading dan dark grey. Semuanya polos dan berlengan panjang. Aku bermaksud membeli kemeja yang bisa dipakai Kak Saif saat diwisuda nanti. “Ya sudah, gak usah aja.” Kuletakkan kembali ketiga kemeja itu ke tempatnya semula dan kutinggalkan Orlando.

“Tuh, benar kan. Ketimbang beli satu dulu buatku kamu lebih milih untuk gak beli sama sekali. Hebat! Kenapa aku gak kaget ya?”

Aku urung berjalan lebih jauh. “Maunya kamu apa sih sebenarnya?” desisku samar ketika seorang pramuniaga melewati kami.

“Aku mau dinomorsatukan.”

“Kamu nomor satunya!” tukasku.

“Teorinya, iya, prakteknya, aku selalu jadi runner up.”

Aku geleng-geleng kepala. Seorang pria berjalan ke gantungan kemeja yang baru saja kutinggalkan dan mulai memilih-milih. Mendadak aku ingin membuat Orlando makin jengkel. “Baik, kalau begitu tetaplah jadi runner up.” Aku berjalan kembali menuju rak di mana si pria berpenampilan layaknya eksekutif muda di sana masih memilih-milih kemeja di gantungan.

Kening Orlando mengernyit melihatku melewatinya begitu saja dan menuju lurus ke tempat si pria berpenampilan seperti eksekutif muda itu berada di dekat gantungan kemeja. “Kamu mau ngapain?” desis Orlando..

“Bukan kamu doang yang punya badan bagus kayak Kak Saif!” jawabku tanpa berhenti.

Orlando sontak mengikuti dan menangkap pergelangan tanganku sebelum aku sampai ke sana. “Okey, fine!” cetusnya dengan mata membelalak. “Gak usah suruh orang asing itu!” lalu dia melepaskan tanganku dan berjalan sigap ke gantungan, mencomot tiga helai kemeja yang beberapa menit lalu kusimpan lalu bergerak menuju tirai pas. Di balik punggungnya, aku mengekor sambil menahan senyum geli. Fakta bahwa Orlando lebih memilih menindih cemburu dan kesalnya ketimbang melihatku berakrab-akrab dengan lelaki asing membuatku makin mencintai dia dan menyukai caranya mengekspresikan cemburunya.

Orlando lenyap di balik tirai bersama tiga helai kemeja. Aku berdiri menunggu semeter jauhnya di luar tirai. Semenit kemudian, dia melongokkan kepalanya, memandangku masih dengan tampang kesalnya. “Yang mana dulu?!” tanyanya lebih bernada marah.

“Umm… coba yang warna gading dulu.”

Kepalanya lenyap lagi. Beberapa saat kemudian dia menyibak tirai dan menampilkan dirinya di depanku, masih dengan muka tertekuk. Aku mendekat dan menarik lengan kirinya lalu mengancingi ujung lengan kemeja yang tidak dikancingnya, setelahnya aku pindah ke lengan kanannya. Orlando mendongak ketika jemariku menuju lehernya untuk memasang kancing di bagian kerah. Lalu aku mundur dua langkah dan memperhatikannya. Kami saling balas menatap. Shit, kemeja itu begitu cocok di badannya.

“Coba yang abu-abu gelap,” perintahku. Tanpa merespon apapun, laki-laki itu berbalik dan menarik tirai. Sementara Orlando membuka dan mengenakan kembali kemeja yang lain di dalam tirai, di luar tirai kudapati diriku sedang membayangkan bagaimana rasanya membuka kancing-kancing kemeja itu untuk Orlando.

Tirai kembali tersibak menampilkan wajah keruh Orlando lagi. Dia masih tak mau repot-repot mengancing ujung lengan dan kerah kemeja yang sedang dipakainya itu. Lagi-lagi aku mendekat untuk membenarkan kancingnya. Kali ini, saat memasang kancing di bagian kerah, aku sengaja berlama-lama dan berlagak seperti secara tidak sengaja menyentuhkan ujung-ujung jemariku ke tepi rahangnya.

Orlando berdeham. “Jangan sampai jari-jarimu kugigit, ya! Pasang kancing aja lama banget!”

Aku menunduk dan tersenyum sendiri. Kutepuk bahunya lalu mundur selangkah. “Kak Lando lebih suka yang tadi apa yang sekarang?”

“Aku lebih suka merobek-robek kemeja ini sampai jadi kain perca.”

Sudah kuduga dia akan menjawab begitu. “Sebelum dirobek-robek, cobain yang warna anggur itu dulu.”

Tak membantah, Orlando kembali melenyapkan diri ke balik tirai. Entah perasaanku saja atau kali ini dia memang mengambil waktu lebih lama sebelum menyibak tirai dan memamerkan dirinya lagi padaku.

Dan sungguh, kalau bukan di tempat umum, ingin saja aku mencium pipinya kiri dan kanan. Kali ini dia memasang semua kancing sendiri. Aku tersenyum dan mendekatinya, tak dapat menahan hasrat untuk sekedar merapikan kerah kemejanya yang memang sudah rapi itu. Dia menatapku tanpa sekalipun berkedip saat jemariku menyusur di sepanjang kerah kemeja burgundy itu lalu turun ke bagian dada, raut wajahnya tidak lagi sekesal sebelumnya.

“Boleh minta tolong lagi?”

Dia mendengus.

“Aku mau lihat bagaimana kalau ujung-ujung kemeja ini dimasukkan ke dalam celana…,” kataku sambil menyentuh ujung badan kemeja.

Tanpa berkata apa-apa, Orlando berbalik dan menghilangkan diri sekali lagi ke balik tirai. Lebih semenit kemudian sosoknya muncul lagi, sudah dengan ujung-ujung kemeja tenggelam di balik pinggang celananya.

Untuk beberapa detik, aku terpesona. Kudekati Orlando, “Jujur saja,” ujarku di depannya, “saat ini aku sedang sangat ingin mencium Kak Lando.”

“Meski demikian, bukan berarti kita bisa mengabaikan begitu saja fakta kalau kemeja ini bukan buatku,” ucapnya datar.

Aku mengangguk setuju, “iya, kita memang tak bisa mengabaikannya,” balasku dan lalu kulihat rahang Orlando mengeras. Aku menyengir. “Jangan marah dulu, habis dari sini aku bayarin makan soto Kang Umay deh, ya?” Orlando tidak merespon ucapanku. “Sepertinya, kita ambil yang ini saja, Kak.”

“Apa peduliku? Kemeja ini kan bukan untukku,” ujarnya sama persis dengan kalimat sebelumnya, kemudian balik badan.

*

Kami terdampar di warung tenda Kang Umay menjelang Maghrib. Orlando menghabiskan sotonya tanpa sekalipun bersuara. Ketika aku sudah menghabiskan isi mangkukku beberapa menit setelahnya, saat aku hendak mengeluarkan dompetku, dia sudah lebih dulu mengeluarkan dompetnya dan memanggil mas-mas teman kerja Kang Umay untuk membayar dua mangkuk soto yang baru saja kami habiskan.

“Kan janjinya aku yang bayar,” kataku disela-sela membersihkan mulut dengan tisu.

“Tabung saja uangnya buat beliin Saif kemeja lagi kapan-kapan,” jawab Orlando lalu bangun dari tempat duduknya.

Kupikir, dia sengaja membayar duluan demi bisa mendesiskan kalimat sialan itu buatku. Pantas saja dia begitu tergesa-gesa saat makan tadi dan mengabaikan kuah soto yang panas menyengat, ternyata tujuannya agar bisa menyerangku dengan kata-kata seperti tadi. Aku berniat membalas perlakuannya, akan kupeluk laki-laki ini di atas motor nanti seerat-eratnya sampai dia sesak napas berkali-kali lebih dulu di perjalanan sebelum tiba di rumah. Tunggu saja, Orang Cakep Nyebelin!

*

Beberapa menit kemudian di atas motor dalam perjalanan pulang…

Alih-alih bisa membuat Orlando kesal dan sesak napas, dia malah merepet panjang tentangku yang katanya sok membaik-baikinya dengan memposisikan diriku hingga mepet ketat padanya, “Percuma, mau senempel apapun kamu ke badanku, itu gak akan ngefek. Aku tahu kamu cuma sedang membaik-baikiku, kan? Itu gak bakal berhasil!” begitu katanya, dan bahwa usahaku tidak akan pernah merubah fakta bahwa kemeja yang kubeli tadi bukan untuknya, “Silakan nempelin dirimu sepuasnya, tapi yang perlu diingat, itu gak akan ngerubah kenyataan bahwa kemeja yang kamu beli tadi bukan buat pacarmu!” lanjutnya kemudian, dan bahwa dia tak peduli dan akan tetap kesal padaku sampai hari ini habis tepat pukul nol-nol nanti malam. “Jadi, aku gak peduli. Pokoknya sepanjang hari aku akan terus kesal padamu sampai hari ini habis pukul nol-nol nanti malam!”

“Kak Lando sudah keterlaluan,” kataku sambil memundurkan dudukku. “Cemburunya keterlaluan kayak anak kecil, tahu gak!? Aku capek ngeladeni sikap Kak Lando yang selalu sama level jengkelinnya kalau udah cemburu gak tentu pasal seperti ini.”

Orlando diam.

Kuambil kesempatanku untuk balas merepetinya. “Aku bukannya gak mau belikan kemeja atau apa, aku pengen, sungguh. Tapi uangnya gak cukup.”

“Bukan itu poinnya.”

“Lantas apa?”

“Kamu selalu menempatkanku di urutan selanjutnya jika berkaitan sama Saif.”

“Setelah semua krisis yang kita lewati, setelah kita berdua sudah sama-sama membenahinya, apa hal sepele seperti membelikan kemeja buat Kak Saif pantas membuat Kak Lando tidak senang dan cemburu kayak gini?”

Orlando diam lagi.

Kuulurkan kembali tanganku ke depan perutnya dan kuletakkan pipi kananku menempel di bahu kirinya. “Kak Lando ngomongin fakta dan kenyataan, tahukah kalau ada fakta dan kenyataan yang Kak Lando lupakan?” Orlando diam. “Fakta dan kenyataan itu adalah, kamu pacarku sedang Kak Saif kakakku. Sehelai kemeja tidak akan merubah fakta luar biasa itu, Kak Saif tidak akan berubah jadi pacarku dan posisimu sebagai pacarku gak akan lengser cuma karena sepotong kemeja. Mungkin di pikiran Kak Lando, aku mencintai Kak Saif lebih besar ketimbang perasaan mencintaiku buat Kak Lando. Meskipun itu benar, dan aku yakinkan bahwa itu tidak benar sama sekali, ada perbedaan mahabesar di antara keduanya, Kak. Aku mencintai Kak Saif karena dia kakakku, dan demi segala demi, aku mencintaimu dengan cara berbeda, karena kamu kekasihku. Sehelai kemeja jelek seperti tadi tidak akan merubah fakta itu,” ulangku lagi. “Selama kamu tidak mengusirku dari hatimu, selama Kak Lando masih punya cinta untukku, maka selama itu pula status istimewa itu tak akan berubah, aku kekasihmu dan kamu adalah kekasihku.” Kupanjangkan leherku agar bisa menjenguk ke pipi Orlando lalu kuberi dia sebuah kecupan ringan. “jadi, Kekasihku yang Cakep Luar Biasa Tiada Bandingan Di Seluruh Penjuru Alam, bisakah kita melupakan semua omong kosong tentang ‘kemeja’ dan ‘menomorduakan’ ini sekarang? Karena jujur saja, aku bisa sakit jiwa jika kita terus membahasnya sepanjang perjalanan pulang yang seharusnya menyenangkan dan romantis ini…”

Sengaja kuturunkan posisi tanganku di depan perut Orlando ketika mengucapkan dua kata terakhirku barusan. Kudapati Orlando menunduk ke perutnya sekilas sebelum kembali fokus ke jalan. Dia yang hanya diam membiarkan tingkahku kuartikan sebagai tanda bahwa dia setuju dengan repetan panjangku, bahwa─meski sedikit dan harus menindih kesalnya sendiri─jatah cemburunya hari ini sudah selesai.

“Tahukah, di toko tadi saat aku bilang sedang ingin mencium Kak Lando, aku bersungguh-sungguh…”

“Aku tahu.”

“Syukurlah.”

“Dan aku mencatatnya sebagai hutangmu.”

“Aku akan segera membayarnya begitu ada kesempatan, sekaligus dengan bunganya.” Lalu kudengar dia terkekeh sendiri. Di balik punggungnya, aku menatap benda-benda yang dilewati motor kami berubah sedatar bayang-bayang lalu tertinggal di belakang sambil merekahkan senyuman. Sekali lagi, pelajaran menentramkan cemburu Orlando berhasil kumenangi.

“Omong-omong, lidahku serasa terbakar…”

Di balik punggung Orlando, aku terpingkal-pingkal.

***

Aku menemukannya sedang memilih-milih baju di depan lemari ketika pintu kamarnya kubuka. Handuk melilit sebatas pinggangnya, dia pulang terlalu telat hari ini. Aku ingin keluar saja dan membiarkan dia berpakaian lebih dulu saat dia mempersilakanku agar masuk.

“Kak Saif kira Bunda tadi yang ngetuk.” Dia menarik sehelai kaus buntung dari dalam lemari lalu kembali melirikku. “Apa itu di tanganmu?” tanyanya sambil menggerakkan dagu ke bungkusan di tanganku, setelah itu menyurukkan kedua lengan berikut kepalanya ke dalam kaus.

Aku bergerak masuk lebih ke dalam dan menutup pintu di belakangku. “Ini kemeja,” jawabku.

“Punya siapa?” tanyanya lagi sambil merapikan kaus yang sudah berhasil dikenakannya. Dia berbalik membelakangiku dan mencari-cari lagi ke dalam lemari.

“Kalau berkenan diterima, ya ini bakal jadi punya Kak Saif.”

Di depan lemari sosoknya kembali berbalik menghadapku, sehelai celana bermuda warna khaki tergenggam di tangan. “Kamu ngasih kemeja buat Kak Saif?” ada garis senyum di sekitar wajahnya.

“Ini belinya pakai duit jajan sendiri.”

Sekarang dia benar-benar tersenyum, lebar dan lama. Ditariknya handuk dari pinggang dan dicampakkan ke atas tempat tidur lalu dengan gerakan luwes mengenakan celana pendeknya. Tingkahnya mengingatkanku pada kejadian saat dia mengganti kostum basketnya langsung di depanku di lapangan basket suatu ketika dulu. Aku mengalihkan tatapanku ke dinding sambil menarik-narik kuping. Meski demikian, tetap saja celana dalam hitam pekat yang sedang dikenakannya saat ini melekat di kepala. Aku bisa mendengar bunyi zipper ditarik dari posisiku berdiri tak jauh dari pintu. Setelah selesai memakai celananya, Kak Saif mendekatiku.

“Kenapa?”

“He?”

“Kenapa Kak Saif dibelikan kemeja?”

“Oh, entah…”

Tangannya terulur dan selanjutnya bungkusan di tanganku berpindah ke tangannya. “Apa ini artinya kita udah resmi baikan seperti sediakala?”

“Gak tau.”

Kak Saif merogoh ke dalam bungkusan dan mengeluarkan kemeja yang kubelikan. Senyumnya merekah lagi. “Ini pasti mahal, kan?”

“Iya. Makanya jangan sampai tidak disukai.”

Sekarang dia tertawa.

“Sengaja Aidil pilih yang polos, biar bisa dipake buat wisuda.”

Kak Saif mengangguk-anggukkan kepalanya. “Pasti,” ujarnya. “Kemeja ini tanda kalau kamu gak marah lagi sama Kak Saif, kan? Kita udah berbaikan kayak dulu lagi, kan?”

“Meski Aidil pernah dan masih ingin menaburi mulut Kak Saif pakai lada hitam, tapi ya… sepertinya kita memang sudah enggak berseteru lagi.”

Lalu mendadak saja aku sudah dipeluknya. “Senang mengetahuinya, Lilbro.”

“Senang mengetahui kalau kita udah baikan?”

“Senang mengetahui kalau kamu pernah punya niat untuk naburin lada hitam ke mulut Kak Saif…”

Aku tertawa di dadanya. “Iya, aku sungguhan punya niat itu, biar mulut Kak Saif gak ember lagi.”

“Kalau gitu, akan kupastikan Bik Iyah selalu kehabisan stok merica di dapur, deh.”

Aku tertawa lagi, teringat olehku raut panik Mak Iyah saat menemukanku sedang meninju muka Kak Saif di halaman, bertubi-tubi tanpa perlawanan. “Maaf tempo hari Kak Saif harus kena bogemku.”

“Aku belum tau gimana rasanya ditaburi merica ke mulut, tapi kupikir itu pasti lebih mengerikan daripada dihajar tinju. Jadi, hajaranmu waktu itu bukan apa-apa, tenang saja…” Dia melerai pelukannya dan memandangku. “Bagaimana Orlando?”

“Masih seperti yang sama-sama kita tahu.”

“Apa dia memintamu mengendap-ngendap lagi malam-malam buta ke kamarnya?”

Untuk sejenak, aku bengong mencoba mencerna kalimat Kak Saif sebelum akhirnya menyadari maksudnya. Damn. Laki-laki ini tahu. Bagaimana dia bisa tahu? Aku langsung pias dan mendadak jadi salah tingkah detik itu juga. “Eng… umm…”

Lalu Kak Saif terkekeh samar. “Dasar kamu bangsat kecil.” Sebelah tangannya naik ke kepalaku dan bergerak kira-kira sepuluh kali putaran di sana, membuat rambutku jadi tak keruan rupa. Aku tak bisa berkata apapun. “Untung kamu ngasih kemeja bagus gini, kalau enggak pasti sudah Kak Saif adukan ke seisi rumah.”

Kami berdua sama-sama tahu kalau kalimat Kak Saif itu tidak bermaksud serius.

“Jadi, jam berapa balik ke rumah malam itu?”

Ditanya demikian, mukaku makin bersemu. “Kenapa Kak Saif bisa tahu?”

Dia menunjuk dinding. “Kamarmu tepat di balik dinding itu, Lilbro.”

“Tapi aku yakin gak bikin ribut saat itu.”

“Aku punya kemampuan mendengar seekor gajah,” jawabnya santai. Lalu pertanyaan selanjutnya berhasil membuatku batuk-batuk. “Ngapain aja di kamar Orlando?”

“Kaaakkk…!”

Kak Saif terkekeh lagi. “Apa dia sudah ngapa-ngapain kamu?”

Aku melotot dan menggeleng di saat bersamaan. “Aidil cuma numpang tidur di sana.”

Kak Saif menaikkan sebelah alisnya. “Numpang tidur, huh?”

“Sumpah,” cetusku sambil mengangkat dua jariku.

“Hemm… berarti Lando bohong bilangnya kamu minta dipeluk dia sepanjang malam.”

Sekarang aku sungguh-sungguh melotot besar hingga mataku nyaris meloncat keluar dari rongganya. Bagaimana mungkin Orlando berani cerita tentang itu pada Kak Saif? Keterlaluan sekali. Apa yang ada di pikirannya? Jika Kak Saif sungguh-sungguh tahu tentang ini dari Orlando, artinya manusia itu berhutang penjelasan mahajelas padaku. Dan mengingat betapa marahnya aku padanya saat ini, maka sebaiknya penjelasan itu harus bagus kalau dia gak mau kucincang hingga terkutung-kutung…!

Kemudian Kak Saif terbahak besar dan bergerak menuju lemari. Setelah menyimpan kemejanya ke dalam sana dia kembali berbalik menujuku. “Aku mengada-ada, Dil. Orlando gak cerita apapun.”

Fiuh. Aku sedikit bisa bernapas lega. Bukannya apa-apa, aku khawatir kalau Kak Saif mengetahui perihal endap-mengendap itu dari mulut Orlando sendiri, siapa yang bisa menjamin kalau Orlando yang pencemburu itu tidak melebih-lebihkan cerita demi mengesankan dirinya keren dan dipuja─well, meski dia sungguhan keren dan beneran kupuja, laki-laki itu pasti akan dengan senang hati menaikkan mutunya sendiri, terlebih lagi, bukankah dia selalu mencemburui sahabatnya ini?

“Lain kali, kalau mau mengendap-ngendap tengah malam lagi, pastikan dulu kalau seisi rumah sudah pulas dibuai mimpi, khususnya yang tepat berada di balik dinding kamarmu.”

Aku makin menunduk malu. “Tapi sungguh, Kak, Aidil gak ngapa-ngapain di sana…”

“Kamu ngapa-ngapain pun apa hubungannya sama Kak Saif? Kalian sudah sama-sama dewasa, sudah tahu mana yang tidak harus dilakukan dan mana yang boleh serta mempertanggungjawabkannya selayaknya orang dewasa, jadi, apa peduli Kak Saif kalau kalian ngapa-ngapain?”

“Aidil gak ngapa-ngapain di sana…”

“Ngapa-ngapain pun Kak Saif punya hak apa buat nge─”

“Tapi Aidil gak ngapa-ngapain, Kak, sumpah!”

Kak Saif tersenyum menatapku. “Iya, Kak Saif percaya. Kalau pun kalian ngapa-ngapain, itu pasti datangnya bukan dari adik kecilku ini,” dia menempelkan telunjuknya ke dadaku sebentar sebelum melanjutkan ucapan, “tapi dari Orlando yang kegatelan itu…”

“KAMI GAK NGAPA-NGAPAIN…!” aku mengeraskan rahangku geram.

Kak Saif tertawa. “Iya, maksud Kak Saif, jika suatu saat nanti kalian ngapa-ngapain.”

Penuh geram kutonjok perut Kak Saif, yang ditonjok batuk-batuk sambil terus tertawa-tawa. Bagaimanapun, omongan Kak Saif mengingatkanku pada obrolanku bersama Kak Aiyub dan Kak Fardeen beberapa hari lalu tentang penetrasi dan semacamnya, tak bisa kucegah wajahku untuk memerah karenanya. Kupikir, aku harus secepatnya pergi dari sini.

Aku berbalik dan hendak membuka pintu, lalu aku teringat sesuatu. Kembali kupandang Kak Saif yang masih mengelus-ngelus perutnya. “Omong-omong, makasih sudah bicara dengan Kak Gunawan buatku…”

Sekarang gantian Kak Saif yang bengong.

“Aku akan jadi orang pertama yang tidak senang dan tidak bahagia jika adikku dibuat tidak senang dan tidak bahagia…,” ucapku mengutip bagaimana tepatnya kalimat bernada mengancam yang ditujukan Kak Saif kepada Kak Gunawan.

Sekarang Kak Saif tersenyum. “Dasar bangsat kecil tukang nguping.”

Aku balas tersenyum padanya. “Kalimat itu sangat berarti buat Aidil, Kak, sungguh. Untuk itu, makasih ya…”

“Ya, bukan apa-apa kok. Tapi mungkin ini juga ada artinya buatmu,” Kak Saif berdeham, “saat itu, aku bersungguh-sungguh ketika mengatakannya,” raut wajahnya berubah serius. Kami bertatapan beberapa saat lamanya sampai Kak Saif mengalihkan perhatiannya ke jendela. “Kurasa aku sudah pernah bilang ini, meski tidak terlahir dari rahim Bunda yang sama, kamu akan tetap dan selamanya jadi adikku, Aidil.” Kak Saif kembali menatapku. “jangan lupakan itu…”

Aku tidak bisa berkata-kata. Pada titik ini, aku begitu menyadari bahwa keputusanku untuk coming out pada lelaki ini suatu ketika dulu adalah keputusan yang tepat. Rasa terlindungi yang dia kesanku buatku lewat sikap dan ucapannya begitu kentara. Kugigit bibirku di saat kurasa sisi melankolisku siap mendobrak keluar.

“Ya ampun… masa mau nangis lagi sih.” Kak Saif berjalan mendekatiku yang masih tertahan di ambang pintu kamarnya.

Aku mengangkat sebelah tanganku untuk menghentikannya. “Jangan dipeluk, nanti aku bisa nangis betulan…”

Tapi dia menyingkirkan tanganku dengan tangannya dan lalu membekap kepalaku dengan kedua lengannya. “Kuharap Orlando menyadari betapa beruntungnya dia, Dil. Kamu dan cintamu sangat patut untuk dilindungi dan diperjuangkan…”

Aku menangis tanpa suara. Cengeng sekali. Teringat olehku akan Bang Anjas dan Kak Asnia nun jauh di sana, akankah mereka menerima anomaliku selapang dada Kak Saif menerimanya jika suatu saat nanti takdir menunjukkan itu pada mereka? Akankah mereka berkata bahwa cintaku patut diperjuangkan seperti Kak Saif mengatakannya? Atau mereka malah menunjukkan kekecewaan melalui kemurkaan yang mahamurka. Aku tidak yakin.

Kudorong perlahan dada Kak Saif dan kubersihkan sisa-sisa tangisku. “Maaf,” tunjukku ke dadanya.

Kak Saif menunduk dan segera mendapati kalau baju kausnya basah air mataku di bagian dada. “Apa ini ingus?”

“Emm… sebagian besarnya air mata, tapi kayaknya yang lengket itu beneran ingus…”

Kak Saif menghembuskan napas panjang. “Seharusnya tadi aku mematuhimu untuk tidak memeluk.”

“Sorry…”

Kak Saif menarik lepas kausnya dan lalu dicampakkan ke sudut kamar di mana keranjang cucian kotornya berada. Tanpa mau repot-repot mengambil kaus pengganti, dia menarik daun pintu kemudian mendahuluiku keluar dari kamar. “Ngobrol lama denganmu ternyata efeknya bisa membuat lapar. Ayo kita periksa, apakah Bik Iyah masak enak malam ini?”

“Bukan ngobrol denganku yang bikin lapar, tapi cacing di perut Kak Saif saja yang gak pernah diobati,” pungkasku.

***

Erlangga datang ke rumah, sendirian bersama motornya, tanpa Rani Tayang. Sepulang kuliah, aku menemukan dia sedang mengobrol dengan Kak Adam yang masih mengenakan kemeja dan dasinya di depan tivi, ASJ berada dalam belitan lengan ayahnya itu dengan botol susu hampir kosong menyumpal mulut mungilnya.

“Dil, Erlangga bawa kabar bagus,” ujar Kak Adam saat aku berhenti untuk sekedar mencolek pipi bundar ASJ.

“Mbak Balqis belum pulang dari rumah sakit?” tanyaku mengabaikan pemberitahuan Kak Adam. Dapat kupastikan kalau ASJ belum mandi, tak ada bau bedak bayi yang tercium olehku saat aku menjenguk melewati bahu Kak Adam untuk mencium kepala bayi itu. Sepertinya Mak Iyah banyak pekerjaan hari ini hingga belum sempat memandikan Junior.

“Udah, bareng Kak Adam, baru saja. Tapi Erlangga bawa kabar bagus,” ulang Kak Adam.

“Junior belum mandi ya, Kak?” tanyaku lagi-lagi mengacuhkan nama Erlangga.

“Bik Yah lagi jerang air, bentar lagi Junior dimandikan mamanya,” memberitahu Kak Adam. “Dek, Erlangga bawa kabar bagus.”

“Udah tahu, paling kabar bagusnya dia mau tunangan sama Rani, apa lain?”

Di tempat duduknya, Erlangga cengengesan sebentar lalu menjangkau gelas minumnya. Entah apa yang terjadi padanya, kurasa hari ini dia berubah jadi lebih kalem. Atau, dia memang sedang belajar untuk jadi tenang dan dewasa ya? mengingat sebentar lagi status di akun Facebook miliknya bakal berganti, dari ‘berpacaran’ menjadi ‘bertunangan’.

“Iya,” ujar Kak Adam sambil melepaskan botol susu kosong dari mulut ASJ, bayi itu mengedip-ngedipkan matanya dan menampar-nampar udara dengan tangannya. Agaknya dia geram karena dipisahkan dengan botol susu yang tadi asyik diemutnya. “Susunya abis, Baby. Gak boleh ngemut botol dot kosong, nanti masuk angin…” Kak Adam bicara ke bayinya sekilas kemudian menatapku. “Erlangga ngundang kita, ikut rombongannya ngantar lamaran ke rumah Rani.”

“Memangnya dia gak berani datang sendiri, kok mesti diantar segala?” kataku sambil melirik jahil ke Erlangga.

Kak Adam tertawa. “Ngurus sendiri deh, Ngga, adikku yang ini makin nambah semesternya di efkage makin susah diajak bicara,” olok-olok Kak Adam buatku sebelum bangun dari sofa. “Yuk, Junior, kita mandi dulu…” Kak Adam menempelkan ASJ ke dadanya kemudian berlalu. Aku mengerucutkan bibirku buat ASJ yang melotot padaku lewat bahu ayahnya, bocah itu menggumam dengan suara kucingnya lalu menghentak-hentakkan diri dalam kungkungan lengan ayahnya. Aku mengikuti mereka hingga menghilang di balik dinding.

Melihat Kak Adam dan bayinya demikian rupa, sebentuk perasaan aneh mengusik di dalam diriku. Rasanya baru kemarin aku datang ke rumah ini, lari pagi untuk pertama kalinya lalu disambut Kak Adam yang masih lajang di beranda rumah. Saat itu, aku sama sekali tidak membayangkan akan melihat Kak Adam menggendong seorang bayi seperti sekarang. Saat itu, tidak sedikit pun terlintas di kepalaku kalau Kak Adam bakal jadi ayah suatu saat kelak. Begitu ajaibnya waktu merubah segala hal, nyaris tanpa disadari.

Dehaman Erlangga menarikku kembali ke ruang tivi. “Kak Adam dan Junior manis banget ya, Dil…” Kupandangi Erlangga. “Melihat Kak Adam dan Junior kayak gitu, aku malah jadi pengen cepat-cepat tamat kuliah lalu mendapatkan pekerjaan lalu menikah lalu ngehamilin Rani Tayang…” Anak itu cengengesan sendiri setelahnya.

Entah disengaja atau tidak, yang pasti, ucapan Erlangga tentang rencana masa depannya yang disampaikan dengan nada berseloroh seakan menohok ulu hatiku, berkali-kali dengan tohokan yang kuat. Tentu saja Erlangga bisa mengumbar rencana jangka panjangnya dengan gaya santai tanpa beban seperti itu─bahkan sedikit menonjolkan egonya, bukan dia yang berpacarkan Orlando, tapi aku.

“Dil, kamu baik-baik saja?”

Aku mengisi paru-paruku dan memutari sofa. “Jadi, kapan acara lamarannya dilaksanakan?” tanyaku mengabaikan pertanyaan Erlangga sambil melabuhkan bokong di posisi Kak Adam duduk tadi.

“Hari minggu ini,” jawabnya. “Undangan lisan ini atas nama aku dan Rani ya… jadi walau Rani gak ngabarin kalian buat datang ke rumahnya bukan berarti kalian gak diundang di hari lamarannya, ini aku udah wakilin. Trus biar rombonganku rame, datangnya barengan saja.”

“Iya, kalau hari minggu besok moodku bagus, deh.”

“Pasti bakalan bagus, soalnya aku juga udah ngasih tahu Orlando buat datang.” Lalu Erlangga menaik-naikkan alisnya sambil menyeringai padaku.

“Mau kutabok pake cangkir teh berani ngomong gitu di sini?!?” desisku sambil membelalak padanya.

Erlangga mengangkat dua jarinya untukku.

“Sudah, pulang sana kalau udah gak ada lagi yang mau dibicarakan.”

“Aku berencana makan malam di sini. Reunian sama masakan Bik Yah.” Erlangga bangun dari sofa, “Jadi, sambil nunggu jam makan tiba, apa aku boleh main game di kamarmu?”

“Play stationnya di kamar Kak Saif, udah jarang dipake juga,” jawabku sambil beranjak dari tempat dudukku.

“Di kamarmu kan ada CPU.”

“Terserah, aku gerah mau mandi. Lakukan saja sesukamu,” kataku sambil berjalan menuju kamar. Erlangga mengekor di belakangku.

*

Kami sedang bermain remi di balai-balai. Mukaku yang paling banyak coretan lipstiknya. Muka Erlangga masih bersih, dia selalu mendapatkan kartu bernilai besar dan jarang sekali harus mengambil dari tumpukan. Kak Saif di urutan paling banyak selanjutnya yang mendapatkan coretan lipstik Mbak Balqis setelahku, sedang Orlando baru kalah dua kali.

“Ini yang ngocokin kartu gimana sih, masa dari tadi aku dapatnya banyak keriting sama sekop!” protesku saat sekali kali aku hanya punya satu kartu merah di antara enam kartu hitam keriting dan sekop.

“Ganti sama punyaku aja, Dil…”

“Ciyeee…”

Erlangga langsung disikut Orlando yang duduk tepat di tengah-tengahku dan pacarku itu. “Gak usah, Kak. Lagian mana boleh ditukar-tukar,” tolakku.

“Nih, sebagai permintaan maaf, aku lempar keriting,” cetus Kak Saif yang tadi dapat giliran untuk mengocok kartu.

“Gak boleh ada konspirasi,” protes Erlangga. “main sportif dong!”

“Awas aja, sekalinya kamu kalah, kuhabiskan tuh lipstik dalam sekali coret,” tukas Orlando dan menjatuhkan sepuluh keriting miliknya, mengalahkan kartu Kak Saif yang bermata enam.

“Ya ampun, kalian bertiga benar-benar saling dukung ya.” Erlangga berdecak sambil geleng-geleng kepala, lalu melempar king keriting.

“Tuh kan, kartu dia gede-gede selalu,” keluhku sambil menyelipkan kembali kartu queen keriting milikku yang tadinya hendak kubuka dan menggantinya dengan tujuh keriting.

Erlangga tersenyum penuh kemenangan dan kemudian menjatuhkan jack hati.

“Sialan!”

Erlangga terpingkal-pingkal. “Ada yang gak punya hati nih!”

“Hatinya sudah dititipkan padaku sejak lama,” jawab Orlando santai sambil menjentikkan jari ke kartu miliknya.

“Apaan sih.” Kupelototi Orlando sekilas sebelum mulai mengambil kartu di tumpukan.

“Sorry, keceplosan.”

“Sering-sering aja, Do, biar Aidil marah dan kesal, trus nanti dikasih kemeja.” Kak Saif menukas kemudian melempar kartu hati bernilai dua miliknya tanpa menungguku menemukan kartu hati dalam tumpukan lebih dulu.

Aku melirik Orlando, kutemukan rahangnya mengeras. Kupikir dia sudah siap mengintervensi kalimat Kak Saif─yang kuyakin pasti tidak akan dengan kalimat bernada bagus─saat aku menemukan kumpulan kata yang tepat untuk mencegah tensinya. “Dia gak perlu membuatku kesal hanya untuk mendapatkan sepotong kemeja, karena dia bisa mendapatkan lebih daripada itu tanpa harus membuat kesal terlebih dahulu.” Kalimatku lebih kutujukan buat Orlando ketimbang untuk merespon ucapan Kak Saif.

“Kalian ngomongin apa sih?” Erlangga melirik kami bergantian. “Ada apa dengan marah dan kesal dan kemeja?”

Aku berhasil menemukan as hati. “Nih, makan!” seruku karena berhasil menandingi nilai kartu Erlangga.

Orlando tersenyum padaku. “Habis ini lempar keriting lagi, Dil. Feelingku bilang, anak songong ini cuma punya satu keriting.” Orlando menjatuhkan kartu hati bernilai lima miliknya.

Giliranku yang jalan lebih dulu. Mengikuti feeling Orlando, aku membuka kartu queen keriting yang tadi batal kulempar di putaran pertama.

“Great. I love you…,” kata Orlando lembut dan samar.

“Apa yang terjadi pada sportifitas kalian berdua?” keluh Erlangga. Dia pasti bakal menggali kartu keriting dari tumpukan kali ini.

“Sportifitasku dan Aidil sudah melebur jadi satu sejak lama, jadi kamu sudah boleh berhenti mempertanyakannya mulai dari sekarang.” Orlando mengedip padaku lalu melempar sembilan keriting berbarengan dengan Kak Saif yang menjatuhkan kartu delapan. Erlangga berlagak memeriksa kartu di tangannya ketika Orlando kembali bersuara. “Udah, tuh cari di tumpukan!”

Erlangga mesem-mesem dan mulai mencari kartu keriting. “Ya ampun, wajik semua…”

“Kapok!” cetus Orlando

“Mbak Balqis kok gak datang ngambil balik lipstiknya, ya?”

“Jangan banyak omong, buruan jalan!” timpalku.

Kak Saif terkekeh melihatku dan Orlando membully Erlangga. “Cari jokernya, Ngga.”

“Gak ada,” jawab Erlangga lesu saat meletakkan kartu keriting bernilai empat yang didapatnya dari dalam tumpukan. Sekarang di tangannya, dia memegang banyak sekali kartu.

Aku menjatuhkan keriting lagi pada giliranku selanjutnya. Dan tawa Kak Saif juga Orlando langsung tersembur.

“Kamu benar-benar sedang balas dendam ya, Dil.”

“Bukan kamu yang mukanya penuh lipstik!” cetusku pada Erlangga.

“Udah lama banget ya, sejak kita ngumpul dan tertawa-tawa kayak sekarang…” Kalimat mendadak Kak Saif membuat semua orang sesaat terdiam. “Aku jadi kangen piknik kita ke air terjun dulu itu…”

“Satu-satunya yang aku kangenin terkait piknik itu adalah, ngelihat Aidil pake boxer pendek merah menyala.”

Rasanya aku ingin menimpuk kepala Erlangga pakai batu bata.

Kak Saif terkekeh merespon kalimat usil Erlangga sedang Orlando mendiamkan diri. “Kalau kamu gak makan malam di rumah, Ngga, bisa jadi kita gak bakal ngumpul sambil main kartu begini─”

“Dan lipstik Mbak Balqis bakal baik-baik saja,” sambungku.

“Huh, padahal tadi sore kamu nyuruh aku pulang!” cetus Erlangga padaku.

“Aku ingin, sampai tua dan jadi kakek-kakek nanti, kita tetap seperti ini…”

Keheningan kembali mengisi ruang hingga beberapa saat lamanya ketika kalimat mendadak selanjutnya disuarakan, oleh Orlando kali ini.

“Rasanya selalu damai membayangkan bisa hidup hingga keriput dan botak bersama kalian…”

Kurasa, ada yang salah dengan kepala Orlando malam ini. “Langitnya keren, banyak bintangnya,” kataku berusaha mengakhiri nuansa melankolis yang tiba-tiba terasa menyesakkan buatku. Aku menjengukkan kepala melewati naungan atap balai-balai untuk memeriksa langit.

“Aku ingin melihat lu tua, Sef, jadi jelek, ompong dan ringkih hingga jangankan untuk bermain basket, buat ngesot pun butuh perjuangan besar.” Tak ada yang bersuara, padahal dalam kondisi normal ucapan Orlando pasti akan mengundang banyak tawa. “Aku juga pengen liat Erlangga gak bisa membangga-banggakan apapun yang dianggapnya keren pada dirinya selain kulit keriputnya saat itu.” Orlando menatapku, “Lebih dari segalanya, aku ingin melihat Aidil tua…” Pandanganku terkunci pada tatapan Orlando, rasanya aku menggigil. “dan menemaninya melihat dunia berubah warna sampai akhir usia…”

“Orly, sudahlah…” Aku melempar kartu terakhirku dan keluar sebagai pemenang pertama, untuk pertama kalinya sejak permainan ini dimainkan. Anehnya, aku tidak merasa gembira.

Kak Saif berdeham dan menjatuhkan kartunya, kulihat bibirnya bergerak-gerak seakan hendak berkata-kata, tapi sampai permainan selesai dia tidak mengucapkan apapun. Erlangga mendadak berubah jadi setenang telaga di hutan lindung, bahkan dia tidak mendumel sedikitpun untuk menyikapi kekalahan pertamanya dalam permainan remi kami. Aku, mendadak tidak bersemangat lagi untuk menorehkan lipstik Mbak Balqis ke muka Erlangga, tak ada yang ingin, hingga Erlangga harus mencoret sendiri pipi kirinya.

Lalu kami sama-sama mendiamkan diri. Harusnya sekarang giliranku yang mengocok kartu, tapi kupikir permainan sudah selesai, jadi aku hanya menyusun kartu-kartu itu dan memindah-mindahkannya dari tangan kiri ke tangan kanan.

“Aku menyayangi kalian semua…,” kata Kak Saif tiba-tiba.

Orlando menatap sahabat kentalnya itu, “Aku juga menyayangimu, Sef.” Lalu dia mengalihkan pandangan pada Erlangga. “dan meskipun aku selalu terlihat tidak menyukaimu dalam banyak kesempatan, itu bukan berarti aku tidak menyayangimu juga, Ngga…”

“Setiap orang punya cara masing-masing untuk mengekspresikan rasa sayang mereka.” Erlangga menyusurkan jemari ke rambutnya yang mulai panjang lalu bersandar ke dinding balai-balai. “Kurasa, cara kita menyayangi satu sama lain itu mirip, Do…”

“Banget,” kataku lirih. “Shit, kalian membuatku ingin menangis saja…”

“Itu kan memang keahlianmu sejak dulu, dasar anak kecil!” Kak Saif mengolok-olokku.

Lalu teriakan Kak Adam mengumandang dari beranda. “Siapa di antara om-om sekalian yang mau nolongin beli popoknya Junior?!?”

Kak Saif beringsut ke pinggir balai-balai. “Kupikir aku yang lebih berhak direpotkan untuk hal itu,” ujarnya pada kami. “kalian teruskan saja main kartunya.”

“Bosan, habisnya aku menang terus,” kata Erlangga menyombong.

“Setan,” balas Orlando.

“Kupikir, aku akan menemani Kak Saif ke mini market mengingat aku adalah orang kedua yang lebih berhak direpotkan untuk membeli popoknya bocah tukang ngompol itu.”

“Kalau begitu, ayo kita beramai-ramai ke mini market dan membuat sedikit keonaran di sana,” usul Erlangga.

“Sudah lama sekali aku tidak mendengar seseorang mencetuskan ide semenggiurkan itu,” sahut Orlando.

“Fix, ayo kita ke mini market!” kataku.

“Dan ketika tiba di sana, orang-orang bakal berpikir kalau kita adalah sekelompok banci magang yang belum tahu cara menggunakan lipstik dengan baik dan benar,” cetus Kak Saif.

Pada detik itu, kami saling menatap muka satu sama lain untuk beberapa ketukan, lalu sama-sama terpingkal-pingkal hingga perut melilit.

Awal Muharram 1437 H

Dariku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com