WHEN OUR EYES MEET

By. Robynokio

 

Apakah kau percaya dengar takdir? Sebuah ilusi fana yang kerap diciptakan oleh manusia itu sendiri. Sebuah nama untuk sebuah situasi di mana keberuntungan serasa sudah diciptakan hanya untuk beberapa orang saja.

Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia tak berdaya dihadapan takdir, seperti seorang aktor yang sudah berupaya sekuat tenaga untuk bisa berakting sempurna, namun sutradara selalu punya suatu cara yang berbeda.

Ada sebuah Cafe kecil di pinggiran kota Bandung, jauh dari keramaian dan sepi dari kendaraan yang lewat. Lampu tuanya kerap menyala menerangi kegelapan seperti kunang-kunang dengan lampu kecilnya di tengah hamparan gelapnya padang rumput. Cafe ini sudah berdiri sejak lama, dengan beberapa menu makan malam yang sederhana namun lezat luar biasa, dan beberapa pelanggan tetap yang terus berdatangan setiap harinya, membuat Cafe ini tetap berdiri walau lingkungan di sekitarnya hanya diterangi oleh beberapa lampu jalanan.

Cafe ini mirip seperti lampu neon di kegelapan, dan orang-orang yang lewat adalah seekor ngengat. Mereka akan mampir hanya untuk menghabiskan waktu atau juga menunggu sesorang di sana.

Januar, begitulah orang-orang sekitar sana memanggil namanya. Seorang laki-laki muda yang sudah bekerja lebih lama ketimbang lampu jalanan yang ada di sana. Laki-laki yang kini tengah menjalani kuliah semester akhir ini adalah seorang kasir sekaligus pembuat kopi yang juga menjadi salah satu daya tarik yang membuat banyak sekali pelanggan mampir hanya untuk bisa berbicara dengannya, karena Januar sangat ramah dan supel dengan pelanggan-pelanggannya.

Wajahnya manis, dengan pendek yang disisir rapi dan senyum lesung pipitnya menjadi alasan mengapa Januar selalu terlihat lebih istimewa. Ia bekerja dari pagi hingga menjelang malam di Cafe itu, lalu ia lanjutkan untuk berkuliah kelas karyawan.

Januar begitu ramah dengan para pelanggan, ia selalu mengajak berbicara siapa saja yang menyapanya. Ada lelaki tua, ia sudah rentan namun selalu setia datang hanya untuk sekedar menunggu istrinya yang sudah meninggal, dan Januar selalu menemaninya seakan lelaki tua itu anaknya.

Ada sekelompok kuli bangunan, walaupun mereka hanya membeli kopi dan memilih duduk sambil merokok, Januar selalu membawakan mereka sepiring kripik singkong gratis sebagai teman makan malam karena Januar tahu bahwa uang mereka hanya cukup untuk membeli segelas kopi saja.

Ada pengemis tua, badannya lusuh seperti kain yang terbuang di pinggir jalan raya. Beberapa kali pemilik Cafe tidak membolehkan pengemis itu untuk masuk, namun Januar selalu sembunyi-sembunyi membawakan sedikit makanan sisa untuk diberikan kepadanya.

Sehari-hari, Januar selalu ceria, senyumnya bagai sinar matahari yang menyinari pagi, begitu hangat. Hingga pada suatu ketika ada seseorang pengunjung yang tak pernah Januar lihat sebelumnya datang dan memesan secangkir kopi hitam yang begitu pekat.

Pria dengan setelan jas hitam, kemeja putih, waist coat abu-abu, dan secangkir kopi yang begitu pekat. Benar-benar sosok yang dingin sekali.

“Selamat siang, mau pesan apa?” Tanya Januar ramah.

“Kopi. Americano. Satu.” Jawabnya singkat.

“Baik, silakan duduk, nanti akan saya antarkan.” Ucap Januar lagi.

Pria tersebut pun memilih untuk duduk di dekat jendela tak jauh dari kasir tempat Januar bekerja. Pria itu terdiam, tangannya ditaruh di atas paha, dan wajahnya begitu dingin menatap ke arah luar jendela.

“Mungkin ada orang yang sedang ia tunggu.” Pikir Januar.

Setelah selesai membuatkan kopi, Januar mengantarkan kopi itu ke mejanya.

“Silakan.” Tukas Januar.

“Terimakasih.” Jawab lelaki itu lugas namun dengan senyum yang begitu menawan.

Januar tertegun, ada sedikit tambahan detak-detak di jantungnya. Ada yang meletup-letup di matanya. Senyum pria tersebut seakan membuat Januar yang jarang jatuh cinta ini merasa begitu gelagapan dibuatnya.

Dari meja kasir, Januar diam-diam memperhatikan pria itu. Pria yang selalu menatap ke luar jendela. Entah siapa yang sedang ditunggunya, mungkin seseorang yang begitu penting baginya. Kopi yang Januar antarkan tak sedikitpun disentuhnya. Kebul-kebul uap perlahan hilang menandakan kopinya kini sudah tak hangat lagi.

Lalu tiba-tiba, pria itu berdiri, menghampiri Januar, dan memberikan selembar uang seratus ribuan.

“Kembaliannya ambil saja.” Ucap pria itu singkat sambil tersenyum sebentar lalu pergi meninggalkan Januar sendirian yang masih tertegun dibuatnya.

===

Hampir setiap hari pria itu datang ke tempat Januar bekerja, di jam yang sama, duduk di tempat yang sama, dan menghadap ke jendela yang sama. Tentu melihat hal ini Januar senang setengah mati karena bisa melihat seseorang yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat itu setiap hari, namun ada perasaan kecewa juga ketika pria tersebut hanya duduk menghadap jendela tanpa sedikitpun mau menyentuh kopinya.

Apa yang pria itu lakukan setiap hari hanyalah hal yang sama, ketika kopinya mulai dingin, ia berdiri, memberikan uang seratus ribuan, lalu pergi begitu saja. Awalnya Januar tidak merasakan apa-apa, hingga pada akhrinya rasa penasaran sudah begitu besar dan menjalar ke seluruh syaraf di tubuhnya.

Malam harinya, Januar mulai mencari tahu siapakah pria yang telah membuat jantungnya berdebar begitu kencang? Kopi yang sudah dingin di mejanya tadi, Januar ambil dan diam-diam dicicipinya.

“Apa kopi buatanku ini tidak enak ya?” Tanya Januar di dalam hati penuh dengan perasaan was-was.

“Apa aku tidak terlihat ramah baginya?”

Kini Januar mulai dipenuhi oleh ribuan tanya terhadap dirinya sendiri. Januar bertanya kepada orang-orang mengenai siapa pria tersebut, namun tak ada satupun yang mengenalnya. Diam-diam, tanpa disadari, Januar sudah menjadi pengagum dalam diam kepada pria pemesan kopi tersebut.

Suatu hari, pria itu datang lagi dan berjalan menuju kasir. Namun belum sempat ia memesan, Januar langsung memotong.

“Kopi Americano seperti biasa satu kan? Aku antarkan ke meja yang dekat jendela seperti biasanya nanti kan?” Kata Januar.

Pria tersebut terdiam, ia menantap Januar sebentar, lalu pergi meninggalkan meja kasir. Januar terkejut, seluruh tubuhnya kaku, mulutnya kelu, apakah kata-kata yang baru ia ucapkan tadi itu tidak sopan?

“Astaga kenapa aku jadi sok tahu gini sih?!” Ucap Januar kesal kepada dirinya sendiri.

Tak mau melihat orang yang ia suka pergi begitu saja, Januar langsung berlari meninggalkan mesin kasir dan mengejarnya, berusaha membujuknya dan meminta maaf. Namun sayang, sosoknya telah menghilang.

Semenjak kejadian itu, pria tersebut tidak pernah kembali lagi ke Cafe tempat Januar bekerja. Mengetahui hal ini, senyum di bibirnya hilang, tak ada lagi keramah-tamahan yang biasa ia keluarkan kepada pelanggan yang lain. Januar lebih sering murung dan tidak bersemangat. Kekasih yang ia puja, hilang tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.

===

Satu bulan berlalu.

Kuliah Januar hampir selesai, dan ini adalah hari terakhir Januar bekerja di sana.

Ketika sedang membersihkan meja kasir dari barang-barangnya, tiba-tiba mata Januar terpaku pada sosok yang perlahan datang menghampiri Cafe itu.

“DIA DATANG!! DIA DATANG LAGI, JANUAR!!” Ucap Januar kegirangan di dalam hati.

Pria itu masuk ke dalam Cafe, namun anehnya pria tersebut tidak memesan sesuatu di kasir, ia hanya langsung duduk di tempat biasanya ia duduk dan kembali diam menatap jendela. Dari jauh, Januar memperhatikannya, benar-benar memperhatikannya. Menjelajahi seluruh lekuk tubuhnya, mukanya, rona wajahnya seakan ini seperti hari terakhir Januar akan melihatnya.

Begitulah pria pelangi, sering mengagumi, namun enggan diketahui.

Januar kadang tersenyum ketika dirinya sedang diam-diam melihat ke arah pria tersebut. Bahkan tak ayal Januar sering kepergok melamun memandangi pria itu oleh pemilik Cafe.

Hari semakin gelap, Januar sadar, sebentar lagi biasanya pria itu akan berdiri lalu pulang begitu saja. Januar gugup, ia menggigit bibir dan berusaha mengatur napasnya yang menderu-deru.

“Aku akan mendatanginya.” Ucap Januar dalam hati.

Dengan langkah yang berat Januar berjalan pelan-pelan menghampiri pria yang masih terus saja menatap ke luar jendela itu. Langkah demi langkah hingga pada akhirnya Januar ada di hadapan pria tersebut. Pria itu menyadari kehadiran Januar. Ia menoleh ke arahnya.

“Selamat ma-malam.” Ucap Januar gugup.

Pria itu hanya terdiam menatapnya dalam.

“Ngg.. per-perkenalkan, aku Janu..ar.” Ucap Januar sembari mengulurkan tangan.

Pria itu masih terdiam dan hanya mentap Januar.

“Duduk.” Ucap pria tersebut dingin.

Januar terkejut, perkenalannya tidak dihiraukan dan kini ia malah disuruh duduk di hadapannya. Namun Januar menurut tanpa banyak bicara. Setelah duduk, pria tersebut lalu kembali menatap ke luar jendela, meninggalkan Januar sendirian dalam keheranan. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka berdua.

“Maaf, kamu sedang menunggu siapa kalau aku boleh tahu?” Akhirnya Januar memberanikan diri bertanya.

Pria tersebut melirik ke arah Januar,

“Kekasihku…” Jawabnya sambil terseyum lalu kembali melihat ke arah luar jendela.

Januar terkejut, hatinya hancur berkeping-keping ketika mendengarkan apa yang pria itu ucapkan tadi. Ternyata cinta yang selama ini dikaguminya, adalah cinta yang sedang mengagumi orang lain. Setetes air matanya hampir terjatuh namun masih sempat ia tahan. Januar tahu, akan seperti ini akhirnya. Tapi ia tak pernah tahu, akan semenyakitkan ini rasanya.

“… Ia ada di situ.” Mendadak pria tersebut kembali berbicara.

“Eh?”

“Aku datang kemari untuk menemui orang yang diam-diam aku suka. Ia ada di situ.” Ucapnya sembari menunjuk ke arah luar jendela.

Januar heran, ia langsung melihat ke arah yang sama namun ia tidak menemukan siapa-siapa di sana.

“Siapa? tidak ada siapa-siapa di sana.” Jawab Januar.

“Ada. Dia sering di situ.” Jawab pria itu.

“Aku tidak menem..”

“Sini, duduk di sebelahku.” Belum juga Januar melengkapi kalimatnya, pria ini menarik tangan Januar agar berdiri lalu duduk di sebelahnya.

“Itu dia.”

Tiba-tiba pria itu menunjuk ke arah jendela yang selalu ia pandangi setiap hari. Januar yang duduk di sebelahnya melihat ke arah yang sama, namun ia tetap tidak menemukan ada siapa-siapa di luar sana.

“Tidak ada siapa-siapa di luar.” Ucap Januar.

“Bukan di luar, tapi di jendela. Lihat jendelanya.” Jelas pria itu lagi.

Awalnya Januar tidak mengerti, sebelum pada akhirnya Januar baru menyadari bahwa yang pria itu tunjuk dari tadi adalah bayangan yang terpantul di jendela. Dan yang membuat Januarsemakin berkeringat dingin adalah, bayangan jendela tersebut tepat mengarah ke arah mesin kasir.

Tangan Januar gemetar, mulutnya kaku, ia tidak percaya. Apa jangan-jangan pria ini..

“Aku menyukai seseorang. Aku mengagguminya, mengaggumi senyumnya, keramah-tamahannya, dan kebaikannya. Namun aku tidak begitu berani untuk menyapanya. Karena aku takut dia tak sama sepertiku. Di hadapannya, aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Bahkan untuk memesan secangkir kopi pun aku tak bisa banyak berkata-kata. Senyumnya seakan membuat kerongkonganku kering.

Awalnya aku tak sengaja duduk di sini, namun ketika aku sadar aku bisa melihat ke arahmu dari bayangan jendela ini, aku benar-benar bahagia setengah mati. Dari jauh aku melihatmu, mengaggumimu, berusaha untuk tidak memalingkan pandanganku karena rasa-rasanya sedetik tak melihat kamu, aku benar-benar rugi setengah mati.

Semakin hari, aku semakin menyukaimu, aku terus datang ke sini hanya untuk bisa melihatmu; walau dari bayangan jendela. Namun aku sadar kamu juga sering melihat ke arahku, sesekali tersenyum, dan sesekali melamun.

Tak sadarkah kamu? bahwa saat itu sebenarnya tatapan kita sedang saling bertemu. Aku menatap matamu lewat bayangan jendela, kamu menatap mataku dari kejauhan.

Lalu masih ingatkah kamu? ketika suatu hari aku hendak memesan pesananku dan ternyata kamu sudah hapal dengan apa yang hendak aku pesan. Di sana sebenarnya aku benar-benar grogi hingga tak bisa berbicara lagi. Maaf karena saat itu aku buru-buru pergi, aku hanya terlalu riang setengah mati. Dan aku tak ingin kamu menyadarinya.

Dan maaf kemarin aku jarang ke sini lagi, aku berusaha mencari tahu tentang kamu, tentang aku mencari tahu apa kamu sama-sama sepertiku, dan tentang kuliahmu. Dan kalau aku tidak salah, sebentar lagi kamu wisuda ya?” Tanya pria tersebut.

Januar masih terdiam menatapnya dengan rasa tak percaya.

“Ini..” Tiba-tiba ada sebuah cincin ia taruh di atas meja.

“Izinkan aku menjadi pendamping wisudamu nanti, lalu setelah itu, maukah kamu berendah hati untuk menjadi teman hidupku?Januar.” Tukas pria tersebut.

===

Apakah kau percaya dengar takdir? Sebuah ilusi fana yang kerap diciptakan oleh manusia itu sendiri. Sebuah nama untuk sebuah situasi di mana keberuntungan serasa sudah diciptakan hanya untuk beberapa orang saja. Januar salah satunya. Cinta diam-diamnya, ternyata diam-diam mencintainya juga.