JUDUL : LUKA

PENULIS : ARI SETIAWAN BIN ABDUL GAFUR

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

 

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar. Ruum (30) : 21)

_ _ _ _ _ _

 

Katakan ini mimpi!

Biar aku tersadar dan dapat kembali ke dunia

Biar mataku terbuka untuk meyakinkan bahwa ini hanya bunga tidur semata

Katakan ini mimpi!

Aku ingin segera membasuhkan wajah pada air

Ingin menjejakkan kaki di tanah untuk merasakan bahwa tubuhku menyatu dengan alam

Namun, ini bukan khayalan

Bukan pula cerita di alam mimpi

Ini merupakan kenyataan

Ini hikayat tentang luka yang tertanam di hati

Luka yang digoreskan olehnya

Bukan dia, melainkan terluka karena cinta

Cinta tak berbalas

Cinta kepada lelaki yang tak semestinya [*]

 

“Ada yang bisa menjelaskan, pengertian dari iman kepada qada dan qadar?” kembali sebuah pertanyaan meluncur dari mulut Pak Ridwan.

Teramat sulit rasanya untukku mengumpulkan konsentrasi. Pertanyaan mudah dari dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Agama Islam pun tak dapat kujawab. Aku tak berani mengacungkan tangan. Fokus pikiran pecah dan saat ini tidak kepada Pak Ridwan. Pikiran dan hati hanya tertuju pada masalah. Tiga hari yang lalu mama memergoki dan berhasil membuatku salah tingkah.

“Ini anak Mama sedang apa? Kok baca majalahnya terbalik.” suara mama membuyarkan lamunanku.

“Oh, enggak kok, Ma!” kilahku sekenanya.

Aku terkesiap, dengan sekejap memutar posisi majalah yang sedang dipegang. Kutata hati kembali agar mama tak menanyai lebih jauh. ‘Maaf Ma, bukan Elen nggak mau cerita, tapi ini masalahnya beda. Elen nggak ingin mengumbar aib orang lain.’ Seperti inilah perasaan yang kupendam, hanya berani berucap dalam hati. Aku menyimpan masalah ini sendiri. Tak ingin membagi dengan orang lain.

Masih teringat pandanganku dulu mengenai jodoh. Jikalau dua insan sudah berjodoh, pasti mereka memiliki banyak kesamaan. Memilih pasangan juga harus disesuaikan dengan keinginan, faktor kecocokan, dan kriteria. Namun, ada yang menyebut untuk mendapatkan jodoh yaitu harus dicari. Banyak juga yang mengatakan jodoh harus dikejar. Jodoh itu mengenai keseimbangan dan bukan sekadar kecocokan dalam hal selera. Keseimbangan itu meliputi persamaan dan berbedaan.

Lantas kiblat mana yang harus kuanut. Perkara jodoh memang telah ditakdirkan oleh Allah SWT dalam sebuah misteri, takdir yang digariskan selain perkara rezeki dan ajal. Segala usaha telah dilakukan demi menemukan jodoh, tapi kuasa-Nya dalam goresan takdir telah menghancurkanku dalam balutan luka. Siapa yang dapat menerka? Ketika aku telah memantapkan hati untuk seseorang, tapi Dia berkehendak lain dengan menghadapkan pada kenyataan yang sulit diterima.

* * * * * *

Setahun sebelumnya

Aku melihatnya duduk di kursi podium. Setiap yang ia bicarakan menyiratkan kedalaman ilmu dan karisma seorang berkarakter. Sesekali ia melirikku, tersenyum. Kemudian perlahan ia kembali menyampaikan kata sambutan di depan peserta diklat dengan wajah teraut serius.

Mengagumkan memang. Siapa pun yang melihat pasti akan mengakui bahwa lelaki muda tersebut merupakan orang yang pantas dijadikan pemimpin. Belum pernah selama aku mengikuti Masa Orientasi Mahasiswa, melihat atau mendengar ia mengumpat bawahannya atau kami sebagai mahasiswa baru.

Wabilla hitaufik walhidayah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera.” ucapnya  kemudian.

Ia menutup kata sambutan, menuruni podium, kemudian menyalami Kak Seto, Pak Bambang, dan beberapa tamu undangan. Ia orang yang santun, ramah, dermawan. Ditambah fisiknya yang menawan. Sulit untukku tidak berandai-andai memiliki kesempatan lebih dekat dengannya.

Hampir setiap hari kami bersitatap, tersenyum. Kadang berbicara dengan niat basa-basi atau bertukar pendapat. Lebih dari tiga bulan aku akrab dengannya. Menurutku, awal mula yang manis. Kala itu, hujan deras mengguyur kota. Aku duduk di halte kampus, menunggu jemputan. Apes karena baterai ponsel lowbat. Bang Gery yang janji menjemput juga tak kunjung datang.

“Nunggu siapa Dik, kok jam segini belum pulang?” tiba-tiba seseorang mengendarai motor besar datang menyapa, menyadarkanku dari lamunan,

Dia tersenyum, manis. Aku seketika membeku.

“Eh…, uhm…, nunggu jemputan, Kak!” aku gugup, menjawab dengan terbata-bata.

Ia menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Meskipun dalam hati ingin, aku tetap menolak secara halus. Ternyata, sejuta alasan penolakan tak membuatnya menyerah. Ia bersikukuh dengan niat mengantarku. Aku tunduk dan akhirnya mengatakan ‘iya’.

Dan, terjadilah keajaiban itu. Aku duduk di jok belakang motornya. Ia ternyata baik, selain mengantar pulang, juga sudi memberikan pulsa untuk menghubungi Bang Gery. Tanpa jas hujan aku basah, dia basah. Semua yang kami kenakan telah basah. Namun tak mengapa, sebab setimpal untuk momenku bersamanya.

Semenjak kejadian itu, semua rumor galak tentangnya sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan sirna dari pikiran. Ya, menurutku itu kesimpulan tak mendasar. Namun benar adanya, dari semua teman se-angkatan, hanya aku yang berani menghadap untuk meminjam buku laporan, menyapa, atau sekadar berbicara ringan. Mungkin mereka bukan takut, melainkan segan. Dan aku merasa senang, memiliki kesempatan demi bisa lebih dekat lagi dengan Kak Adit.

Sebuah suara mencoba menarik dan memaksaku untuk mengikuti arahnya. Suara itu bersumber dari seseorang yang sedang menyerukan panggilan. Berkali-kali dan berhasil membuatku tersadar.

“Elen jadi kan nanti kamu pinjam buku laporan FISDAS II punya Kak Adit?” Cindy berucap sambil melambaikan tangan ke wajahku dengan jarak kurang dari sejengkal.

“Eh, iya…. Ada apa… Cin?” jawabku yang berpura-pura fokus pada pertanyaan Cindy.

“Nih anak senangnya ngelamun. Hayo…, mikirin apa?” selidiknya lebih jauh.

Seperti biasa, wajah Cindy selalu sumeringah dan antusias ketika berniat mengorek sisi sensitifku atau kisah-kisah yang membuatnya penasaran.

“Oh…, nggak ada apa-apa, kok!” kilahku beberapa detik kemudian.

Cindy benar, aku sedang melamun. Bukan, menurutku sebutan yang lebih tepat ialah menguak memoriku bersama Kak Adit. Ragaku memang berada di aula, tapi jiwa melanglang buana. Jiwa yang mengembara, jiwa yang berkelana, mencari sosok pangeran untuk dijadikan pelindung dan penguasa hati. Ya, aku akui kalau kini hati sedang jatuh cinta, jatuh cinta kepada Kak Adit.

Siang menjelang, panas menyeruak. Kegiatan diklat selesai. Seisi ruangan berduyun memadati antrean konsumsi di pojok kiri aula. Entah mengapa, aku tak merasa lapar. Pikiran hanya tertuju kepada Kak Adit. Kulihat ia sedang berbincang, penuh sahaja. Ketika ia tak lagi sibuk, kuberanikan diri menyapa.

“Kak Adit, pesanan Elen ada bawa nggak?” tanyaku langsung ke topik utama.

“Pesanan apa?” Kak Adit menjawab seraya tersenyum.

“Buku laporan FISDAS II, Kakak. Ada bawa, nggak?” suaraku yang terkesan manja.

“Oh, iya. Kakak lupa.” ia menepuk jidat.

Ketika melihat Kak Adit menepuk jidat membuatku tak mampu menahan tawa. Terdapat satu sisi konyol Kak Adit di balik kesempurnaannya. Meski demikian, semua yang ada pada dirinya aku suka. Aku menyadari, rasa suka, kagum, atau cinta kepada seseorang membuat hati mengenyahkan perihal keburukannya.

“Gimana, nih…?” tanyaku kemudian.

“Ya udah, nanti malam Kakak antar ke rumah?” dia memberikan tawaran.

“Nggak usah, Kak! Nggak enak ngerepotin.” aku menolak meski dalam hati ingin.

“Kamu masih makek nomor HP yang ini, kan?” Kak Adit menyodorkan ponselnya di depanku, memperlihatkan nomor ponsel milikku. “Nanti malam setelah isya, Kakak hubungi.” lanjutnya kemudian.

Tepat seperti dugaan, semua penawaran yang ia kasih tak bisa ditolak. Kenyataannya, perhatian dan perlakuan seperti itu merupakan pengharapanku dari sosok Kak Adit. Ditambah, momen seperti ini merupakan lampu hijau agar aku bisa memantapkan langkah.

* * *

Malam menendang siang, terang cahaya lampu telah menggantikan mentari dan kini bulan sabit menjadi raja di cakrawala. Kupandangi angka demi angka di jam weker. Meski malam telah tiba di puncak, mata sulit sekali terpejam. Ada perasaan aneh yang sedang menyemaki rongga dada. Ada kebahagiaan yang berhasil membuat jantung berdetak lebih cepat. Perasaan aneh dan kebahagiaan ini seperti dirangkai dalam satu paket. Sebuah paket yang menandakan bahwa aku benar-benar sedang jatuh cinta.

Masih teringat kejadian tadi ketika di ruang tamu. Hati gusar menunggu pukul delapan tepat. Ingin rasanya jarum jam kugeser demi mempercepat perjalanan waktu. Ketika menunggu, waktu begitu lambat bergerak. Namun, seketika kegusaran lenyap tatkala Kak Adit menyapa di depan pintu.

“Ini bukunya, jangan sampai hilang! Di dalamnya ada amplop cokelat, isinya surat. Mohon dibaca!” Kak Adit menyerukan perintah seraya menyodorkan buku besar.

“Tenang, Kak, besok langsung Elen fotocopy. Tapi, Senin depan baru bisa ngembaliin.” kusambut pemberian itu sambil membalas senyum Kak Adit.

“Iya nggak apa-apa.” jawab Kak Adit.

Kupandangi sekilas buku besar sambil membuka beberapa halaman terdepan. Terdapat amplop cokelat. Di belakang Kak Adit sedang berdiri bisu seorang lelaki. Aku memberikan senyum terindah untuknya. Lelaki itu membalas dengan tatapan dingin. Melihat kami yang saling pandang, Kak Adit mencoba mencairkan suasana.

“Oh… iya…, kenalin. Ini Reno.” tuturnya.

“Elen…” sapaku pada Kak Reno sambil mengulurkan tangan.

Kupersilakan mereka masuk untuk sekadar berbincang ringan sambil menyesap teh hangat. Sebab, tak indah jika menerima tamu di depan pintu. Namun, Kak Reno menolak dengan alasan yang dapat dimaklumi. Aku tersenyum simpul.

“Kakak pamit, ya!” Kak Adit menyudahi perbincangan.

“Hati-hati, Kak Adit, Kak Reno!” jawabku sekenanya.

Kepergian Kak Adit memberikan sejuta perasaan untukku. Perasaan bahagia karena Kak Adit selalu baik dan aku sangat penasaran dengan isi surat ini. Namun, wajah dingin Kak Reno membuatku sedikit bingung. Ada apa gerangan? Seperti menyiratkan sebuah kebencian. Terlebih Kak Reno seperti memberikan isyarat kepada Kak Adit untuk tidak berlama-lama.

Kini, empat jam sudah waktu terurai. Hampir pukul satu dini hari dan aku belum bisa terlelap. Kubuka perekat pada amplop, kuintip isinya. Dadaku bergemuruh seketika. Sebenarnya apa isi surat ini? Kukeluarkan isi di dalamnya secara perlahan. Sebuah kertas tulis biasa yang dilipat dua. Terlihat siluet tulisan tangan yang indah. Ah, biarlah, aku masih ingin menjadikan isi surat ini sebagai misteri. Kukembalikan surat itu pada amplop kemudian merekatkan lemnya.

* * *

Seminggu ini aku disibukkan dengan aktivitas kuliah, untung saja teringat kalau hari ini ada janji mengembalikan buku pinjaman milik Kak Adit. Setelah membeli dua botol minuman dingin dari koperasi, aku berjalan menuju parkiran kampus. Tampak olehku Kak Adit sedang asyik nonton pertandingan basket.

“Kak Adit…,” panggilku sambil mengacungkan botol yang dipegang.

Aku berlari kecil menghampiri Kak Adit. Ia membalas dengan melambaikan tangan dan senyuman. Kini langkahku terhenti tepat di sampingnya. Kuberikan teh botol kemasan.

“Minum dulu, Kak. Selagi dingin.” perintahku kemudian.

Di bawah pohon rindang, kami duduk pada kursi taman. Motor yang terparkir mulai lenggang. Kami sempat bertukar cerita. Aku mengisahkan tentang kesibukan tugas mata kuliah dan beberapa laporan praktikum, sedangkan Kak Adit memberikan kabar gembira bahwa ia diangkat menjadi asisten laboratorium program studi. Aku menceritakan makanan favorit penggugah selera, sedangkan Kak Adit merencanakan liburan semester ganjil.

“Elena….” Kak Adit memanggilku tiba-tiba setelah kami hampir lima menit duduk terdiam tanpa suara.

“Ya, Kak!” jawabku.

Kak Adit kembali terdiam. Aku sedikit heran. Kami kembali menikmati obrolan keheningan. Kuedarkan pandangan ke sekeliling, hanya tersisa kurang dari sepuluh motor yang masih terparkir. Para atlet yang tadi sedang bermain basket telah menyudahi aktivitasnya. Air teh kemasan sudah tak lagi dingin. Uap membanjiri dinding botol.

“Ehm…, surat yang Kakak kasih udah dibaca belum?” tanya Kak Adit sambil menghembuskan napas berat.

“Belum, Kak. Ada apa?” selidikku kemudian.

Kak Adit menarik napas dalam dan menghembuskan secara perlahan. Aku mengalihkan pandangan dengan memerhatikan para pemain basket yang sedang push up.

“Kamu masih ingat dengan lelaki yang bersama Kakak minggu lalu, nggak? Rambutnya tipis, putih bersih, yang makek kaos hitam lengan panjang.” Kak Adit bertutur sedikit ragu.

“Iya, Kak. Kenapa?” jawabku yang lebih menyiratkan tanya.

Dari sekian banyak percakapan, Kak Adit tak ada menyentuh cerita tentang Kak Reno. Tiba-tiba ia menyelipkan nama lelaki itu di pikiranku. Aku masih sangat mengingat wajah Kak Reno. Wajah Kak Reno tak kalah tampan dengan Kak Adit, hanya aura mereka yang sedikit kontras. Penilaianku hingga saat ini, Kak Adit sangat murah senyum, berkebalikan dengan Kak Reno.

“Kakak sayang dia.” Kak Adit menjawab dengan kepala menunduk.

“Maksudnya, dia saudara Kakak?” tanyaku yang masih sedikit bingung. Kutatap pucuk kepala Kak Adit.

“Lebih tepatnya dia pacar Kakak. Kakak sangat mencintainya.” Kak Adit menjawab dengan suara lirih.

“Maksud…, Kakak…?” suaraku terputus.

Aku membisu, mataku memerah. Sesaat kemudian bulir air mata mengalir di pipi. Aku menatapnya dalam, berharap apa yang baru saja diucapkan Kak Adit bukan sebuah kebenaran. Berharap Kak Adit segera menarik ucapannya dan mengatakan bahwa dia sedang ingin bercanda.

Kali ini Kak Adit balas menatapku. Wajahnya datar, di kedua sudut bibir menyunggingkan senyuman hambar. Di kedalaman mata hitamnya terdapat sebuah kejujuran walaupun dengan tatapan sayu. Kak Adit mengungkapkan perasaan kejujuran. Aku tahu Kak Adit tidak sedang membuat lelucon.

“Maafkan Kakak, Elena. Kakak gay.” jawab Kak Adit sambil mengalihkan wajah. Matanya melihat lapangan basket dengan tatapan hampa.

“Kakak nggak sedang bercanda, kan?” selidikku lebih jauh.

Hatiku masih belum bisa memberikan kepercayaan dari pengakuan Kak Adit. Kenyataannya, tak mungkin ada yang bisa menyimpulkan bahwa lelaki sempurna seperti Kak Adit merupakan penyandang homoseksual. Aku tahu dia sangat rajin beribadah. Karir di bidang akademik sangat cemerlang, begitu pula dengan prestasi non akademiknya. Namun, jika Kak Adit memiliki orientasi seksual berbeda, sungguh sulit dipercaya.

“Kakak tak ingin membuatmu kecewa dan berharap lebih. Sebelum semuanya terlalu jauh, lebih baik Kakak menjelaskan dari awal.” Kak Adit mengutarakan niatnya meski tak melihat wajahku. Air mataku telah menganak sungai.

Kak Adit pamit, berlalu dan meninggalkanku di sini. Tak ada sepatah kata mampu terucap dari bibirku. Napas sesak, lidah kelu. Kak Adit telah mengungkapkan sebuah rahasia terbesarnya dan secara tidak langsung mengetahui niat tersembunyiku. Aku sesunggukan. Tenggelam di dasar kesedihan. Aku malu dengan perasaan ini. Malu atas cinta yang kusemat untuk Kak Adit.

* * * * * *

Epilog

Terlahir dari sebuah harapan

Dan berharap berakhir pada sebuah kenyataan

Namun,

Semua hanya sebatas mimpi

Yang akan sirna saat aku terbangun [**]

 

Siapalah aku? Siapalah dia? Tak ada alasan untukku marah padanya. Atau mungkin aku yang salah, sebab telah menggantungkan harapan terlalu tinggi. Setahun sudah aku dirundung nestapa. Surat dengan tulisan tangan yang terangkai indah ini masih tetap kusimpan. Meski setiap membacanya, rasa sakit di hati seperti baru saja dihujam belati. Perih, ngilu. Apa yang harus dilakukan?

 

Pontianak, 16 Maret 2014

Menjumpai Adikku, Elena

di Dermaga Keberanian

 

Andaikan saja pilihan itu ada, mungkin Kakak akan memilih tidak pernah terlahir di dunia. Jika pilihan lainnya ada, Kakak memilih mati dan bereinkarnasi pada wujud yang berbeda. Ingin rasanya Kakak mengalami kecelakaan dan amnesia lantas melupakan jati diri sebenarnya bahwa Kakak seorang pencinta sesama jenis. Namun semua itu hanya sebatas pengandaian, sebuah keinginan yang tak mungkin terwujud.

Sebenarnya Kakak tak memiliki nyali sedikit pun untuk mengatakan ini namun Kakak harus berkata jujur. Kakak tak ingin membuat Dik Elen kecewa dan berharap lebih. Sebelum semuanya terlalu jauh, lebih baik Kakak menjelaskan dari awal. Reno adalah pacar Kakak, kami menjalin hubungan lebih sebulan lalu. Kakak bahagia menjalani hidup seperti ini. Kami saling mencintai.

Maafkan Kakak, tak pernah sedikit pun ada niat di hati untuk menyakiti Dik Elen. Mengenal Dik Elen telah mengembalikan keceriaan Kakak. Perawakan, tutur bahasa serta sifat yang Dik Elen punya mengingatkan pada Alm. Handayani, adik sematawayang Kakak. Dia tak benar-benar pergi, melainkan hadir kembali dalam wujud Dik Elen.

Mungkin ini salah Kakak. Maaf, beribu-ribu maaf. Kebaikan Kakak selama ini hanya menganggp Dik Elen seperti adik sendiri. Jati diri Kakak adalah satu kekurangan di balik wujud sempurna seperti yang orang-orang bilang.

 

Selalu menyayangi

Aditya R.

 

Mungkin ini yang dinamakan cinta tak pernah memandang usia, status dan keadaan. Hingga saat ini, perasaanku pada Kak Adit masih utuh dan tak berkurang barang secuil. Dan mungkin ini pula dinamakan cinta yang tak dapat dituntut untuk dimiliki. Aku harus belajar menerima keadaan, belajar memahami hakikat cinta dan mencintai. Mengenal Kak Adit lebih dekat memang tak membuatku memilikinya. Namun, aku masih bisa mencintai Kak Adit sebagai seorang adik kepada kakak.

“Inilah alasan mengapa ketika kita mencintai sesuatu harus dilandasi karena Allah.” suara lantang itu ibarat alarm jam waker. Lamunanku buyar.

Kali ini konsentrasiku kembali kepada Pak Ridwan. Perkataan yang baru saja dia ucapkan mengingatkanku pada pesan papa yang ditulis di selembar kertas, pesan papa untukku dan Bang Gery. Pesan itu pernah diperoleh papa waktu masih mondok di pesantren dulu. Berbentuk seperti syair dan yang kuingat hanya beberapa bait saja.

 

Ya Allah, jika aku jatuh cinta

Cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu

Agar bertambah kekuatanku mencintai-Mu

Jika aku jatuh cinta

Jagalah cintaku padanya

Agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati

Izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu

Agar aku tidak terjatuh dalam jurang cinta semu

Jika aku jatuh hati

Jagalah hatiku padanya

Agar tidak berpaling pada hati-Mu [***]

 

Sekarang aku mulai mengerti, apa yang terjadi setahun ini merupakan ujian dari Allah. Dan aku sangat meyakini bahwa sebuah ujian bertujuan untuk menaikkan derajat hamba-Nya ke tingkat yang lebih tinggi. Jodoh telah diatur oleh Allah, siapa orangnya, kapan waktunya. Dia telah menyiapkan yang terbaik untukku. Aku yang harus lebih mantap dalam memerbaiki diri.

Di white board telah penuh oleh catatan Pak Ridwan. Jam perkuliahan sebentar lagi usai. Telah banyak waktu yang tersita dan semua hanya dihabiskan dengan tenggelam oleh masalah. Sudah tiba waktunya untukku bangkit dan melanjutkan hidup. Harus bisa ikhlas, belajar memahami keadaan, dan jalan hidup yang telah dijatahkan kepadaku. Selama belum ikhlas, tak akan mungkin beban yang mengganjal di pikiran akan terlepas.

“Jodoh itu ada di tangan Allah, namun saat kita tidak meminta kepada Allah dan berusaha untuk mendapatkannya maka wajar saja jika jodoh akan selalu ada di tangan Allah.” kali ini Pak Ridwan mengakhiri jawaban atas pertanyaan konyol dari Anshor yang dilanjutkan dengan tawa riang oleh seisi kelas.

Aku tersenyum simpul. Masalah yang sedang menimpaku dan pembahasan mata kuliah Pak Ridwan seperti sejalur. Move on dari masalah atau tetap bertengger pada problema hidup merupakan sebuah pilihan. Dan betapa meruginya, aku memilih bertengger pada cinta semu dan membiarkan perasaan itu menenggelamkan jiwa pada palung luka.

Kubuka buku catatan, terselip beberapa surat undangan. Aku lupa, ada pesan dari Bang Gery yang harus disampaikan. Di bagian depan terlihat tulisan rangkai, ‘Undangan Pernikahan, Gery & Rani, Minggu, 31 Mei 2015’. Penerima undangan ini selain Cindy adalah Kak Adit, Kak Reno, dan beberapa teman organisasi kampus.

“Cin…, Cindy…,” panggilku lirih pada Cindy.

“Ada apa?” Cindy menjawab tanpa menoleh padaku.

Kutahu Cindy sedang menautkan seluruh konsentrasinya kepada Pak Ridwan. Topik mata kuliah yang membahas tentang cinta, jodoh, dan pernikahan sangat digemari Cindy.

“Cin…, Cindy…,” aku mengulang panggilan.

“Ada apa, sih, Elen?” Cindy menjawab dengan bibir mengerucut. Tak senang sekali dia mendapat gangguan sedikit pun.

“Ini undangan dari Bang Gary, tolong disampein ke mamamu. Nanti kamu jadi pagar ayu, ya!” pintaku lirih.

Cindy mengangguk dan menjemput pemberianku seraya berkata, “Wah…, mau banget!”

Dengan semangat Cindy membuka sampul plastik dan melihat isinya. Kali ini dia berpindah ke lain hati. Maksudku, jika semenit yang lalu dia memberikan seluruh konsentrasinya kepada Pak Ridwan, kali ini seluruh konsentrasi itu berpindah padaku. Meski dengan suara berbisik, dia menanyakan dengan antusias mengenai seluk-beluk pernikahan Bang Gery. Jenis pakaian yang dikenakan pengantin serta pagar ayu, menu makanan untuk tamu undangan, dan lain-lain.

“Anterin aku ngasih undangan buat Kak Adit ama Kak Reno, ya!” pintaku kemudian.

“Sip, gampang….” Cindy menjawab sambil memberikan jempol kiri. Wajahnya memancarkan binar bahagia.

Aku mulai berpikir, tak sepantasnya tenggelam dan larut dalam perasaan cinta semu pada Kak Adit. Jika melihat lebih jauh dengan pikiran dan hati yang jernih, masalah selalu datang satu paket dengan kebahagiaan. Bulan depan ada kakak ipar di rumah dan dengan segera aku akan memiliki keponakan. Kebahagiaan Bang Gery telah mutlak menjadi kebahagiaanku juga. Kubolak-balik surat undangan lainnya dan di bagian belakang terdapat lantunan ayat suci al-quran.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar. Ruum (30) : 21)

Syukur diucapkan karena Allah selalu menjagaku. Setelah membaca terjemahan dalam hati, kulanjutkan dengan doa. ‘Ya Allah Yang Mahamengetahui lagi Mahateliti. Pertemukanlah aku dengan jodoh yang akan membawaku pada kebaikan dan jadikanlah aku sebagai jodoh yang pantas bagi orang baik. Aamiin.’

 

Selesai

Singkawang, 30 April 2015

 

Catatan :

[*] : Puisi karya Ari Setiawan Bin Abdul Gafur – Luka

[**] : Puisi karya Ari Setiawan Bin Abdul Gafur – Tentang Perasaan

[***] : Syair karya NN

Iklan