In The Dim Cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

 ###############################################################

Cuap2 Nayaka

Ini cerpen lama, pernah diterbitkan bersama cerpen-cerpen bagus lainnya dalam buku antologi cerpen bertajuk Akuarel. Lihat, betapa putus asanya aku hingga tulisan yang sudah usang ini pun harus kuposting untuk menjaga updetan blogku.

Semoga kalian menikmati membaca In the Dim Of Twilight seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam

N.A.G

####################################

Mendadak aku merasa sepi. Firasatku berkata, aku dan Aki tak akan menulis lanjutan cerita apapun lagi. Kisah kami selesai di sini

——–

 

Hidup ini aneh, Kawan. Demikian anehnya hingga kadang kau menemukan hal-hal dalam hidupmu yang tak terjangkau logika. Hidup ini aneh ketika sesuatu yang membuatmu ‘tak habis pikir’ mengusik kebiasaan hari-harimu. Semakin kau memaksa mencerna dengan logikamu, semakin kau merasa bahwa ‘sesuatu’ itu berada jauh di luar logika. Semakin kau memikirkan dengan pikiranmu, semakin pula membuatmu tak habis pikir. Sungguh, hidup ini aneh.

Di antara banyak keanehan, tersebutlah ‘cinta’.

Hei, apa yang aneh dari cinta? Tak ada. Cinta tak aneh jika kau menafsirkannya lewat roman Siti Nurbaya dan Samsul Bahri meski tak berujung baik. Cinta tampak sebagai sebuah kepatutan jika kau melihatnya pada foto pernikahan kedua orang tuamu yang terbingkai cantik di dinding rumah. Cinta tampak baik-baik saja jika kau mendefinisikannya pada seorang pemuda yang menyarungkan cincin belah rotan di jari seorang pemudi. Cinta sememangnya tidak mengandung keanehan apapun jika kau menyimpulkannya pada banyak kewajaran menyangkut dua anak manusia berbeda jenis kelamin yang sedang kasmaran, yang menganggap dunia beserta isinya baru saja mereka beli lunas, yang sepakat akan melewati pahit manis sampai maut bersama-sama, yang setuju bahwa cinta bisa mengenyangkan dan dapat dipakai sebagai mata uang di negara manapun. Sungguh, cinta bukanlah keanehan hidup jika ia diperankan seperti Adam dan Eve memerankannya berzaman dulu.

Lalu kapan cinta menjadi sebuah keanehan?

Oh Kawan… sesungguhnya cinta sudah menjadi demikian dengan serta-merta ketika untuk pertama kali ia keluar mendobrak kisi-kisi hatiku. Namun aneh, ketika aku sudah dan sedang menjalaninya, dengan serta merta pula aku merasa wajar dengannya. Tidakkah itu mengandung keanehan? Aku memainkan kisah cinta yang diyakini aneh oleh isi kepalaku sedang perasaanku meyakini bahwa cintaku sama sekali tak aneh.

Namun, Kawan… seperti janji alam, tak ada yang tak bisa dikalahkannya. Sejak penciptaan, alam sudah menyaksikan banyak hal wajar dan hal aneh yang terjadi di dalamnya punah, berganti dengan hal wajar dan hal aneh yang baru, pelaku yang baru. Begitu diam-diamnya ulah tangan tak terlihat Dewa Jagad Bathara dalam mencipta dan merenggut. Kau tersentak sadar dan hal itu tiba-tiba ada, kemudian kau lena dan zap zap zap! kau bangun dengan tangan kosong. Percayalah, ada hal-hal dalam hidup yang tak terjangkau nalar dan dipandang aneh oleh hampir seluruh populasi manusia, hanya segelintir kecil yang tidak merasa aneh ketika menjalaninya.

Aku, adalah seonggok daging dan tulang yang ternyata dipilih takdir… untuk mengakui, bahwa hidup itu memang aneh, bahwa hidup juga bisa diporak-porandakan oleh satu saja keanehan…

***

Denpasar, Juni 2013 

Sore yang sama seperti hari-hari lalu. Lelaki ini akan mengajak dua atau—pada beberapa kesempatan beruntung dapat mengajak semua—tiga orang keponakannya yang belum satupun berusia sebelas, dua anak lelaki berumur sama dan seorang gadis yang lebih tua. Masih berdasi dan lengan kemeja tergulung, bersama para keponakan yang sesekali berceloteh riang lelaki ini akan meninggalkan pekarangan rumah di belakangnya, menyeberang jalan kecil yang sepi untuk selanjutnya melintasi lahan kosong menuju satu-satunya kursi kayu di bawah teduhan pinus di tengah lahan. Sore ini ia kurang beruntung, keponakannya yang perempuan tidak lebih tertarik dengan apapun lagi sekarang selain anak patung yang baru dibeli bapa mereka minggu lalu. Apalagi jika dibandingkan dengan ocehan sang poyan tentang Perang Kusamba dan pahlawan-pahlawan perkasanya yang selalu sama setiap sore. Tentu saja anak patungnya lebih menarik. Jadi, lelaki ini hanya ditemani dua keponakan yang masih belum menemukan sesuatu menarik lain untuk dipakai menghabiskan sore selain merelakan telinga mereka dijejali cerita yang sama lagi dari sang paman. Akan ada hari di mana mereka menemukan kesenangan baru dan berhenti menuju kursi di bawah pinus bersama si lelaki. Ketika hari itu tiba, ada dua kemungkinan yang akan terjadi: kebiasaan itu tetap berlanjut dan si lelaki akan duduk sendirian hingga jauh senja, atau memilih kegiatan baru yang disukai keponakannya sambil berusaha membuat hal itu sebagai kebiasaan baru mereka.

Lelaki ini akan menempatkan dirinya perlahan di kursi kayu. Keponakannya akan mengambil tempat di kanan dan kiri. Seperti biasa, ia akan menghirup napas dalam-dalam hingga cuping hidungnya yang tinggi mengembang, membaui aroma pinus yang disengat matahari sepanjang siang tadi. Keponakannya juga akan melakukan hal yang sama. Entah kapan dimulai, membaui pinus telah menjadi semacam ritual bagi mereka sebelum memulai percakapan, tapi si lelaki tahu betul kapan pertama kali ia telah jatuh cinta pada aroma pinus. Setelahnya, mereka akan menatap cakrawala lembayung di arah barat untuk beberapa saat. Ketika keponakannya mulai memanggil, barulah ia akan membuka kisah yang pernah terjadi di tanah kelahirannya dengan kalimat tak jauh-jauh dari ini: ‘Dahulu di Klungkung terdampar dua buah perahu yang dinaiki orang Sasak…’ dan sore pun kemudian bergulir menuju senja hingga temaramnya pupus membawa langkah mereka kembali ke rumah, atau hingga mbok—yang dihormati, disayangi dan akan dilindungi si lelaki meski harus berkorban jiwa, meme keponakannya memanggil mereka untuk pulang.

Begitulah seringnya yang dilakukan lelaki ini bersama anak-anak sang mbok.Lelaki ini akan menempatkan dirinya perlahan di kursi kayu. Keponakannya akan mengambil tempat di kanan dan kiri. Seperti biasa, ia akan menghirup napas dalam-dalam hingga cuping hidungnya yang tinggi mengembang, membaui aroma pinus yang disengat matahari sepanjang siang tadi. Keponakannya juga akan melakukan hal yang sama. Entah kapan dimulai, membaui pinus telah menjadi semacam ritual bagi mereka sebelum memulai percakapan, tapi si lelaki tahu betul kapan pertama kali ia telah jatuh cinta pada aroma pinus. Setelahnya, mereka akan menatap cakrawala lembayung di arah barat untuk beberapa saat. Ketika keponakannya mulai memanggil, barulah ia akan membuka kisah yang pernah terjadi di tanah kelahirannya dengan kalimat tak jauh-jauh dari ini: ‘Dahulu di Klungkung terdampar dua buah perahu yang dinaiki orang Sasak…’ dan sore pun kemudian bergulir menuju senja hingga temaramnya pupus membawa langkah mereka kembali ke rumah, atau hingga mbok—yang dihormati, disayangi dan akan dilindungi si lelaki meski harus berkorban jiwa, meme keponakannya memanggil mereka untuk pulang.

Lelaki yang berteman keponakan di kursi kayu menjelang senja, yang telah jatuh cinta pada aroma pinus sejak bertahun dulu, yang percaya bahwa suatu saat nanti kebiasaannya ini mungkin akan berganti, yang selalu memulai kisah heroik Perang Kusamba dengan kalimat hampir sama setiap hari, yang begitu cintanya kepada senja hingga memilih melewatinya terlebih dahulu sebelum melepas dasinya, lelaki yang sedang bercerita ini adalah aku… aku yang tengah menikmati secuil waktu berkualitasku dalam satu harian sambil bertanya-tanya apakah besok keponakanku masih menganggap senja terlalu sayang untuk dibiarkan lewat begitu saja tanpa ditatap lembayungnya? Ah, mereka terlalu belia untuk memahami bahwa senja kerap membiarkanku diusik kenangan. Yang mereka paham adalah, bahwa aku sering terdiam lama di tengah-tengah cerita semata-mata untuk menambah kesan dramatis pada tuturanku. Mereka terlalu muda untuk paham, bahwa Perang Kusamba bukan hanya dongeng di kala senja saja bagiku seperti yang diyakini mereka. Itu juga adalah cerita yang pernah menyertai sepenggal kisah hidupku.

Poyan Nyoman, kalau hari ini ceritanya diganti boleh?” I Made Argasena, keponakanku yang duduk di kanan memanggil membuka percakapan. “Jangan cerita Jendral Micel mati lagi.”

Jenderal Michiels, keponakanku selalu lebih gampang menyebut Micel. Bagian yang paling mereka tunggu adalah saat kaki sang jenderal tertembak meriam Canon, nama meriam yang dulu juga sempat membuat salah seorang turisku antusias.

Ah, apakah dia masih suka berwisata hingga saat ini? Apa dia menemukan guide lain sepertiku? Apa yang akan dikatakannya jika tahu bahwa aku sudah tidak lagi memandu wisatawan? Apa dia akan berkata bahwa aku telah menyia-nyiakan bakatku? Yang paling dasar, apa dia masih mengingatku seperti aku yang masih mengingatnya? Selalu, akan banyak kalimat yang berakhir dengan tanda tanya setiap kali fikirku tertuju padanya.

“Iya, jangan cerita pemanting Klungkung lagi…” I Made Argiseno, saudara kembar Argasena ikut bersuara sambil menepuk paha kiriku, cukup kuat untuk membuatku sedikit terlonjak.

“Apa yang terjadi dengan cerita itu hingga kalian tak ingin mendengarnya sore ini?” aku mencari tahu alasan mereka. Kutatap keponakan kembarku bergantian.

Argasena membisukan diri.

“Kata Ni Kadek, cerita itu sudah mulai membosankan,” Argiseno lebih berani dengan langsung menyalahkan kakak perempuannya, Ni Kadek Kirana.

Aku tersenyum, “Iyakah?”

Sekarang Argiseno malah terdiam.

“Jangan tiap hari cerita perang, Poyan. Kami juga ingin mendengar cerita lainnya,” Argasena membantu saudara kembarnya.

“Tapi kisah Perang Kusamba itu terjadi di tempat aku dan meme kalian lahir,” aku masih berusaha membuat mereka tertarik. “Kalian belum pernah ke sana sekali pun…” Ada keperihan ketika aku mengucapkan kalimatku barusan. “Suatu saat, kalian pasti akan ke sana…” aku menerawang ke kejauhan, suatu saat aku juga akan pulang ke sana…

Keponakan kembarku terdiam beberapa saat.

Aku menarik napas, mengingat-ingat sudah berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk menceritakan kisah ini pada keponakanku hingga cukup membuat mereka mulai bosan sekarang. Setahun? Dua tahun? Mungkin lebih, hanya saja, dulu mereka terlalu kecil untuk paham bahwa yang kuceritakan adalah cerita yang sama setiap hari. Sekarang otak mereka sudah jauh berkembang hingga dapat memahami bahwa ceritaku tidak lebih menarik lagi dengan diceritakan berulang-ulang, mereka bahkan sudah hapal di luar kepala. Setidaknya begitulah yang pasti sudah terjadi pada keponakan perempuanku, Ni Kadek. Adik kembarnya akan segera mengikuti.

“Ceritakan pada kami tentang Poyan saja!” Argasena berseru tiba-tiba.

“Iya, ceritakan tentang pacar Poyan Nyoman pada kami!” adiknya melanjutkan.

Aku kaget sendiri. Dari mana bocah yang belum genap delapan tahun di kiri kananku ini tahu istilah pacar? Mengertikah mereka? Atau mereka menyimpulkan lewat pemuda-pemuda sepertiku yang kerap terlihat berpasangan, lantas mereka ingin tahu apakah aku juga punya pasangan. Atau, mereka merasa asing dengan pamannya yang tak pernah terlihat berpasangan di usia yang sudah melewati dua puluh lima.

“Ni Kadek bilang, kalau besar nanti dia ingin punya pacar seperti Zayn Malik.”

Tentu saja, Ni Kadek adalah gudang ilmu dan ensiklopedi paling update bagi kedua adiknya. Ah, ternyata keponakan perempuanku itu sudah lebih dewasa dari usianya, padahal baru akan akhir tahun nanti ia berusia sebelas.

“Apa sekarang Poyan Nyoman punya pacar?”

“Seperti apa wajahnya?”

“Apakah dia cantik?”

“Siapa namanya?”

“Kapan Poyan Nyoman akan mengajaknya kemari?”

“Iya, bawa saja ke rumah, kami akan mengajaknya bermain meongmeongan.”

“Dia juga bisa mengajari Ni Kadek bersolek.”

“Dan membantu Meme di dapur, iya kan?”

Aku diserbu banyak sekali kalimat yang berlesatan      selang-seling     dari     mulut    keponakan

kembarku. Mereka terlalu aktif sore ini. Aku kelabakan.

“Ayo, ceritakan tentang pacar Poyan itu,” Argiseno masih keukeuh dengan usulnya.

“Iya. Kami tidak mau mendengar tentang Jenderal Micel lagi!”

Aku menghela napas. Mungkin kebiasaanku memang sudah berganti perlahan-lahan mulai hari ini. Keponakanku sudah mulai mengubahnya. Tapi, bagian yang mana dari cerita tentang pacarku yang harus aku ceritakan pada mereka? Apakah mereka tidak akan bingung ketika aku menyebutkan bahwa orang yang aku cintai dulu bukan cantik, tapi tampan? Pertanyaan paling dasar, mengapa aku merasa perlu menjejali otak putih mereka dengan kisah cintaku yang dicap menerobos pakem?

Aku memandang mereka bergantian, “Poyan punya cerita menarik tentang seorang teman, seorang sahabat. Poyan juga punya cerita cinta yang amat sangat jelek dengan seorang pacar. Ayo pilih, kalian ingin mendengar cerita menarik tentang seorang sahabat atau mendengar cerita jelek tentang seorang pacar?” aku tersenyum ketika mendapati raut wajah mereka seakan berfikir keras.

“Cerita menarik tentang seorang pacar adakah?”

Rasanya aku ingin memarahi Ni Kadek detik ini juga ketika Argasena dan Argiseno menyuarakan pertanyaan barusan bersamaan. Aku menggeleng keras-keras.

Mereka menampakkan wajah lesu. “Siapa nama teman Poyan itu?” Argiseno baru saja memilih.

Aku tersenyum, “Thariq Amril Ash-syauqi.”

Seperti yang kuduga, mulut kedua keponakanku melongo. “Aneh sekali namanya, dia bukan orang Denpasar sini?”

Aku menggeleng, “Bahkan dia tidak lahir di jengkal manapun dari tanah Bali. Dia datang dari tanah jauh…,” tanganku menunjuk arah matahari terbenam.

Aku menggigil ketika untuk sekali lagi bibirku mengulang menyebut nama yang dikatakan aneh oleh keponakanku. Jingga mulai menyemburat jelas di langit barat ketika memoriku tentangnya menghantam setiap saraf tubuhku bagaikan air bah. Hanya butuh satu kali kejapan mata saja, dan kisahku bersama Thariq Amril Ash-syauqi terpampang jelas, sejelas warna-warni cat di atas kanvas pelukis Kamasan.

Aku memanggilnya Aki…

***

Cinta itu keheningan

Ia datang senyap-senyap

Mengendap-ngendap laksana gerilya

Cinta itu angin topan

Ia datang dengan kalap

Mengobrak-abrik laksana ksatria

 

Ketika cinta adalah keheningan

Hati tenang tanpa sebarang geliat

Hati ber-rotasi dengan ritme tenang lembut

Namun ketika cinta adalah angin topan

Hati bergolak meletupkan gelagat

Hati berotasi dengan goncangan menyerabut

 

Cinta…

Sebagaimana tak terdefinisikan ia dengan satu kesepahaman saja

Selalu punya cara tak terduga untuk datang menuju hati dalam senyap

 

Cinta…

Sebagaimana tak tersimbolisasikan ia dengan satu tanda saja

Selalu punya cara tak terprediksi untuk menggoncang hati dengan prahara

 

Namun cinta,

Selalu punya bahasa indah untuk dimengerti hati

Selalu punya mantra terhebat untuk membuat takluk

 

Dan cinta,

Acap kali menjadi penyebab banyak kesusahan hati

Acap kali menjadi pencetus banyak problema hidup

Semarapura, Klungkung, Juni 2006

Aku duduk menunggu sambil mengetuk-ngetukkan jariku di sandaran sofa empuk yang sudah menjadi pelabuhan bokongku lebih setengah jam lalu. Gelas besar yang kini menyisakan bulir-bulir embun di sekelilingnya menggeletak di atas meja kaca di depanku, tadinya gelas besar itu berisi mangga yang diblender dan diberi es. Begitu warna mangganya hilang masuk ke perutku setelah melewati sedotan, yang bersisa adalah bongkahan es mulai mencair di dasar gelas. Bukan aku yang minta minum jus, tapi pembantu rumah yang menyebutkan opsi. Sepertinya si pembantu sadar kalau aku bakal menunggu lama seperti sekarang dan berbaik hati menawarkanku jus yang biasanya baru bisa kucicip di kafé-kafé. Atau, bisa jadi karena rumah ini terlalu megah untuk menawari tamunya minum teh manis, meski tamu tersebut hanya seorang tour guide.

Aku melirik jam di pergelangan tangan kiri. Melirik jam sepertinya sudah menjadi hobi baruku setelah lima belas menit pertama terlewati sejak aku dipersilakan duduk oleh si pembantu. Dua menit lagi aku akan sudah menunggu genap empat puluh lima menit, tiga perempat jam. Sialan. Turisku kali ini sungguh-sungguh manusia jam karet. Awas saja kalau dia tidak memberiku tip setimpal.

Untuk kesekian kalinya, kuedarkan pandanganku menelusuri tata ruang tempat aku menunggu dengan sisa-sisa kesabaran yang kuyakini akan segera lenyap tidak lama lagi. Aku mengagumi tata ruangnya. Salut dengan jiwa seni siapapun orang yang mengaturnya. Di dinding, beberapa lukisan penari Bali dalam ukuran besar tersemat apik, bingkai berukirnya yang berwarna keemasan menambah kesan elegan pada lukisan itu. Di setiap sudut ruang, sejenis bunga merambat tumbuh hijau dalam potnya yang disangga rangka besi. Aku mendongak loteng, lampu hias dalam kelopak berukir menggantung di pertengahan, dalam keadaan menyala. Di satu sisi ruang, buffet besar dan lebar ditempatkan merapat ke dinding. Benda-benda di atas buffet itulah yang paling menyita perhatianku. Bermacam ukiran khas Bali berjajar rapi memenuhi permukaan buffet, hampir tak ada jengkal yang lapang.

Tak tahan untuk tidak melihat lebih dekat, aku bergerak meninggalkan sofa menuju sisi ukiran-ukiran itu berada. Aku tidak bisa lebih sabar lagi menunggu turis kurang ajar itu selesai bersolek tanpa mengalihkan perhatianku pada sesuatu yang menarik. Dan ukiran di atas buffet adalah satu-satunya yang menarik bagiku kini.

Aku diberitahu kalau pemilik rumah ini bukanlah orang Bali, namun sepertinya ia benar-benar mencintai tempat hidupnya sekarang. Hampir semua motif ukiran khas daerahku terpajang di sini, meski bukan dalam ukuran-ukuran besar. Aku menyentuhkan jemariku pada salah satu ukiran, menikmati gestur pahatannya di telapak tanganku, namun kemudian aku nyaris menyenggolnya jatuh ketika seseorang menegur dengan suara berat setelah terlebih dahulu berdehem.

“Kamu tidak bermaksud menyuruhku menunggumu hingga selesai dengan koleksi pamanku itu, kan?”

Aku sontak menolehkan wajahku ke belakang, kedua tanganku masih berusaha menyeimbangkan kayu berukir di atas buffet yang hampir saja kujatuhkan. Aku tersenyum kikuk, merasa malu karena telah menyentuh barang-barang tanpa permisi. Setelah memastikan kalau ukiran yang telah membuatku mendapat teguran—karena ucapan si cowok bertampang dingin di depanku sangat pantas disebut demikian—itu menggeletak tegak, aku membalikkan badan, menghadap si cowok dengan sempurna. Agaknya dia telah berdiri di sana sejak beberapa menit lalu. Aku yang tadi membelakanginya sama sekali tak sadar.

“Maaf, saya menyentuh barang-barang tanpa izin dulu,” ujarku sambil melangkah mendekat, tanganku terulur selama aku berjalan. Aku menggunakan bahasa formal, pekerjaanku membiasakan begitu.

“Tak apa, jika kamu masih ingin melihat-lihat silakan. Tapi setelah selesai, kamu boleh pulang dan kembali lagi besok.”

Aku mengernyit, apa maksudnya? Lalu aku ingat kalimatnya pertama kali tadi. Sialan, apa dia merasa bahwa aku yang telah membuatnya menunggu ketika asyik meneliti ukiran? Tentu, sikap tak bersahabatnya pasti karena dia meyakini demikian. Oh Gusti, padahal dia yang telah membuatku menunggu hampir sejam lamanya.

“Kalau kamu merasa melihat ukiran lebih penting untuk dilakukan hari ini ketimbang menjadi penunjuk arahku, kamu bisa balik dan menjadi guide-ku besok,” dia menjelaskan maksudnya ketika aku cuma mengernyit saja dengan tangan masih menggantung di udara.

Aku memaksa seulas senyum, “Tidak, saya siap memandu Anda mengelilingi Klungkung hari ini…,” kulihat dia berusaha menahan senyum dan entah mengapa ketika sedang seperti itu kesan dingin pada raut mukanya lenyap berganti dengan wajah ramah. “Saya I Nyoman Abhijantra, kita berbicara di telepon dua hari lalu. Anda sudah setuju kalau kita…” kali ini ujung bibirnya tertarik, membentuk sebuah seringai. “…akan mulai berjalan pagi ini, saya sudah…” sekarang dia benar-benar tersenyum. Aku melanjutkan kalimatku dalam bingung, “…saya sudah tiba sejak…” kulirik lagi jam tanganku, “enam puluh lima menit yang lalu. Emm… saya sudah menunggu Anda selama itu.” Aku menelan ludah. Ini bukan kali pertama aku memandu turis domestik, tapi entah mengapa baru kali ini aku merasa tak luwes dalam membuka percakapan. Cowok di depanku sepertinya sedang menganggapku lucu.

Tiba-tiba dia menjabat tanganku yang belum kuturunkan sejak tadi. “Bli I Nyoman Abhijantra, apa Anda selalu berbicara seperti dosen begini?”

Aku menangkap nada beda ketika dia menyebutku menggunakan kata ganti ‘Anda’ seperti yang kulakukan untuknya. Aku juga gemas ketika suara beratnya mengucapkan seluruh huruf yang menyusun namaku, bahkan dia menambahkan sapaan bli. Kesan dingin tak bersahabat yang tadi sempat kutangkap kini tidak lagi diperlihatkannya.

“Bicaramu terlalu formal, aku merasa aneh dan geli pada saat bersamaan. Dipanggil Anda rasanya aneh. Yah meski aku tahu kalau itu adalah standar pekerjaan Bli I Nyoman Abhijantra…”

“Cukup Nyoman saja,” aku bermaksud membuatnya tidak kesulitan mengeja seluruh namaku.

Bli Nyoman?”

“Boleh.”

“Bagaimana dengan Bli Jantra?”

“Terserah kamu…”

Dia langsung tersenyum begitu aku tidak lagi menyebutnya sebagai ‘Anda’. “Ya ya ya… begitu lebih baik.”

“Jadi, Mas Thariq, apa aku bisa langsung memandumu menjelajah setiap sudut Klungkung sekarang?” aku tidak bisa mengingat nama lengkapnya ketika dia memberitahu lewat telepon dua hari lalu, hanya tahu nama depannya saja.

“Apa pamanku hanya memberitahu Thariq saja sebagai namaku? Belum ada yang memamanggilku begitu, pengucapannya agak susah.”

Aku salah mengira, ternyata yang menghubungiku dan memberitahu nama serta alamat turis yang akan kupandu bukan si Thariq—entah apa—ini langsung, melainkan pamannya.

“Thariq Amril Ash-syauqi, belum ada orang yang memanggilku selain Amril.”

Aku tersenyum ketika dia melerai jabatan kami, “Kalau begitu, aku akan jadi orang pertama yang memanggilmu selain Amril, Mas Thariq.”

Dia tertawa ketika aku masih ngotot memanggilnya Thariq. “Terserah Bli Jantra saja.”

Aku mengulang-ulang menyebut namanya dalam hati, “Iya benar, Thariq agak susah. Emm… aku ganti Mas Aki boleh?”

“Terserah kamu saja,” ulangnya. “Tapi, bukannya sebutan mas hanya untuk orang Jawa, ya? enggak usah pake mas deh, langsung sebut nama saja.”

Aku sadar kalau sekarang aku dan cowok yang namanya masih asing di lidahku ini sudah mulai memakai tipe percakapan dengan teman sebaya, bukan lagi turis-pemandu. Aku mengangkat bahu, menyambar kunci motorku di atas meja di dekat gelas jus yang sekarang terisi air hampir seperempat wadahnya, lalu mengikuti turisku yang sudah berjalan lebih dulu.

Aku adalah tour guide lepas, bekerja sendiri dan lebih sering atas dasar promosi orang-orang yang pernah kupandu. Profesi ini sudah kugeluti hampir setahun sejak aku memilih untuk tidak melanjutkan pendidikanku. Selama ini, hampir semua yang kupandu adalah wisatawan domestik dan sebagian besar hanya seputaran Klungkung saja. Kabupatenku adalah secuil kecil Tanah Bali, kabupaten paling sempit bila dibandingkan dengan delapan kabupaten atau kota lainnya di Pulau Dewata ini. Wisatawan yang berkunjung ke tempatku tidak lebih ramai dibandingkan tanah lainnya di Bali. Thariq Amril Ash-syauqi adalah salah seorang turis yang tertarik melihat Klungkung. Aku ragu dia benar-benar ingin melihat setiap sudut Klungkung karena tertarik, bisa jadi dia tak punya pilihan lain karena famili yang dikunjunginya tinggal di sini. Aku rasa itu faktor utamanya. Aku ingin tahu apa alasannya harus memakai jasa pemandu, tidakkah lebih baik menjelajah Klungkung dengan salah seorang kerabatnya di sini?

*

Tempat pertama yang kami tuju adalah Monumen Puputan Klungkung. Selama perjalanan dari rumah pamannya di pinggiran Kota Semarapura menuju Jalan Untung Suropati tempat monumen ini berada tepat di tengah kota, Aki tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia duduk tenang di boncengan, berpegangan pada ujung kausku. Aki terlalu diam untuk ukuran seorang wisatawan. Kebiasaan, turis yang kupandu akan ribut bertanya selama perjalanan. Jadilah sepanjang jalan aku hanya mengoceh sendiri alakadarnya, menerangkan beberapa lokasi utama kota Semarapura yang dilewati motorku. Perjalanan dengan motor sendiri adalah permintaan Aki yang disampaikan lewat pamannya ketika menghubungi nomorku tempo hari.

Dari area parkir roda dua, Aki mendahuluiku berjalan menuju undakan monumen tanpa bertanya apapun. Sementara aku mengurus motor dia sudah asyik bergerak di kaki monumen sambil menjepret kameranya berulang kali.

“Namanya Munomen Puputan Klungkung…”

“Aku sudah membacanya di sana,” acuh ia menunjuk tembok di mana nama monumen ini tertera.

Aku bertanya-tanya, apa sikap tak bersahabatnya balik lagi? Beberapa lama, aku hanya diam memperhatikan dia sibuk dengan kameranya.

“Heran, bagaimana wisatawan bisa mendapukmu sebagai guide mereka jika ternyata kamu sediam ini? Pamanku diberitahu kalau kamu guide yang cerdas, maka beliau menyimpan nomor kontakmu.”

Aku melongo bingung, mencerna kemana arah pembicaraannya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pekerjaanku, aku tak bergairah merepeti wisatawanku dengan cerita terkait lokasi yang sedang mereka datangi.

“Halo, Jantra… bukankah sekarang adalah saatnya bagimu untuk mendongeng? Aku ingin tahu tentang monumen ini agar wisataku kemari tak hanya sekedar melihat.”

Aku mendesah, dalam hati aku menyalahkan sikapnya sebagai faktor yang membuat gairah memanduku drop. “Monumen ini dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat dan ksatria kerajaan Klungkung melawan Kolonial Belanda dengan perlawanan habis-habisan, istilahnya adalah Puputan, melawan habis-habisan…”

Dan selanjutnya, aku benar-benar tidak memberi Aki kesempatan untuk memperlihatkan sikap menyebalkannya lagi. Aku merepet panjang lebar, menjelaskan dari A sampai Z perihal Monumen Puputan Klungkung. Namun aku kagum dengan Aki, dia mendengarkanku demikian cermatnya sambil mengangguk-angguk sesekali. Aktivitasnya dengan kamera berhenti total selama aku berbicara.

“Wow, ternyata memang benar, ya. Kamu punya bakat luar biasa sebagai pemandu wisata.”

Itu kalimat Aki ketika aku berhenti menerangkan. Setelah membidikkan kameranya beberapa kali lagi, dia bergerak meninggalkan undakan monumen.

“Hei, kamu tak ingin difoto di sini?”

Aki berhenti dan berbalik memandangku, “Hanya jika kamu juga ikut berfoto.”

Aku benar-benar dibuat bingung dengan sikapnya. Kadar keramahan turisku satu ini berubah-ubah terus sejak dari rumah pamannya.

Bli Jantra, maukah kamu berfoto denganku?”

Aku harus jujur, baru dia turis yang memintaku untuk berfoto sedemikian sopannya. Kebanyakan mereka malah tidak mau repot-repot memegang kameranya, aku juga merangkap sebagai fotografer bagi kebanyakan turis yang sudah kupandu.

Aku mengangguk satu kali, dan hatiku menghangat seketika saat Aki mengulum senyum. Dengan sopan dia mencegat seseorang, berbicara begitu ramah sambil menyerahkan kameranya lalu bergerak cepat menujuku yang masih berdiri di undakan. Aki menggamit lengan kananku, kami berdua diminta terus tersenyum oleh si fotografer cegatan Aki. Siapapun yang melihat foto itu nantinya pasti akan langsung mengira kalau kami sahabat dekat. Padahal, kami baru bersama tak lebih dari sejam.

*

Kami menyeberang ke Taman Gili Kertha Gosa yang berada tepat berdampingan dengan Monumen Puputan Klungkung. Di sini, Aki kembali menjepret kameranya berulang-ulang dan akan diam ketika aku mulai bercerita menjelaskan asal-usul dua bangunan yang menjadi objek utamanya. Kami menjenguk kedua bangunan, selama melakukan itu Aki tak henti berdecak mengagumi lukisan gaya Kamasan yang memenuhi langit-langit bangunan.

Lelah berjalan, Aki menjelepok asal di kaki bangunan Kertha Gosa. Aki lebih dulu tertarik dengan Taman Gili baru kemudian menuju ke bale Kertha Gosa. Aku ikut duduk di samping kirinya, memandang beberapa turis yang berseliweran keluar masuk.

Aku merasa kalau Aki sedang memandangku. Tak tahan, aku balas menolehkan kepala ke arahnya. Dia tidak berusaha membuang tatapannya dari wajahku. Untuk semenit, kami saling menatap. Entah apa yang mendorongku untuk melakukan itu, bertatapan dengan turisku seperti sekarang baru yang pertama kali terjadi. Lalu aku mulai menilai. Tak susah menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan wajah Aki. Tampan. Aku langsung bisa menyebutkan. Wajahnya bersih tanpa setitikpun bekas jerawat. Alisnya lurus lebat menaungi kedua matanya yang sipit elang. Meski kecil, tapi hidungnya memiliki kemancungan yang pas, sangat pas untuk membuatnya menjadi daya tarik. Bibirnya tipis, ukuran mulutnya cukup lebar namun terlihat bagus dengan ulas bibirnya yang tipis itu. Yang paling menonjol mungkin adalah bentuk rahangnya, bukan persegi, rahang Aki meruncing dan membuat wajahnya terlihat tirus. Aku suka dagunya yang tampak bagai gambar-gambar tokoh pria dalam manga.

Hanya butuh waktu semenit, aku bisa mendeskripsikan wajah tampan Aki tanpa menemui sebarang kendala dalam mencari kata yang tepat.

“Berapa usiamu, Bli Jantra?”

Aku membawa pandanganku kembali lurus ke depan begitu Aki bersuara, sampai saat ini dia masih memandang sisi kanan wajahku. “Delapan belas, menuju sembilan belas.”

“Aku tujuh belas, menuju delapan belas,” dia memberitahu tanpa kutanya. “Aku sering berkhayal jika usiaku berhenti di angka belasan, tidak menjadi puluhan…”

Aku tak tahu kemana arah pembicaraan Aki.

“Jika usiaku tetap belasan, besar kemungkinan aku bisa melajang terus, pergi kemana yang kusuka, melakukan apapun yang kumau. Aku tak akan dihadapkan pada tanggung jawab mengurus keluarga karena sudah pasti aku tak akan menikah sebab usiaku masih belasan. Anak umur belasan tak mungkin diminta untuk berkeluarga, kan? Anak umur belasan belum cukup bertanggung jawab atas seorang wanita.” Aki menghela napas, “Hingga sekarang, aku masih mempertahankan kekonyolanku, berdoa agar usiaku tetap belasan.” Meski tersenyum di akhir kalimat, Aki tak bisa menyembunyikan rautnya yang mendadak sendu. Begitu, seakan beban hidup paling hebat sedang dipikulkan pada kedua pundaknya. Berat.

Aku kesulitan menelan ludah. Kutemukan diriku sendiri dalam pusaran ucapan-ucapan Aki. Aku bertanya-tanya, apa yang sedang diisyaratkan Aki untuk kubaca dan kusimpulkan tentangnya?

“Rasanya… aku tak siap untuk berkeluarga sampai kapanpun…”

‘Aku tak siap untuk berkeluarga sampai kapanpun…’

Aku bagaikan mendengar batinku menggaungkan kalimat yang sama. Dengan serta-merta perasaan yang sempat kusangsikan ketika masa putih-abu-abuku menyeruak keluar lagi kini. Sialan Aki. Dia menyeretku untuk kembali berada di persimpangan.

“Aku pernah mendengar, di sini pandangan orang lebih terbuka ketimbang di tempatku. Andai saja…”

“Apa yang ingin kamu bicarakan, Aki?” aku memotong kalimatnya. Kutatap dia dengan tatapan serius yang malah membuatku gusar ketika menemukan wajahnya kian indah dari penilaian pertamaku tadi.

Aki mengerjap beberapa kali. Tatapanku masih belum teralihkan dari menatap matanya. Kemudian dia menggeleng. “Aku berfikir, mungkin aku telah menemukan orang yang berpikiran terbuka untuk berkeluh-kesah. Karena sekian lama di tempatku, aku hanya bisa mengiba pada jiwaku sendiri. Ternyata tidak.” Aki tersenyum. “Maaf, Bli Jantra. Aku membuatmu bingung.” Dia bangkit berdiri, “Jadi, kemana tujuan kita selanjutnya, Mr. Guide?”

*

Aku merutuki diriku sendiri sepanjang perjalanan dari Semarapura menuju Desa Kamasan karena membiarkan emosi pribadiku berpusar liar memengaruhi pekerjaanku hari ini. Aku jujur mengakui bahwa kalimat-kalimat Aki ketika di Kertha Gosa tadi telah merangsang sesuatu lain dalam diriku. Aku tak berani menyimpulkan, namun aku juga tidak sangsi menyebutnya sebagai hal yang akan kuterima tanpa terpaksa. Aku adalah bangsat muda yang sedang membangun harapan. Harapan yang berpondasi pada keluh-kesah anak manusia yang kini kembali duduk di belakangku.

Aku menyetir sambil sesekali melihat Aki melalui spion. Wajahnya tenang. Aku juga beberapa kali menunduk melihat jarinya yang mengait pada ujung bajuku di pinggang kiri kanan. Aku bertanya-tanya, apakah Aki hanya akan memegang ujung bajuku saja hingga perjalanan kami selesai sore nanti?

“Katanya, Bali adalah Pulau Seribu Pura.” Tiba-tiba Aki berucap di belakangku. Bisa kurasakan hembus angin yang keluar dari mulutnya di kulit leherku ketika berkata-kata. “Iyakah?”

Aku mengangguk, “Iya.”

“Maksudku bukan ‘iya’ tentang julukannya, tapi tentang seribu puranya. Apa puranya benar-benar ada seribu?”

Aku tertawa pendek, “Entahlah, Ki. Aku belum pernah menghitungnya.”

Lalu diam kembali.

Aku membelokkan motor di persimpangan, rambu-rambu memberi tahu kalau kami sudah berada di Kamasan. “Boleh aku bertanya?”

“Apakah ada etiket kerjamu yang melarang guide untuk bertanya?”

Aku menggeleng, bukan untuk menjawab ‘tidak’ terhadap pertanyaan Aki, tapi karena aku tidak tahu apakah etiket seperti itu ada atau tidak dalam kode etik kerja tour guide. Ah, mengapa aku harus peduli? Aki bukan tipe turis yang minta hormat lebih, yang tak mau batasan wisatawan-pemandu dilanggar pemandunya. Aki adalah turis pertama yang membuatku serasa menjadi guide bagi teman lama sendiri. Setidaknya, begitulah yang kurasa beberapa kali ketika keramahan yang ditunjukkan Aki berada pada tingkat seorang sahabat.

“Jantra, apa yang ingin kamu ketahui?” kurasakan Aki memajukan badannya ketika berucap. Dadanya kini merapat dengan punggungku. Kutundukkan kepalaku sekilas, tangan Aki kini juga bergeser lebih ke perutku.

“Kamu di Sumatra di sebelah mananya?”

“Apa kamu sungguh-sungguh ingin tahu?”

“Iya.” Dapat kudengar suara hela napasnya.

“Ayahku adalah pemuda Padang yang terpikat kecantikan gadis Aceh lebih delapan belas tahun yang lalu.”

“Kalau begitu, kamu pasti anak pertama,” aku memotong ceritanya.

“Iya, dan lelaki satu-satunya.”

Aku menghentikan laju motor di depan sebuah sanggar lukis di pusat kesenian Desa Kamasan. Seni lukis adalah khas daerah ini, bahkan nama seni lukisnya sendiri adalah Kamasan, lukisan tradisional Kamasan.

“Kamu ingin kita melihat lukisan dulu atau membiarkanku bercerita sedikit tentang asalku?”

Aku mengangkat bahu. Aki mencari tempat untuk duduk dan segera menaruh bokongnya pada kursi kayu di luar sanggar. Aku menyusulnya.

“Kami menetap di Padang. Ayahku punya jabatan penting di kantor pemerintahan. Sedang ibuku menjadi dosen di sebuah Politeknik Kesehatan Negeri di Padang. Aku punya dua adik perempuan, dua-duanya berada di bangku SMP. Pamanku yang di sini adalah adik Ayah. Sejak aku mampu mengingat, pamanku memang sudah tinggal di sini. Istrinya orang Padang juga, putri tunggalnya sedang menempuh pendidikan di Aussie. Aku suka berpergian, meski begitu ini adalah pertama kalinya aku ke Bali. Paman dan bibiku terlalu sibuk untuk bisa membawaku berkeliling. Maka dari itu aku butuh guide, bukan sekedar penunjuk jalan tapi lebih sebagai ensiklopedia Bali.” Aki mengulum senyum lagi.

Rasa ingin tahuku tentang apa alasan Aki butuh pemandu sudah terjawab. “Apa berwisata kemari adalah keinginanmu?”

“Pertanyaan apa itu?”

Aku tertawa, “Kamu gak trauma sama bom-bom yang sudah meledakkan Bali hingga dua kali? Yang paling terakhir malah baru Oktober kemarin, kan?”

“Berkata begitu, bom-bom… seakan Bali sangat sering diledakkan. Padahal hanya dua kali.”

“Iya, dan dua kali sudah cukup untuk membuat trauma, tidakkah kamu begitu?”

“Bukan aku yang dibom, kenapa harus trauma?”

“Maksudku, apa kamu gak takut atau was-was berpergian kemari? Kan baru ada teror.”

“Kalau aku gak berkunjung, siapa yang akan menjadi turismu hari ini?”

Aku memutar bola mata. Jawaban Aki langsung membendung semua kalimat tanya dariku.

Aki bangun dari kursi. Menit-menit berikutnya aku menikmati pancaran kekaguman dari wajah Aki ketika menelusuri lukisan demi lukisan di dalam sanggar maha luas. Komunitas Kamasan adalah pelukis-pelukis Bali yang bakatnya seperti dikirim langsung oleh Tuhan.

*

“Jika ditanya sejarah apa yang paling kusukai untuk kuceritakan kepada turis-turisku selama aku memandu mereka, maka jawabanku adalah sejarah Perang Kusamba.”

Aki mengernyit. Saat ini kami sedang makan siang lewat waktu di sebuah rumah makan khas Bali di kawasan Kusamba. “Mengapa?”

“Perang Kusamba adalah salah satu perang penting dalam sejarah heroisme Bali. Pemanting Klungkung mencatat sejarah karena berhasil menewaskan panglima perang Belanda yang banyak prestasinya selama masa penjajahan, Jenderal Michiels. Dia tewas setelah kaki kanannya tertembak meriam Canon…”

“Eh, meriam apa?” Aki mencondongkan badannya ke arahku.

Canon,” aku mengulang.

“Kayak nama printer…,” dia menggumam pelan.

Ujung bibirku tertarik sebelah, “Aku gak bohong loh, namanya beneran Canon.”

“Iya, kan aku gak nuduh Bli Jantra mengada-ada. Terus, lanjutannya gimana?”

“Terus…”

“Tunggu tunggu tunggu…,” Aki menggapai tangan kananku yang sedang mengaduk lauk bersama nasi dalam wadah makanku, kami berbicara sambil makan. Untuk sekilas, aku memperhatikan lenganku yang dipegang Aki, padahal tangannya juga belepotan bumbu lauk. Kami tidak makan menggunakan sudu dan garpu. Menu-menu di tempat makan ini cocoknya memang langsung dinikmati dengan ‘sendok’ bikinan Tuhan. Aki menelan sisa kunyahan dalam mulutnya, gerakan jakunnya terlihat lucu ketika melakukan itu. Aku menahan senyumku. “Apa hebatnya meriam canon hingga kena kaki saja bisa bikin sang jenderal tamat riwayat?” Aki melepaskan tanganku, kembali ke cobeknya sendiri.

“Meriam itu adalah senjata pusaka, nama lainnya I Selisik. Konon, meriam itu ketika sudah ditembakkan bisa mencari sasarannya sendiri…”

“WAAAHHH…!!!” mata Aki membundar. Melihatnya seperti itu—mulut membulat dan mata membundar—entah bagaimana sanggup membuat hatiku hangat. “Hebatnya…!” Aki menyudahi makan, mengosongkan gelas minumnya lalu fokus menatapku. “Ceritakan kisah lengkapnya, Bli Jantra. Aku ingin tahu hingga detil. Ayo, ini kisah favoritmu, kan? Tentu kamu bisa menceritakannya lebih baik dari cerita-ceritamu sepanjang hari tadi.”

Aku gantian melotot, “Kamu mau bilang kalau ceritaku sepanjang hari tadi sama sekali tidak bagus?”

“Ah, kamu terlalu berburuk sangka. Kan aku bilang ‘lebih baik’, maknanya lebih baik dari yang baik. Iya kan?” dia menaikkan-naikkan alisnya hingga beberapa kali.

Aku tak tahan untuk tidak tertawa.

“Ayo, mulailah bercerita.” Kini Aki bahkan berpindah duduk ke sebelah kananku, cukup rapat untuk dapat kubaui aroma keringatnya. Nyatanya kami memang sudah melewati banyak jalan seharian ini untuk membuat diri kami menebar bau keringat. Namun entah apa yang terjadi pada hidungku sore ini, aku menyukai aroma keringat bercampur cologne yang kuhidu dari sosok cowok tujuh belas tahun di kananku. Aki, dengan caranya sendiri telah membuatku jatuh suka dan menepis bimbang ketika aku dihadapkan pada persimpangan. Aku tanpa bimbang memilih membelok ke arah di mana Aki tegak berdiri, menunggu.

Bli Jantra?” Aki dengan berani mencolek puncak hidungku dengan telunjuknya.

Aku tersadar dan menolehnya, “Ya.”

“Aku menunggu kamu bercerita…”

Aku membilas tangan kananku, meneguk minumku hingga habis lalu memutar badan lebih menghadap ke arah Aki. “Pada abad kesembilan belas, dua buah perahu yang dinaiki orang Sasak terdampar di Batulahak, Klungkung…”

***

Aku berbaring gelisah di atas tempat tidur. Sudah jauh malam mataku masih belum terpejam juga. Sialan. Belum pernah aku merasa segelisah ini selama hidupku. Tidak ketika aku menemukan diriku tertarik dengan Dwipa—ketua Osis—saat aku kelas satu SMA empat tahun lalu, tidak juga ketika aku kembali menemukan diriku menyukai pribadi Wayan—murid pindahan—ketika aku kelas dua yang mempunyai sikap sebaik malaikat menurutku. Tetapi kali ini, aku merasa begitu gelisah hanya karena seorang turis yang bersamanya aku hanya melewati sebagian kecil hari. Ya, Aki sudah menjadi sumber kegundahan sejak aku menurunkannya di depan gerbang rumah pamannya menjelang sore tadi. Dan ketika malam beranjak aku memasuki kamarku untuk kemudian berbaring, Aki semakin menjadi-jadi mengusik ketentraman hatiku yang sudah kupertahankan tetap tenang setahun belakangan.

Aku ingat semua detilnya. Aku hapal semua ekspresi yang ditampilkannya sepanjang kami bersama tadi. Aku bahkan ingat setiap kalimatnya. Jika diminta menulis semua dialogku ketika bersama Aki, aku mampu menulis semua kalimat Aki tanpa alpa dan belum tentu mampu menulis semua ucapanku sendiri. Yang paling membuatku kian memikirkan Aki adalah, ucapannya tentang usia yang seharusnya berhenti di angka belasan, selain juga pelukannya di pinggangku selama perjalanan pulang dari Kusamba ke Semarapura. Aki benar-benar memelukku di atas motor dalam perjalanan pulang.

Tak tahan berada terus di tempat tidur dimana aku hanya bergerak gelisah dari tadi, aku bangun, terduduk di kasurku. Kupandang ponselku yang menggeletak di samping bantal. Aku hanya punya nomor pamannya. Oh Gusti, betapa aku ingin mendengar suaranya. Betapa aku juga jadi gila malam ini hingga punya pikiran untuk menghubungi nomor pamannya.

Aku berdecak kesal sambil mengacak-acak kepalaku. Jarum pendek wekerku hampir menunjuk tepat di angka 12 ketika aku menurunkan kaki berpijak ke lantai dingin. Aku menuju jendela, kusibak tirainya. Pada bulan empat belas hari di langit sana kukeluhkan gundah hatiku lewat bahasa tak terucap. Kali ini aku telah benar-benar diracun cinta, dituba perasaan aneh yang tak kumengerti mengapa bisa terjadi padaku. Jika sasaran perasaan ini bukanlah lelaki bernama Aki—tetapi perempuan bernama siapapun—tentu aku tidak menganggap aneh rasa yang menggelegak dalam dada. Untuk pertama kalinya dalam sejarah ketertarikanku kepada manusia yang menyandang nama lelaki, kali ini adalah yang pertama aku merasa… bahwa aku telah benar-benar jatuh cinta.

Aku nyaris terlonjak ketika ponsel polyphonic-ku menjeritkan nada tanda pesan masuk. Tak mungkin pesan dari turis yang ingin menggunakan jasa guide-ku, mereka selalu menelepon jika ingin menyewa, tak pernah via SMS, dan waktunya juga tidak pernah tengah-tengah malam buta.

Aku meninggalkan jendela setelah menutup kembali tirainya. Kuperiksa pesan yang baru saja kuterima. Tak ada nama pengirim, hanya dua belas digit deretan nomor asing. Namun begitu membaca isi pesannya, aku langsung tahu siapa si pengirim pesan. Sama sekali tak asing.

Bli Jantra, semoga aq tak mganggu tdrmu. Aq ingin tau, apa lusa qm ingin berjln dgnku ke Denpasar? Bukan sbg guide, meski aq ttp akn menuntut ceritamu ttg banyak t4 di sana. Tp berjlnlah dgnku sbg shbat, aq melarang pamanku membuking pemandu di Denpasar krn aq mengaku akn pergi dgn seorg shbat yg tau slruh Bali. Bls pesanku begitu qm terjaga.

Sender :+6281267121214

23:58:48

12/06/2006

Hanya Tuhan yang tahu betapa hatiku mengembang saat ini. Begitu cepatnya statusku bergeser, dari hanya sebagai pemandu wisata kini menjadi sahabat baginya. Dia memaksudkanku sebagai sahabat ketika memberi tahu pamannya. Aku hampir bisa melihat mekaran bunga-bunga yang menyeruak dari dadaku ketika untuk semenit aku berkhayalkan Aki. Jempolku bergerak cepat di keypad ponsel.

Aq ingin, Aki. Aq bs berjln dgnmu sampai ke Denpasar. Aq blm tau slruh Bali, tp aq tau Denpasar, aq jg tau cerita2 ttgnya. Jd ya, aq ingin & aq bs berjln dgnmu sbg shbat yg bercerita spt seorg guide.

Sending message. Message sent. Delivered to: +6281267121214

Aku menunggu tak sampai semenit ketika nada pesan ponselku berbunyi untuk kedua kalinya. Nadanya terpotong ketika dengan tergesa aku menekan tombol untuk menampilkan balasan pesan dari Aki. Aku seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru, begitu senangnya ketika Aki membalas pesanku.

Hei, qm msh terjaga? Apa yg qm lakukan hingga msh melek pd jam tdr begini?

Sender :+6281267121214

00:01:35

13/06/2006

Haruskah aku jujur mengatakan jika mataku tak bisa terpejam karena memikirkannya? Karena seluruh sarafku belum lengah dari mengingatnya?

& qm, apa yg qm lakukan sdh selarut ini hingga bs menunda jam tdrmu? Aq tdk akn menjwb krn aq jg punya pertanyaan yg sama utkmu.

Sending message. Message sent. Delivered to: +6281267121214

Seperti tadi, aku tak menunggu lama hingga Aki mengirimkan balasan. Kali ini aku tersenyum begitu selesai membacanya.

Jk di t4ku, ini msh 1 jam lbh awal. WITA lbh tgesa2 1 jam dr WIB. Selain krn kantukku blm dtg, aq jg sdg mengingat2 ttg Perang Kusamba yg Bli Jantra ceritakan td dgn cara yg sulit dilupakan. Sadar ga? qm adl story teller yg baik. Qm punya bakat istimewa dgn itu, qm guide yg berbakat. Aq senang pamanku tdk menghubungi nomer org lain saat memilih pemandu. Aq senang seharian td.

Sender :+6281267121214

00:03:58

13/06/2006

Salahkah jika aku menafsirkan bahwa Aki tidak hanya sekedar senang padaku? Aku menafsirkan jawabannya baru saja adalah penjabaran panjang untuk satu saja kesimpulan mengapa dia juga belum tidur, kesimpulan singkat seperti bahwa di sana dia juga sedang memikirkanku. Aku mengetik emoticon smile di baris awal balasan pesanku.

🙂 aq srg tak bs tdr jk ada sesuatu yg kupikirkan, ini jwbanku. Jgn memberiku pertanyaan lanjutan ttg apa yg kupikirkan. & ttg guide berbakat yg qm katakan, percayalah semua guide pd kenyataannya mmg sptku, bahkan banyak yg lbh berbakat lg. Tp,tq utk penilaian jujurmu…🙂

Kututup baris pesanku dengan titik dua dan tanda tutup kurung yang sama seperti di awal baris. Sementara di wajahku, aku benar-benar sedang tersenyum, lebar dan lama.

Sending message. Message sent. Delivered to: +6281267121214

Iya. Apapun yg sdg qm pikirkan, semoga itu bukan sesuatu yg mustahil & bukan sesuatu yg menyakitkan. Slmt tdr, Bli Jantra. Sampai jumpa lusa.

Sender :+6281267121214

00:05:50

13/06/2006

Balasan Aki menutup sesi SMS-an kami. Segera, aku menyimpan nomornya dan mengetik nama ‘Aki Thariq’ di opsi nama. Ketika kuperiksa phone book ponselku, nomornya berada di lima teratas.

Aku berbaring, tenang dan damai. Ah, Denpasar… aku tak sabar menunggu lusa.

***

Denpasar, Juni 2006

Aki merebahkan diri di atas satu-satunya ranjang berukuran medium di salah satu hotel—mungkin lebih cocok disebut losmen—yang banyak diserbu backpacker saat berkunjung ke Denpasar. Lebih 40 kilometer jarak dari Semarapura ke Denpasar yang kami tempuh dengan transportasi umum ternyata cukup membuat Aki pegal hingga harus merenggangkan diri di ranjang begitu kami tiba, padahal bagiku itu hanya jarak tempuh yang pendek. Kami akan berada di Denpasar selama dua hari. Ketika pertama kali Aki memberitahu kalau kami akan menginap di hotel, aku langsung menawarkan untuk menuju rumah kakak perempuanku yang tinggal di garis luar kota Denpasar tetapi Aki menolak. Penolakannya sempat membuat aku berpikir lain, aku menduga kalau dia menolak agar kami bisa berdua saja seperti sekarang ini. Ya, pikiranku memang sudah bermasalah semenjak kehadiran Aki.

Aku membuka ransel, mengeluarkan handuk dan beberapa peralatan mandi.

Bli Jantra ingin mandi?”

Aku mengangkat wajah dari ransel. Aki sudah terduduk di ranjang, memandangku yang sudah melepas kaus. “Iya, aku merasa gerah.”

Kulihat Aki mendongak pada baling-baling kipas angin besar di langit-langit kamar. Dia kembali memandangku sembari menyengir, lalu berucap, “Maaf, kamar ini yang paling bagus yang bisa aku bayar…”

“Kita bayar!” aku berucap cepat. “Ingat, kamu mengatakan kalau kita berpergian sebagai sahabat, bukan turis dan pemandu. Sahabat selalu berbagi, semua biaya selama di sini kita tanggung berdua.”

“Tapi aku yang mengajakmu.”

“Kamu tidak mengajakku sebagai guide, lupa? Aku juga tidak merasa sedang bekerja sekarang. Lupakan pemikiranmu untuk menanggung semua biaya perjalanan kita kemari. Dan jangan coba-coba memberiku uang tip ketika kita pulang nanti apalagi kalau sampai ngasih fee.” Aku memasang wajah serius ketika berucap demikian.

Aki tersenyum, “Kalau begitu, kamu menyia-nyiakan uang gajimu selama ini dengan bersedia ikut aku kemari.”

“Setidaknya, aku tidak menyia-nyiakan waktuku.”

Entah menangkap arti lain dari kalimatku, Aki tersenyum. “Pergilah mandi, aku ke Denpasar bukan untuk sembunyi di kamar. Ada banyak tempat untuk dikunjungi dan tentu saja ada banyak kisah yang harus kamu ceritakan,” Aki menjatuhkan diri kembali telentang di ranjang.

Selama mandi, aku tidak bisa mengenyahkan pikiranku bahwa ketika malam tiba nanti aku akan berada seranjang dengan Aki.

***

Kuta, Juni 2006

Senja membias di wajah bersih Aki. Aku selalu menahan napas ketika beberapa kali menoleh untuk menikmati sisi wajahnya yang diterpa pantulan sinar matahari terbenam. Kami duduk berdampingan di pasir Kuta, sama-sama bercelana pendek dan memakai kaus yang warnanya juga sama. Sangat kebetulan Aki juga punya kaus warna abu-abu di dalam ranselnya. Bedanya, lengan kausku buntung.

Setelah tadinya puas membiarkan kaki kami dijilat lidah ombak, kini kami sedang menikmati sunset Pantai Kuta di antara turis-turis yang sama-sama terpukau akan matahari terbenam di sini. Aku menopangkan kedua lenganku ke belakang, duduk agak rebah dengan kedua tungkai rata di atas pasir. Sedang Aki duduk dengan menekuk kedua kaki, memeluk lututnya.

“Indah ya…,” Aki menggumam lirih. “Aku tak akan bosan menghabiskan waktu dengan duduk menatap matahari terbenam seperti ini selama sisa hidupku. Kuta benar-benar pantai matahari terbenam.”

“Hemm…”

“Kamu suka senja?” Aki menolehku tepat di saat aku juga belum mengalihkan pandanganku darinya sejak tadi.

Aku mengakhiri posisi dudukku yang bertumpu lengan ke belakang. Kini badanku sudah sejajar dengan Aki, kupeluk lututku seperti yang dilakukannya. Pandanganku lurus ke depan, ke permukaan laut yang mulai berwarna seperti emas disepuh.

“Jika kamu tidak bosan menghabiskan hidupmu dengan menatap senja seperti ini, mengapa aku harus tidak suka senja?” aku sadar kalau Aki masih terus menatapku sejak bertanya tadi.

Tak kudengar kalimat apapun dari Aki setelah aku berucap membalikkan pertanyaan untukku agar dijawabnya sendiri. Hening terlalu lama memaksaku untuk memalingkan wajah ke arahnya. Wajah kami terpisah jarak sejengkal saja. Aku yakin Aki bisa merasakan hembus napasku di kulit wajahnya karena begitulah yang terjadi padaku. Aku bisa merasakan samar hembus udara yang keluar dari hidung Aki di kulit wajahku.

“Ternyata selain pemandu yang berbakat, Bli Jantra juga penanya ulung,” dia berucap setelah kami menantang pandangan beberapa saat lamanya.

Kata orang, mata adalah jendela hati. Apakah Aki bisa menjenguk ke hatiku lewat mataku? Karena aku bisa menjenguk hatinya. Dia bukan dengan tidak senang hati menghabiskan waktunya bersamaku, itu yang kubaca dari matanya.

Aki bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk bokong untuk meluruhkan pasir yang menempel di celananya lalu mengulurkan tangan padaku, “Bli Jantra, mau berjalan denganku di lidah ombak sana sementara menunggu matahari benar-benar ditelan Laut Kuta?”

Aku menyunggingkan senyum buatnya lalu bangkit. Tanpa membersihkan celana, aku meraih tangan Aki dan menggenggamnya dalam tanganku.

Dalam keremangan senja

Pada laut emas yang berkilauan

Pada lidah ombak Kuta yang mencumbu pantai

Pada warna jingga di langit barat

 

Ada jemari bertaut rapat

Ada langkah mencipta jejak  

Ada hati bersimbah pijar

Sepijar matahari senja di langit Kuta

Pijar hati Akijantra

 

Dua jejak kaki di hamparan pasir

Terlihat serasi

Seakan dibuat dengan cetakan yang sama

Seakan memang harus berdampingan

Jejak kaki Akijantra

***

Sanur, Juni 2006

Sepertinya Aki menggigil kedinginan. Bisa kulihat dia memeluk lutut demikian eratnya. Aki bersikeras harus sudah berada di antara pasir Sanur sebelum semburat merah pertama di langit timur muncul. Jika kemarin Aki sudah menikmati matahari terbenam di Pantai Kuta, maka pagi ini dia memastikan untuk dapat melihat matahari terbit di Pantai Sanur. Seperti yin dan yang, Sanur dan Kuta saling melengkapi dan berbagi. Sanur menjadi penguasa keindahan sunrise dan Kuta mengambil tempat sebagai pemilik sunset yang menakjubkan.

Aku menguap, asap tipis bergulung keluar dari mulutku yang terbuka. Kugeser dudukku lebih mendekati Aki, merapat padanya. Sadar kehadiranku yang kian lengket ke sisi kanannya, Aki menggamit lengan kiriku.

“Aku menggigil,” ujarnya dengan rahang mengatup, “jaketku gak cukup tebal.”

Aku menoleh Aki, puncak hidungku menyentuh kepalanya yang tertutup tudung jaket. “Kita datang terlalu pagi, Ki.”

“Aku tak mau kehilangan kesempatan.”

Kalimat serupa sudah berulang kali kudengar dari mulut Aki sejak dia menggoyangkan badanku lebih setengah jam tadi. Kubebaskan lenganku dari gamitan Aki untuk kemudian menyeberang ke pundak kirinya. Kini bahu Aki berada dalam rengkuhanku. Kurasakan gerak ragu-ragu Aki ketika dia memiringkan kepalanya ke atas bahuku.

Kami lalu terdiam. Tetap begitu hingga matahari membelah kelabu langit Sanur di ufuk timur dengan pijar merahnya.

*

Aku dan Aki bermain air.

Pagi di Pantai Sanur adalah surga bagi para wisatawan. Anak-anak berlarian kesana-kemari dalam ombak yang bersahabat. Orang-orang dewasa berenang di laut yang tenang. Sanur berbagi dengan Kuta tidak hanya dalam hal kepemilikan matahari terbit-terbenam. Mereka juga berbagi dalam hal ombak dan gelombang. Jika Kuta berombak besar dan kuat hingga membuat pecinta surfing menemukan surganya, maka Sanur memiliki ombak tenang untuk membuat pecinta renang dan snorkeling betah. Di Sanur anak-anak juga bisa bermain air dengan aman.

Tapi aku dan Aki bukan lagi anak-anak meski kenyataannya sekarang kami memang sedang bermain air. Pakaianku sudah basah hingga ke pinggang, Aki juga tidak lebih kering dariku.

“Aku akan berenang, Bli Jantra. Jangan minta aku berhenti sampai aku muak sendiri.” Aki membuka kaus dan melemparkannya ke tumpukan jaket kami di atas pasir, diikuti celananya. Kini dia hanya mengenakan boxer yang menutupi pinggang hingga pertengahan pahanya.

Aku tak bisa untuk tidak memperhatikan ketika Aki bergerak menuju air. Aku menyusul ketika dia sudah tenggelam sebatas dada dan melambai kepadaku.

Saat sudah berada di kedalaman yang sama dan mengapung kesana-sini di permukaan laut Sanur, aku tahu kalau Aki tidak gampang muak. Dia menyenangi segala sesuatu yang dilakukannya selama di Bali. Karena aku ada bersamanya.

Bli Jantra, aku senang melakukan apapun bersamamu di sini…”

Aku memeperkan air laut ke wajah Aki lalu berenang menjauh.

*

Aki menghirup napas dalam berulang-ulang, matanya terpejam. Entah apa maksudnya melakukan itu. Kami sedang berada di bawah rimbun pohon-pohon pelindung di garis pantai Sanur. Berteduh.

“Aki, apa yang sedang kamu lakukan?” aku bertanya ketika tak bisa membendung rasa penasaranku dengan tingkahnya.

“Mengendus,” jawabnya tanpa membuka mata.

Aku menghirup udara, cepat dan berulang-ulang. Cuping hidungku mengembang dan mengempis dalam ritme cepat. Apa yang sedang diendus cowok di sampingku ini?

“Aku mengendus aroma pinus,” Aki menjawab seakan bisa membaca pikiranku. “Pejamkan matamu, Bli Jantra… lalu hirup napas dalam-dalam. Tidak mudah menemukan aroma pinus karena kita tidak sedang di hutan pinus, tapi cobalah, pasti ada…,” Aki menjelaskan, masih sambil terpejam. “Aku suka aromanya… dan damainya…”

Kuedarkan pandanganku pada beberapa batang pinus di sekitar kami. Lalu kupejamkan mataku. Aku menghirup udara banyak-banyak dan berulang-ulang sebelum akhirnya kutemukan apa yang dikatakan Aki. Bukan santernya aroma pinus, tapi lebih kepada rasa damai lewat udara yang masuk ke penciumanku.

***

Lapangan Puputan, Denpasar, Juni 2006

 

Kami menghabiskan siang dengan menjelajah kota Denpasar dan berakhir di Lapangan Puputan. Sebelumnya kami juga sudah mengunjungi Museum Bali dan sempat berfoto di Pura Jaganatha. Sekarang kami duduk di bawah salah satu pohon perindang dalam lapangan hijau yang juga merupakan paru-paru Kota Denpasar. Aki sibuk melihat hasil jepretannya di kamera.

Bli Jantra cakep ya kalau sedang tersenyum begini.” Aki memperlihatkan layar kameranya padaku.

Pada salah satu foto kami yang diambil orang lain beberapa saat lalu di Pura Jaganatha, aku berdiri saling membelakangi dengan Aki, sama-sama tersenyum. Tangan kananku dan tangan kiri Aki saling bertaut.

Kurespon kalimat Aki dengan balik memuji, “Tapi Aki cakep kapanpun meski tidak sedang tersenyum.”

Dia meleletkan lidah dan menarik kamera dari hadapanku. “Terima kasih untuk penilaian jujurnya.”

You’re welcome, Sir…”

***

Denpasar, Juni 2013

 

Aku menghela napas.

Argiseno meniruku sementara kembarannya menguap. Apa penuturan yang telah kupilih sedemikian rupa terlalu membosankan bagi Argasena sehingga dia harus menguap? Apa ceritaku membuatnya mengantuk? Aku tidak mungkin menceritakan kisahku dan Aki pada kedua keponakanku sedetilnya. Mereka hanya perlu menangkap kesan bahwa poyan mereka dan Aki adalah sahabat akrab meski kenal hanya sebentar saja.

Aku tak menceritakan pada mereka bagaimana kami bertatapan, bagaimana Aki merangkul pinggangku di atas motor, bagaimana aku gelisah hingga tak bisa tidur karena memikirkannya. Aku tak menceritakan pada mereka bagaimana tangan kami bertaut menyusuri pinggiran Pantai Kuta saat senja, bagaimana aku merengkuhnya ketika melihat matahari terbit di Pantai Sanur. Aku juga tidak mungkin menceritakan pada mereka bagaimana aku mati-matian menahan hasratku untuk memeluk Aki ketika kami berbaring berdampingan di malam kepulangan kami esoknya dari Denpasar. Menahan hasrat yang membuatku seperti berada di bangsal penyiksaan…

***

Denpasar, Juni 2006

Dengkur halus mengalun dari mulut Aki yang sedikit terbuka. Hingga dini hari, aku masih belum bisa memejamkan mata. Yang kulakukan hanyalah memandangi sosok yang berjarak sejangkauan tangan saja di sampingku. Aki terlelap damai, sedang aku tersadar sepenuhnya. Tanganku bergerak, mengambang di udara sejengkal di atas perut Aki. Aku tak cukup berani untuk menyentuhnya. Napasku memburu. Perlahan kutarik balik tanganku setelah mengambang kaku lebih semenit di atas Aki.

Apa cinta yang salah memang sudah semenyiksa ini bahkan sejak ia belum terjalin?

Sadar bahwa aku tak mungkin bisa memejamkan mata sementara hasratku kepada Aki mengamuk dahsyat, aku bangun dan dengan perlahan turun dari ranjang. Bertelanjang dada, aku menuju balkon untuk mendinginkan dadaku dari hasrat yang panas membakar, sebelum hasrat itu benar-benar membuatku hangus.

***

Aku masih menghabiskan seminggu lagi menjadi teman Aki di Semarapura setelah pulang dari Denpasar. Aki memilih untuk menghabiskan sisa liburan di Bali dengan tetap berada di rumah pamannya. Dia tidak menjelajah pelosok lain lagi di Bali. Aki berusaha mengisi kekosongan yang ditinggalkan kakak sepupunya untuk kuliah ke luar negeri. Satu kali ketika mengelilingi Semarapura dengan motor ketika aku tidak sedang memandu, Aki pernah memberitahu kalau paman dan bibinya sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Aku menduga, Aki tidak mau berpergian dan menginap entah di sudut mana Bali semata-mata untuk tetap berada bersama paman dan bibinya, meski hanya untuk seminggu lagi saja. Atau untuk dapat terus dekat denganku selama sisa liburannya? Dua-duanya mungkin benar.

Selama seminggu itu, disadari atau tidak olehku dan Aki, kami telah melewati banyak masa menyenangkan berdua. Walau tak ada siapapun dari kami yang pernah mengutarakan perasaan langsung, aku yakin baik diriku sendiri atau Aki sama-sama memahami satu hal, bahwa kedekatan kami sudah menerobos jauh dari batas garis yang biasa disebut persahabatan. Andai salah satu dari kami cukup berani untuk meluahkan rasa, aku dengan pasti akan menyebut bahwa kedekatan kami adalah kedekatan sepasang merpati yang sedang kasmaran. Aku belum bisa menyebut seperti itu, karena baru setelah Aki menorehkan salam perpisahan lewat tinta, aku mengetahui bahwa kami memang telahpun menjadi sepasang kekasih selama ini. Hanya saja, tak ada ikrar cinta yang membuatnya resmi.

***

Bandar Udara Ngurah Rai, Denpasar, Awal Juli 2006

 

Kami berdiri berhadapan di gerbang keberangkatan dalam negeri. Aki sudah mengurus proses check in-nya satu jam yang lalu. Pamannya tidak keberatan ketika aku mengajukan diriku untuk ikut mengantar Aki ke bandara. Kami berangkat bertiga menggunakan mobil sang paman. Sekarang, dengan pengertian yang entah berdasar dari mana, beliau memberiku dan Aki waktu untuk saling mengulurkan jabat perpisahan.

“Terima kasih untuk semuanya, Bli Jantra.”

Aku mengangguk.

“Andai aku bisa lebih lama lagi di sini…”

“Kamu masih bisa berkunjung lagi kapan-kapan.”

Aki menggeleng, “Aku berharap lain kali itu sungguh ada…”

Aku mengernyit, apa maksudnya dengan kalimat itu?

Aki tersenyum, “Ah lupakan, berdoa saja semoga aku punya lain kali itu.”

Aku diam.

“Aku harus masuk ke ruang tunggu, pesawat gak akan menunda untuk terbang hanya karena aku belum berada di dalamnya.”

Aku mengangguk.

Bli Jantra, apa mendadak setan membawa lari lidahmu?”

Sekarang aku tertawa pendek, “Apa aku boleh memberimu pelukan perpisahan?”

Ia tersenyum, lantas menubrukku perlahan. Tanganku di punggungnya untuk beberapa saat.

Aki melepaskan pelukan, kami sama-sama tersenyum canggung. Lalu kulihat dia berdiri seperti ragu-ragu, tidak segera masuk melewati gerbang check in untuk selanjutnya ke ruang tunggu penumpang. Tidak juga bergerak untuk pamit dengan pamannya yang duduk jauh dari kami di kursi tunggu. Aku tahu ada sesuatu yang masih mengganjal pikirannya.

“Aki…” aku memanggil, “belum siap untuk pulang?”

Tidak menjawab pertanyaanku, dia malah melepaskan ransel dari punggungnya, meletakkan benda itu di ujung kaki dan membukanya. Aku bertanya-tanya apa yang sedang ia perbuat, apa yang ingin dikeluarkan Aki dari ranselnya?

“Aku masih bimbang hingga kini, apa akan menyerahkannya atau tidak untukmu. Menyerahkan atau tidak, aku mengira bahwa kesanku di mata Bli Jantra akan tetap sama. Menyerahkan atau tidak, aku mengira itu tak akan merubah masa yang akan datang bagiku juga bagi Bli Jantra, mungkin…” Aki mengulurkan kotak kado bercorak batik untukku. Ada pita putih yang menyimpul di pertengahan tutupnya. “Akhirnya aku memang harus menyerahkannya.”

“Apa ini?” aku menerima kotak itu.

Aki menggeleng, “Entahlah, aku sendiri masih bimbang hingga sekarang. Harapanku, semoga pemahaman kita sama.”

Demi setan, aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang direpetkan Aki.

Aku berdiri kaku merenung kotak amat ringan yang kupegang dengan kedua tanganku sementara Aki menyandang kembali ranselnya. Tidak berucap lagi, ia bergerak menuju pamannya.

Mendadak aku merasa sepi. Firasatku berkata, aku dan Aki tak akan menulis lanjutan cerita apapun lagi. Kisah kami selesai di sini.

Aki berjalan melewatiku. Tidak bersuara tidak pula bersentuhan. Tepat ketika sudah berada di pintu masuk ruang check in, ia berhenti dan memalingkan wajah. Aku dan Aki bertatapan, langsung kuyakinkan diriku bahwa ini adalah tatap kami kali penghabisan.

Semoga pemahaman kita sama…

Dapat kubaca pesan itu dari sorot mata Aki yang disampaikan angin dalam jarak pandang kami. Hanya satu kali kerjapan saja, dan sosok Aki menghilang dalam lalu-lalang manusia.

***

Semarapura, Klungkung, Awal Juli 2006

Aku menangis.

Bahwa cinta yang salah telah menyiksa bahkan sebelum ia terjalin adalah benar. Segala yang terjadi, segala yang kurasakan, semua apapun yang Aki juga rasakan, kini hanya ‘sesuatu’ yang teronggok mati, bisu dalam kotak yang diberikan Aki padaku dalam kebimbangan tadi pagi di Ngurah Rai.

Ketika membuka kotak itu di kamarku, kutemukan benda pertama yang langsung membuat mataku berkabut. Rongga dadaku serasa kosong. Aki memberiku simcard-nya yang dikelip dalam plastik bening. Mengetahui bahwa aku tak akan pernah bisa menjangkaunya lagi lewat pesan tulisan ataupun suara sungguh adalah sayatan perih pertama yang mendera hatiku.

Pemahaman kita tak mungkin sama, Aki… kamu mencurangiku…

Kutemukan berlembar-lembar fotoku, sendirian. Aku tak tahu dan tak sadar ketika Aki mengabadikannya. Beberapa foto kami berdua yang tampak demikian akrabnya berada di urutan selanjutnya dari isi kotak.

Memory card.

Untuk kedua kalinya, aku disayat. Aki bahkan tak mau menyimpan secuilpun kenangannya bersamaku. Seperti yang berlaku pada kartu selularnya, kartu memori kamera digitalnya juga dikelip rapi dalam plastik bening. Mengapa ia tidak menghapus saja semua fotoku di dalam kartu memori itu? Menyisakan fotonya sendiri dan foto tempat-tempat yang dikunjunginya selama di sini? Aku tak mengerti Aki, sama sekali tidak mengertinya kini.

Benda paling bawah adalah kertas berlipat, berada di dasar kotak. Aki menuliskanku sepucuk surat. Tanganku gemetar ketika membuka lipatannya. Tulisan tangan Aki yang rapi tampak berbayang dihalangi genangan air di kedua mataku.

 

Dear Abhijantra

 

Masih ingatkah ketika aku merepet panjang tentang harapanku saat kita berada di Kertha Gosa? Kekonyolanku tentang usia yang seharusnya berhenti di angka belasan? Aku yakin Bli Jantra tentu masih ingat. Sekarang aku berhenti mengkhayal, karena apapun yang kulakukan, meski aku berdoa siang dan malam, usiaku tak akan berhenti di angka belasan. Manusia tak bisa melawan usia, aku tak bisa melawan Tuhan.

Karena itulah, aku memilih untuk menyongsong realita hidupku ke depan. Mempersiapkan diri untuk satu masa nanti ketika kutinggalkan usia belasanku. Aku mempersiapkan diri untuk membalas budi kedua orang tuaku kelak, yang aku dan kamu sama-sama tahu, bahwa budi orang tua tak akan pernah lunas terbalas meski kita sudah melakukan banyak hal yang mereka mau, melakukan apapun…

Bli Jantra, aku memilih untuk tidak membawamu bersamaku dalam bentuk apapun bukan karena aku tak pernah menganggapmu berarti. Sungguh… keberadaanmu selama aku di sini demikian berartinya hingga aku sering merasa tak ingin pulang. Mengertilah, aku memilih untuk tidak membawamu bersamaku semata-mata agar jalanku menuju masa depanku sedikit lebih ringan.

Bli Jantra, aku percaya kita sama-sama sadar… bahwa meski tidak pernah terkatakan, ada perasaan yang lazim disebut cinta terjalin antara aku dan kamu dalam masa singkat yang telah kita habiskan.

Beberapa tetes bening dari mataku luruh jatuh di atas huruf-huruf Aki. Aku mendongak beberapa saat untuk membebaskan jalan napasku.

Bli Jantra… banyak kesempatan yang terabai ketika aku ingin mengucapkan ini padamu. Aku mencintaimu, aku mencintaimu… Bli Jantra, aku mencintaimu… Aku mencintaimu. Ya, Jantra… aku mencintaimu…

Aku terisak kini. Aki bahkan mengulangnya dalam banyak kalimat. Bukan hanya Aki, aku juga mengabaikan banyak kesempatan.

Maafkan jika aku terlalu pengecut untuk menghadapi masa depan. Tetapi sesaat cinta yang hadir lewat sosokmu sudah cukup memadai bagiku untuk tahu seperti apa rasanya jatuh cinta, seperti apa rasanya mencintai, tidak hanya sebatas ketertarikan seperti yang kurasakan pada banyak lelaki sebelummu. Maafkan aku kecut, tak berani berbelok ke jalan di mana Bli Jantra berada…

 

Haruskah aku menyebutnya pengecut? Aki berani membunuh rasa di hatinya demi masa depan, demi baktinya. Pengecutkah itu?

Bli Jantra, doakan aku… agar aku siap ketika masa untuk memikul tanggung jawab dan membalas budi ayah ibuku tiba.

Jika kamu berada di Kuta lagi, sampaikan salamku pada senjanya. Juga pada fajar jika langkahmu kembali ke Sanur.

Terima kasih untuk semuanya, Bli Jantra. Apapun yang kutulis ini, terutama tentang cintaku padamu, percayalah bahwa itu bukanlah kebohongan.

Semoga Bli Jantra bahagia di sini…

 

Yang pernah mencintaimu

Aki

Aku melipat kertas—yang kini berubah lembab—di tanganku. Memasukkannya kembali ke kotak, bergabung bersama Aki-Aki yang lain di dalamnya.

Begitulah. Pada akhirnya, Aki benar-benar pergi dariku. Seperti ucapannya, ‘Semoga pemahaman kita sama’. Aki pasti tahu, bahwa aku akan memahaminya walaupun dalam kesakitan.

Aku meringkuk di pembaringan, dengan rasa nyeri di sekujur tubuh.

Dan siapa menduga, selepas Aki menghilang, ternyata langit juga runtuh tepat menimpa kepalaku.

***

Semarapura, Klungkung, Akhir Juli 2006

Kotak bercorak batik itu menghantam tepat di dadaku sebelum kemudian jatuh dan isinya berserakan di lantai. Semuanya berantakan, tercabik-cabik. Surat Aki, lembaran foto kami, dan scrapbook yang kubuat selama hampir sebulan ini tidak berbentuk lagi. Perasaan yang tak bisa kuceritakan pada siapapun tertulis dalam baris-baris di bawah banyak fotoku dan Aki di dalam buku itu.

Detik ketika gelegar suara Bli Gede—kakak lelaki sulung di keluargaku—membeset atmosfer, aku tahu bahwa duniaku sudah berbeda mulai detik ini.

“MEMALUKAN!!!”

Aku mendengar isak tangis Meme yang bersimpuh jauh dari kami di pintu kamar. Bapa duduk dengan wajah keruh di kursinya, tidak berkata-kata atau belum merasa perlu berkata-kata.

“Kau ingin membuat malu keluarga kita, hah? Kau ingin mencoreng arang di muka Bapa? Setan apa yang kau bawa dalam dirimu, Nyoman Abhijantra…”

Andai Aki ada di sini, akan kutunjukkan padanya bahwa mereka di tempatku tidak lebih terbuka daripada orang-orang di tempatnya.

Bentakan-bentakan Bli Gede menyerbu gendang telingaku. Rasanya begitu menyakitkan mendengar banyak kata yang sama rendahnya dengan asu disebutkannya untukku.

Aku membungkuk, memungut semua robekan di sekitarku untuk kumasukkan kembali ke dalam kotak. Saat itulah aku menerima tamparan keras di sisi kiri wajahku, pekikan Meme mengiringi rasa sakit di wajahku.

Aku mendongak, Bapa berdiri gemetar di depanku. Telapak tangannya yang sekarang dipegang demikian erat oleh Meme tampak memerah. Aku tahu, hati Bapa lebih sakit ketimbang perih yang mendera di pipi kiriku.

“Aku lebih senang jika kau tidak lagi menganggapku bapamu…”

Sungguh, kalimat itu adalah lebih perih dari apapun jenis sakit di dunia ini, tamparan Bapa di wajahku tidaklah sebanding. Tangis Meme sudah tak terbendung. Ia kini bersimpuh di lantai memegangi kaki suaminya.

Sebelum  beranjak    pergi,    Bapa    menyuarakan

kekecewaannya dalam kalimat kedua. “Pintu rumahku terbuka lebar untuk kau langkahi pergi, dan akan selamanya tertutup untuk kedatanganmu.”

Hanya butuh cinta yang salah, dan seorang ayah punya alasan kuat untuk tidak menganggap darah dagingnya sebagai darah dagingnya lagi.

*

Malam itu, ketika keluar melewati ambang pintu dengan carrier di punggung dan koper di tangan, aku sadar bahwa hal terakhir yang telah kuberikan untuk keluargaku adalah kekecewaan teramat dalam. Dan gambaran yang kurekam dari wajah Meme adalah kasih sayang seorang ibu yang ditakdirkan takluk di bawah kuasa suami.

Hanya tangan ibuku yang bisa kucium ketika langkahku diharuskan untuk meninggalkan rumah ayahku.

***

Denpasar, Akhir Juli 2006

Tak ada yang kusembunyikan pada Mbok Andani, kakak perempuanku yang menetap di Denpasar setelah menikah beberapa tahun lalu. Aku menceritakan semuanya, tentang diriku, tentang Aki, tentang petaka yang kusebabkan di rumah. Semuanya kututurkan dengan mata berlinang.

“Apa yang bisa kukatakan, Nyoman? Apapun dirimu, kita sama-sama terlahir dari rahim Meme. Darah Bapa mengalir dalam tubuh kita berdua. Sampai dunia kiamat, kau tetaplah adikku…” Mbok Andani mengusap kepalaku di pangkuannya. “Tunggulah sampai Bapa bisa menerima, apapun keadaannya… kau adalah darah dagingnya. Bapa pasti akan memanggilmu pulang…”

*

Nyatanya Mbok Andani salah. Aku tak pernah diterima lagi, Bapa tidak pernah memanggilku pulang. Yang membuat rasa bersalah kian menumpuk dalam diriku adalah kenyataan bahwa Bapa juga mengutuk Mbok Andani karena menerimaku bersamanya.

Bapa, dengan penuh kuasa juga telah membuang seorang anak perempuan kerena menerima anak lelaki yang sudah lebih dulu tidak dianggapnya anak lagi.

Dan Mbok Andani, dengan lapang hati menerima murka Bapa. Melarangku pergi dari rumahnya dengan alasan yang sama ketika ia menerima anomaliku, aku adalah adiknya. Aku bertekad, akan kulakukan apa saja demi kakak perempuanku itu. Akan kulindungi ia walau harus berkorban jiwa.

Pada saat yang sama hatiku berkeping menerima kenyataan, bahwa karena aku, Meme harus kehilangan seorang lagi anaknya, juga kehilangan Ni Kadek Kirana, cucu pertamanya. Aku mengutuk diriku tak berkesudahan untuk luka yang kutorehkan di kehidupan Meme.

Kami—aku dan keluarga Mbok Andani—tidak pernah menjejakkan kaki di Klungkung sejak saat itu.

***

Denpasar, Juni 2013

Poyan Nyoman menangis?”

Aku tergagap ketika Argiseno menjenguk ke wajahku. Dia berdiri di kursi kayu.

“Mana mana mana… aku mau lihat!” Argasena ikut-ikutan berdiri dan langsung mencondongkan kepalanya ke wajahku.

“Siapa yang menangis?” aku kelabakan mengesat mata, “Poyan kemasukan serbuk daun pinus…”

Kedua keponakanku sama mendongak ke atas, pada cabang-cabang pinus yang bergoyang lembut diterpa angin petang. Aku memandang mereka bergantian, satu kali pun, Meme juga belum pernah melihat cucu kembarnya ini. Mereka lahir setahun setelah aku meninggalkan rumah.

Poyan Nyoman kangen sama Om Kaki-Kaki itu, ya?” Argasena membuat kesimpulannya sendiri, aku tersenyum geli mendengar nama Aki versi lidahnya.

“Om Aki, Arga…! Aki Tarik!” Argiseno memperbaiki salah ucap saudara kembarnya meski masih belum cukup benar.

Argasena mengedikkan bahu buat kembarannya seolah-olah mengatakan ‘Memangnya apa urusannya denganmu jika aku salah ucap?’ aku kembali tersenyum geli ketika Argiseno balas mengedikkan bahunya lebih tegas dari sang kakak.

Poyan Nyoman gak pernah bertemu Om Aki lagi setelah mengantarnya ke bandara?”

Aku menggeleng menjawab pertanyaan Argiseno.

Tapi Poyan masih sering bertemu dengannya bila pergi ke Kuta atau Sanur atau Lapangan Puputan, hatiku berucap. Bahkan Poyan menemukannya di sini sekarang, pada senja dan lewat aroma pinus ini…

“Kalau suatu hari nanti Om Aki datang lagi kemari, apa Poyan Nyoman mau jadi turgaetnya lagi?” Argiseno ternyata lebih tertarik dengan ceritaku ketimbang kembarannya, dia menyimak dengan baik.

Aku menggeleng. “Kan Poyan sudah gak jadi pemandu wisata lagi.” Keponakanku  mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kuhela napas dalam. Ketika meninggalkan Klungkung, aku juga meninggalkan pekerjaanku. Rasanya aku kehilangan bakatku dalam memandu tepat setelah Aki pergi. Aku tidak lagi bisa bercerita dengan baik pada turis-turisku ketika mengunjungi Monumen Puputan Klungkung, atau Taman Gili dan Kertha Gosa, tidak pula saat mengunjungi Desa Kamasan atau ketika menuturkan tentang Perang Kusamba. Kenanganku bersama Aki begitu mengusik kemampuan bertuturku di minggu-minggu pertama setelah kepergiannya. Aku kerap terdiam lama dengan pandangan kosong ketika bercerita dan baru tersadar saat turisku menegur. Ketika tak lama kemudian aku pergi dari Klungkung, aku berhenti memandu siapapun.

Setelah lebih setahun merepotkan kakakku di Denpasar, Mbok Andani memaksaku untuk melanjutkan pendidikan. Aku tak dapat menolak. Aku kuliah di saat sebenarnya Mbok Andani sangat perlu tenagaku di rumah karena ia baru saja melahirkan bayi kembar. Diplomaku selesai tahun 2011. Berkat campur tangan Bli Ngurah Setya—suami Mbok Andani, aku langsung mendapatkan pekerjaan tetap di sebuah badan usaha swasta begitu memegang ijazah. Dan kini beginilah aku, berpenampilan ala eksekutif muda dengan kemeja dan dasi, bekerja lima hari dan kadang enam hari dalam sepekan. Aku menikmati hidupku. Di saat bersamaan aku juga meratapi nasibku. Walau bagaimanapun keadaannya kini, kerinduanku pada mereka yang kutinggalkan di Klungkung masih terus menggelora. Meski tak pernah mengatakannya, aku yakin kalau Mbok Andani juga merasakan hal yang sama.

“Kapan-kapan ajak Argi ke Klungkung, Poyan. Argi ingin tahu tempat-tempat yang Poyan kunjungi bersama Om Aki.”

“Ajak Arga juga!”

Aku tersenyum sambil membelai kepala mereka berdua, “Ada tempat lebih baik yang harus kalian kunjungi ketika ke Klungkung suatu saat nanti, Pekak dan Dadong akan menyambut kalian dengan penuh kerinduan.”

Kedua keponakanku menerawang. Meski belum pernah bertemu, beberapa kali aku dan Mbok Andani pernah bercerita kalau mereka punya kakek-nenek di Klungkung, cerita yang disimak ketiga keponakanku dengan antusias.

Suatu saat, kita akan pulang ke sana…

“Argaaa… Argiii…! Meme suruh balik! Udah malaaam…!!!”

Aku menoleh ke arah rumah, Ni Kadek Kirana berdiri di pintu pagar dengan kedua telapak tangan membentuk corong di mulutnya. Hari ini ternyata ia yang harus memanggil kami pulang.

Poyan Nyoman, pulaaaang…!!!” Ni Kadek lanjut berteriak dengan toa abal-abal di mulut.

“Iyaaaa…!!!” keponakan kembarku membalas berbarengan dengan cara yang sama seperti yang dilakukan kakak mereka.

Ni Kadek membalikkan badan dan berjalan masuk. Argasena melompat turun dari kursi kayu diikuti adiknya. Mereka mendahuluiku berlari kecil melintasi lahan kosong pulang menuju rumah. Aku bangun dari kursi kayu, mendongakkan wajah menatap pucuk pinus di atas kepala lalu membawa pandanganku pada warna lembayung di ufuk barat. Matahari sudah tidur di peraduannya. Remang senja sudah akan berganti pekat malam.

Hari ini pada senja untuk yang tak terhitung kalinya, aku menitip salam Aki meski tidak sedang berada di Kuta. Hari ini, dalam keremangan senja untuk yang tak terhitung kalinya, aku kembali menelusuri kisah hidupku yang berjarak tujuh tahun lalu.

Langit di ufuk barat telah bersalin warna dari merah menjadi kelabu ketika aku meninggalkan kursi kayu di bawah teduhan pinus.

Ì

 

 

“Untuk insan-insan terbaik yang kutemui di perjalananku: Mbak Afni, Olip, Yuuki,

Dik Paid, Dimas Sat, Adibear

dan Mas Herdana…”