TAUBAT

Penulis : Ari Setiawan

 

Cinta bagiku adalah sebuah penantian

Penantian panjang tak berujung

Menelusuri jalan terjal, liku dan berbatu

Cinta bagiku adalah sebuah asa

Sebuah harapan di awang-awang

Terlihat dan tak bisa digapai

Cinta bagiku adalah sebuah aib

Aib yang membuat ku malu

Untuk saat ini dan hingga ku mati

 

Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, aku sangat meyakini penggalan dari lagu Kata Pujangga yang dulu dipopulerkan oleh bang Haji Rhoma Irama telah menjadi kiblat bagi kaum lelaki ketika jatuh cinta. Saat lelaki mulai jatuh cinta, dia akan merasakan jantung berdebar kencang tatkala melihat wanita yang dicintainya, atau dia akan pusing merangkai kata-kata indah saat akan menuliskan surat cinta untuk wanita idamannya.

 

Namun tidak denganku, aku berbeda dari mereka karena aku memiliki cinta yang unik, aku pencinta sesama jenis. Terkadang terselip rasa iri kepada mereka yang selalu memiliki kesempatan untuk merasakan bagaimana indahnya dicintai dan mencintai. Sedih rasanya saat merasakan cinta namun cinta itu selalu dijatuhkan kepada sosok lelaki. Cinta ini pada akhirnya aku pendam, cinta hanya aku sendiri yang tahu, hingga aku berpaling dan menampik rasa ini kemudian membiarkannya hilang dengan sendirinya.

Aku memiliki cinta namun tak memiliki wadah untuk menempatkannya. Kepada siapa aku akan menitipkan cinta ini, kepada siapa aku akan mempercayakan perasaan ini agar dijaga dan dirawat. Setangguh-tangguhnya seorang lelaki, namun jika dihadapkan pada cinta yang tak pernah dimiliki maka tak ada bedanya dengan cangkang tanpa isi, kosong. Hatiku kosong.

***

“Selamat malam, ada yang bisa dibantu?”

Aku membalas senyumnya, sapaan hangat wanita muda itu selalu sama seperti hari biasa, selalu menjaga profesionalisme pekerjaan meski sekarang malam mulai menuju puncaknya. “Kamar nomor 252 dimana ya mbak?” Tanyaku.

“Ada di lantai dua, bapak naik tangga, terus belok ke kanan, lurus aja sampai ketemu kamar nomor 252 di sebelah kiri. Ada yang lain pak?” Tangannya masih saja menunjukkan letak tangga yang ada di pojok sana, dan senyumnya selalu terjaga.

“Owh, gak ada, makasih.” Jawabku singkat.

“Sama-sama, selamat berkunjung!”

“…” Aku hanya membalas senyum sekedarnya.

Mungkin aku bisa dibilang cukup sering mengunjungi hotel ini karena kenyataannya aku tahu betul dimana posisi kamar 252. Namun berbasa-basi dan menyapa wanita tadi adalah sebuah kesenangan untukku. Setelah dari receptionist aku berjalan menuju tangga dengan sedikit bergegas karena nyaris telat dari perjanjian. Sambil melihat layar ponsel dan membaca pesan aku tersenyum sendiri mengingat bahwa malam ini adalah kencanku yang keempat kalinya dalam seminggu ini. “Sya tnggu qm @Peony kmar 252, sya siapkn 1jt jka qm bsa muaskn sya.” Aku tertawa kecil dan tak bisa menyembunyikan gigiku setelah mengulang membaca pesan tadi. Om Jorgi adalah seorang manager di sebuah perusahaan perdagangan berjangka, hampir setiap awal bulan dia menghubungiku. Terhitung telah lebih dari lima kali dia memakai jasaku untuk memuaskan nafsunya. Dan seperti biasa dia selalu menyiapkan rupiah dengan harga fantastis untuk membayarku saat nafsunya tersalurkan, terlebih lagi jika dia terpuaskan. Aku hanya datang membawa batang, sedang dia menyiapkan uang dan liang.

Kuketuk pintu sebanyak tiga kali, kuulangi lagi, lebih dari lima menit aku menunggu di depan pintu. Tak lama kemudian knop pintu berdecak dan daun pintu bergeser. Dia menongolkan kepalanya sedikit dan menyilakanku untuk masuk.

“Kirain gak jadi datang.” Sapanya.

“Maaf om lama, tadi diajakin kawan kerja nonton dulu, jadi agak telat kesininya!” Aku memberikan alasan. Kulihat om Jorgi hanya memakai dalaman, pendingin di ruangan ini dimatikan jadi mungkin telah membuatnya gerah. Aku melepaskan tas selempang dan meletakkan di atas meja, kemudian mengambil remote control untuk menghidupkan pendingin ruangan. Om Jorgi masih berdiri, dia memandangiku dengan teliti. Sempat terlintas di mataku bahwa tonjolan di selangkangannya tampak mengeras. “Kenapa om?” Tanyaku berpura-pura.

“Owh enggak.” Dia menggantungkan kalimatnya, terus berujar kembali. “Kamu selalu bisa membuat saya bergairah. Kamu itu yang terindah.” Dia mulai menggombal, aku hanya menarik nafas dalam sambil memutar bola mata. Aku telah melepas jaket, t-shrit serta jeansku, dan kini hanya mengenakan boxer.

***

Kesadaranku kembali terpulihkan setelah ponselku berdering. Kuraih ponselku, kubuka kunci dan kubaca pesan. “Shit!” Gerutuku, ternyata pesan dari operator jaringan. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, om Jorgi masih tertidur, posisinya miring di sebelah kanan. Mulutnya terbuka sedikit dan mengeluarkan air liur, dia sangat kelelahan setelah tadi kami beradu nafsu. Saat masing-masing telah mencapai klimaks, kami memutuskan untuk baring bersisian di atas ranjang. Tanpa sadar aku pun ikut tertidur.

Segera kukenakan pakaian, kemudian mengumpulkan barang-barangku yang berserakan. Aku duduk di atas meja, kukeluarkan bungkus rokok dan criket dari tas. Setelah menghabiskan dua batang rokok, aku membangunkan om Jorgi. Dia tak bergeming, aku berinisiatif mencari dompet di saku celana kainnya yang tergeletak di lantai. Kuambil sepuluh lembar uang seratus ribu, kemudian pergi.

“Komplek Al-Farizt Recident Tanjung Raya pak!” Sapaku pada supir taxi. Segera aku masuk ke jok belakang mobil, kemudian menelpon Andre sahabatku. Tanpa menunggu lama panggilanku langsung terjawab.

“Assalamu’alaikum.” Sapanya dari ujung sana.

“Ndre kau belum tidur kan? Mau nitip apa?”

“Lagi nonton liga, nitip martabak istimewa, kalau gak ada tahu sumedang jak.”

“Oke.” Kataku saat menutup percakapan. Aku tahu kalau Andre belum tidur karena sudah menjadi kebiasaannya bergadang dimalam minggu seperti sekarang. “Pak, kalau ada martabak atau tahu sumedang singgah sebentar ya!” Pintaku pada pak supir.

“Iya mas.” Jawabnya.

Sesampai di rumah aku melirik jam dinding, pukul tiga pagi. Tak banyak obrolan berarti saat Andre membukakanku pintu. Setelah menyerahkan pesanannya, aku langsung menuju kamar, kemudian membenamkan tubuh di atas tempat tidur dan terlelap.

***

Hari ini adalah hari senin dimana menjadi awal rutinitas pekerjaan. Di luar masih gelap, seperti biasa aku akan bangun siang demi membalaskan dendam untuk mengganti tidur malam. Andre membangunkanku, “Kita subuhan yuk!” Sapaan Andre selalu menggunakan bahasa yang santun, itu telah menjadi kebiasaannya juga. Mendengar ajakannya aku hanya bergumam kemudian melanjutkan tidur. Tak mau tinggal diam, dia mulai mengganggu dengan membasuh mukaku menggunakan tangan basahnya. Aku mengumpat dan melemparnya dengan bantal, dia bukan marah melainkan hanya tertawa bahagia kemudian berkata, “Jadi anak kok malas amat!”

Aku kadang sedikit kesal dengannya, hampir setiap pagi dia akan membagunkanku dengan cara yang sama, tiga atau empat kali dalam seminggu. Aku sering marah kepadanya namun dia hanya membalasku dengan senyum. Jika rumah ini memiliki lebih dari satu kamar maka aku akan memilih tidur di kamar lain dengan mengunci pintu, namun nyatanya aku tidak punya pilihan selain sekamar dengannya.

Dan ketahuilah, Andre selalu membuka gorden lebar meski mentari belum menyingsing, alasannya hanya satu yaitu untuk membangunkanku. Cahayanya akan masuk menembus melalui kaca kemudian menyinariku yang berada di tempat tidur karena kebetulan jendela menghadap ke ufuk timur. Aku yang sedang tertidur merasa terganggu dan mau tidak mau harus bergerak sendiri menuju jendela untuk menutup kembali gorden.

“Sarapan ada di atas meja, kamunya jangan dibiasain tidur pagi gak baik. Usahakan mandi sebelum lewat jam sepuluh.” Telingaku mulai panas karena sebelum berangkat kerja Andre selalu berpidato di depanku dengan tema yang sama. Aku hanya menjawab “iya” kemudian menutup seluruh tubuhku dengan selimut.

Aku akui Andre adalah sahabat terbaik, kami bersahabat semenjak sekolah menengah. Sewaktu lulus dari SMA kami memutuskan hijrah ke kota ini untuk melanjutkan pendidikan. Setelah mendapat gelar sarjana dibidang akuntansi dia diterima bekerja sebagai CSO di salah satu bank swasta. Rumah mungil ini adalah rumah komplek BTN yang dibeli Andre dari hasil kerjanya, dia menyilakanku untuk tinggal bersamanya karena iba melihat pekerjaanku yang tak memiliki hasil sepertinya.

Sedang aku yang memiliki ijazah pendidikan memilih untuk menjadi staf pengajar di bimbingan belajar. Aku memilih pekerjaan rutin sift sore karena memiliki kesempatan untuk mendapatkan uang tambahan sebagai lelaki panggilan. Hampir setiap malam aku beroperasi sedang pagi aku akan tertidur pulas. Meski aku telah mengenal banyak orang di dunia malam, aku selalu menjaga keperjakaanku karena aku hanya lelaki panggilan untuk para penikmat nafsu penyedia liang.

Sejujurnya, pekerjaan sampinganku lebih menghasilkan berkali lipat dari pada bekerja di bimbingan belajar namun aku memilih bertahan menjadi staf pengajar dengan alasan untuk menutupi jati diri. Aku terlalu royal dengan uang sehingga tak ada kemajuan dari hidupku, hanya memiliki sebuah motor yang terawat baik, itu pun pemberian dari orang tua saat wisuda tiga tahun lalu. Seluruh kehidupan pribadiku Andre telah mengetahuinya, namun ada satu yang masih menjadi rahasia terbesarku yaitu mengenai orientasi seksualku serta pekerjaan sampinganku. Dan selama lima tahun ini semua berjalan mulus.

Merasa puas terlelap aku segera bangun, kusibak selimut dan beranjak meninggalkan tempat tidur. Kandung kemihku terasa penuh dan isinya meminta untuk segera dikeluarkan, perutku juga mulai terasa lapar. Setiba di WC aku menurunkan boxer, berdiri menghadap closet. Tiba-tiba batang kemaluanku terasa sedikit nyeri, aku mengatur keluarnya air seni secara perlahan, yang keluar awalnya cairan putih kental, setelahnya cokelat orange, kemudian diakhiri putih lagi. Sentak aku terkejut, rasanya nyeri disertai panas seperti terbakar.

Air mataku keluar dengan sendirinya karena menahan sakit saat akan mengeluarkan sisa-sisa cairan putih. Kemaluanku juga tak ingin berkompromi, nyeri semakin bertambah saat berkontraksi hingga mencapai ereksi sempurna. Aku keluar dari WC berjalan mengangkang dengan sedikit berjinjit. Aku terpingkal-pingkal.

Sosis, telur mata sapi dan mie goreng tak menjadikanku berselera untuk menyantapnya, aku hanya termenung memandangi piring. Segera aku kembali ke kamar, kemudian mencari artikel-artikel di google mengenai penyakit menular seksual. Dari tengah hari hingga menjelang sore aku hanya berkutat di atas tempat tidur dengan memegang ponsel, mencari berbagai referensi terpercaya. Dan dapat kusimpulkan bahwa penyakit yang kuderita adalah sipilis. Aku telah teledor saat berhubungan intim dengan om Jorgi dua hari lalu, tanpa menggunakan pengaman. Dadaku berdebar, aku takut kalau sampai terkena penyakit AIDS. Pikiranku kalut tak tentu arah, ingin menangis rasanya, menangisi kebodohanku.

Setelah mandi, aku mengenakan pakaian dan mengambil kunci motor, segera meluncur ke apotek untuk membeli beberapa antibiotik. Aku juga tidak lupa meminta izin kepada staf TU di bimbingan belajar dengan beralasan kurang enak badan. Dari apotek aku memutuskan untuk nyantai sejenak di sebuah cafe blok ambalat, memesan extrajoss susu serta beberapa cemilan, senja pun telah terlewatkan.

Menjelang akhir sepertiga malam aku mulai merasa bosan, segera kuputuskan mengunjungi BZ untuk clubbing disana. Aku benar-benar frustasi dan disana adalah tempatku untuk menghilangkan penat pikiran. Setelah tiba aku memilih duduk di sofa pojok dan memesan dua botol Anker Bir dan Tequila.

Hal yang paling ku benci adalah ketika harus buang air atau saat kelaminku sedang ereksi. Rasa nyerinya tak dapat terelakkan, aku semakin frustasi. Lima tahun menjalani profesi ini aku tak pernah lupa memakai pengaman, tapi kenapa aku kemarin bisa lupa. Aku memukul keningku beberapa kali dan berulang membodohi diri sendiri. Aku kembali memesan minuman setelah menghabiskannya. Aku terlelap, kemudian tersadar. Kulihat di sekeliling telah sepi. Kepalaku terasa pusing dan segera kuputuskan untuk pulang.

***

Aku mengucek-ucek mata, kepalaku berat terasa, kuraba keninggku dengan punggung tangan, hangat. Aku bangkit dari tempat tidur, melangkah ke kamar mandi kemudian membasuh muka. Kubasahkan rambutku yang kering. Setelah sampai di kamar, kupandangi diriku di depan cermin. Mukaku kusut, mataku memiliki kantung, bibirku sedikit pucat. Hanya menyisirkan rambut pun kepalaku terasa sakit, kulitnya seperti tertusuk-tusuk jarum.

Clubbing tiga malam berturut-turut berhasil merobohkanku. Nafsu makanku juga seakan sirna. Sial, pasti penyakit AIDS ini telah menggerogotiku, nyeri pada kelaminku juga tak kunjung hilang. Kamu selalu bisa membuat saya bergairah. Kamu itu yang terindah. Aku mengingat perkataan om Jorgi kemarin, pasti penyakit sialan ini berasal dari dia. Dia pasti telah terlutar virus jahanam dan sengaja menularkannya padaku. Sial, dari bahasanya kemarin pasti dia sering kencan dengan sembarangan orang. Bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa kemarin aku bisa lupa pakai pengaman.

Aku menelpon Andre untuk membawakan beberapa obat dari apotek. Pusing di kepalaku teramat sangat. Pandanganku sedikit berkunang-kunang, gelap. Aku terjatuh, kepalaku seperti terbentur sesuatu, mungkin pojok meja. Aku tergeletak di lantai. Aku memanggil nama Andre dengan sekuat tenaga namun semua seakan sia-sia, suaraku tertahan di leher.

***

Sekujur tubuhku terasa dingin, sangat-sangat dingin. Setelah kedua mataku terbuka, kuedarkan pandangan di sekeliling. Di luar sepertinya sedang ada gemuruh karena hujan. Aku sekarang berada di ruangan yang terang namun mengerikan. Dinding ruangan berwarna cokelat kehitam-hitaman, kusam dan kotor. Di sebelah kanan bagian ujung kakiku ada sebuah pintu yang terbuka. Meski terasa dingin ruangan ini sedikit pengap karena berukuran kecil dan tak memiliki jendela atau fentilasi. Aku tak mengetahui bahwa ada orang yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Ku beranikan diri untuk menyapanya. “Anda siapa? Saya dimana?”

Dia diam tak bergeming, masih sibuk dengan pekerjaannya. Setelah itu dia berjalan mendekatiku sambil membawa nampan, meletakkannya di atas meja kecil di samping kiri tempat tidurku. Orang aneh pikirku, pakaiannya hitam, masker yang digunakan juga hitam, bahkan sarung tangannya juga, semua serba hitam. Aku baru tersadar ternyata pakaian yang kukenakan juga berwarna hitam, kasur tempat kuberbaring juga hitam. Dia kemudian membuka maskernya dan berucap. “Kamu sekarang berada di klinik penanganan korban AIDS. Kamu tahu sendiri kan kalau AIDS itu belum ada obatnya. Maka dari itu kamu harus tetap disini untuk memperpanjang umur.”

AIDS? Suster bohong kan?”

“Bohong kata kamu? Kamu sadar gak telah berbuat apa? Ini hasil kebodohanmu!”

Aku mengingat-ngingat kembali kejadian beberapa hari lalu hingga berada di ruangan ini, “Andre dimana ya sus?”

“Siapa dia?” Aku terdiam sesaat karena bingung siapa yang membawaku kesini, kemudian dia melanjutkan kalimatnya. “Owh dia, seminggu lalu dia hanya mengantarmu kemudian pergi, karena dia lelaki sehat makanya dianjurkan untuk tidak berada disini. Kamu ngerti kan maksud saya?”

Bibirku semakin membisu mendapati nasib yang kini terkena AIDS. “Jadi saya udah seminggu disini?”

Kulihat dia mengeluarkan jarum suntik, lantas mengisinya dengan cairan berwarna hijau dari sebuah botol kaca kecil. Di jentik-jentiknya tabung suntikan untuk memastikan tak ada rongga udara di dalamnya. Kemudian dicabutnya lagi jarum itu setelah cairan hijau telah terisi penuh, kembali dia menjentikkan jarum mungil itu untuk memastikan tak tersumbat.  “Sini tangan kamu, saya kasih obat dulu!”

Sesuai dengan instruksinya aku menggenggam tangan, ketika pembuluh darahku tampak dia menyuntikkan cairan hijau tersebut. “Auuussssshh, sakit sus!” Seruku. Dia hanya diam. Setelah urusannya selesai dia kemudian keluar ruangan dan menutup pintu. Aku membatin, ada ya suster seperti dia, tidak ramah dengan pasien.

Lama kuterdiam dalam baring, tak bisa membedakan waktu, tak bisa membedakan siang atau malam. Kupaksakan badanku untuk bangun, dengan bersusah payah akhirnya aku berhasil duduk dengan kaki berselonjor. Aku ingin buang air. Saat akan menggerakkan kaki aku terkejut, ada selang yang terhubung dengan alat kelaminku. Aku juga baru tersadar, ternyata tangan kananku telah tersambung selang infus, di sebelah kanan menggantung tabung yang berisi cairan merah pekat, mirip darah. Aku merinding.

Rasa bosan kini melandaku, telah lama rasanya berada di ruangan ini, aku ingin pulang.  Tapi aku mengingat kembali perkataan suster tadi dengan sejuta pertanyaan menggantung. Seminggu lalu dia hanya mengantarmu kemudian pergi. Jadi aku telah berada disini selama seminggu? Maka dari itu kamu harus tetap disini untuk memperpanjang umur. Bagaimana aku bisa pulang kalau aku belum sembuh. Sampai kapan aku akan disini? Aku kembali mengingat-ingat. Kamu tahu sendiri kan kalau AIDS itu belum ada obatnya. Lantas bagaimana caraku bisa sembuh kalau penyakit ini belum ada obatnya. Aku tinggal menunggu mati, percuma rasanya dikasih obat kalau akhirnya aku akan mati juga. Aku bingung, hatiku benar-benar hancur, otakku sudah tak bisa berpikir lagi. Bahkan menangispun aku sudah tak bisa.

Tiba-tiba knop pintu berdecak, seperti ada orang di balik sana yang membuka pintu dan hendak masuk. Saat pintu terbuka ada tiga suster yang berpakaian serba hitam seperti suster tadi, yang di depan membawa nampan sedangkan dua di belakangnya membawa buku besar.

“Sini tanganmu, dibius dulu!” Suster yang membawa nampan berucap.

“Apa sus, bius?” Aku melihat dia membawa cairan biru. Kini aku benar-benar heran, heran yang bercampur dengan rasa takut.

“Iya bius, belum tahu ya, tiga puluh menit lagi kita akan melakukan operasi amputasi alat kelamin!”

“Apa sus, amputasi. Suster gila ya?”

“Kamu udah satu minggu tak sadar. Dari hasil pemeriksaan kemarin kamu mengidap AIDS dan sipilis. Sebelum sipilismu menyebar ke seluruh bagian tubuh yang lain, jadi amputasi adalah cara terbaik.”

“Tidak, tidak, tidak mungkin. Saya tidak mau diamptasi sus!”

“Yang diamputasi bukan kamu, tapi alat kelaminmu.”

“Tidak, saya tidak mau!” Aku memberontak, mengambil bantal dan barang-barang di atas meja yang dapat kujangkau kemudian melemparnya ke arah para suster. Aku berteriak dan meminta pertolongan.

“Oke, nanti kami akan kembali. Kamu tidak akan bisa kemana-mana.” Kulihat mereka bergegas meninggalkan ruangan, menutup pintu dengan kasar. Suara dentuman pintu benar-benar mengagetkan sekaligus menakutiku. Mungkin karena gagal untuk memberiku bius membuat mereka emosi.

“Tidak, tidak mungkin. Aku harus pergi, aku harus keluar dari tempat ini apapun caranya.” Dengan berhati-hati, kucabut jarum infus, tak lupa juga kulepas selang yang menempel di selangkangan. Aku beranjak dari tempat tidur kemudian berjalan menuju pintu. Kuputar-putar knop pintu, kudorong-dorong pintunya, gagal, tak bisa terbuka. Pintu ini benar-benar terkunci. Mereka menginginkanku untuk tetap berada di ruangan ini. “Toloooong, tolooong…” Kudobrak-dobrak, kudorong dengan seluruh tenagaku. Aku menangis, aku sesugukan. Tetap saja pintu ini tak terbuka. Aku terus  memutar knop sambil mendobrak-dobrak. “Tolooong, bukakan pintu..” Aku menggedor-gedor.

Liyundzira ma kaana hayyaw wa yahiqqal qaulu ‘alal kaafiriin

Samar-samar ku dengar suara orang sedang mengaji, seperti suara Andre. “Andre! Kau kah itu?” Aku semakin bersemangat mendobrak pintu tapi tak juga terbuka.

Qul yuhyiihalladii ansya’ahaa awwala marratiw …

Ya itu benar-benar suara Andre. “Ndre, bukakan pintu. Ndre kumohoon, tolooong.” Semakin kucoba namun tetap saja gagal, suara itu juga berangsur-angsur menghilang. “Andre kau dimana?” Suara Andre kini benar-benar menghilang. Aku pasrah, berpegangan pada knop, menyandarkan tubuh di daun pintu, badanku lemah tak berdaya. Aku berangsur-angsur duduk dengan memunggungi pintu, melipatkan kaki dan menopang dagu dengan kedua lutut. Lama kutertegun tak tahu ingin melakukan apa, aku sudah tak dapat berpikir lagi.

Knop pintu kembali berdecak, aku mengusap air mata, bangkit dan semangatku kembali membuncah. “Andre kau kah ittuuu?” Aku terkejut, saat pintu terbuka kulihat lima orang berdiri di depan pintu. Seorang lelaki memegang tongkat, yang didampingi oleh dua suster membawa gunting pemotong tanaman dan dua perawat yang membawa pisau pemotong daging.

“Apakah operasinya bisa dimulai sekarang sus?” Sapa si pria bertongkat pada kedua susternya.

“Iya dok bisa, kita mulai saja.” Suster pertama berucap.

“Tapi dia belum dibius dok.” Kini suster kedua yang berucap.

“Owh tidak apa-apa, kita akan melakukannya tanpa obat bius.” Lanjut si pria bertongkat.

“Tidak, tidak. Saya tidak ingin diamputasi.” Aku mundur beberapa langkah, bersandar di dinding. “Tolooong, tolooong…” Nafasku terengah-engah.

“Potoong, potoong, potoong, potoong…” Kedua perawat sangat bersemangat.

“Tidak, tidak…. Saya tidak ingin dipotong.”

“Potoong, potoong, potoong, potoong…” Kini kedua suster mengiringi perawat sambil mengacungkan gunting besarnya ke arahku. “Potoong, potoong, potoong, potoong…” Kedua perawat juga tak ingin kalah, mengacungkan pisaunya. “Potoong, potoong, potoong, potoong…”

“Tidak, tidak, tidaaak…”

… naaran fa’idzaa antum minhu tuuqiduun

Samar-samar kudengar kembali suara Andre. Aku meminta pertolongan. “Andreeeeee, tolooong…” Tiba-tiba semua yang ada di ruangan sempit ini menjadi terang, sangat-sangat terang. Aku menyipitkan mata karena teramat menyilaukan. Mataku kini tertutup. Dengan mata tertutup, aku kembali ke ruangan gelap, berdiri dan bersandar di dinding. Aku seperti berpindah dimensi, saat ruangan mendadak terang aku seperti sedang terbaring, namun saat berpindah di ruangan yang sempit dan menyeramkan posisiku sedang berdiri dan bersandar pada dinding.

“Potoong, potoong, potoong, potoong…” Kelima sosok manusia yang bagiku menyerupai iblis masih menyerukan kalimat yang mengerikan.

Samar-samar kembali lagi ku dengar suara Andre. Aku kembali berteriak. “Tolooong…”

Awalaisal ladzii khalaqas samaawaati wal ardha … wa huwal khallaqul’aliim

Aku kembali membuka kelopak mata, perlahan-lahan hingga terbuka sempurna. Sinar lampu yang terang terasa begitu menyilaukan. Kuedarkan pandangan ke atas, tampak putih. Kemudian mengalihkan pandangan ke kanan, tampak jendela kaca yang berwarna gelap, tirainya terbuka. Aku menoleh ke kiri, tampak tiang yang puncaknya tergantung sebuah tabung berisi cairan bening, tersambung selang yang ujungnya bermuara di punggung tangan kiriku. Kesadaranku telah pulih seutuhnya, aku berucap dalam hati. Untung hanya mimpi.

Innamaa amruhuu idzaa araad syai’an ayyaquula lahuu kun fayakuun

Badanku terasa panas, seperti berada di samping perapian. Aku memejamkan mata sekejap, bayangan manusia membawa tongkat itu kembali hadir. Aku segera membuka kembali mataku, aku takut. Lagi aku mendengar suara Andre dengan sangat jelas. Kulihat sosok Andre di sebelah kiriku, duduk dengan memegang sebuah buku kecil. Aku berhasil menggerakkan tangan kiriku, mencoba meraih lengan kanannya.

Fasub-haanalladzii biyadihii malakuutu kuliisyai’iw wa ilaihi turja’uun

Sada qallahul ’adzim

“Alhamdulillah kamu udah sadar!”

“Aku dimana Ndre?” Kulihat Andre menutup bukunya, melepas kopiah, kemudian bangkit dan berjalan, meletakkannya di atas meja sekaligus lemari di samping tiang infus. Di atas meja kulihat setumpukan buku, baskom berbahan alumunium dan beberapa kantong plastik berwarna putih, terdapat pula dua buah botol air mineral berukuran besar, di sampingnya bertengger gelas.

Andre mengambil baskom berjalan menuju pojok, membuka keran dan mengisinya dengan air, kemudian berjalan balik dan meletakkannya kembali di atas meja. Sambil membasahkan handuk putih kecil kemudian memerasnya Andre berujar. “Kamu sekarang di rumah sakit, udah satu malam kamu disini. Kemarin sore aku menemukanmu di rumah dalam keadaan pingsan. Untung ada bang Yudi, jadi aku gak kesusahan bawa kamu kesini.”

“Jadi aku tak sadar berapa lama Ndre?” Aku memotong kalimatnya.

“Aku menemukanmu menjelang magrib, sekarang jam lima pagi, kurang lebih dua belas jam. Aku semalam khawatir saat kamu masih di IGD. Kamu dalam keadaan tidak sadar tapi sesekali memanggil namaku, terus kadang bilang minta ampun. Para perawat juga sempat heran. Dokter yang menanganimu kemarin sore sempat bilang kamu gak apa-apa, hanya perlu istirahat. Dia juga pesan kalau kurang dari lima jam panas badanmu menurun, kamu akan dipindahkan ke ruang rawat inap.”

“Jadi aku gak sadar hanya dua belas jam?” Aku mengerutkan kening.

“Iya, kenapa?”

“Gak apa-apa, soalnya aku mimpi aneh, rasanya udah seminggu.” Aku melihat baju yang sekarang kugunakan, untunglah bukan baju hitam seperti dalam mimpi, pikirku.

Aku sudah tak mampu lagi menahan hawa panas, badanku terasa basah oleh keringat, dengan segera kubuka selimut yang menutupi tubuhku dari dada hingga kaki. Kulihat Andre membuka pintu lemari dan mengeluarkan handuk kecil. Kemudian mendekat dan mengelap-lap dahiku, pipi. “Aku buka sekalian ya bajumu? Mandi lap-lap! Badanmu basah, bau juga.” Dia sambil nyengir kuda. Aku hanya mengangguk dan bangkit duduk. “Semalam darahmu diambil, buat diperiksa. Kata suster nanti siang hasilnya keluar. Btw kamu kenapa beberapa hari ini kayaknya gusar. Gak seperti kemarin-kemarin.”

“Ndre, aku mau jujur, tapi kamu jangan marah ya!”

“Marah? Kenapa emangnya?”

“Janji?”

“Ya janji!”

“Aku kena AIDS dan sipilis Ndre.”

“Apa?”

“…” Aku hanya menunduk. Membisu sesaat tanpa menghiraukan kekagetannya.

“Hahahaha…”

“Pakai acara ketawa lagi! Serius ini.”

“Hahaha…” Andre tak henti-hentinya menertawaiku.

“…”

“Hahahaha, emang kamu tahu dari mana?”

“Malam minggu kemarin kan aku ada berhubungan, terus lupa pakai kondom, pas senin pagi aku kencing ada keluar nanah, rasanya sakit Ndre.

“…”

“Aku stress Ndre, makanya aku clubbing. Terus aku langsung demam. Kan daya tahan tubuhku tiba-tiba menurun, berarti aku kena AIDS dong!” Aku hanya menundukkan kepala, tak berani menatap wajah Andre, sedang dia masih asyik mengelap-lap badanku dengan handuk basah. Dia masih saja menganggap yang kuceritakan adalah lelucon.

“Udah jangan ngaco, ini nih akibat kepalamu benjol makanya kamu stress.” Aku memegang kepala, ternyata benar-benar diperban. Andre kembali mengelap dahiku dan menekan sedikit di perban tepat di bagian kepalaku yang terkena pojok meja.

“Aaauuu… Sakit tau.”

“Owh, benar-benar sadar toh!”

“Tapi aku kencing ada nanahnya Ndre, itukan pertanda sipilis!” Aku meyakinkannya.

“Hadeh, kenapa kamu jadi mendadak tolol gini. Udah aku gak mau dengar cerita ngawur.”

Mungkin, kekhawatiran, ketakutan dan rasa bersalah membuatku menjadi tolol sesaat dalam menghadapi penyakit yang kuderita, hingga akhirnya terbawa mimpi.

***

Tepat lima hari aku dirawat di rumah sakit dan hari ini diizinkan pulang. Selama dalam masa perawatan, Andre tak pernah absen menjagaku, dia mengambil cuti kerja selama seminggu dikantornya. Pada jumat pagi, saat setelah dia membersihkan badanku kemarin, aku menceritakan aktivitas malamku. Ternyata Andre tak marah, dia telah mengetahuinya, hanya saja membiarkanku. Dia mengatakan telah lama tahu karena curiga dengan beberapa bungkus pengaman yang sering dia jumpai di dalam tas selempangku.

Aku bertanya mengapa dia tak marah, namun dia hanya memberiku alasan. Kamu itu masih labil dan suatu saat nanti kedewasaan akan menuntunmu ke arah yang lebih baik, aku wajib mendoakanmu. Dan sepertinya doaku hari ini terjawab. Aku berbinar mendengar nasihatnya dan disaat apapun dia selalu meledekku. Yah walau pun kamu kenyataannya udah tua, tua itu pasti dewasa itu pilihan kan?

Entah untuk alasan apa Andre dan pihak rumah sakit tidak membahas masalah penyakit kencing nanah di depanku. Siangnya, setelah aku bercerita dengan Andre, dokter yang menanganiku datang dengan membawa hasil lab. Aku menderita typhoid. Saat mengkonsumsi obat sirup dan tablet aku tak melihat sama sekali adanya antibiotik khusus, namun rasa nyeri pada kelaminku berangsur-angsur menghilang dan hari ini bisa dikatakan sembuh total.

Dan satu hal yang paling aku takutkan adalah saat jati diriku yang sebenarnya ketahuan oleh Andre. Namun kenyataannya tidak demikian. Dia yang menyimpulkan sendiri kalau aku sering dipanggil oleh tante-tante girang. Aku mengembuskan nafas lega walau mungkin dia sengaja tak ingin menjatuhkan harga diriku. Dan telah aku katakan sebelumnya, kalau Andre benar-benar sahabat terbaik. Semua biaya perawatan di rumah sakit dia yang membayarnya.

“Tunggu disini sebentar ya, mau ke minimarket dulu!”

“…”

Lamunanku teralihkan, aku tak bergeming. Setelah memarkirkan mobil di depan sebuah minimarket, Andre berlari-lari kecil melangkahi genangan air. Di luar sedang turun hujan. Aku duduk bersandar menikmati alunan musik yang sengaja diputarnya saat berangkat dari rumah sakit. Aku memejamkan mata, menyesapinya dalam-dalam.

Ya Robbi, izinkanlah aku kembali pada-Mu

Meski mungkin tak kan sempurna

Aku sebagai hamba-Mu

 

Reff:

Ampunkanlah aku, terimalah taubatku

Sesungguhnya Engkau sang maha pengampun dosa

Berikanlah aku kesempatan waktu

Aku ingin kembali, kembali

 

Dan meski tak layak, sujud pada-Mu

Dan sungguh tak layak, aku

 

Aku mengingat kembali perbuatan yang telah kulakukan dalam lima tahun terakhir, tentang aktivitas malamku. Kemudian merenungi mimpi yang kualami di dimensi berbeda saat sebelum kusadar. Mimpi yang seolah nyata, mimpi yang seperti memperingatkanku. Namun tetap saja aku masih memiliki perasaan rancu, rancu karena menemukan kejanggalan. Mengapa Tuhan menciptakan perasaan seperti ini namun Dia justru melarangnya. Mengapa dia membiarkan ada rasa seperti ini di dunia.

Aku juga mengingat-ingat, selama di rumah sakit tak pernah tidur dengan lelap. Aku masih mengingat sosok pria bertongkat. Aku takut untuk memejamkan mata. Namun seiring terdengar suara Andre yang mengaji membuatku berangsur-angsur terlelap. Melihatnya mengerjakan sholat di kamar rumah sakit membuatku merasa lebih aman dan tentram.

“Kita pulang yuk.”

“Ndre, waktu kemarin aku bangun, kamu baca apaan sih?”

“Owh, itu. Surat yasin. Kenapa?”

“Gak apa-apa.”

“…” Dia menampakkan raut wajah heran.

“Ndre, nanti sampai di rumah ajarin aku sholat n ngaji ya!”

“Sahabat aku nih udah sembuh apa belum ya? Tumben! Biasa diajakin sholat jak malah marah-marah.”

“Udahlah Ndre, jangan ngeledek. Malu aku.”

“Iya-iya, dengan senang hati”

Andre menghidupkan mesin sambil tersenyum kemudian memutar mobil dan melanjutkan perjalanan menuju rumah. Menderu jalan yang semakin lama hujannya semakin deras. Dari hari ini aku akan memulai hidupku yang baru, akan kupastikan hidupku berubah.

***

Epilog

 

Jika berbicara tentang cinta maka tak akan ada habisnya. Cinta dapat mengubah manusia menjadi peduli. Namun dengan mengatasnamakan cinta pula, banyak manusia yang berhati lembut menjadi kasar. Mungkin aku yang demikian, dengan beralasan karena cinta aku melakukan tindakan bodoh.

Terlalu banyak kebodohan yang kusemaikan disini

Tanpa sadar kebodohan itu tumbuh subur dan menyemaki ruang hidup dan gerakku

Aku terkurung dalam penjara rimba kebodohan yang kutanam sendiri

Yang entah kapan aku akan sadar telah terperangkap dan dapat lepas dari buinya

Atau mungkin aku akan sadar saat azab menyapa

Aku dulu sempat menepis pribahasa yang mengatakan bahwa berteman dengan penjual minyak wangi, maka akan kecipratan wanginya. Mengapa? Karena aku telah lama bersahabat dengan Andre yang religius sedangkan aku tetap pada tindakan bodohku. Namun sekarang pribahasa itu tak terbantahkan, doa Andre telah dijawab. Belajar sesudah dewasa laksana mengukir di atas air memang benar adanya. Aku kesulitan untuk belajar dan hambatannya adalah karena kesulitan untuk mengingat kembali yang telah dipelajari. Aku harus pandai menyikapinya karena aku ingin terus maju.

Andre sangat teliti saat dulu mengajariku bagaimana cara berwudhu, bagaimana cara mandi zunub dan memakaikanku kain sarung saat akan mengerjakan sholat untuk yang pertama kalinya. Hari ini adalah ujian menghafal bacaan sholat. Seperti biasa Andre akan menyiapkan rotan berukuran satu meter untuk memapah betisku ketika salah dalam melantunkan bacaan sholat. Dia juga akan memukul punggungku ketika ruku’ku tidak sempurna, atau memukul telapak kakiku ketika salah melipatkan kaki pada duduk diantara dua sujud atau tasyahud awal dan tasyahud akhir. Hari ini tepat tiga bulan setelah memintanya untuk mengajariku mengaji dan sholat.

Saat mulai belajar mengenal huruf hijaiyah dulu, aku sering mendapatkan sabetan lidi aren di lenganku karena sulit membedakan huruf nun dan ba atau huruf jim dan kho, seperti KDRT. Dan Alhamdulillah, aku sekarang sedang naik tingkat di iqro empat. Dia pernah beralasan mengapa bertindak demikian. Aku mengajarimu dengan serius dan ini menjadi tanggung jawabku sebagai sahabat. Dulu abah dan umiku melakukan ini waktu aku masih TK, makannya aku melakukannya ke kamu karena kamu terlambat. Ya, aku memang pantas mendapatkan perlakuan seperti ini, karena sekarang aku telah dipenghujung usia perak.

Keseriusan Andre memang tak diragukan lagi. Setiap subuh dia akan semangat membangunkanku, saat pulang kerja dia akan datang lebih cepat karena mengejar waktu magrib untuk mengajakku sholat di masjid, isya kadang kami berjamaah di rumah. Ketika hari jumat tiba pada jam istirahat kantor Andre akan segera pulang dan mengajakku sholat jumat. Kadang terlalu berlebihan rasanya. Kamu itu masih belajar, masih harus dipantau, kita harus saling mengingatkan. Aku hanya bisa diam saat dia memberikan alasannya.

Dan lagi-lagi bahasa leluconnya membuatku malu dan rasanya ingin masuk ke lubang terkecil. Ironis ya, seorang sarjana pendidikan mendapat perlakuan seperti ini dari temannya yang sarjana ekonomi. Sakit dan mimpi yang membawa berkah. Sakitnya tuh disini. Dia menunjuk dadanya yang seolah mengejekku, kemudian menertawaiku. Dia selalu memberiku semangat untuk terus belajar. Dia juga mengatakan, aku mulai memiliki perubahan, terutama dari cara berbicara yang lebih sopan, cara berbicara yang menggunakan bahasa santun.

Aku mendapat banyak nasihat dari Andre. Saat aku menyiratkan pernyataan atau pertanyaan namun dia selalu menepisnya. Cinta bagiku adalah sebuah aib, aib yang membuat ku malu, untuk saat ini dan hingga ku mati. Setangguh-tangguhnya seorang lelaki, namun jika dihadapkan pada cinta yang tak pernah dimiliki maka tak ada bedanya dengan cangkang tanpa isi, kosong. Dengan santainya dia akan menyanggahku dan membuatku tak berkutik. Jika kau mencintai seseorang namun membuatmu menjauhi Tuhanmu maka yakinlah itu bukan cinta melainkan nafsu. Cinta untuk siapa yang lebih hakiki, cinta untuk Tuhan atau cinta yang berlandaskan nafsu dan keinginan sesaat. Perasaanku menjadi tenang, menjadi terarah dan memiliki tujuan yang harus aku gapai. Dan aku sangat bersyukur karena Tuhan masih menjaga aibku, menutupinya dari orang lain bahkan dari sahabatku sendiri.

Aku juga sering diajak Andre untuk mengikuti tabliq akbar dan pengajian mingguan. Dari situlah aku menemukan jawaban atas apa yang ku gamangkan selama ini. Mengapa Tuhan menciptakan perasaan seperti ini namun Dia justru melarangnya. Mengapa dia membiarkan ada rasa seperti ini di dunia. Dan jawaban itu sangatlah sederhana. Tuhan tidak peduli dengan makhluk yang diciptakan-Nya berbentuk seperti apa atau dalam keadaan apa, namun yang Dia inginkan adalah kita sebagai hamba harus beriman dan bertaqwa kepada-Nya dan tak ada Tuhan yang wajib disembah selain Dia. Rasanya tak ada lagi yang dapat kujadikan alasan untuk kembali melakukan tindakan bodoh.

Pernah kubertanya pada Andre, masihkah aku memiliki kesempatan untuk melakukan kebaikan dari apa yang pernah kulakukan. Lagi dan lagi dia membuatku tak berkutik. Detik jam tidak pernah bergerak mundur, waktu yang telah lewat tak mungkin dapat terulang, namun pagi akan selalu menawarkan cerita yang baru. Ingatlah, Tuhan itu maha pengampun. Ya aku menyadari, selama ini aku tak pernah mendapatkan bimbingan agama. Lahir dari orang tua yang mualaf serta tumbuh dan besar di lingkungan kalangan minoritas membuat bekal agamaku kurang. Selama sekolah dulu aku tak menyukai pelajaran pendidikan agama islam. Sekarang aku mulai mengubah arah hidupku, mengubah cara berpikir, sedang belajar mencintai Tuhanku untuk menjadi hamba-Nya yang taat karena itu adalah kunci kebahagiaan hidup.

 

 

Selesai…