Metamorfosiskupukupukover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Maafkan karena aku telat banyak. Maafkan juga karena membuat kalian kecewa setiap kali membuka blog ini dan tidak menemukan lanjutan apapun terkait Love Actually. Aku benar-benar kesuntukan masa selama bulan puasa ini. Sangat sulit buatku menemukan waktu yang pas dan nyaman buat nulis di sela-sela kesibukan pekerjaan dan puasaku. Aku sebisanya berusaha agar tidak bikin cerita ‘kayak gini’ di siang hari, bukan apa-apa, kurasa itu hanya sedikit kurang bagus aja untuk dilakukan (jika kalian tau maksudku). Jadi, yang kupunya adalah saat-saat sempit sepulang taraweh yang ditempatku selesainya bisa sampai jam sebelas malam, cukup singkat, karena mataku akan berat dengan sendirinya begitu lewat tengah malam, lalu kasur guling dan bantal tentu saja akan terlihat seribu kali lebih menggiurkan ketimbang layar laptopku yang cuma menawarkan kertas kerja Ms Word. Yang ingin kukatakan adalah, betapa aku ingin menulis namun apa daya waktu tidak memihakku. Tapi, part setelah tanda bintang (***) terakhir itu dengan sangat terpaksa kutulis siang tadi sepulang kerja, karena aku sudah kadung koar-koar mau ngepost Kamis, namun tetap saja lewat hingga masuk hari Jum’at.

Segini dulu. Harapanku, semoga kalian menikmati membaca Metamorfosis Kupu-kupu seperti aku menikmati ketika menulisnya. Satu lagi, cover cantik kali ini dibuat khusus oleh temenku, Azul. Buat Azul, seandainya kamu ada mampir, terimakasih🙂

 

 

Wassalam

n.a.g

 

##################################################

 

Kupu-kupu bisa jadi ciptaan paling indah di bumi

Setiap millimeter anatominya adalah keindahan

Bahkan dua mata majemuknya

Bahkan kakinya

Bahkan belalainya

Bahkan sepasang antenanya

Kupu-kupu bisa jadi ciptaan paling ajaib di bumi

Setiap kepakan sayapnya seperti magis

Menghipnotis

Membius

Memesona pikiran

Memukau indera

Sungguh,

segala yang ada pada kupu-kupu hanya keindahan ajaib semata

yang tidak terjadi begitu saja

yang butuh proses

yang tercipta melalui sebuah metamorfosis

Hebatnya pada kupu-kupu,

bahkan metamorfosisnya pun adalah sebuah proses ajaib yang indah…

***

Di dunia ini, ada dua jenis laki-laki tampan : laki-laki tampan yang bisa kau miliki, dan laki-laki tampan yang cukup sekedar kau kagumi. Jenis pertama, adalah laki-laki yang bisa kau miliki karena dia juga ingin dimiliki dan memilikimu, karena dia membiarkanmu memilikinya, karena dia membiarkan dirinya dimiliki olehmu, tanpa paksaan, tanpa keberatan, tanpa modus, dan tanpa tendensi apapun. Jenis kedua, adalah laki-laki yang cukup sekedar kau kagumi apapun yang ada pada dirinya, sebesar apapun rasa kagummu kau tetap tak bisa memilikinya, setampan apapun rupanya namun ketampanan itu tidak untuk kau miliki, karena keadaan atau karena perasaan. Karena keadaan : mungkin dia karibmu, mungkin dia sepupumu, mungkin dia adikmu, atau kakakmu. Karena perasaan : mungkin laki-laki tampan itu sudah menganggapmu selayaknya adiknya atau kakaknya, apapun, intinya dia tidak punya apapun nama perasaan terhadapmu yang membuat dirinya bisa kau miliki.

Bagiku, Kak Adam adalah contoh laki-laki tampan yang cukup sekedar kukagumi, namun bagi Mbak Balqis, dia adalah jenis laki-laki tampan yang bisa dimiliki. Buatku, Kak Adam tidak punya apapun nama perasaan terhadapku yang membuatnya bisa kumiliki, dan dia menganggapku selayaknya adiknya. Mbak Balqis bisa memiliki Kak Adam karena memang Kak Adam ingin dimiliki dan membiarkan dirinya untuk dimiliki Mbak Balqis, mereka tidak dihalangi keadaan, dan satu-satunya perasaan yang mereka punya adalah perasaan yang bisa membuat mereka memiliki satu sama lain.

Erlangga adalah contoh lainnya. Buatku dia adalah laki-laki tampan yang cukup sekedar kukagumi sedangkan bagi Rani dia adalah laki-laki tampan yang bisa dimiliki. Erlangga karibku, dan dia tak punya apapun nama perasaan terhadapku di luar konteks karib. Erlangga dan Rani tidak punya hubungan kekerabatan, dan Erlangga tidak menganggap Rani selayaknya adiknya begitupun sebaliknya Rani tidak menganggap Erlangga selayaknya kakaknya. Keadaan dan perasaan dalam konteks demikian itu tidak jadi penghalang bagi mereka untuk saling memiliki.

Demikian halnya dengan Kak Gunawan. Bagiku dia tergolong pada laki-laki tampan jenis kedua sementara buat Syuhada dia termasuk laki-laki tampan jenis pertama. Bagiku, Kak Gunawan cukup sekedar kukagumi, namun buat Syuhada, Kak Gunawan―selain bisa dikagumi―tentu saja dapat dimilikinya.

Kak Saif? Skip…!!! Aku gak peduli dia mau dimiliki atau dikagumi oleh siapapun lagi. Kenapa? Karena kupikir selama ini aku sudah cukup peduli pada Makhluk Mars Menyebalkan satu itu.

Bagaimana dengan Orlando―my Orlando?  Perlukah kujawab? Karena kurasa jawabannya sudah demikian jelas kalau Orlando adalah jenis laki-laki tampan yang bisa kumiliki, dan aku juga begitu mengaguminya. Terjawab sudah. Buatku, dia membiarkan dirinya dimiliki, dengan sukarela, dengan penyerahan diri seutuhnya, dengan hati seikhlas kasih ibu. Dengan cinta.

Ah, cinta… apa jadinya alam semesta jika Tuhan tidak menciptakan Cinta? Simple saja : Habil dan Qabil tidak akan saling bunuh dan Adam (mungkin) tetap di surga.

“Apa jadinya aku tanpa kamu, Dil?”

Kutolehkan kepalaku pada laki-laki tampan tempat seluruh hatiku kuletakkan dan kupercayakan tanpa seremah keraguan pun akan dicampakkannya bila-bila masa nanti. Angin sore yang bertiup kuat dari laut yang membentang di depan kami meriap-riapkan rambutnya yang mulai gondrong, menggodaku untuk bersekutu bersama angin dan membuatnya lebih acak-acakan lagi. Sekilas, keadaan kepalanya saat ini membuatku ingat seseorang yang dulu juga pernah duduk bersamaku di sini. Harus kuakui, akhir-akhir ini mereka berdua terlihat makin mirip saja bagiku, lebih-lebih lagi dalam sifat dan pembawaan.

“Kak Lando mau gondrongin rambut?” tanyaku mengabaikan pertanyaannya yang menurutku hanya bisa dijawabnya sendiri itu.

Ombak memecah di batu-batu bendungan di bawah kaki kami, mencipratkan beberapa titik air garam ke pakaian dan ke wajahku juga Orlando. “Apa jadinya aku tanpa kamu, Dil?” ulangnya benar-benar ingin tahu jawabanku.

“Kalau subjeknya dibalik, mungkin aku bisa jawab.”

Orlando memandangku dan menyeringai. “Apa jadinya kamu tanpa aku?”

“Jomblo.”

Orlando terkekeh. “Kupikir, aku akan mendengar jawaban yang lebih berpujangga dari itu.”

Aku menggidikkan bahu. “Lalu, apa jadinya Kak Lando tanpa aku?”

“Duda.”

Aku terbahak. “Sebelum itu terjadi pada Kak Lando, kita perlu bercerai dulu, dan sebelum bercerai, pertama sekali kita harus menikah terlebih dulu…”

“Kalau begitu, ayo kita menikah!” Dia merubah posisi duduknya dari menghadang lautan sekarang jadi menghadapku langsung. Kedua tungkainya dilipat untuk kemudian duduk dengan sikap bersila, badannya condong ke arahku. Tatapannya terlihat meyakinkan.

“Buat apa, biar Kak Lando tau gimana rasanya jadi duda?” tanyaku asal untuk topik tak jelas kami sore ini.

“Tidak jika kita tak bercerai.”

Aku tertawa pendek dan lalu mengikutinya merubah posisi dudukku. Sekarang kami berhadap-hadapan, sama-sama bersila. “Baiklah, kapan kita ke Amsterdam? Kak Lando sudah mesan tiket? Ya ampun, aku belum punya paspor…!!!” ucapku dengan mimik berlebihan untuk menanggapi ketidakseriusan laki-laki di depanku ini.

“Kita tak perlu ke Negeri Penjajah itu untuk menikah.”

“Kita akan dirajam sampai lubang-lubang kayak saringan kalau menikah di sini.”

“Gak akan jika mereka gak tau.”

“Kalau gitu, kita harus cari penghulu yang buta, dan para saksi nikah yang bisu juga tuli,” lanjutku makin asal.

“Saksinya cukup Saif saja.”

“Terakhir kuperiksa, dia tidak tuli dan masih bisa buka rahasia ke siapapun lagi jika dia mau dan cukup kurang ajar untuk melakukannya.”

“Kamu masih kesal sama Saif?”

“Enggak ketika aku sedang tidur.”

Orlando memberiku senyum timpangnya. “Berarti, kalau sedang pipis sedang ngupil sedang mandi sedang ngorek kuping dan sedang cukur bulu ketek kamu masih kesal sama dia?”

“Kalau aku melakukan semua itu sambil tidur, ya gak kesal,” jawabku meladeni ke-tidak-mutu-an pertanyaan Orlando dengan jawaban yang sama tidak berkualitasnya.

Orlando manggut-manggut. “Aku jadi ingin tau, kalau saat kita bercinta yang kemungkinan kita akan melakukannya dengan posisi berbaring atau tidur, kamu masih ingat untuk merasa kesal sama Saif atau enggak.”

“Entah, belum pernah nyoba. Mungkin saat hal itu terjadi, aku malah akan hilang ingatan.”

“Kalau gitu, ayo kita cari tau sama-sama,” timpal Orlando bersemangat.

“Ini maunya yang mana satu sih, nikah apa bercinta?”

Orlando terlihat berpikir. “Karena kita udah punya saksi, kurasa menikah yang harus didahulukan.”

“Aku gak setuju kalau saksinya gak bisu dan gak tuli.”

“Saif bisa jadi bisu dan tuli buat kita, tenang saja.”

“Hemm… trus penghulunya?”

“Mungkin Erlanggga.”

Aku terpingkal hingga nyaris terguling dari batu bendungan. Kutinju pelan dada Orlando dan dia ikut tertawa sambil menangkap lalu meremas lembut jari-jariku yang mengepal. “Edan,” cetusku di sela-sela tawa.

“Iya, ide menikah memang edan, aku menyarankan kita langsung bercinta saja. Bagaimana menurutmu?”

“Bad idea.” Orlando memberenggut seakan kecewa dengan jawabanku. “Tapi kupikir itu akan luar biasa,” lanjutku. Kini dia menyunggingkan senyum puas dan lalu melirik ke pangkuannya. Aku mengikuti arah lirikannya dan wajahku mendadak memanas detik itu juga.

“Alasan apa ya yang masuk akal dan bisa dipercayai orang-orang di rumahmu dan rumahku biar kamu bisa nginap di kamarku nanti malam?”

“Gak tau.”

“Atau aku yang nginap di kamarmu.”

“Entah.”

“Kupikir, aku akan mengendap-ngendap menuju pintu belakang rumahmu lewat tengah malam nanti, trus sebelum adzan Subuh aku akan balik mengendap-ngendap lagi untuk pulang. Gimana?”

“Gak tau,” jawabku singkat. Hanya memikirkan saja apa yang dikatakan Orlando barusan―mengendap-ngendap ke kamarku―sudah sanggup membuatku membayangkan yang tidak-tidak, apalagi jika dia benar-benar melakukannya. Dan membayangkan dia benar-benar melakukannya membuatku jengah sendiri.

“Baiklah, kalau gitu kamu yang mengendap-ngendap ke rumahku lewat tengah malam. Aku bakal stand by di pintu belakang.”

Bagus sekali. Sekarang malah aku yang harus jadi malingnya sedang dia hanya menunggu tenang-tenang saja bersama selangkangannya. Pertanyaannya, yang ngebet siapa yang jungkir balik siapa? “Kan yang kepengen Kak Lando, kenapa harus aku yang kedapatan bagian sulitnya?”

“Setelah bagian sulit itu kamu juga bakal keenakan kok,” timpalnya asal yang membuatku memutar bola mata. “Lagian apa sulitnya mengendap-ngendap? Kan dulu kamu pernah melakukannya saat dijemput dia pagi-pagi buta.”

Aku tahu betul apa yang Orlando maksudkan, dan itu membuatku kehilangan kata-kata.

“Kalau kamu bisa mengendap-ngendap buatnya mengapa untukku enggak?”

Aku kesulitan menjawab, jadinya aku hanya berdiam diri sambil menggaruk-garuk batu tempatku duduk hingga kurasakan kuku-ku menumpul.

“Kamu belum memperlakukanku secara adil. Aku tau kenapa, karena aku gak seistimewa dia, kan?”

Nah, dia mulai lagi dengan kebiasaan lamanya. Membanding-bandingkan. Di antara beberapa sikap menjengkelkan Orlando, bagiku inilah yang paling membuat jengkel.

“Walau aku jungkir balik berusaha hingga langit terjungkal tetap saja dia nomor satunya.”

Aku menahan hasrat untuk mendorong Orlando ke laut.

“Ya udah deh. Gak usah aja. Lupakan aja. Angggap aku gak pernah minta…”

“Owrait, aku akan mengendap-ngendap pukul satu nanti malam!” cetusku akhirnya. “Jika itu bisa membuatmu merasa jadi nomor satu…”

Orlando bengong untuk beberapa detik sebelum seringai kemenangan muncul di wajahnya. “Itu baru pacarku.”

“Kalau kita ketahuan, tanggung sendiri!”

Orlando menggeleng mantap, “Gak sendiri, kita akan menanggungnya berdua.”

Kuraih tali ranselku dari batu lainnya lalu bangkit berdiri. “Pulang.”

“Dan melewatkan sunsetnya?!?” tanya Orlando dengan berseru.

“Udah gak mood.”

“Gara-gara aku?” bisa kudengar sandalnya menapak di batu mengikutiku.

“Gara-gara aku membiarkanmu merusak moodku.”

“Oh ayolah, Dil… aku sengaja berlama-lama sejak dari kampus biar kita bisa ngeliat matahari terbenam berdua sebelum pulang.”

“Kapan-kapan aja,” kataku tanpa berhenti bergerak menuruni bebatuan.

“Aku gak mau pulang!” tidak terdengar lagi bunyi sandal Orlando di belakangku.

Aku berbalik, kudapati Orlando tegak bersidekap lengan di dada, wajahnya keruh. Dia menatapku dengan ekspresi campuran antara kesal dan memelas. Kuulurkan tanganku ke arahnya setelah berdiam diri beberapa detik lamanya. “Ayo!”

“Ke mana?” tanyanya mengabaikan lenganku yang terulur.

“Pulang,” jawabku singkat.

“Aku gak akan kemana-mana sebelum kita berciuman saat matahari terbenam nanti. Aku sudah membayangkan itu berkali-kali sejak tadi pagi, jangan kamu berani-berani merusaknya!”

Aku mendesah, dalam hati merasa geli sendiri mendengar pengakuan jujur Orlando tentang khayalannya untuk menciumku dalam simbahan sunset. Itu terdengar romantis semata, dan jika saja dia tidak menggiring obrolan kami pada ‘endap-mengendap’ yang berujung pada ‘banding-membanding’ pasti dengan senang hati aku akan bertahan membatu di atas batu hingga dia menciumku. Tapi aku sudah kadung ingin pulang. “Kita udah sering melewati matahari terbenam berdua…”

“Tapi tidak sambil berciuman!” potongnya.

Aku memutar bola mata, “Kehilangan satu kali kesempatan hari ini gak akan membuat kita rugi apapun.”

“Aku rugi!”

“Kak Lando mau pulang atau enggak?!?”

Orlando bergeming.

“Pilih mana, ngeliat sunset sekarang atau aku ke kamarmu nanti malam?” Sekilas kutemukan kilat gembira dalam mata Orlando.

“Itu,” tunjuknya ke ufuk Barat yang langitnya mulai kelabu, “gak ada apa-apanya dibanding kamu,” jawabnya yakin dan tanpa menunggu lalu mulai menuruni bebatuan dan menjangkau tanganku, “dengan syarat, kita gak hanya sekedar tidur berdua tanpa melakukan aktivitas seksual apapun.”

“Kak Lando bosnya,” jawabku sekenanya. Dia pasti tak benar-benar serius dengan kalimat terakhirnya itu.

***

Aku bergerak-gerak gelisah di atas tempat tidurku, melirik weker nyaris setiap lima menit sekali dengan jantung yang berdebar tak karuan, makin tak karuan seiring bertambahnya frekwensi lirikanku. Pukul dua belas tiga puluh lima. ‘Jangan lupa nanti malam,’ itu perkataan Orlando saat menurunkanku di gerbang petang tadi. Akibatnya, percakapanku dengannya sore tadi pun terus terngiang tanpa jeda di dalam kepala sejak aku merebahkan diri lewat pukul sebelas tadi. Aku menimbang-nimbang untuk memejamkan mata dan berharap terlelap seketika, berpura-pura bahwa aku tidak memberi janji apapun pada Orlando dan berharap keesokannya dia akan percaya saat aku beralasan tertidur tanpa disengaja ketika menunggu jam satu.

Tapi aku tak ingin berbohong pada laki-laki itu.

Bahkan jika pun aku ingin berbohong pada Orlando, kurasa aku tak akan bisa melakukannya dengan baik, aku tak bisa meyakinkan padanya bahwa kebohonganku adalah sebuah kejujuran. Dia pasti akan tahu. Dan lalu mulai mencela dirinya sendiri yang tidak seistimewa pacarku sebelumnya dan blah blah blah sehingga tidak layak kuperlakukan istimewa. Selalu begitu. Dan dalam penerawanganku, akan selalu begitu. Karena hal demikian sepertinya sudah jadi efek samping yang sifatnya menetap bagi Orlando dalam menyikapi caraku mencintainya.

“Baiklah, Pejantan…” Aku menyingkirkan selimut dan bangkit duduk, “mari kita lihat hal buruk apa yang bisa kita sebabkan jika kita bermalam berdua,” lirihku sendirian dalam keheningan kamar yang dibisingi satu-satunya hiruk-pikuk detak weker.

Dua belas lima puluh lima.

Aku terlonjak ketika hapeku menderingkan nada pesan. Kujangkau benda itu dari atas buffet. Aku bahkan sudah tahu sebelum melihatnya kalau pesan itu dari Orlando. Dia benar-benar tak ingin melewatkan kesempatan ini.

[Aku di pintu belakang]

Tentu saja. Dia di pintu belakang. Menungguku mengetuk. Seperti kataku. Menunggu. Enteng. Dengan selangkangannya.

[Ngapain di situ?] ketikku, berharap Orlando membalasnya dengan menyuruhku kembali tidur dan memimpikannya.

Balasannya segera kuterima lima detik kemudian setelah pesanku terkirim. [Aku tak akan menyuruhmu kembali tidur. Tanggalkan pakaianmu dan segeralah kemari, Manis]

Apa laki-laki itu bisa telepati? Bagaimana dia bisa membaca pikiranku? Atau, dia sudah cukup mengenalku hingga ke nukleusku sehingga bisa tahu apa yang sedang kupikirkan ketika menghadapi kondisi semacam ini. Tapi… dia memanggilku ‘Manis’. Itu yang pertama kalinya. Di atas tempat tidur, aku tersenyum sendiri.

[Katakan sekali lagi…] balasku.

[Tanggalkan pakaianmu dan segeralah kemari]

[Bukan itu, yang di ujung tadi]

Aku menunggu hingga nyaris semenit dan Orlando tidak mengetik apapun. Apa pulsanya habis? Apa quota internetnya juga habis? Atau, dia menyesal menyebutkan kata ‘manis’ dalam pesannya?

[Manis]

Sekali lagi aku tersenyum sendiri. Belum sempat kuketik balasannya, pesan susulan dari Orlando muncul lagi di layar.

[Tuh, udah. Sekarang cepatlah kemari, jika tidak, aku yang akan menggedor-gedor pintumu!]

Tanda pentung di akhir. Aku menghela napas panjang dan turun dari tempat tidur. Kukembalikan hape ke atas buffet dan lalu setengah berjinjit menuju pintu, masih dengan berjinjit kuturuni tangga lalu berbelok ke dapur. Rengek ASJ sempat membuatku kaku di depan kulkas. Ketika keadaan kembali senyap, kulanjutkan berjinjit bagai maling untuk mencapai pintu. Saat berkutat dengan kenop pintu yang akan memberiku akses ke halaman samping dan halaman belakang, aku merasakan sensasi déjà vu. Yang kulakukan saat ini sama persis dengan apa yang kulakukan satu kali dulu : mengendap-ngendap saat pagi buta untuk menemui pacar lelakiku. Tingkahku benar-benar memalukan. Tapi adrenalin yang meledak-ledak di dalam diriku memberiku dorongan aneh untuk terus melangkah.

Well, kini aku tahu seperti apa rasanya backstreet dengan tetangga sendiri yang sama-sama lelaki selain mendebarkan, itu adalah : MENDEBARKAN, pakai kapital!

Kabar baiknya, aku berhasil menutup pintu tanpa bunyi apapun. Udara dini hari menampar-nampar kulit wajahku dan kulit betisku yang terbuka begitu aku berada di luar. Rasanya bagai berdiri di depan kulkas yang pintunya menganga.

Kabar baik selanjutnya adalah, aku tidak tersandung atau lebih buruk lagi tersangkut di celah kecil di pagar pembatas halaman rumahku dan rumah Orlando. Aku melewati pintu kecil itu dengan mulus, tanpa sebarang derit karatanpun terdengar ketika pintu besinya kudorong perlahan. Dan aku bangga dengan diriku. Bakatku dalam mengendap-ngendap sudah setara dengan keahlian maling ayam professional.

Saat ini, bayangan tentang hantu dan segala jenis makhluk halus sama sekali tidak menggangguku. Satu-satunya hal yang menggangguku saat ini adalah : bagaimana rasanya bercinta dengan Orlando? Oh well, sebenarnya hal itu sudah menggangguku sejak sore tadi di bendungan.

Aku menemukan siluet jangkung Orlando di pintu belakang rumahnya yang sedikit membuka. Bahkan dalam gelap, aku bisa tahu bahwa sambil berdiri, sekarang dia juga sedang menyeringai padaku. Aku berhenti selangkah di depannya dalam keremangan cahaya lampu yang menerobos dari dalam rumahnya.

Dia hanya mengenakan celana pendek yang ujungnya bahkan tidak sampai ke pertangahan pahanya. Dan celana pendek itu, sama sekali tidak menyisakan celah, seakan itu bukanlah celana, melainkan cat yang ditorehkan langsung di atas kulitnya. Itu adalah jenis celana pendek yang hanya akan kupakai sebagai pengganti celana dalam saja. Tapi Orlando memakainya sekarang, entah untuk pengganti celana dalam atau untuk alasan lain yang terlalu enggan kupikirkan lebih lanjut. Dalam remang, aku samar-samar bisa melihat otot-ototnya yang bertonjolan dari pundak hingga ke kakinya. Dia indah.

Tanpa sadar, aku sudah menelan ludahku berkali-kali.

“Kenapa lama sekali?” bisik Orlando nyaris tak terdengar.

“Itu bukan perkerjaan yang bisa dilakukan dengan berlari,” balasku sama pelannya.

Orlando tidak meningkahi lagi, dia mundur selangkah sambil melebarkan daun pintu, memberi celah lebih lebar untuk kulewati. Aku berusaha untuk tidak menyentuhnya ketika melewati ambang pintu. Orlando menutup sekaligus mengunci pintu lalu mendahului berjalan di depanku, tanpa mau repot-repot berjinjit seperti yang beberapa saat lalu kulakukan. Laki-laki itu bergerak santai sebagaimana caranya berjalan biasanya, sama sekali tidak merasa khawatir langkahnya akan menimbulkan gema di lantai dan membangunkan seseorang. Dan apa yang kulakukan di belakangnya? Tentu saja, konsisten berjingkat-jingkat bagai maling ayam takut ketahuan.

Keadaan kamar Orlando masih sama seperti kali terakhir kumasuki. Lampu tidur di sisi ranjang berpendar redup, warnanya nyaris biru dan untuk sejenak aku menemukan sosok Orlando bagaikan sosok-sosok di film Avatar, berkulit biru, hingga berangsur-angsur pandanganku mampu beradaptasi dan kembali mendapati Orlando sebagai Orlando.

“Mau gosok gigi dulu?” bisik Orlando sambil berbalik setelah menutup pintu kamar.

“Kenapa harus gosok gigi dulu?” tanyaku tak paham sebelum segera sadar maksud laki-laki nyaris telanjang yang sedang berdiri menggoda di depanku itu. “Emm… aku sudah gosok gigi sebelum tidur tadi…”

Orlando menggaruk-garuk dagunya. Lalu pandangannya menyapuku dari kepala hingga kakiku yang menapak di lantainya, membuat bulu-bulu di lenganku berjingkrakan, seakan pandangan itu bukanlah pandangan tetapi sentuhan langsung di seluruh permukaan kulitku. Kalau dia tidak segera menopangku, aku khawatir lututku diserang polio, karena rasanya aku tak kuat berdiri lebih lama lagi di bawah tatapannya yang terasa demikian intimnya.

“Bukannya di esemes tadi aku sudah menyuruhmu menanggalkan baju, ya? Kenapa sekarang masih memakainya?”

Panas menjalar dari perut menuju dadaku saat Orlando berbisik demikian sembari mendatangiku. “Aku belum gila untuk berkeliaran di luar rumah dalam keadaan bugil.”

“Bagaimana kalau sekarang? Kan sudah enggak di luaran…”

“Bisakah kita langsung tidur saja, Kak?” bisikku memelas.

Aku nyaris tak percaya ketika Orlando menganggukkan kepalanya. “Tapi sebelumnya kita harus melepas ini dulu…,” katanya kemudian untuk memupus percayaku yang nyaris. Dia menutup jarak dan dengan sigap menarik kausku melewati kepala sebelum dilemparkannya untuk teronggok entah di bagian mana lantai kamarnya.

Untuk sejenak, aku bengong bagai patung sampai Orlando mencengkeram daguku dengan sebelah tangannya sebelum menciumku tepat di bibir. Tepat di bibir. Mulutnya menutup mulutku sepenuhnya. Aku terperanjat di tempatku berdiri. Mataku membelalak.

Kami pernah beberapa kali berciuman sebelumnya, tapi cara Orlando melakukannya kali ini berbeda sekali. Aku menerka-nerka dia menghabiskan waktu menunggu kedatanganku dengan membuka salah satu situs bokep di internet untuk belajar cara mencium begini rupa.

Aku lumer. Rasanya dadaku siap meledak karena entah jantung entah hatiku membengkak dan mengembang, atau malah keduanya sama-sama mengembang . Oksigen mendadak menjauhi kamar Orlando hingga aku kesulitan bernapas. Mengingat mulut Orlando sedang menutup seluruh mulutku, maka wajar saja aku kehilangan kemampuan bernapas normalku. Secara ajaib, rasanya aku bagai melihat kembang api meletup-letup di atmosfir kamar. Kekurangan oksigen ternyata bisa membuat kita berhalusinasi. Kedua tanganku mulai menggapai-gapai tanpa tujuan, bagaikan tenggelam di kolam. Tangan Orlando yang bebas kemudian menangkapnya dan ditempelkan di dadanya, menangkap yang sebelah lagi dan dibawa ke perutnya. Sementara Orlando terus mencium bagai musafir Gurun Sahara menemukan mata air ketika nyaris mati terbakar matahari, aku menyibukkan kedua tanganku yang sudah tak lagi menggapai-gapai dengan mengakrabi detak jantungnya dan mengintimi ceruk-ceruk dangkal di perutnya. Dada bidang Orlando terasa nyaman di telapak tangan kiriku, petak-petak di perutnya memikat jemari tangan kananku hingga enggan menjarakkan diri. Di atas semua itu, kutemukan diriku semakin jatuh cinta pada makhluk bernama lelaki yang sedang dan seperti tak ingin berhenti menciumku ini.

Dan yang kutakutkan terjadi juga. Tepat ketika Orlando melerai bibirnya dari mulutku, detik itu pula aku merosot jatuh dari posisi berdiriku. Jika saja Orlando tidak sigap merangkul pinggangku dengan tangan kanannya dan mencengkeram bagian atas lengan kananku dengan tangannya yang lain di saat yang tepat, aku pasti sudah terjengkang ke lantai. Efek ciuman Orlando ternyata bisa sedahsyat ini padaku, melemahkan sendi-sendiku, mengikis kalsium dari tulang-tulangku hingga mereka jadi lentur.

Kami bertatapan dengan aku yang masih tak bisa berdiri tegak dan tak berdaya di dalam kungkungan lengan Orlando. Sempat kutemukan raut cemas di wajah Orlando sebelum berganti dengan mimik senang. Aku tahu dia sedang menahan seringainya.

“Kamu baik-baik aja, Dil?” bisiknya sambil melepaskan cengkeramannya pada lenganku sementara lengannya yang satunya masih membelit erat pinggangku, seakan khawatir aku akan kembali ambruk jika dia mengendurkan sedikit saja belitannya.

Aku sulit berkonsentrasi pada pertanyaannya, bukan hanya karena baru sesaat tadi dia memberiku ciuman paling tak terlupakan seumur masa pacaran kami hingga menghilangkan kemampuan rangka tubuhku untuk menopang diri, tapi juga ditambah keadaanku yang kini sedang tepat menempel di depannya. Aku bisa merasakan semua relief Orlando dalam keadaan begini, seakan dia terpahat langsung di tubuhku. Jadi, aku hanya melongo dengan mata berkedip sesekali untuk merespon bisiknya.

“Dil, kamu baik-baik aja?” ulang Orlando.

“Ah… iya…” Aku menegakkan diri dan kudorong pelan dada Orlando dengan maksud untuk menjauhkannya.

“Nanti jatuh lagi…,” bisiknya sambil menunduk ke wajahku. Doronganku pada dadanya sama sekali tidak berefek. Alih-alih dia malah kian mendesakkan dirinya padaku, atau, menekanku kian kuat padanya. Aku tak tahu pasti yang mana yang sedang dilakukannya, mendesak atau menekan.

“Kak…,” panggilku ketika Orlando menolak untuk menjarakkan dirinya lewat bahasa tubuhnya.

“Hemm…” Hidungnya menggesek pipiku, bibirnya menyusur di garis rahangku.

“Aku susah napas…” Kembali kudorong dadanya dan yang dilakukannya adalah mencium pangkal leherku.

“Aku ingin jadi vampir,” katanya sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluhanku.

“Aku susah napas,” ulangku sambil berusaha mengeliat dalam belitannya, dan hal itu malah membuat diriku sendiri panas dingin.

“Ya, teruslah mengeliat kayak gini, mungkin bisa mengobati susah napasmu.”

Bisa kudengar seringai dalam kalimat Orlando. “Aku serius,” bisikku di pundaknya.

“Terus?” Sekarang puncak hidungnya menggesek-gesek kupingku, membuatku kegelian.

“Kak Lando…”

“Ah…” Orlando mendesah dan melonggarkan lengannya di pinggangku.

Kupikir dia akan melepaskanku, ternyata aku kecele. Yang hendak dilakukannya bukanlah membebaskanku, tapi mengangkatku ke pinggangnya, menggendongku di perutnya. Aku hampir berteriak karena kaget. Untuk sedetik, kurasakan ngilu di bawah pusarku ketika aku bertabrakan dengan perutnya dalam kondisi demikian ketat.

Orlando bergerak perlahan ke ranjang, merebahkanku hingga telentang sama perlahannya, lalu yang dilakukannya hanyalah menumpukan kedua lengan di kedua sisi badanku dan menunduk di atasku, menunduk sambil memandangku dengan tatapan yang sulit kukatakan intensitasnya. Dia menatapku seolah-olah aku bukanlah Aidil, seolah-olah aku bukanlah hanya dan hanya seorang Aidil, seolah-olah aku adalah mahakarya tak ternilai harganya hasil cipta seorang maestro paling maestro selama sejarah kehidupan dan dia dipercayakan sebagai satu-satunya orang yang boleh menyimpan dan memilikiku. Tatapannya, membuatku merasa tak akan pernah bisa jadi lebih berarti lagi bagi siapapun.

“Kak…,” panggilku ketika diam Orlando sudah terlalu lama dan caranya menatap mulai meresahkan bagiku.

“Kamu gak tau betapa sempurnanya dirimu, Dil…,” lirihnya sambil masih membungkuk di atasku. “Kamu gak tau betapa berartinya dirimu buatku…”

Aku tak bisa berkata-kata. Tapi dalam hati, aku bertanya-tanya. Benarkah aku tak tahu?

“Jawabannya adalah, tanpamu… hidupku tak akan pernah terasa lebih baik. Tanpamu, hidupku tak akan pernah punya makna…”

Perlu waktu beberapa detik bagiku untuk menyadari jika Orlando sedang kembali pada awal percakapan kami sore tadi di bendungan. Dia sedang menjawab pertanyaannya sendiri yang saat itu sempat dijawabnya dengan guyonan.

“Tanpamu, aku hanya Orlando yang tidak mempunyai Aidil, dan itu menakutkanku… itu menakutkanku…”

Aku tak sanggup melihat ketakutan yang dimaksudkan Orlando di matanya. Lelaki ini seakan benar-benar sedang membayangkan hidupnya yang tanpa aku di dalamnya, lalu dia merasa takut hal yang dibayangkannya itu akan terjadi.

Kujangkau tengkuk Orlando dan kemudian dia rebah menelungkup di atasku. Kepala kami bersisian, wajah Orlando tenggelam di bantal sedang aku menatap langit-langit kamar. “Aku masih di sini.” Kususurkan jemariku di sepanjang tulang belakangnya dan kubelai kepalanya. “Aku masih di sini, Kak. Jangan takut.”

Orlando menggumam dan menyurukkan lengan kirinya ke bawah kepalaku, menggantikan bantal. Dia mengangkat wajahnya untuk kembali menatapku. “Saat kuliahmu selesai, jika kamu harus pulang, aku akan menyusul dan mencari pekerjaan juga di sana.”

Ada perasaan senang yang menggelagak dalam dadaku mendengar ucapan Orlando. “Bagaimana jika tak ada pekerjaan yang cocok untuk Kak Lando di sana? Di sana tak ada perusahaan apapun, tak ada perkantoran, yang ada hanya sawah dan sawah.”

“Aku dengan senang hati mau jadi petani…”

Aku menahan tawaku. “Seakan itu bisa terjadi begitu saja…”

“Itu bisa terjadi begitu saja. Siapa yang berani ingin melarangnya?”

“Semua orang dengan senang hati akan melarangnya, papa dan mama Kak Lando tentu dengan senang hati akan melarangnya.”

“Kalau begitu, mereka harus siap kehilangan satu lagi putra mereka…”

Aku mengernyit, tak mengerti dengan kalimat Orlando. “Apa maksudnya itu?”

Orlando diam sejenak lalu menggeleng lalu menunduk lalu menciumku. Hanya dia yang bisa melakukan empat hal itu dengan urutan yang benar sehingga efeknya terasa begitu menggoda buatku. Diam sejenaknya tampak misterius, gelengannya mengecewakan namun segera tergantikan dengan debaran indah saat kepalanya menunduk. Dan ciumannya? Ah, lebih dari apapun, kurasa aku tak akan punya daya untuk menolak lagi jika entah kapanpun setelah ini dia memintaku menelungkup dan lalu melebarkan kakiku.

Namun hingga bobotnya mulai mengintimidasiku, Orlando belum meminta. Alih-alih dia malah bertumpu dengan sebelah tangan di ranjang dan mengangkat badannya sedikit. Tangan kirinya menjangkau weker dan diserahkan padaku. Aku bingung dengan tingkahnya.

“Setel untuk berbunyi sebelum subuh, kira-kira memberimu cukup waktu untuk kembali menyelinap pulang.”

Aku menerima weker itu dan melakukan apa yang dimintanya tanpa berkata-kata. Orlando mengambilnya kembali dan meletakkan benda itu di tempat semula. Lalu dia berguling dari atasku. Dan anehnya, aku malah merasa kecewa. Kutolehkan wajahku untuk memandangnya. Dia sudah memejamkan mata. Pandanganku turun dari wajah, melewati leher dan bahunya lalu berhenti sebentar di dadanya yang naik turun dengan ritme statis sebelum bergerak kembali dan berhenti lama di perutnya. Ketika mataku sampai pada celana pendeknya, aku bergerak untuk tidur menyamping, menghadapnya.

“Kak…,” panggilku.

“Hemm,” gumam Orlando.

“Udah?”

Orlando membuka mata dan menoleh padaku. “Udah apa?”

Aku bingung mau menjawab apa. Kupikir Orlando sengaja sedang mempermainkanku dengan pura-pura tak tahu apa yang kumaksudkan. Namun ketika dia kembali meluruskan wajah dan menutup matanya, aku yakin dia sedang tak ingin main-main. Jadi aku memutuskan untuk menanyakan sejelas-jelasnya.

“Apa aktivitas seksual kita udah kelar?”

Orlando membuka mata dan kembali menolehku. Tatapannya serius. “Bukannya aku pernah bilang gak akan melakukan itu padamu tanpa kesediaanmu sendiri secara sukarela dan tidak merasa terpaksa melakukannya demi menyenangkan egoku?”

Aku mengingat-ingat kapan tepatnya Orlando berkata demikian. Ya, dia memang pernah mengucapkan kalimat senada itu sebelum ini. Tapi sekarang aku sedang berada di ranjangnya, setengah telanjang, setengah kepayang dan hampir kehilangan kewarasanku. Sedang dia sendiri berada dalam keadaan yang bisa dikatakan dilakukannya dengan sengaja untuk membuatku kepayang dan hilang waras, dan bukankah tadinya dia juga yang melepas bajuku?

Kupikir…

Persetan.

Aku beringsut lebih dekat padanya sedang dia hanya diam memperhatikan gerakanku. Kudekatkan bibirku ke bibirnya dan kujangkau pinggang celana pendeknya. Sementara kami saling menggigiti bibir satu sama lain, aku menemukan jawaban atas ke-penasaran-an-ku tentang celana pendek Orlando. Malam ini, celana pendek itu adalah penggganti celana dalam buatnya, karena aku tidak menemukan apapun lagi di baliknya selain kejantanan Orlando yang dalam keadaan tegak berekstensi dan lurus dan keras dan berdenyut dan terasa hangat di kulit telapak tanganku yang sedang menggenggam.

Orlando melenguh kecil ketika genggamanku mengetat. Kurapatkan diriku padanya. Dia membiarkan saja apa yang ingin dan hendak kulakukan atasnya, sama sekali tidak melarang ketika kutarik pinggang celananya lebih ke bawah untuk membebaskan dirinya dari kungkungan kain setengah karet itu. Dia juga tak keberatan ketika tanganku kembali mencengkeram lalu mulai melakukan aktivitas kecil dan berulang di sepanjang bukti kelelakiannya.

Ketika sekali lagi Orlando melenguh kecil di sela-sela bibir kami yang bertempelan, kulerai ciumanku padanya dan kutundukkan pandanganku ke bawah sana. Sensasi egois yang nyaman melingkupiku ketika kutemukan pemandangan organ paling pribadi milik Orlando Ariansyah berada tepat dalam genggamanku. Hal itu seakan menegaskan, bahwa Orlando benar-benar kepunyaanku seorang saja, bahwa hanya aku yang boleh memperlakukannya sedemikian rupa, bahwa aku punya hak dan akses penuh terhadap apapun yang ada pada Orlando sampai ke bagian paling pribadinya, bahwa akta kepemilikan Orlando tercantum atas namaku. Lebih egois dan lebih primitif lagi, Orlando adalah hambaku sementara aku adalah tuannya yang bebas melakukan apapun terhadapnya.

Orlando meraih daguku dan membuat wajahku kembali mendongak. Dalam redup pendar cahaya lampu tidur, kudapati Orlando sedang mengeraskan rahangnya, seakan dia tengah menahan emosi maha dahsyat yang siap membuatnya meledak kapan saja. Gumam samar kembali mengawali kalimat lirihnya. “Kamu menyiksaku, Sweetheart. Tapi, bisakah kamu terus melakukannya?”

Aku menggelengkan kepala dan Orlando terlihat kecewa.

“Kalau begitu lakukanlah sesuatu yang lain, menunggangiku misalnya…”

Aku mengulum senyum. Kulerai genggamanku untuk kemudian kunaiki perut Orlando. Sedetik kemudian aku sudah setengah menelungkup di atasnya, diam beberapa saat untuk menikmati tekstur Orlando sebelum kuturunkan wajahku ke tengah-tengah dadanya. Ketika kuberikan gigitan kecil pertama di permukaan dadanya, kedua tangan Orlando bergerak sinergis menelusup ke balik pinggang celana pendekku dan sesaat kemudian kusadari kalau celana pendekku sudah melorot hampir ke lutut.

“Kak…”

Mendadak aku merasa gugup. Aku pernah mengalami hal sejauh yang sudah terjadi ini bersama seseorang sebelum Orlando, aku tak bisa mengingat apakah saat itu aku juga merasakan kegugupan yang sama atau tidak. Tapi sungguh, dengan perutku dan perut Orlando yang sedang bertempelan, dengan area bawah pusarku dan bawah pusar Orlando yang bertindihan, dengan kedua tanganku yang sedang merangkul leher dan bahunya, dengan kedua tangan Orlando menyusur lembut penuh perasaan di sepanjang punggungku dan terus merendah ke bawah, dengan keadaan kami yang sudah bisa dipastikan telanjang, di atas ranjang, di dalam kamarnya, seperti pasangan pengantin, siap bersetubuh untuk pertama kalinya, dengan semua keadaan dan pemikiran itu, sungguh… aku benar-benar gugup. Segala yang ada pada Orlando terlalu memikat hingga membuatku merasa tak layak. Dia tampan, dengan fisik bernilai sepuluh, putra orang berkedudukan, dari keluarga kaya nan terpandang, punya status sosial yang tinggi, menggauliku yang hanya bukan siapa-siapa. Sekilas, terlihat bagai seorang putra mahkota terlibat hubungan gelap dengan pelayan di kastilnya yang megah. Kondisi ini, seakan Orlando yang seorang putra mahkota sedang mencuri waktu untuk bersenggama denganku yang cuma upik abu. Dan aku tak bisa memikirkan kata ‘senggama’ tanpa membayangkannya secara harfiah. Kegugupanku bertranformasi menjadi keengganan.

“Kak…”

Orlando tak menjawab. Kedua tangannya mulai mencengkeram pinggangku dan mendorongku untuk begerak naik dan turun di atasnya secara perlahan, demikian perlahannya untuk bisa kuresapi setiap satu efek yang ditimbulkannya hingga ke sumsum tulangku sebelum efek berikutnya muncul dan melabrakku lebih brutal lagi. Rasanya persis sama bila kau berkendara menuju tanjakan nan tinggi lalu menuruni turunannya dengan kecepatan berkali-kali lipat dari saat menanjak, yang kurasakan dengan Orlando saat ini adalah kuadrat dari sensasi menuruni turunan itu.

“Kak lando…”

“Ada apa?” Orlando berhenti dari semua gerakannya.

“Aku… aku…”

Hening menggantung beberapa saat.

“Hemm…” Napas Orlando menghembus pelan di rambutku. “It’s okey, Sweetheart… it’s okey…” Lalu dia berguling, membuatku kembali terbaring di atas ranjang dan bangkit duduk. Senyum tulusnya membuatku merasa bersalah. Tanpa merapikan celananya, Orlando bergerak turun dari atas ranjang dan melangkah santai ke kamar mandi.

Sepeninggal Orlando, di atas ranjang aku berbaring kaku mencerna apa yang baru saja kukacaukan. Sedetik kemudian kurapikan celanaku dan bangkit duduk memeluk lutut. Kutatap pintu kamar mandi di satu sudut, menerka-nerka apa yang sedang diperbuat Orlando di dalam sana. Semenit kemudian pintu kembali terbuka sebelum aku sempat menerka-nerka lebih jauh lagi. Orlando keluar dari sana dengan langkah sama santainya, dengan ujung-ujung rambut yang berjuntaian basah di dahinya dan celana yang meski sudah dirapikan masih belum cukup bisa menyembunyikan sisa-sisa bukti kelelakiannya sesaat sebelumnya. Saat sudah dekat dengan sisi ranjang, dia memberiku senyum timpang. “Ayo, kuantar kamu pulang,” ujarnya.

Apa dia marah padaku? Apa senyumnya hanya kedok untuk menutupi perasaan kecewa dan marahnya yang sebenarnya?

“Aku sudah menyetel weker,” ucapku.

Kami diam bertatapan beberapa tarikan napas hingga Orlando kembali membuka suara. “Dan?”

“Aku ingin menunggu di sini sampai wekernya bunyi.”

Orlando manggut-manggut lalu naik ke ranjang, tanpa bicara apapun lagi lelaki itu menelusup ke bawah selimut dan berbaring menelentang di sebelah kiriku. Dia menekuk lengan kanannya ke bawah tengkuk dan langsung memejamkan matanya. Tanpa ucapan selamat tidur, tanpa menolehku lagi. Sudah positif, dia marah padaku.

Hingga beberapa menit setelah Orlando berbaring, aku masih duduk sambil memperhatikannya. Mengutuk diriku sendiri. Mungkin Orlando benar selama ini, aku tak bisa memperlakukannya sama istimewa seperti aku memperlakukan Zayed dulu. Kini aku memikirkan sebuah kemungkinan baru, bahwa mengapa aku gugup tadinya bukanlah karena semua pemikiran itu, tetapi karena Orlando bukan lelaki pertama yang pernah kusentuh dan menyentuhku dengan cara yang sangat intim, karena Orlando bukan Zayed.

Aku sudah jahat pada lelaki ini.

Lelah. Kuikuti Orlando menyusup ke balik selimut dan berbaring menelentang, lengan kiri melintang di dahi, masih terus memikirkan semua kemungkinan yang timbul tenggelam.

Sayup-sayup, jam di lantai bawah rumah Orlando berdentang dua kali. Kutoleh sosok Orlando yang masih berbaring dengan posisi sama di sebelahku. Kuberanikan diriku beringsut mendekatinya. Saat sudah cukup dekat, kuangkat kepalaku ke atas dadanya, pipiku kiriku menempel di dadanya, lengan kananku merangkul pinggangnya. “Maaf…,” bisikku.

Kukira, Orlando akan mengusirku kembali ke sisi lain ranjang, tapi dia terlalu baik untuk melakukan itu. Yang diperbuatnya adalah, membebaskan lengannya yang tertekuk di bawah kepala dan meletakkannya di sekitar bahuku. Sebuah kecupan mendarat di puncak kepalaku. Tangan kanan Orlando menarik selimut lebih ke atas hingga menutupi kami sebatas dada. Aku kian merapatkan diriku padanya, sedang dia semakin erat memelukku.

“Aku gak marah. Tanpa kamu membiarkanku melakukan itupun, aku tetap mencintai jatuh cinta padamu, Dil…”

Aku menggangguk di dadanya.

“Tapi yang tadi itu juga sudah luar bisa kok.”

Aku menggangguk lagi.

“Gak apa-apa kan, kalau kita melakukan yang kayak tadi lagi lain kali?”

Aku menggangguk berkali-kali lagi di dadanya. “Aku suka penis Kak Lando…”

Orlando batuk-batuk.

*

Dering weker menyentakku bangun dari lelapku. Hal pertama yang kusadari adalah, Orlando setengah berbaring di atasku. Hal berikutnya yang kusadari ketika aku mengeliat adalah, tangan kiri lelaki itu di dalam celana dalamku. Hal berikutnya lagi yang kusadari ketika aku berusaha menemukan kesadaran atas kedua tanganku adalah, salah satu tanganku terjepit di antara kedua paha Orlando. Selimut nyaris sepenuhnya luruh ke ujung kaki.

Weker masih terus berdering.

“Kak Lando,” panggilku sambil membebaskan tanganku dari pahanya.

Orlando menggumam tak jelas dan menurut ketika dadanya kudorong agar tak lagi menindih satu sisi badanku. Tapi tangannya masih di dalam celanaku. Aku menyadari keadaan normal selangkanganku di pagi hari ketika kutarik tangan Orlando dari sana, mau tak mau hal itu membuatku reflek meneliti kondisi bawah pusar Orlando sampai kesadaranku kembali pada dering weker. Kujangkau benda itu dari buffet dan kudiamkan sebelum kuletakkan kembali.

Ketika aku beringsut untuk turun dari ranjang, lengan Orlando tiba-tiba saja kembali membelitku. “Tidurlah sebentar lagi,” bisiknya di belakangku. Kaki kirinya naik ke pinggulku. Sesaat saja, aku sudah kembali berada dalam pelukannya, sama-sama berbaring menyamping, Orlando menghadapku sedang aku memunggunginya. Aku berusaha memindahkan paha Orlando dari atasku dan melerai lengannya di pinggangku, tapi laki-laki itu juga sama berusahanya untuk tak mau melepasku.

“Nanti keburu terang, Kak. Keburu Mak Iyah bangun dan mendapati pintu belakang gak kekunci, keburu Kak Saif ke kamar bangunin aku buat shalat Subuh.”

“Hemm…”

Aku kembali bergerak turun ketika Orlando melepaskanku. Kuedarkan pandanganku ke seantero kamar, berusaha menemukan kausku yang semalam dicampakkan Orlando secara sembarangan. Kutemukan ia teronggok di atas meja belajar Orlando. Setelah memakai kembali bajuku, aku ke kamar mandi.

“Sikat giginya udah Kak Lando taruh di situ.”

Sempat kudengar lirih kalimat Orlando sebelum pintu kamar mandi kututup. Aku membasuh muka, mengenakan krem cuci muka punya Orlando yang sama persis dengan facial foam yang sering Kak Saif titipkan saat Bunda berbelanja, dan menggosok gigiku dengan sikat gigi yang dimaksudkan Orlando untuk kugunakan, lalu mengeringkan wajahku dengan handuk setelah semua itu. Tak sampai lima menit aku selesai menggunakan kamar mandi.

Orlando duduk bertumpu kaki ke lantai di tepi ranjang, sudah mengenakan celana training dengan tali bersimpul kupu-kupu di bawah pusarnya. “Ayo,” katanya.

“Gak cuci muka atau sikat gigi dulu?”

“Kamu mau aku menciummu?” godanya sambil mengedipkan sebelah mata.

Aku melengos dan berjalan ke pintu. Orlando menarikku saat aku hendak membuka pintu. Kukira dia benar-benar hendak menciumku.

“Kak Lando jalan duluan, kamu ngekor di belakang biar sempat sembunyi kalau-kalau ada yang mergoki.”

Aku patuh.

Kenyataannya, kami berhasil mencapai pintu belakang tanpa hambatan apapun. Udara Subuh yang lebih dingin langsung menggemelutukkan gigiku begitu melewati ambang pintu. Orlando menempelkan telapak tangan kanannya ke pipiku, rasanya hangat. “Harusnya tadi kamu ambil jaketku,” bisiknya, “tunggu di sini, biar kuambilkan.”

Orlando sudah membalikkan badannya ketika pinggangnya kujangkau. “Gak usah,” ucapku sambil meresapi hangat kulitnya yang nyaman di kedua tanganku. “aku hanya perlu nyebrang pagar dan langsung sampai.”

Tak menjawabku, Orlando memajukan dirinya hingga dadanya bertabrakan denganku, seakan mengerti bahwa aku ingin mengakrabi hangat tubuhnya untuk sekejap lagi. Dia meletakkan kedua lengannya di sekitar badanku dan aku menempelkan daguku di bahunya.

“Menurutku, kamu harus lebih sering bermalam lagi di kamarku,” katanya.

Aku menunduk dan menempelkan bibirku di dada Orlando. Tidak kutanggapi kalimatnya, kulerai lengannya di belakangku setelah kurasa cukup bermanja-manja. Ini sudah terlalu beresiko untuk diteruskan. Aku balik badan dan mulai menuju celah sempit di pagar. Dari pengeras suara mesjid komplek, suara seorang qori entah siapa yang direkam mulai diputar.

Dalam perjalanan dari pagar menuju kamarku, aku memikirkan tangan Orlando yang berada dalam celanaku saat terjaga tadi. Dan membayangkan dia menungguku terlelap untuk kemudian meletakkan tangannya di sana kini membuatku tersenyum geli sepanjang perjalanan.

***

Dua pasang mata yang sama-sama dinaungi alis tebal lurus itu kini menatapku lekat sebagai respon terhadap pertanyaanku yang tak biasa. Alih-alih merasa diselidiki dengan tatapan serupa itu, aku malah merasa mereka berdua makin mirip saja, dari penampilan dan lebih banyak kemiripan lagi pada sifat.

“Kamu dan Lando udah emel?!” tanya Kak Aiyub yang lebih terdengar sebagai pernyataan ketimbang pertanyaan.

Kapan aku bilang begitu?

“Apa sampai pada tahap penetrasi?” bisik Kak Fardeen selanjutnya sambil masih memberiku tatapan menyelidiki.

Ada apa dengan mereka berdua?

Apa orang-orang lebih tua dua tahun di atasku memang selalu selangkah lebih maju dalam membuat kesimpulan? Karena menurutku, sama sekali tak ada indikasi kalau aku sudah atau baru saja bercinta dengan seseorang dalam pertanyaan ‘Apa kalian berdua sudah pernah berhubungan seks selama masa pacaran?’ yang kuajukan pada dua lelaki di depanku ini sesaat tadi. Tapi lihat, mereka malah menyimpulkan kalau aku yang baru saja melakukan hubungan seks dan mengajukan pertanyaan aneh padaku sebagai balasannya. Di mana korelasinya?

“Gimana rasanya Lando?” cetus Kak Aiyub lagi, “Sumpah, saat pacaran dengannya dulu aku begitu penasaran…”

Kak Fardeen langsung memberi tatapan membunuh pada pacarnya tepat setelah sang pacar menyelesaikan kalimatnya. Aku juga memandang kesal pada Kak Aiyub. Pertanyaannya menyinggungku, apa dikiranya Orlando itu sejenis masakan atau buah-buahan yang dengan gampang bisa disebutkan rasanya? Namun aku lumayan gembira dengan pernyataannya tentang rasa penasarannya pada Orlando. Pernyataan itu membuktikan kalau akulah orang pertama dan baru satu-satunya laki-laki dimana Orlando memperoleh pengalaman seksual perdananya. Aku patut senang, meski, emm, dalam kasusku, itu belum sepenuhnya bisa disebut sebagai pengalaman seksual.

“Sorry, Beib… aku tak serius,” ujar Kak Aiyub untuk menenangkan pacarnya.

“Kamu penasaran, hah?!” cetus Kak Fardeen berang.

“Itu dulu, tapi sumpah saat sudah mengenalmu, kamulah rasa penasaran terbesarku. Suer disambar geledek!” Kak Aiyub mengacungkan dua jari.

Aku memiringkan badan agar bisa mendongak langit di atas kami yang sedang mendung, khawatir kalau ada geledek yang tiba-tiba menukik ke kursi tempat duduk Kak Aiyub. “Sepertinya bentar lagi hujan,” ujarku. Dan mereka kembali menyadari kalau aku masih ada di tempatku.

“Kapan?”

“Di mana?

“Berapa lama?”

“Satu jam, dua jam?”

“Semalam suntuk?”

“Skornya punya siapa?”

“Siapa yang minta duluan?”

“Ya ampun, kamu dan Lando melakukannya!”

Aku ingin menghilang saja. Pertanyaan yang berlesatan bergantian dari Kak Fardeen dan pacarnya benar-benar membuatku tak bisa berkata-kata. Kupikir, cuma Erlangga saja yang akan mengajukan pertanyaan serupa itu untuk menjawab rasa penasarannya, tapi dua laki-laki ini juga sama. “Kupikir, aku akan pulang lebih dulu,” kataku lalu menghabiskan sisa espressoku.

Lalu mereka sama-sama tertawa. “Sorry, Lilbro… kami kelewatan,” kata Kak Aiyub.

“Yap. Kami hanya sedang ingin mengusilimu,” lanjut Kak Fardeen, “lupakan saja semua kegajeanku dan si tampan ini.” Tangan kanan Kak Fardeen menjangkau ke bahu kanan laki-laki di sebelahnya dan yang dijangkau mesem-mesem sumringah sambil dengan sengaja merapatkan diri.

Baru setengah menit tadi mereka nyaris berdebat gara-gara cemburu tak pantas, dan kini mereka malah mempertontonkan kemesraan di depanku. Aku melirik ke meja-meja lain di sekitarku, khawatir kalau ada pengunjung kafé yang memperhatikan meja kami dengan tatapan aneh. Seakan paham gelagatku, mereka berdua kembali sama–sama duduk tegak.

“Jadi, Dik Aidil tadi nanya apa?” Kak Fardeen memutar-mutar mugnya.

“Dia ingin tau, apakah kita pernah emel,” jawab Kak Aiyub dengan suara pelan.

Aku sudah menduga kalau mereka pernah, tapi anggukan Kak Fardeen tetap saja membuatku sedikit shock. “Pernah?” tanyaku untuk memastikan. Kak Fardeen mengangguk lagi. “Sering?” lanjutku.

“Ayu yakin, dibandingkan kamu dan Lando, kami lebih sering.” Kak Aiyub menaik-naikkan alisnya saat dia kutatap dengan mata membundar.

“Aku tidak melakukannya sama Orlando,” cetusku. Kak Aiyub mencondongkan badannya ke arahku, sebelah alisnya melengkung tinggi, menuntut pengakuanku. “Maksudku, belum sampai, emm… emm…” Aku kesulitan mengucapkannya.

“Belum sampai penetrasi?”

Aku mengangguk pada Kak Aiyub. Wajahku pasti memerah saat ini.

“Bagus.”

Sekarang aku menatap Kak Fardeen dengan alis bertaut. Apa arti kata ‘bagus’ itu? Bagus karena aku sudah ML seperdua atau bagus karena Orlando tidak memasukkan organ tubuhnya ke dalam diriku?

“Dik Aidil gak harus sampai ke sana kok, jika tak ingin atau tidak siap.” Laki-laki itu tersenyum padaku, sementara pacarnya hanya mengangguk-anggukkan kepala menyetujui. “Well, rata-rata orang memang sampai dan memang harus sampai ke sana setiap kali berhubungan intim biar bisa dikatakan berhubungan intim, tapi bukan berarti orang lain juga harus ke sana. Semua tergantung kita dan pasangan, kalau sudah merasa cukup puas tanpa…,” Kak Fardeen berdeham sebelum melanjutkan, “kalau sudah merasa cukup puas tanpa penetrasi, kenapa harus dipaksakan untuk sampai ke sana?”

“Nafsu itu semu, Dil. Sungguh. Ketika belum, kita begitu ingin dan begitu gigih berusaha mendapatkannya, memuaskannya, tapi saat sudah tercukupi dan terpuaskan, kita tidak memperoleh apa-apa selain pengakuan hati nurani paling dalam bahwa, yeah… itu hanya nafsu semata.” Kak Aiyub menyeruput kopinya lalu meletakkan mug kembali. “Nafsu itu kayak bayang-bayang, kita bisa melihatnya tapi gak bisa menangkapnya…”

“Kak Aiyub sering ngerasa gitu setelah melakukannya dengan Kak Fardeen?” tanyaku.

Laki-laki di depanku diam sesaat lalu mengangguk, “Kadang-kadang, aku ngerasa bagai seorang pendosa setelah melakukannya,” dia menatap Kak Fardeen dan yang ditatap juga sedang balas menatap. “hemm, meski yang kurasa itu bisa jadi benar, tapi aku terlalu mencintainya untuk berhenti dan hijrah begitu saja tanpa tersakiti dan tanpa merasa telah menyakiti,” pungkas Kak Aiyub sambil masih bertatapan dengan Kak Fardeen.

Aku tak tahu harus merespon apa. Untuk sejenak, kubiarkan saja kedua orang di depanku ini bicara lewat tatapan mereka sampai perhatian mereka kembali padaku. “Emm, apa itu maknanya kalian melakukannya sampai pada―” Aku tak meneruskan kalimatku, kupikir mereka pasti paham apa yang kumaksudkan.

“Aku dan kakakmu ini sama-sama sudah satu pemikiran tentang hubungan seksual kami, dan kurasa, kami tak punya masalah apapun mengenai hal itu sejauh ini.”

“Kecuali dia ngebet pengen masukin,” sambung Kak Aiyub sambil menggerakkan dagunya menunjuk Kak Fardeen.

“Atau dia sendiri yang gak tahan mau nerobos,” timpal Kak Fardeen.

Aku cengo.

“Jadi, menurutku, Lilbro…” Kak Aiyub melipat lengan di meja dan mencondongkan badannya ke arahku. Suaranya begitu pelan ketika melanjutkan. “Biar kamu tau gimana rasanya Orlando, kamu harus bisa meyakinkannya agar mau jika seandainya dia gak pengen melakukan penet―uhuukk…!!!”

Kak Aiyub batuk-batuk. Perutnya baru saja disikut Kak Fardeen. “Jangan ajarin dia yang bukan-bukan.”

“Ajarin apa?!” cetus Kak Aiyub sambil mengusap perutnya. “Aku cuma nyaranin.”

“Iya, nyaranin dia buat ngelakuin apa yang dulu gak sempat kamu lakuin, kan?”

Aku kebingungan menyikapi dua lelaki di depanku ini. Makin kebingungan ketika bayangan Orlando menindihku dan melakukan apa yang tadinya hendak disarankan Kak Aiyub berputar-putar dalam batok kepalaku. Ini edan. Obrolan ini harus segera dihentikan. Jika tidak, aku bisa mimisan. “Mas…!!!” aku mengacungkan tangan ke udara begitu mataku menangkap kelibat pramusaji kafé. “bilnya…!!!” sambungku.

“Enggak!” Kak Aiyub menggeleng-gelengkan kepalanya pada sang pacar.

“Aku ingin marah!” Kak Fardeen mengeraskan rahang.

“Jangan…”

“Aku marah.”

“Marah pun aku tetap ingin terus mencintaimu…”

Kak Farden mendiamkan diri.

Kak Aiyub tersenyum menang.

Aku geleng-geleng kepala melihat cara mereka memperbaiki masalah.

***

Aku menemukan jeep Kak Gunawan di pekarangan ketika tiba di gerbang bersama Orlando sore ini. Dia kembali rutin menjemputku seperti dulu, sedang saat berangkat kuliah, untuk menghindari diantar Kak Saif, aku selalu berusaha sarapan bareng Kak Adam agar bisa nebeng mobilnya ke kampus.

“Mau muter-muter dulu sampai dia pulang?” tanya Orlando sambil menolehkan kepala padaku di boncengan motornya. “Atau, mau aku kawani masuk dan tetap di sana sampai dia pulang?”

“Kak Gunawan mungkin datang dengan Syuhada.”

“Terus?”

“Ya, mungkin niatnya cuma nemani Syuhada liat Junior, bukan mau meluruskan apa yang diketahuinya tentang kita.”

Orlando mendiamkan diri.

Aku turun dari boncengan saat kupikir Orlando tidak akan ikut masuk. Mesin motornya masih menyala. “Udah, gak apa-apa. Kak Lando pulang aja, mandi dan ganti baju.”

Orlando mengendus ketiaknya sesaat lalu menyengir padaku. “Habis ngebasket.”

“Iya, bau lapangannya masih kecium kok. Lain kali, kalau habis meras keringat, gak usah maksa buat jemput gak apa-apa kok.”

“Kukira kamu suka.”

“Memang. Tapi aku lebih suka lagi kalau pacarku wangi.”

“Kalau begitu, aku akan pulang dan mengosongkan botol parfum.”

“Ya.”

Orlando menurunkan gear. “Kalau kamu ngerasa gak nyaman, sebaiknya gak usah ketemu mereka, langsung ngumpet ke kamar aja,” katanya sambil menggerakkan dagunya ke arah rumah, “meski aku lebih suka kalau kamu tetap menemui mereka dan memamerkan sikap ‘memangnya gue pikirin’ pada siapapun yang coba-coba ngurusin hidupmu.”

“Mengingat statusku di rumah itu, kupikir aku akan milih saran yang pertama saja.”

“Iya. Dan mengingat di dalam sana juga ada Saif, kupikir kamu gak perlu mengkhawatirkan apapun.”

“Aku masih berhasrat untuk menambahkan bubuk merica ke piring makannya tiap kali bertemu.”

“Siapa, Gunawan? Kalau dia berani ember, aku dengan sukacita mau bantuin ngeblenderin mericanya.”

Aku sangat tahu kalau dia hanya pura-pura bego. Dia pasti sadar kalau yang kumaksudkan bukan Kak Gunawan. “Pulang dan mandi!” kataku lalu balik badan.

“Jangan ngumpet dan tetap konsisten sama ‘emangnya gue pikirin’ seperti yang aku ajarin!” balas Orlando setengah berseru lalu deru motornya kudengar menjauh.

Tiba di beranda, aku sudah bisa mendengar suara cekikikan Syuhada yang ditingkahi bahasa tak jelas ASJ yang lebih mirip suara anak kucing ketimbang suara anak Kak Adam. Mereka pasti sedang berada di ruang tengah, mungkin sambil minum teh dan menonton tivi. Aku benci membayangkan harus melewati ruang tengah itu untuk mencapai tangga menuju kamarku yang otomatis membuatku mau tidak mau harus bertemu mereka, bertemu Kak Gunawan. Bukan takut, tapi aku merasa… apa nama perasaan campuran antara segan dan malu? Entahlah, kira-kira begitu perasaanku saat ini. Jadi, aku berlama-lama membuka alas kakiku di beranda, sengaja berlama-lama lagi dengan duduk di kursi teras sambil memperhatikan jeep di halaman. Lelah memperhatikan jeep, pandanganku beralih ke sepatu-sepatu di kaki undakan teras. Terlalu banyak sepatu untuk hanya dipakai Syuhada dan pacarnya.

“Loh, Dil, udah pulang?”

Aku terlonjak dari kursi saking kagetnya. Di ambang pintu, Erlangga mengacung sambil memamerkan cengirannya. Lalu kepalanya celingak-celinguk ke halaman.

“Mana Aa Landonya? Kok gak ada?”

Syaitan!

“Harusnya Aa Landonya disuruh masuk dong!”

Keparat!

“Kan aku mau ngeliat kalian mesr―”

BUKKK

“ADOOWWW…!!!”

BUKKK

“SAKIIIITTT…!!!”

“Mampus!”

“Kok tega sih?!”

“Makanya punya mulut jangan kayak host infotainment!”

Aku berjalan melewati Erlangga, sengaja kusenggolkan bahuku ke bahunya ketika berpapasan. Dia sempoyongan ke belakang, kalang-kabut menjaga keseimbangannya, lalu setelah berhasil berdiri tegak, dia kembali melanjutkan mengelus-ngelus tulang keringnya yang baru saja kutendang hingga dua kali berturut-turut.

Tiba di ruang tengah, aku juga menemukan Rani. Couples ini memang tak terpisahkan. Di mana ada Syuhada dan pacarnya, pasti kau juga akan menemukan Rani dan pacarnya juga, tak peduli di manapun, musim apapun atau cuaca sedang seperti apa, mereka akan terus berada di mana-mana berempat. Suatu saat, jika sungguh berjodoh, kupikir mereka akan menikah di hari dan di tempat yang sama pula.

“Eh, Dil, udah pulang, ya?” tanya Rani begitu aku nongol di ruang tengah, dia sedang mencari-cari channel tivi.

Ya, pacarmu juga make kalimat yang sama tadi. “Baru aja, Ran,” jawabku sambil mencari-cari sosok Kak Gunawan di ruang tengah. Dia tak ada. Apa dia tidak ikut kali ini? tapi mustahil Erlangga yang mengemudikan jeep di halaman sana.

“Dia dijemput sama Orlando, enak banget jadi dia, mau kemana-mana disupiri terus.” Erlangga mucul di belakangku. Kalimatnya merangsangku untuk membenturkan kepala plontosnya ke ubin.

“Tuh, Om Didilnya pulang.” Syuhada bicara pada ASJ yang ada dalam gendongannya, “Tanya, Om Didil pulang dari mana?” ASJ, seperti mengerti mendelik ke arahku, liurnya menetes-netes ke lengan kemeja pink yang dikenakan Syuhada ketika untuk kesekian kalinya suara kucingnya diperdengarkan. “Ya ampun…” Syuhada mencium gemas pipi keponakannya.

“Dik Bungsu sini ikut ngeteh dulu.” Mbak Balqis yang sibuk membersihkan liur putranya menawariku minum teh.

Kulirik gelas-gelas berisi teh yang masih hangat berasap di atas meja rendah beralas karpet lebar di tengah-tengah ruangan. Sepertinya Syuhada atau Rani bawa bolu lagi.

“Dia bau, Mbak,” cetus Erlangga lalu mencomot sekerat bolu dari piring. “jangan ditawarin minum, tapi cocoknya disuruh mandi.”

Aku masih bertanya-tanya, kemana Kak Gunawan? “Iya, Mbak, Aidil ke kamar dulu, gerah.”

“Bai bai Om Didil…” Sekali lagi, bagai paham kalimat Syuhada, ASJ mendelik padaku. Kuangkat sebelah tanganku dan kugoyang telapak tanganku beberapa kali untuknya. Bocah itu berkedip-kedip.

Aku keluar dari ruang tengah dan menuju tangga. Percakapan samar-samar dari arah dapur menunda langkahku. Aku jelas kenal suara orang yang sedang berbicara entah di bagian mana dapur itu, yang tidak bisa kudengar jelas dan tidak kuketahui adalah apa yang sedang dicakapkannya dan dengan siapa dia bercakap. Kupikir, mungkin Mak Iyah ada di sana juga. Aku sudah akan menapaki anak tangga ketika rasa-rasanya kudengar namaku disebutnya. Kulirik bergantian antara ruang tengah yang masih diramaikan riuh percakapan serta volume tivi dan arah dapur. Rasa ingin tahu membuatku batal naik tangga dan menuntun langkahku untuk melewati ruang makan lalu diam-diam merapat ke dapur.

“…aku tak membenarkan cinta mereka juga, Gun. Dunia tahu itu salah…”

Aku menegang sambil bersandar di dinding dapur. Dadaku berdebar. Dia di sana bukan bicara pada Mak Iyah, tapi pada Kak Gunawan.

“Tapi Aidil adikku, jika dia bahagia dengan cintanya maka kupikir aku tak mau jadi brengsek dengan menghakimi dan merecokinya, atau menuntutnya untuk jangan seperti itu.” Ada jeda. “Bagiku, jika itulah yang dia inginkan,dan kupikir itulah yang membuatnya tetap bahagia hingga sekarang, maka aku hanya perlu menerima tanpa harus mengganggu mereka.” Lalu dengan nada yang tegas, dia melanjutkan. “Dan kuharap orang-orang juga tidak menjadi pengganggu, karena jika itu mereka lakukan, aku akan jadi orang pertama yang tidak senang dan tidak bahagia jika adikku dibuat tidak senang dan tidak bahagia. Dan jika sampai aku tidak senang apalagi sampai tidak bahagia, akibatnya bisa mengerikan…”

Hening berlangsung beberapa ketika. Aku memberanikan diri menjenguk melewati ambang dapur yang lebar tak berpintu, di meja yang biasa dipakai Mak Iyah saat makan, dua laki-laki itu duduk berhadap-hadapan, dua cangkir teh hampir kosong berada di antara mereka di atas meja. Kak Saif sepertinya sedang bersiap hendak mandi saat rombongan Kak Gunawan datang, dia hanya berhanduk dan bersinglet. Kak Gunawan kulihat hanya diam, bersikap tenang seperti dia biasanya, bahkan cenderung berwibawa. Kupikir, bagaimanapun situasinya, genting atau tidak, Kak Gunawan akan tetap dengan sikapnya yang seperti itu, seakan dia adalah manusia dengan kemampuan memanage emosi paling baik sedunia. Padahal jika tidak salah menyimpulkan, sesaat tadi Kak Saif jelas mengancamnya.

“Kalau bukan adikmu, apa keadaannya akan berbeda?”

“Kamu ingin bertanya, seandainya Orlando bukan jatuh cinta pada Aidil, begitu?”

“Yahh, kupikir memang begitu maksudku. Bagaimana kamu menyikapi Orlando jika bukan Aidil yang dicintainya?”

“Meski tidak sebesar arti Aidil buatku, Orlando juga akan mendapat pemakluman dan pengertian yang sama, Gun. Dia temanku, kami besar bersama. Kupikir kamu sudah paham tanpa aku menjawabnya…”

“Bagaimana jika seseorang yang bukan orang terdekatmu yang mengalami kasus ini, apa pandanganmu akan tetap sama?”

Kutarik kepalaku dan kembali bersandar punggung ke dinding. Menunggu jawaban Kak Saif membuat lututku lemas. Tak ada siapapun di sini yang benar-benar tidak memandang aneh pada jenis cinta yang kumiliki. Erlangga boleh saja berkata dia tak apa-apa atau ‘aku tak peduli temanku suka cowok’, tapi nuraninya pasti setuju kalau hal itu salah, semua orang setuju. Dan Kak Saif juga tentu sama, bukankah tadinya dia sendiri juga sudah bilang tidak membenarkan cintaku?

Di tempatku berdiri, kubayangkan Kak Saif menarik napas panjang, mengisi oksigen ke dalam dirinya sebelum menyuarakan jawaban yang mungkin dipikirnya akan menyakitkan seandainya aku atau Orlando ada di sana untuk mendengarnya. Tapi alih-alih memberikan jawaban menyakitkan, laki-laki itu malah mengabaikan untuk menjawab pertanyaan Kak Gunawan langsung.

“Aku ingin bertanya padamu, Gun. Jika kita berdua bertukar posisi, maksudku benar-benar bertukar posisi, apa yang akan kamu lakukan?”

“Entahlah.”

Lagi-lagi ada jeda panjang. Sepertinya mereka sudah akan menyudahi percakapan itu. Dan kupikir sebaiknya mereka memang segera menyudahinya sebelum seseorang yang bukan aku ikut mendengarkan. Aku hendak meninggalkan dinding dapur ketika kembali kudengar suara Kak Saif.

“Cinta yang mereka jalani bukan mudah, Gun. Bukan mudah. Kupikir kamu paham bagaimana sulitnya menjalani satu hal di saat seisi dunia menentangmu. Tak terbayangkan dan pasti begitu sulit. Tapi anehnya, aku kagum pada mereka. Simbiosis mereka terlihat indah, proses yang mereka lalui juga mendebarkan, kadang aku mendapati diriku mencemaskan mereka. Tapi pada akhirnya, apa yang mereka jalani, apa yang mereka perjuangkan, bagiku terlihat sebagai sebuah keyakinan hati, kemantapan pilihan yang resikonya bukan ringan. Dan kamu tau, kupikir sejak awal mereka berdua memang sudah siap dengan resiko terburuknya. Aku kenal Orlando, jangan anggap remeh tekadnya, dia bisa jadi apapun jika memang keadaan mengharuskannya untuk menjadi apapun itu.”

“Lalu bagaimana dengan Aidil, apa dia sama siapnya?”

Tidak, aku tidak sekuat Orlando.

“Dia hanya perlu percaya pada temanku itu.”

Aku ingin menyuruh mereka berhenti. Percakapan mereka membuatku tertekan.

“Aku tak memaksamu agar melihat mereka seperti caraku melihatnya, Gun. Aku mengerti jika kamu tetap memandang itu sebagai sebuah ketimpangan, kesalahan, dosa atau apapun namanya. Tapi demi kebaikan semua orang, kuharap kamu bisa berpura-pura lupa bahwa aku pernah melantur di balai-balai malam itu dan kita pernah bicara di sini saat ini…”

“Kupu-kupu…”

Di tempatku, aku mengernyit mendengar ucapan Kak Gunawan yang sama sekali tak ada hubungannya.

“Ya?”

“Kamu bilang tadi, simbiosis mereka tampak indah. Itu mengingatkanku pada kupu-kupu. Kupikir, segala sesuatu yang indah itu seperti kupu-kupu. Kupu-kupu tidak serta merta ada dan sudah indah detik itu juga, ada fase mendebarkan sebelum kupu-kupu ada dengan wujud memesona demikian rupa.”

“Metamorfosis,” tukas Kak Saif. “Kamu menyukai kupu-kupu?” Dapat kudengar nada geli dalam suara Kak Saif.

“Aku dan Syuhada menyukainya.”

“Keren.”

“Ya, mungkin dulu kamu dan Ruth juga punya kesukaan yang sama pada sesuatu?”

Kini aku yakin Kak Saif pasti sedang mati kutu. Kubayangkan dia duduk sambil menarik-narik daun telinganya atau menggaruk-garuk kepalanya yang tentu tidak sedang gatal.

“Emm…”

Tuh kan, benar.

Lalu kudengar Kak Gunawan tertawa kecil. “Kupikir, Ruthiya adalah jenis wanita yang tidak akan dilepaskan begitu saja oleh laki-laki manapun, Sef. Tapi kamu malah me―”

“Aku mau mandi dulu,” potong Kak Saif.

Kekehan Kak Gunawan makin jelas.

Sebelum Kak Saif meninggalkan tempat duduknya dan menemukanku menguping di ambang pintu, segera kutinggalkan dinding yang sudah kutempeli sejak belasan menit lalu.

Di kamar, aku merenung lama. Sama sekali tak terfikirkan olehku selama ini kalau Kak Saif sebegitu istiqamahnya membelaku. Yang paling kuingat adalah kalimat bernada mengancam yang ditujukannya buat Kak Gunawan. ‘Aku akan jadi orang pertama yang tidak senang dan tidak bahagia jika adikku dibuat tidak senang dan tidak bahagia’, begitu katanya. Kupikir, aku akan membelikannya sesuatu kapan-kapan sebagai permintaan maaf atas sikapku yang dingin terhadapnya akhir-akhir ini, sekaligus sebagai tanda terima kasih atas sikap heroiknya dalam memihakku sesaat tadi di hadapan Kak Gunawan.

Sebenarnya aku malas menulis ini, tapi kurasa… aku memang beruntung memiliki Ananda Saif Al Fata sebagai salah satu kakak laki-laki angkatku. Maksudku, berapa banyak sih kakak laki-laki di luar sana yang tidak apa-apa dan tidak keberatan adik laki-lakinya pacaran sama laki-laki? Satu dalam seribu. Adik laki-lakinya pacaran sama teman laki-lakinya yang juga tetangganya? Satu dalam sejuta.

Dan, mengutip perkataan Kak Gunawan tentang Mbak Ruthiya yang katanya adalah jenis wanita yang tidak akan dilepaskan begitu saja oleh laki-laki manapun, aku yakin, jika keadaannya berbalik, Kak Gunawan pasti setuju jika kukatakan bahwa Kak Saif adalah tipe lelaki yang juga tidak akan dilepaskan begitu saja oleh wanita manapun ketika sudah dimiliki. Kenapa? Karena dia bukan sembarang lelaki, dia Kak Saif, kakak laki-lakiku yang kadang menyebalkan namun bisa diandalkan dalam segala hal, yang berani berkelahi―hingga babak-belur―dengan berandalan demi menjagaku, yang akan membelaku setiap ada kesempatan, yang akan selalu menimpakan kesalahanku sebagai kesalahannya jika memungkinkan, yang akan tetap berdiri di sebelahku ketika semua orang berdiri di seberang, yang kuyakin akan tetap setuju denganku bahkan ketika seluruh isi semesta tidak setuju. Ya, begitulah kakakku…

 

 

 

 

22 Ramadhan 1436 H

Dariku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

nay.algibran@gmail.com