nay2

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Masih ingat Alvero Diggory dan atau Imamura Ryuta? Kalau enggak, manfaatkan saja kotak SEARCH di blog ini. The Roughrider adalah cerpen ‘gak pendek’ ketiganya. Masih berkutat di sekitar kehidupan Alvero dan Ryuta, meski sebenarnya aku sangat ingin mengupas latar belakang setiap tokohnya. Sekuel ini nyaris saja kuberi judul pakai nama Kiddo sebelum mulai kutulis. Tapi lalu aku berpikir, pasti susah menyeret Alvero dan Ryu ke dalam cerita tentang karakter selain mereka. Jadi kemudian, aku berubah pikiran tak jadi menulis cerita tentang Kiddo dan berusaha kembali pada dua tokoh utamanya. Hasilnya, ya begini ini, tidak bisa kubilang memuaskan dan tak bisa kuanggap tidak memuaskan, yah… fifty-fifty menurutku sendiri yang nulis.

Kalau saja aku tidak tepar beberapa hari lalu karena sakit, mungkin saja cerita ini sudah muncul jauh-jauh hari di blogku, tapi manusia memang bisa berencana namun Tuhan jua yang menentukan segala (duh, bahasanya…)

Terimakasih kepada semua sahabat yang masih setia menunggu apdetan tulisan Nayaka Al Gibran yang tetap biasa-biasa saja ini, terimakasih untuk setiap dukungan moral di timeline atau di email, terimakasih untuk setiap doa dan harapan, semoga kita semua sehat dan dijaga Tuhan dari marabahaya dunia dan akhirat, aamiin.

Selamat berkhayal bersama Alvero dan Ryuta serta rekan-rekannya dalam The Roughrider, semoga khayalannya enggak gagal ya… Last, berusahalah agar dapat menikmati membacanya seperti aku yang berusaha menikmati ketika menulisnya.

P.S : Special thanks buat temenku, Yuda ‘@kaktusius’ Tian (jangan marah, Da, namamu kupreteli hehehehe) atas covernya yang luar biasa keren itu. Di manapun kamu berada, Yuda, aku salut dengan bakatmu. Jangan kapok saat aku minta kover lagi yaa…

 

Wassalam

n.a.g

 

##################################################

 

Salah satu dari dua orang berpenampilan selayaknya koboi di dalam pagar itu bukan koboi, atau, belum menjadi koboi, ia hanya baru pandai berkuda. Tapi, salah seorang lainnya seakan terlahir di peternakan kuda hingga hampir bisa disebut sebagai koboi sejati, bahkan, ia bagai bisa memahami ringkikan setiap ekor kuda yang ia miliki di peternakannya. Ia paham setiap ringkik kelaparan, ringkik gelisah, ringkik marah, atau ringkik senang kuda-kudanya, bahkan, ia paham kapan kuda-kudanya ingin bersenggama.

“Sudah berapa ekor kuda yang berhasil kau jinakkan?” Koboi yang baru mahir berkuda membuka percakapan. Ia berdiri tiga meter jauhnya dari koboi lainnya yang sedang menyiapkan tali-temali, menatapnya dengan tatapan penuh ketakjuban.

“Apa kau juga dihitung?” balik bertanya koboi yang sedang menggulung tali.

“Aku bukan kuda dan tidak liar.”

“Oh ya?”

“Yah, walau aku punya sesuatu yang serupa seperti yang dimiliki kuda-kuda jantan milikmu di dalam sana, tapi aku bukan kuda dan aku tidak liar.”

“Tapi aku berhasil menjinakkanmu, kan?”

Si koboi tertawa. “Ya, kau berhasil menjinakkanku, dan kupikir tingkat keberhasilanmu itu luar biasa.”

“Oh, terima kasih.”

“Tapi serius, sudah berapa banyak kuda sungguhan, ehem… kalau aku bilang kuda sungguhan berarti yang kumaksudkan adalah kuda yang bisa meringkik dan punya empat kaki serta punya ekor. Nah, sudah berapa banyak kuda seperti itu yang berhasil kau jinakkan?”

“Kau juga punya ekor, hanya letaknya saja yang beda.”

“Tapi kakiku cuma dua, dan aku tidak meringkik. Oh ayolah, sudah berapa?”

“Tidak banyak, Grandpa yang lebih banyak.”

“Kau belajar darinya?”

“Grandpa bersikeras kalau menjinakkan kuda bukan hal yang bisa diajarkan, itu semacam bakat.” Ia berhenti menggulung tali dan menoleh pada lawan bicaranya. “Kata Grandpa, itu anugerah, Ryu.”

Koboi bernama Ryu tersenyum, dan mata sipitnya nyaris tenggelam saat ia melakukannya. “Sama seperti dirimu buatku, Vero, juga anugerah.”

“Apa kau sedang menggombaliku, Ryuta Kichida?”

Ryu kembali tersenyum dan berjalan mendekat, “Tergantung bagaimana cara kau menilainya, Alvero Diggory,” jawabnya sambil mengambil alih tali-tali di tangan Alvero dan melanjutkan menggulung sisanya.

“Kau jelas sedang merayuku.”

“Dan apakah kau merasa ter-rayu?”

“Hanya dalam kadar yang masih mampu kutangani.”

“Kapan kau sudah tak mampu menanganinya katakan saja, dan aku akan dengan senang hati membopongmu ke ranjang jerami di istal sana.”

Alvero terkekeh. “Keluarlah, atau tetap di sini dan diterjang kudaku.”

Ryu menyerahkan tali pada Alvero dan bergerak memanjat pagar setelahnya. Sementara orang yang disayanginya itu berjalan menyusur lorong sempit yang menghubungkan lapangan berpagar jalinan kayu-kayu dengan kandang besar berisi kuda-kuda yang belum dijinakkan, Ryu berdiri di luar pagar dengan perasaan khawatir.

Meski sudah beberapa kali melihat Alvero menjinakkan kuda dan juga sudah diyakinkan bahwa kekasihnya itu mahir dengan pekerjaannya, tetap saja perasaan takut kalau Alvero akan diinjak-injak kudanya membuat Ryu berkeringat dingin. Dan untuk menenangkan dirinya sendiri―meski sudah dilarang Alvero dan ditertawakan oleh semua orang di peternakan, Ryu selalu membawa senapan Grandpa bersamanya ketika mengawasi Alvero menjinakkan kuda. Dan sejauh ini senapan itu tak pernah menyalak karena tak ada seekor kuda pun yang berhasil menginjak-injak Alvero. Bagi Ryu, akan lebih menyenangkan baginya melihat Grandpa yang melakukan pekerjaan itu ketimbang berdiri dengan perasaan cemas ketika Alvero yang melakukan.

Di depan sana, Alvero berdiri menyisi di ceruk aman dan membebaskan kayu pintu kandang dari belitan rantai lalu mendorongnya agar terbuka sesempit mungkin untuk hanya bisa dilewati seekor kuda saja. Dan kegelisahan Ryu dimulai seketika saat seekor kuda berhasil melewati pintu dan melompat-lompat bengis menyusuri lorong sebelum bergerak gesit di tanah lapang berpagar tinggi. Pria ini memeluk senapan ke dada. Awas saja kalau kau berani menginjak seujung kuku saja tubuh kekasihku, akan kulubangi batok kepalamu hingga pecah. Ryu berharap kuda itu menerima telepati dan memahami pikirannya.

“Kau masih saja bawa-bawa senapan, Ryu-kaicho.”

Ryu menoleh pada orang yang baru saja bergabung dengannya di luar pagar. “Aku masih tidak suka dia melakukan itu, Kiddo. Harusnya dia membiarkan Grandpa yang menjinakkan kuda-kuda itu untuknya.”

“Kenapa bukan kau saja?” tanya Kiddo sambil bercengkerama pada kayu pagar. “Kau bisa jadi pahlawan lagi buatnya dengan menggantikannya menjinakkan kuda.”

“Kata Alvero, tanganku terlalu anyir. Itulah sebabnya kuda-kuda liar yang baru dijinakkan itu kerap bertingkah bagai belum pernah dijinakkan bila hendak kutunggangi.”

Kiddo mengernyit. “Tanganmu anyir? Coba sini kucium.”

“Itu metafora, Kid. Kita pembunuh, ingat? Sudah banyak darah yang tertumpah di tangan kita.” Ryu menerawang, “kupikir, kuda-kuda itu tahu…”

Di dalam pagar, Alvero mulai berlarian mengikut arah lari kudanya, tangannya sigap memegang tali yang nantinya akan dijadikan tali kekang saat sang kuda berhasil ditaklukkannya. Dan di luar pagar, Ryu tak bisa berdiri tenang tanpa debar cemas di dada dan hasrat untuk melompati pagar lalu menarik kekasihnya keluar dari sana.

“Sumpah demi apapun, Ryu-kaicho, selamanya aku tak akan punya nyali untuk menjinakkan kuda liar. Aku tak habis pikir keberanian macam apa yang dimiliki anak itu. Membunuh tidak perlu nyali sebesar itu, kan?”

“Aku lebih memilih menarik pelatuk atau mengayunkan pedang ke kepala orang ketimbang menjinakkan kuda.”

“Nah, itu yang kumaksudkan.”

“VERO, HATI-HATI…!”

Ryu berteriak ketika di dalam sana dilihatnya Alvero nyaris tersungkur sepatu bootnya sendiri. Namun sesaat kemudian laki-laki muda itu berhasil membuat keajaiban. Ia menjatuhkan talinya dan menjangkau surai sang kuda sebelum kemudian melompat gesit ke punggungnya dengan penuh kepercayaan diri.

Di luar pagar, Kiddo bersorak sambil bertepuk tangan. Di sampingnya, Ryu bernapas lega. “Pacarmu hebat, Ryu-kaicho. Kupikir kapan-kapan kau harus berlagak jadi kuda liar dan memintanya menunggangimu seperti itu,” tunjuk Kiddo ke tengah lapangan di mana Alvero sedang berkuda tanpa tali kekang. “pasti bakal seru,” sambungnya sambil menyengir.

Ryu hanya terkekeh saja menanggapi kalimat beraroma selangkangan yang dilontarkan karibnya. Namun ingatannya melayang ke malam pertama kedatangannya ke peternakan Alvero. Bagaimana dirinya dan Alvero melepas kerinduan dan hasrat malam itu sungguh tak akan pernah dilupakan Ryu seumur hidupnya. Ia ingin memberitahu pada Kiddo kalau Alvero sudah pernah menungganginya dengan cara demikian malam itu, bahkan di malam-malam setelahnya juga. Ia ingin menceritakan pada Kiddo bagaimana ganas dirinya dan Alvero bercinta di malam kedatangan mereka dulu. Ia ingin memberitahu Kiddo kalau berada di dalam Alvero adalah satu-satunya saat di mana ia merasa paling berarti dan paling dibutuhkan sekaligus paling dicintai. Ia ingin mengatakan pada Kiddo bagaimana erang dan desah Alvero serta lenguhannya sendiri adalah racikan simfoni mantra pemikat dan dalam saat bersamaan juga laksana mantra kutukan yang tak bisa ditangkal seumur hidup mereka, seakan mereka berdua sama-sama dikutuk untuk hanya bercinta dengan satu orang itu saja selama sisa usia.

Ryu ingin memberitahukan semuanya, tentang kehebatan perasaan yang sudah dan masih mengekangnya dan Alvero sedemikian kuatnya, tapi ia terlalu egois untuk berbagi dan membuat orang lain iri. Jadi, Ryu hanya tersenyum simpul sambil memandangi sosok Alvero yang terlonjak-lonjak di atas punggung kuda sambil dalam hati diam-diam berharap malam segera datang agar ia bisa melihat Alvero terlonjak-lonjak seperti itu, langsung sejengkal di atasnya.

***

“Kehadiran kalian, khususnya kau, Ryuta… membuat dia jadi sering tertawa…”

Ryu menoleh pada pria gaek yang duduk bersandar di kursi di sebelah kirinya, asap tipis keluar dari ujung cerutu yang terselip di sudut bibir pria gaek itu. “Dia sudah banyak menangis sebelum ini, Grandpa,” sahut Ryu, “dia sudah menanggung derita lebih dari yang sanggup ditanggung oleh seluruh kita di sini digabung jadi satu,” lanjutnya lalu kembali menatap Alvero yang duduk di lengan kursi yang sedang diduduki Kiddo.

Pria gaek yang dipanggil Grandpa itu mengangguk lalu menjepit cerutunya dengan dua jari. Pandangannya juga tertuju pada Alvero yang kini mulai bersenandung diiringi petikan gitar khas negerinya itu di tangan Kiddo. “Musim-musim awal aku dipekerjakannya di peternakan ini, sepanjang hari aku asyik berpikiran kalau pekerjaanku tidak memuaskannya. Dia terus saja menampilkan wajah tidak bahagia. Kau mengerti maksudku?”

Ryu mengangguk. “Tapi kau sahabat sekaligus mentor yang baik buatnya, Grandpa.” Ryu ingin memberitahukan pada pria gaek di sampingnya kalau ia telah melihat banyak lewat teropongnya dulu, kalau ia punya dasar yang kuat saat mengatakan pada si pria gaek bahwa ia adalah sahabat sekaligus mentor yang baik buat Alvero, tapi dirasanya itu sudah tak penting lagi. Mereka semua yang ada di peternakan itu kini terhubung lewat tali yang lebih kuat ketimbang tali persaudaraan, mentor atau sahabat tidak bisa dibilang lebih kuat lagi kini. Mereka, adalah keluarga.

Grandpa mengibaskan lengan di udara dan kembali menghisap cerutunya. “Segera setelah dia menyadari bakat yang dimilikinya, tanpa bantuanku pun dia bisa mengurus peternakan ini sendirian.”

“Bagaimanapun, kau yang pertama-tama membimbingnya.”

Grandpa terkekeh. “Lucu rasanya melihat anak semuda itu berada di peternakan kuda, jadi pemilik sekaligus bekerja di dalamnya. Saat pertama kali bertatap muka, saat dia berkata kalau aku akan bekerja untuknya, aku ingin tertawa saja, Ryuta.” Grandpa terkekeh lagi dan Ryu ikut terkekeh bersamanya. “Tapi hari-hari setelahnya, aku dibuat tercengang dengan kegigihannya. Jadi kupikir, aku tidak datang ke peternakan ini secara kebetulan saja, tapi Tuhan menyuruhku untuk sama-sama dengan anak muda itu, bekerja dengan kegigihan yang sama. Dan kurasa kami sudah berhasil sejauh ini.”

Ryu tersenyum pada Grandpa lalu meninggalkan kursinya untuk menambahkan balok-balok kayu ke perapian di tengah-tengah mereka. Setelahnya ia berjalan mendekati kursi Kiddo dan mengulurkan tangan pada Alvero yang disambut pria muda itu sambil tertawa-tawa.

“Ya, ajak dia menari, Kuda Jantan!” Pria besar berkepala plontos di kursi yang lain mulai memukul-mukul drum bekas yang tadinya jadi tempat ia menaruh kaki besarnya dengan penuh semangat. Sekarang bunyi petikan gitar sesekali ditingkahi bunyi tabuhan drum yang terdengar sumbang.

“Kau panggilah Kao di dalam sana dan ajak dia menari denganmu, Big Guy!” Teriak Kiddo.

“Aku khawatir membuatnya berpatahan dalam genggamanku, Kid!” balas berteriak Big Guy sambil terus memukul-mukul badan drum di depannya. “Lagipula, kupikir dia dan Yuriko-chan masih belum selesai membuatkan makan malam.”

“Aku akan melihat apakah gadis-gadis itu sudah selesai di dapur,” menjawab Grandpa lalu bangun dari kursi dan mendaki ke beranda.

“Aku kangen Barbie…,” cetus Alvero tiba-tiba di sela gerakannya bersama Ryu di dekat perapian dan itu sudah cukup untuk membuat Kiddo maupun Big Guy berangsur-angsur menghentikan petikan gitar dan tabuhan drum mereka.

Ryu memutar sosok Alvero di depannya satu kali putaran penuh lalu merangkulnya ke dada. “Aku cemburu,” bisiknya di telinga Alvero, “saat aku sedang tepat berada di sampingmu, kau masih saja kangen orang lain.” Baik dirinya maupun Alvero sangat tahu kalau kalimat itu tidak serius.

“Akh…” Kiddo mendesah dan memeluk gitarnya ke dada, tatapannya menghujam ke perapian dan untuk sesaat matanya seakan berkaca-kaca.

“Sudah berapa lama ya?” ujar Big Guy tidak bersemangat.

“Satu kali musim dingin, satu kali musim semi dan satu kali natsu…” Ryu menghirup udara bercampur asap dari unggun yang mereka buat lalu menarik lengan Alvero menuju kursi. “Sekarang sudah musim gugur lagi…”

Alvero mengikuti Ryu duduk di kursi, tepat dalam pangkuan pria itu. “Kalian tak ingin kembali ke sana, mengunjungi Barbie?”

Semua orang di halaman terdiam, Alvero menatap sosok Kiddo dan Big Guy bergantian. Saat yakin kalau dua pria di depannya itu tak akan menjawab apapun, ia menoleh pada Ryu yang duduk tepat di balik punggungnya sambil merangkulkan lengan ke pingggangnya.

Ryu mendesah menanggapi tatapan Alvero. “Kupikir, biar Kaori yang memutuskan,” katanya, lebih kepada Kiddo dan Big Guy.

Alvero manggut-manggut, “Jika Kao bilang iya, apa aku boleh ikut?”

“Kaori belum bilang apapun, Vero, kita bahkan belum memberitahukan padanya,” jawab Ryu.

“Kalau nanti saat kita memberitahukan padanya dan dia bilang iya, apa aku boleh ikut?” tanya Alvero lagi.

“Kau pantang menyerah, ya?” Kiddo menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Hei, Barbie juga temanku!” seru Alvero yang dibalas Kiddo dengan menggerakkan bahunya seolah tak peduli.

Big Guy berdeham. “Ada bahaya yang sudah dipastikan bakal menanti kami di sana, Nak,” ucap Big Guy pada Alvero. “Kalaupun nanti Kaori-chan setuju, kupikir lebih bijak kalau kau tetap di sini bersama Grandpa.”

“Aku juga tak akan mengizinkan Yuriko-chan ikut jika kita jadi ke sana. Kalian bertiga tetap di sini saja sampai kami kembali.”

Tidak puas dengan jawaban Kiddo dan Big Guy, Alvero kembali menatap Ryu yang masih mendiamkan diri. Seakan paham arti tatapan Alvero, Ryu menghembuskan napas panjang dan memundurkan punggung ke sandaran kursi malasnya. “Kita lihat saja nanti, Vero. Lagipula, Kaori belum tahu apa-apa dan belum tentu setuju.”

“Kupikir aku dizinkan ikut atau tidak, sama sekali tak ada hubungannya dengan Kao, tapi tergantung padamu.”

“Aku tidak ingin kau dalam bahaya.”

Alvero bangun dan mengibaskan lengannya gusar. “Bahaya apanya?”

“Tentu saja bahaya, bukankah sudah kuceritakan kalau kami kemari itu untuk menyelamatkan diri dari bahaya yang ada di sana?”

“Kita ke sana cuma sebentar untuk mengunjungi makam Barbie, apapun bahaya yang katamu menunggu kalian di sana tidak akan menyadari apa-apa sampai kita pergi lagi dari sana.”

Ryu menggelengkan kepalanya. “Kita sedang membicarakan Black Dragon, Vero. Mereka punya mata di seluruh Jepang.”

Alvero kembali mengibaskan lengan.

“Ya Tuhan, mengapa kau tidak mengerti juga!?” Ryu ikut bangun dari kursi. “Aku hanya tidak ingin menempatkanmu dalam bahaya, kau mengerti?”

Kiddo meletakkan gitarnya di kursi dan bangkit berdiri. “Ini bukan masalah kita, Big Guy… kurasa kita harus pergi dan membiarkan mereka menyelasaikan urusan rumah tangga mereka sendiri dengan cara mereka sendiri.”

Big Guy tidak berkata-kata. Pria besar itu bangun dari tempat duduknya dan menyusul Kiddo yang sudah lebih dulu meningggalkan perapian.

“Hey. Ryu-kaicho!” panggil Kiddo, “kau ingat apa yang kukatakan kemarin? Jadilah kuda liar…” Lalu ia terbahak-bahak sendiri.

“Tutup mulutmu dan urus saja game-mu yang tidak penting itu!” tukas Alvero kesal dan langsung membuat Kiddo bungkam.

Big Guy terkekeh sendirian. “Baru sekarang ada yang berani berteriak seperti itu saat mengatakan game-mu tak penting, langsung di depan hidungmu sendiri. Dan kau hanya diam, Kid,” bisik Big Guy, cukup keras untuk didengar semua orang yang ada di sana. “Anak itu sungguh punya nyali. Bukankah di Jepang sana orang terakhir yang merendahkan permainan ponselmu mendapatkan tembakan satu kali di pelipis?” lanjutnya.

“Dia beruntung karena kita tidak sedang di Jepang,” balas Kiddo lalu melenyapkan diri ke dalam rumah diikuti Big Guy.

Ryu kembali menghela napas panjang. Dipandangnya Alvero dengan tatapan lembut. “Kemarilah…” tapi tangannya hanya menjangkau udara kosong. Alvero menjauhkan diri.

“Vero-kun, Ryu…!” Seorang wanita cantik muncul di pintu. “makan malam sudah siap.”

Ryu menoleh ke pintu dan mengangguk pada si wanita, “Kami akan segera bergabung ke meja makan, Yuriko. Arigatou.”

Yuriko balas mengangguk dan meninggalkan pintu.

“Ayo…” Sekali lagi tangan Ryu hanya menjangkau udara kosong.

Tidak berkata-kata, dengan tampang kesal Alvero bergerak meninggalkan halaman dan naik ke beranda. Di belakangnya, Ryu mengikuti sambil geleng-geleng kepala.

*

Gerimis baru saja mengguyur atap rumah kayu itu ketika Ryu memasuki kamar. Di tempat tidur, Alvero bergelung di bawah selimut, posisi tidurnya memunggungi arah pintu. Ryu membuka kemejanya lalu memadamkan lampu utama di loteng, yang bersisa hanya lampu kecil yang menggantung lebih rendah, memberi penerangan seadanya. Setelah menanggalkan celana jins lusuhnya, pria itu naik ke tempat tidur dan merebahkan diri telentang cukup dekat dengan posisi berbaring Alvero.

Rintik gerimis yang menimpa atap terdengar bagai bunyi petikan kecapi, atau gitar kegemaran Kiddo, belum juga berubah menjadi hujan. Di kejauhan, samar guruh petir terdengar menyeling sesekali. Ryu menyibak selimut Alvero yang terjebak di bawah tungkainya lalu menelusup ke dalamnya, bergelung mengikuti posisi tidur Alvero. Pria muda itu bergeming ketika lengan Ryu menjangkau ke perutnya, masih bergeming ketika tangan Ryu membelai lembut kulit perutnya yang telanjang.

“Jangan harap aku mau menunggangimu malam ini!”

Ryu terkekeh samar dan menempelkan mulutnya ke tengkuk Alvero. Dirapatkannya dadanya ke punggung laki-laki muda di depannya yang masih bergeming dengan posisi tidurnya. “Aku hanya ingin terlelap sambil memelukmu begini.”

Alvero diam.

Lalu rintik gerimis berubah menjadi deras hujan. “Apa semua kuda sudah dimasukkan ke kandang? Agaknya hujan malam ini akan deras dan lama.”

Alvero tidak menanggapi.

“Vero?” panggil Ryu sambil mengusik pinggang celana pendek Alvero dengan jemarinya.

“Aku masih marah padamu,” ujar Alvero datar.

“Dan apa yang harus kulakukan agar kau tidak marah lagi?” Ryu kembali meratakan telapak tangannya di perut Alvero.

“Tak peduli apapun yang akan kau lakukan, aku tak akan berhenti marah padamu malam ini.”

“Benarkah?” tanya Ryu dengan nada tak yakin. Ketika Alvero tidak menjawab, pria ini tersenyum sendiri lalu kembali mengusik pinggang celana pendek Alvero, kali ini jemarinya bahkan mengusik jauh ke bawah.

Kenyataannya, Alvero hanya sanggup bertahan beberapa detik saja. Detik ketika tangan Ryu bergerak lembut tepat di pangkal pahanya, pria muda itu berdecak kesal dan merubah posisi tidurnya. Dipeluknya pinggang Ryu dan dibenamkannya wajahnya ke dada sang pria.

Ryu tersenyum sendiri mendapati begitu cepatnya Alvero menyerah padanya. “Apa aku harus membuka sendiri celanaku atau kau mau membantuku melakukannya?” bisik Ryu di telinga Alvero.

Alvero tidak menjawab, tapi kemudian ia bergerak bangkit dan tangannya bergerak luwes menurunkan pinggang celana pendek yang dikenakan Ryu, membebaskan kejantanan pria itu seutuhnya dari kungkungan celana pendek sekaligus celana dalamnya dalam waktu yang begitu singkat, tak sampai sekejapan mata.

Ryu menggumam samar dan berbalik menelentang, menekuk kedua lengannya ke bawah kepala dan mengikuti pergerakan Alvero dengan pandangannya.

Alvero mula-mula hanya duduk di tempat tidur dan memandang Ryu tanpa berkedip, seolah-olah baru pertama kali ini dirinya berada seranjang dengan pria itu. Setelahnya, ia menyibakkan selimut hingga menumpuk di bagian kaki tempat tidur lalu mendaki ke atas sosok Ryu dengan gerak perlahan, mengangkang di atas perut prianya itu.

Ryu mendesah ketika jemari Alvero bergerak penuh perasaan di sekitar perutnya yang berpetak-petak, seakan Alvero sedang menghitung setiap lekuk yang terpahat di perutnya. Lalu jemari Alvero bergerak naik menuju dadanya, membelai setiap parut melintang bekas hajaran pedang yang tercetak di dada lebar itu. Di satu parut, jemari Alvero berhenti bergerak. “Kau masih pandai menggunakan pedangmu?”

“Cukup pandai untuk membuatmu mengerang-ngerang. Kenapa?”

Alvero menggeram sementara Ryu tertawa kecil karena berhasil menggoda pria muda yang masih menduduki perutnya itu.

“Hemm, aku sudah belajar menggunakan samurai sejak kecil, Vero. Tidak memegang samurai dalam waktu setahun lebih tidak serta merta membuatku tak bisa lagi mengggunakannya.”

“Kau membawanya ke sini?”

“Kau akan akan melihatnya kalau aku membawanya ke sini.”

“Maksudku, ke sini ke negaraku. Mungkin kau menyimpannya di suatu tempat.”

Ryu menggeleng. “Kalau aku menyeberangkannya ke mari, aku tak akan menyimpannya, tapi pasti akan kugunakan selama berjaga-jaga saat kau menjinakkan kuda-kuda itu.”

“Kenapa kau tidak membawanya?”

Ryu terdiam. Pikirannya tertuju pada samurai pemberian Tanaka-dono yang ikut dikuburkan Big Guy bersama si orang tua di pekarangan rumah Yuriko. ‘Itu sudah diwariskan padamu, Ryu, tapi kalau kau ingin meninggalkannya di sini, aku tak bisa melarang. Tapi kuharap kau tahu apa yang kau lakukan, tidak mudah mendapatkan samurai sebagus ini di luar sana, kau lebih tahu tentang samurai milik Tanaka-dono itu ketimbang siapapun di antara kita di sini’. Kalimat bernada keberatan yang diucapkan Big Guy padanya dulu, kini kembali terngiang. Sedikit, Ryu menyesal tidak mendengarkan nasihat itu.

“Ryu?”

Ryu memfokuskan pandangannya kembali ke sosok Alvero. Depegangnya tangan Alvero yang masih berada di atas dadanya. “Tak ada samurai yang begitu kusayangi di sana untuk kubawa ke sini, satu-satunya samurai yang terakhir kupegang dan kupikir akan jadi samurai kesayanganku malah kutinggalkan di sana. Kurasa memang lebih baik tetap di sana.”

“Kalau kau ingin, kita bisa mendapatkannya di sini. Aku tahu tempat yang menjual barang-barang seperti itu.”

Ryu mengernyit.

Alvero menelan ludah. “Emm… sejak kau pergi waktu itu, benda yang paling kuingat adalah pedang pendek milikmu―”

“Yang berada di antara dua pahaku?” potong Ryu.

“Aku serius!”

Ryu terkekeh dan menarik tangan Alvero ke mulutnya.

“Setelahnya, aku mulai tertarik mencari tahu apapun tentang negerimu, termasuk samurai.”

“Dan kau tersesat ke tempat yang kau katakan itu?”

Alvero mengangguk.

“Hebat.”

“Aku ingin membeli, awalnya. Tapi lalu kupikir, buat apa?”

“Ya, buat apa?” Ryu menggelengkan kepalanya. “Kau akan kerepotan sendiri kalau memilikinya.”

“Iya. Jadi, aku sudah merasa cukup gembira kalau sesekali bisa berkunjung ke sana untuk mengingatmu.”

Ryu mendiamkan diri beberapa saat sambil membelai pergelangan  tangan Alvero di dadanya. “Suatu saat nanti, aku akan mengajarimu cara menggunakan pedang.”

“Aku sudah tahu. Apakah kau lupa?”

Ryu paham betul yang dimaksudkan Alvero adalah kejadian saat ia menghabisi Vasgo Quentin lebih delapan belas bulan yang lalu. “Kau kan hanya tahu cara menggunakannya ketika lawanmu terikat, bagaimana kalau lawanmu bebas?”

Alvero menyengir. “Kan ada kau.”

“Baiklah…” Ryu tertawa pendek dan kembali menekuk lengannya ke bawah kepala. “Sekarang, bisakah kau menelanjangi dirimu sendiri dan membiarkan aku membuktikan kalau aku ada dengan cara yang tak pernah gagal untuk kau sukai?”

Alvero tidak mengindahkan suruhan Ryu, alih-alih menanggalkan celananya, ia malah menjangkau ujung selimut di bagian kaki tempat tidur dan menariknya untuk menutupi dirinya dan Ryu sebelum berbaring menelungkup di atas orang Jepang itu. “Sudah kubilang, aku tak akan menunggangimu malam ini dengan cara apapun,” cetus Alvero lalu membisukan diri.

“Arrrgghh…!” Ryu menggeram sambil membenturkan tengkuknya ke lengan sendiri. “Kenapa kau membuka celanaku kalau hanya untuk membiarkan kejantananku menganggur?”

“Agar kau tahu betapa menyiksanya tidur telanjang bersamaku tapi tak bisa menyetubuhiku. Dan agar kau belajar untuk tidak membantah keinginanku lain kali, dasar kau Buronan Black Dragon.”

Sekali lagi Ryu menggeram sendiri. Tapi ketika Alvero mencium dadanya tepat di pertengahan dan lalu menyurukkan sebelah lengan ke belakang ketiaknya untuk memeluknya sedemikian rupa sedang tangan yang lain terkulai di tepi dadanya, senggama mendadak menjadi tak penting lagi bagi Ryu. Lalu ia merasakan kegembiraan aneh mendapati malam ini Alvero merebahkan diri tepat di atas tubuh telanjangnya, langsung beralaskan dirinya. Dan Ryu menanti detik-detik dirinya terlelap dengan memandangi kepala Alvero di atas dadanya, ditemani guruh hujan di luar sana dan hembus teratur napasnya yang ditingkahi napas Alvero di dalam sini.

***

“Kita akan berkuda ke mana?”

“Kukira bunga-bunga liar di sana sedang mekar, Yuriko-chan.” Kiddo membantu kekasihnya memanjat ke pelana sebelum dirinya ikut naik ke atas kuda yang sama. “Kata Vero itu adalah tempat terbaik untuk dikunjungi para gadis di musim begini.”

“Oh, aku sudah lupa kapan kali terakhir aku tertarik pada bunga seperti layaknyaseorang gadis,” menjawab Kaori di atas kudanya sendiri. “Tapi kalau Vero bilang itu adalah tempat terbaik untuk dikunjungi para gadis, aku sudah tidak sabar ingin merasakan sensasi jadi gadis kembali.”

Alvero tertawa. “Kau memang masih seorang gadis, Kao, yang paling cantik malah. Tanya saja Big Guy,” katanya sambil menggerakkan dagu ke arah Big Guy yang sedang menyiapkan pelananya.

Kaori terkikik menemukan Big Guy yang kikuk sendiri sambil mengelus kepala plontosnya.

“Apa kita bisa segera berangkat?” Yuriko bertanya tak sabar.

“Sabar, Baby…” Kiddo memeluk pinggang ramping Yuriko dan gadis itu memberinya ciuman di pipi. “Ryu-kaicho agaknya sedang dibenci semua kuda hari ini.”

“Shit!” Ryu mengumpat saat kuda ketiga yang baru saja berhasil didudukinya setelah usaha lumayan keras malah bergerak-gerak liar seperti hendak melemparkannya. “Vero, tolong aku!” serunya.

Alvero mendesah malas dan meloncat turun dari kudanya. Didekatinya kuda yang sedang marah itu dan dipegangi tali kekangnya. Ajaib, si kuda langsung berdiri diam begitu tali kekangnya dipegang Alvero. “Jangan nakal,” ujar Alvero sambil mengelus-elus moncong si kuda. “Ini Ryu,” Alvero meraih tangan kanan Ryu dan menempelkannya di wajah si kuda, si empunya tangan terpaksa harus merunduk nyaris rata di atas punggung kuda. “dia orang baik, kalau tak ada dia, kau dan aku juga tidak akan bertemu.” Si kuda meringkik samar lalu mengendus-ngendus, matanya menatap Alvero seolah mengerti semua yang diucapkan laki-laki itu. “Dia juga sangat menyayangiku dan aku juga sangat menyayanginya, jadi, Kuda, tolong bersikap baiklah padanya dan jangan lempar dia dari atasmu, karena jika sampai dia jatuh dan cidera, aku akan sedih sekali. Kau tak ingin membuatku bersedih, kan?”

Di atas punggung kuda, Ryu memandang Alvero berbicara dengan tunggangannya sambil tersenyum sendiri. “I love you…,” bisiknya pelan, hanya cukup untuk didengar Alvero, dan si kuda tentu saja.

Alvero menjauhkan tangannya dari atas punggung tangan Ryu yang masih menempel di wajah kuda lalu melepaskan tali kekang. Dia mengedip pada Ryu lalu mundur teratur sampai tiba di posisi kudanya sendiri berdiri.

“Hebat,” puji Kaori sambil merapikan poninya di bawah topi lebar yang terlihat kebesaran untuknya.

“Apa sekarang aku sudah boleh menggebrak bokongnya?” tanya Ryu sambil perlahan-lahan menegakkan badan.

“Coba saja,” jawab Alvero.

Ryu mengeratkan genggamannya pada tali kekang lalu menyentakkan kedua kakinya untuk menggebrak si kuda. Ketika kuda itu berlari pelan dengan tenang, Ryu tertawa besar dan membungkuk menciumi surai kuda tunggangannya itu. “Kurasa sekarang sudah saatnya menuju ke tempat di mana kau akan merasa menjadi seorang gadis lagi, Kaori…”

Semua orang lalu menggebrak tunggangannya masing-masing.

Di beranda, Grandpa duduk malas sambil menghisap cerutunya. Tempat yang dikatakan mereka penuh bunga liar di sana itu bukanlah tempat yang tepat untuk orang tua sepertinya, jadi, ia memilih apa yang menurutnya lebih sesuai untuknya : merokok cerutu di atas kursi malasnya.

Yang orang-orang itu tidak ketahui adalah, ratusan meter di kaki perbukitan sana, terlindung pohon-pohon besar di sepanjang bahu jalan menuju peternakan, sebuah minivan terparkir dengan cara tersamarkan sedemikian rupa, pengemudinya sedang serius meneropong. Ketika dirasanya cukup melihat, si pengemudi merogoh saku celana dan mengeluarkan alat komunikasinya, langsung berbicara pada siapapun lawan bicaranya saat ini. “Tidak diragukan lagi, itu sungguhan dia. Selamat, setelah pencarian panjang, kau menemukan juga permatamu yang hilang…”

Si pengemudi menyimpan kembali alat komunikasinya, menyalakan mesin minivan dan melaju pergi.

*

Kuda-kuda tertambat begitu saja seadanya di sekitar mereka, merumput dalam diam. Sungai dangkal berair jernih yang alirannya turun mengikuti lekuk perbukitan ke kaki gunung jauh di bawah sana tampak bagai kolam permata, permukaannya berkilauan diterpa matahari siang. Di sepanjang aliran sungai dan puluhan meter di kedua sisinya kiri kanan, bunga-bunga liar yang tumbuh bergerombol dan merambat subur sedang berada pada tahap paling mekar-mekarnya, beragam warna dan corak membuat area itu terlihat layaknya permadani raksasa nan indah dan lembut.

Big Guy sedang mengobrol bersama Kaori di tepi sungai, duduk di dua batu terpisah. Entah apa yang mereka obrolkan, tapi itu tentu hal lucu, karena Kaori tak habis-habisnya terkikik di atas batunya.

Kiddo dan Yuriko menggeletak belasan meter dari tepian sungai, nyaris tenggelam dalam sulur-sulur bunga liar, berbaring bersisian menjalin jemari satu sama lain, menatap langit, dan dimabuk cinta.

Puluhan meter dari posisi Big Guy dan Kaori mengobrol dan Kiddo dan Yuriko tidur bersama, di aliran sungai dangkal itu, Ryu sudah bertelanjang dada, sudah setengah basah, dan sudah sejak setengah jam yang lalu sibuk menikam air ke sana ke mari bagi seekor cheetah dengan pedang pendek yang hampir selalu dibawanya ke mana-mana, sementara Alvero duduk enak-enakan di atas batu besar, menjaga hasil tangkapan Ryu yang dengan amat sangat terpaksa harus dimasukkannya ke dalam topi pria itu.

“Sudah berapa?” tanya Ryu dengan dada naik turun, bercak-bercak air memercik di seluruh kulitnya yang terbuka, juga di wajahnya.

Alvero menjenguk ke dalam topi di tangannya. “Belum cukup untuk semua orang.”

“Maksudnya, belum cukup untuk Big Guy, huh?”

Alvero tertawa. “Dengan badan sebesar itu, siapapun orangnya pasti butuh banyak makan.”

Ryu tergesa-gesa menerkam sungai, menerkam lagi dan berkali lagi kemudian sampai ia berhasil menusuk seekor ikan besar yang tadi dilihatnya. Di atas batu, Alvero memandang sosok Ryu tanpa berkedip. Ia tidak ingat kapan kali terakhir dirinya melihat pemandangan otot-otot Ryu yang basah air merenggang dan mengencang sedemikian rupa. Dan ketika sekarang memandangnya, Alvero terpesona. Maka, ketika Ryu mendekatinya untuk memasukkan hasil tangkapannya ke topi, Alvero menjangkau pinggang celana jins Ryu, menarik pria itu agar merapatinya lalu mencium bibirnya yang basah terpercik air dengan kehausan seorang musafir.

Ryu menyeringai ketika Alvero memundurkan wajahnya yang menyemburat kemerahan. Alvero menunduk, menatap sebelah tangannya sendiri yang belum melepaskan pinggang celana Ryu.

“Vero?” panggil Ryu dengan suara seraknya yang hampir tidak kedengaran. Alvero mendongak. “Apa ikannya sudah cukup?” tanya Ryu dibarengi senyum misterius. Alvero mengangguk ragu. “Berapa lama waktu yang kita punya sampai mereka berkerumun ke mari dan membakar ikannya?” lanjut Ryu sambil kian mendekatkan dirinya. Rona merah di wajah Alvero makin kentara, ia diam tak menjawab. “Sini topinya…”

Ryu mengambil topi di tangan Alvero lalu melangkah ke tepi sungai. Setelah meletakkan topi penuh berisi ikan itu jauh dari pinggiran sungai, pria itu kembali lagi ke batu besar tempat Alvero duduk menunggu. Mereka lalu sama-sama melempar senyum. Alvero tersenyum karena merasa lucu melihat ekspresi yang diperlihatkan Ryu yang di matanya tampak bagai rona kegembiraan polos seorang bocah, sedang Ryu tersenyum karena Alvero tersenyum.

“Jadi, sekarang apa?” tanya Alvero, entah karena ia memang tak punya ide terhadap apapun yang akan dilakukan Ryu atau ia hanya pura-pura tak tahu.

Ryu tak menjawab dengan ucapan. Ia melepaskan topi dari kepala Alvero dan menaruhnya di batu lain di sekitar mereka, selanjutnya dengan tenang ia mulai membuka kancing kemeja flanel yang masih dikenakan Alvero, menarik ujung-ujungnya keluar dari dalam jins dan membuntalnya sebelum bergabung dengan topi yang sudah lebih dulu diletakkannya di atas batu.

Ketika Ryu mulai membuka kancing jinsnya, Alvero memerosotkan diri dari atas batu dan berdiri di air. Tak tinggal diam, tangannya bergerak untuk balas membuka kancing celana pria di hadapannya.

Mereka saling mencium. Mereka saling menempel. Mereka saling menyentuh. Mereka saling melepas hasrat, dengan pinggang celana masing-masing yang sudah merosot hingga ke lutut.

Ryu mengangkat sosok Alvero, menggendongnya di perut dan lalu menyeringai. “Ini tak akan memakan waktu lama, Vero…”

Alvero mendiamkan diri, kedua lengannya merangkul erat leher pria yang sedang menggendongnya itu. Saat Ryu mendorong dirinya untuk masuk, Alvero menggigit bibirnya, membenamkan wajahnya ke rambut tebal Ryu dan mengerang di sana. “Ryu…”

“Hemm…”

Mereka berdua sama-sama tahu, panggil dan gumam itu bukan bentuk protes dan atau bentuk keberatan, itu hanya cara mereka berbicara ketika keduanya sudah terhubung. Alvero mencari-cari mulut Ryu dan segera melumatnya begitu ketemu. Ryu menggerakkan dirinya lamban saja mulanya, tapi ketika Alvero mengingatkan kalau mereka tak punya waktu seharian, pria itu beringsut untuk membuat rapat punggung Alvero ke batu besar dan gerakan pinggulnya berubah sekencang mesin jahit detik itu juga.

Mereka berkeringat, keduanya seperti bercahaya ditimpa sinar matahari. Alvero menggigit bahu Ryu yang menunduk di atasnya ketika dirasanya ia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Ryu melenguh, entah karena gigitan Alvero yang mendadak itu entah karena orgasme Alvero memberi pengaruh luar biasa juga terhadap dirinya. Ryu bergetar, giginya bergemelutukan. Sekali lagi ia melenguh dan menghentakkan dirinya dalam hujaman yang seakan ingin meremukkan Alvero. Lalu keduanya menggeletak bertindihan di batu, tetap begitu sampai napas keduanya teratur kembali.

Ryu merapikan celana dan langsung berbaring di air, memejamkan matanya dari hajaran terik matahari siang. Alvero mengikuti merapikan celana dan ikut berbaring di air, kepalanya di dada Ryu, ia lalu tersenyum sendiri. Yang barusan, adalah seks spontan dengan durasi tersingkat yang pernah dialaminya bersama Ryu, namun dalam saat bersamaan tadi itu juga adalah seks paling menantang dan menegangkan sejauh simbiosis mereka selama ini.

“Kita harus sering-sering ke mari,” kata Alvero.

“Untuk?” tanya Ryu meski sudah paham.

“Untuk tadi.”

Ryu mengusap kepala Alvero di dadanya. “Sejak kapan kau jadi begitu terobsesi untuk bercinta denganku di alam liar?”

“Sudah kuputuskan, sejak barusan.”

Ryu tertawa. “Ayo, kita bersihkan ikannya.”

*

Kiddo berkelit gesit ketika bambu di tangan Ryu menelusup siap memukul pinggangnya. Saat sekali lagi bambu Ryu melesat cepat menuju kepalanya, laki-laki itu merunduk cepat dan mengacungkan bambu di tangannya sendiri untuk menangkis serangan. Jengkel karena dua serangannya berhasil dipatahkan Kiddo, Ryu mengubah tak-tik serangan. Jika tadi ia menyerang tubuh bagian atas Kiddo, maka kini Ryu melancarkan serangan ke kaki laki-laki itu. Bambunya bergerak cepat tak ubahnya gerakan katana, menyasar tulang kering dan pergelangan kaki. Akibatnya, selain sibuk menangkis serangan, kini Kiddo juga terpaksa dibuat lompat-lompat. Meski begitu, masih sempat-sempatnya ia mengolok-olok Ryu.

“Ryu-kaicho, gerakanmu jadi lamban sekarang, padahal dulu kau bisa lebih cepat dari ini.”

Ryu menyeringai, dan sedetik kemudian ia kembali mengubah sasaran serangan bambunya. Pinggang Kiddo berhasil digebuknya hingga yang punya pinggang mengaduh sakit. Belum sempat Kiddo menguasai dirinya, lagi-lagi bambu di tangan Ryu bergerak cepat, kini menyasar pergelangan kakinya kiri kanan sekaligus. Sadar-sadar, Kiddo sudah terjengkang di rumput, ujung bambu Ryu tepat menekan pangkal lehernya, membuatnya tak berkutik lagi. “Aku masih cepat, Kid, penglihatanmu saja yang lamban,” kata Ryu.

Big Guy bersorak, sedang Kaori bertepuk tangan. Yuriko menatap Kiddo sambil mengulum senyum, “Bagaimanapun juga, kau sudah berusaha, Baby!” serunya. “dan tadi itu hebat!”

Alvero meninggalkan batang pohon yang menjadi tempatnya bersandar. “Kao, kau mau melawanku?”

“Aku?” tanya Kaori sambil menunjuk dirinya sendiri. Saat Alvero mengangguk yakin, gadis itu berdiri dan mengambil alih bambu di tangan Ryu. “Kau belum mengajarinya apapun tentang pedang, kan?” tanyanya pada Ryu.

“Maksudnya, mengajarinya pedang secara harfiah atau kiasan?” tanya Ryu konyol.

“Aku tidak sedang membicarakan bagian bawah pinggangmu, Ryu,” sergah Kaori gusar.

Ryu menggaruk-garuk kupingnya lalu menggeleng. “Dia tak minta diajarkan.”

Alvero mengambil bambu di tangan Kiddo, sempat merunduk dan berbisik untuk bertanya pada pria itu. “Bagian paling lemah Kaori ada di mana?” bisiknya.

“Dadanya,” balas berbisik Kiddo sebelum tertawa bekakakan.

“Oh, kukira poni uniknya,” tukas Alvero dan membuat Kiddo makin kencang terbahak.

“Kau siap?” tanya Kaori begitu sudah berhadap-hadapan dengan Alvero.

“Entahlah.”

Semua orang yang menyaksikan tertawa riuh mendengar jawaban Alvero.

“Ayunkan saja bambunya, Vero!” seru Ryu, “itu yang penting.”

“Kau boleh menyerang lebih dulu.” Kaori mempersilakan.

“Kau yakin?” tanya Alvero.

“Entahlah,” balas Kaori.

Semua yang melihat kembali tertawa.

“Jangan pura-pura mengalah, ya!” kata Alvero.

“Haik!”

Alvero memegang salah satu ujung bambu dengan kedua tangan, mencengkeramnya sekuat tenaga sampai buku-buku jemari tangannya memucat. Lalu ia melompat untuk menyerang Kaori yang masih berdiri anteng di tempatnya.

TAK

Dua bambu beradu mengeluarkan bunyi nyaring ketika Kaori mengangkat bambunya dan menangkis serangan Alvero yang menyasar dadanya. Di tempat duduknya bersama Yuriko, Kiddo tertawa lucu sendiri. “Bagus, Vero… itu yang kumaksudkan!”

“Apa yang kau maksudkan, Bocah Mesum!?” bentak Kaori. Namun belum sempat ia menagih jawaban Kiddo, bambu Alvero kembali melayang menuju dadanya, ditangkis, melayang lagi, ditangkis lagi, kembali melayang ke tempat semula. “Sialan, Vero, kalau terus-terusan menyerang dadaku, kau bisa kugebuk betulan!”

“Gebuk saja kalau bisa!” balas berteriak Alvero penuh percaya diri.

Lalu

BUKKK

Alvero mengaduh kesakitan saat punggungnya berhasil digebuk bambu di tangan Kaori.

Big Guy tertawa kencang, sedang Ryu mengulum senyum melihat kekasihnya berusaha menjangkau punggungnya yang kena pukul dengan tangannya yang tidak memegang bambu, ia kesulitan mengelus punggungnya yang kesakitan.

“Akrabi saja rasa sakitnya, Vero, terima dan jangan dirasakan, nanti jadi biasa. Ayo serang balik, kau pasti bisa!” seru Ryu, “jangan terlalu kencang memegang bambu, jangan terlalu longgar juga!”

“Vero-kun, ganbatte…!!!” di tempat duduknya, Yuriko ikut menyemangati.

Alvero melupakan rasa sakitnya dan merangsek maju dengan bambu yang sudah kembali dipegang dengan kedua tangan seperti yang disuruh Ryu. Kaori membiarkan Alvero yang melakukan serangan, ia hanya berkelit dan menangkis, masih belum ingin melancarkan serangan balasan, padahal ia jelas melihat kuda-kuda Alvero yang lemah, jika mau gadis itu bisa melakukan satu saja serangan dan Alvero pasti akan terjengkang. Namun yang dilakukannya sejauh ini hanya bertahan dari serangan acak yang dilancarkan Alvero ke seluruh bagian tubuhnya.

Lama-kelamaan, Kaori merasa kewalahan juga. Alvero menyerang dirinya seakan tiada lelahnya. Saat Kaori merasa cukup bermain-main, diputuskannya untuk menyerang kuda-kuda Alvero dan mengakhiri pertarungan. Penuh yakin, Kaori merendahkan posisi sedemikian rupa dan mengayunkan bambunya dengan gerakan cepat, yakin sekali ia akan membuat Alvero terjerembab. Namun…

TAKKK

Kaori kecele, kenyataannya Alvero mampu menangkis serangan bambunya yang sebat itu sebelum menyentuh kakinya. Dalam kagetnya, Kaori lengah dan ujung bambu Alvero berhasil membuat tanggal satu kancing paling atas kemejanya, nasib baik kulit dadanya tidak tergores.

Semua orang bersorak. Kiddo sampai bangun dari duduknya.

Kaori melotot geram pada Alvero. “Sudah kubilang, jangan dadaku!”

Dalam marahnya Kaori meloncat gesit, detik berikutnya, bambu di tangannya bergerak cepat menyerang Alvero hingga laki-laki muda itu harus mundur dan terus mundur. Kaori tidak memberi Alvero kesempatan menyerang lagi, ia sudah berhasil memukul bahu Alvero, menggebuk pinggangnya, menghajar betisnya sebelum membuat Alvero terjengkang di rumput.

“AKU KALAH. STOP!!!” teriak Alvero saat bambu di tangan Kaori melayang cepat menuju batok kepalanya.

Kaori membatalkan serangan lalu meniup poninya. “Rasakan!” umpatnya lalu berbalik meninggalkan Alvero yang sedang berusaha bangun dari rumput. Kemudian, Kaori berbalik. “Ngomong-ngomong, tadi itu hebat, Vero. Kalau Barbie ada di sini, dia pasti akan langsung menciummu saking gemasnya.”

Alvero bangun dan duduk bersila di atas rumput, ditatapnya Kaori. “Kau kangen Barbie tidak, Kao?”

Kaori langsung terdiam.

Ryu berdeham, ia sadar apa yang akan disampaikan Alvero pada Kaori dan Ryu belum ingin membuka percakapan lanjutan terkait Barbie yang dikiranya sudah dilupakan Alvero sejak malam itu. “Kurasa sudah saatnya kita pulang,” katanya lalu bangun dari tempat duduknya di bawah pohon.

“Bagaimana menurutmu, Kao―”

“Vero, sudahlah.” Ryu memandang Alvero lekat.

“Kao, bagaimana kalau kita menyambangi makam Barbie, kau setuju?” Alvero tak peduli pada tatapan Ryu.

Sejenak, Kaori memandangi rekannya satu persatu.

“Kao, mereka setuju kalau kau bilang iya.”

Kaori kembali memandang Alvero. “Yah, kita semua memang kangen Barbie, Vero…”

“Kalau begitu ayo kita mengunjunginya.”

Kaori diam dan memandang Ryu, pria itu menggeleng samar. Kaori kembali memandang Alvero. “Kurasa, Vero, bijak bagi kita semua untuk tetap di sini.” Kaori memeluk bambu ke dada, “tapi bukan berarti kami tak ingin menjenguk Barbie, kami ingin, sungguh. Dibandingkan kau, aku, Ryu Kiddo dan Big Guy adalah orang yang paling lama bersamanya, jika kau yang hanya mengenal Barbie sehari saja begitu ingin menyambangi makamnya, maka percayalah, kami lebih ingin lagi, Vero… namun kondisi yang belum memihak kita. Kau mengerti, kan?”

Alvero tidak menjawab Kaori, tapi ia memandang Ryu lekat-lekat. Alvero yakin jawaban Kaori dipengaruhi oleh pria itu. Ia bangkit berdiri. “Aku hanya ingin mengingatkanmu, kalau-kalau kau lupa, Tuan Black Dragon yang Hebat…,” semua orang pasti tahu kalau kalimat Alvero lebih ditujukan kepada Ryu. “Aku pernah berada begitu dekat dengan bahaya selama hidupku, begitu dekatnya hingga aku nyaris yakin kalau bahaya itu adalah kutukan seumur hidupku. Jadi, kalau katamu kita tak bisa ke sana karena ada bahaya yang menanti, kataku, it’s bullshit!

Damn it, Vero!” Ryu ikut berdiri. “Kenapa kau tidak mengerti juga, hah?”

Semua orang diam.

“Karena aku tahu betapa bahayanya hidup yang pernah kau rasakan dulu, maka aku tak ingin melihatmu berada dalam bahaya apapun lagi, aku ingin kau aman, hidup, bebas dan baik-baik saja seperti kini. Mengapa kau tidak bisa memahami pemikiran itu?” Ryu setengah berteriak.

Alvero mendengus.

“Obrolan tentang mengunjungi Barbie cukup sampai di sini. Aku tak mau dengar apapun lagi tentang pergi ke sana mengunjungi makamnya.” Ryu berbalik menuju kudanya.

“Jadi begitu saja, sahabatmu jadi bukan apa-apa lagi dan jadi tak punya arti sama sekali setelah ia mati?” kejar Alvero. “saat aku mati nanti, kurasa kau malah akan memperlakukanku lebih tidak berhati lagi.”

Ryu berang. “Sialan, Vero!”

“Kau yang sialan, Ryuta Kichida!”

“Sebut satu alasan, Vero, satu alasan,” Ryu mengacungkan telunjuknya dan mendekati Alvero. “Mengapa kau begitu ingin ke sana, begitu ingin…”

“Karena tanpa Barbie mungkin aku masih berada di dalam kamar terkutuk itu, Ryuta Kichida. Karena tanpa kehadiran Barbie mungkin aku masih hidup layaknya binatang di tempat biadab itu…”

Ryu jadi terdiam.

“Jangan abaikan peran Barbie dalam membebaskanku.” Alvero menoleh pada semua orang, menatap Kaori, Big Guy, Kiddo dan kembali lagi pada Ryu. “Kalian dulu adalah tim, jika satu saja di antara kalian tak ada waktu itu, mungkin takdirku akan lain.” Lalu Alvero mulai berkaca-kaca. “Kau tahu kesedihan macam apa yang menderaku saat kau mengabarkan dia sudah tak ada? aku sudah hampir lupa pernah kehilangan kedua orang tuaku saat masih seorang bocah, tapi aku masih ingat bagaimana rasanya hingga kini… aku juga merasakan perasaan yang sama saat tahu Barbie sudah tiada, kesedihan yang sama.” Alvero mengerjap, dipandangnya Ryu yang menatapnya dengan wajah menyesal. “Sekarang kau mengerti, kan? Aku begitu ingin ke sana, untuk sekedar memberinya penghormatan terakhir yang belum sempat kulakukan…”

Hening merajai udara untuk detik yang lama. Mereka semua seperti terhipnotis pada kalimat-kalimat Alvero. Lalu Kaori terisak di tempatnya berdiri. Alvero mendekati gadis itu dan mereka berpelukan. “Dia sudah bagai saudara perempuanku, Vero… aku bahkan masih sering memimpikannya hingga kini…” Alvero menepuk-nepuk punggung Kaori.

Big Guy berdeham. “Maaf, bukan mau merusak suasana melankolis yang menyakitkan ini, tapi kita harus segera pulang, ada badai yang sepertinya akan menuju ke mari.” Semua orang menatap arah yang ditunjuk Big Guy, awan pekat bermuatan petir tampak sudah menghitamkan kaki langit, kuda-kuda mulai meringkik gelisah. “Obrolan tentang mengunjungi Barbie bisa kita teruskan di rumah, kan? Tapi badai tak akan menunggu…”

Big Guy mendahului menuju kudanya, diikuti Kiddo dan Yuriko kemudian. Kaori menepuk lengan Alvero dan menyusul mendekati kuda-kuda setelahnya.

Ryu mendekati Alvero dan berbisik di telinga laki-laki itu, “Aku akan membawamu mengunjungi Barbie, jika itu bisa membuatmu berjanji tak akan bersedih lagi. Karena sungguh, Vero… melihatmu bersedih sungguh-sungguh membuat jiwa dan ragaku sakit.” Alvero merangkul pinggang Ryu, Ryu balas memeluknya dan menciumi puncak kepalanya bertubi-tubi. Ia baru berhenti ketika Kaori memanggil mereka untuk segera berkuda pulang ke rumah.

***

“Kusarankan kita langsung menyergapnya ke peternakan, habisi siapa saja yang menghalangi.”

“Bukankah medannya terlalu luas? dia bisa saja berkuda dan melarikan diri. Katamu, dia sudah ahli menangani kuda, kan? Kalau dia berhasil lepas dari sergapan, tentu sulit mengejarnya, dia lebih tahu wilayah itu ketimbang kita.”

“Lalu, apa perintahmu?”

“Lanjut intai orang-orang itu, perhatikan semua kebiasaan, aku tak ingin rencana ini gagal, tidak setelah begitu banyak waktu dan sumber daya yang sudah kukerahkan untuk menemukan permata ini.”

“Sampai kapan?”

“Sampai kau menemukan saat yang tepat untuk menyergapnya. Dan ketika saat itu tiba, pastikan kau membawa orang-orang terbaik kita.” Pria berbadan besar dengan tampang menyeramkan itu mengibaskan tangannya di udara, dan lawan bicaranya bangun dari kursi, membungkuk satu kali sebelum keluar melewati pintu.

***

Kiddo sedang menyibukkan diri bersama game terbarunya di ponsel pintar miliknya ketika Alvero mengganggu konsentrasinya bermain.

“Kau melihat Ryu?”

“Sebentar,” jawab Kiddo lalu mulai merogoh setiap saku yang ada pada celananya.

Alvero mengernyit bingung. “Kau sedang apa?”

“Mencari Ryu-kaicho,” jawab Kiddo enteng. Ketika Alvero mengumpat kesal, Kiddo tertawa besar. “Lagian, kau aneh, bukankah harusnya kau yang lebih tahu Ryu-kaicho ada di mana?”

Alvero tak menggubris Kiddo, ia bergerak keluar menuju kandang kuda. Di luar begitu tenang, kuda-kudanya seakan masih linglung setelah diamuk badai dua hari dua malam berturut-turut. Binatang-binatang itu rebah berkelompok-kelompok di dalam pagar-pagar. Alvero memicingkan mata, berusaha menjangkau semua kandang kuda dengan pandangannya, tak ditemukannya Ryu.

Alvero menajamkan pendengaran, lalu langkahnya bergerak pantas menuju kandang kuda-kuda yang belum dijinakkan. Semakin dekat ke sana, semakin cepat langkahnya. Lalu ia tercengang-cengang. Di dalam pagar, Ryu sedang berusaha menjinakkan kuda pertamanya, sedang di luar pagar, Grandpa sesekali memberi saran ini itu untuk dilakukan Ryu.

“Kau sudah gila?”

Ryu berhenti mengejar kuda dan menoleh sekilas ke luar pagar. “Halo…,” sapanya buat Alvero lalu lanjut mengikuti gerak sang kuda ke seluruh lapangan.

“Biarkan saja,” kata Grandpa.

“Dia memintamu mengajarinya?”

“Dia memintaku mengawasinya.”

“Kenapa?”

Grandpa mengangkat bahu, “Tapi kukira pasti alasannya tak jauh-jauh dari karena dia tak ingin kau terinjak kuda saat tiba hari nahasmu yang entah kapan itu.”

Alvero tertawa. “Semua orang punya hari sial, Grandpa.”

“Dan karena Ryu tahu betul semua orang punya hari sial, maka kupikir dia sedang mempersiapkan diri untuk menggantikanmu di hari sialmu nanti.”

Alvero menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan apa yang sedang dilakukan Ryu di dalam pagar sana.

“Aku sudah tua, Vero. Bahkan sejak semula kau memanggilku ke sini, aku sudah tua.”

“Kau tidak setua itu.”

Grandpa terkekeh. “Tapi pria di sana itu,” ditunjuknya Ryu yang sedang berusaha berakrab-akrab dengan seekor kuda, “waktunya bersamamu masih demikian panjang. Aku tidak mengerti sama sekali cinta macam apa yang kalian miliki, tapi kurasa kalian berdua melakukannya dengan baik. Kau tahu? Bahkan aku dan almarhum istriku dulu tidak saling mencintai sebesar kalian saling mencintai sekarang. Yang ingin kukatakan padamu, Nak… pria di sana itu,” Grandpa lagi-lagi menunjuk Ryu, “aku yakin dia rela menukar semua yang dia punya bahkan nyawanya demi dirimu. Menjinakkan kuda-kuda untukmu belumlah seberapa…”

Alvero mendapati pandangannya mulai berkabut, meski demikian ia masih setia mengikuti gerakan Ryu ke sana ke mari dengan matanya. “Trims, Grandpa…”

You’re welcome, Son.”

Sesaat kemudian, entah karena kelelahan atau entah mulai bosan dikejar ke sana ke mari oleh pria bermata sipit yang pantang menyerah, sang kuda berhenti berlarian dan membiarkan Ryu memeluk lehernya.

Grandpa tersenyum. “Nyaris tiga jam, Vero,” katanya sambil menepuk bahu anak muda di sampingnya. “Kadang yang kau butuhkan hanya keteguhan hati dan tidak ingat untuk menyerah. Dan hasilnya, itu…,” tunjuk Grandpa ke tengah lapangan di mana Ryu sedang mengusap-usap surai kuda sebelum berlalu meninggalkan pagar.

Ryu mulai berkuda, berputar-putar di dalam pagar. Kemeja denimnya yang sudah basah keringat direnggut dan dicampakkannya begitu saja di dalam pagar. Saat melewati posisi Alvero berdiri, ia mengedip genit dan tertawa lebar.

***

Kaori sedang memilih-milih sayuran di lorong-lorong pasar ketika Alvero memepetinya. Gadis itu sampai kaget dan nyaris menjatuhkan keranjang belanjaannya. “Vero, ada apa?”

Alvero memandang berkeliling, “Entahlah, Kao, kuharap ini hanya perasaanku saja, aku merasa kita sedang diawasi.”

Kaori ikut memandang berkeliling. “Hari ini kau terlalu paranoid, Vero,” kata Kaori lalu mulai mengisi keranjang besarnya dengan sayuran. “Kau lihat Kiddo?”

Sejak tiba di pasar dan Kiddo meninggalkannya bersama Kaori begitu saja, Alvero tidak satu kalipun melihat kelibat laki-laki itu di sekitar mereka. Setiap mereka berbelanja bertiga, Kiddo memang punya kebiasaan meninggalkannya berdua dengan Kaori untuk mengurus keperluan dapur dan kebutuhan lain sedang ia sendiri entah berkeliling ke mana. Lain kalau mereka berbelanja bertiga dengan Ryu, sepanjang waktu pria itu akan terus bergerak kemanapun Alvero bergerak. Tapi kata Kaori, pasti Kiddo pergi tak jauh-jauh dari tempat orang-orang membeli video game.

Dan kini, saat perasaan sedang diawasi membuat Alvero berkeringat dingin, ia begitu ingin Kiddo ada bersamanya dan Kaori. “Kali depan, Kiddo harus mengubah kebiasaannya meninggalkanmu begitu saja di pasar.”

Kaori tertawa pendek. “Meninggalkan kita,” koreksinya. “Tenang saja, Vero, mungkin Kiddo yang kau rasakan sedang mengawasi kita, tak perlu takut. Selama ini, bagaimana Kiddo bisa muncul begitu saja saat kita sudah selesai berbelanja kalau dia tidak mengawasi kita, kan?”

Alvero berusaha menerima pemikiran Kaori meski perasaan seperti sedang diawasi masih tetap membuatnya tak tenang, bahkan makin tidak tenang kini. “Kau sudah selesai?”

“Ini yang terakhir,” jawab Kaori sambil memasukkan tangkai terakhir brokoli pilihannya ke dalam keranjang.

Alvero mengeluarkan dompet dan membayar belanjaan mereka. “Ambil saja kembaliannya,” katanya pada si penjual lalu mengikuti Kaori yang sudah berjalan lebih dulu.

Kaori berjalan di sebelah depan, tiga langkah di belakangnya Alvero mengikuti dengan pandangan masih nanar melihat ke sekitar. Lalu semuanya terjadi secara mendadak dan mengagetkan.

Tepat di satu pertigaan lorong pasar, seperti sudah menunggu kesempatan, seorang pria tinggi besar menyergap di antara Kaori dan Alvero. Ekor mata Alvero sempat melihat kelibat jarum suntik. Saat ia sadar dan berteriak memanggil Kaori, suntikan itu sudah setengah jalan menuju pangkal lehernya dan dua orang entah siapa di belakangnya sudah mencekal kedua lengannya.

“Kao!”

Dalam kagetnya, untuk sejenak Kaori hampir hilang refleks. Jika sedikit saja ia terlambat berkelit, dalam jarak sedekat itu, senjata berperedam tersebut tentu sudah mengoyak perutnya. Tembakan itu meleset melubangi keranjangnya. “Vero!” Kaori buru-buru merogoh keranjang sebelum benda itu dicampakkan begitu saja dan ia sendiri bersalto untuk menghindari usaha lanjutan si penyergap untuk menghabisinya.

DOR

Satu letusan pistol serta merta menggegerkan suasana pasar. Pria yang tadinya hendak menghabisi Kaori kini terkapar dengan satu lubang di kepala, Kaori baru saja menembaknya.

Terpisah puluhan langkah, lima pria tinggi besar sedang dalam perjalanan menyeret pergi Alvero yang kini berjalan bagai orang mabuk. Kaori bergerak mengejar, tapi desingan peluru yang hanya berjarak sekian mili saja dari batok kepalanya membuatnya tak leluasa, gadis itu balas menembak ke arah perginya lima pria dan suara tembakannya kini membuat suasana pasar makin kacau balau. Orang-orang mulai berlarian.

“Minggir!” bentak Kaori pada siapa saja yang berlarian di hadapan jalannya. Matanya terus mengawasi jurusan perginya Alvero. Gadis itu cepat meneliti keadaan, saat yakin bisa menyergap balik sebelum pria-pria misterius itu berhasil membawa kabur Alvero, ia berbelok ke satu lorong dan mulai berlari kencang. Dalam hati, Kaori merutuki habis-habisan Kiddo yang tidak bersamanya di saat genting demikian rupa.

Kaori bisa melihat mobil itu, terpakir siaga di luar pasar. Ia mempercepat larinya, saat jaraknya sudah begitu dekat, dengan bertumpu pada drum bekas yang menggeletak di lorong, Kaori melompat tinggi, dilepaskannya dua tembakan sekaligus, masing-masing menyasar pria yang menggamit Alvero kiri dan kanan. Kedua pria tersebut langsung roboh bersimbah darah setelah dada masing-masing diterjang timah panas yang keluar dari mulut pistol Kaori.

“Jalang sialan!”

Satu kepalan langsung menyasar wajah mungil Kaori begitu kakinya mendarat lagi di tanah, namun dengan gesit gadis itu menyisi dan melancarkan tinju balasan. Dua pria yang tidak menyangka gerakan si gadis bisa segesit itu langsung terhuyung-huyung begitu rahang masing-masing dihantam tinju, sedang satu orang lainnya berhasil dipecundangi dengan gebukan gagang pistol di pelipis hingga nyaris robek. Kaori tak mau membuang kesempatan, begitu berhasil menciptakan kelonggaran, langsung disambarnya lengan Alvero yang sesaat tadi nyaris ambruk.

“Lari, Vero…!!!”

Setengah menyeret, Kaori tersaruk-saruk kembali masuk ke kepadatan pasar. Beberapa tembakan yang dilancarkan tiga pria bersisa nyaris mengenainya dan Alvero.

“BODOH! JANGAN MENEMBAK!” seorang pria bergerak keluar dari dalam mobil, “Bos menginginkan anak itu hidup-hidup, kalian bisa membunuhnya jika salah menembak, dasar tidak becus! Kejar mereka!” Keempat orang itu, dipimpin pria yang baru saja keluar dari balik kemudi kembali masuk ke pasar.

Kaori tak tahu apa yang terjadi pada Alvero, dengan gerakan Alvero yang lamban begitu rupa, bukan mustahil semenit lagi mereka akan berhasil disusul. Maka, ketika sudah kembali berada di dalam pasar yang hiruk-pikuk, Kaori menarik lengan Alvero agar merunduk sama rendah di lorong, bersembunyi untuk sementara waktu. “Hei, Vero!” ditepuk-tepuknya pipi Alvero kiri kanan.

“Kao…” Alvero kesulitan bicara, berkali-kali ia mengerjap dan mengucek matanya. “Mereka… mereka menyuntikku…”

“Sialan!” umpat Kaori. “Kau tahu siapa mereka?”

Alvero menggelengkan kepala.

Kaori menjenguk ke arah yang baru saja dilalui mereka, ia bisa melihat para pengejarnya mulai berpencar. “Kita tak bisa terus berdiam di sini, Vero. Mereka sudah berpencar, kalau kita tidak bergerak, mereka akan segera menemukan kita.” Kaori memeriksa magasinnya, gadis itu kembali mengumpat. “Kiddo brengsek! Di mana dia saat dibutuhkan?” lalu ia kembali fokus pada Alvero. “Kau sanggup berjalan?”

“Pandanganku berkunang-kunang, kurasa aku akan pingsan…” Alvero berkeringat sangat banyak, kemeja yang dikenakannya mulai basah di dada.

“Ayo, kupapah kau.” Kaori sadar memapah Alvero tidaklah mudah untuk dilakukannya, bobotnya cuma setengah bobot Alvero, tapi gadis itu tak punya pilihan lain. “Berusahalah agar terus terjaga, dan tetaplah merunduk,” katanya memperingatkan dan mulai bergerak tertatih-tatih. Orang-orang tak ada yang memedulikan mereka, dan Kaori merasa tertolong dengan kondisi demikian, jadinya mereka tidak menarik perhatian yang akan memudahkan pria-pria pengerjar itu menemukannya dan Alvero.

Kaori sudah berusaha sebaik mungkin agar tidak terlihat, namun tetap saja mereka melihatnya.

“Shit!”

Dua orang pria mulai bergerak cepat membelah keramaian lorong menujunya dan Alvero. Kaori memegang erat-erat pistol di tangannya, ia berbalik dan kembali menyeret pergi Alvero yang dirasanya semakin berat. Baru tiga tindak, langkah Kaori kembali terpantek. Dari arah berlawanan, dua pria lainnya juga sedang menujunya, seperti halnya dua pria di sebelah belakang, dua pria di sebelah depan itu pun memegang pistol berperedam di tangan masing-masing, sikap mereka begitu mengintimidasi, seperti mengisyaratkan agar Kaori tidak macam-macam lagi atau melakukan hal nekat dan bodoh.

Kaori terjebak. Diliriknya Alvero yang berada antara tidur dan terjaga. Ia merapat ke meja salah seorang penjual semangka yang seolah buta dan tuli juga bisu. Keempat pria itu kian menghampirinya. Kaori tahu pelurunya cuma bersisa dua butir, diputuskannya untuk mengadu jiwa.

Kaori mengangkat pistolnya, sedang satu lagi tangannya menggenggam erat pergelangan tangan Alvero. Gadis itu menarik pelatuk di saat dua pria yang disasarnya juga sudah bersiap untuk menembaknya. Lalu sekonyong-konyong, laksana terbang, seseorang muncul dan melompat mengarahkan tendangan pada dua pria yang sedang disasar pistol Kaori.

“WATCH YOUR BACK, KAO!!!”

BUKK BUKK

Dua pria yang sudah sedia menembaki Kaori terjajar ke belakang setelah dihajar tendangan orang yang baru muncul. Pistol-pistol terlepas dari pegangan sedang pemiliknya terhuyung-huyung berusaha mendapatkan kembali keseimbangan setelah dihantam tendangan.

Kaori berbalik dan menembaki dua pria di sebelah belakang seperti yang disuruh, salah seorang terkena di bahu kanan dan salah seorang lainnya berhasil berkelit dengan merunduk ke balik meja dagangan. Orang-orang kembali berlarian. Sadar pelurunya habis, begitu pria yang berhasil menyelamatkan diri dari tembakan muncul lagi dan siap menembaknya, Kaori mengambil ancang-ancang dan melesatkan pistol kosongnya ke wajah orang. Dan lemparan Kaori tak pernah meleset. Pria itu terpelanting setelah mata kirinya terkena hantaman gagang pistol.

Kaori berbalik ke arah berlawanan, di depan sana, lima meter dari tempatnya berdiri, Kiddo sedang menghajar dua lawannya dengan tangan kosong. Begitu berhasil menjatuhkan dua lawannya meski sang lawan masih terlihat segar bugar, Kiddo secepat kilat berlari mendapatkan Kaori dan Alvero.

“Ke mana saja kau!” bentak Kaori gusar.

Kiddo tak menjawab, ia langsung menggendong Alvero yang sudah jatuh pingsan ke punggungnya dan bergerak cepat mengikuti lari Kaori. Kaori memilih melewati arah di mana dua lawan yang berhasil dilukainya berada dalam keadaan megap-megap, yang satu sibuk menekan luka tembak di bahu kanan sedang yang satu lagi masih bergulingan sambil membekap mata kirinya. Dalam larinya, Kaori merunduk merebut pistol dari lawannya yang terluka di bahu dan sekaligus menghabisi sang lawan.

“Kao, cepatlah!” ujar Kiddo di belakangnya.

Kaori menyisi dan dan mendorong Kiddo agar berlari di sebelah depan, sedang ia sendiri melancarkan tembakan ke arah dua lawan yang masih segar-bugar di sebelah belakang yang sudah bersiap mengejar setelah mendapatkan pistol mereka kembali. Tembakan Kaori berhasil memperlambat mereka. Lalu orang-orang yang bergerak ketakutan ke sana ke mari membantu Kaori serta Kiddo yang membopong Alvero melenyapkan diri dari pemandangan musuh.

***

Alvero mengeliat dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Rasanya ia tidur begitu lelap dan puas. Dan rasa-rasanya, dalam tidur tadi, ia bermimpi dikejar-kejar penjahat, dalam mimpinya itu, ia diselamatkan Kiddo dan Kaori.

“Halo, Sleepyhead…”

Alvero memalingkan wajah, ditemukannya Ryu terduduk di kursi di pinggir tempat tidur mereka, memandangnya dengan wajah datar.

Alvero berdecap-decap. “Aku tidur nyenyak sekali, Ryu.”

“Kau pingsan,” ralat Ryu.

Alvero mengernyit tak mengerti.

“Kau tidak ingat apa-apa?” tanya Ryu sambil membungkukkan badannya ke arah Alvero.

Alvero mengerutkan kening berusaha mengingat-ingat. “Itu bukan mimpi?” tanyanya kemudian.

“Jika maksudmu bukan mimpi adalah kau yang nyaris berhasil dibawa orang jahat, ya, itu bukan mimpi.”

“Ya Tuhan.” Alvero bangkit terduduk. “Bagaimana keadaan Kao?”

“Dia dan Kiddo baik-baik saja,” jawab Ryu.

Samar-samar, Alvero ingat kemunculan Kiddo di detik-detik menjelang pingsannya. “Aku berhutang besar pada mereka berdua.”

Ryu menghela napas dan bersidekap lengan ke dada. “Kau tahu siapa orang-orang itu?”

Alvero diam sesaat lalu menggeleng.

“Kau yakin tak pernah melihat mereka saat masih di sarang Quentin?”

“Aku tak pernah melihat satu pun di antara pria-pria itu di sana dulu, Ryu.”

“Hemm…” Ryu menggaruk-garuk dagunya. “Kau pernah berselisih dengan siapa saja setelah keluar dari sana?”

“Tidak ada,” jawab Alvero cepat. “Aku mengikuti apa katamu, menjauhkan diri dari masalah. Kau lupa pernah mengatakan itu padaku?”

“Lalu siapa orang-orang jahat ini? Mengapa mereka bisa punya niat menculikmu?”

“Mana kutahu.”

Ryu terdiam. Memandang Alvero tajam lalu mendesah. “Kau tidak aman lagi berada di peternakan ini, Vero. Secepatnya aku harus membawamu ke tempat lain.”

Alvero terbelalak. “Kau gila. Aku tidak akan ke mana-mana.”

“Siapapun orang-orang itu, pasti mereka sudah tahu tempat ini. Mereka pernah gagal mendapatkanmu di luar sana, dan cepat atau lambat, mereka pasti akan mendapatkanmu ke sini. Dan aku yakin mereka tak mau gagal lagi saat waktu itu datang.”

“Aku tidak akan ke mana-mana,” ulang Alvero penuh keyakinan.

“Aku tidak minta pendapatmu, Vero, juga tidak butuh kau bersedia atau tidak.”

“Aku bukan benda mati yang tidak bisa berpendapat!”

Ryu terdiam.

Alvero turun dari tempat tidur. “Tempat ini hidupku, Ryu. Kau yang menyuruhku mendapatkan hidupku kembali, tolong jangan paksa aku melepaskannya hanya karena rasa khawatirmu yang berlebihan.”

Ryu tersinggung. “Berlebihan? Kau bilang berlebihan? Sadarkah kau kalau Kaori dan Kiddo nyaris mati demi melindungimu di luar sana tadi?”

Alvero yang kini terdiam. Perkataan Ryu mutlak benar. Orang-orang itu nyaris membunuh Kaori.

“Siapapun mereka, pasti ada hubungannya dengan Quentin. Mereka akan datang ke sini dan mendapatkanmu lagi, Vero. Dan aku tak ingin mereka membawamu. Aku tak ingin…”

“Hei…” Alvero mendekati Ryu dan membingkai wajah pria itu dengan kedua tangannya. “Mereka tidak akan mendapatkanku selagi kau ada, kan?” Ryu mendesah. “Kau tak akan pernah membiarkan orang-orang jahat siapapun itu mendapatkanku, kan?” Alvero mendekatkan dirinya, “Kau akan melindungi dan menjagaku, menyelamatkanku seperti yang sudah pernah kau lakukan dulu…” Alvero mencium puncak hidung Ryu, mengecup mulutnya sebelum meletakkan kepalanya ke dada Ryu.

“Hemm…” Ryu luluh. “Untuk bertahan di sini, kita butuh banyak senjata, Vero, dan khusus buat Big Guy, dia butuh yang besar, benar-benar besar.”

“Kita punya banyak uang untuk mendapatkan senjata buat semua orang.”

Ryu meletakkan lengannya di sekitar Alvero. “Apa kita sudah pernah mandi bersama?”

Alvero menggeleng.

“Mau mandi bersamaku?”

Alvero mengangguk.

***

Pria paruh baya berbadan besar itu menggebrak meja penuh geram. “Bagaimana kau berhasil dipecundangi seorang wanita dengan begitu mudahnya?”

“Aku terlalu meremehkannya.”

Pria di balik meja mendengus kasar. “Sudah kubilang untuk membawa orang-orang terbaik kita.”

“Mereka orang-orang terbaik kita.”

“Yang menembak seorang wanita saja tak becus?” pria paruh baya itu kembali mendengus. “Jangan tunda waktu lagi, Drako, aku tak mau mengambil resiko kehilangan anak itu lagi, setahun lebih kugunakan waktu dan sumber dayaku untuk menemukannya, jangan sampai gagal percuma.” Si pria besar menghisap cerutunya dan menghembuskan asapnya yang pekat. “Kita harus segera bertindak sebelum mereka meninggalkan peternakan itu…”

“Aku akan segera mengatur rencana.”

“Aku yang akan mengatur rencana kali ini. Kau kumpulkan saja orang-orang tolol itu.”

***

Ryu sedang menumpuk bal-bal jerami kering di dalam salah satu istal ketika ia merasa ada yang salah pada kuda-kuda Alvero. Binatang-binatang itu terlihat lebih aktif dari hari-hari biasanya. Ryu menjatuhkan bal jerami dari tangannya dan berdiri mendengarkan. Yang ditemukannya adalah ringkik gelisah kuda-kuda di dalam dan di luar istal. Firasatnya berkata ada yang tidak beres.

Ryu mendekat ke jendela tak berkaca di dinding sebelah kanannya, belum pun sampai ia ke jendela, sebutir peluru berdesing menujunya. Ryu sontak menyisi, peluru itu berhasil menyerempet bahunya yang telanjang, membuat kulit lengan bagian atasnya berdarah. Ada penembak jitu yang sedang mengintai gerak-geriknya, ia tak boleh bertindak gegabah.

“Vero,” ucap Ryu cemas. Ia ingat saat ini Alvero sedang berada di istal lain, menumpuk jerami seperti dirinya.

Tak memedulikan luka goresan peluru di bahunya, Ryu bangun dan melompati jendela. detik itu juga peluru mengikuti larinya. Tembakan-tembakan itu menghajar tanah, menerbangkan debu dan rumput kering ke udara, beberapa berseliweran di sekitar kepalanya. Ryu tak punya waktu untuk mengkhawatirkan dirinya sendiri lagi, yang ditujunya adalah istal tempat Alvero dikiranya berada.

Ryu melompat dan menerjang dinding istal. “Vero…!!!” teriaknya, tapi Alvero tidak ada di sana. Kuda-kuda yang kaget melompat-lompat ribut. “Alvero…!!!” teriakan Ryu masih tidak berjawab…

*

Kaori baru saja selesai merajang sayuran ketika Big Guy menerjangnya hingga sama rata dengan lantai. Lalu kaca-kaca jendela dapur pecah bertaburan, peluru-peluru yang ditembakkan siapapun di luar sana juga menerjang perabotan, memecahkan segala isi rak piring, meleburkan gelas-gelas kristal kesayangan Yuriko, menerjang teko di atas meja dan melubangi dinding di banyak tempat.

“Mereka datang!” ucap Big Guy sambil masih tetap melindungi kepala Kaori dengan membekapnya memakai dua tangan sekaligus. Peluru-peluru masih berdesingan sehasta di atas mereka.

“Di mana Alvero dan Ryu?”

“Aku tidak tahu.”

Lalu tembakan balasan menyalak dari dalam rumah. Seseorang baru saja memperoleh senapan dan menembak dari arah beranda.

“Grandpa,” bisik Kaori. “Itu senapan Grandpa.”

Big Guy mengisyaratkan pada Kaori agar bergulingan meninggalkan dapur. Mereka harus segera membobol lantai ruang tengah dan mengeluarkan peti senjata dari sana jika tak ingin jadi pepesan daging. Padahal, baru kemarin sore peti itu mereka simpan di sana. Kaori mengangguk mengerti merespon isyarat dan mendahului Big Guy bergulingan menjauhi dapur.

Lantai kayu ruang tengah rumah Alvero langsung jebol begitu dihantam kaki besar bersepatu boot milik Big Guy. Dibantu Kaori, pria itu menarik keluar peti besar berisi senjata yang baru mereka dapatkan itu lalu mempentangkan penutupnya dalam sekali sentak. Big Guy langsung mengambil senjata mesin andalannya dan menyelempangkan amunisi ke seluruh tubuhnya.

“Mereka mencari masalah ke tempat yang tidak tepat!” ucap Big Guy penuh geram.

Kaori meraih rentengan pisau-pisau kecil dalam sarung kain hitam yang menjadi tempatnya dan mengingatkan talinya ke pinggang. Berikutnya ia mengambil dua pistol dan begitu banyak magasin, sekilas, ia teringatkan karibnya yang begitu mahir menembak dengan dua pistol sekaligus dan jarang meleset. Kaori berharap hari ini ia dapat menggunakan dua pistol sebaik sang karib menggunakannya dulu. “Di mana Kiddo?”

“Di mana Yuriko?” balas bertanya Big Guy.

“Kupikir dia bersama Grandpa…” Kaori tergesa-gesa menuju beranda, tapi Big guy menahan bahunya.

“Kau menyelinaplah dan cari Ryu atau Alvero, mereka pasti berada di luar sana. Biar aku yang ke beranda melihat Yuriko-chan dan Grandpa.”

Kaori berbalik dan siap menuju pintu samping rumah ketika Big Guy menahannya.

“Kao…”

Kaori berbalik menghadap Big Guy kembali.

“Jangan terbunuh,” ucap Big Guy sambil menatap Kaori lekat.

Kaori mendekati Big Guy, berjinjit dan memberi pipi kanan Big Guy sebuah kecupan lalu berlari gesit menuju pintu samping.

*

Kiddo sudah setengah jalan menanjak ke perbukitan menuju padang bunga liar ketika telinganya menangkap suara tembakan dari arah rumah. Ia membatalkan niatnya hendak membuat Yuriko terkesan dengan membawakan seikat bunga liar nantinya dan langsung menggebrak kudanya untuk berpatah balik. Ia harus bergegas, orang-orang yang disayanginya sedang dalam marabahaya di bawah sana. Sepanjang perjalanan menuruni perbukitan, Kiddo tak habis menyesali diri, harusnya ia tidak ke mana-mana.

Kudanya nyaris tak berhasil dikendalikan dan beberapa kali hampir tergelincir menabrak batangan pepehonan di sepanjang perbukitan saking kencangnya ia memacu tunggangannya itu.

*

Grandpa sedang menghisap cerutunya ketika Yuriko datang membawakan sepoci teh hijau dan sepiring roti gandum ke beranda. “Perasaanku tidak enak hari ini, Yuriko…,” kata Grandpa pada gadis yang baru saja meletakkan nampan di atas meja di sebelahnya. “Di mana rekan-rekanmu?”

Yuriko membawa pandangan ke deretan pepehonan di sekitar pekarangan sebelum kembali menunduk dan menuangkan teh ke cangkir. “Mungkin kau kurang beristirahat, Grandpa,” katanya. “Kaori sedang menyiapkan makan siang di dalam, Big Guy ada di beranda samping bersama buku-buku Alvero.”

“Dan di mana Alvero?”

“Kupikir Vero-kun sedang bersama Ryu.”

Grandpa bergumam dan meraih cangkir. Dibawanya cangkir itu ke mulut. Namun, belum pun sampai…

KRIIIKKK

Cangkir itu terbelah dengan sendirinya dan Grandpa terjengkang ke belakang. Yuriko terpekik bersamaan dengan suara berondongan senjata yang entah menyasar bagian mana rumah, tapi samar-samar ia mendengar suara porselen berpecahan dari arah dapur. Gadis itu segera merunduk dan berusaha menarik sosok Grandpa dari beranda, tersaruk-saruk masuk ke dalam rumah dan langsung berlindung di balik rak buku. Tembakan-tembakan kini juga mulai menerjang bagian depan rumah. Yuriko menunduk memandang Grandpa yang sedang megap-megap menahan sakit, sebutir peluru berhasil bersarang di bahunya, sedikit di atas area dadanya.

“Grandpa…” Yuriko merobek kain roknya, membuntalnya sedemikian rupa dan menekankannya ke luka Grandpa. “Bertahanlah,” katanya dengan suara bergetar.

“Senapanku, Yuriko…” Grandpa menunjuk senapan yang menggantung di dinding di belakang posisi mereka bersembunyi. Tangannya mengambil alih menekan lukanya dengan robekan kain pakaian Yuriko.

Yuriko bangun dari lantai dan setengah merunduk mendekati dinding yang ditunjuk Grandpa. Ekor matanya menangkap siluet beberapa pria mendaki ke beranda. Penuh percaya diri, dikokangnya senapan yang baru berhasil diambilnya dari dinding dan ditembakkan ke pintu depan. Satu sosok terjajar kembali meninggalkan beranda begitu diterjang tembakan Yuriko, gadis itu merunduk di dekat Grandpa dan mengokang lagi senapannya, matanya nanar mengawasi pintu depan yang kayu bingkainya sudah tidak karuan rupa lagi setelah diberondong tembakan dari arah luar.

Saat siluet musuh makin ramai mendekati beranda, Yuriko meniarap di lantai di sisi Grandpa dan mulai membidik dengan gaya seorang penembak jitu, ia tak punya banyak selongsong peluru, tembakannya tak boleh meleset…

*

Alvero diusik ringkik kuda di kejauhan. Dengan serta merta ia menjatuhkan bal jerami dari pikulannya dan memandang bergantian antara istal kuda yang hendak ditujunya dengan kandang kuda yang baru saja ditinggalkannya di arah belakang. Lalu ia mendengar ringkik itu lagi. Ada yang mengusik kuda-kuda jinaknya yang dilepaskan merumput dalam pagar di kaki bukit sana. Alvero menajamkan pendengaran dan samar-samar bagai mendengar deru mesin kendaraan dari arah pepehonan di bawah sana. Alvero memicingkan pandangan ke arah pepohonan itu, dan darahnya langsung tersirap saat ia menemukan sosok-sosok asing menyelinap di antara pepohonan nun jauh di sana.

Alvero memandang rumahnya di kejauhan, samar-samar ia bisa melihat Grandpa sedang merokok cerutu di beranda. Alvero ingin berteriak memperingatkan, tapi ringkik ribut begitu banyak kuda mengalihkan perhatiannya ke jurusan lain. Ia kaget. Kuda-kudanya yang belum dijinakkan sedang berlarian ke segala penjuru. Bagaimana kuda-kuda itu bisa menerobos pagar kandang?

Lalu tembakan-tembakan itu menyalak ribut.

Alvero langsung berlari, menuju rumah. Namun baru beberapa tindak ia kembali berhenti, ekor matanya menangkap siluet Ryu yang melompati jendela istal kuda puluhan meter dari posisinya berada dan langsung bergerak cepat menuju istal lainnya di dekat situ, Alvero berteriak memanggil, tapi ribut ringkik kuda dan suara tembakan menyamarkan teriakannya. Tanah beterbangan di belakang Ryu, pria itu sedang dikejar peluru.

Alvero memutuskan untuk menyusul Ryu, tapi mendadak saja tubuhnya terpelanting ke samping. Seekor kuda liar baru saja menerjang sosoknya. Ia bergulingan cepat menghindari kaki-kaki kuda yang berlarian melewatinya. Begitu mampu menghindar dari kawanan kuda, Alvero bangkit berdiri dengan terhuyung-huyung. Bahunya serasa remuk. Kawanan kuda itu berlarian tak tentu arah, suara-suara tembakan membuat binatang-binatang itu ketakutan dan bingung. Alvero berhenti dari memijit bahunya ketika di kejauhan sana dilihatnya begitu banyak orang merangsek mendekati beranda rumahnya. Alvero bimbang apakah harus meneruskan berlari menuju istal di mana Ryu diperkirakannya masih berada atau bergerak cepat menuju rumah dan membantu teman-temannya di sana. Diputuskannya untuk segera menuju rumah meski tidak mustahil salah satu peluru akan menerjangnya dalam perjalanan menuju ke sana.

Belum sempat Alvero membuka langkah untuk berlari, di belakangnya, deru aneh kendaraan nyaring terdengar dan seakan meloncat keluar begitu saja dari dalam tanah. Dalam keterkejutannya, Alvero sontak berbalik. Sebuah mobil gunung berukuran besar kini menghadang di depannya. Alvero menggigil. Bukan karena kendaraan gunung itu sekilas bagai siap menggilasnya, tapi karena satu sosok yang baru saja melongokkan kepala dari dalam kendaraan itu dengan seringai menakutkan di wajah.

“Halo, Pretty Boy… masih ingat papamu ini?”

Alvero bagai melihat hantu. Sekujur tubuhnya bergidik ngeri saat orang yang baru menyapanya itu kembali menyeringai ke arahnya. Tanpa sadar, langkahnya sudah bergerak mundur.

Pria paruh baya di dalam mobil mengisyaratkan pengemudinya untuk memajukan kendaraan. “Come to Papa, My Boy… come to Papa…”

Kalimat khas itu terdengar demikian menyeramkan bagi Alvero. Pria muda itu berbalik dan mulai berlari. Ia lupa hendak menuju ke mana. Akibatnya, tanpa sadar ia sudah berlarian di dalam kawanan kuda yang kembali bergerak menujunya. Tangannya menjangkau acak dan sekejap kemudian ia sudah bertengger di atas punggung salah seekor kuda liar, tanpa pelana, tanpa tali kekang, dengan kemungkinan bisa terlempar sewaktu-waktu dari punggung sang kuda. Alvero menggebrak kudanya dengan perasaan ngeri. Rasanya seakan tangan pria paruh baya bertampang mengerikan di dalam mobil hanya berjarak seujung kuku saja lagi darinya. Di atas kudanya yang bergerak tanpa kendali, Alvero berkali-kali merinding ketakutan. Kelebatan-kelebatan masa lalunya yang melibatkan si pria paruh baya di dalamnya bergulir satu-satu dan melemahkan sendi-sendinya.

Kuda Alvero bergerak menjauhi area peternakan tanpa dapat dicegah, kuda itu berlari liar menuju kerapatan pepohonan. Alvero memeluk erat leher sang kuda, menggantungkan nasibnya pada hewan itu. Di belakangnya, dalam mobil gunung ditemani seorang bawahan yang siaga dengan senjata, si pria paruh baya bertampang mengerikan mengikuti sambil tertawa-tawa.

*

Big Guy datang tepat pada waktunya. Yuriko baru saja kehabisan tembakannya, saat gadis itu bersiap menyeret sosok Grandpa untuk masuk lebih jauh ke dalam rumah sebelum orang-orang di beranda memberondong mereka tanpa ampun, saat itulah sosok tinggi besar nan kekar itu menyelamatkan mereka. Big Guy menembak tanpa jeda, memuntahkan begitu banyak amunisi, menciutkan nyali siapa saja yang masih bertahan di beranda.

“Makan ini, Bangsat!” teriak Big Guy menggelegar sambil terus menembak.

Yuriko menggunakan kesempatan untuk membawa Grandpa ke sudut aman. “Tunggu di sini,” katanya pada pria gaek itu lalu menyelinap mencari senjata baru.

Big Guy bergulingan ke deretan kursi di dekat tungku perapian ketika sebutir peluru berhasil mengenai lengan kirinya. Saat sudah sampai di balik kursi, ia menyadari kalau sebutir lagi peluru sudah bersarang di atas lutut kirinya. Big Guy mengumpat kesal, selanjutnya ia menggembor marah dan lanjut memberondongkan senapan mesinnya. Darah menguncur begitu saja tanpa dibendung dari dua luka tembaknya.

Sesaat kemudian, berbekal sepucuk pistol di tangan dan sekotak besar peluru, Yuriko sudah bergabung bersamanya di balik kursi. Gadis itu hanya sesaat mengkhawatirkan luka-luka Big Guy sebelum dengan penuh emosi menembaki orang-orang yang terus merangsek maju melewati pintu rumah.

*

Ryu terpojok di dalam istal yang baru saja dimasukinya―yang sempat dikiranya sebagai tempat Alvero bersembunyi. Saat ia hendak berlari ke luar istal, pria-pria bersenjata sudah berhasil mengejarnya hingga ke dalam istal. Dalam jarak sedekat itu, sulit bagi Ryu untuk berhasil lolos. Diputuskannya untuk memberi perlawanan tangan kosong.

Satu tembakan yang bersarang telak di lengan kiri Ryu tidak lantas membuat pria itu menyerah kalah begitu saja. Ryu menggunakan rangka kayu di dalam istal sebagai tumpuan dan bersalto tinggi di udara untuk menghindari tembakan lanjutan dari lawan-lawannya. Ia bergerak cepat dan acak untuk mengelabui lawan-lawannya yang kesemuanya bersenjata. Sedetik kemudian ia sudah memposisikan dirinya di tengah-tengah para lawannya, meninju dan melayangkan tendangan seperti seorang jago karate, dan sememangnya ia sangat jago karate. Semenit kemudian, tak ada lagi lawannya yang berdiri memegang pistol. Ryu berhasil menendang dan menghantam setiap tangan yang memegang pistol hingga senjata-senjata api itu berpelantingan jatuh ke merata tempat, tenggelam dalam lantai penuh jerami kering.

Kini, sedikitnya sembilan orang berdiri mengelilingi Ryu, memasang kuda-kuda dengan kepalan teracung, siap berkelahi.

Ekor mata Ryu melihat bagaimana salah seorang lawannya hendak merunduk untuk meraih pistol dari lantai, dan dengan cepat ia berputar sembilan puluh derajat lalu melayangkan tendangan kaki kanan ke lengan orang. Yang ditendang terhuyung-huyung sambil memegang lengan kanan yang bengkok, pistol tak dapat digapai malah tangan kini terkulai.

“Jangan harap ada yang bisa mengambil senjata tanpa lengan patah!” ancam Ryu sambil memandang nanar lawan-lawannya. Pikirannya kini terbagi, antara mengkhawatirkan keselamatan Alvero dan mengawasi gerakan lawan-lawannya yang bisa menemukan pistol kapan saja dan kembali menembakinya.

Dua orang di sebelah depan merangsek maju dengan tinju teracung, dua orang di samping kanan mengikuti, begitu juga dua orang di samping kiri. Ryu sangat yakin kalau lawan di sebelah belakangnya juga sudah akan menyerangnya. Ryu sedikit meringis saat mengeratkan kepalan dan bersiap menyongsong lawan. Darah masih mengucur dari lengan kirinya yang tertembak.

Dua kepalan dari arah kiri kanan menderu menuju rahangnya, Ryu memudurkan wajah dan melempar badannya ke belakang, sikap itu membuatnya terhindar dari terjangan tinju ke wajah sekaligus menyelamatkannya dari dua hajaran tendangan lawan dari arah depan yang menyapu sejengkal di atas dadanya. Selanjutnya Ryu bersalto ketika dua orang di sebelah belakang lanjut menyerang. Saat sudah kembali menjejak bumi, pria itu melancarkan serangan balasan. Dua orang lawan di sebelah depan terkapar di lantai setelah dihantam sepatunya, mulut masing-masing berdarah dan pecah. Satu lawan di samping kanan terbungkuk-bungkuk setelah dadanya dihantam tinju Ryu tanpa ampun.

Marah mendapati kawannya berhasil dipukul demikian rupa, lima pria yang masih berdiri tegak merangsek bersamaan. Selanjutnya, Ryu dibuat repot meladeni keroyokan lima lawannya yang menyerang membabi buta dan lupa memperhatikan empat orang lainnya yang dalam kepayahan luka masing-masing memutuskan menemukan pistol-pistol mereka.

DOR DOR DOR DOR

WUTT WUTT WUTT

Empat tembakan membahana di dalam istal tersebut, diikuti suara suitan nyaring dan suara senjata tajam membeset udara setelahnya. Ekor mata Ryu melihat tiga peluru pertama berdesing di sekitarnya, ia lalu menangkap bayangan seseorang berkelebat mendobrak masuk dibarengi pisau-pisau yang berlesatan melalui jendela istal. Pisau-pisau itu melesat sebat menuju para pria yang baru saja melepaskan tembakan. Tiga orang pria di antaranya langsung terkapar dengan pisau menancap di pangkal leher masing-masing.

Dalam senangnya, Ryu sampai berteriak. “Kaori…!!!”

Watchout…!!!” teriak Kaori.

PAM

Ryu terhuyung-huyung setelah satu kepalan lawan menghantam rahangnya dengan telak. Namun itu menguntungkannya di satu pihak. Peluru keempat dari pria keempat yang menyasarnya berhasil dielakkan secara kebetulan saat ia terhuyung-huyung itu.

Kaori merogoh pinggang kiri kanan, lalu…

DOR DOR

Dua tembakan sekaligus menerjang pria keempat di sudut ruangan, satu melubangi dada dan satu lagi menghantam batok kepala. Setelah berhasil merobohkan lawannya, Kaori langsung berbalik, menendang tiang di tengah-tengah istal untuk kemudian melompat tinggi dan setengah jumpalitan di udara sebelum melepaskan tembakan selanjutnya ke sosok lima pria yang mengepung Ryu.

“Oh, wow…” Ryu tegak sambil mengelus-elus rahangnya yang kena hantam sesaat lalu, sementara di sekitarnya, sosok-sosok bergelimpangan tak berkutik setelah diterjang peluru Kaori.

Kaori mengisi ulang pistolnya lalu teringat sesuatu. “Mana Alvero?”

“Ya Tuhan!” seakan kesetanan, Ryu berlari ke luar istal.

Kaori berteriak memanggil. “Hei, ambil ini!” saat Ryu berbalik, Kaori melempar rentengan pisaunya untuk disambut Ryu. “Aku harus kembali ke rumah,” katanya kemudian lalu segera berlari tanpa menunggu respon Ryu. Hati Kaori tak tenang saat mendengar suara-suara tembakan makin riuh dari arah rumah.

*

Kiddo mendengar derap kaki kuda tak jauh dari arahnya memacu, lalu ia juga mendengar suara asing yang semula dikiranya sebagai suara chainsaw. Ia menarik tali kekang untuk menghentikan laju tunggangannya lalu memandang nanar ke sumber suara.

“Alvero,” desis Kiddo ketika melihat seekor kuda tanpa pelana dan tali kekang yang membawa Alvero berlari laksana kesurupan. Kiddo memperkirakan tak lama lagi kuda itu akan membuat Alvero jatuh dari punggungnya, atau yang lebih parah kuda ketakutan itu akan menabrakkan diri ke pohon atau terguling ke jurang.

Tak lama berselang, Kiddo di buat kaget dengan kemunculan sejenis mobil dengan suara menderum-derum. Kini tahulah ia kalau suara yang sempat dikiranya sebagai suara chainsaw itu adalah suara mobil aneh yang sedang mengejar Alvero.

Kiddo menggebrak kudanya dan membelokkan arah tunggangannya itu agar berlari ke jurusan perginya Alvero dan siapapun dua orang yang mengejarnya di dalam mobil aneh itu. Kiddo memacu sekencang-kencangnya saat dilihatnya Alvero makin kesulitan mengendalikan kuda yang dinaikinya. Saat Kiddo membelokkan kuda dan dengan serta merta memunculkan diri dari balik deretan pepohonan dengan maksud menarik Alvero dari kudanya, peluru langsung berdesing-desing di balik punggungnya.

“Habisi pemuda itu, Drako!” pria paruh baya di dalam mobil membentak garang. Ia sendiri merogoh pistol dari balik pinggang setelannya dan mulai ikut menembaki penunggang kuda yang baru muncul.

“Alvero, lepaskan kuda itu!” Kiddo berteriak saat sudah berhasil mensejajarkan kudanya dengan kuda Alvero, tangannya terulur ke arah Alvero. Tak dipedulikannya tembakan yang baru saja menggores kulit lengannya itu, juga peluru yang sedetik lalu menembus daging bahunya.

“Kiddo!” Alvero berteriak ngeri saat kuda yang dinaikinya nyaris tergelincir.

“Tembak kudanya!” di dalam mobil, pria paruh baya bertampang menyeramkan kembali memberi perintah.

Lalu, ringkik kesakitan nan menyeramkan membahana ke seluruh penjuru bukit, kuda yang ditunggangi Alvero siap roboh setelah dihantam peluru. Beruntung kuda yang ditunggangi Kiddo berhasil selamat.

“SEKARANG, VERO…!!!”

*

Ryu berhenti dari larinya ketika telinganya menangkap suara ringkik panjang seekor kuda di kejauhan. Ia berbalik menghadap ke arah yang diperkirakannya sebagai asal suara ringkik itu. Di satu bagian perbukitan, Ryu menemukan burung-burung melesat keluar dari kerimbunan pepohonan, seakan ada hal mengejutkan yang telah terjadi di bawah sarang-sarang burung itu dan membuat mereka meninggalkan dahan lalu terbang ke angkasa.

“Alvero,” desis Ryu. Tanpa pikir panjang, Ryu meloncat ke atas punggung seekor kuda yang berlari melewatinya, dipeluknya leher si kuda tanpa pelana dan kekang itu kemudian didekatkan mulutnya ke telinga sang kuda. “Kuda, aku Ryu. Dengarkan aku…” Ryu memeluk erat leher sang kuda. “Larilah ke sana, orang yang sama-sama kita sayang sedang dalam bahaya, Alvero dalam bahaya. Larilah sekencang-kencangnya ke sana dan kita selamatkan dia…”

Seakan paham, kuda liar yang semula berlari berputar-putar tak beraturan itu mendadak saja melesat bagai anak panah menuju arah yang dimaksud Ryu.

“Kuda Pintar…,” desis Ryu dan sekali lagi menggebrak tunggangannya agar berlari lebih kencang.

*

Kaori berlari kencang mendekati rumah, pistolnya tak henti menyalak. Beberapa orang di sekitar rumah langsung bertumbangan. Gadis itu masuk ke rumah dengan cara menerobos jendela samping, lengannya tergores kaca. Tak peduli pada lukanya, Kaori merangsek menghindari peluru yang terus ditembakkan dari luar menuju ruang depan di mana orang Big Guy berada.

Sesampainya di sana, gadis itu malah dibuat tercengang. Berdua dengan Yuriko, Big Guy nyaris berhasil membunuhi semua orang yang hendak menyerbu masuk. Dan perabotan tak ada yang utuh lagi.

“Big Guy marah besar…”

Kaori menolehkan kepala ke pojokan. “Grandpa!” serunya dan langsung panik melihat bahu pria tua di depannya yang berdarah.

“Aku baik-baik saja, Kaori. Kupikir sebaiknya kamu menemukan Alvero.”

“Ryu sedang berusaha menemukannya,” jawab Kaori sambil menekan luka Grandpa.

“Kalau begitu, kupikir kamu harus bergabung bersama Big Guy dan Yuriko, beri mereka pelajaran karena berani merusak rumah kita.”

Lalu suara berondongan senjata berhenti. Sesaat kemudian, Big Guy melongok dari balik dinding yang hancur-hancuran. “Sudah kuberi mereka pelajaran, Grandpa…”

*

Begitu sadar kudanya siap terguling dan teriakan Kiddo yang menyuruhnya agar melompat sejenak membuat sirna ketakutannya, Alvero melepaskan rangkulannya pada leher kuda yang ditungganginya dan mengangkat kedua kakinya agar bertumpu pada punggung binatang tersebut.

Lalu, Alvero melompat seperti yang diperintahkan Kiddo.

Begitu Alvero meloncat meninggalkan kudanya, Kiddo berusaha merapatkan tunggangannya dengan posisi Alvero, namun tetap saja tak cukup dekat untuk membuat pria muda itu mendarat seperti direncanakan di atas kudanya. Alvero bergelantungan. Kakinya setengah terseret di tanah, sebelah tangannya dicekal Kiddo dan sebelah lagi mencengkeram surai kuda yang ditunggangi karibnya itu. Sang kuda terus berlari sambil sesekali mengeluarkan ringkikan. Alvero masih bergelantungan, dia menoleh ke belakang, kuda yang baru saja ditinggalkannya kini menggeletak meregang nyawa di belakang sana, sedang kendaraan jahanam itu masih terus melaju pongah tak terpengaruhi kemiringan medan perbukitan, memburunya tanpa kesulitan apapun sejauh ini.

“Vero, berusahalah untuk naik ke atas kuda sebelum kita berdua tergelincir. Aku tidak bisa memegangmu selamanya!”

Alvero berusaha mengangkat badannya ke atas punggung kuda, namun usahanya malah nyaris membuatnya terjatuh ke tanah. Kemudian, tembakan itu kembali menerjang Kiddo.

“Kiddo!”

Kiddo meringis kesakitan. Digebraknya tunggangan mereka agar terus berlari. Lalu ia mendengar seseorang berteriak marah dari arah belakang. Ia dan Alvero sama menoleh. Di belakang mobil, seekor kuda yang bisa jadi adalah kuda paling kencang dari sekian banyak kuda yang pernah dilihat mereka sedang berlari bak lesatan peluru, Ryu jadi penunggangnya. Dalam kekhawatirannya, Alvero tersenyum. Dewa penolongnya baru saja memunculkan diri.

“Matilah, Jahanam…!!!”

Ryu berteriak dan melempar dua pisau ke arah orang-orang di dalam mobil terbuka itu. Dua-duanya menancap di jok.

“Terus kejar, Drako. Biar kuurus pengacau sipit itu!” Pria paruh baya di dalam mobil merubah posisi duduknya dan melepaskan beberapa tembakan ke arah penunggang kuda di sebelah belakang.

Kuda yang ditunggangi Ryu menghindari tembakan dengan cara ajaib. Binatang itu menyisi cepat lalu diawali ringkik panjang melompat tinggi seakan siap mendarat di atas kendaraan di depannya. Ryu melihat kesempatan bagus. Saat kudanya melompat tinggi itu, ia bangun, menginjak punggung sang kuda sebagai tumpuan lalu melontarkan dirinya melambung tinggi ke atas. Sosoknya membuat gerakan jungkir balik di udara lalu dengan pisau teracung di kedua tangan menukik turun menuju mobil.

CRASSS CRASSS

Lolong kesakitan langsung terdengar begitu Ryu mendarat di dalam mobil. Detik itu juga, kendaraan gunung itu melambat dari lajunya sebelum benar-benar berhenti. Pengemudinya terkulai dengan leher koyak, sedang pria paruh baya bertampang menyeramkan dan penuh brewok tampak megap-megap sambil menekap dadanya di mana satu gagang pisau masih menyembul dan basah merah.

“Kau mencari masalah dengan orang yang keliru, Tuan Bedebah…,” desis Ryu sambil menatap tajam orang di depannya yang menggeletak kepayahan di kursi penumpang. Yang ditatap tak bisa mengeluarkan suara selain gumam tak jelas kerena rongga mulutnya dipenuhi darah.

Di depan sana, Kiddo menghentikan laju kudanya. Alvero meloncat turun dan berlari menuju mobil. Kiddo menarik tali kekang dan mengarahkan kudanya agar menyusul Alvero.

“Ryu…”

Ryu turun dari mobil dan mendekati Alvero. Dirangkulnya Alvero dan dicuiminya kepala pria muda itu penuh emosi. Kiddo turun dari kuda dan bergabung bersama mereka. Luka tembaknya tidak dipedulikan, ia memandang bergantian dua pria di dalam mobil, satu sudah mati dengan leher menganga sedang yang satu lagi sedang menuju mati dengan napas yang tinggal satu-satu.

“Siapa mereka?” tanya Kiddo.

Ryu menoleh Alvero, seperti Kiddo, sama-sama menunggu jawaban.

“Don Jose,” desis Alvero.

“Dan siapa Don Jose itu?” tanya Ryu.

“Rekan bisnis Quentin dulu.”

Ryu mengerti tanpa perlu Alvero menjelaskan. Dipeluknya sosok di sampingnya itu kian erat, seolah ingin menegaskan bahwa ia masih ada untuk melawan seribu Don Jose lagi demi pemuda yang dicintainya itu.

Kiddo meringis. “Aku kangen Yuriko mengeluarkan peluru-peluruku.”

“Dasar mesum,” timpal Ryu.

“Ryu-kaicho, ini peluru beneran!” Kiddo menunjukkan bahunya pada Ryu. “Kau pikir peluru yang mana, hah?”

Ryu tak segera menanggapi Kiddo, digandengnya tangan Alvero dan dibawa mendekati kuda tunggangannya yang berdiri tenang seperti menunggu semeter jauhnya dari posisi mobil. Baru setelah memeluk Alvero di atas kuda di depannya, Ryu merespon Kiddo. “Kau hebat, Kid. Ayo kita pulang dan kau bisa mengiba-ngiba di riba Yuriko sambil dia mengeluarkan pelurumu yang manapun itu…”

Kiddo cengengesan, tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik menuju kudanya lalu menggebrak binatang itu menyusul Ryu dan Alvero yang sudah mendahului di depannya. Tak satupun di antara mereka bertiga yang melihat bagaimana Don Jose meraba-raba pistolnya yang menggeletak bersimbah darahnya sendiri di lantai mobil, Ryu dan yang lainnya juga tak sadar ketika moncong pistol itu terangkat menyasar arah kepergian mereka.

Dengan sisa tenaganya, Don Jose berusaha menarik pelatuk. Namun malang, gerakan kecilnya berpengaruh besar bagi keseimbangannya. Tepat di saat pelatuk siap ditarik, sosoknya condong ke depan lalu jatuh bebas dengan posisi tertelungkup ke tanah. Suara tercekat dari tenggorokannya nyaring terdengar saat gagang pisau masuk seutuhnya dan tenggelam habis ke rongga dadanya.

 

 

 

 

Awal September 2015

Dariku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com