JUDUL : TAUBAT

PENULIS : ARI SETIAWAN BIN ABDUL GAFUR

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

 

PROLOG

 

Cinta bagiku adalah sebuah penantian

Penantian panjang tak berujung

Menelusuri jalan terjal, liku, dan berbatu

Cinta bagiku adalah sebuah asa

Asa yang membumbung tinggi di awang-awang

Terlihat dan tak bisa digapai

Cinta bagiku adalah sebuah aib

Aib yang membuatku malu

Untuk saat ini dan hingga kumati [*]

 

Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Aku sangat meyakini, penggalan lagu Kata Pujangga yang dipopulerkan oleh Bang Haji Rhoma Irama telah menjadi kiblat bagi kaum lelaki ketika jatuh cinta. Ketika jatuh cinta, seorang lelaki akan merasakan jantung berdegup kencang tatkala melihat wanita yang dicintainya. Atau, dia akan pusing merangkai kata-kata indah ketika hendak menuliskan surat cinta untuk wanita idamannya.

Namun, tidak denganku. Aku berbeda dari lelaki pada umumnya karena memiliki cinta yang unik. Aku pencinta sesama jenis. Terkadang terselip iri kepada mereka yang memiliki kesempatan merasakan indahnya mencintai dan dicintai. Sedih saat merasakan cinta, tapi selalu dijatuhkan kepada sosok lelaki. Cinta ini pada akhirnya kupendam, hanya aku yang tahu, hingga berpaling dan menampik rasa kemudian membiarkan hilang begitu saja.

Aku memiliki cinta, tapi tak memiliki wadah untuk menempatkannya. Kepada siapa harus kutitipkan cinta ini? Kepada siapa akan aku percayakan perasaan ini agar selalu dijaga dan dirawat? Setangguh-tangguhnya seorang lelaki, jika dihadapkan pada cinta yang tak pernah dimiliki, tak ada bedanya dengan cangkang tanpa isi, kosong. Hatiku kosong.

* * *

“Selamat malam, ada yang bisa dibantu?” meluncur sebuah suara dari seorang receptionist.

Aku membalas senyum wanita muda itu. Sapaan hangatnya selalu sama seperti hari biasa, menjaga profesionalisme pekerjaan meski sekarang malam hampir berada di puncak. Langkah kini terhenti, posisiku tepat berada di depannya.

“Kamar nomor 225, di mana ya, Mbak?” tanyaku.

“Ada di lantai dua. Bapak naik tangga, terus belok ke kanan, lurus aja sampai ketemu kamar nomor 225 di sebelah kiri. Ada yang lain, Pak?” jawabnya penuh sahaja.

Tangan wanita muda itu masih menunjukkan letak tangga yang ada di pojok sana. Senyumnya juga selalu terjaga.

“Oh, nggak ada. Makasih!” jawabku singkat.

“Sama-sama. Selamat berkunjung!” tuturnya kemudian.

Aku membalas senyum sekadarnya.

Mungkin, bisa dibilang cukup sering mengunjungi hotel ini sebab kenyataannya aku tahu letak kamar 225 berada. Namun, berbasa-basi dan menyapa wanita tadi merupakan sebuah kesenangan untukku.

Setelah dari receptionist, aku berjalan menuju tangga dengan sedikit tergesa-gesa karena nyaris telat dari perjanjian yang telah disepakati. Sambil melihat layar ponsel dan membaca pesan, bibirku menyunggingkan senyum mengingat bahwa malam ini merupakan kencan yang keempat kali dalam kurun waktu seminggu.

Sya tnggu qm @Peony kmar 225. Sya siapkn 1jt jka qm bsa mmuaskn sya.

Setelah mengulang membaca pesan itu, aku tertawa kecil dan tak bisa menyembunyikan gigi. Om Jorgi adalah seorang manager di sebuah perusahaan perdagangan berjangka. Hampir setiap awal bulan dia menghubungiku. Terhitung lebih dari sepuluh kali dia memakai jasaku untuk memuaskan nafsunya. Dan seperti biasa, dia selalu menyiapkan lembar-lembar rupiah dengan harga fantastis demi membayarku saat nafsunya tersalurkan, terlebih lagi jika dia terpuaskan. Aku hanya datang membawa batang, sedangkan Om Jorgi menyiapkan uang dan liang.

Kalian yang membaca cerita ini, pasti mengerti alur bahasa kiasan yang kumaksud. Aku seorang penyedia seks komersial atau gigolo bagi lelaki boty. Jika kebanyakan penyedia jasa male escort memiliki tim dan sebuah wadah, berbeda denganku. Bisnis sampingan ini kukelola hanya seorang diri. Aku memiliki prinsip, uang yang ada akan diganti dengan kepuasan. Sebab dikelola secara profesional, para pemakai jasa kujadikan target marketing karena mereka merupakan penyebar iklan yang paling baik. Maksudku promosi dari mulut ke telinga.

Setelah tiba di depan kamar yang bertuliskan nomor 225, segera kuketuk daun pintu sebanyak tiga kali. Belum ada jawaban. Kuulangi lagi ketukan hingga lebih dari lima menit menunggu. Tiba-tiba knop berdecak dan daun pintu bergeser. Om Jorgi menongolkan sedikit kepalanya.

“Kirain nggak jadi datang.” sapanya.

Om Jorgi menarik knop hingga daun pintu terbuka setengah.

“Maaf, Om, lama. Tadi diajakin temen kerja nonton dulu. Jadi agak telat ke sininya!” aku memberikan alasan. Padahal alasan itu merupakan sebuah kebohongan.

“Ayo, masuk!” perintah Om Jorgi.

Terlihat Om Jorgi hanya memakai celana dalam. Karena AC di ruangan ini dimatikan, jadi mungkin telah membuatnya gerah. Aku melepaskan tas selempang dan meletakkan di atas meja, kemudian mengambil remote control untuk menghidupkan AC. Om Jorgi masih berdiri di depan pintu. Dia memandangiku dengan teliti. Sempat terlintas di mata bahwa tonjolan di selangkangannya tampak mengeras.

“Kenapa, Om?” tanyaku berpura-pura.

“Oh…, enggak…,” Om Jorgi menggantungkan kalimat, kemudian berujar kembali, “kamu selalu bisa membuat saya bergairah. Kamu itu yang terindah.”

Om Jorgi mulai menggombal. Aku hanya menarik napas dalam sambil memutar bola mata. Jaket, t-shrit, dan celana jeans telah dilepas. Kini tubuhku hanya diselimuti oleh celana boxer. Segera kurebahkan tubuh pada spring bad kemudian memindah channel TV.

* * *

Dua jam berselang. Kesadaran kembali terpulihkan setelah mendengar dering di ponsel. Kuraih ponsel dan membaca pesan yang masuk. ‘Shit!’ Gerutuku. Ternyata dari operator jaringan. Kubuka beberapa sosial media untuk mengecek pesan-pesan yang masuk demi mencari pelanggan berikutnya.

Aku bangkit dari pembaringan dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Om Jorgi masih tertidur. Posisinya miring di sebelah kanan. Mulutnya terbuka sedikit dan mengeluarkan air liur. Dia sangat kelelahan setelah hampir dua jam beradu nafsu. Ketika masing-masing telah mencapai klimaks, kami memutuskan untuk baring bersisian di atas ranjang. Tanpa sadar, aku pun ikut tertidur.

Segera kukenakan pakaian, kemudian mengumpulkan barang-barang yang berserakan. Aku duduk di atas meja dan mengeluarkan bungkus rokok beserta criket dari tas. Fokus pikiran kembali ke sosial media. Hanya berselang dua jam, telah ada lima orang yang mengirim pesan pribadi, menanyakan tarif beserta fasilitas yang kusediakan. Pikiran menerawang jauh sambil menyusun rencana untuk esok hari.

Setelah menghabiskan tiga batang rokok, aku membangunkan Om Jorgi. Dia bergeming. Aku berinisiatif mencari dompet di saku celana kainnya yang tergeletak di lantai. Kuambil 20 lembar uang merah nominal terbesar kemudian pergi. Untuk kali ini, aku berhasil mengerjai Om Jorgi. Uang yang kuambil setara dengan dua kali lipat dari nominal perjanjian.

“Komplek Al-Farizt Recident Tanjung Raya, Pak!” perintahku pada supir taksi.

“Baik, Mas….” jawabnya sambil menghidupkan mesin mobil.

Aku segera masuk ke jok belakang mobil kemudian menelpon Andre. Tanpa menunggu lama, panggilanku langsung dijawab.

Assalamualaikum. Ada apa, Ris?” sapanya dari ujung sana.

Andre… kau belom tidok, kan? Mau nitip ape?” tanyaku yang sedikit tergesa-gesa.

“Lagi nonton liga. Aku titip martabak istimewa. Kalau nggak ada, belikan tahu sumedang aja.” jawabnya.

Oke.” tuturku kemudian menutup percakapan.

Aku tahu bahwa Andre belum tidur karena sudah menjadi kebiasaannya bergadang di malam Minggu. Terlebih, ada liga yang menjadi favoritnya. Sudah pasti dia akan mengikuti alur pertandingan.

Jalan Gajah Mada sedikit macet. Setiap café, warung kopi, dan restaurant yang berada di kawasan ini dipenuhi oleh pengunjung. Mungkin karena malam Minggu dan ada pertandingan liga, membuat para penghuni kota masih berkumpul untuk ‘Nonton Bareng’.

“Pak…, kalau ada martabak atau tahu sumedang, singgah sebentar, ya…!” pintaku pada supir taksi.

“Iya…, Mas.” jawabnya.

Mobil berhenti di lampu merah. Banyak polisi yang berjaga sambil mengatur lalu-lintas kendaraan. Ada apa gerangan? Volume kendaraan yang melintas pun lebih ramai daripada hari biasa. Apa karena kebakaran, atau ada tawuran? Aku hanya menyimpan pertanyaan di dalam benak tanpa menemukan jawaban.

Setelah tiba di rumah, kulirik jam dinding. Pukul tiga pagi. Tak banyak obrolan berarti ketika Andre membukakan pintu. Aku menyerahkan pesanan Andre kemudian menuju kamar dan minum obat. Saatnya untukku mengistirahatkan pikiran demi mengembalikan stamina. Kubenamkan tubuh di atas tempat tidur dan terlelap.

* * *

Hari ini adalah awal pekan. Di mana pun manusia berada, Senin akan menjadi awal dari rutinitas pekerjaan. Di luar masih gelap dan suhu udara sedang berada di titik terendah. Seperti biasa, aku akan bangun siang demi membalaskan dendam karena harus mengganti tidur malam. Andre membangunkanku, dia menguncang pelan tubuhku.

“Kita subuhan, yuk!” pinta Andre.

Ape sih, Ndre…. Risau yak, kau nih ganggu. Aku masih nak tidok.” protesku dengan suara malas, sedikit berdengung.

Sapaan Andre selalu menggunakan bahasa yang santun. Itu telah menjadi kebiasaannya juga. Aku hanya bergeming dari ajakannya, acuh tak acuh, pura-pura tak mendengar, kemudian melanjutkan tidur. Udara masih teramat dingin. Belum ada dua jam mengistirahatkan mata, tapi Andre malah menyadarkanku dari dunia mimpi.

Tak ingin tinggal diam, Andre mulai mengganggu dengan membasuhkan wajahku menggunakan tangannya yang basah. Tangannya yang lembab dan dingin membuatku bergidik. Aku mengumpat kemudian melempar Andre dengan bantal. Dia bukan marah, melainkan tertawa bahagia.

“Jadi anak kok malas amat!” timpalnya padaku.

Biarin, masih ngantok. Kau nih, ganggu yak.” timpalku balik.

Aku kadang sedikit kesal atas perlakuan Andre. Hampir setiap pagi dia akan membagunkanku dengan cara yang sama. Lebih tepatnya tiga atau empat kali dalam seminggu. Sering kuluapkan kemarahan kepada Andre, tapi dia hanya membalas dengan senyuman. Jika rumah ini memiliki lebih dari satu kamar, sudah pasti memilih tidur di kamar lain dan mengunci pintu. Kenyataannya, aku tidak punya pilihan selain sekamar dengan Andre.

Dan ketahuilah, Andre selalu membuka lebar gorden meski mentari belum menyingsing. Alasannya cukup sederhana yaitu untuk membangunkanku. Cahaya mentari akan masuk, menembus melalui kaca kemudian menyinariku yang berada di tempat tidur. Kebetulan, posisi jendela kamar menghadap ke ufuk timur dan cahaya mentari pagi akan memenuhi seisi ruangan. Aku yang sedang tidur merasa terganggu dan dengan sangat terpaksa harus bergerak sendiri menuju jendela untuk menutup gorden.

“Sarapan ada di atas meja. Kamunya jangan dibiasain tidur pagi, nggak baik. Usahakan mandi sebelum lewat jam sepuluh.” kembali meluncur kalimat itu dari mulut Andre.

Telinga mulai terasa panas. Sebelum berangkat kerja, Andre selalu berpidato di depanku dengan tema yang sama. Mataku melihat sekilas siluet Andre. Dia sedang mengenakan dasi kemudian dilanjutkan melumuri gel pada rambut.

Aku hanya menjawab, “iya,” kemudian menutup seluruh tubuh dengan selimut. Terdengar suara mesin mobil di depan rumah. Andre bersiap berangkat ke kantor.

Aku akui, Andre adalah sahabat terbaik. Kami saling mengenal semenjak SMP. Sewaktu lulus dari SMA, kami memutuskan hijrah ke kota ini untuk melanjutkan jenjang pendidikan. Setelah mendapat gelar sarjana dibidang akuntansi, Andre diterima bekerja sebagai CSO di salah satu bank swasta. Rumah mungil ini adalah kediaman komplek BTN yang dibeli Andre dari hasil kerjanya. Dia menyilakanku untuk tinggal bersamanya karena iba melihat pekerjaanku yang tak memiliki hasil terlihat.

Sedangkan aku yang memiliki ijazah pendidikan memilih untuk menjadi staf pengajar di sebuah bimbingan belajar ternama. Aku memilih pekerjaan rutin shift sore karena memiliki kesempatan untuk mendapatkan uang tambahan sebagai lelaki panggilan di malam hari. Hampir setiap malam aku beroperasi dan di waktu pagi akan tertidur pulas. Meski telah mengenal banyak orang di dunia malam, aku selalu menjaga keperjakaan karena profesi sebagai lelaki panggilan hanya untuk para penikmat nafsu penyedia liang.

Sejujurnya, pekerjaan sampingan jauh lebih menghasilkan berkali lipat daripada bekerja di bimbingan belajar. Namun, masih memilih bertahan menjadi staf pengajar dengan alasan untuk menutupi jati diri. Aku terlalu royal dengan uang sehingga tak ada kemajuan dari kualitas hidup. Hanya memiliki sebuah motor besar yang terawat baik. Itu pun pemberian dari orang tua saat wisuda tiga tahun lalu. Seluruh kehidupan pribadiku telah diketahui Andre meski masih menyisakan dua rahasia terbesar yaitu mengenai orientasi seksual serta pekerjaan sampingan. Dan, semua berjalan mulus ketika menjalani profesi ini selama lima tahun.

Setelah merasa puas terlelap, aku segera bangun dari pembaringan. Kusibak selimut dan beranjak meninggalkan tempat tidur. Kandung kemih terasa penuh dan isi di dalamnya meminta untuk segera dikeluarkan. Perutku juga mulai terasa lapar. Mata menangkap jam yang menggantung di dinding kamar, hampir pukul 12 siang.

Aku menurunkan boxer ketika tiba di WC, berdiri menghadap closet. Tiba-tiba batang kemaluan terasa sedikit nyeri. Aku mengatur kucuran air seni secara perlahan, yang keluar awalnya cairan putih kental, setelahnya cokelat-orange, kemudian diakhiri putih kental lagi. Keanehan itu membuatku terkesiap. Batang kemaluan terasa semakin nyeri disertai panas seperti terbakar.

Ketika akan mengeluarkan sisa cairan putih, airmata keluar dengan sendirinya karena menahan sakit. Batang kemaluan juga tak ingin berkompromi. Nyeri semakin bertambah karena berkontraksi hingga mencapai ereksi sempurna. Aku keluar dari WC dengan berjalan mengangkang dan sedikit berjinjit. Langkahku terpingkal-pingkal.

Sosis, telur mata sapi, dan mie goreng tak berhasil menyulut selera di lidah. Aku tak berkeinginan untuk menyantap makanan itu. Mata hanya memandangi sendok dan garpu di atas piring yang kosong. Tatapanku hampa, pikiran sedang kacau-balau. Semua kekhawatiran yang sedang menggelayuti pikiran berujung pada Infeksi Menular Seksual. Aku takut. Bulu kuduk merinding. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai membanjiri lengan.

Setelah satu jam duduk termangu di meja makan, aku segera kembali ke kamar. Aku mencari artikel-artikel di google mengenai Infeksi Menular Seksual beserta gejala-gejala penyakit yang mungkin akan diderita. Dari tengah hari hingga menjelang sore, aku hanya berkutat di atas tempat tidur seraya memegang ponsel demi mencari informasi dari berbagai referensi terpercaya.

Dapat disimpulkan bahwa penyakit yang sedang kuderita ialah sipilis. Aku telah teledor ketika berhubungan intim dengan Om Jorgi dua hari lalu. Aku sengaja membiarkan Om Jorgi yang memainkan peran dominan di atas ranjang. Karena terburu-buru, kubiarkan Om Jorgi menjamah seluruh tubuhku. Setelah merasa puas dan tak tahan, dia memasukkan batang kemaluanku di kedalaman liangnya tanpa menggunakan pengaman. Aku terlalu teledor mengenai hal sepele yang berakibat sangat fatal.

Dada berdebar. Aku takut jikalau sampai terjangkit HIV. Pikiran kalut tak tentu arah. Emosi yang menyemaki dada ingin segera diluapkan dalam bentuk tangisan, tangisan  kebodohan. Tangisan yang diakibatkan dari bermain api tanpa memikirkan risiko terbakar. Oh, Tuhan! Apa yang harus kulakukan? Aku takut. Ke mana akan kusimpan wajah jika perihal memalukan ini diketahui Andre?

Setelah mandi, aku mengenakan pakaian dan mengambil kunci motor. Tungganganku segera meluncur ke apotek terdekat untuk membeli beberapa antibiotik. Aku juga tidak lupa meminta izin kepada staf Tata Usaha di bimbingan belajar untuk tidak mengajar dengan alasan kurang enak badan. Dari apotek, aku memutuskan duduk sejenak di café yang berlokasi di kawasan blok ambalat. Kupesan extrajoss susu serta beberapa cemilan.

Senja kini telah terlewatkan.

Assalamualaikum. Kamu dimana Ris??? Pulang kerumah gak?

Sebuah pesan BBM dari Andre tak menjadi fokus perhatianku. Kubiarkan saja pertanyaan itu karena terasa hambar. Aku tak berkeinginan memandang ponsel, juga tak memiliki mood untuk bertemu dengan orang-orang yang dikenal. Semua dilakukan karena khawatir jikalau mereka mengetahui gelagat aneh dariku dan menyimpulkan bahwa aku terkena sipilis. Jika kejadiannya demikian, tamatlah riwayatku.

Menjelang akhir sepertiga malam, aku mulai merasa bosan. Segera kuputuskan mengunjungi BZ untuk clubbing. Aku benar-benar frustasi dan di sana adalah tempat untuk menghilangkan penat di pikiran. Ya, daripada menderita akibat dipenuhi rasa bersalah dan malu, lebih baik semua kegamangan dilampiaskan dengan clubbing. Setelah tiba, aku memilih duduk di sofa pojok dan memesan dua botol Anker Bir dan sebotol Tequila.

Hal yang paling kubenci ialah ketika hendak buang air atau batang kemaluan yang sedang dalam kondisi ereksi sempurna. Rasa nyeri tak dapat dielakkan. Pikiran semakin frustasi. Aku tak pernah lupa memakai pengaman setelah lima tahun menjalani profesi sebagai lelaki panggilan. Namun, entah untuk alasan yang tidak diketahui, aku melupakan satu hal krusial saat berhubungan badan dengan Om Jorgi. Ditambah, sosok Om Jorgi menjadi pemenuh seluruh hati dan otak. Dia telah menjadi sosok yang selalu membayangi mata. Om Jorgi sialan, Om Jorgi keparat.

Aku memukul dahi beberapa kali dan berulang-ulang membodohi diri sendiri. Kembali kupesan minuman setelah menghabiskan tiga botol pesanan sebelumnya. Aku terlelap, kemudian tersadar. Di sekitar ruangan telah sepi. Kepala terasa pusing dan segera kuputuskan untuk kembali ke rumah. Meski sempoyongan, kupaksa membawa motor dalam keadaan setengah sadar. Efek dari alkohol membuat jiwaku melayang.

* * *

Aku mengucek-ucek mata, kepala berat terasa. Kuraba dahi dengan punggung tangan, hangat. Aku bangkit dari tempat tidur, melangkah ke kamar mandi untuk membasuh wajah. Kubasahkan rambut yang kering. Ubun-ubun seperti tertimpa es, sejuk membuat sekujur tubuh menggigil. Semua yang dilakukan menjadi serba salah.

Setelah kembali ke kamar, aku berdiri di depan cermin. Kupandangi lekat-lekat siluet di dalamnya. Wajah terlihat kusut, mata memiliki kantung, bibir sedikit pucat dan pecah-pecah. Epitel-epitel pada permukaan lidah berwarna putih. Mulut terasa pahit. Hanya menyisirkan rambut pun kepala terasa sakit. Kulit kepala seperti ditusuk ribuan jarum.

Clubbing tiga malam berturut-turut berhasil merobohkan kesehatanku. Nafsu makan telah sirna. Sial, pasti virus HIV telah menggerogoti seluruh antibodi yang ada di tubuhku. Nyeri pada batang kemaluan juga tak kunjung hilang. Cairan berwarna putih dan berbau anyir tak berhenti keluar. Sedikit dan kontinu. Terkadang, cairan putih itu berubah menjadi lem, merekatkan ujung batang kemaluan pada kain celana dalam. Terasa semakin sengsara mendapatkan nasib seperti ini.

Kamu selalu bisa membuat saya bergairah. Kamu itu yang terindah.’ Kembali teringat perkataan Om Jorgi tempo hari. Pasti penyakit sialan ini berasal dari lubang anusnya. Dia telah terjangkit virus jahanam itu dan sengaja menularkan penyakitnya kepadaku. Sial…. Dari bahasanya kemarin, pasti dia sering kencan dengan sembarang orang. Bodoh…, bodoh…, bodoh…. Mengapa aku bisa lupa mengenakan pengaman.

Halo…, Ndre! Jam berape kau balek ke rumah?” tanyaku setelah telepon tersambung.

Assalamualaikum, Ris. Ada apa?” jawab Andre dari ujung sana.

Terdengar bunyi mesin printer dan beberapa percakapan yang tak terlalu jelas. Pertanyaan spontan yang sebelumnya meluncur dari lidahku tak membuat Andre segera menjawab. Dia selalu seperti biasa, ketika menjawab telepon akan diawali dengan salam.

Jam berape kau balek ke rumah?” kuulangi pertanyaan serupa.

“Seperti biasa, jam lima. Ada apa?” suara itu menjawab santai, sedangkan aku diburu oleh waktu.

Kau belikan aku obat, ye Ndre. Aku agik demam nah! Cepetan balek!” pintaku kemudian langsung mematikan sambungan telepon.

Tangan sudah tak mampu membawa beban sebuah ponsel. Tenaga hilang sudah. Pusing di kepala juga terasa sangat menyiksa. Pandangan sedikit berkunang-kunang. Lampu pijar berwarna putih terang tak membuat mata memandang dengan jelas. Retinaku hanya bisa menangkap warna hitam, yang terlihat hanya gelap. Aku terjatuh, kepala seperti membentur sesuatu, mungkin pojok meja. Tubuh tergeletak di lantai. Aku memanggil nama Andre dengan sekuat tenaga, tapi semua seakan sia-sia. Suara tertahan di tenggorokan.

* * *

Sekujur tubuh terasa dingin, sangat dingin. Setelah kedua mata terbuka, kuedarkan pandangan ke sekeliling. Di luar sepertinya sedang hujan. Terdengar gemuruh angin dan percikan air yang menimpa atap. Sunyi, sepi. Lama aku tertegun demi mengembalikan kesadaran. Aku bergidik dalam pembaringan.

Meski terang, ruangan ini begitu menyeramkan. Dinding dan langit-langit berwarna cokelat kehitam-hitaman, kusam dan kotor. Ruangan ini sedikit pengap karena berukuran kecil, lebih kurang 4 × 4 meter. Aku seperti berada di dalam kotak, tanpa jendela dan fentilasi. Di sebelah kanan bagian ujung kakiku ada sebuah pintu yang terbuka.

Aku tak mengetahui bahwa ada seorang wanita di pojok ruangan sebelah kanan. Dia sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Kuberanikan diri untuk menyapa.

“Anda siapa? Saya di mana?” aku bertanya dengan suara lirih.

Wanita itu hanya bergeming, masih sibuk dengan aktivitasnya. Setelah itu, dia berjalan mendekatiku sambil membawa nampan, meletakkan di atas meja kecil di samping kiri tempat tidur. Orang aneh, pakaiannya hitam, masker yang digunakan juga hitam. Bahkan sarung tangan dan penutup kepala juga hitam.

Aku baru tersadar. Ternyata pakaian yang kukenakan berwarna hitam. Kasur tempat berbaring dan selimut yang menutupi tubuh juga berwarna hitam. Wanita itu kemudian membuka masker dan berucap.

“Kamu sekarang berada di klinik penanganan korban AIDS. Kamu tahu sendiri kan kalau AIDS itu belum ada obatnya. Maka dari itu kamu harus tetap di sini untuk memperpanjang umur.” tuturnya dengan lantang.

“Apa, Sus? AIDS?” aku menjawab dengan terkesiap, “suster bohong kan?” lanjutku yang masih belum percaya.

“Bohong katamu? Kamu sadar nggak telah berbuat apa? Ini hasil kebodohanmu!” jawab wanita itu masih dengan suara yang lantang. Tangannya mencoba membuka tutup botol.

Aku mengingat-ingat kembali kejadian sebelumnya. Ingatan terakhir adalah terjatuh di kamar setelah menelepon Andre. Batang kemaluan terasa nyeri dan panas mengingat sedang terinfeksi bakteri penyebab sipilis. Kesimpulan akhir bahwa kini sedang berada di Rumah Sakit. Pasti ada seseorang yang membawaku ke tempat ini. Namun, siapakah gerangan dirinya? Masih banyak pertanyaan yang menyemaki otak dan belum dipertemukan dengan jawaban.

“Andre di mana, ya, Sus?” tanyaku kemudian.

Berharap yang membawaku ke tempat ini ialah Andre. Meski mengerikan, menemukan sosok Andre akan memberikan ketenangan tersendiri untukku. Pada siapa akan kumintai pertolongan selain dia. Di kota ini, tak ada sanak famili atau kerabat terdekat.

“Siapa dia?” wanita itu mengembalikan pertanyaan.

Aku hanya terdiam dan mematung karena bingung. Jikalau bukan Andre, siapa yang membawaku ke tempat ini? Wanita itu menuang cairan berwarna hijau dari botol kaca pada tiga gelas kimia dan dua tabung reaksi.

“Andre, Sus. Kulitnya sawo matang, rambutnya cepak. Bola matanya berwarna cokelat. Tingginya kurang lebih seperti saya.” kusebutkan secara singkat ciri-ciri fisik yang dimiliki Andre.

“Oh, dia. Seminggu lalu dia hanya mengantarmu ke sini kemudian pergi. Karena dia lelaki sehat, makanya dianjurkan untuk tidak berada di sini. Kamu ngerti, kan, maksud saya!” dia melanjutkan kalimat yang sebelumnya terhenti.

Lidah semakin kelu mendapati nasib yang kini terkena AIDS. Apa yang harus dilakukan? Hanya Andre yang dapat menolongku. Namun, wanita itu ada benarnya. Orang sehat seperti Andre tidak baik berada di kawasan yang para pasien mengidap AIDS. Dengan sangat terpaksa, harus rela berpisah dengan sahabat terbaikku.

Wanita itu memberikan bubuk berwarna putih pada tiga gelas kimia yang berisi cairan hijau tadi. Kemudian dia mengaduk-aduk menggunakan spatula untuk melarutkan tepung pada cairan. Bubuk berwarna putih tersebut lebih menyerupai tepung terigu, lembut dan mudah terurai. Aku kembali bergidik. Pemandangan yang ditangkap oleh mataku sangat mengerikan.

“Jadi saya udah seminggu di sini, Sus?” ucapku yang semakin tidak percaya.

Kini, wanita itu mengeluarkan jarum suntik yang tersimpan di saku jubah hitamnya, lantas mengisi rongga kosong di dalam suntikan dengan cairan berwarna hijau tadi. Dijentik-jentiknya tabung suntikan untuk memastikan agar tak ada gelembung dan rongga udara. Setelah tabung suntikan terisi penuh, dia menjentik-jentik jarum suntik itu untuk memastikan saluran tak tersumbat.

“Sini tanganmu, saya kasih obat dulu!” perintahnya ketus.

Kulihat sekilas wajahnya. Ekspresi datar. Tidak memiliki keramah-tamahan kepada pasien.

Sesuai dengan instruksi wanita itu, aku menggenggam tangan dengan sekuat tenaga. Ketika pembuluh darah di pergelangan telah tampak, dia menginjeksikan cairan hijau itu. Cairan yang ditambah tepung putih tersebut berbentuk seperti gel. Aku masih belum mengerti mengenai fungsi dan efek yang ditimbulkan. Selama ini, belum pernah melihat obat berbentuk cairan kental yang diinjeksi langsung ke dalam tubuh.

“Aduh…. Sakit, Sus!” keluhku.

Wanita itu hanya diam. Untuk kesekian kali, aku menyimpan pertanyaan di dalam benak, tak berani menanyakan fungsi dari obat itu. Dari kejadian yang dialami, semua berujung pada ketakutan yang luar biasa. Aku menelan air liur yang telah terkumpul di rongga mulut secara perlahan. Aku benar-benar takut.

Setelah urusan selesai, wanita itu keluar ruangan dan menutup pintu. Terdengar decak dan besi yang dikeluarkan dari lubang. Itu menandakan bahwa pintu ruangan ini dikunci dari luar. Aku kembali menyimpan seluruh praduga dan penilaian atas wanita itu untuk diri sendiri. Menurutku, sangat tidak layak menjadikan dia sebagai suster, tidak ramah kepada pasien. Ditambah, ruangan Rumah Sakit ini begitu aneh. Apakah ini yang dinamakan klinik penanganan korban AIDS?

* * *

Masih dalam pembaringan, lama aku tertegun. Aku tak bisa memprediksi waktu, juga tak bisa membedakan siang atau malam. Kupaksakan membangunkan badan. Dengan bersusah payah, akhirnya berhasil duduk dengan kaki berselonjor. Aku ingin buang air kecil. Betapa terkejutnya ketika hendak menggerakkan kaki, ada selang yang terhubung pada alat kelamin. Aku juga baru tersadar, ternyata tangan kanan telah tersambung oleh selang infus. Di sebelah kanan, menggantung tabung yang berisi cairan merah pekat, mirip darah. Aku merinding.

Bosan kini melanda. Telah lama rasanya berada di ruangan ini. Aku ingin pulang.  Namun, kembali mengingat perkataan wanita tadi dengan sejuta pertanyaan menggantung. ‘Seminggu lalu dia hanya mengantarmu kemudian pergi.’ Jadi aku telah berada di sini selama seminggu? Mungkinkah? ‘Maka dari itu kamu harus tetap di sini untuk memperpanjang umur.’ Bagaimana aku bisa pulang kalau ternyata belum sembuh. Sampai kapan akan di sini? Aku kembali mengingat-ingat. ‘Kamu tahu sendiri kan kalau AIDS itu belum ada obatnya.’ Lantas bagaimana caraku bisa sembuh kalau penyakit ini belum ada obatnya. Aku tinggal menunggu mati. Percuma rasanya mengonsumsi obat jika pada akhirnya akan mati juga. Aku bingung, hati benar-benar hancur, otak sudah tak bisa lagi berpikir. Bahkan menangis pun sudah tak kuasa.

Tiba-tiba knop pintu berdecak, seperti ada orang di balik sana yang hendak masuk. Ketika pintu terbuka, ada tiga wanita yang berpakaian serba hitam seperti suster tadi. Wanita yang paling depan membawa nampan, sedangkan dua orang di belakangnya memegang buku besar. Mereka berjalan mendekatiku dengan langkah tegak dan berwibawa.

“Sini tanganmu, dibius dulu!” wanita yang membawa nampan memberikan perintah untukku.

“Apa, Sus? Bius?” ucapku yang masih belum mengerti.

Nampan yang dibawa wanita itu berisi alat suntik. Cairan di dalamnya berwarna biru cerah. Kuperhatikan wajah mereka dengan saksama. Tiga wanita ini berbeda dengan wanita yang tadi. Kini aku benar-benar heran, heran yang masih bercampur dengan rasa takut.

“Iya bius, belum tahu ya, tiga puluh menit lagi kita akan melakukan operasi amputasi alat kelamin!” jawabnya ketus.

“Apa, Sus? Amputasi? Suster gila, ya?” ucapku dengan dada berdebar.

Wanita itu meletakkan nampan pada meja, kemudian mengambil alat injeksi. Dua wanita yang membawa buku besar merajam wajahku dengan tatapan amarah. Aku bergidik. Bulu kuduk tiba-tiba merinding.

“Kamu udah satu minggu tak sadar. Dari hasil pemeriksaan kemarin kamu mengidap AIDS dan sipilis. Sebelum sipilismu menyebar ke seluruh bagian tubuh yang lain, jadi amputasi adalah cara terbaik.” jawabnya seraya menjentik-jentikkan jarum suntik.

“Tidak, tidak, tidak mungkin. Saya tidak mau diamputasi, Sus!” aku memberikan penolakan.

Dua wanita yang tadi mencoba meregang tangan kiriku, sedangkan wanita yang memegang alat suntik bersiap menginjeksikan obat bius.

“Yang diamputasi bukan kamu, tapi alat kelaminmu.” jawab wanita itu untuk mengklarifikasi pernyataanku yang salah.

“Tidak, saya tidak mau!” jawabku sambil memberontak.

Aku mengambil bantal dan barang-barang di atas meja yang dapat dijangkau kemudian melemparkan pada tiga wanita tersebut. Mulut berteriak meminta pertolongan. Alat suntik yang dipegang wanita itu telah jatuh ke lantai. Dia bergegas mengambilnya. Kini posisi mereka agak jauh, sekitar lebih dari dua meter.

“Oke, nanti kami akan kembali. Kamu tidak akan bisa ke mana-mana.” sergapnya dengan suara menantang. Ancamannya benar-benar menakutkan.

Mereka bergegas meninggalkan ruangan, menutup pintu dengan kasar. Suara dentuman mengagetkan sekaligus menakutiku. Mungkin mereka emosi karena gagal memberikan obat bius kepadaku. Setelah beberapa saat, suasana kembali hening seperti sedia kala.

Tidak…, tidak mungkin. Aku harus pergi. Aku harus keluar dari ruangan ini bagaimana pun caranya. Dengan berhati-hati, kucabut jarum infus, terasa nyeri dan perih. Tangan sedikit ngilu. Tak lupa juga melepas selang yang menempel di selangkangan. Kaki beranjak dari tempat tidur kemudian berjalan menuju pintu. Kuputar-putar knop, kudorong-dorong daun pintu. Gagal, tak bisa dibuka. Pintu ini benar-benar terkunci. Mereka menginginkanku untuk tetap berada di sini.

“Tolong…, tolong….” teriakku dengan suara parau.

Kudobrak-dobrak, kudorong dengan seluruh tenaga. Aku menangis, sesunggukan. Tetap saja pintu ini tak bisa terbuka. Aku terus memutar knop sambil mendobrak-dobrak.

“Tolong…, bukakan pintu…!” pintaku memelas seraya menggedor-gedor pintu.

Liyundzira ma kaana hayyaw wa yahiqqal qaulu ‘alal kaafiriin.

Samar-samar terdengar orang sedang mengaji, seperti suara Andre.

“Andre! Kau kah, itu?” tanyaku yang mulai penasaran.

Aku semakin bersemangat mendobrak-dobrak pintu meski belum membuahkan hasil.

Qul yuhyiihalladii ansya’ahaa awwala marratiw.…

Ya, itu benar-benar suara Andre.

“Andre, bukakan pintu. Kumohon, tolong…!” pintaku dengan teriakan.

Semakin mencoba, hasilnya tetap saja gagal. Suara Andre juga berangsur-angsur hilang. Kini sudah tak terdengar sama sekali. Aku berhenti sejenak. Suasana kembali hening.

“Andre… kau di mana…?” aku kembali berteriak sambil mendorong-dorong pintu.

Suara Andre telah hilang ditelan senyap. Aku pasrah, bersandar pada daun pintu dan memegang knop. Badan lemah tak berdaya. Tubuh perlahan-lahan duduk dengan memunggungi pintu, melipatkan kaki, dan menopang dagu pada kedua lutut. Lama tertegun, tak tahu ingin melakukan apa. Aku sudah tak dapat berpikir lagi.

Cukup lama aku termangu. Tenaga telah bersih disapu lelah. Suaraku juga sirna dimakan senyap. Beberapa saat kemudian, knop pintu berdecak. Aku mengusap airmata, bangkit dan semangat di dada kembali membuncah.

“Andre, kau kah itu…?” ucapku dengan binar harapan.

Aku terkejut. Ketika daun pintu terbuka sempurna. Terlihat lima orang berdiri di sana. Seorang lelaki memegang tongkat. Dia didampingi oleh dua wanita membawa gunting pemotong tanaman dan dua lelaki membawa pisau pemotong daging. Sekilas kuperhatikan wajah dua wanita itu. Satu di antaranya adalah yang kulihat pertama kali. Dia yang menginjeksikan cairan hijau kental padaku.

“Apakah operasinya bisa dimulai sekarang, Sus?” tanya si pria bertongkat pada kedua wanita pendampingnya.

“Iya, Dok, bisa. Kita mulai saja!” wanita pertama menjawab ketus.

“Tapi, dia belum dibius, Dok.” kini wanita kedua yang berucap.

“Oh, tidak apa-apa. Kita akan melakukan operasi tanpa obat bius.” lanjut si pria bertongkat.

“Tidak, tidak. Saya tidak ingin diamputasi.” ucapku dengan tubuh bergetar.

Aku mundur beberapa langkah, bersandar pada dinding di seberang sisi pintu.

“Tolong…, tolong…!” aku menolak dengan napas terengah-engah.

“Potong…, potong…, potong…, potong.…” kedua lelaki yang memegang pisau berucap dengan penuh semangat.

“Tidak, tidak…. Saya tidak ingin dipotong…!” jawabku lantang. Aku benar-benar takut.

Kuangsurkan langkah kecil, demi menghindari kelima manusia aneh yang akan mengamputasi alat kelaminku. Kini tubuhku bersandar pada meja. Kuambil segala jenis perabot yang ada di sana kemudian melemparkan secara random kepada mereka.

“Potong…, potong…, potong…, potong….” kini kedua wanita mengiringi lelaki sambil mengacung-acungkan gunting besarnya ke arahku.

“Potong…, potong…, potong…, potong….” kedua lelaki juga tak ingin kalah suara. Mereka mengacung-acungkan pisaunya. “Potong, potong, potong, potong….”

Kelima orang tersebut tak menghiraukan benda-benda yang berhasil mendarat di tubuh mereka. Mereka mengambil langkah setapak demi setapak. Gunting dan pisau yang diarahkan padaku membuat ngeri. Lelaki yang paling depan menghentak-hentakkan tongkatnya pada lantai.

“Tidak, tidak, tidak.…” aku berteriak. Berharap segera datang sebuah pertolongan.

Kupandangi meja, tak ada barang-barang yang dapat diraih untuk dilemparkan. Aku mengambil langkah pelan dan kini bersandar pada dinding.

.… naaran fa’idzaa antum minhu tuuqiduun.

Samar kembali terdengar suara Andre. Ya, itu benar-benar suara Andre. Hanya dia yang bisa memberikan pertolongan.

“Andre…, tolong….” aku berteriak sekuat tenaga.

Tiba-tiba semua yang ada di ruangan sempit ini menjadi terang, sangat-sangat terang. Aku menyipitkan mata karena cahaya yang memancar teramat menyilaukan pandangan. Mata kini tertutup. Dalam keadaan mata tertutup, aku kembali ke ruangan gelap, berdiri dan bersandar di dinding. Aku seperti berpindah dimensi. Ketika membuka mata, ruangan mendadak terang. Tubuhku seperti sedang berbaring. Namun, saat berpindah di ruangan yang sempit, posisiku sedang berdiri dan bersandar pada dinding.

“Potong…, potong…, potong…, potong….” kelima manusia yang bagiku menyerupai sosok iblis masih menyerukan kalimat mengerikan.

Lelaki yang paling depan masih menghentak-hentakkan tongkatnya pada lantai seraya mengambil langkah kecil. Kedua wanita mengacung-acungkan gunting, sedangkan kedua lelaki mencoba mengiris-iriskan pisau pada telapak tangannya. Jarak mereka semakin pendek, tidak lebih dari satu meter. Aku mulai pasrah.

Awalaisal ladzii khalaqas samaawaati wal ardha .… wa huwal khallaqul’aliim.

Samar-samar terdengar lagi suara Andre.

Aku mencoba berteriak, “tolong…, tolong…, tolong….”

Aku kembali membuka kelopak mata, perlahan-lahan hingga terbuka sempurna. Sinar lampu yang terang masih menyilaukan mata. Kuedarkan pandangan ke atas, tampak putih. Kemudian mengalihkan wajah ke kanan, tampak jendela kaca yang berwarna gelap, tirainya terbuka. Aku menoleh ke kiri, tampak tiang yang puncaknya tergantung sebuah kantong berisi cairan bening, tersambung selang yang ujungnya bermuara di punggung tangan kiriku. Kesadaran telah pulih seutuhnya. Aku berucap dalam hati. Untung hanya sebatas mimpi.

Innamaa amruhuu idzaa araad syai’an ayyaquula lahuu kun fayakuun.

Badan terasa panas, seperti berada di samping perapian. Aku memejamkan mata sekejap, bayangan manusia membawa tongkat itu kembali hadir. Segera kubuka mata, takut. Kini terdengar kembali suara Andre dengan sangat jelas. Kulihat sosok Andre di sebelah kiriku, duduk dengan memegang sebuah buku kecil. Aku berhasil menggerakkan tangan kiri, mencoba meraih lengan kanan Andre.

Fasub-haanalladzii biyadihii malakuutu kuliisyai’iw wa ilaihi turja’uun.

Sada qallahul ’adzim.

Alhamdulillah…, kamu udah sadar!” Andre berucap seraya tersenyum.

Aku di mane, Andre?” meluncur saja pertanyaan itu dari mulutku.

Andre bergeming. Apakah sekarang aku masih berada di dunia mimpi? Mengutarakan pertanyaan yang tersimpan di benak adalah sebentuk rasa penasaran akan kesadaranku serta kejadian beberapa menit yang lalu. Menurutku, masih tidak aman jikalau Andre belum menjawab pertanyaanku.

Terlihat Andre menutup bukunya, melepas peci, kemudian bangkit dan berjalan, meletakkannya di atas meja sekaligus lemari di samping tiang infus. Di atas meja terlihat setumpuk buku, baskom berbahan alumunium, dan beberapa kantong plastik berwarna putih. Terdapat pula dua botol air mineral berukuran besar, di sampingnya bertengger gelas plastik.

Andre mengambil baskom kemudian berjalan menuju pojok, membuka keran dan mengisi cekungan itu dengan air. Setelah hampir terisi penuh, dia berjalan balik dan meletakkan baskom di atas meja.

Sambil membasahkan handuk putih kecil kemudian memerasnya, Andre berujar. “Kamu sekarang di Rumah Sakit, udah satu malam kamu di sini. Kemarin sore aku menemukanmu di rumah dalam keadaan pingsan. Untung ada Bang Yudi. Jadi aku nggak kesusahan bawa kamu ke sini.”

Jadi aku tak sadar berape lamak lah, Ndre?” aku memotong kalimat Andre. Hatiku masih belum percaya dengan penuturannya.

“Aku menemukanmu menjelang maghrib. Sekarang jam lima pagi, kurang lebih 12 jam. Aku semalam khawatir saat kamu masih di IGD. Kamu dalam keadaan tidak sadar, tapi sesekali manggil namaku. Terus kadang-kadang bilang minta ampun. Para perawat juga sempat heran. Cuma, dokter yang menanganimu kemarin sore sempat bilang kamu nggak apa-apa, hanya perlu istirahat. Dia juga pesan kalau kurang dari lima jam panas badanmu menurun, kamu akan dipindahkan ke ruang rawat inap.” jelas Andre panjang lebar.

Jadi aku tak sadar cuman 12 jam yak, kan?” tanyaku seraya mengerutkan dahi. Mencoba meyakinkan kesimpulan akhirku.

Andre kembali menenggelamkan handuk kecil pada air di baskom, kemudian memerasnya. Selain mesin AC, hanya suara kucuran air perasan yang memenuhi seisi ruangan.

“Iya, kenapa?” Andre balik bertanya. Wajahnya berbinar heran.

Tak ape-ape, soal e aku mimpi aneh. Rase e udah seminggu di Rumah Saket.” jelasku sambil tersipu malu.

Aku melihat baju yang sekarang menempel di tubuh. Untunglah, ini baju seragam pasien seperti kebanyakan Rumah Sakit. Bukan baju hitam seperti dalam mimpi. Aku telah berada di dunia nyata, dan ini menandakan diriku aman sentausa.

Tubuh sudah tak mampu lagi menahan hawa panas. Badan terasa basah oleh keringat. Dengan segera kusibak kain yang menyelimuti tubuh dari dada hingga kaki. Terlihat Andre membuka pintu lemari dan mengeluarkan handuk kecil yang kering. Kemudian mendekat dan mengelap-lapkan keringat di dahi, pipi, dan leherku.

“Aku buka sekalian, ya, bajumu? Mandi lap-lap! Badanmu basah, bau juga.” Andre berucap sambil nyengir, persis kuda.

“Boleh,” ucapku yang memberikan persetujuan.

Aku mencoba bangkit, duduk dan bersandar pada bantal. Kini pasrah saja, ketika Andre membuka kancing baju serta melepaskan pakaian dari tubuhku. Hawa segar mengerubungi seluruh tubuh, panas berangsur hilang.

“Semalam darahmu diambil, buat diperiksa. Kata suster, nanti siang hasilnya keluar. Btw, kamu kenapa beberapa hari ini, kayaknya gusar? Nggak seperti kemarin-kemarin!” ucap Andre seraya membawa baju kotor pada ember di dekat pintu.

Andre mengutarakan rasa penasarannya kepadaku. Meski sederhana, pertanyaan itu sangat menohok dan bisa membuat celah untuk mengulik rahasia terbesarku. Apa yang harus dilakukan? Jujur, kah? Atau, tetap bersikukuh menutup rapat rahasia ini seorang diri?

Kini Andre duduk di sampingku. Tangannya dengan teliti mengusapkan handuk basah pada dahi, pipi, dan leher. Terasa sejuk dan menyegarkan. Kulihat wajahnya sekilas. Emosi yang terpancar pada wajah Andre begitu tenang dan stabil. Dua titik hitam di dahinya semakin jelas. Berkali-kali dia mengusapkan handuk itu pada leherku, kini dengan sedikit tekanan.

Sebenarnya beban hidup yang ditanggung Andre sangat berat. Selain cicilan rumah dan mobil, setiap bulan dia juga mengirim uang untuk biaya pendidikan adik-adiknya. Berbeda denganku. Uang yang diperoleh habis begitu saja. Pendapatan 10 hingga 20 juta sebulan tak pernah membekas. Meski memiliki beban hidup yang berat, Andre tetap tenang menghadapi masalahnya. Aku iri terhadap Andre. Apakah aku harus berhenti dari kehidupanku yang sekarang? Aku mempersiapkan mental untuk membuka percakapan.

Andre, aku maok jujor, tapi kau jangan marah, ye!” ucapku tiba-tiba.

“Marah? Kenapa emangnya?” bertanya Andre karena bingung.

Andre beranjak dari duduk. Dia kembali membasahkan handuk pada baskom. Aku menelan ludah. Semua untaian kata yang ingin diutarakan mendadak tersangkut di pangkal lidah. Lidah mendadak kelu. Aku tak bisa berucap sepatah kata pun. Bingung ingin memulai pengakuan ini dari mana.

Janji?” ucapku lagi yang mencoba meyakinkan diri sendiri.

“Iya, janji!” jawabnya.

Kepalaku menunduk. Andre mengulurkan tanganku. Mengusap dengan teliti di setiap ruas dan sela jemari. Hawa sejuk dari handuk basah dibawa oleh darah melalui pembuluh vena hingga ke pangkal lengan. Aku sedikit bergidik. Sebenarnya, bergidik bukan hanya dipengaruhi oleh hawa sejuk dari handuk basah, melainkan rasa takut berkata jujur.

Aku kenak AIDS ama sipilis ha, Ndre.” meluncur juga pengakuan itu dari mulutku.

“Apa?” ucap Andre seraya mengangkat alis.

Aku melihat Andre sekilas kemudian kembali menunduk. Membisu sesaat tanpa menghiraukan kekagetan Andre. Rasanya harga diriku sudah tidak ada lagi. Pengakuan yang baru saja kuucapkan akan mengundang pertanyaan lanjutan. Dari manakah pernyakit itu bersumber? Apa yang telah kulakukan selama ini? Mengapa aku telah melakukannya? Lantas, alasan apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu?

Beberapa detik setelah mengucap ‘apa’, Andre tertawa. Aku mulai bingung terhadap reaksi Andre. Pantaskah pengakuanku dijadikan bahan lelucon? Kini dia mengelap lenganku dengan saksama, kemudian mengusap ketiak hingga aku merasa geli.

Ketawak agik die nih. Aku serius, be!” tuturku terhadap reaksi Andre.

Andre masih tak henti menertawaiku. Aku mematung, antara bingung dan malu.

“Emang kamu tahu dari mana punya penyakit kayak gitu?” tanyanya yang mencoba mengulik sedikit rasa penasaran.

Andre berpindah posisi. Jika dia tadi berada di sebelah kananku, kini berpindah posisi ke sebelah kiri. Dengan sangat hati-hati dia mengusapkan handuk basah pada tanganku yang bersarang jarum infus.

Malam Minggu kemaren kan aku ade behubungan same orang, lupak makek kondom. Pas Senen pagi nak kencing tibe-tibe ade keluar nanah. Rase e saket, Ndre….” ucapku kemudian.

“Terus?” Andre menanggapi.

Kata yang baru saja diucapkan Andre memiliki makna penyelidikan. Namun, reaksinya tetap tenang dan stabil. Tidak ada intimidasi atau memojokkan. Malah menurutku Andre terlihat memusatkan fokus pikiran pada pekerjaannya, mengelap-lap tubuhku, daripada mendengar dan menanggapi ceritaku. Otakku masih menyimpan kebingungan terhadap reaksi Andre.

Aku jadi stress, Ndre. Make e kemaren clubbing di BZ, tige malam beturot-turot. Teros langsung demam. Kan daye tahan tuboh menuron, bearti aku kenak AIDS lah.

Kini kepala kembali menunduk, tak berani menatap wajah Andre. Sedangkan dia masih asyik mengelap badanku. Sepertinya, dia masih menganggap pengakuanku sebagai lelucon. Dia kembali tertawa. Aku semakin merasa malu.

“Udah, jangan ngaco! Ini akibat dari kepala benjol, makanya jadi stress.” ucapnya kemudian.

Kupegang kepala, ternyata benar-benar diperban. Andre kembali mengelap dahiku dan menekan sedikit pada perban tepat di bagian kepala yang terkena pojok meja.

Aduh…. saket, bodo e….” umpatku pada Andre.

“Oh, benar-benar sadar, tho!” godanya yang masa bodoh.

Tapi, pas aku kencing ade nanah e ha, Ndre. Itukan petanda sipilis!” aku meyakinkan.

“Hadeh…, kenapa kamu jadi mendadak tolol gini. Punya gelar sarjana, kan? Udah, aku nggak mau dengar cerita ngawur.” jawabnya yang mengunci pengakuanku.

Mungkin, kekhawatiran, ketakutan, dan rasa bersalah membuatku menjadi tolol sesaat dalam menghadapi penyakit yang diderita. Efeknya hingga berakhir pada mimpi yang menyeramkan. Namun, nanah yang keluar dari batang kemaluan pertanda bahwa aku mengalami Infeksi Menular Seksual. Termasuk kategori apakah, penyakit itu? Aku malu jika hendak mendiskusikan lebih lanjut kepada Andre.

Kini Andre mengelap jemari kakiku. Dengan teliti dia mengusap setiap ruas dan sela, mengusap telapak kaki dan betis. Aku sangat menikmati perlakuan ini. Banyak budi yang harus dibalas atas perbuatan baik Andre.

* * *

Tepat lima hari aku dirawat di Rumah Sakit. Hari ini kondisiku telah sehat dan diizinkan pulang. Selama dalam masa perawatan, Andre tak pernah absen menjaga. Dia mengambil cuti kerja di kantor selama seminggu. Orangtua dan keluargaku di kampung tidak bisa menjenguk. Mereka telah mempercayakan segala urusan kepada Andre. Tak pernah salah jika menyebut Andre sebagai sahabat terbaik karena semua biaya perawatan di Rumah Sakit telah diklaim olehnya.

Pada Jumat pagi, selepas Andre membersihkan badanku, kuceritakan semua aktivitas malam beserta tarif yang diakumulasikan dalam sebulan. Ternyata Andre tak marah. Dia telah mengetahui, hanya saja membiarkanku. Dia mengatakan telah lama curiga dari beberapa bungkus pengaman yang sering dijumpai di dalam tas selempangku.

Ngape kau tak marah, Ndre…?” ucapku lebih lanjut.

“Aku tidak boleh begitu. Menyadari kesalahan butuh waktu. Kamu masih labil dan suatu saat nanti kedewasaan akan menuntunmu ke arah yang lebih baik. Aku wajib mendoakan. Dan, sepertinya doaku hari ini terjawab.” syukurnya terucap atas pengakuanku.

Sangat mustahil dan tidak masuk akal, ketika pengakuanku tak ditanggapi dengan kemarahan oleh orang lain. Namun, berbeda dengan reaksi Andre. Tanggapannya jauh dari prediksi, cara pandangnya di luar ekspektasi yang dibayangkan.

Sebenar e aku malu nak cerite kayak ginik same kau. Tapi kayak e aku dah kenak karma, lah.” ucapku seraya menelan ludah yang sepat.

“Setiap manusia memiliki masa lalu dan kesalahan. Aib yang ada, akan lebih indah jika ditutup rapat. Adalah orang-orang beruntung jika dapat mengambil hikmah dari cobaan yang Allah berikan.” tutur Andre kemudian. Ucapannya membesarkan hatiku.

Butuh mental sekuat baja serta keberanian setegar karang, ketika menceritakan segala aib kepada Andre. Namun, Andre menghargai segala pengakuanku dan tetap berusaha menjadi sahabat yang baik. Di satu sisi, pengakuan ini telah membawaku pada kerendahan harga diri. Betapa tabiatku sangat memalukan dan menjadi aib searoma bangkai. Namun, di sisi lain, kekosongan hati seperti terisi walau hanya sedikit. Tiada lagi kehampaan yang menyiksa serta kesendirian tak bersudah.

Makaseh, ye, Andre. Care pandangmu dewase.” jawabku senang.

“Yah, walaupun kenyataannya kamu udah tua. Tua itu pasti, dewasa tetap menjadi pilihan, kan?” ledeknya padaku.

Mendengar nasihat dari Andre, mataku berbinar bahagia meski dalam kondisi apa pun dia selalu mencari kesempatan untuk meledekku. Kini, telah kusadari satu hal. Rezeki bukan hanya dapat diukur dari uang dan barang, melainkan pada kebahagiaan dan ketenteraman hidup serta memiliki sahabat terkasih. Aku mulai merasakan rezeki yang dimaksud.

Entah, untuk alasan yang tidak diketahui, Andre dan pihak Rumah Sakit tidak membahas masalah penyakit kencing nanah di depanku. Siangnya, setelah aku bercerita dengan Andre, dokter yang menanganiku datang dengan membawa hasil laboratorium. Aku menderita typhoid. Ketika mengonsumsi obat sirup dan tablet, aku tak melihat ada antibiotik khusus. Namun, rasa nyeri dan panas pada batang kemaluan berangsur hilang. Hari ini dapat dikatakan sembuh total.

Dan terakhir, satu hal yang menjadi buah rasa takut terbesarku adalah ketika jati diri diketahui oleh Andre. Namun, kenyataannya tidak demikian. Andre malah menyimpulkan sendiri bahwa aku sering dipanggil oleh tante-tante girang. Kuhembuskan napas lega walau mungkin dia sengaja tak ingin menjatuhkan harga diriku.

“Tunggu di sini sebentar, ya! Aku mau ke minimarket dulu!” pinta Andre padaku.

Iye,” jawabku sekadarnya.

Lamunan kini teralihkan. Aku hanya bergeming. Setelah memarkirkan mobil di depan sebuah minimarket, Andre berlari kecil melangkahi genangan air. Di luar sedang turun hujan. Aku duduk bersandar menikmati alunan musik yang sengaja diputar ketika berangkat dari Rumah Sakit. Mata terpejam, menyesapi setiap lirik lagu yang dilantun oleh Opick.

 

Ya Robbi, izinkanlah aku kembali pada-Mu

Meski mungkin tak kan sempurna

Aku sebagai hamba-Mu

 

Ampunkanlah aku, terimalah taubatku

Sesungguhnya Engkau, sang Mahapengampun dosa

Berikanlah aku kesempatan waktu

Aku ingin kembali, kembali [**]

 

Aku mengingat kembali perbuatan yang telah dilakukan dalam lima tahun terakhir, tentang aktivitas malam. Kemudian merenungi mimpi yang dialami di dimensi berbeda ketika sebelum tersadar. Mimpi yang seolah nyata, seperti memperingatkan dan memberi pertanda khusus. Namun, aku tetap saja masih memiliki perasaan rancu. Rancu karena menemukan kejanggalan. Mengapa Tuhan menciptakan perasaan seperti ini untukku? Namun, Dia justru melarang. Mengapa Tuhan membiarkan ada rasa seperti ini di dunia? Perasaan dari seorang lelaki yang mencintai dan dapat bernafsu kepada lelaki.

Aku juga mengingat-ingat. Selama di Rumah Sakit tak pernah dapat tidur dengan lelap. Sosok Pria Bertongkat dan rekan-rekannya sering mengganggu pikiran. Takut jikalau mereka masih menjelma menjadi bunga tidur lagi. Kesimpulannya, aku takut untuk memejamkan mata. Namun, sering terdengar suara Andre yang sedang mengaji membuatku berangsur-angsur tenang dan terlelap. Melihatnya mengerjakan sholat di kamar Rumah Sakit membuatku merasa lebih aman dan tentram.

“Kita pulang, yuk!” ucap Andre tiba-tiba.

Kehadiran Andre mengagetkanku. Perenungan mendadak buyar ketika mendengar suara pintu mobil yang terbuka. Andre duduk di jok kemudi, menyerahkan dua kantong kresek putih kepadaku kemudian menutup pintu.

Andre…. Waktu kemarin aku bangun, kau bace ape, sih?” tanyaku yang sedikit penasaran.

Andre berpikir sejenak, “oh, itu…. Surat Yasin. Kenapa?” dia balik bertanya.

Bacaan itu begitu indah. Ayat-ayat yang telah dibawa oleh suara serak Andre berhasil menyelamatkanku dari mimpi buruk, terutama dari si Pria Bertongkat. Andre masih menatapku.

Ndak ade ape-ape.” kilahku sekenanya.

Andre menampakkan raut wajah heran. Kutahu otaknya sedang memikirkan sesuatu. Ada rahasia lain yang ingin kusampaikan, tapi masih merasa gengsi dan malu untuk diungkapkan. Namun, hingga sejauh ini, pantaskah aku masih merasakan hal yang demikian? Menyembunyikan sesuatu dari Andre.

“Kenapa, sepertinya ada sesuatu yang masih disembunyikan?” ucapnya yang menohokku.

Tepat seperti dugaan, Andre berhasil membaca hatiku. Dia mengetahui aku masih menyembunyikan sesuatu meskipun sebelumnya telah menyangkal. Kini hatiku kembali mengumpulkan niat dan keberanian, mencoba bersekongkol dengan otak untuk memikirkan dan memilih untaian kata yang tepat.

Andre…, nantik kalok udah nyampek rumah, ajarin aku sholat same ngaji, ye!” ucapku datar.

“Sahabat aku, nih! Udah sembuh apa belum, ya? Tumben! Biasa cuman diajakin sholat aja pakai marah-marah.” godanya padaku.

Tubuhku lemah tak berdaya, efek dari hanya mengucapkan sebuah kalimat pendek. Sebenarnya, bukan dari ucapan yang berat, melainkan ada permainan emosi. Butuh keberanian yang lebih untuk mengutarakan kalimat sederhana itu. Aku sebenarnya malu, tapi saat ini harus segera mengesampingkan gengsi dan ego.

Udahlah Ndre…, jangan ngolok…! Aku malu, nah….” ucapku yang tersipu malu. Pipi merah merona.

“Iya, iya…, dengan senang hati.” Andre menjawab sambil mengulum senyum.

Andre menghidupkan mesin kemudian memutar mobil dan melanjutkan perjalanan menuju rumah. Mobil yang kami kendarai menderu jalanan yang basah. Hujan semakin deras. Mulai hari ini aku akan menjalani kehidupam yang baru. Akan kupastikan semua berubah.

* * *

EPILOG

 

Jika berbicara tentang cinta, tidak akan ada habisnya. Cinta adalah kekuatan yang mampu mengubah sifat acuh tak acuh manusia menjadi peduli, atau menyulap kandang kumuh menjadi istana megah. Namun sebaliknya, dengan mengatasnamakan cinta pula, banyak manusia berhati lembut menjadi kasar atau seorang yang dermawan menjadi kikir. Mungkin aku dapat disebut sebagai golongan yang demikian. Dengan beralasan cinta, aku memilih melakukan tindakan bodoh.

 

Terlalu banyak kebodohan yang kusemai di sini

Tanpa sadar kebodohan itu tumbuh subur, menyemaki ruang hidup dan gerakku

Aku terkurung dalam penjara rimba kebodohan yang kutanam sendiri

Entah kapan akan sadar telah terperangkap dan dapat lepas dari buinya

Atau, mungkin akan sadar saat azab menyapa [***]

 

Aku dulu sempat menepis pribahasa yang mengatakan bahwa berteman dengan penjual minyak wangi, maka akan kecipratan wanginya. Alasannya cukup sederhana. Aku telah lama bersahabat dengan Andre yang religius, tapi masih tetap pada tindakan bodoh. Sekarang, pribahasa itu tak terbantahkan lagi. Doa Andre telah dijawab.

Ushallii fardhal maghribi arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an imaaman lillaahi ta’aalaa. Allaahu akbar. Ku-sedekap-kan tangan setelah takbiratulihram.

“Ada yang salah! Ulangi bacaan niat shalatnya.” ucapan Andre memangkas gerakan shalatku.

Aku mematung sejenak, mengingat-ingat niat shalat maghrib yang baru saja kusebut. Perasaan tidak ada yang salah. Di manakah letak kekeliruannya?

Iye? Mane yang salah, Andre?” ucapku yang masih bingung.

“Kan shalat maghrib ada tiga raka’at jadi pakai tsalaatsa! Kalau arba’a untuk shalat yang empat raka’at seperti dhuhur, ashar, dan isya.” protesnya tegas.

Kutelaah perkataan Andre dan kembali mengingat hafalanku. Andre benar, aku telah keliru.

Ushallii fardhal maghribi tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an imaaman lillaahi ta’aalaa. Allaahu akbar.

Belajar sesudah dewasa laksana mengukir di atas air memang benar adanya. Aku kesulitan untuk belajar dan hambatannya karena sukar mengingat kembali yang telah dipelajari. Aku harus pandai bersikap karena ingin terus maju. Tekun akan membawa pada keberhasilan. Usia tidak boleh dijadikan alasan.

Andre sangat teliti ketika mengajariku tata cara ber-wudlu, mandi junub, dan mengenakan kain sarung. Katanya, dalam agama islam kesucian sangat diutamakan yaitu menjaga kesucian lahir dan batin. Mengerjakan shalat yang pertama kali membuatku merasa canggung, malu, dan tampak bodoh. Hari ini adalah ujian menghafal bacaan shalat.

Laa syariika lahuu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimin. Bismillaahir rahmaanir rahiim. Al hamdu lillahi rabbil ‘aalamiin.

Seperti biasa, Andre akan menyiapkan rotan berukuran satu meter untuk memapah betisku ketika salah dalam melantunkan bacaan shalat. Dia juga akan memukul punggungku ketika gerakan ruku’ kurang sempurna, atau memukul telapak kaki ketika salah melipatkan kaki pada duduk di antara dua sujud atau tasyahud awal dan tasyahud akhir. Hari ini tepat tiga bulan setelah aku meminta diajarkan mengaji dan shalat.

Ketika mulai belajar mengenal huruf hijaiyah, aku sering mendapatkan sabetan lidi aren di lengan. Teramat sulit bagiku membedakan huruf nun dan ba atau huruf jim dan kho. Perlakuan Andre terhadapku seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Ngape, Andre, kok kau selalu makek rotan same lidik. Bikin aku takot, yak!” protesku atas perlakuan Andre.

“Aku mengajarimu dengan serius dan ini menjadi tanggung jawabku sebagai sahabat. Dulu mamak dan bapak melakukan ini waktu aku masih TK, makanya aku melakukan ke kamu karena kamu terlambat.” tanggapnya dengan tenang dan santai.

Andre pernah beralasan demikian menanggapi protesku. Katanya, mengajari orang dewasa memang memerlukan sebuah pemaksaan. Ya, aku memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu, karena sekarang telah berada di penghujung usia perak. Dan alhamdulillah, sekarang sedang naik tingkat di iqro empat.

Keseriusan Andre memang tak diragukan lagi. Setiap subuh dia akan semangat membangunkanku. Ketika pulang kerja, dia akan datang lebih awal karena mengejar waktu maghrib untuk mengajakku shalat berjamaah di masjid. Ketika hari Jumat tiba, pada jam istirahat kantor Andre akan segera pulang dan mengajakku Shalat Jumat. Kadang menurutku terlalu berlebihan. ‘Kamu masih belajar, masih harus dipantau. Kita harus saling mengingatkan. Alasannya hanya bisa membuatku terdiam.

Subhaana rabbiyal a’laa wa bihamdih. Subhaana rabbiyal a’laa….

“Salah, Ris! Bacaan itu untuk sujud. Sekarang lagi ruku’!” Andre protes kepadaku.

Aku kembali mengulang bacaan yang salah. Jika bacaan masih salah, berarti pupus harapan untuk lulus menghafal bacaan shalat. Ini menandakan bahwa semua problema terletak pada diriku sendiri. Tidak ada alasan untukku menyia-nyiakan waktu. Ilmu ibarat samudera yang ada di bumi. Ternyata untuk mendapat hanya setetes saja teramat sulit.

Ketika setelah belajar, kami akan selalu makan malam berdua. Andre sering membuat lelucon dan bahan candaan itu adalah aku.

“Ironis, ya! Seorang Sarjana Pendidikan mendapat perlakuan seperti ini dari temannya yang bergelar Sarjana Akuntansi. Sakit dan mimpi yang membawa berkah. Sakitnya, tuh, di sini.” ucap Andre seraya menunjuk dada.

Usah gituklah, Ndre. Malu nah! Awas yak kau cerite ke orang-orang.” ucapku lirih.

Bahasa lelucon Andre membuatku ingin masuk ke lubang terkecil. Namun, dia selalu memberiku semangat untuk terus belajar. Dia juga mengatakan, aku mulai memiliki perubahan terutama dari cara berbicara yang lebih sopan dan menggunakan bahasa santun. Ucapannya membesarkan hatiku. Ternyata, dipuji dalam hal kebaikan juga dapat membuat tersipu malu.

Aku mendapat banyak nasihat dari Andre. Dia selalu menepis saat aku menyiratkan pernyataan rancu. ‘Cinta bagiku adalah sebuah aib, aib yang membuatku malu, untuk saat ini dan hingga ku mati. Setangguh-tangguhnya seorang lelaki, jika dihadapkan pada cinta yang tak pernah dimiliki, tak ada bedanya dengan cangkang tanpa isi, kosong.’ Dengan santai dia menyanggah dan membuatku tak berkutik. ‘Jika kau mencintai seseorang, namun membuatmu menjauhi Tuhan-mu, yakinlah itu bukan cinta melainkan nafsu. Cinta kepada siapa yang lebih hakiki? Cinta kepada Tuhan atau yang berlandaskan nafsu dan keinginan sesaat.’

Perasaan menjadi tenang, terarah, dan memiliki tujuan yang harus digapai. Apalah yang akan dibawa kelak? Ketika usia tak lagi menjamin, jabatan akan dilepas, serta harta tak dapat dibawa. Sudah tentu amal kebaikan. Aku begitu bersyukur karena Tuhan masih menjaga aibku, menutupi dari orang lain bahkan dari sahabatku sendiri.

Aku juga sering diajak Andre untuk mengikuti pengajian mingguan dan tabliq akbar. Dari situ kutemukan jawaban atas perasaam gamang selama ini. ‘Mengapa Tuhan menciptakan perasaan seperti ini untukku? Namun, Dia justru melarang. Mengapa Tuhan membiarkan ada rasa seperti ini di dunia? Perasaan dari seorang lelaki yang mencintai dan dapat bernafsu kepada lelaki.’ Dan jawaban begitu sederhana. ‘Tuhan tidak peduli dengan makhluk yang diciptakan-Nya berbentuk seperti apa atau dalam keadaan apa. Namun, yang Dia inginkan adalah kita sebagai hamba harus beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Dia.’ Mendengar penuturan itu tidak ada lagi yang dapat dijadikan alasan untuk kembali melakukan tindakan bodoh.

Pernah kubertanya pada Andre. ‘Masihkah aku memiliki kesempatan untuk melakukan kebaikan dari apa yang pernah dilakukan?’ Lagi, dan lagi. Andre membuatku tak berkutik. ‘Detik jam tidak pernah bergerak mundur, waktu yang telah lewat tak mungkin dapat terulang. Tapi, pagi selalu menawarkan cerita yang baru. Ingatlah, Tuhan itu Mahapengampun.

Aku menyadari. Selama ini tak pernah mendapatkan bimbingan agama. Lahir dari orang tua yang mualaf serta tumbuh dan berkembang di lingkungan kalangan minoritas membuat bekal agama kurang. Selama di sekolah dulu aku tak menyukai pelajaran Pendidikan Agama Islam. Sekarang aku mulai mengubah arah hidup, mengubah cara berpikir, sedang belajar mencintai Tuhan-ku untuk menjadi hamba-Nya yang taat. Sebab, mencintai Tuhan adalah kunci kebahagiaan hidup.

Fil ‘aalamiina innaka hamiidummajid. Kulepaskan tangan kanan yang membentuk genggaman dan menunjuk. Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Kutolehkan wajah ke sebelah kanan hingga searah dengan bahu. Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Kini menolehkan wajah ke sebelah kiri.

 

SELESAI

Pontianak, 30 Nopember 2014

 

CATATAN :

[*] : Puisi karya Ari Setiawan Bin Abdul Gafur – Cinta Bagiku

[**] : Lirik lagu Opick – Taubat

[***] : Puisi karya Zacky F. Nash – Kebohongan

Iklan