Luka

Penulis : Ari Setiawan

Katakan ini mimpi!

Biar aku tersadar dan dapat kembali ke duniaku

Biarkan aku membuka mata untuk meyakinkan bahwa ini hanya bunga tidur semata

 

Katakan ini mimpi!

Aku ingin segera membasuh muka dengan air

Aku ingin menjejakkan kaki di tanah untuk merasakan bahwa aku menyatu dengan alam

 

Namun ini bukan khayalan, bukan pula cerita di alam mimpi

Ini adalah kenyataan

Ini cerita tentang luka yang tertanam di hatiku

Luka yang digoreskan olehnya

Bukan dia, tapi terluka karena cinta

Cinta yang tak berbalas

Cinta kepada lelaki yang tak sewajarnya

“Ada yang bisa menjelaskan apa itu iman kepada qada’ dan qadar?”

Teramat sulit rasanya untukku mengumpulkan konsentrasi. Pertanyaan mudah dari dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Agama Islam-pun tak dapat kujawab. Aku tak berani mengacungkan tangan. Fokus pikiranku pecah dan saat ini tidak kepada pak Ridwan. Pikiranku hanya tertuju pada masalahku. Tiga hari lalu mama memergokiku yang berhasil membuatku salah tingkah.

“Ini anak mama sedang apa? Kok baca majalahnya terbalik!”

Aku terkejut dan dengan sekejap memutar posisi majalah yang sedang kupegang. Kutata hatiku kembali agar mama tak menanyaiku lebih jauh. “Maaf ma, bukan Elen gak mau cerita, tapi ini masalahnya beda. Elen gak ingin mengumbar aib orang lain.” Seperti inilah perasaan yang kupendam, hanya berani berucap dalam hati. Aku menyimpan masalah ini sendiri. Tak ingin membaginya dengan orang lain.

Masih ingat pandanganku dulu mengenai jodoh. Kalau dua insan sudah berjodoh, pasti mereka memiliki banyak kesamaan dan kecocokan. Memilih pasanganpun harus disesuaikan dengan keinginan, faktor kecocokan dan kriteria. Namun ada yang mengatakan jodoh itu harus dicari. Banyak juga yang bilang jodoh harus dikejar. Jodoh itu mengenai keseimbangan dan bukan sekedar kecocokan dalam hal selera. Keseimbangan itu meliputi persamaan dan berbedaan.

Lantas kiblat mana yang harus kuanut. Perkara jodoh memang telah ditakdirkan oleh Allah SWT dalam sebuah misteri. Takdir yang telah digariskan selain perkara rezeki dan ajal. Segala usaha telah kulakukan untuk menemukan jodoh namun kuasa-Nya dalam goresan takdir telah menghancurkanku dalam balutan luka. Siapa yang dapat mengira, ketika aku telah memantapkan hati untuk seseorang namun Dia berkehendak lain dengan menghadapkanku pada kenyataan yang sulit untuk diterima.

***

Sebulan sebelumnya…

Aku melihatnya duduk di kursi podium. Setiap yang ia bicarakan menyiratkan kedalaman ilmu dan karisma seorang berkarakter. Sesekali ia melirikku, tersenyum. Kemudian perlahan ia kembali menyampaikan kata sambutan di depan peserta diklat dengan mimik serius.

Mengagumkan memang. Siapapun yang melihatnya akan mengakui bahwa lelaki muda itu seorang yang pantas menjadi pemimpin. Belum pernah selama aku mengikuti Masa Orientasi Mahasiswa, melihat atau mendengar ia mengumpat bawahannya atau kami sebagai mahasiswa baru.

Wabilla hitaufik walhidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera.”

Dia menutup kata sambutannya, menuruni podium, kemudian menyalami kak Seto, Pak Bambang dan beberapa tamu undangan. Dia orang yang santun, ramah, dermawan. Ditambah fisiknya yang menawan. Sulit untukku tidak berandai-andai memiliki kesempatan lebih dekat dengannya.

Hampir setiap hari kami bersitatap, tersenyum. Kadang sesekali mengobrol. Lebih dari tiga bulan aku akrab dengannya. Awal mula yang manis menurutku. Hujan deras mengguyur kota kala itu. Aku duduk di halte kampus, menunggu jemputan. Apesnya baterai ponselku lowbat. Kak Gery yang janji menjemputku sepertinya tak kunjung datang. Tiba-tiba seseorang mengendarai motor besar datang menyapaku, menyadarkanku dari lamunan.

“Nunggu siapa dik, kok jam segini belum pulang?” Dia tersenyum, manis. Aku seketika terpaku.

“Eh, uhm, nunggu jemputan kak.” Aku gugup. Menjawab dengan terbata-bata.

Meski dalam hati ingin, aku tetap menolak tawarannya. Dengan sejuta alasannya, aku tunduk dan akhirnya mengatakan “Iya…”. Dan terjadilah keajaiban itu. Aku duduk di jok belakang motornya. Dia ternyata baik, selain mengantar pulang, juga mau memberikan pulsanya untuk menghubungi Kak Gery. Tanpa jas hujan aku basah, dia basah, semua yang kami kenakan juga basah. Tapi tak mengapa, setimpal untuk momenku bersamanya.

Semenjak kejadian itu, semua rumor galak tentangnya sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan sirna dari pikiranku. Ya, menurutku ini kesimpulan tak mendasar. Namun benar adanya, dari semua teman sengkatan, hanya aku yang berani menghadap untuk meminjam buku laporan, menyapa atau sekedar ngobrol ringan. Mungkin mereka bukan takut, melainkan segan. Dan aku merasa senang, memiliki kesempatan untuk bisa lebih dekat dengannya.

“Elen, jadi kan nanti kamu pinjam buku laporan fisdas II punya kak Adit?”

“Eh, iya. Ada apa?”

“Nih anak senangnya melamun. Hayo mikirin apa?”

Cindy benar, aku sedang melamun. Bukan, lebih tepatnya menguak memoriku bersamanya. Ragaku memang berada di Aula, namun jiwaku melanglang buana. Jiwa yang mengembara, jiwa yang berkelana, mencari sosok pangeran untuk dijadikan pelindung dan penguasa hati. Ya aku akui kalau kini sedang jatuh cinta, jatuh cinta kepada kak Adit.

Siang menjelang, panas menyeruak. Kegiatan diklatpun selesai. Seisi ruangan berduyun memadati antrean konsumsi di pojok kiri sana. Entah mengapa aku tak merasa lapar. Pikiranku hanya tertuju untuk seseorang. Kulihat ia sedang berbincang, penuh sahaja. Kuberanikan diri menyapanya.

“Kak Adit, pesanan Elen ada bawa gak?”

“Pesanan apa?”

“Buku laporan fisdas II kak.”

“Owh iya kakak lupa.”

“Gimana nih…??”

“Ya udah, nanti malam kakak antar  ke rumah?”

“Gak usah kak, gak enak ngerepotin!”

Tepat seperti dugaanku. Semua penawaran yang ia kasih tak bisa ditolak. Saat melihannya menepuk jidat karena lupa membuatku tak mampu menahan tawa. Terdapat satu sisi konyol kak Adit di balik kesempurnaannya. Semua yang ada pada dirinya aku suka.

¨

Malam menendang siang, terang cahaya lampu telah menggantikan mentari dan kini bulan sabit merajai cakrawala. Kupandangi angka demi angka di jam weker. Meski malam sudah menuju puncaknya, mata ini sulit sekali untuk terpejam. Masih teringat kejadian tadi, aku gusar menunggu pukul delapan tepat. Ingin rasanya jarum jam itu kugeser. Waktu terasa lambat bergerak. Seketika kegusaran itu lenyap saat kak Adit menyapa di depan pintu.

“Ini bukunya, jangan sampai hilang! Di dalamnya ada amplop cokelat, isinya surat. Mohon dibaca! Owh iya, kenalin. Ini Reno.”

“Elen…” Sapaku pada kak Reno. “Tenang kak, besok langsung Elen fotocopy. Tapi senin depan baru bisa ngembaliin.”

“Iya gak apa-apa. Kakak pamit ya!”

Kepergian kak Adit memberikan sejuta perasaan untukku. Perasaan senang karena kak Adit selalu baik dan aku sangat penasaran dengan isi surat ini. Namun wajah dingin kak Reno membuatku sedikit bingung.

Empat jam sudah waktu terurai. Hampir pukul satu dini hari aku belum bisa terlelap. Kubuka perekat pada amplop, kuintip isinya. Dan dadaku bergemuruh seketika. Ah, biarlah, aku masih ingin menjadikannya misteri.

¨

Seminggu ini aku disibukkan dengan aktivitas kuliah, untung saja teringat kalau hari ini ada janji mengembalikan buku pinjaman. Setelah membeli dua botol minuman dingin dari koperasi, aku berjalan menuju parkiran kampus. Tampak olehku kak Adit sedang asyik nonton permainan basket.

“Kak Adit…” Aku mengacungkan botol yang kupegang kemudian berlari kecil menghampirinya.

“Elena…”

“Ya kak!” Jawabku.

“Ehmm, surat yang kakak kasih udah dibaca belum?”

“Belum kak, ada apa?”

“Kamu masih ingat dengan lelaki yang bersama kakak minggu lalu? Rambutnya tipis, putih bersih dan memakai kaos hitam lengan panjang.”

“Iya, kenapa kak?”

“Kakak sayang  dia.”

“Maksudnya, dia saudara kakak?”

“Lebih tepatnya dia pacar kakak. Kakak sangat mencintainya.”

“…” Aku membisu, mataku memerah. Sesaat kemudian bulir air mata mengalir di pipiku. Aku menatapnya dalam, berharap apa yang dia ucapkan bukan sebuah kebenaran.

“Maafkan kakak, Elena. Kakak gay.”

“Kakak gak sedang bercanda kan?”

“Kakak tak ingin membuatmu kecewa dan berharap lebih. Sebelum semuanya terlalu jauh, lebih baik kakak menjelaskannya dari awal.”

Dia pamit, berlalu dan meninggalkanku disini. Tak sepatah katapun mampu terucap dari bibirku. Nafasku sesak, lidahku kelu. Aku sesugukan. Tenggelam sendiri dalam keramaian.

*** 

Epilog…

Terlahir dari sebuah harapan

Dan berharap berakhir pada sebuah kenyataan

Namun semua hanya sebatas mimpi

Yang akan pergi saatku terbangun

Siapalah aku? Siapalah dia? Tak ada alasan untukku marah padanya. Atau mungkin aku yang salah karena telah menggantungkan harapan terlalu tinggi. Sebulan sudah aku dirundung nestapa. Surat bertuliskan tangan yang indah ini masih tetap ku simpan. Meski setiap membacanya, rasa sakit itu seperti dihujam barusan. Perih, ngilu. Apa yang harus kulakukan.

Pontianak, 16 Maret 2015

Menjumpai Adikku Elena

di Dermaga keberanian

 

Andaikan saja pilihan itu ada, mungkin kakak akan memilih tidak pernah terlahir di dunia. Jika pilihan lainnya ada, kakak memilih mati dan bereinkarnasi pada wujud yang berbeda. Ingin rasanya kakak mengalami kecelakaan dan amnesia lantas melupakan jati diri sebenarnya bahwa kakak seorang pencinta sesama jenis. Namun semua itu hanya sebatas pengandaian, sebuah keinginan yang tak mungkin terwujud.

Sebenarnya kakak tak memiliki nyali sedikitpun untuk mengatakan ini namun kakak harus berkata jujur. Kakak tak ingin membuat dik Elen kecewa dan berharap lebih. Sebelum semuanya terlalu jauh, lebih baik kakak menjelaskannya dari awal. Reno adalah pacar kakak, kami menjalin hubungan lebih setahun. Kakak bahagia menjalani hidup seperti ini.

Maafkan kakak, tak pernah sedikitpun ada niat di hati untuk menyakiti dik Elen. Mengenal dik Elen telah mengembalikan keceriaan kakak. Perawakan, tutur bahasa serta sifat yang dik Elen punya mengingatkan pada alm. Handayani, adik sematawayang kakak. Dia tak benar-benar pergi, melainkan hadir kembali dalam wujud dik Elen. Mungkin ini salah kakak. Maaf, beribu-ribu maaf. Kebaikan kakak selama ini hanya menganggp dik Elen seperti adik sendiri. Jati diri kakak adalah satu kekurangan dibalik wujud sempurna seperti yang orang-orang bilang.

Maafkan kakak dik. Kakak juga tak ingin seperti ini. Kakak tak tahu apa yang akan kakak lakukan. Kakak juga tak mengerti apa yang kakak cari. Biarlah kakak menjalani hidup seperti ini. Esok? Ceritanya akan lain lagi. Sebab kakakpun tak tahu pasti.

 

Selalu menyayangi

Aditiya R.

Mungkin ini yang dinamakan cinta tak pernah memandang usia, status dan keadaan. Dan mungkin ini pula dinamakan cinta yang tak dapat dituntut untuk dimiliki. Aku harus belajar untuk menerima keadaan, belajar untuk memahami tentang hakikat jatuh cinta dan mencintai. Mengenalnya lebih dekat memang tak membuatku memilikinya namun aku masih bisa mencintainya sebagai seorang adik kepada kakaknya.

“Inilah alasan mengapa ketika kita mencintai sesuatu harus dilandasi karena Allah.”

Kali ini konsentrasiku kembali pada pak Ridwan. Perkataannya barusan mengingatkanku pada pesan papa yang ditulis di selembar kertas, pesan papa untukku dan kak Gery. Pesan itu pernah didapat papa waktu masih mondok di pesantren dulu. Berbentuk seperti syair dan yang kuingat hanya beberapa bait saja.

Ya Allah, jika aku jatuh cinta

Cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu

Agar bertambah kekuatanku mencintai-Mu

Jika aku jatuh cinta

Jagalah cintaku padanya

Agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati

Izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu

Agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu

Jika aku jatuh hati

Jagalah hatiku padanya

Agar tidak berpaling pada hati-Mu

Sekarang aku mulai mengerti, apa yang terjadi sebulan ini merupakan ujian dari Allah. Dan aku sangat meyakini bahwa sebuah ujian bertujuan untuk menaikkan derajat hamba-Nya ketingkat yang lebih tinggi. Jodoh telah diatur oleh Allah, siapa orangnya, kapan waktunya. Allah telah menyiapkan yang terbaik untukku. Aku yang harus lebih mantap dalam memperbaiki diri.

Di white board telah penuh seluruhnya oleh catatan pak Ridwan. Jam perkuliahan sebentar lagi berakhir. Telah banyak waktu yang tersita, aku hanya tenggelam oleh masalahku. Kini saatnya untukku bangkit dan melanjutkan hidup. Sekarang hatiku telah ikhlas, beban yang mengganjal dipikiran juga telah terlepas.

“Jodoh itu ada ditangan Allah namun saat kita tidak meminta kepada Allah dan berusaha untuk mendapatkannya maka wajar saja jika jodoh akan selalu ada di tangan Allah.”

Kali ini pak Ridwan mengakhiri jawaban atas pertanyaan konyol dari Toni yang dilanjutkan dengan tawa riang oleh seisi kelas. Kubuka buku catatan, terselip beberapa surat undangan. Aku lupa ada pesan dari kak Gery yang harus disampaikan. Dibagian depan terlihat tulisan rangkai, Undangan Pernikahan, Gery & Rani, Minggu, 31 Mei 2015.

“Cin, Cindy…” Sapaku lirih pada Cindy.

“Ada apa?”

“Ini undangan dari kak Gary, tolong disampaikan ke mamamu. Nanti kamu jadi Pagar Ayu ya!”

Cindy mengangguk dan menjemput pemberianku. Dengan semangat dia membuka sampul plastik dan melihat isinya. Aku mulai berpikir, tak sepantasnya larut dan tenggelam dalam masalah perasaan cinta semu pada kak Adit. Jika melihat lebih jauh dengan pikiran dan hati yang jernih maka masalah itu selalu datang satu paket dengan kebahagiaan. Bulan depan akan ada kakak ipar di rumah dan dengan segera aku bakal memiliki keponakan. Kebahagiaan kak Gery telah mutlak menjadi kebahagiaanku juga. Kubolak-balik surat undangan lainnya dan di bagian belakang terdapat lantunan ayat suci al-quran.

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21)

Aku bersyukur, karena Allah selalu menjagaku. Kubaca dalam hati terjemahannya dan kulanjutkan dengan doa. “Ya Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Teliti, pertemukanlah aku dengan jodoh yang akan membawaku pada kebaikan dan jadikanlah aku sebagai jodoh yang pantas bagi orang yang baik.”

Selesai