Hai, Orang Asing

Flash Fic By : I Gusti Sadewa

***

Aku mengambil tempat duduk yang memang sudah menjadi hakku. Baru saja mengusir

wanita muda yang ngotot setengah mati ingin duduk di dekat jendela tidak membuatku

merasa bersalah. Wanita itu mengganggu, suaranya terdengar dibuat-buat agar orang lain

berpikiran jika Ia punya suara yang indah. Yah, taktiknya tak berhasil. Ia justru terdengar

cempreng, sama seperti speaker hape china ‘qwerty’ yang dulu sempat melejit.

Apa? Aku egois? Bagaimana dengan orang asing yang merebut hak orang asing lain demi

egonya?

 

Setelah memasukkan koper ke dalam bagasi dan mengusir ‘mbak-mbak’ rese tadi, Aku

menyandarkan kepalaku. Mencoba menerka, apakah ini keputusan yang tepat. Meninggalkan

karierku sebagai penyiar dan menenangkan perasaanku yang tak karuan ini. Aku harap, ini

semua hanya sementara. Maksudku, Apakah Aku boleh menjadi penyiar radio lagi? Ah,

sudahlah. Aku tak berharap meski hatiku sendiri menyuruhku untuk tetap bertahan.

 

“Um, permisi. Seat B14?” tanya seseorang, mengagetkanku.

 

“Saya ada di A14, yah mungkin kursi ini milik Anda.” jawabku sambil menepuk-nepuk

bangku yang ada di sebelahku.

 

“Baiklah, terimakasih.” ucapnya.

 

Aku tak menjawab, Aku kembali larut dalam pikiranku sendiri. Sudah sedari kecil Aku

mengimpikan menjadi seorang penyiar radio dan kini impian itu hancur saat Aku mampu

mewujudkannya. Lucu, mereka bahkan tak tahu seberapa usahaku untuk menjadi seseorang

yang ‘berbeda’. Aku dulu pendiam, sangat pendiam malah. Mungkin Aku hanya akan

membuka mulutku ketika Aku terjebak dalam kobaran api besar. Mudahnya, Aku tak akan

merespons apapun yang tak memengaruhi kehidupanku. Kalian boleh memanggilku Si

Apatis.

 

“Hai.” Ia menyapa, kali ini Ia sudah duduk manis di sampingku.

 

“Oh hai.” balasku. Interaksi berhenti. Dia mulai sibuk mengangguk-anggukkan kepala,

mencoba menikmati musik, Aku rasa.

 

“Ada apa?”

 

“Oh, tidak. Maaf.” Ia mengagetkanku untuk yang keduakalinya, bedanya saat ini Aku

tertangkap basah sedang memandangi dirinya. Jujur, Aku sedang menggunakan G-dar. Yah

mungkin kalian lebih mengenalnya dengan Gay-radar. Kemampuan yang memang diperlukan

oleh kaum seperti kita untuk menilai seseorang dengan cepat dan membutuhkan akurasi yang

tepat. Bisa-bisa orang itu sudah menjauh saat kita terlalu lama menilainya atau bahkan merasa

ilfeel karena kita terlalu lama memandanginya. Oh ya, yang paling buruk adalah salah tebak.

Persetan dengan Gay-radarku yang tak berfungsi dengan semestinya.

 

Aku menyentuh panel Grindr di layar ‘smartphone’ milikku. Seketika layar berubah warna

menjadi kuning telur, untuk beberapa saat sistem mulai memindai lokasiku saat ini dan voala!

Aku berhasil log-in. Biasanya Grindr tak akan bekerja jika Aku ada di tempat kerja atau

rumahku sekalipun yang hanya berjarak satu kilometer dari gardu sutet. Ah, biarlah Aku

sedang meracau. Cukup diam dan nikmati ceritaku saja.

 

Aku mencoba mengecek, apakah ada ‘cong’ di dekat sini. Aku sudah beberapa kali

merefresh laman itu tapi yang terdekat dari posisiku adalah 1000 feet, atau setara 300 meter

jauhnya dari tempatku saat ini. Aku hanya ingin tahu, apakah Ia, seseorang yang duduk

disampingku, seorang ‘cong’ atau tidak.

 

Tak ada jaminan jika Grindr bisa diandalkan. Masalahnya adalah tak semua dari kita

menggunakan aplikasi laknat dan penuh tipu-tipu ini. Mereka cenderung menutup diri dari

hingar-bingar kaumnya sendiri. Sebetulnya itu bagus, mereka bisa menjaga diri. Tidak seperti

Aku.

 

Aku tak bosan merefresh laman sialan itu sampai akhirnya petugas tiket menyatroni tempat

dudukku. Dia meminta tiket yang sedari tadi Aku pengangi, merobeknya pada bagian ‘sobek

disini’ lalu menyimpan sebagian dan memberikan setengah bagian yang lainnya untukku.

Romantis sekali.

 

DAPAT. Aku mendapatkannya. Jaraknya hanya sekitar 1feet atau setara dengan penggaris

panjang yang kerap digunakan oleh anak-anak SD. Aku rasa Ia baru saja Online.

Ia menggunakan foto dirinya yang asli. Apa ia berpikir kucing bisa menambah daya

jualnya? Maksudku, Ia berfoto dengan kucing gendut berbulu putih. Manis sekali. Aku suka

kucing, juga dirinya.

 

Tak sabar, Aku segera mengobrak-abrik profilnya. Ada yang menarik perhatianku sampai-

sampai senyum ini merekah, hingga tanpa Aku sadari senyum ini ternyata lebih menyerupai

suara cekikikan yang kemudian berubah jadi tawa lepas. Ia menuliskan “cowok sebelah,

ganteng.” di kolom Headlines akun Grindrnya.

 

Headlines macam apa ini? Aku tertawa, tebatuk-batuk, sampai-sampai Aku sendiri tak dapat

mengontrol tawaku. Aku lepas kendali. Semua mata tertuju padaku, termasuk mata pemuda

itu.

 

“Hei, ada apa?” tanya pemuda itu. Perhatiannya tertuju padaku saat ini. Ia sudah tak lagi

menekuni smartphone dan musiknya.

 

“Oh, semua baik-baik saja. Eh, hai orang asing.” Aku mengulurkan tanganku kearahnya.

 

“Uhum. Hai.” jawabnya gugup sambil menyambut tanganku.

 

“Bolehkah Aku memanggilmu dengan Username yang kau gunakan?” Aku menyipitkan

mata nakalku kearahnya. Menyeringai.

 

“Maksudnya?” Ia sedikit terbata-bata.

 

“Maksudku. Hai, pemuda yang ‘belum pernah ML’ apakah Aku terlihat tampan bagimu?”

checkmate. Ia hanya tersenyum dan pipinya merona.

 

FIN