LovingSufferingHappyEnds_cover

a Collaboration of Nayaka Al Gibran and Rieka

 

Cuap2 Nayaka

Salam… Postingan ini kuistimewakan buat Rika Dianti atas cerpen Secret Admirer miliknya yang telah menggugahku. Rika, jika kamu kebetulan muncul di sini, aku ingin minta maaf yang sebesar-besarnya bila seandainya kamu tidak berkenan atas beberapa perubahan yang telah kulakukan pada tulisanmu, dan maaf juga jika hasil ekplorasiku terhadap tokoh-tokoh bikinanmu sama sekali jauh dari ekspektasimu, dan… big sorry buat nama-nama karakternya yang satu dua kuganti ya… hehehe… biar terkesan sesuatu aja sih.

Kepada sahabat yang berkesempatan menjenguk kolom ini, kuwajibkan kalian baca sampai habis ke 5 judul short story pada postingan ini, agar pemahaman kalian tidak setengah-setengah. Omong-omong, favoritku adalah Aries sama Libra, bukan karena kisah mereka aku yang nulis, tapi aku tertarik sama simbiosis mereka yang diawali oleh Rieka lewat tulisannya (big thank buat Rieka, kamu menginspirasiku)

Last, semoga kalian menikmati membaca LOVING, SUFFERING AND HAPPY ENDING seperti aku dan temanku, Rieka menulisnya.

Wassalam

N.A.G

############################################################################################

 

SECRET ADMIRER

Oleh : Rieka Dianti

***

Hanya bisa melihatmu..

Tak dapat menyentuhmu..

Sedih..

Kamu berada tepat di depanku, dan aku ada di belakangmu..

Perih..

—————

Sudah selama dua bulan ini aku diam-diam mengikutinya. Bukan hanya mengikuti kegiatannya di akun media sosialnya saja, tapi aku benar-benar mengikutinya dalam arti yang sebenarnya.

Apa aku bisa disebut penguntit?

Aku tidak melakukan hal-hal yang mengganggunya. Sungguh. Aku hanya menunggunya setiap pagi di balik pohon dekat rumahnya. Saat ia keluar dari rumahnya untuk berangkat ke kantor, aku mengikutinya, berjalan di belakangnya sampai ia menunggu bus di halte.

Tidak, bukan hanya sampai halte. Aku akan berdiri satu meter di belakangnya ikut menunggu bus bersamanya di halte.

Saat ia naik bus, aku pun ikut naik ke bus yang ditumpanginya. Terkadang aku rela berdesak-desakan kalau bus itu penuh dengan penumpang, masih berada di belakangnya.

Sampai ia turun di halte dekat kantornya, aku tidak ikut turun bersamanya, tapi aku langsung berjalan cepat menuju belakang bus untuk melihatnya dari kaca belakang bus sampai menghilang dari penglihatanku.

Aku menunggunya di halte dekat rumahnya setiap sore jam pulang kantornya. Terkadang ia turun dari salah satu bus yang berhenti. Terkadang aku melihatnya melewati jalan berada di dalam mobil bersama kekasihnya. Terkadang aku menunggunya sampai berjam-jam dengan tangan kosong, ia tak kelihatan malam itu. Mungkin saja saat itu ia sedang bersama kekasihnya di suatu tempat.

Aku pikir, aku lebih seperti hantu dari pada penguntit.

Ini semua berawal dari ketidak-sengajaan takdir yang membuatku menemukannya. Yah, aku tidak pernah berniat benar-benar menjadi stalker-nya dalam arti yang sebenarnya.

Dulu, aku hanya menjadi stalker dan secret admirer yang diam-diam jatuh cinta pada seseorang di dunia maya.

Seseorang yang bisa menyita waktu dan pikiranku. Saat bangun tidur, profilnya yang pertama kali aku lihat. Begitu juga saat aku ingin tidur, profilnya yang terakhir aku lihat.

Hanya satu sampai dua kali aku chatting dengannya dalam satu bulan, karena aku tidak ingin menunjukan rasaku padanya kalau aku terlalu sering menyapanya lewat chatting.

Tapi semenjak aku menemukannya, saat tidak sengaja aku pindah ke kostan ini karena tempatnya lebih dekat dengan kampusku, ternyata aku melihatnya. Aku menemukannya saat ia keluar dari rumahnya yang berada di dekat rumah kostku. Rumahnya hanya berjarak satu rumah dari tempat kostku.

Aku langsung mengenalinya, karena wajahnya yang fotonya aku simpan di dalam memory ponselku, selalu aku lihat pagi, siang dan malam hari. Jadi bagaimana aku tak mengenali wajahnya yang sudah tersimpan juga dalam memory kepalaku?

Mungkin aku salah orang. Mungkin saja orang yang aku kagumi di dunia maya itu mencuri fotonya dan memalsukan fotonya. Mungkin orang yang baru aku temukan bukan orang yang sama dengan orang yang ada di dunia maya itu. Mungkin saja.

Kenyataannya harapanku yang berharap mereka adalah orang yang berbeda, berharap orang yang keluar dari rumah tetanggaku, ia adalah lelaki penyuka perempuan yang artinya aku punya harapan untuk menarik hatinya. Tapi, harapan itu pupus sudah saat aku melihatnya bersama lelaki yang juga wajahnya tak asing bagiku karena aku juga menyimpan fotonya.

Lelaki itu kekasihnya, begitu yang aku baca dari blog pribadinya yang kutemukan di internet, bukan secara tak sengaja. Yang tidak kusengaja adalah, melihat lelaki itu menciumnya di dalam mobil saat berhenti di depan rumahnya.

Aku hanya bisa tersenyum melihatnya bahagia dengan kekasihnya. Meskipun air mataku mengalir mengiringi senyumku. Aku tetap tak bisa berhenti mencintainya.

Menjadi pengagum rahasia kekasih orang lain, itu sangat menyedihkan.

Virgo Almosh… kapan dirimu akan menyadari bahwa di sekitarmu ada seorang Gemini Virsela yang hampir mati karena mengagumimu?

***

Usiaku 20 tahun, seorang mahasiswi, cantik kata teman-temanku, cukup populer―masih kata teman-temanku, dan belum kawin―ini sungguh-sungguh tertera di kartu pengenalku.

Hidupku baik-baik saja sebelum Libra, sahabatku yang seorang fujoshi memberikan satu link dari sebuah blog yang mengisahkan tentang hubungan sepasang kekasih sesama jenis yang cukup menggugah hatinya sampai ia men-stalker akun media sosial milik Virgo―entah siapa, penulis di blog itu.

Virgo sangat tampan. Kalau kata Libra, Virgo adalah uke dan Leo kekasihnya adalah Seme. Entah sebutan itu didapat Libra darimana, aku pun tidak ingin mencari tahu tentang sebutan itu.

Yang aku tahu, Libra sudah cukup jatuh kagum pada sosok Virgo, selain fisiknya tentunya, pribadi Virgo juga sangat menarik. Dan sialnya, kekaguman Libra tertular padaku, entah karena sosok Virgo sendiri yang penuh pesona, entah karena kuatnya pengaruh Libra terhadapku. Ketika sadar, aku sudah menjadi seorang pengagum. Ah, rasa kagum itu pun sudah satu tahun yang lalu berubah sebelum akhirnya aku benar-benar jatuh cinta pada Virgo.

***

Ini sudah terhitung 5 bulan, semenjak aku pindah ke tempat kos yang membuatku bisa menemukan Virgo. Selama 5 bulan, aku seperti hantu dan bayangan yang selalu mengikuti Virgo dengan diam-diam berada di belakangnya.

Ini hari minggu, Jam 5.00 subuh, aku sudah bersiap menunggu Virgo melewati tempat kostku untuk lari pagi. Yah, aku sudah sangat hapal akan kebiasaaan Virgo dari mulai hari senin sampai hari minggu.

Semalam Virgo pulang jam 10 malam, sendirian. Wajahnya terlihat sembab dan lelah, mungkin saja Virgo baru bertengkar dengan Leo. Ah, itu sudah biasa. Tak sampai satu hari, aku akan melihat mobil Leo terparkir di depan rumah Virgo. Mereka berbaikan kembali.

Aku segera keluar dari kamar saat dari jendela kulihat Virgo sudah berlari melewati rumah kostku. Aku sedikit menjaga jarak agar keberadaanku tidak disadari oleh Virgo.

Punggung itu, punggung yang selalu kulihat dalam lima bulan ini. Punggung yang ingin kusentuh namun tak dapat kucapai. Ah, seandainya punggung itu memiliki mata.

Aku ikut menghentikan lariku saat kutemukan Virgo juga menghentikan larinya. Virgo membungkuk menahan kedua tangannya pada lututnya. Ia terlihat sedang mengatur nafasnya yang memburu.

Tapi ada yang aneh. Sudah hampir lima menit Virgo seperti itu. Aku mencoba mendekatkan jarakku, bergerak perlahan agar kehadiranku tetap tak disadari oleh Virgo.

Virgo terisak?

Ingin sekali aku memeluk Virgo saat ini, tapi itu tak mungkin. Yang bisa kulakukan hanya tetap berdiri di belakang Virgo. Hanya begitu saja.

Tidak lama Virgo melanjutkan larinya lagi. Aku melihat ada sesuatu yang terjatuh dari kantung celana Virgo. Ponselnya.

Detik itu aku ingin berteriak memanggil Virgo, tapi sedetik kemudian niat itu kubatalkan.

Dengan ragu kubuka layar ponsel Virgo dengan tanggal lahirnya. Terkunci. Aku mencoba membuka kunci layar ponselnya dengan tanggal ulang tahun Leo yang sama-sama begitu kuhapal. Terbuka.

Ini keterlaluan, tak seharusnya aku membuka ponsel Virgo, seharusnya aku segera memberikan ponsel ini pada Virgo. Tapi, ternyata keinginan-tahuanku terhadap Virgo, mungkin lebih tepatnya kepedulianku sudah membuatku bersikap kurang ajar seperti ini. Aku hanya ingin mencari tahu apa penyebab dari isakan Virgo yang kulihat pagi ini. Karena sungguh, isakan itu teramat sangat mengganggu ketentramanku.

Walaupun menyakitkan, Aku lebih suka melihat Virgo tertawa mesra, terlihat bahagia bersama Leo. Melihat Virgo terisak seperti tadi, jauh lebih menyakitkan buatku.

Aku serius membaca riwayat sms Virgo dan Leo. Keningku mengkerut saat aku sudah bisa mengambil kesimpulan dari chating mereka. Leo memiliki lelaki lain. Berani-beraninya dia…!!!

***

Seperti pencuri, Aku diam-diam mengendap masuk melewati pagar rumah Virgo. Ludahku terasa bagai karet alot di sepanjang kerongkongan, tubuhku gemetaran. Ini adalah jarak terdekatku dengan rumah Virgo sejauh ini. Sambil menahan debaran dada, aku akhirnya berhasil menaruh ponsel Virgo di depan rumahnya.

Aku bersembunyi di balik pohon, menunggu Virgo kembali untuk memastikan yang menemukan ponsel itu adalah Virgo sendiri.

Virgo datang, keringat terlihat bercucuran di tubuhnya, ia benar-benar tampan. Virgo terlihat sedikit bingung melihat ponselnya berada di depan pintu rumahnya. Mungkin saja ia berpikir kalau ponselnya terjatuh di sana.

Setelah memastikan semuanya, aku berbalik dan tersenyum. Aku seperti orang bodoh, melakukan hal-hal yang tak seharusnya. Tapi, aku melakukannya dengan suka cita.

Kalau Virgo dan Leo berpisah, seharusnya aku merasa bahagia bukan?

Tidak. Nyatanya saat ini aku sedang memutar otak untuk bisa mengembalikan Leo pada Virgo. Mengembalikan senyuman dan kebahagian Virgo seperti sediakala.

Bodoh. Yah, aku memang bodoh. Aku hanya ingin melindungi orang itu. Kupandang jendela kamar Virgo sebelum kulangkahkan kakiku dari sana.

***

“Kamu ngapain sih hari minggu gini ngerem aja di kosan?” Libra menggerutu karena gagal menyeretku keluar menemaninya jalan ke Mall.

Aku mendengus. “Ngapain ke Mall? Gak bosen apa? Tugas nih tugas udah deadline!” aku menunjuk layar laptopku.

Libra tersenyum lebar. “Aku udah dong. Hohoh.”

“Ah, kapan ngerjainnya?”

“Minta tolong sama Kak Aries yang ngerjain. Heheh!” Libra terkikik.

“Isssh! Anak orang tuh, jangan di-PHP-in terus. Ibarat besi mah udah berkarat tuh hati,” cetusku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Cieee, Gemini iri nih..”

“Najis!”

“Udah, ah! Ayoo keluar yuk!” Libra manarik-narik tanganku.

“Males, Lib! Ini tugas seriusan belum beres tahu!” Aku merengut serius.

“Lagian, kamu ngapain aja sih? Ini tugas kan udah tiga minggu yang lalu!” Balas Libra serius.

Aku sibuk Lib, sibuk ngikutin Virgo. Ucapku hanya berani dalam hati. Yah, aku tidak pernah menceritakan apapun pada Libra tentang perasaanku pada Virgo. Bahkan aku tak pernah memberitahu Libra kalau ternyata kosku bertetangga dengan rumah Virgo.

Apa jadinya kalau Libra mengetahui aku bertetangga dengan Virgo?

Apa jadinya kalau Libra mengetahui kalau selama ini aku sudah jatuh cinta pada Virgo? Dan selama lima bulan ini seperti orang bodoh yang selalu berada di belakang Virgo? Libra pasti kena serangan jantung.

“OMG! OMG! OMG!” Libra seperti baru melihat alien. Matanya melotot, membelalak lebar melihat ke luar jendela.

Aku kaget bercampur heran. “Lihat apa sih kamu?”

Belum sempat aku melihat ke luar jendela. Libra sudah berdiri di jendela kamarku sambil berteriak. “VIRGOOO!!”

Deg!

Mampus deh! aku cepat-cepat membungkam mulut Libra, menariknya menjauh dari jendela. Libra memberontak, bahkan ia nyaris menggigit telapak tanganku yang berada di mulutnya.

“Gemiiiiii!” Teriak Libra kesal dengan tindakanku barusan.

Aku tak menggubris omelan Libra. Saat aku sudah tak lagi menyeretnya, Libra dengan cepat kembali menuju jendela. “VIRGOOO!! VIRGOOO!! VIRGOOO!!” Teriaknya sambil melambai-lambaikan tangannya dengan semangat 45.

Percuma saja, Virgo tak akan mendengarnya, karena Virgo pasti sudah berjalan jauh.

“Aiisssss!!” Libra berdecak kesal. Ia berbalik dan ingin mengomeliku. Tapi tentu saja aku tak akan berada di sana, karena bertepatan dengan desah putus asanya aku baru saja menghilang di balik pintu kamar. “Gemiiii!! Geminiiii!!” Libra berteriak mencoba membuka pintu kamar yang sudah kukunci dari luar. “Gem! Sialan buka pintunya!”

Sorry my friend…! Bobo cantik aja yah di sana… Bye!!” tak menunggu amukan Libra, aku bergegas berlari keluar menuju pagar, aku tak ingin kehilangan jejak Virgo. Teriakan Libra samar-samar masih terdengar ketika aku sudah di jalan depan rumah, tak kugubris, nanti juga ia akan diam kalau diteriaki Ibu kost.

Hanya dengan menggunakan celana pendek di atas lutut dan kaos oblong yang terlihat kebesaran di badan, aku terus berlari mencari sosok Virgo.

Aku berhenti berlari dan mengatur nafas ketika sudah kutemukan punggung Virgo di kejauhan. Aku berjalan beberapa meter di belakang Virgo. Virgo berjalan menuju halte, aku tak tahu kemana arah tujuan Virgo sore ini. Tapi aku sudah mantap untuk mengikutinya. Lagi.

Aku hampir berteriak saat sekonyong-konyong sebuah motor nyaris menyerempet Virgo. Virgo bahkan tak memperhatikan jalan saat menyeberang. Sebegitu buruknyakah efek ditinggalkan Leo yang dirasa Virgo hingga membuatnya hilang fokus pada keadaan sekitar?

Virgo masih belum naik ke dalam bus, meskipun sudah empat bus yang berhenti di halte ini. Pikirannya seperti melayang jauh entah kemana. Aku merasa perih melihat Virgo seperti itu.

Saat bus kelima berhenti, Virgo baru beranjak menaiki bus itu. Aku mengikutinya masuk ke dalam bus dan duduk tepat di belakang Virgo. Hari minggu seperti ini, banyak kursi yang tersisa.

Sesekali Virgo menoleh ke samping, melihat keluar jendela. Aku bisa melihat bagian samping wajahnya dengan lekat. Wajah itu, andai aku bisa menyentuhnya.

Saat Virgo turun dari pintu depan bus, aku ikut turun lewat pintu belakang bus. Untung saja di kantong celana pendekku terselip uang sepuluh ribu rupiah, jadi aku masih bisa membayar ongkos bus.

Lalu bagaimana saat pulang nanti? Aku bisa berjalan kaki, atau naik becak dan bayar belakangan.

Virgo menghentikan langkahnya tepat di sebuah rumah yang cukup besar. Aku kemudian mencari tempat persembunyian untuk bisa mengawasi Virgo tanpa ketahuan.

Mataku mengikuti arah yang diperhatikan Virgo di rumah itu. Virgo melihat ke arah balkon yang terletak di lantai dua rumah itu. Di sana tampak ada seseorang yang sedang duduk membelakangi kami.

Itu rumah Leo. Yah, aku tahu itu karena kulihat mobilnya terparkir di sana. Bisa saja Virgo ke sini karena ia tak kuasa menahan rindunya pada Leo. Kenapa ia tak masuk saja?

Pertanyaanku terjawab saat Virgo membalikkan badannya, ia mengusap air mata dari sudut matanya.

Mungkin Virgo menyesal telah mengatakan kata putus pada Leo, karena itu yang kutemukan di ponsel Virgo. Leo mengatakan kalau ia suka pada orang lain, hanya sebatas suka, hanya untuk memberitahu Virgo agar Leo tak merasa bersalah karena sudah menyembunyikan sesuatu dari Virgo. Itu kejam. Dan Virgo langsung mengucap kata putus. Itu wajar.

Tapi, coba lihat apa yang terjadi sekarang. Virgo berdiri di depan rumah orang yang telah melukainya hanya karena ia tak bisa menahan rindunya meskipun sudah dibuat terluka.

Dan di belakang Virgo, ada seseorang lain yang menahan rasa sakitnya, berdiri di belakang punggungnya. Diam-diam menjaganya, hanya untuk memastikan orang yang memiliki punggung itu baik-baik saja. Aku.

***

Virgo duduk di salah satu bangku taman yang tak jauh dari rumah Leo. Di tempat Virgo duduk, tepat di belakangnya, aku duduk di sebuah bangku yang hanya dipisahkan oleh perdu bunga di taman itu.

Langit sudah gelap, aku melihat jam di ponsel, sudah hampir pukul 9 malam, itu berarti sudah hampir empat jam kami duduk di bangku taman ini. Tak ada yang kami lakukan, masing-masing hanya diam. Virgo tentu saja sedang memikirkan Leo, dan aku… yah… segenap sarafku sedang tertuju pada Virgo.

Ponselku dari tadi terus bergetar, namun aku mengabaikannya. Aku harus melakukan sesuatu untuk Virgo. Aku tak bisa hanya diam seperti ini dan membiarkan Virgo larut dalam kesedihannya.

Kubuka menu kontak ponselku, aku sempat menyimpan nomor ponsel Leo yang sengaja kuambil dari ponsel Virgo sebelum kukembalikan.

[Cepat datang ke taman dekat rumahmu. Sudah hampir 4 jam Virgo ada di sini setelah tadi berdiri di depan rumahmu nyaris 1 jam lamanya]

Kukirim pesan itu pada Leo disertai foto Virgo yang diam-diam kuambil untuk meyakinkan Leo kalau pesanku itu bukan pesan dari orang iseng kurang kerjaan.

Leo pasti datang, aku yakin itu. Dari melihat percakapan mereka di ponsel Virgo, sudah cukup meyakinkanku bahwa Leo sangat peduli pada Virgo.

Aku langsung mematikan ponselku setelah yakin pesanku sudah terkirim.

Kurang dari lima belas menit kemudian, Leo datang dengan setengah berlari menghampiri Virgo yang terlihat terkejut dengan kedatangan Leo.

Aku menundukkan kepala saat Leo menarik Virgo ke dalam pelukannya.

Perih. Ternyata hatiku tak sekuat itu. Air mata terjatuh di wajahku yang tertunduk. Mati-matian kutahan isakanku.

Bodoh. Seharusnya aku tidak kemari. Seharusnya… seharusnya, aku yang memeluk Virgo, bukan Leo yang sudah melukainya.

Hanya bisa melihatmu..

Tak dapat menyentuhmu..

Sedih..

Kamu berada tepat di depanku, dan aku ada di belakangmu..

Perih..

Selalu ada dalam bayanganku..

Wajah itu ada dalam bayanganku..

Kumenangis..

Aku tidak bisa mengubah hatiku kembali..

Aku meneteskan air mata lagi dan lagi..

Aku mencintaimu..

Kata-kata yang tersimpan dalam hatiku.. Kata-kata yang tidak bisa aku ungkapkan..

Aku selalu mencintaimu..

Tidak suka berada di belakangmu..

Setiap hari berada di sampingmu..

Ingin..

Aku hanya bisa menelan air mataku..

Pedih..

Aku menginginkan hari seperti itu tiba.. Karena seluruh hatiku sudah tercuri olehmu..

Tak dapat melihat yang lain..

Melihatmu tapi rindu..

Bersama tapi kesepian..

Hanya sendirian mengalami cinta ini.. Ini seperti perasaan yang tak ada akhir..

Sesedih ini..

Tapi, aku bertahan..

Hatiku..

Tak ada yang bisa aku mengerti..

Seperti orang bodoh..

Mengikuti orang yang ada di depan mataku..

Ya, itu kamu…

Aku beranjak bangun dan menjauh dari Virgo dan Leo, menahan sesak yang menghimpit dada, hatiku teriris pedih. Tapi, tak ada satu orang pun yang mengetahui kesedihanku. Tidak orang lain, tidak juga Virgo sendiri. Laki-laki itu tidak akan pernah tahu apalagi tersadar kalau selama ini ada seorang gadis yang begitu dalam mencintainya. Menangis diam-diam karenanya.

Petir tiba-tiba menggelegar dan air hujan turun dengan deras dari langit membasahi tubuhku. Lengkap sudah. Bahkan alam ikut mendramatisir perasaanku saat ini. Aku tetap berjalan di bawah hujan tanpa berniat menghindarinya. Biarlah air hujan membasuhku, berharap ia juga membasuh segala perih dalam dadaku. Biarlah air hujan menyiramiku, menyamarkan air mataku agar tak ada seorangpun yang melihatnya.

Sudah sejam aku berjalan dalam hujan deras. Kaos oblong tipis yang kukenakan sudah basah menempel di kulitku. Aku memeluk diri dengan kedua tangan menahan hawa dingin yang membuatku semakin terisak dalam deras hujan. Ajaibnya, aku tidak tersesat menemukan jalan pulang, seakan kakiku punya mata di saat mataku yang sebenrnya sedang dikaburkan air mata.

Libra sudah berdiri menungguku dengan wajah cemas di depan gerbang kosan. Payung hitam melindunginya. Kutebak ia berhasil mencuri perhatian ibu kos dan menyelamatkannya dengan kunci cadangan.

Tidak ada kata yang keluar dari mulut Libra saat ia melihatku yang sudah basah kuyup berjalan dalam hujan. Libra tahu sahabatnya ini sedang tak baik-baik saja.

Libra langsung memelukku yang gemetar menahan isakan dan kedinginan. “Nangis aja Gem… Keluarin semua yang menyesakkan… Ada aku di sini…”

Mendengar ucapan Libra itu, aku langsung menangis terisak seperti bayi. Isakanku makin menjadi ketika Libra mengusap punggungku.

Patah hati itu menyakitkan. Lalu bagimana bila kamu patah hati berkali-kali dan sekaligus jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama? Cinta sekaligus patah hati yang tak akan pernah ada akhirnya.

***

Libra ikut sibuk membantuku mengangkut barang-barang untuk dimasukkan ke dalam mobil Aries. Ya, akhirnya aku memilih pindah setelah satu bulan aku gagal menyembuhkan patah hatiku yang sampai mengirimku masuk rumah sakit dan dirawat selama satu minggu di sana.

Aku sudah siap, siap untuk mengakhiri statusku sebagai secret admirer dan stalker Virgo. Kalau aku mau menyembuhkan lukaku, langkah awal yang harus aku ambil adalah kembali menjadi diriku yang sebelumnya. Seorang Gemini Virsela sebelum mengenal seorang bernama Virgo Almosh.

“Ada lagi yang mau dibawa, Gem?”

Aku menoleh pada Aries yang sedang mengangkat kardus terakhir berisi koleksi novelku dari lantai teras. Aku bertanya-tanya, sebesar apa harapannya pada Libra? Dan, apakah ia akan mengalami hal serupa sepertiku jika ternyata Libra tidak menaruh hati padanya? Apakah patah hati itu sama kadarnya bagi setiap orang tak peduli ia pria atau wanita? “Gak ada, Kak. Itu yang terakhir.” Aries mengangguk dan menyusul Libra yang sudah lebih dulu menuju mobil.

“Gemini, cepat, nunggu apa lagi?” Libra sudah membuka pintu mobil.

Semua sudah selesai. Tapi masih ada satu hal yang harus aku lakukan sebelum aku pergi. Aku menghela nafas.

“Tunggu sebentar, Lib,” pintaku pada Libra.

Tanpa menunggu balasan Libra, aku melangkah berjalan menuju rumah Virgo. Rumahnya sepi. Mungkin saja penghuninya sedang tak berada di dalam rumah itu.

Kubuka pagar rumahnya yang tak terkunci. Dengan langkah yakin aku masuk melewati pagar rumahnya dan menuju ke pintu depan rumahnya.

Kuletakkan amplop berisi foto Virgo yang aku ambil dengan diam-diam saat ia sedang berdiri di halte menunggu bus. Di belakang fotonya ada tulisan tanganku, ‘i love you and good bye’. Kupikir, ini sudah titik akhir. Meski ia tak akan pernah tahu, ada kelegaan di hatiku karena sudah mengatakan walau bukan di depannya. Kurasa, aku sudah melakukan yang seharusnya.

Setelah meletakkan amplop berisi fotonya, aku langsung bergegas keluar dari pekarangan rumahnya. Kuteliti sekali lagi rumah itu, mengitarinya untuk terakhir kali.

Aku menghampiri pohon yang menjadi temanku selama ini. Pohon yang menjadi saksi, senyum dan air mataku saat aku dengan diam-diam menunggu Virgo di sini.

“Aku akan merindukanmu, pohon..,” gumamku sambil tersenyum.

Aku berbalik dan melanjutkan langkahku lagi.

Deg!

Untuk pertama kalinya kami berpapasan. Aku mencoba menahan nafasku saat ia berjalan melewatiku. Jantungku berpacu mendebar-debarkan dadaku.

Saat ia sudah berjalan melewatiku. Aku menghentikan langkahku.

Aku menoleh untuk melihat punggungnya buat terakhir kali. Punggung yang sudah aku hapal sekali bentuknya.

Deg!

Ia diam dengan tangan yang sudah memegang pagar rumahnya. Dadaku semakin berdegup-degup.

Aku, apa bisa melupakannya?

Virgo menoleh. Ia melihatku.

Kami bertatapan.

“Gemini…!!! Cepatlah…!” Libra memanggilku bertepatan dengan Virgo membuka pintu pagar rumahnya dan masuk ke dalam.

Aku masih melihat punggungnyai. Sekali lagi memberinya senyum meski tak dilihat lalu berbalik melangkah pergi menuju Libra yang sudah berada di dalam mobil.

Good bye, my love…

###

 

 

NEW LOVE

Oleh : Rieka Dianti

***

Dalam masa patah hati, yang harus dilakukan hanyalah tetap melangkah dan melewati semua rasa yang menyakitkan.

——

Malam ini aku masih melihat langit yang sama dengan tatapan kosong. Air mataku menetes lagi mengingat tentang dia. Aku sudah berusaha melupakannya, tapi tenggorakanku terasa tercekat dan aku tidak bisa bicara karena rasa sakit di dalam dadaku yang tidak dapat memudar.

Aku terus bicara pada diriku sendiri untuk berhenti dan memutuskan untuk melupakannya. Tetapi aku tidak dapat melakukan apapun untuk mengurangi rasa sakit yang sudah meretakkan hatiku hingga nyaris hancur. Bayangan dirinya selalu datang kembali padaku seketika aku mencoba untuk melupakannya.

Aku harus bagaimana?

Aku terlalu dalam mencintai, dan karenanya kini aku terluka terlalu dalam pula. Begitu mudahnya dia membuatku jatuh cinta, tapi saat dia memutuskan untuk berpisah, rasanya sangat sulit melebihi apa yang aku bayangkan sebelumnya.

Seperti orang bodoh, aku menatapi layar ponselku melihat profil dirinya lagi. Mungkin saja dia sudah melupakan aku yang masih mengharapkan cintanya di sini. Tentu saja begitu, karena aku tahu sudah ada orang lain yang mengantikan tempatku di hatinya sekarang. Dia bukan lagi milikku, kalimat itu yang masih belum bisa aku terima hingga saat ini. Tapi aku tidak ingin mempermalukan diriku lagi dan lagi dengan memohon padanya untuk kembali padaku. Aku sudah cukup menyedihkan untuk melakukan itu lagi. Aku sadar, bahkan sangat sadar. Bagaimanapun aku berusaha membuatnya untuk bisa melihatku lagi, hal itu tidak mungkin terjadi karena dia sudah pergi terlalu jauh dari hatiku.

***

Hari ini dia datang mengetuk pintu rumahku. Dia tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana bahagianya diriku menemukannya berdiri di depan pintu rumahku. Sesuatu yang sudah aku rindukan begitu hebat. Dulu aku tidak pernah menyangka, melihatnya berdiri di depan pintu rumahku adalah sesuatu yang akan sangat aku rindukan.

Dengan mata yang berkaca-kaca aku menyambut kedatangannya. Harapan yang sudah memupus, tiba-tiba menyala kembali. Berharap dia datang sekarang menemuiku untuk memintaku kembali padanya.

Harapan itu perlahan meredup lagi saat aku melihat ekspresinya, ekspresi yang sama saat dia memutuskan untuk berpisah denganku. “Kamu kurusan.” Komentarnya saat aku mempersilahkannya untuk masuk. Aku hanya membalasnya dengan tersenyum kecil. Tanpa aku jelaskan, dia juga pasti sudah tahu penyebabnya.

“Mau minum apa?” Tanyaku ketika dia sudah duduk di sofa ruang tamu.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya dia mengabaikan tawaranku untuk mengambilkan minum untuknya. Apa dia berpikir aku akan mencampurkan sesuatu ke dalam minumannya?

Aku duduk di sofa tepat di depannya. “Aku baik. Kamu sendiri?” Tanyaku kemudian. Dia tersenyum menjawabku dengan tak melepas tatapannya dariku.

“Apa aku boleh memelukmu?” Aku tertegun mendengarnya. Sebelum aku memberi ijin padanya, dia sudah beranjak bangun dari sofa tempat dia duduk dan kemudian berjalan mendekatiku. Dia duduk di sampingku, aku bisa melihat matanya menatapku dengan tatapan bersalahnya. Aku tidak suka itu.

Aku juga tidak melepaskan mataku dari menatap wajahnya, wajah yang mungkin saja tidak akan aku temui lagi setelah ini. Firasatku yang mengatakannya begitu. Dengan gerakan perlahan dia membawaku dalam pelukannya. “Maafkan aku..,” bisiknya pelan di telingaku. Aku diam, tidak membalas pelukannya. Jelas aku tahu dia ingin memberikan pelukan terakhirnya padaku. Aku mengepalkan jemari tanganku yang sedikit gemetar saat dia berbisik lagi di telingaku. “Aku akan menikah minggu ini…”

Aku bisa merasakan air mataku terjatuh dari sudut mataku yang sudah tidak sanggup menampung bendungannya ketika mendengar dia membisikkan kalimat itu. Jika beberapa saat lalu hatiku retak nyaris hancur, maka sekarang aku bisa merasakan ada yang hancur menjadi puing-puing di dalam dadaku. Begitu perih, rasanya menyesakkan dan memilukan yang mengiris-ngiris hatiku. Seperti ada yang meremas jantungku.

Aku menekan kuat rasa sakit di dalam dadaku. Bukankah aku sudah membayangkan tentang ini dari pertama saat dia memilih seorang wanita yang hadir di antara kami berdua beberapa bulan lalu? Seorang wanita yang sudah ditunggu keluarganya untuk dibawanya ke rumah, diperkenalkan sebagai kekasihnya. Bukan aku  yang selama tujuh tahun ini hanya diperkenalkan pada keluarganya sebagai sahabatnya. Sahabat laki-lakinya.

Dulu dia yang meyakinkan aku bahwa suatu hari nanti dia akan membuat orang lain menerima cinta kami yang dianggap salah dan tidak semestinya karena kami sama-sama laki-laki. Dulu dia yang tidak mau membahas tentang pernikahan saat aku mengatakan padanya kalau suatu hari nanti kami akan menikah dengan seorang wanita, tetapi sekarang dia yang meninggalkan aku saat aku berpikir dia tidak akan menikah dengan seorang wanita karena terlalu mencintaiku. Aku bahkan tidak pernah memikirkan tentang pernikahan lagi karena aku takut dia akan terluka. Tapi nyatanya, akulah yang terluka sekarang. Aku yang sudah kalah dalam kisah ini.

Aku harus menguatkan diriku, paling tidak di hadapannya aku tidak boleh menunjukkan diriku yang sudah kalah. Aku tidak boleh menunjukkan kerapuhanku padanya. Inilah yang seharusnya, dia sudah berjalan di tempat yang seharusnya, aku harus bisa mengikhlaskan dirinya.

Kuhapus cepat air mataku yang terjatuh sebelum melepaskan pelukannya. Aku mencoba tersenyum padanya yang menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Bahagialah. Suatu hari saat kita bertemu lagi, aku akan tersenyum sebagai seorang sahabat untukmu.” Dia tersenyum masih dengan menahan air matanya agar tidak terjatuh saat tangannya menggenggam tanganku, tangan yang harus aku lepaskan mulai detik ini. Aku menepuk-nepuk  pelan tangannya yang memegang tanganku. “Maaf aku tidak bisa datang ke pernikahanmu nanti.” Kataku kemudian dengan jujur. Aku tidak akan sanggup melihat laki-laki ini yang pernah menjadi kekasihku selama tujuh tahun duduk di pelaminan.

Dia mengangguk mengerti. “Kamu pernah menempati tempat terdalam di hatiku,” ada jeda sebentar sebelum dia melanjutkan kata-katanya. “tempat itu masih milik kamu.” Lanjutnya kemudian dengan tersenyum kecil. Aku mengerjap dan menyeringai kecil menanggapinya.

Aku menutup pintu rumahku seketika sosoknya sudah menghilang dari penglihatanku. Air mata yang sudah aku tahan di hadapannya tadi, langsung mengalir deras keluar dari mataku. Seluruh tulang-tulang di sendiku terasa lemas, Aku berjalan tertatih masuk  ke dalam kamarku. Kamar yang pernah menjadi kamar kami berdua. Aku mengitari sisi-sisi dinding di dalam kamar ini yang pernah menjadi saksi saat kami meng-ekspresikan cinta kami berdua. Beberapa minggu terakhir, sisi-sisi dinding ini juga yang menjadi saksi air mataku karenanya.

Malam ini, aku melepaskan semua rasa yang begitu menyesakkan dadaku. Air mata ini akan menumpahkan semua rasa sakit yang menjalar di dalam dadaku. Ini adalah air mata terakhirku untuknya.

Sekarang sudah waktunya untuk aku benar-benar melupakannya. Seperti kata sahabatku, dalam masa patah hati, yang harus dilakukan hanyalah tetap melangkah dan melewati semua rasa yang menyakitkan.

Aku tidak akan pernah bisa move on jika aku masih berdiri di tempatku yang sama sekarang. Dia sudah memilih jalannya, aku juga harus memilih jalanku. Aku tidak harus melupakannya, karena seperti katanya, dia juga pernah menempati tempat terdalam dalam hatiku, dan tempat itu masih untuknya. Yang harus aku lakukan adalah tetap melanjutkan hidupku tanpanya. Membuka lembaran baru lagi di dalam kehidupanku tanpa ada dia lagi.

Memang tidak mudah, dan memang lebih sulit dari apa yang kutuliskan. Tapi akan ada masa dimana rasa sakit dari patah hati adalah proses dari sebuah hati yang kuat untuk menyambut cinta yang baru. Sebuah cinta yang memang dipersiapkan untukku dari proses yang menyakitkan.

Dalam proses yang menyakitkan ini, aku memilih menyibukan diriku dengan hal-hal yang berpengaruh baik untukku. Aku fokus pada pekerjaanku dan berbuah hasil hingga aku mendapatkan promosi jabatan dari atasanku.

Sesekali aku masih mengingat tentang dia, tentang apa yang kami lalui, dan aku tidak berniat untuk melupakannya. Semua itu aku bungkus dalam satu memory yang bernama kenangan. Yang akan membuatku tersenyum saat aku mengingatnya. Terkadang aku masih merindukannya, tapi hanya begitu saja. Hanya sekedar ingin mengetahui tentang kabarnya saat ini, begitu saja.

Semua itu aku lalui tidak seorang diri. Ada seorang sahabat yang selalu berdiri menguatkanku di saat-saat rapuhku. Sahabatku bilang, Tuhan tidak begitu saja membiarkan sesuatu hal tejadi tanpa ada yang DIA rencanakan. Tuhan tidak berdiam diri, DIA sudah menghitung setiap air mata yang menetes dari mata kita. Dan rencana Tuhan itu akan indah pada waktunya. Aku juga mempercayainya, akan ada satu waktu yang indah tentang rencana Tuhan untukku. Kalimat itu bagaikan sebuah sugesti dalam diriku untuk terus berjalan, melangkah maju. Memperbaiki diri untuk menyambut sesuatu yang telah Tuhan persiapkan di depan sana untukku.

***

Aku menoleh saat sebuah tangan menepuk bahuku. “Virgo.” Seseorang yang menepuk bahuku menyebut namaku dengan tersenyum.

“Hai, Leo…,” balasku juga menyebut namanya memberikan senyum sebagai seorang sahabat untuknya. Senyum yang dulu pernah aku janjikan untuknya saat terakhir kali kami bertemu.

Sudah lebih dari satu tahun kami tidak bertemu, dan dia masih belum berubah dari terakhir kali aku melihatnya. Yang berubah hanyalah sesuatu di dalam dadaku. Aku sudah tidak merasakan sesuatu yang menyesakkan di dadaku lagi. Tidak ada lagi sesuatu yang mengiris hatiku membuatnya pedih. Rasa sakit itu sudah menghilang lebih cepat dari yang aku bayangkan.

Aku tidak menyangka hari ini akan bertemu lagi dengan Leo dengan tidak sengaja di pusat perbelanjaan. Leo tidak sendiri, dia bersama istrinya yang sedang hamil besar mengandung anak pertama mereka. Istrinya pergi berbelanja sendiri meninggalkan aku dan Leo seolah memberi kami kesempatan untuk bisa bicara berdua.

Leo mengajakku minum kopi di sebuah cafe. Kami mengobrol banyak hal tentang bagaimana kabar masing-masing selama satu tahun ke belakang. Aku bisa melihat dari matanya, Leo meng-khawatirkan diriku yang mungkin saja terpuruk setelah kepergiannya. Itu tidak salah juga. Aku memang sempat terpuruk, bahkan memenuhi malamku dengan air mata karena merindukannya dari saat dia memutuskan berpisah dulu. Tapi semua itu sudah berlalu lama sekali. Dan aku yakin saat ini Leo juga bisa melihat diriku yang jauh lebih baik dari terakhir kalinya dia melihatku.

Aku hanya tersenyum kecil saat Leo menyinggung pernikahan di tengah-tengah obrolan kami. Yang membuatku tertegun beberapa saat adalah saat Leo mengatakan, kalau aku harus membuka mataku dan hatiku untuk orang-orang di sekitarku.  Leo menyebut nama Sahabatku.

Tidak pernah telintas dalam kepalaku sahabatku menjadi lebih dari sekedar seorang sahabat. Seseorang yang selama ini selalu ada untukku dalam keadaan apapun. Sahabatku yang akan menopang diriku dari belakang saat langkahku mulai tertatih. Sahabatku yang memberikan bahunya tanpa protes membiarkan aku bersandar dan selalu mendengar keluhanku.

Aku pamit pulang pada Leo saat aku ingat tadi sahabatku mengirimiku pesan kalau dia akan menungguku pulang di depan rumahku karena ada sesuatu yang ingin dia berikan. Tangan kami bersalaman untuk mengucapkan sampai bertemu lagi. Yah, kami sudah memutuskan akan bertemu lagi sebagai sahabat. Hubungan inilah yang harus terjaga antara kami berdua.

***

Gadis itu terlihat berdiri di depan rumahku dengan membawa sesuatu di tangannya. Dari pesannya yang terbaca di ponselku tadi, bisa aku perkirakan kalau dia sudah menungguku lebih dari dua jam lamanya. Tapi wajahnya sama sekali tidak terlihat lelah menungguku, karena dia langsung menyambutku dengan senyuman manisnya.

“Aku bawa kue kesukaan kamu.” Gadis itu masih tersenyum dengan menunjukan sesuatu di tangannya. Kenapa aku baru menyadari sekarang? Gadis ini yang masih berstatus sebagai sahabatku sampai detik ini, dia selalu menunggu di depan rumahku hanya untuk memberikan sesuatu padaku.

Entah bagaimana mulanya kami berdua bisa saling mengenal dan menjadi sahabat, yang aku tahu dia sudah mengetahui keadaanku yang berbeda dan dengan begitu saja kami berdua menjadi dekat. Dia menerimaku sebagai temannya tanpa aku harus menutupi keadaan diriku yang sebenarnya.

Sebuah daun kering terjatuh di rambutnya. Gadis itu mengerjap saat aku mengambil daun kering dari rambutnya. Mata kami tidak sengaja bertemu dengan jarak yang begitu dekat.

Aku ingat. Aku ingat aku pernah melihatnya sebelumnya jauh dari awal perkenalan kami pertama kali. “Gemini, apa kamu yang menaruh amplop berisikan fotoku di depan rumahku?” Gemini, aku pernah melihat gadis ini sebelumnya. Kami berpapasan di hari dimana aku menemukan sebuah amplop berisikan fotoku tergeletak di depan pintu rumahku. Mungkin saja Gemini adalah secret admirer-ku.

Melihat ekspresinya yang kaget dan tertegun canggung dengan pertanyaaku tadi membuatku langsung mendapatkan jawabannya. Aku mengulum senyumku saat Gemini tergagap menjawabku.

Yah, yang aku lupakan dan abaikan selama ini adalah membuka mataku untuk melihat seseorang di sekitarku. Aku terlalu fokus dengan rasa sakitku, aku hanya melihat dia yang berjalan di depanku hingga aku tidak menyadari kalau selama ini ada seseorang di belakangku yang memegangi payung melindungi diriku saat melewati hujan.

Dalam masa patah hati, yang harus dilakukan bukan hanya tetap melangkah dan melewati semua rasa yang menyakitkan. Tapi  juga buka mata dan hati untuk melihat seseorang yang ada di belakang kita. Dia adalah orang yang benar-benar peduli pada kita.

Tuhan tidak begitu saja membiarkan semua hal terjadi tanpa ada yang Dia rencanakan. Dan inilah rencana Tuhan untukku. Mungkin saja aku tidak akan merasakan jantungku berdegup untuk seorang wanita, kalau Leo tidak meninggalkanku.

Untuk menemukan cinta baru, kita hanya perlu membuka mata dan hati. Dan aku menemukan Gemini Virsela saat aku membuka mata dan hatiku.

###

 

HEARTACHE

Oleh : Nayaka Al Gibran

***

“Ketika cintamu tidak mendapatkan tempat pada hati yang kamu pilih, itu bukan karena kamu pecundang, tak cukup baik atau tak cukup pantas. Hanya, cintamu butuh sebuah hati yang sedikit lebih luas, sedikit lebih besar dan sedikit lebih lapang untuk menampung cintamu yang besar. Kenapa? Karena kamu dan cintamu spesial…”

————–

Aku jatuh cinta.

Kupikir, aku akan melewati masa mudaku tanpa sempat merasakan jatuh cinta, lalu menikah dengan seorang wanita di saat aku sudah bisa disebut pria dewasa. Meski saat itu mungkin aku akan jatuh cinta pada istriku, tapi saat itu tentu usiaku tidak semuda sekarang. Dan sejauh ini, aku melewati masa mudaku dengan terus berpikir seperti itu, bahkan nyaris meyakininya. Tapi, sekarang aku jatuh cinta. Aku. Jatuh. Cinta. Oh, Godthis can’t be real. Tapi aku benar-benar sedang jatuh cinta.

Aku mengenalnya pertama kali bukan secara tidak sengaja. Kebetulan berada begitu jauh dariku. Dia adik kelasku, aku lebih duluan dua tahun jadi mahasiswa di fakultas kami dibanding dia. Tapi, momen kedekatan kami kupikir bisa jadi adalah sebuah kebetulan kecil. Aku ingat hari itu dia sedang bergelut dengan tugasnya di perpust, tampak begitu depresi dan tidak bahagia. Dan ekspresi tidak bahagianya itulah yang membuatku tertarik memperhatikannya lama-lama. Dan tahukah, ternyata cara kerja cinta itu begitu diam-diam dan senyap. Ada yang berdesir di dadaku dalam masa yang singkat itu. Hatiku berujar heran, apa yang terjadi pada mataku selama ini hingga buta tak melihat kalau Zamera Libra itu ternyata menggemaskan? Jadi, kuletakkan buku di tanganku kembali terjepit bersama buku-buku lainnya di rak.

Kupikir, dia siap merobek buku tugasnya ketika aku datang ke mejanya. Dan ketika kutawarkan bantuanku, dia tersenyum cerah, melenyapkan semua rona tidak bahagia di dirinya, dan anehnya, aku juga turut merasa seakan semua energi negatif meninggalkanku. Lalu, yang dilakukannya adalah, menyodorkan buku tugasnya padaku sambil berujar, ‘Kak Aries datang di saat yang tepat, aku hampir aja bunuh diri’, dan yang kulakukan hanyalah, terpesona pada anak-anak rambut di sekitar wajahnya yang lepas dari kuncirannya.

Dan hanya dengan begitulah, aku jatuh cinta.

***

“Kapan harus dikumpulin?”

Libra memberiku cengirannya, aku hapal sekali gelagatnya yang ini. Itu adalah jawabannya untuk kata ‘secepatnya’ atau ‘dalam minggu ini’ atau ‘besok’

Okey, nanti malam Kak Aries kerjain, besok sebelum ke kelas kamu ambil aja ke kelas Kak Aries, bisa?” Libra mengangguk dan sekali lagi memberiku cengirannya.

Kadang, ingin saja aku meneriakkan padanya kalau aku suka dan sayang dia, kalau aku sudah jatuh cinta padanya. Tapi yang terjadi padaku pada saat yang ‘kadang-kadang’ itu adalah, aku takut dia akan menolakku, atau memberiku jawaban yang lebih meyakitkan lagi : aku sudah menganggap Kak Aries bagai kakakku sendiri. Aku tak ingin dia menolakku dengan jawaban apapun, itu membuatku takut kehilangan perasaanku padanya, cintaku. Aku juga takut jika kunyatakan cintaku, selain menolakku, Libra juga akan menjauh. Membayangkan diriku kehilangan saat-saat kebersamaan kami, saat-saat aku mendapati diriku menyukai semua yang ada pada diri Libra, kehilangan semua detik yang kulewati dengannya, itu membuatku takut luar biasa. Jadi, ‘kadang-kadang’ itu berlalu begitu saja, aku tidak meneriakkan apapun padanya.

“Nanti pulang dengan siapa?”

Libra menyeruput habis es jeruknya hingga sedotannya mengeluarkan bunyi ribut, ini juga adalah kebiasaannya sebelum berlanjut ke kebiasaan lainnya ; membersihkan mulutnya langsung dengan punggung tangannya meski di atas meja jelas-jelas menggeletak kotak serbet. “Sama Gemini, Kak.”

“Oh. Bagaimana kabarnya dia?”

Libra mengangkat bahunya, “Kupikir Gemini butuh suasana baru, kemarin aku baru aja nyaranin dia pindah kosan.”

“Sebenarnya dia kenapa sih?”

Libra tersenyum penuh misteri. “Hanya masalah perasaan aja.”

Aku mengernyit. Libra bilang, ‘hanya’? Tidakkah dia setuju kalau ‘perasaan’ bukanlah masalah yang bisa dikategorikan ‘hanya’?

Libra sejenak menerawang, angin yang berembus dari fan di langit-langit kantin kembali mengusik anak-anak rambut di sekeliling wajahnya. Aku mati-matian menahan hasrat untuk menyentuh helai-helai itu dan menyelipkannya di belakang telinganya.

“Kak Aries pernah mengalami menyukai seseorang dengan begitu dalamnya tapi tak bisa mengutarakan pada orang tersebut bahwa Kak Aries suka?”

Di kursiku, seluruh anggota dan indraku berubah kaku.

“Nah, kira-kira begitulah yang saat ini dialami Gemini. Yang lebih parahnya, kesemptan buat Gemini untuk bersama dengan orang yang dia sukai itu nyaris nol besar, malah kupikir tak ada peluang sama sekali…”

Aku menyukaimu, Libra… apakah kesemptanku untuk bersamamu juga nol besar? Apakah peluangku dapat bersatu denganmu adalah tak ada sama sekali?

“Beberapa hari ini, aku di kosan Gemini sampe larut, mengawaninya melewati fase patah hatinya. Kasihan loh, Kak…”

Aku berdeham, “Gemini naksir suami orang?”

Sejenak Libra tertegun, lalu tertawa renyah dan memukul lenganku. “Enggak, bukan.”

“Terus? Suka sama suami kakak perempuannya? Kok peluangnya bisa sampe nol besar gitu?”

Libra tertawa makin keras, ini juga adalah kebiasaannya dalam menanggapi leluconku, tak pernah tidak tertawa, meski kadang leluconku garing. Kupikir, itu adalah cara Libra menghargaiku. Jadi, kini dia tertawa meski menurutku candaanku kali ini sama garingnya dengan candaanku yang sudah-sudah. Lalu dia meneruskan kebiasaannya ; memukul lengan atau lututku atau kadang menusuk dadaku dengan telunjuknya, seperti sekarang.

“Gemini gak punya kakak ipar.”

“Lalu apa dong?”

“Rahasia.”

Okey, jawaban tugasmu juga bakal rahasia semua kalau gitu…”

“Yah, Kak Aries kok gitu,” rengeknya manja.

Ini juga salah satu kebiasaannya yang kusuka. Kadang aku suka menggodanya dengan menolak membantunya mengerjakan tugas kuliahnya pakai bermacam alasan ; ngantar nyokap ke arisan seminggu penuh, bentrok jadwal fitness, adikku minta dikawani nonton ke xxi, atau tugas sendiri sedang menumpuk. Dan Libra dengan manjanya akan merengek-rengek padaku, sedang aku menikmati caranya merengek padaku.

“Kak Aries, Pleaseplease…” Sekarang Libra mencondongkan badannya ke arahku, menumpukan lengan kirinya di meja sementara tangan kanannya menggoyang-goyang bisepku, wajahnya menampilkan ekpsresi ter-memelas sedunia yang entah dipelajarinya dari mana. Ini adalah salah satu momen yang paling kunikmati, aku merasa jadi hero buat Libra saat aku mengiyakan rengekannya.

Aku tersenyum. “Iya iya… kan tadi udah Kak Aries bilang buat ngambil ke kelas besok.”

Libra tertawa senang. “Makasih, Kak.”

Anytime…,” kataku. Apapun akan kulakukan demi menyenangkanmu, Libra… apapun.

“Aku balik kelas lagi ya, Kak, Pak Dharma tidak menoleransi keterlambatan sesingkat apapun.”

“Okey, sampai ketemu besok.”

Libra mengangguk.

Gadis itu menyandang tasnya, tersenyum singkat padaku lalu berbalik pergi. Kumanfaatkan tempo yang singkat sebelum sosoknya hilang itu dengan memandangi gerakan kunciran rambutnya yang selaras dengan langkah kakinya. Lalu sebuah kesadaran muncul dalam diriku, aku pasti tak bisa hidup tanpa memandang kunciran itu.

***

Libra meneleponku pagi-pagi buta, katanya, dia akan membantu karibnya pindah kosan. Nyawaku belum terkumpul semua saat dia menyebut nama Gemini.

“Siapa Gemini?” tanyaku setengah tidur sambil menendangi selimut.

“Ya ampun, Kak…” Di ujung sana Libra terdengar putus asa. “Itu Gemini, temanku, masa gak ingat sih!”

“Hhooo… iya. Gemini yang menyukai seseorang dengan peluang dapat bersatu nol besar, aku ingat sekarang.”

“Kebangetan,” kata Libra.

Ingatanku tertuju pada Gemini, cewek enerjik yang selama ini selalu tampak ceria setiap kali bertemu. Kata Libra dia baru patah hati dan baru keluar dari rumah sakit. Kasihan, cinta bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan. Pertanyaannya, apakah nasibku tak akan jauh beda dengan Gemini?

“Kak Aries,” panggil Libra.

“Ya?”

“Bantu Gemini pindah mau ya?”

Aku mengucek mata, “Kamu ikut?”

“Tentu saja.”

Aku bangkit berdiri dan duduk di tepi ranjang. “Kak Aries mandi dulu.”

“Oke.”

“Bentar lagi Kak Aries jemput di rumah…”

“Nah, itu oke banget…,” Tawa Libra menghangatkan hatiku.

Aku turun ke bawah menemui mamaku dan memberitahukan padanya kalau aku tak bisa mengantarkannya belanja bulanan karena ada tugas kelompok mendadak. Tapi adikku malah meledekku, katanya, aku tidak benar-benar ada tugas kelompok, tapi punya kencan dengan cewekku, pertimbangan adikku adalah, ini hari minggu. Kalau saja Libra sudah resmi jadi pacarku, kurasa adikku berkata jujur.

***

Kata Libra, Gemini sudah siap menyongsong hari baru di tempat baru. Tapi yang kutemukan di teras adalah, sesosok hantu. Gemini persis orang yang kehilangan motivasi untuk hidup, entah karena dia baru saja sakit atau karena perasaan tak berbalas atau mustahil terbalas yang dipendamnya terhadap entah siapa telah mengikis semua semangat hidupnya hingga tak bersisa. Aku kasihan melihatnya, sekaligus mengkhawatirkan diriku sendiri. Apa aku akan jadi seperti Gemini suatu saat nanti?

“Ada lagi yang mau dibawa, Gem?”

Gemini menolehku sejenak lalu menggelengkan kepalanya. “Gak ada, Kak, itu yang terakhir,” jawabnya lesu.

Kupikir, gadis ini tidak sepenuh hati ingin pindah kos. Bagai ada sebagian kecil dirinya yang masih ingin berada di tempat ini. Tapi dia tentu punya pertimbangan sendiri, dan aku tak punya hak mempertanyakannya. Kususul Libra―gadis yang berhak penuh atasku meski aku belum jadi siapa-siapanya dan dia belum jadi siapa-siapaku selain cinta diamku―yang sudah lebih dulu menuju mobilku dengan jinjingan berisi entah apa milik Gemini.

*

“Kalau misalnya Kak Aries ingin jadi lebih sekedar teman buat Libra, apa pendapat Libra?”

Sudah kuputuskan. Aku tak ingin jadi seperti Gemini, aku tak siap, tak akan pernah siap. Aku tak sanggup jadi seperti Gemini, tak akan pernah sanggup. Gemini memendam perasaannya sekian lama, dan apa yang terjadi padanya? dia berubah jadi mayat hidup. Bagaimana jika dia memendam perasaannya lebih lama lagi? Kupikir, dia akan kehilangan jiwanya.

Aku tak ingin memendam perasaanku kepada Libra lebih lama lagi, aku tak ingin kehilangan jiwa ketika cintaku ternyata tak berbalas. Jadi sebelum aku dan perasaanku berjalan terlalu jauh lagi, berlangsung lebih lama lagi, aku patut mengutarakannya. Jika pun Libra menolak, kupikir aku tak akan jadi serapuh Gemini yang sudah memendam perasaan terlalu lama. Namun nyatanya, aku keliru…

Libra menatapku dengan mimik yang sukar kuartikan. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku tak mengenalnya. Libra berubah asing dan tak terkenali dengan raut wajahnya itu. Kurasakan keringat bergulir di punggungku, luruh mengikuti lekuk tulang belakangku. AC mobilku mendadak tak dingin lagi. Diam Libra merubah susunan udara, mengacak-acak detik waktu dan mengacaukan segala dimensiku. Dan gelengannya serasa bagai tangan gaib yang merampas segala cahaya dalam diriku.

“Aku gak bisa, Kak… maafkan…”

Hanya itu saja. Hanya begitu saja. Ternyata aku keliru. Kupikir aku akan baik-baik saja dan tak akan berubah jadi Gemini. Kenyataannya, aku tepat menjadi seperti Gemini, bahkan mungkin lebih parah.

Libra memalingkan wajahnya. Apakah terlalu sakit baginya melihat tatapanku yang hilang binar? Atau dia merasa bersalah telah memadamkan api yang sebelumnya masih menyala di hatiku? Memadamkan hingga padam, tanpa menyisakan sedikit pun bara hangat.

Gemini, kini aku tahu seperti apa patah hati yang kamu rasakan.

aku jatuh cinta, dulu, dan kini… aku patah hati…

Libra menurunkan kaca mobil, menjengukkan kepalanya keluar. “Gemini…!!! Cepatlah…!”

Di sampingnya, di balik kemudi, aku ingin menukar semua yang kumiliki demi bisa mengundur masa ke beberapa menit yang lalu, dan akan kuperbaiki kesalahanku dengan tak pernah mengungkapkan perasaanku pada Libra…

***

‘So they say that time, takes away the pain but I’m still the same…’

Lagu One OK Rock mengalun sama pilu dengan judulnya dari music playerku, menemaniku menggeletak di kasur. Kata adikku saat membangunkanku tadi pagi, kamarku mulai beraroma tak sedap akhir-akhir ini. Aku ingin mengatakan padanya kalau aroma tak sedap itu disebabkan karena kakaknya jarang mandi akhir-akhir ini, tapi kupikir sebab utamanya bukan itu, tetapi patah hati. Ini adalah aroma patah hati.

Kalau saja kutahu patah hati bisa sesakit ini, tidak aku membiarkan diriku jatuh pada cinta ketika anak-anak rambut Libra memesonaku di perpust suatu waktu dulu. Kalau saja kutahu…

Pintu kamarku terbuka, sosok Leo muncul di pintu. “Kabarnya ada bangkai di kamarmu.”

“Enyahlah…,” sahutku sambil kubenamkan wajahku ke bantal. Kakak sepupuku itu pasti sudah lebih dulu bicara dengan adikku di lantai bawah. Lalu lagu One OK Rock berhenti. Aku mendongakkan kepalaku, Leo Faturrahman baru saja mencabut wayer music playerku. “Aku tidak ingin bicara tentang apapun,” kataku lalu kembali kubenamkan kepalaku ke bantal.

Ranjangku berdecit. Pria itu pasti sudah duduk di tepi tempat tidurku. “Sekalinya jatuh cinta malah berujung patah hati, ck…ck…ck… kasian.”

“Pergi saja!”

“Jarang-jarang datang kemari malah diusir. Patah hati boleh, tapi jangan memusuhi seluruh dunia dong.”

“Bukan urusanmu.” Pertanyaannya, darimana dia bisa menyimpulkan kalau aku sedang patah hati? Jangan bilang dari aroma kamarku.

“Hei, Dik… mau kuberi nasihat?”

“Urus saja dirimu sendiri!” Aku sangsi kakak sepupuku itu mau mendengarku.

“Ketika cintamu tidak mendapatkan tempat pada hati yang kamu pilih, itu bukan karena kamu pecundang, tak cukup baik atau tak cukup pantas. Hanya, cintamu butuh sebuah hati yang sedikit lebih luas, sedikit lebih besar dan sedikit lebih lapang untuk menampung cintamu yang besar. Kenapa? Karena kamu dan cintamu spesial…”

Aku terdiam.

“Suatu saat nanti, kamu akan tau ketika kamu berjumpa dengan pemilik hati luas itu. semua hanya masalah waktu.”

Aku masih mendiamkan diri, tapi kalimat-kalimat Leo masuk sepenuhnya ke kepalaku.

Ranjang berdecit lagi. “Jangan lupa datang ke resepsi pernikahanku, undangannya sudah kukasih sama Bibi.”

Aku mendongak dari bantal, sosok sepupuku sudah di pintu. “Hey…!” Dia berbalik. “Apa kamu pernah patah hati?”

Sejenak dia diam bagai menerawang lalu menggeleng.

“Maka jangan pernah menasehati orang lain tentang patah hati dengan omong kosong apapun seakan kamu sangat paham kayak apa patah hati!”

Sejenak Leo tertegun. “Maaf, aku memang tak paham.” Ada jeda. “Mungkin karena itu aku malah membuat orang lain patah hati…”

“Kamu bajingan,” umpatku lalu kembali kubenamkan kepalaku ke bantal.

Tak terdengar lagi suara Leo, dia sudah pergi. Tapi kalimat panjangnya tentang aku dan cintaku yang spesial tetap tinggal dalam batok kepalaku.

###

 

GUILTY

Oleh : Nayaka Al Gibran

***

“Adakalanya cinta melenakanmu hingga tak ingin bangun, namun ada masa juga ia membuatmu terjaga hingga tak ingin terlena lagi…”

————–

[Virgo, maafkan aku… ada seseorang lain]

Chat itu masih belum kukirim. Sudah berulang kali kuhapus dan kuketik kembali, hanya untuk mendapati kenyataan bahwa pada dasarnya aku memang bedebah payah. Lihatlah betapa pengecutnya aku sekarang, membuat pengakuan lewat pesan instant. Sisi maskulinku pasti akan terluka. Tapi, aku tak akan sanggup melihat langsung duka yang akan kusebabkan pada sosok orang yang kusayangi jika seandainya aku mengaku tepat di hadapannya. Sungguh aku tak akan sanggup.

Maka, kupilih opsi send dengan jari gemetar. Tak lama, pesanku berlabel D sebelum kemudian berubah jadi R. Kubayangkan reaksi Virgo saat ini, satu-satunya bayangan yang kuperoleh adalah : Virgo yang berkaca-kaca dalam tangisan.

[Siapa dia?]

Aku gemetar. Untuk sejenak, pesan Virgo terpampang tanpa reply dariku.

[Bajingan Leo, siapa dia?]

Aku tahu saat ini Virgo sedang kalap, dan marah, dan terluka. Aku sudah mengkhianatinya. [Bukan seseorang yang kamu kenal] ketikku.

[Berapa lama?]

Aku mendiamkan jari-jariku. Seharusnya aku tak pernah mengaku.

[kamu sudah pernah tidur dengannya, hah?]

Kugigit bibirku. [Aku bukan orang seperti itu, Vir]

[Pembohong! Tentu saja kamu sudah pernah tidur dengannya]

[Itu gak benar]

[Kamu bajingan]

Aku tak tahu harus mengetik apa. Virgo sedang dikuasai amarahnya. Oh, hell, aku baru saja mengaku berselingkuh darinya, neraka membeku bila dia tidak marah.

[ternyata selama ini diriku memang tak pernah ada artinya buat bangsat macammu, ya]

[Aku minta maaf]

[Kupikir kamu berbeda, ternyata sama saja dengan peselingkuh-peselingkuh di luar sana. Bodohnya aku pernah mengharapkan dan percaya kalau kamu akan setia selalu padaku… bodohnya…]

Ada yang mengiris-iris dadaku ketika membaca kalimat itu. Aku ingin berada di sana, bersimpuh di kakinya dan meminta maaf telah menyebabkan luka dan kekecewaan sedalam itu padanya.

[Ternyata akhirnya begini ya… terima kasih sudah mengenalkanku pada luka. Mulai sekarang, urus saja jalanmu sendiri dan aku akan berjalan pada jalanku sendiri. Kita selesai… kudoakan kamu bahagia…]

Akan lebih mudah bagiku jika dia mencaciku dengan sumpah-serapahnya ketimbang memberiku pesan senada itu. Sekujur tubuhku serasa disayat-sayat. Tapi aku yakin, kesakitan yang juga turut kurasakan di sini tidak sebanding dengan kepedihan yang Virgo rasakan di sana.

***

[Cepat datang ke taman dekat rumahmu. Sudah hampir 4 jam Virgo ada di sini setelah tadi berdiri di depan rumahmu nyaris 1 jam lamanya]

Pesan dari nomor tak dikenal. Sosok Virgo ikut terpampang di layar ponselku. Di sana itu sungguhan Virgo, setengah meringkuk di kursi taman, sendirian. Hatiku perih dengan serta merta. Hal terakhir yang ingin kulihat di dunia ini adalah, mendapati orang yang kusayangi terpuruk karena diriku, tapi begitulah yang terjadi kini. Di dalam gambar, sosok Virgo tampak begitu terpuruknya.

Tapi, siapa orang yang telah mengirimiku pesan multimedia ini? aku mencoba mendail nomornya, tersambung ke operator. Nomornya sudah tidak diaktifkan.

Tanpa menunggu, aku berlari ke taman.

*

Aku mendekapnya di dadaku, seperti yang selama ini kulakukan. Bedanya, selama ini dia tertawa ketika berada di dalam sini dan aku akan ikut tertawa bersamanya, tapi sekarang, dia menangis. Dan aku turut menangis bersamanya.

“Kenapa, Leo? Kenapa?”

“Maafkan aku, Vir…”

“Apa salahnya… kekeliruan apa yang sudah kulakukan?” Virgo masih terisak di dadaku.

“Tak ada, Vir… tak ada…” Kubelai kepalanya, “bukan kamu, tapi aku yang salah.”

“Apa laki-laki itu lebih baik dariku hingga kamu berpaling?”

Aku diam, tenggorokanku tercekat. “Dia seorang gadis, Vir…”

Dalam pelukanku, tubuh Virgo menegang. Lalu dia melepaskan dirinya dan menatapku lekat. Tak ada kata-kata yang disuarakannya.

“Maafkan aku…” Aku tak bisa meneruskan kalimatku.

Virgo bangun dari kursi taman, mengusap lelehan air mata di kedua pipinya dengan punggung tangan dan berbalik hendak pergi. Aku bangkit dan menahan pundaknya, namun ketika dia menolehkan kepalanya untuk menatapku, kusadari bahwa tak ada kata-kata apapun saat ini yang bisa menyembuhkan lukanya. Jadi, ketika dia kembali berpaling, kulepaskan bahunya dan kubiarkan dia berjalan gontai dengan perasaan bersalah yang sama menyakitkannya.

***

Dia berubah jadi lebih kurus, itu membuatku terenyuh. Tapi, ada binar gembira di matanya yang berkaca-kaca saat menyambutku di depan pintunya, dan itu membuatku kian merasa bersalah. Apakah dia cukup kuat untuk menerima undanganku? Aku dimamah ragu dan terfikir untuk membakar semua undangan itu lalu kembali ke pelukan laki-laki ini.

“Mau minum apa?” tanyanya saat aku sudah duduk di sofa.

“Bagaimana kabarmu?” Aku ingin menjangkaunya, tapi terlalu takut tindakanku malah kian mempersulit keadaan kami.

“Aku baik,” jawabnya sambil duduk di sofa di depanku. “Kamu sendiri?” lanjutnya.

Kami berdua sama-sama tahu bahwa dia tidak baik-baik saja. Kenyataannya, tidak ada seorang pun di antara kami berdua yang berada dalam keadaan ‘baik’ saat ini. Jadi, kutanggapi kebohongannya dengan senyum lemah. “Apa aku boleh memelukmu?” Dia terpegun mendengarku. Menunggu tak ada jawaban, aku bangun dan menghampirinya. Kami bertatapan sesaat sebelum dia membiarkan dirinya kuraih ke dalam pelukanku. “Maafkan aku…”

Sebentuk perasaan kecewa timbul di dadaku saat Virgo tak membalas pelukanku. Aku ingin menyuruhnya membalas pelukanku, karena mungkin ini bisa jadi pelukan terakhir kami, tapi lidahku kelu. Lama kemudian baru aku bisa merasai lagi lidahku, aku berbisik, bukan untuk memintanya balas memelukku…

“Aku akan menikah minggu ini…” Dalam pelukanku, kini dia gemetar. Kupikir, dia sudah menangis sejak tadi-tadi, menangis yang tanpa suara. Namun ketika dia melerai pelukan kami, kutemukan wajahnya tersenyum buatku.

“Bahagialah,” katanya. “Suatu hari saat kita bertemu lagi, aku akan tersenyum sebagai sahabatmu…”

Air mataku rasanya hendak jatuh saja, mati-matian kutahan agar aku tidak menangis di depannya. Aku tak ingin terlihat cengeng. Aku juga tahu dia sama sepertiku saat ini, bahkan pasti perasaannya lebih hancur lagi. Kugenggam tangannya, kami butuh saling menguatkan. Dia menepuk-nepuk punggung tanganku, kupaksakan untuk tersenyum dan otot-otot wajahku serasa kaku.

“Maafkan aku tidak bisa datang ke pernikahanmu nanti.”

Dalam perjalanan kemari, aku sudah menduga Virgo akan berkata demikian, dan aku tak ingin memaksanya untuk hadir, tak akan pernah. “Kamu pernah menempati tempat terdalam di hatiku…” Aku nyaris tercekat karena untuk sekilas kenanganku bersamanya memburuku dari segala penjuru. Lama kemudian baru aku mampu menyelesaikan kalimatku. “tempat itu masih milik kamu…”

Mungkin ini yang terbaik, Virgo tak perlu hadir di pernikahanku, demi kebaikannya, demi kebaikanku. Karena, aku tak sanggup membayangkan Virgo berdiri di satu sudut, terasing dan merasa sendiri di keramaian, sementara aku bersanding di pelaminan, memamerkan senyumku yang setengah palsu sepanjang hari.

Dalam perjalanan pulang, aku berandai-andai, bagaimana jika Virgo yang berada di posisiku? Akankah dia melakukan seperti apa yang kulakukan? Dan begitu saja, ingatanku tertuju pada nomor asing yang pesannya masih tersimpan di ponselku.

***

Namanya Gemini Virsela, sudah kuduga dia seorang gadis. Yang tidak kuduga sama sekali adalah, dia tahu banyak tentangku dan Virgo. Setelah sekian banyak panggilanku ke nomornya yang terabaikan, akhirnya aku berhasil meyakinkannya untuk bertemu. Kutebak, dia masih mahasiswi dari pin berlogo sebuah universitas yang tersemat di tasnya dan juga diktat foto-copy-an yang tidak muat sepenuhnya dalam tasnya. Lagipula, dia terlalu belia untuk bukan seorang mahasiswi.

“Kenapa kamu mengkhinatinya?”

Itu pertanyaan Gemini setelah kami bicara panjang lebar. Aku menghela napas panjang. “Karena aku bajingannya, Gemini…”

Sejenak gadis di depaanku tertegun. “Aku yakin kamu masih mencintainya, tapi kenapa kamu malah tega mengkhiantainya dengan bersellingkuh di belakangnya?”

Kutatap dia. Meski sudah bicara banyak, tetap saja aku masih tak bisa memahami cara Gemini menempatkan dirinya sedemikian rupa antara aku dan Virgo. Gemini tak ubahnya misteri yang tidak terpecahkan bagiku saat ini. “Gemini, adakalanya cinta melenakanmu hingga tak ingin bangun, namun ada masa juga ia membuatmu terjaga hingga tak ingin terlena lagi…”

Gemini kembali tertegun, lalu dia seperti tersengat listrik. “Kamu berselingkuh dengan seorang wanita?” matanya membelalak.

“Aku akan menikah dalam hitungan hari.”

Jelas gadis di depanku ini shock. “Virgo tau?”

Aku mengangguk. “Dua hari lalu aku memberitahunya…”

“Maksudku, dia tahu kamu akan menikah?”

“Itulah, aku memberitahukannya dua hari lalu.”

“Oh, kukira kamu memberitahukan padanya dua hari lalu kalau selingkuhanmu seorang wanita.”

Aku tersenyum.

Congratulation.”

“Trims…”

Hening menggantung di udara. Gemini mengosongkan gelas kopinya dan bangun dari kursi. “Aku harus pergi…”

“Gemini,” panggilku. Gadis itu menatapku. “Bisakah kita bertemu lagi? Aku ingin menceritakan banyak hal tentang Virgo…” Gemini mematung. “Kupikir, yang dibutuhkan Virgo saat ini bukan penggantiku, tapi seorang teman yang tahu dia. Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin membantumu untuk lebih mengenalnya.” Gemini masih tidak menanggapi. “Kamu punya nomorku, kabari saja kapanpun kamu ada waktu…” Gemini tidak mengangguk, tidak pula menyuarakan penolakan.

Setelah sosok Gemini hilang di antara lalu-lalang pengunjung kafé, aku bangun dari kursiku dengan sebentuk perasaan lega. Suatu saat nanti, Virgo… suatu saat nanti…

###

 

HAPPINESS

Oleh : Nayaka Al Gibran

***

“Sesingkat apapun, kebahagiaan tetaplah kebahagiaan. Denganmu, tak peduli waktu yang kupunya begitu singkat, tak peduli esok hari buat kita mungkin tiada, selama kita hidup dan gembira, maka aku ingin melalui setiap detik yang kita miliki, setiap detiknya…”

————–

Aku benci membayangkan diriku bakal jadi penyebab tangisan banyak orang yang kusayang suatu saat nanti. Hal itu membuatku merasa jadi pencuri, aku mencuri kebahagiaan dari mereka, menggantikannya dengan kesedihan. Di saat bersamaan, aku juga merasa jadi pembunuh, aku membunuh banyak harapan, mematikan banyak keceriaan, memadamkan banyak tawa, meninggalkan kekosongan. Tapi, akan lain ceritanya jika aku tidak dicintai.

Gemini bilang, aku tidak punya hak untuk memilih siapa yang kuizinkan untuk bersedih dan siapa yang tidak ketika masa bagiku untuk jadi pencuri tiba. Katanya, aku juga tidak punya hak untuk memilih harapan siapa-siapa saja yang kupadamkan ketika masa bagiku untuk jadi pembunuh juga tiba.

Dan aku menyesal telah memilih Gemini sebagai orang yang padanya kutinggalkan kesedihan dan kubunuh harapannya. Sungguh, aku menyesal. Tanpa ditambah Gemini pun, sudah terlalu banyak orang-orang yang dari mereka kucuri sesuatu berharga seberharga kebahagiaan sebelum kemudian kubunuh. Mama dan papaku adalah dua di antaranya, adik kembarku di urutan berikutnya, kakekku dari pihak Mama, kakek dan nenekku dari pihak Papa, para tetangga, pamanku, bibiku, tanteku, omku, teman-temanku sebelum Gemini, dan Efron―kalau dia juga bisa kugolongkan sebagai orang, tapi katanya, perasaan hewan bisa lebih peka dibanding manusia. Kubayangkan Efron akan mengeong ribut ketika tidak lagi menemukanku di rumah.

Sudah cukup banyak. Aku tak ingin memperpanjang daftarnya lagi dengan menambahkan nama Zamrian Aries di baris penghabisan.

Ada sesuatu yang salah dalam darahku. Kata dokter, leukositku sedikit lebih rakus dari leukosit orang lain. Dan ya, masih kata dokter, aku bisa mati sewaktu-waktu.

Oh, yang benar saja, apa tak ada skenario yang lebih drama dari itu? sayangnya, tak ada. Kupikir, ini sudah yang paling drama. Aku tak ingin membahas penyakitku di sini, abaikan stadiumnya, abaikan terapinya, abaikan sejarahnya bagaimana dan kapan aku tahu diriku mengidap penyakit yang bisa membuatku mengucapkan STK kapan saja ini. Oh, kalian tidak paham apa itu STK? Ah, itu bukan apa-apa, hanya leluconku saja dengan adik kembarku. Selamat Tinggal Kehidupan―jika kalian sungguh ingin tahu.

Jadi, masih kata dokter-dokter itu, aku bisa mengucapkan STK lebih segera jika menolak terapi. Kupikir, persetan, mereka bukan Tuhan. Apa jaminannya terapi-terapi itu bisa memperpanjang umurku dan menundaku untuk jadi pencuri lalu pembunuh? Sama sekali tak ada jaminan. Sekali lagi, tak ada jaminan. Aku mungkin saja mati saat diterapi, bahkan aku mungkin saja mati dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk diterapi, dan… aku juga punya kemungkinan hidup tanpa segala macam terapi itu jika Tuhan mengizinkan. Jadi kupikir, ini hanya masalah keberuntungan yang sudah diatur Tuhan. Aku beruntung jika tidak segera mengucapkan STK dan tidak beruntung jika mengucapkannya terlalu cepat. Selesai.

Yang kupikirkan sekarang justru tuduhan menyakitkan Gemini yang dikatakannya sambil berlinangan air mata. Katanya, aku egois. Sialan benar calon pacarnya si Virgo itu. Apanyaku yang egois coba? Apa dia kira penyakitku ini bisa dibagi-bagi? Dishare kepada semua orang? Apa dia kira penyakitku ini status Facebook?

Namun, ketika berada sendirian seperti sekarang, aku memikirkan tuduhannya itu. Egoiskah aku? Dengan tidak membiarkan seseorang bersedih ketika aku pergi?

‘Kak Aries mencintaimu, Lib… dan kamu malah membunuh cintanya begitu aja…?’

Itu pertanyaan tak percaya Gemini saat aku menceritakan padanya tentang pengakuan Kak Aries ketika aku membantunya menata kamar kos barunya dulu. Pertanyaan itu jugalah yang membuatku menceritakan tentang penyakitku padanya. Saat itulah dia mulai menangis dan mengataiku egois tanpa sungkan, padahal, baru beberapa jam sebelumnya aku membantunya pindah kos.

Aries… ah… kalau saja dia tahu…

***

“Mau sampai kapan, Lib?”

Aku mencibir, “Sampai dia sembuh sendiri,” jawabku asal.

“Udah mau sebulan loh…”

“Belum juga setahun.”

“Kamu harus ketemu dia deh. Kemarin aku jumpa di perpust, dia kurusan, terus, tampangnya berantakan.”

“Lalu, apa aku harus meminjamkannya setrikaan?”

Gemini menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara aku menarik helai-helai rambutku yang tidak lagi melekat di kulit kepalaku dan membebaskannya dari belitan pita rambutku dengan santai seperti bila sedang mengupas kacang rebus.

“Dia berhak bahagia, Libra…”

Sekarang aku memandang Gemini lekat.

“Lebih dari itu semua, kamu juga berhak bahagia…”

Sepeninggal Gemini, aku termenung lama di jendela sampai Efron mendatangi dan menjilat-jilat telapak kakiku yang telanjang.

“Apa yang harus kulakukan, Efron?” tanyaku sambil kuletakkan Efron di pangkuanku.

Meaow…

“Menciumnya? Yang benar saja?”

Meaow…

“Yah, kupikir itu juga mesum. Lagipula, aku tidak tahu bagaimana caranya.”

Meaow…

“Ya, aku tau dia kurusan dan berantakan, salahnya sendiri, kan? siapa suruh naksir aku.”

Meaow…

“Ah, kau memihaknya pasti karena dia juga lelaki sepertimu. Hei, bukan karena dia pernah menggendongmu satu kali dulu, kan?”

Meaow…

Aku menerawang ke luar jendela, gerimis baru saja turun. “Sama, Efron… aku juga kangen dia…”

***

Seharusnya aku menolak tawarannya di perpustakaan saat itu. Dengan begitu, tak akan ada hati yang tersakiti. Tapi aku bodoh. Pada banyak kasus, cinta memang membodohi. Seharusnya, dia tidak mengungkapkan perasaannya padaku. Dengan begitu, aku tak akan pernah tahu perasaannya yang sebenarnya, cukup aku saja yang punya perasaan itu terhadapnya. Seharusnya, penyakit sialan ini memilih orang lain untuk di-STK-kannya dengan segera…

“Seseorang memintaku untuk berbicara dengan Virgo, bagaimana menurutmu?”

Gemini membuyarkan lamunanku di kursi kantin, dia juga mengalihkan tatapanku dari sebuah meja di pojok sana. Kupandang Gemini dengan kerutan di kening. “Seseorang? Siapa?”

Gemini menggeleng.

“Bukannya kita udah saling janji, no more secret…?”

Gemini tersenyum. “Leo…”

Rahang bawahku jatuh. “Kamu ketemu dengannya?”

Gemini mengangguk.

“Dan kamu tak berpikir untuk mengajakku?”

“Leo tidak mengatakan aku boleh bawa teman.”

“Hemm… jadi, kapan kamu akan menemui Virgo?”

“Menurutmu aku harus menemuinya?”

Aku mengangguk mantap. “Pindah kos pun ternyata tidak manjur, kan?”

Gemini mendesah. Dia tahu aku benar. Tak ada yang berubah padanya meski dia sudah tidak tinggal di lingkungan Virgo lagi, Gemini tentu lebih tahu hatinya ketimbang aku. “Dan apa yang harus kukatakan? Kalau aku pernah setengah mati jadi pengagum rahasianya?” tanyanya dengan rona bingung.

“Pernah? Memangnya sekarang tidak lagi?”

Gemini mendiamkan diri.

“Kamu bisa mulai obrolan via sosial media, kan? Kebanyakan hubungan pertemanan yang ideal itu dimulai dari rasa nyaman yang timbul karena kita saling tau dan paham kondisi satu sama lain. Maksudku, kamu tau Virgo gay dan dia tau kamu fujo. Berangkatlah dari situ…” Ekor mataku menangkap gerakan di meja pojok sana, pandanganku teralih sepersekian detik dari sosok Gemini. Tapi gadis ini benar-benar peka, dia langsung memalingkan wajahnya ke pojok kantin sebelum kembali menatapku.

“Kamu pandai menyarankanku ini dan itu, tapi kamu sendiri malah dengan bodohnya tidak melakukan apa-apa untuk menyembuhkan dirimu dan orang yang kamu cintai.”

Sekarang, giliranku yang mendiamkan diri.

“Kak Aries…!!!”

WHAT THE FUCK.

Rasanya aku ingin menelan Gemini bulat-bulat dan akan kukirim ke septic tank esok pagi. Di pintu kantin, laki-laki itu berbalik dan memandang tepat ke meja tempatku berada. Aku gemetaran ketika dia bergerak menghampiri. Gemini kurang ajar!

*

Efron menggosok-gosokkan bulunya ke kaki Kak Aries, kupikir, kucing itu sedang melepaskan kangennya. Sebenarnya aku ingin mengikuti Efron menggosok-gosokkan tumitku ke tumit Kak Aries untuk melepas kangenku juga, tapi aku takut laki-laki itu akan memandangku aneh. Maka, aku hanya duduk diam di sebelahnya.

“Diminum, Kak…” Kupersilakan laki-laki di sampingku untuk mencicipi teh manis yang baru saja diletakkan pembantu rumahku di meja beranda ketika keheningan antara kami mulai terasa aneh.

“Bagaimana kabarnya?” Dia mengabaikan tehnya dan memandangku. Apa dia lupa sudah menanyakan kabarku ketika di mobil tadi?

“Tugasku salah mulu…”

Dia tertawa pendek lalu menggaruk-garuk dagunya yang sekarang ditutupi rambut-rambut halus. Kupikir, selain malas makan, dia juga jadi malas bercukur akhir-akhir ini. “Salah sendiri, gak minta tolong Kak Aries.”

Aku menyengir. “Takut membuat repot, lagipula, Kakak tentu juga punya kesibukan sendiri…”

“Takut membuatku repot, atau takut aku semakin jatuh cinta pada Libra?”

Di antara sekian banyak kemungkinan kalimat yang bisa dia katakan untuk menanggapi ucapanku, mengapa dia memilih kalimat itu? Aku tak bisa berkata apapun, yang ingin kulakukan adalah meneriakkan padanya kalau aku tak ingin dia sedih dan terpuruk ketika aku pergi.

“Kamu jahat, Libra…”

Aku menolehnya.

“Kamu egois…”

Aku mengernyit.

Laki-laki ini berkaca-kaca. “Jangankan membagi kebahagiaanmu pada orang lain, membagi kesedihanpun kamu tak ingin… kamu egois…”

Di kursiku, seluruh sarafku seperti sedang merespon seluruh rasa sakit yang ada di alam semesta. Melihat dia terpuruk dan siap menangis langsung di depan mataku membuatku tak rela. Sekarang pun dia sudah semenyedihkan ini, bagaimana lagi jika suatu hari nanti aku hilang selamanya?

Tangannya menyeberangi meja, menggenggam erat tanganku. “Sesingkat apapun, Libra… kebahagiaan tetaplah kebahagiaan.” Kini aku ikut berkaca-kaca bersamanya. “Denganmu, tak peduli waktu yang kupunya begitu singkat, tak peduli esok hari buat kita mungkin tiada, selama kita hidup dan gembira, maka aku ingin melalui setiap detik yang kita miliki, setiap detiknya…” Kupikir, Gemini sudah mengkhianati kepercayaanku padanya saat aku ke toilet kantin. Aku tak tak tahu harus marah atau berterima kasih padanya nanti.

“Denganku… kamu gak punya banyak waktu, Kak…” suaraku tercekat.

“Aku tak peduli…”

“Aku hanya gak ingin meninggalkan kesedihan bagi terlalu banyak orang, sudah terlalu banyak…”

“Aku tak peduli,” dia mempererat genggamannya. “Kamu dengar!? Aku tak peduli…”

Kini aku menangis.

“Aku hanya ingin kita jujur satu sama lain, Libra… jujur terhadap perasaan masing-masing. Apa jaminannya orang sehat bisa menulis kisah cinta hingga punya anak cucu? Tak ada, mereka juga bisa mati kapan saja, salah satunya bisa saja ketabrak truk, atau tersedak risoles, atau kecebur sungai, atau dimakan buaya…”

Siapa bilang manusia tidak bisa melakukan dua hal yang bertolak belakang di saat bersamaan? Buktinya, aku sekarang melakukannya. Aku tertawa dan menangis di saat bersamaan.

“Bodoh!” cetusnya sambil membenturkan keningnya ke dahiku.

Meaow…

Di kaki kami, Efron mengeong dan memandangi kami dengan mata hijaunya. Ekornya bergerak-gerak sibuk. Kurasa, memang benar naluri hewan lebih peka ketimbang manusia. Efron akan selalu sibuk menggerakkan ekornya bila sedang melakukan hal-hal yang disukainya, seperti ketika dia bercengkerama dengan bola bekelnya di pojok kamarku, atau bila mendapatkan makanan kucing kesukaannya, atau ketika aku membagi jatah susuku buatnya. Dan sekarang, dia juga sedang menggerak-gerakkan ekornya. Aku yakin, dia senang melihatku dan Aries. Aku bertanya-tanya jika seandainya Gemini punya ekor, apa dia juga akan menggerak-gerakkannya ketika esok kukabarkan bahwa aku sudah memutuskan untuk menambah nama Zamrian Aries ke daftar orang-orang yang kebahagiaannya akan kucuri dan semangatnya akan kupadamkan ketika aku pergi?

“Menikahlah denganku…”

Ah, aku terlalu senang hingga telingaku jadi berkhayal kalau Kak Aries memintaku untuk menikahinya.

“Zamera Libra, menikahlah denganku!”

What the…

Meaow…

Ternyata telingaku tidak berhalusinasi. Aku tersenyum memandang laki-laki di depanku dalam ketidakpercayaan. Dia, yang baru resmi jadi pacarku hari ini, memintaku untuk menikah dengannya, dan Efron baru saja bilang kalau aku harus menganggukkan kepalaku.

Meaow…

“Iya, Efron, aku tau… ini kisah cinta yang akan berakhir bahagia…”

 

-FIN-