Not In That Way

Writed by Chaera

 

Hi, guys! I’m back. Wish you good at all. Kalian mungkin pernah tahu, pernah dengar atau hanya pernah baca judul diatas? Yup, Judul dari cerita ini aku ambil dari salah satu lagu Sam Smith karena ketika aku dengerin lirik lagunya mirip sama isi cerita ini, i think. Jadi aku apply judul itu di ceritaku kali ini. Maaf kalau ceritanya sangat mainstream but i hope you get the feeling of this story like i do.

###

“Hahaha… kau gulanya aku semutnya,” kata pemuda yang sedang duduk di kursi di depanku ini. Namanya Gael, nama lengkapnya Migaela Prasodjo pria dengan tinggi hampir sepadan denganku tapi lebih tinggi beberapa senti dariku. Dia termasuk mahasiswa yang pintar dibandingkan aku. Kenapa aku bilang dia lebih pintar dariku? Karena aku sering menyontek tugas kampusnya.

“Geli kali kalau dikerubungi semut,” ini kataku. Namaku Cendric. Menurutku aku adalah pemuda yang tak punya apapun untuk dibanggakan seperti Gael. Karena aku tinggi menurutku tidak, karena Gael lebih tinggi dariku meski hanya dua atau tiga senti diatasku. Apalagi pintar jelaslah aku ‘permisi’ jika dibandingkan Gael.

“Eh… kalian bisa geser nggak? Aku mau makan,” suara ini terdengar tak asing di telingaku karena nadanya yang selalu ketus pada semua orang atau mungkin cuma denganku saja? Entahlah. Dialah Magentha Ghani Abdul mahasiswa yang serba ter-, menurutku. Tertampan, menurut para mahasiswi. Terpintar, menurut para dosen karena dia jadi asdos dari salah satu dosenku. Terkaya, menurut para mahasiswa dan mahasiswi matre. Dan terketus menurutku. Tapi pantas sih jika dia ketus karena kurasa ia punya segalanya. Apa ini pujian dariku? Lupakan.

Kupindah pantatku ke kursi di kiriku dan merelakan kursi yang kududuki untuk ditempati oleh Mr Ketus, Gentha. “Nggak bosan tuh hidup gangguin orang mulu?” ucapku lirih tapi kurasa Gentha mendengarnya karena dia langsung melirikku dengan tajam.

“Ayo, Gael kita pergi!” kataku mengajak Gael untuk pergi dari Gentha.

“Siapa yang memperbolehkanmu pergi?” tanya Genta dengan nada yang ketus tapi anehnya dia tetap melahap makanannya.

“Eh… punya hak apa kamu melarangku pergi dari sini? Dasar cowok aneh.”

“Aku adalah asdosmu, bukan?” jawabnya santai tapi masih terdengar ketus di telingaku.

“Terus masalah kalau kamu asdosku?” Emosiku mulai tersulut.

“Buatku tak masalah justru kamu yang akan bermasalah karena bisa saja aku mengurangi nilaimu.” Uhhhh… dasar orang sinting. Inilah mantranya yang seakan bisa memerintahku. Karena dia dipercaya memberi nilai kepada mahasiswa. Padahal kitakan sesama mahasiswa? Tidak adil.

“Udahlah turuti saja daripada nilaimu jeblok. Toh cuma duduk dan kita juga masih bisa mengobrol,” sahut Gael sambil menenangkanku.

“Tuh temanmu saja mengerti.”

Alhasil aku harus tetap duduk di bangku kantin ini dengan rasa kesal yang menggunung.

***

“Aku masih kesal dengannya,” kataku sambil berjalan menyusuri lorong gedung praktik.

“Sudahlah, Cen yang penting nilaimu tak bermasalah,” kata Gael sambil menggenggam tanganku.

“Tapi itukan tak adil. Kita sama-sama mahasiswa tapi dia bisa seenaknya memberi nilai.”

“Diakan memang asdos di sini. Jadi anggaplah dia sebagai asdos bukan mahasiswa, oke?” Lalu Gael mengusak kepalaku. Kadang tingkah Gael membuatku merasa bahwa kita lebih dari seorang sahabat.

“Ihh… kamu tidak tahu berapa lama aku menata rambutku?” Aku merasa sebal karena perlakuannya ini tapi di dalam hati aku sangat menyukai ini.

“Kamu aja mandi nggak pernah apalagi dandan, hahaha….” Dengan gesit Gael langsung berlari meninggalkanku.

“Hei… Gael tunggu!!!” Akupun ikut berlari. “Dasar gila….”

***

Entah kenapa kelas hari ini sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang mengobrol. Tak terlihat juga Mr Ketus, Gentha. Atau mungkin Gentha sedang di ruang Pak Soli, dosen yang mengangkat Gentha sebagai asistennya. Jangan sampai saat dia kembali ke kelas dia malah membawa tugas yang seabrek.

Terdengar deheman seseorang yang langsung menghentikan aktivitas semua mahasiswa yang ada di kelas ini. “Pak Soli sedang ada workshop di Jember jadi untuk seminggu kedepan dia tidak akan memberi materi.” Seketika gemuruh suara kegembiraan terdengar di kelas.

“Eits… jangan girang dulu. Pasti ada tugas dari Pak Soli,” ucap Anya yang duduk di depanku.

“Benar kata Anya. Ini tugasnya.” Tanpa basa-basi Gentha langsung membagikan tugas itu.

“Yah… tugas lagi-tugas lagi. Nggak seneng apa kalau lihat muridnya clubing,” kata Zukar teman sebangku Gael. Teman-teman sekelaspun langsung tertawa mendengarnya.

“Jika sudah selesai kumpulkan tugas ini kepada Cendric paling lambat tiga hari setelah hari ini?” kata Gentha.

“Kenapa harus aku bukannya kamu asdosnya?” kataku dibumbui rasa kesal dan terkejut.

“Kenapa? Kamu merasa tak ikhlas? Apa kamu mau…”

“Baiklah aku akan mengumpulkannya. Dikumpulkan di mana setelah semua dikumpulkan padaku?” aku menyelanya sebelum mantra andalannya keluar.

“Kumpulkan di rumahku secepatnya.” Tanpa permisi dia langsung keluar kelas. Entah dia mau kemana lagi, sepertinya dia terlalu sibuk untuk jadi mahasiswa.

“Hei… Gentha aku tak tahu rumahmu!” teriakanku hanya melewati jejaknya saja. Oh iya kata Gael dia satu komplek dengan Gentha, satu blok malah. Pasti dia tahu rumah Gentha.

Aku melirik Gael dan Gaelpun mengangguk seakan dia tahu apa maksudku. Lalu aku tersenyum padanya. Oh my Gael….

***

“Iya jadilah, kamu pikir aku mau nilaiku dibuat acak-acakan oleh Mr Ketus.” Aku sekarang sedang menelfon Gael. “Heemm… tunggu aku. Aku mau berangkat ke rumahmu.” Lalu kumatikan sambungan telfon kami. Aku langsung menuju rumah Gael yang cukup jauh dari rumahku dengan mengendarai motorku. Aku tak tahu pasti berapa jauh jarak rumahku dan rumah Gael. Yang ku tahu jika aku ke rumah Gael pasti memakan waktu sekitar lima belas menitan naik motor. Itupun jika tak macet.

Tok… tok… tok….

“Iya bentar,” sapa suara dari arah dalam rumah Gael. “Langsung ke kamar aja, Cen!” ajak Gael setelah membukakan pintu.

“Aku sekalian nyontek tugasmu, bolehkan?” tanyaku setelah aku dan Gael berada di kamar Gael.

“Nih… tapi jangan sama persis.” Gael menyerahkan buku tugasnya padaku.

Lalu kusalin nomor demi nomor dari soal yang di berikan Pak Soli. Tapi setelah sampai di lembar ke dua aku agak kebingungan jadi aku bertanya pada Gael.

“Jadi gini antara pasar dan masyarakat itu memang tak terpisahkan. Pasar juga merupakan pusat….” terang Gael padaku. Tapi aku malah tak menggubrisnya lagi. Aku salah fokus. Kini malah kupandangi wajah Gael yang menurutku tampan. Mulai dari rambutnya yang ditata klimis, keningnya yang tak berjerawat, hidungnya yang tegak, tulang pipinya yang agak menonjol, dan… bibirnya yang menggiurkan. Semua yang ada padanya menyita perhatianku. Jangan gila Cendric dia itu sahabatmu.

“Hei… Cendric kamu tak mendengarku?” sentak Gael dengan wajah sebalnya yang malah terlihat lucu menurutku.

“I… iya aku ngerti kok,”

“Ngerti apanya? Apa, hah? Selalu saja seperti itu jika aku mengajarimu. Jangan-jangan kamu menyukaiku?” Duuuuaaarrrr… gara-gara tindakan cerobohku Gael jadi bisa membaca gelagatku.

“Si… siapa bilang a… aku menyukaimu?” kataku terbata karena aku malu sudah sering dipergoki mencuri pandang pada wajah Gael. Lalu kututup buku tugasku untuk menyudahi semua ini meskipun tugasku belum selesai.

“Buktinya kamu selalu menatapku dengan aneh setiap kali kita bersama.”

“Terserahlah! Aku mau ke rumah Gentha sekarang.” Lalu aku berdiri dan melangkah pergi. Tapi dengan cepat Gael meraih pergelangan tanganku. Benarkan apa kubilang, kadang kita bertingkah layaknya orang pacaran.

“Aku akan mengantarmu.” Jeda. “Ma! Gael pergi dulu sama Cendric,” teriak Gael.

“Tapi jangan lupa buruan pulang buat anterin mama ke supermarket,” kata mamanya Gael yang berjalan menuju posisi kami.

“Kalau gitu aku berangkat dulu, ya?” Lalu Gael dan aku bergantian bersalaman pada Mama Gael tanda minta izin.

“Maaf atas ucapanku tadi,” kata Gael saat aku baru naik ke boncengannya. Aku tak menjawabnya. Gael lalu menarik tanganku untuk berpegangan tapi aku rasa ini lebih pantas disebut memeluknya dari belakang. “Badanku bau ya?” tanya Gael saat aku mencoba merenggangkan pelukkanku pada tubuhnya. Aku tidak yakin dia mengetahui jika aku sedang menggelengkan kepalaku. Lalu dia menarik tanganku lagi jadilah posisiku kembali seperti semula. Memeluknya dari belakang.

***

“Gila… beneran ini rumah Gentha?” tanyaku pada Gael yang berdiri di sampingku. Pantas saja kalau Gentha dibilang tajir. Lihat saja rumahnya yang berdiri kokoh dengam pilar-pilar besar bak kerajaan romawi. Bahkan halaman depannya saja sangat luas mungkin luasnya separuh dari rumahku. Sudah ganteng, tajir, cakep pula, Hidupnya terlalu sempurna. Sungguh beruntung anak ini, pikirku. Urgh… kenapa aku malah mengaguminya? Aku janji ini terakhir kali aku memuji makhluk ketus itu.

“Biasa aja lihat istana milik Mr Ketusmu, hahaha…” Gael malah menertawakan ekspresi konyolku saat melihat rumah Gentha.

“Dia bukan Mr Ketusku, oke?” protesku.

“Terserah! Aku mau balik dulu.”

“Anterin aku sampe dalam dong…,” bujukku pada Gael sambil menarik ujung bajunya.

“Kamu nggak lupakan pesan mamaku?”

“Baiklah aku akan masuk sendiri.” Setelah itu Gael langsung memutar motornya dan pulang. “Permisi,” kataku pada salah seorang satpam yang ada di posnya.

“Ya mas ada apa? Mau cari siapa?” jawab satpam yang bernama M AGUS dengan ramah. Aku tahu namanya dari ‘name badge’nya.

“Mas Genthanya ada?” Sekilas kulihat satpam ini memutar kepala menghadap ke dalam pos.

“Mas Gentha ada di sini. Ayo masuk!” Aku sangat terkejut melihat siapa yang keluar dari pos satpam itu. Ternyata itu adalah Gentha yang sedang menenteng gitar. Kulihat bibirnya tersenyum geli, mungkin menertawakan sapaanku tadi padanya. Aku hanya mendengus dan mengikuti langkahnya. Oh… jadi seperti ini penampilannya kalau sedang di rumah, memakai kaos oblong dan celana jersey. Di tampak berbeda.

“Sini dong! Masak jalan di belakangku kayak pembantu aja.” Dengan gesit Gentha menarikku ke dalam rangkulannya. Kenapa anak ini tidak seperti biasanya? Aneh.

***

“Nih diminum dulu, maaf adanya cuma ini,” kata Gentha sambil menaruh dua gelas minuman berwarna merah dan setoples kue kering. Kenapa saat di rumah dia lebih friendly? Atau ini hanya perasaanku saja? Entahlah. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

“Kamu nggak suka ya sama keadaan kamarku yang amburadul ini?” tanya Gentha ketika melihat ekspresi bingungku.

Aku dan Gentha memang berada di kamarnya yang menurutku sangat fantastis. Di kamar ini terdapat dua buah almari putih yang super besar salah satunya berpintukan cermin atas sampai bawah. Ada meja belajar yang juga berwarna putih, mungkin meja belajar ini lebih layak di sebut buffet menurutku. Juga ada jendela besar yang berada lurus dengan tempat tidur ukuran king size. Tak ketinggalan AC dan kamar mandi. Tapi ya itu, tempat tidurnya sangat berantakan tidak jelas dimana letak bantalnya. Ternyata benar kalau tidak ada manusia yang sempurna karena ini satu nilai minus Gentha.

“Nggak kok malah aku…” langsung kupotong kalimatku. Tidak mungkin kan aku bilang gila rumahmu bagus dan kamarmu keren, gengsi tau. Meski sebenarnya rumahnya memang bagus dan kamarnya memang keren.

“Kamu kenapa?”

“Oh, nggak kok aku seneng-seneng aja berada di kamarmu. Ini tugas anak-anak,” kataku sembari mengulurkan kumpulan kertas yang sedari tadi kupondong.

“Taruh saja di meja belajarku,” kata Gentha yang memposisikan pantatnya di kursi belajarnya. Lalu kuletakkan kertas-kertas itu di meja belajarnya dan setelah itu aku duduk di ujung ranjangnya menghadap ke arah Gentha.

“Kenapa Gael tak diajak masuk sekalian tadi?” Apa dari tadi dia berada di pos satpam? Ngapain? “Jangan bingung gitu karena aku dari tadi di pos satpam lagi belajar gitar sama Mang Agus,” kata Gentha seakan bisa membaca pikiranku.

“Dia harus nganterin mamanya.” Mendengar jawabanku Gentha hanya ber’o’ saja.

“Mana makianmu buatku?” tanya Gentha dengan tiba-tiba yang membuatku agak kaget.

“A… apaku kamu bilang?”

“Tuh kan kamu nggak fokus. Kamu kenapa nervous gitu?”

“Nggak kok aku nggak nervous.

“Lantas kenapa kamu seperti bengong dan salah tingkah gitu?” Gentha mengambil posisi duduk di sebelahku, di ujung ranjangnya.

“Aku hanya bingung saja dengan sikapmu yang berbeda dengan di kampus.”

“Beda gimana maksudmu?”

“Di kampus kamu sangat ketus dan menyebalkan tapi sekarang kamu sangat baik dan…” kugantung ucapanku. “Aku seperti tak mengenalmu,” lanjutku.

“Jadi kamu lupa denganku?” canda Gentha dengan mengulurkan tangannya mengajak berjabatan.

“Bu… bukan itu maksudku.”

“Sebenarnya aku punya alasan kenapa aku ketus denganmu.”

“Alasan?” kutolehkan wajahku menghadap wajahnya.

Deg! Gentha memegang kedua telapak tanganku. Apa yang akan dia lakukan? “Emm… a… aku… sebenarnya aku… aku menyukaimu.” Deg! Deg! Duarrr!!! Apa maksudnya menyukaiku? Dia tak bercandakan? “Aku bersikap ketus supaya aku bisa mendapat perhatianmu.”

“A… apa ini… serius? Kamu tak bercandakan?” Kenapa aku juga ikut gugup begini.

“Whahahahaha…” Gentha menertawakanku dengan kencang bahkan dia sampai memegangi perutnya. Oh! Jadi ini leluconnya? Sudah kuduga. Dasar orang sinting.

BUK!!!

Kutonjok perut Gentha dengan sangat keras. “Ini nggak lucu,” aku langsung pergi meninggalkannya.

“Hei… Cen… Cendric… aku…” Entah apa yang dia ucapkan aku tak mendengarnya dengan jelas. Yang kudengar hanya erangannya sebelum aku keluar ke halaman rumahnya.

Kususuri jalanan perumahan ini dengan hati yang berantakan. Awalnya kupikir Gentha memang baik jika ia di rumah tapi nyatanya malah lebih menyebalkan. Apalagi dia mengucapkan kata-kata yang seperti itu, apa maksudnya. Tidak jauh berbeda dengan Gentha, Gael juga menyebalkan hari ini. Sampai-sampai dia menuduhku bahwa aku menyukainya. Tapi memang benar sih jika aku menyukainya. Dua orang yang ku kenal hari ini sangat menyebalkan menurutku. Shit!

***

“Kamu masih marah ya sama ucapanku kemarin?” tanya Gael yang duduk di kursi di depanku. Kita sedang berada di kantin.

“Penting ya mengungkit masalah kemarin?” Aku masih merasa kesal dengan masalah kemarin either  sama Gael atau sama Gentha.

“Tuh kan masih ngambek,” Gael memelas seperti menyerah menghadapi kemarahanku. “Ngomong dong, Cen.”

“Aku lagi males ngomong.”

“Nah tuh ngomong, hahahaha…”

“Apaan sih?” Kujitak kepala Gael dan dia hanya mengaduh dan tetap terbahak.

“Kalau mau tertawa ya tertawa aja nggak usah ditahan.”

“Arghhh dasar…” kujitak lagi kepala Gael. Karena aku tak bisa menahan tawa maka lepaslah tawaku.

“Nah gitu baru Cendric yang kukenal,” kata Gael sambil mengusak rambutku. Entah kenapa amarahku meluruh diperlakukan seperti ini.

“Hai… Gaga!” sapa seorang wanita yang berdiri di samping Gael. Gaga? Siapa yang dipanggil Gaga? Emang ada Lady Gaga di sini? Aneh-aneh aja.

“Oh Hai… Ay!” sapa Gael saat mengetahui gadis yang ada di sampingnya itu. Ay??? “Muach… muach…” merek cipika-cipiki. “Aduh kenapa kamu nggak ngabarin aku? Akukan bisa menjemputmu,” kata Gael pada gadis yang sekarang duduk di kirinya.

“Aku tahu kamu pasti sibuk makannya aku nggak bilangin kamu dan aku juga langsung ke kampusmu.” Lalu disambung tawa yang menurutku sok cantik. “Hitung-hitung surprise.”

“Berapa hari kamu stay di sini, Ayu?” Oh namanya ‘Ayu’.

“Nggak tahu. Mungkin selamanya,” kata Ayu dengan ekspresi bahagia.

“Selamanya? Jadi kita nggak LDR lagi dong?” ucap Gael tak kalah bahagia. LDR? Apa mereka berpacaran? Tapi kenapa aku tak tahu kalau Gael memiliki seorang pacar.

“Jadi kita bisa selalu berdekatan seperti ini,” kata Ayu yang bergelendotan di bahu Gael. Bitch! Aku harus menahan amarahku. Untuk apa aku harus marah, toh akukan tak memiliki hak apapun atas Gael.

“Uh… dasar manja,” Gael mencubit pipi Ayu dan mengusak rambutnya. Kenapa melihat ini aku seperti ingin marah dan menangis. Kenapa kehadiran Ayu bisa mengalihkan semua indra Gael? bahkan dia tak sempat memperkenalkan aku yang notabene adalah sahabatnya.

Karena aku sudah tidak kuat melihat pemandangan ini maka kuputuskan untuk meninggalkan mereka di bangku kantin ini.

“Hei… Cen mau kemana?” tanya Gael tapi tak kuhiraukan. Sekilas kudengar Ayu menanyakan tentang diriku dan Gaelpun menjawab sekenanya pertanyaan itu.

“Cen… Cendric…” Gael sudah berada di sampingku. Apa dia meninggalkan Ayu? Entahlah, itu bukan urusanku.

“Cendric! Kamu kenapa?” Gael menghentikan langkahku dengan memegang pergelangan tanganku.

Aku mencoba tersenyum untuk menyembunyikan lukaku. “Aku tak apa kok.” Kulanjutkan langkahku tapi Gael manarik tanganku dan memegang kedua bahuku.

“Ada apa denganmu, Cen? Katakan padaku.” Gael mengguncangkan bahuku karena melihatku yang mulai meneteskan air mata. “Oh… apa ini karena aku tidak mengenalkanmu pada Ayu? Kalau memang benar karena itu aku minta maaf.” Jeda. “Kita balik ke kantin aku akan saling mengenalkan kalian.” Gael berusaha mengajakku kembali ke kantin.

“Nggak! Aku nggak mau ke sana lagi.” Aku menghentakkan genggamnya di pergelangan tanganku.

“Bukannya kamu mau kenalan sama Ayu?”

“Aku nggak butuh kenal siapun. Apa lagi yang namanya Ayu,” kataku penuh penekanan. Kulihat wajah Gael sangat terkejut dengan sikapku.

“Apa kamu cemburu dengan ayu?” Gael langsung menohokku dengan ucapannya ini. Benar Gael aku cemburu, batinku.

“Jawab, Cen! Jawab!” nada bicara Gael mulai meninggi.

Kutatap matanya dalam-dalam. “Kamu benar aku cemburu pada Ayu. Dan kurasa kamu juga tahu bahwa selama ini sikapku padamu juga berbeda dibanding sikapku kepada teman-teman yang lain.”

“Sudah kuduga kalau kamu menyukaiku.”

“Aku bukan hanya menyukaimu, Gael.” Sesekali kuusap airmataku berharap dia akan mengering tapi nihil air mata ini terus mengalir. “Tapi aku mencintaimu dan kupikir kamu juga begitu padaku.”

“Cen kamu sadarkan kalau kita…”

Kupotong ucapan Gael karena aku tahu arah ucapannya. “Ya! Aku sadar kalau kita sama-sama cowok tapi apa salah aku mencintaimu? Hah, apa aku salah? Aku tak pernah merencanakan dengan siapa aku akan jatuh cinta.” Airmataku makin deras.

“Nggak, Cen kamu nggak salah mencintaiku. Akupun juga mencintaimu tapi nggak gini caranya. Kita bisa jadi sahabat atau jadi saudara. Tidak untuk pacar.”

“Maafkan aku yang sudah menghancurkan persahabatan kita.” Kulangkahkan kakiku lebar-lebar meninggalkan Gael.

“Cen… Cendric tunggu!” teriak Gael disertai bunyi hentakan kakinya.

Kuhentikan langkahku. “Jangan kejar aku lagi! Please, leave me alone!” bentakku pada Gael dan itu berhasil membuat Gael tak mengikuti langkahku lagi. Kupacu terus kakiku cepat, lebih cepat, dan lebih cepat lagi. Sampai langkahku terhenti karena menabrak.

Bruuk!!!

“Auh… dasar gila,” kataku tak mempedulikan pada siapa aku bicara.

“Siapa yang kamu maksud gila? Aku?” kata seseorang yang berdiri di depanku yang sedang terduduk jatuh. Suaranya? Aduh alamat bencana, batinku. Sudah jatuh tertimpa tangga.

“Hehehe… Magentha,” kataku setelah mendongak melihat siapa orang yang sudah kutabrak. Aku berusaha menghapus airmataku. “Bu… bukan kamu kok.” Kucoba bersikap seperti biasanya.

“Lantas siapa yang kamu maksud? Jelas disini cuma ada aku dan kamu.” Kini Gentha sudah berjongkok di depanku. Setelah kuputar pandanganku, benar juga apa kata Gentha. Gael juga tak terlihat. Itu artinya bentakkanku manjur. Kugaruk tengkukku yang tak gatal ini.

“Ayo berdiri! Apa sampai ajal menjemputmu kamu akan tetap duduk di sini?” Dia mengulurkan tangannya.

“Tidak! Aku bisa berdiri sendiri.” Tapi. “Auhh….” aku merasa lututku seperti kaku dan sakit untuk digerakkan.

“Kamu tak apa?” Entah kenapa wajah Gentha menunjukkan kecemasan.

“Cih… aku bisa berdiri sendiri,” kataku dengan congkak tapi hasilnya kakiku malah terasa sangat nyeri dan aku gagal untuk berdiri lagi.

“Ya sudah kalau tak mau kubantu aku akan meninggalkanmu.” Gentha berbalik dan mulai melangkahkan kakinya.

“Tu… tunggu aku…” belum sempat aku melanjutkan ucapanku tiba-tiba Gentha sudah berjongkok memunggungiku. “Ini apa?”

“Dasar bodoh! Naiklah!” Kuikuti instruksinya untuk naik kepunggungnya. Dengan sekali hentak Gentha sudah berhasil menggendongku.

“Apa sih makanmu sampai kamu seberat ini?” tanya Gael sambil berjalan menyusuri selasar. Kupikir dia berlebihan padahal tubuhku ideal jika dibanding dengan tinggiku.

“Aku makan nasi kok.” Entah kenapa berada di gendongannya membuatku lebih tenang dan nyaman dibandingkan tadi.

“Berarti kamu keberatan dosa.” Kupukul kepala Gentha akibat ucapannya ini.

“Auh… kenapa kamu memukulku?”

“Karena kamu mengataiku. Turunkan saja aku disini!” Ternyata Gentha tidak main-main dengan ucapanku. Dia benar-benar menurunkanku di bangku beton yang ada di sepanjang selasar ini.

“Dah….” Gentha meninggalkanku setelah aku terduduk di bangku beton itu.

“Gentha kamu tak seriuskan meninggalkan aku sendirian di sini, kan?”

“Kalau kamu serius aku juga serius.” Dia tetap berjalan meninggalkanku dengan langkah pelan.

“Ck… kamu tega,” kataku dengan putus asa. Tiba-tiba Gentha berbalik dan berjongkok membelakangiku.

“Naiklah!” Aku tersenyum melihatnya seperti ini. Dia terlihat manis. Kemudian aku naik ke atas punggungnya dan mengalungkan tanganku pada lehernya.

“Makasih ya,” kataku setelah Gentha mulai berjalan.

“Em… lagipula tak mungkin aku meninggalkan orang yang kakinya bobrok sendirian di kampus sore-sore begini. Mau pulang sama siapa dia kalau bukan denganku?”

“Ih… kenapa kamu sangat menyebalkan?” kataku sambil memukuli punggungnya. Tapi entah kenapa Gentha malah terbahak dan sesekali mengaduh memintaku menghentikan perbuatanku ini. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang melihat kami langsung memicingkan mata aneh. Tapi kami tak peduli dengan itu. Dan untung saja ini sudah sore jadi jumlah mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kampus relatif sedikit.

Secepat inikah rasa itu terganti. Tadinya hanya Gael yang mampu membuatku nyaman. Tapi apa karena penolakannya tadi hingga membuatku tidak lagi senyaman dulu atau memang dari dulu aku hanya sekedar mengaguminya sebagai teman tapi aku salah mengartikan rasa kagumku? Mungkin juga memang Gentha yang sudah bisa menaruh namanya di hatiku. Tapi kenapa secepat ini? Kurasa aku sudah gila.

***

“Aww sakit, Gentha. Pelan-pelan saja,” aku merintih kesakitan bukan karena ‘apa’ tapi karena Gentha menekan-nekan lukaku dengan kapas dan alkohol dilanjutkan dengan obat merah. Sekarang Gentha memang membawaku ke klinik kampus.

“Manja banget sih. Luka begini saja sudah merengek seperti anak kecil.” Gentha membebat lukaku dengan kain kasa.

“Kamu bisa ngomong begitu karena kamu tak merasakan luka ini.”

“Jelas karena kakimu yang luka bukan kakiku. Selasai, coba gerakan kakimu,” Gentha sudah selesai membebat lukaku yang berada di lutut.

“Auh… masih sakit. Sepertinya aku kesleo,” kataku setelah berusaha menggerakkan kakiku.

“Memang apa yang membuatmu berlari hingga menabrakku tadi?” Gentha mengalihkan topik.

“Sepertinya kakiku tak hanya kesleo tapi juga bengkak.” Kutatap kakiku yang memang bengkak untuk mengalihkan perhatian Gentha dari topik yang aku tahu kemana arahnya.

“Jangan mengalihkan pembicaraan.” Gentha mengangkat daguku agar mata kami saling menatap. Aku hanya menatapnya dengan diam.

“Katakanlah padaku  aku akan mendengarkannya dengan baik. Tenanglah aku tidak akan menghakimimu.” Sepertinya Gentha keceplosan.

“Kenapa aku harus dihakimi?”

“Ceritakan apa yang terjadi denganmu dan Gael tadi.” Apa Gentha melihat semuanya? “Aku tadi sempat melihatmu menangis di depan Gael.” Sepertinya Gentha adalah cenayang karena beberapa kali dia bisa menjawab apa yang aku pikirkan.

Aku merasa terdesak oleh omongan Gentha dan kupikir siapa tahu dengan aku berbagi masalah ini pada orang lain aku akan merasa sedikit lega. Kan kata orang jika kita berbagi kebahagian maka kebahagiaan itu akan berlipat dan apabila kita membagi kesedihan maka kesedihan kita akan berkurang setengahnya. Maka dari itu aku ceritakan semua yang terjadi padaku dan Gael kepada Gentha.

“Begitulah sebab kenapa aku menangis di depan Gael,” setelah berucap aku langsung menundukkan kepalaku. “Apa kamu tak merasa aneh denganku yang mengaku menyukai sahabatku yang padahal kutahu dia juga seorang cowok?”

Gentha mendekapku. “Kenapa aku harus merasa aneh kalau aku sendiri merasakan apa yang kamu rasakan.” Menurutku kalimat Gentha kali ini sangat ambigu.

“Maksudnya?”

Gentha memegang kedua pipiku. “Aku suka padamu. Aku benar-benar mencintaimu.” Kulepas telapak tangan Gentha dari pipiku. Aku tak percaya dengan kata-katanya kali ini. Aku tak mau dipermalukan seperti waktu itu.

“Ini bukan waktunya bercanda.” Kutundukkan kepalaku lagi. Tapi Gentha langsung mengangkat daguku dan… CUP!!! Dia menciumku dengan lembut. Sedang aku hanya melebarkan mataku. Aku sangat terkejut.

Gentha menghembuskan nafas kuat-kuat setelah menciumku. “Itu kulakukan karena aku sangat menyukaimu sejak kita pertama bertemu di kelas umum. Dan semakin ke sini perasaan itu berubah menjadi rasa sayang. Aku juga mau minta maaf untuk masalah tempo hari lalu. Sebenarnya itu kulakukan benar-benar dari hati.”

“Tapi kenapa kamu menertawakanku setelah itu? Kamu pikir aku tak sakit hati?”

“Maaf. Aku takut jika kamu tahu perasaanku yang sebenarnya kamu malah menjauhiku atau bahkan menghinaku. Jadi kulakukan itu supaya kamu menganggapnya sebagai candaan.”

“Dan kenapa selama ini kamu bersikap seolah-olah membenciku?”

“Karena dengan cara itulah aku tak terlihat canggung di dekatmu.” Kemudian Gentha menggenggam kedua tanganku. “Kamu mau kan menjadikan aku penjaga hatimu?”

“Seperti yang kamu tahu bahwa aku baru saja mengungkapkan perasaanku pada Gael. Aku tidak mau kamu hanya menjadi pelampiasanku semata.”

“Tak apa. Tapi apa aku masih boleh berusaha untuk mendapat tempat di sini, bukan?” kata Gentha dengan menyentuh dada kiriku. Aku hanya mengangguk.

“Maaf jika aku tak bisa berjanji untuk mencintaimu.”

“Aku akan berusaha untuk itu.” Gentha memelukku dengan erat seakan aku adalah sesuatu yang sangat berharga baginya.

EPILOG

“Hahaha… makannya jangan sering pacaran kalau di kampus,” ledek Gentha saat melihat nilai ujianku.

“Uh… kan pacarannya juga sama kamu.” Ya, aku dan Gentha sudah berpacaran sejak dua bulan lalu.

“Percuma punya pacar asdos tapi nilainya jeblok, hahaha…,” ledek Gael yang berjalan di sebelah kananku. Aku, Gentha dan Gael memang berjalan beriringan di selasar kampus.

Aku sangat bersyukur memiliki Gentha karena dialah aku dan Gael bisa akur lagi. Dia bilang bahwa tak baik persahabatan itu terputus hanya karena ego masing-masing. Aku tak habis pikir padahal dia tahu jika aku pernah menyukai Gael tapi dia tetap memaksa aku untuk meminta maaf dan akur lagi dengan Gael. Sungguh kamulah pangeranku yang paling baik, Gentha. Thank God!

“Hina saja terus sampai kalian puas,” aku mulai jengkel dengan mereka berdua.

“Nggak ah dari pada menghinamu dan membuatmu marah seperti dulu mending aku pacaran saja. Bye!” Dengan langkah cepatnya Gael menghampiri Ayu yang sudah melambaikan tangan dan berdiri di dekat gerbang. Sebenarnya Ayu bukan mahasiswa di kampus ini tapi dia sering sekali ke kampus ini untuk menghampiri Gael. Begitupun sebaliknya.

“Husshh… pergi sana biar musuhku berkurang!” teriakku pada Gael.

“Kayaknya kamu beneran kesel ya dapat nilai jeblok?”

“Aku keselnya bukan karena nilaiku yang jelek tapi karena ejekanmu dan Gael.” Aku langsung bersandar pada dinding kelas yang ada di sepanjang selasar ini dan menunduk. Aku benar-benar malu mendapat nilai “C”. “Benar juga kata Gael percuma aku punya pacar asdos tapi nggak mau ngajarin.”

Gentha berdiri di depanku dengan tangan kiri bertumpu pada dinding tepat di sebelah kanan wajahku. “Oke, kamu minta diajari apa? Ini…” Gentha memegang telunjuk kiriku kemudian disusurkan ke bibirnya. “Atau ini?” Sekarang malah dia menyusupkan tangan kiriku ke dalam kemeja flanelnya dan hampir masuk ke area celana dalamnya. Dasar mesum!

PLETAK!!!

Kusentil keningnya hingga bersuara. “Aduh… sakit tau. Kenapa sih kamu nggak bisa diajak romantis?” Gentha terus mengelus keningnya yang memerah.

“Kamu bilang itu romantis? Itu mesum tau.”

“Ck… selalu begini, selalu bertengkar,” kata Gael sambil berbalik memunggungiku. Aku melangkah menghampirinya dan kuselipkan tanganku diantara badannya. Kupeluk dia dari belakang.

“Bukannya aku tidak tahu maksudmu tapi ingatlah kita masih mahasiswa dan masih minta uang jajan sama orangtua. Masa kita mau nglakuin hal-hal kayak gitu,” kataku sambil bersandar pada punggungnya. Gentha memang lebih tinggi dariku tidak seperti Gael yang beda tipis denganku.

Gentha berbalik dan tersenyum. “Tak salah aku memilihmu.” Gentha melingkarkan tangannya di pinggulku.

“Terimakasih!” Kubalas senyumnya. “Aku baru sadar kalau aku hanya setinggi lehermu,” kudongakkan kepalaku untuk menatap wajah Gentha. CUPP!!! Gael menciumku secara singkat.

“Kamu kan memang boncel,” kata Gentha disertai kikikan.

“Kata siapa aku boncel kamu yang terlampau tinggi.”

“Sudahlah jangan berdebat lagi. Ayo pulang keburu sore,” kata Gentha sambil menggenggam telapak tanganku. Aku dan Gentha berjalan beriringan. “I’am yours,” bisiknya pada telingaku. Aku hanya tersenyum dan mempererat genggamanku.

‘Not in that way’ itu bukan kata bermakna buruk menurutku. Mungkin sesuatu yang kamu dapatkan tidak seperti yang kamu harapkan. Mungkin yang kamu inginkan ada di lain tempat, ada di lain waktu, atau ada di lain orang. Yang pasti sesuatu/orang itu juga sedang menunggu untukmu. Tapi jangan sama-sama menunggu tapi sama-samalah menemukan.

 

The End.